Tak Kalah dengan Kokpit Pesawat, Kabin Masinis Juga Terapkan Standar Tinggi

Dunia pasti sudah tahu bahwa pesawat merupakan moda transportasi yang paling canggih dan melibatkan teknologi tinggi. Tak hanya itu, pesawat juga dikenal sebagai moda transportasi yang paling aman. Tak heran bila Direktur Utama PT TransJakarta, Sardjono Jhony Tjitrokusumo, belum lama ini, berikrar untuk membawa perseroannya menerapkan standar keselamatan tinggi sebagaimana pesawat.

Baca juga: Masinis Kereta Peluru Mules, Kondektur Tak Memiliki ‘SIM’ Gantikan di Ruang Kemudi

Salah satu bukti tingginya standar keselamatan pada pesawat bisa dilihat seberapa ketat aturan di kokpit atau ruang kemudi pesawat.

Dilansir DW, pintu kokpit modern setidaknya memiliki lima komponen utama, mulai dari pintu anti peluru dengan tambahan electronic triple bolt, lubang intip (peephole), kamera di kabin untuk memantau aktivitas penumpang dan kru, panel kontrol pintu kokpit dengan tiga mode (normal, lock, dan unlock), serta panel keyboard di area kabin dan telepon untuk komunikasi kru dengan pilot.

Di luar itu, pilot dan kopilot juga dilengkapi dengan sensor tekanan yang bekerja saat kabin kehilangan tekanan.

Sebagai bagian dari standar keamanan terbang, setiap pramugari yang hendak masuk ke kokpit, diharuskan membunyikan bel terlebih dahulu. Kru kokpit kemudian dapat mengecek secara visual dengan fitur lubang intip. Bila benar pramugari, tentu akan dibukakan, bila tidak, jangan harap pilot akan membuka dengan tulus.

Lagi pula, bila kedapatan bukan pramugari yang mengetuk atau menggedor pintu, bisa dipastikan, pilot akan mengaktifkan pengamanan tambahan pintu kokpit dengan mode ‘lock’ dalam keadaan on. Otomatis, tiga baut tambahan akan memperkuat ketahanan pintu kokpit terhadap segala macam bentuk pembobolan.

Di darat, kereta juga dikenal sebagai moda transportasi berteknologi tinggi. Meski tak secanggih pesawat, tetapi standar keamanannya tetap tinggi.

Dikutip dari laman Twitter Kementerian Perhubungan RI, disebutkan, standar keamanan tinggi kabin masinis diatur dalam Peraturan Menteri Nomor PM 24 tahun 2015 tentang Standar Keselamatan Perkeretaapian pasal 29.

Selain adanya berbagai SOP dan teknologi kontrol agar masinis tetap fokus dan steril, kabin masinis setidaknya memiliki tiga syarat keamanan; kebisingan maksimum 85dBA, mampu melindungi masinis dan asisten masinis dari gas buang bagi sarana perkeretaapian yang menggunakan motor diesel, dan memiliki ruang bebas pandangan ke depan tanpa terhalang badan lokomotif.

Semua persyaratan itu juga didukung dengan aktivitas pra kerja masinis, dimana mereka diwajibkan melakukan pemeriksaan kesehatan, assesment pradinas, pengecekan kondisi lokomotif dan mematuhi Standar Operasional Prosedur dalam pekerjaan.

Di samping itu, masinis diwajibkan mematuhi protokol kesehatan selama pandemi Covid-19 dengan mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Suhu tubuh, tekanan darah sampai tes alkohol pun dilakukan oleh tim kesehatan. Tim kesehatan akan memberikan alat tiup yang bisa mengukur kadar alkohol dalam tubuh, presentasinya harus nol, kalau tidak masinis tak boleh dinas.

Baca juga: Tidur Ketika Mengoperasikan MRT, Masinis ini Langsung Kena PHK

Setelah dinyatakan aman, tim kesehatan akan memberikan surat keterangan sehat yang sudah dicap kepada masinis dan asisten masinis. Mereka harus kembali ke Penyelia Dinas untuk menunjukkannya. Sekali lagi, para masinis dan asisten masinis kereta api ataupun KRL harus menunjukkan tanda kecakapan dengan penilaian singkat. Tunjuk sebut semboyan dilakukan untuk melihat fokus para masinis.

Bila itu semua sudah, Penyelia Dinas kemudian memberikan perlengkapan kerja kepada masinis, berupa arloji, suling mulut, dan senter. Tanda tangan persiapan dinas dibubuhkan, masinis menerima surat perintah perjalanan dinas. Masih belum selesai, masinis menerima O.100 atau tabel kereta api dan melakukan pengecekan lokomotif sebelum mulai bekerja.

Grab Hadirkan Robot Runner untuk Antar Makanan ke Titik Kumpul

Mengurangi pelayan menusia, super app Grab Singapura bersama dengan Lendlease melakukan inovasi menggunakan robot untuk memudahkan pesanan makan di restoran. Layanan autopilot tersebut bernama robot runner dan memulai uji cobanya di Paya Lebar Quarter Mall mulai pertengahan Juni 2021.

Baca juga: Bandara Minneapolis Hadirkan “Gita,” Robot Pengantar Makanan ke Pelancong

Robot tersebut akan membantu dalam mengatar pesanan restoran yang bermitra dengan Grab di beberapa restoran di dalam mall. KabarPenumpang.com mengutip wartakota.tribunnews.com, kehadiran robot runner mitra pengiriman Grab diproyeksikan dapat menghemat waktu lima hingga 15 menit dari waktu yang biasa dibutuhkan dalam melayani pesanan.

Bahkan sebelum kehadiran robot runner, Grab sudah mengenalkan fitur mix-and-match ke beberapa mall di Singapura tahun lalu. Kemudian ini menjadi populer di kalangan konsumen karena bisa memesan dari berbagai restoran di dalam mall dan hanya membayar satu biaya pengiriman.

“Lendlease bangga bermitra dengan Grab dalam proyek percontohan yang menggunakan teknologi untuk memfasilitasi layanan pesan-antar makanan yang lebih aman dan lebih cepat. Dengan lokasi sentral bagi pengendara Grab untuk mengambil pesanan dan penggunaan teknologi untuk mengelola alur kerja logistik, kami akan dapat meminimalkan kontak antar-orang dan melakukan bagian kami untuk menjaga kesejahteraan pengendara, penyewa, dan pelanggan,” kata Audrey Balakrishnan, Manajer Umum, Paya Lebar Quarter dilansir dari laman resmi Grab.

Managing Director Grab Singapore Yee Wee Tanga mengatakan, teknologi Robot Runner ini akan menunjang operasional restroan di dalam Mall. Berkat teknologi ini, diharapkan mitra Grab aman mencapai solusi untuk bisnis dan kolaborasi teknologi yang baik.

“Sebagai platform teknologi yang melayani konsumen, pedagang, dan pengendara pengiriman, kami terus mencari solusi inovatif yang dapat meningkatkan pengalaman pengiriman secara keseluruhan untuk semua pihak. Saya bersyukur bahwa Lendlease berbagi rasa lapar yang sama untuk membuat terobosan baru melalui teknologi yang mendalam dan sangat mendukung uji coba ini. Saya yakin ini akan memberi kami pembelajaran yang baik untuk iterasi di masa mendatang dan kami berharap dapat memiliki lebih banyak mitra yang bereksperimen dan mencoba solusi baru bersama kami,” kata Yee Wee Tang.

Grab Robot Runner dirancang dalam kemitraan dengan Techmetics Robotics yang berspesialisasi dalam merancang berbagai robot seluler otonomus. Robot rancangan Grab ini memiliki kemampuan untuk mempelajari lingkungannya melalui kecerdasan buatan (AI) dan mengoptimalkannya untuk efisiensi maksimum.

Robot ini dilengkapi dengan fitur keselamatan seperti sensor Light Detection and Ranging (LIDAR) built-in untuk mendeteksi rintangan yang masuk. Bahkan notifikasi pesan suara otomatis akan memberi tahu pembeli tentang keberadaannya dan kemampuan untuk memindai dan memantau jarak terdekatnya secara real time untuk menghindari rintangan mendadak dan mencegah insiden tabrakan.

“Karena kebersihan sangat penting bagi Grab dan konsumen kami, gerobak makanan pada pelari robot akan dilengkapi dengan kunci kombinasi. Kombinasi tersebut akan diberikan hanya kepada merchant yang berpartisipasi dan staf Grab yang berjaga di lokasi pengambilan, untuk mencegah gangguan oleh orang yang lewat,“ ujar Yee Wee Tang.

Baca juga: Akhirnya Robot Pembuat Mie Soba Mulai Beroperasi di Stasiun Jepang

Selama fase uji coba, robot runner ini berpotensi melayani hingga 35 merchant GrabFood dan GrabMart di basement dua PLQ Mall dan mengangkut sekitar lebih dari 250 pesanan per hari.

Pembayarannya Ditunda Garuda Indonesia, Apa Itu Sukuk Global?

Masih dalam situasi sulit, Garuda Indonesia akhirnya menunda pembayaran kupon global sukuk yang sudah jatuh tempo pada tanggal 17 Juni 2021. Terlepas dari berbagai alasan penundaan pembayaran tersebut, sebetulnya, apa itu sukuk global?

Baca juga: Bikin Bangkrut, Garuda Indonesia Kembalikan 50 Pesawat ke Lessor

Dalam fatwa nomor 32/DSN-MUI/IX/2002, Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI), disebutkan bahwa sukuk adalah surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil margin atau fee, serta membayar kembali dana obligasi saat jatuh tempo.

Sedangkan Global Sukuk atau Sukuk Global, dilansir laman HSBC Indonesia, adalah surat utang yang diterbitkan oleh emiten dalam denominasi USD (US Dollar) untuk jangka waktu tertentu dengan kupon tetap.

Emiten atau pihak yang menerbitkan Sukuk Global, dalam hal ini Garuda Indonesia, menjamin pengembalian nilai pokok pada periode tertentu atau saat jatuh tempo ditambah dengan kupon atau bagi hasil (bukan bunga mengingat sukuk pada dasarnya berpegang pada prinsip syariah) yang akan dibayarkan secara berkala. Struktur obligasi ini adalah obligasi berbasis Syariah tanpa jaminan.

Global Sukuk bisa diterbitkan oleh siapapun, baik pemerintah, BUMN maupun swasta. Meski terlihat ada uang lebih yang dibayarkan dari nominal utang, namun itu bukanlah riba yang secara prinsip dilarang oleh syariah.

Letak perbedaannya tentu pada akad Sukuk Global itu sendiri. Masih dalam fatwa DSN MUI, setidaknya ada tujuh ketentuan umum atau akad dalam penerbitan Sukuk Global, seperti bagi hasil dan lain sebagainya.

Bulan Mei lalu, dari rekaman meeting internal yang bocor ke media, posisi utang Garuda Indonesia diungkap Direktur Utamanya, Irfan Setiaputra, berada di posisi Rp70 triliun. Setiap bulan, Garuda rugi hingga US$100 juta atau sekitar Rp1 triliun.

Dalam pemaparan pengamat BUMN, Toto Pranoto, di webinar Intipesan Institute bertajuk “Menyelamatkan Garuda – Dialog Manajemen” Garuda Indonesia diketahui memiliki struktur cost dimana 30 persennya utang. Detailnya, sebanyak 21,8 persen utang jangka panjang dan 2,5 persennya utang jangka pendek.

Baca juga: Disebut Sudah Bangkrut, Ini 6 ‘Dosa’ Garuda Indonesia dari Masa ke Masa

Terkait penundaan pembayaran kupon Sukuk Global ini, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan, “Keputusan Garuda Indonesia untuk melakukan penundaan pembayaran kupon global sukuk ini merupakan langkah berat yang tidak terhindarkan dan harus ditempuh Perseroan ditengah fokus perbaikan kinerja usaha serta tantangan industri penerbangan imbas pandemi yang saat ini masih terus berlangsung”.

“Oleh karenanya, kami turut menyampaikan apresiasi atas dukungan yang senantiasa diberikan para pemegang sukuk atas upaya yang tengah dioptimalkan Perseroan terhadap keberlangsungan dan masa depan bisnis Garuda Indonesia dimasa yang penuh tantangan ini,” lanjutnya.

Inilah Space Shuttle Café, Food Truck Bertema Pesawat Luar Angkasa

Selama ini, pesawat bekas tak sedikit yang dijadikan restoran. Namun, rata-rata dari mereka berkonsep dine in di dalam pesawat yang sudah direnovasi layaknya restoran. Tetapi, di Manhattan, New York, pesawat Douglas DC3 disulap menjadi restoran berkonsep food truck, Space Shuttle Café.

Baca juga: Pensiun dari Dunia Aviasi, Boeing 747 Disulap Jadi Restoran Mewah

Sebagaimana namanya, food truck tersebut juga dirombak sedemikian rupa sampai mirip sekali dengan Space Shuttle, wahana antariksa AS.

Layaknya food truck pada umumnya, Space Shuttle Café menjajaki makanan-minuman ringan, seperti burger minum-minuman bersoda, sup, jamur, ayam dan daging panggang, udang scampi, dan lain sebagainya.

Dilansir douglasdc3.com, ide untuk membuat food truck Space Shuttle Café dimulai sejak tahun 1982. Ketika itu, Phil dan istrinya, Becky, membuat pesawat eksperimental yang disebut “Long EZ” dan bergabung dengan klub Experimental Aircraft Association. Setiap tahun, Phil dan istrinya turut berpartisipasi dalam airshow tahunan selama beberapa kali.

Dalam sebuah kesempatan, di sela-sela airshow, Phil ditawari oleh penjual es krim gerobakan untuk menyewanya dan ia pun setuju. Setelah dua tahun, gerobak beserta peralatannya dijual. Sejak saat itu ia mulai berbisnis es krim gerobakan.

Di tahun kedua menjalani bisnis itu, ia mulai berpikir untuk membuat food truck mengingat bisnis gerobakannya sudah tak lagi menampung saking banyaknya pembeli.

Ia dan istri kemudian berniat menyulap pesawat B52 menjadi food trucknya. Tetapi, setelah ditimbang-timbang, pesawat tersebut tak cocok. Pilihan kemudian jatuh ke Douglas DC3 “The Shuttle”. Pesawat veteran Perang Dunia II itu rumornya pernah dibajak ke Havana, Kuba selama tahun 1960-an dan dikirim ke AS.

Singkat cerita, pesawat itu pun dibeli oleh Phil dan Becky dan diubah sepenuhnya menjadi Space Shuttle. Bagian kokpitnya tetap menyerupai DC3, adapun bagian dalamnya dirombak menjadi dapur. Awalnya, ini ditujukan untuk di acara airshow saja.

Space Shuttle Café tercatat memulai debut pada 23-24 Agustus di Camarillo Air Show tahun 2003.

Baca juga: Dijual Restoran Terbesar Bekas Airbus A340 di Turki Seharga Rp20 Miliar, Berminat?

Sejak saat itu, bisnis keluarga Phil dan Becky menjadi sangat familiar tak hanya di California Selatan, tetapi juga di beberapa wilayah lainnya di AS. Seiring berjalannya waktu, food truck tersebut kemudian berkeliling banyak wilayah di AS untuk menjajakan makanan.

Akan tetapi, entah apa yang terjadi, Phil dan Becky menjual itu ke orang lain. Sampai sekarang, pemilik restoran terus berganti selama bertahun-tahun. Sehingga, terkadang ‘pesawat’ ini tidak menjual makanan sama sekali. Kini, pesawat tersebut dijual seharga USD 230 ribu atau setara dengan Rp 3,2 miliar. Ada yang berminat?

Totoro, Stasiun Kereta Tanpa ‘Raksasa Hutan’

Totoro, bagi penduduk Jepang yang lahir tahun 80-an tak asing mendengarnya dan langsung membayangkan sosok raksasa hutan yang ramah dari film animasi Studio Ghibli. Film berjudul My Neighbor Totoro ini dibuat tahun 1988.

Baca juga: Eksentrik, Stasiun Nagatoshi Punya “Torii” di Atas Rel

Namun yang dibahas KabarPenumpang.com bukanlah Totoro si raksasa baik hati tetapi sebuah stasiun yang berada di prefektur Miyazaki di Pulau Selatan Kyushu, Totoro. Dilansir dari laman soranews24.com (11/6/2021), ternyata stasiun ini tidaklah besar melainkan jauh lebih kecil dan tidak ditemukan karakter raksasa hutan Totoro.

Stasiun ini justru memiliki latar belakang pesona pedesaan yang santai dan sama seperti setting film My Neighbor Totoro. Stasiun ini tidak memiliki petugas dan jadwalnya menunjukkan bahwa kereta berjalan sekali atau dua kali dalam satu jam dari pukul 07.21 pagi hingga 19 menit lewat tengah malam, ke arah Nobeoka.

Meski tidak ada raksasa, tapi yang menarik adalah tanda nama stasiun bertuliskan Totoro dalam bahasa Inggris dan Jepang. Stasiun Totoro dioperasikan oleh perusahaan kereta api Kyushu atau JR Khyusu. Setiap harinya stasiun ini melayani kurang dari seratus penumpang.

Pada periode liburan Golden Week tahunan daerah ini menyambut ratusan pelancong. Selain itu juga penuh pelancong saat acara clamming yang populer diadakan di pantainya. Penduduk setempat mengatakan, Teluk Totoro pernah dipadati oleh perahu nelayan besar dan kapal pesiar.

Di mana deretan penginapan berfungsi sebagai tempat peristirahatan para nelayan dan sejarah ini diabadikan dengan gambar seorang nelayan di papan nama stasiun. Tanpa Totoro yang terlihat, jelas bahwa kota ini tidak mengklaim terhubung dengan Studio Ghibli. Namun, dapat dikatakan bahwa sutradara Ghibli Hayao Miyazaki mungkin telah menggunakan nama kota sebagai inspirasi ketika menamai karakter animasi yang gemuk.

Kadoppy bukan Totoro, tetapi didasarkan pada Murrelet Jepang, burung laut kecil yang ditetapkan sebagai harta alam oleh pemerintah Jepang. My Neighbor Totoro dibuat sebagai penghormatan kepada lokasi pedesaan seperti ini, dan jika Anda membiarkan imajinasi Anda menjadi liar, seperti dua saudara perempuan dari film, Anda mungkin akan menemukan Totoro Anda sendiri di Totoro.

Baca juga: Stasiun Seiryu Miharashi di Jepang, Stasiun Unik Tanpa Pintu Keluar

Kemungkinannya, dia tidak akan menunggu di halte bus, tetapi di stasiun kereta. Tentu, kota ini mungkin tidak memanfaatkan namanya yang terkenal dengan ikatan Ghibli atau gambar Totoro di daerah tersebut, tetapi ketika kita memikirkannya, jenis magnet wisata yang menarik perhatian itu sebenarnya akan merusak keindahan lokasi yang tenang.

Trans Cirebon Hadir Saat Ramadhan, Warga Naik untuk Ngabuburit Keliling Kota

nsBus rapid transit atau BRT bukan hanya meluncur di jalanan Jakarta, Medan dan Jogja. Tetapi kini juga menghiasi jalan-jalan di Cirebon dan menjadi moda transportasi baru bagi warga Kota Udang. Disebut dengan Trans Cirebon, bus ini mulai resmi beroperasi pada 12 April 2021.

Baca juga: Medan Kini Punya Transmetro Deli, Gratiskan Tiket Penumpang Hingga Akhir 2020

Trans Cirebon dilengkapi dengan berbagai fasilitas masa kini selain pendingin udara ada WiFi gratis yang bisa digunakan penumpang dan CCTV. Sama seperti BRT lainnya, Trans Cirebon pun pada awal pengoperasiannya tidak menarik ongkos dari penumpang.

Bus ini berwarna biru dan kehadirannya ternyata mendapat antusias tinggi dari masyarakat Cirebon untuk memanfaatkan trasportasi tersebut. Meluncur di masa puasa kemarin, warga memanfaatkan bus untuk berkeliling Cirebon sembari menunggu adzan Maghrib.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, warga Cirebon yang menaiki Trans Cirebon harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Di mana penumpang sebelum naik akan di cek suhu badannya serta menggunakan hand sanitizer yang disediakan dekat pintu masuk.

Saat awal peluncuran Trans Cirebon, meski saat itu tarif tidak dikenakan, tetapi petugas menjelaskan cara pembayaran non tunai ketika nantinya sudah mulai berbayar. Untuk tarifnya sendiri, penumpang umum akan dikenakan Rp5 ribu dan pelajar Rp3500.

Dengan pembayaran non tunai, penumpang bisa menggunakan berbagai aplikasi seperti GoPay, OVO, ShopeePay dan lainnya melalui QRIS. Meski begitu penumpang yang tidak menggunakan pembayaran non tunai juga bisa membayar dengan yang tunai. Kapasitas BRT ini adalah 30 orang untuk sekali jalan, dan di masa pandemi ini hanya keterisiannya 50 persen dari jumlah semestinya. Bus Trans Cirebon menggunakan armada dari Isuzu yang mana akan berhenti sekitar satu hingga dua menit di setiap halte.

Untuk kecepatannya, bus hanya melaju 40 km per jam. Saat ini baru koridor 1 yang beroperasu yakni melintas di Terminal Dukuh Semar – Jalan Pesantren – Jalan Ahmad Yani – Jalan Brigjend Dharsono – Jalan Kedawung – Jalan Pilang Raya – Jalan Slamet Riyadi – Jalan Diponegoro – Jalan Samadikun – Jalan Sisingamangaraja – Jalan Benteng – Jalan Yos Sudarso – Jalan Kesunean – Jalan Kalijaga – Jalan Ahmad Yani (Via bawah) – Jalan Pesantren.

Baca juga: Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Trans Metro akan berhenti dibeberapa halte yakni Kecamatan Kejaksaan, Balai Kelautan, Yos Sudarso, Karang Anom, dukuh Semar, SMPN 8 dan Monumen Juang. Khusus di Halte Dukuh Semar, Trans Metro akan berhenti cukup lama yakni sekitar 15 menit. Untuk diketahui, koridor selanjutnya akan melintasi Kabupaten Cirebon dan saat ini pengelola masih mempersiapkan jalur tersebut.

Perkenalkan Business Light, Jenis Tiket Baru di Pesawat, Traveler Wajib Coba!

Selama ini, traveler atau penumpang pesawat pada umumnya tahu bahwa hanya ada tiga jenis tiket; kelas ekonomi, bisnis (business class), dan kelas satu (first class); ditambah satu jenis lain yang belakangan menjadi umum, kelas ekonomi premium. Di luar itu tentu banyak ragamnya sekalipun esensinya sama.

Baca juga: Tiket Pesawat Naik Sehari Setelah “Travel Bubble” Singapura-Hong Kong Diumumkan

Qatar Airways, misalnya, pada tiket kelas satu penerbangan internasional Airbus A380 miliknya, tiket termahal disebut sebagai First Class Apartment. Kompetitor Timur Tengah mereka, Etihad, lebih keren lagi, dengan sebutan The Residence Etihad untuk jenis tiket first class.

Akan tetapi, menyesuaikan kebutuhan perjalanan selama pandemi Covid-19 yang cenderung fleksibel, penuh ketidakpastian, dan biasanya tak membutuhkan banyak barang bawaan, belum lama ini jenis tiket baru pun muncul, yaitu business light.

Bukan hanya sekedar penamaan, business light didesain memang benar-benar berbeda dan tepat jika disebut jenis tiket baru. Jenis tiket ini didesain khusus untuk para traveler yang ingin bepergian dengan harga terjangkau, tanpa bagasi kargo dan hanya berupa bagasi jinjing di dalam kabin, sambil merasakan nyamannya duduk di kursi kelas bisnis.

Adapun fasilitas kelas bisnis lainnya, seperti perubahan reservasi, refund, layanan prioritas bandara, akses lounge, dan WiFi on-board atau dalam pesawat tidak termasuk ke dalam layanan tike business light. Kendati demikian, penumpang yang memiliki tiket business light tetap bisa mendapatkan travel ekstra jika dibutuhkan.

Selain tiket business light, jenis tiket lain juga diperbarui, seperti ekonomi light, klasik, dan flex, serta business light, klasik, dan flex. Meski sama-sama berjenis ‘light’, business light dan ekonomi light tentu berbeda. Penumpang kelas ekonomi light dimungkinkan untuk upgrade ke business light dengan tambahan uang ataupun point.

Sedangkan tiket ekonomi/business klasik dan ekonomi/business flex lebih kepada fleksibilitas para penumpang. Ekonomi/business klasik memungkinkan penumpang mengubah tanggal dan nama yang tertera di tiket, termasuk bagasi terdaftar, dengan dikenai sedikit biaya tambahan dan tidak diperbolehkan refund tiket.

Adapun kelas ekonomi/business flex, serupa dengan klasik. Perbedaannya, penumpang di kelas ini dimungkinkan untuk refund tanpa dikenai biaya sepeserpun oleh Finnair, begitu laporan worldairlinenews.com.

Baca juga: Inilah Sebab Harga Tiket Kereta di Eropa Bisa “Bersaing” dengan Tiket Pesawat

Inovasi jenis tiket baru oleh Finnair ini tentu sangat brilian dalam membaca keinginan penumpang dalam bepergian di masa pandemi virus Corona. Jenis tiket ini juga cocok untuk diterapkan di rute internasional maupun domestik.

Di Indonesia, maskapai-maskapai dalam negeri mungkin tak ada salahnya meniru sambil memodifikasinya, mengingat tujuan dari diadakannya jenis tiket baru itu dan perubahan jenis tiket yang ada serupa dengan kondisi yang ada. Apalagi, seluruh maskapai di Indonesia, khususnya Garuda Indonesia -yang tengah terancam bangkrut- bisa dibilang fokus pada penerbangan domestik untuk saat ini.

Keren, Bandara di Italia Pasang CT-Scan dan Face Boarding! Penumpang Bebas Ribet

Bandara Milano Linate di Italia telah meresmikan terminal baru usai direnovasi berkat dukungan operator SEA Group sampai €40 juta atau sekitar Rp690 miliar (kurs 17.228). Terminal baru bandara tersebut menampilkan beberapa hal baru, mulai dari area check-in sampai area skirining.

Baca juga: Gegara Pandemi, Teknologi dan Layanan Penerbangan ini Harus Diadopsi Lebih Cepat

Selain perluasan lounge, area pujasera baru yang lebih fresh, yang paling menarik perhatian dari proyek perluasan terminal 10 ribu meter ini tentu kehadiran teknologi tinggi berupa computed tomography (CT scanner) atau CT-scan; melengkapi face boarding di area check-in.

Dilansir futuretravelexperience.com, berkat dua teknologi tersebut, proses skirining di bandara akan lebih cepat dan aman. Teknologi face boarding ini, dimana sidik jari penumpang dihubungkan dengan sidik jari biometrik, ID, dan boarding pass, memungkinkan penumpang melewati berbagai pos pemeriksaan tanpa mengeluarkan kartu identitas.

Mesin EDS-CB (Sistem Deteksi Peledak untuk Bagasi Kabin) baru yang telah dipasang menggunakan teknologi CT-scan kemudian melengkapi proses pemeriksaan menjadi lebih mudah, aman, dan cepat, menggantikan teknologi pemindai dengan sinar-X (X-ray) yang sudah kuno (karena sudah digunakan sejak 1980an di AS) masih masif digunakan sampai saat ini.

Kita tahu, hasil skrining sinar-X tak tak lebih baik ketimbang CT-scan. Hasil pindaian X-ray diketahui berbentuk citra gambar dua dimensi. Petugas yang mencurigai ada barang terlarang untuk dibawa masuk ke dalam pesawat terbang akan meminta calon penumpang untuk membuka tasnya dan melakukan pemeriksaan manual.

Sedangkan dengan CT scanner, petugas keamanan bandara bisa mendapatkan citra tiga dimensi dari tas yang dipindai. Jauh lebih jelas dibanding dua dimensi hasil pemindaian X-ray.

Di AS, hasil penelitian pada 2017 lalu, penggunaan CT –scan atau CT-scanner di bandara dapat mempercepat pergerakan lebih banyak penumpang melewati pos pemeriksaan keamanan, dari 180 menjadi 500 penumpang per jam.

Bagaimana tidak lebih cepat dibanding X-ray, dengan teknologi CT-Scan di bandara, penumpang tak lagi perlu mengeluarkan barang elektronik atau cairan yang disimpan di dalam koper atau tas. Sebab, semuanya sudah jelas terlihat dari hasil CT-scan.

Kendati perusahaan-perusahaan AS, salah satunya Analogic Corp, sudah melakukan penelitian dan pengembangan CT scan terlebih dahulu, namun, penggunaan pemindai CT atau CT-scan di bandara pertama di dunia bukan dari sana, atau dari Italia yang baru mengoperasikan baru-baru ini; melainkan datang dari bandara kebanggaan Belanda, Schiphol Airport, yakni sejak Mei 2021 lalu.

Baca juga: Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona

“Ini adalah yang pertama di dunia. Kabar baik bagi penumpang karena mereka tidak lagi diharuskan mengeluarkan cairan dan barang elektronik dari tas mereka saat melewati pos keamanan. Ini juga baik untuk staf keamanan. CT scan memungkinkan mereka untuk memeriksa bagasi di layar mereka. dalam 3D dan bahkan memutarnya 360 derajat,” kata Hedzer Komduur, wakil direktur Keselamatan, Keamanan dan Lingkungan Royal Schiphol Group.

Terkait dengan upaya melawan Covid-19, CT-Scan juga ampuh digunakan di bandara-bandara. CT Scan Thoraks Low Dose disebut mampu mendiagnosis penumpang pesawat.

Airbus A350 Cathay Pacific Terbang dengan Satu Pilot Mulai 2025!

Cathay Pacific mulai menerbangkan armada Airbus A350-nya dengan satu pilot mulai 2025 mendatang. Itu dilakoni di hampir seluruh penerbangan jarak jauh A350, dengan catatan proses sertifikasi berjalan lancar sesuai rencana. Dengan begitu, kebutuhan pilot maskapai Hong Kong itu bisa ditekan.

Baca juga: Pertama di Dunia, Airbus A350-1000 Berhasil Lepas Landas, Landing, dan Taxi Otomatis! Pilot Terancam?

Saat ini, Cathay Pacific telah memulai mimpi berbalut Project Connect tersebut bersama Airbus untuk mengembangkan operasi penerbangan jarak jauh A350 dengan hanya satu pilot.

Di bawah Project Connect, A350 hanya membutuhkan satu pilot di kokpit selama cruising di ketinggian. Dengan begitu, maskapai dimungkinkan memangkas pilot dalam penerbangan jarak jauh, dari semula empat atau tiga pilot menjadi hanya dua, dengan skema saling back-up satu sama lain untuk istirahat.

Kendati demikian, Cathay Pacific belum akan meluncurkan penerbangan A350 satu pilot usai mendapat sertifikasi dari regulator. Keamanan akan menjadi proritas utama maskapai dan masih mengkaji pendapat para penumpang terkait itu.

Disebutkan, gagasan terbang satu pilot tentu akan membuat penumpang takut karena menyangkut keamanan dan keselamatan penerbangan. Bukan hanya penumpang, regulator dan pilot sendiri mungkin juga bersikap sama.

Oleh karenanya, Airbus memiliki pekerjaan rumah sangat besar untuk membuatnya aman dan zero accident dalam prosesnya. Hanya dengan cara itu yang dinilai bisa membuat penumpang percaya.

Saat ini, regulator Eropa atau Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) tengah membahas berbagai persyaratan sistem pilot tunggal (single pilot) A350. Dibutuhkan teknologi tinggi untuk memantau seluruh sistem secara real time. Jika terjadi keadaan darurat, andai kata teknologi tak mampu menanganinya, pilot harus cepat sampai dalam hitungan detik.

Laporan Reuters, serikat pilot tentu saja menolak wacana single pilot A350. Selain mendatangkan PHK massal di seluruh dunia, masalah keamanan juga menjadi dalihnya. Dua kecelakaan Boeing 737 MAX pun disebut menjadi bukti rentannya teknologi baru atau peningkatan otomatisasi terhadap keselamatan.

Kendati diragukan, Airbus mengaku yakin bahwa teknologinya, semisal fitur flight warning seperti emergency descent, bisa menjawab keraguan regulator dan khalayak ramai.

Pada 2020 lalu, pesawat A350-1000 dilaporkan sudah berhasil lepas landas, landing, dan taxi otomatis dalam proyek kemanusiaan, mengangkut peratalan medis dari Beijing ke berbagai rumah sakit di Eropa.

Andai kata proyek single pilot ini berhasil tentu akan sangat menguntungkan maskapai. Bank Swiss UBS pernah memperkirakan bahwa seorang pilot biasanya dalam kendali penuh dari pesawat jet selama rata-rata hanya tujuh menit pada setiap penerbangan. Ia juga mengklaim bahwa pesawat komersial dan kargo satu pilot dapat terwujud dalam lima tahun ke depan.

Baca juga: Hanya Butuh Satu Pilot, Boeing Akan Umumkan Proyek “797” New Midsize Airplane di Paris AirShow 2019

Salah satu bank ternama di dunia karena tingkat keamanannya yang tinggi tersebut juga mengklaim, sistem operasi satu pilot juga akan mengarah pada peluang penghematan biaya untuk industri pesawat komersial yang lebih besar, setidaknya US$15 miliar atau sekitar Rp204 triliun, yang mencakup gaji pilot tahunan, pelatihan, bahan bakar, dan asuransi.

Namun, sepertinya proyek tersebut tak akan berjalan mulus. Survei tahun 2017 yang dilakukan oleh UBS menemukan bahwa 63 persen orang menentang terbang dengan pesawat tanpa pilot.

Tahun 2030, Qatar Siap Terapkan Transportasi Nol Emisi

Pada 2030 mendatang, Qatar akan menerapkan transportasi umum nol emisi. Langkah awal yang dilakukan yakni mulai direncanakannya seperempat angkutan umum Qatar yang akan dialiri listrik pada awal Piala Dunia tahun 2022. Bahkan sudah memesan 741 bus listrik pabrikan China Yutong pada akhir tahun lalu.

Baca juga: Qantas Punya Komitmen Nol Emisi Karbon di 2050

Transisi transportasi tanpa emisi tersebut diumumkan oleh Dewan Bisnis nis AS-Qatar, yang dibentuk untuk mendorong perdagangan antara AS dan Qatar. KabarPenumpang.com melansir electrive.com (15/6/2021), dalam penerapan nol emisi ini, perusahaan angkutan umum di Qatar, Mowasalat memberikan rekor pesanan kepada pabrikan China Yutong untuk 1.002 bus termasuk diantaranya 741 bus listrik.

Pembelian ini karena Mosawat bertanggung jawab untuk mengatur transportasi penumpang selama Piala Dunia 2022 mendatang. Menurut Yutong, pesanan untuk 1.002 bus senilai 1,8 miliar yuan atau setara dengan sekitar 230 juta euro, menjadikannya pesanan terbesar dalam sejarah pabrikan Cina itu.

Kontrak itu diapit oleh kesepakatan kerangka kerja antara Yutong, Otoritas Zona Bebas Qatar dan Mowasalat tentang pembangunan pabrik perakitan bus listrik di Qatar. Mulai akhir 2022, total 1.500 bus listrik akan dirakit di emirat dalam waktu tujuh tahun, yang juga akan diekspor ke negara-negara lain di Timur Tengah, Eropa, Amerika Selatan dan Afrika.

Otoritas emirat juga bekerja untuk membangun jaringan pengisian mobil listrik di negara yang mencakup hampir 12 ribu kilometer persegi. Untuk tujuan ini, pemasok listrik dan air Kahramaa akan membangun hingga 500 titik pengisian untuk mobil listrik pada tahun depan. Hingga saat ini, Qatar hanya memiliki sebelas stasiun pengisian yang beroperasi secara reguler.

Sekarang, stasiun baru akan didirikan di lokasi strategis seperti pusat perbelanjaan, area perumahan, stadion, taman dan kantor pemerintah, menurut Program Nasional untuk Konservasi dan Efisiensi Energi (Tarsyid). Pihak berwenang Qatar mengatakan mereka juga bertujuan untuk memasangkan stasiun pengisian dengan sistem fotovoltaik.
Satu situs percontohan telah ada sejak 2019, di mana stasiun fotovoltaik Tarsheed memiliki dua titik pengisian daya hingga 100 kW. Untuk diketahui, Qatar ingin memproduksi 700 MW dari panel surya pada tahun 2022.

Pada bulan lalu, Perusahaan AS Avangrid (sebelumnya Energy East dan Iberdrola USA) mengumumkan rencana untuk menjual saham senilai $4000 juta kepada Qatar Investment Authority (QIA) dan Spanish Iberdrola Group, masing-masing seharga $51,4 juta. Otoritas Investasi Qatar membeli sekitar $740 juta saham penyedia gas dan energi terbarukan AS, mengakuisisi hingga 3,7 persen saham biasa.

Baca juga: Jerman Siap Operasikan Kereta Penumpang Tanpa Emisi di 2018

Ini berarti bus listrik hanyalah bagian dari gambaran yang lebih besar yang tentu saja melibatkan infrastruktur pengisian daya tetapi juga produksi energi terbarukan yang signifikan.