Gara-gara Pakaian, TikToker Diteriaki Awak Kabin Sebelum Masuk Pesawat

Terkadang menggunakan pakaian atau alas kaki yang kurang pantas kerap kali membuat seorang penumpang pesawat tertekan bahkan disuruh turun oleh awak kabin. Hal ini pun terjadi pada seorang TikToker Sierra Steadman. Saat itu dirinya menggunakan pakaian kasual yakni celana pendek dengan tanktop yang ditutupin sebuah hoodie.

Baca juga: Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat?

Dia naik pesawat milik Alaska Airlines dan seorang awak kabin menyuruhnya turun karena pakaian yang digunakannya. Dilansir KabarPenumpang.com dari nypost.com (3/8/2021), Sierra kemudian memposting sebuah video ke akun TikToknya @sierrasteadman, di mana dia menangis di atas pesawat dan membuat judul pada video tersebut, ”Saya tidak pernah merasa lebih terdegradasi, malu, malu, marah atau sedih. F ALASKA AIRLINES!!!!!!!”

@sierrasteadman

Reply to @emma.el15 #greenscreen

♬ romanticize that jealousy jealousy life – cynthia 🌟🦋

Dalam video, dia terlihat mengenakan hoodie dan masker saat air mata mengalir di wajahnya. Dia menulis dalam klip itu, “Ketika pramugari [pelacur] mempermalukan Anda di depan seluruh pesawat dan mengancam akan menendang Anda keluar karena apa yang [Anda] kenakan.”

Pada komentar dia menjelaskan bahwa awak kabin itu berteriak dan menarik lengannya ketika Sierra mencoba pergi. Dalam video lanjutannya Sierra mengungkapkan dengan tepat apa yang dia kenakan saat bepergian. Dia berbagi foto di TikTok yang menunjukkan dirinya mengenakan celana pendek putih, hoodie hitam dan kaus abu-abu.

“Apropriasi pakaian dikesampingkan, tidak ada alasan untuk menyerang saya secara fisik dan verbal dan mempermalukan saya terutama ketika saya memenuhi permintaannya,” komentarnya di samping videonya.

Sierra kemudian menguraikan situasi di video lainnya dan mengatakan dirinya dihentikan begitu naik pesawat. Awak kabin diduga menyuruhnya untuk membuka ritsleting hoodie dan dia melakukannya. Awak kabin itu kemudian meneriakinya di depan penumpang lain.

“Di situlah masalahnya,” ungkap Sierra menambahkan bahwa dia tidak punya masalah dengan disuruh menutup kausnya, namun, kejadian berikutnya tidak dapat diterima.

Alaska Airlines dilaporkan menanggapi Sierra dan ibunya Shannon, yang menghubungi maskapai tersebut.

Baca juga: Tak Pandang Bulu, Langgar Tata Cara Berpakaian Bisa Depak Penumpang dari Penerbangan

“Alaska berusaha untuk memberikan layanan yang luar biasa kepada pelanggan kami. Dari apa yang Anda bagikan, jelas bahwa kami telah gagal. Anda dan putri Anda harus mengharapkan tidak kurang dari diperlakukan dengan hormat, kasih sayang dan perhatian. Sungguh mengecewakan mendengar bahwa Anda berdua tidak merasa seperti itu selama naik pesawat dan selama interaksi dengan Pramugari kami,” bunyi pernyataan itu.






















Lilium Pamer Penjualan 220 Unit Taksi Udara eVTOL Terbesar di Dunia Bernilai Rp12,5 Triliun

Lilium dengan bangga mengumumkan penjualan taksi udara eVTOL terbesar di dunia buatannya sebanyak 220 unit ke maskapai regional terbesar ketiga di Brasil, Azul. Kesepakatan penjualan ini disebut-sebut bernilai fantastits, mencapai US$880 atau sekitar Rp12,5 triliun (kurs 14.318).

Baca juga: Gelontorkan Miliaran Rupiah, Target Taksi Udara Listrik Lilium Mengular di 2025 di Semakin Dekat

Meski menjadi maskapai terbesar ketiga, tetapi, Azul melayani lebih banyak kota dan terbang lebih sering ketimbang para kompetitornya.

Brasil sendiri dikenal sebagai pasar helikopter terbesar kedua di dunia. Itu mungkin dilandasi berbagai faktor, seperti infrastruktur yang buruk, geografi, serta tingginya tingkat kejahatan di jalan seperti pembajakan, penodongan, pencurian, dan sejenisnya.

Dengan kondisi tersebut, tidak heran bila Azul percaya diri untuk merogoh kocek besar mendatangkan 220 unit taksi udara eVTOL Lilium. Taksi udara eVTOL Lilium dinilai mampu menghadirkan kenyamanan, kecepatan, dan keamanan lebih baik dibanding helikopter serta mampu menjangkau wilayah lebih luas. Yang paling penting tentu adalah harga per perjalanannya sangat murah.

“Sangat mudah bagi kami untuk dengan cepat mengidentifikasi pasar di mana kami dapat menempatkan 250 pesawat ini, dan kami pikir jumlah itu bahkan bisa mencapai 1.000 atau lebih,” kata David Neeleman, pendiri Azul, Westjet, dan Jetblue.

“Dengan memiliki pesawat terbang seperti yang dimiliki Lilium, dengan harga yang jauh lebih murah daripada helikopter, dengan keamanan yang jauh lebih tinggi, kami pikir kami dapat memperluas pasar ini. Kami pikir pasarnya bisa 10, atau 20, atau 30 kali lebih besar dari sebelumnya. hari ini, atau bahkan lebih,” tambahnya, seperti dikutip dari New Atlas.

Akan tetapi, sebagaimana penjualan taksi udara eVTOL dari Archer, Embraer Eve, Vertical Aerospace, dan lainnya, penjualan taksi udara eVTOL Lilium ke Azul tentu masih bersifat sementara. Semuanya bergantung pada proses sertifikasi.

Bila segalanya lancar, Lilium memperkirakan Azul bisa menikmati servis dari setiap unit taksi udara eVTOL terbesar di dunia buatannya pada 2025 mendatang.

Lebih lanjut, Lilium berharap, seluruh unit taksi udara eVTOL berkapasitas tujuh penumpang tersebut bisa terbang sampai 25 kali sehari, menempuh jarak rata-rata 60 mil atau 96 km atau 10 jam penerbangan per hari.

Lifespan atau umur operasional taksi udara eVTOL Lilium ditaksir mampu bertahan sampai delapan tahun. Tetapi, paket baterainya hanya bertahan empat bulan.

Kendati begitu, David Neeleman mengaku optimis bergabungnya taksi udara eVTOL Lilium bisa mendatangkan keuntungan sekitar US$5 juta dari setiap unitnya setelah dua tahun.

Baca juga: Bisa Angkut 7 Penumpang, Inilah Taksi “Minibus” Udara eVTOL Terbesar di Dunia

Skemanya, ia mengasumsikan rata-rata 4,5 dari enam-tujuh kursi penumpang terisi di setiap 25 penerbangan per hari.

Dengan harga US$2,25 per mil penumpang akan menghasilkan pendapatan sekitar US$15,000 per hari atau $5 juta per tahun atau margin keuntungan 25 persen. Alhasil, dalam dua tahun, investasi sebesar Rp12,5 triliun akan balik modal dan di enam tahun sisanya (dengan asumsi lifespan delapan tahun) taksi udara eVTOL bakal mendatangkan keuntungan US$5 juta.

Mengapa Penanganan Bagasi Secara Otomatis Hanya Bisa Dilakukan di Beberapa Pesawat?

Selain diisi oleh penumpang, pesawat juga dimuat oleh bagasi atau kargo. Tergantung tipe dan jenis pesawat, kapasitas maksimum kargo yang bisa diangkut bisa berbeda-beda. Selain itu, sistem penanganannya, mulai dari check-in sampai dimuat ke dalam pesawat juga berbeda-beda. Pada umumnya dilakukan secara manual dan hanya sedikit di-handle secara otomatis. Mengapa?

Baca juga: Tekan Delayed Baggage Rate, Siemens Pasok Sistem Penanganan Bagasi di Bandara Incheon

Penanganan bagasi (baggage handling) dari area check-in, masuk lebih dalam ke area bandara, sampai ke pesawat, merupakan bagian terpenting dari infrastruktur bandara. Di beberapa bandara besar, pada umumnya sudah menggunakan baggage handling system secara otomatis.

Setelah check-in, bagasi atau koper penumpang masuk ke dalam sistem konveyor dan deflektor, discreening untuk safety. Bagasi kemudian dimuat ke dalam tempat penyimpanan memanjang seperti kereta dan ditarik oleh luggage towing truck sebelum ditransfer ke cargo and loader transporter untuk dimuat ke pesawat.

Sampai saat ini, sebagian besar prosesnya, mengantar bagasi dan kargo sampai ke pesawat, masih manual. Tetapi, beberapa maskapai sudah mulai melakukan otomatisasi.

British Airways, misalnya, pada tahun 2019 mulai menguji coba luggage delivery atau pengiriman bagasi secara otomatis di Bandara London Heathrow menggunakan robot, membawa bagasi dari Baggage Handling System ke pesawat.

Selain itu, All Nippon Airways (ANA) juga sudah menguji coba sistem bagasi otomatis dalam skala kecil di tahun 2020.

Dilansir dari Simple Flying, sistem bagasi otomatis dalam skala besar atau biasa disebut loose baggage loading (bulk loading) pada umumnya melibatkan sistem conveyor yang panjang dan otomatis. Di Bandara Dublin, Irlandia, misalnya, conveyor belt di sini panjangnya bisa sampai 10 km. Tetapi, tidak semua pesawat bisa mendapat servis seperti ini.

Setelah sampai di pesawat, terkadang bagasi dipakaikan jaring agar lebih aman dan yang paling penting, tak bergeser saat pesawat mengudara. Ini juga penting untuk memastikan berat pesawat tetap proporsional dan seimbang.

Baca juga: Inilah Perjalanan Penanganan Bagasi, Saat Tiba di Konter Check In Sampai ke Tangan Penumpang Lagi

Pada proses bulk loading, biasanya kargo atau bagasi dimuat ke dalam apa yang disebut sebagai Unit Load Devices (ULD).

Di seluruh pesawat widebody, terkadang juga A320, itu sudah pasti menggunakan ULD dan dimuat ke pesawat menggunakan kontainer. ULD tentu disesuaikan dengan ukuran pesawat. ULD untuk pesawat Boeing 747, 777, dan 787 serta Airbus A380 dan widebody Airbus lainnya menggunakan ULD LD3. Selebihnya menggunakan ULD jenis lain, bergantung pada ukuran pesawat.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Maskapai di Kuwait Bakal Disanksi Gegara Overbooking

Maskapai di seluruh dunia selama setahun ini merasakan saat-saat terburuk sepanjang sejarah berdiri akibat pandemi tak kunjung usai. Gelombang PHK sudah pasti menjadi turunannya. Tak terkecuali bagi maskapai-maskapai di Kuwait. Tak berhenti sampai di situ, dalam waktu dekat, beberapa maskapai di Negeri Kaya Minyak ini bakal kena sanksi otoritas akibat overbooking. Mengapa demikian?

Baca juga: Apa yang Harus Anda Lakukan Jika Didepak dari Penerbangan Akibat Overbooked?

Sekilas tentang overbooking, ini merupakan skema dimana pihak maskapai menjual tiket melebihi kapasitas bangku yang ada di dalam sebuah penerbangan.

Sebagai contoh, maskapai Elang Air menjual 150 tiket perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya dengan menggunakan pesawat Boeing 737-300, padahal, kapasitas kursi yang ada di pesawat tersebut hanyalah 140 penumpang.

Overbooking yang dilakukan maskapai sebetulnya bukan hal baru di dunia penerbangan. Di beberapa negara, seperti Negeri Kangguru Australia, skema overbooking ini dianggap normal. Namun, tidak dengan Kuwait.

Kendati sempat ada keringanan dari DGCA (Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil) terkait overbooking, tetapi, massifnya pembatalan tiket yang sudah issued (confirmed reservations) oleh maskapai membuat otoritas geram.

Direktur Angkutan Udara Direktorat Perhubungan Udara Kuwait, Abdullah Al-Rajhi, pembatalan tiket yang sudah issued oleh maskapai merupakan sebuah bentuk penyimpangan terhadap kredibilitas atau profesionalisme maskapai.

“Kami melihat banyak maskapai membatalkan reservasi yang telah dikonfirmasi. Praktik ini merupakan penyimpangan dari kredibilitas atau profesionalisme maskapai tersebut. Jumlah kursi sudah ditentukan untuk semua maskapai, namun ada juga yang masih memesan lebih dari jumlah penumpang yang diperbolehkan,” jelasnya, seperti dilaporkan media Timur Tengah, Zawya.

Sebetulnya, setiap penumpang yang terkena pembatalan tiket yang sudah dikonfirmasi secara sepihak bisa melaporkan ke Divisi Keluhan Departemen Transportasi Udara. Seperti di kebanyakan tempat, layanan pengaduan ini harus disertai dengan dokumen-dokumen pendukung. Tetapi sayang, itu hanya tersedia dalam bahasa Arab.

Di tengah situasi yang tak menentu akibat pandemi virus Corona, baik maskapai maupun penumpang sama-sama berada dalam posisi sulit.

Kita tahu, hampir seluruh negara di dunia melakukan pembatasan perjalanan dan syarat masuk yang ketat dan selalu berubah mengikuti situasi dan kondisi. Oleh karenanya, tak jarang, penumpang pesawat yang tadinya memenuhi syarat masuk ke sebuah negara menjadi tidak. Alhasil, mau tak mau ia membatalkan atau mereschedule penerbangan.

Massifnya pembatalan tiket oleh penumpang di masa pandemi Covid-19 mendorong maskapai untuk meningkatkan praktik overbooking.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Ketika masih ada kursi yang tersedia namun beda kelas, simpel saja, penumpang kelas ekonomi atau ekonomi premium akan diberi kursi first class ataupun business class secara gratis. Yang jadi masalah ialah jika tidak ada kursi kosong yang tersedia. Mau tak mau maskapai membatalkan tiket penumpang sekalipun sudah diissued.

Di beberapa maskapai, kompensasi sudah pasti akan diberikan. Tetapi, tekniknya bisa berbeda-beda. Ada yang memberikan gratis hotel untuk penginapan sampai penerbangan di hari berikutnya. Ada yang meningkatkan kelas kursi di penerbangan dari semula ekonomi menjadi business ataupun first class, dan lain sebagainya.

Stasiun LRT Jakarta Kebakaran, Diduga Penyebabnya Ledakan Gas Nitrogen

Sebanyak sembilan orang mengalami luka dan sesak napas akibat Stasiun LRT Jakarta di Pegangsaan Dua, Kelapa Gading terbakar. Insiden ini terjadi pada Selasa (3/8/2021), sekitar pukul 09.00 WIB.

Baca juga: Tak Benar Akan Dioperasikan PT LRT Jakarta, Skytrain Bandara Soetta Stop Beroperasi Karena Alasan Penghematan Biaya

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Ira Yunita, Kepala Divisi Sekretaris PT LRT Jakarta mengatakan, pada insiden kebakaran ini, pihaknya langsung melakukan evakuasi terhadap seluruh karyawan dan petugas. Dia mengatakan, fokus utama saat itu adalah melakukan proses evakuasi untuk mencegah karyawan dan petugas mengalami cedera.

“PT LRT Jakarta telah melakukan evakuasi terhadap seluruh karyawan maupun petugas yang bekerja di area Gedung MCC Depo LRT Jakarta,” kata Ira dalam keterangannya, Selasa (3/8/2021).

Ira menjelaskan, saat insiden terjadi, titik api hanya berada di satu ruangan. Bahkan api berhasil dipadamkan sebelum petugas pemadam tiba di lokasi.

“Seluruh fungsi gedung yang berkaitan dengan keselamatan salah-satunya adalah water sprinkler berfungsi normal sehingga sebelum petugas Pemadam Kebakaran sampai di lokasi, api sudah berhasil dipadamkan, dan sudah tervalidasi oleh sistem,” ucap Ira.

Kebakaran ini sempat membuat perjalanan kereta terhenti di posisi masing-masing selama 23 menit. Namun setelahnya operasional kereta sudah berlangsung normal kembali. Untuk diketahui, awalnya terdengar dentuman di atas plafon dan membuatnya jebol.

Kemudian seorang karyawan yang mendengar hal itu melapor kepada petugas pengamanan dalam. Hasil investigasi yang dilakukan kebakaran diduga akibat ledakan gas nitrogen saat adanya perbaikan pendingin ruangan atau AC di lantai 4 gedung tersebut.

“Dari keterangan saksi bagian engineering sedang melakukan perbaikan AC. Diduga terjadi ledakan gas nitrogen yang mengakibatkan pecah kaca pada lantai empat,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus.

Baca juga: Di Tengah Pandemi dan Sepinya Penumpang, PT LRT Jakarta Justru Buka Lowongan

Insiden ini juga menurunkan sebanyak sebelas unit mobil pemadam kebakaran dan api berhasil dipadamkan sekitar pukul 10.30 WIB.






















Kelabui Petugas dengan Dokumen Covid-19 Palsu, Dua Pelancong Toronto Didenda US$16.000

Bulan Juli lalu, seorang penumpang yang berangkat dari Bandara Halim Jakarta saat melakukan perjalanan menuju Ternate mengelabui petugas. Penumpang tersebut memalsukan hasil swab PCR yang mana ketika berangkat dia menggunakan milik sang istri yang hasilnya negatif. Pembohongan hal ini pun terjadi di Amerika Serikat, di mana dua penumpang menuju Toronto menyerahkan salinan kartu vaksin dan hasil tes virus corona negatif ke portal yang ditinjau oleh otoritas Kanada.

Baca juga: Terminal 4 Changi Disiapkan untuk Tangani Penumpang dari Negara dengan Risiko Covid-19 Tinggi

KabarPenumpang.com melansir washingtonpost.com (2/8/2021), saat keduanya tiba di Kanada pada 18 Juli, para pejabat menemukan bahwa dokumen yang disajikan pasangan itu palsu. Hal tersebut dikatakan oleh Badan Kesehatan Masyarakat Kanada dalam rilis berita Jumat (23/7/2021). Karena hal itu, setiap penumpang harus membayar sekitar $16 ribu (setara Rp229 juta) karena menyerahkan dokumen palsu dan gagal memenuhi persyaratan karantina dan pengujian.

“Pemerintah Kanada akan terus menyelidiki insiden yang dilaporkan dan tidak akan ragu untuk mengambil tindakan penegakan hukum yang diperlukan untuk melindungi kesehatan warga Kanada dari penyebaran lebih lanjut Covid-19 dan varian kekhawatirannya,” menurut pernyataan agensi.

Pihak berwenang tidak mengidentifikasi pasangan itu atau memberikan informasi tambahan tentang rencana perjalanan mereka. Namun Badan Kesehatan Masyarakat mengatakan, kedua pelancong adalah warga negara Kanada. Untuk diketahui, di Kanada penumpang maskapai yang belum sepenuhnya divaksinasi virus corona harus menginap tiga malam setibanya di hotel yang disetujui oleh pemerintah dan menyerahkan bukti rencana karantina 14 hari.

Bahkan jika mereka telah dites negatif untuk virus corona atau sudah pulih dari penyakit. Mereka juga harus menyerahkan bukti tes virus corona negatif yang diambil setidaknya 72 jam sebelum penerbangan mereka. Saat tiba, penumpang harus menjalani tes virus corona kedua dan mengumpulkan kit berisi tes yang harus mereka lakukan pada Hari ke-8 karantina.

Bulan lalu, otoritas kesehatan Kanada mengumumkan bahwa pelancong udara yang divaksinasi sepenuhnya dapat dibebaskan dari persyaratan hotel jika mereka menyerahkan bukti vaksinasi dan hasil tes virus corona negatif ke ArriveCAN, portal elektronik pemerintah. Mereka masih harus diuji saat masuk dan menyerahkan rencana karantina jika mereka tidak disetujui untuk pengecualian.

Dalam kasus dua pelancong yang memasuki Kanada dari Amerika Serikat pada pertengahan Juli, badan kesehatan Kanada mengeluarkan empat denda kepada setiap penumpang dengan total $15.820 karena “memberikan informasi palsu terkait dengan bukti kredensial vaksinasi dan tes pra-keberangkatan” dan untuk “ ketidakpatuhan terhadap persyaratan untuk tinggal di akomodasi resmi pemerintah dan persyaratan pengujian pada saat kedatangan.”

Baca juga: Gelar Rapid Test, Bandara Vancouver dan WestJet Airlines Jadi Contoh Penanganan Covid-19 di Kanada

“Ini adalah pelancong pertama yang dikenai denda karena memberikan informasi vaksinasi palsu,” kata badan tersebut kepada The Post, menambahkan bahwa mereka tidak akan memberikan rincian tambahan, mengutip privasi mereka yang terlibat dan proses peradilan.






















Gandeng TikTok, Penumpang American Airlines Kini Bisa TikTok-an Saat Pesawat di Udara

American Airlines belum lama ini mengumumkan kemitraan barunya dengan TikTok. Ini memungkinkan setiap penumpang maskapai di rute-rute pendek menggunakan armada pesawat narrowbody, bisa mengakses konten-konten TikTok (TikTok-an) saat dalam penerbangan (on board) secara gratis.

Baca juga: Pengguna TikTok Guyur Kaki Penumpang yang Naik ke Sandaran Kursi Pesawat

TikTok sejak pertama kali hadir sampai saat ini memang terus booming di Amerika Serikat (AS). Meski pamornya sempat meredup di era Presiden Donald Trump akibat masuk daftar hitam entitas bisnis asal Cina, tetapi, di era Presiden Joe Biden, itu dibatalkan dan pamor aplikasi jejaring sosial dan platform video musik tersebut kembali melesat.

Dalam beberapa riset, warga AS bahkan disebut lebih banyak menghabiskan mengakses TikTok dibanding Instagram, yang notabene lahir dan besar di AS. Tak ayal, dengan kondisi tersebut, American Airlines kukuh untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan pengembang aplikasi asal Cina itu untuk memungkinkan penumpang mengakses TikTok saat pesawat di udara.

Dilansir dari Simple Flying, agar bisa mengakses TikTok di udara, mula-mula, seluruh penumpang harus menghubungkan ponsel masing-masing ke WiFi “AA-Inflight” terlebih dahulu. Andaipun sinyal WiFi on board AA-Inflight tidak terbaca di ponsel penumpang, mereka bisa membuka aainflight.com dan mengakses portal WiFi.

Setelah itu, pengguna yang sudah mengunduh aplikasi TikTok sebelumnya bisa langsung menikmati konten-konten di aplikasi tersebut. Bagi yang belum, penumpang bisa mengunduhnya terlebih dahulu. Itu sah-sah saja, tetapi tidak lebih simpel dibanding penumpang yang sudah mengunduh sebelum terbang.

Setiap penumpang diberi kesempatan untuk mengakses TikTok secara gratis selama 30 menit. Setelahnya, akan ada notifikasi bahwa akses WiFi on board penumpang sudah habis. Penumpang bisa saja memilih melanjutkan TikTok-an dengan membayar WiFi premium.

Perlu dicatat, WiFi on board yang tersedia di penerbangan American Airlines, dalam program ini, hanya bisa digunakan untuk mengunduh dan mengakses konten-konten di TikTok, tidak untuk penggunaan lain di luar itu.

Sebelum ini, sebetulnya keberadaan WiFi on board tidak banyak berguna di penerbangan. Sebab, tingkat kecepatannya sangat rendah. Jadi, tidak bisa menonton video di Instagram dan TikTok atau aplikasi sejenis dengan nyaman.

Tetapi setelah menjalin kemitraan bersama perusahaan teknologi, Viasat, penumpang American Airlines bisa mengakses WiFi on board dengan cepat.

“WiFi yang lebih cepat memungkinkan kami untuk memberikan pilihan hiburan dalam penerbangan yang berbeda dan berinvestasi dalam kemitraan inovatif dengan platform seperti TikTok,” kata Clarissa Sebastian, Managing Director Premium Customer Experience and Onboard Products American Airlines.

Baca juga: Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin

“Pelanggan memainkan peran utama dalam membantu kami lebih memahami konten apa yang mereka inginkan selama pengalaman penerbangan mereka dan TikTok adalah salah satu platform yang mereka sukai di lapangan, dan kami senang bekerja dengan Viasat untuk memberikan pelanggan akses gratis ke TikTok saat mereka ‘ berada di udara juga,” lanjutnya.

American Airlines diketahui sudah sejak beberapa tahun belakangan menghilangkan layar In-Flight Entertainment (IFE) di belakang kursi. Sebagai gantinya, penumpang diberi keleluasaan untuk streaming berbagai video, musik, film, games, dan lainnya yang telah disediakan maskapai.

Selama PPKM Darurat, Angkasa Pura I Hanya Layani 900 Ribuan Trafik Penumpang

PT Angkasa Pura I mencatat trafik penumpang sebesar 939.629 pergerakan penumpang di 15 bandara kelolaan pada Juli 2021 lalu. Jumlah ini menunjukkan penurunan yang cukup drastis dibanding Juni yang mencapai 3.426.376 pergerakan penumpang.

Baca juga: Mau Jadi ‘Airport of The Future,’ PT Angkasa Pura II Hadirkan Berbagai Teknologi 

Penurunan juga terjadi pada trafik pesawat pada Juli yang hanya sebesar 16.173 pergerakan pesawat, turun dari 33.752 pergerakan pesawat pada Juni. Begitu juga trafik kargo yang turun menjadi 30.589.833 kg pada Juli dari 33.820.194 kg pada Juni.

“Penurunan trafik ini mengindikasikan keberhasilan kebijakan Pemerintah terkait PPKM Darurat yang bertujuan untuk menurunkan laju pertumbuhan kasus Covid-19 di tanah air yang sejak akhir Juni mengalami lonjakan kasus. Seiring dengan masifnya program vaksinasi Covid-19 belakangan ini, kami berharap herd immunity dapat segera terwujud dan dapat meningkatkan kembali trafik penerbangan dan perekonomian secara umum,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi dalam siaran pers (3/8/2021)

Adapun trafik penumpang tertinggi pada Juli lalu terdapat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar yang sebesar 259.203 pergerakan penumpang, sedangkan trafik penumpang tertinggi kedua terdapat di Bandara Juanda Surabaya yang sebesar 168.012 pergerakan penumpang, dan trafik penumpang tertinggi ketiga terdapat di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan yang sebesar 100.669 pergerakan penumpang.

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun Drastis Selama PPKM, MRT Jakarta Genjot Pendapatan Non Fare Box

Sementara itu, total trafik penerbangan di 15 bandara Angkasa Pura I sejak Januari hingga Juli 2021 yaitu 15.415.401 pergerakan penumpang, 188.397 pergerakan pesawat, dan 234.419.529 kg kargo.






















Air India Tegas Pertahankan Boeing 747 Walau Banyak Maskapai Pilih Pensiunkan Pesawat

Tahun 2020 -2021 bisa dibilang sebagai salah satu waktu tersuram di industri penerbangan. PHK dimana-mana, pesawat di-grounded, bandara sepi, dan banyaknya maskapai yang mempensiunkan pesawat jadi beberapa indikator utama.

Baca juga: Maskapai Mana yang Paling Lama Operasikan Boeing 747?

Di antara jenis pesawat yang banyak dipensiunkan, pesawat jumbo ikonik Boeing 747 adalah satu darinya. Tahun lalu, tiga maskapai besar dunia dikonfirmasi mempensiunkan seluruh armada Boeing 747. Tiga itu adalah KLM, British Airways, dan Qantas. Tahun ini, Boeing 747-400 Korean Air disulap jadi wahana peluncur roket luar angkasa.

Di luar empat maskapai itu, tentu ada banyak maskapai lainnya yang memilih mempensiunkan armada Queen of the Skies. Tapi, tidak dengan Air India.

Setelah diisukan bakal mempensiunkan empat armada Boeing 747-400 secara bertahap. Geram mendengar kabar itu, Menteri Negara Penerbangan Sipil, V K Singh, sebagai perwakilan dari pemerintah, yang notabene sebagai pemegang saham mayoritas Air India, menegaskan maskapai masih butuh servis dari Queen of the Skies.

“Ada empat pesawat 747-400 di armada Air India, dan usia rata-rata mereka sekitar 26 tahun. Saat ini, tiga dari empat 747 sedang dalam maintenance check. Air India tidak memiliki rencana untuk menghentikan pengoperasian Boeing 747 secara bertahap dari armadanya,” katanya, seperti dilaporkan Business Today.

Dari laman resmi maskapai, Air India bisa dibilang lekat dengan pesawat jumbo pesaing Airbus A380 tersebut. Air India mulai memiliki Boeing 747-100 dibarisan armada pada tahun 1971, disusul varian Boeing 747 lainnya, seperti Boeing 747-200 pada 1978 dan 1985.

Tetapi nahas, dua pesawat tersebut hancur. Satu karena kecelakaan dalam penerbangan AI855 dan satu lainnya sebagai flight AI182 hancur dibom.

Selanjutnya, maskapai nasional India itu juga kedatangan Boeing 747-300, -300M, -400, -400M, masing-masing pada tahun 2005, 1988, 2003, dan 2005.

Baca juga: Terbang Lagi, Mahan Air Jadi Satu-satunya di Dunia Maskapai Komersial yang Operasikan Boeing 747-300

Saat ini, empat armada Boeing 747-400 Air India yang tersisa dua di antaranya sudah menjadi milik maskapai. Adapun dua sisanya masih dimiliki lessor dengan model bisnis sale and leaseback atau transaksi jual dan sewa balik, jenis transaksi pembiayaan dimana maskapai menjual pesawat dan langsung menyewanya kembali.

Tidak disebutkan skema penyewaannya, entah itu sewa basah atau wet lease, sewa kering atau dry lease, dan sewa lembab atau damp lease. Yang pasti, informasi dari maskapai, itu bukan dry lease.

Pesawat Kepresidenan “Indonesia One” Telah Berganti Warna, Kini dengan Livery Merah Putih

Seolah menyambut HUT Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-76, ada kabar bahwa “Indonesia One ” Pesawat Kepresidenan Indonesia telah mengganti warna, dari yang sebelumnya menggunakan livery putih-biru, kini 737-8U3 (BBJ2) dengan nomer registrasi A-001, livernya berubah menjadi kombinasi warna merah putih.

Baca juga: Untung Rugi Narrowbody vs Widebody untuk Pesawat Kepresidenan Indonesia

Penampakan pesawat Kepresidenan dengan livery baru itu pertama kali diunggah oleh akun Instagram @adhimas_aviation dengan caption “New Livery For A-001! A-001 Blasting Out From CGK Bound To Pelabuhan Ratu For Test Fight.” Dikutip dari CNBC Indonesia, pihak Istana Kepresidenan sudah mengonfirmasi tentang perubahan livery pada pesawat tersebut, meski belum ada rincian lebih lanjut.

Di masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Boeing 737 Kepresidenan di cat dengan warna biru langit dengan alasan masalah keamanan. Mantan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi mengungkapkan warna biru sebagai bentuk penyamaran dari ancaman. Karena alasan keamanan, lanjutnya, maka pesawat itu diberikan warna biru, yang tidak dimiliki pesawat penerbangan komersial lain. Ditambah fakta lain, pesawat kepresidenan RI ini dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara, dan untuk masalah perawatan, pesawat kepresidenan ini sendiri diserahkan kepada Garuda Maintenance Facility (GMF).

Boeing 737-8U3 (BBJ2) pertama kali mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma pada 10 April 2014. Pesawat dengan tanda panggil Indonesia One dan berkode registrasi RI-001 ini dimiliki oleh Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Baca juga: Bukan Cuma Bisa Mengecam, Indonesia Pernah Larang Pesawat PM Israel Lintasi Ruang Udara Indonesia 

Layaknya di negara lain, pesawat kepresidenan RI ini dilengkapi dengan ruang rapat VVIP berkapasitas 4 orang, kamar kenegaraan (State Room) VVIP berisikan ruang tidur mewah yang dapat menampung 2 orang, 12 kursi eksekutif, dan 44 kursi staf. Pesawat ini menggunakan jenis mesin CFM56-7 dan mampu menembus kecepatan jelajah maksimum hingga Mach 0,7 serta jangkauan jelajah hingga 8.556 km.