Stasiun Kuno Yusubaru Punya Bangunan Terbuat dari Kayu dengan Usia Lebih dari 100 Tahun

Bukan hanya kota besar yang dilintasi kereta api, tetapi pedesaan di Jepang pun tak asing dengan jalur lintasan si kuda besi. Beberapa di antaranya bahkan memiliki keunikan dan cerita tersendiri. Meski tidak seramai di perkotaan, tetapi jalur kereta di pedesaan menghadirkan ketenangan serta suasana yang lebih kuno.

Baca juga: Merasakan Nostalgia Satu Abad Lalu di Stasiun Mojiko Jepang

KabarPenumpang.com melansir laman soranews24.com (5/8/2021), Stasiun Yusubaru Kyushu yang terletak di prefektur Fukuoka merupakan salah satu stasiun di pedesaan yang memiliki suasan kuno dan menawan. Stasiun ini juga merupakan stasiun dengan bangunan kayu tertua di Kyushu dan dibuka pada Agustus 1895.

Bahkan dalam foto, tidak terlihat adanya mesin penjual otomatis di Stasiun Yusubaru tersebut. Di atas pintu masuk stasiun terdapat papan kecil dari kayu dengan nama stasiun secara lengkap ‘Stasiun Kereta Api Heisei Chikuho Yusubaru’. Di atas bangku di sebelah kiri ada tanda kayu lain, dengan tanda yang menunjuk ke ruang bagasi di sebelah kanan, dan ke area parkir sepeda di sebelah kiri.

Tanda tersebut menggunakan karakter kanji kuno untuk jitensha (sepeda), berlawanan dengan cara penulisan modern. Perbedaan kecil, tetapi bukti lebih lanjut tentang berapa umur stasiun ini. Area tunggu di stasiun juga menampilkan karakter kanji kuno untuk ‘papan pesan’ dan digunakan sebagai pengganti , yang saat ini digunakan. Kanji kuno dimaksudkan untuk dibaca dari kanan ke kiri.

Pada tahun 1895, papan ini digunakan oleh penduduk setempat untuk bertukar pesan. Bahkan, papan pesan Stasiun Yusubaru sekarang menampilkan poster dan informasi tentang sejarah stasiun. Dalam stasiun ada jadwal kereta yang tertera dan mungkin bagi orang perkotaan di Tokyo atau kota besar di Jepang lainnya pasti bingung karna tidak tahu artinya.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, jadwal tampaknya untuk stasiun lain sepenuhnya. Jadwal sebenarnya ada di poster merah-biru di sebelah kiri pintu masuk. Mungkin, tapi alasan yang lebih mungkin adalah bahwa stasiun itu sebenarnya digunakan sebagai lokasi syuting untuk drama Tokyo Tower: Mom and Me, and Sometimes Dad.

Stasiun Yusubaru terutama digunakan di masa lalu untuk membantu mengangkut batu bara. Karena stasiun setelah Yusubaru semuanya menurun, kereta bank dilepas di sini sebelum kereta lainnya melanjutkan perjalanannya.

Pemandangan yang dihadirkan saat naik kereta dari stasiun ini pun indah dan hanya ada pada kereta api pedesaan. Meski sudah berusia lebih dari 100 tahun, Stasiun Yusubaru masih terpelihara dengan sangat baik.

Baca juga: Stasiun Seiryu Miharashi di Jepang, Stasiun Unik Tanpa Pintu Keluar

Stasiun ini juga tidak memiliki staf khusus, shingga ucapan terima kasih harus diberikan kepada penduduk setempat dan sukarelawan kereta api yang datang untuk membersihkannya sehingga kondisinya seperti sekarang ini. Jika Anda berada di daerah Fukuoka dan ingin menikmati sedikit sejarah Jepang yang menyenangkan, pastikan untuk mengunjunginya!






















Bermasalah, Qatar Airways Kandangkan 13 Unit Airbus A350, Al Baker Murka!

Qatar Airways terpaksa meng-grounded seluruh armada Airbus A350 miliknya. Keputusan itu datang setelah ditemukan masalah pada badan pesawat di bawah permukaan cat, saat salah satu armada menjalani proses pengecatan livery World Cup 2022 (Piala Dunia 2022) di Irlandia, awal tahun ini.

Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000

“Dengan perkembangan terakhir ini, kami sangat berharap bahwa Airbus menangani masalah ini dengan penuh perhatian,” kata Akbar Al Baker, CEO Qatar Airways dalam keterangan resminya kepada KabarPenumpang.com.

“Qatar Airways tidak akan menerima apa pun selain pesawat yang terus beroperasi. menawarkan kepada pelanggannya standar keselamatan setinggi mungkin dan pengalaman perjalanan terbaik yang layak mereka dapatkan,” tambahnya.

“Qatar Airways mengharapkan Airbus telah menetapkan akar permasalahan dan secara permanen memperbaiki kondisi yang mendasarinya demi kepuasan Qatar Airways dan regulator kami sebelum kami melakukan pengiriman lebih lanjut Pesawat A350,” lanjutnya.

Secara terpisah, Al Baker nampaknya cukup geram dengan masalah ini. Sebetulnya bukan karena masalah yang terjadi pada pesawat, sebab itu biasa. Tetapi lebih kepada sikap Airbus dalam merespon insiden ini.

Dikutip dari Simple Flying, Airbus disebut menganggap masalah pada Airbus A350 Qatar Airways sebagai persoalan biasa dan tak perlu dikhawatirkan. Selain itu, Airbus terkesan lamban dan malas-malasan dalam menangani masalah ini. Dua hal itu yang pada akhirnya membuat Al Baker murka.

“Sayangnya saya tidak bisa menjelaskan detailnya. (Airbus) mengabaikan fakta bahwa ada masalah serius dengan yang kami hadapi dengan (A350). Mereka hanya mencoba bermalas-malasan dan menyeret kaki mereka alih-alih bekerja nyata dan memecahkan masalah yang dimiliki pesawat mereka,” jelasnya.

Sebagai grup maskapai yang juga menjadi pemegang saham mayoritas di beberapa maskapai lain, seperti nternational Airlines Group dan LATAM, Qatar Airways diduga akan mempengaruhi maskapai lain yang juga satu grup dengannya agar menggrounded pesawat serupa. Tetapi, itu dibantah langsung oleh Al Baker.

“Saya tidak ingin mempengaruhi maskapai mana pun, kami hanya pemegang saham strategis. Ketika mereka tahu bahwa Qatar Airways memiliki masalah, tentu saja hal itu juga membuat mereka heran. Mereka ingin tahu apa masalahnya karena mereka juga menerbangkan pesawat yang sama,” ujarnya.

“Masalah itu tidak hanya unik untuk kami. Saya yakin masalah yang kita miliki saat ini akan tercermin dalam pesawat yang mereka terbangkan karena mereka adalah operator 350,” tutupnya.

Baca juga: (Video) Pilot Ungkap Ruang Tersembunyi di Bawah Kokpit Airbus A350!

Menanggapi masalah ini, Airbus mengaku sudah berkomunikasi dengan Qatar Airways. Hanya saja, produsen pesawat asal Eropa itu tak ingin mengungkapnya lebih jauh.

“Sebagai produsen pesawat terkemuka kami selalu melakukan pembicaraan/bekerja sama dengan pelanggan kami. Pembicaraan itu kami rahasiakan. Kami tidak memiliki komentar lebih lanjut tentang operasi pelanggan kami,” singkatnya.

Bukti Ketatnya Karantina Mandiri di Singapura, Swab Antigen Sendiri dan Ditelepon Petugas Tiap Hari

Singapura dikenal ketat dalam melakukan berbagai pencegahan dan penularan Covid-19. Saking ketatnya, negara tersebut bahkan sampai tidak menghitung warga yang sudah divaksin Sinovac (yang notabene keampuhannya masih dipertanyakan) ke dalam data capaian vaksinasi nasional.

Baca juga: Bepergian ke Singapura Saat PPKM Level 4-Pembatasan Sosial (Di Singapura), Ini Tahapannya

Tak cukup sampai di situ, otoritas Singapura juga ketat melakukan screening terhadap warga negara asing yang hendak masuk; terlebih yang berasal dari Indonesia. Sesampainya di sana dan menjalani karantina mandiri selama 14 hari, otoritas tidak kendur dan selalu mengawasi tamu asing dengan ketat.

Ketatnya Singapura terhadap pelancong dirasakan sendiri oleh salah satu kontributor KabarPenumpang.com. Saat ini, ia masih menjalani masa karantina mandiri 14 hari di fasilitas khusus yang telah disediakan.

Melengkapi artikel sebelumnya tentang pengalaman bepergian ke Singapura saat PPKM Level 4 di Indonesia dan pembatasan sosial level 2 (darurat) di sana, mulai dari keberangkatan sampai tiba di bandara dan menjalani karantina mandiri, selama menjalani itu, tamu asing yang akan masuk ke Singapura tidak dilepas begitu saja. Hal ini tentu berbeda dengan yang terjadi di Indonesia.

Sedikit informasi, beberapa waktu lalu, warganet ramai mengeluh tentang penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, dalam hal ini terkait layanan kepada warga yang isolasi mandiri. Selama isoman, banyak warga yang tidak mendapat perhatian dari pemerintah melalui Puskesmas atau RS terdekat. Jauh dibandingkan dengan di Singapura.

Seleberan yang dari Kementerian Kesehatan Singapura untuk wisatawan yang jalani karantina mandiri. Foto: Istimewa

Di Singapura, pengalaman kami baru-baru ini selama menjalani masa karantina mandiri (SHN), terus diawasi secara ketat. Di sini, pelancong dibekali dengan box swab masing-masing berisi dua atau total empat alat tes. Sebetulnya hanya butuh tiga, namun dilebihkan satu untuk jaga-jaga. Alat self test swab tersebut wajib digunakan pada hari ke-3, 7, dan 11.

Tata cara penggunaannya pun bisa dilihat di booklet yang ada di box swabnya. Pengguna juga bisa melihat video melalui scan barcode dari selebaran yang diberikan Kementerian Kesehatan Singapura (MoH).

Tak begitu saja percaya dengan guideline booklet dan video tutorial cara melakukan tes swab antigen mandiri, petugas dari MoH beberapa kali akan melakukan panggilan video untuk melihat kondisi wisatawan serta cara menggunakan alat tes swab secara langsung. Petugas hotel atau tempat pelancong menjalani karantina mandiri juga menelepon setiap hari untuk menanyakan kondisi terkini pasien.

Baca juga: Singapura Siapkan Vending Machine yang Hadirkan Masker Gratis

Sesudah melakukan tes swab antigen sendiri, hasilnya kemudian diunggah di web yang bisa diakses dengan mengklik link yang dibagikan petugas.

Setelah masa karantina mandiri 14 hari usai, wisatawan diwajibkan melakukan tes PCR ulang dengan biaya sekitar S$160 (Rp1,7 juta), melengkapi S$220 (Rp2,3 juta) yang sudah lebih dahulu dikeluarkan untuk PCR dan swab antigen (negara lain hanya PCR, khusus kedatangan Indonesia wajib ditambah swab antigen) saat tiba di Bandara Internasional Changi.

Uji Coba Lintasan Sukses, Kereta dari Bandara Internasional Yogyakarta Beroperasi 17 Agustus 2021

Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) saat ini sudah tersambung dengan jalur kereta. Ini nantinya akan memudahkan para penumpang yang akan menuju ke kota Yogyakarta dan sekitarnya lebih mudah karena bisa langsung naik kereta dari bandara.

Baca juga: Di Tengah Hembusan Angin Laut Selatan, Proving Flight Berlangsung Sukses di Bandara Internasional Yogyakarta

Pada Kamis (5/8/2021) kemarin, PT Kereta Api Indinesia (KAI) melakukan uji coba lintasan kereta api dari YIA menuju ke Kulon Progo dengan Jalur Stasiun Kendundang – Stasiun YIA. Uji coba yang dilakukan adalah pengecekan jalur lanjutan dengan lokomotif yang telah dilaksanakan sebelumnya pada 19 Juli 2021.

Mendukung perjalanan kereta yang memudahkan penumpang ini, PT Angkasa Pura I (AP I) membangun peron seluas empat ribu meter persegi dengan kapasitas 200 orang. Saat ini pengerjaan peron tersebut juga sudah mencapai 96 persen.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Stasiun KA Bandara YIA ini juga telah dilengkapi dengan overcapping peron sepanjang 200 meter dan lebar 20 meter dengan progress pekerjaan yaitu 75 persen. Target penyelesaian pekerjaan stasiun kereta api bandara secara keseluruhan adalah 14 Agustus 2021 dan dilanjutkan dengan pengoperasian KA Bandara yang rencananya dilakukan mulai tanggal 17 Agustus 2021.

Stasiun YIA nantinya akan terhubung dengan Stasiun Tugu Yogyakarta untuk mengakomodir penumpang pesawat yang menggunakan angkutan kereta api.

“Alhamdulillah uji coba lintasan Kereta Api Bandara YIA oleh KAI hari ini berjalan lancar. Angkasa Pura I menargetkan pengerjaan stasiun kereta api Bandara YIA dapat selesai pada 14 Agustus sehingga pengoperasian KA Bandara YIA dapat dilakukan oleh KAI pada 17 Agustus mendatang. Nantinya, Stasiun YIA akan terhubung dengan Stasiun Tugu Yogyakarta untuk mengakomodir penumpang pesawat yang menggunakan angkutan kereta api,” ujar Direktur Utama AP I Faik Fahmi yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Kehadiran kereta api bandara ini akan meningkatkan aksesibilitas YIA, sehingga calon penumpang memiliki alternatif moda transportasi dengan jarak tempuh yang lebih cepat, lebih kurang 36 menit dari kota Yogyakarta. Nantinya, calon penumpang dapat lebih mudah untuk melakukan perjalanan dari dan ke YIA.

Dengan beroperasinya kereta api bandara, YIA menjadi bandara dengan konektivitas dan moda transportasi pendukung yang lengkap dan terintegrasi (kereta api bandara, shuttle bus, bus DAMRI, taksi, dan angkutan darat lainnya). YIA juga dapat menjadi bandara yang mampu mengakomodir kebutuhan transportasi dengan konektivitas yang tidak hanya mencakup wilayah Yogyakarta, namun juga sampai ke ujung batas wilayah Jawa Tengah (Cilacap, Purwokerto, Kebumen dan Banjarnegara).

Baca juga: Stasiun Kedundang di Yogyakarta, Punya Arsitektur Bersejarah Tinggi

“Kami berharap ini dapat memberikan kemudahan kepada pengguna jasa bandara, setidaknya ada alternatif jarak tempuh, waktu, dan jenis moda transportasi. Komitmen untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pengguna jasa bandara akan terus diwujudkan, sehingga pengguna jasa dapat melakukan perjalanan udara dengan nyaman, aman, dan sehat. Kami tetap menghimbau kepada masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan, sehingga kita semua dapat tetap saling jaga, karena pandemi masih ada,” ujar Faik Fahmi.






















Penyidik Akhirnya Ungkap Sebab Pesawat Air France Tersesat dan Nyaris Tabrak Gunung

Setelah enam tahun, Biro d’Enquêtes et d’Analyses Perancis (Biro Penyelidikan dan Analisis, disingkat BEA) akhirnya mengungkap penyebab pesawat Boeing 777 Air France tersesat dan nyaris menabrak gunung berapi di Kamerun, Afrika.

Baca juga: Apa Yang Terjadi Jika Pesawat Anda Tersambar Petir?

Insiden Triple Seven Air France nyasar dan nyaris celaka tersebut terjadi pada 2 Mei 2015 silam.

Ketika itu, pesawat tengah menjajaki rute segitiga dari Bandara Charles de Gaulle Paris Perancis ke Bandara Internasional Malabo Saint Isabel (SSG) Guinea Khatulistiwa di Pulau Bioko, berlanjut ke Bandara Internasional MD-Douala (DLA) di negara tetangga (Guinea Khatulistiwa) Kamerun.

Catatan FlightGlobal, pesawat Boeing 777-200ER yang teregistrasi sebagai F-GSPG itu dihujani badai petir (cuaca buruk) sepanjang 40 menit penerbangan. Tentu, dalam kondisi seperti ini, pilot mencari jalur lain dari yang sudah ditetapkan.

Dalam kondisi normal, rute Malabo-Douala biasanya terbang ke timur menuju daratan Afrika sebelum berbalik arah untuk mendekati kota terbesar di Kamerun, membentuk jalur, kurang lebih, seperti simbol palu arit.

Sampai di sini, sejatinya pesawat sudah didesain untuk menghadapi banyak kondisi ekstrem, salah satunya cuaca buruk (kabut, badai, hujan, petir, dan lain sebagainya). Terbukti, riset menunjukkan hanya 10 persen kecelakaan pesawat disebabkan faktor cuaca. Itupun tidak tunggal, biasanya dibarengi dengan faktor lain seperti human error, kegagalan teknik, dan pilot error.

Meski begitu, cuaca buruk, utamanya awan cumulonimbus, lebih sering dihindari pilot ketimbang menghadapinya. Itulah yang coba dilakukan pilot Boeing 777 Air France Mei 2015 lalu.

Sayangnya, walau sudah dilengkapi kompas, gyroscopic, naviagasi satelit, dan up-link data cuaca, pesawat tersesat jauh ke timur laut Kamerun dari jalur yang sudah ditetapkan.

Setelahnya, kru kokpit pun dibuat bingung antara gema radar dan gema cuaca pada layar pesawat. Hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan pilot salah membaca lokasi.

Percaya bahwa mereka aman dari sebuah gunung setinggi 4.000 mdpl yang terletak di barat daya Kamerun, pilot lantas berbelok ke kanan dan bersiap landing di Doula.

Padahal, yang terjadi justru sebaliknya, pesawat mendekat ke barat laut gunung dan membuatnya sangat dekat.

Baca juga: Pernah Dengar Cara Kerja Radar Cuaca di Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Saking dekatnya, pilot mengatakan bahwa mereka dapat membedakan pohon yang ada di sekitar gunung. Beruntung, alarm ‘Pull Up!!’ Enhanced Ground Proximity Warning System (EPGWS) berbunyi dan langsung direspon pilot, membawa pesawat ke atas dan menjauh dari gunung.

Pesawat akhirnya bisa mengantar 23 penumpang dan 14 kru mendarat dengan selamat di bandara tujuan. Meski begitu, BEA mengkategorikan penerbangan ini sebagai CFIT: Controlled flight into or toward terrain dan mencari cara agar penerbangan serupa tak terulang.

Vandalisme dan Pencopetan Terjadi di Fasilitas TransJakarta

Rasanya aksi vandalisme sering kali terjadi dan sasarannya lebih banyak pada sarana dan pra sarana moda transportasi di Jakarta. Belum lama ini tepatnya pada 31 Juli kemarin salah satu pra sarana yang menjadi aksi vandalisme adalah papan petunjuk atau signage totem milik TransJakarta di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Baca juga: Panic Button di Bus TransJakarta, Jadi Pengganti “Kiri Bang….”

Dalam foto di akun Instagram milik @jktinfo, seorang PPSU kelurahan Bangka, Jakarta Selatan terlihat membersihkan coretan liar di papan petunjuk TransJakarta. Karena hal ini, Kepala Divisi Sekper dan Humas PT TransJakarta Angelina Betris menyayangkan aksi vandalisme tersebut.

Pihaknya juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas upayang yang dilakukan oleh PPSU kelurahan Bangka untuk membersihakn coretan di signage totem tersebut.

“Kami mengajak semua masyarakat untuk terus menjaga setiap fasilitas publik dan bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk kenyamanan masyarakat,” ujar Betris ketika dihibungi KabarPenumpang.com, Kamis (5/8/2021).

Selain vandalisme terhadap signage totem, pada tanggal 2 Agustus kemarin, seorang penumpang bus TransJakarta terkena copet ketika akan turun di Halte GOR Sumantri, Jakarta Selatan. Pencopetan tersebut terkam kamera CCTV bus dan pihak TransJakarta sudah melihat video viral di media sosial itu dan tengah melakukan penyelidikan yang terjadi di dalam armada mereka.

“Kami tengah menyelidiki peristiwa pencopetan di salah satu bus TransJakarta yang viral di media sosial itu. Tntunya kami juga bekerja sama dengan pihak berwenang,” ujar Betris.

Baca juga: Mulai Hari ini, Penumpang TransJakarta dan MRT Jakarta Wajib Tunjukkan STRP Sebelum Melakukan Perjalanan

Dalam video tersebut, akun @warungjurnalis menuliskan caption “Terekam Aksi Pencurian di Busway.” Dalam body teks juga tertulis, bahwa penumpang yang dicopet mengharapkan KTP, Sim, ATM hingga kartu vaksin kembali dalam 3×24 jam atau akan dilaporkan kepada pihak berwajib.






















DHL Express Pesan 12 Pesawat Kargo Listrik Alice Eviation, Bisa Terbang Tanpa Pilot!

DHL Express mengumumkan pemasanan 12 pesawat all-electric Alice eCargo buatan Eviation. Bila tak ada badai menghadang, perusahaan jasa pengiriman kargo itu bisa mulai mengoperasikan pesawat listrik tanpa nirawak atau tanpa pilot ini pada tahun 2024 mendatang.

Baca juga: Mampukah Pesawat Bertenaga Listrik Geser Kedigdayaan Pesawat Komersial?

Travis Cobb, Executive Vice President (EVP) Global Network Operations and Aviation DHL Express, mengatakan, dipilihnya Alice sebagai langkah konkret maskapai meningkatkan dekarbonisasi atau mengurangi karbon dioksida di setiap penerbangan, setidaknya didasari oleh dua hal; jangkauan dan kapasitas (baterai).

“Pujian saya untuk Eviation atas pengembangan inovatif pesawat Alice yang sepenuhnya elektrik. Dengan jangkauan dan kapasitas Alice, ini adalah solusi berkelanjutan yang fantastis untuk jaringan global kami,” jelasnya, seperti dikutip dari greencarcongress.com.

“Aspirasi kami adalah untuk memberikan kontribusi substansial dalam mengurangi jejak karbon kami, dan kemajuan dalam armada dan teknologi ini akan sangat membantu dalam mencapai pengurangan karbon lebih lanjut. Bagi kami dan pelanggan kami, ini adalah langkah yang sangat penting dalam perjalanan dekarbonisasi kami dan langkah maju untuk industri penerbangan secara keseluruhan,” tambahnya.

Tak seperti start-up teknologi lainnya yang mengembangkan wahana, drone, taksi udara, atau pesawat listrik hanya untuk penerbangan berpenumpang, Eviation juga mendesain Alice e-Cargo sebagai pesawat listrik ramah lingkungan untuk pangsa pasar kargo; bahkan Extended-Range (ER) Executive Aircraft yang rencananya akan dirilis pada tahun 2023.

Bila dalam konfigurasi penumpang Alice bisa mengangkut sampai sembilan penumpang dengan kecepatan 444 km per jam sejauh 1.046 km, Alice e-Cargo disebut mampu mengangkut beban 1,2 ton sejauh 815 kilometer per sekali pengisian daya.

Alice hanya membutuhkan sekitar 30 menit untuk sekali pengisian daya. Dengan begitu, proses bongkar muat dan pengisian baterai bisa selesai bersamaan untuk efektivitas waktu.

Pesawat listrik Alice ini juga digadang mampu beroperasi di seluruh kondisi, layaknya pesawat konvensional yang ada saat ini.

Yang paling menarik tentu datang dari dua propeller atau motor canggih Alice. Disebutkan, motor listrik pesawat buatan perusahaan teknologi asal Israel ini mampu membuat penerbangan jadi sangat hemat. Itu berkat dukungan operating software yang selalu memantau penerbangan untuk memastikan efisiensi optimal.

Efisiensi tersebut mampu menekan biaya penumpang per-mil setidaknya hingga empat kali lebih rendah ketimbang pesawat listrik lainnya.

Alice sebetulnya bisa dioperasikan tanpa satupun pilot alias pilotless, terutama pada penerbangan kargo. Tetapi, 12 unit Alice yang dipesan DHL didesain tetap ada pilot sekalipun satu (single pilot).

Baca juga: Perkenalkan Alice, Pesawat Nirawak Bertenaga Listrik Mahakarya Eviation!

Pesawat listrik Alice rencananya akan mulai terbang perdana pada akhir tahun 2021 mendatang. Perusahaan mengkategorikan ini sebagai taksi udara. Dengan begitu, bisa dibilang, Alice menjadi taksi udara listrik terbesar di dunia.

Demikian juga jika Alice dikategorikan sebagai drone, ia akan jadi drone penumpang terbesar dengan jangkauan terjauh dan tercepat di dunia. Letak perbedaan dengan drone atau taksi udara lain mungkin pada teknik penerbangannya saja. Bila pada umumnya menggunakan teknik VTOL atau vertical take-off and landing, Alice justru sebaliknya.

Gara-gara Karantina, Pilot Frustasi Tak Bisa Bantu Cari Ayah Mertua

Rasa sedih belum hilang setelah meninggal ibu mertuanya, pilot ini harus frustasi karena ayah mertuanya hilang. Ini membuat pilot bernama Ryan Harris harus frustasi karena hal tersebut. Apalagi saat dia tiba di Inggris pria asal Worcester tersebut dipaksa untuk tinggal di karantina.

Baca juga: Alert! Cathay Pacific Lakukan ‘Tsunami’ PHK Pilot di Seluruh Dunia

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (31/7/2021), saat itu Harris kembali ke Inggris dari Qatar setelah ibu mertuanya meninggal. Dia harus menjalani karantina di sebuah hotel ketika tiba dan mendapat kabar ayah mertuanya hilang dari Victoria sang istri.

Dia menghubungi Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial untuk mengajukan banding atas dasar belas kasih dan diberitahu oleh staf hotel di hotel bahwa dia dapat mengharapkan tanggapan dalam waktu 24 jam. Meskipun upaya berulang kali untuk menghubungi departemen, dia tidak mendengar informasi lebih lanjut sampai tujuh jam sebelum masa isolasi sepuluh hari berakhir, ketika permintaannya ditolak.

“Semua permintaan keadaan luar biasa dipertimbangkan dengan cermat dan tim selalu berusah menyeimbangkan kebutuhan orang yang melamar dengan prioritas utama mereka untuk melindungi publik,” ujar juru bicara Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial.

Harris mengatakan dia memanjat tembok karena tidak dapat membantu keluarganya dan penjaga pantai mencari Bob Cuthbertson. Kemudian dalam pencarian tersebut mobil Cuthbertsin ditemukan di sebelah tambang bekas di gunung Holyhead beberapa hari setelah dia menghilang. Dia mengatakan, keluarga percaya, pria 82 tahun itu, “bingung dengan kesedihan”, mengambil nyawanya sendiri. Harris mengatakan, dia “merasa benar-benar putus asa” di kamar hotelnya.

“Istri saya putus asa, dia hanya membutuhkan saya di sana. Dia baru saja menguburkan ibunya dua minggu sebelumnya dan sekarang dia baru saja kehilangan ayahnya,” katanya.

Baca juga: Kasihan, Gegara Karantina Kejam di Hong Kong, Jumlah Penumpang Cathay Pacific Turun 94 Persen

Ibu mertuanya Anne Cuthbertson, yang tinggal di Holyhead, Anglesey, meninggal pada bulan Juni setelah didiagnosis menderita kanker. Kapten Harris kembali ke Inggris dari daftar merah Qatar, tempat dia bekerja di akademi terbang, mendarat di London Heathrow pada 17 Juli.






















Seberapa Jauh Pesawat Bisa Terbang Saat Mesin Rusak-Kehabisan Bahan Bakar di Udara?

Penumpang pada umumnya khawatir terhadap turbulensi saat pesawat di udara. Tetapi, sedikit dari mereka yang khawatir bahan bakar pesawat habis atau seluruh mesin rusak di tengah penerbangan. Memang, khawatir terhadap hal itu terdengar aneh.

Baca juga: Mengenang Kisah Gimli Glider, Pendaratan Darurat Pasca Pesawat Kehabisan Bahan Bakar di Ketinggian 41 Ribu Kaki

Namun, ketika itu sungguh terjadi, bagaimana dengan pesawat, apakah tetap bisa terbang sejauh puluhan atau ratusan kilometer atau seketika jatuh bak batu dari ketinggian?

Sejak era penerbangan modern dimulai pada abad ke-20, berbagai insiden atau peristiwa di dunia penerbangan kerap terjadi; termasuk mesin rusak dan bahan bakar habis saat pesawat berada di ketinggian.

Pada 22 Juli 1983, pesawat Air Canada Boeing 767 dalam penerbangan dari Montreal ke Edmonton via Ottawa, Kanada, mengalami masalah.

Kapten Robert Pearson, 48 tahun, dengan pengalaman 15.000 jam terbang, dan kopilot Maurice Quintal, 36 tahun, dengan waktu terbang 7.000 jam, mendapati bahwa alarm tekanan bahan bakar rendah pesawat yang dikemudikannya tiba-tiba berbunyi dan kehabisan bahan bakar di ketinggian 41 ribu kaki atau 12 kilometer dari permukaan tanah.

Parahnya lagi, habisnya bahan bakar membuat semua mesin serta panel instrumen kokpit elektronik mati. Saat itu, Boeing 767-200 memang jadi salah pesawat jet pertama yang mengadopsi sistem instrumen penerbangan elektronik yang didukung oleh mesin. Praktis, ketika mesin mati, panel juga ikut mati.

Untungnya, turbin udara ram (RAT) cukup untuk memberi daya pada instrumen penerbangan darurat dalam mendukung proses pendaratan. Hanya saja, itu tidak termasuk vertical speed indicator yang menunjukkan kecepatan pesawat dan lokasi dimana pesawat harus mendarat.

Tak hanya itu, lokasi pendaratan di Gimli, Pangkalan Angkatan Udara bekas perang dunia yang sudah beralih fungsi jadi lokasi balapan mobil, berjarak 20 mil lebih dekat daripada Winnipeg, tengah diadakan balapan drag dan dipadati oleh banyak orang.

Minimnya informasi pendaratan -akibat panel instrumen kokpit mati- tak membuat Kapten Robert Pearson menyerah. Dengan pengalamannya menerbangkan glider (pesawat tanpa mesin) saat mengikuti pelatihan di angkatan bersenjata AS, Kapten Robert Pearson, mampu menerbangkan pesawat Air Canada di udara tanpa mesin.

Kapten Robert Pearseon, mampu mendaratkan pesawatnya di bekas markas angkatan udara Kanada di Gimli, Manitoba. Seluruh penumpang pesawat Air Canada yang berjumlah 69 orang berhasil selamat. Hanya sedikit dari mereka mengalami luka-luka ringan.

Dari peristiwa Gimli Glider, yang berarti pesawat terbang glider (tanpa dorongan mesin) dan mendarat di Gimli, pertanyaan di awal sudah terjawab, setidaknya pesawat mampu terbang sejauh beberapa mil tanpa daya dorong dari mesin.

Dalam kondisi seluruh mesin mati, baik karena kehabisan bahan bakar atau mesin rusak, pesawat tetap terbang bak meluncurnya mobil menuruni sebuah turunan dalam keadaan mati mesin dan tanpa rem tangan. Hanya saja, sejauh mana pesawat meluncur bergantung banyak faktor.

Setiap pesawat tentu memiliki rasio terbang yang berbeda, artinya mereka akan kehilangan ketinggiannya dalam tingkat yang berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi seberapa jauh pesawat bisa terbang tanpa dorongan mesin.

Contohnya, jika sebuah pesawat memiliki rasio angkat dan tarikan 10:1, maka untuk setiap 10 mil (16 kilometer) pesawat kehilangan ketinggian satu mil (1,6 kilometer).

Baca juga: Apa Jadinya Kalau Semua Mesin Mati Saat Pesawat di Udara?

Pesawat biasanya terbang di ketinggian 36 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer, jadi pesawat yang kehilangan kedua mesinnya masih bisa terbang sejauh sekitar 112 kilometer sebelum sampai ke permukaan tanah.

Pilot veteran John Cox punya pandangan berbeda terkait ini. Dalam sebuah tulisan di USA Today, pesawat kehabisan bahan bakar atau seluruh mesinnya mati saat di ketinggian 30.000 kaki (9.144 meter) disebutnya mampu terbang sejauh 161 kilometer, lebih dari cukup untuk terbang ke bandara terdekat dan mendarat darurat.

Jelang Terbang Perdana 8 Agustus, Super Air Jet Beberkan Filosofi Seragam Super Crew

Super Air Jet siap terbang perdana pada 8 Agustus mendatang. Menjelang inaugural flight-nya tersebut, Direktur Utama Super Air Jet, Ari Azhari, membeberkan filosofi mengapa maskapai menggunakan warna khaki sebagai warna utama seragam kru, mulai dari pramugari sampai pilot.

Baca juga: Bersiap Terbang Perdana, Enam Rute Super Air Jet Fokus Wilayah Indonesia Barat

“Identitas paling unik ialah penggunaan warna ‘khaki’ pada setiap motif besutan seragam. Filosofi ini berasal dari warna tanah dan turunan warna kulit orang Asia yang mayoritas dijumpai di Indonesia dan beberapa negara lain,” jelasnya dalam keterangan rismi perusahaan yang diterima KabarPenumpang.com.

Selain itu, ia menilai, penggunaan warna bumi (gradasi antara warna cokelat dan putih) oleh kru Super Air Jet juga memberikan berbagai kesan positif, seperti natural (kalem), hangat, menenangkan, bersahabat, energik, dan penuh ceria.

Penentuan warna seragam, lanjutnya, juga melibatkan kategori turunan warna emas, yang melambangkan kesuksesan atau pencapaian prestasi, kemuliaan, dan kemakmuran.

Ini pada akhirnya mendorong setiap Super Crew (sebutan kru Super Air Jet) senantiasa terdorong untuk terus maju dan berwawasan luas seiring melayani sepenuh hati (totalitas).

Itu dari segi warna, dari pemilihan corak casual pada seragam pramugari dan pramugara juga memiliki makna tersendiri.

Disebutkan, seragam casual oleh kru Super Air Jet merupakan adaptasi dari pakaian millenial sehari-hari, di samping itu memang nyaman digunakan untuk beraktivitas, sambil tetap menarik perhatian.

Dengan kombinasi seragam casual Super Crew dan warna khaki, warna bumi, dan warna emas, ditambah bahan berkontur tebal yang dibuat mengenakan resleting (tanpa kancing), pengembangan semi model jaket lengan panjang berkerah pendek dan digulung hingga pergelangan tangan, pada akhirnya itu melambangkan tren pakaian masa kini (fashionable).

Lanjut ke bawah, celana panjang model lurus namun digulung hingga di atas mata kaki, dilengkapi karet elastis pada ban pinggangnya, dihiasi pelengkap sejumlah kantong di bagian samping, juga memiliki muatan makna tertentu.

Pemakaiannya mirip dengan backpack hanya saja bagian pinggang menggunakan tali serut (tanpa ikat pinggang).

Dengan demikian ini mencerminkan potongan makin muda, santai, dinamis. Warna yang lembut (soft) dari warna cokelat ini juga membuat penampilan Super Crew terlihat keren, elegan, simple, serta jadi salah satu cara Super Air Jet melestarikan kain.

Semua itu kemudian dilengkapi dengan sepatu dan tas selempang (khusus pramugari) yang digunakan Super Crew. Pramugari dan pramugara Super Air Jet diketahui memakai sepatu sneakers, salah satu jenis sepatu paling populer di kalangan anak muda, berwarna putih.

Baca juga: Wow, Harga Tiket Super Air Jet Lebih Murah dari Lion Air dan AirAsia! Ini Detailnya

Bagi pramugari, itu dipadukan dengan tas selempang (half moon bag) yang juga berwarna putih, sehingga nampak terang dan terkesan smart-casual.

Semua itu, pemilihan warna dan seragam, dari atasan sampai sepatu, tentu sesuai dengan target pasar Super Air Jet yang lebih fokus pada millenial, baik itu traveler maupun pebisnis muda.