Penumpang Internasional Masih Loyo di Asia-Pasifik, Lambannya Vaksinasi Jadi Penyebab

Penutupan perbatasan, pembatasan perjalanan, dan lockdown nasional di sejumlah negara di Asia-Pasifik terus menekan penerbangan internasional di kawasan. Terbaru, data dari Association of Asia-Pacific Airlines (AAPA) menunjukkan, jumlah penumpang internasional masih sebesar 3,6 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Baca juga: Seakan Mati Suri, Akankah Era Perjalanan Backpacker Berakhir Karena Pandemi?

Sebetulnya, penumpang internasional pada April 2021 sudah jauh meningkat dibanding April 2020. Catatan AAPA, sepanjang April 2021, ada sekitar 1.126.000 penumpang internasional yang diangkut maskapai se-Asia-Pasifik. Jauh berbanding terbalik dari kondisi pada April 2020 yang hanya sebesar 367.000 penumpang internasional.

Kendati demikian, angka di kedua tahun tersebut masih jauh dibanding April 2019, di mana angkanya mencapai 31.185.000 penumpang.

Direktur Jenderal AAPA, Subhas Menon, mengungkapkan, ada beberapa faktor penyebab masih rendahnya jumlah penumpang internasional. Salah satunya ialah lambannya vaksinasi di negara-negara Asia-Pasifik.

“Munculnya varian (Covid-19) baru dengan tingkat penularan yang lebih tinggi telah menghalangi ekonomi Asia untuk membuka kembali perbatasan mereka, dengan persyaratan karantina yang ketat semakin menekan permintaan perjalanan internasional,” jelasnya.

“Di Asia, kecepatan vaksinasi yang relatif lambat terus merusak pemulihan ekonomi kawasan, khususnya, sektor perjalanan dan pariwisata yang sangat terpukul,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Kehadiran travel corridor antar dua negara sempat meningkatkan asa perjalanan internasional, seperti antara Singapura-Hong Kong serta perjalanan tanpa karantina mandiri antara Selandia Baru-Australia. Kendati demikian, fakta di lapangan berkata lain. Permintaan tetap rendah sekalipun maskapai sudah bersiap kemungkinan lonjakan penumpang.

Menon menyebut, vaksinasi dan kolaborasi antar lembaga berwenang menjadi kunci keberhasilan penerbangan di sebuah negara dan kawasan untuk bisa bangkit. Lebih dari itu, ia menekankan, industri penerbangan harus tetap hidup dan mengambil hikmah dari pandemi Corona agar terus tumbuh dan semakin kuat.

“Mempercepat program vaksinasi akan menjadi kunci untuk membuka jalan bagi dimulainya kembali industri perjalanan. Namun, pemerintah masih menghadapi banyak tantangan, termasuk kendala pasokan dan masalah logistik,” ujarnya.

Baca juga: Terdampak Shutdown Nasional, Penumpang Delta Air Lines ‘Loloskan’ Senpi di Penerbangan Internasional

“Kolaborasi berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, maskapai penerbangan, bandara dan penyedia layanan, serta penerapan langkah-langkah berbasis risiko yang selaras sesuai dengan pedoman ICAO dan WHO, akan diperlukan untuk memulai kembali perjalanan udara internasional secara cerdas, aman, dan berkelanjutan,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menyoroti diwajibkannya paspor vaksinasi Covid-19 sebagai syarat perjalanan internasional. Hal itu dinilai merupakan bentuk diskriminasi terhadap penumpang yang negaranya lamban melakukan vaksinasi. Pada akhirnya itu hanya membuat angka perjalanan internasional terus melambat.

Pahami Kerinduan Penumpang, KAI Hadirkan “Live Cooking” di KA Argo Bromo Anggrek

Sembilan tahun lalu atau tepatnya pada tahun 2012 penumpang kereta api jarak jauh atau KAJJ tak lagi menemukan makanan yang dimasak secara langsung di dalam kereta api yang tengah mengular di lintasan. Maka untuk mengobati kerinduan itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) melalui anak perusahaannya yakni KAI Service menghadirkan kembali makanan yang dimasak secara langsung di kereta api tepatnya di KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir ke Surabaya Pasar Turi.

Baca juga: Ini Loh Menu Andalan Lain di Dalam Kereta Api Selain Nasi Goreng dan Popso

Humas KAI Service Yan Wahid Prasetyo mengatakan, kehadiran live cooking ini sejak 1 Juni 2021 kemarin, bertepatan dengan hari lahir Pancasila. Yan menyebutkan menu yang dimasak secara langsung pada perjalanan kereta api adalah Nasi Goreng Parahyangan Legend, Nasi Rames Ayam Serundeng, Selat Solo dan Bakmi Godog Jawa.

Makanan yang dimasak langsung di KA Argo Bromo ANggrek (Twitter @Argo_Gede)

“Kami memahami keinginan konsumen yang rindu akan kehangatan masakan KA yang baru diangkat dari tungku/kompor; di mana penumpang KA tidak hanya ingin menikmati makanan selama perjalanan KA, tetapi juga menyaksikan proses memasak dan menghirup wanginya aroma bumbu dan bahan makanan bersatu di dalam wajan.,” ujarnya ketika dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (3/6/2021).

Dia menambahkan, nantinya live cooking akan terus ada dalam perjalanan KA Bromo Anggrek dan untuk kereta lainnya akan dihadirkan setelah evaluasi. Selain itu Yan mengatakan, untuk makanan yang bersifat frozen dan makanan fresh yang siap dihangatkan tetap ada dan sifatnya support.

VP Humas PT KAI Joni Martinus mengatakan, adanya live cooking di KA Argo Bromo Anggrek karena bertepatan dengan moment peningkatan pelayanan yang berupa percepatan waktu tempuh dari Gambir menuju ke Surabaya Pasar Turi yang tadinya delapan jam 44 menit menjadi delapan jam 30 menit.

Kehadiran makanan yang dimasak langsung pun banyak masyarakat yang mengatakan akan kerinduannya. Salah satu penumpang mengatakan, dirinya rindu dengan nasi goreng dengan telor ceplok dan yang lainnya rindu steak yang dimasak langsung dan di sajikan ke penumpang.

Meski begitu beberapa penumpang ada juga yang memilih makanan yang dipanaskan ataupun membeli mie cup untuk perjalanan mereka. Kehadiran live cooking ini nantinya juga tak hanya diharapkan di KAJJ lainnya tetapi juga di kelas lainnya baik itu ekonomi atau pun bisnis.

Baca juga: Kereta Api Punya Menu Makanan Baru dan Dapur Sentralnya Ternyata Ada di Yogyakarta

Kalau mengingat beberapa negara yang menghadirkan live cooking, ada yang pernah mengalami kebakaran karena kebocoran gas. Bahkan beberapa negara baik di Asia atau Eropa, lebih banyak yang menggunakan frozen food atau makanan fresh dihangatkan untuk meminimalisir kebakaran dan faktor kebersihan makanan yang lebih terjaga.

Duh, Pilot Nonton Video Porno-Tunjukkan Alat Kelamin ke Kopilot Wanita Saat Terbang!

Entah apa yang merasuki kapten pilot Southwest Airlines, Michael Haak. Beberapa saat setelah lepas landas, tepatnya saat pesawat cruising, tiba-tiba ia menanggalkan pakaian dan menunjukkan alat kelaminnya ke kopilot wanita yang baru kali itu terbang bersama, sambil menonton video porno di laptop kokpit.

Baca juga: Bikin Video Porno di Kereta, Petugas Perempuan Ini Telah Dipecat!

Meski tak sampai berbuat lebih dari itu, Haak tetap diadili dan baru-baru ini dijatuhi hukuman percobaan satu tahun dan denda US$5.000 oleh Kejaksaan AS Distrik Maryland.

Dilansir CNN International, kronologi pilot Southwest Airlines menonton video porno saat masih dalam penerbangan bermula dari guyonan dengan sang kopilot. Tak disebutkan dengan jelas kapan guyonan tersebut terjadi dan candaan apa yang dimaksud, mengingat sang kopilot belum pernah ia temui sebelum penerbangan pada 10 Agustus 2020 tersebut.

Setelah pesawat rute Philadelphia-Orlando itu mengudara, dalam dakwaan jaksa penuntut umum, pilot berusia 60 tahun ini langsung menanggalkan pakaiannya dan menunjukkan alat kelaminnya ke kopilot wanita sambil menonton video porno di laptop kokpit. Sang kopilot yang terkejut tidak menggubris hal itu dan terus menjalankan tugas-tugas penerbangan.

Insiden itu pun kemudian viral dan Michael Haak langsung mengundurkan diri dari maskapai. Anehnya, maskapai tak pernah mengetahui insiden itu karena tak ada laporan sama sekali dari kopilot. Pihak maskapai baru mengetahui kejadian itu setelah Haak mengajukan pengunduran diri. Besar kemungkinan, dalam surat pengunduran diri itu tertuang alasan Haak terkait insiden tersebut.

“Dalam situasi khusus ini, Southwest baru mengetahui insiden tersebut setelah Haak secara sukarela mengundurkan diri dari Southwest Airlines,” kata maskapai.

Kendati demikian, pihak maskapai tetap menghukum Haak dengan cara memangkas tunjangan yang masih tersisa selama mengabdikan diri di perusahaan. Tak sampai di situ, insiden tersebut juga diproses secara hukum.

Asisten Jaksa AS Michael Cunningham menyatakan, Haak sudah berbuat tidak pantas selama pesawat mengudara.

Pengacara Haak, Michael Salnick, menyatakan kliennya itu tidak membuat pembelaan dan mengaku bersalah. Meski begitu, lanjutnya, Haak, yang juga mantan pilot Angkatan Udara AS, pantas mendapat keringanan hukuman karena telah berdedikasi tinggi kepada negara, melayani negara, dan berperilaku baik.

Baca juga: Terobsesi Tayangan Video Porno, Penumpang Ini Bugil dan Lecehkan Pramugari di Kabin

Hukuman sosial yang diterima Haak atas viralnya insiden ini juga menjadi alasan lain mengapa Haak berhak menerima keringanan hukuman.

“Rasa malu yang disebabkan terpublikasinya insiden ini sudah memberikan pukulan kepada Haak dan menjadi hukumannya,” pungkas Salnick.

Selain Antonov An-225 Mriya, Ilyushin Il-62 Pernah Jadi Pesawat Terbesar di Dunia Buatan Soviet

Antonov An-225 Mriya sudah pasti menjadi pesawat terbesar di dunia buatan Uni Sovet atau Rusia paling dikenal oleh avgeek. Padahal, dibalik itu ada lagi pesawat terbesar di dunia buatan Soviet, kendati berada di kelas yang berbeda. Itu adalah Ilyushin Il-62.

Baca juga: Inilah Daftar Pesawat Buatan Uni Soviet dan Rusia Terlaris

Di masanya, atau paling tidak ketika diluncurkan, pesawat tersebut didapuk menjadi pesawat jet terbesar di dunia.

Pesawat dengan panjang 53 meter ini mampu mengangkut hingga 165 penumpang dalam sekali jalan. Itu memang tak mengangkut lebih banyak penumpang dibanding Boeing 707 (183 penumpang) yang sudah meluncur lebih dahulu, tetapi, dari panjang pesawat Il-62 menjadi tak ada yang mampu menandinginya.

Dikutip dari Simple Flying, Ilyushin Il-62 pertama kali terbang pada Januari 1963. Itu terjadi setelah melalui proses pengembangan tak terlalu panjang mulai Februari 1960. Ketika itu, pengembangan pesawat jet empat mesin sedang gencar-gencarnya usai kemunculan pesawat jet komersial pertama di dunia, De Havilland Comet.

Namun Ilyushin Il-62 berbeda. Pesawat ini mampu terbang sejauh 4.500 km saat terisi penuh dan 6.700 km saat diisi oleh sekitar 100 penumpang, didukung oleh empat mesin jet lokal, Kuznetsov NK-8-4. Ilyushin kemudian mengganti mesin tersebut menjadi Soloviev D-30KU yang lebih senyap dan tentu saja buatan lokal.

Akan tetapi, bukan range, empat mesin, mesin yang lebih halus, dan kapasitas penumpang yang menjadi pembeda pesawat jet terbesar di dunia tersebut dibanding pesawat kompetitor, melainkan peletakan mesinnya yang unik.

Mesin Ilyushin Il-62 terletak di bagian belakang badan pesawat layaknya pesawat trijet. Hanya saja, bila pesawat trijet seperti Boeing 727, Yakolev Yak-42, dan berbagai pesawat lainnya, satu di kanan dan kiri belakang badan pesawat dan satu lainnya di horizontal stabilizer, Ilyushin Il-62 meletakkan kedua mesinnya di bagian kanan dan kiri bagian belakang pesawat.

Tak cukup sampai di situ, mesin juga dibungkus oleh nacelle sambung atau nacelle ganda. Ini sebetulnya bukan barang baru mengingat De Havilland Comet sudah mengaplikasikannya lebih dahulu.

Tetapi, pada poin peletakan mesin di bagian belakang badan pesawat sangat jarang pada saat ini. Kompetitor, seperti Boeing 707 dan Douglas DC-8. Menariknya, kompetitor asal Inggris, Vickers VC10, justru menerapkan konsep peletakan mesin yang sama dengan Ilyushin Il-62. Sampai di sini, sempat adanya gonjang-ganjing kemungkinan sadur-menyadur satu sama lain.

Meski demikian tak ada temuan apapun terkait spionase dan sejenisnya. Dengan kata lain, masing-masing memiliki konsep tersendiri sekalipun mirip-mirip. Lagipula, Vickers VC10 tidak menggunakan nacelle ganda sebagaimana Il-62.

Baca juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

Sejak terbang perdana, Il-62 baru memasuki tahun layanan empat tahun setengah setelahnya, yaitu pada September 1967. Ketika itu, Aeroflot mengoperasikan pesawat untuk rute Moskow – Montréal. Enam tahun kemudian, varian Il-62M dengan berbagai peningkatan berhasil memasuki layanan komersial.

Saat ini, pesawat jet terbesar di dunia itu, dari 292 yang diproduksi, 10 di antaranya masih aktif beroperasi bersama Rada Airlines, maskapai nasional Korea Utara Air Koryo, Unit Penerbangan ke-223 Angkatan Udara Rusia.

Dari Insiden KMP Ihan Batak, Inilah Peran Penting “Ramp Door” di Kapal Ferry

Kapal Motor Penumpang Ihan Batak baru saja mengalami insiden di mana ramp door atau pintu rampanya putus ketika tengah bersandar di Pelabuhan Ambarita, Samosir, Sumatera Utara. Pintu rampa ini putus karena angin kencang dan menggeser kapal ketika mobil tengah mmenyeberang ke dermaga dari kapal.

Baca juga: KMP Ihan Batak, Kapal Ferry Ro-Ro Mewah di Danau Toba

Nah, sebenarnya pintu rampa ini apa dan bagaimana cara kerjanya di kapal ferry? Ramp door merupakan suatu konstruksi pintu rampa pada kapal yang berfungsi sebagai jembatan penghubung antara kapal dengan dermaga sehingga bisa digunakan untuk akses keluar masuknya kendaraan ataupun muatan yang akan diangkut oleh kapal.

KabarPenumpang.com merangkum beberapa laman sumber, pintu rampa ada dua jenis yakni yang bisa dilipat dan yang tidak bisa dilipat. Selain itu juga ada dua jenis sistem penggeraknya adalah sistem hidrolik dan wire rope. Setiap pintu rampa, harus dibuat dengan bahan yang kedap air laut agar aman ketika digunakan untuk pelarayan laut terbuka.

Strukturnya dibuat sangat kuat agar mampu menahan beban kendaraan yang melintasinya. Selain itu setiap pintu rampa harus aerodinamis agar saat kapal berlayar bisa menghambat angin atau udara serendah mungkin. Ada beberapa komponen yang terdiri pada ramp door yakni salah satunya adalah pintu rampa itu sendiri dan memiliki beberapa jenis seperti quarter ramp door, side ramp door, slewing ramp door, stern ramp doo dan bow ramp door.

Kemudian ada wire rope yang adalah baja dan dibuat dari pilinan beberapa wire untuk dibentuk menjadi strand untuk membentuk wire rope. Ada pula motor penggerak, ini gunanya untuk menggerakkan pintu rampa sehingga dapat menutup atau membuka. Motor penggerak ini dihubungkan dengan wire roop, ketika wire roop digulung maka pintu rampa akan terangkat.

Ramp door bisa dilipat (pengadaanbarang.co.id)

Ada dua jenis motor penggerak yang umum digunakan, yaitu motor listrik AC dan motor sistem hidrolik yang penggunaannya berdasarkan beban muatan yang diterima oleh ramp door. Biasanya pemasangan dan perbaikan sistem hidrolik lebih rumit dibandingkan motor listrik AC.

Hal ini dikarenakan pada sistem hidrolik terdapat fluida sebagai mekanisme untuk menggerakaannya. Inilah yang membuat, sistem hidrolik pada motor penggerak memerlukan perawatan yang ekstra untuk mencegah terjadinya kerusakan. Ramp dor juga harus dilengkapi dengan rantai.

Bahkan bisa dikatakan rantai merupakan komponen penting dari ramp door yang digunakan saat pintu rampa sedang diturunkan. Rantai ini berfungsi untuk mencegah atau menahan ramp door ketika penumpang atau muatan keluar masuk kapal. Rantai ramp door harus memiliki kualitas yang baik dengan kekuatan minimum 27 ton.

Terakhir adalah winch yang sebenarnya merupakan alat yang digunakan untuk menarik rantai jangkar pada saat kapal berlabuh. Namun seiring perkembangannya digunakan pada tambat kapal ataupun tali baja untuk pintu rampa. Winch ditempatkan di bagian depan atau belakang kapal, adapula yang ditempatkan di kedua sisi samping kamar kemudi.

Baca juga: KMP Kaldera Toba Lengkapi Transportasi Destinasi Pariwisata Super Prioritas

Pada umumnya winch digunakan pada kapal-kapal ikan dan kapal ferry pada skala industri. Winch ini berfungsi untuk menahan tali pada saat operasi towing. Winch ii bekerja dengan menarik pintu rampa menggunakan tenaga penggerak berupa tenaga hidrolik ataupun motor listrik.

Kisah Pilu Pramugari Emirates Gegara Corona, Jualan Sabun Demi Sambung Hidup

Begitu banyak cerita pilu yang dialami pilot dan pramugari-pramugara akibat pandemi Covid-19. Sebab, sepinya penerbangan membuat mereka di-PHK dan terus terkatung-katung selama setahun lebih. Padahal, hidup tetap harus berjalan dan tak bisa menunggu kondisi membaik untuk kembali bekerja sebagai kru pesawat.

Baca juga: Sederet Bintang K-Pop Ini ‘Banting Setir’ jadi Pramugari dan Pramugara

Selagi masih aktif terbang sebagai kru pesawat, tentu tak ada yang menyangka kondisinya jauh berbalik seperti sekarang ini. Salah satunya Rochelle Sañano-Cabardo. Pramugari Emirates asal Filipina itu selama 12 tahun lamanya amat menikmati hari-harinya sebagai kru kabin tanpa pernah sekalipun berpikir kehilangan pekerjaan dengan cara yang sangat miris.

Rochelle, sebagaimana pramugari Emirates lainnya atau mungkin maskapai lainnya, menjadi salah satu yang terkena PHK massal.

Dilansir Aerotime Aero, sejak Juli 2020, Rochelle resmi menganggur dan terpaksa kembali ke negara asal. Setelah itu, pramugari 38 tahun ini masih tidak percaya terhadap apa yang ia terima. Ia takut keluarga dan anak-anaknya tak bisa makan. Selama sebulan lamanya, ia sampai tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak bisa berpikir jernih untuk melanjutkan hidup dan sangat depresi.

Di bulan berikutnya, ia mulai berkomunikasi dengan ibunya dan disarankan agar mengikuti kursus atau magang. Apapun itu. Sampai akhirnya ia banting setir dan mendapat inspirasi untuk berjualan sabun, mulai dari sabun mandi, sabun cuci, sabun cuci tangan, sabun cuci piring, dan lainnya.

Kendati demikian, eks pramugari Emirates yang dahulu bekerja di Boeing 777, Airbus A340, Airbus A330 serta Airbus A380 itu tentu saja kesulitan menjual barang dagangannya.

Berbekal pengalamannya dalam menangani pelanggan selama 12 tahun menjadi pramugari Emirates, ia pun memutar otak dan mulai menciptakan brand sendiri. Pelan tapi pasti, bisnis yang dijalaninya sejak Agustus 2020 itu mulai membuahkan hasil.

Saat ini, pramugari yang sudah bergabung dengan Emirates sejak umur 25 tahun itu, setiap harinya mengirim sekitar 30 liter sabun per hari per pelanggan. Terbayang bukan berapa omzetnya?

Selain menjual sabun, Rochelle juga sebisa mungkin turut berkontribusi dalam upaya mengurangi limbah plastik dan lebih ramah lingkungan. Karenanya, ia meminta kepada para pelanggannya agar kemasan sabun yang sudah dibeli agar dibawa kembali ketika melakukan pembelian sabun.

Baca juga: Viral! Mantan Pilot Kerja Serabutan Jadi Tukang Antar Paket dan Kuli Bangunan Usai Dipecat

Kendati sudah sukses berkarir sebagai pengusaha sabun, bekas pramugari Emirates ini tetap berharap suatu hari nanti ia tetap bisa kembali ke langit. Menurutnya, profesi pramugari bukan hanya soal mendapatkan uang melainkan sudah menjadi passion dan gaya hidupnya.

“Jika saya diberi kesempatan, saya ingin terbang lagi karena, bagi saya, itu bukan hanya pekerjaan, itu adalah hasrat saya. Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, jadi Anda harus menikmati apa yang Anda miliki saat ini. Syukuri apa yang kamu miliki saat ini dan tetap tabah,” pungkasnya.

Bila Garuda Indonesia Sampai Dipailitkan, Berkaca dari Kasus Sabena dan Swissair

Kementerian BUMN tengah mengkaji empat opsi penyelamatan maskapai nasional Garuda Indonesia. Salah satunya ialah melalui restrukturisasi dan di saat bersamaan mendirikan perusahaan maskapai penerbangan baru. Maskapai ini nantinya akan mengambil alih rute-rute dan aset Garuda Indonesia lainnya.

Baca juga: Indonesia Tanpa Flag Carrier? Puluhan Negara Ini Tak Punya Maskapai Nasional, Termasuk AS!

Opsi tersebut tentu bukan hal baru. Di dunia, setidaknya ada beberapa maskapai yang melalui proses tersebut, dua di antaranya ialah Sabena, maskapai nasional Belgia, dan Swissair, maskapai nasional Swiss.

Di luar itu, sebetulnya ada lagi maskapai lain, yaitu Olympic Airways maskapai nasional Yunani, yang juga sudah dibangkrutkan dan didirikan maskapai baru, Olympic Airlines. Namun, agar lebih fokus, redaksi fokus pada Sabena dan Swissair saja.

Dikutip dari airportspotting.com, Sabena atau Societé Anonyme Belge d’Exploitation de la Navigation Aérienne merupakan maskapai nasional Belgia yang didirikan pada tahun 1923. Sama halnya seperti Garuda Indonesia, Sabena sangat prestisius dan bersejarah dalam kapasitasnya sebagai maskapai penerbangan nasional.

Dari segi kelahirannya, Sabena berdiri juga berkat urunan warga Belgia di Kongo Belgia, negara koloni Belgia yang ketika itu tertutup dari dunia luar karena tidak mempunyai akses penerbangan; mirip-mirip seperti sejarah berdirinya Garuda Indonesia Airways, bukan?

Tak cukup sampai di situ, Sabena Airlines juga melalui masa-masa sulit dan berjuang bersama dengan rakyat Belgia. Pada tahun 1940, Belgia diserbu Jerman dan seluruh pesawat Sabena Airlines hancur. Usai bantuan dari sekutu datang dan Jerman terusir, Sabena membantu pengiriman logistik lewat sisa armada yang disimpan apik di Kongo Belgia.

Habis gelap terbitlah terang, sejak Perang Dunia II berakhir, Sabena Airlines mulai aktif kembali terbang dan bisnisnya terus membesar.

Tetapi, dunia berputar, Sabena Airlines mengalami masa-masa sulit kembali di dekade 90an dan merger dengan Swissair, maskapai nasional Swiss yang didirikan pada tahun 1931, dengan kepemilikan saham sebesar 49,5 persen. Sabena tetap menjadi pemegang saham mayoritas.

Alih-alih menjadi sehat oleh aksi korporasi ini, justru itu menjadi awal dari petaka berujung bangkrutnya Sabena Airlines, termasuk juga Swissair.

Pada 7 November 2001, Sabena Airlines melakukan penerbangan terakhir dan setelah itu dinyatakan bangkrut. Kebangkrutan Sabena ketika itu disebut akibat Swissair gagal memenuhi kewajiban kontrak karena kesulitan keuangan.

Swissair, yang menjadi penyebab Sabena Airlines bangkrut, juga ikut mengalami kebangkrutan beberapa bulan setelahnya, yaitu pada 31 Maret 2002. Layaknya, Sabena, Swissair juga memiliki nilai sejarah tinggi bersama rakyat Swiss.

Akan tetapi, nyatanya, karena satu dan lain hal, Sabena Airlines dan Swissair dibangkrutkan. Pertentangan tentu terjadi. Namun, itu bisa dijawab dengan pasca semua proses yang dijalani.

Setelah dibangkrutkan, SN Brussels Airlines didirikan oleh pemerintah Belgia dan mengambil alih sebagian besar dari aset Sabena pada Februari 2002.

Maskapai kemudian berganti nama menjadi Brussels Airlines setelah digabung dengan Virgin Express pada Maret 2007. Sampai saat ini, Brussels Airlines terus eksis dan mencetak keuntungan, kecuali di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini.

Baca juga: Seulawah Airlines, Inilah Maskapai Swasta Pertama di Indonesia!

Demikian juga dengan Swissair. Usai bangkrut maskapai dijual ke Crossair dan membentuk anak perusahaan bernama Swiss European Air Lines. Meski sempat kesulitan, maskapai tersebut sukses mencetak keuntungan sejak 2006. Lufthansa kemudian mengambil alih grup maskapai ini dan menjadi semakin besar serta eksis sampai saat ini.

Dari dua kasus di atas terdapat perbedaan mencolok. Swiss tak lagi mempunyai maskapai nasional usai kebangkrutan Swissair, sedangkan Belgia tetap mempunyai maskapai nasional pasca Sabena Airlines dibangkrutkan. Indonesia bisa belajar dari Belgia, dengan mempailitkan Garuda Indonesia dan mendirikan maskapai baru agar tetap mempunyai maskapai nasional.

Indonesia Tanpa Flag Carrier? Puluhan Negara Ini Tak Punya Maskapai Nasional, Termasuk AS!

Indonesia terancam tak lagi mempunyai maskapai penerbangan nasional atau flag carrier apabila Garuda Indonesia dibangkrutkan.

Baca juga: Jangan Tertipu, Ini Beda Maskapai Nasional dengan Maskapai Swasta

Saat ini Kementerian BUMN tengah mengkaji empat opsi penyelamatan maskapai nasional Garuda Indonesia, mulai dari menyuntikkan dana, menggunakan hukum perlindungan kebangkrutan, dibangkrutkan untuk kemudian mendirikan maskapai nasional baru sebagai pengganti, dan dilikuidasi atau dibangkrutkan tanpa mendirikan maskapai baru.

Poin terakhir tentu sensitif dan menyentil rasa nasionalisme segenap rakyat. Sejak awal pandemi lalu, sudah banyak pengamat penerbangan yang menyebut bahwa opsi membangkrutkan atau mempailitkan Garuda Indonesia adalah hal mustahil.

Jangankan Asia, yang notabene masih kental dengan isu nasionalisme, Eropa saja, seperti kasus Alitalia, maskapai nasional Italia, tak dibiarkan bangkrut oleh pemerintah.

Kendati demikian, andaipun Indonesia mengambil opsi membangkrutkan Garuda Indonesia dan tidak mendirikan maskapai nasional baru sebagai pengganti, memberikan ruang sebesar-besarnya kepada swasta dalam melayani penerbangan, itu bukanlah hal baru.

Kita tahu, flag carrier tidak hanya mengudara membawa penumpang saja, melainkan mereka mengemban tugas lebih, yaitu membawa nama baik dan reputasi negara yang bersangkutan.

Selain itu, flag carrier juga biasanya tetap mengoperasikan penerbangan di rute-rute sepi atau tak menguntungkan sebagai perwakilan negara untuk menyediakan penerbangan bagi segenap rakyat.

Di dunia ini ada banyak sekali negara yang tidak mempunyai maskapai nasional atau flag carrier. Nyatanya, berbagai ketakutan yang disampaikan pengamat penerbangan, seperti tidak berdikari, membahayakan stabilitas nasional, dan lain sebagainya, tak terbukti.

Dihimpun dari berbagai sumber, Amerika Serikat (AS) jadi salah satu dari sekian banyak negara yang tak mempunyai maskapai nasional atau maskapai nasional yang telah diprivatisasi. Padahal, kita tahu, AS merupakan negara adidaya dan tanpa flag carrier, AS tetaplah adidaya.

Diketahui, negara tersebut hanya memiliki tiga maskapai internasional saja, setelah mengalami berbagai proses akuisisi dan likuidasi, yaitu American Airlines, Delta Air Lines, dan United Airlines. Ketiganya diatur sedemikian rupa sehingga memiliki fungsi yang mirip dengan flag carrier di negara lain.

Inggris juga demikian. Dahulu Inggris memang mempunyai maskapai nasional dan masih eksis sampai saat ini, yaitu British Airways. Hanya saja, sejak tahun 1987, maskapai tersebut telah diprivatisasi dan British Airways sepenuhnya millik IAG, konsorsium maskapai penerbangan Inggris-Spanyol.

Pemegang saham terbesar IAG adalah Qatar Airways, dengan 20 persen saham. Qatar Airways sepenuhnya dimiliki oleh Pemerintah Qatar. Sampai di sini, apakah Inggris terancam dan terganggu atau mungkin tidak berdikari, mengingat Qatar secara tidak langsung memegang peranan penting dalam lalu lintas udara Inggris?

Baca juga: Inilah Serba-Serbi Tentang Flag Carrier, Ternyata Amerika Serikat Justru Tidak Punya!

Selain AS dan Inggris, ada pula negara-negara lainnya yang juga tak memiliki maskapai penerbangan nasional atau national flag carrier, seperti Andorra, Liechtenstein, San Marino, Vatikan, Swiss, Jerman (Lufthansa 80 persen sahamnya dipegang oleh perorangan), Australia (saham mayoritas Qantas dimiliki perorangan atau grup, bukan negara), Turki (saham mayoritas Turkish Airlines dipegang oleh perorangan).

Selain itu, negara-negara Karibia seperti Barbados, Dominika, Jamaika serta 10 lainnya, dan puluhan negara lainnya di Afrika juga demikian, mengingat 96 persen negara-negara di sana tak mempunyai maskapai penerbangan nasional.

Bus TransJakarta Mogok di Tengah Perlintasan Kereta, Ini Kemungkinan Penyebabnya

Sebuah bus TransJakarta dengan operator Mayasari Bakti rute Manggarai menuju ke Blok M (6M) melintas dari arah Tosari dengan kondisi lampu perlintasan kereta sudah berwarna hijau. Namun saat melintas di atas rel kereta api Halimun, roda bus tiba-tiba terhenti.

Baca juga: Ketika Mobil Mogok di Atas Rel Kereta, Inilah Solusi Mengatasinya

Tak lama setelahnya sirine kereta berbunyi yang membuat semua penumpang panik dan mengambil inisiatif untuk turun menyelamatkan diri melalui pintu tengah dan depan. Untungnya, saat pintu kereta berbunyi, masinis kereta dari Sudirman menuju ke Manggarai menarik rem untuk mencegah terjadinya tabrakan antar kedua moda tersebut.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)


Setelah penumpang semua turun, bus kemudian didorong oleh petugas patroli dan warga sekitar agar kereta bisa kembali melintasi rel. Kemudian penumpang juga kembali ke dalam bus untuk melanjutkan perjalanan mereka. Adanya insiden ini dikatakan direktur utama PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) Sardjono Jhony Tjitrokusumo, permasalahannya dipastikan bukan karena ada kerusakan pada bus.

Hal ini mebuat pihak TransJakarta melakukan investigasi untuk mencari penyebab bus tiba-tiba berhenti di tengah rel kereta api. Insiden yang terjadi pada bus milik TransJakarta ini sering kali terjadi juga pada kendaraan lainnya. Apa penyebabnya? KabarPenumpang.com pernah membahasnya dan akan diulas beberapa di antaranya adalah mesin mati tiba-tiba karena adanya gesekan roda-roda kereta api dengan rel dan terjadi impedansi atau hambatan listrik yang membuat bus tidak mau menyala.

Sebenarnya efek dari impedansi ini tidak akan memengaruhi kendaran yang mesinnya hidup, tetapi bagi kendaraan yang mesinnya mati akan terkena efeknya. Kemudian jika sudah diketahui masalahnya, cara mengatasinya adalah pengemudi tidak panik dan bunyikan klakson secara terus menerus setelah itu starter kendaraan.

Membunyikan klakson ternyata bisa memutus aliran listrik yang tercipta dari gesekan-gesekan roda kereta api dengan rel sehingga memberikan kemungkinan untuk menyalakan bus. Kedua segera keluar dari kendaraan dan mencari pertolongan untuk mendorong kendaraan yang berada di jalur kereta. Tetapi jika tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan kendaran, maka tinggalkan dan keselamatan nyawa Anda adalah yang paling penting.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta dan TransJakarta Beroperasi Pertengahan 2021, Integrasi Tiket dan Tarif dalam Kajian

Namun, bagaimanapun, setiap pengemudi disarankan untuk waspada dan tidak memaksa melalui palang kereta api setelah palang pintu hendak tertutup. Sehingga mengalah untuk membiarkan kereta lewat terlebih dahulu. Karena ini adalah solusi terbaik untuk kelesamatan pengemudi dan penumpang di dalam kendaraan.

Mau ke Arab Saudi? Kini Tak Perlu Lagi Karantina, Asalkan….

Ada kabar baik bagi para wisatawan dan jamaah Umroh yang akan bertandang ke Arab Saudi, pasalnya pintu masuk ke Tanah Suci telah dibuka oleh otoritas setempat. Bukan itu saja, warga negara asing yang akan masuk ke Negeri Raja Salman juga tak lagi harus menjalani masa karantina. Kok bisa?

Baca juga: Dikejar Target 100 Juta Wisatawan oleh Kerajaan Arab Saudi, Saudia Putar Otak

Mengutip sumber dari arabnews.com (1/6/2021), disebutkan wisatawan yang telah divaksinasi Covid-19 secara lengkap, maka tidak perlu dikarantina setibanya di Arab Saudi. Hal tersebut dikatakan oleh kata Otoritas Umum Penerbangan Sipil (GACA). Tapi ada syaratnya, untuk semua yang tiba di Arab Saudi harus memiliki sertifikat vaksinasi yang telah dibuktikan dan disahkan oleh otoritas berwenang di negara asalnya. GACA Arab Saudi telah menetapkan karantina tujuh hari untuk pelancong asing yang belum divaksinasi.

Nah, untuk masuk Arab Saudi, tidak sembarang vaksin yang disetujui, otoritas Arab Saudi sejauh ini hanya mengakui pelancong atau jamaah yang telah divaksin Pfizer-BioNTech, Moderna, Oxford-AstraZeneca dan Johnson & Johnson.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Arab Saudi, Dr. Mohammed Al-Abd Al-Aly menegaskan, bahwa vaksin Covid-19 aman, efektif, dan diperlukan untuk perlindungan. Dia mengatakan bahwa rumor dan informasi yang salah tentang vaksin telah menciptakan keresahan, menimbulkan ancaman bagi orang lain dan menghambat kekebalan tubuh.

Arab Saudi pada hari Senin (31/5/2021), melaporkan ada kasus 15 kematian terkait Covid-19, menjadikan jumlah kematian di negara tersebut menjadi 7.362. Ada 1.245 kasus baru, meningkatkan jumlah infeksi menjadi 450.436. Ada 9.661 kasus aktif, dengan 1.438 pasien dalam kondisi kritis saat ini.

Baca juga: Dibalik Kedatangan 6 Juta Bulk Vaksin Sinovac, PK-GIK ‘Bangkit’ Pasca Gagal Terbangkan Jokowi

Dari kasus baru tercatat, 428 berada di wilayah Makkah, 313 di wilayah Riyadh, 155 di Provinsi Timur, dan 99 di wilayah Madinah. Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengatakan 1.275 pasien telah pulih dari penyakit ini, meningkatkan total yang telah pulih menjadi 433.431 orang. Sejauh ini, Arab Saudi telah memvaksinasi 14.146.363 orang.