Pramugari SkyUp Bergaya Kasual dengan Celana Panjang dan Sepatu Kets

Biasanya seorang awak kabin perempuan atau yang biasa disebut pramugari menggunakan rok panjang atau selutut dengan sepatu atau sendal berhak. Ini adalah seragam konvensional dan tradisional yang digunakan hampir disemua maskapai penerbangan dunia.

Baca juga: Bedah Maskapai Baru “Super Air Jet,” Seragam Pramugari Tak Biasa dan Milenial Banget

Namun, maskapai berbiaya hemat SkyUp milik Ukraina mengubah semua standar itu dan lebih membuat pramugari nyaman dengan apa yang mereka gunakan. Bukan dengan rok, pramugari SkyUp menggunakan setelan dengan celana panjang berwarna oranye cerah dan sepatu kets putih dari Nike Air.

KabarPenumpang.com melansir moroccoworldnews.com (3/8/2021), seragam baru pramugari ini merupakan hasil kolaborasi dengan merek fashion Ukraina GUDU. Sedangkan awak kabin pria menggunakan seragam yang sama alias tidak ada penggantian.

Selain sepatu kets dan celana dua potong tangerine yang longgar, pramugari akan diberikan pilihan untuk mengenakan mantel parit tipis atau saputangan sutra. Sementara make-up masih wajib, pramugari juga akan memiliki lebih banyak pilihan gaya rambut untuk dikenakan dengan seragam mereka.

Konsep seragam ‘Champions’ SkyUp mengilhami gagasan kenyamanan dan gerakan, melepaskan diri dari norma konvensional dalam industri penerbangan. SkyUp menyatakan bahwa perubahan seragam bertujuan untuk mewujudkan gagasan gerakan. Bentuknya dibuat untuk aktif, berani dan cerah.

Bagi mereka yang tidak menyukai pejabat yang berlebihan, tetapi menghargai gaya, akan bereaksi dengan cepat, bertindak secara seimbang, menerima tantangan dan menemukan jalan keluar dari situasi apa pun. SkyUp lebih lanjut menambahkan, “Ini adalah pakaian untuk mereka yang terbuka terhadap hal-hal baru, mereka yang menyukai perjalanan dan kehidupan.”

Dengan standar baru SkyUp ini, pandangan seksis pada pramugari bisa lebih sedikit berkurang. Selain itu SkyUp juga memberikan pramugari kebebasan untuk merasa nyaman saat mempraktikkan pekerjaan mereka yang sangat menegangkan menjadi awal yang baik.

Untuk diketahui, ketika penerbangan komersial dimulai pada 1930-an, pramugari memainkan peran penting di AS, ketika perawat termasuk di antara kru untuk menginspirasi kepercayaan diri dalam keadaan darurat. Namun, pramugari segera berkembang menjadi alat pemasaran. Maskapai mulai membutuhkan profil yang sangat spesifik untuk posisi ini setelah mereka menyadari bahwa wanita adalah daya tarik bagi pelanggan.

Baca juga: Tebak Maskapai Lewat Seragam Pramugari, Mana yang Paling Sulit?

Beberapa perusahaan penerbangan bahkan memuat slogan-slogan seksis seperti “jika seorang wanita bisa terbang, Anda juga bisa.” Bahkan kebijakan kode berpakaian yang regresif dan seksis terbentuk dengan sendirinya di industri ini, karena rok pramugari semakin pendek.






















Bepergian ke Singapura Saat PPKM Level 4-Pembatasan Sosial (Di Singapura), Ini Tahapannya

Meski Indonesia masih menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1-4, tetapi, masyarakat masih dimungkinkan untuk bepergian ke luar negeri. Hanya saja, negara yang dituju tak semuanya menerima wisatawan dan pekerja dari Indonesia masuk.

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Meski dikenal super ketat, Singapura tidak termasuk negara yang melarang WNI masuk ke negaranya. Namun demikian, bukan perkara mudah masuk ke negara tersebut. Selain butuh entry approval dari otoritas Singapura, berbagai syarat lainnya juga wajib dilengkapi dan diperiksa secara ketat.

Dari pengalaman salah satu kontributor KabarPenumpang.com saat melakukan perjalanan kerja ke Singapura baru-baru ini, sejak check-in di Bandara Soekarno Hatta pun aura ketatnya masuk ke negara tersebut sudah terasa.

Mula-mula, hasil tes Covid-19 PCR akan dikonfirmasi langsung ke Rumah Sakit (RS) yang mengeluarkan hasil tersebut, dalam hal ini, pengalaman kami kemarin, dikonfirmasi ke RS Mayapada.

Setelah itu, calon penumpang pesawat diperiksa berbagai kelengkapan persyaratan, seperti entry approval dari otoritas Singapura, sertifikat vaksinasi Covid-19, reservasi hotel tempat karantina mandiri Stay Home Notice atau SHN-Dedicated Facilities (SDF) selama 14 hari, serta tentu saja tiket pesawat.

SDF harus dibayar sebelum check-in di hotel yang sudah ditunjuk. Bila terjadi keterlambatan pembayaran, maka, akan dikenakan denda atau bunga atas keterlambatan tersebut.

Biaya SDF sendiri, seperti tertera di safetravel.ica.gov.sg, single dewasa sebesar S$2,000 per orang untuk akomodasi dan konsumsi. Adapun untuk dua orang dewasa, biayanya S$1,300 per orang untuk akomodasi dan konsumsi. Itupun belum termasuk biaya tes swab kit yang harus dilakukan secara mandiri di hari 3, 5, dan 7.

Setelah semuanya selesai diperiksa, penumpang bisa boarding dan terbang ke Singapura. Sebelum itu, jangan lupa, penumpang diwajibkan mengunggah hasil tes COVID-19 PCR pra-keberangkatan saat check-in dengan maskapai penerbangan ke aplikasi IATA Travel Pass, sejenis kartu kesehatan digital, serta saat kedatangan di pos pemeriksaan imigrasi di Bandara Internasional Changi.

Dalam lawatan kontributor kami lusa menggunakan Singapore Airlines, di kabin hanya ada empat penumpang dan kami satu-satunya penumpang yang duduk di c-class atau business class maskapai. Kami juga sempat bertanya ke pramugari bagaimana cara maskapai bertahan dengan hanya empat orang penumpang dan dengan santai ia menjawab bisnis kargo maskapai sebagai penyelamatnya.

Setelah sampai di Bandara Internasional Changi dan lolos dari pemeriksaan imigrasi, penumpang akan digiring ke hotel tempat karantina mandiri selama 14 hari. Biaya untuk akomodasinya sudah termasuk ke dalam biaya karantina mandiri yang sudah dibayar sebelumnya.

Baca juga: 1 Mei 2021, Singapura Resmi Gunakan IATA Travel Pass untuk Data Covid-19 Pelancong 

Di hari ke-3, 5, dan 7, penumpang wajib melakukan tes swab sendiri dan mengirimkan hasilnya ke otoritas lewat aplikasi yang sudah ditentukan.

Selama menjalani karantina mandiri, jangan coba-coba melanggar aturan karena semuanya terpantau 24 jam lewat aplikasi.

Singapura Siapkan Vending Machine yang Hadirkan Masker Gratis

Masa pandemi ini, membuat orang belum bisa bernapas dengan bebas tanpa menggunakan masker. Sehingga masker medis menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia saat ini dan wajib digunakan ketika seseorang bepergian keluar rumah.

Baca juga: Masker Puricare Wearable Air Purifier LG Dilengkapi Mikrofon dan Speaker

Hal ini kemudian membuat berbagai teknologi menghampiri masker. Beberapa diantaranya masker diberikan alat untuk mendeteksi virus corona yang menempel, masker dengan penyaring udara yang terkoneksi dengan ponsel hingga berbagai teknologi lainnya.

Masker yang digunakan sekali pakai ini juga wajib dibawa penggantinya jika masker yang dikenakan terkena keringat atau kotor. Meski begitu banyak orang yang kerap kali lupa membawa masker cadangan untuk mengganti dan sulit mencari penjual atau mini market untuk membeli yang baru.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman kioskmarketplace.com (19/7/2021), belum lama ini pabrikan Singapura pembuat mouse komputer dan laptop, akan membangun vending machine untuk menyediakan jutaan masker wajah gratis kepada penduduk. Mesin ini dibuat karena perusahaan yang berbasis di Singapura dan Amerika Serikat tersebut kebanjiran perminataan mesin masker wajah.

Nantinya Razer Singapore akan memasang mesin penjual otomatis sendiri. Pemasangan mesin penjual otomatis tersebut akan dimulai dengan 20 mesin yang diletakkan di mall dan ruang kerja bersama.

Baca juga: Mesin Penjual Otomatis, Jual 48 Jenis Produk dari Buah Hingga Suvenir

Para pengguna bisa mendapatkan masker pada mesin penjual otomatis, harus mengunduh aplikasi dompet digital I dan memindai kode QR di mesin penjual otomatis tersebut. Nantinya perusahaan berencana untuk memberikan satu masker bedah gratis kepada semua penduduk dewasa Singapura.






















Gara-gara Pakaian, TikToker Diteriaki Awak Kabin Sebelum Masuk Pesawat

Terkadang menggunakan pakaian atau alas kaki yang kurang pantas kerap kali membuat seorang penumpang pesawat tertekan bahkan disuruh turun oleh awak kabin. Hal ini pun terjadi pada seorang TikToker Sierra Steadman. Saat itu dirinya menggunakan pakaian kasual yakni celana pendek dengan tanktop yang ditutupin sebuah hoodie.

Baca juga: Pakaian Apa yang Selazimnya Dikenakan Penumpang Pesawat?

Dia naik pesawat milik Alaska Airlines dan seorang awak kabin menyuruhnya turun karena pakaian yang digunakannya. Dilansir KabarPenumpang.com dari nypost.com (3/8/2021), Sierra kemudian memposting sebuah video ke akun TikToknya @sierrasteadman, di mana dia menangis di atas pesawat dan membuat judul pada video tersebut, ”Saya tidak pernah merasa lebih terdegradasi, malu, malu, marah atau sedih. F ALASKA AIRLINES!!!!!!!”

@sierrasteadman

Reply to @emma.el15 #greenscreen

♬ romanticize that jealousy jealousy life – cynthia 🌟🦋

Dalam video, dia terlihat mengenakan hoodie dan masker saat air mata mengalir di wajahnya. Dia menulis dalam klip itu, “Ketika pramugari [pelacur] mempermalukan Anda di depan seluruh pesawat dan mengancam akan menendang Anda keluar karena apa yang [Anda] kenakan.”

Pada komentar dia menjelaskan bahwa awak kabin itu berteriak dan menarik lengannya ketika Sierra mencoba pergi. Dalam video lanjutannya Sierra mengungkapkan dengan tepat apa yang dia kenakan saat bepergian. Dia berbagi foto di TikTok yang menunjukkan dirinya mengenakan celana pendek putih, hoodie hitam dan kaus abu-abu.

“Apropriasi pakaian dikesampingkan, tidak ada alasan untuk menyerang saya secara fisik dan verbal dan mempermalukan saya terutama ketika saya memenuhi permintaannya,” komentarnya di samping videonya.

Sierra kemudian menguraikan situasi di video lainnya dan mengatakan dirinya dihentikan begitu naik pesawat. Awak kabin diduga menyuruhnya untuk membuka ritsleting hoodie dan dia melakukannya. Awak kabin itu kemudian meneriakinya di depan penumpang lain.

“Di situlah masalahnya,” ungkap Sierra menambahkan bahwa dia tidak punya masalah dengan disuruh menutup kausnya, namun, kejadian berikutnya tidak dapat diterima.

Alaska Airlines dilaporkan menanggapi Sierra dan ibunya Shannon, yang menghubungi maskapai tersebut.

Baca juga: Tak Pandang Bulu, Langgar Tata Cara Berpakaian Bisa Depak Penumpang dari Penerbangan

“Alaska berusaha untuk memberikan layanan yang luar biasa kepada pelanggan kami. Dari apa yang Anda bagikan, jelas bahwa kami telah gagal. Anda dan putri Anda harus mengharapkan tidak kurang dari diperlakukan dengan hormat, kasih sayang dan perhatian. Sungguh mengecewakan mendengar bahwa Anda berdua tidak merasa seperti itu selama naik pesawat dan selama interaksi dengan Pramugari kami,” bunyi pernyataan itu.






















Lilium Pamer Penjualan 220 Unit Taksi Udara eVTOL Terbesar di Dunia Bernilai Rp12,5 Triliun

Lilium dengan bangga mengumumkan penjualan taksi udara eVTOL terbesar di dunia buatannya sebanyak 220 unit ke maskapai regional terbesar ketiga di Brasil, Azul. Kesepakatan penjualan ini disebut-sebut bernilai fantastits, mencapai US$880 atau sekitar Rp12,5 triliun (kurs 14.318).

Baca juga: Gelontorkan Miliaran Rupiah, Target Taksi Udara Listrik Lilium Mengular di 2025 di Semakin Dekat

Meski menjadi maskapai terbesar ketiga, tetapi, Azul melayani lebih banyak kota dan terbang lebih sering ketimbang para kompetitornya.

Brasil sendiri dikenal sebagai pasar helikopter terbesar kedua di dunia. Itu mungkin dilandasi berbagai faktor, seperti infrastruktur yang buruk, geografi, serta tingginya tingkat kejahatan di jalan seperti pembajakan, penodongan, pencurian, dan sejenisnya.

Dengan kondisi tersebut, tidak heran bila Azul percaya diri untuk merogoh kocek besar mendatangkan 220 unit taksi udara eVTOL Lilium. Taksi udara eVTOL Lilium dinilai mampu menghadirkan kenyamanan, kecepatan, dan keamanan lebih baik dibanding helikopter serta mampu menjangkau wilayah lebih luas. Yang paling penting tentu adalah harga per perjalanannya sangat murah.

“Sangat mudah bagi kami untuk dengan cepat mengidentifikasi pasar di mana kami dapat menempatkan 250 pesawat ini, dan kami pikir jumlah itu bahkan bisa mencapai 1.000 atau lebih,” kata David Neeleman, pendiri Azul, Westjet, dan Jetblue.

“Dengan memiliki pesawat terbang seperti yang dimiliki Lilium, dengan harga yang jauh lebih murah daripada helikopter, dengan keamanan yang jauh lebih tinggi, kami pikir kami dapat memperluas pasar ini. Kami pikir pasarnya bisa 10, atau 20, atau 30 kali lebih besar dari sebelumnya. hari ini, atau bahkan lebih,” tambahnya, seperti dikutip dari New Atlas.

Akan tetapi, sebagaimana penjualan taksi udara eVTOL dari Archer, Embraer Eve, Vertical Aerospace, dan lainnya, penjualan taksi udara eVTOL Lilium ke Azul tentu masih bersifat sementara. Semuanya bergantung pada proses sertifikasi.

Bila segalanya lancar, Lilium memperkirakan Azul bisa menikmati servis dari setiap unit taksi udara eVTOL terbesar di dunia buatannya pada 2025 mendatang.

Lebih lanjut, Lilium berharap, seluruh unit taksi udara eVTOL berkapasitas tujuh penumpang tersebut bisa terbang sampai 25 kali sehari, menempuh jarak rata-rata 60 mil atau 96 km atau 10 jam penerbangan per hari.

Lifespan atau umur operasional taksi udara eVTOL Lilium ditaksir mampu bertahan sampai delapan tahun. Tetapi, paket baterainya hanya bertahan empat bulan.

Kendati begitu, David Neeleman mengaku optimis bergabungnya taksi udara eVTOL Lilium bisa mendatangkan keuntungan sekitar US$5 juta dari setiap unitnya setelah dua tahun.

Baca juga: Bisa Angkut 7 Penumpang, Inilah Taksi “Minibus” Udara eVTOL Terbesar di Dunia

Skemanya, ia mengasumsikan rata-rata 4,5 dari enam-tujuh kursi penumpang terisi di setiap 25 penerbangan per hari.

Dengan harga US$2,25 per mil penumpang akan menghasilkan pendapatan sekitar US$15,000 per hari atau $5 juta per tahun atau margin keuntungan 25 persen. Alhasil, dalam dua tahun, investasi sebesar Rp12,5 triliun akan balik modal dan di enam tahun sisanya (dengan asumsi lifespan delapan tahun) taksi udara eVTOL bakal mendatangkan keuntungan US$5 juta.

Mengapa Penanganan Bagasi Secara Otomatis Hanya Bisa Dilakukan di Beberapa Pesawat?

Selain diisi oleh penumpang, pesawat juga dimuat oleh bagasi atau kargo. Tergantung tipe dan jenis pesawat, kapasitas maksimum kargo yang bisa diangkut bisa berbeda-beda. Selain itu, sistem penanganannya, mulai dari check-in sampai dimuat ke dalam pesawat juga berbeda-beda. Pada umumnya dilakukan secara manual dan hanya sedikit di-handle secara otomatis. Mengapa?

Baca juga: Tekan Delayed Baggage Rate, Siemens Pasok Sistem Penanganan Bagasi di Bandara Incheon

Penanganan bagasi (baggage handling) dari area check-in, masuk lebih dalam ke area bandara, sampai ke pesawat, merupakan bagian terpenting dari infrastruktur bandara. Di beberapa bandara besar, pada umumnya sudah menggunakan baggage handling system secara otomatis.

Setelah check-in, bagasi atau koper penumpang masuk ke dalam sistem konveyor dan deflektor, discreening untuk safety. Bagasi kemudian dimuat ke dalam tempat penyimpanan memanjang seperti kereta dan ditarik oleh luggage towing truck sebelum ditransfer ke cargo and loader transporter untuk dimuat ke pesawat.

Sampai saat ini, sebagian besar prosesnya, mengantar bagasi dan kargo sampai ke pesawat, masih manual. Tetapi, beberapa maskapai sudah mulai melakukan otomatisasi.

British Airways, misalnya, pada tahun 2019 mulai menguji coba luggage delivery atau pengiriman bagasi secara otomatis di Bandara London Heathrow menggunakan robot, membawa bagasi dari Baggage Handling System ke pesawat.

Selain itu, All Nippon Airways (ANA) juga sudah menguji coba sistem bagasi otomatis dalam skala kecil di tahun 2020.

Dilansir dari Simple Flying, sistem bagasi otomatis dalam skala besar atau biasa disebut loose baggage loading (bulk loading) pada umumnya melibatkan sistem conveyor yang panjang dan otomatis. Di Bandara Dublin, Irlandia, misalnya, conveyor belt di sini panjangnya bisa sampai 10 km. Tetapi, tidak semua pesawat bisa mendapat servis seperti ini.

Setelah sampai di pesawat, terkadang bagasi dipakaikan jaring agar lebih aman dan yang paling penting, tak bergeser saat pesawat mengudara. Ini juga penting untuk memastikan berat pesawat tetap proporsional dan seimbang.

Baca juga: Inilah Perjalanan Penanganan Bagasi, Saat Tiba di Konter Check In Sampai ke Tangan Penumpang Lagi

Pada proses bulk loading, biasanya kargo atau bagasi dimuat ke dalam apa yang disebut sebagai Unit Load Devices (ULD).

Di seluruh pesawat widebody, terkadang juga A320, itu sudah pasti menggunakan ULD dan dimuat ke pesawat menggunakan kontainer. ULD tentu disesuaikan dengan ukuran pesawat. ULD untuk pesawat Boeing 747, 777, dan 787 serta Airbus A380 dan widebody Airbus lainnya menggunakan ULD LD3. Selebihnya menggunakan ULD jenis lain, bergantung pada ukuran pesawat.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Maskapai di Kuwait Bakal Disanksi Gegara Overbooking

Maskapai di seluruh dunia selama setahun ini merasakan saat-saat terburuk sepanjang sejarah berdiri akibat pandemi tak kunjung usai. Gelombang PHK sudah pasti menjadi turunannya. Tak terkecuali bagi maskapai-maskapai di Kuwait. Tak berhenti sampai di situ, dalam waktu dekat, beberapa maskapai di Negeri Kaya Minyak ini bakal kena sanksi otoritas akibat overbooking. Mengapa demikian?

Baca juga: Apa yang Harus Anda Lakukan Jika Didepak dari Penerbangan Akibat Overbooked?

Sekilas tentang overbooking, ini merupakan skema dimana pihak maskapai menjual tiket melebihi kapasitas bangku yang ada di dalam sebuah penerbangan.

Sebagai contoh, maskapai Elang Air menjual 150 tiket perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya dengan menggunakan pesawat Boeing 737-300, padahal, kapasitas kursi yang ada di pesawat tersebut hanyalah 140 penumpang.

Overbooking yang dilakukan maskapai sebetulnya bukan hal baru di dunia penerbangan. Di beberapa negara, seperti Negeri Kangguru Australia, skema overbooking ini dianggap normal. Namun, tidak dengan Kuwait.

Kendati sempat ada keringanan dari DGCA (Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil) terkait overbooking, tetapi, massifnya pembatalan tiket yang sudah issued (confirmed reservations) oleh maskapai membuat otoritas geram.

Direktur Angkutan Udara Direktorat Perhubungan Udara Kuwait, Abdullah Al-Rajhi, pembatalan tiket yang sudah issued oleh maskapai merupakan sebuah bentuk penyimpangan terhadap kredibilitas atau profesionalisme maskapai.

“Kami melihat banyak maskapai membatalkan reservasi yang telah dikonfirmasi. Praktik ini merupakan penyimpangan dari kredibilitas atau profesionalisme maskapai tersebut. Jumlah kursi sudah ditentukan untuk semua maskapai, namun ada juga yang masih memesan lebih dari jumlah penumpang yang diperbolehkan,” jelasnya, seperti dilaporkan media Timur Tengah, Zawya.

Sebetulnya, setiap penumpang yang terkena pembatalan tiket yang sudah dikonfirmasi secara sepihak bisa melaporkan ke Divisi Keluhan Departemen Transportasi Udara. Seperti di kebanyakan tempat, layanan pengaduan ini harus disertai dengan dokumen-dokumen pendukung. Tetapi sayang, itu hanya tersedia dalam bahasa Arab.

Di tengah situasi yang tak menentu akibat pandemi virus Corona, baik maskapai maupun penumpang sama-sama berada dalam posisi sulit.

Kita tahu, hampir seluruh negara di dunia melakukan pembatasan perjalanan dan syarat masuk yang ketat dan selalu berubah mengikuti situasi dan kondisi. Oleh karenanya, tak jarang, penumpang pesawat yang tadinya memenuhi syarat masuk ke sebuah negara menjadi tidak. Alhasil, mau tak mau ia membatalkan atau mereschedule penerbangan.

Massifnya pembatalan tiket oleh penumpang di masa pandemi Covid-19 mendorong maskapai untuk meningkatkan praktik overbooking.

Baca juga: Backlog A320neo Buat Airbus Selamat dari Krisis Imbas Wabah Corona

Ketika masih ada kursi yang tersedia namun beda kelas, simpel saja, penumpang kelas ekonomi atau ekonomi premium akan diberi kursi first class ataupun business class secara gratis. Yang jadi masalah ialah jika tidak ada kursi kosong yang tersedia. Mau tak mau maskapai membatalkan tiket penumpang sekalipun sudah diissued.

Di beberapa maskapai, kompensasi sudah pasti akan diberikan. Tetapi, tekniknya bisa berbeda-beda. Ada yang memberikan gratis hotel untuk penginapan sampai penerbangan di hari berikutnya. Ada yang meningkatkan kelas kursi di penerbangan dari semula ekonomi menjadi business ataupun first class, dan lain sebagainya.

Stasiun LRT Jakarta Kebakaran, Diduga Penyebabnya Ledakan Gas Nitrogen

Sebanyak sembilan orang mengalami luka dan sesak napas akibat Stasiun LRT Jakarta di Pegangsaan Dua, Kelapa Gading terbakar. Insiden ini terjadi pada Selasa (3/8/2021), sekitar pukul 09.00 WIB.

Baca juga: Tak Benar Akan Dioperasikan PT LRT Jakarta, Skytrain Bandara Soetta Stop Beroperasi Karena Alasan Penghematan Biaya

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Ira Yunita, Kepala Divisi Sekretaris PT LRT Jakarta mengatakan, pada insiden kebakaran ini, pihaknya langsung melakukan evakuasi terhadap seluruh karyawan dan petugas. Dia mengatakan, fokus utama saat itu adalah melakukan proses evakuasi untuk mencegah karyawan dan petugas mengalami cedera.

“PT LRT Jakarta telah melakukan evakuasi terhadap seluruh karyawan maupun petugas yang bekerja di area Gedung MCC Depo LRT Jakarta,” kata Ira dalam keterangannya, Selasa (3/8/2021).

Ira menjelaskan, saat insiden terjadi, titik api hanya berada di satu ruangan. Bahkan api berhasil dipadamkan sebelum petugas pemadam tiba di lokasi.

“Seluruh fungsi gedung yang berkaitan dengan keselamatan salah-satunya adalah water sprinkler berfungsi normal sehingga sebelum petugas Pemadam Kebakaran sampai di lokasi, api sudah berhasil dipadamkan, dan sudah tervalidasi oleh sistem,” ucap Ira.

Kebakaran ini sempat membuat perjalanan kereta terhenti di posisi masing-masing selama 23 menit. Namun setelahnya operasional kereta sudah berlangsung normal kembali. Untuk diketahui, awalnya terdengar dentuman di atas plafon dan membuatnya jebol.

Kemudian seorang karyawan yang mendengar hal itu melapor kepada petugas pengamanan dalam. Hasil investigasi yang dilakukan kebakaran diduga akibat ledakan gas nitrogen saat adanya perbaikan pendingin ruangan atau AC di lantai 4 gedung tersebut.

“Dari keterangan saksi bagian engineering sedang melakukan perbaikan AC. Diduga terjadi ledakan gas nitrogen yang mengakibatkan pecah kaca pada lantai empat,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus.

Baca juga: Di Tengah Pandemi dan Sepinya Penumpang, PT LRT Jakarta Justru Buka Lowongan

Insiden ini juga menurunkan sebanyak sebelas unit mobil pemadam kebakaran dan api berhasil dipadamkan sekitar pukul 10.30 WIB.






















Kelabui Petugas dengan Dokumen Covid-19 Palsu, Dua Pelancong Toronto Didenda US$16.000

Bulan Juli lalu, seorang penumpang yang berangkat dari Bandara Halim Jakarta saat melakukan perjalanan menuju Ternate mengelabui petugas. Penumpang tersebut memalsukan hasil swab PCR yang mana ketika berangkat dia menggunakan milik sang istri yang hasilnya negatif. Pembohongan hal ini pun terjadi di Amerika Serikat, di mana dua penumpang menuju Toronto menyerahkan salinan kartu vaksin dan hasil tes virus corona negatif ke portal yang ditinjau oleh otoritas Kanada.

Baca juga: Terminal 4 Changi Disiapkan untuk Tangani Penumpang dari Negara dengan Risiko Covid-19 Tinggi

KabarPenumpang.com melansir washingtonpost.com (2/8/2021), saat keduanya tiba di Kanada pada 18 Juli, para pejabat menemukan bahwa dokumen yang disajikan pasangan itu palsu. Hal tersebut dikatakan oleh Badan Kesehatan Masyarakat Kanada dalam rilis berita Jumat (23/7/2021). Karena hal itu, setiap penumpang harus membayar sekitar $16 ribu (setara Rp229 juta) karena menyerahkan dokumen palsu dan gagal memenuhi persyaratan karantina dan pengujian.

“Pemerintah Kanada akan terus menyelidiki insiden yang dilaporkan dan tidak akan ragu untuk mengambil tindakan penegakan hukum yang diperlukan untuk melindungi kesehatan warga Kanada dari penyebaran lebih lanjut Covid-19 dan varian kekhawatirannya,” menurut pernyataan agensi.

Pihak berwenang tidak mengidentifikasi pasangan itu atau memberikan informasi tambahan tentang rencana perjalanan mereka. Namun Badan Kesehatan Masyarakat mengatakan, kedua pelancong adalah warga negara Kanada. Untuk diketahui, di Kanada penumpang maskapai yang belum sepenuhnya divaksinasi virus corona harus menginap tiga malam setibanya di hotel yang disetujui oleh pemerintah dan menyerahkan bukti rencana karantina 14 hari.

Bahkan jika mereka telah dites negatif untuk virus corona atau sudah pulih dari penyakit. Mereka juga harus menyerahkan bukti tes virus corona negatif yang diambil setidaknya 72 jam sebelum penerbangan mereka. Saat tiba, penumpang harus menjalani tes virus corona kedua dan mengumpulkan kit berisi tes yang harus mereka lakukan pada Hari ke-8 karantina.

Bulan lalu, otoritas kesehatan Kanada mengumumkan bahwa pelancong udara yang divaksinasi sepenuhnya dapat dibebaskan dari persyaratan hotel jika mereka menyerahkan bukti vaksinasi dan hasil tes virus corona negatif ke ArriveCAN, portal elektronik pemerintah. Mereka masih harus diuji saat masuk dan menyerahkan rencana karantina jika mereka tidak disetujui untuk pengecualian.

Dalam kasus dua pelancong yang memasuki Kanada dari Amerika Serikat pada pertengahan Juli, badan kesehatan Kanada mengeluarkan empat denda kepada setiap penumpang dengan total $15.820 karena “memberikan informasi palsu terkait dengan bukti kredensial vaksinasi dan tes pra-keberangkatan” dan untuk “ ketidakpatuhan terhadap persyaratan untuk tinggal di akomodasi resmi pemerintah dan persyaratan pengujian pada saat kedatangan.”

Baca juga: Gelar Rapid Test, Bandara Vancouver dan WestJet Airlines Jadi Contoh Penanganan Covid-19 di Kanada

“Ini adalah pelancong pertama yang dikenai denda karena memberikan informasi vaksinasi palsu,” kata badan tersebut kepada The Post, menambahkan bahwa mereka tidak akan memberikan rincian tambahan, mengutip privasi mereka yang terlibat dan proses peradilan.






















Gandeng TikTok, Penumpang American Airlines Kini Bisa TikTok-an Saat Pesawat di Udara

American Airlines belum lama ini mengumumkan kemitraan barunya dengan TikTok. Ini memungkinkan setiap penumpang maskapai di rute-rute pendek menggunakan armada pesawat narrowbody, bisa mengakses konten-konten TikTok (TikTok-an) saat dalam penerbangan (on board) secara gratis.

Baca juga: Pengguna TikTok Guyur Kaki Penumpang yang Naik ke Sandaran Kursi Pesawat

TikTok sejak pertama kali hadir sampai saat ini memang terus booming di Amerika Serikat (AS). Meski pamornya sempat meredup di era Presiden Donald Trump akibat masuk daftar hitam entitas bisnis asal Cina, tetapi, di era Presiden Joe Biden, itu dibatalkan dan pamor aplikasi jejaring sosial dan platform video musik tersebut kembali melesat.

Dalam beberapa riset, warga AS bahkan disebut lebih banyak menghabiskan mengakses TikTok dibanding Instagram, yang notabene lahir dan besar di AS. Tak ayal, dengan kondisi tersebut, American Airlines kukuh untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan pengembang aplikasi asal Cina itu untuk memungkinkan penumpang mengakses TikTok saat pesawat di udara.

Dilansir dari Simple Flying, agar bisa mengakses TikTok di udara, mula-mula, seluruh penumpang harus menghubungkan ponsel masing-masing ke WiFi “AA-Inflight” terlebih dahulu. Andaipun sinyal WiFi on board AA-Inflight tidak terbaca di ponsel penumpang, mereka bisa membuka aainflight.com dan mengakses portal WiFi.

Setelah itu, pengguna yang sudah mengunduh aplikasi TikTok sebelumnya bisa langsung menikmati konten-konten di aplikasi tersebut. Bagi yang belum, penumpang bisa mengunduhnya terlebih dahulu. Itu sah-sah saja, tetapi tidak lebih simpel dibanding penumpang yang sudah mengunduh sebelum terbang.

Setiap penumpang diberi kesempatan untuk mengakses TikTok secara gratis selama 30 menit. Setelahnya, akan ada notifikasi bahwa akses WiFi on board penumpang sudah habis. Penumpang bisa saja memilih melanjutkan TikTok-an dengan membayar WiFi premium.

Perlu dicatat, WiFi on board yang tersedia di penerbangan American Airlines, dalam program ini, hanya bisa digunakan untuk mengunduh dan mengakses konten-konten di TikTok, tidak untuk penggunaan lain di luar itu.

Sebelum ini, sebetulnya keberadaan WiFi on board tidak banyak berguna di penerbangan. Sebab, tingkat kecepatannya sangat rendah. Jadi, tidak bisa menonton video di Instagram dan TikTok atau aplikasi sejenis dengan nyaman.

Tetapi setelah menjalin kemitraan bersama perusahaan teknologi, Viasat, penumpang American Airlines bisa mengakses WiFi on board dengan cepat.

“WiFi yang lebih cepat memungkinkan kami untuk memberikan pilihan hiburan dalam penerbangan yang berbeda dan berinvestasi dalam kemitraan inovatif dengan platform seperti TikTok,” kata Clarissa Sebastian, Managing Director Premium Customer Experience and Onboard Products American Airlines.

Baca juga: Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin

“Pelanggan memainkan peran utama dalam membantu kami lebih memahami konten apa yang mereka inginkan selama pengalaman penerbangan mereka dan TikTok adalah salah satu platform yang mereka sukai di lapangan, dan kami senang bekerja dengan Viasat untuk memberikan pelanggan akses gratis ke TikTok saat mereka ‘ berada di udara juga,” lanjutnya.

American Airlines diketahui sudah sejak beberapa tahun belakangan menghilangkan layar In-Flight Entertainment (IFE) di belakang kursi. Sebagai gantinya, penumpang diberi keleluasaan untuk streaming berbagai video, musik, film, games, dan lainnya yang telah disediakan maskapai.