Mudahkan Penumpang Transit, Jepang Perkenalkan Tiket Seluler di Enam Kota

Jepang baru saja memperkenalkan tiket seluler untuk layanan transit guna membantu meningkatkan akses keselamatan pengendara di angkutan umum. Layanan ini diluncurkan di enam kota yakni Oita, Sapporo, Asahikawa, Kumamoto, Oshima dan Tsuchiura tersedia melalui aplikasi Japan Transit Planner dan Norikae Annai.

Baca juga: GoTransit, Fitur Integrasi Multimoda di Aplikasi GoJek

Spesialis layanan perencanaan perjalanan Jorudan dan platform tiket transit Masabi melaporkan penyebaran enam kota tersebut adalah perluasan terbesar dari kemitraan mobilitas sebagai layanan mereka. Ini menjadikan jumlah total penyebaran menjadi 17 secara nasional.

Di Oita, penumpang dapat membeli tiket satu hari Canbus untuk Oita Bus, perusahaan bus terbesar di Oita, yang melayani rute di seluruh kota. Di Sapporo, tiket One-day dan Dosanko tersedia untuk trem Sapporo, jaringan trem kota yang lengkap.

Penumpang dengan layanan bus Asahikawa Denkikidou dapat membeli tiket satu dan dua hari untuk seluruh kota. Biro Transportasi Kota Kumamoto akan menawarkan tiket satu hari di seluruh jaringan mereka. Bus Oshima akan menawarkan tiket satu dan dua hari melalui aplikasi.

“Hingga saat ini, pekerjaan kami dengan Masabi telah memberikan pembayaran transit dan pengalaman berkendara yang lebih cepat, mudah dan aman di 17 kota besar dan kota besar di seluruh Jepang, baik bagi mereka yang menggunakan layanan ini setiap hari maupun untuk pengunjung,” kata Toshikazu Sato, CEO Jorudan yang dikutip KabarPenumpang.com dari smartcitiesworld.net (30/3/2021).

“Sekarang, lebih dari sebelumnya, pekerjaan yang kami lakukan memungkinkan orang merencanakan perjalanan mereka, membeli tiket transportasi, dan menavigasi area lokal dengan aman sangatlah penting. Kami akan terus meluncurkan penerapan lebih lanjut secara nasional dan sangat senang dapat menghadirkan fungsi ini kepada penumpang di seluruh Jepang,” tambahnya.

Menurut Masabi dan Jorudan, penerapan terbaru melihat kemitraan mereka berkembang di daerah perkotaan dengan kepadatan lebih tinggi di seluruh Jepang, menawarkan layanan transit di ibu kota prefektur dengan volume penumpang yang meningkat.

Jorudan telah mengintegrasikan SDK tiket seluler Justride ke dalam aplikasi MaaS-nya, yang berarti setelah operator mendaftar ke layanan, tiket dapat dengan cepat dan mudah tersedia di aplikasi Perencana Transit Jepang dan Norikae Annai milik Jorudan.

Baca juga: Medan Kini Punya Transmetro Deli, Gratiskan Tiket Penumpang Hingga Akhir 2020

Dalam 12 bulan terakhir, terdapat tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi operator transportasi di seluruh dunia, karyawan dan pelanggan mereka, karena protokol Covid dan persyaratan jarak sosial telah menghantam para pengendara, sambil terus berupaya untuk memberikan layanan penting bagi pekerja kunci.

 

 

 

Buntut Pilot-Pramugara Adu Jotos Sampai Tangan dan Gigi Patah, Lisensi Dicabut-Maskapai Disuspend

Donghai Airlines airlines harus menerima kenyataan pahit pasca perkelahian pramugara vs pilot saat pesawat tengah mengudara. Maskapai yang berbasis di Shenzhen itu akan disuspend oleh Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC). Lengkapnya, maskapai tak diizinkan menambah rute, penerbangan, dan kapasitas baru sampai waktu yang tak ditentukan.

Baca juga: Pramugara dan Pilot Baku Hantam di Toilet Saat Pesawat Mengudara, Tangan dan Gigi Patah!

Tak hanya itu, airlineratings.com melaporkan, lisensi pilot juga akan dicabut dan pramugara dikenai sanksi administrasi yang berat dan setimpal dengan perbuatannya. Saat ini, keduanya sudah dibebastugaskan oleh maskapai untuk sementara sampai proses penyelidikan selesai. Namun, keduanya buakn tak mungkin akan dipecat permanen bila ada dampak lanjutan dari regulator.

Perkelahian di pesawat maskapai Donghai Airlines pada 20 Februari lalu, antara pilot dan pramugara, sebetulnya bermula dari hal sepele. Ketika itu, pesawat maskapai asal Cina, dengan nomor penerbangan DZ6297, itu berjarak sekitar 50 menit dari bandara tujuan di Xian, Cina. Seluruhnya berjalan normal sampai akhirnya pilot hendak menggunakan toilet terdekat dari kokpit.

Sayangnya, ia datang nyaris bersamaan dengan penumpang first class yang juga ingin menggunakan toilet. Karena merasa lebih berhak, pilot yang tak disebutkan namanya itu mengusir penumpang dan memintanya kembali ke kursi, namun penumpang tak menggubrisnya.
Setelah keluar dari toilet dan mendapati penumpang tersebut masih berdiri menunggu toilet selesai digunakan, ia memanggil pramugara yang dianggapnya tidak becus bekerja. Tak hanya itu, tindakan pramugara membiarkan penumpang first class berdiri menunggu dirinya selesai menggunakan toilet juga membayakan penerbangan.

Merasa tak bersalah, pramugara membela diri dengan mengeluarkan beberapa argumen. Di sinilah perkelahian antar dua petugas di pesawat yang tengah mengudara bermula. Mendengar pembelaan dari pramugara, pilot naik pitam dan langsung memukulnya. Baku hantam pun terjadi.

Disebutkan, perkelahian itu menjalar hingga ke toilet. Lantas, siapa pemenangnya? Tentu tidak ada atau kata pepatah menang jadi arang kalah jadi abu. Keduanya mengalami luka-luka. Pramugara dilaporkan mengalami patah tangan dan pilot kehilangan sejumlah gigi.

Baca juga: Pramugari dan Pilot Korean Air Bahu-Membahu Gagalkan Pembajakan Pesawat

Dalam sebuah pernyataan, maskapai menyebut keduanya telah diskors sampai proses penyelidikan internal selesai. Nantinya, bilapun keduanya diizinkan kembali bekerja, mereka tidak akan ditugaskan dalam penerbangan yang sama.

“Perusahaan sangat mementingkan argumen di antara kru pesawat selama penerbangan dan melakukan verifikasi internal yang ketat. Staf yang terlibat baku hantam telah ditangguhkan (dari) pekerjaan mereka untuk memastikan keselamatan penerbangan,” kata maskapai dalam sebuah pernyataan.

Mudahkan Penumpang, DAMRI Kolaborasi dengan Dompet Digital ShopeePay dan DANA

Menuju era digital dan teknologi baru, Djawatan Angkoetan Motor Repoblik Indonesia atau DAMRI mulai melakukan kerja sama dalam cara pembayarannya melalui aplikasi dengan dompet digitalnya. Sehingga dengan kehadiran dompet digital ini memudahkan penumpang yang ingin bepergian dengan bus milik DAMRI.

Baca juga: Tak Lagi Repot ke Loket, Beli Tiket Bus Damri Bisa Pakai Damri Apps

Pada Kamis (18/3/2021) ShopeePay dan Damri mengumumkan kolaborasi kemudahan pembayaran secara digital bagi masyarakat yang ingin membeli tiket DAMRI. Selain itu juga pada 25 Maret 2021, DAMRI juga bekerja dengan DANA. KabarPenumpang.com menghimpun berbagai laman sumber, kolaborasi dengan dua dompet digital ini untuk menunjang layanan aman kepada pelanggan selama masa pandemi dan memperkuat budaya concactless.

Vince Iswara, CEO dan Co-Founder DANA mengatakan, melalui kolaborasi ini, masyarakat bisa menggunakan DANA sebagai alat pembayaran baik secara online maupun offline saat bepergian dengan armada Damri.

“Sinergi dengan Damri merupakan bagian dari upaya DANA untuk terus mendorong budaya cashless dan contacless sekaligus memberikan pengalaman bertransaksi digital yang makin mudah, aman dan nyaman,” ujar Vince.

Setia N Milatia Moemin Direktur Utama Damri mengatakan, kolaborasi dengan DANA melengkapi berbagai metode pembayaran nontunai dan nonkartu sekaligus mempermudah masyarakat membeli tiket perjalanan antar kota, menuju bandara dan kawasan pariwisata, baik melalui situs web dan aplikasi Damri maupun secara offline di pool Damri.
“Kerja sama ini memperluas jangkauan ekosistem pembayaran cashless untuk setiap pembelian tiket Damri. Langkah ini menambah pilihan metode pembayaran digital yang dapat diakses calon penumpang,” kata Setia.

Dengan ShopeePay, pelanggan bisa isi kolom di pesan tiket berupa informasi tanggal keberangkatan, rute asal dan tujuan dan jumlah penumpang lalu klik “Cari Tiket”. Setelah keluar pilihan jadwal dan harga tiket Damri, pilih tiket yang ingin dibeli. Kemudian lakukan konfirmasi untuk rute tujuan, jadwal keberangkatan, nomor bus dan jumlah yang harus dibayar.

Klik setuju lalu isi data diri seperti nama, nomor telepon, nomor KTP dan email. Klik konfirmasi dan proses pembayaran. Pilih ShopeePay sebagai metode pembayaran
Anda akan diarahkan ke laman pembayaran ShopeePay di aplikasi Shopee untuk melakukan pembayaran dan masukkan PIN ShopeePay. Transaksi sukses jika Anda mendapatkan notifikasi pembayaran telah berhasil.

Sedangkan dengan DANA cara yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan scan QRIS di loket DAMRI atau dalam aplikasi DAMRI. Penumpang harus terlebih dahulu memilih tujuan dan jama keberangkatan, dilanjutkan dengan memilih tempat duduk. Tunjukkan ID Card, lalu bayar dengan memindai QRIS menggunakan aplikasi DANA.

Sementara untuk transaksi online, calon penumpang terlebih dahulu harus membuka aplikasi DamriApps di Play di Playstore Android. Selanjutnya, pilih layanan yang diinginkan seperti Bandara, Antar Kota atau Tempat Wisata. Lalu pilih tempat keberangkatan dan destinasi. Dilanjutkan dengan memilih bus, jam keberangkatan dan tempat duduk. Langkah berikutnya adalah mengisi nama.

Baca juga: PT KAI Gandeng Perum Damri, Mudahkan Perjalanan dari Palembang ke Stasiun Gambir

Setelah itu, pilih DANA sebagai metode pembayaran dan lakukan pembayaran melalui DANA Cashier Page. Setelah pembayaran berhasil, pengguna akan mendapatkan e-ticket sesuai destinasi yang dipilih. Pembayaran menggunakan DANA tersedia untuk pembelian tiket lebih dari 100 rute perjalanan, di antaranya Lampung, Malang, Surabaya, Bandung, Bogor, Makassar, Medan, Pontianak, dan seluruh rute yang tersedia di Indonesia.

Setelah Misi di Palu, ATR-72 600 Garuda Indonesia Kembali Diterjunkan dalam Operasi Bantuan Kemanusiaan di NTT

Untuk kedua kalinya, Garuda Indonesia mengerahkan pesawat komuter bermesin propeller ATR-72 600 untuk mendukung misi bantuan kemanusiaan. Setelah dioperasikan untuk mendukung misi bantuan korban bencana gempa bumi di Palu pada tahun 2018. Kini pesawat produksi Perancis itu juga dikerahkan untuk bantuan kemanusiaan bagi masyarakat yang terdampak banjir bandang di sejumlah di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca juga: Angkut Petugas dan Bantuan Kemanusiaan, Garuda Indonesia Terbangkan ATR-72 600 Ke Palu

Penerbangan kemanusiaan tersebut menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 yang diberangkatkan dari Makassar pada pukul 04.30 WITA dan tiba di Kupang pada pukul 07.00 WITA. Penerbangan tersebut mengangkut sejumlah barang bantuan bagi para masyarakat yang terdampak bencana, di antaranya berupa sembako, obat-obatan, dan pakaian yang berasal dari sejumlah BUMN maupun relawan lainnya. Selain itu, penerbangan tersebut turut mengantarkan petugas kemanusiaan yang akan bertugas dalam percepatan penanganan bencana dari BNPB maupun pemangku kepentingan terkait lainnya.

Selanjutnya, pesawat ATR 72-600 tersebut juga akan mendistribusikan bantuan kemanusiaan serta mendukung mobilitas petugas penanganan bencana di sejumlah lokasi bencana, khususnya di wilayah-wilayah perbatasan seperti Lembata, Alor, Larantuka dan Atambua selama beberapa hari ke depan.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan, “Kami menyampaikan rasa simpati dan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada seluruh masyarakat yang terdampak bencana alam ini. Dapat kami pastikan bahwa Garuda Indonesia sebagai national flag carrier akan terus mengoptimalkan peran aktifnya dan berada di garda terdepan dalam mendukung aksesibilitas masyarakat dan jaringan logistik, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana.”

Irfan menambahkan, “Kami memahami bahwa pendistribusian bantuan logistik kemanusiaan di tengah situasi yang sulit ini menjadi faktor krusial dalam memastikan upaya percepatan penanganan bencana dapat berlangsung optimal. Karenanya, kami berharap melalui pengoperasian penerbangan kemanusiaan ini dapat menjadi salah satu wujud kontribusi kami dalam memastikan kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana ini dapat terpenuhi dengan baik.

Baca juga: Akankah Regional Aircraft Kembangan Airbus Mampu Goyang Pasar ATR-72?

ATR-72 600 dipilih untuk melakukan penerbangan bantuan dikarenakan kemampuannya, di mana pesawat ini dapat mendarat dan lepas landas di runway yang relatif pendek (1.170 meter).

61 Tahun Lalu, Tupolev Tu-114 Rossiya Jadi Pesawat Turboprop Tercepat, Terbesar, dan Jangkauan Terjauh di Dunia

Pada hari ini, 61 tahun lalu, bertepatan dengan 9 April 1960, pesawat legendaris Uni Soviet, Tupolev Tu-114 Rossiya mengukukan diri menjadi pesawat turboprop penumpang tercepat di dunia setelah melesat di kecepatan 877 km per jam.

Baca juga: Vickers Viscount, Pesawat Turboprop Pertama di Dunia

Dilansir historynet.com, Rusia atau Uni Soviet memang sudah sejak awal abad ke-20 berambisi untuk membuat pesawat besar dan cepat. Itu bisa dilihat pada tahun 1913. Ketika itu, Igor Sikorsky berhasil membuat Russky Vityaz, pesawat empat mesin pertama dan terbesar di dunia.

Ambisi Uni Soviet memproduksi pesawat-pesawat besar terus berlanjut sampai ke Perang Dunia I dan II. Salah satunya ialah pembom strategis Tupolev Tu-95 “Bear” rancangan biro desain Tupolev pimpinan Andrei Tupolev. Seolah belum puas, Soviet pun mendorong Tupolev untuk turut membuat pesawat besar versi penumpang atau komersial hingga lahirlah Tupolev Tu-114 Rossiya.

Pesawat itu merupakan pengembangan dari Tupolev Tu-95 “Bear”. Meski demikian, Tupolev tetap membuat banyak perbedaan antar keduanya.

Disebutkan, pesawat turboprop penumpang terbesar di dunia ini didukung dengan kabin baru yang mampu menampung hingga 224 penumpang. Sayapnya juga berbeda. Bila sayap Tupolev Tu-95 “Bear” menggunakan high-wing position maka Tupolev Tu-114 Rossiya sebaliknya, menggunakan sayap rendah atau low-wing position.

Didukung empat baling-baling contra­rotating serta mesin Kuznetsov NK-12MV buatan produsen dalam negeri, Tu-114 mampu melakukan perjalanan dengan kecepatan khas pesawat jet modern, 880 km per jam. Tak secepat jet Boeing 707 atau Douglas DC-8 memang, tapi pesawat ini mampu membawa beban lebih berat dibanding keduanya.

Pesawat dengan bentang sayap 51 meter, panjang 54 meter, dan berat lepas landas mencapai 385.809 pound ini pertama kali diperkenalkan ke publik di ajang Brussels World Exhibition pada tahun 1958, atau setahun setelah melakukan penerbangan perdana pada 15 November 1957.

Pesawat, yang oleh NATO dijuluki Cleat tersebut, kemudian dioperasikan untuk kunjungan Perdana Menteri Uni Soviet Khrushchev ke Amerika Serikat pada 1959. Ketika itu, sebetulnya, mayoritas pejabat Soviet tidak setuju menggunakan pesawat tersebut lantaran 80 persen perjalanan antara Moskow dan Washington sangat panjang dan Aeroflot, operator dari Tu- 114, jarang melakukan penerbangan trans-samudera pada saat itu hingga tidak memiliki pelatihan dengan teknik darurat, bertahan hidup di laut dan menggunakan rakit dan jaket penyelamat.

Politbiro Partai Komunis serta KGB mendesak Khrushchev untuk mempertimbangkan kembali keputusannya itu, tetapi dia tegas menolak. Lagi-lagi dia tidak mau malu.

Akhirnya semua harus dilakukan dengan perencanaan dan misi rumit. Angkatan Laut Soviet menempatkan kapal-kapal setiap 200 mil di sepanjang rute tersebut untuk mengantisipasi jika pesawat menghadapi masalah.

KGB bahkan harus membangun sebuah pesawat tiruan dan mengujinya di kolam renang besar di Moskow untuk menguji skenario evakuasi air. Beruntung, penerbangan berjalan lancar.

Sadar Tupolev Tu-114 Rossiya merupakan yang terbaik di kelasnya, Soviet pun mendorong Tupolev untuk melakukan uji kecepatan terbang pesawat itu di closed-circuit wind tunnel, sejenis tempat khusus untuk menguji mesin pesawat. Hasilnya, pesawat itu berhasil memegang rekor kecepatan dunia Fédération Aéronautique Internationale untuk pesawat baling-baling pada 1960 dengan capaian 877 km per jam.

Baca juga: 55 Tahun Lalu, Antonov An-22 Antei, Turboprop Terbesar di Dunia Terbang Perdana

Selain itu, Tupolev Tu-114 Rossiya juga menjadi pesawat turboprop penumpang dengan jangkauan terbang terjauh di dunia ketika itu, mencapai 10.900 km. Jadi, pesawat ini secara keseluruhan memegang gelar sebagai pesawat turboprop penumpang terbesar dan tercepat dengan jangkauan terjauh di dunia. Luar biasa, bukan?

Dalam 14 tahun berkarir di kancah penerbangan sipil, Tu-114 dilaporkan memiliki tingkat keamanan dan keandalan yang tinggi. Tu-114 mengangkut lebih dari enam juta penumpang sebelum digantikan oleh Ilyushin Il-62 bertenaga jet. Sebanyak 32 pesawat dibangun di pabrik penerbangan Kuibyshev pada awal 1960an.

Bisa Angkut 7 Penumpang, Inilah Taksi “Minibus” Udara eVTOL Terbesar di Dunia

Startup asal Jerman, Lilium Aviation, resmi meluncurkan taksi udara listrik dengan kapasitas penumpang hingga tujuh orang. Muatan sebanyak itu dinilai tidak lagi menjadikannya masuk ke dalam segmen taksi udara listrik, melainkan minibus udara listrik. Ini bahkan diklaim sebagai taksi udara listrik atau eVTOL terbesar di dunia.

Baca juga: Gelontorkan Miliaran Rupiah, Target Taksi Udara Listrik Lilium Mengular di 2025 di Semakin Dekat

Sebelumnya, pada tahun 2019, Lilium telah meluncurkan eVTOL (electric vertical takeoff and landing) berkapasitas lima kursi atau lima penumpang, yang diklaim enam hingga tujuh kali lebih senyap daripada helikopter saat lepas landas, di udara, maupun saat mendarat.

Lilium diketahui secara diam-diam sudah sejak tahun 2018 silam mengembangkan eVTOL berkapasitas tujuh kursi ini. Setelah melalui proses panjang, minibus udara Lilium tersebut akhirnya berhasil mendapat sertifikasi CRI-A01 dari EASA pada tahun 2020. Itu berarti, minibus udara Lilium sudah siap digunakan secara komersial. Sertifikasi EASA itu juga menjadi modal berharga untuk mendapat lolos sertifikasi FAA.

eVTOL terbesar di dunia dengan kapasitas tujuh kursi tersebut diketahui mampu melesat di kecepatan maksimum hingga 280 km per jam, dengan ketinggian maksimum mencapai 10 ribu kaki, serta jangkauan terbang 250 km lebih. Ini tentu jauh lebih kuat dan mumpuni dibanding eVTOL lainnya di seluruh dunia, sejalan dengan kapasitas kursinya.

Menariknya, sekalipun melaju jauh lebih cepat dibanding eVTOL lainnya, eVTOL Lilium menjamin tetap lebih senyap dan tenang saat terbang dalam kecepatan penuh, sehingga cocok untuk mendukung mobilitas udara perkotaan (UAM) yang bebas polusi udara dan suara di masa depan.

Kabin eVTOL Lilium. Foto Lilium Aviation

Beranjak ke dalam kabin atau interior, desainnya juga juga epik dan nuansa yang dibangun cukup brilian. Adapun detail fitur sejenis In Flight Entertainment (IFE) penumpang belum dipaparkan lebih jauh.

Dilansir New Atlas, eVTOL Lilium didukung oleh setidaknya 36 rotor listrik kecil yang tersebar di bagian kanan dan kiri sayap melintang di bagian belakang eVTOL Lilium, serta sayap di bagian depan yang lebih pendek.

Baca juga: Tiket Penerbangan eVTOL Penumpang Pertama Volocopter di Singapura Ludes Terjual dalam Sekejap

Jumlah rotor eVTOL Lilium tentu jauh lebih banyak dibanding para kompetitor yang rata-rata hanya mengandalkan rotor besar berjumlah di bawah 10, seperti eVTOL Joby Aviation dengan enam rotor besar, eVTOL ambulans udara buatan AMSL Aero dengan delapan rotor besar, eVTOL Uber dengan dua rotor besar, eVTOL Skai dengan enam rotor, hingga eVTOL Archer dengan 12 rotor besar.

Bila tak ada aral melintang, perusahaan yang akan go public di bursa Nasdaq melalui penggabungan dengan perusahaan akuisisi khusus (SPAC) bersama Qell Acquisition tersebut akan memulai debutnya pada 2024 untuk pasar Eropa dan 2025 untuk pasar Amerika Serikat.

Lufthansa Sulap Airbus A350 Jadi Lab Penelitian Iklim Terbang

Lufthansa dikabarkan tengah mengubah Airbus A350-900 menjadi pesawat penelitian iklim. Saat ini, proses pengerjaannya sudah dimulai Lufthansa Technik di Malta. Bila tak ada aral melintang, laboratorium iklim terbang ini akan mulai beroperasi pada 2021 mendatang.

Baca juga: Lufthansa Luncurkan Corona Lounge di Rusia, Seperti Apa?

Dilansir Simple Flying, pesawat dengan nomor registrasi D-AIXJ yang tengah dimodifikasi nantinya akan dilengkapi dengan berbagai peralatan canggih di beberapa bagian, salah satunya bagian lambung atau perut pesawat.

Pesawat laboratorium iklim terbang bernama “Erfurt” itu akan dilengkapi dengan CARIBIC atau Civil Aircraft for the Regular Investigation of the atmosphere Based on an Instrument Container seberat 1,6 ton, sejenis peralatan pengukur, melengkapi air intake system atau sistem sirkulasi udara yang sebelumnya sudah dipasang di lambung pesawat, sebelum dikalibrasi.

Itu bukan pertama kalinya sebuah pesawat Lufthansa memiliki sistem pembawa CARIBIC. Sebelumnya maskapai memasangnya di A340-600.

“Memprediksi cuaca lebih akurat, menganalisis perubahan iklim lebih tepat, meneliti lebih baik bagaimana dunia berkembang. Ini adalah tujuan kerjasama unik global antara Lufthansa dan beberapa lembaga penelitian,” kata Annette Mann, head of Corporate Responsibility Lufthansa Group, dalam sebuah pernyataan.

Pesawat telah dimodifikasi dan dilengkapi dengan CARIBIC atau Civil Aircraft for the Regular Investigation of the atmosphere Based on an Instrument Container seberat 1,6 ton, sejenis peralatan pengukur, untuk mengumpulkan data atmosfer saat terbang antara 9-12 km. Foto: Lufthansa

“Kami membantu memastikan bahwa parameter penting yang relevan dengan iklim dikumpulkan tepat pada ketinggian itu di mana efek rumah kaca atmosfer sebagian besar dihasilkan,” lanjutnya.

Sebelum mulai dimodifikasi, proyek ini sudah didahului oleh tahap perencanaan dan pengembangan sekitar empat tahun yang melibatkan lebih dari sepuluh perusahaan serta Karlsruhe Institute of Technology (KIT) sebagai perwakilan dari konsorsium ilmiah yang lebih besar dari seluruh dunia.

Pada waktunya tiba, pesawat laboratorium iklim terbang ini akan beraksi untuk mengumpulkan data atmosfer dari sekitar 100 parameter berbeda, mulai dari gas jejak hingga parameter aerosol dan awan. Ini semua dioperasikan oleh Lufthansa, bekerja sama dengan banyak lembaga penelitian dunia.

Kumpulan data dari laboratorium iklim terbang Lufthansa akan jauh lebih akurat daripada yang dikumpulkan oleh stasiun pengamatan bumi dan satelit, karena pesawat berada tepat di ruang tempat atmosfer terkumpul.

Baca juga: Tua-tua Keladi, Setelah 63 Tahun DC-8 Justru Diandalkan NASA Jadi Lab Terbang Canggih

Itulah mengapa, banyak lembaga penelitian dunia juga melakukan hal serupa, salah satunya ialah NASA; yang mengoperasikan laboratorium terbang dari pesawat DC-8 untuk menjalankan tiga misi utama, yaitu pengembangan sensor, verifikasi sensor satelit, dan studi penelitian dasar tentang permukaan dan atmosfer Bumi.

Menurut Lufthansa, data yang dikumpulkan oleh D-AIXJ akan digunakan untuk menilai kinerja model atmosfer dan iklim saat ini. Ini, pada gilirannya, akan memungkinkan lembaga penelitian dunia untuk menyempurnakan model masa depan mereka.

Dengan Teknologi 3D, Bandara Internasional Kuala Lumpur Kini Berstandar “Airport 4.0”

Teknologi 3D baru dalam Sistem Manajemen Antrian Otomatis atau AQMS untuk mengelola dan mengurangi waktu tunggu antrian menjadi di bawah sepuluh menit diterapkan oleh Bandara Internasional Kuala Lumpur. Dalam pengoperasian ini, AQMS memanfaatkan Internet of Things (IoT) untuk menghitung secara akurat jumlah penumpang di area tertentu.

Baca juga: Terminal 4 Bandara Changi Kini Dilengkapi 14 Pemindai Tubuh dengan Teknologi X-CT Scan

Sehingga secara proaktif memantau kemacetan, kepadatan dan memperingatkan staf lapangan untuk intervensi yang diperlukan untuk memperkuat serta mematuhi standar tingkat layanan dan Prosedur Operasi Standar (SOP). Dilansir KabarPenumpang.com dari internationalairportreview.com (15/3/2021), AQMS juga bertindak sebagai langkah pencegahan terbaru bandara dalam memerangi pandemi Covid-19 dan memungkinkan jarak fisik yang aman dan mematuhi norma baru.

Sebagai bagian dari transformasi Bandara Internasional Malaysia, operator Bandara Internasional Kuala Lumpur akan menjadi bandara 4.0. Sehingga data waktu tunggu dari AQMS akan diintegrasikan ke dalam Layar Tampilan Informasi Penerbangan (FIDS) Bandara Kuala Lumpur dan aplikasi seluler ‘MYAirports’ di kemudian hari.

Tahap untuk memungkinkan penumpang merencanakan perjalanan mereka di bandara dengan lebih baik. Fase pertama AQMS telah diselesaikan untuk semua titik pemeriksaan pemeriksaan keamanan, termasuk gerbang keberangkatan. Sistem akan diterapkan di semua titik kontak penting, dan fase berikutnya yang saat ini sedang berlangsung untuk check-in, imigrasi, dan bea cukai akan selesai pada Juni 2021.

“Dengan teknologi digital, kami akan mengubah proses bandara menjadi layanan yang lebih efisien yang akan melayani penumpang kami dengan lebih baik dalam hal keselamatan dan kenyamanan. AQMS akan menghilangkan stres karena waktu tunggu yang lama dan memastikan jarak fisik yang efektif di semua titik kontak utama. Untuk bandara, AQMS sesuai dengan aspirasi kami dalam memerangi pandemi dan transformasi Bandara 4.0 kami yang sedang berlangsung,” kata Chief Executive Officer of Malaysia Airports, Dato ‘Mohd Shukrie Mohd Salleh.

AQMS menggunakan sensor 3D yang memantau kondisi waktu secara realtime, seperti perubahan sederhana dalam kondisi suhu dan pencahayaan, dan algoritme kompleks secara otomatis mendeteksi antrean panjang dan waktu tunggu. Informasi waktu nyata ini kemudian disalurkan ke tulang punggung operasi bandara di Pusat Kontrol Operasi Bandara (AOCC), di mana sumber daya dapat segera digunakan untuk membantu memastikan layanan yang cepat dan arus penumpang yang lancar.

Pengendalian massa dapat dilakukan secara efektif sesuai dengan SOP untuk lebih menjamin keselamatan penumpang, bahkan saat mengantri.

Baca juga: Keliling Bandara dan Pesawat Lebih Mudah dengan Virtual Reality Ocean3D

“Pada akhirnya, kami tetap fokus pada perjalanan Bandara 4.0 kami dalam membuktikan layanan kami di masa depan dan meningkatkan pengalaman penumpang. Kami berharap dapat menciptakan nilai strategis bagi semua mitra dan lembaga pemerintah terkait dengan memanfaatkan data yang diambil dari AQMS agar lebih efisien dan efektif dalam perencanaan dan alokasi sumber daya. Distribusi analitik ini adalah upaya bersama bagi komunitas bandara untuk bekerja sama dalam meningkatkan perjalanan penumpang,” Dato ‘Mohd Shukrie menambahkan.

Kereta di Taiwan Tergelincir Hingga Tewaskan 51 Orang, Jepang Siap Bantu Pasca Kecelakaan

Sedikitnya 51 orang tewas ketika sebuah kereta bertabrakan dengan sebuah truk dan tergelincir di Taiwan timur pada hari Jumat (2/4/2021). Bahkan para pejabat kereta api mencatat bahwa jumlah korban tewas mungkin meningkat seiring upaya pemulihan jalur yang masih berlanjut tersebut.

Baca juga: Korban Tewas 23 Orang, 35 Tahun Lalu Terjadi Kecelakaan Kereta Terburuk di Kanada

Administrasi Kereta Api Taiwan (TRA) mengatakan bahwa insiden ini terjadi di Kabupaten Hualien yang saat itu truk pemeliharaan meluncur dari lereng dekat lokasi konstruksi di atas rel kereta api. Kereta dengan delapan gerbong dan mengangkut 492 penumpang dan empat awak yang melakukan perjalanan dari Taipei ke Kabupaten Taitung timur menabrak kendaraan sesaat sebelum memasuki terowongan.

Pejabat TRA mengatakan bahwa rem dicurigai tidak menahan kendaraan dan mereka sedang bekerja untuk mengumpulkan lebih banyak rincian konkret dari kecelakaan itu. Penggelinciran tersebut terjadi pada hari pertama dari istirahat empat hari untuk tradisi menyapu makam tahunan Taiwan.

Dalam insiden itu masinis dan asistennya tewas termasuk 51 penumpang yang mana salah satunya adalah warga negara Prancis. Dilansir KabarPenumpang.com dari japantimes.co.jp (2/4/2021), Badan Pemadam Kebakaran Nasional mengatakan bahwa jumlah korban tewas mungkin meningkat karena beberapa jenazah yang tidak lengkap di tempat kejadian terlihat dan belum dipindahkan.

Kecelakaan itu juga menyebabkan sedikitnya 146 orang terluka, termasuk dua warga negara Jepang dan satu dari Makau. Beberapa gerbong rusak parah dalam kecelakaan itu, menurut rekaman yang ditayangkan di TV lokal. TRA mengatakan akan membutuhkan waktu seminggu untuk memindahkan gerbong yang macet di terowongan. Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang mengirimkan belasungkawa kepada keluarga para korban.

“Saya ingin menyampaikan simpati yang dalam kepada keluarga korban dan penumpang yang terluka. Itu juga membuat penumpang yang berada di dalam kereta takut,” kata Su.

Seorang penumpang bermarga Wu mengatakan, dia tidak berani melihat ke tempat kejadian di mana banyak orang sedang berbaring. Dia mengatakan, di sana gelap dan semua orang tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan penumpang lain yakni Hsueh mengaku, dia dan penumpang lainnya bekerja sama untuk memecahkan jendela agar bisa melarikan diri.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah menginstruksikan pihak berwenang untuk menyelidiki secara komprehensif penyebab kecelakaan itu, yang merupakan yang terburuk dalam sejarah Taiwan. Adanya inisiden ini kemudian membuat Jepang menyatakan akan siap membantu Taiwan jika ada permintaan dari negara tersebut.

“Kami menyampaikan belasungkawa yang dalam kepada para korban kecelakaan itu dan menyampaikan simpati kami kepada semua yang terlibat,” juru bicara pemerintah Jepang Katsunobu Kato.

Baca juga: Akibat Petugas Sinyal Tak Sabar, 189 Nyawa Melayang Pada Kecelakaan Kereta 81 Tahun Lalu di Jalur Sakurajima

Kereta ekspres yang tergelincir di Taiwan timur diproduksi oleh pabrikan Jepang Hitachi dan mulai beroperasi pada Mei 2007. Institut Amerika di Taiwan (AIT), yang bertindak sebagai kedutaan besar AS secara de facto, juga menyampaikan belasungkawa yang terdalam kepada para korban, keluarga, dan komunitas yang terkena dampak dari penggelinciran tragis tersebut.

Sedih! Airbus A380 Digadang Bisa Jadi Jet Pribadi, Tapi Malah Ditolak Mentah-mentah

Pesawat komersial superjumbo terbesar di dunia, Airbus A380, terlalu fenomenal untuk sepenuhnya pensiun dari langit. Karenanya, banyak avgeek dan pengamat yang memandang bahwa A380 bisa saja tetap terbang sebagai jet pribadi atau pesawat VVIP. Namun, belum juga hal itu dijajaki, CEO perusahaan spesialis pesawat VIP dan jet pribadi terbesar di dunia justru menolak hal itu mentah-mentah.

Baca juga: (Video) Airbus A380 Terakhir Sukses Terbang Perdana 

Sejak terbang perdana pada 27 April 2005 dan pengiriman perdana ke maskapai Singapore Airlines pada Oktober 2007, A380 terus menunjukkan tajinya dan sangat digandrungi avgeek serta penumpang di seluruh dunia. Kabin luas, high tecnologhy, lebih senyap, lebih nyaman, dan banyak fitur canggih dinilai menjadi alasannya.

Pamor A380 semakin melejit tatkala raksasa maskapai penerbangan asal Timur Tengah, Emirates, memesan 117 unit pesawat superjumbo itu, didahului dan diikuti oleh maskapai besar lainnya yang semakin menjadikannya sebagai pesawat komersial termewah dan prestisius.

Seiring berjalannya waktu, pesawat lain yang lebih kecil dinilai jauh lebih efisien. Sudah begitu, tren penumpang juga berubah, dari semula penerbangan berbasis hub menjadi point-to-point. Hal ini tentu tak efisien bila menggunakan pesawat superjumbo quadjet. Perlahan A380 ditinggalkan maskapai. Alhasil, Airbus pun menyetop produksi A380 pada awal tahun 2019 silam.

Sebetulnya, hal itu tak terlalu berarti bila maskapai yang sudah memiliki pesawat itu terus menerbangkannya. Situasi kemudian berubah ketika virus Corona menyebar dengan cepat ke seluruh dunia dan menghentikan penerbangan. Masa depan A380 makin suram dan maskapai ramai-ramai mempensiunkan A380 secara permanen.

Di tengah kondisi itu, banyak kalangan mendorong agar A380 dijadikan sebagai pesawat VIP bahkan VVIP, pesawat kenegaraan, serta jet pribadi, semata pesawat superjumbo itu tetap menghiasi langit dunia. Namun, hal itu ditolak mentah-mentah oleh CEO Comlux Aviation, Andrea Zanetto.

Menurutnya, A380 memiliki lebih banyak kekurangan dibanding kelebihan untuk dijadikan pesawat jet pribadi dan sejenisnya.

“Yah, saya pikir bahkan pemerintah tidak akan pergi seperti itu, dan untuk pribadi, Anda biasanya tidak membeli kastil jika Anda ingin memiliki rumah mewah. Jadi, mengapa membeli kastil? Mungkin beberapa orang di dunia akan memiliki kastil, tetapi pada akhirnya, tidak akan nyaman atau menyenangkan untuk diajak terbang bersama,” jelasnya, dikutip dari Simple Flying.

“Anda tidak bisa mendarat di mana pun. Anda hanya bersandar ke hub utama. Ini bukan pesawat untuk penerbangan pribadi. Ada terlalu banyak batasan pada pesawat. Mengapa Anda ingin membatasi diri Anda pada lebih sedikit bandara di dunia?,” tambahnya.

Selain masalah ukuran yang membatasi mobilitas pengguna mendarat dimanapun, A380 juga tidak cocok untuk menjadi jet pribadi atau pesawat VVIP karena cost-nya tinggi.

Baca juga: Orang Berpengaruh di Airbus Sebut (Dibohongi Soal) Mesin Jadi Sebab Kegagalan A380

“Pada akhirnya, biaya operasional adalah sesuatu yang penting bagi semua orang, termasuk tamu VIP yang sedang terbang. Tapi saya pikir saya akan mengatakan bahwa batasan pesawat, ditambah ukurannya, terlalu besar untuk dipertimbangkan untuk urusan pribadi. Itu tidak masuk akal. Dua lantai, ukurannya, yang sangat besar, terlalu banyak,” ujarnya.

Meski demikian, ia tak menampik bahwa bisa saja ada segelintir orang di dunia ini yang ingin menjadikan A380 sebagai jet pribadi. Jika diminta, perusahaannya akan menghadirkan itu untuk mereka. Namun, sebagai konsultan, ia sangat tak merekomendasikan A380 sebagai jet pribadi, pesawat VVIP, ataupun pesawat kenegaraan.