KAI, KCI dan TransJakarta Intens Bahas Transportasi Menuju Jakarta Internasional Stadium dengan JakPro

Jakarta Internasional Stadium (JIS) kini masih dalam tahap pembangunan dan diperkirakan rampun akhir tahun ini. Selain itu dalam masa pembangunan pun, moda transportasi pengunjung sudah dalam pembahasan. Direktur proyek JIS dari Jakarta Propertindo, Iwan Takwin mengatakan, bahwa PT KAI atau KCI saat ini sudah menyepakati desain dan layout stasiun kereta di wilayah JIS.

Baca juga: Jalan-Jalan Ke Ancol Naik Kereta? Yuk Turunnya di Stasiun Ancol

Adanya kesepakatan tersebut juga sesuai dengan arahan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk membangun stasiun kereta dan halte transportasi umum di daerah JIS.

“Jadi kita sudah menyepakati seperti apa layout-nya sirkulasinya dan posisinya di mana memang dari pihak KAI terus-menerus dari sekarang ini sedang melakukan kajian-kajian alokasi mereka,” ujar Iwan yang dikutip KabarPenumpang.com dari suarapemerintah.id (23/8/21).

Iwan juga mengatakan, pihaknya telah melakukan komunikasi secara intens dengan pihak PT Transportasi Jakarta (TransJakarta). Di mana kedua belah pihak sudah menentukan desain dan tata letak halte di wilayah JIS nantinya.

Selain itu, Anies juga mengeluarkan instruksi gubernur tentang penyelesaian isu prioritas daerah periode 2021-2022 dan salah satunya adalah peresmian JIS. Isi instruksi tersebut yakni melaksanakan penyelesaian isu prioritas daerah tahun 2021-2022.

Di mana dalam Ingub tersebut tertulis target penyelesaian JIS adalah Desember 2021. Tak hanya itu, Anies juga menargetkan infrastruktur pendukung terkait aktivasi kawasan JIS dengan tiga akses yakni terbangunnya penambahan stasiun kereta baru di sisi barat dan timur JIS pada Juni 2022.

Kemudian terselesaikannya izin rute tambahan rute baru KCI yakni Jatinegara, Rajawali, Ancol dan Priok pada Oktober 2021. Terbangunnya pemberian akses ramp tol ke area Jakarta Internasional Stadiun pada Juni 2022 mendatang.

Baca juga: Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Stasiun Jakarta Kota Resmi Beroperasi

Ingub yang terakhir adalah melaporkan ketercapaian Penyelesaian Isu Prioritas Daerah Tahun 2021-2022 sebagaimana dimaksud dalam diktum kesatu kepada Gubernur setiap dua minggu.






















Cina Lawan Dominasi Jepang di Industri Mobil Indonesia

Jepang dan Cina bersaing di industri mobil Indonesia? Ini terlihat dari masuknya mobil buatan Cina ke Indonesia dan mulai berkembang. Hal ini dilaporkan oleh China Chery Automobile Co Ltd yang mengumumkan bahwa mereka siap masuk kembali ke Indonesia tahun ini setelah gagal di awal 2000-an.

Baca juga: BlueBird Hadirkan BYD T3 di Bali, Taksi Listrik dengan Model MVP

“Dalam dua tahun ke depan, kami akan menghadirkan lima model baru di Indonesia, yaitu SUV konvensional dan kendaraan energi baru,” kata Qin Gang, perwakilan Chery, seperti dilansir KabarPenumpang.com dari thediplomat.com (18/8/2021).

Selain itu, Chery juga berinvestasi di fasilitas produksi di Indonesia. Saat ini, Chery bukan satu-satunya pabrikan mobil Cina yang membuat terobosan di Indonesia. Wuling dan Dongfeng Sokonindo (DFSK) juga semakin menonjol di pasar mobil tanah air. Mobil Wuling kini dijual melalui lebih dari 100 jaringan dealer di seluruh Indonesia.

Bahkan popularitas produk Wuling kini telah melampaui penjualan dari merek mobil Jepang seperti Mazda dan Nissan. Dari Januari hingga Juni tahun ini, Wuling mencatat 10.973 unit terjual, memberikan perusahaan Cina pangsa 2,8 persen dari pasar mobil Indonesia dan menjadikannya merek mobil paling populer ketujuh di negara ini. DFSK juga mencatatkan penjualan yang sehat, meski tidak sebesar Wuling.

Dari perspektif Cina, Indonesia merupakan pasar otomotif yang menjanjikan karena dua alasan. Pertama, rasio kepemilikan mobil terhadap total populasi masih rendah, yaitu hanya 99 mobil per 1.000 orang pada tahun ini, yang berarti ada ruang yang cukup besar bagi industri untuk tumbuh. Kedua, Indonesia baru-baru ini melihat perkembangan substansial dari infrastruktur vital termasuk jalan raya dan jalan raya, yang kemungkinan akan mendorong permintaan mobil.

Faktanya, pembuat mobil Cina telah membuat terobosan di Indonesia untuk beberapa waktu. Pada tahun 2019, setelah Presiden Joko Widodo menandatangani peraturan presiden tentang mobil listrik, pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa mereka berencana untuk berkolaborasi dengan produsen Cina untuk tujuan ini. Tak lama kemudian, pada Juli 2019, dua perusahaan Cina, BYD Auto Co., Ltd dan JIC, mengumumkan rencana untuk merelokasi operasi mereka ke Indonesia.

Selain itu, pada bulan yang sama, DFSK juga mengumumkan niatnya untuk memproduksi mobil listrik E3 Glory di Indonesia, dengan tujuan untuk memasarkannya di seluruh Asia Tenggara. Sebagai sumber penjualan mobil dan kendaraan listrik terbesar di dunia, masuknya Cina ke pasar mobil Indonesia akan mengganggu dominasi Jepang dalam industri otomotif Indonesia yang sudah berlangsung lama.

Untuk diketahui, konsumen Indonesia sangat bergantung pada Jepang dalam hal mobil sejak tahun 1970-an. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia melaporkan pada tahun 2016 sebagian besar mobil yang dikemudikan di Indonesia adalah buatan Jepang. Tetapi mengingat bahwa kendaraan listrik sama-sama baru di Indonesia dan relatif mahal, merek-merek Cina menikmati keunggulan tertentu.

Dibandingkan dengan saingan Jepang mereka, banyak orang melihat mobil dari Cina relatif murah dan kualitas sebanding. Selain itu, Cina sekarang adalah produsen kendaraan listrik terkemuka di dunia, serta pemimpin dalam pembuatan banyak komponen yang digunakan di dalamnya. Cina, yang memiliki 93 pabrik baterai pada tahun lalu, memiliki akses istimewa ke bahan-bahan yang dibutuhkan seperti nikel, kobalt, dan lithium. Ini juga merupakan rumah bagi pabrik produksi katoda, anoda, dan bahan kimia penting untuk memproduksi sel baterai.

Baca juga: Blue Bird Siap Datangkan 200 Unit Van Listrik di Dua Wilayah, Mana Saja?

CATL, produsen baterai lithium-ion terbesar di Cina, berencana membangun lokasi produksi untuk komponen tersebut di Indonesia pada tahun 2024. Sementara itu, dua pabrik pengolahan nikel terpenting di dunia, Weda Bay Industrial Park dan Morowali Industrial Park, sedang berlokasi di Indonesia, yang keduanya mayoritas dimiliki oleh perusahaan Cina. Oleh karena itu, masuk akal bagi Indonesia untuk melihat kerja sama yang lebih kuat dengan Cina baik dalam penjualan dan produksi mobil dan kendaraan listrik.






















Meski Bukan yang Pertama Ada, Kereta Listrik Ini yang Tertua Beroperasi di Dunia

Kereta api listrik tertua yang beroperasi di dunia dibangun oleh Magnus Volk dan bagian pertamanya selesai tahun 1883. Kereta ini beroperasi lebih dari seperempat mil dari garis pengukur dua kaki yang membentang di sepanjang tepi laut resor Inggris tepatnya di Brighton antara Kolam Arch ke Brington Aquarium dan Chain Pier

Baca juga: Ini Dia Kereta Punjab Mail di India yang Berusia 110 Tahun

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, kereta ini memiliki daya listrik 50 V DC yang disuplai ke mobil kecil menggunakan dua rel berjalan. Beberapa bulan kemudian, jalurnya diperpanjang setengah mil di luar Chain Pier dan juga ada peningkatan pasokan listrik me jadi 160 V DC.

Selain itu juga ada pembangkit listrik yang dipasang di lengkungan dan dibangun di atas tebing Paston Place. Tahun 1886, rel ketiga yang disetel ditambahkan untuk meminimalkan kebocoran arus. Sepuluh tahun kemudian, kereta api listrik Brighton dan Rottingdean Seashore dibangun oleh Volk.

Kemudian sebuah stasiun disediakan berdekatan dengan Banjo Groyne, dan sebuah loop lengkap dengan pemberhentian disediakan di tengah jalan untuk mobil lewat. Dengan kedatangan mobil kedua layanan lima atau enam menit disediakan setiap hari musim panas dan musim dingin (kecuali hari Minggu sampai 1903), karena cuaca dan kerusakan badai memungkinkan.

Bahkan dikatakan banyak untuk ketabahan dan teknik Magnus bahwa layanan ini beroperasi hingga tahun 1940 ketika ancaman invasi menutup rel kereta api untuk sementara waktu. Pada bulan April 1940, Brighton Corporation mengambil alih jalur tersebut dan pada 2 Juli ditahun yang sama, persiapan pertahanan Perang Dunia II mengakibatkan penutupan jalur.

Setelah perang, mulai tahun 1947, perusahaan membangun kembali jalur tersebut menggunakan rel 24,80 kg per meter untuk jalur lari dan 12,40 kg per meter dipasang pada isolator untuk rel ketiga. Di Black Rock, sebuah stasiun baru dibangun untuk menggantikan gedung tahun 1937 yang mengalami kerusakan parah selama perang.

Jalur dibuka kembali untuk penumpang pada tahun 1948. Operasi musim dingin berhenti dari tahun 1954, meskipun jalur tersebut dibuka kembali sementara pada musim dingin tahun 1980 untuk menarik banyak wisatawan yang datang untuk melihat Athina B, sebuah kereta barang yang telah terdampar di dekat Dermaga Istana.

Lalu operasi ganda dua mobil diperkenalkan pada tahun 1964. Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi penurunan jumlah pengunjung karena paket liburan ke luar negeri. Pada tahun 1995 Asosiasi Kereta Api Listrik Volk dibentuk untuk membantu operator jalur (Dewan Kota Brighton & Hove) mempromosikan dan mengoperasikan jalur tersebut.

Pada tahun 2003 Institut Sains dan Teknologi Kereta Api Volks dibentuk untuk mempromosikan sisi pendidikan dan sains dari kereta api Victoria ke sekolah-sekolah dan kelompok minat khusus. Pada akhir 1990-an, ujung jalur Black Rock dipersingkat 211 kaki untuk memungkinkan skema penyimpanan air badai dibangun di area marina.

Baca juga: 27 September 1825, Kereta Penumpang dengan Lokomotif Uap Pertama Kali Mengular

Stasiun tahun 1948 dihancurkan dan diganti dengan stasiun platform tunggal baru, yang dibuka pada tahun 1998 dan berbagi gedung dengan stasiun pompa Air Selatan yang baru.






















Sore Izakaya, Restoran Khas Jepang dengan Latar Jalur Layang MRT, Serasa di Tokyo!

Restoran khas Jepang ibarat jamur di musim hujan, lantaran banyak bertebar dimana-mana. Lepas dari adu cita rasa masakan, beberapa pemilik restoran juga beradu konsep atau tema guna memikat pengunjung.

Baca juga: Wow, Kereta Shinkansen Ada di Restoran Indonesia!

Nah, bicara pikat memikat pengunjung, ada sebuah restoran khas Jepang yang punya tema unik. Menampilkan suasana outdoor, restoran Sore Izakaya berada di rooftop sebuah bangunan ruko di di Jalan Fatmawati yang letaknya tak jauh dari Stasiun MRT Haji Nawi. Rupanya identitas MRT jadi ‘jualan’ unik dari restoran ini.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Irasshaimase!🥢🍢 (@soreizakaya)


Sejak dibuka pada akhir Mei lalu, restoran kafe dekat stasiun MRT ini mencuri perhatian netizen. Selain menampilkan susana mirip Tokyo dengan hiasan lampion. Yang jadi pemandangan fantastis adalah hilir mudik kereta MRT Jakarta yang bisa dinikmati dari ‘jarak dekat’ saat duduk di rooftopnya. Sore Izakaya ini memiliki pemandangan yang indah baik siang, sore maupun malam hari.

Konsep yang unik, membuat Sore Izakaya ramai dikunjungi dan cukup viral. Sore Izakaya sendiri berada di Jalan RS Fatmawati Raya No.39, Cipete, Cilandak, Jakarta Selatan. Buka setiap Hari Selasa hingga Minggu setiap pukul 12.00 – 21.00 WIB.

Baca juga: Jepang Hadirkan Perjalanan Bus Virtual, Penumpang Rasakan Sensasi dari Tempat yang Dituju

Selain tempatnya yang nyaman dan seolah berada di Negeri Sakura, harga untuk makanan maupun minumannya pun terjangkau mulai dari Rp15 ribu lengkap dengan pemandangan MRT Jakarta yang sedang beroperasi. Kafe di Fatmawati ini merupakan cabang dari Sore Izakaya di BSD dengan konsep kedai makanan Jepang.






















Profil Boeing 737-400 TNI AU Hibah dari Garuda Indonesia yang Evakuasi WNI di Kabul

Kementerian Luar Negeri Indonesia (Kemenlu) sukses memulangkan 26 warga negara Indonesia sebagai respon atas ketegangan yang terjadi di Afghanistan pasca kudeta oleh Taliban.

Baca juga: Praktisi Hukum Leasing: Hibah Bisa Dilakukan Bila Pesawat Sudah Lunas 

“Alhamdullilah, Pemerintah Indonesia telah berhasil mengevakuasi WNI dari Kabul, Afghanistan dengan pesawat TNI AU. Pesawat saat ini sudah berada di Islamabad untuk melanjutkan penerbangan ke Indonesia,” tulis Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, di laman Twitternya.

“Tim evakuasi membawa 26 WNI termasuk staff KBRI, 5 WN Filipina, dan 2 WN Afghanistan (suami dari WNI dan staff lokal KBRI),” cuitnya.

Sementara itu, Kadispenau Marsma Indan Gilang Buldansyah, dalam keterangan tertulisnya, mengatakan pesawat Boeing 737-400 yang menjalankan misi evakuasi WNI dari Kabul, Afghanistan, teregistrasi sebagai A-7305.

Dari data planespotters.net, pesawat tersebut merupakan hibah dari flag carrier Garuda Indonesia. Pesawat dengan nomor seri produksi MSN 25714 ini diketahui bergabung ke barisan armada Garuda pada 23 Desember tahun 1993 dengan nomor registrasi PK-GWL.

Bersama Garuda Indonesia, pesawat ini pada umumnya lebih sering terbang di rute-rute domestik, meliputi Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Bali, Yogyakarta, dan lain sebagainya. Meski begitu, pesawat ini juga beroperasi untuk rute-rute internasional jarak pendek, seperti Singapura dan Australia (Perth).

Sejak dioperasikan Garuda Indonesia selama kurang lebih selama 17 tahun, hampir tidak ada laporan adanya kendala teknis maupun non-teknis apapun.

Setelah dihibahkan ke TNI AU pada 9 Maret 2011, nomor registrasinya berubah menjadi A-7305. Pesawat dikonfigurasi sebagai VIP. Tak ayal, TNI AU menugaskannya untuk menjalani misi evakuasi WNI dari Kabul, Afghanistan, mengingat desain kabinnya mumpuni untuk itu.

Meski begitu, secara kemampuan terbang, pesawat bisa dibilang tidak mumpuni untuk menempuh jarak Jakarta-Kabul sejauh 6.171 km, jauh dari kemampuan terbang pesawat yang sudah nyaris berusia 28 tahun ini, dikisaran 4.175 km.

Tak ayal, dalam misi kemanusiaan menjemput WNI di Kabul, Afghanistan pada 20 Agustus lalu, pesawat ini harus transit beberapa kali, mulai dari Banda Aceh, Colombo, Karachi, dan Islamabad, untuk mengisi bahan bakar.

Pesawat berkapasitas maksimal 189 penumpang, panjang 36,40 meter, tinggi 11 meter, dan ketinggian maksimum 37.000 kaki, sudah sering ditugaskan menjalani misi evakuasi, dalam dan luar negeri, berbeda dengan saudara kembarnya, A-7308 hibah dari Lion Air, yang diplot oleh TNI AU sebagai pesawat angkut.

Pada Januari tahun ini, pesawat dengan berat lepas landas maksimum 68 ton dan bentang sayap 28 m ini pernah menjalani misi evakuasi 90 orang warga korban gempa dari Mamuju ke Makassar.

Tak hanya itu, dengan konfigurasi VIP, pesawat juga bisa ditumpangi presiden dan wakilnya, serta pejabat setinggi menteri. Tercatat, pesawat yang sudah memiliki 7.000 jam terbang lebih dan tergabung di Skadron Udara 17 TNI AU ini pernah ditumpangi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo.

Baca juga: Taliban Kuasai Kabul, Kemenlu Pastikan 26 WNI Sudah Dievakuasi Pakai Pesawat TNI AU

Untuk kabin kelas VIP, TNI AU menyediakan empat kursi dan dua meja. Letaknya berada di dekat pintu masuk depan di belakang kokpit pesawat. Interior pesawat ini terlihat mewah dan nyaman.

Di belakang ruang VIP, terdapat ruangan berisi dua sleepery seat. Lalu di sampingnya ada semacam tempat meletakan bagasi bagi tamu VIP yang menggunakan pesawat itu.

[Video] Ngeri! Pintu Kargo Boeing 737-200 Aerosucre Terbuka Saat di Udara

Pintu kargo pesawat Boeing 737-230F Aerosucre tiba-tiba terbuka saat di udara tak lama setelah lepas landas dari sebuah bandara di wilayah Mitú. Beruntung, pesawat yang hendak menuju Bogotá, Kolombia tersebut berhasil mendarat dengan selamat di bandara semula.

Baca juga: Air Serbia Operasikan Boeing 737-300 Selama 36 Tahun, Bagaimana Bisa?

Laporan Aviation Safety Network, saat keberangkatan, seluruh prosedur sudah dijalankan dan tentu saja pintu kargo sudah ditutup sebagaimana mestinya. Tanpa sebab, pintu kargo pun secara mengejutkan terbuka.

Dalam tayangan video, pintu kargo jelas terbuka meskipun tidak terlalu lebar. Kendati demikian, pada ketinggian 30-40 ribu kaki, itu aka menjadi petaka.

Mengingat pesawat tetap bisa mengudara dengan stabil dan pada akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Fabio Alberto León Bentley, besar kemungkinan pesawat masih berada di bawah ketinggian delapan ribu kaki saat insiden pintu kargo pesawat terbuka saat di udara.

Pada ketinggian tersebut, saat kabin kehilangan tekanan akibat pintu kargo terbuka ataupun lubang, secara teori, pesawat memang bisa terbang dengan stabil sampai mendarat dan tidak terjadi dekompresi eksplosif dalam prosesnya.

https://twitter.com/Aero_Magazine/status/1429288200103661575?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1429379792332275714%7Ctwgr%5E%7Ctwcon%5Es3_&ref_url=https%3A%2F%2Fsimpleflying.com%2Faerosucre-boeing-737-200-emergency-landing%2F

Menurut ch-aviation, pesawat yang mengalami insiden itu teregistrasi sebagai HK-5026. Boeing 737-220F itu diketahui sudah berusia 40 tahun. Selama empat dekade terakhir, pesawat malang melintang di langit bersama beberapa maskapai, seperti Lufthansa, ModiLuft, Vanguard Airlines, LATAM, dan SKY Airline.

Pada Mei tahun 2014 lalu, Aerosucre resmi mendapat pesawat dengan berat lepas landas maksimum (MTOW) 54 ton ini.

Dalam setahun belakangan, pesawat yang sama juga dilaporkan pernah mengalami inside lain. Pada 8 Mei lalu, pesawat mengalami masalah pada landing gear (nose gear) dan menyebabkannya batal lepas landas.

Agak jauh sedikit ke belakang, Boeing 727-200 Aerosucre bahkan pernah mengalami kecelakaan fatal yang menyebabkan lima orang tewas. Saat itu, pesawat dengan nomor registrasi HK-4544 melayani rute Bandara Germán Olano, Puerto Carreño, ke Bogotá.

Dibandingkan generasi pertama Boeing 737-100, Boeing 737-200 memang lebih laris. Di Indonesia, meski tak dioperasikan secara komersial, baik itu penerbangan penumpang maupun kargo, tetapi, pesawat ini masih terbang bersama TNI AU, tepatnya bersama skadron udara 5 Lanud Hassanudin.

Baca juga: Boeing C-40, Varian Unik 737 yang Jarang Diketahui Publik

Catatan Indomiliter.com, pesawat intai strategis Boeing 737-200 atau 2X9 Surveillance dengan nomer A-7301 tiba di Indonesia dan dioperasikan TNI AU pada 20 Mei 1982.

Meski usianya sudah menuju 40 tahun, tetapi, pesawat ini masih diandalkan TNI AU dengan dukungan sejumlah fitur, seperti mission console, sistem radar WESCAM MX-20HD yang setara dengan Boeing P-8A Poseidon, radar berkemampuan khusus jenis AN/APS-143C(V)3 OceanEye buatan Telephonics, dan berbagai fitur lainnya.

Sah, Korean Air Pensiunkan Seluruh Pesawat Airbus A380 dan Boeing 747!

Korean Air resmi mengakhiri era quad jet jarak jauh di barisan armadanya usai mempensiunkan pesawat Airbus A380 dan Boeing 747-8. Meski demikian, avgeeks di seluruh dunia setidaknya masih bisa melihat dua pesawat ikonik itu sampai beberapa tahun mendatang.

Baca juga: Korean Air Kembali Terbangkan A380, Pertanda Industri Penerbangan Mulai Sehat?

Flag carrier nasional Korea Selatan itu mengatakan armada Airbus A380 akan dipensiunkan secara bertahap sampai lima tahun ke depan. Itu tidak hanya mencakup 10 armada Korean Air saja, melainkan juga enam armada A380 Asiana Airlines.

Kedua maskapai tersebut diketahui memang nyaris sepakat untuk merger sekalipun peresmiannya masih tertunda sampai tahun 2024 mendatang.

Meski begitu, armada A380 Asiana Airlines sudah bergabung dengan Korean Air dan akan pensiun dalam dua tahun mendatang. “A380 akan meninggalkan armada Korean Air dalam waktu lima tahun,” kata CEO Korean Air Walter Cho kepada FlightGlobal.

Sebelum mengumumkan pensiunnya Airbus A380, Korean Air mulai memasukkan kembali pesawat ke dalam layanan sejak Oktober tahun lalu.

Ketika itu, pesawat tersebut diplot untuk penerbangan tiga jam 40 menit dari Incheon, Korea Selatan (Korsel), ke Guangzhou, Cina. Rute ini dilayani A380 Korean Air sepekan sekali.

Keputusan ini membuat Korean Air bergabung bersama China Southern Airlines -satu-satunya maskapai yang tak meng-grounded A380 selama pandemi Corona- serta Emirates yang sudah lebih dahulu mengoperasikan pesawat tersebut pada awal musim panas ini.

Dari 10 armada A380 Korean Air, pesawat superjumbo dengan nomor registrasi HL7614-lah yang bakal diplot melayani rute A380 paling aktif di dunia dewasa ini. Pesawat berusia 9,6 tahun tersebut diketahui terakhir kali terbang pada 5 Maret lalu, melahap rute Paris-Seoul.

Lebih dari setengah tahun tak mengudara membuat performa pesawat sempat diragukan. Karenanya, Korean Air mulai mengujicoba kelengkapan kemanan dan keselamatan pesawat tersebut pada 28 September tahun lalu selama kurang lebih satu dan tiga seperempat jam penerbangan.

Selama waktu tersebut, Airbus A380 Korean Air berkeliling langit Pulau Jeju menuju Busan, salah satu kota terkenal di Korsel lewat film Train to Busan, dan mendarat kembali di Incheon, Seoul. Pada penerbangan ini, rata-rata pesawat hanya menjajal ketinggian jelajah di angka 32 ribu kaki.

Usai Airbus A380 Korean Air pensiun, maskapai akan mengandalkan Queen of the Skies Boeing 747-8 untuk penerbangan jarak jauh. Sayangnya, seri terbaru dari Boeing 747 itu juga akan dipensiunkan secara bertahap selama 10 tahun ke depan.

Sepeninggal Airbus A380 dan Boeing 747-8, praktis Korean Air hanya akan mengandalkan twin jet jarak jauh modern, Boeing 777-300ER, Boeing 787 Dreamliner, dan Boeing 777-9X yang akan segera bergabung dalam barisan armada.

Baca juga: Korean Air, Setiap Hari Layani Penerbangan Langsung Cengkareng-Incheon

“Saya percaya Boeing 777 adalah salah satu pesawat paling sukses dalam sejarah penerbangan,” jelas Cho. “Jika ditanya, saya akan mengatakan B777-300ER adalah model favorit saya,” tambahnya.

“Meski saya tidak mengesampingkan Boeing 777X, ada beberapa poin yang masih perlu verifikasi. Saya mungkin mempertimbangkannya setelah itu, tetapi saya tidak berpikir kami akan memiliki permintaan besar untuk pesawat baru untuk beberapa waktu karena kami sudah memiliki sejumlah besar pesawat yang beroperasi atau dipesan,” tutupnya.

Dembell Motorhome, Desain ‘Kapal Pesiar’ dengan Sasis Mercedes Tiga Gandar

Dembell, perusahaan karoseri mewah asal Jerman memiliki cita-cita untuk membuat kapal pesiar darat paling mewah yang pernah ada di dunia. Dengan basis Mercedes tiga gandar (sumbu roda) yang membentang, interior yang diperluas tiga kali lipat, interior yacht, eksterior yang terinspirasi motorsport dan suite mengesankan, Dembel bahkan dapat mengklaim jajaran “land superyacht” pertama di dunia.

Baca juga: Ada Sentuhan Mobil Mewah Honda, Ini Sederet Fitur Baru All-New HondaJet Elite S

Tidak puas hanya menggunakan moniker “kapal pesiar darat” sebagai istilah pemasaran, tim manajemen Dembell mengejar definisi yang lebih murni, meninggalkan janji interiornya di tangan perusahaan desain Italia dengan pengalaman menghidupkan ruang interior kapal pesiar Azimut. Hasil awal tampak mengesankan, bahkan untuk “uang bukan objek” akhir dari pasar motorhome.

Interior motorhome. Foto: Dembell

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (18/8/2021), kamar individu Dembell tersebar di balik pintu kaca semi-transparan, lantai kayu keras berpadu rapi dengan dinding yang serasi. Kamar utama, yang melampaui lebar “balok penuh” dengan bantuan modul ekspansi geser, harus membuat orang yang tertidur di tempat tidur berukuran 79 x 79 inci (200 x 200 cm) melupakan daun yang berhembus, tidak memukul ombak, menunggu di luar kaca jendela berpemanas.

Pilihan furnitur dan dekorasi yang menarik termasuk kursi makan lipat bergaya sutradara, sconce dinding, toilet keramik dan wastafel, pencahayaan ambient, trim kamar mandi batu dan pelapis sofa kulit. Lantai Dembel berjalan datar dan tanpa langkah dari depan ke belakang, memberikan ketinggian berdiri lebih dari dua meter di seluruh denah lantai. Di depan, motorhome mengakomodasi pengemudi dan tiga penumpang di kursi kapten ber-AC dengan suspensi pegas dan fungsi pijat.

Di atas, tempat tidur queen lift-away berukuran 63 x 79-in (160 x 200-cm) menyediakan ruang bagi anak-anak atau tamu untuk bergabung dengan pemiliknya untuk bermalam. Di bagian belakang, Dembel menawarkan dua atau tiga slide-out ekspansi untuk menambah ruang lantai interior. Slide-out memperluas ruang tamu tepat di belakang kabin pengemudi, dapur di seberang lorong dan kamar utama belakang.

Miele menyediakan kompor induksi, oven, kulkas 224-L, mesin cuci piring dan microwave untuk dapur, sementara Bose menangani suara surround di ruang tamu. Kombinasi mesin cuci/pengering juga disertakan, dan TV berukuran 50 hingga 55 inci dipasang rapi di ruang tamu dan dinding kamar tidur utama.

Tiga opsi garasi yang tersedia mencakup spektrum dari sepeda dan skuter hingga sport coupe dengan panjang hingga 450 cm, termasuk Ferrari California yang berfungsi sebagai coupe contoh Dembel. Itu bukan pilihan yang mengesankan karena Porsche 911 GT2 RS Volkner memutuskan untuk membawa di tengah kapal motor Performance S-nya beberapa tahun yang lalu, tapi itu bukan cara yang buruk untuk turun dan menjelajahi jalan pegunungan yang sempit dan berliku di sekitar base camp.

Dembell Motorhome mendukung penghuni selama perjalanan panjang dengan panel surya yang dipasang di atap, generator onboard, dan tangki air tawar 1.000 L. Kombinasi panas di bawah lantai dan radiator membuat segala sesuatunya tetap hangat dalam cuaca yang cerah. Di luar, tenda berukuran 6,3 x 3,5 meter dengan sensor angin menyediakan naungan untuk bersantap di luar ruangan.

Dembelll terinspirasi oleh motorhomes hari balapan dan akar itu bersinar melalui gaya eksterior. “Sporty” mungkin berlebihan ketika datang ke kotak RV yang lebar, tetapi Dembel meningkatkan tampilan monoton dari bodi motor Mercedes Actros yang ditanam dengan garis balap merah yang menggarisbawahi garis jendela berwarna penuh.

Baca juga: Habiskan Rp10 Juta, Pria Asal Malaysia Ubah Daihatsu Hijet S85 Jadi Campervan

Dembell menunjukkan motorhome-nya pada pertemuan kecil bergaya VIP awal tahun ini dan merencanakan pertunjukan publik yang lebih besar di Düsseldorf Caravan Salon tahun ini. Kami akan melihat untuk mendapatkan detail lebih lanjut, termasuk harga, setelah pertunjukan dibuka pada 27 Agustus. Dembel muncul dengan posisi yang cukup baik untuk pengakuan “motorhome paling mahal dari pertunjukan”.






















Tail Table Mudahkan Rehat Sejenak Menikmati Cemilan Saat Berkendara

Ketika bepergian dengan mobil dan perlu rehat untuk menikmati cemilan atau piknik, biasanya sulit untuk menempatkan makanan bila tidak ada meja kecil. Sehingga terkadang diletakkan di jok mobil atau membuka bagasi belakang mobil sambil duduk bersantai. Untuk memudahkan ini, ada solusi yang dihadirkan oleh Colorado’s Space Innovation Labs.

Baca juga: Mudahkan Pelancong, Kotak Camper Modular Bisa Jadi Basecamp Indoor dan Outdoor

KabarPenumpang.com melansir dari newatlas.com (18/8/2021), solusi tersebut adalah Tail Table yang memberikan kenyamanan dan cerdiknya lagi menempel pada bagasi sebagain besar kendaraan. Tail Table ini pun mudah digunakan dan bisa menampung banyak ruang untuk makanan dan minuman. Meja ini sendiri dirancang bekerja dengan mobil apa pun yang menggunakan kait berbentuk U atau I untuk mengamankan bagasinya.

Di mana ini bisa dikunci dengan kait dan ada kaki kecil yang bertumpu di bumper belakang untuk menopang meja ini. Uniknya lagi, kaki Tail Table bisa disesuaikan, sehingga meski tanah tidak rata dan bahan yang digunakan adalah nilon. Meski ringan Tail Table mampu menopang beban lebih dari 90 kg di bagian dasar dan 11 kg di tepi jauh.

Meja utama menawarkan ruang kira-kira 24 x 10 inci (60 x 25 cm), tetapi sebuah baki meluncur keluar dari bawah dan menggunakan sayap lipat untuk memperluasnya ke area seluas 48 x 30 inci (122 x 76 cm) saat sepenuhnya diperpanjang. Meja memiliki ketebalan 3 inci (7,6 cm), dan di sekeliling tepinya terukir enam tempat untuk gelas anggur bertangkai.

Meja ini dilengkapi dengan alas penyiapan makanan yang dapat diganti dan aman untuk mesin pencuci piring dan talenan, lengkap dengan saluran untuk mengalirkan cairan apa pun dan mencegahnya tumpah ke interior kendaraan Anda. Dan saat tidak digunakan, Tail Table yang dilipat dapat dimasukkan ke dalam tas khusus yang diikat ke bagian belakang kursi untuk perjalanan yang aman dan hemat tempat.

Baca juga: Butuh Kabin Mobil Tambahan untuk Piknik? Kabin Pop-Up CARSULE Mungkin Bisa Jadi Solusi

Space Innovation Labs mengatakan Tail Table akan bekerja dengan 95 persen mobil, SUV, van, atau kendaraan apa pun dengan kait berbentuk I atau U yang diperlukan. Meja itu sendiri saat ini siap dijual dengan harga US$170, sementara tambahan $50 akan mendapatkan paket deluxe, yang mencakup anggur plastik dan gelas tumbler, kantong penyimpanan untuk peralatan dan peralatan makan, dan tali untuk membawa piring. Pengiriman dijadwalkan untuk musim gugur AS.

Teknologi Aircraft Towing System Janjikan Penghematan Bahan Bakar dan Tekan Emisi C02!

Teknologi aircraft towing disebut sangat sejalan dengan upaya mengurangi emisi karbon dioksida (C02) sekaligus menghemat bahan bakar pesawat sebelum lepas landas.

Baca juga: Mengenal WheelTug, Roda Pendaratan yang Bikin Maskapai Untung dan Pilot Senang

Di dunia, teknologi yang juga disebut towbarless tug ataupun towbarless aircraft tug tersebut teknisnya sangat beragam. Ada yang berupa TaxiBot atau towbarless tug semi-robotic yang dioperasikan di Bandara Internasional Indira Gandhi (Delhi). Ada pula bentuk lain, seperti yang tengah dikembangkan oleh ATS World Wide.

Dilansir dari New Atlas, perusahaan yang berbasis di Oklahoma, Amerika Serikat (AS) itu diketahui sedang mengembangkan Aircraft Towing System (ATS). Teknologi aircraft towing ini dinilai lebih efektif dan efisien ketimbang towbarless tug semi-robotic yang digunakan di India ataupun WheelTug.

Sebab, ATS sudah dirancang sedemikian rupa membentuk berbagai jalur yang saling terhubung hingga membentuk sejenis sirkuit.

Teknisnya, sistem ini tertanam di bawah permukaan aspal runway sampai ke bawah permukaan apron. Kemudian, pesawat akan ditarik oleh pullcar dengan sistem monorail usai mendarat dan berhenti di titik yang sudah ditentukan. Ban atau roda depan pesawat yang sudah dikunci menggunakan wheel chocks lalu ditarik terus sampai ke apron.

Bila pesawat ingin kembali digunakan, pullcar tadi akan menuntun pesawat sampai ke runway untuk lepas landas.

Seluruh sistem dijalankan secara terkomputeriasi atau otomatis. Sehingga pilot tidak perlu mengarahkan pesawat. Tak hanya itu, staf ATC juga tidak berlu berkomunikasi dengan pilot untuk memberitahu lokasi runway untuk lepas landas. Cukup atur di sistem dan pullcar akan mengangkat dan mengunci roda depan menggunakan wheel chocks untuk dibawa ke runway yang sudah ditentukan.

Hasil penelitian dari para peneliti di Oklahoma State University, ATS dapat meningkatkan throughput pesawat di bandara hingga 30 persen.

“Saat ini ketika sebuah pesawat mendarat, biasanya akan dihandle oleh sekitar empat orang yang berbeda mulai dari landing dan sampai ke apron,” kata CEO ATS World Wide, Vince Howie.

“Dan 80 persen dalam proses itu, pilot mengemudikan pesawatnya sendiri, tanpa arah. Kami akan menggunakan sistem itu, dan sepenuhnya mengotomatisasi dan mengoptimalkannya,” jelasnya.

Mengingat sistemnya modular, bandara dengan anggaran kecil tentu tidak sanggup membiayai sistem untuk pushback saat ingin lepas landas dan menarik pesawat sampai ke gate sehabis mendarat, mengingat biayanya bisa mencapai US$150 juta atau sekitar Rp2,1 triliun (kurs 14.402). Tetapi, mereka bisa memilih salah satunya.

Menurut perusahaan, bandara kecil dengan anggaran terbatas baiknya menggunakan sistem pushback aircraft towing system, membantu pesawat melakukan pushback dan menariknya sampai ke runway. Sistem ini dalam waktu dekat akan mulai beroperasi di Bandara Ardmore Municipal Oklahoma, AS.

Baca juga: Pertama di Dunia, Bandara Delhi Catat 1.000 Pergerakan TaxiBot! Hemat 214 Ribu Liter Avtur

Meski mahal, Howie menjamin bahwa investasi sebesar itu (Rp2,1 triliun untuk paket lengkap aircraft towing system) akan kembali dalam tempo dua tahun. Itu dihasilkan dari penghematan biaya bahan bakar penerbangan selama taxiing menuju runway ataupun menuju apron usai mendarat.

“Delapan puluh persen armada komersial adalah 737 atau A320. Mereka membakar sekitar sembilan galon bahan bakar per menit selama taxiing. Waktu taxiing rata-rata di AS adalah antara 16 dan 27 menit. Di bandara besar, Anda akan memiliki lebih dari 800.000 pergerakan per tahun. Jadi jika Anda mengambil sembilan galon bahan bakar itu, dikali 16 menit, dikali 800.000, dikali berapa pun harga bahan bakar hari itu, itu berubah menjadi uang sungguhan dengan sangat cepat,” tutupnya.