Skybridge MRT Jakarta dan TransJakarta Beroperasi Pertengahan 2021, Integrasi Tiket dan Tarif dalam Kajian

Integrasi antara MRT Jakarta dengan TransJakarta sudah mulai terlihat dan akan teralisasi sepenuhnya sebentar lagi. Ini terlihat dari selesainya skybridge CSW yang terletak di antara Stasiun MRT ASEAN dengan halte TransJakarta koridor 13 dari Ciledug menuju ke Tendean.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta

Direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pada 7 Mei 2021 kemarin, skybridge untuk penumpang MRT sudah mulai beroperasi. Di mana skybridge ini memiliki panjang 144 meter dengan lebar 4,5 meter. Sedangkan skybridge yang menghubungkan ke koridor 13 saat ini masih dalam proses penyelesaian.

Pada skybridge ini juga akan ada fasilitas tambahan selain passenger gate yakni lift dan eskalator, penyediaan bike rack dan ramp sebagai akses penyandang disabilitas. Tak hanya itu MRT Jakarta juga melakukan pengelolaan kebersihan area skybridge dan pedestrian Stasiun ASEAN.

Pihak TransJakarta menyebutkan, ada kemungkinan akan mulai beroperasi pertengahan tahun 2021 untuk yang bagian penumpang koridor 13 tersebut.

William menyebutkan, sebagai salah satu stasiun integrasi, skybridge ini nantinya juga akan ditambah fasilitas ticketing passenger gate. Dalam hal integrasi ini, William mengatakan akan ada integrasi ticketing.

“Saat ini untuk integrasi tiket kita dengan mekanisme JakLingko. Jadi JakLingko ini adalah sebuah proses integrasi tarif dan tiket di mana semua operator bentuk perusahaan patungan. Ini yang sekarang dibantu satu strategi partner menyiapkan integrasi tiket dan tarif,” jelas William saat kunjungan ke proyek Stasiun MRT Monas, Senin (31/5/2021).

William menambahkan fase pertama integrasi dimulai pada 1 Agustus 2021 dan tengah dalam proses penyelesaian saat ini. Meski begitu dia menyebutkan bahwa untuk tarif saat ini belum ditentukan.

Baca juga: PT MRT Jakarta Canangkan Integrasi Ticketing dengan TransJakarta dan PT KCI

William menjelaskan, terkait tarif, konsultan yang ditugaskan sudah mulai bekerja untuk menyiapkan rekomendasinya. Setelah itu akan ditawarkan, dipaparkan ke pemerintah dan mereka yang akan memutuskan untuk tarifnya.

Jangan Lupa Clear Cache dan Cookie Browser Sebelum Beli Tiket Online!

Bagi Anda yang sering menjelajahi dunia maya dan menemukan iklan dari berbagai produk, pernahkah terlintas di benak Anda, “bagaimana iklan-iklan tersebut muncul dan berkorelasi dengan suatu pencarian yang pernah dilakukan sebelumnya?”. Ya, sebut saja sebelumnya Anda pernah mencari tiket penerbangan atau hotel via Online Travel Agent (OTA) seperti Traveloka atau Tiket.com. Biasanya, iklan yang akan muncul ketika Anda tengah ‘berselancar’ di dunia maya adalah dua iklan dari dua produk di atas, yang sama dengan pencarian Anda sebelumnya.

Baca Juga: Selasa Sore! Waktu Paling Tepat untuk Berburu Tiket Pesawat Murah

Nah, bagi Anda yang pernah mengalami hal semacam ini, ada kemungkinan residu data pada pencarian Anda sebelumnya belum dibersihkan dan situs-situs terkait berkesempatan untuk ‘mengingatkan Anda kembali’ tentang pencarian sebelumnya. Ya, iklan-iklan tersebut bisa muncul karena peran cari cache yang belum dihapus sebelumnya.

Cache atau tembolok merupakan memori yang berukuran kecil, namun memiliki kecepatan yang sangat cepat. Cache ini sendiri memiliki fungsi untuk mempercepat akses data pada suatu device karena cache menyimpan data atau informasi yang telah di akses oleh suatu buffer. Maka dari itu, ada baiknya Anda membersihkan cache tersebut terlebih dahulu sebelum melakukan pencarian tiket di portal OTA.

Selain itu, dikutip KabarPenumpang.com dari laman eturbonews.com, satu hal lain yang disarankan untuk dilakukan sebelum melakukan pencarian tiket via OTA adalah dengan cara membersihkan riwayat pencarian. Menganut prinsip yang hampir sama dengan cache yang sudah dijelaskan di atas, ada beberapa situs yang akan tetap ‘melacak’ setiap pergerakan Anda di dunia maya – yang tentu saja pelacakan ini berhubungan dengan pencarian Anda terdahulu.

Situs-situs ini biasanya menggunakan cookie untuk melacaknya, dan mereka akan mengetahui bahwa Anda tengah menaruh minat terhadap satu rute perjalanan atau sebuah hotel dari hasil penjelajahan Anda sebelumnya.

Baca Juga: Mau Berburu Tiket Penerbangan Murah, Simak Tips Disini

Tidak menutup kemungkinan juga jika Anda tidak menghapus riwayat pencarian terlebih dahulu sebelum membeli tiket perjalanan secara online, maka harga yang dikenakan untuk satu rute perjalanan di hari dan tanggal yang sama akan lebih mahal. Kenapa bisa seperti itu? Ya karena sistem cookie tersebut telah membaca Anda memiliki minat pada rute perjalanan yang harganya lebih mahal tersebut.

Jadi, jangan lupa bersihkan dulu cookie dan cache sebelum membeli tiket online, ya!

 

 

Inilah Robinson R44 Raven II, Jenis Helikopter Latih yang Jatuh di Danau Cibubur

Pesawat latih atau helikopter Robinson R44 dengan registrasi PK-RTO jatuh di Danau Buperta Cibubur atau dikenal juga Setu Rawa Jemblong, Buperta, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (29/5) pukul 09.50 WIB.

Baca juga: Mi-8, Inilah Jenis Helikopter Angkut yang Dibakar KKB di Papua

Helikopter milik sekolah pilot PT. Genesa Dirgantara itu diketahui sempat hilang kontak dengan Air Traffic Controller (ATC) Bandar Udara Halim Perdanakusuma sebelum akhirnya ditemukan di Danau Buperta Cibubur.

Terlepas dari insiden jatuhnya helikopter latih tersebut, Robinson R44 memang sudah familiar bagi pilot amatiran ataupun sekolah penerbangan global.

Dilansir laman resmi perusahaan, seri R44 sendiri sebetulnya ada beberapa jenis, seperti R44 Raven I dan II, R44 Cadet, dan R44 Newscopter. Tetapi, secara umum, spesifikasinya nyaris sama. Perbedaan utama hanya terletak pada beban maksimal, berat total pesawat, jangkauan, instrumen, avionik, dan mesin. Adapun jenis helikopter yang jatuh di Danau Buperta Cibubur beberapa hari lalu adalah tipe R44 Raven II.

Dari segi dapur pacu, helikopter R44 mengusung mesin Lycoming IO-540 fuel injeksi enam silinder. Ini mampu mengantarkan helikopter terbang maksimum sejauh 550 km serta ketinggian maksimum mencapai 14,000 kaki pada kecepatan 202 km per jam.

Helikopter bermuatan dua orang, terdiri dari pilot dan penumpang, menggunakan sistem rotor dua bilah atau two-bladed rotor system, T-bar cyclic, dan teknologi panel instrumen terbaru Robinson yang lebih efisien dan tangki bahan bakar yang tahan benturan.

Pesawat dengan lebar airframe 50 inchi, lebar total 9 inchi, tinggi 72 inchi, dan panjang total 460 inchi tersebut, dari segi perlengkapan dan aksesoris, tergolong lengkap dibanding jenis R44 lainnya. Pesawat dilengkapi dengan sistem kelistrikan 28 volt dengan dukungan Lithium-ion TB17 17 Amp, Impact-Resistant Windshields untuk melindungi pilot dan penumpang saat terjadi kecelakaan, serta seat heaters untuk operasi di wilayah pegunungan dan kutub.

Selain itu, masih dari segi aksesoris dan kelengkapan, R44 Raven II juga dilengkapi dengan observation bubble window, perlindungan korosi ekstra, sampai heated pitot tube.

Pada sisi instrumen, R44 Raven II memiliki opsi tambahan di luar instrumen standar, seperti Vertical Compass, Digital Chronometer, Millibar Altimeter, Meter Altimeter, SAS/Autopilot Genesys HeliSAS, Helicopter Synthetic Vision Technology Card, dan banyak lainnya.

Avionik R44 Raven II pun juga demikian, memiliki opsi tambahan di luar avionik standar. Avionik standarnya sendiri menggunakan Garmin GMA 350Hc Audio Panel, Garmin GTR 225B COM Radio, dan Garmin GTX 335 Transponder w ADS-B Out yang sedikit lebih canggih.

Baca juga: Sadar Hidupnya Tak Lama Lagi, Nenek 104 Tahun Maksa Ingin Terbang dengan Helikopter

Adapun avionik tambahannya mengusung Garmin GTX 335 Transponder w ADS-B Out untuk tipe terendah sampai Garmin GTN 750Xi GPS/COM/NAV tipe tertinggi.

Bagi Anda yang berminat membeli, harganya cukup terjangkau, mencapai sekitar Rp 7 miliar. Itu untuk versi all standar, dengan avionik, instrumen, dan segala-galanya serba standar. Biaya perawatannya juga murah hanya sebesar Rp 178 juta per tahun. Bagaimana, tertarik membeli?

Pesawat Boeing 707 Lufthansa Lekat dengan Sejarah Indonesia-Jerman Akhirnya ‘Dimutilasi’

Pesawat Boeing 707 Lufthansa dipastikan bakal dibongkar untuk diambil bagian-bagian yang masih bagus dan dijual kembali ke pasar suku cadang pesawat. Padahal, pegiat pesawat di seluruh dunia, utamanya di Jerman, sudah berupaya keras melakukan crowdfunding untuk menutupi biaya perawatan pesawat bersejarah itu.

Baca juga: Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

Boeing 707 Lufthansa dengan nomor registrasi D-ABOD memang bukanlah pesawat biasa. Itu bernilai sejarah tinggi karena menjadi bagian dari diplomasi udara antara Indonesia-Jerman.

Lufthansa tercatat berdiri pada 6 Januari 1953. Sedangkan Lufthansa Indonesia berdiri hampir 15 tahun setelahnya, yaitu pada 3 Juli 1967. Upaya untuk membuka penerbangan Indonesia-Jerman terus dikebut sampai akhirnya terjadi tak lama setelahnya. Menariknya, pesawat pertama yang mendarat di Jakarta adalah Boeing 707 D-ABOD, yang memulai penerbangan perdananya pada April 1960.

Sejak saat itu, Lufthansa menjadi penghubung Indonesia-Jerman dengan penerbangan mingguan dari Jakarta menuju Frankfurt.

Saat ini, Lufthansa memiliki lebih dari 200 koneksi di seluruh dunia dan menawarkan lima penerbangan di setiap pekan dari Jakarta menuju Munich melalui Singapura menggunakan Airbus A340. Kendati demikian, penerbangan dari Jakarta tak lebih banyak ketimbang penerbangan dari Singapura, yang menawarkan penerbangan harian ke Frankfurt menggunakan Airbus A380.

Dilansir Simple Flying, avgeek di seluruh dunia setidaknya masih bisa melihat Boeing 707 Lufthansa di Bandara Hamburg selama beberapa hari ke depan, sebelum dipreteli menjadi bagian-bagian kecil pada 8 hingga 16 Juni 2021.

Sejak Februari tahun ini, sebetulnya gonjang-ganjing pembongkaran pesawat bersejarah itu sudah menggaung. Namun, itu menjadi gamang setelah pihak bandara mengungkapkan keinginannya untuk melestarikan pesawat itu.

Tetapi, pengelola Bandara Hamburg tak punya pilihan lain mengingat biaya perawatan pesawat mencapai 6 ribu Euro per tahun, cukup besar untuk ukuran saat ini. Terlebih, arus kas bandara juga sedang terganggu lantaran minimnya penerbangan.

Sebetulnya, avgeek di Jerman yang menamakan diri sebagai ‘Friends of the Boeing 707 D-ABOD’ sudah melakukan penggalangan dana dan berhasil mengumpulkan hampir 10 ribu Euro, jauh melebihi dana yang dibutuhkan untuk pemeliharaan pesawat.

Hanya saja, entah apa yang merasuki pihak bandara, secara tiba-tiba, mereka berubah pikiran dan pada bulan April sempat menyatakan keinginannya untuk membongkar pesawat.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia: Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Sampai di sini, tentu saja pegiat dirgantara di Eropa dan Jerman menentang kebijakan itu. Sekali lagi, itu karena nilai sejarah tinggi yang terkandung pada pesawat tersebut. Setelah isu pembongkaran pesawat Boeing 707 itu mereda, pihak bandara akhirnya mengkonfirmasi jadwal pembongkaran, yaitu pada 8-16 Juni.

Juru bicara Friends of the Boeing 707 D-ABOD menyatakan, pihak Bandara Hamburg tidak komunikatif dan melibatkan mereka sebelum mulai menetapkan tanggal pembongkaran. Tak hanya itu, seluruh akses dan ruang dialog juga ditutup mereka.

Gandeng Properti Sekitar, MRT Jakarta Fase 2 Pembangunannya Bersamaan TOD

Setahun pandemi berjalan, di tahun kedua ini bagaimana ridership atau penumpang dan progres pembangunan fase 2 MRT Jakarta? Direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan penumpang membaik sebelum dan sesudah Idul Fitri. Dia menyebutkan rata-rata hingga hari ini 31.060 penumpang per harinya.

Baca juga: Demand Meningkat, MRT Jakarta Tambah Fasilitas untuk Pesepeda Non Lipat

“Ini dalam dua minggu terakhir dan 19 Mei 2021 kemarin jumlahnya sampai 33.572 penumpang per hari. Kita berharap target akhir tahun 65 ribu penumpang akan lebih baik,” ujar William saat forum jurnalis, Senin (31/5/2020) di kawasan Monas.

Selain kenaikan jumlah penumpang, William juga menyebutkan adanya progres terbaru pada MRT Jakarta fase 2. Di mana saat ini sudah 16,5 persen dan itu sedikit di atas target. William menjelaskan saat ini sudah dibangun empat panel D-wall di Thamrin dan juga di Monas.

Yang mana nantinya ini akan menjadi pondasi stasiun. William menyebutkan saat ini D-wall di Monas sudah terbangun sedalam 30 meter. Di mana 17 meter untuk stasiun dan sudah terbangun sedalam tiga meter.

Dia mengatakan untuk pembangunan fase 2 semuanya akan berada di bawah tanah dan di Monas sendiri tidak akan ada bangunan tinggi karena tidak diizinkan. Sehingga gardu listrik milik MRT Jakarta yang ada di Monas juga dibangun di bawah tanah.

“Kita bangun gardu listrik di bawah tanah yang biasanya berada di atas tanah. Pembangunan fase 2 juga semuanya ada di bawah tanah dan tidak akan mengganggu lalu lintas di atas,” jelas William.

Dia menyebutkan dalam pembangunan fase 2 saat ini yang seluruhnya bawah tanah, nantinya seluruhnya akan terintegrasi dengan seluruh bangunan di sekitarnya. Sehingga saat fase 2 mulai beroperasi TOD (Transit Oriented Development) dan integrasi bawah tanah akan terjadi.

“Pada fase 1 entrance terlihat di jalan, sedangkan fase 2 entrance akan ada di properti. MRT Jakarta akan berbicara dengan pemilik gedung dari Thamrin hingga ke Kota Tua dan membentuk asosiasi pengelola kawasan untuk bicara cara terbaik memanfaatkan entrance MRT di proprerti mereka,” jelasnya.

Baca juga: Jelang Pembangunan Fase 2A, MRT Jakarta Pindahkan Sementara Tugu Jam Thamrin

William menambahkan, MRT Jakarta fase 2 juga hadir sebagai peluang meningkatkan nilai kawasan. Di mana semuanya akan tertata rapi dan integrasi berjalan baik sehingga nilai ekonomi, budaya dan sejarah yang ada disekitar fase 2 sangat tinggi. Dia menyebutkan Entrance Monas akan menggunakan model sunken atau pintu masuk “tenggelam” karena pintu masuknya ada di bawah tanah tanpa ada bangunan apa pun di atasnya.

Load Factor Rendah, Maskapai-maskapai Besar ini Tak Lagi Sambangi Jakarta

Saat pandemi Covid-19 mulai menerpa Indonesia pada Maret 2020, beragam pembatasan langsung berdampak pada dunia transportasi. Pada layanan penerbangan internasional, sejumlah maskapai besar mulai mengurangi frekuensi penerbangannya ke Indonesia. Bahkan, tidak sedikit yang untuk sementara menghentikan layanan penerbangannya.

Baca juga: Turkish Airlines Kembali Layani Penerbangan Jakarta-Istanbul 2 Kali Seminggu

Load factor yang rendah menjadi dasar dari pengurangan dan penghentian layanan penerbangan. Penerbangan internasional, kini lebih dioptimalkan untuk mendukung angkutan logistik dan repatriasi.

Namun, menurunnya penerbangan internasional dari dan ke Indonesia, bukan kali ini terjadi. Dengan latar masalah yang berbeda, beberapa maskapai besar global yang dahulu di era 80/90-an pernah menyambangi Indonesia, pernah hengkang, bahkan tak lagi melayani penerbangan ke Indonesia.

Bila mengacu ke daftar penerbangan internasional dari dan menuju Jakarta, dari masa ke masa selalu mengalami perubahan. Sebagai ilustrasi, di dekade 80-an dan 90-an, ada beberapa maskapai asing dari Eropa yang melayani penerbangan (in direct flight) ke Jakarta. Sebut saja di dekade tersebut ada British Airways, SwissAir, Air France, Lufthansa, dan KLM. Namun kini di antara keempatnya, hanya Lufthansa yang masih bertahan melakukan penerbangan dari Jerman ke Jakarta (transit di Singapura).

Maskapai yang lain, seperti British Airways, SwissAir, Air France dan KLM, kini memang tak lagi secara fisik menghadirkan sosok pesawatnya di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Namun, roda bisnis terus berjalan, seperti Air France bahkan masih membuka kantor perwakilannya di Jakarta.

Dirunut dari argumen yang diutarakan pihak maskapai, rendahnya load factor menjadi alasan utama ditutupnya rute penerbangan ke suatu kota/negara. Alasan lain, tumbuhnya aliansi penerbangan juga merupakan faktor kuat ditutupnya rute penerbangan, terutama pada penerbangan jarak jauh. Dengan model aliansi, seperti SkyTeam Airline Alliance dan Star Alliance, menjadikan maskapai asal Eropa yang tidak mempunyai rute ke Jakarta, dapat memanfaatkan sistem kerjasama transfer penumpang (codeshare) hingga ke tujuan akhir.

Sebagai contoh, maskapai KLM untuk tujuan ke Asia Tenggara berakhir di Malaysia, maka jika ada penumpang tujuan Jakarta, maka ia dapat dialihkan ke penerbangan dari maskapai sesama anggota aliansi. Sementara penumpang British Airways dari London tujuan Jakarta, maka akan transit dan berpindah ke pesawat Cathay Pacific untuk kemudian terbang ke Jakarta.

Namun, karena berada di ‘ruang’ yang dinamis, buka tutup pada jalur penerbangan adalah hal yang biasa, kuncinya kembali ke permintaan pasar dan load factor yang dapat terpenuhi. Dan berikut ini, beberapa maskapai internasional yang pernah singgah di ruang udara Indonesia.

SwissAir
Maskapai asal Swiss ini melayani penerbangan ke Jakarta di dekade 80-an dan 90-an. Di masa Halim Perdanakusuma masih didapuk sebagai bandara utama internasional di Jakarta, SwissAir melayani penerbangan ke Jakarta (transit di Mumbai, India) menggunakan pesawat jet bermesin tiga, DC-10 30.

Air France
Berhentinya Air France melayani rute Jakarta karena sepinya pelanggan. Terkadang hanya satu atau dua pelanggan saja yang menjadi pengguna Air France tiap harinya. Hal ini membuat banyak pengguna Air France kecewa karena rute langsung Indonesia – Perancis terhenti.

Baca juga: Angkasa Pura II Beri Insentif Maskapai Untuk Extra Flight Domestik

Kuwait Airways
Tak jauh berbeda dengan maskapai Air France, Kuwait Airways juga berhanti dikarenakan hal yang sama, yakni sepinya penumpang rute Jakarta.

Tiger Airways
Januari lalu, maskapai ini diberhentikan penerbangannya oleh Kementerian Perhubungan melalui Otoritas Bandar Udara (OBU). Ini dikarenakan Tiger Airways tidak memenuhi aturan penerbangan Indonesia.

Baca juga: Antara Qatar Airways, Irlandia, dan Jamaah Umroh Indonesia

MASwings
Maskapai yang berbasis di Malaysia ini menghentikan penerbangannya dari Kuching (Malaysia) ke Pontianak (Indonesia) per 1 Februari 2016 lalu. Dulunya penerbangan maskapai ini bisa tiga kali dalam seminggu. Penghentian ini karena penerbangan fokus pada pertumbuhan rute domestik sebagai pasar utamanya.

Baca juga: Lion Air Pesan 50 Unit Boeing 737 MAX 10 Senilai US$6,24 Miliar

Adanya penutupan rute penerbangan sebuah maskapai ke Indonesia sebenarnya memiliki dampak positif terutama pada bandara Soekarno-Hatta dalam pengaturan lalu lintas. Dimana tidak lagi terjadi penumpukan jam terbang atau pendaratan yang membuat pengatur lalu lintas kewalahan karena banyak maskapai asing meminta jam terbang di luar jadwal seharusnya.

Ada Kelelawar Liar di Dalam Kabin, Boeing 777 Air India ‘Return to Base’

Kabin pesawat kemasukan binatang liar? Meski jarang terjadi, namun itu sudah terjadi beberapa kali. Kabar terbaru datang dari Negeri Anak Benua, diwartakan sebuah pesawat Boeing 777 milik Air India, terpaksa harus return to base lantaran ada seekor keleawar yang berada di area kabin penumpang. Karena tak bisa diatasi oleh awak kabin, maka opsi paling aman adalah mendaratkan kembali pesawat ke bandara awal.

Baca juga: Bikin Ketar-Ketir Penumpang, Inilah 6 Insiden Binatang Masuk ke Pesawat Tanpa Sengaja

Dikutip dari The Sun (27/5/2021), Boeing 777 Air India itu dalam pemerbangan dari New Delhi menuju New York. Meski penerbangan tersebut tak banyak membawa penumpang (terkait tsunami Covid-19), namun kelelawar yang terbang bebas di kabin membuat kerepotan tersendiri. Akhirnya 30 menit setelah mengudara, pilot memutuskan untuk melakukan RTB setelah mendapatkan persetujuan dari petugas ATC (Air Traffic Control). Pejabat Direktorat Penerbangan Sipil (DGCA) India mengatakan bahwa pesawat AI-105 DEL-EWR, kembali ke New Delhi setelah keadaan darurat siaga telah diumumkan.

Pesawat mendarat dengan selamat sekitar pukul 03.55 waktu setempat, dan setelahnya dinyatakan dalam status Aircraft on Grounded (AoG). Pihak terkait di Bandara Internasional Indira Gandhi menyebut, pasca insiden dilakukan inspeksi oleh petugas satwa liar. Pesawat dilaporkan menjalani fase fumigasi lengkap, setelah itu bangkai kelelawar diambil dari kabin.

Pejabat DGCA mengatakan bahwa ditemukan bangkai kelelawar di dalam pesawat area kelas bisnis. Departemen keselamatan penerbangan Air India dilaporkan akan melakukan penyelidikan terperinci atas insiden tersebut. Namun, laporan awal dari tim teknik Air India menyebutkan bahwa mamalia yang tidak diinginkan tersebut berasal dari pihak ketiga.

Kilas balik ke 7 Januari 2019, seeokor burung Myna (jalak)juga secara tak sengaja masuk ke kabin Airbus A380 Singapore Airlines. Uniknya, burung ini juga berada di kelas bisnis.

Baca juga: Jadi “Penumpang Gelap,” Burung Myna Masuk Kabin A380 Singapore Airlines dan Ikut Terbang 12 Jam

Burung Myna yang berada di dalam penerbangan Airbus A380-800 SQ322 tersebut tidak bisa tertangkap langsung alias menghindari tangkapan awak kabin. Namun akhirnya burung tersebut bisa ditangkap dengan bantuan beberapa penumpang dan memberikannya pada awak kabin. Pesawat dengan rute Changi-London tersebut terbang selama 12 jam non-stop, dan tentunya si burung jalak ini ikut terbang sampai tujuan ‘barunya.’

Lama ‘Nganggur’, Pesawat Uji Terbang Airbus A220 Sekarang Jadi Mockup

Setelah lama digrounded karena tak ada lagi tugas yang diberikan, bekas pesawat uji terbang Airbus A220 akhirnya dijadikan mockup untuk memanjakan para pelanggan yang datang langsung ke kantor pusat perusahaan itu di Toulouse, Perancis.

Baca juga: CEO airBaltic: Airbus A220 Jadi Pesawat Sempurna Pasca Pandemi Corona, Gegara Hal Ini?

Pesawat yang dahulu merupakan Bombardier CS100, dengan nomor registrasi C-FBCS, diketahui mulai melakoni penerbangan perdana pada September 2013. Dua pekan berselang, pesawat yang dikenal sebagai Flight Test Vehicle 1, disingkat menjadi FTV1, itu kemudian terbang kembali pada 1 Oktober.

Setelah dua tahun lebih ditugaskan sebagai pesawat uji, pabrikan Bombardier kemudian menarik pesawat tersebut pada November 2015. Airbus akhirnya secara resmi mengambil program CSeries dan mengganti namanya sebagai A220 pada tahun 2018.

Sejak ditarik oleh Bombardier dan diakuisisi oleh Airbus, pesawat itu praktis tak mendapat tugas apapun sampai akhirnya baru-baru ini diberdayakan oleh departemen penjualannya sebagai mockup, bersama mockup dari pesawat lainnya, di Airspace Customer Showroom. Diharapkan, kehadiran pesawat itu dapat membuat pelanggan mengerti betul seluk-beluk pesawat dan pada akhirnya meyakinkan mereka untuk memilikinya.

Disebutkan, mockup atau maket A220 ini menampilkan konfigurasi kabin potensial untuk kelas bisnis dan ekonomi. Selain mengajak pelanggan untuk naik langsung ke pesawat, Airbus juga akan dapat menggunakan fitur kabin display untuk membantu pelanggan yang ada menyesuaikan konfigurasi onboard mereka.

“Hari ini menandai perkembangan penting dalam karier berkelanjutan A220 sebagai anggota keluarga Airbus, semuanya di Airspace Customer Showroom. Kami berharap dapat menunjukkan mockup A220 kepada pelanggan kami, yang sudah sangat antusias untuk berkunjung,” kata Direktur Pemasaran Maskapai Airbus, Christine de Gagné, dalam laman resmi perusahaan.

Airbus A220 sendiri memang dinilai sebagai pesawat bertalenta. Betapa tidak, kendati terlahir sebagai pesawat narrowbody, A220 disebut bisa bersaing dan menjalani tugas layaknya pesawat widebody kompetitor, yaitu Boeing 787 Dreamliner.

Airbus A220 dirancang untuk mengangkut 100 hingga 150 penumpang – tergantung konfigurasi yang diminta oleh pihak pemesan (maskapai). Armada A220 juga diklaim akan memberikan kenyamanan kepada para penumpang – kursi yang lebih lega, jendela yang lebih besar, dan penerbangan yang lebih tenang.

Baca juga: Gokil, Rolls-Royce Luncurkan Mesin Pesawat Sebesar Pesawat Airbus A220

Bagi para pihak maskapai yang nantinya menggunakan A220, pihak Airbus menyebut bahwa varian ini lebih efisien dalam hal penggunaan bahan bakar, karena adanya perubahan perhitungan dari segi aerodinamikanya, pun dengan bahan baku pembuatan pesawat yang lebih ringan, dan penggunaan jenis mesin baru.

Dengan begitu, secara umum, Airbus A220 diklaim dapat melakoni tugas yang sama, sama halnya dengan Boeing 787 Dreamliner.

Miris, Qatar Airways Mulai Tambah Karyawan, Garuda Indonesia Terus Pangkas Jumlah Karyawan

Qatar Airways terus menambah karyawan baru, dalam hal ini pilot dan awak kabin. Itu terjadi setelah permintaan perjalanan udara terus meningkat. Meski demikian, maskapai terbaik di dunia 2019 versi Skytrax ini tetap memprioritaskan eks karyawannya terlebih dahulu sebelum menerima karyawan baru.

Baca juga: Qatar Airways Tambah Karyawan dan Rute Saat Maskapai Lain Tiarap, Ini Alasannya

“Saya senang untuk mengatakan bahwa kami telah mulai merekrut lagi di Qatar Airways, baik pilot maupun awak kabin, tetapi kami memprioritaskan orang-orang yang kami lepaskan, yang memiliki kinerja bagus akan memiliki rekor bagus untuk membawa mereka kembali ke maskapai penerbangan, dan kami sudah melakukan ini,” kata CEO Qatar Airways, Akbar Al Baker.

“Awalnya saya berjanji kepada staf saya. Ketika saya membuat pernyataan kepada mereka, betapa sedihnya saya bahwa mereka membangun Qatar Airways bersama kami dan sekarang kami harus melepaskan mereka, bahwa kami akan membawa mereka kembali segera setelah kami mulai meningkatkan dan inilah yang sebenarnya kami lakukan,” lanjutnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Disebutkan, saat ini, pilot yang direkrut kembali terbatas untuk pilot Boeing 777 dan Boeing 787 Dreamliner. Jumlahnya juga tak terlalu banyak dibanding ribuan pilot dan pramugari yang di PHK beberapa bulan lalu. Namun, ini menjadi sinyal positif bahwa di beberapa pekan atau bulan mendatang, akan lebih banyak eks karyawan yang kembali bergabung.

Berbanding terbalik dengan Qatar Airways, Garuda Indonesia, yang notabene sama-sama berstatus sebagai national flag carrier atau maskapai penerbangan nasional, justru terus melakukan ‘PHK’ besar-besaran.

Terbaru, pada beberapa hari yang lalu, Garuda Indonesia bahkan menawarkan program pensiun dini bagi seluruh karyawan. Bagi yang berminat dan sesuai kriteria, program tersebut efektif per 1 Juli 2021 mendatang.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, mengungkapkan, program pensiun dini yang ditawarkan pihaknya merupakan sebuah langkah penyesuaian aspek supply dan demand ditengah penurunan kinerja operasi imbas penurunan trafik penerbangan yang terjadi secara signifikan.

“Ini merupakan langkah berat yang harus ditempuh perusahaan. Namun opsi ini harus kami ambil untuk bertahan ditengah ketidakpastian situasi pemulihan kinerja industri penerbangan yang belum menunjukan titik terangnya di masa pandemi Covid-19 ini,” ujarnya.

Baca juga: Media Asing ‘Tertawakan’ Rencana Garuda Indonesia Buka Penerbangan (Rugi) Langsung ke Amerika, Paris, dan India

Kondisi keuangan Garuda Indonesia saat ini memang mengkhawatirkan. Dalam sebuah rekaman internal yang beredar, terungkap bahwa maskapai pelat merah itu memiliki utang mencapai Rp 70 triliun. Tak berhenti sampai di situ, setiap bulannya, utang tersebut juga bertambah sebesar Rp1 triliun karena pendapatan tak bisa menutupi ongkos operasional perusahaan.

Pada bulan Mei ini, pendapatan perseroan diprediksi hanya 56 juta dolar AS, sementara biaya operasional perbulannya mencapai 56 juta dolar AS untuk sewa pesawat, perawatan 20 juta dolar AS hingga bayar pegawai yang mencapai 20 juta dolar AS.

Sepur Kluthuk Jaladara, Kereta Uap Kuno Yang Lintasi Jalur Kota Solo

Ketika mendengar kereta di Solo, Jawa Tengah, maka akan terbayang pada sosok kereta Batara Kresna yang melintasi jalur tengah kota laksana trem di Eropa. Tapi ternyata ada lagi satu kereta wisata yang juga mengular di jalur Solo yakni Kereta uap Jaladara atau biasa disebut Sepur Kluthuk Jaladara.

Baca juga: KA Batara Kresna, Melaju di Rel Bekas Trem

KabarPenumpang.com mengabarkan bahwa kereta ini dijalankan dengan lokomotif uap C1218 dan beroperasi dari stasiun Purwosari hingga Sangkrah sepanjang enam kilometer serta melewati jalan Slamet Riyadi yang legendaris. Kereta ini ditarik satu lokomotif uap buatan Maschinenbau Chemitz Jerman pada tahun 1896 dengan dua gerbong kayu jati asli buatan tahun 1920 dan mampu menampung 72 orang.

Sepur Kluthuk juga punya nama lain yakni Steam Loco dan diluncurkan di jalur kereta Solo sejak 27 September 2009 lalu. Uniknya kereta ini dijalankan menggunakan bahan bakar kayu jati dan air untuk mengasilkan uap agar lokomotif bisa berjalan.

Anda harus tahu loko penarik sepur ini membutuhkan 4 meter kubik air dan 5 meter kubik kayu untuk menempuh jarak dari stasiun Purwosari menuju Sangkrah dengan waktu tempuh tiga jam. Sepur Kluthuk Jaladara tidak hanya melintas, melainkan pengunjung juga bisa menikmati kota Solo dengan deretan toko, mall, rumah penduduk dan lalu lintasnya.

Sepur Kluthuk Jaladara lalui Jalan Slamet Riyadi

Kemudian, pengunjung juga akan diajak untuk singgah di beberapa tempat wisata heritage di sekitar jalan Slamet Riyadi yakni Loki Gandrung (rumah dina Walikota Surakarta), Museum Batik Danarhadi, Kampung Batik Kauman, kawasan Gladak, dan Keraton Kasunanan Surakarta. Tak hanya unik, kereta ini memiliki hal menarik lainnya yakni menyuguhkan sajian musik tradisional siteran selama perjalanan untuk membuat penumpang nyaman.

Penumpang sepur juga diberikan minuman slamat datang berupa jamu tradisional dan disuguhi jajanan pasar. Sayangnya untuk naik sepur Kluthuk Jaladara tidak bisa setiap hari, sebab kereta uap kuno ini harus menyesuaikan dengan jadwal PT KAI terutama di stasiun Purwosari. Tetapi tenang saja, kereta ini juga berjalan dengan sistem paket wisata yakni setiap hari libur, atau Sabtu Minggu dan libur panjang.

Baca juga: KAIS RailOne, Mengenal Vooridjer Kereta Kepresidenan RI

Ada tiga paket perjalanan yang bisa dipilih pengunjung yakni 25 orang, 35 orang atau 80 orang. Sekali perjalanan biaya yang dikenakan Rp3.250.000 untuk 80 orang. Untuk 25 penumpang Rp360 ribu per orang dan 35 orang Rp290 ribu per orang.

Tarif untuk naik kereta ini cukup mahal dikarenakan sekali jalan kereta uap ini membutuhkan tiga kubik kayu jati sebagai bahan bakar. Untungnya, dengan harga segitu, bisa dikatakan seimbang dengan yang didapatkan penumpang.