Mi-8, Inilah Jenis Helikopter Angkut yang Dibakar KKB di Papua

Setelah melakukan pembakaran pada pesawat Quest Kodiak milik Mission Aviation Fellowship (MAF) di Bandara Pagamba, Distrik Mbiandoga, Kabupaten Intan Jaya pada 6 Januari 2021. kembali, Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua berulah dengan melakukan pembakaran pada wahana udara, persisnya pada Minggu, 11 April 2021, sebuah helikopter angkut milik PT Ersa Air dibakar di Bandara Ilaga, Kabupaten Puncak.

Baca juga: Bukan Twin Otter, Pesawat yang Dibakar KKB di Intan Jaya ialah Quest Kodiak

Dikutip dari tribunnews.com (12/4/2021), “helikopter memang dalam kondisi tidak bisa terbang,” ujar Kapolda Papua, Irjen Mathius D Fakhiri. Menurut Fakhiri, pembakaran tersebut sempat diwarnai dengan aksi penembakan. Tetapi, ia menilai ulah KKB tersebut lebih karena mereka berusaha menganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah pegunungan. “Mereka mau mengganggu aktivitas penerbangan. Tentu dititik rawan kami sudah instruksikan untuk memperhatikan betul bandara karena di beberapa titik ini aktivitas hanya bisa lewat udara, seperti Ilaga, Beoga dan Intan Jaya,” tutur Fakhiri.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, tapi bagian depan helikopter mengalami kerusakan akibat dibakar. Helikopter tersebut parkir di kawasan Bandara Ilaga lantaran mengalami kerusakan mesin sejak 31 Maret 2021.

Helikopter itu tengah mengalami kerusakan dan sedang menunggu spare part untuk perbaikan. Karena itulah heli tersebut terparkir di lokasi kejadian dan belum bisa kembali ke Timika. Berdasarkan foto yang beredar di media sosial, helikopter yang dibakar KKB berwarna putih. Helikopter itu tampak bolong di bagian depan hingga menembus ke dalamnya.

Mi-8 yang disewa BNPB (Foto: Antara/Feny Selly)

Dari penampaan, helikopter yang dimaksud identik dengan Mil Mi-8, helikopter angkut berat buatan Rusian Helicopters. Ada banyak varian Mi-8 yang telah diluncurkan, namun pada umumnya, helikopter ini digunakan untuk menjalankan peran sebagai helikopter transport penumpang, transport pasukan, transport vip, pengintaian, perang elektronik, serangan, pengintai artileri dan pos komando udara.

Baca juga: Percaya atau Tidak, Rusia Pernah Membuat Helikopter Berkapasitas 196 Penumpang

Helikopter ini punya kapasitas angkut (payload) sampai 4 ton, dan dilengkapi ramp door untuk membawa kendaraan taktis ringan. Helikopter jenis Mi-8 juga disewa oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk operasi pemadaman kebakaran hutan.

PKD di Stasiun India Berhasil Selamatkan Nyawa Penumpang Tua yang Jatuh ke Celah Peron

Terjatuhnya penumpang dan masuk ke celah antara peron dengan kereta sering kali terjadi. Meski begitu, insiden seperti itu lebih banyak mendapati penumpang yang selamat dibandingkan yang terluka parah atau kehilangan nyawanya.

Baca juga: Demi Ambil Barang Jatuh, Wanita Ini Nekat Turun ke Rel Lewat Celah Antara Kereta dan Peron

Insiden fatal umumnya bisa dicegah, karena kesigaan petugas atau kepedulian penumpang lain untuk segera menolong korban. Dilansir KabarPenumpang.com dari ndtv.com (5/4/2021), Menteri Perkeretaapian India Piyush Goyal mengaku bangga pada personel keamanan (Petugas Keamanan Dalam/PKD) di stasiun yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Pengakuan tersebut karena seorang petugas keamanan menyelamatkan nyawa seorang penumpang tua di salah satu stasiun di Rajashtan. Petugas itu dalam sebuah video pendek yang diunggah Piyush terlihat menyelamatkan pria tua yang terjatuh antara celah kereta dan peron.

Sebelum menyelamatkan pria tua, petugas keamanan tengah berjalan menyusuri peron tepat disebelah kereta yang bergerak. Tiba-tiba petugas tersebut berlari setelah melihat sesuatu yang salah.

Saat itu pria tua berpegangan pada jendela kereta dan mencoba menahan agar tidak terjatuh. Tapi sayangnya, dia kehilangan cengkraman dan terjatuh ke peron yang mana sebagian tubuhnya terperangkap di celah antara peron dan kereta.

Kemudian petugas langsung menarik pria tersebut ke tempat yang aman. Insiden ini terekam kamera pengawas dan tak luput dari perhatian penumpang lain. Piyush kemudian mengunggah video aksi heroik petugas yang menyelamatkan pria tua ke akun Twitter-nya.

“Di Stasiun Sawai Madhopur di Rajasthan, seorang penumpang lanjut usia diselamatkan dengan tindakan cepat oleh petugas keamanan yang bertugas. Kami bangga dengan personel keamanan kami yang menjalankan tugas penuh dengan tanggung jawab,” tulis Piyush dengan Bahasa Hindi di akun Twitternya.

Baca juga: Nekat Naik ke Kereta yang Melintas, Pria Ini ‘Berputar-Putar’ Pasrah di Peron

Video menjadi viral dan mengumpulkan ribuan suka dan di retweet lebih dari 800 kali oleh warganet.

Prahara Ide Kokpit Dilengkapi Kamera Video, Ditentang Pilot-FAA Tapi Direkomendasikan ICAO

Black box sudah pasti sangat dicari ketika kecelakaan pesawat terjadi. Sebab, di dalamnya terdapat dua data, yaitu cockpit voice recorder (CVR) dan flight data recorder (FDR). Dalam keadaan normal, keduanya sudah cukup membantu penyidik mengungkap penyebab kecelakaan.

Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Pintu Kokpit Cegah Pembajakan? Berikut Ulasannya

Akan tetapi, ketika black box tak kunjung ditemukan, penyidik sudah pasti kesulitan. Karenanya, sebagian kalangan menilai, kokpit membutuhkan kamera video sebagai pelengkap black box.

Dilansir Simple Flying, pemasangan kamera video di kokpit pesawat kembali menggaung pasca desakan dari Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB). Menurutnya, data visual melalui kamera video tahan benturan sangat membantu penyidik mengungkap respon pilot saat terjadi kecelakaan, seperti yang belum lama ini terjadi di Indonesia, Ethiopia, dan Texas.

Selain itu, rekaman visual melalui kamera video atau sejenis CCTV di kokpit juga akan berguna ketika peristiwa misterius yang melibatkan pesawat terjadi, seperti Malaysia Airlines MH370 dan Germanwings flight 9525 yang jatuh di Pegunungan Alpen, Perancis, akibat kopilot berusia 27 tahun, Andreas Lubitz, diduga bunuh diri.

“Mewajibkan pesawat maskapai untuk memasang sistem perekam penerbangan tahan benturan pada semua pesawat bertenaga turbin, non-eksperimental, kategori nonrestricted yang baru diproduksi dan atau memerlukan retrofit pesawat yang ada dengan peralatan tersebut. Sistem perekam penerbangan yang tahan tabrakan harus merekam audio dan gambar kokpit dengan pemandangan di kokpit,” kata NTSB dalam sebuah pernyataan, beberapa waktu lalu.

Agar maskapai tak terlalu terbebani dengan biaya-biaya yang timbul, NTSB menyarankan agar operator menyediakan sendiri teknologinya.

Namun, desakan NTSB ditolak Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA). FAA berdalih hal itu akan memberatkan maskapai dan tentu saja mereka menolak hal itu. Lebih lanjut, kamera video di kokpit juga bersinggungan dengan masalah privasi, biaya, dan keamanan, serta sederet permasalahan lainnya.

Masalah privasi sebagai dampak pemasangan video kamera di kokpit juga disuarakan serikat pilot dunia. Tak hanya itu, kamera video di kokpit juga dikhawatirkan mempengaruhi cara pilot bekerja sehingga tidak baik untuk keberlangsungan penerbangan ke depan.

Kendati ditolak FAA dan serikat pilot dunia, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) justru mendukung pemasangan kamera video di kokpit. Organisasi yang berdiri pada tahun 1947 itu tercatat sudah membahas potensi kokpit dilengkapi kamera video sejak 1995 silam. Setelah lama tak terdengar, ICAO akhirnya mengeluarkan menulis pentingnya kelengkapan kamera video di kokpit dalam sebuah paper pada 2016 lalu.

“Ketersediaan rekaman video tentang situasi di kokpit yang dimiliki penyidik dapat secara efisien mempercepat proses investigasi, untuk menentukan secara eksplisit penyebab kecelakaan dan untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap kesimpulan dari komisi investigasi,” tulisnya.

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Ketika itu, ICAO disebut mewajibkan seluruh pesawat untuk melengkapi kokpit dengan kamera video. Namun, lembaga aviasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menegaskan hanya sekedar meminta komentar atas hal tersebut.

Hingga kini, ICAO belum membahas lebih lanjut terkait butuh tidaknya pesawat dilengkapi kamera video di kokpit, berlanjut kepada pelaksanaan secara serempak di seluruh dunia.

Akibat Langgar Karantina, Awak Kabin Vietnam Airlines Dipenjara Dua tahun

Pernah membayangkan bila harus merasakan kurungan penjara selama dua tahun karena tidak mengikuti aturan karantina di masa pandemi? Mungkin Anda tidak akan bisa membayangkan dan tidak akan mau terjadi seperti itu.

Baca juga: Cegah Penyebaran Covid-19, Otoritas Penerbangan Cina Rekomendasikan Awak Kabin Gunakan Popok Selama Bertugas

Namun, seorang awak kabin Vietnam Airlines merasakan hal tersebut. Pasalnya Duong Tan Hau melakukan pelanggaran kanrantina dan membuat sekitar dua ribu orang melakukan tes untuk pemeriksaan virus corona.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (31/3/2021), Hua yang merupakan awak kabin Vietnam Airlines harus menjalani hukuman dua tahun penjara setelah dinyatakan bersalah melanggar aturan pembatasan dan menyebarkan virus corona kepada orang lain.

Hal ini diumumkan oleh pihak berwenang, di mana pada hari Selasa (30/3/2021) pengadilan Vietnam memvonis Duong Tan Hau karena menyebarkan penyakit menular berbahaya. Pada November, awak kabin berusia 29 tahun itu melanggar perintah karantina nasional selama 14 hari.

Saat itu, menurut Pengadilan Rakyat Kota Ho Chi Minh, Hau berhubungan 46 orang lain setelah penerbangan dari Jepang. Menurut Kementerian Keamanan Publik Vietnam, Hau mengunjungi kafe, restoran dan menghadiri kelas bahasa Inggris. Padahal saat itu Hau harusnya dilakukan dalam isolasi diri di mana dia dinyatakan positif Covid-19 pada 28 November 2020.

Dari pertemuannya dengan orang-orang itu setidaknya tiga terinfeksi virus corona. Pelanggarannya ini menyebabkan karantina dan pengujian pada sekitar dua ribu orang lainnya dan merugikan pemerintah $194.192 (4,48 miliar dong).

“Pelanggaran Hau serius, membahayakan masyarakat dan membahayakan keselamatan masyarakat,” kata media lokal.

Baca juga: Aturan Baru, Singapura Wajibkan Semua Pesawat Punya Area Karantina di Dalam Kabin

Seorang juru bicara maskapai tidak segera tersedia untuk memberikan komentar lebih lanjut kepada Fox News tentang status pekerjaan Hau. Vietnam, sementara itu, telah menerapkan persyaratan pengujian, pelacakan, dan karantina virus corona yang ketat untuk warganya. Hingga saat ini, 2.594 kasus virus corona dan 35 kematian telah dilaporkan di Vietnam, menurut Universitas Johns Hopkins.

Tarif Rapid Test Antigen di Daop 8 Surabaya Turun Harga

Menikmati perjalanan dengan kereta api di masa pandemi, penumpang diwajibkan menunjukkan hasil negatif dari tes rapid antigen, PCR maupun GeNose. Di mana di beberapa stasiun KAI menyediakan lokasi pemeriksaan GeNose maupun rapid antigen sehingga memudahkan penumpang kereta jarak jauh untuk melakukan pemeriksaan.

Baca juga: Tes GeNose C19 Berlaku Penyesuaian Tarif, Kini Menjadi Rp30 Ribu

Namun, belum lama ini PT Kereta Api Indonesia (KAI) menurunkan tarif pemeriksaan rapid test antigen untuk penumpang perjalanan jarak jauh. Tarif rapid antigen ini awalnya Rp105 ribu menjadi Rp85 ribu dan hasilnya berlaku selama 3×24 jam sejak dilakukan pengambilan sample.

“Penurunan tarif ini berlaku mulai 9 April 2021 di seluruh stasiun yang melayani pemeriksaan rapid test antigen,” kata Luqman Arif, Manajer Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) 8 Surabaya yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Jumat (9/4/2021).

Dia mengatakan, penurunan tarif rapid test antigen ini untuk memberikan alternatif bagi calon penumpang kereta api yang ingin melakukan pemeriksaan atau screening Covid-19 di stasiun. Luqman menyebutkan, untuk melakukan pemeriksaan rapid test antigen di stasiun, calon penumpang harus memiliki tiket atau kode booking kereta api jarak jauh yang sudah lunas.

Luqman menegaskan, KAI berkomitmen untuk memastikan seluruh pelanggan kereta api jarak jauh telah memenuhi persyaratan yang telah diatur pemerintah. Sebab bila tidak sesuai maka dilarang melanjutkan perjalanan dan tiket dibatalkan.

Layanan rapid test antigen di Daop 8 Surabaya sendiri tersedia di lima stasiun yakni Surabaya Pasar Turi, Surabaya Gubeng, Malang, Mojokerto dan Sidoardjo. Selain itu saat ini untuk tarif GeNose pun masih dikatakan lebih murah yakni Rp30 ribu.

Baca juga: GeNose, Alat Cek Covid-19 Buatan UGM Siap Diproduksi Massal, Termasuk Akan Digunakan PT KAI

Yang mana masa berlaku hasil tes GeNose hanya 1×24 jam sejak dilakukannya pengambilan sample. Hingga saat ini, dari Daop lain belum ada keterangan lebih lanjut apakah ada penurunan harga tarif rapid test antigen seperti di Daop 8 Surabaya.

‘Sultan’ Inggris Ingin Terbangkan Mobil, Jadi Sebab Lahirnya Pesawat Aneh ATL-98 Carvair

ATL-98 Carvair mungkin terdengar aneh di telinga avgeek saat ini. Sepak terjangnya memang tak sebagus De Havilland Comet, Concorde, dan pesawat lainnya. Namun, bagaimana dengan DC-4? Pasti tidak asing bukan dengan pesawat turboprop legendaris ini. Padahal, ATL-98 Carvair kepanjangan dari “Car via Air” merupakan pesawat modifikasi dari DC-4, loh.

Baca juga: Hari Ini, 44 Tahun Lalu, Tabrakan Dua Boeing 747 Jadi Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa

Sebagaimana namanya, pesawat ini memang khusus diperuntukkan kargo yang memuat mobil di bagian punuk atau punggu pesawat. Tak heran bila desainnya seperti itu dan nyaris serupa dengan Boeing 747. Bisa juga dibilang pesawat ini sebagai Boeing 747 turboprop bila melihat desainnya yang nyaris sama persis.

Dilansir CNN International, di masa lalu, tepatnya di dekade 50an, banyak ‘sultan’ Inggris berkeinginan untuk menyetir mobilnya sendiri di Eropa daratan tanpa menunggu waktu lama. Maklum, ketika itu, Terowongan Channel yang menghubungkan Inggris dengan Perancis, sebagai pintu gerbang ke Eropa daratan, belum ada dan baru hadir pada 6 Mei 1994. Pilihan moda transportasi satu-satunya ialah laut, dengan durasi yang cukup lama.

Tingginya demand tersebut pun dimanfaatkan oleh pengusaha penerbangan legendaris, Freddie Laker, untuk menciptakan pesawat aneh ATL-98 Carvair hasil modifikasi dari DC-4. Bak gayung bersambut, saat itu, tak lama setelah pesawat jet komersial pertama dunia, De Havilland Comet, terbang perdana pada 27 Juli 1949, minat maskapai terhadap pesawat turboprop memang jauh menurun. Alhasil, harga jual pesawat itu jatuh ke titik terendah.

Dengan harga rendah namun kualitas tinggi, DC-4 pun dipilih untuk dimodifikasi, sampai akhirnya dioperasikan Aviation Traders Limited untuk mengangkut mobil-mobil orang kaya Inggris ke daratan Eropa.

ATL-98 Carvair yang merupakan modifikasi dari DC-4. Foto: Alamy

Kemunculan ATL-98 Carvair tentu menjadi dahaga bagi para ‘sultan’ Inggris yang tak sabar ingin menggeber mobil kesayangan mereka di daratan Eropa. Dalam sekejap, bisnis kargo mobil terbang ini melesat tajam. Terlebih, teknisnya pun cukup mudah.

Layaknya naik kapal feri, para pemilik mobil meluncur langsung ke apron bandara dan memasukan mobilnya ke dalam Carvair’s characteristic elevated cockpit yang berada di punggu pesawat dengan bantuan scissors-type lift. Setelah itu, penumpang turun dan duduk di kursi nyaman di kursi penumpang.

Normalnya, pesawat ini bisa mengangkut lima mobil dan 22 penumpang, jauh lebih banyak dibanding pesawat serupa era Perang Dunia II, Bristol 170 Freighter. Konfigurasi ATL-98 Carvair juga mudah diubah menjadi hanya tiga mobil dan 55 penumpang, konfigurasi hanya kargo, ataupun hanya penumpang dengan kapasitas 85 kursi.

Di masa keemasannya, ATL-98 Carvair 24 penerbangan pulang pergi setiap hari dari bandara Southend, dekat London, ke Calais (Perancis), Ostend (Belgia), dan Rotterdam (Belanda).

Seiring berjalannya waktu, Strasbourg di perbatasan Perancis-Jerman dan kota Jenewa serta Basel di Swiss, menjadi negara selanjutnya yang didarati pesawat. Bahkan, pesawat sampai menjangkau seluruh dunia, mencapai Selandia Baru dan Australia hingga AS, sebagian besar Eropa, dan Afrika.

Baca juga: Mercedes Benz Pamerkan Desain Moda Futuristik yang Mampu Angkut Penumpang dan Kargo

Permintaan tinggi juga membuat kebutuhan pesawat bertambah. Tercatat, sejak 1961 sampai 1968, sebanyak 21 pesawat ATL-98 Carvair diproduksi dan dioperasikan Aviation Traders Limited.

Seiring berjalannya waktu, dimana sudah semakin banyak kompetitor dan beberapa kecelakaan fatal, membuat bisnis Aviation Traders Limited. Alhasil, pada 2007 lalu, ATL-98 Carvair mulai ditinggal pelanggan dan pada 2021 ini seluruh pesawat itu sudah tak lagi beroperasi.

Hari Ini, 58 Tahun Lalu, Pesawat Supersonik VTOL Pertama di Dunia Terbang Perdana

Pada hari ini, 58 tahun lalu, bertepatan dengan 10 April 1963, pesawat supersonik pertama di dunia dengan kemampuan vertical take-off and landing (VTOL) atau lepas landas dan mendarat secara vertikal, EWR VJ 101, berhasil terbang perdana.

Baca juga: Bukan Concorde, Bell X-1A Jadi Pesawat Pertama di Dunia Tembus Kecepatan Mach 2

Dilansir diseno-art.com, dilihat dari tahun kemunculannya, tentu saja bila berfokus pada kecepatan, pesawat supersonik EWR VJ (singkatan dari “Versuchsjager” dalam bahasa Jerman untuk “Experimental Fighter”) 101 bukanlah yang pertama.

Sudah jadi rahasia umum bahwa pesawat supersonik pertama yang mampu melesat melampaui kecepatan suara (Mach 1 lebih) ialah pesawat penelitian Bell X-1 pada tahun 1947 silam. Pun demikian, sebelum penerbangan perdana pesawat supersonik EWR VJ 101, sudah ada beberapa pesawat lain yang melesat lebih dari Mach 1, seperti D-558-2 Skyrocket di kecepatan Mach 2, Bell X-2 d kecepatan Mach 3, hingga pesawat X-15 yang melesat sampai Mach 5 pada 23 Juni 1961 silam.

Akan tetapi, tak satupun dari mereka bisa lepas landas dengan cara vertikal atau VTOL. Pun demikian, tak satupun dari pesawat-pesawat supersonik fenomenal di atas mampu melakukan transisi dari penerbangan vertikal ke horizontal. Tak ayal, kehadiran EWR VJ 101 cukup menyita perhatian publik.

Nacelles pesawat supersonik EWR VJ 101 saat sedang transisi. Foto: diseno-art.com

EWR VJ 101 sendiri merupakan jet tempur yang dikembangkan Jerman untuk menggantikan posisi Lockheed F-104G Starfighter di pasaran. Pesawat ini didukung oleh enam mesin turbojet Rolls-Royce RB145, dimana dua mesin terdapat di fuselage untuk VTOL dan empat lainnya di nacelles di setiap wingtip. Nacelles ini bisa berputar 90 derajat untuk memberikan dorongan vertikal atau horizontal.

Konsep pesawat ini dimulai pada awal 1960. Saat itu, rancangannya masih berupa mesin yang lebih kecil dan fuselage atau rangka badan pesawat yang sangat sederhana. Dari situ, EWR, perusahaan gabungan dari Heinkel dan Messerschmitt, melakukan pengembangan dan melahirkan dua prototipe, X-1 dan X-2.

Pesawat Supersonik EWR VJ 101 saat sedang mode terbang horizontal. Foto: diseno-art.com

Pada 10 April 1963, EWR VJ 101C X-1 berhasil terbang perdana. Namun hanya sebatas terbang secara vertikal saja. Baru kemudian pada bulan September di tahun yang sama, prototipe itu berhasil melakukan penerbangan transisi dari vertikal ke horizontal. Lebih lanjut, uji terbang VTOL dilakukan sebanyak 14 kali, dari total uji 78 uji terbang pada September 1964.

Sayangnya, pada uji coba kali ini, pesawat meledak dan terbakar tak lama setelah lepas landas. Beruntung, pilot berhasil selamat dalam insiden tersebut. Dari hasil investigasi, penyebab kecelakaan kuat diduga akibat sistem autopilot yang tidak berfungsi. Karenanya, prototipe X-2 disematkan sistem autopilot baru.

Baca juga: Keren, Tesla Akan Buat Pesawat Supersonik Pengganti Concorde Bertenaga Listrik

Meskipun ada kemajuan dalam pengembangan pesawat, proyek tersebut akhirnya dihentikan pada tahun 1968. Alasan utamanya ialah masalah suhu terlampau tinggi dan erosi karena ventilasi gas panas di bawah pesawat selama lepas landas dan mendarat yang berbahaya serta tak terpecahkan.

Meski demikian, untungnya, proyek pengembangan pesawat supersonik VTOL pertama di dunia itu masih menyimpan jejak, dimana EWR VJ 101 C X-2 saat ini disimpan dengan apik di Deutsches Museum, Munich, Jerman.

Polestar Hadirkan Kereta Luncur Kargo Listrik yang Bisa Melintasi Jalur Sepeda

Produsen mobil Polestar belum lama ini memanfaatkan keahliannya di bidang kendaraan untuk membuat penggerak kargo listriknya sendiri. Kendaraan roda tiga yang ramping dan minimalis tersebut diberi nama Re: Move.

Baca juga: Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan

Setelah meluncurkan mobil listrik serba guna yang dirancang untuk bersaing dengan yang dari Tesla, Polestar milik Volvo sekarang berkembang untuk menyertakan lebih banyak pengangkut kargo dan orang yang bergerak. Konsep Re: Move dirancang bekerja sama dengan pembuat sepeda motor listrik Cake, pembuat aluminium Hydro, majalah Wallpaper dan desainer industri Konstantin Grcic.

Bisa dikatakan ini digambarkan sebagai kereta luncur perkotaan yang dinamis. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (10/3/2021), bahan utama pembuatan kereta luncur kargo listrik ini adalah aluminium rendah karbon yang dapat di daur ulang.

Re: Move dirancang agar cukup kompak untuk dibawa bepergian di sebagian besar jalur sepeda. Meskipun ukurannya kecil, diklaim mampu mengangkut berat 275 kg, yang merupakan beban yang cukup besar bagi orang-orang yang sehari-hari membawa belanjaan mereka pulang atau memindahkan beberapa kotak.

Ini dipasangkan dengan desain flatbed mungkin melihat Re: Move menemukan lebih banyak penggunaan di antara kurir profesional dan layanan pengiriman.

“Platform horizontal dan perisai vertikal adalah sesuatu yang tidak Anda lihat dalam desain kendaraan. Beginilah cara Anda membuat meja atau rak. Saya pikir kesederhanaan dan keterusterangan, pragmatismenya, itu bagus. Desain yang bagus selalu berkelanjutan, karena tahan lama. Hal-hal yang memiliki siklus hidup yang panjang akan berkelanjutan,” kata Konstantin Grcic.

Dengan hanya render dan tidak ada spesifikasi lain untuk dilihat untuk saat ini, tampaknya penerapan dunia nyata masih jauh untuk Re: Move. Namun, Polestar mengatakan bahwa versi yang berfungsi penuh sedang dalam pengembangan dan akan diumumkan akhir tahun ini. Ia juga mengatakan lebih banyak pemikiran dan cerita di balik konsep Re: Move akan dibagikan di festival SXSW pada 17 Maret.

Baca juga: Mercedes-Benz Luncurkan Skuter Listrik dengan Bandrol Rp19,8 Juta

“Ini baru permulaan. Penggerak listrik hanyalah langkah pertama, kemudian kami harus melihat seluruh rantai pasokan dan bahan apa yang kami desain. Ini jauh lebih menarik daripada dua puluh tahun terakhir ketika desainer hanya membuat sesuatu menjadi cantik,” kata CEO Polestar, Thomas Ingenlath.

Ngeri, Begini Dampak Buruk Akibat Pemerintah Stop Seluruh Moda Transportasi 6-17 Mei

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi melarang mudik lebaran 2021 mulai tanggal 6-17 Mei. Tak hanya itu, lewat Permenhub 13 Tahun 2021, Kemenhub juga melarang seluruh moda transprtasi beroperasi pada tanggal tersebut.

Baca juga: Demi Kejar Pesawat, Ibu Ini Nekat Kemudikan Minibus Paradep dari Siantar ke Bandara Kualanamu

“Pengendalian transportasi tersebut dilakukan melalui larangan penggunaan atau pengoperasian sarana transportasi penumpang untuk semua moda transportasi yaitu: moda darat, laut, udara dan perkeretapian, dimulai dari tanggal 6 Mei hingga 17 Mei 2021. Adapun untuk transportasi barang dan logistik tetap berjalan seperti biasa,” kata Juru Bicara Kemenhub, Adita, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/4).

Lebih lanjut, Adita mengatakan, Permenhub 13 Tahun 2021 diterbitkan dalam rangka menindaklanjuti hasil rapat tingkat menteri dan dalam sidang kabinet paripurna yang telah menetapkan kebijakan peniadaan mudik idul fitri tahun 2021, serta terbitnya SE Satgas nomor 13 tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Idul Fitri dan Upaya Pengendalian Covid-19 Selama Bulan Ramadhan.

Menanggapi larangan mudik 2021 serta larangan seluruh moda transportasi beroperasi selama musim mudik tahun ini, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, buka suara. Menurutnya, kebijakan pemerintah mengeluarkan Permenhub sudah lebih baik ketimbang sebelumnya yang hanya sebatas SE.

Hanya saja, melihat situasi dan kondisi, eks Wakil Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) itu sedikit pesimis dengan keputusan ini. Ia juga mengaku prihatin dengan nasib para supir angkutan dan pekerja informal lainnya selama pelarangan tersebut.

“Sudah tidak ada yang perlu saya komentari. Komentar saya sama dengan tahun lalu. Kita fokus ke masalah pandemi ini selama dua bulan, baru kemudian kita bicara ekonomi. Kalau seperti sekarang kan kasihan supir bus dan yang lain. harus diperhatikan itu. Intinya sudah susah ya, jadi ya nikmatin aja deh,” ujarnya kepada KabarPenumpang.com.

Pengawasan kebijakan tersebut, lanjutnya, juga sulit dilakukan dengan maksimal. Seperti banyaknya jalan tikus serta ketegasan petugas di lapangan. Ia pun mengambil contoh bila pejabat tinggi negara, yang tidak untuk kepentingan bertugas, kedapatan mudik. Dalam pandangannya, ketika situasi itu terjadi, besar kemungkinan petugas tak akan berani untuk memutar balik paksa.

Pada intinya, Agus meyakini akan tetap ada arus mudik dari masyarakat yang rindu dengan kampung halaman karena sudah dua Hari Raya Idul Fitri tidak berjumpa.

Senada dengan Agus, pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, juga prihatin dengan nasib para pekerja informal.

“Bagi pekerja konstruksi penghasilan mingguan dimanapun berada, akan mengalami masa jeda sekitar dua minggu tidak bekerja di masa lebaran. Tidak dapat pulang kampung halaman dan tidak ada jaminan hidup selama dua minggu berada di lokasi pekerjaan. Siapa yang bakal menanggung ongkos hidup selama dua minggu tersebut?” jelasnya melalui pesan singkat.

Baca juga: Ini Cara Unik Orang Indonesia Demi Pulang ke Kampung Setelah Pemerintah Larang Mudik

Djoko juga menyayangkan keputusan pelarangan mudik lebaran tersebut. Sebetulnya, bila ingin mengambil jalan tengah atau win-win solution, pemerintah bisa melakukan banyak cara. Salah satunya memaksimalkan sistem zonasi.

“Di Indonesia dapat dilakukan dengan sistem zonasi, tanpa memandang masa mudik Lebaran atau tidak. Dilakukan selama masa pandemi covid belum mereda pada liburan panjang. Satgas Covid-19 sudah membagi menjadi zona merah, kuning, dan hijau. Mobilitas dari asal hingga tujuan diatur sesuai zona mulai dari awal hingga tujuan. Di zona tujuan ada kewajiban tes kesehatan dan karantina dengan membayar sendiri. Tempat karantina dapat di hotel atau penginapan yang disediakan warga,” tutupnya.

Troli Canggih Kini Buat Operasional Bandara Hemat 100 Persen, Ini Rahasianya

Troli merupakan salah satu fasilitas di bandara yang jarang sekali disematkan teknologi terbaru, baik itu untuk memudahkan penumpang maupun pengelola bandara itu sendiri.

Baca juga: Mimo C1 Gabungkan Fungsi Skuter dan Troli

Padahal, ketika berada di bandara, troli menjadi salah satu benda penting bagi para traveler yang membawa banyak barang dan pasti jadi salah satu yang paling dicari penumpang ketika tiba di terminal. Sebab, kereta dorong ini mampu memudahkan penggunanya untuk membawa banyak barang dalam satu tempat sekaligus.

Hanya saja, saking banyaknya penumpang yang menggunakan, ditambah lambannya petugas Trolley Management Team dalam mengatur ketersediaan, di beberapa titik di bandara, troli terkadang habis tak tersedia.

Hal itu tentu bisa dimaklumi, mengingat area bandara begitu luas, sulitnya mengatur penumpang agar disiplin dan bijak dalam meletakkan troli usai digunakan, serta alat bantu petugas saat bekerja yang bisa dibilang minim untuk mengumpulkan dan mengecek keberadaan troli.

Troli bandara canggih dengan sensor. Foto: Business Wire

Akan tetapi, rasanya hal itu tak akan pernah terjadi lagi berkat teknologi pelacak troli bandara yang dikembangkan oleh Semtech dan DevAppSol.

Dilansir businesswire.com, troli canggih yang dilengkapi dengan sensor, Bluetooth Low Energy (BLE), dan berbagai alat berbasis teknologi sensor lainnya, nantinya akan menyajikan berbagai data untuk petugas, salah satunya lokasi troli secara real time . Dengan begitu, petugas bisa dengan mudah mewangasi, memanjemen, mengumpulkan troli, dan meletakannya di titik pengambilan troli atau lokasi lainnya yang sudah kekurang troli.

Selain itu, petugas juga bisa mereview mobilitas troli, berapa lama dan bagaimana kultur penumpang menggunakan troli bandara, serta kemana saja troli dibawa penumpang. Itu sangat berguna dalam memanajemen penggunaan troli ke depan. Entah itu untuk meletakkan troli di area yang sangat tepat hingga membatasi ruang gerak penumpang dalam menggunakan troli.

Kendati simpel, namun, dampak terhadap efisiensi operasional bandara cukup signifikan. Disebutkan, tingkat efisiensinya mencapai 100 persen, dengan rincian penghematan atau efisiensi langsung sebesar 30 persen hingga 40 persen dan efisiensi tidak langsung hingga 60 persen, sebagai hasil dari pelacakan troli secara efektif.

Baca juga: Huawei Chigoo cTrolley, Troli Canggih Manjakan Akses Penumpang di Bandara

Angka efektivitas tersebut didapat dari hasil pengaplikasian troli canggih ini di Bandara Internasional Hyderabad atau Bandara Internasional Rajiv Gandhi, India. Jadi, kegunaan troli canggih tersebut bukan isapan jempol belaka, mengingat sudah dibuktikan di sebuah bandara besar yang cukup sibuk.

Hanya saja, tentu, troli canggih tersebut masih kalah canggih dibanding troli lain, salah satunya Care-E, troli canggih teknologi Al keluaran KLM Royal Dutch Airlines. Robot atau troli berwarna biru cerah ini mengusung konsep self driving trolley sehingga bisa membawa koper penumpang secara otomatis dan bisa dengan mudah diberi perintah.