Stasiun Yumegaoka Disebut “Bukit Harapan” dan Tiketnya Jadi Jimat Keberuntungan

Stasiun Yumegaoka yang terletak di kota Izumi Ward Yokohama merupakan stasiun yang paling jarang digunakan di Jalur Sotetsu. Ini karena sebagian besar kota belum berkembang dan hanya sekitar 2.200 orang yang melewati gerbang jika dirata-rata per tahun.

Baca juga: Stasiun Jepang Tanpa Petugas, Penyandang Disabilitas Terancam Kesulitan Bepergian dengan Kereta

KabarPenumpang.com melansir soranews24.com (9/7/2021), stasiun ini dibuka tahun 1999, tujuan visual untuk stasiun ini adalah desain yang bersih dan ramping yang menggugah air jernih. Arsitek memilih untuk melakukannya dengan membangun tabung panjang balok balok biru melengkung dan membungkus bagian struktur dengan kaca.

Stasiun Yumegaoka. Foto: Sora News 24

Selain itu tidak ada pilar besar di tengah peron, sehingga jika Anda melihat ke depan saat kereta menjauh dari stasiun seperti akan melompat dengan kecepatan rendah dalam film fiksi ilmiah. Dengan atap melengkung dan menutup struktur stasiun, Stasiun Yumegaoka mirip dengan stasiun luar angkasa.

Apa lagi dengan sepinya pengguna kereta, ini terlihat seperti stasiun luar angkasa semi terbengkalai. Yumegaoka diterjemahkan menjadi “Bukit Impian,” tapi itu bukan nama daerah sekitarnya yang sudah ada sebelumnya.

Sagami Railway, operator Jalur Sotetsu, hanya menginginkan nama yang positif dan terdengar bahagia, yang juga merupakan logika di balik Kibogaoka, “Bukit Harapan,” stasiun lain di jalur tersebut. Karena itu, tiket kereta api ke dan dari Yumegaoka dan Kibogaoka telah menjadi jimat keberuntungan yang populer, karena merupakan “tiket harapan dan impian”.

Mereka sangat diminati di kalangan siswa yang mengikuti ujian masuk sekolah menengah atau perguruan tinggi, dan Stasiun Yumegaoka sebenarnya menjual tiket khusus Yumegaoka-ke-Kibogaoka, seharga 270 yen (US$2,45), terbuat dari kertas yang lebih kuat, sehingga harapan dan impian si pembawa tidak akan menjadi compang-camping.

Agak mirip dengan stasiun di jalur kereta terpendek Jepang, sebab ada kekosongan yang hampir gamblang di Stasiun Yumegaoka, dan kadang-kadang berfungsi sebagai lokasi pemotretan, seperti ketika penyanyi J-pop Aimyon menggunakannya untuk cover single-nya “Haru no Hi.”

Baca juga: Bikin Sensasi, Idola Muda Jepang Pamer Kekuatan Tarik dan Lepas Kereta di Stasiun

Itu kemungkinan akan berubah, karena ada pengembangan komersial yang direncanakan untuk ruang kosong di depan stasiun, yang dijadwalkan dibuka pada tahun 2023. Namun, hingga saat itu, pengunjung masih dapat menikmati suasana unik lingkungan pedesaan dan arsitektur retro-future Yumegaoka.

[Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Dalam beberapa hari terakhir, foto dan video kerumunan masyarakat di Bandara Kabul berseliweran di jagat dunia maya. Bahkan, saking banyaknya masyarakat yang memenuhi bandara, korban tewas akibat terlindas pesawat pun berjatuhan.

Baca juga: Ini Deretan Pesawat Maskapai yang Terjebak di Bandara Kabul Usai Chaos

Warga Afghanistan memenuhi Bandara Kabul semata untuk melarikan diri, mengingat negara tersebut hanya mempunyai akses darat dan udara alias tak punya laut, untuk akses keluar masuk. Mereka berebut menumpangi pesawat, bahkan yang sedang parkir sekalipun.

Bagi yang tak kedapatan tempat di kabin, mereka bahkan rela bergelayutan di landing gear pesawat. Agar lebih lengkap, berikut deretan foto-foto yang kami himpun dari berbagai sumber.

1. Taliban tembaki warga

Foto: Twitter @yamphoto

Taliban memang tak berani mengganggu proses evakuasi di bandara karena sudah diancam oleh AS. Tetapi, ancaman AS tak berlaku untuk di luar bandara. Terlebih penduduk asli Afghanistan. Mereka ditembaki Taliban saat menuju bandara guna melarikan diri.

2. Panjat dinding

Foto: Anadolu Agency via Getty Images

Dikarenakan bagian depan bandara di jaga ketat, warga masuk ke Bandara Kabul dengan memanjat dinding pembatas.

3. Suasana di Bandara Kabul sebelum kudeta

Foto: Twitter @BBCYaldaHakim

Warga Afghanistan, sebelum terjadi kudeta oleh Taliban pada 15 Agustus lalu, sudah mulai memadati bandara untuk melarikan diri ke luar negeri. Banyak di antara mereka yang terbang ke Uni Emirat Arab dan Qatar karena dinilai menjanjikan kehidupan yang lebih sejahtera.

4. Kerumunan di Bandara Kabul

Foto: Twitter BBC

Usai berhasil memanjat dinding pembatas bandara, warga mulai memadati apron bahkan runway Bandara Kabul.

5. Rebutan masuk pesawat

Foto: TRT World

Setelah tiba di area apron, warga langsung menyerbu pesawat yang tengah parkir. Padahal, tak jelas kapan pesawat akan mengudara. Foto sebelah kanan adalah kejadian di Afghanistan dan kiri adalah foto saat terjadi Perang Vietnam.

6. Warga nyaris terlindas pesawat

Foto: Tangkapan layar Twitter @aviationbrk

Bagi warga yang tidak kebagian tempat di kabin manapun pesawat, mereka bahkan rela menumpangi pesawat dengan cara bergelayutan di bagian luar pesawat, seperti landing gear, dan lain sebagainya.

7. Suasana di dalam pesawat

Foto: Twitter @TheInsiderPaper

Bagi yang berhasil mendapat tempat di dalam pesawat untuk evakuasi pun kondisinya sangat tak nyaman, seperti gambar di atas, dimana sekitar 800 warga Afghanistan berhimpitan di lantai.

Baca juga: Tak Seperti di Indonesia, Penumpang Gelap Asal Afrika Tewas di Roda Pesawat Karena Kedinginan

8. Sama-sama evakuasi tapi beda nasib

Foto: Twitter @ZaidZamanHamid

Berbeda dengan wagra Afghanistan yang duduk berhimpitan di dalam pesawat C-17 Globemaster, militer dan intel India yang ditarik dari Afghanistan nyaman dan tidak penuh sesak.

9. Warga Afghanistan jatuh dari langit

Foto: Twitter @AsvakaNews

Ulah sebagian warga yang bergelantungan di landing gear pun berakhir tragis. Laporan media lokal, ada salah satu penumpang gelap yang jatuh dari langit sebagaimana foto di atas. Laporan lain menyebut ada beberapa korban tewas lainnya yang ditemukan di roda pesawat karena terlindas.

Ini Deretan Pesawat Maskapai yang Terjebak di Bandara Kabul Usai Chaos

Dalam beberapa hari terakhir, foto dan video kerumunan masyarakat di Bandara Kabul berseliweran di jagat dunia maya. Bahkan, saking banyaknya masyarakat yang memenuhi bandara dan mengiringi pesawat, korban tewas akibat terlindas pesawat pun berjatuhan.

Baca juga: Kabul Dikuasai Taliban, Warga dan WNA Tak Bisa Kabur Lewat Bandara Kabul?

Tak hanya itu, masyarakat bahkan berdesakan masuk ke dalam pesawat komersial maupun militer. Bagi yang tak kedapatan tempat di kabin, mereka bahkan bergelayutan di landing gear. Semua upaya dilakukan semata untuk keluar dari Afghanistan, yang notabene sudah dikuasai kembali oleh Taliban.

Sebelum mulai ricuh pada 15 Agustus lalu, penerbangan komersial masih berjalan sekalipun tensi politik sudah menegang, dimana Taliban mulai merangsek masuk ke ibu kota Afghanistan, Kabul.

Ketika itu, operasional satu-satunya pintu keluar masuk Afghanistan tersebut masih berada di bawah otoritas negara itu. Tetapi, setelah Taliban menguasai Afghanistan dan menduduki istana kepresidenan, barulah Amerika Serikat (AS) mengambil alih operasional bandara dan melarang seluruh penerbangan komersial.

Celakanya, sebelum bandara ditutup dari aktivitas komersial, pesawat-pesawat yang sempat mendarat di Bandara Internasional Hamid Karzai masih nyaman di apron. Jadilah sampai saat ini pesawat-pesawat tersebut terjebak dan pada akhirnya diserbu serta dipenuhi penumpang tanpa tiket yang ingin melarikan diri.

Catatan FlightRadar24.com, setidaknya ada tujuh pesawat komersial yang di-grounded di Bandara Kabul sampai saat ini dan tidak jelas kapan diizinkan terbang kembali.

Tujuh pesawat itu diketahui dimiliki oleh tiga maskapai Afghanistan, dua flag carrier, Ariana Afghan Airlines dan Bakhtar Afghan Airlines, serta satu maskapai swasta, Kam Air.

Kam Air tercatat menjadi pemilik pesawat terbanyak yang terjebak di Bandara Kabul dengan tiga armada; satu Airbus A340 yang teregistrasi sebagai YA-KMH dan dua 737-300 (YA-KMJ dan YA-KML).

Pesawat lainnya yaitu satu Airbus A310 (YA-CAV) dan dua 737-400 (YA-PIC dan YA-PID) milik Ariana Afghan Airlines dan satu Boeing 737-500 (YA-FGA) milik Bakhtar Afghan Airlines.

Adapun pesawat-pesawat lain dari berbagai maskapai yang juga terbang reguler ke Bandara Kabul, seperti Safi Airways, Pamir Airways, Air India, East Horizon Airlines, Emirates, Silk Way Airlines, Turkish Airlines, dan Spicejet sudah lebih dahulu meninggalkan bandara sebelum situasi chaos.

Sampai saat ini, pesawat tersebut dipastikan masih akan terkatung-katung karena AS, selaku pemegang otoritas Bandara Kabul saat ini, masih memfokuskan bandara untuk penerbangan evakuasi.

Baca juga: Inilah Ariana Afghan Airlines, Maskapai Nasional Afghanistan yang Viral Gegara Taliban

Presiden AS, Joe Biden, bahkan mengancam akan memberangus Taliban andai berani mengganggu kepentingan AS dalam mengevakuasi warganya, diplomat, dan warga negara Afghanistan yang bersekutu dengannya selama 20 tahun operasi di negara itu.

Saking tingginya aktivitas evakuasi warga negara AS, warga negara Afghanistan yang tak diundang pun turut menyerbu pesawat C-17 Globemaster Angkatan Udara AS saat hendak lepas landas. Saking banyaknya masyarakat yang mengiringi, laporan terbaru menyebut setidaknya tiga orang tewas terlindas roda pesawat saat lepas landas.

Penerbangan Repatriasi Qantas Pulangkan Ratusan Aussie dari Bali

Hari ini Qantas dijadwalkan melakukan penerbangan repatriasi, yaitu memulangkan ratusan warga negara Australia (Aussie) yang terdampar di Bali dan beberapa wilayah lainnya. Ini tentu menjadi jawaban atas penantian panjang mereka mengingat sulitnya menemukan celah untuk kembali ke Negeri Kangguru.

Baca juga: Corona RI Makin Gawat, Jepang Evakuasi Warganya dari Indonesia!

Sepanjang Agustus tahun ini, tidak ada penerbangan komersial terjadwal antara Denpasar dan kota manapun di Australia. Sebetulnya ada penerbangan sepekan sekali dari Garuda Indonesia.

Tetapi, sejak krisis yang dialami maskapai penerbangan nasional Indonesia itu dan tentu saja pembatasan jumlah penumpang per penerbangan sebagai konsekuensi dari pandemi virus Corona, penerbangan tersebut terkadang sulit diakses.

Akibatnya, ratusan warga Australia, baik itu pekerja migran maupun traveler, terdampar tanpa ada kejelasan kapan mereka bisa pulang. Itu pula yang membuat gelombang protes kecil yang ditujukan ke Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) terjadi.

Dilansir Simple Flying, sebelum melakoni penerbangan repatriasi Rabu ini, Boeing 787-9 Qantas bermalam terlebih dahulu di Darwin setelah diterbangkan dari Sydney. Barulah pada Rabu dini hari, pesawat yang diregistrasi sebagai VH-ZNC itu terbang tiga jam ke Denpasar.

Belum ada keterangan resmi berapa banyak penumpang yang dibawa Qantas dalam penerbangan repatriasi sore nanti. Tetapi, DFAT sudah memberikan pesan bahwa ada sekitar 350 dari 780 WN Australia yang rentan dan harus dipulangkan segera.

Meski begitu, satu hal yang pasti, semua tiket satu-satunya penerbangan repatriasi yang tersedia ludes terjual hanya dalam hitungan menit.

“Kami terus mengeksplorasi opsi bagi warga Australia untuk kembali,” kata DFAT dalam sebuah pernyataan.

DFAT sejauh ini memang sudah terbukti berandil besar dalam setiap pemulangan WN Australia. Selain menyediakan penerbangan repatriasi, mereka juga membantu melobi maskapai, dalam hal ini Garuda Indonesia, untuk mengamankan beberapa slot kursi di setiap penerbangan.

Tak berhenti sampai di situ, harganya juga jauh lebih murah dibanding travel agent kenamaan maupun dari harga tiket yang tertera di web Garuda Indonesia.

Baca juga: Corona Melonjak, Australia Batasi Penumpang Internasional! Tiket Melonjak Sampai Rp400 Jutaan

Disebutkan, DFAT menawarkan kursi di penerbangan Garuda Indonesia kepada warganya hanya dengan US$1815. Bandingkan dengan harga yang ditawarkan travel agent spesialis penerbangan Indonesia-Australia sebesar US$3.260 ataupun harga tiket yang ditersedia di web maskapai itu sendiri, sebesar US$6.400.

Harga tersebut (di website Garuda) sebetulnya wajar mengingat maskapai hanya diizinkan mengangkut 25 penumpang per penerbangan. Sedikitnya kursi berarti harus meningkatkan tarif tiket agar penerbangan bisa untung.

Toilet Alam di Stasiun Itabu, Jadi yang Paling Luas di Dunia

Toilet menjadi salah satu tempat yang banyak dicari oleh pelancong ketika mereka bepergian. Selain untuk membuang hasrat, toilet juga untuk tempat berganti pakaian atau sekedar mencari kaca untuk merapikan riasan wajah. Tapi, bagaimana bila ada toilet dengan satu bilik tapi dikelilingi taman yang cukup luas?

Baca juga: Di Shibuya Tokyo, Toilet Bentuk Jamur Hiasi Jalur ke Kuil Yoyogu Hacimangu

Dilansir KabarPenumpang.com dari soranews24.com (10/8/2021), di Jepang ada satu toilet yang paling luas di dunia. Toilet ini berada di sebuah stasiun pedesaan yang dikelilingi oleh taman hijau yang rimbun. Stasiun ini dilintasi kereta api jenis gerbong tunggal yang berhenti sekali atau dua kali dalam satu jam dari pukul 06.00 hingga 20.00.

Toilet alam di Stasiun Itabu, Foto: Sora News 24

Nah, jika penumpang ingin ke toilet, waktu yang dibutuhkan adalah satu menit berjalan dari stasiun dan akan menemukan tembok kayu dan toiletnya yang secara resmi dikenal sebagai “Toilet di Alam” akan ditemukan. Meski seperti terlihat terkunci, tapi pintu mudah dibuka dan selama toilet kosong di bagian dalam pada tanda yang memperlihatkan ikon seorang wanita.

Tapi, toilet ini sebenarnya bisa digunakan oleh unisex dan saat pintu dibuka, Anda tidak akan langsung menemukan toiletnya. Tapi hamparan rumput hijau dan pohon yang kemudian akan terlihat sebuah bilik transparan dengan kloset dan kelengkapan toilet lainnya.

Untuk sampai ke toilet tersebut, Anda akan merasakan seperti berada di dunia dongeng bahkan bak putri Disney, yang mana sebelum tiba akan menyusuri jalan setapak dengan rumput hijau dan ditemani kicauan burung. Saat didekat bilik toilet, jendela transparan dan lengkap dengan perlengkapan pembersih dan wastafel modern. Tidak ada bilik lain dan hanya satu pengguna setiap masuk sehingga tidak akan ada pengganggu.

Saat menggunakan toilet ini, mungkin Anda akan berdebar dan tidak biasa karena sekeliling yang luas dan bilik transparan. Jika Anda bertanya-tanya mengapa ada toilet di taman di antah berantah, itu karena awalnya merupakan instalasi seni yang dirancang oleh Sou Fujimoto, seorang arsitek yang merancang bilik sebagai cara untuk menantang gagasan sehari-hari tentang ruang publik dan pribadi, dan persepsi tradisional tentang kecil dan besar.

Baca juga: Wow, Toilet Umum di Jepang Dibuat Transparan

Toilet di Alam ini merupakan yang paling tenang dengan pemandangan berubah sepanjang musim dan bisa dikunjungi setiap saat sepanjang tahun. Toilet di Alam harus menjadi salah satu toilet umum paling tenang yang pernah kami lihat, dan dengan pemandangan yang berubah sepanjang musim, ini adalah tempat yang bagus untuk dikunjungi setiap saat sepanjang tahun. Toilet ini berada di Chiba-ken, Ichihara-shi, Itabu.






















Penumpang Kaget, Masker Oksigen Airbus A350 Aeroflot Tiba-tiba Turun di Tengah Penerbangan

Masker oksigen pesawat Airbus A350-900 Aeroflot mendadak turun dalam penerbangan dari Bandara International Antalya, Turki, ke Bandara Moksow Sheremetyevo, Rusia. Insiden itu sontak membuat seluruh penumpang kaget dan beberapa di antaranya panik.

Baca juga: Aeroflot Registrasi Pesawat Airbus A350 Baru di Bermuda, Gegara Lari dari Pajak?

Laporan Aviation Herald menyebut, ketika itu, pesawat dengan nomor penerbangan SU2143 sedang dalam perjalanan di FL430, sekitar 314 selatan ibu kota Rusia, Moskow. Tiba-tiba masker oksigen turun dan in-flight entertainment (IFE) pun mati.

Usai insiden itu, pesawat widebody tersebut kemudian turun ke FL200 atau Flight Level Two Zero Zero atau bisa juga diartikan sebagai penerbangan di ketinggian dua ribu kaki, 18 menit setelah masker oksigen mendadak keluar dari sarangnya.

Meski begitu, beruntung pesawat masih bisa melanjutkan penerbangan dengan mulus dan mendarat dengan selamat di runway 24C Bandara Sheremetyevo.

Dari kesaksian penumpang, hasil pengecekan pramugari menunjukkan tidak adanya masalah pada tekanan kabin. Sebaliknya, besar kemungkinan turunnya masker oksigen penumpang secara tiba-tiba disebabkan oleh sistem deteksi gagal.

Padahal, dari data ch-aviation, pesawat dengan nomor registrasi VP-BXP tersebut adalah pesawat terbaru dari enam barisan armada maskapai nasional Rusia. Aeroflot diketahui menerima pesawat itu pada 29 Juni lalu, setelah melakukan penerbangan perdana pada 27 Mei.

Baca juga: Saat Masker Oksigen Turun, Ini yang Penumpang Wajib Tahu!

Sebelum insiden itu, tak ada masalah pada pesawat selama penerbangan internasional, seperti Miami, Tokyo, Varadero, dan Pulau Mahe. Setelah mendarat pada Kamis kemarin, pesawat ini tetap digrounded sampai saat ini. Belum diketahui secara pasti penanganan pada pesawat terkait kejadian ini.

Airbus A350 belakangan memang tengah mendapat sorotan tajam. Di awal Agustus lalu, Qatar Airways mengkonfimasi telah meng-grounded seluruh atau 13 unit armada A350.

Keputusan itu datang setelah ditemukan masalah pada badan pesawat di bawah permukaan cat, saat salah satu armada menjalani proses pengecatan livery World Cup 2022 (Piala Dunia 2022) di Irlandia, awal tahun ini.

“Dengan perkembangan terakhir ini, kami sangat berharap bahwa Airbus menangani masalah ini dengan penuh perhatian,” kata Akbar Al Baker, CEO Qatar Airways dalam keterangan resminya kepada KabarPenumpang.com.

Baca juga: Bermasalah, Qatar Airways Kandangkan 13 Unit Airbus A350, Al Baker Murka!

“Qatar Airways tidak akan menerima apa pun selain pesawat yang terus beroperasi. menawarkan kepada pelanggannya standar keselamatan setinggi mungkin dan pengalaman perjalanan terbaik yang layak mereka dapatkan,” tambahnya.

“Qatar Airways mengharapkan Airbus telah menetapkan akar permasalahan dan secara permanen memperbaiki kondisi yang mendasarinya demi kepuasan Qatar Airways dan regulator kami sebelum kami melakukan pengiriman lebih lanjut Pesawat A350,” lanjutnya.

Wolf’s Fang Camp – Penginapan di Lingkungan Ekstrem Kutub Selatan

Kutub Selatan atau Benua Antartika masih bisa ditinggali oleh manusia dan menjadi salah satu destinasi yang merupakan tempat terdingin di muka bumi ini karena sebagian besar tertutup es sepanjang waktu. Meski begitu, banyak juga pelancong yang datang ke wilayah ekstrem tersebut.

Baca juga: Antartika Punya Penerbangan Domestik, Siapa Penumpangnya?

Saat ini, Wolf’s Fang Camp adalah penginapan eksklusif di pedalaman Antartika dan dalam langkah pertama pembangunannya akan memiliki tenda dengan kapasitas 12 orang. Penginapan ini rencananya akan dibuka pada bulan November mendatang.

Kemudian pada langkah selanjutnya adalah membangun stasiun pengisian bahan bakar dan ruang kargo untuk menyimpan kayu dan bahan bangunan yang masuk. Ini dilakukan sembari mencari lokasi dekat danau glasial untuk pasokan air, terlindungi oleh bebatuan dan pemandangan untuk menghirup udara dingin.

KabarPenumpang.com melansir theprint.in (29/7/2021), nantinya setelah itu Anda dapat mulai menavigasi logistik dari saluran listrik dan pipa ledeng ke tempat yang sepenuhnya mengalami musim dingin dan tidak terlihat matahari di siang hari. Kemudian melatih staf dalam membangun peti es untuk penyimpanan makanan atau mengemudi di atas tundra beku untuk membawa pelancong ke Kutub Selatan.

Pembangunan Wolf’s Fang sendiri adalah cerita yang berlangsung sekitar 17 tahun, dipelopori oleh Patrick Woodhead, seorang penjelajah kutub pemegang rekor dunia yang juga merupakan chief executive officer dan pendiri perusahaan induk White Desert. Properti adalah kamp kedua di benua itu, dan memanfaatkan bandara dan bangunan pendukung yang baru dibuat pertama kali.

Lantaran berlokasi sangat jauh dan terpencil, dampak ekonomi menjadi mengejutkan dan tentunya menjadi serba mahal, seperti mengambil Coca-Cola dibandrol $38,62 per kaleng. Itu sebagian besar berkaitan dengan fakta bahwa setiap pesawat yang mampu membawa kaleng soda itu harus menempuh jarak 8.000 mil atau sekitar 12874,75 km dan waktu tempuh sepuluh jam dari Cape Town di Afrika Selatan ke Antartika dan kembali tanpa mengisi bahan bakar.

Baca juga: Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

“Ini kaleng Coke paling mahal di seluruh dunia dan itu baru permulaan,” kata Woodhead.






















Banyak Rahasia, Ini Makna Tanda di Dua Lokasi Stasiun Tokyo

Banyak keunikan dan rahasia, menjadi salah satu yang membuat penasaran di Jepang. Bukan hanya tempat tersembunyi, bahkan sebuah tanda yang tidak pernah diperhatikan orang pun bisa memiliki satu rahasia. Stasiun Tokyo salah satunya, meski menjadi tempat yang ramai dengan pelancong dan penumpang yang akan bepergian naik kereta api, nyatanya ada hal lain yang tidak terlihat dan memiliki makna.

Baca juga: Terpecahkan! Misteri Platform No.3 di Stasiun Tokyo

Apakah itu? Mungkin Anda akan bertanya dan di mana letak tanda itu. KabarPenumpang.com melansir soranews24.com (9/8/2021), seperti di depan mesin penjual tiket tepat di luar gerbang pintu masuk selatan Marunouchi ada tanda yang terlihat di atas lantai. Meski terlihat seperti titik ornamen lantai, nyatanya ini hal yang tidak biasa.

Tanda dengan makna mendalam di lantai Stasiun Tokyo. Foto: Sora News 24

Pada lantai di depan mesin tersebut terlihat adanya tanda sebuah segi enam kecil berwarna putih di dalam lingkaran hitam. Banyak yang tidak sadara dan menganggap semacam tanda bagi pekerja pemeliharaan. Ternyata tanda itu adalah makna yang menandai tempat yang tepat di mana salah satu pembunuhan politik terjadi dan paling mengejutkan di Jepang.

Ketika Perdana Menteri Hara Takashi, yang menjabat pada tahun 1918 berada di Stasiun Tokyo pada tanggal 4 November 1921 untuk naik kereta api ke Kyoto, seorang pekerja kereta api dengan afiliasi politik sayap kanan memilih untuk mengungkapkan ketidaksetujuannya atas perilaku Hara, yang menjabat pada tahun 1918. Dia memilih untuk mengomunikasikan ketidaksenangannya dengan menusuk Hara dengan pisau di sisi kanan dadanya, membunuhnya hampir seketika. Selain itu ada tanda di dalam gerbang tiket reguler Stasiun Tokyo.

Jika Anda menuju gerbang Shinkansen menggunakan Central Passage gedung, Anda akan menemukan tangga pendek. Ketika melihat ke bawah, Anda akan melihat tanda di lantai. Yang ini lebih besar, membuatnya terlihat lebih seperti semacam palka pemeliharaan, mungkin yang dirancang oleh ninja yang mengambil halaman dari buku pedoman penutup lubang got Pokémon dengan menghiasnya dengan pola bintang lempar. Sebenarnya, ini adalah tempat lain di Stasiun Tokyo di mana seseorang ingin membunuh perdana menteri Jepang.

Kali ini sasarannya adalah Hamaguchi Osachi, yang memulai masa jabatannya pada tahun 1929. Hamaguchi juga diserang oleh seorang pembunuh sayap kanan, menyusul kemarahan dari faksi politik atas kebijakan ekonominya yang gagal dan upayanya untuk membatasi ekspansionisme militer. Terlepas dari motif seperti senjata rahasia di tanda lantai, si pembunuh menggunakan pistol, menembak Hamaguchi pada 14 November 1930, ketika dia berada di Stasiun Tokyo untuk naik kereta menuju Prefektur Okayama.

Kedua penanda peringatan itu disertai dengan plakat berbahasa Jepang di dinding yang menjelaskan artinya, tetapi penampilannya yang tidak mencolok berarti bahwa hanya sedikit dari orang-orang yang bergegas ke kereta mereka mendaftar bahwa tanda-tanda itu ada di sana, apalagi berhenti untuk membacanya. Namun, bagi mereka yang memahami signifikansinya, mereka adalah pengingat betapa banyak sejarah yang dimiliki Stasiun Tokyo.

Baca juga: Stasiun Tokyo, Merangkap Jadi Museum dan Saksi Bisu Pembunuhan Dua PM Jepang

Bisa dikatakan, saat ini betapa beruntungnya warga Tokyo hidup dalam masyarakat yang jauh lebih stabil daripada rekan-rekan mereka dari kurang dari seratus tahun yang lalu. Sementara itu, jika Anda menyukai rahasia kereta api Jepang yang tidak terlalu berlumuran darah, selalu ada stasiun kereta Tokyo dengan kucing-kucing yang tersembunyi.

Pilot KLM Ngaku Lihat UFO di Kanada: Warnanya Hijau Terang

Pilot KLM dalam penerbangan dari Boston ke Amsterdam mengaku melihat UFO (Unidentified Flying Object) saat di Newfoundland, Kanada. Dalam laporannya, ia melihat UFO terbang berwarna hijau terang. Pengakuannya itu pun diperkuat dengan pengelihatan yang sama oleh pilot pesawat militer C-15 Kanada yang berada tak jauh di lokasi.

Baca juga: Viral! UFO Mendarat di Laut, Menyelam, dan Hilang Tanpa Jejak Bak Hantu

Dikutip dari Live and Let’s Fly, pilot pesawat Airbus A330-300 KLM melihat penampakan UFO pada 30 Juli lalu. Ketika itu, UFO berwarna hijau terang terlihat terbang, masuk ke dalam awan, dan menghilang bak hantu. Padahal, di jalur dan ketinggian penerbangan 618 KLM tidak ada penerbangan lain.

Setelah melihat UFO tersebut di atas Teluk St. Lawrence, beberapa kilometer sebelum Newfoundland, sekitar pukul 01:55 pagi waktu setempat, pilot langsung melapor ke Gander Area Control Center.

Menariknya, di hari yang sama, laporan adaya UFO berwarna hijau terang juga datang dari pilot pesawat lain; C-17 Globemaster pemerintah Kanada, yang terbang dari Trenton, Ontario, ke Cologne, Jerman, pada waktu dan lokasi yang nyaris sama.

Tetapi, pesawat C-17 Globemaster mengambil tindakan untuk meningkatkan ketinggian 1.000 kaki dan mengubah arah guna menghindari kontak.

“Para kru melihat sesuatu di udara, dan melaporkannya ke NAV Canada sesuai prosedur standar, sebelum melanjutkan misi mereka tanpa insiden lebih lanjut,” kata juru bicara Royal Canadian Air Force kepada Daily Mail.

“Meskipun tidak diketahui apa yang mereka lihat, tidak ada indikasi bahwa itu menimbulkan semacam masalah keamanan atau menimbulkan risiko keselamatan bagi pesawat,” tambahnya.

Penampakan UFO di siang bolong ataupun malam hari kerap terjadi di seluruh dunia, salah satunya di Amerika Serikat (AS). Negeri Paman Sam menjadi salah satu negara yang bisa dibilang paling sering terlihat penampakan UFO.

Itu sebab, AS diduga sedang mengembangkan pesawat atau senjata canggih secara diam-diam. UFO itu pula yang kerap dilihat oleh pilot pesawat di seluruh dunia. Tetapi, ini memang sekedar rumor tanpa adanya bukti-bukti ilmiah.

Pada Mei lalu, sebuah video terbaru soal UFO bocor ke publik viral di media sosial Instagram. Video tersebut menunjukkan UFO seperti melakukan approach untuk mendarat di laut, menyelam, dan hilang entah kemana.

Pentagon sendiri memastikan keaslian itu. Melalui juru bicara Susan Gough, Pentagon mengkonfirmasi bahwa video tersebut diambil dari personel Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan sudah sempat dibahas pada briefing Office of Naval Intelligence (ONI) pada 1 Mei 2020.

Setelahnya, tim Gugus Tugas Unidentified Aerial Phenomena (UAP) -sebutan UFO oleh Pentagon- sedang bekerja untuk menyelidiki video itu, termasuk video dan laporan lainnya terkait UFO.

Baca juga: Ada Penampakan UFO di Dekat Kereta, Laporan Wanita ini Disangsikan

Video UFO berbentuk bulat seperti piring terbang viral tersebut diketahui diambil pada tahun 2019 silam, di lepas pantai San Diego, California, AS, dari monitor di Pusat Informasi Tempur USS Omaha.

Dalam video yang diviralkan oleh kreator film dokumenter, Jeremy Corbell, bersama jurnalis UFO George Knapp, tersebut, personel USS Omaha juga turut berkomentar terkait penampakan UFO yang sudah kesekian kalinya di AS itu. Salah satu dari mereka berpendapat bahwa UFO tersebut mendarat, bukannya jatuh ke air.

Inilah Ariana Afghan Airlines, Maskapai Nasional Afghanistan yang Viral Gegara Taliban

Baru-baru ini video viral menunjukkan kerumunan masyarakat terjadi di Bandara Kabul dalam upaya menjadi bagian dari penumpang pesawat dari maskapai nasional Afghanistan, Ariana Afghan Airlines.

Baca juga: Kabul Dikuasai Taliban, Warga dan WNA Tak Bisa Kabur Lewat Bandara Kabul?

Saat ini, warga negara itu memang sedang berujuang untuk melarikan diri usai Taliban kembali berkuasa dan menduduki istana kepresidenan Afghanistan. Adapun presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, melarikan diri ke luar negeri. Ia melarikan diri ke luar negeri karena tak lagi didukung Amerika Serikat (AS).

Terkait AS, sebagaimana Taliban dan presiden Ashraf Ghaini, Ariana Afghan Airlines juga pernah ikut dicampuri. Meski demikian, hubungan AS dan maskapai tersebut lebih ke arah positif.

Dilansir dari laman resmi maskapai, Ariana Afghan Airlines didirikan pada Januari 1955. Sejarahnya dimulai dari seorang pilot komersial AS. Ketika itu, ia memindahkan beberapa pesawat Douglas DC-3 atau Dakota ke negara tersebut usai selama beberapa tahun beroperasi di India pasca Perang Dunia II.

Sebelum kedatangan pilot dan pesawat itu, tidak ada layanan transportasi udara di Afghanistan meskipun Angkatan Udara Kerajaan Afghanistan telah ada selama beberapa tahun.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by CAPTAIN FLYING (@captainflying)

Setelah pilot dan pesawat itu melayani transportasi udara di sana selama beberapa waktu, barulah Pemerintah Afghanistan mengakui melirik dan menjadikannya lebih formal dengan pendirian perusahaan dan maskapai bernama Ariana Afghan Airlines.

Logo Ariana Afghan Airlines berupa burung walet didesain langsung oleh Shah Afghanistan. Biru sebagai warna kebesarannya terinspirasi dari batu mulia lapis lazuli, yang banyak ditemukan di pegunungan-pegunungan tinggi Afghanistan.

Pada tahun 1957, pemerintah Afghanistan sepakat dengan AS untuk bekerjasama memperkuat maskapai nasionalnya, dengan cara negara tersebut, melalui maskapai legendaris Pan American World Airways (Pan Am), mengakuisisi saham Ariana Afghan Airlines sebesar 49 persen.

Di awal berdiri, hampir seluruh pekerjanya berasal dari AS. Setelah kerjasama tersebut, perlahan tapi pasti para pekerja asli Afghanistan mulai tampil di berbagai posisi di udara dan darat, seperti pilot, pramugari, teknisi, insinyur, mekanik, dan staf darat.

Pada tahun 1965, Ariana Afghan Airlines resmi memindahkan homebase ataupun hubnya ke Bandara Internasional Kabul setelah resmi berdiri atas bantuan Uni Soviet, dari sebelumnya di Bandara Kandahar.

Di dekade 70-80an, Ariana Afghan Airlines mulai benar-benar berdikari. Selain jangkauan internasionalnya jauh lebih luas dari sebelumnya, dimana maskapai terbang dua kali dalam sepekan ke Istanbul, Frankfurt, London, Paris, dan Amsterdam, serta tiga kali sepekan ke New Delhi, Lahore, dan Amritsar, seluruh penerbangan itu juga sudah dioperasikan oleh pilot berkewarganegaraan Afghanistan.

Begitupun juga dengan posisi lainnya. Ketika itu, dari 650 orang karyawan, lebih dari 630 di antaranya adalah orang Afghanistan.

Baca juga: Maskapai Legendaris Pan Am Ternyata Sudah Terbang ke Jakarta Sejak 1960

Setelah melambung tinggi, maskapai mulai meredup usai peristiwa 11 September 2001. Saat itu, AS dan sekutu memborbardir Afghanistan dan maskapai kehilangan banyak pesawat hingga menyisakan dua armada. Di tahun 2002, maskapai mulai menatap masa depan berkat hibah pesawat dari India.

Sepanjang maskapai berdiri, berbagai tipe pesawat telah bergabung dalam barisan armada, seperti Dakota, DC-4, DC-6, dan Convair 340/440, Boeing 727-100, DC-10, Tupolev Tu-154, Boeing 727-200, dan Antonov An-24.