Taiwan Terima Rangkaian Perdana EMU3000, Kereta Listrik Antar Kota Produksi Hitachi

Perkeretaapian Taiwan memasuki babak baru, yaitu dengan tibanya rangkaian kereta listrik antar kota EMU3000 pada 30 Juli lalu. Taiwan Railways Administration (TRA) selaku operator berharap dapat meningkatkan hingga 40 persen layanan kereta ekspres antar kota di kawasan yang tak diakui oleh Cina Daratan tersebut.

Baca juga: Kereta di Taiwan Tergelincir Hingga Tewaskan 51 Orang, Jepang Siap Bantu Pasca Kecelakaan

Dikutip dari focustaiwan.tw (30/7/2021), satu set kereta yang terdiri dari 12 mobil (gerbong) telah tiba di Pelabuhan Hualien. EMU3000 adalah kereta produksi Hitachi, sebelum memasuki layanan komersial, EMU3000 akan diuji kualitas dan keamanannya oleh Kementerian Perhubungan Taiwan. Pengujian akan diawasi oleh TRA, Hitachi dan TÜV Rheinland Taiwan Ltd, yang akan melakukan fungsi verifikasi dan validasi (IV&V) independen.

Totalnya, TRA akan menerima 600 gerbong untuk memdukung pengoperasian 50 set rangkaian kereta. TRA mengatakan tujuh set kereta akan dikirimkan tahun ini, 15 set pada tahun 2022 dan 16 set pada 2023 sebelum sisanya dikirimkan pada tahun berikutnya. Dengan teknologi yang ada, diharapkan EMU3000  mampu menggantikan rangkaian kereta antar kota yang saat ini sudah beroperasi 30 tahun lebih. Bila proses uji dan verifikasi tuntas, maka EMU300 akan mulai dioperasikan pada akhir tahun ini.

Baca juga: Jalur Kereta Tadami di Jepang, disebut “Kereta Api Paling Romantis di Dunia” oleh Warga Taiwan

Sekilas tentang EMU3000, kereta produksi Hitachi ini dibuat dari material paduan alumunium. Dalam satu rangakaian, kereta ini dapat membawa 538 penumpang. Bicara kinerja, EMU3000 punya akselerasi awal 2,52 km per detik dengan kecepatan maksimum 150 km per jam.

Unik! Pesawat Kuno ini Beralih Fungsi Jadi Barber Shop

Pernahkah terbayang oleh Anda untuk mencukur rambut di dalam pesawat? Tentu saja ini bukan sebuah promo yang dilakukan oleh maskapai terkenal di dunia seperti Emirates, Qatar, atau Garuda Indonesia sekalipun, melainkan sebuah pesawat kuno yang bertransformasi menjadi sebuah barber shop. Memang ada saja cara yang dilakukan oleh pebisnis kreatif untuk mempromosikan bisnisnya sekaligus menarik para pelanggan.

Baca Juga: Pesawat-Pesawat Ini Punya Desain Yang Sangat Unik, Yuk Intip!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman wbir.com, barber shop yang berlokasi di Clinton Highway, sebelah timur pusat kota Tennessee ini sebelumnya difungsikan sebagai stasiun pengisian bahan bakar. Namun karena satu dua hal, stasiun pengisian bahan bakar tersebut tidak memberikan keuntungan secara signifikan setelah beroperasi selama beberapa tahun. Akhirnya Elmer dan Henry Nickel, selaku pendiri stasiun pompa bensin tersebut meninggalkan usaha uniknya tersebut dan membiarkannya begitu saja.

Elmer dan Henry Nickel. Sumber: knoxnews.com

Khawatir lokasi yang mudah diingat tersebut rusak karena termakan usia, Airplane Filling Station Preservation Association merenovasi pesawat tersebut dan mulai memfungsikannya sebagai tempat untuk berjualan T-shirt. Dari hasil penjualan itulah yang dijadikan modal untuk membeli pesawat lain pada tahun 2005 silam. Namun sayangnya, usaha tersebut juga tidak berjalan mulus dan sang empu meninggalkan aset berharganya tersebut.

Seperti melihat bongkahan emas, John York selaku pemilik barber tersebut tanpa ragu membeli pesawat tersebut dan mengalihfungsikannya menjadi sebuah barber shop. “Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup dan saya harus mengambil kesempatan untuk melakukannya,” cetus John. Ia sendiri mengaku sempat tidak percaya ketika mendapatkan pesawat bekas tersebut. “Ini seperti berjalan menuju sesuatu yang tidak Anda duga,” timpalnya.

Nosel Bensin Peninggalan Elmer dan Henry Nickel. Sumber: knoxnews.com

Bagian interior pesawat tersebut dihias dengan segala sesuatu yang bersifat Retro, sehingga semakin mempertegas keantikkan dari tempat itu. Sebut saja nosel pompa bensin yang pernah digunakan oleh Elmer dan Henry Nickel, hingga barang-barang antik lainnya yang ia beli di toko loak menghiasi dinding di dalam pesawat.

Penampakan Pesawat Barber. Sumber: knoxnews.com

Perkembangan jaman dan informasi yang disebarkan melalui berbagai jejaring sosial membuat barber shop milik John mendadak terkenal. Banyak orang yang datang ke tempat itu, walaupun mereka hanya sekedar ingin melihat pesawat kuno tersebut. John pun tidak merasa keberatan jika banyak orang yang datang ke tempatnya bahkan hanya untuk sekedar berbincang santai.

Baca Juga: Ada Sosok Boeing 737 Misterius di Bali, Kini Jadi Obyek Foto Favorit Para Pelancong

Barber shop ini buka dari Senin hingga Jumat, pukul 08.00 hingga 16.00. Berbicara soal tarif, John memasang harga yang bisa dibilang tidak terlalu mahal untuk ukuran orang Amerika, yaitu US$12 atau setara dengan Rp162.000. Jika Anda berkesempatan mengunjungi daerah Tennessee, jangan lupa sempatkan diri untuk mampir ke tempat ini, ya!

Mengapa Pesawat Buatan Airbus Selalu Dimulai dengan Huruf ‘A’? Berikut Penjelasannya

Bagi pecinta penerbangan atau traveller yang kerap bepergian menggunakan pesawat, pasti sering mendengar berbagai jenis pesawat keluaran Airbus atau Boeing, seperti A330, Boieng 737, Boeing 787, A380, A350, atau mungkin A320 yang beberapa waktu lalu sempat mengalami kecelakaan dan menewaskan nyaris seluruh penumpang dan kru.

Baca juga: Inilah Alasan, Mengapa Boeing Menggunakan Angka 7 di Produk Jet Komersialnya

Sebagaimana kompetitor mereka, Boeing, yang juga mencirikan pesawat-pesawat buatannya dengan angkat 7, Airbus juga mencirikan pesawat-pesawat mereka dengan huruf A dan mempunyai filosofi dibalik itu. Simple Flying menyebut, alasan Airbus membubuhkan huruf A dan memulai pesawat-pesawat mereka dengan nomor 300 tak bisa dilepas dari sejarah.

Mula-mula, huruf A terlebih dahulu. Alasan dibalik penamaan itu sepertinya sangat mudah ditebak; apalagi kalau bukan karena diambil dari huruf terdepan perusahaan yang berbasis di Toulouse itu. Sedangkan angka 300 pada pesawat pertama buatan Airbus dikarenakan jumlah penumpang yang mampu diangkut oleh pesawat tersebut. Hanya saja, karena satu dan lain hal, pada akhirnya kapasitas penumpang pesawat itu disesuaikan dengan kebutuhan zaman dan diputuskan untuk dibuat menjadi lebih kecil dari 300 penumpang.

Dari situlah kemudian Airbus memutuskan untuk melanjutkan pesawat-pesawat berikutnya berdasarkan penomoran pada pesawat pertama. Bisa dilihat bagaimana hal itu terjadi, mulai dari Airbus A310 (widebody Airbus yang justru lebih kecil dari A300), A320 (narrowbody spesialis domestik), A330 (widebody), A340 (pesaing Boeing 747 long haul dengan empat mesin), A350 (pesawat Airbus paling modern di pasaran), dan A380 (pesawat komersial terbesar di dunia dengan dua lantai).

Selain itu, dua digit terakhir di pesawat-pesawat tersebut juga konsisten mengikuti besaran kapasitas penumpang. Ambil contoh, A380, misalnya, angka 3 diambil dari penomoran awal pesawat pertama Airbus. Sedangkan angka 8 diambil dari besaran penumpang yang mampu diangkut pesawat, yakni berkisar 800an orang (dalam satu kelas).

Dari pesawat-pesawat Airbus di atas, mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa Airbus melewati A360 dan A370. Berdasarkan seat capacity, sejauh ini, Airbus memang belum memproduksi pesawat dengan kapasitas kursi sebesar itu, sebagaimana filosofi dasar mereka menyematkan dua digit terakhir dari tiga digit ke pesawat buatannya yang didasari oleh kapasitas penumpang. Namun, di masa mendatang, bukan tak mungkin Airbus akan membuat pesawat A360 dan A370, dengan kapasitas sekitar 500-600an dan 600-700an (dalam satu kelas).

Akan tetapi, bagaimana dengan, semisal, Airbus A320-231? A320 mungkin sudah sangat jelas dengan pemaparan sebelumnya. Namun, bagaimana dengan tiga digit di belakangnya? Belum lagi ada varian A321-271N atau New Engine Optimazation (mesin baru yang ditingkatkan). Agar lebih jelas, berikut rinciannya.

Baca juga: Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

A320-231

A = Airbus

320 = Nomor model (sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya)

-200 = menunjukkan pesawat tersebut merupakan versi kedua dari Airbus A320

31 = Edisi mesin pesawat

N= New Engine Optimazation (mesin baru yang ditingkatkan)

Kota Kuno Cina Masuk Situs Warisan Dunia UNESCO

Setiap tahun sejak 1978, UNESCO telah memilih Situs Warisan Dunia karena “nilai universalnya yang luar biasa” dan untuk membantu melestarikan tempat-tempat yang terancam oleh pengabaian, perubahan iklim, dan pembangunan yang berlebihan. Selama bertahun-tahun, lebih dari seribu situs, baik alam maupun budaya, telah ditambahkan ke daftar, mulai dari Kepulauan Galapagos dan Taman Nasional Yellowstone hingga entri tahun ini.

Baca juga: Ini Dia Pemandangan Lima Situs Warisan Dunia UNESCO yang Bisa Dinikmati dari Dalam Kereta

Situs alam tahun ini termasuk Dataran Pasang Surut Korea, hutan pegunungan Kaeng Krachan di Thailand dan Hutan Hujan Colchic serta Lahan Basah yang terletak di sepanjang Laut Hitam di Georgia barat. Situs budaya termasuk kota Cina yang pernah dikenal sebagai “emporium dunia.”

Perhentian penting di Jalur Sutra, permadani jembatan dan pagoda kuno Quanzhou juga mencakup salah satu masjid tertua di Cina dan secercah lain dari cara kerja kota abad ke-10 yang semarak. Pemilihan tersebut menempatkan Cina di dekat bagian atas daftar negara dengan situs Warisan Dunia terbanyak tepat setelah Italia, yang diberikan situs Warisan Dunia lain tahun ini untuk serambi Bologna dan serangkaian lukisan dinding abad ke-14 di Padua.

Spanyol telah berusaha agar Paseo del Prado dan Taman Retiro Madrid diakui secara resmi selama hampir tiga dekade, ini adalah situs Warisan Dunia pertama ibu kota. Dihiasi dengan museum dan air mancur utama, jalan dan taman telah digunakan untuk rekreasi setidaknya sejak abad ke-15.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari npr.org (28/7/2021), situs baru lainnya termasuk karya perintis arsitek Jože Plečnik di Slovenia, yang membantu memberikan ibu kota Ljubljana identitas perkotaan yang khas, dan petroglif kuno di Republik Karelia Rusia.

“Koloni Kebajikan” di tempat yang sekarang disebut Belgia dan Belanda adalah eksperimen pertanian melawan kemiskinan selama Revolusi Industri di mana orang miskin kadang-kadang dipaksa untuk bertani di luar keinginan mereka. Dan Garis Air Belanda adalah rangkaian pertahanan abad ke-17 terhadap banjir yang kini telah ditingkatkan statusnya menjadi Warisan Dunia.

Di India, Kuil Ramappa yang didekorasi dengan indah di Telangana telah masuk dalam daftar kuil ini berasal dari abad ke-13 dan diperkirakan membutuhkan waktu 40 tahun untuk menyelesaikannya. Dan di Iran, PBB mengakui Kereta Api Trans-Iran, yang mulai dibangun pada tahun 1929, menghubungkan Teluk Persia dan Laut Kaspia.

Area Budaya imā kuno di Arab Saudi mencakup seni cadas, gambar bunga, dan hewan yang digambar oleh orang-orang 7000 tahun yang lalu hingga baru-baru ini. Terletak di pegunungan di rute karavan tua di mana sumur masih menghasilkan air tawar, ada prasasti dalam berbagai bahasa, termasuk Musnad, Aram-Nabatean, Arab Selatan, Thamudic, Yunani dan Arab.

Baca juga: Mau Tengok Artefak di Turki? Yuk Mampir ke Museum di Bandara Istanbul

Sealin itu situs arkeologi penting di Turki mungkin bahkan lebih tua. Daerah di sekitar Gundukan Arslantepe telah diselesaikan sekitar 8000 tahun yang lalu dan tetap menjadi sumber daya yang tak ternilai bagi para sarjana Mesopotamia. Situs itu ditambahkan ke daftar bahkan ketika komite Warisan Dunia telah memberikan tekanan publik pada Turki atas situs Warisan Dunia lainnya, Hagia Sophia di Istanbul, yang diumumkan pemerintah tahun lalu akan diubah menjadi masjid.

Sejarah Panjang Sabuk Pengaman di Pesawat, Ternyata Karena “Iri” Pada Mobil

Bicara moda transportasi, pesawat terbang sudah pasti datang lebih akhir dibanding kapal laut dan mobil. Banyak hal yang membuktikan terkait itu. Salah satunya dari serapan istilah-istilah dalam penerbangan; kokpit.

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Di artikel sebelumnya, redaksi sudah pernah membahas bahwa kokpit dalam istilah penerbangan, menurut para ahli, besar kemungkinan diserap dari kompartemen kemudi kapal yang juga disebut kokpit.

Selain menyerap istilah-istilah dari moda transportasi lain, industri pesawat terbang, di beberapa kondisi, juga terinspirasi dari dua moda itu. Dalam urusan safety belt atau sabuk pengaman, misalnya, pesawat terbang diketahui terinspirasi dari mobil.

Kita tahu, sabuk pengaman awalnya ditemukan oleh George Cayley pada 1800-an akhir. Tetapi, sabuk pengaman yang pertama kali mendapat paten ditemukan oleh Edward J Clanghorn pada 10 Februari 1885.

Ketika itu, Edward J Clanghorn membuat dan mengembangkan sabuk pengaman untuk membuat penumpang taksi di Kota New York, Amerika Serikat (AS), aman. Seiring berjalannya waktu, sabuk pengaman juga tersedia untuk pengemudi.

Perkembangan serta manfaat sabuk pengaman pada mobil ternyata menginspirasi Charles N. Monteith, chief engineer di Boeing Airplane Company, untuk menghadirkannya di pesawat. Ia bahkan sangat berapi-api ketika mempresentasikan terkait ini pada pertemuan aeronautika American Society of Mechanical Engineers, Mei 1929.

Dalam pemaparannya, sabuk pengaman di pesawat tak hanya penting dalam kondisi genting, tetapi ketika terjadi gejolak di udara (turbulensi). Sayang beribu sayang, saat itu, usulan Boeing (mewakili AS) ditolak mentah-mentah oleh Eropa, dalam hal ini Inggris dan Belanda.

Jalan panjang hadirnya sabuk pengaman di pesawat bahkan mendapat citra buruk sebelum tahun 1947. Ketika itu, beredar rumor di seantero Eropa dan AS, bahwa mengenakan sabuk pengaman justru membuat kecelakaan makin parah. Tetapi, itu segera dibantah oleh para ahli dari Crash Injury Research (CIR).

Sabuk pengaman bahkan benar-benar mendapat stigma buruk di masyarakat pada tanggal 31 Oktober 1950. Ketika itu, Vickers VC-1 -yang dijuluki Lord St. Vincent- British European Airways mendarat dan touchdown dengan kecepatan tinggi, memantul beberapa kali, sebelum akhirnya oleng ke kanan, tergelincir, dan terbakar di Bandara London Heathrow, Inggris.

Dr. Donald Teare, yang ahli mengotopsi mayat tokoh dan selebriti dunia serta kecelakaan transportasi mematikan, kemudian ditugaskan untuk mengotopsi mayat dari 28 korban tewas dalam kecelakaan tersebut.

Hasilnya pun mencengangkan publik, dimana Teare menyebut lebih dari separuh korban tewas karena luka akibat menggunakan sabuk pengaman. Pasca temuan Teare, banyak masyarakat di AS bahkan tak berani mengenakan sabuk pengaman lagi.

Yakin temuan Teare keliru, ahli dari CIR pun ikut melakukan investigasi. DuBois, mantan ketua Committee on Aviation Medicine yang saat itu menjabat sebagai profesor fisiologi di Cornell Medical College mengatakan bahwa sabuk pengaman tidak berbahaya dan tidak menyebabkan langsung kematian pada korban tewas kecelakaan Vickers VC-1. Justru sabuk pengaman berhasil mencegah penumpang terpental saat pesawat memantul di runway.

Setelah memantul dan oleng ke kanan itulah, korban tewas membentur benda keras di sekitar kursi, seperti armrest dan lainnya. Itu yang menyebabkan luka berujung kematian. Pendapat itu pun diamini oleh Dr. Milton Helpern kepala medical examiner Kota New York.

Baca juga: Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa Lahirkan Warisan Penting di Dunia Penerbangan

Usai berbagai proses politik dan adu argumen oleh para ahli, pada tahun 1966 AS mendirikan Biro Keamanan Nasional. Pada 1 Januari 1968, Kongres AS mengesahkan UU Federal tentang Standar Keselamatan Kendaraan Bermotor. UU itu mewajibkan seluruh kendaraan bermotor, kecuali bus, agar dilengkapi safety belt dan penumpang maupun pengemudi wajib mengenakannya.

Pada tahun 1972, menindaklanjuti Undang-Undang Penerbangan Federal tahun 1958, sabuk pengaman di pesawat pun resmi menjadi bagian dari keamanan dan keselamatan penerabangan, seperti dikutip dari airspacemag.com.

50 Tahun Singapore Airlines Rute Singapura-London, Pernah Operasikan Concorde!

Singapore Airlines belum lama ini merayakan 50 tahun penerbangannya ke London Heathrow pada Juni 1971. Ketika itu, layanan yang dioperasikan pesawat Boeing 707 dengan livery hitam-kuning Malaysia-Singapore Airlines ini seketika langsung menjadi rute andalan dalam jaringan internasional Singapura.

Baca juga: Singapore Airlines Teken MoU dengan Malaysia Airlines, Warganet Mencak-Mencak di Media Sosial

Menariknya, dalam sejarah panjang itu, tak banyak yang tahu bahwa Singapore Airlines pernah menerbangkan pesawat supersonik Concorde, dalam kemitraan dengan British Airways, untuk layanan Singapura-London.

Dari semula 18 jam dengan empat kali transit, penerbangan Singapore Airlines-British Airways rute London-Singapura menggunakan pesawat supersonik Concorde, dipangkas menjadi hanya sekitar sembilan jam non-stop. Pesawat ini menggunakan livery unik, sebelah kanan livery British Airways dan sebelah kiri livery Singapore Airlines.

Sayangnya, setelah beberapa tahun, joint venture Singapore Airlines-Biritsh Airways di rute London-Singapura menggunakan pesawat supersonik Concore dihentikan. Penyebab pastinya tak pernah diungkap ke publik.

Dilansir Simple Flying, Malaysia-Singapore Airlines mulai terbang ke London dari Singapura lima kali dalam sepekan. Rutenya cukup panjang dan itu tidak dimulai dari Singapura melainkan dari Melbourne, Australia.

Dari Melbourne, Selasa atau Sabtu pagi, pesawat Boeing 707-320 Malaysia-Singapore Airlines akan melintasi Nullarbor ke Perth (PER) sebelum melanjutkan ke Singapura. Pesawat kemudian terbang ke Kolombo, stopover selama 45 menit, untuk melanjutkan perjalanan ke Bahrain.

Dari sana, pesawat terbang ke Athena, lanjut ke Zurich untuk sarapan sebelum akhirnya mendarat di London (LHR) tengah hari berikutnya.

Pada Rabu, Jumat, dan Minggu, Malaysia-Singapore Airlines melalui rute berbeda untuk sampai ke London. Hari Rabu, maskapai menerbangkan rute Sydney – Jakarta (CGK) – Singapura – Bombay (BOM) – Bahrain – Roma (FCO) – Frankfurt – London.

Hari Jumat, menerbangkan rute yang sama dengan menghilangkan Jakarta. Di hari Minggu, maskapai menerbangkan rute yang sama dengan Jakarta digantikan oleh Denpasar, Bali.

Malaysia-Singapore Airlines menawarkan dua kelas kabin, first class dan kelas ekonomi pada rute London.

Sayangnya, pada tahun 1972, pemerintah Malaysia dan Singapura memutuskan mendirikan maskapai masing-masing, yaitu Malaysia Airlines dan Singapore Airlines, dan meninggalkan program maskapai Malaysia-Singapore Airlines.

Tetapi, Singapore Airlines tetap konsisten menerbangkan rute ke London. Ketika itu, maskapai tersebut bahkan mulai memperkenalkan santapan khusus untuk penumpang kelas ekonomi, sampanye dan rokok di penerbangan, serta silver service untuk sembilan penumpang first class. Pamor maskapai pun meningkat karenanya.

Enam tahun setelah penerbangan perdana ke London, Singapore Airlines mulai menjalin kemitraan dengan British Airways untuk menerbangkan rute menggunakan pesawat supersonik Concorde. Waktu tempuh pun dipangkas jadi setengahnya dari semula 18 jam.

Pada tahun 2012 silam, Singapore Airlines makin rutin terbang ke London menjadi empat kali sehari. Selain itu, SQ juga mulai membuka rute ke Manchester.

Baca juga: Ternyata! Singapore Airlines ‘Sempat’ Menjadi Pengguna Condorde

Pesawatnya pun beragam. Sejak tahun 1984, Boeing 747 SQ terbang non-stop ke London dari Singapura. Pada 2008, Singapore Airlines terbang dua hari sekali ke London menggunakan Airbus A380.

Karena kedua pesawat ikonik tersebut tak lagi efisien menerbangkan rute itu, Singapore Airlines mulai mengerahkan armada Boeing 777-300ER dan Airbus A350-900 untuk rute London.

Parking Near Airports Luncurkan Aplikasi Mudahkan Parkir di Dekat Bandara, Ini Keuntungannya

Bagi traveler atau siapapun yang hendak bepergian menggunakan pesawat, khususnya bagi yang membawa kendaraan sendiri, parkir di bandara belum tentu jadi pilihan terbaik. Banyak alasan yang melatarbelakangi hal itu.

Baca juga: Parkir Dua Bulan di Bandara Ngurah Rai, WNA ini Bayar Parkir Rp9,6 Juta

Biaya parkir di bandara jauh lebih mahal di kantong atau tempat-tempat parkir lainnya itu sudah pasti. Masih ingat bule viral yang memposting struk parkir mencapai Rp9,6 juta karena parkir selama kurang lebih dua bulan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali? Itu adalah bukti kecil betapa mahalnya parkir di bandara.

Selain itu, parkir di bandara, dalam kondisi normal, bukan perkara mudah untuk menemukan slot kosong. Sudah begitu, minimnya fitur atau inovasi yang memudahkan pelanggan menemukan titik parkir yang kosong juga semakin memperparah kondisi. Saat menuju bandara dan memasuki terminal pun, tak jarang terjadi kemacetan panjang.

Tak cukup sampai di situ, terkadang, perjalanan dari tempat parkir di bandara ke terminal juga tak senyaman yang dibayangkan.

Sederet persoalan terkait parkir bandara itulah yang pada akhirnya mendorong ParkingNearAirports.io untuk menyediakan platform layanan pencarian tempat parkir di luar bandara. Pengguna atau penumpang pesawat juga bisa memilih seberapa jauh atau dekat tempat parkir dari bandara.

Dilansir aithority.com, pengguna akan disuguhi banyak kantong parkir di sekitar bandara. Tarifnya juga beragam, sesuai jarak. Jadi pengguna bisa menyesuaikan budget yang dimiliki.

Mungkin pertanyaan lanjutan dari adanya layanan ini adalah, setelah pelanggan memarkirkan mobil atau kendaraannya, bagaimana cara mereka menuju bandara?

Sudah pasti hal itu ada dalam benak manajemen perusahaan tersebut. Disebutkan, Parking Near Airports melayani jasa antar jemput, layanan bagasi, keamanan, dan sejenisnya 24 jam, gratis.

Sebelum mencapai tempat parkir yang dituju, pengguna diwajibkan untuk melakukan reservasi online terlebih dahulu. Setelah itu, mereka dapat memilih kantong-kantong parkir yang diinginkan di sekitar bandara dan bayar. Mudah, bukan? Pembatalan juga gratis alias tak dikenai potongan sepeserpun.

Dengan berbagai kemudahan dari layanan di atas, Parking Near Airports mengklaim, penumpang pesawat atau pelanggannya bisa menghemat biaya parkir di bandara hingga 70 persen.

“Sebagian besar tempat parkir di seluruh negeri mahal. Biasanya biayanya sekitar US$30 per hari, dan terkadang bisa lebih mahal. Sama seperti Chicago O’Hare Airport, yang mengenakan biaya minimal US$60 per hari kepada penumpang yang ingin menggunakan jasa parkirnya,” ujar juru bicara ParkingNearAirports.io.

Baca juga: Imbas Covid-19 , Bandara Roswell Raih Untung dari Jasa Parkir Pesawat

“Tetapi saat ini, Anda dapat menemukan berbagai pilihan parkir yang terjangkau di luar bandara. Layanan parkir di luar bandara ini sangat nyaman, biasanya terletak beberapa mil jauhnya dari terminal,” lanjutnya.

Sayangnya, untuk saat ini, layanan dari Parking Near Airports baru mencakup banyak wilayah di Amerika Serikat dan beberapa wilayah di Kanada.

Airbus ‘Tunduk’ ke Rusia Gegara Titanium, Seberapa Penting Buat Pesawat?

Meski hubungan antara Eropa dan Rusia masih fluktuatif, tetapi, bagaimanapun juga salah satu entitas bisnis raksasa Eropa, Airbus, sangat butuh Rusia. Itu karena Rusia masih dan mungkin akan terus menjadi produsen titanium terbesar Airbus.

Baca juga: Inilah Daftar Pesawat Buatan Uni Soviet dan Rusia Terlaris

Tak ayal, dengan kondisi tersebut, Airbus rela membangun Airbus Engineering Center, atau lebih dikenal sebagai ECAR, di Moskow sejak tahun 2003 lalu. Tak sedikit dana yang dikeluarkan Airbus untuk membangun itu. Tapi itu tak ada nilainya jika dibandingkan kemudahan mendapat titanium dari Rusia.

Lagi pula, usaha patungan Airbus dan beberapa perusahaan Rusia itu, juga turut membantu memproduksi pesawat. Sejauh ini, fasilitas tersebut sudah terlibat di 120 proyek pengerjaan pesawat, meliputi program A330neo, A350-1000, A321XLR, dan A330neo.

Terlepas dari intrik politik di balik titanium yang didapat Airbus dari Rusia, sebetulnya, seberapa penting titanium untuk memproduksi pesawat?

Dilansir Simple Flying, pesawat dibuat dengan komposisi 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Kendati persentasenya tak lebih besar dibanding alumunium dan baja, tetapi, hampir di seluruh komponen pesawat mengandung titanium.

Itu mengapa, ketika purna tugas, pesawat didaur ulang, alilh-alih mangkrak di Gurun Mojave, untuk diambil berbagai barang-barang yang mengandung logam mahal dan dibuat menjadi barang berharga.

Jejak titanium Airbus dari Rusia sebetulnya sudah lama. Setidaknya itu bisa dilihat dari tahun dimana maskapai Rusia menggunakan pesawat Airbus.

Pada 1990an silam, Aeroflot resmi menggunakan pesawat Airbus pertama, A310, dalam barisan armadanya. Tentu saja, sebelum dioperasikan, pesawat juga harus mendapat sertifikasi dari regulator penerbangan sipil Rusia, menjadikannya sebagai pesawat barat pertama yang melakoni hal ini.

Sejak saat itu, sampai saat ini, sekitar 340 pesawat Airbus, seperti keluarga A350, A330, dan A320, digunakan oleh maskapai seantero Rusia.

Head of Region & Sales Eropa, Wouter Van Wersch, dalam sebuah presentasi di gelaran MAKS-2021 Airshow di Moskow, beberapa waktu lalu, blak-blakan mengatakan bahwa setengah dari titanium yang didapat Airbus untuk memproduksi pesawat datang dari Rusia. Itu setara dengan 40.000 metrik ton spons titanium per tahun.

“Dalam mesin penerbangan, paduan titanium tahan panas digunakan untuk membuat bilah, cakram, dan bagian lain untuk kipas dan kompresor mesin tingkat rendah,” kata raksasa dirgantara Rusia, Rostec.

“Sementara penggunaan komposit secara ekstensif dalam rekayasa pesawat dapat dilihat sebagai ancaman bagi bahan lain, untuk titanium, itu adalah keuntungan pasti yang berfungsi untuk mempromosikan penggunaannya di industri pesawat,” lanjutnya.

Baca juga: Maskapai dan Produsen Pesawat Rugi Besar, Produsen Cat Pesawat Justru Untung Besar

Titanium asal Rusia yang dipasok ke Airbus datang dari VSMPO-Avisma, produsen titanium terbesar di dunia.

Selain Airbus, hampir seluruh produsen pesawat ataupun perusahaan lain di industri dirgantara internasional juga mendapat kiriman titanium dari perusahaan tersebut, seperti Boeing, Embraer, Rolls-Royce, Pratt & Whitney, sampai Safran.

Paspor Perjalanan Digital, Cara Pastikan Data Penumpang Tetap Aman

Pada bulan Maret lalu, sekitar 20 maskapai mulai menguji coba paspor perjalanan baru dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA). Dengan begitu penumpang lebih mudah menunjukkan kartu vaksin Covid-19 dan surat tes PCR untuk perjalanan internasional.

Baca juga: Terbukti Mudahkan Penumpang, Paspor Kesehatan Digital IBM Kini Digunakan 450 Maskapai Lebih

Selain memudahkan penumpang dan petugas dalam mengotentikasi (autentikasi) kartu vaksinasi dan hasil tes PCR serta berbagai syarat perjalanan internasional lainnya, travel pass ataupun paspor kesehatan atau perjalanan digital dinilai membuat perlindungan data privasi atau data pribadi penumpang jadi lebih aman.

Sebab, petugas tak pernah memilikinya secara langsung, sesuatu yang tentu saja berbeda dengan metode yang digunakan sebelum pandemi.

“Kami sedang memeriksa hal-hal seperti; apakah itu jenis tes yang tepat? Apakah tes dilakukan dengan cara yang benar? Apakah periode waktu yang benar ketika diambil? Kemudian jika sudah oke, barulah penumpang tersebut dapat membagikannya kepada pihak maskapai,” kata Alan Murray Hayden, kepala produk keamanan dan penumpang bandara IATA.

“Semua data penumpang berada di ponsel mereka. Kami tidak memilikinya secara terpusat, kami tidak pernah melihatnya, kami tidak pernah memiliki akses ke sana. Kami memiliki perangkat lunak di aplikasi telepon yang menganalisis rencana perjalanan mereka dan mengatakan bahwa Anda terbang dengan British Airways, apakah Anda ingin membagikan detail Anda dengan British Airways?” jelasnya.

“Pada saat itu, penumpang dapat memilih untuk membagikannya, tetapi poin utamanya adalah, penumpang yang memilih untuk membagikannya. Jika mereka memilih untuk membagikannya, itu akan dikirim langsung ke maskapai. Itu tidak pernah melewati sistem lain; kami tidak menyimpannya,” tambahnya, seperti dikutip dari airport-technology.com.

Selain IATA Travel Pass, ada juga paspor kesehatan digital lainnya, seperti IBM Digital Health Pass dan CommonPass.

Paspor kesehatan digital IBM bahkan saat ini sudah digunakan oleh 474 maskapai penerbangan di seluruh dunia, termasuk Air Europa, Air Corsica, French Bee, Air Caraibes, Air Canada, dan Norwegian Air Shuttle, di bawah kontrol Amadeus sebagai penyedia jasa sistem reservasi.

Menurut Christian Warneck, oversees travel safety Amadeus, paspor kesehatan digital ini sangat membantu untuk mengurangi antrean dan memangkas waktu tunggu penumpang selama pengecekan.

“Ini menghindari pemeriksaan yang rumit dan memakan waktu saat bepergian, dan menambah jaminan lebih lanjut kepada maskapai dan penumpang mereka,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Greg Land, pakar perjalanan dan transportasi IBM, paspor kesehatan digital akan mendorong digitalisasi seluruh dokumen yang ada, seperti paspor, kartu identitas, dan lain sebagainya, sesuatu yang langkah sebelum adanya pandemi virus Corona.

Baca juga: Qatar Airways Uji Coba IATA Travel Pass, Klaim Jadi yang Pertama di Dunia! Benarkah?

“Bahkan sebelum pandemi, kami mulai melihat antrean panjang di bandara dan tempat-tempat lain dan itu membuat kami berpikir bahwa kami hanya perlu menemukan cara untuk membawa transformasi digital itu ke tingkat berikutnya,” tandasnya, seperti dikutip dari qz.com.

“Sungguh menyedihkan bahwa dibutuhkan pandemi untuk mendapatkan kemajuan dalam membangun standar-standar ini seputar kredensial digital. Tapi saya pikir apa yang kita alami saat ini, terutama dengan maskapai penerbangan dan perusahaan perjalanan lainnya, membantu kita menyadari manfaat beralih ke ID digital seperti paspor atau SIM,” tutupnya.

Susul AirAsia, Cathay Pacific Ekspansi Bisnis Non Penerbangan

Tak puas dengan bisnis penerbangan, baik penerbangan kargo maupun penumpang, Cathay Pacific mulai merambah bisnis non penerbangan, usai meluncurkan “Cathay” sebagai “new premium travel lifestyle brand”. Dengan begitu, maskapai asal Hong Kong ini menyusul maskapai Air Asia yang sudah lebih dahulu merambah bisnis di luar penerbangan.

Baca juga: GoJek Fokus di Singapura dan Vietnam, Pasar Thailand Diakuisisi AirAsia

Lewat brand baru “Cathay”, Cathay Pacific, dalam beberapa bulan mendatang, akan meluncurkan berbagai penawaran menarik kepada masyarakat Hong Kong dalam berbelanja makanan, minuman, pakaian, hotel, kesehatan, dan lain sebagainya.

Agar memaksimalkan bisnisnya, Cathay juga akan disokong langsung Cathay Pacific, Marco Polo Club, dan Asia Miles.

“Pada saat yang sama, ‘Cathay’ juga membuat proposisi kami lebih menarik. Dengan mengintegrasikan penawaran kami dan melalui kemitraan yang lebih baik, kami akan menghadirkan lebih banyak produk dan layanan untuk kepentingan pelanggan kami,” kata maskapai dalam sebuah pernyataan yang dikutip Asian Aviation.

Terdekat, Cathay akan meluncurkan kartu kredit co-branded sebagai bagian dari program customer relationship di paruh pertama 2022.

Cathay Pacific menekankan, untuk di awal, jangkauan bisnis Cathay hanya akan tersedia di Hong Kong. Tetapi, di masa mendatang tak menutup kemungkinan itu bisa ekspansi ke negara lain ataupun bisnis lain yang lebih luas.

“Kemampuan kami untuk memasuki ruang travel lifestyle dan keberhasilan strategi ini dibangun di atas kekuatan, kepercayaan, dan rasa hormat yang langgeng yang telah dicapai Cathay Pacific selama lebih dari 75 tahun, serta kerja keras dan dedikasi orang-orang kami di seluruh dunia,” kata CEO Cathay Pacific, Augustus Tang.

“Inti dari merek ‘Cathay’ adalah perayaan semua hal terbaik yang kami sukai – dan lewatkan – tentang perjalanan. Kami sangat bangga telah menghubungkan pelanggan kami dengan orang, tempat, dan pengalaman di seluruh dunia melalui perjalanan yang menyenangkan,” tambahnya.

Baca juga: Tingkatkan ‘Ketenangan’ pada Penumpang, Cathay Pacific Tawarkan Asuransi Gratis untuk Diagnosis Covid-19

“ ‘Cathay’ memperkuat komitmen kami untuk terlibat dengan pelanggan kami dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan layanan kelas dunia. Dengan menambahkan lebih banyak nilai dan kesederhanaan, kami membantu memajukan mereka dalam kehidupan sesuai tujuan ‘Move Beyond’ kami,” jelasnya.

Sebelum Cathay Pacific, Air Asia diketahui sudah jauh lebih dahulu merambah bisnis di luar penerbangan. Air Asia bahkan belum lama ini juga masuk ke pasar ride hailing, setelah mulai sukses di pasar bisnis belanja makanan, minuman, pakaian, dan lain sebagainya secara online lewat Asean Super App.