(Video) Pilot Buka Jendela Kokpit Saat Pesawat di Udara! Seketika, Ini yang Terjadi

Di artikel sebelumnya, redaksi sudah pernah menulis tentang sederet insiden dimana penumpang pesawat komersial coba membuka pintu saat pesawat tengah di ketinggian. Meskipun itu tak pernah terjadi, tetapi, secara teori seharusnya itu mustahil, dengan syarat berada di ketinggian 30-40 ribu kaki. Di bawah itu, segalanya masih mungkin. Seperti pada video yang satu ini.

Baca juga: Penumpang Gigit Pramugari dan Coba Buka Pintu Pesawat di Udara, Mustahil!

Dlihat KabarPenumpang.com di channel YouTube Papa Kilo, seorang pilot uji Boeing tampak dengan sengaja membuka jendela kokpit pesawat dan membuat kokpit tanpa tekanan. Itu dilakukan bukan dalam penerbangan komersial bepernumpang, melainkan saat uji terbang pesawat Boeing 777 di ketinggian 6.000 kaki (1.829 m) di kecepatan 250 knot atau 463 km per jam.

Dari caption di Instagram Cessnateur yang juga memuat video yang sama dengan YouTube Papa Kilo, pilot yang tak disebutkan namanya itu mengungkapkan bahwa membuka jendela kokpit merupakan salah satu momen paling mengasyikkan. Lebih-lebih saat kepala keluar jendela dan melihat lurus ke depan tanpa terhalang apapun.

Selanjutnya, ia juga mengungkapkan bahwa membuka jendela kokpit saat pesawat mengudara merupakan pengalaman berharga bagi pilot. Hanya saja memang noise atau gangguan yang dihasilkan cukup tinggi sehingga membuat kokpit menjadi sangat bising.

Dalam video tersebut, baik video di Instagram maupun di YouTube Papa Kilo, tampak pilot dengan sengaja membuka jendela kokpit saat pesawat mengudara. Alih-alih tersedot dan terlempar keluar pesawat akibat dekompresi eksplosif, sang pilot tampak dengan enjoy menikmati penerbangan.

Tentu, karena ini sudah menjadi bagian dari skenario, dua pilot dan satu flight engineer yang ada sudah menggunakan pelindung mata atau sejenis kacamata untuk menghindari hembus angin kencang serta alat komunikasi berupa speaker dan headphone untuk saat kokpit menjadi sangat bising usai jendela kokpit dibuka.

Perlu dicatat, video ini ada, dimana pilot dengan sengaja membuka jendela kokpit saat pesawat di udara, bisa terjadi lantaran berada di ketinggian yang relatif rendah. Karenanya, ketika jendela kokpit dibuka, pesawat tetap terbang dengan kondisi kokpit tak bertekanan atau tanpa tekanan.

Itu pula mengapa pilot, kopilot, dan flight engineer tidak terhisap keluar lantaran tidak terjadi dekompresi eksplosif.

Baca juga: Bedah Jendela Pesawat, Inilah Bagian-bagian Beserta Fungsinya

Di video lain yang dimuat Papa Kilo, tampak pula pesawat Boeing 737 lepas landas dengan posisi salah satu cockpit windshield atau cockpit windownya terbuka.

Tetapi, di video ini, pilot tidak dengan sengaja membuka jendela pesawat, melainkan itu tiba-tiba terbuka saat pesawat mulai meninggalkan landasan. Jadi, dalam video ini insiden ini membuktikan pesawat dipastikan bisa lepas landas dengan jendela kokpit terbuka.

Kacaukan Jadwal Perjalanan Kereta di Iran, Peretas Tampilkan Pesan Perjalanan Kereta “Tertunda”

Sebuah pesan palsu terkait penundaan atau pembatalan perjalanan kereta api terpajang di papan pemberitahuan di stasiun di seluruh negeri. Insiden ini terjadi di Iran yang nyatanya sistem mereka diretas oleh serangan siber pada Jumat (23/7/2021) lalu.

Baca juga: Perang Siber Iran Vs Israel! Kereta Bawah Tanah Israel Jadi Korban, Iran: Ini Baru Permulaan

Tak hanya itu, para peretas juga memposting pesan seperti lama tertunda karena serangan siber atau dibatalkan di papan. Bahkan mereka juga mendesak penumpang untuk meminta informasi dan mencantumkan nomor telepon kantor pemimpin tertinggi negara itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Dilansir KabarPenumpang.com dari voanews.com (28/7/2021), kantor berita resmi Iran, Fars, melaporkan bahwa insiden peretasan menyebabkan kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya di stasiun kereta api. Sejauh ini belum diketahui pihak yang telah mekakukan peretasan.

Sebelum peretasan terjadi, kantor berita resmi Iran tersebut mengatakan kereta api di seluruh Iran telah kehilangan sistem pelacakan elektronik mereka. Tapi itu belum jelas apakah hal tersebut merupakan bagian dari serangan siber.

Juru bicara kereta api negara, Sadegh Sekri mengatakan, gangguan itu tidak menyebabkan masalah bagi layanan kereta api. Pada tahun 2019, kesalahan pada server komputer perusahaan kereta api menyebabkan beberapa penundaan dalam layanan kereta api.

Pada Desember 2019, Kementerian Telekomunikasi Iran mengatakan negara itu telah mampu meredam serangan siber besar-besaran pada “infrastruktur elektronik” yang tidak ditentukan, tetapi tidak memberikan rincian tentang serangan yang diklaim. Tidak jelas apakah serangan yang dilaporkan itu menyebabkan kerusakan atau gangguan pada komputer dan sistem internet Iran, dan apakah itu merupakan babak terbaru dalam operasi siber yang dilancarkan AS atau Israel.

Baca juga: Tingkatkan Keamanan Siber, Airbus Luncurkan Program Pendekatan Human-Centric

Iran memutuskan sebagian besar infrastrukturnya dari internet setelah virus komputer Stuxnet yang secara luas diyakini sebagai ciptaan bersama AS-Israel mengganggu ribuan sentrifugal di situs nuklir negara itu pada akhir 2000-an.






















Panic Button di Bus TransJakarta, Jadi Pengganti “Kiri Bang….”

Bila di kereta ada tuas rem darurat untuk keadaan penting, di bus rapid transit atau BRT ternyata juga memilikinya. Meski begitu namanya berbeda yakni panic button atau tombol darurat. Yang mana di beberapa bus pun penggunaannya berbeda seperti untuk langsung membuka semua pintu ketika dalam keadaan darurat.

Baca juga: Tuas Rem Darurat, Instrumen Keselamatan di Kereta Yang Bisa Datangkan Masalah Baru. Kok Bisa?

Namun bila di bus milik TransJakarta, humas PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) mengatakan, panic button hanya ada di bus jenis low deck . Di mana penggunaannya hanya berguna sebagai kode berhenti untuk pelanggan yang akan turun.

Juru bicara TransJakarta mengatakan hal tersebut bila di bus biasa seperti “kiri bang”. Selain itu panic button juga digunakan untuk hal darurat jika tidak ada petugas selain pengemudi di dalam bus.

Nantinya pengemudi akan berhenti di tempat yang ada petugas atau bus stop untuk melakukan pengecekan bila terjadi hal darurat. Juru bicara TransJakarta menambahkan, bahwa panci button ini tidak lain hanya memberitahu pengemudi untuk berhenti atau masalah darurat.

Export Manager karoseri Laksana Werry Yulianto mengatakan, untuk beberapa BRT, ada yang memiliki spesifikasi untuk dibuatkan satu tombol yang bisa membuka seluruh pintu.

“Jadi tergantung dari spesifikasi yang diminta. Misalnya ada keharusan tombol tersebut dipasang di armada TransJakarta dan Suroboyo Bus,” ucap Werry yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com, Selasa (27/7/2021).

Werry menjelaskan, tombol darurat tersebut ditambahkan oleh karoseri. Jadi fungsinya untuk membuka jalur angin untuk pintu tersebut. Tombol ini bisa digunakan dalam kondisi mesin mati maupun menyala.

Baca juga: Marak Pelecehan Terhadap Wanita, Otoritas Panchkula Pasang Panic Button di Halte Bus

“Jadi fungsinya membuka jalur angin sehingga bisa dibuka secara manual, baik didorong atau ditarik,” kata Werry. Selain bus TransJakarta dan Suroboyo Bus, pada pintu otomatis juga disematkan emergency valve yang fungsinya sama, yaitu membuka pintu secara manual dalam kondisi darurat. Posisi tombolnya biasanya ada di bagian atas pintu.






















Maskapai dan Produsen Pesawat Rugi Besar, Produsen Cat Pesawat Justru Untung Besar

Di saat berbagai perusahaan di industri dirgantara dunia tengah terpuruk, perusahaan produsen cat pesawat justru meraup untung besar. Bagaimana bisa?

Baca juga: Melawan Lupa! Hanggar Narrow Body Terbesar di Dunia Ada di Indonesia

Sepanjang tahun lalu, utamanya di awal-awal sampai puncak pandemi virus Corona sekitar kuartal I-3 2020, Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, mencatat lebih dari 17 ribu pesawat nganggur atau digrounded di seluruh dunia, terendah sejak 26 tahun.

Setelah industri penerbangan penumpang dan kargo mulai membaik di kuartal IV tahun lalu sampai sekarang, sekalipun masih agak fluktuatif di beberapa negara, banyak pesawat mulai keluar dari peraduannya. Tetapi, hampir semua pesawat kondisinya berdebu dan warnanya tak lagi sesuai dengan yang diharapkan.

Dengan kondisi itu, sudah pasti seluruh armada dicat ulang agar lebih sedap dipandang mata sebelum mulai kembali menghiasi langit.

Di saat yang bersamaan, produsen pesawat dunia, semisal Boeing dan Airbus, juga terus menggenjot produksi mereka sekalipun kenyataannya tetaplah menurun. Sampai di sini, sudah pasti seluruh pesawat bakal dicat.

Selain dua kondisi itu, ada pula banyak maskapai start-up yang coba memanfaatkan peluang dimana harga pesawat sedang jatuh-sejatuh-jatuhnya.

Mereka membeli pesawat dengan harga murah untuk persiapan manakala kondisi industri penerbangan global sudah merangkak pulih. Perpindahan pesawat dari pemilik lama ke pemilik baru sudah pasti membutuhkan cat pesawat untuk livery baru.

Demikian juga dengan semakin dinamisnya penyewaan pesawat oleh lessor. Setiap mendapat klien baru untuk menyewa pesawat, sudah pasti pesawat bakal dicat sesuai livery yang diinginkan perusahaan.

Andaipun tak mendapat klien baru, lessor biasanya tetap mengecat pesawat lama dengan cat putih. Berbagai kondisi itulah yang pada akhirnya mendorong produsen cat pesawat dan perusahaan jasa pengecatan pesawat meraup untung besar di tengah pandemi Covid-19.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, CEO Akzo Nobel NZ, Thierry Vanlancker, berhasil mencapai penjualan di tingkat pra pandemi pada kuartal II 2021. Perusahaan cat pesawat terbesar di dunia itu sebelum memperkirakan ini baru akan terjadi pada 2023 mendatang.

“Ini adalah kejutan bagi kami. Kami pikir ini hanya akan terjadi pada tahun 2023,” jelasnya.

Baca juga: OMG! Salah Penulisan Livery Pesawat, Nama Cathay Pacific Menjadi ‘Cathay Paciic’

Akzo Nobel NZ, yang juga melayani jasa pengecatan pesawat, tentu bukan satu-satunya perusahaan cat yang meraup untung besar. PPG Industries, yang juga masuk dalam daftar perusahaan Fortune 500, juga berhasil mengalami lonjakan penjualan di kuratal II tahun ini.

Biaya pengecatan pesawat bisa dibilang agak mahal. Angka rincianya memang tak pernah diungkap ke publik. Tetapi, biasanya bisa mencapai US$175.000. Itu bisa lebih tinggi untuk pesawat widebody. Adapun untuk pesawat narrowbody, biaya jasa pengecetan pesawat hanya seharga US$50.000.

Mau Lihat Panda di Chengdu? Yuk Naik Kereta Transparan

0

Siapa yang tak kenal panda? Beruang dengan warna putih dan hitam ini merupakan mamalia asal Negeri Tirai Bambu. Di Cina tepatnya di Chengdu, terkenal sebagai rumah dari program pengembangbiakan panda.

Baca juga: Dayi Air Rail, Kereta Gantung dengan Baterai Lithium untuk Hubungkan Lokasi Wisata

Karena hal ini, kota di barat daya Cina tersebut menghadirkan kereta panda untuk menyambut pelancong internasional. Kereta ini mulai debutnya pada 26 Juni kemarin di Sichuan dengan Zhongtang Air Railway.

Kereta transparan di Cina (cnn.com)

KabarPenumpang.com melansir cnn.com (6/7/2021), skytrain ini transparan dan pelancong bisa melihat dari semua sisi kereta bahkan di bagian bawahnya pun terbuat dari kaca. Kereta ini Ini memiliki visibilitas 270 derajat karena bagian atasnya tidak transparan.

Pelancong yang melihat langsung kereta akan melihat bahwa kereta itu dicat menyerupai panda. Proyek Kereta Udara Dayi adalah jalur uji rel udara pariwisata energi baru pertama di dunia. Di mana kereta gantung ini menggunakan paket daya baterai lithium sebagai daya traksi.

Kereta udara Dayi memiliki jalur dengan panjang sekitar 11,5 kilometer (sekitar tujuh mil). Satu kereta berisi maksimal 120 orang, karena kereta ini transparan, kereta dilengkapi pendingin udara untuk menyeimbangkan panas yang dipantulkan kaca kereta. Detailnya, gerbongnya terbuat dari bahan serat karbon ringan.

Kereta dapat menempuh kecepatan yang sama dengan kereta bawah tanah, sekitar 80 kilometer per jam. Jalur kereta transparan ini memiliki empat pemberhentian yakni Stasiun Dayi, Guanghua Avenue, Stasiun Sujiazhen dan Stasiun Anren.

Di Dayi, wisatawan dapat terhubung ke Jalur Chengdu Express Rail Line dan Jalur Planning Line 12 dari kereta bawah tanah kota Chengdu. Salah satu lokasi yang bisa pelancong kunjungi untuk melihat panda di China adalah di Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding. Ini adalah pusat penangkaran dan taman hiburan panda terbesar di dunia.

Baca juga: Bakal Hubungkan Rusia dan Cina, Inilah Kereta Gantung Lintas Negara Pertama di Dunia

Di sini Anda bisa melihat aneka tingkah laku panda yang menggemaskan, berguling-guling, makan bambu, memanjat dan lainya. Sebagai konservasi, di sini panda-panda juga dirawat, dilindungi dan diteliti juga untuk pengembangbiakan.

Usai Masa Jaya, Stasiun Parakan Pernah Menjadi Gudang Tembakau

Banyak stasiun tua di Indonesia yang kini tak beroperasi lagi dan beberapa di antaranya sudah beralih fungsi menjadi berbagai macam tempat. Seperti Stasiun Parakan yang beralih fungsi sebagai gudang tembakau dan kini menjadi Pos Pelayanan Properti PT KAI. Stasiun ini termasuk dalam Wilayah Aset VI Yogyakarta serta merupakan stasiun kereta api yang lokasinya paling barat di Kabupaten Temanggung.

Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Muntilan, Kini Berubah Jadi Terminal Bus Prajitno

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Stasiun Parakan dibangun pada masa kolonial Belanda. Stasiun ini memiliki nilai historis dan strategis pada masanya dan beroperasi sejak 1 Juli 1907 oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pada masa kejayaannya stasiun memiliki depo kereta api, depo lokomotif dan gudang sehingga terbilang memiliki fasilitas yang lengkap.

Pada tahun 1945-1950, Stasiun Parakan memiliki peran sentral dalam terbentuknya Satuan Pelajat Temanggung yang terkenal dengan Barisan Pemuda Temanggung atau BPT. Yang mana stasiun diperuntukkan sebagai tempat pasokan alutsista bagi BPT dan untuk mengangkut komoditi ekspor untuk pertumbuhan ekonomi di Parakan.

Pada masa penjajahan Jepang, lebih banyak diperuntukan untuk mengangkut penumpang selain komiditi hasil bumi. Stasiun Parakan ternyata pernah dibumihanguskan oleh para pejuang sebagai taktik agar Belanda tidak menguasai objek vital.

Sehingga Stasiun Parakan sempat dipugar pada bagian atapnya tahun 1950. Stasiun ini dulunya terletak kurang lebih 30 km dari Stasiun Wonosobo, tetapi NIS dan Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), operator Stasiun Wonosobo, tidak berminat untuk menyambungkan kedua stasiun itu, karena kondisi medan pegunungan yang sangat sulit.

Oleh karena itu, untuk menyambung Parakan dengan Wonosobo disediakan angkutan bus. Stasiun Parakan sendiri masih ramai penumpang hingga tahun 1970-an dan tak berselang lama tahun 1973, stasiun dan jalur ini secara resmi ditutup seiring ditutupnya jalur dari Secang, karena penumpang yang turun drastis.

Meski menjadi menjadi Pos Pelayanan Properti PT KAI, bekas depo lokomotif dan gudang kini sudah dibongkar. Stasiun Parakan bangunannya memiliki arsitektur yang sama dengan Stasiun Temanggung dengan gaya Chalet-NIS, yang banyak digunakan untuk stasiun-stasiun NIS pada tahun 1907.

Baca juga: “Baso,” Bukan Cuma Makanan, Tapi Juga Nama Bekas Stasiun di Sumatera Barat

Atapnya bergaya jerkinhead yang menjadi ciri khas bangunan rumah ala Eropa, tetapi menyesuaikan dengan iklim tropis. Dindingnya terbuat dari batu bata tanpa plesteran sehingga menambah kesan artistik bangunan. Tidak jauh dari stasiun, ke arah timur, terdapat Plengkung Campur Sari yang sangat terkenal, terletak di Desa Campursari di Kecamatan Bulu.

Sejukkan Stasiun, London North Eastern Railway Kembangkan CityTree

Pohon menjadi salah satu sumber terbesar kehidupan di dunia. Selain mengurangi panas, pohon juga menghasilkan oksigen yang dihirup oleh semua mahkluk hidup. Pohon juga bisa ditemui di mana pun dan kini, banyak pengembangbiakan pohon untuk membuat bumi menjadi lebih baik lagi karena banyak yang ditebang dan kebakaran hutan.

Baca juga: Eksentrik, Stasiun Nagatoshi Punya “Torii” di Atas Rel

Nah, belum lama ini, di London, Inggris mengembangkan CityTree yang menggabungkan kemampuan alami lumut hidup untuk mengikat debu halus dan meningkatkan kualitas udara, dengan teknologi baru, untuk membersihkan, mendinginkan, dan melembabkan udara di Stasiun Pusat Newcastle. Pohon itu dapat meningkatkan kualitas udara 3.500 meter kubik setiap jam, setara dengan volume pernapasan 7.000 orang.

Tidak seperti filter udara konvensional, spesies lumut di dalam struktur setinggi tiga meter itu dapat mengubah debu menjadi biomassa alami dan mencernanya, menghasilkan oksigen, sehingga tidak pernah penuh. CityTree dikembangkan oleh London North Eastern Railway (LNER) dalam program inovasi mereka, LNER FutureLabs.

“Kami senang bahwa Stasiun Pusat Newcastle adalah yang pertama di dunia di mana pelanggan dapat menikmati udara segar dari CityTree, karena ini menunjukkan bagaimana teknologi baru dapat dipercepat. memberikan dampak positif bagi lingkungan di dalam dan sekitar stasiun kereta api,” kata Danny Gonzalez, chief digital and innovation officer di LNER yang dikutip KabarPenumpang.com dari airqualitynews.com (27/7/2021).

Dengan memanfaatkan manfaat alami dari lumut hidup dan menggabungkannya dengan perkembangan teknologi terbaru, kami berharap dapat melihat dampak CityTree terhadap lingkungan stasiun. Ini adalah contoh bagus dari pendekatan inovatif yang kami ambil di LNER, untuk membantu kami mencapai tujuan keberlanjutan yang ambisius.’

LNER bermitra dengan perusahaan Jerman Green City Solutions, yang mengkhususkan diri dalam menggabungkan alam dengan teknologi digital, untuk menguji CityTree dalam lingkungan stasiun. CityTree akan dipasang di Stasiun Pusat Newcastle selama 12 minggu untuk menguji dampaknya terhadap lingkungan stasiun.

Baca juga: Beruang Serang Pekerja Konstruksi Kereta Peluru Shinkansen Gegara Kehabisan Biji Pohon Ek

“Misi kami adalah menemukan solusi untuk ruang dalam kota sehingga sebanyak mungkin orang dapat menghirup udara bersih. Sangat menyenangkan mendapatkan kesempatan untuk berbagi CityTree dengan orang-orang di Newcastle dan menciptakan zona yang menyenangkan bagi mereka untuk menikmati udara yang lebih segar dan lebih sejuk,” ujar Peter Sänger, salah satu pendiri dan CEO Green City Solutions.






















ANA Luncurkan Staycation Dua Malam di Jepang dan Flight to Nowhere dengan Airbus A380

Di saat maskapai lain pusing tujuh keliling memanfaatkan armada pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380, All Nippon Airways (ANA) justru berencana melakukan empat penerbangan staycation dua malam di Jepang bersama pesawat superjumbo tersebut.

Baca juga: ANA Sulap Pesawat Boeing 777 yang Di-grounded Jadi Restoran, Sekali Makan Rp7,8 Juta!

Malaysia Airlines belum lama ini resmi menjual enam pesawat Airbus A380 dengan harga tertinggi US$46,89 juta atau sekitar Rp680 miliar (kurs 15.000) atau jumlah total seharga US$273,34 juta atau Rp4 triliun untuk enam pesawat.

Maskapai lain juga, sekelas Emirates sekalipun, yang notabene menjadi maskapai terbesar yang mengoperasikan A380, juga tak banyak ide untuk bisa mengembalikan sang raja ke langit. Tetapi, tidak demikian dengan ANA.

Di masa pandemi, maskapai asal Jepang itu memang kerap melakukan beberapa inovasi layanan untuk memaksimalkan armada pesawat.

April lalu, ANA diketahui menyulap salah satu Boeing 777-300ER-nya menjadi restoran. Harga menyantap sajian makanan di sini tak tanggung-tanggung, mencapai US$540 atau sekitar Rp7,8 juta (kurs 14.525) untuk paket makanan di first class untuk sekali makan.

Setelah Triple Seven, kini giliaran A380. Dua program inovasi layanan sudah disiapkan maskapai bersama pesawat itu.

Dilansir Simple Flying, inovasi pertama yaitu layanan berangkat dan pulang menggunakan pesawat superjumbo itu. Sejauh ini, hanya ada rute yang dijadwalkan dengan masing-masing dua penerbangan pulang pergi dari hub maskapai di Tokyo Narita menuju Sapporo (Bandara New Chitose) di utara dan Okinawa (Bandara Naha) di selatan Jepang. Untuk Jadwal lebih lengkapnya sebagai berikut.

18 September – Bandara Narita (NRT) 11:00 – Bandara New Chitose (CTS) 12:45
20 September – Bandara New Chitose (CTS) 15:00 – Bandara Narita (NRT) 16:45
24 September – Bandara Narita (NRT) 11:00 – Bandara Naha (OKA) 14:00
26 September – Bandara Naha (OKA) 15:00 – Bandara Narita (NRT) 17:50

Harga dari paket perjalanan staycation menginap dua hari di dua kota tersebut sangat bervariasi, tergantung pada rute, kelas perjalanan, dan kamar hotel yang diinginkan penumpang. Harga terendahnya dimulai dari US$697.52, dengan spesifikasi kursi kelas ekonomi sharing room di penginapan dengan tiga orang lainnya di Okinawa.

Adapun harga tiket tertinggi untuk program staycation ANA mencapai US$3.160,62 dengan detail duduk di kursi first class dan satu kamar per orang di Sapporo. Rute ke Sapporo jelas lebih mahal ketimbang Okinawa yang cenderung tak memiliki destinasi wisata dan iklim seramah Sapporo.

Baca juga: Gegara A380 Tak Terbang, Singapore Airlines Jual Barang Kelas Satu untuk Pelanggan

Inovasi kedua ANA dalam memanfaatkan armada A380-nya yaitu flight to nowhere di sekitaran Jepang pada 19 September mendatang. Flight to nowhere ANA menggunakan A380 akan berangkat dari Bandara Chitose di Capporo dan berlangsung selama dua jam dari pukul 13.00 sampai pukul 15:00.

Baik pada program pertama dan kedua A380 ANA, seluruhnya menggunakan ground stairs untuk menaiki pesawat. Hal itu memungkinkan setiap penumpang untuk mengabadikan momen berpose dengan latar belakang A380 yang legendaris.

Setelah 68 Tahun Beroperasi, Pesawat Convair 580 Air Chathams Akhirnya Pensiun

Pesawat propeller Convair 580 Air Chathams dipastikan pensiun akhir tahun ini usai beroperasi selama 68 tahun. Bersama maskapai asal Selandia Baru itu, pesawat biasanya terbang menghubungkan Kepulauan Chatham dengan daratan Selandia Baru, seperti Christchurch, Wellington, dan Auckland.

Baca juga: Nyaris Berusia 40 Tahun, Boeing 767 Tertua di Dunia Masih Gagah Beroperasi

Setelah Convair 580 pensiun, pesawat ATR-72 500 didapuk sebagai pengganti. Selain itu, ada pula deretan pesawat lainnya sebagai suksesor, seperti Saab 340, Fairfield Metroliners, Cessna 206, dan Douglas DC-3 yang biasanya standby di hub maskapai di Bandara Kepulauan Chatham (CHT).

Maskapai Air Chathams diketahui memiliki tiga armada dengan tiga konfigurasi berbeda. Ketiganya dipastikan bakal pensiun akhir tahun ini, keputusan yang sudah pasti akan membuat avgeeks khususnya pecinta pesawat itu risau.

Di masa-masa normal atau sebelum pandemi virus Corona terjadi di seluruh dunia, orang dari mana-mana di seluruh dunia sengaja datang ke Selandia Baru hanya untuk menjajal sensai pesawat tua buatan tahun 1953 yang awalnya dibangun untuk Philippine Airlines ini.

Pada tanggal 23 Juli lalu, pesawat penumpang Convair 580 Air Chathams dengan nomor registrasi ZK-CIB menjalani penerbangan terakhir. Tak disebutkan dengan jelas berapa banyak penumpang yang diangkut.

Tetapi, besar kemungkinan pesawat penuh sesak oleh pecintanya. Pesawat ini bahkan mendapat water canon salute sebagai sebuah penghormatan atas penerbangan terakhirnya dari Wellington (WLG).

“Ini adalah pesawat yang sangat, sangat sulit untuk diganti, sejujurnya,” kata CEO Air Chathams, Craig Emeny seperti dikutip dari The New Zealand Herald.

“Saya senang melihat (Convair ) 580 menuju ke timur dari Christchurch dan berharap saya ada di dalamnya. Betapa hebatnya pesawat itu. Itu akan dirindukan,” kata salah satu penumpang di momen penerbangan terakhir.

Di balik keputusan maskapai mempensiunkan pesawat tua Convair 580 berusia 68 tahun, Craig memastikan bahwa pesawat yang dirawat dengan maksimal akan tetap aman digunakan sekalipun sudah jauh melebihi masa pakai. Dengan kata lain, perawatan pesawat secara maksimal bisa memperpanjang usia atau masa pakai pesawat.

Di Selandia Baru, pesawat terawat sudah menjadi sebuah keniscayaan. Sebetulnya, di negara manapun, industri penerbangan pasti menerapkan keselamatan tinggi sehingga pesawat-pesawatnya sudah pasti terawat. Tetapi di Selandia Baru itu lebih sistematis berkat program New Southern Sky.

New Southern Sky sendiri adalah program 10 tahun untuk mengimplementasikan National Airspace and Air Navigation Plan dan memodernisasi sistem penerbangan Selandia Baru.

New Southern Sky melibatkan setidaknya tiga kelompok; CAA atau Regulator Penerbangan Sipil Selandia Baru, Kementerian Transportasi, dan seluruh maskapai di Selandia Baru.

Baca juga: McDonnell Douglas Dakota DC-3 – Si Tua-Tua Keladi Setelah 81 Mengudara

Selain pesawat penumpang, pesawat kargo Convair 580 Air Chathams juga dilaporkan tak lama lagi bakal memasuki masa pensiun. Meski begitu, agaknya itu tidak sampai tahun ini.

Usai pensiun, sebetulnya maskapai Air Chathams ingin membuatkan museum untuk pesawat Convair 580. Tetapi, pesawat akhirnya malah dijual maskapai dan sudah mendapatkan pemilik baru. Itu mungkin akan dimodifikasi menjadi restoran, coffee shop, rumah, dan lain sebagainya.

Hari Ini, 86 Tahun Lalu, Pesawat Legendaris AS di PD II Boeing B-17 Flying Fortress Terbang Perdana

Pada hari ini, 86 tahun lalu, bertepatan dengan 28 Juli 1935, pesawat pengebom pengintai sayap rendah Amerika Serikat (AS) Boeing Model 299 berhasil terbang perdana. Ketika itu, Chief Test Pilot Leslie Ralph Tower dan asistennya, Louis Waite, memimpin langsung penerbangan prototipe pesawat NX13372 di langit Boeing Field, Seattle, AS.

Baca juga: Hari Ini, 72 Tahun Lalu, De Havilland Comet, Pesawat Jet Komersial Pertama di Dunia Terbang Perdana

Dilansir This Day Aviation, Boeing Model 299 bukanlah pesawat biasa, melainkan pesawat legendaris pada Perang Dunia II yang dikenal sebagai Boeing B-17 Flying Fortress.

Pesawat ini merupakan pesawat bomber pengintai sayap rendah dengan empat mesin Pratt & Whitney Hornet S1E-G dengan tiga bilah dan dioperasikan oleh delapan kru. Pesawat ini disebut mampu mengangkut bom seberat 907 kilogram serta menempuh jarak sejauh 3.219 km di kecepatan 322 km per jam.

Desain prototipe Boeing Model 299 ini dibuat pada Juni 1934 dan konstruksinya dimulai dua bulan kemudian.

Pesawat ini memiliki panjang 21 meter dengan lebar sayap 31 meter, dan tinggi 4,554 meter. Berat kosongnya adalah 9.823 kilogram. Adapun berat kotor maksimum 17.261 kilogram mencapai.

Dalam uji terbang perdana tersebut, pesawat yang oleh Korps Udara Angkatan Darat sebagai XB-17 ini diketahui berhasil mencatat kecepatan jelajah mencapai 328 kilometer per jam serta kecepatan maksimum 380 kilometer per jam di ketinggian 3.048 meter.

Pesawat juga diketahui berhasil mencapai ketinggian maksimum 7.504 meter, membawa bom seberat 1.167 kilogram, jauh di atas estimasi berat bom maksimum yang mampu diangkut, serta jangkauan maksimum sejauh 3.283 km.

Selain bom, Boeing Model 299 juga memiliki sistem persenjataan sendiri lima senapan mesin kaliber 30. Delapan kru yang mengoperasikan ini bisa mengisi pos senapan mesin ini ketika terjadi kontak senjata.

Sayangnya, setelah kesuksesan penerbangan perdana, pesawat Boeing Model 299 dengan nomor registrasi NX13372 jatuh saat mencoba lepas landas di di Wright Field, Dayton, Ohio, pada 30 Oktober 1935.

Ketika itu, penyebab kecelakaan karena pilot Army Air Corps lupa melepas control locks pesawat. Usai kecelakaan tersebut, SOP check list atau sejenis manual book akhirnya diluncurkan sebagai direction pilot sebelum menerbangkan pesawat.

Baca juga: Mengenal Pesawat Luar Angkasa Terbesar dalam Sejarah Buatan Boeing, Begini Keunggulannya

Setelah melalui berbagai uji terbang dan beberapa peningkatan serta sebelum memasuki produksi massal, pesawat Boeing Model 299 atau XB-17 pun akhirnya dikenal sebagai B-17 Flying Fortress, yang pada akhirnya menjadi pesawat legendaris di Perang Dunia II.

Usai sukses membawa AS dan sekutu meraih kemenangan besar di Perang Dunia II, B-17 Flying Fortress akhirnya dipensiunkan pada 1968, dengan catatan lebih dari 12.000 unit yang telah diproduksi.