Drone Copter Dipasangi Roda, Mampu Cek Kondisi Rel dengan Melintasi Langsung

Pemeriksaan rel kereta api merupakan tugas yang sangat penting. Biasanya dilakukan ketika tidak ada kereta yang berada di dekatnya. Namun, bagaimana jika pemeriksaan dilakukan menggunakan drone dan berada sejajar dengan kereta yang tengah melaju?

Baca juga: Pastikan Keamanan Penumpang, Drone 5G Patroli di Jalur Kereta Cepat Beijing-Shanghai

Mungkin Anda berpikir, drone tersebut melakukan pemeriksaan dengan terbang tepat di sebelah kereta yang tengah melaju di atas rel. Tetapi ternyata bukan begitu cara kerja drone yang melakukan pemeriksaan rel kereta api.

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (24/8/2021), drone kereta api Staaker BG-300 akan berada di rel dan keluar saat kereta mendekat. Drone tersebut diproduksi oleh perusahaan Norwegia Nordic Unmanned.

Yang mana BG-300 merupakan drone copter bertenaga baterai yang dilengkapi satu set empat roda rel bermotor. Dengan memanfaatkan kehadiran roda ini, drone dapat berselancar bebas di sepanjang jalur rel dengan kecepatan rata-rata 12 mph atau sekitar 20 km per jam.

Bahkan dilaporkan oleh pengembang, drone mampu menempuh jarak sejauh 124 mil atau sekitar 200 km. Drone yang bergerak di atas rel ini cukup unik, karena melakukan pemeriksaan trek menggunakan kamera dan sensor lain.

Selain itu ditambah lagi dapat melumasi sakelar rel jika diperlukan. Keunikan lainnya adalah, jika drone bertemu dengan lalu lintas kereta api lain, maka akan terbang secara otomatis keluar dari rel untuk menyingkir hingga kereta tersebut melintas.

Ini juga bisa menggunakan fungsi untuk berpindah dari satu trek ke trek lainnya. Akibatnya, bentangan rel tidak harus ditutup untuk kereta api saat inspeksi sedang dilakukan. Tidak demikian halnya dengan kendaraan inspeksi yang digunakan secara tradisional, seperti troli atau truk yang dilengkapi roda rel.

Baca juga: Diterpa Gelombang Panas, Dubai Buat Hujan Buatan dengan Drone

Menurut Nordic Unmanned, BG-300 dikembangkan dalam kemitraan dengan “pemilik infrastruktur kereta api nasional besar Eropa.” Drone harus memulai layanan komersial di Eropa pada paruh pertama tahun depan.






















Sejarah Air Force Two, Pernah Tiga Kali Nyaris Tewaskan Presiden-Wapres AS

Meski tak mampir ke Indonesia, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Kamala Harris, melakukan kunjungan perdananya ke Asia Tenggara. Dari 24-26 Agustus 2021, ia dijadwalkan berada di Vietnam. Terlepas dari sempat tertundanya agenda itu akibat ‘insiden kesehatan’, yang pasti kemanapun ia pergi, pesawat kepresidenan Boeing C-32 Air Force Two senantiasa menemaninya.

Baca juga: Mengenal Boeing C-32, Varian Air Force Two dari Boeing 757

Meski pesawat modern sudah ada sejak awal abad ke-20, tetapi AS tercatat baru secara khusus menugaskan pesawat kepresidenan pada Juli 1959. Ketika itu, belum berupa call sign Air Force Two melainkan pesawat resmi AS berbasis Boeing VC-137A Stratoliner yang ditumpangi oleh Wakil Presiden Eisenhower saat melawat ke Rusia (Uni Soviet).

Setelah itu, penggunaan Air Force Two untuk wakil presiden dan pejabat lainnya seperti Ibu Negara AS, Sekretaris Negara (Setneg), anggota kabinet AS, sampai pemimpin Kongres, semakin jelas. Pada tahun 1974, wakil presiden Nelson Rockefeller pernah dilayani oleh pesawat Convair VC-131 Samaritan Air Force Two untuk kunjungan dalam negeri.

Sedangkan untuk perjalanan internasional, Air Force Two yang dibangun dari McDonnell Douglas VC-9C mulai melayani wakil presiden AS sejak tahun 1975, melengkapi armada Air Force Two berbasis VC-137.

Berbagai pesawat, seperti Douglas VC-54 Skymaster, Douglas VC-118A, Boeing C-40 Clipper, C-20B, C-37A, C-37B, dan Lockheed C-121 Constellations juga pernah ditugaskan sebagai Air Force Two.

Selain Air Force Two, wakil presiden juga bisa saja menumpangi Air Force One berbasis Boeing 747, VC-25A. Pesawatnya tidak dikonfigurasi ulang melainkan hanya call sign-nya saja yang disesuaikan.

Saat ini, AS mempunyai empat pesawat Air Force Two yang berbasis Boeing C-32. Umumnya, pesawat yang digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan sang wakil presiden dan pejabat lainnya adalah Boeing C-32A.

Dari tulisan military.com, Boeing C-32A Air Force Two sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk mendukung aktivitas presiden, wakil presiden, dan pejabat negara lainnya; termasuk interior mewah dengan kapasitas 45 kursi, fasilitas lengkap seperti ruang makan, ruang rapat, toilet mewah, ruang istirahat, avionik militer, serta kapasitas tangki bahan bakar yang lebih besar untuk jangkauan lebih jauh hingga 11.000 km.

Tanpa modifikasi sekalipun, pesawat ini memang sudah dikenal sebagai pesawat tertangguh di dunia. Pesawat mampu terbang atau mendarat di bandara-bandara kering, tinggi, dan dengan landasan pacu yang pendek.

Secara lebih detail, kabin Air Force Two dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama atau area paling depan terdapat pusat komunikasi, dapur, toilet, dan 10 kursi kelas bisnis.

Bagian kedua adalah area terbatas atau private yang terdiri dari ruang ganti, toilet pribadi, sistem hiburan, dua kursi putar first class, dan dipan konvertibel yang dilipat menjadi tempat tidur.

Bagian ketiga berisi fasilitas konferensi dan staf dengan delapan kursi kelas bisnis. Bagian belakang kabin berisi tempat duduk umum dengan 32 kursi kelas bisnis, dapur, dua toilet, dan lemari.

Air Force Two juga didukung dengan berbagai peralatan komunikasi canggih, seperti telepon, satelit, monitor televisi, faksimili, dan mesin fotokopi terbaru. Selain itu, pesawat juga memiliki peralatan avionik yang canggih.

Baca juga: Keanehan Dibalik Momen Trump Tumpangi Air Force One untuk Terakhir Kalinya

Sepanjang sejarah Air Force Two melayani presiden-wakil presiden AS, setidaknya sudah ada tiga kali insiden yang bisa saja berujung fatal.

Pada tahun 2012 silam, Air Force Two yag ditumpangi wakil presiden Joe Biden pernah mengalami bird strike. Di Tahun 2020, bird strike juga pernah nyaris mencelakakan wakil presiden AS, Mike Pence, disusul inside Air Force Two terakhir pada Juni 2021 lalu. Ketika itu, Air Force Two yang ditumpangi wakil presiden Kamala Harris terpaksa return to base tak lama setelah lepas landas akibat masalah teknis.

Menara ATC Tintin: Cagar Budaya yang Tergerus Modernisasi Ibu Kota

“There! Look! Kemajoran! … Tell me, is this or is this not Djakarta?” Merupakan salah satu dialog yang diucapkan oleh Professor Calculus kepada Captain Haddock di salah satu komik Tintin. Dalam cerita Penerbangan 714 ke Sydney, Tintin, Professor Calculus, Captain Haddock, dan anjingnya yang menggemaskan, Snowy transit di Bandara Kemayoran sebelum akhirnya bertolak kembali menuju Sydney, Australia. Walaupun ini merupakan cerita fiksi, namun setting latar yang digunakan dalam cerita ini benar-benar ada, atau bisa dibilang “pernah” ada.

Baca juga: Berusia 101 Tahun, Inilah Menara ATC Pertama di Dunia

Seperti kebingungan yang tampak dalam dialog Professor Calculus, mungkin hal yang sama juga akan terjadi mana kala generasi sekarang mendapatkan pertanyaan mengenai bandara pertama di Indonesia. Bukanlah Halim Perdanakusuma, maupun Soekarno-Hatta, melainkan Bandara Kemayoran. Bandara yang dibangun pada tahun 1934 ini resmi beroperasi pada 8 Juli 1940. Landasannya pertama kali didarati oleh pesawat DC-3 Dakota milik perusahaan penerbangan Hindia Belanda, dua hari sebelum peresmian bandara itu.

Sumber: istimewa

Baca juga: Mengenal Serba Serbi dan Peran Air Traffic Controller

Namun sayang, umur bandara pertama di Indonesia tersebut tidaklah lama. Tepatnya 31 Maret 1985, bandara ini resmi dinon-aktifkan dan semua aktifitas bandara dipindahkan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Yang tersisa dari pionir bandara di Indonesia itu hanyalah puing, kenangan, dan menara ATC bercorakkan kotak-kotak merah putih. Untuk mengenang masa kejayaannya, otoritas setempat lalu menjadikan bekas menara ATC tersebut sebagai salah satu cagar budaya, sesuai dengan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 475 Tahun 1993.

Sumber: Wikipedia

Adapun alasan penutupan Bandara ini adalah lokasinya yang dianggap terlalu dekat dengan basis militer Indonesia, Lanud Halim Perdanakusuma. Penerbangan sipil di area tersebut menjadi sempit, sementara lalu lintas udara meningkat drastis, yang mana mengancam lalu lintas internasional. Hal itu yang kemudian membuat pemerintah memutar otak untuk memindahkan aktifitas Bandar Udara ini ke lokasi yang baru yang dinilai lebih aman. Dengan bantuan USAID, dipilihlah Cengkareng sebagai lokasi Bandar Udara yang baru yang kini dikenal dengan Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta.

Baca juga: Digital Air Traffic Solutions, Saatnya Menara ATC Dikendalikan Secara Remote

Sumber: kompas.com

Sebelum benar-benar beralih fungsi, Kemayoran pernah menjadi tempat test flight pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara, CN-235 dan sempat menjadi tuan rumah ajang dirgantara bergengsi Indonesian AirShow di tahun 1986.

Sumber: Wikipedia

Kini, Menara ATC enam lantai yang kerap kali disebut Menara Tintin tersebut kondisinya sangatlah memilukan. Layaknya sebuah bangunan usang yang mulai terkikis modernisasi. Bangunan tua yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Terisolir dari pengunjung yang datang untuk mengenangnya. Tragis, bak kacang yang lupa pada kulitnya. Jika Anda melewati daerah Kemayoran, sempatkanlah diri untuk singgah sebentar mengenang keberadaan Bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura ini.






















Berusia 101 Tahun, Inilah Menara ATC Pertama di Dunia

Australia boleh saja berbangga diri memiliki salah satu menara air traffic control (ATC) paling unik di dunia yang berada di Bandara Sydney. Tetapi, itu bukan yang tertua. Menara ATC pertama sekaligus tertua di dunia diketahui didirikan di Inggris, 101 tahun yang lalu.

Baca juga: Ini Fungsi Menara ATC Mobile, Pengganti Menara ATC yang Hancur Gegara Perang-Bencana

Dilansir nats.aero, menara ATC pertama di dunia berada di Bandara London Croydon. Dari sinilah pengembangan kontrol lalu lintas udara berawal.

Ide mendirikan menara ATC pertama di dunia sejalan dengan keinginan membangkitkan layanan penumpang oleh maskapai penerbangan pertama di dunia.

Ketika itu, Kementerian Udara Inggris berpikir keras agar perjalanan udara dapat berjalan lancar seiring meningkatnya penerbangan dengan mendirikan bangunan baru setinggi 15 kaki di Bandara Croydon dengan empat jendela besar di setiap dinding.

Bandara Croydon, tempat menara ATC pertama di dunia didirkan. Foto: Historic Croydon Airport

Pada awalnya, bangunan atau menara ini disebut Aerodrome Control Tower (ACT) atau Menara Kontrol Aerodrome. Secara harfiah, maknanya sama saja dengan ATC. Meski istilahnya mengalami perubahan, tetapi, desain umumnya sama, meliputi jendela besar yang mengelilingi menara.

Baca juga: Begini Cara ATC Atur Kedatangan dan Keberangkatan Pesawat di Bandara

“Pada tahun 1920 tidak ada cetak biru untuk seperti apa (menara) ATC atau bahkan sebuah bandara, sehingga menjadi tanggung jawab para pionir awal untuk mengembangkan, menguji, dan mengimplementasikan ide-ide yang akan memungkinkan perjalanan udara tumbuh dengan aman,” kata Ian Walker, Ketua Historic Croydon Airport Trust.

“Lapangan udara sebelum ini memiliki kantor radio dan ‘mercusuar udara’, tetapi tidak dengan maksud eksplisit menyediakan layanan lalu lintas udara teknis untuk pesawat. ‘Menara kontrol’ digambarkan sebagai pengembangan ‘penting’ dan warisannya tetap hidup bersama kami hari ini,” lanjutnya.

Petugas ATC atau controller di menara ATC Pertama dan tertua di dunia. Foto: Historic Croydon Airport

Di masa lalu, controller atau Petugas Lalu Lintas Penerbangan Sipil (CATO) memberikan informasi lalu lintas, lokasi, dan cuaca ke pilot melalui radio. Setiap penerbangan dilacak menggunakan basic radio-based navigation dan diplot di peta kertas menggunakan pin atau bendera. Sangat sederhana sekali bila dibandingkan dengan layanan kontrol udara di masa sekarang.

Saat ini, kontrol lalu lintas udara sudah sangat maju. Di beberapa negara, pengembangan real-time satellite tracking sudah dimulai untuk meningkatkan keselamatan dan efektivitas lalu lintas udara. Di beberapa negara lainnya, inovator berlomba mengembangkan perangkat dengan kecerdasan buatan untuk mengurangi delay di bandara akibat cuaca.

Baca juga: Mengenal Tower ATC Bandara Sydney, Salah Satu Tower ATC Paling Unik di Dunia

Di Swedia, menara ATC bahkan sudah tak ada lagi dan digantikan dengan menara jarak jauh atau world’s first remote tower pertama di dunia sejak dua tahun silam.

Lewat solusi ini, indera penglihatan sang pengatur lalu lintas ‘diperpanjang’ dengan perangkat kamera yang terpasang pada tower. Dengan teknologi ini, maka tidak ada lagi aktivitas petugas ATC yang mengawasi seluruh pergerakan di sekitaran bandara dari atas menara. Petugas pengatur lalu lintas pun tak harus berada dekat atau di dalam area bandara alias remote.

Ternyata Ini Alasan C-17 Globemaster Angkatan Udara Qatar Pakai Livery Qatar Airways

Pamor pesawat Boeing C-17 Globemaster belakangan naik signifikan pasca evakuasi besar-besaran di Bandara Kabul, Afghanistan, setelah kejatuhan negara tersebut ke tangan Taliban. Tetapi, mungkin tak banyak yang tahu, kalau pesawat ini juga sempat menyita perhatian tahun lalu, ketika Angkatan Udara Qatar menggunakan livery Qatar Airways pada pesawat tersebut.

Baca juga: Beda Pemandangan Evakuasi Warga di C-17 Globemaster India dan Amerika dari Afghanistan

Pada gelaran Kuwait Aviation Show 2020, pengunjung dihebohkan dengan pesawat yang lazim digunakan oleh militer, bukan komersial, tetapi menggunakan livery Qatar Airways, salah satu maskapai penerbangan terbaik di dunia.

Sudah pasti, publik bertanya-tanya gerangan terkait itu, diikuti dengan berbagai diskusi atau mungkin pro kontra penggunaan livery Qatar Airways di pesawat C-17 Globemaster.

Dilansir Simple Flying, Qatar Airways tentu saja tidak mengoperasikan pesawat tersebut. Seperti informasi di awal, pesawat itu dioperasikan oleh Angkatan Udara Qatar. Tetapi, karena keduanya berada di bawah pemerintah Qatar, itu menjadi tampak terlihat normal dan legal.

Angkatan Udara Qatar tercatat memiliki delapan Boeing C-17 Globemaster. Dari jumlah tersebut hanya satu pesawat yang menggunakan livery Qatar Airways.

Meski begitu, yang jadi pertanyaan, mengapa Angkatan Udara Qatar menggunakan livery Qatar Airways?

Alasannya sebetulnya cukup simpel. Penggunaan livery Qatar Airways di pesawat Boeing C-17 Globemaster Angkatan Udara Qatar, pertama di dunia, lebih ke alasan aksesibilitas.

Disebutkan, di hampir banyak bandara sipil di seluruh dunia, pesawat militer tidak diizinkan untuk mendarat. Ketika pesawat menggunakan livery maskapai penerbangan komersial, mereka diizinkan mendarat sekalipun sejak awal memang bukan dimaksudkan untuk penerbangan komersial, penumpang maupun kargo.

Alasan lainnya, livery Qatar Airways di pesawat Boeing C-17 Globemaster Angkatan Udara Qatar ditujukan untuk promosi negara kaya minyak itu melalui berbagai kegiatan amal dan kemanusiaan.

“Skema livery C-17 yang unik ini – yang pertama dari jenisnya – dimaksudkan untuk membangun kesadaran partisipasi Qatar dalam operasi di seluruh dunia,” kata Brigjen Ahmed Al-Malki, pejabat Angkatan Udara Qatar.

Baca juga: Mengenal Sidewall Seats, Kursi C-17 Globemaster yang ‘Hilang’ Saat Evakuasi Warga di Afghanistan

Singkatnya, livery Qatar Airways di pesawat Angkatan Udara Qatar adalah wadah pemerintah Qatar untuk mempromosikan negaranya di panggung global, melalui serangkaian kegiatan.

Tujuannya, selain mengajak dunia untuk berkunjung ke sana menggunakan maskapai penerbangan nasional mereka (Qatar Airways), juga dimaksudkan untuk mendapatkan citra positif dunia internasional.

Mengenang Tragedi Superga, Kecelakaan Pesawat yang Tewaskan Generasi Emas Torino dan Italia

Sepanjang sejarah, ada beberapa tim sepak bola tragis yang terlibat dalam kecelakaan pesawat. Di tahun 2016, kecelaakan pesawat LaMia Airlines dengan nomor penerbangan 2933 menewaskan banyak pemain klub Brasil, Chapecoense.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Mundur jauh ke belakang, Tragedi München atau Munich tahun 1958 turut menghilangkan delapan nyawa pemain Manchester United. Ketika itu, pesawat British European Airways dengan nomor penerbangan 609 jatuh tak lama setelah lepas landas.

Mundur sedikit, kecelakaan pesawat tragis yang melibatkan para pemain sepak bola juga terjadi pada 1949 yang dikenang sebagai Tragedi Superga (Superga Air Disaster). Tanpa mendiskreditkan tragedi kecelakaan udara yang melibatkan pemain dan klub sepak bola lainnya, Tragedi Superga menjadi salah satu yang paling menyesakkan.

Bagaimana tidak, generasi emas pesepak bola Italia dan klub Torino FC yang kondang disebut Grande Torino, beserta pelatih fenomenalnya, tewas dalam tragedi tersebut.

Saat ini, Juventus bersama Cristiano Ronaldo dkk memang menjadi penguasa Italia dan Turin. Tetapi, di dekade 40an, Torino FC adalah jawaranya. Ketika itu, Torino bersama generasi emas Grande Torino berhasil memenangkan lima gelar liga berturut-turut.

Tak berhenti sampai di situ, Grande Torino juga menjadi andalan di tim nasional Italia. Dalam kemenangan 3-2 melawan Hungaria pada tahun 1947, misalnya, 10 dari 11 starter Timnas Italia adalah pemain Torino FC. Sungguh generasi emas yang amat berharga buat Torino dan Italia.

Mirisnya lagi, Grande Torino tewas bersama pelatih yang membesarkannya, Leslie Lievesley. Pelatih ini bukan sembarang orang. Ia adalah mantan Angkatan Udara Inggris saat Perang Dunia II. Selama hidupnya, ia berhasil lolos dari tiga kecelakaan pesawat sampai akhirnya tewas dalam kecelakaan pesawat keempatnya di Tragedi Superga.

Dilansir Simple Flying, sehari setelah pertandingan atau 4 Mei 1949, Grande Torino berangkat dari Lisbon, untuk melakoni laga persahabatan melawan Benfica, menggunakan pesawat Fiat G.212 CP maskapai Avio Linee Italiane.

Selain 18 pemain dari generasi emas Grande Torino, pesawat membawa serta staf pelatih, jurnalis, dan eksekutif klub. Total ada 27 penumpang ditambah empat kru dalam pesawat tersebut.

Setelah berangkat dari Lisbon pada pukul 09:40 waktu setempat, pesawat mendarat di Barcelona pada pukul 13:00. Di sini, saat mengisi bahan bakar pesawat, Grande Torino berkesempatan bertemu dengan tim AC Milan, yang sedang dalam perjalanan untuk bermain di Madrid. Pesawat lepas landas sekali lagi pada pukul 14:50.

Namun nahas, saat ingin mendarat di Bandara Turin-Aeritalia, 2 jam setelah lepas landas, pesawat menabrak Basilika Superga atau bukit Superga di ketinggian 669 meter mdpl.

Baca juga: Hanya Empat Penumpang Selamat, Tragedi JAL 123 Kecelakaan Udara Terburuk di Jepang

Kecelakaan diduga akibat cuaca buruk dimana jarak pandang hanya 40 meter, hujan, serta angin kencang. Pesawat diduga menyimpang dari jalur penerbangan hingga akhirnya menabrak bukit. Tetapi, penyelidikan di kemudian hari menyebut kemungkinan kecelakaan disebabkan oleh kegagalan altimeter.

Pada 6 Mei 1949 atau dua hari setelah Tragedi Superga, Torino dianugerahi gelar juara Liga Italia lima kali beruntun sebagai bentuk penghormatan. Kini, puing-puing dari kecelakaan pesawat di Tragedi Superga disimpan di Museum Turin.

Pertama di Eropa, Drone DJI Sukses Inspeksi Pesawat Airbus A330 di Luar Hanggar

Industri penerbangan Eropa memulai era baru pasca keberhasilan inspeksi pesawat di luar ruangan atau hanggar pertama menggunakan jasa drone. Tak hanya itu, inspeksi yang sepenuhnya otomatis itu juga dilakukan di lapangan terbang aktif, belum pernah terjadi sebelumnya di Benua Biru (mengingat hal seperti ini sudah dilakukan di AS).

Baca juga: Begini Prosedur Pemeriksaan Pesawat untuk Capai Tingkat Keselamatan Tertinggi

Selepas mendarat, pesawat memang menjalani pemeriksaan ringan seperti visual badan pesawat, powerplant, landing gear, avionik, rem dan peralatan darurat termasuk inflatable slides, dan lain sebagainya.

Selain itu, tim mekanik biasanya juga akan mengecek oli dan hidrolik di samping open inspection panel, dan penutup mesin.

Mengingat posisi pesawat jauh lebih tinggi dari manusia di darat, tentu saat pengecekan di bagian-bagian yang masih terjangkau kru, prosesnya cukup mudah. Tetapi, pada bagian-bagian yang tak terjangkau, kru membutuhkan alat bantu dan prosesnya membutuhkan waktu.

Padahal, maskapai menginginkaN sebaliknya, cepat dan efektif, untuk ketersediaan armada di tengah jadwal penerbangan yang padat.

Sadar pemeriksaan manual seperti ini lambat, Mainblades pun datang menghadirkan solusi brilian. Perusahaan yang berbasis di Belanda itu baru-baru ini sukses menjalankan inspeksi atau pengecekan langsung pesawat yang baru mendarat menggunakan drone di luar hanggar dan di bandara aktif.

Dilansir dronedj.com, inspeksi menggunakan drone DJI Matrice 300 RTK terhadap pesawat Airbus A330 maskapai regional Negeri Kincir Angin, Truenoord.

Dalam prosesnya, inspeksi pesawat menggunakan drone ini mampu menampilkan gambar-gambar beresolusi tinggi dengan sangat detail, jauh melebihi kemampuan inspeksi dengan mata telanjang. Prosesnya juga lebih cepat dan efektif dibanding pengecekan oleh manusia.

Tak hanya itu, dari sisi maskapai, inspeksi di luar hanggar tentu berdapak baik pada keuangan. Sebab, biaya sewa hanggar bisa dibilang cukup mahal. Sudah begitu, slotnya tak selalu tersedia kapanpun. Butuh waktu untuk mendapat slot di hanggar, melakukan pemeriksaan pada pesawat, sampai kembali menerbangkannya.

“Jika pesawat mendarat dan mengalami kerusakan, misalnya karena tersambar petir atau bird strike, maka sekarang harus terlebih dahulu pergi ke lokasi tertutup seperti hanggar. Dengan begitu Anda kehilangan banyak waktu. Selain itu, ruang hanggar mahal untuk disewa dan tidak selalu tersedia. Dan semua itu sementara inspeksi drone juga dapat dilakukan di udara terbuka,” kata salah satu pendiri dan direktur Mainblades, Dejan Borota.

Inspeksi pesawat di luar ruangan atau hanggar di bandara yang aktif ke depan dipredksi akan semakin menggeliat. Kuncinya ada di lessor.

Disebutkan, lebih dari separuh pesawat yang ada di dunia ini tercatat dimiliki lessor, bukan maskapai. Lessor tentu menginginkan laporan detail, baik kondisi maupun foto vidoe, tentang kondisi pesawat mereka di seluruh dunia. Menariknya, inspeksi otomatis menggunakan drone bisa menjawab itu dibanding inspeksi manual oleh manusia.

Baca juga: Akhir 2021, Startup Hong Kong Luncurkan Layanan Drone Penumpang Pertama! Target Selanjutnya Indonesia

“Sekitar separuh armada pesawat dunia sebenarnya bukan milik maskapai itu sendiri, melainkan milik perusahaan leasing. Dan perusahaan leasing ini terlibat ketika sebuah pesawat harus pergi dari maskapai penerbangan ke MRO, kembali ke lessor,” lanjut Dejan.

“Setiap saat mereka ingin memiliki gambaran yang optimal tentang status pesawat. Jadi, mereka tertarik pada pemeriksaan akhir dan memiliki laporan lengkap tentang pemeriksaan ini,” tutupnya.

 

Berbagai Hal ini Dipercaya Mampu Mengurangi Kebisingan dan Getaran pada Rel Kereta

Mesin, rem dan roda yang bergerak di atas rel merupakan sumber utama kebisingan dari kereta api. Kebisingan rel berdampak langsung ke rumah-rumah terdekat saat rel berada di permukaan jalan. Lonceng peringatan di perlintasan sebidang dan kereta api yang membunyikan klaksonnya merupakan tindakan pencegahan keselamatan yang penting ketika kereta api melintasi jalan raya atau jalur pejalan kaki, tetapi lonceng itu berisik bagi penduduk. Bahkan getaran dari struktur rel juga masuk kategori kebisingan.

Baca juga: Halau Rusa dan Hewan Liar Masuk ke Rel, JR East Pasang Shika Sonic

Apakah saat pembuatan desain, kebisingan dan getaran dipertimbangkan? Kalaupun iya, bagaimana caranya? KabarPenumpang.com merangkum levelcrossings.vic.gov.au, rancangan yang diusulkan untuk bagian rel yang ditinggikan akan meminimalkan dampak dari kebisingan dan getaran. Nantinya dengan struktur yang ditinggikan akan mengurangi dampak kebisingan dan getaran melalui penggunaan dinding dan layar, trek baru yang mulu dengan kualitas tinggi, pengencangan tangguh yang dibuat khusus untuk memasang track baru langsung serta isolator karet di bawah track untuk meredam getaran.

Adanya kebijakan kebisingan infrastruktur kereta api penumpang, bertujuan untuk menetapkan proses dan pedoman yang menyeimbangkan manfaat infrastruktur kereta api baru dengan kemungkinan dampak pada mereka yang tinggal disekitarnya. Kebijakan tersebut mencakup ambang batas penyelidikan, yaitu tingkat kebisingan yang disediakan untuk memandu badan transportasi dan otoritas perencanaan saat menilai dampak kebisingan kereta api pada masyarakat sekitar.

Kebisingan konstruksi akan dikelola sesuai dengan pedoman Badan Perlindungan Lingkungan (EPA). Di mana ambang investigasi ada dua bagian dipicu jika bagian satu merupakan kebisingan keseluruhan, yang mana setelah proyek selesai diperkirakan akan melebihi 65dB(A) pada siang hari (6am-10pm) atau 60dB(A) pada malam hari (10pm-6am).

Kemudian tingkat maksimum 85dB(A) (kapan saja) dan bagian kedua adalah perubahan kebisingan. Setiap peningkatan kebisingan rel yang diprediksi adalah 3dB(A) atau lebih. Level Crossing Removal Authority melibatkan konsultan akustik spesialis untuk memprediksi tingkat kebisingan di masa depan terkait dengan desain baru dan membandingkannya dengan tingkat kebisingan saat ini.

Untuk memprediksi tingkat kebisingan di masa depan, spesialis akustik membuat model komputer 3D dari area lokal. Struktur rel baru yang diusulkan ditambahkan ke model ini. Sampel kebisingan kereta yang sebenarnya digunakan untuk memodelkan tingkat kebisingan yang akan dialami orang-orang di sekitar. Model ini juga memperhitungkan kebisingan yang mungkin disebabkan oleh getaran struktur yang ditinggikan.

Ada pun modelnya mempertimbangkan jumlah pergerakan kereta api untuk skenario layanan setelah proyek selesai, jenis kereta api termasuk Metro, V/Line, kereta barang dan jumlah gerbong setiap kereta. Kemudian kemungkinan kecepatan di mana setiap kereta akan melakukan perjalanan, jarak antara kereta api dan perumahan atau properti sensitif serupa serta kontur tanah dan bangunan yang ada bersama infrastruktur sekitar.

Baca juga: Redam Kebisingan, Jepang Lakukan Riset Aerodinamika Kereta Cepat dengan Terowongan Angin

Pemerintah Victoria telah merilis desain yang diusulkan untuk proyek tersebut. Konsultasi telah dimulai pada desain yang diusulkan dan akan berakhir pada awal tahun 2016. Umpan balik dari komunitas akan digunakan untuk menyempurnakan desain dan menginformasikan pengambilan keputusan oleh pemerintah. Hasil dari konsultasi akan dibagikan kepada masyarakat dan kontraktor yang melaksanakan proyek. Otoritas Penghapusan Perlintasan Sebidang akan terus menilai dampak kebisingan dan getaran pada masyarakat sekitar untuk menyempurnakan desain yang diusulkan.






















Ini Fungsi Menara ATC Mobile, Pengganti Menara ATC yang Hancur Gegara Perang-Bencana

Amerika Serikat (AS) melalui Tim Kontrol Tempur Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF CCT/Combat Control Team) mengambil alih operasi Bandara Kabul sejak Taliban mulai menduduki istana kepresidenan Afghanistan pada 15 Agustus lalu.

Baca juga: Saat Bandara Kabul Chaos, Tim CCT AS Pegang Kendali Penuh untuk Layani Penerbangan Darurat

Di antara berbagai tugas yang diembannya, mengatur lalu lintas penerbangan lewat menara ATC adalah salah satu yang krusial.

Di Bandara Kabul sendiri, kondisi menara ATC (Air Traffic Control) masih sempurna karena memang tak ada serangan apapun dari Taliban atau musuh lainnya ke arah bandara. Tetapi, bila itu terjadi dan menara ATC hancur, bagaimana dengan aktivitas pengaturan lalu lintas udara?

Dikutip dari Indomiliter.com, menara ATC mobile sudah pasti akan dikerahkan saat menara ATC tak lagi bisa mendukung lalu lintas udara.

Di dunia, tentu ada banyak produsen ATC mobile. Tetapi, yang paling masyhur di Indonesia dan dunia adalah MATC 8100 buatan perusahaan yang berbasis di Amsterdam, Belanda, BSS Defence and Security Solutuions.

Sebagaimana namanya, menara ini bisa dipindah-pindahkan ke berbagai tempat yang membutuhkan dukungan darat-ke-udara. Penempatannya pun bisa beragam, tak selalu di pangkalan udara atau bandara, mulai dari jalan raya sampai hutan.

Selain bisa diangkut menggunakan truk, ATC mobile juga bisa diangkut menggunakan beberapa pesawat angkut militer, seperti C-130 Hercules, CH-47 Chinook menggunakan sling cargo atau kargo gantung, dan lain-lain.

Menara ATC mobile biasanya dioperasikan oleh tiga samapi tujuh personel bersertifikat air traffic controller atau paling tidak memiliki kemapuan komunikasi dan navigasi penerbangan, radar, sampai cuaca.

Meski mobile, tetapi, kemampuan menara ATC mobile tak kalah lengkap dengan ATC statis di bandara atau pangkalan udara.

Disebutkan, ATC mobile dilengkapi dengan radio VHF, UHF, V/UHF, HF transceiver, timing system GPS, dan sistem perekaman hingga 100 ribu jam menggunakan piringan cakram atau digital tape. MATC 8100 juga dilengkapi perangkat meteorologi AWOS yang menampilkan data arah angin, kecepatan, tekanan, suhu, kelembaban, dan titik embun.

Mobile ATC ini juga dapat diintegrasikan dengan radar ADS-B, Tactical VHF (30/88 Mhz), Satcom, dan emergency landing lighting beacon system. Yang terakhir disebut sangat berperan dalam membantu pendaratan pesawat dalam kondisi cuaca buruk dan minim visual.

Secara keseluruhan, dimensi unit MATC 8100 punya panjang 10,4 meter, lebar 2,5 meter, tinggi 2,5 meter, dan berat 12,5 ton. Dan yang pasti sudut pandang 360 derajat. Untuk ketinggian menara dapat disesuaikan, maksimal 8,75 meter.

Baca juga: Selain TNI AU, Kemenhub Ternyata Punya ATC Mobile, Siap Digelar di Lokasi Bencana

Di Indonesia sendiri, mobile ATC pernah beberapa kali muncul di publik. Tahun 2015 silam, MATC 8100 TNI AU tampak hadir untuk mendukung demo aerobatik dan flying pass pesawat udara dalam gelaran HUT TNI Ke-70 di Cilegon, Banten.

Di tahun yang sama, mobile ATC juga dihadirkan dalam perayaan yang sama sebagai pemandu flypass jet TNI AU di atas Istana Negara.

Miris, Warga Afghanistan Tewas di Bandara Kabul Gegara Kepanasan dan Kelaparan Saat Tunggu Evakuasi

Bandara Kabul dipastikan aman dari Taliban. Tetapi, tidak dipastikan aman dari rasa lapar, dahaga, dan panas yang menyengat, mengingat mereka menunggu berhari-hari di apron dan sekitaran runway, bukan di dalam terminal. Laporan terbaru mengatakan bahwa beberapa orang tewas di bandara saat menunggu proses evakuasi.

Baca juga: Profil Boeing 737-400 TNI AU Hibah dari Garuda Indonesia yang Evakuasi WNI di Kabul

Menurut pejabat Gedung Putih, sejauh ini Amerika Serikat (AS) telah mengevakuasi 30.300 orang, terdiri dari diplomat, warga AS, sekutu dari Afghanistan dan keluarganya, serta warga negara asing lainnya yang mendapatkan undangan evakuasi dari AS, sejak Taliban mulai menguasai Afghanistan pada 15 Agustus lalu.

Tetapi, jumlah tersebut masih belum seberapa. Diperkirakan masih ada ribuan atau mungkin puluhan ribu orang lainnya yang harus dievakuasi AS.

Sementara itu, di dalam bandara, mereka yang sedang menanti pesawat evakuasi datang kondisinya sangat sulit. Makanan dan minuman terbatas serta panas menyengat yang tak terhindarkan adalah realita yang harus dihadapi.

Menurut sumber ABC News di dalam bandara, kondisinya disebut “non-permissive environment” atau istilah yang menggambarkan penuh dengan ketidakpastian.

Saking tidak pastinya, baru-baru ini ada sebuah keluarga, terdiri dari lima orang, memutuskan hengkang dari fasilitas yang dikelola militer AS, Inggris, dan Turki itu. Mereka mundur, memasuki zona perang, melewati pos pemeriksaan Taliban, dan kembali ke rumah semata demi mendapatkan makanan, minuman, dan terhindar dari terik matahari.

Dalam pengakuannya dihadapan ABC News, Ahmad, begitu nama samaranya, tak punya pilihan lain kecuali terus bertahan hidup dengan mencari sumber makanan dan minuman daripada harus menunggu tanpa kejelasan di Bandara Internasional Hamid Karzai.

“Dia (kepala keluarga yang hengkang dari bandara) adalah pria yang telah lama menunggu SIV-nya datang, yang telah diancam secara langsung oleh Taliban. Namun, ketika begitu dekat dengan mimpinya akan keselamatan dan perlindungan, dia memutuskan lebih aman untuk pergi kembali ke rumah daripada menahan keluarganya di fasilitas yang dikelola militer AS ini lebih lama lagi,” kata salah satu sumber ABC News di bandara.

Baca juga: Deja Vu Kekacauan Akibat Perang Vietnam di Bandara Kabul

Keputusannya memang sulit dicerna. Saat puluhan ribu warga Afghanistan berebut masuk bandara meski selalu gagal, karena sudah dijaga sangat ketat oleh militer, ia malah keluar dari bandara dan kembali ke zona perang.

Di luar bandara, Taliban beberapa kali menyerang warga yang mencoba melarikan diri dari Afghanistan. Salah satu serangan bahkan menyebabkan empat anak jadi yatim piatu. Ayah dan ibunya dibunuh oleh Taliban di sekitar bandara.