Pembatasan Dilanjutkan, Moda Transportasi Bangladesh Mulai Beroperasi Setelah Berhenti 7 Minggu

Pembatasan dilakukan oleh beberapa negara di dunia untuk setiap kotanya dan ini untuk mencegah penyebaran virus corona. Adanya ini kemudian membuat moda transportasi seperti bus jarak jauh dan kereta api menghentikan sementara perjalanan mereka dalam mengangkut penumpang yang akan bepergian.

Baca juga: Ada Teknologi Jepang di Balik Kereta Komuter Pertama Bangladesh

Seperti Bangladesh yang kini mulai mengurangi pembatasan perjalanan pada bus jarak jauh dan kereta api. Adanya pengurangan pembatasan ini memungkinkan operator untuk melanjutkan layanan setelah penghentian operasional selama hampir tujuh minggu.

KabarPenumpang.com melansir dhakatribune.com (23/5/2021), meski adanya pengurangan, tetapi divisi kabinet tetap memperpanjang pembatasan yang berlangsung hingga 30 Mei 2021. Mereka mengatakan bahwa angkutan umum akan dizinkan untuk mengangkut penumpang dengan setengah kapasitas.

Meski begitu protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan menjaga jarak tetap harus dijalankan baik penumpang, pengemudi maupun kondektur. Selain itu, tempat makan yang sebelumnya hanya melayani take away atau bawa pulang, juga telah diizinkan untuk menawarkan fasilitas makan di tempat dengan kapasitas setengah isi restoran itu.

Pembatasan telah dibatasi karena jumlah infeksi dan kematian turun secara signifikan, dan mempertimbangkan tuntutan pemilik dan pekerja layanan transportasi dan restoran yang sangat terpengaruh oleh penguncian. Farhad Hossain, menteri negara bagian untuk administrasi publik mengatakan, bahwa pemerintah telah memutuskan untuk melonggarkan transportasi umum dan pembatasan restoran.

“Karena tingkat infeksi Covid-19 telah turun belakangan ini. Namun, pemerintah akan menegakkan pedoman kesehatan dengan ketat,” ujarnya.

Pemerintah awalnya memberlakukan pembatasan pergerakan publik, termasuk penangguhan angkutan umum jarak jauh, pada 5 April dan diperpanjang hingga 23 Mei secara bertahap. Meskipun layanan bus dalam distrik dilanjutkan menjelang Idul Fitri mengingat banyaknya wisatawan, layanan jarak jauh tetap ditangguhkan.

Namun, orang-orang apatis dengan pembatasan tersebut, karena mereka bergegas keluar dari ibukota mengabaikan pedoman keselamatan kesehatan. Sementara itu, operasi penerbangan akan berlanjut dalam skala terbatas sesuai arahan otoritas penerbangan sipil sebelumnya. Sebanyak 56 kereta antarkota dan 18 kereta lokal akan beroperasi mulai hari ini, menurut Menteri Perkeretaapian Md Nurul Islam Sujan.

“Kereta akan membawa penumpang dengan setengah kapasitas karena pandemi,” ujar Sujan.

Banyak orang lebih memilih kereta api untuk perjalanan jarak jauh dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan. Ketika pembatasan dicabut, pihak berwenang telah memutuskan untuk melakukan pengadilan keliling untuk memastikan bahwa angkutan umum tidak membawa penumpang dengan kapasitas lebih dari 50 persen, dan memastikan setiap orang mengikuti pedoman kesehatan.

“Kami akan mempekerjakan hakim dan mengambil bantuan dari pemerintah setempat untuk mengendalikan massa di terminal peluncuran,” ujar Ketua Otoritas Transportasi Air Pedalaman Bangladesh (BIWTA) Golam Sadeq.

Baca juga: Di Bangladesh, Baut Rel Kereta Diganti dengan Batang Bambu dan Pisang

Di sisi lain, seorang pejabat senior dari Otoritas Transportasi Jalan Bangladesh (BRTA) menegaskan bahwa mereka akan mendirikan pengadilan keliling di berbagai terminal bus di Dhaka. Bangladesh mencatat 28 kematian baru akibat Covid-19 dalam 24 jam hingga kemarin pagi, menjadikan total korban tewas di negara itu menjadi 12.376. Selanjutnya 1.354 orang dinyatakan positif Covid-19 pada hari itu, menjadikan jumlah total kasus yang dikonfirmasi di negara itu menjadi 789.080.

Tak Seperti MH370, Sudah 18 Tahun Boeing 727 Maskapai Ini Hilang Tapi Tak Serius Dicari

Misteri hilangnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines MH370 pada 8 Maret 2014 terus berlanjut. Meski pencarian resmi oleh Pemerintah Malaysia sudah dihentikan, namun, investigator independen terus mencari dan perlahan mulai menemukan titik terang dimana pesawat nahas tersebut berada.

Baca juga: Ada Jalur Penerbangan Palsu ke Pulau Jawa Sebelum MH370 Hilang di Samudera Hindia

Di dunia ini, ada begitu banyak kejadian misterius terkait penerbangan, mulai dari pesawat hilang, jatuh, mendarat darurat, rusak tanpa sebab, dan lain sebagainya. Sayangnya, itu tak selalu viral dan menyita perhatian dunia internasional layaknya MH370. Salah satunya pesawat Boeing 727-200 TAAG Angola Airlines. Padahal pesawat itu sudah hilang secara misterius selama 18 tahun lalu, jauh lebih lama ketimbang MH370.

Dilansir Simple Flying, hilangnya pesawat tersebut bermula dari adanya larangan terbang oleh sebuah bandara di Angola. Itu terjadi lantaran maskapai belum membayar berbagai kewajiban bayar serta sederet permasalahan lainnya, seperti pilot tak bersertifikat dan lain sebagainya.

Selain itu, peraturan perundang-undangan terkait penerbangan di sana juga sangat buruk sekali, membuat sangat rumit sebelum hilangnya pesawat.

Karena permasalahan tak kunjung usai, pemilik pesawat, lessor Aerospace Sales and Leasing Corporation yang berbasis di Miami, Amerika Serikat (AS), bermaksud mengirim pesawat ke IRS Airlines, maskapai asal Nigeria, sebagai operator baru.

Ketika itu, tepat pada hari ini, sore tanggal 25 Mei 2003 atau 18 tahun lalu, dua orang ditugaskan untuk mengirim pesawat ke IRS Airlines. Dua itu adalah Ben Padilla, pilot swasta WN AS, dan John Mutantu sipil WN Angola. Ketika ditugaskan, Ben belum memiliki lisensi menerbangkan Boeing 727. Tetapi, di Afrika, itu tidak terlalu penting karena buruknya pengawasan.

Dari tinjauan investigasif dari majalah Air & Space pada tahun 2014, pilot tersebut diyakini menerbangkan pesawat tanpa izin ATC dalam posisi lampu mati dan transponder mati, dan lepas landas di atas lautan, mengingat Bandara Luanda, berada di pinggir pantai. Pesawat dengan nomor registrasi N844AA itu pun akhirnya menghilang bersamaan dengan terbenamnya matahari.

Sejak saat itu, investigasi oleh FBI dan CIA sudah dilakukan selama beberapa waktu. Namun, apa yang keduanya dapat? Tidak ada. Badan investigasi sekelas FBI dan CIA saja sampai tak menemukan sedikitpun jejak pesawat tersebut, bagaimana dengan investigator lainnya?

Baca juga: Hari Ini, 62 Tahun Lalu, Pesawat Avro 618 Ten Australian National Airways Ditemukan Usai 27 Tahun Hilang

“Tidak pernah jelas apakah itu dicuri untuk tujuan asuransi oleh pemiliknya, atau apakah itu dicuri dengan maksud untuk membuatnya tersedia untuk membuat resah masyarakat, atau apakah itu adalah upaya terorisme yang disengaja. Ada spekulasi untuk ketiganya,” kata pensiunan Jenderal Marinir AS, Mastin Robeson, kepada Air & Space.

Meski demikian, banyak insan penerbangan, mulai dari pilot, lessor, pejabat AS, debitur, pemangku kepentingan, dan lain sebagainya, yakin bahwa pesawat tersebut jatuh ke laut di lepas pantai Angola atau di Samudera Atlantik Selatan, menjadikannya sebagai misteri abadi yang tak pernah terpecahkan.

Ternyata, Pesawat Tak Selalu Ngebut di Runway untuk Bisa Terbang, Ini Alasannya

Penumpang pesawat biasanya merasakan sensasi dari daya dorong mesin saat meluncur di runway untuk lepas landas. Namun, kondisinya tak selalu demikian. Semua tergantung pada hitung-hitungan di atas kertas oleh sang pilot.

Baca juga: Mengenal “Rejected Takeoff,” Pesawat Batal Lepas Landas Saat Ngebut di Runway Gegara Hal Ini

Kita tahu, sebelum mulai memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan), informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan.

Semua ini menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan.

Pilot juga perlu menghitung jarak pendaratan atau landing distance. Proses menentukan ini berdasarkan faktor eksternal tidaklah mudah.

Pada pesawat-pesawat tua, pilot harus menghitung secara manual. Namun, pada pesawat terbaru, seperti Boeing 737 Dreamliner dan Airbus A350, pilot cukup memasukkan angka-angka ke komputer (onboard performance tool) dan rekomendasi pun keluar. Dengan begitu, potensi kesalahan cenderung berkurang dibanding dengan menghitung secara manual.

Dari informasi pra penerbangan, termasuk berat total pesawat ditambah bahan bakar, penumpang dan kargo, serta panjang runway, pilot sudah dibekali dengan kemampuan menghitung berapa kecepatan yang dibutuhkan pesawat untuk bisa lepas landas. Dari sini kemudian diketahui, apakah pesawat perlu melesat dengan kecepatan penuh di runway atau tidak.

Kepada USA Today, Jhon Cox, mengungkapkan, andai pesawat bisa lepas landas di bawah kecepatan maksimum, setidaknya ada beberapa manfaat. Ini juga menjadi alasan mengapa pesawat didorong agar tak sampai mengeluarkan kecepatan penuh untuk lepas landas.

“Kebanyakan lepas landas menggunakan derated thrust (daya dorong di bawah maksimum) untuk menghemat keausan mesin. Untuk setiap lepas landas, kinerja dihitung, pengaturan daya yang diperlukan ditentukan, dan pengaturan daya dorong dibuat. Biasanya, ini di bawah level maksimum yang tersedia, dan dikenal sebagai derated thrust takeoff,” jelasnya.

“Penurunan kecepatan (saat lepas landas) meningkatkan masa pakai dan ketangguhan mesin. Selain menurunkan biaya pengoperasian (mesin), derated thrust takeoff juga mengurangi kemungkinan kerusakan mesin. Semua jet menggunakan beberapa teknik derated atau reduced-thrust takeoff,” tambahnya.

Derated atau reduced-thrust takeoff tentu pada akhirnya membuat tingkat kemungkinan kegagalan mesin pesawat menjadi lebih kecil. Sebaliknya, itu meningkatkan rating keselamatan penerbangan.

Baca juga: Pesawat Taxiing dengan Dua Mesin, Pilot Qatar Airways Terancam di PHK

Meski demikian, pilot tetap memiliki opsi untuk menggunakan kekuatan penuh andai timing menuntunnya pada hal itu. Andai pesawat tak juga mencapai di kecepatan yang dibutuhkan padahal runway sudah hampir habis, tentu opsi membuat pesawat melesat di kecepatan penuh akan diambil atau sebaliknya, membatalkan take off (rejected take off).

Dengan kata lain, alasan pesawat tak selalu mencapai kecepatan maksimum ketika lepas landas, setidaknya ada tiga. Pertama, untuk mengurangi tingkat keausan mesin. Kedua, efisiensi atau menurunkan biaya operasional. Ketiga, mengurangi kemungkinan kegagalan atau kerusakan mesin.

Sakit Leukimia Akibat Terpapar Sinar Kosmik, Gugatan Awak Kabin Baru Diakui Setelah Meninggal Dunia

Mungkin sebagian orang berpikir, bekerja sebagai seorang awak kabin di sebuah maskapai adalah pekerjaan yang mudah dan memiliki penghasilan tinggi. Namun meski begitu, dalam kenyataannya pekerjaan sebagai awak kabin memiliki risiko yang juga tinggi. Pasalnya dalam setiap penerbangan, tidak akan ada yang tahu akan terjadi apa bisa kecelakaan atau hal yang tak diinginkan lainnya.

Baca juga: Korean Air Batalkan Program Flight to Nowhere, Gegara Covid-19?

Seperti terpapar sinar kosmik ketika melayani penerbangan di rute Artik (Kutub Utara). Bahkan, seringnya terkena paparan sinar kosmik bisa membuat tubuh awak kabin mendapatkan penyakit yang cukup mematikan seperti leukimia. Hal ini juga sulit untuk mendapatkan pengakuan kecelakaan industrial ketika para awak kabin mengkalim penyakit tersebut didapatnya setelah melayani rute Artik berkali-kali.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman koreabizwire.com (24/5/2021), belum lama ini seorang awak kabin meninggal karena leukimia, di mana dia telah bertahun-tahun terbang di atas rute Artik. Namun sayangnya awak kabin ini terlambat menerima pengakuan kecelakaan industri.

Komite Penghakiman Penyakit Kerja, yang beroperasi di bawah payung Layanan Kompensasi & Kesejahteraan Pekerja Korea yang dikelola pemerintah, mengakui minggu lalu bahwa ada hubungan kausal antara pekerjaan pramugari dan terjadinya leukemia. Adanya pengakuan ini membuka jalan bagi keluarga awak kabin yang berduka untuk menerima berbagai tunjangan seperti kompensasi finansial dan biaya pemakanan.

Ini adalah pertama kalinya di Korea Selatan, seorang awak kabin didiagnosis dengan leukimia setalah bertahun-tahun terpapar sinar kosmik menerima pengakuan kecelakaan industri. Untuk diketahui, setelah bergabung dengan Korean Airlines Company tahun 2009, awak kabin itu telah melayani penerbangan di atas rute Artik selama enam tahun.

Awak kabin ini terkena leukimia pada 2015 lalu dan mengajukan permohonana kecelakaan industri tiga tahun kemudian. Sayangnya awak kabin tersebut meninggal Mei tahun lalu sebelum permohonannya tersebut dirilis. Untungnya meski terlambat, tiga tahun setelah permohonan tersebut diajukan, awak kabin itu menerima pengakuan kecelakaan industri.

Baca juga: Korean Air Kembali Terbangkan A380, Pertanda Industri Penerbangan Mulai Sehat?

Risiko terkena sinar kosmik untuk awak kabin yang bertugas di rute Artik ternyata telah muncul berkali-kali. Pemerintah juga menetapkan ketentuan manajemen keselamatan terkait jenis layanan tersebut pada tahun 2013 silam.

Ini Profil LRT Kelana Jaya yang Baru Mengalami Insiden Selama 23 Tahun Beroperasi

Light Rail Transit atau LRT Kelana Jaya merupakan angkutan kereta api kelima dan sistem otomatis tanpa pengemudi di wilayah Lembah Klang. LRT ini juga merupakan bagian dari sistem bawah tanah dan jalur Lembah Klang. LRT ini melayani sebanyak 37 stasiun dan memiliki jalur sepanjang 34,3 km. Tak hanya itu, ada pula pemisahan tanjakan yang sebagain besar berjalan di jalur bawah tanah dan layang.

Baca juga: Dua Kereta LRT Kelana Jaya Tabrakan di Jalur Bawah Tanah, 213 Penumpang Terluka

Sebelumnya bahkan bernama PUTRA LRT yang operasikan oleh Rapid Rail yang adalah anak perusahaan prasarana Malaysia. Jalur ini dinamai dari terminal sebelumnya yakni Stasiun Kelana Jaya. KabarPenumpang.com merangkum wikipedia, pembangunan jalur LRT Kelana Jaya dimulai tahun 1994. Sedangkan operasional kereta ini dimulai 1 September 1998 antara Depo Subang dan Pasar Seni pada tahap pertama. Kemudian tahap kedua dari Pasar Seni ke Terminal Putra tanggal 1 Juni 1999.

Empat tahun beroperasi, LRT Kelana Jaya mengangkut 150 juta penumpang dengan rata-rata 160 ribu penumpang per harinya dan setiap tahun semakin naik jumlahnya. Jalur ini mengalami perpanjangan 17 km dengan konstruksi yang dimulai pada awal 2010 hingga 2016. Dengan 13 stasiun baru, terminal baru sekarang berada di Putra Heights, diperpanjang dari Kelana Jaya, di mana ia bertemu dengan Jalur Sri Petaling.

Dikatakan ada 37 stasiun dengan 31 di antaranya berada di jalur layang, Sri Rampai sejajar dengan jalanan dan lima lainnya berada di bawah tanah. Stasiun, seperti Jalur Ampang dan Sri Petaling , ditata dalam beberapa jenis desain arsitektur. Stasiun layang, di sebagian besar bagian, dibangun dalam empat gaya utama dengan desain atap yang khas untuk bagian jalur tertentu.

Stasiun dibangun untuk mendukung penumpang penyandang disabilitas , dengan lift dan lift kursi roda di samping eskalator dan tangga di antara lantai. Stasiun memiliki celah platform yang lebih kecil dari 5 cm untuk memudahkan akses bagi penyandang cacat dan pengguna kursi roda.

Sempat dikenal dengan nama PUTRA sebelum menjadi Kelana Jaya, ternyata ini adalah singkatan dari Projek Usahasama Transit Ringan Automatik Sdn Bhd (Proyek Joint Venture Light Transit Otomatis), sampai perusahaan tersebut diambil alih oleh pemiliknya saat ini Prasarana Malaysia .

Kereta LRT yang digunakan Kelana Jaya awalnya terdiri dari 35 kereta Innovia Metro 200 (ART) dengan peralatan dan layanan terkait yang dipasok oleh Bombardier Group dan perusahaan elektronik kereta api Quester Tangent. Mereka terdiri dari dua unit listrik ganda yang berfungsi sebagai mobil penggerak atau mobil trailer tergantung pada arah perjalanannya.

Baca juga: Jadi Korban Pelecehan Seksual di LRT, Wanita ini Malah Kena Bully Warganet

Tetapi sejak Juni 2016 di bawah program Kendaraan Tambahan Kuala Lumpur, generasi baru Bombardier Innovia Metro 300 mulai digunakan. Setiap kereta tanpa pengemudi memiliki desain baru untuk tutup ujung dan struktur dinding samping yang melengkung, dengan interior yang lebih besar dan lebih terbuka. Semua kereta memiliki konfigurasi empat gerbong, dengan masing-masing gerbong menampung hingga 220 penumpang. Dengan kereta baru, jalur tersebut dapat meningkatkan kapasitasnya sebesar 20 hingga 30 persen.

Mengenal Roman Protasevich, Jurnalis yang Jadi Alasan Pesawat Ryanair ‘Dibajak’ Belarusia

Roman Protasevich menjadi satu-satunya dari 171 penumpang (termasuk dirinya) yang menjadi alasan dicegatnya pesawat Boeing 737 Ryanair rute Athena (Yunani) – Vilnius (Lithuania). Siapa sebetulnya Protasevich sampai sebegitu berbahayanya bagi rezim petahana Alexander Lukashenko, yang notabene sudah berkuasa sejak 1994?

Baca juga: Dikawal Jet Tempur, Pesawat Ryanair Dipaksa Mendarat Darurat Demi Tangkap Jurnalis

Beberapa hari lalu, penerbangan FR4978 maskapai Ryanair ‘dibajak’ oleh Pemerintah Belarusia dengan dalih adanya ancaman bom. Padahal, saat itu, pesawat sudah berjarak lima menit ke bandara tujuan dan anehnya ATC Bandara Minsk, yang memandu pesawat tersebut sebelum meninggalkan ruang udara Belarusia, meminta untuk mendarat di sana.

Sudah begitu, otoritas setempat sampai mengirim jet tempur MiG-29 untuk mengawal penerbangan. Alhasil, pilot tak bisa berbuat banyak.

Setelah pesawat mendarat di Minsk dan dilakukan penggeledahan, tak ditemukan satupun bom atau benda mencurigakan lainnya. Pihak keamanan justru menangkap seorang penumpang yang diketahui ialah Roman Protasevich.

Menurut kesaksian sejumlah penumpang dalam penerbangan tersebut, ketika mengetahui pesawat yang ditumpanginya dikawal jet tempur dan dipaksa mendarat di Minsk, Protasevich sudah terlihat gelagat tak nyaman.

Itu terus terlihat jelas sampai pesawat mendarat dan petugas masuk ke dalam pesawat. Sampai di sini, ia cukup terkejut dan memberikan laptop ke penumpang di sebelah yang diketahui sebagai partnernya. Protasevich, dengan wajah ketakutan, dengan pasrah menuruti perintah petugas untuk ikut bersamanya.

Dilansir The New York Times, Roman Protasevich, 26 tahun, memang begitu penting untuk ditangkap rezim Aleksandr G. Lukashenko, yang dicap sebagai ‘diktator terakhir Eropa’ dan belakangan juga dicap sebagai ‘teroris internasional’ oleh Barat.

Sejak masih menjadi mahasiswa, Protasevich sudah lancang melontarkan kritikan pedas ke Lukashenko. Puncaknya, pada 2011, ia dikeluarkan dari Universitas Negeri Belarusia akibat keterlibatannya pada aksi protes besar-besaran ketika itu.

Sejak saat itu, ia makin vokal mengkritik pemerintah melalui berbagai paltform, salah satunya Telegram. Di Telegram, ia menjadi salah satu pendiri dan mantan editor NEXTA Live, penyedia berita yang fokus terkait isu-isu terkini di Belarusia.

Sadar jiwanya terancam, pada tahun 2019 ia melarikan diri ke Lituania (Lithuania) dan hidup nyaman di sana. Tetapi, peran dan pengaruhnya lewat NEXTA Live masih cukup besar. Pada demonstrasi besar-besaran tahun 2020 lalu, ia dituduh sebagai salah satu dalang bersama pemimpin oposisi yang juga mantan calon presiden, Svetlana Tikhanovskaya.

Setelah itu, media-media mainstream seluruhnya dibredel, kecuali NEXTA Live yang bertahan di saluran Telegram. Platform media sosial itu dikenal memang sulit untuk diintervensi.

Pada hari dimana Protasevich ditangkap, ia baru saja menghadiri konferensi ekonomi di Yunani bersama Svetlana Tikhanovskaya. Ia kemudian hendak kembali ke Vilnius sebelum akhirnya informasi dari intelijen, KGB, melaporkan bawah penerbangan Ryanair, yang notabene melewati ruang udara Belarusia, memuat Protasevich dan terjadilah apa yang terjadi.

Baca juga: Mantan Pramugari Kini Jadi Jurnalis Penerbangan

Mengingat Protasevich ialah buronan besar Belarusia yang dituduh sebagai teroris dan pembangkang, saat ini ia dihadapi dengan ancaman hukuman mati atau penjara paling cepat di atas 12 tahun.

Terbaru, sebuah video yang diunggah NEXTA Live, menunjukkan, Protasevich mengaku dipukuli selama proses interogasi. Secara fisik, terlihat juga banyak memar di wajahnya.

Buntut Ryanair ‘Dibajak’, Maskapai Dunia Ramai-ramai Tolak Terbang Melintasi Belarusia

Pasca kejadian pembajakan pesawat Ryanair, maskapai dunia ramai-ramai menghindari terbang di ruang udara Belarusia. Hal itu sebagai langkah antisipatif maskapai atas keamanan dan keselamatan penerbangan.

Baca: Dikawal Jet Tempur, Pesawat Ryanair Dipaksa Mendarat Darurat Demi Tangkap Jurnalis

Sejak hari pertama insiden pembajakan ilegal dan menyalahi Chicago Convention 1944 Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) oleh Pemerintah Belarusia, tercatat sudah ada beberapa maskapai yang resmi melarang pesawatnya terbang di langit negara sekutu Rusia itu, seperti Wizz Air, Scandinavian Airlines (SAS), airBaltic, dan LOT Polish Airlines.

Lufthansa, seluruh maskapai Britania Raya, dan Lituania juga mengeluarkan larangan terbang melintasi negara tersebut, begitu laporan Aviation News.

Kemarin, NEXTA Live melaporkan bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa sudah dilakukan di Brussel, Belgia. Seluruh negara-negara Uni Eropa dipastikan melarang penerbangan dari dan ke Belarusia. Pesawat-pesawat Belarusia juga dilarang melintasi ruang udara UE.

Tak moda transportasi udara atau pesawat, seluruh moda transportasi darat dan laut juga diberlakukan hal serupa sehingga membuat perekonomian Belarusia sangat terpukul.

“Kami sedang mengerjakan paket tindakan yang melampaui sanksi terhadap individu, serta penangguhan hubungan transit darat dengan UE,” kata kantor kepresidenan Perancis.

Pesawat dari banyak maskapai ramai-ramai menghindari ruang udara Belarusia. Foto: NEXTA Live

Menurut sejumlah laporan, belum juga sanksi ekonomi dikeluarkan UE dan mungkin AS, bursa saham di Belarusia sudah jatuh ke level yang sama seperti saat demonstrasi besar-besaran terjadi pada pertengahan 2020 silam.

Sementara itu, ICAO baru akan melakukan pertemuan darurat dengan seluruh perwakilan negara-negara anggota pada Kamis mendatang (27/5). Meski begitu, organisasi di bawah PBB untuk penerbangan sipil ini disebut akan mengeluarkan Belarusia dari keanggotaan. Dukungan untuk itu juga mengalir deras dari berbagai negara, salah satunya Lithunia.

“Saya meminta sekutu NATO dan Uni Eropa untuk segera bereaksi terhadap ancaman yang ditimbulkan terhadap penerbangan sipil internasional oleh rezim Belarusia. Komunitas internasional harus segera mengambil langkah agar hal ini tidak terulang,” kata Presiden Lithuania, Gitanas Nauseda.

Sementara itu, maskapai lainnya di luar Skandinavia dan Uni Eropa, seperti Amerika, Asia, Afrika, dan Australia, masih belum mengeluarkan keputusan apapun apakah melarang melintasi Belarusia atau tidak. Sebab, itu bukan hal mudah. Bila melarang dalam artian membatalkan seluruh penerbangan yang melintasi ruang udara tersebut, maka itu akan mudah.

Baca juga: Misteri Kecelakaan Air India Tahun 1966 yang Tewaskan Tokoh Penting Mulai Terkuak, Ada Campur Tangan CIA

Tetapi, bila melarang melintasi Belarusia dalam artian re-route atau mengakur ulang rute melintasi negara tetangga Belarusia, maka, ada proses administrasi yang harus dilakukan dan itu butuh waktu.

Menteri Transportasi AS, Pete Buttigieg, bersama FAA masih mengkaji apakah maskapai-maskapai AS cukup aman untuk tetap melintasi negara tersebut. Demikian juga dengan maskapai nasional Belanda, KLM. Maskapai tersebut masih menerbangkan dari dan ke Belarusia secara normal. Tetapi, nampaknya maskapai itu harus mengekor pada keputusan UE untuk menghentikan seluruh penerbangan dari dan ke sana.

Dua Kereta LRT Kelana Jaya Tabrakan di Jalur Bawah Tanah, 213 Penumpang Terluka

Sebanyak 213 orang terluka dengan 47 di antaranya mengalami luka serius dalam insiden tabrakan antar dua kereta Light Rail Transit (LRT) Kelana Jaya. Insiden ini terjadi pada Senin (24/5/2021) pukul 20.45 waktu Malaysia. Kepala polisi Dang Wang Zainal Abdullah mengatakan semua bahwa semua penumpang dilarikan ke rumah sakit Kuala Lumpur dan rumah sakit terdekat lainnya untuk mendapat perawatan.

Baca juga: Terkendala Utang, Mahathir Tinjau Berbagai Proyek Kereta di Malaysia

Dilansir KabarPenumpang.com dari nst.com.my (24/5/2021), Zainal mengatakan tabrakan ini melibatkan kereta antar penumpang dari arah Gombak dengan kereta kosong yang datang dari Stasiun Kampung Baru. Dia menyebutkan, kereta kosong itu tengah melakukan uji coba karena sebelumnya ditemukan masalah.

“Berdasarkan penyelidikan awal, ada kemungkinan miskomunikasi di pusat kendali yang bisa berujung pada kecelakaan itu. Sejauh ini belum ada unsur sabotase yang teridentifikasi dalam insiden tersebut,” kata Zainal.

Dia mengatakan penyelidikan lebih lanjut akan dilakukan berdasarkan Pasal 201 Undang-Undang Transportasi Darat 2010 untuk mengidentifikasi unsur kelalaian terkait dengan tabrakan itu. Sebelumnya, Menteri Wilayah Federal Tan Sri Annuar Musa, melalui feed Twitter-nya, mengatakan tabrakan terjadi di jalur LRT bawah tanah di KLCC. Kepala urusan media Syarikat Prasarana Negara Bhd (Prasarana) Azhar Ghazali mengatakan pengaturan transportasi alternatif dibuat untuk penumpang.

“Dengan menyesal kami informasikan bahwa LRT Jalur Kelana Jaya mengalami insiden, khususnya KA nomor 40 dan 81. Semua penumpang yang terluka sudah dievakuasi ke peron. Prioritas kami adalah menyelamatkan semua penumpang kami,” ujarnya dalam keterangan tertulis. malam ini.

Penumpang di kereta sebelumnya telah membagikan video dan gambar situasi di media sosial. Salah satu foto menunjukkan seseorang yang tampak berdarah dan terkapar di lantai. Diketahui, tabrakan dua kereta LRT ini merupakan kejadian pertama yang terjadi dalam 23 tahun pelayanan LRT tersebut. Menteri Transportasi Datuk Seri Wee Ka Siong mengatakan, bahwa insiden ini dalam penyelidikan menyeluruh untuk menemukan penyebab terjadinya tabrakan.

Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

“Dalam waktu dua minggu, kami akan mengidentifikasi apakah itu karena kesalahan dalam sistem persinyalan atau miskomunikasi atau kesalahan manusia. Kecelakaan ini yang pertama dalam 23 tahun operasional LRT,” ujarnya.






















Bagaimana Pilot Tangani Depresurisasi Saat Pesawat di Udara? Ini Jawabannya

Pesawat menjadi moda transportasi teraman dibanding moda transportas lainnya di darat dan laut. Perusahaan konsultan penerbangan asal Belanda, To70, beberapa tahun lalu memperkirakan tingkat kecelakaan fatal bagi penumpang penerbangan komersial dalam pesawat besar hanya sebesar 0,06 per satu juta penerbangan atau satu kecelakaan untuk tiap 16 juta penerbangan.

Baca juga: Saat Masker Oksigen Turun, Ini yang Penumpang Wajib Tahu!

Kendati demikian, mayoritas penumpang yang takut naik pesawat terbayang hal buruk saat dalam penerbangan. Jika terjadi apa-apa, penumpang pesawat tidak bisa melarikan diri dan hanya bisa pasrah sambil berharap pada perangkat keselamatan.

Hal sebaliknya tentu tidak terjadi pada moda transportasi lain seperti bus atau mobil. Saat terjadi kebakaran pada kendaraan, misalnya, penumpang bisa keluar dan menyelamatkan diri.

Saat terjadi keadaan darurat pada pesawat, tetap tenang tentu menjadi syarat agar segalanya berjalan lancar, khususnya pilot. Ketenangan menjadi harga mati pilot saat menghadapi berbagai situasi genting saat penerbangan berlangsung, salah satunya ketika depresurisasi pesawat.

Depresurisasi pesawat sendiri merupakan situasi dimana tekanan udara berkurang yang biasa terjadi di dalam kabin pesawat. Secara epistemologi, depresurisasi pesawat bisa dibilang sama dengan dekompresi eksplosif.

Ketika terjadi depresurisasi, pilot harus menurunkan ketinggian pesawat untuk mengembalikan tekanan udara seperti sedia kala. Namun, dikutip dari Simple Flying, dalam situasi tersebut, rata-rata penumpang dan kru dapat bertahan 25 detik sebelum pingsan.

Itulah mengapa jika depresurisasi pesawat terjadi di sekitar ketinggian 30.000 kaki dan hal tersebut menyebabkan masker oksiden keluar dari langit-langit di atas kursi penumpang, kapten pilot harus sesegera mungkin menurunkan ketinggian sebelum pasokan di tangki oksigen habis. Sebelum itu terjadi, penumpang dan kru sudah dibekali masker oksigen untuk memudahkan bernapas.

Setidaknya pesawat harus berada di ketinggian dimana manusia bisa bernafas secara normal, yaitu di bawah 10 ribu kaki. Sebagai informasi tambahan, tangki oksigen yang dibawa oleh sebuah pesawat ini disimpan di bagian lambung.

Dalam rentang waktu yang cukup singkat tersebut, dan tentu saja menegangkan, kapten pilot harus dengan cekatan mencari jalur yang aman dan tidak menginterupsi penerbangan lainnya, sembari juga berkomunikasi dengan menara pengawas (ATC) untuk meminta izin melakukan pendaratan darurat.

Mungkin ini terdengar sangat klise dan tidak akan berpengaruh banyak pada Anda yang tengah berada dalam kondisi terdesak seperti ini. Tapi sejatinya, seorang pilot sudah terlatih untuk menangani situasi darurat semacam ini.

Baca juga: Kisah Pilot Selamat dari Maut Setelah 22 Menit Berjuang Melawan Ganasnya Dekompresi

Pasalnya, jika seorang pilot tidak mengoptimalkan upayanya untuk menangani kondisi darurat semacam ini, maka bisa jadi bukan hanya nyawa penumpang saja yang akan melayang, melainkan juga dirinya.

Maka dari itu, ketika situasi seperti ini terjadi, penting bagi siapapun yang ada dalam penerbangan untuk tidak panik dan tetap mengikuti langkah-langkah keselamatan. Untuk mencapai itu, penumpang sebaiknya memperhatikan saat kru mendemonstrasikan petunjuk keselamatan sebelum penerbangan dimulai.

Dikawal Jet Tempur, Pesawat Ryanair Dipaksa Mendarat Darurat Demi Tangkap Jurnalis

Sebuah pesawat Boeing 737 Ryanair dengan nomor penerbangan FR4978 rute Athena (Yunani) – Vilnius (Lithuania) dipaksa mendarat darurat di Bandara Internasional Minsk oleh Pemerintah Belarusia. Hal itu dilakukan hanya untuk menangkap seorang aktivis, oposisi, sekaligus jurnalis Nexta, Protasevich.

Baca juga: 40 Tahun Lalu, Pembajakan Pesawat DC-9 “Woyla” Garuda Indonesia Jadi yang Pertama dalam Sejarah

Awalnya, penerbangan berjalan lancar bahkan sampai pesawat masuk di ruang udara Belarusia sekalipun. Ketika mencapai perbatasan Belarusia-Lithuania, tiba-tiba pilot mendapat informasi adanya ancaman bom oleh ATC Bandara Internasional Minsk.

Tanpa menaruh curiga, terlebih otoritas setempat sampai mengirim jet tempur MiG-29 untuk mengawal penerbangan, pilot kemudian mengarahkan pesawat ke bandara dan mendarat darurat tak lama setelahnya.

Sampai di tahap ini, penumpang tak diberitahu apa yang sebetulnya terjadi. Pun demikian dengan pihak maskapai. Sebab, ketika dilakukan penggeledahan, tak ditemukan satupun bom ataupun bahan peledak di dalam pesawat berpenumpang 171 orang tersebut.

Tetapi, menurut kesaksian dari sejumlah penumpang, alih-alih mengamankan bom ataupun bahan peledak, petugas justru mengamankan salah seorang penumpang yang diketahui ialah Protasevich, seorang jurnalis oposisi di Belarusia.

Laporan BBC International menyebut ancaman bom dan sejenisnya merupakan alibi untuk menutupi penangkapan jurnalis Nexta sebagai agenda utama rezim petahana Alexander Lukashenko, yang notabene sudah berkuasa sejak 1994.

Pesawat Ryanair dipaksa mendarat darurat dengan dikawal jet tempur Belarusia. Itu dilakukan demi menangkap seorang jurnalis oposisi di Bandara Minsk. Foto: Twitter breakingavnews

Sejawat Protasevich mengeklaim bahwa agen dari layanan keamanan negara, KGB, menargetkan aktivis itu di Athena dan semacam provokasi dilakukan di pesawat yang mendorong pengalihan rute.

Padahal, ketika pesawat dialihkan paksa oleh rezim Alexander Lukashenko, posisinya lebih dekat ke bandara tujuan alih-alih ke Minsk. Tetapi, pilot tak bisa berbuat banyak ketika jet tempur muncul dan mengintersep pesawat menuju Minsk.

Tak ayal, dillihat dari kronologi tersebut, Nexta, tempat Protasevich bernaung, menulis, “Lukashenko dan Angkatan Udara memaksa pesawat Ryanair untuk berbelok dan mendarat di Minsk. Itu adalah pembajakan”.

Atas pembajakan pesawat sipil oleh sebuah negara dengan alibi adanya ancaman bom tersebut, dunia internasional ramai-ramai mengecam Belarusia. Sejauh ini, rata-rata dari mereka masih sebatas mengecam Belarusia. Namun, pasca penyelidikan lebih lanjut berjalan, bukan tak mungkin akan ada tindakan konkret dari Uni Eropa dan NATO sebagai respon atas insiden itu.

Baca juga: Pernah Gagalkan Pembajakan Singapore Airlines, Mantan Anggota Pasukan Khusus Kini Menjadi Biksu

Dalam waktu dekat, mungkin langkah pertama yang dilakukan ialah Belarusia akan dikeluarkan dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Dukungan untuk itu saat ini mengalir deras dari berbagai pihak, salah satunya Presiden Lithuania, Gitanas Nauseda.

“Saya meminta sekutu NATO dan Uni Eropa untuk segera bereaksi terhadap ancaman yang ditimbulkan terhadap penerbangan sipil internasional oleh rezim Belarusia. Komunitas internasional harus segera mengambil langkah agar hal ini tidak terulang,” katanya dalam pernyataan.