Jalurnya Pernah di Bom, Ini Sejarah Panjang Stasiun Padalarang

Banyak stasiun di Indonesia yang dibangun masa penjajahan Kolonial Belanda dan salah satunya adalah Stasiun Padalarang. Stasiun yang terletak di Bandung Barat ini tepatnya berada di Jalan Cihaliwung, Kertajaya, Padalarang. Memiliki ketinggian +695 mdpl, Stasiun Padalarang termasuk stasiun kelas I dan masuk dalam Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung.

Baca juga: Bolak Balik di Tutup, Stasiun Purworejo Kini Jadi Cagar Budaya

Stasiun ini memiliki lima jalur kerera api dengan jalur 2 dan 3 sebagai sepur lurus serta jalur 5 yang memiliki fasilitas bongkar muat batu balast/kricak. Stasiun Padalarang sendiri saat ini juga menjadi Bangunan Cagar Budaya yang sudah berumur sekitar 136 tahun.

Pembangunan Stasiun Padalarang (Wikipedia)

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, meski sudah dibangun lebih dari satu abad, Stasiun Padalarang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Bangunan stasiun ini memiliki gaya hindies dan menggunakan kayu jati sebagai bahan utamanya.

Stasiun Padalarang dibangun bersamaan dengan jalur kereta api tahap ketiga yang menghubungkan Cianjur dan Bandung pada 1884 dan dibangun oleh perusahaan kereta api Staatspoorwagen. Ternyata stasiun ini memiliki beberapa kisah yang jarang terumbar diumum yakni adanya jalur menuju pabrik Kertas Padalarang.

Sebab dahulu stasiun ini diyakini digunakan sebagai tempat singgah kereta api pengangkut merang yang merupakan bahan pembuatan uang kertas Indonesia kala itu. Meski memiliki bangunan tua, sejak 6 April 1999, stasiun ini sudah menggunakan persinyalan elektrik produksi Alstom.

Di sebelah utara stasiun ini sedang dilaksanakan proyek pembangunan jalur kereta kecepatan tinggi rute Jakarta–Bandung yang diprakarsai oleh PT Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC). Beserta proyek tersebut stasiun Padalarang akan dibangun kembali untuk melayani transfer penumpang antara kereta cepat dengan layanan kereta api konvensional.

Stasiun ini mulai beroperasi penuh pada tanggal 17 Mei 1884, bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api segmen Cianjur–Padalarang–Bandung. Pada awalnya, Stasiun Padarang menjadi titik persinggahan kereta api rute Jakarta–Bandung via Bogor–Sukabumi–Cianjur.

Semenjak pengoperasian jalur baru Cikampek–Padalarang pada tahun 1906, stasiun ini mulai melayani kereta api dari Purwakarta. Pengoperasian kereta api di jalur tersebut telah terbukti mampu memangkas perjalanan kereta api Jakarta–Bandung dan menjadi unggulan SS.

Kereta ini pun diberi nama Vlugge, menggambarkan keandalan dan ketangguhan kereta api ini menantang medan terjal di jalur tersebut. Stasiun ini menjadi salah satu titik pergantian lokomotif uap karena adanya peralihan medan terjal berkelok-kelok dengan medan datar di segmen Padalarang–Bandung. Titik pergantian lokomotif lainnya juga ada di Stasiun Purwakarta.

Baca juga: Terkenal Karena Didi Kempot, Inilah Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan

Pada tanggal 7 Maret 1942, pukul 18.00, stasiun ini pernah dibom jalurnya oleh Jepang sehingga kereta api tidak dapat lewat. Salah seorang Belanda bernama J.C. Bijkerk menuturkan dalam kisahnya bahwa begitu jalur tersebut dibom, distribusi makanan ke Padalarang bagi warga dan tentara KNIL menjadi terganggu.

Beroperasi Tahun 2040, Jepang Rencanakan Buat Pesawat Luar Angkasa Antarbenua

Ide tak ada habisnya untuk teknologi baru menjadikan Jepang menghadirkan banyak hal baik robot hingga berbagai macam moda transportasi. Di mana pemerintah Jepang dan perusahaan swasta bersiap untuk mengembangkan pesawat luar angkasa penumpang antarbenua.

Baca juga: Cina Sukses Kirim Astronot ke Stasiun Luar Angkasa, AS Panik

Hal tersebut diumumkan Kementerian Sains Jepang yakni pesawat tersebut dapat terbang antar kota-kota besar dunia dalam dua jam atau lebih cepat dengan memanfaatkan teknologi roket. KabarPenumpang.com melansir mainichi.jp (17/5/2021), rencana tersebut diumumkan pada 12 Mei lalu yang bertujuan untuk mencapai tujuannya pada awal awal 2040-an.

Dalam pengembangan ini, dana yang dikeluarkan mencapai sekitar lima triliun yen atau sekitar $46 miliar pada tahun 2040. Kementerian menyusun draf sementara peta jalannya untuk transportasi pesawat ruang angkasa masa depan, yang dibagi menjadi dua fase, pada pertemuan panel ahli pada 12 Mei.

Pada fase pertama, biaya roket H3 generasi berikutnya dari Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) akan dikurangi setengahnya dari 5 miliar yen (sekitar $46 juta) atau lebih yang dihabiskan untuk H3 Launch Vehicle. Roket baru JAXA yang penerbangan pertama ditetapkan untuk tahun fiskal 2021 dengan menggunakan kembali bagian-bagian badan roket, di antara langkah-langkah lainnya.

Peta jalan tersebut bertujuan untuk meluncurkan roket penerus H3 sekitar tahun 2030, dan untuk lebih mengurangi biaya hingga sekitar sepuluh persen pada awal tahun 2040-an. Dengan memanfaatkan teknik seperti penggunaan kembali bagian-bagian roket, pihak swasta akan memimpin pengembangan kendaraan angkut yang dapat sering bolak-balik antara darat dan luar angkasa.

Ini diharapkan menjadi pesawat ruang angkasa yang dapat dinaiki penumpang. Ada dua bentuk pesawat ruang angkasa yakni satu yang dapat lepas landas dan mendarat di landasan pacu seperti pesawat terbang, dan yang lainnya dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal seperti kendaraan peluncuran Starship yang dikembangkan oleh SpaceX di Amerika Serikat.

Baca juga: Virgin Galatic Uji Coba Pesawat Luar Angkasa Komersial

Sebelum mempertimbangkan peta jalan, kementerian sains memperkirakan ukuran pasar dari berbagai usaha luar angkasa. Disimpulkan bahwa permintaan akan transportasi berkecepatan tinggi yang menghubungkan kota-kota besar di darat akan cukup besar, dengan layanan yang menawarkan peluncuran yang sering membentuk pasar terbesar.






















Didi dalam Masalah, Meituan Kembali Hadirkan Ride Hailing yang Sempat Tertidur

Awal bulan ini, raja ride hailing Cina, Didi Global, memiliki minggu yang paling bergejolak dalam sembilan tahun sejak didirikan. Pasalnya hanya dalam waktu 48 jam aplikasi Didi ditarik dari toko Apple dan Android Cina. Bahkan harga sahamnya anjlok dan turun 34 persen dari harga tertinggi 1 Juli lalu

Baca juga: Hadirkan Kendaraan Listrik untuk Ride Hailing, Didi Bermitra dengan BYD

Maslaah ini terjadi setelah penawaran umum perdana senilai $4,4 miliar di New York Stock Exchange dan membuat otoritas Cina melakukan penyelidikan terhadap perusahaan tersebut atas dugaan pelanggaran privasi data dan menangguhkannya dari daftar pengguna baru. KabarPenumpang.com melansir barrons.com (21/7/2021), adanya hal ini raksasa lannya yakni Meituan melihat peluang dan melompat kembali ke ranah ride hailing setelah dua tahun menarik diri dari sektor ini.

“Kecil kemungkinannya Meituan memasuki kembali industri ride-hailing dengan harapan menangkap pangsa pasar yang signifikan dari Didi, apalagi menghasilkan keuntungan. Pengalaman Didi, dan pilihan Meituan sendiri untuk sebelumnya keluar dari pasar, menunjukkan bagaimana labirin peraturan China dapat membahayakan bahkan perusahaan yang sangat sukses dan cerdas,” William C. Kirby, seorang profesor administrasi bisnis dan studi Cina di Universitas Harvard.

Masuknya kembali Meituan ke ride hailing kemungkinan dimaksudkan untuk memberi sinyal kepada regulator yang menjalankan penyelidikan antitrust ke Meituan dan perusahaan lain bahwa itu adalah “aktor yang bertanggung jawab dalam ekonomi digital Cina dan sensitif terhadap kekhawatiran negara tentang privasi data. Bahkan saat mengunduh dan membuka aplikasi ride hail Meituan yang baru diluncurkan kembali.

Saat itu pelanggan disajikan dengan perjanjian pengguna yang menekankan privasi data, dan termasuk janji bahwa perusahaan mematuhi undang-undang keamanan informasi Tiongkok. Meskipun Meituan memiliki pangsa pasar ride hailing Cina yang dapat diabaikan, aplikasinya dominan di sektor lain seperti pengiriman makanan dan sepeda bersama.

“Bagi Meituan, pergi ke ride hailing adalah ekstensi yang paling alami. Aplikasinya sudah menghubungkan konsumen dengan bisnis lokal,” Howard Yu, Profesor Manajemen dan Inovasi LEGO di IMD Business School di Swiss.

Meituan berkelana di ride hailing pada awal 2017, pertama di Shanghai dan kemudian ke kota-kota besar lainnya di Cina. Ini meluncurkan aplikasi panggilan mobil mandiri, yang dengan cepat naik ke puncak daftar unduhan gratis toko Apple. Meituanberjuang melawan Didi yang semakin kuat, dan untuk mendapatkan pengemudi dan pelanggan baru, terpaksa memberikan subsidi yang signifikan untuk keduanya, yang pada 2019 telah membuat bisnisnya merugi.

Segera setelah itu, ia menghapus aplikasi ride hailing yang berdiri sendiri dan melipat layanan tersebut ke dalam aplikasi Meituan utama, yang menawarkan lusinan layanan sesuai permintaan. Penghapusan aplikasi lebih signifikan dan Meituan secara bertahap berhenti mempekerjakan pengemudinya sendiri dan pada dasarnya menjadi perantara untuk memanggil taksi dan mobil dari perusahaan lain kecuali dari Didi.

Meituan belum mengatakan berapa banyak yang dihasilkan saat menjadi platform agregasi saja untuk driver pihak ketiga. Pengemudi internal Didi menerima sekitar 79 persen dari apa yang dibayar penumpang setiap perjalanan, dengan tujuh persen sisanya digunakan untuk biaya operasional, tiga persen untuk Didi untuk keuntungan, dan 11 persen untuk subsidi pengendara, kata perusahaan pada bulan Mei.

Baca juga: BYD dan Didi Luncurkan D1, Mobil Listrik Pertama yang Dirancang Khusus untuk Ride Hailing

“Didi masih harus memiliki posisi dominan dalam bisnis ride hailing,” Angela Zhang, direktur Center for Chinese Law di University of Hong Kong.






















Kendaraan Listrik Pangkas 70 Persen Suku Cadang Mesin, Biaya Perawatan Jadi Lebih Murah

Kendaraan listrik disebut mengurangi suku cadang mesin sampai 70 persen. Ini tentu berdampak pada biaya perawatan mobil yang jadi lebih murah dibanding mobil berbahan bakar bensin atau konvensional.

Baca juga: Cukup Sekali Pengisian, Mobil Listrik Volvo Bisa Menjelajah Hingga 999 Km

Hal ini diungkapkan oleh Oluwemimo Joseph, Strategy & Projects Head dan Chief Financial Officer JET Motor Company, produsen mobil asal Nigeria yang juga nomor wahid di Afrika.

“Kendaraan listrik mengurangi jumlah suku cadang mesin hingga hampir 70 persen sehingga memangkas biaya perawatan. Biaya operasional juga turun secara signifikan, sehingga kekhawatiran atas fluktuasi harga bahan bakar akan hilang,” jelasnya, seperti dikutip dari nairametrics.com.

Pendapat tersebut juga diperkuat dengan riset di AS, negara yang mengoperasikan kendaraan listrik terbesar di dunia. Riset dari Departemen Energi Efisiensi dan Terbarukan Negeri Paman Sam tersebut mengungkapkan, rendahnya biaya kendaraan listrik karena jumlah suku cadang mesinnya lebih sedikit dibandingkan yang berbahan bakar minyak bumi.

Studi ini mengamati empat jenis kendaraan dengan membandingkan biaya masing-masing kendaraan. Merujuk pada hasil pengamatan, biaya servis perawatan untuk kendaraan listrik non niaga, adalah US$0,061 per mil (lebih kurang 1,6 km) sementara kendaraan biasa adalah US$0,101 untuk jarak yang sama.

Opsi perbandingan kendaraan lain adalah jenis hibrid yang berbahan bakar campuran antara listrik dan BBM. Biaya perawatannya adalah US$0,090 hingga US$0,094, masih lebih murah daripada kendaraan besin/solar.

“Perkiraan biaya perawatan untuk mobil listrik adalah 6,1 sen per mil, sementara konvensional 10,1 sen per mil. Kendaraan listrik tak membutuhkan oli, sabuk penggerak mesin, sensor oksigen, busi dan lainnya, di mana biaya perawatan umumnya disebabkan hal-hal itu,” tulis riset tersebut. Meskipun secara jarak per mil terlihat kecil, namun jika diakumulasikan bisa menghemat hingga total jutaan dolar per tahun.

Untuk jangka panjang, kendaraan listrik memang lebih hemat di perawatan dan operasional. Sebagai perbandingan, terdapat lebih kurang 10.000 suku cadang dalam mesin kendaraan konvensional. Bandingkan dengan kendaraan listrik yang kurang dari 10 suku cadang. Tak heran, ongkos perawatan mesin bensin/solar menjadi lebih mahal mengingat kompleksnya potongan bagian mesin di dalam.

Kendati demikian, seiring banyaknya studi tentang perbandingan atau perbedaan antara mobil listrik dengan mobil berbahan bakar bensin, kesimpulan terhadap dua jenis kendaraan itu pun jadi lebih beragam.

Studi terbaru dari We Predict menemukan, biaya servis kendaraan listrik pada periode tiga bulan pertama mencapai rata-rata US$123, sedangkan mobil bermesin BBM rata-rata US$53. Biaya servis kendaraan listrik pada periode tiga bulan pertama mencapai rata-rata US$123, sedangkan mobil bermesin BBM rata-rata US$53.

Suku cadang kendaraan listrik, yang di awal disebut terpangkas 70 persen, justru lebih mahal daripada suku cadang untuk mobil bermesin bensin. Disebutkan, rata-rata suku cadang kendaraan listrik senilai US$65 sementara mobil BBM US$28.

Baca juga: Fisker Kembangkan Mobil Listrik Khusus Paus Fransiskus di Vatikan

Biaya jasa servis kendaraan listrik juga lebih mahal dengan rata-rata US$58. Sementara jasa servis kendaraan konvensional hanya US$ 25 selama tiga bulan pertama kepemilikan.

Jika sudah begini, mana menurut Anda yang paling tepat, biaya perawatan kendaraan listrik lebih murah dibanding kendaraan berbahan bakar fosil atau justru sebaliknya, kendaraan berbahan bakar fosil biaya perawatannya justru lebih murah dibanding kendaraan listrik?

Maskapai Legendaris Pan Am Ternyata Sudah Terbang ke Jakarta Sejak 1960

Berbicara maskapai dunia yang pernah terbang ke Indonesia, dalam hal ini Jakarta, mungkin KLM jadi salah satu yang paling termasyhur. Tetapi, tak banyak yang menyadari bahwa maskapai legendaris asal Amerika Serikat, Pan American Airways (Pan Pam) ternyata juga sudah mulai menjadikan Jakarta sebagai salah satu rute internasionalnya sejak lama.

Baca juga: Ternyata, Jakarta Merupakan Destinasi Penerbangan Antar Benua Perdana KLM!

Sebelum Indonesia merdeka, Jakarta (Batavia) sudah menjadi destinasi internasional maskapai di dunia. Pada 1 Oktober 1924, KLM tercatat melakukan penerbangan antar benua pertama menuju Batavia (Jakarta). Ini juga mungkin menjadi maskapai asing pertama yang mendarat di Jakarta atau Nusantara pada umumnya.

Tetapi, itu mungkin sangat maklum mengingat Batavia berada di bawah kekuasaan Belanda yang notabene menjadi negara tempat KLM berasal.

Lain halnya dengan Pan Am. Sebelum Lufthansa mendirikan kantor perwakilan pada 3 Juli 1967 dan terbang perdana ke Indonesia tak lama setelahnya, Pan Am rupanya sudah lebih dahulu terbang ke Jakarta.

Dari catatan airlinemaps.tumblr.com, sepanjang perusahaan berdiri sejak 1927-1991, Pan Am tercatat mengeluarkan 19 route maps.

Jakarta memang tak seperti Manila (Filipina), Macau, dan Hong Kong ataupun Singapura, yang sudah sejak 1937 dan 1955, dihampiri oleh maskapai yang dikenal sebagai pelopor kelas ekonomi modern di penerbangan jarak jauh ini.

Jakarta akhirnya masuk dalam rute internasional Pan Am pada awal dekade 60an. Foto: Flickr

Jakarta baru dihampiri Pan Am di awal tahun 1960 dengan rute San Francisco/Los Angeles-Honolulu-Manila-Saigon (Vietnam)-Singapore-Jakarta.

Berbeda dengan keberangkatan dari luar Jakarta yang diharuskan transit, berdasarkan iklan Pan Am di Harian Umum Suara Merdeka dengan ejaan lama pada 30 Januari 1965, maskapai tersebut justru terbang direct dari Jakarta ke San Francisco, AS, dua kali sepekan setiap hari Selasa dan Jumat.

Iklan Pan Am tahun 65 di surat kabar Harian Rakyat Merdeka dengan ejaan lama. Foto: Flickr

Jadi, penumpang bisa merasakan sensasi bak sultan, sarapan di Jakarta dan makan malam di San Francisco.

Bali mulai masuk rute internasional Pan Am pada tahun 1971. Foto: Flickr

Di dekade itu, Bali belum menjadi rute internasional kedua Pan Am di Indonesia. Barulah pada Desember 1971, Bali melengkapi Bandara Internasional Kemayoran Jakarta untuk melahap rute Hongkong-Denpasar-Sydney-Nadi (Fiji)-Honolulu-Los Angeles serta San Francisco-Honolulu-Guam-Denpasar-Jakarta Kemayoran.

Iklan Pan Am. Tahunnya tak begitu jelas. Tapi, besar kemungkinan setelah tahun 71. Foto: Flickr

Menariknya, Pan Am adalah satu-satunya maskapai non Indonesia yang diizinkan mendarat di luar Jakarta (Bali) dengan frekuensi dua flight dalam seminggu.

Dalam komitmennya memperluas jangkauan penerbangan internasional Indonesia, Pan Am juga melayani penerbangan dari Bali dan Jakarta ke berbagai kota di luar negeri, seperti Sydney, Fiji, Honolulu, dan Los Angeles.

Setelah kecelakaan fatal di Bali, Pan Am tak lagi terbang dari dan ke Indonesia sejak 1978. Foto: Flickr

Sayangnya, pada 22 April 1974, Boeing 707 Pan Am dengan nomor penerbangan 812 mengalami kecelakaan naas di Bali saat menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan menewaskan 107 penumpang.

Baca juga: Ada Convair 990 Garuda Indonesia (Juga) dalam Komik Tintin

Usai insiden tersebut, Pan Am mengkaji ulang penerbangan dari dan ke Indonesia. Hasilnya, pada September 1978, Indonesia, baik Jakarta maupun Bali, tak lagi masuk dalam rute internasional Pan Am. Ini sekaligus menjadi akhir dari cerita kontribusi Pan Am menghubungkan Indonesia dengan dunia luar khususnya AS.

Adapun negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan lainnya tetap disinggahi maskapai sampai Pan Am dinyatakan bangkrut.

Masker Puricare Wearable Air Purifier LG Dilengkapi Mikrofon dan Speaker

Baru-baru ini LG memperbarui masker Puricare Wearable Air Purifier yang sudah ada. Mereka melengkapinya dengan menggabungkan mikrofon dan speaker untuk memudahkan penggunanya berbicara. Perangkat ini akan hadir pertama kali di Thailand pada Agustus mendatang dan negara lainnya akan mengikuti pda akhir tahun.

Baca juga: Lebih Jelas Tentang KN95, Masker Standar Cina yang Laris Manis

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (22/7/2021), masker ini menghindari referensi langsung pada Covid-19 karena adanya dasar transfer teknologi pemurni udara Puricare ke perangkat portabel. Iterasi pertama pada dasarnya adalah pembersih udara HEPA yang dapat digunakan pada wajah pengguna.

LG mengatakan, pada versi terbaru, perangkat ini lebih kecil, lebih ringan dan menghadirkan beberapa fitur baru yang penting untuk memecahkan masalah besar yang ditemukan di versi aslinya. Masalah besar yang dihadapi perangkat asli adalah kesulitan besar dalam melakukan percakapan melalui masker.

Laporan awal menyarankan suara-suara secara substansial teredam dan beberapa pengguna harus membuka masker untuk berbicara. Untuk mengatasi hal tersebut, LG kini telah memasukkan mikrofon dan speaker ke dalam perangkat, memperkuat suara seseorang saat mereka berbicara.

Sistem komputerisasi, yang dijuluki VoiceON oleh perusahaan, dapat mendeteksi saat Anda berbicara dan memperkuat suara Anda sambil tetap dimatikan saat Anda bernapas dengan normal. Elemen lain dari perangkat asli juga telah dioptimalkan dalam versi baru ini. Tak hanya itu, baterai telah ditingkatkan menjadi 1.000mA sementara berat keseluruhan perangkat telah turun dari 126 gram menjadi hanya 94 gram.

Seperti disebutkan sebelumnya, tidak ada klaim atau bukti langsung bahwa masker ini menawarkan perlindungan dari virus corona. Filter HEPA dalam masker telah ditemukan untuk menghilangkan 99,7 persen partikel virus tetapi ini dipasarkan dengan sangat hati-hati sebagai pembersih udara dan tidak ada yang lain.

Pembaruan masker terbaru LG bukanlah masker wajah elektronik pertama yang mempermainkan integrasi mikrofon dan speaker. Perusahaan laptop Razer mengungkapkan konsep masker pintar yang unik di awal tahun.

Baca juga: Canggih, Masker ini Bisa Deteksi Virus Corona Saat Pengguna Memakainya dalam Waktu 90 Menit

Di mana masker juga menghadirkan mikrofon dan speaker, di samping desain transparan dan lampu LED yang berlebihan, untuk efek cyberpunk penuh. Masker Razer tentu saja memenangkan poin gaya atas LG, tetapi terutama itu belum mencapai pasar, jadi jika benar-benar ingin membeli salah satu dari barang-barang ini, topeng PuriCare Wearable Air Purifier adalah pilihan terbaik Anda.






















Profil Jeff Bezos, ‘Keturunan’ Imigran Kuba yang Sukses di AS Bersama Amazon.com

Jeff Bezos belum lama ini menjadi sorotan usai berhasil berkelana ke luar angkasa melalui perusahaan Blue Origin yang didirikannya sejak 2000 lalu. Terlepas dari itu, pria yang menyandang nama “Bezos” dari ayah angkatnya yang seorang imigran asal Kuba ini memang selalu menjadi sorotan publik. Hal itu tak lepas dari statusnya sebagai orang terkaya di dunia.

Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

Perjalanan Jeff Bezos sebagai orang terkaya di dunia memang tidak instan. Sebagaimana kisah sukses tokoh dunia lain, Jeff Bezos juga memulai karirnya dari bawah, bukan mewarisi kekayaan keluarga.

Dilansir biography.com, Jeff Bezos berasal dari keluarga sederhana. Ibunya Jacklyn Gise Jorgensen dan Ted Jorgensen merupakan pekerja kantoran biasa. Sejak kecil, Jeff Bezos muda bahkan mendapat kehidupan pahit karena seringnya menyaksikan pertengkaran antara kedua orang tuanya.

Pria kelahiran 12 Januari 1964 ini baru bisa lepas dari bayang-bayang pertengkaran kedua orang tuanya saat umur 4 tahun. Ketika itu, ibunya memutuskan cerai dengan ayah kandung Jeff Bezos yang disebut egois dan tukang mabuk. Jackie, panggilan ibunda Jeff Bezos, kemudian menikah lagi dengan imigran asal Kuba, Mike Bezos.

Setelahnya, Jeff berganti nama, dari sebelumnya menyandang nama keluarga Jorgensen menjadi menyandang nama “Bezos” dari ayah tirinya. Mike Bezos juga bukan orang sembarangan. Ia merupakan pekerja sukses sebagai insinyur perminyakan di ExxonMobil.

Kesuksesan Jeff Bezos juga tak lepas dari ayah tirinya itu. Ketika merintis bisnis Amazon.com, Jeff Bezos mendapat suntikan dana besar US$300 ribu dari ayah tiri dan ibunya.

Terlepas dari itu, Jeff Bezos muda sebetulnya memang sudah potensial dengan kekayaan. Sejak SMA, Jeff Bezos bahkan sudah merintis bisnis Dream Istitute, sejenis bisnis event organizer, yang mengadakan event tahunan untuk anak kelas 4, 5, dan 6 SD.

Tetapi sayang, ide bisnisnya tak muncul selama kuliah. Nyaris tak ada gebrakan bisnis selama ia mengenyam pendidikan sarjana di Universitas Princeton sampai berhasil lulus di bidang ilmu komputer dan teknik elektro. dengan predikat summa cumlaude pada tahun 1986.

Setelah lulus, Jeff Bezos sempat bekerja di beberapa perusahaan besar di AS, seperti Wall Street, termasuk Fitel, Bankers Trust, dan perusahaan investasi DE Shaw. Pada tahun 1990, Bezos menjadi vice presiden termuda DE Shaw.

Di puncak karirnya, Jeff Bezos justru banting setir bisnis e-commerce untuk membuka toko buku online. Di awal, perusahaan toko buku online yang didirikan Jeff Bezos dinamakan Cadabra. Tetapi pada 16 Juli 1995, itu diubah menjadi sungai ternama di AS, Amazon.

Awal merintis Amazon.com, Jeff Bezos memanfaatkan garasi rumahnya sebagai laboratorium bisnisnya sekaligus kantor. Beberapa pekerja direkrutnya untuk membantu mengembangkan platform Amazon.com.

Ketika itu, tak ada yang menyangka bahwa bisnis Amazon.com berhasil melesat dengan sangat cepat. Tahun 1997, Amazon.com go public dan memperluas bisnisnya. Pendapatan bisnis melonjak puluhan kali lipat dari hanya US$510.000 pada tahun 1995 menjadi lebih dari US$17 miliar pada tahun 2011.

Setelah sukses bersama Amazon.com, Jeff Bezos mulai mendirikan dan mengakuisisi beberapa perusahaan seperti Amazon Instant Video & Amazon Studios, Amazon Drones, Blue Origin, The Washington Post, Whole Foods, Fire Phone, Kindle E-Reader, Alexa, sampai perusahaan kesehatan.

Selain itu, sebagaimana Bill Gates, Jeff Bezos juga mendirikan beberapa LSM, seperti Bezos Day One Fund dan Earth Fund.

Baca juga: Richard Branson – Sosok Pengidap Disleksia di Balik Nama Besar Virgin Ltd

Kendati sudah sukses, namun kehidupan rumah tangganya berantakan. Setelah menikah pada 1993 dan dikarunia dikaruniai empat orang anak, tiga laki-laki dan satu perempuan (anak angkat dari Cina), Jeff Bezos memutuskan cerai dengan istrinya, Mackenzie Tuttle Bezos, yang sangat berjasa menemani kesuksesannya di awal-awal Amazon.com berdiri. Ia kemudian mundur sebagai CEO Amazon pada Februari 2021.

Terminal 4 Changi Disiapkan untuk Tangani Penumpang dari Negara dengan Risiko Covid-19 Tinggi

Otoritas Singapura mempersiapkan Terminal 4 Bandara Internasional Changi untuk pendatang dari negara dengan tingkat infeksi Covid-19 yang sangat tinggi. Opsi ini dipertimbangkan karena T4 memiliki kapasitas lebih besar dari Terminal 2.

Baca juga: Otentikasi Penumpang Negatif Covid-19, Bandara Changi Hadirka Universal Verifier Affinidi

Menteri perhubungan Singapura, S Iswaran mengatakan, Terminal 2 saat ini juga tengah dalam renovasi sejak Mei tahun lalu dan ditutup untuk semua pengunjung. Meski begitu ada sebagian yang dibuka kembali untuk menangani penumpang dari tempat yang dianggap memiliki “risiko sangat tinggi” infeksi, setelah pecahnya klaster Covid-19 di bandara yang melibatkan 43 pekerja pada Mei tahun ini.

“Jika kita dapat menggunakan Terminal 4, maka itu meningkatkan kemampuan kita untuk menangani arus dari negara-negara yang sangat berisiko tinggi,” ujar Iswaran yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (7/7/2021).

Dia mengatakan bahwa berbagai lembaga yang terlibat sekarang sedang mengerjakan opsi ini, tetapi tidak memberikan batas waktu kapan itu bisa diterapkan. Sebab ini sulit untuk menentukan apakah pengaturan untuk repurpose di Terminal 2 dan Terminal 4  akan permanen.

“Saya akan mengatakan bahwa pola pikir yang kami adopsi adalah satunya bersiap untuk yang terburuk, berharap yang terbaik dan beradaptasi sebaik mungkin, dan merespons dengan cepat situasi yang berkembang,” katanya.

Iswaran memaparkan beberapa langkah yang telah dilakukan sejak klaster Bandara Changi, yakni bandara sekarang dipisahkan menjadi zona fisik. Dermaga penurunan, toilet, ruang imigrasi kedatangan dan sabuk pengambilan bagasi sekarang terpisah untuk penumpang dari tempat-tempat dengan tingkat risiko yang berbeda.

Dia mengakui bahwa perubahan alur kerja akan mengakibatkan stres lebih lanjut bagi pekerja. Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan para pemimpin serikat pekerja dan pelaku industri untuk membantu para pekerja beradaptasi. Iswaran juga menguraikan tentang tindakan pencegahan yang dipraktikkan di bus sewaan pribadi yang mengangkut pelancong dari tempat-tempat berisiko tinggi ke fasilitas pemberitahuan tinggal di rumah mereka.

Dia mengatakan kepada Gerald Giam (Aljunied GRC) bahwa bus dibersihkan dan didesinfeksi setelah setiap perjalanan. Pengemudi bus dilatih untuk mengenakan peralatan pelindung, termasuk masker N95 dan gaun pelindung. Mereka telah divaksinasi lengkap dan menjalani tes Covid-19 secara teratur.

“Wisatawan tidak diperbolehkan duduk di dekat pengemudi, dan hanya menempati bagian belakang kendaraan. Jumlah penumpang yang diperbolehkan di setiap bus juga dibatasi kurang dari setengah kapasitas totalnya untuk memastikan jarak aman yang memadai antara pemudik,” kata Iswaran.

Baca juga: Lindungi Kesehatan Penumpang, Bandara Changi Kenalkan Sistem Zonasi Terbaru

Dia juga mengatakan, penumpang yang datang dari negara yang dianggap kurang berisiko dalam hal infeksi Covid-19 akan diizinkan untuk pulang menggunakan moda transportasi lain. Namun mereka tetap harus menjalani tes swab setibanya di Singapura.






















Sudah Tahu Perbedaan Qantas dan QantasLink? Simak Di Sini Jika Belum

Selain Qantas, Qantas Group juga membawahi maskapai Jetstar, Jetstar Asia Airways, Network Aviation, dan QantasLink. Dengan jaringan luas di pasar domestik dan internasional, Qantas memang tak sanggup melahap seluruh potensi pasar. Itulah mengapa maskapai-maskapai tersebut lahir. Khusus untuk QantasLink, sebetulnya apa perbedaannya dengan Qantas?

Baca juga: Baling-Baling Mati Sebelah, Penerbangan QantasLink Dash 8 Terpaksa “Return to Base”

Dilansir Quora, dari segi rute dan segmentasi pasar serta turunannya, Qantas dan QantasLink jauh berbeda. QantasLink fokus pada rute-rute regional Australia yang tak sanggup diambil oleh Qantas. Sedangkan Qantas fokus pada rute-rute internasional yang tak sanggup dijalani QantasLink.

Selain itu, Qantas juga mengoperasikan rute-rute gemuk domestik, seperti dari ibu kota negara, Canberra, ke beberapa bandara regional utama; Gold Coast, Alice Springs, Launceston, dan Cairns. Umumnya Qantas mengerahkan Boeing 737-800 atau Airbus A330 pada rute-rute tersebut.

QantasLink bisa dibilang menjalankan fungsi feeder bagi Qantas, menghubungkan banyak kota-kota kecil di Australia ke hub Qantas. Berbeda dengan maskapai induknya, QantasLink menggunakan pesawat-pesawat yang lebih kecil, seperti A320, Boeing 717, Fokker 100, Embraer E190, Bombardier Dash 8 (Q400), Q300, dan seri 200.

Lebih spesifik lagi, armada Airbus A320 dan Fokker 100 QantasLink juga diplot sebagai maskapai charter serta penerbangan jarak jauh ke luar Australia.

Saat on board atau dalam penerbangan, berbagai fitur yang ditawarkan Qantas dan QantasLink nyaris serupa; termasuk seragam, kru, katering, dan sebagainya. Maklum, keduanya merupakan satu grup. Tetapi, tentu Qantas memiliki beberapa fitur tambahan, seperti inflight WiFi dan kelas bisnis di semua armada pesawat.

Dari segi konektivitas di tataran regional, keduanya bisa dibilang saling melengkapi satu sama lain. Penerbangan dari Port Lincoln (PLO) ke Adelaide (ADL), misalnya, bisa tersambung dengan Melbourne (MEL) menggunakan Qantas dan berlanjut ke jaringan internasional maskapai, seperti Los Angeles (LAX) menggunakan Boeing 787 Dreamliner Qantas.

Pada skema ini, penumpang tak perlu khawatir dengan bagasi. Dimana penumpang ingin turun, di sanalah bagasi berada. Tak perlu takut bagasi tercecer di luar bandara tujuan penumpang.

Baca juga: Qantas Pinjamkan Replika First Class Lounge Boeing 747 Bekas Syuting ke Museum

Dari segi sejarah, QantasLink sebetulnya sangat berbeda dengan Qantas. Qantas merupakan sebuah entitas yang sejak awal didesain untuk menjadi maskapai seperti sekarang. Sedangkan QantasLink merupakan hasil akuisisi beberapa maskapai regional Australia oleh Qantas Group, seperti Sunstate Airlines, Australian Airlines, Eastern Australia Airlines, dan Alliance Airlines.

Kendati berdiri dari hasil gabungan empat maskapai yang diakuisisi, identitas dari keempatnya sudah dilebur menjadi satu kesatuan bingkai bisnis QantasLink, yang tentu saja mengekor pada Qantas.

Terbukti Mudahkan Penumpang, Paspor Kesehatan Digital IBM Kini Digunakan 450 Maskapai Lebih

Perjalanan udara selama pandemi Covid-19 amat merepotkan. Penumpang pesawat setidaknya diharuskan untuk hadir empat jam sebelum keberangkatan untuk memeriksa berbagai kredensial atau dokumen, seperti surat keterangan bebas Covid-19, surat keterangan perjalanan, sertifikat vaksin Covid-19, ditambah tiket penerbangan dan identitas diri.

Baca juga: ANA Uji Coba Aplikasi “CommonPass” Pertama Kali Pada Dua Orang Penumpang

Di beberapa negara seperti Indonesia, penumpang juga diminta mengisi kartu kewaspadaan kesehatan (Health Alert Card/HAC) dan formulir penyelidikan epidemiologi yang diberikan personel KKP.

Pada April lalu, di Inggris, tepatnya di Bandara Heathrow London, penumpang pesawat bahkan harus menunggu enam jam, semata untuk pengecekan berbagai dokumen sebagai syarat, sebelum diizinkan terbang. Proses itu bisa menjadi lama karena dokumen tersaji dalam berbagai bahasa sesuai negara asal penumpang serta sistem pengecekannya berbasis hardcopy atau berkas secara langsung.

Melihat hal itu, salah satu perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), IBM, akhirnya meluncurkan paspor kesehatan digital yang dinamakan IBM Digital Health Pass. Dengan paspor kesehatan digital tersebut, penumpang cukup menscan kode QR yang dikirim ke email masing-masing saat di gate.

Penumpang kemudian mengunggah berbagai dokumen dan teknologi backend dari IBM akan mengotentikasi apakah dokumen yang diunggah sudah sesuai persyaratan atau belum. Karena aplikasi sudah disetting dalam berbagai bahasa dunia, proses otentikasinya pun jauh lebih cepat dibanding proses otentikasi secara manual oleh petugas.

Teknologi backend ini juga memudahkan kesesuaian berbagai syarat perjalanan dari masing-masing negara, mengingat mereka mempunyai persyaratan khusus yang khas selain persyaratan lain yang cenderung umum.

Data pribadi penumpang juga tetap aman dengan teknologi enkripsi blockchain, yang menghilangkan kebutuhan untuk mengumpulkan dan menyimpan data pribadi oleh petugas.

Saat ini, aplikasi paspor kesehatan digital IBM sudah digunakan oleh 474 maskapai penerbangan di seluruh dunia, termasuk Air Europa, Air Corsica, French Bee, Air Caraibes, Air Canada, dan Norwegian Air Shuttle, di bawah kontrol Amadeus sebagai penyedia jasa sistem reservasi.

Menurut Christian Warneck, oversees travel safety Amadeus, paspor kesehatan digital ini sangat membantu untuk mengurangi antrean dan memangkas waktu tunggu penumpang selama pengecekan.

“Ini menghindari pemeriksaan yang rumit dan memakan waktu saat bepergian, dan menambah jaminan lebih lanjut kepada maskapai dan penumpang mereka,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Greg Land, pakar perjalanan dan transportasi IBM, paspor kesehatan digital akan mendorong digitalisasi seluruh dokumen yang ada, seperti paspor, kartu identitas, dan lain sebagainya, sesuatu yang langkah sebelum adanya pandemi virus Corona.

Baca juga: Keren, Denmark Luncurkan Paspor Digital Covid-19, Seperti Apa?

“Bahkan sebelum pandemi, kami mulai melihat antrean panjang di bandara dan tempat-tempat lain dan itu membuat kami berpikir bahwa kami hanya perlu menemukan cara untuk membawa transformasi digital itu ke tingkat berikutnya,” ujarnya, seperti dikutip dari qz.com.

“Sungguh menyedihkan bahwa dibutuhkan pandemi untuk mendapatkan kemajuan dalam membangun standar-standar ini seputar kredensial digital. Tapi saya pikir apa yang kita alami saat ini, terutama dengan maskapai penerbangan dan perusahaan perjalanan lainnya, membantu kita menyadari manfaat beralih ke ID digital seperti paspor atau SIM,” tutupnya.