Dear Penumpang Gocar-GrabCar, Boeing Sebut Air Purifier Tak Efektif Lawan Covid-19!

Teknologi ionizer atau air purifying (pembersih udara) belakangan ngehits dan digunakan di berbagai ruangan, mobil, kantor, sekolah, dan sebagainya; termasuk ride hailing semisal GoCar, GrabCar, dan kendaraan umum lainnya.

Baca juga: Hadirkan Pembersih Udara di GoCar, GoJek Beri Kenyamanan Penumpang dan Pengemudi

Perangkat berteknologi itu disebut mampu membunuh bakteri, kuman, serta virus, dalam hal ini virus Corona (patogen SARS-CoV-2). Bahkan, itu juga digunakan di pesawat sebagai pengganti disinfeksi.

Tak percaya begitu saja, Boeing pun menguji dua alat berteknologi ionisasi (ionizer) dan air purifying (pembersih udara) buatan Global Plasma Solutions (GPS). Dua alat buatan GPS itu disebut mengandung teknologi needlepoint bipolar ionization yang diklaim efektif sampai 90 persen lebih membunuh patogen berbahaya, termasuk SARS-CoV-2 atau Covid-19.

Sejak September tahun lalu, Boeing membawa dua teknologi ionisasi itu ke banyak sekolah, yang sudah memanfaatkan perangkat berteknologi tersebut, untuk diuji efektivitasnya sebelum digunakan di pesawat-pesawat Boeing dan melindungi para penumpang.

Pengujian teknologi pembersih udara ini melibatkan virus aktif yang serupa dengan Covid-19 dan disebar ke dalam objek penelitian (ruangan sekolah). Sebelum itu, satu per satu perangkat teknologi ionizer atau air purifying (pembersih udara) GPS diaktifkan.

Perangkat tersebut kemudian memancarkan ion bermuatan oksigen aktif guna mematikan bakteri atau virus di udara. Perlu dicatat, Boeing tidak menguji efektivitas alatnya itu di udara, melainkan di permukaan saja.

Hasilnya, Boeing menemukan bahwa ionizer dan teknologi air purifying atau pembersih udara dengan ion aktif bermuatan oksigen tidak efektif mendisinfeksi ruangan dari kuman, bakteri, virus, dan patogen berbahaya; termasuk Covid-19.

Menurut Boeing, teknologi ionizer dan air purifying (pembersih udara) masih tidak lebih efektif dibanding teknologi disinfeksi lainnya, seperti menggunakan cairan disinfektan, sinar UV, termal, bahkan filter HEPA, yang ke semua itu diandalkan Boeing untuk mendisinfeksi pesawat-pesawatnya, bunyi laporan salon.com.

Kita tahu, dari berbagai penelitian, virus Corona dapat bertahan di udara selama tiga jam, empat jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, serta sembilan hari di permukaan logam dan kaca.

Temuan Boeing itu tentu berbanding terbalik dengan penelitian internal GPS. Disebutkan, dalam beberapa kali penelitian, teknologi ionizer dan pembersih udara miliknya terbukti membunuh 99,68 persen bakteri E. coli hanya dalam tempo 15 menit.

Baca juga: Keren, Boeing Sebar Virus Hidup di Pesawat untuk Uji Efektivitas Disinfeksi, Hasilnya Mencengangkan!

Disebutkan pula, bahwa teknologi tersebut berhasil membunuh patogen berbahaya baik di udara maupun di permukaan.

Atas temuan Boeing itu, seluruh perangkat berteknologi ionizer dan air purifying pun didesak oleh berbagai pihak untuk ditarik dari berbagai tempat, termasuk sekolah. Tak hanya itu, GPS juga dituntut oleh sejumlah pihak. Mereka diklaim telah mengelola ketakutan masyarakat untuk kepentingan bisnis dengan mengembangkan perangkat ionizer dan air purifier.

Ada Istilah Bus Tronton, Maksudnya Apa Yaaa?

Bus tronton? Bus besar seukuran kontainer atau apa ya? Ternyata bus ini memang memiliki ukuran yang lebih besar dari biasanya. Di mana merujuk pada istilah kendaraan tiga axle atau sumbu. Bahkan ukurannya lebih panjang 1,5 dibanding bus reguler.

Baca juga: Double Decker, Kompetisi Baru di Layanan Bus AKAP

Tak hanya itu, bus tronton juga bisa mengadopsi berbagai jenis bus dari bodi high decker hingga double decker. Dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com, bus tronton memiliki sumbu atau gandar yang lebih banyak dan dimensi yang lebih panjang serta bisa dibuat lebih tinggi.

Sasis tronton juga punya keunggulan lain, yakni fleksibilitas dalam mengadopsi berbagai platform bodi, mulai dari bodi high decker seperti XHD (Xtra High Decker) atau UHD (Ultra High Decker), hingga bus double decker alias bus tingkat. Keunggulan lain, bus tronton memiliki performa andal untuk melibas rute tol panjang seperti tol Trans Jawa.

Bus tronton juga bisa menampung penumpang dan barang yang lebih banyak. Bahkan memiliki kapasitas mesin antara 11 ribu cc hingga 13 ribu cc. Memiliki tiga sumbu roda dan jumlah ban delapan dengan konfigurasi 1.1, 2.2, 1.1, ban bus trontong paling belakang berfungsi menopang sasis dan membantu proses manuver.

Jadi ini berfungsi sebagai penopang mesin, karena sasisnya lebih panjang dan (ban) paling belakang ini bisa bergerak untuk menjadi kemudi. Sehingga saat roda depan belok kiri, maka roda belakang akan mengikuti radiusnya bergerak ke kanan dan bisa meminimalisir radius putar.

Ada beberapa operator yang menggunakan bus jenis tronton ini yakni TransJakarta, perusahaan otobus antar kota antar provinsi. Hingga saat ini empat merek bus tronton yang dijual di Indonesia ada Mercedes-Benz OC 500 RF 2542, Scania K410iB, Volvo B11R dan MAN R37. Sedangkan karoseri yang membuat bodi untuk sasis bus tronton salah satunya adalah Laksana.

Dengan bodi yang lebih besar, harga bus tronton tidaklah murah dan bisa mencapai Rp4 miliar tergantung spesifikasi dan jenis bodi yang digunakan. Nyatanya bukan hanya bodi, kursi dan pendinginnya pun tak kalah mahal yang mana jok per buahnya mencapai harga Rp7 juta.

Di Indonesia, bus dengan tiga axle atau sumbu kerap disebut sebagai bus tronton. Padahal istilah tersebut sebenarnya keliru. Bus tiga axle lebih tepat disebut sebagai bus trintin. Istilah internasional bus tronton itu disebut sebagai twin axle karena gandar belakangnya ganda, sumbunya dua di belakang. Namun secara teknis itu adalah triple axle atau bus tiga sumbu.

Kendaraan tronton sendiri sebenarnya juga memiliki tiga sumbu seperti bus trintin. Bedanya, tiga sumbu tronton memiliki total roda 10 buah, dengan konfigurasi 1.1, 2.2, dan 2.2. Ini lazim ditemui pada kendaraan panjang seperti truk kontainer.

Baca juga: Agar Aman dan Nyaman Menggunakan Bus Malam, Tips Ini Layak Jadi Rujukan

Sementara pada bus tiga axle yang beredar di Indonesia, umumnya dibekali roda sebanyak 8 buah, dengan konfigurasi 1.1, 2.2, dan 1.1. Roda paling belakang bisa dibelokkan untuk membantu bus trintin bermanuver, dengan cara meminimalisasi radius putar.

Mengenal Pesawat Test Bed, Cikal Bakal Lahirnya Pesawat Baru

Pesawat uji terbang atau test bed aircraft mungkin keberadaannya tak begitu jelas pasca sebuah pesawat baru lahir. Kendati demikian, pesawat test bed memegang peranan penting selama penelitian dan pengujian konsep pesawat baru.

Baca juga: Gokil, Rolls-Royce Luncurkan Mesin Pesawat Sebesar Pesawat Airbus A220

Dilansir calspan.com, flying test bed (FTB) sendiri merupakan pesawat yang dikonfigurasi khusus untuk penerbangan penelitian atau menguji konsep pesawat serta peralatan on-board.

Pesawat test bed biasanya sudah dimodifikasi dengan ketentuan yang ada, seperti instalasi data kondisi pesawat, instalasi listrik, dan mekanik untuk dukungan sistem pelanggan, uji terbang, komunikasi, dan sistem data penyimpanan saat test bed dilakukan.

Secara umum, flying test bed mencakup banyak hal, tak melulu pengembangan pesawat baru, seperti crew development, training, system development (avionik, radar, sistem data penerbangan, dan sistem sensor), pengembangan mesin, dan lain sebagainya.

Terkait pengembangan mesin baru, biasanya pesawat uji atau pesawat test bed ini akan melakukan pengujian terbang menggunakan prototipe mesin sebelum melewati uji sertifikasi.

Sekalipun fasilitas test bed di darat sudah tersedia dan nyaris menyerupai flying test bed di udara, pengujian mesin baru menggunakan pesawat di udara harus tetap dilakukan. Sebab, sertifikasi mesin akan menguji langsung mesin pada pesawat sambil terbang, tidak hanya fasilitas testbed.

Sudah begitu, kendati mesin yang jadi objek pengembangan, pesawat test bed juga dikonfigurasi ulang atau disesuaikan dengan objek tersebut, seperti perkabelan dan peralatan instrumentasi baru, sistem bahan bakar dan perpipaan, serta modifikasi struktur sayap.

Di dunia, ada begitu banyak perusahaan yang menyediakan flying testbed aircraft atau pesawat test bed seperti Boeing, yang pesawat test bed-nya digunakan oleh perusahaan-perusahaan dirgantara AS, seperti AlliedSignal, Honeywell Aerospace, dan Pratt & Whitney, Gromov Flight Research Institute, yang disebut sebagai produsen pesawat test bed terbesar sejak era Uni Soviet pada 1941 sampai era Rusia, dan lain sebagainya.

Baca juga: Lama ‘Nganggur’, Pesawat Uji Terbang Airbus A220 Sekarang Jadi Mockup

Selain produsen pesawat test bed di atas, produsen dirgantara di berbagai belahan bumi juga biasanya memproduski pesawat test bed-nya sendiri dalam pengembangan pesawat baru; seperti yang dilakukan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Guna memuluskan pengembangan pesawat CN-235 220 Gunship, PTDI terlebih dahulu mengaplikasikan pesawat dalam bentuk prototipe, dan sebelum prototipe dibuat, setiap manufaktur pesawat akan melakukan serangkaian uji coba konfigurasi payload pada testbed aircraft atau flying test bed. Karenanya, dua tahun lalu, flying test bed CN-235 terbaru PTDI, dengan nomer registrasi AX-2301, akhirnya resmi dirilis.

Setelah Taksi Terbang, Bus Terbang Berkapasitas 40 Orang Tengah dalam Rencana Pembuatan

Moda transportasi udara seperti taksi terbang belakangan semakin nyata keberadaannya. Namun taksi tersebut hanya bisa mengangkut satu atau dua penumpang dan tidak lebih. Tetapi bagaimana jika bukan hanya taksi tetapi ada bus terbang? Sebuah startup yang berbasis di New York, Amerika Serikat mulai berpikir ke arah pembuatan bus terbang.

Baca juga: Investasi di Taksi Terbang Joby Aviation, Toyota Gelontorkan Rp5,3 Triliun

Perusahaan bernama Kelekona itu tengah mengembangkan kendaraan lepas landas dan mendarat vertikal listrik atau (eVTOL) yang akan mampu mengangkut 40 orang sekaligus. Dilansir KabarPenumpang.com dari singularityhub.com (10/6/2021), desain kendaraan yang dibuat oleh Kelekona memiliki bentuk ramping dan futuristik dengan bentuk datar seperti UFO. Braeden Kelekona mengatakan, untuk semua suar desain yang tampak sebenarnya memiliki kepraktisan di otak.

“Kami memiliki wilayah udara yang sangat kecil di New York. Tidak pernah masuk akal bagi kami untuk membuat pesawat kecil yang hanya mampu mengangkut hingga enam orang. Anda harus memiliki jenis angkutan massal yang kami andalkan di kota ini. Masuk akal untuk mencoba memindahkan orang sebanyak mungkin dalam satu pesawat, sehingga kita tidak memonopoli wilayah udara,“ ujar Braeden.

Dia menambahkan, ada lebih banyak ruang di langit dibandingkan di darat. Tetapi untuk jalur penerbangan masih perlu direncanakan dengan hati-hati karena berada di area tertentu terutama di dalam serta dekat dengan kota-kota besar. Sehingga nantinya jika taksi terbang menjadi cukup terjangkau bagi orang untuk menggunakannya, akan ada banyak masalah dengan lalu lintas dan kemacetan baik di langit maupun ruang lepas dan mendarat di darat.

Braeden menjelaskan, terkait keterjangkauan menjadi prioritas di mana ini akan berbeda terutama pada tahap awal teknologi. Meski begitu, tujuannya adalah agar tiket bus drone atau bus terbang ini seharga dengan tiket kereta api untuk jarak yang sama.

Rute pertama, dari Manhattan ke Hamptons, disebutkan akan memiliki waktu penerbangan 30 menit dan harga tiket $85 atau sekitar Rp1,2 juta. Rute lain yang dituju termasuk Los Angeles ke San Francisco, New York City ke Washington DC dan London ke Paris yang bisa dihubungkan semuanya dalam satu jam.

Di mana waktu tempuhnya sebanding dengan waktu yang dibutuhkan pada penerbangan reguler yang sudah ada. Salah satu perbedaannya, idealnya, adalah bahwa eVTOL akan dapat mendarat dan lepas landas lebih dekat ke pusat kota, mengingat mereka tidak memerlukan landasan pacu yang panjang.

Untuk alasan yang sama, perusahaan juga membayangkan pendekatan yang efisien untuk menghubungkan gudang; pesawatnya akan dapat membawa 12 hingga 24 kontainer pengiriman, atau muatan kargo 10 ribu pon. Memindahkan bobot sebanyak itu, ditambah bobot pesawat itu sendiri, akan membutuhkan banyak daya baterai.

Bodi bus terbang akan terbuat dari komposit cetak 3D dan aluminium dan dilengkapi dengan delapan kipas vektor dorong dengan baling-baling yang pitchnya dapat berubah untuk berbagai tahap penerbangan yakni lepas landas vertikal, terbang ke depan dan mendarat. Semua ini akan dibangun di sekitar paket baterai modular raksasa.

“Alih-alih membangun badan pesawat yang menarik dan kemudian mencoba mencari cara untuk memasukkan baterai ke dalam pesawat itu, kami mulai dengan baterai terlebih dahulu dan meletakkan benda-benda di atasnya,” kata Braeden.

Paket baterai akan memiliki kapasitas 3,6 megawatt jam, dan akan dibuat agar mudah diganti dengan iterasi baru karena teknologi baterai terus meningkat. Kebutuhan energi pesawat kemungkinan akan menjadi tantangan terbesar yang dihadapi Kelkona dalam desain, produksi, dan peluncurannya; Saat ini, pesawat masih dalam tahap simulasi komputer.

Baca juga: Korea Selatan Berencana Luncurkan Taksi Terbang di 2025

Sebuah perusahaan Inggris bernama GKN Aerospace sedang mengembangkan konsep serupa. Diumumkan pada bulan Februari, Skybus akan memuat 30 hingga 50 penumpang, dan dimaksudkan untuk “transit massal melalui rute yang sangat padat.” Meskipun dibuat untuk lepas landas dan mendarat vertikal, desain pesawat memiliki sayap besar di kedua sisi ini akan membuat lebih sulit untuk menemukan ruang yang dapat beradaptasi di daerah perkotaan. Kelekona berencana untuk memulai dengan rute khusus kargo, dengan rute penumpang direncanakan pada tahun 2024, menunggu persetujuan dari FAA.

Jadi Pesawat Terlaris, Ini Alasan Boeing 737 Digandrungi Maskapai LCC

Sudah bukan rahasia bahwa keluarga pesawat Boeing 737 menjadi pilihan favorit maskapai di seluruh dunia, utamanya maskapai berbiaya hemat atau LCC (low cost carrier). Saking banyaknya maskapai yang mengoperasikan Boeing 737, pada 27 Januari 2002 silam, pesawat itu didapuk menjadi pesawat pertama di dunia yang mampu cetak 100 juta lebih jam terbang.

Baca juga: Berapa Banyak Pesawat Boeing 737 All Series yang Masih Terbang dan dalam Pesanan?

Dari puluhan atau mungkin ratusan maskapai LCC yang ketergantungan dengan Boeing 737, Flair Airlines mungkin jadi salah satunya.

Belum lama ini, maskapai asal Kanada tersebut untuk pertama kalinya menerbangkan armada Boeing 737 MAX miliknya. MAX diplot sebagai pengganti saudaranya yang sudah tua, Boeing 737-800. Di sela-sela momen tersebut, presiden maskapai, Charles Duncan, juga membeberkan alasan pihaknya memilih Boeing 737.

Menurutnya, Flair Airlines -mungkin juga maskapai lain- memilih Boeing 737 karena reliability, availability, dan harga. Tiga itu menjadi kunci dan pembeda dibanding pesawat lainnya.

Tak cukup sampai di situ, efisiensi juga menjadi jawaban mengapa pihaknya mendatangkan keluarga Boeing 737 terbaru, Boeing 737 MAX.

Menurut Presiden dan CEO Flair Airlines, Stephen Jones, efisiensi pesawat mendorong turunnya biaya operasional (bisa sampai 10 juta dolar selama masa pakai pesawat) dan pada akhirnya memicu turunnya harga tiket.

Tiket murah tentu menjadi strategi bisnis utama maskapai LCC. Harapannya, akan lebih banyak penumpang yang terbang dengan maskapai. Dengan begitu, perputaran bisnisnya menjadi lebih cepat dan menguntungkan.

Tingkat kenyamanan juga menjadi faktor penentu mengapa keluarga Boeing 737 MAX diminati maskapai LCC. Disebutkan, dengan kemampuan memangkas emisi CO2 sebesar 14 persen dan tingkat kebisingan sampai 50 persen, sambil menawarkan tiket murah, praktis itu akan membantu maskapai untuk menjaring lebih banyak penumpang.

“Pertama dan terpenting, harus ada bisnis, dan kita berbicara tentang pesawat yang 15 hingga 20 persen lebih efisien daripada pesawat yang digantikannya, jadi nilai penggantian pesawat yang efisien ini sangat besar,” kata Hulst kepada Simple Flying.

“Ketika Anda melihat sedikit lebih lama, kami berjanji sebagai perusahaan bahwa semua pesawat kami pada tahun 2030 akan mampu 100 persen menggunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF),” tambahnya.

Baca juga: Air Serbia Operasikan Boeing 737-300 Selama 36 Tahun, Bagaimana Bisa?

“Jadi, itu adalah pilar utama lain dari strategi keberlanjutan kami. Selebihnya, bagaimana kita bisa bekerja sama dengan industri untuk membuat operasi pesawat lebih efisien? Dan akhirnya, pandangan kami adalah inovasi apa, teknologi apa yang bisa kami bawa ke pasar untuk produk masa depan? Jadi semua hal itu bersama-sama akan membantu industri menjadi netral karbon,” lanjutnya.

Kendati begitu, tak sedikit maskapai LCC di dunia yang justru jatuh hati ke pesawat kompetitor Boeing 737, yakni Airbus A320, seperti Wizz Air, easyJet, AirAsia, dan lain sebagainya.

KA Baturraden Ekspres Jadi Alternatif dari Purwokerto Menuju Bandung

Pada 25 Juni 2021, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan meluncurkan kereta api baru yakni KA Baturraden ekspres relasi dari Bandung menuju ke Purwokerto. Kereta ini  melintasi Cikampek dan akan beroperasi pada 25 dan 27 Juni serta 2 dan 4 Juli 2021.

Baca juga: Beberapa Kali Ganti Nama, Kereta Serayu Kembali Beroperasi

Beroperasinya KA Baturraden Ekspres sendiri akan menjadi alternatif bagi calon penumpang yang akan bepergian dari Purwokerto menuju ke Bandung atau sebaliknya. Sebab, sebelumnya relasi Purwokerto menuju ke Bandung hanya dilayani oleh KA Serayu yang melintasi jalur selatan dengan relasi dari Stasiun Purwokerto menuju ke Stasiun Pasar Senen.

Namun KA Baturraden Ekspres akan melintas di jalur utara yang akan melalui Cirebon dan Cikampek, kemudian baru menuju ke Bandung. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, KA Baturraden Ekspres memiliki kelas yang berbeda dengan Serayu.

Di mana KA Serayu hanya melayani kelas ekonomi karena mendapat PSO (Public Service Obligation). Sedangkan KA Baturraden Ekspres memiliki kelas eksekutif dan bisnis dengan tarif yang terbilang murah yakni Rp160 ribu untuk kelas eksekutif dan Rp130 ribu untuk kelas bisnis.

Meski begitu, untuk mengoptimalisasi penumpang, PT KAI akan memanfaatkan kursi kosong pada relasi tertentu dengan memberlakukan tarif khusus. Seperti penumpang dari Purwokerto menuju ke Cirebon, tarifnya hanya Rp65 untuk kelas eksekutif dan Rp45 ribu kelas bisnis.

Peluncuran KA Baturraden Ekspres yang dilaksanakan pada 25 Juni mendatang dari Stasiun Purwokerto. Untuk jadwal perjalanan, KA Baturraden Ekspres akan berangkat dari Stasiun Purwokerto pukul 05.40 WIB dan tiba pukul 12.09 WIB.

Adapun jadwal keberangkatan dari Bandung, pada pukul 16.30 WIB dan tiba di Stasiun Purwokerto pada pukul 22.54 WIB. Meski sudah masuk dalam Gapeka 2021 dan saat ini masih masa pandemi, KA Baturraden Ekspres belum akan dioperasikan setiap hari.

Baca juga: “Nopia.. Nopia..,” Oleh-oleh Khas Tak Terlupakan dari Stasiun Purwokerto

VP Humas PT KAI Joni Martinus mengatakan, KA Baturraden Ekspres akan menggunakan kereta lama yang merupakan kereta eksisting. Namun, Joni tidak menjelaskan menggunakan KA eksisting relasi mana.

Maimaid.id Mudahkan Pelanggan Mencari Pekerja Rumah Tangga

Berbagai aplikasi saat ini hadir untuk memudahkan pelayanan baik layanan rumahan hingga transportasi. Hal ini untuk memudahkan segala urusan, bahkan mengenai pembayaran pun tak perlu lagi dengan segala keribetan karena ada e-wallet.

Baca juga: Hadirkan Pembersih Udara di GoCar, GoJek Beri Kenyamanan Penumpang dan Pengemudi

Sehingga pengguna ataupun mitra lebih dimudahkan untuk permasalahan pembayaran dan berbagai hal lainnya. Belum lama ini Maimaid.id hadir untuk memudahkan para keluarga yang membutuhkan asisten rumah tangga (ART), butler (kepala pelayan), baby sitter hingga driver.

Apalagi pasca Lebaran, banyak para ART yang tidak kembali dan kehadiran Maimaid.id memudahkan untuk mendapatkan para pekerja membantu pekerjaan rumah tangga. Maimaid.id ini pun berbeda dari aplikasi GoJek yang memiliki fitur GoClean dan Grab yakni GrabClean and Fix.

Danniel Siswantno selaku CEO Maimaid.id mengatakan, Maimaid.id bukanlah sebuah yayasan yang memberikan pengarahan atau pendidikan bagi para ART, butle, baby sitter ataupun driver. Tetapi Maimaid.id adalah layanan pemesanan jasa yang sudah memiliki para pekerja dengan kualitas dan kuantitas.

Daniel mengatakan, bahwa Maimaid.id memposisikan diri sebagai mediator antara konsumen dengan partner Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan menjadi solusi permasalahan yang ada saat ini, serta menjamin keamanan, kesehatan setiap Asisten Rumah Tangga (ART) yang bergabung dengan Maimaid.id. Melayani dengan hati, Maimaid.id memberikan jaminan garansi tanpa batas sampai dengan perlindungan hukum untuk kedua belah pihak (konsumen dan partner).

Maimaid.id sebagai solusi dalam mencari Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang professional dan terpercaya untuk Anda. Selain mendapatkan keuntungan bebas biaya admin, Anda juga akan diberikan benefit lainnya seperti layanan after Maimaid care hingga terjaminnya kesehatan calon Pekerja Rumah Tangga (PRT) dari terinfeksinya virus Covid-19 karena telah menerapkan protokol kesehatan seperti tes swab sesuai dengan anjuran protokol kesehatan dari pemerintah.

Uniknya dikatakan Daniel, baik pekerja rumah tangga maupun pelanggan memiliki aplikasi masing-masing. Sehingga bila pekerja sudah tidak lagi bekerja di sebuah keluarga, otomatis tidak ada lagi gaji atau upah yang akan dibayarkan melalui e-wallet.

Maimadi.id pun ternyata berbeda dari fitur GoClean, GrabClean and Fix yang dimiliki GoJek maupun Grab. Pasalnya fitur dari dua aplikasi decacorn ini hanya untuk sekali pemanggilan ke rumah untuk membersihakan seluruh rumah. Tak hanya itu pembayarannya pun untuk sekali kedatangan

Sedangkan Maimaid.id, para pekerja rumah tangga ini akan melakukan pekerjaan mereka selama sebulan dan bila cocok maka akan diteruskan. Untuk pembayarannya pun perbulan dengan tanpa pemotongan biaya administrasi. Daniel menambahkan, hal ini karena sebelumnya pelanggan sudah melakukan deposit dan pembayaran administrasi sebelum para pekerja bekerja di rumah sebuah keluarga.

Baca juga: Gunakan Kecerdasan Buatan, Grab Bisa Lacak Pengguna Asli dan Palsu

Satu lagi, untuk ART, baby sitter dan butler semuanya akan menetap di dalam rumah. Sedangkan untuk driver bisa memilih tinggal di dalam atau di luar. Saat ini, Maimaid.id sudah hadir di kota Bandung dan melayani lebih dari puluha pelanggan yang ada di Jakarta maupun Bandung.

“Dili Express” – Kenangan Kapal Ferry Katamaran dalam Prahara Lepasnya Timor-Timur

Punya bentuk futuristik, kapal ferry berdesain katamaran ini saban hari melayari Selat Channel yang menghubungkan antara Inggris dan Perancis. Inilah kapal ferry HSC Condor Rapide yang dioperasikan Condor Ferries sejak tahun 2010. Meski saat ini berfungsi sebagai kapal ferry yang menjalani rute reguler, namun siapa sangka, bahwa kapal ferry berbobot 1.250 ton ini, pernah punya kenangan tersendiri di Indonesia.

Baca juga: Kapal Ferry Cepat Milik Operator Cina Punya Bodi Ramping, Cepat dan Hemat Bahan Bakar

Kilas balik ke zaman jejak pendapat di Timor Leste (d/h Timor Timur) di tahun 1999, terjadi kesibukan luar biasa di Dermaga Pelabuhan Dili. Kala itu terjadi mobilisasi kekuatan besar-besaran dari militer Australia yang menjadi pentolan INTERFET (International Force for East Timor). Dan guna mendukung mobilisasi pasukan dan logistik Australia ke Timor-Timur, selain menggukan jalur udara, rupanya juga dilakoni lewat jalur laut.

Lewat jalur laut, salah satunya menggunakan jasa HMAS Jervis Bay. Di masa penuh ketegangan hubungan antara Indonesia-Australia, kehadiran HMAS Jervis Bay terlihat mencolok, pasalnya kapal ini punya tampilan tidak lazim kala itu. Boleh dikata, tidak ada yang mampu menandingi ‘keunikan’ HMAS Jervis Bay diantara lalu lalang kapal sipil dan militer di Perairan Dili saat itu.

Dikutip dari Indomiliter.com, HMAS Jervis Bay (AKR 45) beberapa kali muncul di layar televisi nasional (TVRI) dan terasa lekat dalam benak ingatan orang-orang saat itu, maklum dua tahun sebelum jejak pendapat di Timor Timur, meluncur film James Bond – Tommorow Never Dies (1997) yang memperlihatkan ikon kapal stealth katamaran milik tokoh antagonis Elliot Carver. Sudah barang tentu HMAS Jerves Bay bukan kapal yang punya kemampan siluman, HMAS Jervis bay juga bukan kapal kombatan, melainkan asasi dari kapal berbobot 1.250 ton ini adalah wahana angkut pasukan dan logistik.

Berbeda dengan status kapal perang Australia pada umumnya, HMAS Jervis Bay memang ‘didatangkan’ khusus untuk menunjang misi militer Australia di Timor Timur. Dari sumber Australian War Memorial, disebutkan HMAS Jervis Bay baru masuk struktur kekuatan AL Australia pada Mei 1999. Karena didatangkan untuk mendukung misi khusus, AL Australia tidak membeli kapal ini, melainkan hanya menyewa dengan nilai Aus$16 juta. Pun setelah operasi lintas laut ke Timor Timur dirasa sukses, kapal ini dikembalikan ke pemiliknya, yaitu manufaktur pembuat kapal asal Hobart, Tasmania – INCAT.

HMAS Jervis Bay punya panjang lambung 88,6 meter, lebar 26 meter dan draught 3,6 meter, kapal ini sanggup membawa 500 pasukan infanteri berikut perlengkapan dan kendaraan tempur ringan. HMAS Jerves Bay ditenagai 4 × Ruston 20RK270 medium-speed diesels dan 4 × Lips waterjets, menjadikan kapal ini dapat melaju dengan kecepatan 48 knots (89 km per jam). Dengan kapasitas bahan bakar penuh, kapal futuristik ini dapat menjelajah sampai 1.900 km.

Selama dua tahun melayani rute Darwin – Dili, HMAS Jervis Bay dengan 20 awaknya telah mencapai 107 trip dan menghantarkan total 20.000 penumpang, 430 kendaraan dan 5.600 ton bahan logistik. Dikenal sebagai kuda beban yang sangat diandalkan pada masa itu, kemudian HMAS Jervis Bay mendapatkan nickname “Dili Express.”

Baca juga: Kapal Ferry Berbahan Aluminium Berkecepatan Tinggi Buatan Filipina Tiba di Norwegia

HSC Condor Rapide.

Pada tahun 2002, kapal ini dilayarkan ke Eropa secara ferry, dan dioperasikan sebagai kapal angkut ferry oleh perushaan Speed Ferries yang melayani rute di Laut Mediterania. Status terakhirnya kini eks HMAS Jervis Bay dioperasikan oleh Condor Ferries dengan menyandang nama HSC Condor Rapide yang melayani rute Channel Islands – Saint-Malo.

Bikin Bangkrut, Garuda Indonesia Kembalikan 50 Pesawat ke Lessor

Garuda Indonesia terus mencari cara agar bisa bertahan hidup. Selain menawarkan program pensiun dini kepada para karyawan, maskapai pelat merah itu memangkas gaji seluruh karyawan, sampai mengembalikan pesawat ke lessor.

Baca juga: Disebut Sudah Bangkrut, Ini 6 ‘Dosa’ Garuda Indonesia dari Masa ke Masa

Terbaru, setelah mengembalikan 12 pesawat CRJ1000 ke lessor atau perusahaan leasing, Garuda Indonesia, laporan Flight Global, disebut bakal terus melanjutkan program pengembalian pesawat ke lessor sampai 50 unit.

Itu berarti, dari total 142 pesawat yang dimiliki Garuda Indonesia saat ini, dengan rincian 10 unit Boeing 777-300ER, tiga Airbus A330-900, 17 Airbus A330-300, tujuh Airbus A330-200, 73 Boeing 737-800, satu Boeing 737-8 Max, 18 CRJ1000, 13 ATR 72-600, praktis maskapai armada maskapai menyusut menyisakan 92 unit saja.

Kendati itu masih lebih banyak dibanding kebutuhan pesawat saat ini, terlebih manajemen juga sudah berikrar ingin memangkasnya menjadi kurang dari 70 pesawat, namun, memang dibutuhkan spare belasan atau puluhan unit sebagai pengganti pesawat-pesawat yang sedang dalam maintenance.

Dari total 142 armada, 53 pesawat di antaranya sedang dalam perawatan rutin dan 39 lainnya sedang perawatan lanjutan (MRO).

Selama pandemi virus Corona, Garuda Indonesia tercatata hanya mengoperasikan 53 pesawat, dimana 63 persennya adalah armada Boeing 737-800.

Langkah manajemen Garuda Indonesia mengembalikan pesawat ke lessor secepat mungkin dinilai merupakan sebuah langkah tepat. Sebab, dari struktur cost perusahaan yang dibeberkan pengamat BUMN, Toto Pranoto, leasing menempati posisi tertinggi mencapai 75 persen. Adapun sisanya datang dari utang jangka pendek sebesar 21 persen, dan utang jangka panjang sebesar 2,5 persen.

“Mengingat struktur cost leasing menjadi yang tertinggi, saya kira langkah yang dilakukan manejemen sekarang sudah tepat, ya,” katanya saat pemaparan materi diskusi yang digelar Intipesan Institute bertajuk “Dialog Manejemen Garuda Indonesia” beberapa waktu lalu.

Garuda Indonesia belakangan ramai jadi perbincangan publik lantaran nyaris bangkrut. Melihat laporan keuangan perusahaan, Garuda Indonesia sebenarnya berhasil membukukan keuntungan sebesar US$6,98 juta atau Rp99,11 miliar (kurs Rp14.200 per dolar AS) pada 2019. Namun, keuangannya langsung tertekan pada 2020 atau saat pandemi melanda dunia termasuk Indonesia.

Garuda Indonesia menderita kerugian hingga US$1,07 miliar atau Rp24,29 triliun (kurs 14.296) pada kuartal III 2020. Angkanya berbanding terbalik dibandingkan dengan posisi kuartal III 2019 yang membukukan laba bersih sebesar US$122,42 juta atau Rp1,73 triliun.

Pendapatan perusahaan jeblok dari US$3,54 miliar (Rp50,26 triliun) menjadi US$1,13 miliar (Rp16,04 triliun). Rinciannya, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal sebesar US$46,92 juta (Rp666,26 miliar) dan penerbangan berjadwal US$917,28 juta (Rp13,02 triliun).

Baca juga: Ngeri! Sudah 1.300 Pesawat Dikembalikan Maskapai ke Lessor Gegara Kesulitan Keuangan

Bulan Mei lalu, dari rekaman meeting internal yang bocor ke media, posisi utang Garuda Indonesia diungkap Direktur Utamanya, Irfan Setiaputra, berada di posisi Rp70 triliun. Setiap bulan, Garuda rugi hingga US$100 juta atau sekitar Rp1 triliun.

Tak ayal, di tengah sulitnya kondisi keuangan, program pensiun dini pun digalakkan. Mirisnya, bagi mereka yang memutuskan bertahan, tidak akan digaji karena keterbatasan uang cash.

Disebut Sudah Bangkrut, Ini 6 ‘Dosa’ Garuda Indonesia dari Masa ke Masa

Garuda Indonesia disebut sudah bangkrut atau pailit sebagai sebuah korporasi. Saat ini, maskapai pelat merah itu sedang susah sekali. Kendati demikian, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, dalam sebuah dialog di stasiun televisi nasional, menjamin bahwa Garuda akan tetap terbang setidaknya sampai tiga bulan ke depan.

Baca juga: Menteri Agama Tiadakan Haji, Garuda Indonesia ‘Paling Kecil’ Rugi Rp3,3 Triliun

Meski demikian, itu mungkin terjadi berkat solusi jangka pendek dari manajemen dan owner dalam hal ini pemerintah. Tetapi, dalam jangka panjang, harus ada langkah-langkah komprehensif yang harus diambil. Terlebih, Garuda Indonesia bak orang yang positif Covid-19 dan diperparah dengan adanya komorbid atau dosa-dosa manajemen sebelumnya.

Untuk itu, disarikan KabarPenumpang.com dari diskusi yang digelar Intipesan Institute bertajuk “Dialog Manejemen Garuda Indonesia”, berikut enam dosa Garuda Indonesia dari masa ke masa.

1. Pengadaan pesawat

Pengadaan pesawat selalu menjadi ‘lahan basah’ bagi petinggi Garuda Indonesia. Sebab, bukan sekali-dua kali indikasi mark up harga terjadi. Pada 1988-1992, maskapai membeli pesawat Airbus A330-300. Ketika itu terjadi mark up harga dari 140 juta dolar AS menjadi 214 juta dolar AS.

2. Buruknya strategi bisnis

Menurut Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, pengadaan ratusan pesawat di masa lalu untuk rute-rute internasional sangat over confidence. Sekalipun marketnya ada, namun, strateginya tentu tak semudah membalikkan telapak tangan mengingat maskapai lain sudah lebih mapan

Selain itu, buruknya strategi bisnis juga mencakup beragamnya penggunaan tipe pesawat, pemilihan rute, harga tiket, dan sebagainya.

3. Nilai tukar mata uang

Nilai tukar selama ini kerap menjadi momok. Bagaimana tidak, pendapatan perusahaan dengan rupiah namun cost menggunakan dolar AS, mulai dari spare part dan sampai utang. Sekalipun ada kemungkinan menguat, yang terjadi sering kali rupiah melemah terhadap dolar AS. Jangankan ratusan, rupiah melemah belasan apalagi sampai puluhan persen saja sudah pasti, kata Enny, membuat Garuda terkapar hebat.

Masalah yang sama juga terjadi pada utang jangka pendek dan panjang maskapai yang cenderung tak memperhatikan nilai tukar, serta penyewaan pesawat ke leasing. Dalam dialog tersebut, pengamat BUMN, Toto Pranoto, membeberkah bahwa cost terbesar perusahaan 75 persennya datang dari leasing.

4. Inefisiensi manajemen

Menurut dosen Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Desmon Ismael, jumlah direksi Garuda Indonesia terlalu banyak. Selain itu, sistem corporate governance juga tidak jelas, entah itu menganut one tier, two tier, atau sistem CEO CFO dan COO.

Menurutnya, direksi seharusnya tiga saja, dimana, sesuai dengan undang-undang, salah satunya ditunjuk sebagai Direktur Utama. Demikian juga dengan komisaris, terutama keberadaan komisaris independen, sangat tidak efisien. Ini pada akhirnya membuat struktur problem semakin parah.

5. Laporan keuangan

Dari laporan keuangan, menurut Enny, jelas dan clear bahwa Garuda Indonesia mengalami problem sistemik yang harus segera diselesaikan.

Baca juga: Bila Garuda Indonesia Sampai Dipailitkan, Berkaca dari Kasus Sabena dan Swissair

6. Salah pilih Dirut dan campur tangan pemerintah

Sebagai sebuah BUMN, Garuda Indonesia selalu mengalami apa yang disebut sebagai principal agency problem. Menurut Meneg BUMN 2004 hingga 2007, Dr. Sugiharto, problem tersebut membuat pemilihan BOD dan komisaris tidak sesuai dengan kapasitasnya dan cenderung politis.

Demikian juga terhadap kebijakan perusahaan, seperti penetuan tarif haji yang tidak seusai dengan hitung-hitungan bisnis dan lain sebagainya.