Serba-Serbi Olimpiade Tokyo: Dani Alves Jadi Pramugara di Pesawat Rombongan Timnas Brasil

Olimpiade Tokyo 2020 terus mengukir berbagai kisah unik, membanggakan, dan mungkin juga kocak. Bahkan sebelum resmi dimulai. Salah satunya datang dari rombongan Tim Nasional Sepak Bola Brasil saat berangkat menuju Tokyo dari Serbia usai menjalani laga persahabatan.

Baca juga: Sederet Bintang K-Pop Ini ‘Banting Setir’ jadi Pramugari dan Pramugara

Ketika itu, bek berusia 38 tahun, Dani Alves, menjajal posisi sebagai pramugari pesawat. Sebagaimana pramugara/pramugari pada umumnya, mantan pemain Barcelona, Juventus, dan PSG itu melakukan berbagai tugas dan fungsi pramugara, salah satunya safety demonstration atau safety induction lewat interkom sebelum pesawat berangkat.

Dari video yang dilansir Marca, Dani Alves, yang menjadi salah satu dari tiga pemain usia senior di skuat Timnas sepak bola putra Brasil bersama Santos (kiper) dan Diego Carlos (bek), tampak duduk di kursi pramugari dan membacakan satu persatu safety induction atau prosedur keselamatan penerbangan bagi penumpang.

Tak hanya itu, pemain Timnas Brasil lainnya juga turut melengkapi aksi kocak Dani Alves dengan menjadi safety demonstrator tepat di bagian depan lorong pesawat sambil disaksikan para penumpang lainnya yang juga skuat dari Timnas Brasil.

Hal-hal lucu dan kocak seperti ini tentu tidak datang dari para pesepakbola profesional asing saja, melainkan juga datang dari para pesepakbola profesional Indonesia. Salah satunya Zulham Zamrun.

Pada Desember 2016 silam, Zulham pernah melakukan aksi kocak spontan saat pesawat Garuda Indonesia yang mengangkut skuat Tim Merah-Putih mendarat di landasan Soekarno Hatta, Banten. Ia meminta izin kepada pilot untuk masuk kabin.

Meminjam topi pilot pesawat, Zulham berfoto seraya berakting sebagai seorang pilot. Ia didampingi Bandung Saputra, Media Officer Timnas Indonesia yang bertindak sebagai kopilot. “Sekali-kali jadi pilot, penasan Bos,” ungkapnya.

Selain Zulham, pesepak bola Indonesia lainnya, Hamka Hamzah, juga pernah menjajal menjadi pilot. Tak seperti Zulham, Hamka Hamzah mengenakan seragam pilot lengkap, tetapi bukan untuk menjajal pesawat sungguhan melainkan flight simulator di kawasan BSD, Tangerang.

Sebelum mencoba sensasinya mengemudi kapal terbang, Hamka Hamzah berpenampilan seperti layaknya pilot. Dia mengenakan seragam dilengkapi dasi khas pilot. Dirinya ditemani pilot dari Garuda Indonesia, Citilink, dan NAM Air.

Satu di antaranya pilot itu menjelaskan tentang pesawat yang dikemudikan Hamka Hamzah, yaitu tipe A320. Mantan pemain PSM Makassar itu dengan seksama memperhatikan penjelasan dari para pilot, mengenai fungsi tombol-tombol dalam mengoperasikan pesawat terbang.

Baca juga: Mesin Alami Kendala Sebelum Lawan Uruguay, Pesawat Timnas Arab Saudi Diterjang Bird Strike

Tak seperti Hamka Hamzah, yang sudah berdandan layaknya pilot namun tidak menjadikannya sebagai profesi, mantan striker Glasgow Celtic, Harald Brattbak, bahkan benar-benar banting setir dari pesepak bola profesional menjadi pilot.

Profesi pilot ia pilih karena kecintaannya terhadap dunia aviasi sudah digemari sejak masih aktif sebagai pesepakbola. Namun, sebenarnya Brattbak tidak ingin menjadi pilot melainkan ingin menjadi pengacara. Tetapi, garis tangan menuntunnya untuk menjadi pilot profesional.

Hilang Bak Ditelan Lautan, Insiden SS Waratah Masih Misteri Hingga 112 Tahun

Sebanyak 211 orang yang terdiri dari penumpang dan awak kapal hilang tanpa jejak 112 tahun lalu tepatnya 27 Juli 1909. Insiden ini terjadi pada SS Waratah yang merupakan kapal uap penumpang dan kargo yang dibangun tahun 1908 untuk Blue Anchor Line yang beroperasi antara Eropa dan Australia.

Baca juga: Kapten Kapal Selamat, Naskah Langka William Shakespeare Hilang di SS Arctic yang Tenggelam

Hingga saat ini, hilangnya SS Waratah menjadi misteri karena sangat minim jejak. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, SS Waratah yang hilang bak ditelan bumi tersebut menghadirkan banyak teori yang berkembang. Salah satunya menjelaskan kapal dihantam gelombang besar sehingga tenggelam.

Sayangnya teori ini sulit dibuktikan, karena tidak ada jejak keberadaan kapal tersebut. Anehnya lagi, lebih dari seabad lalu hilang, tak ditemukan serpihan dan tak ada awak maupun penumpang yang selamat. Bahkan dari sejak hilangnya SS Waratah, upaya pencarian berulang kali dilakukan namun hasilnya nihil atau tidak ditemukan apapun.

Menjadi misteri pelayaran yang hingga kini belum terpecahkan, ternyata, pada Juli 1971 ditemukan sebuah arsip komunikasi yang menyatakan ada dua penumpang SS Waratah yang turun di Durban. Salah satunya meninggalkan kapal karena mencari pekerjaan dan yang lainnya mengaku mendapat mimpi kapal akan tenggelam sehingga tidak ikut dalam pelayaran lanjutan.

SS Waratah sebelum hilang, melakukan pelayaran pulang dari Australia menuju ke London, Inggris dan terakhir kali terlihat bersandar di Durban, Afrika Selatan pada 26 Juli 1909 sebelum melanjutkan perjalanan ke arah barat. Kapal ini memiliki berat 10 ribu ton dengan panjang 150 meter. SS Waratah sendiri diperkirakan hilang saat melintas di kawasan perairan antara Durban dan Cape Town yang dikenal sebagai perairan yang berbahaya.

Ini karena perairan berupa pantai berbatu yang penuh badai dan bergejolak gelombang laut yang mencapai ketinggian hingga sekitar 20 meter saat cuaca buruk. Bahkan perairan yang berada di Afrika Selatan tersebut menyimpan risiko tak kalah mengerikan dari Segitiga Bermuda di Amerika.

SS Waratah diluncurkan pada 12 September 1908 oleh J. W. Taverner, istri dari Agen Jenderal Victoria. SS Waratah memiliki berat 9.333 ton dan menjadi kapal ke-20 milik Blue Anchor Line. Kapal itu dibangun oleh Barclay Curle, pembuat kapal, dari Elderslie Dockyard, Glasgow.

Kapal itu diluncurkan pada tahun 1908 setelah uji coba laut di Clyde dan dirancang untuk membawa emigran ke Australia dan kargo dalam perjalanan pulang ke Inggris. SS Waratah memiliki panjang 500 kaki, memiliki lebar 59 kaki dan kedalaman 38 kaki.

Baca juga: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Nyata dan Bukan Hanya Karangan Buya Hamka

Dia memiliki sekoci yang cukup untuk 921 penumpang dan dapat membawa 15 ribu ton batu bara dan kargo dengan kecepatan 13 knot. SS Waratah juga memiliki kompartemen kedap air, seperti Titanic, dan dianggap tidak dapat tenggelam.






















London Banjir, Stasiun Kereta Bawah Tanah Tak Bisa Beroperasi

Perubahan iklim ekstrem saat ini terjadi hampir di seluruh dunia akibat pemanasan global. Belum lama Cina di terjang hujan lebat yang menewaskan sekitar 20-an orang. Saat ini, salah satu kota besar di dunia yakni London juga mengalami banjir setelah hujan lebat disertai petir menghampiri kota paling kaya di dunia itu.

Baca juga: Mengerikan! Kereta Bawah Tanah di Cina Kebanjiran, 12 Orang Tewas

Banjir di London, Inggris merendam jalan utama hingga kereta api bawah tanah pada Senin, (26/7/2021). Di mana bajir yang merendam stasiun kereta api memicu kekacauan dan penumpang bus diselamatkan dengan rakit.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, banjir ini membuat badan berwenang mengingatkan warga akan potensi curah hujan sepuluh sentimeter di sejumlah daerah. Wali Kota London Sadiq Khan mengatakan, tim darurat tengah menangani banjir parah di seluruh London.

Adanya hal ini, Khan kemudian menjelaskan bahwa berbagai layanan publik terganggu dan mengimbau warga agar menghindari berjalan atau berkendara di sekitar area banjir. Juru bicara Transportasi untuk London (TfL) mengatakan bahwa sejumlah rel kereta dan kereta bawah tanah juga berhenti beroperasi karena banjir ini.

“Dengan sejumlah rute bus dialihkan dan beberapa layanan rel kereta terkena dampak hingga stasiun ditutup, kami mengimbau pelanggan memeriksa informasi terbaru sebelum bepergian demi menjamin keselamatan,” ujar juru bicara tersebut.

Selain itu, hujan deras ini juga mengganggu operasional di sejumlah rumah sakit di London, seperti Newham University Hospital dan Whipps Cross University Hospital. Sementara itu, perahu-perahu penyelamat mulai terlihat di beberapa titik di London.

Brigade Pemadam Kebakaran London mengatakan pada hari Senin bahwa mereka menerima lebih dari 1.000 panggilan darurat terkait banjir. Kru menyelamatkan orang-orang dari mobil dan membantu mereka meninggalkan rumah mereka.

Pakar iklim dan infrastruktur telah memperingatkan selama bertahun-tahun bahwa London sama seperti banyak kota besar lainnya. Sebagian besar kota dibangun di dataran banjir dan sistem drainase Victoria tidak akan mampu menahan hujan yang begitu lebat.

Menurut Otoritas London Raya, 17 persen kawasan London menghadapi risiko banjir tinggi atau sedang. Ada lebih dari satu juta warga London tinggal di dataran banjir. Kota ini telah membangun sistem pertahanan banjir raksasa di sungai Thames untuk melindungi dirinya dari banjir pasang. Tapi tanggul itu tidak banyak membantu ketika banjir bandang datang yang disebabkan oleh hujan deras tiba-tiba, jenis umum ini karena kenaikan suhu.

Baca juga: Banjir Kereta Bawah Tanah Cina, Penumpang Terjebak di Antara Ketinggian Air dan Oksigen yang Menipis

Ahli meteorologi CNN, Gene Norman, mengatakan bahwa hujan lebat ini terjadi lantaran suhu panas pada Jumat pekan lalu menghantam daerah bertekanan rendah di utara Prancis pada Jumat pekan lalu. Gejala alam ini memicu hujan lebat di Inggris hingga curah hujan mencapai 60-92 milimeter dalam satu jam pada Minggu lalu.

“Gejala banjir ini menunjukkan badai tercipta dan bergerak terus-menerus di area yang sama, dengan curah hujan lebih cepat ketimbang waktu untuk keringnya,” kata Norman.






















Selain Batas Waktu 20 Menit, Berikut Tips Aman Santap Makan di Restoran

Selama masa PPKM Darurat, Pemerintah telah melarang menyantap makanan langsung di  restoran (dine in). Kebijakan untuk menekan angka penyebaran Covid-19 tentu punya tujuan positif, namun harus diakui, banyak konsumen yang rindu berat untuk bisa kembali menyambangi untuk makan di restoran favorit.

Baca juga: Setelah 20 Tahun Lebih, Lansia Kembar Palestina Sukses Sulap Boeing 707 Jadi Restoran

Tentu ada cita rasa yang berbeda jika harus makan dengan cara take away atau memesan lewat delivery. Guna merespon ‘jeritan’ konsumen dan pastinya para pengusaha kuliner, Pemerintah di masa perpanjangan PPKM (Level 4) telah memberi kelonggaran, yakni dipersilahkan untuk dine in, tapi waktu makan dibatasi hanya 20 menit saja, yaitu dihitung sejak makanan siap (tiba) untuk dimakan, plus tidak dianjurkan untuk ngobrol.

Idealkah waktu yang diberikan? Lepas dari kontroversi 20 menit. Masih ada beberapa poin penting yang layak Anda  perhatikan ketika ‘harus’ makan di restoran. Dirangkum dari irishtime.com, ada beberapa cara makan aman di restoran di masa pandemi dan pembatasan.

Lakukan Perencanaan
Sebelum memtuskan untuk keluar dari rumah, sebaiknya Anda bisa mencari referensi. Saat ini restoran yang luas, dan berlangit-langit tinggi serta yang memiliki ruangan luar lebih disukai. Bila referensi cocok, Anda bisa menghubungi restoran untuk reservasi dan sekaligus bertanya masalah ventilasinya.

Kunjungi restoran yang dikenal
Lebih baik pergi ke restoran yang Anda sudah kenal seluk beluknya, sehingga bisa mencari posisi yang tepat saat makan di tempat tersebut.

Ikut aturan
Di masa pandemi cukup banyak aturan untuk makan di restoran. Seperti di Eropa Barat, setiap orang yang berusia 18 tahun ke atas akan diminta untuk menunjukkan sertifikat digital Covid-19 Uni Eropa di pintu. Sebelum memasuki restoran, serta formulir identitas berfoto, seperti SIM. Anda juga akan diminta untuk memberikan nama dan nomor telepon salah satu anggota dewasa dari pesta untuk pelacakan kontak.

Tiba tepat waktu
Ketika sudah melakukan reservasi, datang tepat waktu menjadi penting dilakukan, dengan demikian pihak pengelola restoran dapat membuat pengaturan jarak yang ideal. Dengan datang terlambat, maka ada kemungkinan untuk menciptakan kerumunan di area tunggu.

Baca juga: Tanggapi Respon Pandemi, Pemerintah Jepang Izinkan Operator Taksi Antar Pesanan Makanan

Minimalkan waktu ke Toilet
Jika Anda ingin ekstra hati-hati, hindari area kecil dan tertutup seperti toilet, yang kemungkinan memiliki ventilasi lebih sedikit. Jika terpaksa harus ke toilet, kenakan masker double dan tetap pakai sampai Anda kembali ke meja Anda.






















Apa Perbedaan Antara Homebase dan Hub Maskapai?

Maskapai berbiaya hemat (LCC), Wizz Air, dikabarkan sedang membangun homebase atau airline base di seluruh Eropa, mulai dari Cardiff, Inggris, terus ke tenggara sampai ke Italia dan beberapa negara Balkan. Tetapi di homebase, Wizz Air hanya menempatkan satu pesawat, jauh berbeda dibanding hub maskapai (yang juga berfungsi sebagai homebase). Jadi, apa bedanya homebase dan hub maskapai?

Baca juga: Ini Perbedaan Penerbangan Jarak Jauh dan Jarak Pendek dari Kacamata Pramugari

Homebase atau “base” secara terminologi atau istilah berarti fasilitas yang sangat besar dan luas. Biasanya kata “base” juga digunakan dalam militer dan pada umumnya sangat besar dan luas, sebagaimana.

Tetapi, dalam penerbangan sipil atau komersial, itu tidak berarti demikian atau bisa dibilang sangat sederhana. Pada umumnya, base dalam penerbangan sipil hanya berupa satu pesawat dan beberapa kru.

CAPA (Centre for Asia-Pacific Aviation), lembaga konsultasi dan analisis penerbangan yang berbasis di Sydney, Australia, sendiri mendefinisikan “base” sebagai bandara tempat dimana maskapai menempatkan pesawat dan kru secara permanen untuk mengoperasikan sebuah rute.

Lebih lanjut, CAPA menyebut, “Baik pesawat maupun kru yang kembali di malam hari, semuanya tak harus selalu sama (dengan pesawat dan kru di pagi hari), tetapi maskapai biasanya akan selalu konsisten menjaga kelengkapan armada dan kru di base”.

Dalam konsep homebase, pramugari dan pilot datang dari mess atau asrama ke airline base dan mulai bekerja dengan menjadikan homebase sebagai home address. Konsep ini berlawanan dengan outstation, dimana maskapai penerbangan menjadikan bandara sebagai tempat menjemput dan mengantarkan penumpang.

Di outstation, pesawat hanya menghabiskan waktu untuk turnaround daripada parkir di sana untuk downtime (penyimpanan) atau pemeliharaan jangka pendek.

Perlu dicatat, homebase tak selalu berada di negara asal maskapai, bisa jadi ada di luar negeri atau bandara-bandara yang disinggahi maskapai pada penerbangan jarak jauh atau ultra jarak jauh (12 jam penerbangan atau lebih).

Kru yang selesai bertugas dari bandara asal ke bandara tujuan biasanya diberi istirahat selama beberapa hari atau biasanya disebut layover di homebase yang berada di luar negeri.

Momen ini biasanya menjadi saat-saat paling favorit para kru karena bisa eksplore, traveling, shopping, dan lain sebagainya di negara asing, plus mendapat berbagai tunjangan.

Berbeda dengan homebase, hub lebih ke skema operasional maskapai. Homebase atau pangkalan tak selalu menjadi hub dan hub hampir selalu menjadi pangkalan maskapai. Tetapi, seperti dikutip dari Simple Flying, pada maskapai LCC dengan konsep point-to-point (biasanya di Eropa), homebase belum tentu hub.

Bandara hub dalam konsep ‘hub and spoke’ adalah bandara yang dipilih untuk menghubungkan penumpang ke banyak bandara lain. Singkatnya, bandara hub merupakan titik B di antara titik A dan C.

Baca juga: Begini Prosedur Pemeriksaan Pesawat untuk Capai Tingkat Keselamatan Tertinggi

Di negara-negara kecil dengan satu bandara, seperti Hong Kong-Cathay Pacific dan Singapura-Singapore Airlines, sudah pasti menjadikan bandara tersebut sebagai hub. Adapun di negara-negara besar, hub maskapai bisa lebih dari satu, seperti Air Canada yang memiliki hub di Vancouver, Calgary, Toronto, dan Montreal.

Fasilitas di bandara hub juga lebih lengkap dibanding pangkalan. Jumlah pilot dan pramugari yang ditempatkan juga lebih banyak. Selain itu, pesawat juga dimungkinkan untuk mendapat perawatan kecil atau line maintenance selama downtime.

Di Shibuya Tokyo, Toilet Bentuk Jamur Hiasi Jalur ke Kuil Yoyogu Hacimangu

Bagi pelancong yang mengunjungi Jepang, rasanya tak perlu heran dengan berbagai hal baik teknologi atau bangunan yang ada. Bahkan adanya hal baru tersebut bisa menambah keunikan perjalanan tersendiri bagi para pelancong di Negeri Sakura itu.

Baca juga: Unik, Bangunan Beton Diapit Jalan Layang dan Pintu Stasiun ini Ternyata Toilet

Seperti toilet berbentuk jamur yang diciptakan oleh Toyo Ito sebagai konstribusi pada proyek toilet Tokyo. Toilet khas Ito ini, dibangun untuk menggantikan toilet sebelumnya di bagian bawah tangga yang mengarah ke kuil Yoyogu Hachimangu di distrik Shibuya Tokyo.

Toiletnya berada di dekat hutan kecil yang berisi kuil Yoyogi Hachimangu (dezeen.com)

KabarPenumpang.com melansir dezeen.com (21/7/2021), arsitek Jepang itu membangun tiga blok silinder yang atapnya berbentuk kubah dan mengingatkan pada jamur yang tumbuh di hutan yang mengelilingi kuil tersebut. Toyo Ito menghadirkan model toilet seperti ini untuk memberikan ketenangan serta keramahan yang akan mendorong pelancong menggunakan toilet.

“Saya tidak ingin menggunakan toilet umum sebanyak yang saya bisa, bahkan sebagai laki-laki. Oleh karena itu, kali ini saya ingin mencoba desain kasual yang bisa digunakan dengan tenang dan pikiran yang tenang,” kata Ito.

Jamur pusat terbesar menempel di dinding belakang situs dan berisi toilet yang dapat diakses. Bangunan toilet ini berdiri bebas di kedua sisi yang mana di toilet wanita, disabilitas dan pria. Ketiganya dilapisi dengan warna merah, merah muda dan putih.

Bentuk atapnya pun sedikit naik dengan ada ruang antara bangunan dengan atap yang memungkinkan cahaya alami dan udara masuk ke toilet. Dengan membagi blok menjadi tiga, Ito yakin toilet akan menjadi ruang yang aman bagi semua pengguna.

“Saya berharap Toilet Umum Yoyogi-Hachiman yang dipasang kali ini akan menjadi ‘toilet yang memberikan rasa aman bagi wanita yang dapat digunakan bahkan di malam hari’ dan ‘toilet yang memiliki desain tidak mencolok dan dapat digunakan dengan santai’,” ujarnya.

Blok toilet adalah yang keempat yang direalisasikan oleh pemenang Penghargaan Arsitektur Pritzker sebagai bagian dari proyek Nippon Foundation nirlaba untuk meningkatkan fasilitas di distrik pusat kota Shibuya Tokyo. Fasilitasnya bergabung dengan toilet melingkar sesama pemenang Pritzker Tadao Ando, ​​blok Fumihiko Maki dengan “atap ceria” dan sepasang toilet umum transparan Shigeru Ban.

Baca juga: Wow, Toilet Umum di Jepang Dibuat Transparan

Sebanyak 17 toilet akan dibangun sebagai bagian dari proyek tersebut. Bangunan lain yang baru saja selesai dibuat sebagai bagian dari proyek termasuk toilet berbentuk rumah “ramah” yang dirancang oleh perancang busana Jepang Nigo dan balok kayu cedar yang dirancang oleh Kengo Kuma.






















Ruwet, Ternyata Ini Alasan Uni Emirat Arab Punya Banyak Bandara Internasional

Di dunia, kebijakan sebuah negara terkait bandara internasional sangat beragam. Indonesia, misalnya, mempunyai kurang lebih 30 bandara internasional. Tetapi, Indonesia memiliki wilayah yang cukup luas.

Baca juga: Ngeri, di Bandara Dubai, Mata Jadi Paspor Wisatawan!

Kendati begitu, tak selamanya negara besar memiliki banyak bandara internasional, ada juga negara kecil yang juga punya banyak bandara internasional. Latar belakangnya tentu berbeda-beda. Namun yang paling menarik tentu Uni Emirat Arab (UEA).

Negara yang terletak di barat daya Asia dan dikelilingi Teluk Oman dan Teluk Persia di antara Oman dan Arab Saudi ini diketahui mempunyai 12 bandara internasional. Padahal, luas wilayahnya hanya 83.600 km² atau seluas gabungan Jawa Barat dan Jawa Timur, yang notabene hanya mempunyai tiga bandara internasional.

Dilansir Simple Flying, dari 12 bandara internasional di UEA, tentu yang paling masyhur adalah Bandara Internasional Abu Dhabi (AUH) dan Bandara Internasional Dubai (DXB). AUH, atau bandara terbesar kedua di UEA, adalah homebase maskapai Etihad. Adapun DXB, bandara terbesar di UEA yang juga maskapai tersibuk keempat di dunia, merupakan homebase maskapai Emirates.

Selain dua itu, ada 10 bandara lainnya yang sebetulnya juga memiliki fasilitas tak kalah mentereng. 10 bandara tersebut yaitu:

Bandara Eksekutif Al Bateen (AZI). Bandara eksekutif dekat Abu Dhabi. Ini adalah bandara utama sebelum AUH dibangun pada 1980an.

Bandara Internasional Al Ain (AAN). Terletak di Timur Laut Abu Dhabi, melayani beberapa penerbangan regional.

Bandara Internasional Dubai World Central atau Al Maktoum (DWC). Bandara dibuka pada tahun 2010 dan saat ini melayani beberapa maskapai penerbangan regional. Renovasi besar-besar sudah dimulai dan diperkirakan akan selesai pada tahun 2027.

Bandara Internasional Fujairah (FJR). Saat ini hanya mengoperasikan penerbangan kargo.

Bandara Internasional Sharjah (SHJ). Bandara penumpang dan di utara UEA. Ini adalah main homebase untuk maskapai LCC Air Arabia dan juga melayani beberapa maskapai India dan Asia lainnya.

Bandara Internasional Ras Al Khaimah (RKT). Terletak di ujung utara UEA, melayani beberapa penerbangan regional, termasuk SpiceJet dan Air Arabia.

Bandara Sir Bani Yas (XSB). Bandara kecil yang melayani Pulau Sir Bai Yas di selatan UEA. Dulunya memiliki layanan domestik ke Abu Dhabi, tetapi ini dihentikan pada tahun 2017.

Terlepas dari berbagai perbedaan atau fungsi masing-masing bandara internasional di UEA, yang pasti, hanya ada satu alasan spesifik mengapa Negara Teluk tersebut memiliki banyak bandara internasional.

Alasannya lebih ke bentuk pemerintahan. UEA diketahui memiliki tujuh Emirat, yaitu Abu Dhabi (sumber minyak UEA), Ajman, Dubai (kota terbesar di UEA), Fujairah, Ras Al Khaimah, Sharjah, dan Umm Al Quwain.

Masing-masing Emirat memiliki wilayah, pemerintahan, dan penguasa sendiri. Mereka berhak untuk mengontrol, membuat kebijakan, dan mengatur keuangan sendiri; termasuk membangun dan mengelola bandara sendiri.

Baca juga: Etihad Kerja Sama dengan Bandara Abu Dhabi Hadirkan Kursi Roda Otomatis

Maka dari itu, tak heran bila lima dari tujuh Emirates (Abu Dhabi, Dubai, Fujairah, Ras Al Khaimah, dan Sharjah) memutuskan membangun dan mengelola bandara internasional sendiri, alih-alih terpusat di satu bandara besar.

Selain itu, sistem pemerintahan UEA juga tak mengherankan dua emirat di antaranya memiliki dua maskapai yang saling sikut sekalipun berada di satu negara yang sama, Emirates, yang jadi andalan Emirat Dubai, dan Etihad, maskapai dari Emirat Abu Dhabi.

Bosan Menggunakan Masker? Tips ini Mungkin Bisa Membantu

Masker kini menjadi kebutuhan sehari-hari yang digunakan ketika keluar rumah untuk mencegah terpapar dari virus corona. Bahkan sudah lebih dari setahun penggunaan masker sejak pandemi dimulai dan membuat banyak orang mulai bosan serta tidak nyaman menggunakan masker wajah saat keluar.

Baca juga: Masker Puricare Wearable Air Purifier LG Dilengkapi Mikrofon dan Speaker

Selain sesak ketika bernapas karena penggunaan masker dalam jangka waktu yang lama, keringat pun menjadi salah satu alasan utama. KabarPenumpang.com melansir dari laman yahoo.com (1/7/2021), ada beberapa tips yang membantu seseorang nyaman dan tenang saat menggunakan masker.

Pilih pagi atau malam hari untuk melakukan tugas dan hindari keluar di siang hari. Ini karena di waktu tersebut membuat pengguna masker nyaman. Jika menggunakan masker di siang hari cuaca terik akan membuat orang kelelahan dan membuat keringat.

Selain itu, setiap orang harus menyiapkan masker cadangan. Sebab ketika masker terkena keringat tidak hanya kurang nyaman digunakan, tetapi efektivitasnya juga terganggu. Anda juga harus membuang masker bekas pakai dengan benar.

Menggunakan masker juga bisa membuat orang cenderung lupa minum sepanjang hari. Ini bisa menyebabkan dehidrasi dan konsekuensi yang lebih paraha karena laposan perlintungan tambahan pada hidung dan mulut.

Sehingga ketika haus baiknya Anda membuka masker untuk minum. Tetapi diharapkan ketika berada di keramaian menjauh sebelum melepas masker untuk minum. Gunakan juga pakaian yang bisa menyerap keringat agar tubuh tetap sejuk.

Dengan memilih pakaian yang ringan dan longgar, adalah salah satu cara efektif untuk menjaga tibuh tetap sejuk saat menggunakan masker. Menahan diri menggunakan pakaian gelap adalah untuk menghindari menyerap lebih banyak panas.

Baca juga: Lebih Jelas Tentang KN95, Masker Standar Cina yang Laris Manis

Saat ini menggunakan masker berlapis yakni medis dan kain atau satu masker N-95 menjadi kebutuhan sehari-hari. Sehingga saat Anda mulai merasa lelah menggunakan masker dan ingin melepasnya sesaat untuk bernapas dengan baik dan benar, jauhi keramaian.






















Pesawat Airbus Sumbang 600 Juta Ton Emisi CO2, Boeing Hanya 158 Juta Ton Emisi CO2

Dalam laporan Scope 3 emissions, Boeing mengumumkan bahwa masing-masing pesawat yang dikirim perusahaan sepanjang tahun 2020 lalu berkontribusi rata-rata 1 juta ton emisi CO2 selama 20 tahun lebih masa pakai pesawat.

Baca juga: Airbus Mulai Kerjakan Tangki Bahan Bakar Hidrogen Pesawat, Boeing Panas-Dingin

Bila dikalkulasi, seluruh pesawat yang dikirim sepanjang tahun 2020 lalu, Boeing memperkirakan akan ada 158 juta ton emisi CO2 yang dihasilkan selama masa pakai pesawat.

Bila dirinci, 136 juta ton emisi CO2 yang dihasilkan terkait langsung dengan penerbangan. Adapun sisanya 22 juta ton emisi CO2 dihasilkan dari produksi perusahaan energi atau bahan bakar untuk keperluan pesawat terbang, Reuters melaporkan.

Angka tersebut tentu jauh lebih rendah dibanding Airbus. Manufaktur Eropa yang sudah lebih dahulu melaporkan Scope 3 emissions pada Februari lalu tersebut, mengaku, seluruh pesawat-pesawatnya diprediksi menghasilkan 600 juta ton emisi karbon dioksida (CO2) sepanjang masa pakai pesawat.

Meski begitu, emisi CO2 yang dihasilkan pesawat-pesawat Boeing lebih sedikit dibanding pesawat-pesawat Airbus, bukan berarti itu lebih efisien. Kuncinya ada pada jumlah pengiriman pesawat serta umur pesawat yang pada akhirnya mempengaruhi jumlah total emisi CO2.

Airbus menyebut telah melakukan 566 pengiriman pesawat sepanjang 2020. Sedangkan Boeing hanya mengirim 157 pesawat sepanjang tahun itu. Dengan begitu, terang saja jumlah emisi karbon dioksida yang dihasilkan pesawat-pesawat Airbus lebih besar daripada Boeing.

Umur pesawat Boeing juga diketahui lebih panjang dibanding umur atau masa pakai pesawat Airbus. Airbus berasumsi rata-rata masa pakai pesawatnya selama 22 tahun. Sedangkan Boeing mengasumsikan masa pakai pesawat single aisle selama 22,8 tahun, pesawat twin aisle selama 21,5 tahun, dan pesawat kargo selama 29,6 tahun.

Justru, bila dihitung berdasarkan emisi CO2 per pesawat, pesawat-pesawat Airbus lebih efisien atau menghasilkan lebih sedikit CO2 dibanding pesawat-pesawat Boeing. Setiap pesawat Airbus diketahui hanya mengeluarkan rata-rata 636.000 ton metrik CO2 dari penerbangan dan 777.000 ton metrik CO2 bila ditambah emisi dari produksi Avtur.

Baca juga: Uni Eropa Kenakan Pajak Tambahan untuk Bahan Bakar Penerbangan, Tiket Bakal Jadi Lebih Mahal?

Boeing sendiri, melalui CEO Dave Calhoun, berjanji pada 2030 tahun mendatang, seluruh pesawat-pesawatnya 100 persen menggunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF). Saat ini, seluruh mesin pesawat sedang disertifikasi untuk beroperasi menggunakan campuran bahan bakar fosil dan SAF masing-masing 50 persen.

Sedangkan Airbus, memang lebih lambat lima tahun dalam mengoperasikan penerbangan ramah lingkungan. Tetapi, di tahun 2035, Airbus berkomitmen untuk membuat pesawat lebih hijau atau tanpa emisi atau ramah lingkungan.

Hari Ini, 72 Tahun Lalu, De Havilland Comet, Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia Terbang Perdana

Pada hari ini, 72 tahun lalu, bertepatan dengan 27 Juli 1949, pesawat jet komersial pertama di dunia, De Havilland Comet, berhasil terbang perdana. Ini bukan hanya menandai keberhasilan manufaktur dalam pengembangan pesawat jet melainkan menjadi pembuka tirai dimulainya era penerbangan jet.

Baca juga: De Havilland Comet, Inilah Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia

Dilansir history.com, De Havilland Comet merupakan mahakarya dari desainer pesawat sekaligus pelopor penerbangan Inggris, Sir Geoffrey de Havilland (1882-1965). Sebagaimana Wright Bersaudara yang menjadi pelopor penerbangan dunia, de Havilland juga memulai sepak terjang dirgantaranya dengan merancang sepeda motor serta bus.

Setelah melihat Wright Bersaudara berhasil melakukan penerbangan pertama dengan pesawat bertenaga yang bisa dikendalikan pada 1908, ia terpacu untuk membuat pesawat sendiri. De Havilland berhasil merancang dan mengemudikan pesawat pertamanya pada tahun 1910. Ia kemudian bekerja di pabrikan pesawat Inggris dan membuka perusahannya sendiri, De Havilland Aircraft, pada tahun 1920.

Kemunculan pabrikan pesawat De Havilland Aircraft, ketika itu, bukan hanya mengejutkan industri dirgantara Inggris, melainkan juga dunia. Betapa tidak, di awal kemunculannya, pabrikan tersebut sudah berhasil mengembangkan mesin yang lebih ringan serta pesawat yang lebih cepat dan ramping.

Pada tahun 1939, pesawat tempur Heinkel He 178 buatan Jerman, pesawat jet pertama di dunia, berhasil terbang perdana. Tak tinggal diam, De Havilland juga turut merancang pesawat tempur bertenaga jet selama periode Perang Dunia II. Atas kontribusinya ini, ia bahkan sampai dianugerahi gelar kebangsawanan dan berhak menyandang “Sir” sebagai nama depannya.

Setelah Perang Dunia II selesai, De Havilland Aircraft mulai fokus ke pesawat jet komersial dan mengembangkan De Havilland Comet yang menggunakan mesin Ghost 50 Mk1 hasil pengembangan sendiri.

27 Juli 1949, De Havilland Comet berhasil terbang perdana dan resmi menjadi pesawat jet komersial pertama di dunia. Sebelum masuk ke tahun layanan, De Havilland Comet masih harus menjalani tiga kali uji terbang dan berhasil lolos sertifikasi serta uji kelaikan.

Pada 2 Mei 1952, British Overseas Aircraft Corporation (BOAC) memulai layanan penerbangan jet komersial pertama di dunia dengan De Havilland Comet 1A berkapasitas 44 kursi, dari London ke Johannesburg. Ketika itu, pesawat berhasil melesat dikecepatan 480 mil per jam, rekor tertinggi di dunia.

Tetapi sayang, serangkaian kecelakaan pada tahun 1953 dan 1954 membuat regulator Inggris dan Eropa melarang penerbangan De Havilland Comet. Dari dua kecelakaan tersebut, penyidik menemukan sumber masalahnya berasal dari metal fatigue. Selain itu, jendela pesawat berbentuk kotak dan cukup besar juga menjadi penyebab utama kecelakaan De Havilland Comet.

Empat tahun setelah kecelakaan terakhir, De Havilland Comet yang ditingkatkan dan disertifikasi ulang memulai debut baru.

Baca juga: Hari Ini, 55 Tahun Lalu, Presiden Irak Tewas dalam Kecelakaan Pesawat de Havilland Dove

Tetapi, di saat yang bersamaan, manufaktur pesawat asal AS, Boeing dan Douglas, juga memperkenalkan pesawat jet yang lebih cepat dan lebih efisien. Alhasil, De Havilland Comet, yang notabene sebagai pelopor pesawat jet komersial di dunia, justru ditinggalkan maskapai.

Pada awal 1980an, sebagian besar De Havilland Comet dipensiunkan maskapai dan menjadi lembar penutup perjalanan pesawat di industri dirgantara internasional.