Sah, Dua Sandaran Tangan ‘Milik’ Penumpang yang Duduk di Kursi Tengah

Apakah sandaran tangan boleh dikuasai oleh penumpang yang duduk ditengah? Atau milik penumpang yang ada di sisi kanan dan kiri penumpang tengah? Namun, apakah Anda mencoba berbagi sandaran tangan ketika Anda duduk di tengah kepada mereka?

Baca juga: Jangan Lupa, Ada Aturannya Saat Turunkan Sandaran Kursi Pesawat

Pertanyaan ini menjadi salah satu topik perdebatan terus menerus di antara penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari timesnownews.com (18/9/2021), baru-baru ini seorang awak kabin telah menjawab pertanyaan yang menjadi perdebatan itu kepada semua orang.

Boris Millan, penulis panduan perjalanan udara The Common Sense of Flying, baru-baru ini muncul di podcast Confessions on the Fly tentang bab dari bukunya tentang etiket pesawat. Dia mengatakan kepada pembawa acara Laura ‘LJ’ Salerno dan Pramugari Jo, “Mereka melakukan banyak penelitian di Inggris untuk beberapa alasan tentang ini ketika Anda duduk di kursi tengah, Anda akan mendapatkan…”

LJ memotong untuk mengatakan, “Anda mendapatkan kedua sandaran tangan!”

Saat itu juga Boris setuju, “Itu masuk akal, teman-teman. Ini masuk akal.”

Bahkan bukan hanya Boris, tetapi banyak orang yang setuju dengan penumpang tengah mendapatkan kedua sandaran tangan. Awal tahun ini, pakar etiket Jodi RR Smith, presiden Mannersmith Etiquette Consulting, mengatakan, ketika duduk tiga orang di pesawat, orang di tengah menguasai kedua sandaran tangan.

Ia menjelaskan, bahwa orang yang berada di lorong memiliki manfaat untuk dapat bergerak bebas dan memiliki ruang yang melebar ke dalam lorong. Orang yang berada di dekat jendela memiliki manfaat untuk bersandar di jendela atau dapat melihat pemandangan, ketika ada sesuatu untuk dilihat.

“Tetapi orang di tengah tidak dapat dengan mudah bergerak atau meregangkan, juga tidak ada tempat untuk bersandar. Oleh karena itu, mereka memiliki kendali atas sandaran tangan,” ujar Smith.

Baca juga: Pengguna TikTok Guyur Kaki Penumpang yang Naik ke Sandaran Kursi Pesawat

Benét J Wilson, penulis perjalanan untuk The Points Guy, setuju, dengan mengatakan, ‘orang malang’ yang terjebak di kursi tengah berhak mendapatkan kedua sandaran tangan. Orang yang berada di jendela memiliki badan pesawat dan kendali atas naungan. Orang di lorong memiliki akses dan dapat meletakkan kaki mereka keluar saat awak kabin tidak melayani.






















Boeing Selidiki Botol Miras Kosong di Dalam Pesawat Air Force One yang Sedang Dibangun

Boeing dilaporkan tengah menyelidiki temuan dua botol miras (minuman keras) jenis tequila di dalam pesawat Air Force One yang sedang dibangun di Pabrik, San Antonio, Amerika Serikat (AS). Minum miras sangat dilarang saat membangun pesawat; apalagi membangun pesawat yang kelak akan digunakan orang nomor satu di AS, Presiden Joe Biden.

Baca juga: Pentagon Umumkan Desain “Air Force One” Terbaru, Identik dengan Maskapai Trump Shuttle

Boeing sendiri tak menyangkal soal temuan dua botol tequila kosong di pesawat Air Force One yang sedang dibangun. Tetapi, perusahaan tak berkomentar banyak saat ditanyai wartawan. “Ini adalah ulah oknum karyawan kami, untuk alasan kontrak (setelah kejadian ini) kami tidak bisa berkomentar lebih jauh,” kata juru bicara Boeing, seperti dilaporkan CNN Internasional.

Setali tiga uang, Kepala Humas Angkatan Udara AS, Ann Stefanik, membenarkan adanya botol miras kosong di pesawat Air Force One. Meski begitu, Boeing meyakinkan tak ada dampak signifikan terhadap pesawat VC-25B berbasis Boeing 747-8 yang tengah dibangun.

“Boeing memberi tahu Angkatan Udara tentang ulah oknum karyawannya yang terkait dengan program VC-25B,” jelasnya.

“Tidak ada dampak terhadap upaya modifikasi kedua pesawat yang sedang berlangsung. Angkatan Udara terus memantau kualitas produksi dengan cermat dan meminta pertanggungjawaban Boeing untuk memastikan program VC-25B memenuhi persyaratan kontrol kualitas yang ketat,” tambahnya.

Disebutkan, ini bukan masalah pertama dalam proyek pembuatan dua pesawat Air Force One Boeing. Sebelumnya, dua pesawat kepresidenan AS itu rencananya akan dikirim pada 2024 mendatang, menggantikan Air Force One yang ada saat ini.

Tetapi, belakangan Boeing menyebut terjadi penundaan sekitar satu tahun. Pandemi Covid-19 membuat beberapa subkontraktor yang sudah melakukan beberapa pekerjaan interior dalam program VC-25B bangkrut, sehingga Boeing kesulitan untuk mengejar target 2024. Selain itu, Boeing juga disebut ‘cekcok’ dengan beberapa subkontraktornya.

Keputusan pembangunan dua pesawat Air Force One oleh Boeing sendiri terjadi di era Presiden Donald Trump pada tahun 2018 silam.

Ketika itu, Angkatan Udara AS menandatangani kontrak senilai $ 3,9 miliar dengan Boeing untuk merancang, memodifikasi, menguji, menyempurnakan, dan mengirimkan dua pesawat 747 untuk menggantikan pesawat yang lebih tua pada akhir 2024.

Di tahun 2020, Pemerintahan Trump melalui Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pentagon, mengajukan anggaran sebesar US$800,9 juta atau sekitar Rp11 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) AS untuk program Rekapitalisasi pesawat VC-25B atau program rekapitalisasi pesawat Air Force One.

Baca juga: Boeing Terlibat Masalah dengan Kontraktor, Jadwal Penyelesaian Air Force One Terancam Molor

Dalam proposalnya, Air Force One akan berganti warna, dari semula berwarna biru dan putih muda, warisan dari Presiden Kennedy dan ibu negara Jacqueline Kennedy, menjadi berwarna merah, putih, dan biru tua, mirip dengan maskapai Trump Shuttle.

Kendati mendapat sorotan dan mungkin hal ini juga sudah diketahui Presiden Joe Biden, namun, tak ada keterangan lanjutan apakah perubahan warna pesawat Air Force One yang diajukan di era Trump ini akan dibatalkan Joe Biden atau tidak.

Yang Unik dari Stasiun Kuala Lumpur, Padukan Desain Barat dan Timur

Terletak di ibu kota negara, Stasiun Kuala Lumpur tergolong bangunan bersejarah yang telah berusia tua di Malaysia, lantaran stasiun ini sudah beroperasi sejak tahun 1910. Kehadirannya menggantikan sebuah stasiun yang lebih lama pada lokasi yang sama dan pernah menjadi penghubung kereta api di kota ini bagi Keretapi Negeri-Negeri Melayu Bersekutu dan Keretapi Tanah Melayu sebelum Kuala Lumpur Sentral mengambil alih tahun 2001.

Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

Bangunan Stasiun Kuala Lumpur memiliki ciri khas gaya perpaduan Barat dan Timur. Di mana memiliki tiga platform tinggi yang melayani empat platform dengan dua platform tepi pada dua sisi dan satu platform pulau ditengah. KabarPenumpang.com merangkum Wikipedia, Stasiun Kuala Lumpur awalnya terdiri dari satu terminal utama di depan gedung dan tiga platform kereta api yang mengoperasikan empat platform di bagian belakang.

Struktur utama terdiri dari aula utama, loket tiket dan kantor yang dirancang khusus dengan gaya Raj yakni campuran Barat dan Mughal mirip dengan arsitektur kebangkitan Moor atau Indo-Arab. Bagkan menjadi populer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di koloni India, termasuk di Eropa dan Inggris.

Tak hanya itu, ada juga bangunan ladam kuda dan gerbang Ogee serta chhatri besar di sudut bangunan menemani variasi yang lebih kecil di depan. Stasiun ini sebanding dengan bangunan Sultan Abdul Samad dan struktur yang dibangun di sekitar Lapangan Merdeka selama periode ini.

Bukan hanya ada bangunan utama, ada tiga lantai tambahan di sayap kanan ditambahkan pada awal periode operasi dengan menerapkan desain Barat saat ini dengan perimeter dan segmen gerbang yang terpisah. Bagian depan Stasiun Kuala Lumpur ini sama sekali berbeda dari bangunan gaya yang sama yang memilih bata terbuka dan dicat dengan berbagai warna cerah.

Atap stasiun berkerangka baja yang lebih tinggi dari bangunan awal sebelumnya. Sisi peron tidak terhubung ke bangunan utama dan dikelilingi oleh dinding yang dibangun sesuai dengan gaya yang sama dengan bangunan utama. Peron dan bangunan utama dihubungkan melalui dua lorong bawah tanah.

Baca juga: Pembangunan Transit Oriented Development di Malaysia, Ternyata Juga Tidak Mudah

Desain platform tambahan selama modifikasi stasiun pada tahun 1986 dengan pendekatan yang lebih terkini, terdiri dari tiang beton besar yang mendukung atap berhiasan dan kantor tiket yang terbuat dari beton di ujung utara, bergantung pada dua lantai di udara. Dinding dan lengkungan putih yang bertindak sebagai hiasan dekoratif menambah lebih banyak pada kompleks Dayabumi. Stasiun ini terletak di Jalan Sultan Hishamuddin, atau dulu dikenal sebagai Victory Avenue.






















Ada Tanda Segitiga Misterius di Kabin Pesawat, Apakah Artinya?

Pernah melihat di atas jendela pesawat ada suatu simbol atau tanda yang dianggap misterius? Biasanya tanda ini berbentuk segitiga berwarna hitam dan letaknya menandai kursi yang paling dekat pandangannya dengan sayap pesawat.

KabarPenumpang.com melansir telegraph.co.uk (4/9/2017), nama lokasi segitiga ini adalah Seat William Shatner. Seorang pensiunan insinyur ruang angkasa Lee Ballentine mengatakan ini adalah tempat di dalam pesawat dimana Anda bisa mengecek pandangan visual terbaik untuk melihat adanya es atau hal lainnya di atas sayap.

Baca juga: Tips dan Trik Fotografi dari Dalam Kabin Pesawat

Nama Shatner ini diambil dari salah satu episode dari film Twilight Zone yang paling aneh yakni Nightmare at 20,000 Feet yang ditayangkan pertama kali 11 Oktober 1963. Pada film ini, karakter Shatner melihat adanya gremlin di sayap pesawat saat dirinya menjadi seorang penumpang.

Sebenarnya tempat dekat posisi ini adalah spot paling menarik dan terbaik untuk berfoto ria. Apalagi penyuka fotografi dan media sosial, spot sayap biasanya sangat di cari. Selain sebagai spot foto yang bagus, tempat ini juga digunakan untuk memudahkan awak kabin melihat ke bagian sayap. Sebab bagian sayap ini merupakan satu tempat penting di pesawat lantaran di sayap terdapat mesin dan tangki bahan bakar.

Bila terjadi kondisi darurat, sayap juga menjadi tempat terpenting untuk melakukan evakuasi. Lewat sayap penumpang bisa turun saat pesawat melakukan pendaratan darurat, sebab di bagian sayap ada slide yang bila dibuka bisa digunakan untuk penumpang turun ke daratan atau ke air.

Sebenarnya duduk dekat jendela dan bisa melihat sayap atau kondisi luar pesawat adalah cara terbaik untuk mengurangi ke khawatiran penumpang. Tempat ini bisa sangat nyaman dan tenang bagi Anda yang memang menyukai duduk dekat jendela dan sejajar dengan sayap.

Baca juga: Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash Landing

Steven Hoober seorang pilot kawakan mengatakan, tanda segitiga ini tidak pernah dilepas dan berguna untuk memudahkan awak kabin. Selain itu, seorang insinyur penerbangan, Donal Daugherty mengatakan bahwa titik pesawat terbang di beberapa pesawat Airbus digunakan untuk melihat kondisi lepas landas dan mendarat pesawat. Sebab, pada proses lepas landas dan mendarat, sayap pesawat akan berada pada posisi tertentu, yakni ada beberapa bagian yang terbuka sejajar.






















Rumah Sakit di Inggris Sulap Gerbong Tua Jadi Ruang Serbaguna

Rasanya tak heran kalau gerbong kereta tua dikonversi menjadi berbagai macam kegunaan lain. Salah satunya seperti gerbong tua Pacer yang diubah menjadi ruang non klinis untuk mendukung pasien selama mereka tinggal di Rumah Sakit Airedale, Inggris Utara

Baca juga: Pemprov Jawa Timur Minta PT INKA Ubah Gerbong Kereta Jadi Bangsal Perawatan Covid-19

Gerbong bekas ini ‘memulai’ pengabdian barunya pada 5 September 2021 untuk melayani masyarakat setelah menyelesaikan jutaan mil di jaringan kereta api. NHS Foundation Trust setempat mengajukan tawaran untuk menyelamatkan gerbong dari tumpukan pembuangan barang dan menggunakannya untuk menciptakan lingkungan positif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Di mana kemudian RS Airedale mengubah gerbong ini menjadi ruang serbaguna non klinis untuk meningkatkan pengalaman pasien menggunakan rumah sakit. Ini akan memiliki fokus khusus untuk membantu anak-anak dan keluarga, serta mereka yang menderita demensia, menyediakan lingkungan komunal yang unik untuk mendukung pasien selama mereka tinggal.

Dilansir KabarPenumpang.com dari gov.uk (6/9/2021), gerbong kereta seberat 19 ton diangkat ke posisinya oleh derek dan ke lokasi yang dibangun khusus, siap untuk restorasi. Kendaraan tersebut adalah yang ketiga dan terakhir dari kereta pensiunan yang dikirim ke proyek komunitas sebagai bagian dari kompetisi ‘Transform a Pacer’ Departemen Transportasi di Inggris Utara.

Baca juga: Gerbong Kereta Tua Dikonversi Jadi Hotel Mewah di Pinggir Pantai Inggris

Kereta yang dikirim ke Airedale NHS Foundation Trust disediakan oleh perusahaan rolling stock Porterbrook dan telah beroperasi sejak 1986, menempuh perjalanan lebih dari tiga juta mil melintasi jaringan pada waktu itu. Itu dipasang dengan bantuan tim Network Rail, yang mengelola logistik untuk memasangnya.

Kereta Karakter Akan Hadir di Stasiun Uwajima 9 dan 10 Oktober

Jepang bisa disebut dengan rumah berbagai kereta yang memiliki banyak karakter baik itu Ultraman superhero Jepang, Hello Kitty, Star Wars, Doraemon, kartun Disney dan lainnya. Nah, bagaimana jika kereta dengan beragam karakter ini berkumpul di satu tempat?

Baca juga: Livery Ultraman dan Ogre Hiasi Bodi Kereta JR Shikoku

Pada 14 September kemarin, Shikoku Railway Co. (JR Shikoku) mengumumkan bahwa kereta di JR Yodo Line di Pulau Shikoku, Jepang Barat dengan livery bergambar superhero Jepang Ultraman dan karakter lainnya akan meluncur ke Stasiun Uwajima di prefektur Ehime pada 9 dan 10 Oktober mendatang. Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (19/9/2021), perakitan kereta merupakan fitur utama dari festival Yodosen Fun Fun yang akan diselenggarakan selama dua hari di Jalur Yodo yang menghubungkan Ehime dan Kochi.

Kereta dengan bodi bergambar Ultraman. Foto: Mainichi

“Ini akan menjadi pertama kalinya di Shikoku untuk waktu yang begitu lama dan banyak kereta yang memiliki livery karakter untuk dibawa bersama, dan langka bahkan dalam skala nasional,” ujar seorang perwakilan JR Shikoku.

Dalam dua hari festival ini, kereta yang digunakan adalah kereta dengan livery karakter yang beroperasi di Jalur Yodo. Keenam kereta karakter tersebut yakni, kereta Shiman Torocco; kereta api Kappa Uyo-uyo (“banyak imp air”) seri Kaiyodo Hobby Train; Kereta Hobi Tetsudo; kereta Oni (“raksasa”); Ultra Train seri Kaiyodo Hobby Train; dan kereta Osanpo Nanyo (“jalan-jalan di wilayah selatan Prefektur Ehime di Nanyo”) seri kereta Karakter Nanyo yang menampilkan karakter gambar dari prefektur tersebut.

Keenam kereta ini dapat Anda lihat di peron 2 dan 3 di Stasiun Uwajima selama sekitar 30 menit. Nantinya akan ada satu atau lebih kereta yang terlihat sejak pukul 09.00 pagi dan siang hari pada 9 dan 10 Oktober. Pada kedua hari tersebut, pasar akan dibuka di Stasiun Uwajima dan Stasiun Matsumaru di kota Matsuno di prefektur Ehime.

Pasar ini menjual makanan khas setempat dan kebun binatang keliling serta kios makanan dan kerajinan akan didirikan di alun-alun Pemerintah Kota Shimanto kantor di Prefektur Kochi di sebelah Stasiun Kubokawa, pada 9 Oktober. Paket perjalanan khusus juga dijual, termasuk naik kereta Oni dan Kappa Uyo-uyo di mana para peserta dapat menikmati “gibier,” atau masakan hewan liar menggunakan daging burung dan rusa lokal, sambil melakukan perjalanan pulang pergi antara stasiun Uwajima dan Matsumaru seharga 6.500 yen (sekitar $60) per orang.a

Baca juga: Rayakan Ulang Tahun ke-100 , Kereta Ini Didandani Karakter Kartun Thomas!

Karena jumlah penumpang di Jalur Yodo telah menurun, kondisi bisnis menjadi sulit. JR Shikoku berharap dapat mempromosikan jalur kereta api di kalangan penduduk lokal dan penggemar kereta api melalui acara ini.

“Jika acara ini diterima dengan baik, kami ingin melanjutkannya di masa depan,” ujar juru bicara JR Shikoku.






















1 Januari 1914, Momen Penerbangan Domestik Berjadwal Pertama di Dunia

Penerbangan berjadwal internasional pertama di dunia dimulai pada 25 Agustus 1919 oleh Air Transport & Travel Ltd (AT&T) yang merupakan cikal bakal British Airways (BA). Penerbangan perdana tersebut menghubungkan antara London dan Paris yang melintasi Selat Channel. Lantas bila itu penerbangan internasional berjadwal pertama, kapankah penerbangan domestik berjadwal pertama di dunia?

Baca juga: Penerbangan Komersial Terjadwal Ternyata Sudah Dimulai 100 Tahun Lalu

Rupanya lima tahun sebelumnya, di Florida, Amerika Serikat, berhasil dipecahkan rekor penerbangan domestik berjadwal perdana. Dikutip dari airandspace.si.edu, disebutkan rute penerbangan domestik berjadwal pertama di dunia menghubungkan antara St.Petersburg dan Tampa, dimana kedua wilayah tersebut masih berada di dalam Negara Bagian Florida.

Rute penerbangan yang disebut airbot line itu berlangsung pertama kali pada 1 Januari 1914. Pesawat yang digunakan adalah pesawat Model XIV buatan pabrikan pesawat St. Louis Thomas Benoist. Jangan dikira bisa membawa banyak penumpang, selain seorang pilot, pesawat propeller ini hanya dapat membawa satu penumpang yang duduk di samping pilot dengan kokpit terbuka. Model XIV ditenagai mesin tunggal Roberts dengan kekuatan 75 tenaga kuda, 6 silinder dan berpendingin air.

Penerbangan dari St.Petersburg ke Tampa dan sebaliknya mengambil rute lurus melintasi Teluk Tampa. Jarak tempuhnya hanya 29 kilometer dan memakan waktu 23 menit. Sebagai perbandingan, rute St.Petersburg ke Tampa sebelumnya dilakukan menggunakan jasa kereta api, lantaran harus mengitari pesisir Teluk Tampa, waktu yang dibutuhkan St.Petersburg ke Tampa bisa mencapai 11 jam.

Selama tiga bulan beroperasi, Model XIV total mengangkut 1.204 penumpang melintasi teluk. Tapi tanpa subsidi berkelanjutan dari Pemerintah St. Petersburg atau pendapatan tetap dari lalu lintas turis, maka layanan udara berjadwal ini tidak akan bisa bertahan. Dan akhirnya pada akhir Maret 1919, penerbangan ini pun ditutup.

Baca juga: Fokker F-VII – Pesawat Legendaris ‘Pelaku’ Penerbangan Perdana Reguler Amsterdam-Batavia di Tahun 1924 

Lantaran saat itu menjadi wahana primadona, Mantan Walikota St. Petersburg A.C. Phiel (tengah) rela membayar US$400 untuk kehormatan menjadi penumpang pertama di jalur Airboat St. Petersburg-Tampa. Sementara ongkos standar untuk jasa sekali trip penerbangan adalah US$5 (setara US$100 untuk saat ini).






















Mengular di 2024, Emmanuel Macron Tampilkan Mockup Kereta Cepat TGV Generasi Mendatang

Meski tengah dibuat kecewa akibat keputusan Australia yang membatalkan program pengadaan 12 unit kapal selam dari Perancis, rupanya Presiden Perancis Emmanuel Macron masih punya program lain yang bisa mengobati Pemerintahan Negeri Eiffel tersebut. Menyambut 40 tahun momen peluncuran kereta cepat TGV (Train a Grand Vitesse), Emmanuel Macron pada 17 September lalu secara resmi memperkenalkan mockup dari TGV NG (Next Generation) di Stasiun Gare de Lyon, Paris.

Baca juga: Ouigo, Kereta Cepat Bergaya TGV dengan Tarif Rendah

Dikutip dari click2houston.com, penampilan mockup dengan ukuran penuh menjadi penanda komiten besar Pemerintah Perancis dalam menghadirkan kereta cepat berteknologi tinggi yang ramah lingkungan dan lebih efisien. Pada presentasi di Stasiun Gare de Lyon Paris, Macron menyebut kereta TGV baru akan memainkan lebih banyak aspek ramah lingkungan.

Macron berbicara di depan model skala penuh TGV NG/M yang baru. Dalam spesifikasi, dikatakan TGV M akan membawa lebih banyak penumpang — 740, dibandingkan dengan TGV saat ini yang hanya dapat membawa 600 penumpang dalam satu kali trip. Bila sesuai prediksi,TGV M direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2024. Kereta cepat baru ini akan menggunakan seperlima lebih sedikit listrik daripada TGV saat ini, sementara kecepatan tertinggi dipertahankan 320 kilometer per jam (199 mil per jam).

TGV generasi pertama diluncurkan 40 tahun lalu oleh Presiden Perancis kala itu, François Mitterrand. Dioperasikan oleh SNCF, kecepatan maksimum TGV awalnya adalah 270 kilometer per jam. Kemunculan TGV tak pelak menjadi pengubah tren perjalanan kereta api modern. Sejak itu teknologi TGV telah ditiru di seluruh dunia, termasuk baru-baru ini dalam proyek HS2 yang sangat dinanti di Inggris.

Adapun prototipe pertama yang dihadirkan oleh pihak TGV ini masih menggunakan turbin gas dan sebuah alat yang dapat memproduksi listrik dengan menggunakan minyak. Prototipe ini dikenal dengan nama TGV 001. Namun ketika krisis energi menerpa Benua Biru pada tahun 1973, pihak TGV harus memutar otak agar armadanya tersebut bisa bertahan di tengah harga minyak yang melambung tinggi. Ternyata krisis tersebut memaksa TGV untuk menyerah pada keadaan dan menerima kritik dari banyak pihak yang mengatakan bahwa ide tersebut dianggap tidak praktis.

Berkaca pada pengalaman sebelumnya, TGV lalu menciptakan prototipe kereta listrik pertamanya pada tahun 1974. Seiring berjalannya waktu, beberapa uji coba dilakukan dan pembenahan di armada tersebut mengantarkan TGV pada penyempurnaan versi akhir dari kereta listrik ini. Diketahui, TGV sukses membangun sebuah kereta cepat bertenaga listrik pada tahun 1980. Setahun berselang, perusahaan tersebut membuka layanan perdananya yang menghubungkan Paris dan Lyon.

Sejak saat itu, nama TGV naik ke permukaan dan mulai dikenal oleh banyak orang. Pasar mereka pun meningkat, terlihat dari antusias warga Perancis yang mulai menumpukan alternatif perjalanan mereka dengan menggunakan armada TGV. Kesuksesan tersebut lalu tidak membuat pihak TGV pongah. Alih-alih menikmati kesuksesan, mereka lantas menambah rute perjalanan baru. Tercatat, beberapa jalur perjalanan lain telah dibuka, seperti Paris menuju Tours/Le Mans, Paris menuju Lille, dan Paris menuju Brussels.

Baca juga: TGV, Masih Jadi Lambang Supremasi Kereta Cepat Eropa

Pemerintah Macron telah mengalokasikan anggaran 6,5 miliar euro (US$7,6 miliar) dalam investasi untuk memperluas jalur kereta api berkecepatan tinggi, dan meningkatkan penggunaan kereta api telah menjadi bagian dari strategi pemerintahnya untuk mengurangi emisi.






















Dibandrol Rp2,4 Juta, Volvo Hadirkan Sepatu Kets Ramah Lingkungan

Setelah belum lama ini meluncurkan masker anti Covid-19, pabrikan otomotif asal Swedia, Volvo, kembali berencana untuk merilis produk non aksesoris otomotif. Persisnya guna memeriahkan Hari Bebas Mobil Sedunia yang jatuh pada 22 September mendatang, Volvo kolaborasi Casca meluncurkan sepasang sepatu kets ramah lingkungan.

Baca juga: Volvo Jual Masker Batik Reusable Ramah Lingkungan dengan Fitur Anti Mikroba

Rancangan sepatu kets ini tentu rancangan dan filosofi tersendiri, yaitu desainnya terinspirasi mobil listrik XC40 Recharge. Dengan cita rasa produk Swedia yang terkenal ramah lingkungan, maka 10 persen solnya terbuat dari ban daur ulang. Ini adalah yang pertama bagi Casca membuat tema otomotif dari sepatu tersebut. Sol bukan satu-satunya sentuhan ramah lingkungan, pasalnya bagian atas sepatu ternyata terbuat dari tujuh botol plastik daur ulang.

Bahan ini telah diubah menjadi benang, yang membuat sepatu “rajut yang fleksibel dan bernapas.” Menggambarkan jati diri bangsa, pada sepatu kets ini juga disematkan bendera Swedia kecil serta garis dan panel yang dirancang untuk mengingatkan lampu depan Thor’s Hammer.

Pada prinsipnya, antara Volvo dan Casca sama-sama mengedepankan ide ramah ligkungan, dan kedua peusahaan telah punya andil dalam mendukung green technology. Casca memiliki komitemen membuat semua bagian atas rajutan mereka dari bahan daur ulang atau terbarukan pada tahun 2022. Sementara Volvo hanya menggunakan listrik dan akan meningkatkan penggunaan bahan daur ulang serta berbasis bio di kendaraan mereka.

Sepatu kets edisi khusus ini dijual secara terbatas, untuk harganya, sepasang sepatu ini akan dilepas ke pasaran pekan depan dengan harga US$168 atau sekitar Rp2,4 juta. Nah, apakah Anda tertarik, yuk selalu pantau situs Volvo.

Baca juga: Cukup Sekali Pengisian, Mobil Listrik Volvo Bisa Menjelajah Hingga 999 Km

Kilas balik pada Juni 2021, Volvo Car Malaysia meluncurkan koleksi masker wajah anti mikroba untuk mendukung masyarakat lokal dalam menghadapi kesulitan akibat Covid-19. Setiap masker wajah terbuat dari 100 persen katun, anti bakteri, anti air dan memberikan perlindungan hingga 100 kali pencucian lembut. Nano teknologi digunakan untuk mengurangi penetrasi tetesan yang terkontaminasi dan mencegah kemungkinan infeksi kain oleh virus atau bakteri.

Empat Faktor Eksternal Penyebab Kecelakaan Pesawat Saat Take Off dan Landing

Pesawat jadi moda transportasi paling aman di dunia. Data terkait ini pun mudah didapat. Meski begitu, pesawat rawan mengalami kecelakaan, terutama saat take off ataupun landing; tiga menit pertama dan delapan menit terakhir penerbangan (critical eleven) atau biasa juga disebut Plus Three Minus Eight.

Baca juga: Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman

Critical eleven atau 11 menit paling krusial dalam penerbangan sudah pasti disebabkan oleh dua faktor, teknis dan non teknis atau eksternal. Terkait faktor eksternal, setidaknya ada empat penyebab paling umum terjadinya kecelakaan pesawat saat take off ataupun landing. Apa saja? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ulasan empat faktor eksternal penyebab kecelakaan pesawat di periode critical eleven.

1. Bird strike

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Begitu juga menjelang landing.

Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Meski begitu, berbagai cara sudah ditempuh pengelola bandara di seluruh dunia. Seperti mengerahkan robot pemotong rumput (mengingat rumput tinggi di sekitar runway bisa jadi sarang burung), drone atau The Robird Drone, dan lain sebagainya.

2. Hujan lebat, bersalju, dan berpasir

Menurut ICAO, genangan air tertinggi adalah empat milimeter dan tidak boleh lebih dari 25 persen di area runway yang tergenang. Lebih dari itu, keselamatan penerbangan akan sangat dipertaruhkan.

Celakanya, saat hujan lebat, genangan di runway kerap melebihi ambang batas aman di atas. Karenanya, tak heran jika kecelakaan pesawat di periode critical eleven atau saat take off maupun landing sering terjadi. Biasanya berupa overrun, baik itu keluar runway sampai keluar dari perimeter bandara.

Tak hanya hujan lebat dan menyebabkan genangan, salju dan pasir di runway juga kerap menjadi penyebab kecelakaan saat lepas landas maupun turun landas.

Meski begitu, ini sebetulnya bisa disiasati dengan teknik pendaratan hard landing atau pendaratan keras, bertujuan untuk menghindari hilangnya gesekan antara ban dengan permukaan runway.

3. FOD (Foreign Object Damage)

Jika dilihat dari dekat, permukaan runway biasanya dipenuhi dengan FOD (Foreign Object Damage) berupa partikel pasir, debu, atau sisa karet ban pesawat yang terkelupas, tertinggal di runway selama bertahun-tahun dan mengendap di sana. Bila tak ada penanganan serius, FOD ini memungkinkan pesawat mengalami selip ban.

4. Crosswind

Crosswind juga sering menjadi penyebab kecelakaan pada pesawat menjelang landing ataupun saat lepas landas.

Sebetulnya, dalam kondisi angin kencang, secara prinsip, pilot masih bisa melakukan soft landing dan mendarat dengan aman. Tetapi, saat berada di ketinggian sekitar 50 kaki atau sekitar 15 meter, tiba-tiba angin kencang membuat landing approach angle meleset sekaligus sudut pendaratan pesawat menjadi miring.

Baca juga: Dinilai Krusial Selamatkan Penerbangan, Berikut Empat Penyebab Hard Landing

Kacaunya lagi, tekanan angin di sekitar runway juga cukup tinggi, bisa karena cuaca terlalu terik dan menyebabkan udara banyak terkumpul di runway akibat pemuaian, sehingga membuat pesawat mengambang selama beberapa saat.

Padahal, pesawat sudah harus melakukan landing di zona touchdown, bila tidak, pesawat terancam overrun atau keluar runway. Nah, pada posisi ini, pilot bisa mensiasatinya dengan divert atau balked landing dan kembali mengudara, go around, sambil menunggu crosswind mereda.