Ada Sentuhan Mobil Mewah Honda, Ini Sederet Fitur Baru All-New HondaJet Elite S

Setelah sukses dengan pesawat jet bisnis HondaJet Elite pada 2018 silam, perusahaan otomotif Jepang, Honda, meluncurkan pesawat jet bisnis terbarunya, All-New HondaJet Elite S. Saat ini pesawat tersebut masih dalam proses sertifikasi laik terbang oleh otoritas setempat. Bila tak aral melintang, akhir tahun 2022 atau awal tahun 2023, pesawat tersebut sudah bisa dinikmati oleh sultan-crazy rich dunia.

Baca juga: Mitsubishi Uji Coba Regional Jet, Inikah Momen Kebangkitan Industri Dirgantara Jepang?

Dilansir New Atlas, pesawat jet bisnis itu menggabungkan kemewahan mobil Honda kelas atas saat melayang tinggi di angkasa. Banyak yang menyebut HondaJet Elite S merupakan versi udara dari Honda Accord.

Presiden dan CEO Honda Aircraft Company Michimasa Fujino sendiri mengatakan, sejak diperkenalkan pada 2018, pesawat HondaJet Elite telah mencapai kinerja terbaik di kelasnya sekaligus menjadi yang paling efisien. Kendati demikian, itu memang butuh riset tersendiri dari lembaga independen.

Terlepas dari hal itu, All-New HondaJet Elite S tentu saja menampilkan banyak hal baru dari saudara kembarnya HondaJet Elite.

Disebutkan, berat lepas landas maksimum All-New HondaJet Elite S meningkat sekitar 90 kilogram sehingga memungkinkan penumpang tambahan atau jarak terbang yang ditingkatkan, menjadi sekitar 225 km. Penggunaan Over-The-Wing Engine Mount (OTWEM) diklaim membuat pesawat memiliki bobot lepas landas yang lebih baik, didukung mesin GE Honda Aero Engines HF120.

Fitur spesial yang paling membedakan dengan HondaJet Elite tentu terletak di sistem avionik. All-New HondaJet Elite S disebut memiliki rangkaian avionik Garmin G3000 yang disesuaikan, termasuk FAA DataComm dan Aircraft Communications serta Addressing and Reporting System (ACARS), yang menggantikan komunikasi suara dengan pesan teks pendek melalui tautan data digital untuk kejelasan yang lebih baik.

Pesan-pesan ini termasuk perintah lalu lintas udara, informasi terminal, cuaca terminal, dan izin keberangkatan, unggahan rencana penerbangan, messaging, cuaca secara umum, transmisi otomatis saat position reporting, dan Out/Off/On/In status. Jika diinginkan, sistem COM3 dapat menonaktifkan Mode Datalink dan mengalihkan ACARS ke radio suara VHF ketiga. Sangat memudahkan pilot.

Selain itu, fitur Advanced Steering Augmentation System (ASAS) juga akan membatu pilot saat penerbangan jarak jauh. Sistem tersebut mengotomatiskan pengoperasian pesawat, seperti AutoPilot di pesawat konvensional, untuk membantu pilot beristirahat.

Cat baru pun ditambahkan yakni Gunmetal, Luxe Gold, dan Deep Sea Blue. Logo “Elite S” tersemat sebagai tampilan eksterior.

Pesawat Honda dirancang sebagai kelas bisnis yang mewah. Skema warna krem dipadukan dengan kursi empuk dan meja lounge yang dapat disesuaikan, pencahayaan fokus terarah, dan jendela besar bernuansa membantu pesawat menawarkan suasana yang cukup tenang.

Baca juga: Inilah Airbus ACJ319neo, Jet Pribadi Crazy Rich yang Terinspirasi Mobil Sport

Interiornya memang mirip dengan kabin beberapa mobil mewah Honda, dengan kapasitas enam penumpang, lengkap dengan dapur, toilet pribadi, dan sound system Bongiovi. Honda Aircraft Company yakin bahwa pesawat model terbaru ini akan menjadi pilihan yang disukai banyak pelanggan yang mencari pengalaman terbang pribadi.

Pesawat ini memiliki kecepatan tertinggi 422 knots atau 781 km per jam di ketinggian 30.000 kaki. Sedangkan jarak tempuhnya mencapai 1.437 nautical miles plus jangkauan ekstra 120 nm. Pesawat ini dapat terbang 17 persen lebih jauh dari generasi sebelumnya dengan penambahan jarak sejauh 396 km. All-New HondaJet Elite S memiliki jelajah maksimum ketinggian hingga 43.000 kaki.

Alert! Lima Citra Satelit Ini Tunjukkan Betapa Cepat Planet Bumi Berubah

Sebagian dari kita mungkin merasakan perbedaan keadaan planet bumi dari tahun ke tahun. Namun, hanya sebatas merasakan saja; seperti panas matahari makin terasa menyengat, cuaca makin tak menentu, wilayah yang biasanya tak banjir menjadi banjir, banjir yang semakin parah akibat penurunan tanah dan sebaliknya muka air laut meningkat, dan lain sebagainya.

Baca juga: Seberapa Amankah Bandara yang Terletak di Pesisir Laut dari Ancaman Bencana Alam?

Akan tetapi, bila merujuk pada data dari satelit observasi Bumi milik berbagai lembaga di dunia, rasanya perubahan yang dirasa oleh banyak negara dan masyarakat di seluruh dunia itu benar adanya.

Dari sekian banyak bukti terkait hal itu, sebagaimana dikutip dari theconversation.com, berikut lima foto-video (citra satelit) yang menunjukkan betapa cepatnya planet bumi tempat kita berpijak berubah.

1. Permukaan air laut terus naik di seluruh dunia

Permukaan air laut meningkat sangat cepat. Foto: ESA/CLS/LEGOS

Kenaikan permukaan laut diperkirakan menjadi salah satu konsekuensi paling serius dari pemanasan global. Bila tak ada tindakan serius dan strategis, wilayah pesisir di seluruh dunia bisa tenggelam beberapa tahun mendatang.

Dari gambar di atas, selama 13 tahun terakhir dari tahun 1993-2015, rata-rata kenaikan permukaan air laut di dunia mencapai 3,2 mm per tahun. Namun, itu tiga sampai empat kali lebih cepat di beberapa wilayah, seperti Pasifik barat daya hingga timur Indonesia dan Selandia Baru, di mana terdapat banyak pulau kecil dan atol yang sudah sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

2. Permafrost terus mencair

Permafrost di kutub utara. Foto: ESA

Permafrost adalah tanah yang membeku secara permanen dan sebagian besar terletak di Kutub Utara. Selaa ini, ia menyimpan sejumlah besar karbon di planet bumi, mencapai sekitar 1.500 miliar ton karbon -dua kali lebih banyak daripada di seluruh atmosfer- dan sangat penting agar karbon tetap berada di dalam tanah.

Tetapi ketika mencair, karbon tersebut dilepaskan sebagai CO₂ dan bahkan gas rumah kaca yang lebih kuat seperti metana. Citra satelit di atas menunjukkan betapa mengerikannya fenomena mencairnya permafrost.

3. Lockdown bikin langit Eropa lebih bersih

Citra satelit polusi di Eropa berukurang drastis akibat lockdown. Foto: ESA

Nitrogen dioksida adalah polutan atmosfer yang dapat berdampak serius bagi kesehatan, terutama bagi penderita asma atau fungsi paru-paru yang melemah, dan dapat meningkatkan keasaman curah hujan dengan efek merusak pada ekosistem yang sensitif dan kesehatan tanaman. Sumber utama polutan tersebut berasal dari mobil dan kendaraan lainnya.

4. Deforestasi di Amazon

Hutan tropis selama ini menempati posisi penting sebagai paru-paru dunia atau planet, menghirup CO₂ dan menyimpannya dalam biomassa kayu sambil menghembuskan oksigen.

Deforestasi di wilayah Amazon selama beberapa dekade belakangan diperparah dengan kebijakan legalisasi pembukaan hutan oleh pemerintah Brasil. Video dari satelit ESA/USGS di atas menunjukkan betapa cepatnya hutan hujan Amazon di negara bagian Rondonia, Brasil barat antara 1986 dan 2010.

Baca juga: Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan?

5. Gunung es sebesar dua kali lipat Jakarta

Gunung es di Antartika pecah dan membuat gunung es baru sebesar dua kali lipat Jakarta. Foto: ESA

Lapisan es di Antartika mengandung cukup banyak air untuk menaikkan permukaan laut global hingga 58 meter jika semuanya mencair. Sedang kenaikan beberapa milimeter saja sudah mengancam wilayah pesisir di seluruh dunia, apalagi sampai puluhan meter.

Belum lama ini, sebuah gunung es pecah dan membentuk sekitar gunung es baru yang lebih kecil dari gunung es secara keseluruhan namun amat besar ukurannya secara individu, mencapai 1.270 km² atau dua kali lipat luas ibu kota Indonesia, Jakarta. Video pecahnya gunung es dan membentuk gunung es baru bernama A-74 itu tertangkap secara dramatis oleh satelit ESA.

Jangan Salah, Boeing Juga Andalkan Kereta untuk Kirim Badan Pesawat ke Fasilitas Perakitan Akhir

Untuk pengiriman logistik lintas negara bahkan benua, produsen pesawat terbang macam Airbus dan Boeing sudah pasti mengandalkan jalur udara dan laut. Namun, bagaimana dengan pengiriman logistik lintas kota? Bergantung pada situasi dan kondisi, Boeing-Airbus memiliki pendekatan tersendiri.

Baca juga: Meski Jaya di Udara, Rupanya Airbus Andalkan Jalur Laut dalam Proses Perakitan Pesawat

Kita tahu, Airbus pada pertengahan tahun lalu untuk terakhir kalinya melakukan pengiriman badan pesawat A380 ke fasilitas perakitan akhir di pinggiran Toulouse, Perancis, dari pabrik Saint-Nazaire (berjarak sekitar 700 km) melalui jalur darat. Ketika itu, Airbus mengerahkan tiga truk. Sampai di sini, poinnya adalah Airbus memilih menggunakan truk untuk pengiriman jalur darat.

Lain Airbus, lain Boeing. Produsen pesawat terbesar di dunia itu diketahui sudah sejak lama mengandalkan kereta api untuk mengirim logistik, dalam hal ini badan pesawat. Badan pesawat tersebut diproduksi oleh Spirit AeroSystems di Wichita, Kansas, sedangkan fasilitas jalur perakitan akhir Boeing berada di Renton, Washington.

Tak seperti pada kasus pengiriman badan pesawat Airbus A380 yang hanya menempuh jarak sekitar 700 km, pengiriman fuselage Boeing 737 ke Renton berjarak sekitar 2.900 km. Cukup jauh untuk ditempuh menggunakan truk. Pun sebaliknya, terlalu singkat untuk mengerahkan pesawat kargo Boeing.

Karenanya, sejak 1960, menurut informasi Railway Age yang dikutip Simple Flying, Boeing sudah mulai mengirimkan logistik ke jalur perakitan akhir menggunakan kereta api. Bukan hanya badan pesawat 737, itu juga mencakup seluruh badan dan komponen pesawat Boeing lainnya.

Selain itu, pengiriman logistik berbasis kereta api juga dilakukan Boeing dari fasilitas produksi di Texas menuju Renton dan ada pula yang dikirim ke pabrik Boeing di Everett, Washington.

Pengiriman berbasis kereta oleh Boeing pertama kali dimulai dari rantai produksi pesawat 707, disusul Boeing 777, dan semakin diramaikan oleh komponen Boeing 737. Pada Februari 2018 silam, tercatat, badan pesawat ke 10.000 sukses dikirim ke fasilitas perakitan akhir di Renton menggunakan kereta api.

Kendati dianggap lebih efisien dan efektif dibanding pengiriman via udara ataupun menggunakan truk, pengiriman menggunakan kereta api juga rentan kecelakaan. Sejak pertama kali memulainya, kereta api yang dioperasikan oleh Montana Rail Link itu sudah beberapa kali mengalami kecelakaan.

Terakhir, kecelakaan kereta api yang mengangkut badan pesawat Boeing terjadi pada 2014 lalu. Ketika itu, kereta api anjlok dan menyebabkan 19 dari 90 gerbong keluar rel.

Baca juga: Airbus Pensiunkan Beluga Pertama di Dunia, Pertanda Apa?

Tiga dari gerbong tersebut diketahui membawa badan pesawat Boeing 737 dan terperosok ke Sungai Clark Fork di lembah sebuah gunung di AS. Beruntung, tidak ada korban luka maupun jiwa dalam insiden ini.

Meski demikian, ketiga badan pesawat yang tercebur ke sungai itu mengalami kerusakan dan harus dikirim ke pabrik untuk perbaikan. Satu dari ketiganya bahkan sampai terbelah dua.

Uready, Skuter Roda Tiga yang Bisa Dibelokkan

Sebuah perusahaan yang berbasis di Jerman yakni Oguzhan Abayrak baru-baru ini bertekad membuat skuter e-trike atau skuter roda tiga yang lebih baik dari sebelumnya. E-trike tersebut saat ini baru berupa sebuah prototipe yang sudah berfungsi dengan nama Uready.

Baca juga: Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (21/4/2021), Uready sudah dilengkapi dengan bingkai aluminium yang memungkinkan pengendara bersabda ke belokan. Dilengkapi dengan motor hub depan 500 Watt dan rem cakram dibagian depan serta belakang.

Untuk mengendarainya, pengguna bisa memanfaatkan sakelar throttle ibu jari. Uready ini mampu melaju dengan kecepatan tertinggi 112 mph atau 20 km per jam.

E-trike buatan Jerman tersebut dilengkapi dengan baterai lithium yang pengisiannya terintegrasi dengan rangka yang kabarnya dapat dilepas. Dengan baterai yang digunakan, Uready akan mampu melaju hingga jarak sejauh 22 mil atau sekitar 35 km dan bisa digandakan dengan menambahkan baterai opsional kedua.

Untuk mengemudikannya, pengguna berdiri di atas beberapa pijakan kaki lipat. Ketika memarkirkan e-trike, pengguna dapat mengunci rangka agar tetap berdiri tegak.

Tak hanya itu, untuk menambah keamanan, pengguna bisa menggunakan rem parkir untuk mencegah Uready tergelincir atau melaju sendiri. Terlebih lagi, Abayrak mengatakan tim tengah mengerjakan pembuatan kendaraan yang dapat dilipat.

Dalam rencana awal ada 45 skuter roda tiga yang akan diproduksi dan ada kemungkinan produksi dalam skala lebih besar. Hiungan kalkulasi Kickstarter Uready senilai €3900 atau sekitar Rp67,7 juta yang diperuntukkan skuter roda tiga dengan satu baterai tersebut.

Baca juga: Mercedes-Benz Luncurkan Skuter Listrik dengan Bandrol Rp19,8 Juta

Pengiriman akan dilakukan September 2021 jika berjalan sesuai rencana. Selain Uready, e-trike lainnya yang bisa dibelokkan adalah Tris Bike. Di mana Tris Bike ini menempatkan kedua roda di depan dan menggunakan motornya untuk menambah tenaga pengendara dan gagal mencapai tujuan Kickstarter ya.

Gerbang Suar Jakarta Jadi Tema TOD Lebak Bulus

Berbagai fasilitas kini tengah dikembangkan di transit oriented development atau TOD Lebak Bulus oleh PT MRT Jakarta. TOD di Lebak Bulus ini akan dibangun di lahan seluas 78,5 ha dan memiliki tema Gerbang Suar Jakarta.

Baca juga: Garap TOD di Stasiun Layang, MRT Jakarta Siap Bangun Transit Plaza di Lebak Bulus

Plt. Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Ahmad Pratomo mengatakan, TOD Lebak Bulus memiliki visi untuk mewujudkan pergerakan ketersediaan ruang publik untuk memperkuat sistem penghubung antar lahan di dalam kawasan yang terintegrasi pada lahan-lahan pengembangan baru dengan berbagai fasilitas transit di Selatan Jakarta.

“Saat ini sudah terbangun infrastruktur yang berupa pedestrian di sekitar Stasiun MRT Lebak Bulus dan park & ride yang dapat digunakan untuk menitipkan kendaraan pribadi,” ujar Tomo dalam keterangan tertulis Kamis (20/05/2021).

Dia menambahkan, MRT Jakarta juga tengah membangun infrastruktur lainnya seperti Transit Plaza dan interkoneksi antara Stasiun MRT Lebak Bulus dengan Poin Square. Pengembangan TOD akan memiliki beragam potensi seperti kehadiran sekitar 1,5 ha taman dan ruang terbuka, enam titik kiss and ride yang dapat digunakan penguna kendaraan untuk melakukan drop off 8,2 km jalur pedestrian serta transit intermoda MRT Jakarta, TransJakarta dan bus.

Tomon menyebutkan, dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan berorientasi trasit Lebak Bulus, dilakukan berbagai strategi pengembangan kawasan yakni untuk mengintegrasikan sistem transportasi publik dengan keseluruhan Lahan Perencanaan untuk mendukung kegiatan transit dan perpindahan antar moda yang mudah dan nyaman.

Kemudian meningkatkan kualitas ruang publik untuk mendorong pergerakan orang serta memberikan pengalaman ruang yang menarik menuju titik transit. Mengintegrasikan konsep pedestrian spine dengan konsep tata massa bangunan dan konsep tata guna lahan mikro di sepanjang koridor sumbu Transit Plaza (depan Poin Square) Interkoneksi Stasiun MRT Lebak Bulus-Poin Square.

Mengembangkan kawasan yang ramah pejalan kaki dan mengoptimalkan pedestrian linkage yang memungkinkan orang untuk berjalan dengan nyaman dan aman. Untuk mengembangkan konsep pemanfaatan dan pengendalian ruang publik di sepanjang jalur pergerakan transit agar sesuai dengan karakter kawasan dan sesuai dengan rencana kota.

“Pengembangan kawasan berorientasi transit Lebak Bulus diharapkan dapat menjadi magnet bagi masyarakat penglaju dari daerah penyangga seperti Tangerang Selatan yang banyak beraktivitas di Jakarta. Selain TOD Lebak Bulus, PT MRT Jakarta saat ini sedang mengembangkan kawasan transit terpadu lainnya di Stasiun Fatmawati, kawasan Istora Senayan, kawasan Blok M, dan Stasiun Dukuh Atas,” jelas Tomo.

Baca juga: Bangun TOD di Lebak Bulus, MRT Jakarta Lalukan Studi Pengembangan dengan Wijaya Karya

Pemerintah DKI Jakarta pun telah memberikan mandat kepada PT MRT Jakarta untuk menjadi operator utama pengelola kawasan TOD di kawasan stasiun sesuai dengan Pergub DKI Jakarta No.15/2019. Beleid ini tentang Penugasan Perseroan Terbatas Mass Rapid Transit Jakarta Sebagai Pengelola Kawasan Berorientasi Transit Koridor Utara-Selatan. Selain itu juga ada Pergub PRK No.67/2019 tentang Penyelenggaraan Kawasan Berorientasi Transit.

Gegara Tsunami Covid di India, Boeing 777 Emirates dari Mumbai ke Dubai Hanya Bawa Satu Penumpang

Lantaran tsunami Covid-19 yang meroket di India, banyak negara yang kini tak menerima kedatangan warga negara India, atau orang yang transit via India. Akibatnya, penerbangan yang keluar dari Negeri Anak Benua tersebut cenderung kosong akan penumpang. Seperti kejadian baru-baru ini, Boeing 777-300ER milik Emirates tujuan Mumbai – Dubai, hanya membawa satu penumpang saja.

Baca juga: Menjadi Penumpang Tunggal Dalam Penerbangan? Wanita Filipina Baru Merasakannya

Dilansir KabarPenumpang.com dari onemileatatime.com (26/5/2021), penerbangan dengan penumpang satu-satunya terjadi pada tanggal 19 Mei 2021. Penumpang itu mengatakan dirinya belum pernah merekam video selama penerbangan dan ini dilakukan karena merasa istimewa dalam penerbangan dari Mumbai menuju Dubai tersebut.


Dalam video pendek sekitar dua menit itu, penumpang terlihat dikawal dari setelah loket check in hingga masuk ke dalam kabin. Ketika tiba di kabin pun, penumpang disambut dengan antusias oleh beberapa anggota kru yang bertepuk tangan untuknya.

Tak hanya itu, kapten penerbangan juga keluar dari kokpit dan berkata, “Biasanya kami melakukan PA besar-besaran untuk mengumumkan detail penerbangan, tapi karena itu satu-satunya penerbangan di sini, saya akan memberikannya kepada Anda.”

Penumpang bernama Bhavesh Javeri bahkan bercanda dengan kapten bahwa terakhir kali dia menyewa mobil, itu adalah 50 kursi. Awak kemudian membawanya tur ke tiga kelas berbeda di dalam kabin, yang memiliki total 354 kursi. Namun dalam video itu tidak jelas di mana penumpang memesan kursinya dan duduk selama penerbangan.

“Meskipun saya menyadari biasanya ada aturan ketat seputar peningkatan gratis, saya merasa ini adalah salah satu contoh di mana akan lebih tepat untuk menabraknya ke kabin premium, jika dia belum berada di kabin,” ujar penumpang yang memiliki akun Twitter bernama @Ashoke_Raj.

Pesawat Emirates EK-501 tersebut dioperasikan dari bandara di Mumbai tujuan Dubai dengan satu penumpang dan lepas landas pukul 04.30 waktu setempat. Penumpang yang diangkut dari India pun hanya untuk beberapa kategori yang diizinkan masuk ke Dubai yakni, anggota misi diplomatik, pemegang visa emas Uni Emirat Arab (UEA), warga UEA dan penumpang yang dibebaskan atau diberi izin untuk memasuki UEA oleh otoritas yang sesuai.

Selain itu juga penumpang yang bepergian dengan penerbangan bisnis dan memiliki sertifikat uji PCR Covid19 yang valid. Untuk diketahui, UEA telah memberlakukan pembatasan ketat pada perjalanan. Pada 25 April 2021, UEA memberlakukan pembatasan pada orang yang datang ke negara itu dari India. Pada 24 Mei, UEA mengumumkan bahwa mereka memperpanjang larangan India hingga setidaknya 14 Juni 2021.

Baca juga: Jadi Penumpang Tunggal di Penerbangan Garuda Indonesia, Sosok Pengusaha Asal Palu Menjadi Viral

“Emirates telah menangguhkan penerbangan penumpang dari India mulai 24 April 2021 hingga 14 Juni 2021. Selain itu, penumpang yang telah transit melalui India dalam 14 hari terakhir tidak akan diterima untuk melakukan perjalanan dari titik lain ke UEA,” tulis Emirates dalam laman webnya.

Tak Benar Akan Dioperasikan PT LRT Jakarta, Skytrain Bandara Soetta Stop Beroperasi Karena Alasan Penghematan Biaya

Kabar burung tersiar dari akun Twitter @indoflyer yang mengatakan, PT LRT Jakarta akan mengoperasikan kereta layang atau Skytrain di Bandara Internasional Soekarno–Hatta. Di mana isi cuitan tersebut mengatakan bahwa Skytrain di Bandara Soetta tidak diperasikan oleh PT Angkasa Pura II atau AP II.

Baca juga: Layani Akses Terminal 2 dan 3, Skytrain di Soetta Resmi Diuji Coba

Cuitan itu mengatakan, bila AP II tidak memiliki izin mengoperasikan kereta tersebut dan Skytrain dioperasikan oleh PT LEN Railways System yang merupakan anak dari perusahaan LEN Industri. “Kabar terakhir [Kalayang] akan dialihkan ke PT LRT Jakarta,” bunyi cuitan akun @indoflyer tersebut.

Menanggapi hal ini, Corporate Communication LRT Jakarta Ati Kurniati menjelaskan terkait dengan operasi Skytrain Kalayang menjadi wewenang dari operator Bandara Soetta yakni AP II. Dia menegaskan sampai saat ini belum ada wacana jika LRT Jakarta akan mengoperasikan Kalayang tersebut.

“Sehubungan dengan operasional Kalayang Angkasa Pura II adalah sebagai pihak yang lebih berkompeten. Namun pada prinsipnya LRT Jakarta siap memberikan dukungan dan bantuan kepada semua operator transportasi termasuk AP II,” ujarnya.

PT Angkasa Pura II (persero) mengkonfirmasi tak beroperasinya kereta Kalayang di Bandara Soetta semata karena alasan cost leadership atau penghematan biaya. Yado mengatakan, saat ini untuk melayani perpindahan penumpang antara Terminal 2 ke Terminal 3, perseroan mengoptimalkan penggunaan shuttle bus.

Bahkan Yado membantah kabar burung yang beredar Skytrain tak beroperasi karena AP II tidak memiliki izin. Ini juga termasuk dengan adanya kabar kereta yang dioperasikan oleh PT LRT Jakarta.

Baca juga: Angkasa Pura II: Skytrain Akan Jadi Hadiah di HUT RI Ke-72

“Untuk ini memang Kalayang tidak dioperasikan sebagai salah satu kebijakan costleadership operasi. Bukan karena yang disampaikan di posting twitter @indoflyer itu kabar tidak benar. Saat ini pun masih dengan LEN,” ungkap Yado.

Jual Makanan di Udara, Lufthansa Jadi Maskapai Full Service Rasa LCC

Menekan beragam jenis pengeluaran dan memaksimalkan pendapatan, itulah yang saat ini dilakukan setiap maskapai penerbangan, tak peduli itu maskapai full service atau low cost carrier. Bahkan karena terdesak, beberapa maskapai full service kini sudah mengorbankan sedikit ‘pride’-nya. Seperti yang terbaru dilakoni maskapai asal Negeri Bavaria, Lufthansa.

Baca juga: Layakkah Full-Service Carrier Layani Penumpang dengan Standar LCC?

Mengutip dari akun Intasgram @lufthansa.fanpage (27/5/2021), disebutkan maskapai plat merah ini menawarkan cemilan gratis selama penerbangan untuk rute Eropa. Embel-embel ‘gratis’ sejatinya tak lazim, lantaran sebagai maskapai bergenre full service, setiap makanan, minuman, termasuk cemilan, seharusnya memang sudah paket dalam layanan, pun termasuk di kelas ekonomi. Di layanan terbaru ini, Lufthansa menawarkan penjualan makanan di udara dengan label “Onboard Delights.”

“Onboard Delights” merupakan kolaborasi Lufthansa dengan “Dean & David” untuk menawarkan makanan segar berkualitas tinggi yang dapat dibeli di kelas ekonomi. Nah, bila penumpang telah membeli paket tersebut, hadiahnya berupa cemilan gratis berupa sebotol air mineral dan kue coklat. Penjualan panganan di udara ala LCC ini diberlakukan untuk penerbangan dengan rute Eropa di atas 60 menit. Atas gebrakan tersebut, sontak mengundang reaksi dari para simpatisan Lufthansa, di antaranya seperti pertanyaan, “apa perbedaan maskapai ini dengan Easyjet yang LCC?”

Baca juga: Suka Makanan Minang? Citilink Hadirkan Nasi Kapau Untuk Kuliner di Udara

Jika berspekulasi, mungkin ini adalah trik yang digunakan maskapai untuk mereduksi ongkos pengoperasian sehari-hari – bukan semata-mata untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Juga jangan dulu terlalu jauh untuk membicarakan sanksi apa yang sekiranya dikenakan terhadap maskapai reguler rasa LCC, namun yang perlu diketahui adalah agar lebih cermat ketika membeli tiket dan memperhatikan layanan apa yang sekiranya akan Anda dapat – mulai dari lounge khusus hingga makanan/minuman selama perjalanan.

Dear Pilot, Didukung Google, Startup AS Serius Bikin Pesawat Tanpa Pilot!

Semakin banyak perusahaan yang ikut mengembangkan pilotless aircraft atau pesawat tanpa pilot. Terbaru, setelah lama bersembunyi, Merlin Labs akhirnya berani blak-blakan bahwa pihaknya sudah berhasil mengumpulkan dana dari Google Ventures dan First Round Capital sebesar US$25 juta atau sekitar 357 miliar (kurs 14.314).

Baca juga: Dear, Pilot! Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas Otomatis, Loh!

Dana tersebut sebetulnya tak terlalu besar. Bahkan bisa dibilang sangat kecil untuk pengembangan teknologi pesawat penumpang dan kargo otonom. Namun, besar kemungkinan ada klausul suntikan dana tambahan bila progres pengembangan pesawat tanpa pilot tersebut menunjukkan tanda-tanda positif.

Selain bermitra dengan dua perusahaan tersebut, Merlin Labs juga menggandeng Dynamic Aviation untuk penyediaan subjek atau pesawat untuk diuji coba menggunakan teknologi otonom miliknya. Ada sekitar 55 pesawat milik King Air, rekanan Dynamic Aviation, yang bakal diuji coba dalam proyek tersebut.

Menariknya, teknologi otomatisasi pesawat oleh Merlin Labs juga mengincar pesawat yang sudah ada. Bilapun itu terlalu kompleks, setidaknya, bagi pesawat yang masih mengdaposi dua pilot atau two men cockpit, itu dapat dikurangi menjadi satu pilot, semata untuk mengurangi biaya operasional maskapai.

“Apa yang kami kerjakan adalah menciptakan pilot digital (pesawat tanpa pilot) yang benar-benar otonom,” kata CEO Merlin Labs, Matt George kepada The Verge.

“Tak hanya untuk dapat pergi dan menerbangkan pesawat itu tanpa awak sama sekali, tetapi juga pada pesawat yang lebih besar untuk menjadi mampu mengurangi awak pesawat (menjadi hanya satu pilot di kokpit). Jadi mengambil pesawat yang sudah ada di luar sana, dan memungkinkan pesawat itu bisa terbang secara mandiri,” tambahnya.

Matt juga membocorkan teknologi pesawat tanap pilot yang digunakan Merlin Labs. Ia mengatakan, pihaknya tidak percaya dan tidak akan menggunakan teknik pesawat otonom kendali jarak jauh melalui sebuah sistem kendali pusat, yang saat ini marak digunakan drone tempur dan sejenisnya, bukan pesawat atau wahana komersial.

Sebab, andai kata pesawat kehilangan sinyal dengan pusat kendali, maka, kecelakaan tinggal menunggu waktu.

Pusat kendali, masih Matt melanjutkan, tetap akan ada. Hanya, mereka bertugas untuk mengawasi saja, tidak lebih. Adapun fungsi komunikasi dengan ATC hingga navigasi, semua harus dilakukan secara otonom oleh pesawat.

Sebagai gantinya, Merlin Labs lebih memilih sistem radar jaringan kendali lalu lintas udara (air traffic control network’s radar system) untuk merencanakan jalur penerbangan yang aman.

Ini akan didukung dengan transponder digital sebagai bagian dari sistem NextGen besutan FAA untuk bekal pesawat memahami keberadaan pesawat atau benda lain di langit.

Baca juga: Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

Pesawat otomatis tanpa pilot, baik di penerbangan penumpang maupun kargo, dinilai Matt menjadi solusi atau berbagai permasalahan di dunia penerbangan saat ini. Lagi pula, sejak era digital hadir, selama ini, pilot memang lebih dimanjakan dengan hampir sebagian besar sistem di pesawat berbasis komputer atau otomatis. Hal itu dinilai membuat keterampilan pilot menurun.

Daripada setengah hati, tentu akan lebih baik memaksimalkan sistem pesawat otonom atau pesawat tanpa pilot agar lebih banyak manfaat yang diterima maskapai secara khusus dan industri penerbangan secara umum.

Jaringan Kereta Cepat Baru di Eropa, Wina ke Berlin Hanya Empat Jam

Jerman, Republik Ceko dan Austria telah sepakat bekerja sama untuk meningkatkan rute kereta dan membuat jalur berkecepatan tinggi dalam meningkatkan koneksi antara Wina, Praha dan Berlin. Nantinya waktu perjalanan tersebut akan dipersingkat dalam 15 tahun ke depan jika rencana yang diumumkan pada KTT kereta api Jerman awal pekan ini membuahkan hasil.

Baca juga: 25 Maret, Kereta Cepat Pertama Yunani Siap Mengular dari Athena ke Thessaloniki

KabarPenumpang.com melansir dari laman thelocal.de (22/5/2021), Menteri Transportasi Jerman Andreas Scheuer mengatakan tentang rencana yang sudah disetujui tiga negara di Eropa tersebut. Dia mengatakan, rencana itu disebut Via Vindobona untuk kombinasi rute yang ditingkatkan dan bagian dari jalur kereta api kecepatan tinggi baru.

Dalam perjanjian Via Vindobona memungkinkan penumpang untuk melakukan perjalanan dari Berlin ke Wina dalam waktu sekitar lima jam dengan perhentian terbatas. Sedangkan layanan ekspres dapat membuat waktu perjalanan menjadi empat jam.

Waktu tempuh tercepat antara dua kota tersebut saat ini adalah delapan jam 15 menit. Railway Gazette internasional mengatakan, kehadiran jalur kereta berkecepatan tinggi tersebut akan membuat perjalanan Berlin ke Praha dipotong menjadi dua jam 30 menit dan Dresen ke Praha menjadi sekitar satu jam.

Kabar ini muncul setelah rencana untuk mengidupkan kembali kereta malam di seluruh Eropa termasuk layanan sleeper dari Wina ke Paris akhir 2021. Bahkan inti skema ini adalah menyusun terowongan sepanjang 30 meter di bawah Erzgebirge di perbatasan antara Jerman dengan Ceko.

Di mana deklarasi tersebut ditandatangi pada Maret 2020 kemarin. Ini diharapkan akan selesai pada pertengahan 2030-an, sebagai bagian dari kereta api performa tinggi 123 km antara Dresden dan Praha, memotong jarak sekitar 56 km. Menteri Transportasi Ceko Karel Havlíček mengatakan dia ingin memperkenalkan layanan dua jam ke ibu kota tetangga, meningkatkan layanan per jam dalam jangka panjang.

Baca juga: Layanan Kereta Malam di Eropa – Mantan Primadona yang Tidak Pernah Kehilangan Penggemar

Situs web Railtech melaporkan pada 2019 bahwa manajer infrastruktur kereta Ceko SŽDC berencana membangun rel kereta api berkecepatan tinggi di negara itu, memungkinkan kereta penumpang melaju dengan kecepatan 320 km per jam, lebih dari dua kali lebih cepat dari yang mungkin saat ini. Menteri Iklim Austria Leonore Gewessler menjanjikan permulaan akan dilakukan tahun depan pada peningkatan satu miliar euro dari 66 km Nordbahn antara Wien dan perbatasan Ceko di Bernhardsthal.