Mantap, Penerbangan di Cina Tumbuh 126 Persen! Indonesia Kapan?

Industri penerbangan sangat terpukul akibat pandemi Covid-19. Kendati demikian, di beberapa negara kondisinya sudah berangsur pulih. Salah satunya Cina. Negeri Tirai Bambu, pada Mei lalu mencatat pertumbuhan penumpang ratusan persen. Itu artinya, bukan hanya melampaui angka tahun lalu, melainkan mengejar angka di tahun-tahun normal.

Baca juga: Penerbangan di Cina Mulai Bergairah, Industri Penerbangan Global Perlahan Bangkit

Laporan corong media Komunis Cina, Global Times, menyebut maskapai-maskapai di Cina serempak mengalami pertumbuhan penumpang. Sepanjang bulan Mei kemarin, maskapai Air China mengalami pertumbuhan penumpang mencapai 113 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu, sekalipun cenderung menurun dibanding angka bulan-bulan sebelumnya.

China Eastern Airlines yang berbasis di Shanghai mengungkapkan bahwa terjadi lojakan penumpang sampai 126 persen dibanding bulan Mei 2020. Begitu juga dengan Juneyao Airlines yang mengalami pertumbuhan penumpang hingga 126 persen year-on-year.

Pertumbuhan penumpang pesawat di Cina disebut efek dari diadakannya berbagai kegiatan berskala nasional semisal Liburan Festival Perahu Naga selama tiga hari sejak Sabtu sampai Senin lalu. Dalam perhelatan tersebut, Kementerian Perhubungan Cina mencatat, ada sekitar 3,71 juta perjalanan penumpang atau meningkat 40 persen rata-rata harian dibanding periode tahun lalu.

Selain itu, tentu saja karena pandemi Covid-19 di Cina sudah hampir berakhir, dimana kegiatan yang menimbulkan kerumunan mulai terjadi di seantero Cina. Administrasi Penerbangan Sipil China (CAAC) menyebut, pertumbuhan penumpang bulan Mei lalu angkanya sudah 93,6 persen dari periode yang sama pada 2019. Nyaris menuju normal atau bahkan melampauinya.

Diperkirakan, pada kuartal kedua tahun ini, kerugian-kerugian yang sebelumnya diderita akan terus berkurang dan berbalik menjadi keuntungan. Berbeda dengan penerbangan penumpang, penerbangan kargo Cina sejak Maret tahun lalu memang sudah sangat menggeliat. Posisi Cina sebagai penyuplai pasokan medis dan belakangan ditambah dengan vaksin Covid-19 membuat penerbangan kargo melonjak tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Pertumbuhan penerbangan kargo di Cina juga disokong bisnis e-commerce dan industri pengiriman ekspres.

Baca juga: Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Data Air China menunjukkan bahwa transportasi kargo pada Mei naik hampir 30 persen dari periode yang sama tahun lalu, tren yang dimiliki oleh maskapai lain. China Eastern Airlines melaporkan transportasi kargonya naik 61 persen year-on-year.

Berbeda dengan Cina, penerbangan di Indonesia masih belum move-on ke periode sebelum adanya pandemi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penerbangan domestik hanya 2,64 juta orang pada Maret 2021. Angkanya anjlok 42,3 persen jika dibandingkan dengan posisi Maret 2020 yang mencapai 4,58 juta orang.

Punya Iklim Tropis, Stasiun Tulum Dibangun dengan Atap Berkisi-kisi

Perusahaan arsitektur Aidia Studio mulai merancang stasiun kereta api di Tulum, Meksiko. Stasiun ini nantinya memiliki atap berkisi-kisi yang akan dibangun di jalur kereta api Tren Maya. Pekerjaan konstruksi ini diharapkan akan mulai pada Januari 2022 mendatang.

Baca juga: Hilangkan Stres Penguncian di Masa Pandemi, Stasiun Phnom Penh Punya Kafe Kereta

Dilansir KabarPenumpang.com dari dezeen.com (14/6/2021), kehadiran Stasiun Tulum akan menjadi bagian dari jalur kereta api antar kota sepanjang 1.525 km yang direncanakan untuk Semenanjung Yucatan dalam lingkaran antara Cancn dan Palenque. Nantinya kereta yang akan dilayani Stasiun Tulum yakni dari Cancn ke Tulum.

Desain stasiun ini cukup unik, di mana atap akan dirancang berlubang dan terbuat dari baja struktural serta panel beton bertulang kaca untuk menutupi platform dan concourse. Grid geometris akan diglasir di beberapa tempat untuk mencegah hujan dan dilapisi dengan kayu di bagian dalam.

Karena Stasiun Tulum berada di Semenanjung Yucata dan memiliki iklim tropis membuat Aidia Studio merancang stasiun yang bisa menghadapi iklim di Tulum.

“Untuk menghadapi cuaca ekstrem ini, kami membayangkan atap kisi terbuka yang besar, berlapis kaca di lokasi strategis, memungkinkan ruang semi terbuka publik yang berfungsi tanpa ventilasi mekanis,” kata pendiri studio Rolando Rodriguez-Leal dan Natalia Wrzask.

Dia mengatakan, bukaan yang lebih kecil di area yang menerima sinar matahari tengah hari bekerja ke dalam pola atap, yang dirancang untuk menciptakan tempat teduh dan memungkinkan angin laut berhembus melalui stasiun. Stasiun ini akan mencakup toko-toko dan restoran di lantai mezzanine di atas peron dan jalur kereta api.

Nantinya pintu masuk dan keluar akan ada di kedua sisi stasiun. Aida Studio mengatakan, motif pada sisi luar dan dalam stasiun akan mengingatkan pada pola geometris tradisional suku Maya. Sebab Tulum terkenal dengan reruntuhan Maya dan garis pantai Karibia yang masih asli, yang menjadikannya tujuan wisata yang semakin populer.

“Jejak kaki berbentuk mata, terluas di tengah tempat fungsi utama stasiun bertemu, tampaknya merupakan penggunaan ruang yang paling efisien. Ini ditingkatkan dengan mengambil area seminimal mungkin yang berdekatan dengan rel dan mengimbanginya dengan menumpuk program publik stasiun di atas peron,” jelas mereka.

Baca juga: Eksentrik, Stasiun Nagatoshi Punya “Torii” di Atas Rel

Aidia Studio mengatakan mereka ingin memastikan stasiun mengambil ruang sesedikit mungkin di lanskap. Pekerjaan konstruksi di stasiun diharapkan selesai pada Juni 2023.

Meski Sepi Pengunjung, Konagai Punya Halte Bus Berbentuk Buah

Ketika sebuah ide teralisasi bisa menjadi sebuah kreatifitas yang tinggi dan unik. Bahkan bisa disukai oleh banyak orang dan menjadikannya sebuah karya seni serta mungkin juga sebagai bangunan yang bisa digunakan.

Baca juga: Halte Bus di Yerusalem Diubah Jadi Perpustakaan Tiga Bahasa

Seperti sebuah halte yang dibentuk karena terinspirasi dari buah-buahan. Halte bus ini berada di Konagai, Jepang. Di mana kota tersebut berpenduduk jarang dan selama beberapa dekade sulit untuk menarik pengunjung.

Halte bus berbentuk melon (japanjourneys.jp)

KabarPenumpang.com melansir japanjourneys.jp, tahun 1990 silam, penduduk Konagai mendapatkan ide untuk membangun halte bus besar berbentuk buah yang awalanya untuk pameran bertema perjalanan di Osaka. Ternyata pameran ini terbukti dan menjadi hits di pameran asli sehingga halte bus bertema buah-buahan tersebut menjadi landmark kota hingga hari ini.

Ada beberapa buah yang menginspirasi pembuatan halte yakni melon, stroberi, jeruk dan semangka. Yang mana hingga saat ini, pelancong masih mengunjungi halte-halte itu untuk melihat struktur yang menggemaskan. Tak hanya itu, para pengunjung juga mengabadikan diri mereka ketika duduk di dalam halte berbentuk buah tersebut.

Sayangnya kota ini tidak memiliki banyak hal lain untuk ditawarkan kepada turis rata-rata selain halte bus berbentuk buah ini dan Laut Ariake yang berada tepat di belakang desa Konagai. Meski sepi pengunjung, halte bus berbentuk buah dan berwarna cerah di Konagai tetap menghiasi jalan raya.

Untuk diketahui, Konagai merupakan kota yang tidak mudah untuk dikunjungi pelancong jika tidak menyewa mobil. Meski sulit tanpa kendaraan pribadi atau sewaan, daerah pedesaan yang satu ini tetap memiliki layanan bus reguler tetapi jarang beroperasi.

Baca juga: Pertama di Dunia! Cina Perkenalkan Halte Bus Cetak 3D dari Bahan Daur Ulang

Namun bila pelancong ingin menikmati pemandangan halte buah dan kesunyian Konagai tanpa kendaraan pribadi bisa menggunakan kereta dari Stasiun Nagasaki menuju ke Stasiun Konagai memakan waktu sekitar satu jam 15 menit dengan kereta lokal yang berjalan di sepanjang Jalur Utama JR Nagasaki. Kemudian berjalan ke Highway 207 dan menuju ke arah timur dan akan menemukan beberapa halte bus yang paling indah berada di sepanjang garis pantai. Bisa dikatakan Konagai adalah kota yang sepi dan sunyi sebab sebagian besar restoran dan pom bensin pun terlihat tutup.

Fukuoka ke Osaka Bisa Naik Kapal Ferry yang Punya Fasilitas Pemandian Air Panas

Menikmati perjalanan di Jepang tak melulu harus menggunakan kereta atau pun pesawat. Sebab, jalur laut dengan kapal ferry pun bisa menjadi pilihan lainnya. Salah satu operator yang mengoperasikan kapal ferry jarak jauh ialah Meimon Taiyo Ferry yang berlayar dari prefektur Osaka menuju ke Fukuoka.

Baca juga: Stena Hollandica, Inilah Kapal Ferry Terbesar dengan Fasilitas ala Kapal Pesiar

Meimo Taiyo mengoperasikan dua kapal ferry setiap harinya dengan keberangkatan pukul 17.00 dan 19.50 waktu setempat. Perjalanan tersebut akan menghabiskan waktu semalaman di mana Anda akan tiba pukul 05.30 atay 08.30 pagi tergantung kapal ferry yang ditumpangi.

KabarPenumpang.com melansir japantoday.com (14/6/2021), perjalanan dengan kapal ferry ini ternyata bisa menghemat biaya pemesanan hotel. Meski hadir dengan kelas ekonomi, tetapi tiketnya lebih murah sepuluh ribu yen dibandingkan dengan tiket shinkansen dengan jarak tempuh yang sama.

Penumpang yang berangkat dari Fukuoka akan naik dari Pelabuhan Shinmoji di kota Kotakyusu dan akan check in di lantai satu. Meski bangunan pelabuhannya tidak mewah, tetapi aula kapal ferry sangat berkelas dan menawarkan beberapa fasilitas yang cukup bagus dan bisa didapatkan dalam waktu beberapa detik.

Penumpang sebelum menikmati fasilitas akan mencari kursi atau ruang tidur sesuai yang tertera pada tiket. Di dalam ruang tidur, akan ada alas tidur, bantal, selimut dan beberapa rak untuk meletakkan barang bawaan Anda. Di dalam kapal ferry tersebut, selain kamar madi juga dilengkapi dengan pemandian umum daiyokujo yang bergaya Jepang dan buka sampai pukul 22.00.

Bahkan ruang pemandiannya pun dilengkapi dengan jendela sehingga penumpang bisa melihat pemandangan sembari berendam. Kapal ferry milik Meimo Taiyo ini akan melintasi ejumlah jembatan indah yang menghubungkan pulau utama Kepang Honshu dan pulau kecil Shikoku. Anda juga dapat melihat beberapa pemandangan indah dari ruang makan, dan jika Anda belum membawa makanan sendiri, paket makan malam/sarapan ditawarkan seharga 1.600 yen.

Makanan yang disiapkan di kapal ferry pun lebih dari 40 pilihan termasuk katsuo tataki (bonito bakar) dan chikuzenni (ayam rebus dan sayuran akar). Minuman beralkohol bahkan tersedia dengan biaya tambahan. Namun untuk sarapan tersedia lebih sedikit menu karena Anda akan makan sebelum pukul 05.00 pagi sebab akan tiba pukul 05.30.

Baca juga: Baru Selesai Dibangun dan Dikirim, Kapal Ferry Terbesar di Cina Mengalami Kebakaran

Di dalam kapal ferry ini juga ada toko yang menjual suvenir dan perlengkapan mandi serta mesin penjual otomatis. Bahkan ada loker koin yang bisa digunakan untuk menyimpan barang pribadi. Setelah 12 jam pelayaran, kapal ferry ini akan tiba di Pelabuhan Nanko Osaka dan operator mengklaim tidak pernah ada keterlambatan selama operasionalnya.

Terungkap! Walau Maskapai Krisis Keuangan, Gaji Pilot Tetap Selangit

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS), Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) belum lama ini mengeluarkan Buku Pegangan Outlook Pekerjaan 2020. Dalam outlook tersebut, fakta pilot maskapai penerbangan bergaji tinggi -sekalipun maskapai sedang mengalami krisis keuangan di tengah pandemi virus Corona seperti sekarang ini- pun terungkap.

Baca juga: (1) Hidup Bak ‘Raja’, Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Dalam setahun, rata-rata pilot, termasuk insinyur penerbangan dan kopilot, di AS memperoleh gaji sebesar US$160.970 atau sekitar Rp2,2 miliar (kurs 14.271) sepanjang 2020, atau hampir empat kali lipat gaji atau upah rata-rata semua pekerja di AS, yang hanya membawa pulang rata-rata US$41.950 atau Rp598 juta (kurs 14.271) per tahun.

Perlu di catat, BLS tidak menghitung berbagai tunjangan atau per diem pay airline pilot, kopilot, dan insinyur penerbangan; termasuk tunjangan international flight. Bila digabung dengan itu semua serta potensi pendapatan secara keseluruhan, terbayang bukan berapa gaji atau uang yang dibawa pulang pilot per bulan atau per tahunnya?

Pada Mei 2020, upah tahunan rata-rata untuk pilot maskapai penerbangan, kopilot (first officer), dan insinyur penerbangan (flight engineer) tertinggi di kategori penerbangan atau transportasi udara berjadwal sebesar US$173.780 atau Rp2,4 miliar per tahun.

Sedangkan untuk pilot, kopilot, dan insinyur penerbangan di kategori penerbangan atau transportasi udara tidak berjadwal mendapat gaji tahunan rata-rata sebesar US$117.030 atau Rp1,6 miliar.

Lebih spesifik lagi, data BLS 2020 yang dikutip Flying Mag, menunjukkan gaji rata-rata tahunan di kategori pilot komersial, mulai dari penerbangan tidak berjadwal, berjadwal, charter, joy flight atau tamasya udara, dan aerial application, termasuk pilot helikopter, sebesar US$93.300 atau Rp1,3 miliar.

10 persen terendah dari mereka mendapat gaji US$47.570 ATAU Rp677 juta dan 10 persen tertinggi membawa pulang gaji US$200.920 atau Rp2,8 miliar.

Di AS, pemerintah federal mengatur bahwa pilot maskapai penerbangan rata-rata terbang 75 jam per bulan dan tambahan 150 jam per bulan untuk melakukan berbagai aktivitas pra penerbangan, seperti mengecek kondisi cuaca, menyiapkan rencana penerbangan, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, banyak versi berapa gaji pilot per bulan. Ada yang menyebut Rp100 juta per bulan, Rp60 juta, Rp100-150 juta per bulan, bahkan di atas Rp10 juta per bulan.

Adapun pendapatan real dan bersihnya, setelah ditambah tunjangan dan lain-lain memang tak pernah terungkap. Tetapi, itu semua bisa dilihat dengan glamoritas kehidupan pilot yang erat dengan segala hal tentang kemewahan.

Hanya saja, gaji besar pilot menjadi tanda tanya di tengah krisis keuangan berbagai maskapai dalam negeri, khususnya Garuda Indonesia.

Menurut sumber KabarPenumpang.com, di tengah krisis keuangan maskapai, Garuda disebut masih mempertahankan skema minimum guarantee hour (MGH) atau terbang tidak terbang tetap dibayar. Celakanya, MGH itu dipatok terlalu tinggi dan terus memberatkan maskapai.

Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Selain itu, MGH juga tak adil mengingat seluruh karyawan, dari yang tertinggi sampai yang paling bawah, dikenai pemotongan gaji untuk menyehatkan keuangan maskapai. Direktur Utama Garuda Indonesia saat ini, Irfan Setiaputra, disebut tak berani melawan posisi strategis pilot yang bila tiba-tiba mogok sudah pasti maskapai bakal kalang kabut.

Terkait MGH, redaksi KabarPenumpang.com sendiri sebetulnya sudah menanyakan langsung dengan Irfan Setiaputra dan hanya dijawab, “Kita beresin (dengan) cara lain”.

GE dan Safran Luncurkan Mesin ‘Rotor Terbuka’ Ramah Lingkungan, Ditentang Boeing?

GE dan Safran, perusahaan dirgantara asal Amerika Serikat (AS) dan Perancis, melalui anak perusahan patungan keduanya, CFM International, meluncurkan desain mesin turbin gas baru dengan rotor terbuka (open rotor engine).

Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035

Mesin rotor terbuka disebut sebagai masa depan penerbangan berkelanjutan atau ramah lingkungan. Teknologi mesin rotor terbuka (tanpa ditutup nacelle, layaknya pesawat propeller) dinilai lebih kompatibel dengan bahan bakar dengan biofuel atau hidrogen. Tak hanya itu, mesin ini juga memungkinkan beroperasi dengan listrik hibrida (hybrid).

CEO GE Aviation, John Slattery, mengatakan mesin dengan total 12 bilah kipas berputar dan 12 bilah kipas fixed (stator) tersebut mampu mengurangi pembakaran bahan bakar (lebih efisien) sampai setidaknya 20 persen, menjadi solusi tantangan dekarbonisasi di masa mendatang.

Namun, menurut CEO Safran, Olivier Andries, efisiensi mesin dalam mengurangi bahan bakar sampai 20 persen belumlah cukup.

Disebutkan, di masa mendatang, pesawat generasi berikutnya harus bisa mengurangi emisi sampai 90 persen, dengan rincian 40 persen dari mesin berteknologi mutakhir dan teknologi pada badan pesawat (seperti teknologi kulit ikan hiu Lufthansa), 40 persen dari penggunaan bahan bakar berkelanjutan atau ramah lingkungan, dan 10 persen dari efektivitas arus lalu lintas udara dan bandara.

Bila tak ada aral melintang, laporan Seattle Times, mesin rotor terbuka bisa beroperasi bersama pesawat maskapai tahun 2030 mendatang. Tetapi, itu mungkin akan molor mengingat tarik ulur politik trans-nasional antara AS-Eropa melalui Boeing-Airbus.

Tahun lalu, Airbus menegaskan komitmennya untuk memproduksi pesawat komersial ramah lingkungan (bebas emisi) bertenaga hidrogen pertama di dunia pada 2035 mendatang. Tak tanggung-tanggung, Airbus meluncurkan tiga konsep pesawat ramah lingkungan sekaligus yang diberi kode nama ZEROe, yaitu Turbuprop, Turbofan, dan Blended-Wing Body.

Untuk mewujudkan target pesawat hidrogen Airbus mengudara tahun 2035, Faury melanjutkan, dibutuhkan dukungan dari pemerintah, perusahaan terkait, serta ekosistem industri penerbangan seluruh dunia.

Aliansi Hidrogen Bersih Eropa (ECHA) sendiri dikabarkan bakal menggelontorkan dana sebesar €430 miliar atau setara Rp7.451 triliun (kurs 17.270) untuk membantu meningkatkan rantai pasokan hidrogen di seluruh dunia.

Bila tak ada aral melintang, target Airbus tersebut 15 tahun lebih cepat dari prediksi Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), dimana industri penerbangan global baru bisa mewujudkan 100 persen penerbangan ramah lingkungan pada 2050 mendatang. Bila hal itu terjadi, emisi yang dihasilkan transportasi udara bakal turun sebesar 63 persen.

Berbeda dengan Airbus, Boeing justru pesimis dengan penerbangan ramah lingkungan berbasis pesawat bertenaga hidrogen.

Boeing mengaku tak yakin bahwa hidrogen akan menjadi bahan bakar pesawat di masa depan. Agar tetap berkontribusi terhadap program keberlanjutan atau sustainability goals, sebagai gantinya, Boeing akan mencari cara lain.

Baca juga: Boeing Tak Yakin Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen, Sindir Airbus?

Pihaknya juga menegaskan komitmen untuk membuat pesawat komersial 100 persen menggunakan berbahan bakar ramah lingkungan pada 2030 mendatang, meski tak disebut detail bahan bakar ramah lingkungan apa yang dimaksud.

CEO Boeing, David David Calhoun, mengungkapkan bahwa para pelaku bisnis dirgantara merasa bahwa industri masih jauh dari kata siap untuk mengembangkan teknologi ini.

Airbus Mulai Kerjakan Tangki Bahan Bakar Hidrogen Pesawat, Boeing Panas-Dingin

Airbus serius menggarap pesawat ramah lingkungan bertenaga hidrogen. Karenanya, produsen pesawat asal Eropa itu mulai membangun Pusat Pengembangan Tanpa Emisi (ZDEC) di Bremen, Jerman dan Nantes, Perancis. Itu nantinya akan menjadi pusat pengerjaan pembuatan tangki kriogenik bahan bakar hidrogen ZEROe Airbus.

Baca juga: Boeing Tak Yakin Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen, Sindir Airbus?

Dalam lama resminya, Airbus mengatakan bahwa pembangunan ZDEC memerlukan waktu dan tak secepat kilat, mengingat butuh detail-detail berteknologi tinggi. Diperkirakan, itu baru bisa beroperasi penuh pada 2023 mendatang. Setelah beroperasi penuh, tangki bahan bakar hidrogen cair diproyeksi rampung dan melakukan uji terbang perdana pada 2025.

Menurut Airbus, fasilitas Bremen-nya itu telah memiliki pengalaman luas terhadap sistem hidrogen cair. Pihaknya sudah melalui banyak proyek serupa guna mendukung bisnis Defence and Space business and the Ariane space division. Fasilitas ini akan fokus pada instalasi sistem dan pengujian kriogenik (mempelajari temperatur sangat rendah) tangki.

Adapun fasilitas di Nantes, lanjut Airbus, memfokuskan diri dalam struktur logam yang digunakan di sekitar center wing box pesawat. Mereka akan bertanggung jawab untuk mengembangkan teknologi logam dan komposit untuk diintegrasikan ke dalam tangki hidrogen. Fasilitas ini akan didukung oleh para ahli engineering Nantes Technocentre.

Tangki bahan bakar disebut akan menjadi kompenen penting dalam pengembangan pesawat ramah lingkungan ZEROe Airbus pada 2035 mendatang. Sebab, hidrogen cair wajib dijaga pada suhu minus 214 derajat celcius, sangat rendah. Tak hanya itu, tangki juga wajib mampu menahan panas berulang ekstrem dari pembakaran bahan bakar.

Di awal, Airbus berencana membuat tangki bahan bakar hidrogen menggunakan logam. Tetapi itu berubah menjadi menggunakan komposit polimer yang diperkuat serat karbon. Tak disebutkan dengan jelas perbedaan antar keduanya.

Inovasi dari Airbus ini tentu membuat Boeing panas-dingin. Betapa tidak, di tengah ramainya pengembangan pesawat bertenaga hidrogen dan perbicangan terkait hidrogen sebagai bahan bakar bekerlanjutan di masa depan, Boeing justru bersikap pesimis.

CEO Boeing, David David Calhoun, awal Januari lalu, mengungkapkan bahwa para pelaku bisnis dirgantara merasa bahwa industri masih jauh dari kata siap untuk mengembangkan teknologi ini.

“Saya memiliki cukup banyak pengalaman dengan hidrogen, perusahaan kami memiliki pengalaman yang luar biasa dengan hidrogen. Setidaknya dalam ukuran badan pesawat yang kita semua bicarakan. Kami bereksperimen pada harga rendah, tapi itu tidak akan menjadi pasar yang berarti di sini,” katanya kepada Simple Flying.

Baca juga: Airbus Luncurkan ‘The Pod’ Pesawat Sel Bahan Bakar Hidrogen 6 Baling-baling

Sebelumnya, pada September 2020 lalu, Airbus merilis tiga konsep pesawat hidrogen. Hal tersebut merupakan bagian dari komitmen produsen pesawat asal Eropa itu untuk memproduksi pesawat komersial ramah lingkungan (bebas emisi) bertenaga hidrogen pertama di dunia pada 2035 mendatang.

Dalam laman Twitter resmi perusahaan, ketiga konsep – semua diberi kode nama ZEROe – tersebut antara lain, pertama, desain turboprop, turbofan, dan blended-wing body.

Hitachi dan Arrival Berikan Solusi dan Infrastruktur Baru ke Industri Bus Eropa

Hitachi Europe, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Hitachi, dan Arrival, telah bermitra untuk memberikan solusi bus dan infrastruktur baru ke industri bus Eropa. Kemitraan non-eksklusif menggabungkan kemampuan digital dan operasional Hitachi dengan produk-produk Arrival yang dikatakan kompetitif dalam harga dengan alternatif bahan bakar fosil.

Baca juga: Busworld South East Asia 2019 Resmi Dibuka, Unggulkan Solusi Bus Listrik dan Ramah Lingkungan

Keduanya mengatakan akan bekerja dengan operator untuk menyebarkan solusi ujung ke ujung integrasi yang menggabungkan semua aspek memiliki dan mengoperasikan kendaraan kedatangan. KabarPenumpang.com melansir just-auto.com (11/6/2021), hal tersebut juga termasuk item seperti infrastruktur pengisian daya dan alat digital.

Keduanya juga mengklaim bahwa penyebaran solusi ini tidak hanya menyederhanakan transisi ke listrik tetapi saat dikombinasikan dengan total biaya kepemilikan yang lebih rendah yang disediakan oleh kendaraan dan teknologi Arrival.

Di mana ini akan menciptakan model keuangan yang sangat menarik dan mempercepat transisi kendaraan listrik untuk bisnis di seluruh dunia. Perusahaan mengatakan bahwa selain menyediakan pelanggan dengan ekonomi yang luar biasa ketika beralih ke listrik, solusi terintegrasi canggih dari Hitachi juga akan memungkinkan pengumpulan data dari banyak sensor dalam Bus Kedatangan untuk lebih mengoptimalkan operasi pelanggan sebagai bagian dari hubungan.

“Kami senang bergabung dengan Arrival karena kami menjadi mitra pilihan bagi kotamadya dan operator bus untuk menghadirkan kendaraan listrik dan infrastruktur yang terintegrasi di seluruh kawasan. Ketika pemerintah ingin menghapus kendaraan bensin dan diesel dalam dekade berikutnya, menyediakan berbagai solusi dan teknologi yang diperlukan dengan cara yang terintegrasi, efisien, dan dapat dikelola secara operasional akan sangat penting bagi operator bus dan kotamadya di seluruh Eropa,” kata Mike Nugent, Head of EV, di Hitachi Europe.

Hamish Phillips, Kepala Penjualan Arrival di Inggris mengatakan, pihaknya senang bekerja sama dengan hitachi untuk menghadirkan operator bus cara lain untuk mempercepat transisi mereka ke listrik, membawa udara yang lebih bersih ke kota serta pengalaman yang lebih baik bagi penumpang di seluruh Eropa.

“Kendaraan Arrival telah memberikan total biaya kepemilikan yang jauh lebih rendah bagi pelanggan, dan ketika dimasukkan ke dalam model bisnis Hitachi, kami dapat melihat kasus bisnis yang lebih menarik bagi perusahaan untuk mentransisikan armada mereka ke listrik lebih cepat,” ujarnya.

Arrival mengatakan kendaraannya mewakili EV generasi berikutnya yang telah dikembangkan dari bawah ke atas menggunakan metode desain dan produksi baru perusahaan yang radikal. Pendekatan yang terintegrasi secara vertikal ini menggunakan perangkat keras, perangkat lunak, dan robotika yang dikembangkan sendiri memungkinkan produksi di Pabrik Mikro yang terdesentralisasi.

Baca juga: E-paper Bantu Penumpang Dapatkan Berbagai Informasi Secara Real Time di “Bus Stop”

Pabrik Mikro ini dapat digunakan di seluruh dunia untuk melayani permintaan dan meningkatkan biaya komunitas lokal dengan mempekerjakan talenta lokal, memanfaatkan rantai pasokan lokal, dan membayar pajak lokal. Ram Ramachander, Chief Commercial Officer for Social Innovation Business, Hitachi Europe mengatakan, Hitachi menciptakan ekosistem mitra dan solusi di seluruh rantai nilai EV untuk membantu pelanggan kami menavigasi transisi ke mobilitas listrik. Kemitraan kami dengan Arrival adalah langkah penting lainnya dalam mewujudkan strategi ini.

Bus Listrik Besutan Turki Akan Melayani Jerman

Kemajuan teknologi, membuat semua negara di dunia mulai mengubah penggunaan kendaraan mereka dari berbahan bakar minyak menjadi energi terbarukan, hidrogen hingga listrik. Salah satu perusahaan kendaraan Turki belum lama ini mengonfirmasi dalam sebuah pertnyataan pada hari Sabtu (11/6/2021) kemarin, mereka telah memenangkan sebuah tender untuk membangun bus listrik yang akan melayani di Jerman.

Baca juga: Roma Bakal Terima 100 Bus Listrik Hibrida Citaro dari Mercedes-Benz

KabarPenumpang.com melansir laman dailysabah.com (13/6/2021), perusahaan bernama Karsan ini berada di provinsi Burs, barat laut Turki dan menawarkan solusi transportasi yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas zaman. Solusi tersebut ialah bus listrik yang akan digunakan sebagai bagian dari jaringan transportasi umum di Weilheim, Jerman.

Lolosnya Karsan karena mengajukan penawaran paling sesuai tender yang diadakan untuk menyediakan transportasi umum kota dengan kendaraan yang lebih modern, ramah lingkungan serta ramah pengguna. Setelah lolos, Karsan kemudian menandatangani kontrak melalui dealer di Jerman yakni Quantron AG.

Hingga saat ini Karsan sudah hadir di 30 kota Eropa dengan hampir 200 kendaraan listrik. Untuk kendaraan listrik yang akan digunakan di kota Jerman, itu juga memenuhi standar tender yang diminta untuk penyimpanan dan pengisian, dengan persyaratan jangkauan harian setidaknya 250 kilometer (155 mil) per bus.

Untuk diketahui, Karsan akan mengirimkan lima bus listrik Atak Electric ke kota pada kuartal terakhir tahun ini. Tender dilakukan dalam lingkup “Konsep Bus Kota 2022” Kota Weilheim, yang bertujuan untuk mengganti kendaraan diesel kota dengan yang ramah lingkungan dan listrik.

Karsan akan mengirimkan bus listrik Atak Electric 2022, lima persen ke kota pada kuartal terakhir tahun ini, mengikuti tender, yang diadakan dalam lingkup karya “XNUMX City Bus Concept” Kota Weilheim, dalam lingkup diesel kota kendaraan transportasi untuk diganti dengan yang ramah lingkungan dan listrik.

Atak Electric, yang memiliki garis desain dinamis, menarik perhatian dengan lampu LED daytime running-nya. Motor listrik yang beroperasi di Atak Electric dengan tenaga 230 kW menghasilkan torsi 2.400 Nm, memberikan pengalaman berkendara performa tinggi bagi penggunanya.

Dengan total kapasitas 220 kWh dengan lima baterai 44 kWh yang dikembangkan oleh BMW, Atak Electric di kelas delapan meter (26 kaki) dapat diisi dalam lima jam dengan unit pengisian arus bolak-balik dan dalam tiga jam dengan unit pengisian cepat, sementara tetap di depan para pesaingnya dengan jangkauan 300 km.

Baca juga: VinBus, Inilah Model Bus Listrik Modern Produksi Vietnam

Selain itu, berkat sistem pengereman regeneratif yang menyediakan pemulihan energi, baterai dapat mengisi daya sendiri hingga 25 persen selama pengoperasian. Model yang menawarkan kapasitas penumpang 52 orang ini memiliki dua pilihan penempatan kursi yang berbeda, lipat 18+4 dan 21+4.

Hilangkan Stres Penguncian di Masa Pandemi, Stasiun Phnom Penh Punya Kafe Kereta

Penguncian di masa pandemi Covid-19 membuat banyak sektor industri harus rela tidak bisa beroperasi. Salah satu negara yang mengalaminya ialah Kamboja. Di mana negara yang sering disebut Kampuchea ini menutup layanan kereta api mereka.

Baca juga: Eks Jalur Kereta di Milan Diubah Menjadi Taman dengan Jalan Setapak Bergaya High Line

Hal ini membuat semua layanan kereta di Negeri Kedamaian dan Kemakmuran tersebut berhenti total. Bahkan jalur kereta api bandara baru ditutup tahun lalu dan membuat penumpang yang menuju ke Pelabuhan Sihanoukville ditangguhakan sejak Maret setelah Kamboja dilanda wabah Covid-19 terburuk.

Ketika pihak berwenang melonggarkan pembatasan virus setelah penguncian tiga minggu di ibu kota, pelanggan berbondong-bondong ke kafe untuk pemotretan dadakan dan es kopi (AFP)

Dilansir KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com (11/6/2021), untungnya setelah penguncian tiga minggu di ibukota, sebuah kafe di atas kereta muncul. Di mana kafe kereta ini hadir di Stasiun Phnom Penh.

Kehadiran kafe hipster tersebut, kini menjadi hub bagi para Instagrammer dan Facebooker yang mencari lokasi untuk selfie serta menikmati minuman dingin. Bahkan para kawula muda Kamboja sampai berbondong-bondong mengunjungi kafe kereta untuk melepas kerinduan mereka setelah penguncian di Phnom Penh.

Seorang pengunjung muda mengaku bahwa dirinya dan teman-temannya menjadikan kafe kereta tersebut sebagai tempat yang sering dikunjungi. Chan Thol mengatakan, kafe kereta adalah perubahan pemandangan yang menyenangkan setelah berminggu-minggu terkurung di rumah.

“Saya datang untuk bersantai dan berfoto bersama teman-teman dan menikmati kopi. Ini membantu mengurangi stres saya,” katanya.

Bahkan warga Phnom Penh mengatakan konsep kereta diubah menjadi kafe adalah hal unik. Manajer operasional penumpang Royal Railway Kamboja, Sak Vanny mengatakan, kereta hanya membutuhkan modifikasi kecil termasuk merobek kursi lama yang lengket dan menggantinya dengan kursi yang nyaman.

Baca juga: Jalur Mau Dihidupkan, Stasiun Demak Justru Sudah Menjadi Kafe

“Kami memiliki ide untuk mengubah gerbong kereta menjadi kafe kereta api untuk menghasilkan pendapatan bagi perusahaan dan membantu anggota staf bekerja selama pandemi. Kami tidak melakukan banyak perubahan agar tampilan aslinya tidak hilang … Ketika tamu datang ke sini mereka dapat memiliki perasaan yang sama seperti sedang naik kereta api,” katanya.

Untuk diketahui, negara ini memiliki lebih dari 600 km jalur yang membentang dari perbatasan utara dengan Thailand ke pantai selatan, tetapi perang dan pengabaian selama beberapa dekade telah menyebabkan kerusakan yang luas dan virus corona telah menutup banyak layanan yang tersisa.