Hari Ini, 72 Tahun Lalu, De Havilland Comet, Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia Terbang Perdana

Pada hari ini, 72 tahun lalu, bertepatan dengan 27 Juli 1949, pesawat jet komersial pertama di dunia, De Havilland Comet, berhasil terbang perdana. Ini bukan hanya menandai keberhasilan manufaktur dalam pengembangan pesawat jet melainkan menjadi pembuka tirai dimulainya era penerbangan jet.

Baca juga: De Havilland Comet, Inilah Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia

Dilansir history.com, De Havilland Comet merupakan mahakarya dari desainer pesawat sekaligus pelopor penerbangan Inggris, Sir Geoffrey de Havilland (1882-1965). Sebagaimana Wright Bersaudara yang menjadi pelopor penerbangan dunia, de Havilland juga memulai sepak terjang dirgantaranya dengan merancang sepeda motor serta bus.

Setelah melihat Wright Bersaudara berhasil melakukan penerbangan pertama dengan pesawat bertenaga yang bisa dikendalikan pada 1908, ia terpacu untuk membuat pesawat sendiri. De Havilland berhasil merancang dan mengemudikan pesawat pertamanya pada tahun 1910. Ia kemudian bekerja di pabrikan pesawat Inggris dan membuka perusahannya sendiri, De Havilland Aircraft, pada tahun 1920.

Kemunculan pabrikan pesawat De Havilland Aircraft, ketika itu, bukan hanya mengejutkan industri dirgantara Inggris, melainkan juga dunia. Betapa tidak, di awal kemunculannya, pabrikan tersebut sudah berhasil mengembangkan mesin yang lebih ringan serta pesawat yang lebih cepat dan ramping.

Pada tahun 1939, pesawat tempur Heinkel He 178 buatan Jerman, pesawat jet pertama di dunia, berhasil terbang perdana. Tak tinggal diam, De Havilland juga turut merancang pesawat tempur bertenaga jet selama periode Perang Dunia II. Atas kontribusinya ini, ia bahkan sampai dianugerahi gelar kebangsawanan dan berhak menyandang “Sir” sebagai nama depannya.

Setelah Perang Dunia II selesai, De Havilland Aircraft mulai fokus ke pesawat jet komersial dan mengembangkan De Havilland Comet yang menggunakan mesin Ghost 50 Mk1 hasil pengembangan sendiri.

27 Juli 1949, De Havilland Comet berhasil terbang perdana dan resmi menjadi pesawat jet komersial pertama di dunia. Sebelum masuk ke tahun layanan, De Havilland Comet masih harus menjalani tiga kali uji terbang dan berhasil lolos sertifikasi serta uji kelaikan.

Pada 2 Mei 1952, British Overseas Aircraft Corporation (BOAC) memulai layanan penerbangan jet komersial pertama di dunia dengan De Havilland Comet 1A berkapasitas 44 kursi, dari London ke Johannesburg. Ketika itu, pesawat berhasil melesat dikecepatan 480 mil per jam, rekor tertinggi di dunia.

Tetapi sayang, serangkaian kecelakaan pada tahun 1953 dan 1954 membuat regulator Inggris dan Eropa melarang penerbangan De Havilland Comet. Dari dua kecelakaan tersebut, penyidik menemukan sumber masalahnya berasal dari metal fatigue. Selain itu, jendela pesawat berbentuk kotak dan cukup besar juga menjadi penyebab utama kecelakaan De Havilland Comet.

Empat tahun setelah kecelakaan terakhir, De Havilland Comet yang ditingkatkan dan disertifikasi ulang memulai debut baru.

Baca juga: Hari Ini, 55 Tahun Lalu, Presiden Irak Tewas dalam Kecelakaan Pesawat de Havilland Dove

Tetapi, di saat yang bersamaan, manufaktur pesawat asal AS, Boeing dan Douglas, juga memperkenalkan pesawat jet yang lebih cepat dan lebih efisien. Alhasil, De Havilland Comet, yang notabene sebagai pelopor pesawat jet komersial di dunia, justru ditinggalkan maskapai.

Pada awal 1980an, sebagian besar De Havilland Comet dipensiunkan maskapai dan menjadi lembar penutup perjalanan pesawat di industri dirgantara internasional.

Sejarah Bandara Charles De Gaulle Paris, ‘Saudara Kembar’ Bandara Soekarno-Hatta

Muda bukan berarti tak berprestasi. Kira-kira itulah yang mungkin agak tepat menggambarkan Bandara Charles De Gaulle Paris. Kendati tak lebih tua dibanding bandara lainnya di Eropa bahkan dunia, seperti London Heathrow, Schiphol Amsterdam, dan Bandara John F. Kennedy New York, namun dari segi kunjungan penumpang, Bandara Charles De Gaulle tak kalah dengan bandara-bandara tersebut.

Baca juga: Antara Bandara Soekarno-Hatta dan Charles de Gaulle, Dirancang oleh Arsitek yang Sama

Kemunculan Bandara Charles De Gaulle tak lepas dari dua bandara lainnya di Paris, Bandara Le Bourget (mulai beroperasi tahun 1919) dan Bandara Orly atau Orly-Villeneuve (mulai beroperasi tahun 1932).

Dilansir dari Simple Flying, selama tahun 1950-an dan 1960-an, lalu lintas di kedua bandara tersebut meningkat signifikan. Sayangnya, kedua bandara tersebut tak bisa mengikuti peningkatan traffic penumpang lantaran berada di tengah kota. Hanya pesawat-pesawat dengan ukuran kecil dan sedang saja yang bisa mendarat di sini.

Tentu, bila dibandingkan antar kedua bandara tersebut, Bandara Orly mencatat traffic lebih tinggi dibanding Bandara Le Bourget yang lebih tua.

Sadar dua bandara yang ada di pusat kota Paris tersebut tak lagi mampu menampung peningkatan lalu lintas penumpang, otoritas Perancis pun mulai bergerak mencari lokasi bandara baru pada tahun 1957. Setelah melalui berbagai proses, daerah di dekat Kota Roissy pun dipilih sebagai lokasi bandara.

Wilayah ini menjadi lokasi favorit bandara ketiga di Kota Paris lantaran masih agak tertinggal, dimana mayoritas wilayahnya berupa lahan pertanian. Selain itu, belum banyak atau bisa dibilang hampir tak ada bangunan tinggi di sini. Jadi, sangat memudahkan dalam proses pembangunan.

Pembangunan bandara baru yang awalnya dikenal sebagai Paris-Nord Aiport tersebut dimulai pada tahun 1964. Dalam proses pembangunan, nama bandara kemudian diubah menjadi Charles de Gaulle, diambil dari mantan presiden Perancis yang wafat pada tahun 1970.

Sejak awal, Bandara Charles De Gaulle Paris memang didesain untuk menjadi bandara besar di masa mendatang. Karenanya, disiapkan lahan seluas 12,5 mil persegi untuk bandara ini, sangat besar dibanding Bandara London Heathrow yang berdiri di atas lahan seluas 4,7 mil persegi.

Terbukti, ketika kemunculan pesawat besar seperti Boeing 747 dan Airbus A380, Bandara Charles de Gaulle jadi salah satu yang paling siap menerimanya dibanding Bandara London Heathrow.

Bandara Charles De Gaulle resmi beroperasi pada tahun 1974 dengan satu terminal. Bandara yang dirancang oleh arsitek Perancis, Paul Andreu, (arsitek yang juga merancang Bandara Soekarno-Hatta), tersebut berhasil menjalankan fungsinya dengan baik sebagai pengganti dua bandara pendahulunya.

Di tahun pertama beroperasi pada 1970-an, 2,5 juta penumpang hilir-mudik di bandara ini. Pada tahun 1976, jumlahnya meningkat menjadi 7,5 juta penumpang. Di tahun yang sama, pesawat supersonik Concorde hadir dan Bandara Charles De Gaulle jadi yang pertama mengoperasikan penerbangan komersial Concorde bersama Bandara London Heathrow.

Baca juga: Mulai 1 Agustus, Bandara Charles de Gaulle Paris Wajibkan Pelancong dari 16 Negara Tes Swab

Semakin banyak penumpang, terminal 2 pun resmi dibuka pada tahun 1981. Tetapi, desainnya berbeda dengan terminal 1 yang bergaya gurita. Setahun berikutnya sampai tahun 2003 terminal 2B-2E resmi beroperasi. Pada periode itu juga dibangun terminal 3.

Di tahun 2020 lalu, terminal 4 berencana segera dibangun dengan biaya US$10,5 miliar. Tetapi, rencana ini masih tertahan mengingat anjloknya pertumbuhan penumpang udara selama pandemi virus Corona sampai dengan saat ini.

Ini Dia Wally Funk, Orang Tertua dalam Sejarah Pergi ke Luar Angkasa

Usia 82 tahun dan menjadi orang tertua dalam sejarah yang pergi ke luar angkasa pekan ini. Dia Adalah Wally Funk yang bergabung dengan Jeff Bezos, Mark Bezos dan Oliver Daemen dalam penerbangan luar angkasa Blue Origin New Shepard.

Baca juga: FAA Ubah Definisi Astronot, Blue Origin Jeff Bezos ‘Keok’ dari Virgin Galactic Richard Branson

Wally ternyata sebelum pergi ke luar angkasa, memiliki hubungan yang kuat dengan eksplorasi ruang angkasa selama karirinya. KabarPenumpang.com merangkum simpleflying.com (25/7/2021), Mary Wallace Funk yang dikenal dengan Wally sudah tertarik dengan pesawat sejak usia muda.

Dia terpesona saat mendekati Douglas DC-3 ketika orang tuanya membawanya ke bandara terdekat. Kecintaan pada pesawat ini akan memacu Funk untuk membuat beberapa rekor dalam penerbangan. Setelah lulus dari Stephens College di Columbia, Missouri dengan lisensi pilot dan gelar Associate of Arts pada tahun 1958, ia melanjutkan studinya di Oklahoma State University dan memperoleh banyak sertifikat pilot serta gelar Bachelor of Science dalam pendidikan menengah.

Wally kemudian menjadi instruktur penerbangan wanita pertama di pangkalan militer Amerika Serikat setelah dia mengambil pekerjaan sebagai Instruktur Penerbangan Sipil untuk perwira militer yang tidak ditugaskan dan ditugaskan di Fort Sill, Oklahoma. Yang paling mengesankan adalah saat Wally mengejar karir di bidang penerbangan, dia juga membuat gelombang di industri luar angkasa.

Pada pergantian tahun 1960-an, dia mendengar tentang program pengujian kebugaran astronot wanita yang didanai secara pribadi yang dijalankan oleh ahli bedah penerbangan tidak resmi NASA, W. Randolph Lovelace II. Menariknya, 13 wanita dalam program tersebut sebagian besar menjalani pengujian sendiri, hampir tidak bertemu satu sama lain.Wally adalah salah satu dari tiga wanita dalam kelompok yang berhasil mencapai fase pengujian kedua.

Saat itu Wally berusia 20-an dan sudah membuktikan bahwa dia memiliki apa yang diperlukan. Sayangnya, program tersebut akhirnya akan dibatalkan.

“Bahkan tanpa persahabatan untuk memberikan dukungan moral, Wally berhasil dengan baik dalam berbagai tes yang telah dibangun Yayasan Lovelace untuk mendeteksi kemungkinan kerentanan fisik pada calon penjelajah ruang angkasa. Dia adalah satu dari hanya tiga wanita yang menjalani pengujian tahap kedua: pemeriksaan psikologis di rumah sakit VA di Oklahoma City, yang termasuk waktu di tangki deprivasi sensorik,” kata Smithsonian Air and Space Museum.

Tetapi pada tahun 1961, ketika para wanita bersiap untuk berkumpul sebagai sebuah kelompok di Pensacola, Florida, untuk tes aeromedis lanjutan yang akan mencakup waktu di pesawat jet, mereka menerima telegram yang mengumumkan bahwa proyek pribadi Lovelace tiba-tiba dibatalkan. Karena NASA tidak memiliki program astronot wanita resmi, Angkatan Laut mencabut izinnya untuk menggunakan fasilitasnya.

Meski tak mencapai tujuan, dia terus melakukan terobosan di sektor penerbangan dengan menjadi inspektur penerbangan untuk Administrasi Penerbangan Federal (FAA). Wally telah mencapai karir yang kuat dalam penerbangan, bekerja di beberapa pos terpenting di Amerika Serikat. Namun, keinginannya untuk pergi ke luar angkasa tidak pudar.

“Saya tahu apa yang ingin saya lakukan dan saya ingin pergi ke luar angkasa. Dan saya masih akan pergi ke luar angkasa. Dan jika saya berusia seratus [tahun], saya masih akan pergi ke luar angkasa. Bagaimanapun,” kata Wally.

Baca juga: Cina Sukses Kirim Astronot ke Stasiun Luar Angkasa, AS Panik

Jadi, enam dekade setelah rutenya ke luar angkasa awalnya ditutup, Wally akhirnya berhasil di tengah program Blue Origin. Dia adalah contoh utama tentang bagaimana tidak ada kata terlambat untuk menyerah pada impian Anda. Wally tidak hanya duduk-duduk dan menunggu kesempatan, aktivitasnya selama bertahun-tahun menjaga momentum selama beberapa dekade. Meskipun demikian, dia tidak berhenti percaya dan mengakui bahwa dia tahu pada akhirnya dia akan berhasil.

Intip Detail Interior-Eksterior Lego Airbus A380 yang Dibuat Selama 10 Bulan

Lego, sejenis alat permainan bongkah plastik kecil yang terkenal di dunia, sejak pertama kali ditemukan oleh Ole Kirk Chiristiansen asal Denmark pada 1930an sampai sekarang, berhasil disusun sedemikian rupa oleh tangan-tangan kreatif sampai membentuk replika banyak objek, seperti mobil, kereta api, gedung, patung, robot, hingga pesawat.

Baca juga: (Video) Pertama Kalinya, Pesawat Ulang-Alik Buran Meluncur dari ‘Punggung’ Replika Antonov An-225 Mriya

Terkait pesawat, YouTuber BigPlanes mungkin jadi salah satu yang familiar. Lewat channel tersebut, kreator konsisten menampilkan berbagai replika pesawat yang dibangun dari Lego. Terbaru, BigPlanes mengunggah Lego dari pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 Emirates.

Dilihat KabarPenumpang.com dari kanal YouTube BigPlanes, lego Airbus A380 Emirates buatannya bukan hanya fokus pada eksterior belaka melainkan juga mencakup interior. Selain itu, detail-detail sebagaimana umumnya pesawat, seperti mesin, landing gear system, ban, flap and slat, pintu, kokpit, sampai konfigurasi kelas ekonomi, bisnis, dan first class pun juga dihadirkan BigPlanes.

Replika pesawat berukuran lebar sayap tujuh kaki, panjang enam kaki, dan tinggi tiga kaki tersebut diketahui berhasil dibangun menggunakan 40 ribu bata Lego. Tak ayal, dengan banyaknya bata Lego dan detail-detail lengkap replika pesawat, sang kreator membutuhkan waktu setidaknya 10 bulan untuk menyelesaikannya.

Dari segi eksterior, seluruhnya nyaris sempurna menyerupai pesawat asli Airbus A380 Emirates. Livery-nya bisa dibilang sempurna mirip dengan aslinya. Kelap-kelip lampu di pesawat juga tak luput dari sang kreator.

Meski tak selengkap lampu yang terpasang di body luar pesawat asli, tetapi kehadiran beacon light berwarna merah di bagian atas badan pesawat, rasanya sudah cukup mewakili lampu eksterior lainnya di pesawat, yaitu navigation light dan strobe light.

Masih di ranah eksterior, Lego pesawat Airbus A380 Emirates karya BigPlanes juga dilengkapi dengan landing gear, pintu kompartemen kargo, vertical dan horizontal stabilizer, flap and slat, sampai mesin Rolls Royce.

Hanya saja, berbeda dengan flap and slat dan mesin yang bisa digerakkan melalui aplikasi di ponsel, landing gear system, pintu kompartemen kargo, vertical dan horizontal stabilizer tidak bisa digerakkan otomatis, melainkan secara manual oleh kreator. Kendati demikian, itu tidak mengurangi kesempurnaan dari Lego Airbus A380 ini.

Baca juga: Lego Hadirkan Replika Stasiun Kereta Disneyland dan Bisa Digerakkan

Berlanjut ke bagian interior, tampak sangat lengkap dengan kehadiran kru, penumpang, dan pilot, di kabin dua lantai dan kokpit. Konfigurasinya juga detail sekali perbedaannya antara kelas ekonomi, bisnis, dan first class.

Kreator juga menghadirkan beberapa representatif dari masing-masing kelas, seperti first-class bars dan luxury suites, lengkap dengan hidangan berupa ayam panggang dan lainnya. Ada juga sleeping quarter dan pantry untuk kru. Sangat lengkap, bukan?

Sudah Tahu “Ancillary Revenue” Maskapai Penerbangan? Simak di Sini Jika Belum

Banyak dari maskapai, biasanya maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC), mendapat sebagian besar pendapatan dari ancillary revenue atau pendapatan lain-lain. Kendati hanya sekedar pendapat lain-lain, ancillary fee kadang kala menyumbang pendapatan cukup besar bagi banyak maskapai.

Baca juga: Genjot Pendapatan Tambahan, Lion Air Group dan Sabre Jalin Kemitraan Jangka Panjang

Maskapai LCC tergolong banyak mengambil ceruk ancillary revenue dikarenakan layanan mereka sangat standar sekali. Bisa dibilang, layanan yang diperoleh penumpang dari maskapai LCC hanya sekedar terbang, dengan bagasi terbatas, dan sampai tujuan.

Karenanya, bila penumpang ingin mendapat tambahan layanan, penumpang harus mengeluarkan biaya ekstra.

Kendati demikian, maskapai full service ataupun medium service, tentu juga putar otak agar juga bisa mendapat tambahan biaya atau ancillary revenue. Karena kebutuhan penumpang maskapai full service, medium service, dan LCC berbeda, layanan tambahan yang ditawarkan maskapai juga berbeda.

Dilansir Simple Flying, maskapai full service, semisal British Airways, mengambil sumber cuan dari ancillary revenue melalui berbagai lini, seperti perubahan tiket, bagasi, dan lainnya. Lebih lengkapnya sebagai berikut.

Perubahan tiket: Bagi penumpang yang ingin mengubah jadwal penerbangan, membatalkan penerbangan, atau membeli tiket baru, biasanya mereka dikenakan charge dan ini menjadi sumber pendapatan tambahan maskapai.

Bagasi: Jatah bagasi British Airways tergantung pada kelas layanan yang diambil penumpang. Jika penumpang terbang di kelas ekonomi dan ingin mengambil ekstra bagasi, penumpang dikenakan biaya US$90 untuk itu.

Overweight luggage: Jika bagasi penumpang melebihi berat yang diizinkan maskapai, penumpang wajib membayar biaya tambahan sebesar US$100.

In-Flight WiFi: British Airways menawarkan layanan internet atau WiFi dengan biaya US$8 untuk satu jam, US$18 untuk empat jam, dan US$24 untuk sepanjang penerbangan.

Selain empat itu, maskapai full service juga meraih ancillary revenue dari miles yang dibeli bank dan merchant dalam program frequent flyer. Jika dikalkulasi, persentase ancillary revenue dari penjualan poin frequent flyer maskapai full service bisa mencapai 55 persen.

Sedangkan untuk ancillary revenue dari maskapai LCC, semisal Ryanair, itu sebetulnya tak jauh berbeda dengan ancillary revenue maskapai full service. Perbedaan mencolok tentu dari biaya makanan dan minuman, bagasi, serta pemilihan kursi. Lebih lengkapnya sebagai berikut.

Baca juga: Peluang Pendapatan Baru, LCC Mulai Kenakan Biaya Untuk Bagasi Kabin

Pemilihan kursi: Semua pesawat Ryanair dikonfigurasikan dalam tata letak yang ekonomis, dengan harga kursi mulai dari US$8 hingga US$33.

Bagasi: Bagi penumpang yang membawa bagasi lebih dari yang sudah ditentukan, mereka wajib membayar sebesar US$19,10. Bagasi tambahan berupa alat musik, peralatan olahraga, dan stroller dikenakan biaya US$19.

Boarding prioritas: Penumpang dapat membayar US$7,16 untuk naik ke pesawat terlebih dahulu tanpa harus antre dan berdesakan masuk pesawat.

Makanan & Minuman: Ryanair membebankan biaya untuk semua makanan dan minuman dan menyediakan pre-ordered makanan ringan mulai harga US$11.
Asuransi perjalanan: Ryanair menjual asuransi perjalanan mulai dari US$23,77.

Hadapi Penumpang “Nakal,” Inilah Jurus Bela Diri Tangan Kosong ala Pramugari

Berbagai macam kelakuan penumpang sering kali harus dihadapi oleh awak kabin dalam sebuah penerbangan. Karena alasan tersebut, maka rasanya para awak kabin khususnya yang wanita (pramugari) harus memiliki keterampilan untuk bela diri.

Baca juga: Kerap Dijadikan Objek Pelecehan Seksual, Perlukah Pihak Maskapai Tambah ‘Kurikulum’ Bela Diri Terhadap Awak Kabin

KabarPenumpang.com melansir the-sun.com (20/7/2021), biasanya bela diri yang diajarkan ke pramugari adalah teknik menampar telinga, menusuk mata dan menendang selangkangan untuk membela diri dari para penumpang nakal. Insiden yang menggangu penerbangangan dalam beberapa tahun terakhir meningkat karena alasan salah satunya minuman beralkohol gratis sampai ketidaksepakatan tentang aturan dalam protokol Covid-19.

Di Amerika Serikat, teknik bela diri dengan jurus-jurus tersebut telah diajarkan dalam sesi pelatihan bagi anggota awak kabin untuk mempelajari gerakan pertahanan diri dari serangan yang agresif. Pelatihan ini dirancang untuk pertarungan jarak dekat, karena kabin yang kecil sehingga tidak banyak gerakan yang bisa dilakukan.

“Gerakan khusus ini dirancang karena Anda tidak ingin terlibat dalam pertarungan yang panjang dan berlarut-larut,” kata mantan pelatih Scott Armstrong.

Kelas gratis pelajaran teknik bela diri untuk awak kabin telah berlangsung sejak 2001, yaitu pasca serangan teror 11 September 2001, tetapi terpaksa dihentikan karena pandemi Covid-19, meskipun Otoritas Keamanan Transportasi (TSA) telah melanjutkannya kembali. Administrasi Penerbangan Federal (FAA) melaporkan telah terjadi 3.420 insiden “penumpang nakal” tahun ini, sebagian besar karena mengabaikan aturan penggunaan masker.

Denda untuk penumpang yang melanggar aturan sangat tinggi, dengan FAA mengeluarkan denda $682 ribu tahun ini. Bulan lalu, sebuah penerbangan Delta terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah seorang penumpang mencoba masuk ke kokpit, dan didenda $52.500.

Seorang penumpang Jet2 dipenjara bulan ini, setelah dia dikunci di toilet pesawat saat menyerang awak kabin dan bahkan mencoba menggigit awak kabin wanita. Salah satu dari 165 penumpang dalam penerbangan itu mengatakan mereka “trauma” dengan insiden itu dan “masih mengalami mimpi buruk”.

Baca juga: Antisipasi Perkelahian di Kabin, Awak Kabin Seyogyanya Harus Bisa ‘Bela Diri’

Sarah Nelson, presiden Asosiasi Internasional untuk Pramugari (AFA), menyerukan kelas menjadi wajib untuk pelajaran teknik bela diri, ia mengklaim awak pesawat telah menjadi “kantong tinju literal” bagi penumpang, dengan beberapa bahkan meninggalkan pekerjaan mereka karena tekanan psikologis.






















Ponsel Mati dalam Perjalanan Menggunakan Kereta di Jepang? Jika Pakai iPhone Cek Tips ini

Melakukan pembayaran transportasi seperti kereta api hanya dengan menscan kode QR dari ponsel menjadi hal yang paling mudah saat ini. Salah satunya di mana penumpang tidak perlu mengantre untuk membeli tiket dan langsung masuk ke gerbang menuju peron kereta tujuan.

Baca juga: Bikin Sensasi, Idola Muda Jepang Pamer Kekuatan Tarik dan Lepas Kereta di Stasiun

Namun bagaimana jika setelah men-scan kemudian melakukan perjalanan dan baterai ponsel mati karena lupa di charger padahal ketika keluar harus kembali men-scannya? Di Jepang, bila ini terjadi, maka petugas akan menyuruh penumpang untuk membayar ongkos secara tunai agar bisa melewati gerbang.

Tetapi meski bebas dari batasan peron stasiun, masih ada masalah perjalanan yang tidak ditutup di aplikasi seluler. Sebab, jika penumpang menggunakan kode QR untuk pembayaran menggunakan ponsel lagi, akan menyebabkan kesalahan di gerbang tiket.

Tak hanya itu, bila menambahkan saldo ke ponsel pun tetap akan ada masalah. KabarPenumpang.com melansir soranews24.com (14/7/2021), untuk membantu masalah itu, petugas kereta api Jepang akan menyerahkan secarik kertas dengan tulisan “PASMO/Suica memproses kontak formulir” di bagian atas, dan menyuruh penumpang untuk menyerahkan kepada staf stasiun, bersama dengan iPhone-nya, agar catatan entri dihapus sekali setelah baterai ponselnya terisi.

Itu adalah proses yang sedikit rumit, dan seorang jurnalis soranews24.com, Ahiruneko yang menjadi korban ponsel mati di Jepang ketika melakukan perjalanan dan mendapat hal itu dari petugas merasa sayang sekali dia tidak bisa langsung memperbaiki catatan perjalanannya di ponselnya. Namun, begitu dia kembali ke kantor dan menyelidiki lebih lanjut masalah ini, dia menemukan ada cara yang lebih mudah untuk memperbaiki masalah, dan itu telah menatap wajahnya selama ini.

Menurut situs resmi Perusahaan JR East, Ahiruneko bisa saja keluar dari stasiun tanpa harus berkonsultasi dengan staf stasiun, karena ada bagian yang berbunyi, “Untuk perangkat dengan opsi daya baterai cadangan, jika Suica diatur sebagai kartu ekspres, Suica sendiri dapat digunakan untuk jangka waktu tertentu (bahkan jika dikatakan baterai perlu diisi).”

Hal ini berarti Ahiruneko bisa keluar dari stasiun hanya dengan memegang iPhone miliknya yang sudah diisi baterai di gerbang tiket. Rupanya, “mode Cadangan Daya” diperkenalkan dengan iOS 12, dan ini hanya menyimpan daya yang cukup di ponsel Anda untuk mendukung transaksi Kartu Ekspres selama sekitar lima jam dengan baterai yang tampaknya mati.

Sayangnya, layanan ini tampaknya terbatas pada beberapa iPhone, tetapi untuk melihat apakah itu berfungsi pada iPhone, cukup tekan tombol samping pada iPhone saat baterai habis, dan jika melihat pesan muncul di layar yang mengatakan Anda masih bisa menggunakan Kartu Ekspres, Anda akan dapat menggunakan kartu di Apple Wallet, seperti kartu transit yang sangat penting itu.

Baca juga: Awas Culture Shock, Berikut 7 Panduan Naik Kereta di Jepang

Untuk diketahui, selama Anda tidak mematikan ponsel secara manual, mode daya cadangan ini dapat diakses, catatan ini bisa untuk referensi di masa mendatang. Dia terkejut mengetahui teleponnya memiliki kekuatan seperti itu, dan setelah bertanya di sekitar kantor untuk melihat apakah pemilik iPhone lain tahu tentang fitur ini, dia menemukan bahwa hanya dua dari sekitar selusin orang yang mengetahuinya.






















Kereta Trans-Siberia Berhenti Beroperasi, Presiden Rusia Vladimir Putin Turun Tangan

Jalur kereta api Trans-Siberia harus berhenti pengoperasiannya setelah jembatan runtuh di sebelah timur Danau Baikal. Runtuhnya jembatan tersebut terjadi pada Jumat (23/7/2021) di dekat Nizhnyanya Kuenga di Trans-Baikal di sebelah timur Danau Baikal.

Baca juga: Trans-Siberia, Kereta Yang Mengubah Takdir Cinta

Karena insiden ini maka banyak kereta api yang ditutup perjalanannya di sepanjang jalur rel 5.772 mil atau sekitar 9.289 km yang membentang tujuh zona waktu di seluruh Rusia. Dilansir KabarPenumpang.com dari illinoisnewstoday.com (26/7/2021), jalur kereta api terpanjang di dunia ini membentang dari Moskow ke Pelabuhan Pasifik Vladivostok.

Untungnya ketika jembatan runtuh, tidak ada penumpang yang terluka. Insiden runtuhnya jembatan kereta api tersebut diketahui karena hujan lebat yang melanda daerah tersebut. Hal ini kemudian membuat Presiden Rusia Vladimir Putin mendesak para pejabat untuk memulihkan layanan kereta api secepat mungkin setelah tersebut.

Setelah desakan itu, Putin melaporkan bahwa pihak berwenang telah berjanji untuk mengaktifkan kembali kereta api di beberapa jalur dalam waktu dua setengah hari. Sementara jalur kedua akan kembali beroperasi dalam lima hari.

Bahkan Presiden Rusia itu juga menginstruksikan para pejabat untuk langkah-langkah mendesak untuk memastikan pasokan makanan dan barang-barang penting lainnya tidak terputus ke daerah-daerah yang terkena gangguan. Putin juga memberi tahu pihak berwenang untuk tidak mencolok ketika memastikan pasokan kebutuhan pokok.

Untuk diketahui, kereta api Trans-Siberia melintasi tujuh zona waktu dan membutuhkan delapan hari untuk menyelesaikan perjalanannya. Jalur ini adalah jalur tunggal terpanjang ketiga dunia setelah Moskwa-Pyongyang dan Kiev-Vladivostok yang keduanya juga menggunakan rute Trans-Siberia.

Baca juga: Kim Jong Un Mulai Membuka Diri, Jalur Kereta Trans Siberia Diharapkan Bisa Berakhir di Seoul

Rute utama jalur kereta api Trans-Siberia berawal dari Moskow melewati Yoroslavl, Chelyabinsk, Omsk, Novosibirsk, Irkutsk, Ulan-Ude, Chita dan Khabarovsk ke Vladivostok via Siberia Selatan.






















FAA Ubah Definisi Astronot, Blue Origin Jeff Bezos ‘Keok’ dari Virgin Galactic Richard Branson

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) tiba-tiba mengubah definisi astronot tepat di hari Blue Origin melakukan penerbangan berpenumpang pertama dalam proyek wisata ke luar angkasa. Orang terkaya di dunia, Jeff Bezos, turut ikut dalam penerbangan tersebut bersama empat orang lainnya.

Baca juga: Catat, 11 Juli Virgin Galactic Bawa Penumpang Pertama ke Luar Angkasa! Disiarkan Live

Melalui perubahan atau pembaruan FAA Commercial Space Astronaut Wings Program, praktis Jeff Bezos dan seluruh tim Blue Origin satupun tak ada yang bisa disebut sebagai astronot.

Berbeda dengan Virgin Galactic konglomerat dunia, Richard Branson, beberapa orang dalam tim dari perusahaan penyedia wisata ke ruang angkasa tersebut berhasil masuk dalam kategori astronot atau lebih tepatnya sayap astronot (astronaut wings badge).

Dengan begitu, bisa dibilang, dalam hal prestisius menyandang lencana atau gelar sayap astronot FAA, Blue Origin berada selangkah di belakang Virgin Galactic.

Dilansir gizmodo.com, dalam definisi terbaru FAA tentang Commercial Space Astronaut Wings Program, lembaga tersebut mengkategorikan sayap astronot sebagai seseorang yang terbang di atas 50 mil di atas permukaan laut.

Jeff Bezos berpose di depan wahana antariksa Blue Origin. Foto: The Verge

Blue Origin Jeff Bezos masuk dalam syarat tersebut. Diketahui, perusahaan yang didirikan Jeff Bezos pada tahun 2000 itu berhasil terbang maksimum di ketinggian 62 mil di atas permukaan laut.

Tetapi, dalam syarat lain terkait keselamatan publik atau berkontribusi pada keselamatan penerbangan antariksa manusia, Blue Origin tak memenuhi syarat tersebut sehingga satupun dari mereka tak berhak menerima lencana program sayap astronot FAA.

Sebagaimana yang kita tahu, pesawat ruang angkasa New Shepard Blue Origin berhasil melakukan penerbangan penumpang pertama ke ruang angkasa secara otonom alias tanpa adanya pilot dan kopilot.

Ini tentu berbeda dengan penerbangan penumpang pertama Virgin Galactic ke luar angkasa. Pesawat ruang angkasa VSS Unity 22 diterbangkan oleh pilot Dave Mackay dan Michael Masucci. Pada 11 Juli lalu, pesawat tersebut berhasil terbang maksimum di ketinggian 282773 kaki atau 53 mil lebih, sedikit di atas syarat FAA yaitu minimum 50 mil di atas permukaan laut.

Selain itu, dalam penerbangan tersebut, Dave Mackay dan Michael Masucci juga sangat kontributif terhadap keselamatan publik serta penerbangan antariksa. Mereka juga termasuk dalam syarat memimpin, mengemudikan, atau bekerja pada pesawat ruang angkasa.

Itu mengapa, pilot yang memimpin penerbangan SpaceShipOne 2004 dan SpaceShipTwo pada 2018 ke luar angkasa, termasuk wanita non pilot pertama yang juga kepala instruktur astronot Virgin Galactic, Beth Moses, berhasil meraih lencana atau penghargaan sayap astronot AS.

Baca juga: Profil Jeff Bezos, ‘Keturunan’ Imigran Kuba yang Sukses di AS Bersama Amazon.com

Kendati demikian, Richard Branson tetap tidak bisa mengklaim diri sebagai astronot meski penerbangan tim VSS Unity 22 Virgin Galactic berhasil memenuhi seluruh persyaratan Program Sayap Astronot FAA. Singkatnya, Richard Branson dan Jeff Bezos bukanlah astronot.

Kemudian, seluruh tim dalam penerbangan penumpang pertama Blue Origin ke ruang angkasa tidak bisa masuk dalam nominasi Sayap Astronot yang dipilih FAA. Itu berbeda dengan tim dari VSS Unity 22 ketika melakukan penerbangan penumpang pertama Virgin Galactic ke ruang angkasa.

Jalurnya Pernah di Bom, Ini Sejarah Panjang Stasiun Padalarang

Banyak stasiun di Indonesia yang dibangun masa penjajahan Kolonial Belanda dan salah satunya adalah Stasiun Padalarang. Stasiun yang terletak di Bandung Barat ini tepatnya berada di Jalan Cihaliwung, Kertajaya, Padalarang. Memiliki ketinggian +695 mdpl, Stasiun Padalarang termasuk stasiun kelas I dan masuk dalam Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung.

Baca juga: Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya

Stasiun ini memiliki lima jalur kerera api dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus serta jalur 5 yang memiliki fasilitas bongkar muat batu balast/kricak. Stasiun Padalarang sendiri saat ini juga menjadi Bangunan Cagar Budaya yang sudah berumur sekitar 136 tahun.

Pembangunan Stasiun Padalarang (Wikipedia)

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, meski sudah dibangun lebih dari satu abad, Stasiun Padalarang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Bangunan stasiun ini memiliki gaya hindies dan menggunakan kayu jati sebagai bahan utamanya.

Stasiun Padalarang dibangun bersamaan dengan jalur kereta api tahap ketiga yang menghubungkan Cianjur dan Bandung pada 1884 dan dibangun oleh perusahaan kereta api Staatspoorwagen. Ternyata stasiun ini memiliki beberapa kisah yang jarang terumbar diumum yakni adanya jalur menuju pabrik Kertas Padalarang.

Sebab dahulu stasiun ini diyakini digunakan sebagai tempat singgah kereta api pengangkut merang yang merupakan bahan pembuatan uang kertas Indonesia kala itu. Meski memiliki bangunan tua, sejak 6 April 1999, stasiun ini sudah menggunakan persinyalan elektrik produksi Alstom.

Di sebelah utara stasiun ini sedang dilaksanakan proyek pembangunan jalur kereta kecepatan tinggi rute Jakarta–Bandung yang diprakarsai oleh PT Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC). Beserta proyek tersebut stasiun Padalarang akan dibangun kembali untuk melayani transfer penumpang antara kereta cepat dengan layanan kereta api konvensional.

Stasiun ini mulai beroperasi penuh pada tanggal 17 Mei 1884, bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api segmen Cianjur–Padalarang–Bandung. Pada awalnya, Stasiun Padarang menjadi titik persinggahan kereta api rute Jakarta–Bandung via Bogor–Sukabumi–Cianjur.

Semenjak pengoperasian jalur baru Cikampek–Padalarang pada tahun 1906, stasiun ini mulai melayani kereta api dari Purwakarta. Pengoperasian kereta api di jalur tersebut telah terbukti mampu memangkas perjalanan kereta api Jakarta–Bandung dan menjadi unggulan SS.

Kereta ini pun diberi nama Vlugge, menggambarkan keandalan dan ketangguhan kereta api ini menantang medan terjal di jalur tersebut. Stasiun ini menjadi salah satu titik pergantian lokomotif uap karena adanya peralihan medan terjal berkelok-kelok dengan medan datar di segmen Padalarang–Bandung. Titik pergantian lokomotif lainnya juga ada di Stasiun Purwakarta.

Baca juga: Terkenal Karena Didi Kempot, Inilah Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan

Pada tanggal 7 Maret 1942, pukul 18.00, stasiun ini pernah dibom jalurnya oleh Jepang sehingga kereta api tidak dapat lewat. Salah seorang Belanda bernama J.C. Bijkerk menuturkan dalam kisahnya bahwa begitu jalur tersebut dibom, distribusi makanan ke Padalarang bagi warga dan tentara KNIL menjadi terganggu.