Jadi Keluarga Pesawat Terlaris di Dunia, Ternyata Boeing 737-100 Paling Tak Laku Gegara Kekecilan

Boeing 737 berhasil mencatatkan diri sebagai pesawat pertama dalam sejarah penerbangan dunia yang berhasil membukukan 100 juta lebih jam terbang, pada 27 Januari 2002. Mengingat keluarga Boeing 737 masih terus eksis sampai saat ini, bukan tak mungkin keluarga 737 akan mencetak rekor jam terbang jauh lebih tinggi dari sekedar 100 juta lebih.

Baca juga: Berapa Banyak Pesawat Boeing 737 All Series yang Masih Terbang dan dalam Pesanan?

Kendati demikian, generasi pertama pesawat tersebut, yaitu Boeing 737-100, di masa lalu ternyata nyaris gagal dipasaran. Betapa tidak, dengan ekspektasi tinggi, pesawat justru hanya terjual 30 unit. Penyebabnya mungkin banyak, tetapi, masalah dimensi dinilai cukup menentukan.

Boeing 737-100 berhasil terbang perdana pada April 1967. Debut perdananya terjadi pada Februari 1968 bersama Lufthansa dan United Airlines selang sehari menggunakan seri yang lebih panjang, 737-200. Adapun seri klasik 737-300 dan -400 pertama kali terbang mulai Februari 1984, diikuti seri klasik berikutnya Boeing 737-500.

Kehadiran Boeing 737 -yang notabene merupakan pengembangan versi murah dari Boeing 707 dan Boeing 727- dengan kapasitas dan jarak yang lebih rendah, dinilai cocok untuk memenuhi kebutuhan maskapai.

Tak ayal, sekalipun pernah melempem di era pemberlakuan aturan ETOPS atau “60-minute rule” pada dekade 70an, keluarga Boeing 737 terus melesat di pasar narrowbody hingga angka penjualannya tak terkejar oleh para kompetitor, seperti keluarga Airbus A320, keluarga A321, McDonnell Douglas MD-80, McDonnell Douglas DC-9, hingga Bombardier CRJ200.

Ditelisik dari jumlah penjualan, tentu Boeing 737 generasi pertama jauh lebih unggul. Sebab, saat itu, belum ada pesaing yang sepadan. Adapun seri klasik mulai mendapat tantangan berat dari Airbus yang lahir beberapa tahun selang seri klasik 737-300 dan -400 lahir. Tetapi, pada akhirnya 737 tetaplah juaranya.

Setelah hampir 53 tahun mengudara, setidaknya ada hampir 10 ribu pesawat keluarga Boeing 737 yang beroperasi, mulai dari generasi pertama, seri klasik, 737NG atau Next Generation, sampai seri teranyar 737 MAX, yang tersebar di seluruh dunia. Jumlah itu sudah termasuk pesawat yang masih dalam pesanan.

Meski menjadi keluarga pesawat tersukses di dunia, baik dari segi penjualan maupun jam terbang, dimasa lalu, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, program Boeing 737 nyaris gagal di awal karena dianggap terlalu kecil.

Boeing 737-100 diketahui memiliki panjang 28.63 m. Pesawat ini bahkan masih jauh lebih kecil dibanding pesawat narrowbody twinjet terkecil Airbus, A318, dengan panjang 31,44 m.

Pesawat asli Boeing 737 juga lebih kecil dibanding Embraer E170, Airbus A220 (Bombardier C-Series), dan Douglas DC-9.

Boeing 737-100 juga menjadi pesawat narrowbody terkecil di dunia, termasuk mengalahkan pesawat Boeing lainnya. Boeing 727-100 terkecil memiliki panjang 40,59 m. Boeing 737 MAX 7, varian terkecil MAX, memiliki panjang 35,56 m.

Baca juga: Hari ini, Boeing 737 Jadi Pesawat Pertama dalam Sejarah yang Cetak 100 Juta Lebih Jam Terbang

Tak ayal, saking kecilnya dimensi panjang pesawat, baik generasi pertama, seri klasik, 737NG atau Next Generation, maupun seri anyar MAX, tak ada satupun yang kembali ke desain awal Boeing 737-100.

Meski begitu, industri penerbangan terus berputar. Saat rute point-to-point kembali bergairah setelah pandemi virus Corona, mungkin, pesawat dengan dimensi sekecil Boeing 737-100 akan semakin diminati.

Ini Alasan Anak 12 Tahun Tak Diizinkan Naik Kereta Api Jarak Jauh

Anak usia di bawah 12 tahun dilarang untuk bepergian menggunakan kereta api. Aturan pelarangan tersebut mulai diberlakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada 29 Juli kemarin. Ada pun aturan baru ini diberlakukan untuk mendukung pelaksanaan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM dan pencegahan penularan virus corona pada anak usia di bawah 12 tahun.

Baca juga: Enam Tips Aman Bawa Anak Naik Pesawat, Nomor Empat Sering Dilupakan Orang Tua

Kepala Humas PT KAI daerah operasional (Daop) 1 Jakarta Eva Chairunnisa mengatakan, aturan tersebut sebagai bentuk komitmen PT KAI. Aturan tersebut dikatakan Eva akan berlaku pada penumpang kereta jarak jauh melalui Stasiun Gambir, PasarSenen, Bekasi, Karawang dan Cikampek. Meski begitu, Eva menambahkan, anak yang kurang dari 12 tahun diperbolehkan naik KAJJ dengan alasan mendesak

“Mereka mesti membawa bukti berupa surat keterangan dari pemerintah setempat, rumah sakit atau sekolah,” ujar Eva yang dikutip dari berbagai laman sumber.

Dalam hal keperluan mendesak dicontohkan Eva seperti anak tersebut mengikuti perlombaan di luar kota atau melakukan pengobatan. Ada pun ketentuan perjalanan KAJJ lain yang wajib diperhatikan penumpang adalah setiap calon penumpang wajib menunjukkan hasil negatif periksaan covid-19 untuk PCR berlaku 2×24 jam dan antigen 1×24 jam sejak pengambilan sampel.

Penumpang sebelum keberangkatan wajib menunjukkan kartu vaksin minimal dosis pertama dalam bentuk kartu atau e-sertifikat. Bila penumpang belum divaksin dengan alasan medis, harus ada surat keterangan dari dokter spesialis dan menunjukkan hasil pemeriksaan covid-19.

Selain itu penumpang juga harus dalam kondisi sehat tidak flu, batuk, pilek, hilang daya penciuman, diare, demam dan suhu tubuh tak lebih dari 37,7 derajat Celcius. Penumpang pun tetap menggunakan masker medis ataupun kain yang melapisi masker medis.

Hingga saat ini PT KAI hanya menjual tiket 70 persen dari kapasitas masing-masing KAJJ ini. “Pelanggan yang tidak memenuhi persyaratan, maka tidak diperkenankan untuk melakukan perjalanan dan tiket akan dikembalikan 100 persen,” lanjut Eva.

Baca juga: Ikuti Langkah India, PT KAI Mudahkan Layanan Angkutan Oksigen dan Tabung Kosong

Untuk physical distancing, KAI hanya menjual tiket 70 persen dari kapasitas maksimal tempat duduk KAJJ. Pelanggan juga tetap wajib mematuhi protokol kesehatan serta menerapkan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, baik saat berada di stasiun maupun selama dalam perjalanan.






















Inilah Elemento Economy, Kursi Kelas Ekonomi Masa Depan dengan Sederet Keunggulan

Dibanding kursi kelas bisnis dan first class, kursi kelas ekonomi jelas lebih sedikit mendapat sentuhan baru. Kondisi ini pun dilirik oleh supplier interior asal Italia, Geven, menggandeng firma desain desain kenamaan dunia asal Inggris, PriestmanGoode, untuk meluncurkan Elemento economy, kursi nyaman di kelas ekonomi.

Baca juga: Airbus dan Layer Kembangkan Kursi Kelas Ekonomi dengan Material Tekstil Pintar

Sekilas, Elemento economy nyaris sama saja dengan kursi kelas ekonomi yang ada saat ini. Di bagian atas kursi, hanya ada adjustable privacy headrest, fitur baru yang membuat penumpang lebih nyaman menyandarkan kepala di kursi dan lebih private dari penumpang di samping berkat headrest tambahan di sebelah kanan dan kiri kepala.

Tetapi, jika dilihat secara detail, baik Geven maupun PriestmanGoode mengklaim banyak fitur baru yang membuatnya digadang sebagai kursi kelas ekonomi masa depan.

“Pengetahuan dan semangat Geven untuk mendorong pengembangan kursi memungkinkan kami untuk mengintegrasikan tingkat kualitas dan penyelesaian akhir yang lebih tinggi dan akan memungkinkan mereka menjadi pemimpin kelas baru dengan keluarga kursi generasi berikutnya ini,” kata Daniel MacInnes, Direktur Desain di PriestmanGoode, seperti dilansir Simple Flying.

“Kami mengembangkan bahan dan hasil akhir yang dipesan lebih dahulu, dan arah gaya baru, berdasarkan garis terintegrasi yang bersih,” jelasnya.

“Sebagai desainer penerbangan, senang bisa bekerja sama dengan Geven. Kami bekerja dengan maskapai penerbangan dan produsen badan pesawat di seluruh dunia, jadi kami tahu apa yang diperlukan untuk menyesuaikan kursi, kami tahu apa yang diinginkan klien dan penumpang, dan bagaimana kami dapat menambahkan sentuhan unik pada produk standar untuk membuatnya menonjol,” tambahnya.

“Apa yang kami buat dengan kolaborasi ini adalah produk khusus untuk Geven yang memungkinkan klien mereka untuk beradaptasi dan menyesuaikannya dengan mudah dengan kebutuhan mereka sendiri. Kami senang melihat kursi pertama terungkap,” lanjutnya.

Elemento economy didesain untuk mendukung pengalaman baru dalam penerbangan jarak jauh. Kursi ini menggabungkan fungsionalitas dengan kontur yang lebih halus.

Meski nampak tak ada bedanya dengan kursi kelas ekonomi pada umumnya, namun, ketika kursi disentuh sampai diduduki, barulah berbagai kenyamanan baru yang dijanjikan jelas terasa.

Kursi kelas ekonomi Elemento disebut memilikifitur sistem artikulasi panel kursi ‘Wave’ yang sudah dipatenkan. Ini menjamin posisi duduk lebih ergonomis dan nyaman yang sangat dibutuhkan penumpang dalam penerbangan jarak jauh.

Baca juga: Busa Kursi Baru Berteknologi Tinggi Bikin Berat Pesawat Turun Drastis!

Di bagian seatback, fitur own integrated lighting juga memudahkan penumpang membaca saat lampu kabin dimatikan. Selain itu, ada pula fitur adjustable holders untuk memuat ponsel, tablet, dan gelas.

Elemento economy sendiri merupakan bagian dari program Next Generation perusahaan. Selain kursi terbaru kelas ekonomi, perusahaan juga akan meluncurkan kursi terbaru kelas premium, premium plus, dan kelas bisnis akhir tahun ini.

Pramugari Emirates Berdiri di Puncak Burj Khalifa, Apa Tujuannya?

Belum lama ini, viral video pramugari Emirates berdiri di puncak gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa, Dubai Uni Emirat Arab. Tetapi, apa tujuannya?

Baca juga: Ruwet, Ternyata Ini Alasan Uni Emirat Arab Punya Banyak Bandara Internasional

Dalam sebuah tayangan video yang diunggah di YouTube channel Emirates, pramugari, yang mengenakan seragam lengkap, nampak berdiri di puncak gedung tertinggi yang pernah dibuat manusia itu, sambil memegang papan bertuliskan, ‘Moving the UAE to the UK amber list has made us feel on top of the world. Fly Emirates, fly better’.

Sekilas, jelas video tersebut merupakan iklan Emirates. Bahkan, iklan tersebut digadang menjadi salah satu iklan di tempat tertinggi yang pernah dibuat. Namun, maksud apa di balik itu yang masih menjadi teka-teki sampai sang CEO membeberkannya.

Sir Tim Clark, Presiden Emirates, mengatakan tujuan dari pembuatan iklan ekstem di ketinggian 828 meter itu untuk menunjukkan kepada dunia bahwa maskapai selalu melayani penumpang dan memastikan keselamatan mereka.

Konteks keselamatan di sini tentu selain dari aspek teknis penerbangan, salah satunya pesawat dalam kondisi laik terbang saat beroperasi, juga terkait erat dengan perlindungan penumpang dari virus Corona.

“Ketenangan dan kepercayaan diri awak kabin yang Anda lihat di iklan adalah perwujudan tim garis depan kami, melayani pelancong dan memastikan keselamatan mereka,” jelasnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Tak hanya itu, salah satu iklan tertinggi yang pernah dibuat di dunia tersebut juga memiliki kesan tersendiri. Disebutkan, sejak gedung 162 lantai resmi dibuka pada 4 Januari 2010 itu terasa spesial karena tidak semua orang yang diizinkan membuat film atau syuting di puncak Burj Khalifa.

Sejauh ini, baru ada dua yang diizinkan naik ke puncak Burj Khalifa; Tom Cruise dan Putra Mahkota Dubai, H.H Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid Al Maktoum.

“Kami bangga menjadi salah satu dari segelintir orang istimewa yang diizinkan membuat film di puncak Burj Khalifa oleh Emaar dan bahkan lebih bangga lagi bahwa kami dapat memamerkan kota kami yang indah, Dubai,” tambah Clark.

Baca juga: Kisah Naila, Pramugari Emirates yang Banting Setir Jadi Barista Starbucks

Di awal ide pembuatan iklan ini tercetus, sebetulnya Emirates sudah melakukan casting ke seluruh pramugari. Tetapi, hasil yang didapat tak sepeti yang dibayangkan. Pada akhirnya diputuskan peran pramugari dalam iklan tersebut dilakoni oleh skydiver Amerika Serikat, Nicole Smith Ludvik.

Sebagai seorang skydiver, Nicole Smith tentu sudah terbiasa dengan ketinggian. Meskipun teknisnya berbeda. Itulah mengapa dalam iklan tersebut, ‘pramugari’ Emirates nampak sangat gagah dan mantap berdiri sungguhan di puncak tertinggi Burj Khalifa, bukan green screen.

Kaleng Isi Makanan Sudah Biasa, Tapi Kaleng Isi Batu Rel Jadi Suvenir Baru Luar Biasa

Rasanya bukan hanya maju di dunia teknologi, tapi Jepang benar-benar memiliki beragam hal unik yang mungkin tak bisa ditemukan di negara lain. Seperti ketika seorang pelancong yang juga penumpang kereta api, ketika memasuki sebuah mini market akan menemukan makanan atau minuman yang dijual. Namun bagaimana jika ada batu yang dijual dalam kaleng?

Baca juga: Bikin Sensasi, Idola Muda Jepang Pamer Kekuatan Tarik dan Lepas Kereta di Stasiun

Ini mungkin akan membuat bingung, tetapi hal unik ini ada di kota Choshi prefektur Chiba di Jepang yang memiliki jalur lokal kereta listrik Choshi. Ini adalah jalur sepanjang 6,4 km dan satu-satunya jalur yang dioperasikan oleh perusahaan kereta api listrik Choshi milik swasta setelah penurunan tajam dalam pelanggan dan mulai bisnis makanan untuk mensubsidi operasinya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari soranews24.com, perusahaan kereta listrik ini bahkan menghasilkan lebih banyak uang dari berbagai penjualan makananya yakni manisan dan makanan ringan seperti kerupuk nasi senbei dibanding tiket kereta. Tetapi ternyata ada pula batu yang dikumpulkan dari rel dan dijual dalam kaleng seperti layaknya makanan kaleng.

Batu dalam kaleng ini ada disebuah toko diseberang Terminal Bus JR Express di pintu keluar selatan Yaesu di Stasiun Tokyo. Toko ini menyediakan berbagai macam produk dari Choshi Electric, termasuk nure senbei (kerupuk nasi basah) yang terkenal dan paku anjing, yang digunakan untuk memperbaiki bantalan di rel kereta api.

Untuk menemukan batu dalam kalengan tidaklah sulit dan per kalengnya dijual sekitar 550 yen atau sekitar Rp71 ribu. Kaleng berisi batu ini memiliki label produk layaknya makanan kaleng dengan detial tidak biasa yakni dengan nama produk batu (kerikil), bahan pembuatan adalah batu berusia lebih dari 50 tahun dengan tanggal menggunakannya adalah keabadian.

Tempat produksinya pun ditulis Stasiun Kereta Listrik Choshi Nakanocho dengan kolektornya Presiden Kereta Listrik Choshi Takemoto. Ini pun bukan kesalahan, batu di dalam kaleng dikumpulkan secara pribadi oleh Katsunori Takemoto yang merupakan presiden dari perusahaan kereta itu.

Untuk membuktikan keaslian produk di dalamnya, label tersebut menyertakan foto seorang karyawan kereta api yang mengumpulkan batu dari rel di Stasiun Nakanocho. Sentuhan pribadi pada kaleng membuat perubahan yang bagus untuk semua suvenir buatan pabrik lainnya di pasar.

Batu yang usianya lebih dari 50 tahun tersebut berbentuk mulus dan tak ada warna hitam atau minyak yang menempel saat digunakan di rek kereta untuk kelancaran perjalanan. Batu dipoles dengan indah dan terasa enak di kulit, dengan tepi bulat yang telah dihaluskan setelah beberapa dekade di rel kereta api.

Mengetahui sejarah di balik batu itu memberinya daya pikat khusus yang membuatnya sepadan dengan uang yang dibayarkan untuk itu. Di dalam kaleng batu itu ada selembar kertas bertuliskan “Railway Omikuji” (Keberuntungan Kereta Api”). Salah satu keberuntungannya adalah “daikichi”, yang merupakan tingkat keberuntungan tertinggi yang dapat Anda terima, dan itu datang dengan pesan manis “Bepergian dengan aman”.

Baca juga: Jumlah Penumpang Menurun, Operator Kereta Jepang Jajakan Cemilan Unik nan Nyeleneh!

Sungguh melegakan mengetahui bahwa bongkahan batu ini, yang dulu terletak di luar ruangan di bawah kereta api yang berat dan kebisingan, sekarang telah diberikan rumah yang hangat dan tenang untuk beristirahat. Ini tentu saja salah satu suvenir paling aneh yang bisa dibeli di Jepang.






















BMW Hadirkan Dynamic Cargo E-trike yang Tak Perlu Dilipat Ketika Naik Eskalator

Desainer BMW Group Research telah kembali ke papan gambar mikromobilitas untuk dua konsep baru yaitu Dynamic Cargo e-trike dan kickscooter listrik Clever Commute. BMW juga di masa lalu beberapa kali memiliki konsep mikromobilitas tetapi sebagian besar tak jauh dari tahap konsep.

Baca juga: Uready, Skuter Roda Tiga yang Bisa Dibelokkan

Namun, X2City dan Concept Link telah berhasil diproduksi, BMW jelas tidak akan membuat Dynamic Cargo atau Clever Commute, tetapi sedang dalam pembicaraan dengan produsen lain untuk melisensikan desain sehingga mereka mungkin belum melihatnya di beberapa titik di masa depan.

“Tujuan kami adalah mengembangkan konsep yang mempertahankan kelincahan dan nuansa berkendara dari sepeda biasa sambil menambahkan pilihan transportasi yang inovatif dan aman,” kata Jochen Karg, Kepala Konsep Kendaraan di divisi Teknologi Baru  BMW China.

Dia mengatakan, ‘Concept Dynamic Cargo’ adalah sepeda kargo ‘pick-up’ dinamis pertama yang menggabungkan kesenangan berkendara dengan penggunaan yang fleksibel dan peningkatan kesesuaian sepanjang tahun. Nantinya sepeda tersebut memiliki rangka e-trike kargo dan menyatu dengan bagian belakang.

Di mana poros memungkinkan pengendara untuk bersandar ke sudut, sementara bagian belakang tetap tegak. BMW Mengatakan, pengaturan ini akan menawarkan stabilitas berekendara yang lebih besar di semua kondisi cuaca dibandingkan dengan desain kendaraan roda dua.

KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (26/7/2021), area kargo tidak miring ke belokan, sejumlah modul ruang kargo dapat dibuat dengan contoh BMW termasuk mengamankan kursi anak di atas kotak kargo. Selain itu memasang platform tempat tidur datar, melipat kursi malas untuk istirahat berhenti di taman lokal, atau bahkan mengikat papan selancar dan menuju ke pantai.

Konsep Dynamic Cargo memiliki roda depan berjari-jari dan roda belakang kokoh, yang terakhir digerakkan oleh powertrain listrik yang secara otomatis memberikan bantuan segera setelah pengendara mulai mengayuh. Mengingat status desain awal, tidak ada rincian spesifik tentang penggerak listrik tetapi jika hal ini dibuat untuk pasar Eropa, maka Anda dapat mengharapkannya untuk memberikan bantuan hingga 25 km (15,5 mph).

BMW memang menyebutkan bahwa paket baterai yang dapat dilepas harus baik untuk lebih dari 20 km per pengisian daya. Render yang disediakan juga menunjukkan rem cakram di bagian depan, spatbor di setiap roda dan kursi sepeda yang dapat disesuaikan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak adanya sabuk atau rantai yang menghubungkan engkol ke roda belakang.

Kickscooter listrik Clever Commute telah dirancang sebagai pendamping jarak jauh, dengan BMW mengajukan konsep ini untuk model kepemilikan pribadi dan mobilitas bersama. Ini terlipat ke proporsi yang kompak untuk transportasi antar wahana, dan meskipun dimensi sebenarnya belum dibagikan, BMW menganggap bahwa itu akan muat memanjang di bagasi Seri 3 dan kendaraan di atas tanpa perlu melipat tempat duduk belakang.

Baca juga: Triggo EV – Sepeda Listrik dengan Empat Roda, Bisa Ditarik Bila Parkir

Perancang BMW juga telah menyarankan mode transportasi umum baru di mana dek muncul dan roda belakang berputar pindah ke celah yang dibuat untuk memperpendek panjang keseluruhan. Sehingga pengguna pintar dapat naik eskalator tanpa harus dilipat, atau mungkin terjepit di celah sempit di kereta yang penuh sesak.






















(Eksklusif) Inside Tupolev Tu-144: Pesawat Supersonik Pertama di Dunia Sebelum Concorde

Lahir dua bulan lebih dahulu (dibanding Concorde) sebagai pesawat penumpang supersonik pertama, tak menjadi jaminan kesuksesan Tupolev Tu-144. Setelah serangkaian kecelakaan, Kamis, 1 Juni 1978, menjadi akhir dari cerita heroik pesawat dengan kecepatan maksimum 2.430 km/jam tersebut. Uniknya, bila pesawat Concorde hasil dari gabungan teknologi dua negara, Perancis dan Inggris, Tupolev Tu-144 murni sebagai mahakarya tunggal Uni Soviet kala itu.

Baca juga: Tupolev “Concordski” T-114 – Jiplakan Concorde Yang Kalah Digdaya

Pesawat supersonik Tupolev Tu-144 yang tersisa, interiornya sedikit diubah menjadi semacam museum mini yang menunjukkan awal mula program sampai akhir dari perjalanan pesawat ini. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Tupolev Tu-144 berhasil terbang perdana pada 31 Desember 1968. Tercatat dua bulan lebih awal dari Concorde. Keberhasilan penerbangan ini menjadi kado tahun baru bagi Uni Soviet ketika itu.

Dengan menjadi yang pertama dalam persaingan menciptakan penerbangan supercepat di samping dengan teknologi sendiri alias tidak berbagi terkonologi dengan negara lain, patutlah Uni Soviet berbesar kepala. Terlebih, kala itu, terdapat geliat bahwa Concorde akan tak sesuai ekspektasi, baik dari segi waktu penciptaan maupun performanya.

Kabin dan kursi penumpang Tupolev Tu-144. Leg room tanpak sangat lega bukan? Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Selain itu, Tupolev Tu-144 bukan hanya menjadi yang pertama sebagai pesawat supersonik yang berhasil terbang, melainkan juga sebagai penyandang untuk pertama kalinya yang dapat mencapai kecepatan supersonik atau empat bulan lebih awal dari Concorde pada Juni 1969. Kejumawaan Soviet pun semakin menjadi.

Seperti dilansir Britannica, pesawat ini mulai diperkenalkan ke Moscow pada Mei 1970. Dalam produksinya, Tu-144 memiliki panjang 65,7 meter dan lebar sayap 28,8 meter. Kecepatannya hampir sama dengan Concorde buatan Inggris dan Perancis.

Penerbangan penumpang terjadwal dimulai pada 1977. Pesawat ini mengangkut surat antara Moskwa dan ibu kota Kazakhtan, Alma-Ata (sekarang Almaty).

Dapur pramugari pesawat supersonik Tupolev Tu-144. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Dua tahun kemudian ia mengangkut penumpang pertamanya di rute yang sama. Penerbangan 3.200 kilometer hanya memakan waktu sekitar dua jam, dua kali lebih cepat dari yang biasa.

Kala itu, pembuat Tu-144 punya rencana besar untuk dalam pengembangan teknologi supersoniknya. Namun, pesawat ini kalah pamornya ketimbang Concorde. Jalur udara pesawat ini terhubung dari Moskwa ke seluruh dunia termasuk Eropa, Jepang, dan Kuba.

Pada 1977, beberapa sumber menyatakan bahwa Uni Soviet meminta bantuan negara Barat untuk membantu mereka dengan sistem manajemen mesin dan BAC-Aerospatiale untuk bantuan dalam mendesain pipa udara udara pada Tupolev Tu-144.

Sekalipun leg room penumpang lega, namun tidak demikian dengan leg room kursi pramugari. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Kemudian, pada 1978, mereka meminta lebih banyak lagi informasi mengenai teknologi Concorde seperti peralatan pemadam kebakaran hingga berbagai peralatan canggih.

Akan tetapi, Pemerintah Inggris justru memveto permintaan ini, karena teknologi itu dapat digunakan dalam pesawat militer dan dianggap berbahaya.

Toilet pesawat supersonik Tupolev Tu-144. Sulit membayangkan penumpang menggunakan toilet saat pesawat tengah ngebut di kecepatan Mach 2. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Selanjutnya, karena keterbatasan teknologi, mengingat bantuan teknologi Concorde yang diajukan oleh Uni Soviet ditolak mentah-mentah, pesawat yang dijuluki Konkordski atau Concordski (Concorde dari Rusia) tersebut kemudian dalam perjalannya mengalami beberapa masalah serius yang tak terpecahkan.

Perlahan tapi pasti, ketakutan terhadap pesawat fenomenal tersebut mulai membesar hingga dunia internasional mulai kehilangan kepercayaan kepada pesawat mahakarya Uni Soviet tersebut.

Kokpit pesawat supersonik Tupolev Tu-144. Foto: Sumit Singh | Simple Flying

Karena masalah yang teramat besar dan beberapa kali berujung pada kecelakaan, terutama kecelakaan di ajang Paris Air Show 1973, menewaskan enam orang di pesawat dan delapan orang penonton, Tupolev Tu-144 pun harus mengakhiri karir mengangkut penumpang setelah hanya beberapa tahun mengudara (1978).

Baca juga: Eksklusif: Foto Kabin Penumpang Concorde Saat Ngebut Secepat Kilat Menuju New York
Pesawat supersonik pertama di dunia yang berhasil diproduksi 16 unit (dimiliki oleh Aeroflot dan masing-masing satu oleh Kemenhub Rusia dan NASA) itu akhirnya benar-benar resmi masuk ingatan dunia penerbangan internasional dengan resmi pensiun pada 1990 setelah membawa kargo. Karirnya yang lebih cepat dua bulan harus dibalas dengan tragis, lebih cepat empat tahun untuk pensiun ketimbang Concorde.

Saat ini, United Aircraft Corporation (UAC) Rusia sedang menggarap proyek pembuatan pesawat supersonik penggati Tupolev. Kita tunggu saja, kapan itu akan terwujud, mengingat perusahaan AS beberapa di antaranya juga sedang mengembangkan pesawat supersonik, salah satunya Boom Supersonic.

Industri Penerbangan Loyo, ‘Warren Buffet-Nya’ India Malah Dirikan Maskapai Ultra LCC Baru

Miliarder India, Rakesh Jhunjhunwala, dikabarkan tuntas mendirikan maskapai baru di segmen ultra LCC, Akasa Airlines. Tak tanggung-tanggung, miliarder yang dijuluki ‘Warren Buffet-nya’ India tersebut sampai menggandeng mantan CEO IndiGo dan Jet Airways, Aditya Ghosh, serta mantan petinggi maskapai Delta Airlines, Vinay Dube, untuk mensukseskannya.

Baca juga: SpiceJet, Maskapai LCC dengan Reputasi Buruk Pada Pemeliharaan Rute

Kepada Bloomberg, Rakesh berencana mengguyur maskapai baru tersebut sebesar Rp503 miliar untuk kepemilikan saham sebesar 40 persen. Bila tak ada aral melintang, ia berharap segera mendapat no-objection certificate dari Kementerian Perhubungan India dalam 15 hari ke depan.

Maskapai ultra LCC baru Akasa Airlines selama empat tahun ke depan didesain mengoperasikan sekitar 70 pesawat berkapasitas 180 penumpang. Tetapi, tak disebutkan pesawat apa yang dimaksud.

Teka-teki pesawat apa yang bakal digunakan Akasa Airlines pun disebut oleh beberapa pakar sebagai ajang pertarungan antara dua produsen pesawat terbesar di dunia, siapa lagi kalau bukan Boeing dan Airbus.

“Akan ada pertarungan besar antara Airbus dan Boeing,” kata Nitin Sarin, Managing Partner firma hukum Sarin & Co, yang menasihati lessor dan maskapai penerbangan.

“Bagi Boeing, ini adalah kesempatan besar untuk masuk dan meningkatkan jangkauan mereka, mengingat mereka tidak memiliki operator besar lain untuk pesawat 737 mereka di India selain SpiceJet,” lanjutnya.

Menurut berbagai kabar yang beredar, Boeing disebut bakal mendapat pesanan dari maskapai dan menjadi salah satu kesepakatan pembelian pesawat terbesar tahun ini di luar Amerika Serikat.

Boeing sendiri menolak berkomentar. Tetapi, mereka menegaskan bahwa pihaknya selalu mencari peluang kapanpun dan dimanapun, bertemu operator, memberi beberapa masukan, dan menawarkan pesawat untuk kebutuhan operasionalnya.

Setelah bangkrutnya Jet Airways dua tahun lalu, maskapai LCC di India praktis menyisakan empat pemain; IndiGo, SpiceJet, GoFirst, dan AirAsia India. Dari keempat maskapai itu, mayoritas menggunakan pesawat-pesawat Airbus.

Adapun Boeing hanya mengambil ceruk 18 persen (sebelumnya 35 persen atau 570 pesawat saat Jet Airways masih beroperasi) dari keempatnya.

Baca juga: Wow, Harga Tiket Super Air Jet Lebih Murah dari Lion Air dan AirAsia! Ini Detailnya

Saat ini, seluruh maskapai India tercatat memiliki 900 pesanan pesawat. Dari jumlah tersebut, 185 di antaranya adalah pesawat Boeing 737 dan 710 sisanya adalah beragam tipe pesawat-pesawat Airbus.

Kendati India memiliki prospek tinggi di industri penerbangan, tetapi, Sarin mengingatkan, sulit berbisnis di kondisi seperti sekarang ini, ditambah ruwetnya regulasi dan berbagai hal negatif lainnya.

Karantina 14 Hari di Singapura, Pasangan YouTuber Mantap Bikin Konten Begini

Masih dalam serial trip ke Singapura, mulai dari keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta sampai jalani karantina mandiri 14 hari, kali ini redaksi akan mengulas seputar aktivitas yang dilakukan selama karantina. Apa saja?

Baca juga: Bukti Ketatnya Karantina Mandiri di Singapura, Swab Antigen Sendiri dan Ditelepon Petugas Tiap Hari

Belum lama ini, seorang pria Singapura bernama Vicky dikabarkan rela merogoh kocek sebesar S$10.000 atau sekitar Rp 106 juta (kurs Rp10.583) untuk menghadirkan PC gaming ke kamar hotel tempatnya karantina mandiri.

Aftershock PC, selaku seller menyebut, PC gaming tersebut sebetulnya sudah dibeli Vicky sebelum menjalani karantina. Jadi, PC gaming dengan liquid cooling, monitor ultra wide layar melengkung, mouse nirkabel, keyboard mekanik, dan headphone tersebut tidak betul-betul dibeli untuk persiapan karantina mandiri.

Setelah PC gamingnya hadir di kamar, pasti sudah ketebak bukan aktivitas hari-hari Vicky selama karantina. Yup, main games.

Selain Vicky, kontributor kami yang saat ini masih menjalani masa karantina mandiri 14 hari di Singapura, mengaku beraktivitas seperti biasa. Tidur, makan, mandi, streching, kerja, dan sebagainya. Satu mungkin yang spesial, yaitu mendekorasi ruangan.

14 hari berada di dalam kamar atau ruangan yang tak disenangi bukan waktu yang sebentar, bukan? Itulah yang menjadi dasar mengapa kamar sampai didekor sedemikian rupa hingga membuatnya nyaman.

Lain lagi dengan YouTubers ci Titan dan ko Gaius. Pasangan suami-istri yang tinggal di Indonesia dan Singapura itu nampak sangat enjoy menjalani karantina sambil membuat konten-konten menarik.

Sejauh ini, keduanya sudah membuat beberapa konten tentang daily activity selama karantina di sana, mulai dari bangun tidur, sarapan, make up, mencicipi makanan ringan dari Indonesia, review barang-barang bawaan, yoga, dan banyak lagi.

Selain itu, keduanya juga mereview proses melakukan tes swab antigen mandiri selama karantina, sesuatu yang tak ditemui di Indonesia. Sebagai informasi, self test swab tersebut wajib digunakan pada hari ke-3, 7, dan 11.

Setiap WN Singapura ataupun WNA yang menjalani karantina mandiri 14 hari di Singapura dibekali dengan box swab masing-masing berisi dua atau total empat alat tes. Sebetulnya hanya butuh tiga, namun dilebihkan satu untuk jaga-jaga.

Dalam reviewnya, Gaius, yang mengajari cara penggunaan self tes swab antigen ke Titan, menyebut, alat tersebut harus dimasukkan ke setiap lubang hidung sedalam 2 cm.

Di setiap lubang putar sebanyak 4 kali. Setelahnya, masukan alat tersebut ke dalam botol kecil yang telah disediakan, aduk 4 kali, letakkan botol ke tempat semula, diamkan alat tes swab antigennya di sana selama 1 menit, kemudian keluarkan dan masukkan alat tes lainnya (sejenis alat tes kehamilan) ke dalam botol tadi, diamkan selama 10 menit, dan hasilnya pun keluar.

Baca juga: Penumpang dari Indonesia Tiba di Changi ‘Tak Lagi’ Dilayani dengan Garbarata, Ini Sebabnya!

Guna memastikan prosesnya benar, petugas dari MoH beberapa kali juga akan melakukan panggilan video untuk melihat kondisi wisatawan serta cara menggunakan alat tes swab secara langsung. Petugas hotel atau tempat pelancong menjalani karantina mandiri juga menelepon setiap hari untuk menanyakan kondisi terkini pasien.

Sesudah melakukan tes swab antigen sendiri, hasilnya kemudian diunggah di web yang bisa diakses dengan mengklik link yang dibagikan petugas.

Tangkis Bosan Selama Karantina Mandiri, Pria Singapura Beli PC Gaming Rp100 Juta Lebih

Singapura, sejak pandemi mewabah tahun lalu, mewajibkan karantina mandiri (Stay at Home Notice, SHN) selama 14 hari kepada siapapun yang datang. Tak hanya itu, negara kecil tetapi kaya raya ini juga tak segan menindak sesuai hukum yang berlaku manakala terdapat pelanggaran selama menjalani proses karantina mandiri.

Baca juga: Bukti Ketatnya Karantina Mandiri di Singapura, Swab Antigen Sendiri dan Ditelepon Petugas Tiap Hari

Masih segar dalam ingatan ketika seorang pilot komersial asal Amerika Serikat (AS) dijatuhi hukuman penjara empat pekan dan denda S$10 ribu atau setara Rp104 juta oleh otoritas Singapura pada 13 Mei 2020 silam.

Ketika itu, Brian Dugan Yeargan, terbukti telah melanggar peraturan Infectious Diseases (Covid-19 – Stay Orders) Regulations atau kebijakan untuk tetap di rumah saja (karantina mandiri).

Saat itu, 5 April sekitar pukul 11.15 waktu setempat, ia terdeteksi melanggar peraturan lockdown atau karantina mandiri dengan meninggalkan hotel Crowne Plaza Changi Airport tempatnya menginap.

Menindaklanjuti dugaan tersebut, seorang petugas ICA pun mengecek ke hotel tersebut sekitar 15 menit setelah Yeargan pergi dan menemukan ia tidak berada di tempat.

Insiden itu pun ramai diperbincangkan dan diberitakan oleh media dalam maupun luar negeri. Tentu, itu menjadi warning bagi siapapun agar tetap mengikuti aturan yang ada.

Tetapi, menjalani karantina mandiri selama 14 hari memang bukan perkara mudah dan butuh inisiatif lebih untuk melaluinya, seperti yang baru-baru ini terjadi.

Dikutip dari Mothership.sg, seorang pria Singapura bernama Vicky dikabarkan rela merogoh kocek sebesar S$10.000 atau sekitar Rp106 juta (kurs Rp10.583) untuk menghadirkan PC gaming ke kamar hotel tempatnya karantina mandiri.

Aftershock PC, selaku seller menyebut, PC gaming tersebut sebetulnya sudah dibeli Vicky sebelum menjalani karantina. Jadi, PC gaming dengan liquid cooling, monitor ultra wide layar melengkung, mouse nirkabel, keyboard mekanik, dan headphone tersebut tidak betul-betul dibeli untuk persiapan karantina mandiri.

Ketika hendak dikirim oleh perusahaan, Vicky sedang berada di luar negeri dan pengiriman pun tertunda.

“Berdasarkan permintaan, kami membantu mempertemukan kembali Vicky dengan PC Ultracore berpendingin air, lengkap dengan periferal gaming,” tulis Aftershock dalam unggahannya.

Baca juga: Apes! Keluar Hanya Beli Masker, Pilot AS Kena Penjara 4 Minggu Gegara Langgar Perintah Lockdown di Singapura

Vicky pun akhirnya meminta Aftershock PC agar mengirimkan PC gaming seharga ratusan juga tersebut ke kamar hotelnya dan nampaknya ia sangat senang sekali.

“Terima kasih banyak untuk Aftershock dan khususnya Mark untuk koordinasinya dengan seluruh proses demi membawa PC ke kamar saya,” tulis akun dengan handle @vickygoesnuts.