Hari Ini, 54 Tahun Lalu, TWA Jadi Maskapai Pertama yang Seluruh Armadanya Pesawat Jet

Pada hari ini, 54 tahun lalu, bertepatan dengan 6 April 1967, maskapai Trans World Airlines (TWA) resmi menjadi maskapai pertama di Amerika Serikat (AS) yang seluruh armadanya ialah pesawat jet. Jet pertama yang masuk dalam barisan armadanya ialah quad jet Convair 880.

Baca juga: Pelantun Lagu “Forever and Ever” Ternyata Pernah Menjadi Sandera Pembajakan TWA Flight 847

Dilansir TWA Museum, sebelum menikmati keuntungan besar dari peremajaan armada, maskapai yang berdiri pada 16 Juli 1930, di Kota New York, AS, tersebut cenderung biasa-biasa saja. Tak ada gebrakan yang menonjol dari TWA sejak awal kemunculannya.

Bahkan, TWA terus berada di bawah bayang-bayang Pan Am yang menguasai rute antar benua, sesuatu yang mestinya turut diramaikan TWA yang mengusung konsep penerbangan serba trans, seperti transatlantik, transpasifik, trans-benua, trans-negara, dan lain sebagainya.

Di masa awal perusahaan berdiri, TWA mengandalkan DC-3 sebagai armada utamanya. Seiring perkembangan teknologi, TWA awalnya sempat didesak oleh para pilot untuk membeli pesawat Boeing Stratoliner, pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia. Tujuannya, agar TWA bisa membawa penumpang terbang lebih tinggi untuk pengalaman terbang baru yang lebih mengesankan.

Tetapi, sang pemilik baru TWA, Howard Hughes, justru berpikir lebih dari sekedar Boeing Stratoliner, hingga akhirnya pilihan pun jatuh pada pesawat Lockheed Constellation (Connie). Bersama pesawat ini, TWA pelahan mulai berkembang, seperti memulai layanan internasional terjadwal pada 5 Februari 1946 hingga memulai layanan kargo transatlantik terjadwal yang pertama pada 30 Oktober 1947.

Sejak saat itu, TWA benar-benar mendominasi di pangsa pasar domestik maupun internasional, bersaing ketat dengan Pan Am yang mulai panik. Pada tanggal 30 Oktober 1955, TWA terus upgrade pesawat dengan menggunakan Lockheed Super G-Constellations ke dalam layanan internasional dari Los Angeles ke London.

Sayangnya, tak lama kemudian, Pan Am justru mulai menggunakan pesawat jet Boeing 707, yang ketika itu justru tak diminati TWA. Padahal, pesawat jet sudah mulai menyita perhatian publik sejak pesawat jet pertama di dunia, De Havilland Comet, diluncurkan pada 1949, disusul Boeing 707 pada 1954. Alhasil, TWA pun ditinggal penumpang.

Sadar era pesawat jet sudah mendominasi, TWA mulai memesan pesawat jet dan kedatangan jet pertamanya, Boeing 707 pada Januari 1959, disusul Convair 880 tak lama setelahnya. TWA kemudian memulai layanan jet pertama bersama Convair 880 pada 12 Januari 1961, melayani rute domestik. Perlahan tapi pasti TWA kembali dapat tempat di hati penumpang.

Tak ingin kehilangan momentum, TWA terus mengupgrade armadanya. Terutama ketika Golden Age of air travel atau masa-masa kejayaan perjalanan udara dimulai pada tahun 1960-an.

Baca juga: Hari Ini, 46 Tahun Lalu, TWA Flight 841 Dibom Pemuda Palestina Gegara Intel Israel

Sejak April 1964, TWA mulai kedatangan pesawat jet baru, dimulai dari 16 Boeing 727, 20 DC-9, serta memesan 12 Boeing 747. Itu kemudian dilengkapi dengan pensiunnya Lockheed Constellation pada 6 April 1967 dan mengukuhkannya sebagai maskapai pertama di AS yang seluruh armadanya ialah pesawat jet.

Pada tanggal 1 Agustus 1969 TWA meresmikan layanan transpasifik dan keliling dunia. Ini terus berjalan sampai setidaknya tahun 70-80an, sampai akhirnya bangkrut pada 1992.

Anthony Fokker – Pria Kelahiran Blitar Yang Jadi Legenda di Dunia Dirgantara

Mungkin generasi sekarang akan sedikit asing ketika mendengar nama Fokker, padahal Fokker adalah salah satu merek pesawat yang pernah eksis menghiasi dunia aviasi dalam negeri. Mereka akan lebih familiar dengan nama besar seperti Boeing dan Airbus. Pada era 80/90-an, pesawat ini erat kaitannya dengan maskapai Merpati Nusantara, karena pada jamannya, maskapai yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah ini pernah menggunakan 32 armada Fokker yang terdiri dari 4 jenis, yaitu 3 pesawat Fokker 100, 2 pesawat Fokker F27 Mk500, 22 pesawat Fokker F28 Mk4000, dan 5 pesawat Fokker F27 Mk500F.

Baca Juga: William Boeing, Eks Pengusaha Kayu Yang Bawa Pengaruh Besar di Dunia Aviasi

Serupa dengan Boeing, nama Fokker pun diambil dari penemunya, seorang insinyur Belanda bernama Anthony Herman Gerard Fokker. Pria berkebangasaan Belanda-Amerika ini terlahir di Blitar, Jawa Timur pada 6 April 1890, dimana ayahnya, Herman Fokker Sr merupakan seorang pemilik perkebunan kopi milik Belanda. Ketika menginjak usia 4 tahun, Ia dipulangkan ke Amsterdam, Belanda untuk mengenyam bangku pendidikan yang lebih layak ketimbang di negeri jajahan.

Fokker kecil terkenal amat akrab dengan alam sehingga ia tidak terlalu tertarik dengan dunia pendidikan formal di sekolahan. Hingga pada suatu saat, Ia bersama temannya, Frits Cremer meninggalkan sekolah dan membuat ban anti bocor. Namun sayangnya, paten atas penemuannya tersebut sudah dimiliki oleh seorang berkebangsaan Perancis. Melihat masa kecilnya saja sudah bisa menciptakan suatu inovasi, walaupun sudah didahului oleh orang lain, tidak heran jika orang seperti Fokker di depannya menjadi seorang yang berpengaruh di dunia penerbangan.

Melihat potensi dari anaknya, sang ayah lalu mengirimnya ke Jerman untuk mempelajari bidang otomotif ketika ia menginjak usia 20 tahun. Lagi, Fokker tidak betah mengenyam bangku pendidikan formal dan pindah ke Mainz untuk masuk sekolah mengemudi. Bukannya belajar tentang cara mengemudi, Fokker justru menerima ilmu tentang konstruksi pesawat terbang dan cara menerbangkannya.

Ilmu tersebut menarik perhatiannya dan beberapa murid lain, namun karena fasilitas yang menunjang pembelajaran tentang konstruksi pesawat terbang kurang memadai, maka dari itu Fokker bersama temannya, Franz van Daum memutuskan untuk keluar dari sekolah mengemudi tersebut dan berencana untuk merakit sebuah pesawat terbang sendiri.

Sumber: thefamouspeople.com

Disokong dana oleh orang tuanya dan Franz van Daum, Fokker lalu merancang pesawat pertamanya yang diberi nama Spin. Dalam uji coba pertamanya, Fokker mesti mengigit jari karena pesawat rancangannya yang dikemudikan oleh Franz van Daum menabrak pohon dan hancur berkeping-keping. Tidak lantas patah arang, Fokker kembali merancang ulang Spin dengan menggunakan mesin yang sama dengan rancangan sebelumnya, karena ia menganggap mesin tersebut masih bisa digunakan.

Sayangnya, dewi fortuna belum berpihak kepadanya dan memaksa Fokker kembali menyaksikan sahabat sekaligus penyokong dana proyek tersebut menabrak hingga menghancurkan pesawat rancangannya. Sejak saat itu, Fokker memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi dengan Franz van Daum. Belajar dari kegagalan, Fokker bekerja dan belajar menerbangkan pesawat sendiri. Terbukti, dalam uji coba yang dipraktikan langsung oleh Fokker, ia berhasil terbang secara mulus.

Kabar baik itupun lalu diberitakan kepada orang tuanya dan meminta kepada sang ayah untuk bisa membantunya mengurus perijinan untuk bisa unjuk gigi di acara ulang tahun Ratu Belanda yang diadakan di Haarlem, Belanda. Akhirnya momen yang dinantikan Fokker terjadi pada 1911, dimana ia berhasil mengudara di Amsterdam dan Ia melihat ada peluang bisnis baru di situ.

Setahun berselang, Fokker lalu mendirikan perusahaan dengan fokus menjual pesawat dan memberi pelajaran tentang cara mengudara yang diberi nama Fokker Aeroplanbau. Perusahaan tersebut ia dirikan di Jerman dengan modal yang ia kumpulkan dari ajang Joy Flight ketika Fokker unjuk gigi di Belanda tahun 1911.

Sumber: airliners.net

Fokker mulai kebanjiran order ketika Perang Dunia I pecah, dimana ia menjual kurang lebih 4000 armada. Keuntungan yang ia terima itu belum termasuk sekitar 40 jenis rancangannya yang dibuat oleh pabrik-pabrik pesawat terbang yang lain. Dalam pesawat yang ia rancang untuk militer Jerman tersebut, Fokker menonjolkan mekanisme terminasi yang memungkinkan pilot menembakkan senapan dengan baling-baling pemutar. Ketika digabungkan ke Fokker Eindecker yang terkenal, penggunaan mesin kendali tangkai dorong itu menuju pada fase superioritas udara Jerman yang dikenal sebagai Fokker Scourge.

Sepulangnya Fokker ke Belanda pasca Perang Dunia I, Ia mendirikan N.V. Koninklijke Nederlandse Vlietuigenfabriek Fokker di Amsterdam Utara pada tanggal 21 Juli 1919 yang kini lebih dikenal sebagai Fokker. Ia lalu merancang Fokker F.2, pesawat penumpang pertama, disusul dengan Fokker F.VII yang disinyalir menjadi armada yang cukup laris untuk kelas pesawat penumpang. Fokker F.VII menorehkan tinta emas manakala maskapai raksasa asal Belanda, KLM berhasil menguasai seluruh jangkauan penerbangan di Eropa.

Baca Juga: Fokker F-28, Pernah Menjadi Tulang Punggung Armada Garuda Indonesia

Sayangnya, penyakit pneumococcal meningitis berhasil menghentikan karirnya di dunia aviasi untuk selamanya. Anthony Fokker meninggal dunia di New York, 23 Desember 1939 yang secara otomatis, Ia tidak perlu bersedih karena melihat pabrik pesawatnya diluluh lantakkan pada masa Perang Dunia II. Perusahaan Fokker sendiri dinyatakan bangkrut pada tahun 1996. Selamat Jalan, Cak Fokker!

Hari ini, 146 Tahun Lalu, Staatsspoorwegen Berdiri Sebagai Perusahaan Kereta di Hindia Belanda

Sepertinya terkait sejarah kereta api di Indonesia tak lepas dengan Staatsspoorwegen (SS) yang merupakan nama perusahaan kereta api di Hindia Belanda. Ternyata, SS punya nama lengkap Staatsspoor- en Tramwegen in Nederlandsch–Indië (SS en T). Perusahaan ini didirikan pada tanggal 6 April 1875 berdasarkan pengesahan.

Baca juga: Sudah Berbenah Menjadi Nyaman, Tapi Masih Rindu dengan Kereta Api Masa Lalu?

Kemudian pada kemerdekaan Indonesia tahun 1945, SS menjadi salah satu perusahaan yang dipindahkan ke Kereta Api Indonesia saat ini. KabarPenumpang.com mengutip dari wikipedia.com, latar belakang kehadiran SS adalah merujuk pada Verslag der Handelingen van Staten-Generaal atau Laporan Prosiding Jenderal Serikat.

Yang mana ada dua usulan penyambungan dua jalur KA Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS )yang diperpanjang ke Surabaya dan berlanjut ke Pasuruan. Kemudian jalur dari Depok ke wilayah timur Kabupaten Bogor yang dikatakan subur.

Proposal penyambungan dua jalur ini dibuat oleh PP van Bosse dihadapan Parlemen Belanda November 1873. Ini juga sekaligus mengevaluasi dua jalur kereta api NIS dari Batavia menuju ke Buitenzorg dan Samarang ke Vorstenlanden yang beroperasi sejak 21 Mei 1873.

Sayangnya saat itu NIS mengalami defisit setoran modal sejak beroperasinya dua jalur KA yang dibangun itu. Bahkan perseroan ini beberapa kali diancam bangkrut. Meski Pulau Jawa disebut sebagai pulau paling maju di Hindia Belanda, tetapi akses transportasi masing sangat terbatas.

Hal ini karena masih menggunakan moda jalan raya yang didukung gerobak, kereta kuda dan sampan untuk menyeberangi sungai. Mahalnya ongkos transportasi dengan moda tersebut, hasil pertanian dan perkebunan yang dijual ke kota besar tidak laku karena tidak lagi higienis.

Hingga akhirnya diberlakukan Staatsblad No.141 atas permintaan pener PP van Bosse yakni Fransen van der Putte dan Baron van Goldstein. Kemudian pemerintah kolonial secara resmi turun tangan untuk membangun jalur kereta api dan perusahaan dibentuk yang kemudian dikenal dengan Staatsspoorwegen Nederlandsch-Indië.

Baca juga: Java Nacht Express, Layani Jakarta – Surabaya, Inilah Kereta Mewah Pertama di Indonesia

Untuk diketahui, rel yang dioperasikan SS dalam tiga rel sempit yakni 1,067 mm (3 kaki 6 inci) , 750 mm (2 kaki 5 1⁄2 inci) dan 600 mm (1 kaki 11 5⁄8 inci). Trek 1.067 mm untuk jalur kereta api berat, sedangkan trek 750 dan 600 mm hanya digunakan untuk jalur trem.

ANA Sulap Pesawat Boeing 777 yang Di-grounded Jadi Restoran, Sekali Makan Rp7,8 Juta!

All Nippon Airways (ANA) tak kehabisan akal melihat banyak pesawatnya yang digrounded akibat penerbangan sepi. Belum lama ini, maskapai asal Jepang itu menyulap salah satu Boeing Triple Sevennya menjadi restoran. Harga menyantap sajian makanan di sini tak tanggung-tanggung, mencapai US$540 atau sekitar Rp7,8 juta (kurs 14.525) untuk paket makanan di first class untuk sekali makan.

Baca juga: Ada Sajian Sate Vegetarian di Restoran A380 Singapore Airlines, Segini Harganya

Laporan Nikkei Asia, seperti dikutip Simple Flying, kendati mahal, setiap hari restoran pesawat Boeing 777-300ER ANA selalu diminati pengunjung. Bahkan, maskapai harus menambah kapasitas pengunjung restoran sejak pertama kali di buka sampai saat ini, saking tingginya animo masyarakat.

Setiap harinya, tak kurang dari 56 orang berebut untuk mendapatkan kesempatan pengalaman makan di restoran pesawat ANA. Sebagaimana di pesawat, restoran pesawat ANA juga ditawari dalam setidaknya dua varian, first class dengan biaya US$540 atau sekitar Rp7,8 juta (kurs 14.525) dan kelas bisnis dengan biaya US$250 atau sekitar Rp3,6 juta (kurs 14.525).

Di kedua kelas itu, pengunjung restoran pesawat ANA akan ditawari satu dari tiga pilihan menu, yaitu sajian Japanese-style, Western-style beef, dan Western-style fish, lengkap dengan sampanye khas Jepang andalan ANA.

Tak disebutkan dengan jelas dimana sajian makanan dibuat. Tetapi, besar kemungkinan sajian dibuat di tempat lain, baru kemudian dibawa ke restoran pesawat ANA saat masih hangat dan dihangatkan kembali -bila perlu- sebelum disajikan penumpang.

Pengunjung restoran pesawat ANA juga mendapat pelayanan dari chef agar sajian makanan lebih pas di lidah. Foto: ANA

Meski tak semudah makan di restoran yang ada di pusat kota, pengujung restoran pesawat ANA mengaku sangat menikmati sensasi makan di sana. Banyak dari mereka mengaku tak bisa menggambarkan dengan kata-kata apa yang dirasakan selama menyantap sajian makanan, baik di kursi first class maupun kelas bisnis.

Selain itu, kendati restoran pesawat ANA tidak terbang, setiap pengujung tetap mendapatkan pelayanan maksimal dari pramugari layaknya penerbangan sungguhan.

“Pesawat Boeing 777-300ER yang digunakan pada penerbangan internasional ANA diparkir di Bandara Haneda dan menjadikannya restoran untuk waktu yang terbatas. Selain menikmati makanan dalam pesawat first class dan kelas bisnis yang ditawarkan pada rute internasional jarak jauh, ana unik menu minuman, termasuk sampanye dan anggur, akan disiapkan, dan pramugari akan menyambut Anda seperti penerbangan sungguhan,” kata juru bicara ANA.

Baca juga: Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’

ANA tentu bukanlah yang pertama melakoni konsep seperti ini. Sebelumnya, Singapore Airlines pernah menawarkan program makan siang mewah di pesawat Airbus A380, dimana pesawat diubah menjadi restoran secara temporer.

Dilansir situs resmi perusahaan, Singapore Airlines (SIA) membanderol makan siang selama tiga jam di kabin kelas ekonomi Airbus A380 hanya sebesar US$50 atau sekitar Rp750 ribu (kurs 14.800) sampai menikmati makan siang mewah di ultra first-class suites A380 SIA dengan mahar sebesar $600 atau sekitar Rp9 juta (kurs 14.800).

Viral di TikTok, Wanita dan Pasangannya Diusir dari Kabin Gegara Tak Gunakan Masker

Tak hanya ketika keluar rumah, bepergian dengan moda transportasi apa pun masa kini semua orang diwajibkan menggunakan masker. Bila ada yang tidak menggunakan masker kemungkinan besar akan di usir atau dikenakan sanksi ditempat. Seperti yang terjadi pada seorang wanita yang ikut dalam penerbangan Southwest Airlines.

Baca juga: Siap Lepas Landas, Delta Airlines Kembali ke Gerbang Lantaran Ada Penumpang Tak Mau Pakai Masker

Di mana wanita itu dan teman perjalanannya diusir dari penerbangan karena dituduh menolak menggunakan masker. Insiden ini terekam dalam sebuah video yang viral di TikTok yang diunggah oleh Brendan Elder. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.com (4/4/2021), dalam video itu, seorang wanita terlihat berdebat dengan seorang anggota kru.

@b_edler56

#karen

♬ original sound – Brendan Edler

Video ini direkam secara diam-diam dari tiga baris ke belakang, dimulai di tengah-tengah argumen. Permasalahan ini dikarenakan pada seorang penumpang yang menolak untuk mematuhi protokol kesehatan Covid-19 dengan tidak mengenakan masker.

Pada awal video, penumpang wanita itu menggunakan masker. Reaksi orang-orang di pesawat, bagaimanapun, menunjukkan bahwa ini tidak terjadi sebelumnya. Wanita yang tidak diketahui identitasnya berkeras tidak melanggar aturan.

“Saya benar-benar menurut. Maksudmu aku tidak menurut dan memakai topeng ketika kamu memintaku?” kata wanita itu kepada pramugari.

Tak lama kemudian, wanita tersebut menuduh pramugari tersebut tidak mengatakan yang sebenarnya. “Kamu pembohong dan kamu harus hidup dengan itu,” terdengar dia berkata.

Mereka yang dalam penerbangan kemudian mulai mengejek wanita itu dan mulai mengucapkan selamat tinggal.

“Bye,” teriak satu orang.

“Turun dari pesawat,” teriak yang lain.

“Itulah yang terjadi jika Anda tidak meminta maaf,” terdengar orang lain berkata.

Wanita itu kemudian berdiri, menunjukkan jari tengahnya kepada orang-orang di pesawat, dan berjalan pergi dengan teman seperjalanannya. Penumpang yang tersisa tampak gembira, dengan seorang wanita menari. Sayangnya Southwest Airlines mengatakan tidak memiliki rincian lebih lanjut tentang situasinya tetapi memberikan informasu kebijakan menggunakan masker.

Baca juga: Menolak Pakai Masker Selama Penerbangan, Siap-siap Pramugari Akan ‘Catat’ Nama Penumpang!

“Undang-undang federal mewajibkan Southwest untuk memastikan setiap orang yang berusia dua tahun ke atas untuk mengenakan masker setiap saat selama penerbangan, termasuk selama naik dan turun. Kami mengomunikasikan mandat penutup wajah kepada semua Pelanggan di berbagai titik kontak selama perjalanan perjalanan,” kata juru bicara Southwest Airlines.

Depo EMU Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tegal Luar Selesai Dibangun

Kereta cepat pertama di Indonesia sepertinya akan terwujud secara nyata dalam beberapa waktu kedepan. Pasalnya konsorsium usaha patungan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (HSR) baru-baru ini mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan penyelesaian konstruksi utama dari ketiga bangunan produksi dan kompleks di Indonesia.

Baca juga: Didukung Cina, Indonesia Perpanjang Jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung Hingga ke Surabaya 

Proyek tersebut mulai selesai pengerjaannya dengan penutupan bagian akhir sehingga memperlihatkan sebuah bangunan yang menandai adanya kemajuan lain dari konstruksi. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman xinhuanet.com (5/4/2021), dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh KCIC, bagian akhir bagunan ini ditutup pada hari Sabtu (3/4/2021) dan ini mewakili penyelesaian konstruksi utama dari ketiga produksi serta bangunan kompleks di bagian pekerjaan.

Untuk diketahui, total luas konstruksinya sendiri 17 ribu meter persegi. Di mana gedung tersebut akan menjadi pusat komando dan pengiriman untuk depo Electric Multiple Units (EMU) Tegal Luar di pinggiran Bandung, Jawa Barat.

KCIC mengatakan, depo EMU Tegal Luar merupakan yang pertama di Indonesia dan tempat kereta peluru untuk tempat tinggal sebelum maupun setelah beroperasi. Nantinya ini juga akan menjadi tempat kerja profesional untuk pemeriksaan, pengujian dan perawatan kereta api setelah selesai.

Kereta Cepat Jakarta ke Bandung ini akan beroperasi dengan kecepatan 350 km per jam. Nantinya akan mempersingkat waktu perjalanan dari Jakarta ke Bandung yang sebelumnya tiga jam menjadi sekitar 40 menit.

Baca juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Penuh Masalah, Indonesia Balik Rangkul Jepang! Ahli: Sulit Integrasikan Cina-Jepang

Meski bangunan utama depo selesai, proyek jalur kereta cepat ini masih memiliki masalah yang belum selesai. Beberapa diantaranya adalah dampak buruk analisis dampak lingkungan, ledakan pipa pertamina di proyek hingga berbagai masalah pembuangan limbah, kebisingan hingga kerusakan pada lingkungan sekitar seperti rumah warga.

Bukan Hanya Shuttle Bus Vs A320neo Batik Air, Inilah 6 Insiden Mobil Tabrak Pesawat Terpopuler

Pada Sabtu sore, 3 Maret 2021, shuttle bus maskapai Batik Air menabrak bagian bawah moncong pesawat Batik Air. Kejadian tersebut diduga terjadi di apron Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Baca juga: Insiden Shuttle Bus Tabrak Pesawat A320neo Batik Air Jadi Bahan Ejekan Netizen Asing

Sebelum Batik Air, insiden serupa juga pernah terjadi di berbagai belahan bumi. Namun, tak semua insiden mobil menabrak pesawat dan sebaliknya pesawat menabrak mobil yang menyita perhatian. Agar lebih jelas, berikut KabarPenumpang.com rangkum enam insiden mobil tabrak pesawat terpopuler.

1. Mobil Van Tabrak Pesawat Dragon Air

Foto: Twitter/Mirror

Pada September 2016 lalu, sebuah mobil van dikabarkan menabrak pesawat milik Dragon Air. Kronologi kejadian itu bermula ketika pesawat hendak lepas landas. Setelah persiapan selesai dan mendapat clearance dari petugas, pesawat mulai meluncur. Namun, tak lama kemudian, sebuah mobil van muncul di runway dari arah berlawanan. Pesawat akhirnya menabrak mesin dan sempat terseret sejauh beberapa meter.

2. Mobil AP 1 Tabrak Pesawat Wings Air

Satu pesawat milik Wings Air terpaksa tidak terbang atau grounded hingga saat ini akibat ditabrak kendaraan operasional PT Angkasa Pura I, ketika tengah parkir di apron Bandara Juanda Surabaya, 2017 silam.

Namun, entah bagaimana, mobil tersebut tiba-tiba mundur sendiri dan menabrak pesawat Wings Air yang tengah parkir di parking stand 27. Akibatnya, badan pesawat yang dekat roda mengalami penyok.

3. Mobil AC Tabrak Pesawat Silk Air

Foto: Tribunnews

Pesawat Boeing 737 Silk Air dengan nomor registrasi 9V-MGG dilaporkan ditabrak mobil AC PT JAS Aero-Engineering Services di Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara, pada Desember 2017 silam. Akibat kejadian itu, badan pesawat sobek 25 cm.

4. Mobil Polisi Tabrak Pesawat

Mobil tabrak pesawat juga dilaporkan pernah terjadi di Brazil, Amerika Selatan. Ketika itu, pada November 2011, kepolisian Brazil dengan sengaja menabrakkan mobilnya ke pesawat penyelundup yang hendak lepas landas dari bandara kecil. Mobil diketahui menabrak bagian sayap kiri pesawat hingga patah.

5. Mobil Katering Tabrak Pesawat Japan Airlines

Sebuah pesawat Japan Airlines (JAL) yang tengah parkir di apron terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dilaporkan robek di bagian kanan belakang. Pesawat JAL JA606B tersebut robek akibat tertabrak mobil katering milik Aerofood ACS (Garuda Indonesia Group) pada Februari 2020 lalu.

Baca juga: Bodi Pesawat JAL Robek Gegara Tertabrak Truk Katering Garuda, “Netizen: Gaji 100 Tahun Pun Ga Akan Sanggup Bayar”

6. Pesawat Tabrak Mobil

Foto: Tenerife News

Selain mobil tabrak pesawat, insiden pesawat tabrak mobil juga pernah terjadi. Salah satunya pada Juni 2017 lalu. Ketika itu, sebuah pesawat yang akan lepas landas tiba-tiba bertabrakan dengan mobil di dekat landasan pacu di bandara Alicante-Elche, Spanyol.

Dilansir dari Dailymail, insiden terjadi ketika pesawat yang akan terbang menuju ke Roma bergerak ke arah landasan tiba-tiba bertabrakan dengan sebuah mobil. Akibatnya mesin bagian kanan pesawat mengalami kerusakan.

Insiden Shuttle Bus Tabrak Pesawat A320neo Batik Air Jadi Bahan Ejekan Netizen Asing

Insiden shuttle bus menabrak pesawat Airbus A320neo yang tengah parkir di apron rupanya juga menjadi sorotan netizen asing. Layaknya pengamat dan netizen Indonesia, beberapa dari mereka juga menyoroti kronologi kejadian itu. Beberapa lainnya melihat dampak kerusakan yang dihasilkan cukup besar.

Baca juga: Dua Pesawat KLM Tabrakan di Bandara Schiphol, Serikat Pekerja: Akibat Beban Kerja Terlalu Tinggi

Pada Sabtu sore, 3 Maret 2021, shuttle bus maskapai Batik Air dilaporkan menabrak bagian bawah moncong pesawat Batik Air. Kejadian tersebut diduga terjadi di Apron Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Informasi tersebut disampaikan oleh pengamat transportasi dan kebijakan publik, Agus Pambagio, melalui akun Instagram-nya. Dalam postinganya, Agus menuliskan adanya kecerobohan mobil Ground Handling sehingga menabrak depan pesawat Airbus A320neo.

“Pesawat Airbus Neo A 320 Batik Air dicium mesra mobil Ground Handling Batik Air. Cuma ada satu penyebabnya, kecerobohan Ground Handling Batik Air. Sepertinya pakai sopir tembak,” tulisnya.

Kabag Humas Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Prayitno pun mengkonfirmasi kejadian tersebut. Menurutnya, shuttle bus itu merupakan kendaraan angkutan penumpang eksekutif.

Diketahui mobil itu tengah melaju di jalur average Bandara Soetta. Budi tidak menjelaskan secara detail apakah di shuttle bus itu membawa penumpang atau tidak. Shuttle bus itu menabrak pesawat Batik Air Airbus A320neo yang sedang parkir. Mobil itu terlihat terjepit oleh moncong pesawat.

Secara teknis, pesawat dan shuttle bus mempunyai jalurnya masing-masing sehingga mustahil terjadi insiden seperti itu bila keduanya berada di posisi yang telah ditentukan. Karenanya, investigasi mendalam, diikuti SOP ketat berdasarkan pengalaman itu, harus dilakukan agar insiden serupa tak pernah lagi terjadi di masa mendatang.

Meski demikian, karena sudah kadung terjadi dan foto-foto terkait insiden itu beredar luas di media sosial, netizen asing pun turut mengomentari. Bahkan salah satunya juga mengejek alias tak habis pikir bagaimana insiden seperti itu terjadi.

“Bisakah ditambahkan klaim pada gambar ini bahwa, ‘pesawat itu datang entah dari mana’,” kata salah akun @Veloccerosso, seperti dilihat KabarPenumpang.com dari Twitter @airlivenet.

Baca juga: Bodi Pesawat JAL Robek Gegara Tertabrak Truk Katering Garuda, “Netizen: Gaji 100 Tahun Pun Ga Akan Sanggup Bayar”

Selain itu, netizen lain juga menyoroti biaya reparasi yang ditimbulkan akibat insiden tabrakan itu. “Sepertinya itu bakalan mahal banget (biaya perbaikannya),” tulis akun @StandbyWithMe.

Kendati mendapat perhatian luas dari masyarakat luas, dalam dan luar negeri, namun, pihak Batik Air sendiri sampai saat ini belum buka suara terkait insiden itu. Padahal, ada banyak hal yang harus diklarifikasi, seperti kronologi kejadian, siapa yang menyulut insiden itu, apakah pesawat atau mobil ground handling, berapa biaya kerugian, berapa lama pesawat diperbaiki, dan bagaimana kebijakan perusahaan terhadap karyawan yang terlibat dalam insiden ini.

Arsitek Asal Milan Buat Desain Trem yang ‘Friendly’ di Masa Pandemi

Italia menjadi salah satu negara yang mengalami dampak infeksi virus corona (Covid-19) sangat besar dan Milan menjadi salah satu kota yang terpukul karena pandemi. Apalagi dengan pandemi ini yang kemudian mengubah kebiasaan orang-orang saat ini termasuk bagaimana berpikir untuk kembali menggunakan transportasi umum.

Baca juga: Trem Hybrid Melintas di Jalur Krakow Polandia

KabarPenumpang.com melansir dari laman businessinsider.in (18/6/2020), transportasi umum disebut-sebut sebagai salah satu tempat penyebaran Covid-19 karena ada laporan virus ini bisa bertahan di permukaan bus dan kereta hingga 72 jam. Hal ini kemudian membuat seorang arsitek asal Milan, yakni Arturo Tedeschi merancang versi transportasi umum yang ramah di masa pandemi.

Trem masa lalu dan desain masa kini (businessinsider.com)

Arturo mengadaptasi trem Milan ke zaman Covid-19 dengan cara yang sadar akan estetika dan prinsip-prinsip desain. Adapun tampilan yang dirancang Arturo pada transportasi umum yakni dengan membandingkan trem klasik dengan trem desainnya saat ini.

Di mana akan ada tampilan luar yang diperbarui dengan bahan-bahan modern. Arturo mengatakan, dia menafsirkan kembali gaya dan proposi aslinya tapi masih bisa dikenali. Di bagian sisinya akan menampilkan tampilan rute trem yang dinamis mirip dengan yang dibuat di dalam kereta.

Nantinya trem tersebut akan dilengkapi dengan informasi yang bisa berubah secara real time dan membuat navigasi di kota asing menjadi lebih mudah. Dia mengatakan akan ada ruang yang digunakan untuk iklan.

Uniknya di bagian dalam trem, kursi penumpang yang satu dengan lainnya tidak diberi tanda seperti stiker untuk menjaga jarak melainkan dengan memisahkannya menggunakan plexiglass. Arturo menambahkan dirinya mengubah pusat trem menjadi landasan pacu atau “passerella” yang dikelilingi dengan langkah-langkah keamanan.

Tak hanya itu, desain geometris di lantai juga memberi sinyal jarak yang aman untuk menjaga antar penumpang. Arturo memiliki fokus tak hanya pada kepraktisan tetapi juga desain menarik yang terlepas dari Covid-19.

Bagian dalam trem desain Arturo Tedeschi (businessinsider.com)

“Milano adalah ibukota desain dan ‘Milanesi’ tidak akan mudah beradaptasi dengan solusi yang sepele dan buruk,” katanya.

Dia bahkan memperluas desain ke atap, yang bisa dilihat dari balkon di sekitar Milan. Desain dan pola kuning di atap adalah referensi ke futurisme Italia, menurut Tedeschi. Dalam satu rendering, ia menempatkan Passerella di Piazza del Duomo di Milan, menunjukkan bagaimana desainnya pas di kota.

Baca juga: Trem Kuda di Jakarta Riwayatmu “Doeloe”

Meskipun desain ini khusus untuk Milan, prinsip-prinsipnya dapat digunakan pada transportasi umum di seluruh dunia. Bisa dikatakan saat ini, Arturo telah menciptakan desain yang lebih elegan yang menggabungkan langkah-langkah keamanan, tetapi tidak menjadikannya titik fokus.

Matekane Air Strip, Bandara Terekstrem dengan Ujung Runway Langsung Mengarah Ke Jurang

Lesotho, sebuah negara berbentuk kerajaan di bagian Selatan Benua Afrika ini, dijamin belum banyak yang mendengar. Negara bekas jajaran Inggris ini menjadi salah satu negara di dunia yang tak mempunyai batas laut. Sebab, Lesotho seluruhnya diapit oleh Afrika Selatan, dengan 80 persen topografi wilayahnya terletak di ketinggian melebihi 1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Baca juga: Courchevel, Bandara Ekstrem di Adegan James Bond “Tomorrow Never Dies”

Dengan kondisi topografi mayoritas berada di ketinggian, Lesotho rupaya banyak dikenal di kalangan pilot dunia karena memiliki salah satu bandara terkestrem di dunia, yakni Matekane Air Strip. Betapa tidak, bandara yang berada di ketinggian 2,299 mdpl ini memiliki dua indikator utama yang membuatnya pantas menyandang gelar tersebut (bandara terekstrem di dunia).

Dikutip dari berbagai sumber, dua indikator itu berupa kepemilikan runway terpendek di dunia (hanya 396 meter) dan ujung runway menuju jurang sedalam 600 meter. Jadi, bila sedikit saja pilot melakukan kesalahan, bukan tak mungkin pendaratan akan berujung maut.

Selain itu, indikator lainnya yang membuat Matekane Air Strip pantas menyandang gelar bandara terekstrem di dunia termasuk dikelilingi pegunungan yang menjulang tinggi, cuaca yang kerap berubah dengan cepat, hembusan kencang angin Selatan, serta minimnya infrastruktur keselataman dan keamanan pendaratan.

Dari dua indikator tersebut, setidaknya Matekane Air Strip bisa head to head dengan dua bandara lainnya dalam mengukur seberapa ekstrem bandara itu. Pertama dengan Bandara Juancho E. Yrausquin dan kedua dengan Bandara Courchevel. Dari sisi runway, Matekane Air Strip memiliki runway lebih pendek dari Bandara Juancho E. Yrausquin yang memiliki 400 meter. Lagipula, bila pilot gagal melakukan pendaratan dengan sempurna, pesawat hanya akan jatuh ke laut, masih tergolong aman dibanding jurang sedalam 600 meter.

Adapun dengan Bandara Courchevel, dari sisi ketinggian dan topografi, bandara itu juga memiliki kemiripan dengan Matekane Air Strip, dengan memiliki ketinggian di atas 2.000 meter, dikelilingi pegunungan, dan ujung runway menuju jurang. Hanya saja, Courchevel memiliki runway lebih panjang ketimbang Matekane Air Strip, yakni sepanjang 537 meter. Jadi bisa disebut tak lebih ekstrem.

Matekane Air Strip sendiri, usut punya usut, merupakan bandara milik Matekane Group of Companies suatu perusahaan yang bergerak di bidang kemanusian dan kedokteran di Lesotho. Bandaranya memang khusus bagi para relawan dan dokter-dokter dari seluruh dunia yang mau membantu masyarakat Lesotho. Bandaranya bukan merupakan bandara komersil.

Hal itu memang cukup relevan, mengingat negara yang beribukota Maseru, di sebelah Utara Matekane Air Strip, 40 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan internasional, dengan pendapatan kurang dari Rp20 ribu per hari. Jadi, banyak aktivitas kemanusiaan di negara tersebut, khususnya wilayah di sekitar bandara.

Matekane Air Strip diperkirakan masuk dalam distrik Mafeteng. Jangan membayangkan gedung mewah, sebab bandaranya hanya berupa landasan pacu saja. Belum lagi, akses menuju bandaranya cukup sulit karena ada di atas tebing di kawasan terpencil.

Baca juga: Juancho E. Yrausquin Airport, Bandara Terkecil dengan Runway Terpendek di Dunia

Traveler yang penasaran, bisa memesan penerbangan ke sana melalui situs Matekane Group of Companies. Baru-baru ini, perusahaanya membuka rute penerbangan dengan pesawat perintis CRJ200 ke Bandara Moshoeshoe I di Maseru, ibukota Lesotho. Ya, hanya pesawat perintis saja yang bisa mendarat di sana.

Pemandangan perbukitan hijau di sana memang terlihat cantik, yang membuktikan Lesotho pantas diberi julukan The Kingdom In The Sky. Berbeda dengan pilot, mendarat di sana bagaikan mimpi buruk.