Satu Armada Bus LIstrik Kembali Diuji Coba TransJakarta di Rute Blok M–Balaikota

PT Transportasi Jakarta melakukan pelepasan uji coba sebanyak satu unit bus listrik, bekerjasama dengan Agen Penyedia Bus (APM) PT Higer Maju Indonesia (HMI) menghadirkan bus listrik yang aman dan nyaman bagi pelanggan. Adapun proses pelepasan ujicoba dilaksanakan di kantor pusat PT Transjakarta, Cawang, Jakarta Timur pada hari ini, Jumat (10/9/2021).

Baca juga: TransJakarta Mulai Uji Coba Komersial Bus Listrik Rute Balai Kota-Blok M

Pelepasan uji coba ini disampaikan Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Sardjono Jhony Tjitrokusumo sebagai tindaklanjut dari penandatangan nota kesepahamanatau MoU Transjakarta bersama PT Higer Maju Indonesia (HMI) yang telah dilaksanakan pada 1 September 2021 lalu.

“Alhamdulillah, hari ini kita sudah bisa melakukan uji coba bus listrik dengan mengangkut pelanggan yang akan melayani masyarakat untuk rute Blok M – Balaikota (EV1). Ujicoba akan dilakukan selama 3 (tiga) bulan ke depan tanpa dikenalan biaya atau gratis. Untuk saat ini kami tetap melalukan pembatasan pelanggan yakni maksimal diisi oleh 25 orang pelanggan termasuk yang berdiri,” ujar Jhony yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers.

Jhony menambahkan, proses uji coba ini lakukan sebagai salah satu tahapan dalam upaya merealisasikan rencana penggunaan kendaraan bus listrik berbasis baterai yang ramah lingkungan. Dalam hal ini, semua armada konvensional Transjakarta secara bertahap akan beralih menggunakan armada listrik.

“Keseriusan Transjakarta ini dibuktikan dengan berbagai layanan uji coba kendaraan listrik yang dimulai sejak tahun lalu. Dan hari ini kita menggandeng teman-teman dari PT Higer Maju Indonesia untuk ikut serta menjadi mitra strategis dalam penyediaan, pengadaan dan operasional bus listrik berbasis baterai tersebut,” katanya.

Jhony mengatakan, uji coba ini diharapkan bisa menjadi langkah kecil untuk lompatan besar sektor transportasi massal di masa depan, seperti emisi rendah atau bahkan nol. Hal ini tentunya dapat mengurangi polusi, mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM dan akhirnya bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi kendaraan listrik dan baterai.

“Kita juga berharap ini bisa memperkuat ekosistem kendaraan listrik di negara kita, menginspirasi banyak orang untuk beralih pada kendaraan listrik berbagai jenis dan memotivasi masyarakat untuk semakin mencintai transportasi publik kita,” imbuh Jhony.

Sebagai informasi, bus listrik merk Higer ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan bus konvensional, seperti tidak menimbulkan polusi, biaya perawatan yang relatif murah, hingga baterai yang tahan lama. Dengan daya baterai yang bisa diisi ulang maksimum tiga jam, bus listrik Higer mampu melaju hingga sejauh 250 kilometer.

Selain itu, bus ini juga memiliki keungulan lainnya seperti pintu akses naik turun pelanggan yang luas, sehingga pengguna kursi roda bisa dengan bebas memasuki bus dari pintu depan maupun pintu belakang. Tak hanya itu, pengguna kursi roda juga mendapat area yang lebih luas di dalam bus dibandingkan area kursi roda di bus pendahulunya. Jadi bisa dibilang, moda transportasi ini lebih inklusif dan lebih friendly untuk para pelanggan nantinya.

Baca juga: Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 Tak Pergi Keluar Kota? Ayo Jajal Bus Listrik TransJakarta Gratis di Monas

Sebelumnya, Transjakarta juga telah melakukan uji coba sebanyak dua unit bus yang bekerjasama APM PT Bakrie Autopart pada tahun 2020 lalu. Ke depan, Transjakarta terus membuka kesempatan selebar-lebarnya kepada penyedia bus lainnya untuk bekerjasama dengan kami dalam upaya menghadirkan bua listrik yang aman dan nyaman.

Empat Barang-barang Peninggalan Korban Tragedi 9/11, dari Logbook Pramugari-Sorban

Hari ini tepat 20 tahun lalu, tragedi 11 September 2001 atau 9/11 menewaskan nyaris 3 ribu orang dan lebih dari 6.000 orang lainnya luka-luka. Ketika itu, empat pesawat sipil dibajak 19 teroris Al Qaeda, dimana dua di antaranya menghantam Menara Selatan dan Udara World Trade Center (WTC) New York. Tak lama berselang, dua gedung itu pun runtuh.

Baca juga: Lolos dari Maut dalam Peristiwa 9/11, Pramugara ini Dorong Troli Setara Jarak Jakarta-Pekalongan

Selain itu, dua pesawat lainnya yang dibajak, satu di antaranya berhasil mencapai target yaitu gedung Pentagon. Adapun satu lainnya gagal mencapai target US Capitol Building dan jatuh di Shanksville, Pennsylvania.

Selain meninggalkan cerita tragis dan heroik, peristiwa 11 September 2001 juga meninggalkan cerita tersendiri lewat barang-barang peninggalkan korban tewas maupun selamat.

Barang-barang itu disimpan apik di Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian. Di antara puluhan barang peninggalan tragedi 9/11, setidaknya ada empat yang menarik untuk dibahas. Untuk lebih lengkapnya sebagai berikut.

1. Kamera Bill Biggart

Kamera Bill Biggart yang ditemukan tak jauh dari jasadnya di ground zero peristiwa 9/11. Ia adalah satu-satunya jurnalis profesional yang tewas saat meliput tragedi 11 September 2001. Foto: Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian

Bill Biggart, sejatinya bukan penumpang maupun kru empat pesawat tragedi 11 September 2001 yang dibajak teroris. Bukan pula karyawan Pentagon ataupun WTC. Bill Biggart ialah seorang jurnalis foto lepas.

Pada 11 September 2001, ia sedang berjalan keliling kota bersama anjing dan istrinya. Ketika ia tahu ada pesawat yang menabrak gedung WTC, ia langsung lari pulang ke rumah dan mengambil tiga kamera serta bergegas ke Ground Zero.

Di sela-sela mewartakan , ia mengabarkan istrinya. “Saya aman. Saya bersama petugas pemadam kebakaran.” 20 menit setelahnya, gedung runtuh dan ia pun tewas seketika. Tiga kameranya ditemukan tak jauh dari jasadnya. Memori kameranya juga masih utuh. Ada lebih dari 150 gambar yang ia dapat.

Mirisnya, sebelum gedung runtuh, istrinya, Wendy Doremus, sempat berpesan ke Bill agar jangan dekat-dekat dengan gedung yang habis ditabrak pesawat.

2. Sorban Sikh Balbir Singh Sodhi

Sorban Sikh Balbir Singh Sodhi. Foto: Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian

Balbir Singh Sodhi adalah seorang imigran India yang memiliki sebuah pompa bensin dan toko serba ada di Mesa, Arizona. Ia adalah penduduk lokal yang sama sekali tak terlibat dengan peristiwa 9/11.

Namun nahas, ia ditembak mati oleh pria bersenjata karena dikira penganut agama Islam, yang notabene diasosiasikan dengan Al Qaeda, teroris dalam aksi pembajakan 11 September 2001. Padahal, ia bukan muslim melainkan penganut kepercayaa Sikh.

3. Logbook dan In-Flight Manual Pramugari United Airlines Flight 93, Lorraine Bay

logbook pramugari United Airlines Flight 93 dalam peristiwa 9/11, Lorraine Bay. Foto: Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian

Pesawat Boeing 757 United Airlines Flight 93 jatuh di Shanksville, Pennsylvania. Meski tak menghantam bangunan sebagaimana tiga pesawat lainnya yang dibajak teroris Al Qaeda, tetapi kondisinya tak kalah mengenaskan. Di balik puing-puing pesawat, tersisa logbook dan if-flight manual milik pramugari Lorraine Bay.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

4. Potongan Pesawat Boeing 757-223 American Airlines Flight 77

Potongan badan pesawat Boeing 757-223 American Airlines Flight 77 dalam peristiwa 11 September 2001. Foto: Museum Nasional Sejarah Amerika Smithsonian

Potongan pesawat Boeing 757-223 American Airlines flight 77 yang ditabrakkan ke gedung Pentagon ditemukan di sebuah mobil yang tengah terjebak macet di sekitar gedung Pentagon. Ketika itu, sambil menikmati macet, Penny Elgas, melihat ada pesawat terbang rendah.

Pesawat akhirnya menabrak gedung Pentagon dan menariknya potongan kecil pesawat menyelinap masuk ke kursi belakang mobilnya tanpa ia sadari, entah itu masuk lewat sunroof ataupun jendela mobil.

Fakta di Balik Tragedi 9/11, Orang ‘Indonesia’ Turut Jadi Korban

Hari ini tepat 20 tahun lalu, tragedi 11 September 2001 atau 9/11 menewaskan nyaris 3 ribu orang dan lebih dari 6.000 orang lainnya luka-luka. Dari total ribuan korban tewas dalam peristiwa 11 September 2001 ini, ternyata terselip orang keturunan Indonesia, Eric Samadikun Hartono alias Eric Hartono.

Baca juga: Pasca Insiden 9/11, Temperatur Udara di Amerika Serikat Sempat Naik Dua Derajat

Dilansir CNN Internasional, Eric Hartono tercatat jadi salah satu korban peristiwa 11 September 2001. Eric, yang memilih menjadi warga negara AS, menjadi salah satu penumpang pesawat Boeing 767-222 United Airlines Flight 175.

Putra dari bos Bank Modern Samadikun Hartono ini diketahui sedang menempuh pendidikan sarjana jurusan komputer di California State University sejak tahun 2000. Saat itu, Eric Hartono berusia 20 tahun dan tinggal di Boston, Negara Bagian Massachusetts, AS.

Sebagaimana korban tragedi menara kembar World Trade Center New York lainnya, jasad Eric Hartono juga tak ditemukan.

Namun, tak lama setelah kejadian, pihak keluarga yang sudah mendapat kepastian Eric Samadikun Hartono menjadi salah korban dalam tragedi 11 September 2001 langsung melaksanakan kebaktian untuk mendoakan almarhum.

Dilihat dari kronologi kejadian sampai pesawat ditabrakkan ke Menara WTC, sukar diterima jasad Eric dan 64 orang lainnya di penerbangan United Airlines Flight 175 akan ditemukan. Terlebih, tak lama dua pesawat ditabrakkan, menara kembar itu runtuh.

Meski begitu, ajaibnya, salah satu korban di pesawat lain yang juga dibajak teroris Al Qaeda dalam tragedi 11 September 2001, ternyata berhasil ditemukan. Tetapi, bukan jasadnya, melainkan cincin yang dikenakannya.

Dikutip dari fox2now.com, cincin pramugari American Airlines Flight 11 yang pesawatnya ditabrakkan ke Menara Utara World Trade Center oleh teroris Al Qaeda, berhasil ditemukan. Sejak ditemukan, cincin tersebut langsung diberikan ke keluarga dan disimpan apik sampai saat ini.

September memang menjadi bulan yang kelabu bagi masyarakat dunia, khususnya publik Amerika Serikat (AS). Di bulan ini, setidaknya nyaris 3.000 orang tewas dan lebih dari 6.000 orang lainnya menderita luka-luka setelah pembajakan empat pesawat terjadi pada 11 September 2001 (9/11).

Ketika itu, teroris dari kelompok Al Qaeda, mengarahkan pesawat Boeing 767-223ER American Airlines Flight 11 ke Menara Utara World Trade Center dan menabrakkannya dengan sengaja pada pukul 08.46 waktu setempat.

Lalu pada pukul 09.03 waktu setempat, pesawat Boeing 767-222 yang dioperasikan oleh maskapai menabrak United Airlines Flight 175 Menara Selatan World Trade Center. Keseluruhan penumpang, awak kabin, dan teroris yang melakukan aksi sadis ini tewas seketika.

Tidak berhenti sampai di situ, masih ada dua pesawat lagi; Boeing 757-223 yang dioperasikan oleh maskapai American Airlines flight 77 menabrak ke Pentagon dan menewaskan 64 orang yang ada di dalam pesawat (termasuk awak pesawat, penumpang, dan teroris) serta 125 karyawan di Pentagon.

Baca juga: Lolos dari Maut dalam Peristiwa 9/11, Pramugara ini Dorong Troli Setara Jarak Jakarta-Pekalongan

Sisanya yaitu Boeing 757-222 United Airlines Flight 93 dikabarkan akan menabrakkan diri ke U.S. Capitol Building. Namun, karena kegigihan penumpang dalam mencegah terorisme, pembajakan pesawat dalam peristiwa 11 September 2001 ini gagal menghancurkan target.

Meski begitu, pesawat Boeing 757 United Airlines Flight 93 jatuh di dekat Diamond T. Mine, sebuah tambang batu bara yang terletak di Stonycreek Township, Somerset County, Pennsylvania dan menewaskan keseluruhan 44 orang yang berada di dalam penerbangan nahas tersebut.

Jatuhnya Pesawat Flight 93 dalam Peristiwa 9/11 Ubah Kota Kecil di AS untuk Selamanya

Peristiwa 11 September tahun 2001 atau biasa juga disebut Tragedi 11 September mengubah banyak hal di dunia, mulai dari prosedur keamanan dan keselamatan penerbangan sampai bandara. Selain itu, jatuhnya pesawat Boeing 757-222 United Airlines Flight 93 juga membuat suatu kota kecil nan sunyi dan tenang di Amerika Serikat (AS) mendadak gaduh dan berubah untuk selamanya.

Baca juga: Tragedi 11 September, Mengenang Momen Keberanian Penumpang Melawan Teroris di United Airlines Flight 93

Selama lebih dari 200 tahun, di tengah perbukitan dan lanskap pedesaan, hidup sederhana dengan suasana penuh ketenangan dan kedamaian adalah sebuah keniscayaan bagi penduduk di Shanksville, Pennsylvania.

Namun, semua itu sirna pada hari Selasa, 11 September 2001. Ketika itu, ketenangan yang selama ini mendarah daging dirasakan oleh warga seketika berubah menjadi petaka dan kesedihan mendalam, usai pesawat Boeing 757-222 United Airlines Flight 93 yang dibajak teroris Al Qaeda jatuh di kota ini.

“Melihat asap mengepul dan ledakan mengguncang rumah di sini,” kata seorang saksi mata, saat merekam video asap membubung di atas perbukitan hijau.

“Istri saya menelepon saya. Padahal itu adalah pekerjaan saya yang sesungguhnya,” kata Terry Shaffer, yang pada insiden 9/11 menjabat sebagai Kepala Pemadam Kebakaran dari pemadam kebakaran di Shanksville, seperti dikutip dari thedenverchannel.com.

Dalam kesaksiannya, pesawat hancur berkeping-keping. Ia tak tahu pesawat siapa yang itu dan apa yang sebetulnya terjadi dengan pesawat nahas tersebut. Yang ada dibenaknya adalah ia harus menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa yang bisa diselamatkan dan menyudahi kebakaran hutan secepat mungkin.

Selain fokus pada pesawat nahas yang jatuh dalam tragedi 11 September 2001 tersebut, Shaffer dan timnya juga harus menangani warga sekitar yang terkena tumbahan Avtur. Kendati sudah mendapat pertolongan pertama, beberapa dari mereka divonis mengidap kanker karenanya. Ini menjadi salah satu hal yang merenggut ketenangan warga sekitar untuk selamanya.

Tak hanya itu, di kantor pemadam kebakaran Shanksville, setiap tahun upacara mengenang para korban juga dihelat di sini. Mereka biasanya melakukan tabur bunga, menyalakan lilin, berdoa, dan makan bersama sambil berbincang mengenang kebaikan-kebaikan korban.

Selain itu, untuk menambah kental suasana holistik, sebuah salib besar juga juga didirikan. Itu bukan sembarang salib, melainkan salib yang terbuat dari baja gedung World Trade Center yang runtuh usai ditabrak dua pesawat sekaligus dalam tempo yang tak terlalu lama. Ini didirikan juga untuk menghormati semua korban 9/11, bukan hanya korban Flight 93.

Sebagaimana yang sudah sama-sama diketahui, dalam tragedi 11 September 2001, ada empat pesawat yang dibajak oleh teroris Al Qaeda. Pertama, pesawat Boeing 767-223ER American Airlines Flight 11 yag kemudian ditabrakkan ke Menara Utara World Trade Center dengan sengaja pada pukul 08.46 waktu setempat.

Lalu pada pukul 09.03 waktu setempat, pesawat Boeing 767-222 yang dioperasikan oleh maskapai United Airlines Flight 175 menabrak Menara Selatan World Trade Center. Keseluruhan penumpang, awak kabin, dan teroris yang melakukan aksi sadis ini tewas seketika.

Tidak berhenti sampai di situ, masih ada dua pesawat lagi; Boeing 757-223 yang dioperasikan oleh maskapai American Airlines flight 77 menabrak ke Pentagon dan menewaskan 64 orang yang ada di dalam pesawat (termasuk awak pesawat, penumpang, dan teroris) serta 125 karyawan di Pentagon.

Baca juga: Pasca Insiden 9/11, Temperatur Udara di Amerika Serikat Sempat Naik Dua Derajat

Sisanya yaitu Boeing 757-222 United Airlines Flight 93 dikabarkan akan menabrakkan diri ke U.S. Capitol Building. Namun, karena kegigihan penumpang dalam mencegah terorisme, pembajakan pesawat dalam peristiwa 11 September 2001 ini gagal menghancurkan target.

Meski begitu, pesawat Boeing 757 United Airlines Flight 93 jatuh di dekat Diamond T. Mine, sebuah tambang batu bara yang terletak di Stonycreek Township, Somerset County, Pennsylvania dan menewaskan keseluruhan 44 orang yang berada di dalam penerbangan nahas tersebut.

[Video] Begini Cara Astronot BAB di Luar Angkasa, Limbahnya Dibuang ke Langit?

Meski berada jauh di luar angkasa, bagaimanapun astronot tetaplah manusia yang butuh makan dan minum serta tentu saja buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK). Tetapi, dengan kondisi gravitasi nol dan membuat segalanya melayang, lantas bagaimana cara astronot BAB dan BAK?

Baca juga: NASA Luncurkan Toilet Khusus Astronot Wanita, Bekas Urine Bisa Buat Minum dan Masak

Di masa awal-awal dikirimnya manusia ke luar angkasa, sejarah mencatat, NASA pernah tidak terpikir mengakomodir bagaimana cara astronot BAB dan BAK. Pada tahun 1961, NASA mengirim astronot solo, Alan Shepard, ke luar angkasa.

Ketika itu, NASA hanya mengagendakan sang astronot -disebut juga sebagai pilot pertama penerbangan antariksa- hanya selama 15 menit berada di luar angkasa. Jadi, dalam benak mereka, astronot tak butuh BAB dan BAK.

Pada kenyatannya, Alan Shepard kebelet pipis dan meminta izin untuk membuka baju astronot atau Extravehicular Activities Suit atau biasa juga disebut Extravehicular Mobility Unit untuk sekedar BAK.

Akan tetapi, tentu saja itu dilarang. Pada akhirnya, sang astronot tak punya pilihan lain kecuali BAK di celana. Ini pun menjadi pelajaran penting bagi NASA.

Pada penerbangan astronot ke luar angkasa berikutnya, NASA mulai berpikir untuk mewadahi astronot untuk BAK sampai akhirnya terciptalah kantung plastik berbentuk seperti kondom. Tetapi, ini tidak didesain untuk astronot wanita. Selain itu, perlu dicatat, ini hanya untuk BAK, tidak untuk BAB.

Alat ini terhubung ke tabung plastik, katup, klem, dan kantong. Alat ini disebut terkadang bocor. Manusia pertama yang mengorbit untuk NASA, John Glenn, pada misi Mercury Atlas 6, menggunakan alat ini. Misi berlangsung selama 4 jam 55 menit.

Pada misi berikutnya, barulah NASA mulai menyediakan perangkat atau kantong khusus di bokong untuk mewadahi astonot BAB di luar angkasa.

“Setelah buang air besar, anggota kru diminta untuk menutup tas dan meremasnya untuk mencampur bakterisida cair dengan kotoran untuk memberikan tingkat stabilisasi kotoran yang diinginkan,” kata NASA.

“Karena tugas ini tidak menyenangkan dan membutuhkan banyak waktu, makanan residu rendah dan obat pencahar umumnya digunakan sebelum peluncuran,” lanjut NASA. Tetapi, ini dinilai belum efektif dan ada kasus dimana kotoran astronot melayang di udara.

Pada tahun 1973, momen ketika NASA membangun Skylab -stasiun luar angkasa pertamanya- untuk pertama kalinya astronot bisa BAB dan BAK sebagaimana di bumi, sekalipun tak sepenuhnya sama. Tetapi, setidaknya, mereka tidak BAB dan BAK di kantong plastik seperti sebelum-sebelumnya.

Semakin ke sini, toilet astonot di luar angkasa semakin canggih dan memudahkan, baik bagi astronot wanita maupun laki-laki. Harganya pun juga tak main-main, mencapai miliaran rupiah untuk satu instalasi di stasiun luar angkasa internasional (ISS).

Pada umumnya, toilet astonot atau waste and hygiene compartment (WHC) di luar angkasa atau di ISS prinsipnya sama saja. Kotoran dibuang dan ditampung. Hanya itu. Tetapi wadah penampungnya saja yang berbeda.

Baca juga: FAA Ubah Definisi Astronot, Blue Origin Jeff Bezos ‘Keok’ dari Virgin Galactic Richard Branson

Untuk kotoran BAB astronot, itu disimpan dalam kantong plastik. Kotoran akan dikirim dengan kapal kargo menuju bumi atau diangkut ke pesawat luar angkasa khusus sampah dan dibiarkan jatuh serta terbakar di atmosfer bumi bak bintang jatuh.

Sedangkan untuk kotoran BAK, urine yang dikumpulkan di toilet akan dialihkan ke sistem daur ulang NASA yang sudah lama ada untuk menghasilkan air dan untuk meminum atau pun memasak sehari setelah urine dibuang. “Menyangkut urine kita di (ISS), kopi hari ini adalah kopi besok,” kata astronot NASA, Jessica Meir, seperti dikutip dari discovermagazine.com.

 

Inilah 10 Stasiun Terindah di Jalur Kereta Trans-Siberia

Jalur Trans-Siberia yang dibangun selama 13 tahun, memiliki rute mengitari Danau Baikal dan terbentang dari Moskwa hingga Vladivostok di ujung timur Rusia. Kereta pertamanya beroperasi di jalur tersebut sejak tahun 1893. Nah, karena memiliki jalur sepanjang 7.854 km, sudah pasti ada begitu banyak stasiun yang akan dilintasinya.

Baca juga: Trans-Siberia, Kereta Yang Mengubah Takdir Cinta

Nah, ada sepuluh stasiun yang menarik dan arsitekturnya merupakan mahakarya sejati di jalur Trans-Siberia. Penasaran stasiunnya di mana saja? Ini KabarPenumpang.com rangkum sepuluh stasiun tersebut dari rbth.com (9/8/2021).

Moskow
Stasiun Yaroslavsky ini merupakan titik awal keberangkatan kereta Trans Siberia menuju daerah di timur. Bentuknya pun merupakan sebuah karya seni dan dibangun akhir abad ke-19, dibangun kembali pada awal abad ke-20 oleh arsitek Fyodor Shekhtel. Dekorasi stasiun menggunakan gaya Rusia serta Art Nouveau dan pelancong akan berasa seperti di menara kuno atau pun di gereja Rusia abad pertengahan.

Kirov
Kota ini merupakan persimpangan kereta api yang penting, yang menghubungkan rute utara dari St. Petersburg dan Vologda dengan Ural dan Siberia. Bangunan stasiun modern dibangun pada tahun 1961 dengan gaya Kekaisaran Stalinis, penuh dengan lengkungan, pedimen dengan relief dasar dan dekorasi dalam bentuk lambang Soviet tiga dimensi.

Omsk
Stasiun kereta api utama kota ini dibangun pada tahun 1958, juga dengan gaya Kekaisaran Stalinis. Megah namun singkat di luar, dihiasi dengan marmer mewah di bagian dalam.

Novosibirsk
Stasiun (kayu) pertama di Novosibirsk dibuka pada tahun 1896, dan sebenarnya kota itu dibangun di sekitar rel kereta api baru. Stasiun yang ada saat ini merupakan ciptaan tahun 1930-an. Bagian tengah fasad adalah lengkungan kemenangan, elemen favorit arsitektur Soviet.

Krasnoyarsk
Stasiun kereta api utama di kota besar Siberia ini menyerupai arena perbelanjaan yang sangat besar. Stasiun pertama, yang dibangun pada tahun 1895, langsung dialiri listrik dan tampak spektakuler dalam cahaya malam lentera jalanan. Stasiun ini memperoleh penampilan masa kini, termasuk atap berkubah yang luar biasa, pada abad ke-21 setelah rekonstruksi skala besar.

Irkutsk
Stasiun yang dibangun tahun 1906-1907 memiliki gaya klasik yang mengingatkan pada istana kerajaan daripada sebuah stasiun kereta api.

Slyudyanka
Sebuah kota kecil di Danau Baikal punya stasiun bernama Slyudyanka dan menjadi pusat penting setelah kereta Trans Siberia melintasinya. Bahkan stasiun kereta lokal menjadi permata arsitektur yang dibangun pada awal abad ke-20 dari marmer putih dan merah muda yang ditambang secara lokal.

Ulan-Ude
Kereta pertama tiba di sini, di pinggiran Kekaisaran Rusia, pada tahun 1899, yang secara besar-besaran mendorong perkembangan kota. Stasiun modern dibangun pada tahun 1937 dan kemudian direkonstruksi pada tahun 2019. Sehingga pelancong yang ke ibukota Republik Buryatia akan disambut dengan kaleidoskop warna kuning-hijau-biru yang terinspirasi Buddha.

Birobidzhan
Stasiun di ibu kota Daerah Otonomi Yahudi ini menampilkan desain Soviet kuno dengan lengkungan dan pilaster dan tanpa kesan megah. Alun-alun stasiun didekorasi dengan menorah emas tradisional Yahudi (kandil multi-cabang); ditambah ada monumen untuk pemukim pertama yang tiba di tanah yang belum berkembang di Timur Jauh Rusia ini pada akhir 1920-an.

Baca juga: Bersanding Dengan Trans-Siberia, Rusia Siap Bangun Jaringan Kereta Cepat Moskow-Kazan!

Vladivostok
Stasiun pusat Vladivostok adalah replika Yaroslavsky Moskow, dan juga dibangun dengan gaya Neo-Rusia. Jadi, seperti yang dikandung oleh penciptanya, Kereta Api Trans Siberia berakhir secara arsitektural saat dimulai. Stasiun ini bersebelahan dengan terminal pelabuhan. Kebetulan, peletakan batu pertama terjadi pada tahun 1891 di hadapan calon Kaisar Nicholas II.

Pecinta Kereta di Jepang Bisa Beli Furnitur yang Terbuat dari Komponen Romance Super Express

Sebagai memorabilia, seorang pecinta kereta api tentu akan senang jika bisa memiliki  bagian kecil dari kereta api favorit. Seperti di Jepang, ternyata dijual komponen asli dari kereta yang diolah kembali sebagai furnitur. Entitas dibalik pembuatan itu adalah Odakyu, yakni salah satu perusahaan kereta api besar di Tokyo dan terkenal dengan rangkaian kereta Romancecar.

Baca juga: Mau Menikmati Sensasi Kereta Asli Orient Express? Langsung Ke Singapur Yuk

Beragam furnitur yang dibuat dari bagian Romancecar. Foto: Japan Today

Yang dimaksud penggunaan kembali komponen dan suku cadang menjadi furnitur di sini adalah miliki Romancecar Super Express (SE) 3000, kereta yang beroperasi dari tahun 1957 hingga 1992. Kereta ini dikenal sebagai inspirasi pengembangan kereta peluru Shinkansen. Ciri khas dari SE 3000 memiliki livery warna merah apel yang dapat dilihat sebagai motif utama dari furnitur yang digunakan ulang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari japantoday.com (8/9/2021), Odakyu belum lama ini mengungkapkan lima perabot yang dijual sebagai bagian dari proyek suku cadang Romancecar milik perusahaan. Di mana hasilnya nanti digunakan untuk pelestarian dan pengelolaan kereta Romance yang sudah pensiun.

Potongan furnitur tersebut dirancang oleh Noriaki Okabe Architecture Network yang memiliki sejarah mengerjakan desain untuk Romancecar lainnya dan kelima bagian tersebut adalah sofa SE Romance dengan harga jual (440 ribu yen) dan kursi asli SE 3000 dengan penutup kepala baru. SE Romance car table dijual dengan harga (650 ribu yen) yang terbuat dari bahan lantai gerbong bekas kereta SE.

Bufet SE “Running Coffee Room” (650 ribu yen) dan terbuat dari etalase yang digunakan untuk layanan Running Coffee Room Romancecar, di mana penumpang disuguhi berbagai minuman dan makanan ringan, stand lampu SE “Kaikoto” (350 ribu yen) yang mana ini adalah tiruan dari penutup lampu neon yang digunakan di langit-langit gerbong kereta. Kabinet Kaca SE (450 ribu yen) yang pintu kacanya terbuat dari jendela samping kereta.

Sebelum lima bagian ini, ada empat bagian lain yang dibuat dari bagian Super Express Romancecar. Di mana empat macam furnitur ini telah di-restock bertepatan dengan furnitur yang baru dirilis. Empat furnitur itu ialah kursi makan kayu SE (61.500 yen), kursi anak Super Express ukuran besar (61.500 yen) dan kecil (56.500 yen), ketiganya adalah kursi buatan dengan bantal dari kereta SE Romancecar.

Selain itu ada SE Wood Hanger (41.500 yen), yang memiliki pelat nomor kursi asli yang melekat padanya dan warna serat kayunya didasarkan pada SE 3000. Perabotan Romancecar akan dijual hingga 30 November 2021 dan baru dijual bagi pecinta kereta api di Jepang.

Baca juga: Boeing Jual Furniture dari Suku Cadang Asli Pesawat 747 hingga F-4 Phantom! Segini Harganya

Sementara untuk mereka yang tinggal di luar negeri belum tersedia. Meski begitu, bagi Anda yang masih ingin melihat lebih banyak foto atau mempelajari lebih lanjut tentang setiap bagian, maka bisa mengunjungi Jepang Odakyu untuk Proyek Bagian Peringatan Romancecar.






















Bandara Hong Kong Rampungkan Runway Ketiga di Tanah Reklamasi

Bandara Internasional Hong Kong (HKIA) sukses menyelesaikan pembangunan runway ketiga di atas lahan reklamasi. Runway yang tergabung dalam proyek Three-Runway System (3RS) sebesar US$18,2 miliar ini diharapkan bisa dipakai mulai 2022 mendatang, enam tahun setelah kontruksi pertama dimulai.

Baca juga: Bandara Hong Kong Dapat Suntikan Rp64 Triliun, Bagaimana dengan Bandara di Indonesia?

Proyek 3RS ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penerbangan Hong Kong didukung dengan berbagai fasilitas tambahan. Runway ketiga Bandara Hong Kong juga ditujukan untuk meningkatkan kapasitas penumpang HKIA menjadi 120 juta per tahun dan kapasitas angkut kargo menjadi 10 juta ton per tahun.

“Three-Runway System merupakan bagian integral dari visi kami untuk bertransformasi dari ‘bandara kota’ menjadi ‘Kota Bandara’,” kata kepala eksekutif Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam di sela-sela topping-off Selasa lalu, seperti dikutip dari Simple Flying.

“Menurut perkiraan sebelumnya, 3RS akan menghasilkan kontribusi langsung, tidak langsung, dan induksi sekitar 5 persen dari produk domestik bruto Hong Kong pada tahun 2030. Ini menunjukkan bahwa 3RS akan memberikan dorongan ke HKIA, serta ekonomi Hong Kong secara keseluruhan di masa depan,” tambahnya.

Runway atau landasan pacu ketiga bandara memiliki panjang 3,8 km dan lebar 60 meter, dengan dukungan sekitar 14.000 ground lights atau biasa juga disebut Airfield Lighting System (AFL) untuk memandu pesawat.

Baca juga: Ternyata, Pesawat Tak Selalu Ngebut di Runway untuk Bisa Terbang, Ini Alasannya

Sementara runway akan mulai beroperasi mulai tahun depan, aspek lain dari proyek 3RS, seperti perluasan terminal dan infrastruktur, diperkirakan molor hingga lebih dari tahun 2024.

Seperti diketahui, pembangunan runway ketiga Bandara Hong Kong hanyalah salah satu dari mega proyek Bandara HKIA senilai US$18,2 miliar atau sekitar Rp259 triliun (kurs 14.330). Dana sebesar itu dikucurkan, sebagaimana kata Carrie Lam, untuk menjadikan Hong Kong sebagai Kota Bandara (Airport City).

Untuk mewujudkan itu, lebih dari 650 hektar lahan di utara HKIA telah direklamasi untuk proyek perluasan, dengan sekitar 90 persennya sudah rampung. Berbagai lahan reklamasi tersebut nantinya akan digunakan bukan hanya untuk runway dan terminal baru, tetapi juga pusat hiburan, perbelanjaan, perkantoran, dan lain sebagainya.

Sebelum pandemi virus Corona menerjang, dua runway Bandara HKIA sudah jauh melebihi kapasitas 420.000 penerbangan per tahun, terhubung ke sekitar 180 tujuan, melalui lebih dari 1.000 penerbangan setiap hari oleh lebih dari 100 maskapai.

Baca juga: Jangan Kaget, Ini Bandara dengan Jumlah Runway Terbanyak di Dunia

Profesor di Institut Manajemen Penerbangan Sipil Cina, Diao Weimin, menyebut konsep Three-runway System akan berdampak besar pada pengembangan HKIA di masa mendatang. Sebab, maskapai global besar kemungkinan akan meningkatkan frekuensi penerbangan mereka, seiring minat bepergian masyarakat dunia yang juga meningkat.

Meskipun demikian, hal itu tak lantas membuatnya menjadi yang terdepan dalam memanfaatkan pertumbuhan pesat industri penerbangan global (di luar wabah corona). Sebab, berbagai bandara lainnya juga telah bersiap menyambut era itu, seperti kota-kota Greater Bay Area (Guangdong dan Macau), Singapura (bangun terminal ke-5 Bandara Changi), serta Korea Selatan.

 

Inilah Jarak Antar Dua Stasiun KRL Jabodetabek yang Disebut ‘Terpendek dan Terpanjang’

Anker alias anak kereta adalah sebutan bagi mereka yang bepergian dengan menggunakan transportasi kereta rel listrik atau KRL. Namun, sebagai anak kereta tahukah Anda kalau di semua jalur KRL Jabodetabek yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) memiliki jarak antar stasiun yang terpendek dan terpanjang?

Baca juga: Hanya Punya Dua Stasiun, Jalur Shibayama Adalah Yang Terpendek di Jepang

Mungkin Anda tidak pernah berpikir hal itu dan menganggap semua memiliki jarak yang sama dan tidak terlalu jauh dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Tetapi bila ditelisik lebih lagi, nyatanya jarak antar stasiun berbeda.

Relasi KRL dengan jarak antar stasiun

Penasaran? KabarPenumpang.com kali ini akan membahas jarak terpendek dan terpanjang antar stasiun yang ada di KCI dari Jakarta Kota ke Bogor, Jakarta Kota ke Bekasi, atau hingga ke Rangkas Bitung dan Nambo. Ternyata, jarak stasiun terpendek ada di relasi dari Jakarta Kota menuju Bogor.

Di mana Stasiun Sawah Besar memiliki jarak hanya 707 meter untuk mencapai Stasiun Juanda. Kemudian relasi Tanjung Priok ke Jatinegara ada Stasiun Gang Sentiong menuju ke Stasiun Kramat dengan jarak 973 meter.

Nah itu untuk jarak stasiun terpendek di relasi KCI Jabodetabek. Bagaimana dengan jarak terpanjang antar stasiun? Untuk jarak terpanjang ada di relasi Tanah Abang ke Rangkas Bitung. Di mana jarak Stasiun Citeras menuju ke Rangkas Bitung sejauh 9,8 km.

Lalu jarak Stasiun Maja ke Citeras 7,2 km dan dari Stasiun Parung Panjang ke Stasiun Cilejit tujuh kilometer. Kemudian di relasi Jakarta Kota menuju Bogor yakni jarak Stasiun Cilebut ke Stasiun Bogor sekitar 7,5 km.

Sedangkan untuk stasiun lainnya di hampir semua relasi memiliki jarak antar stasiun rata-rata sekitar satu hingga tiga kilo meter. Tetapi ada juga yang empat atau lima kilometer.

Baca juga: Sempat Jadi Tempat Persusulan Kereta, Stasiun Wojo Direaktivasi Untuk Transit Kereta Bandara

Jarak ini juga yang membuat waktu tempuh perjalan kereta dari stasiun satu ke yang lainnya berbeda. Seperti jarak dekat waktu tempuhnya pun tidak cepat alias bisa lama karena antrean kereta jarak jauh atau menunggu masuk tujuan akhir.

Inilah Kantor Terapung Terbesar di Dunia! Jadi Markas LSM Besutan Eks Sekjen PBB Ban Ki-moon

Kantor terapung terbesar di dunia resmi berdiri di Belanda, tepatnya di pelabuhan Rijnhaven Rotterdam. Selain jadi kantor terapung terbesar di dunia, firma desain Powerhouse Company, yang memimpin projek ini, juga menjadikan kantor tersebut lebih ramah lingkungan, sesuai degan concern organisasi yang menempatinya, Global Center on Adaptation pimpinan eks Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Ban Ki-moon.

Baca juga: Empat Keunggulan Bandara Terapung, Nomor Tiga Sangat Menggiurkan

Dikutip dari New Atlas, kantor terapung terbesar di dunia yang bernama FOR ini juga ramah lingkungan.

Sumber listriknya 100 persen mengandalkan panel surya. Tak hanya itu, panel surya, yang belakangan dikhawatirkan malah menjadi beban lingkungan baru di masa mendatang, juga didesain agar mudah didaur ulang saat masa pakainya habis puluhan tahun ke depan.

FOR baru-baru ini diresmikan oleh Raja Belanda Willem-Alexander bersama mantan Sekjen PBB Ban Ki-moon dan direktur pelaksana IMF Kristalina Georgieva.

FOR nantinya dijadikan sebagai kantor pusat Global Center on Adaptation, yang dipimpin oleh Ban Ki-moon, dengan menggandeng bank ABN Amro, RED Company, serta firma desain Powerhouse Company itu sendiri. Selain LSM tersebut, ada juga beberapa restoran di sini yang tentu saja mengusung konsep berkelanjutan, sebagaimana ruh daripada kantor terapung terbesar di dunia itu.

Dipilihnya Belanda sebagai lokasi projek ini juga tanpa alasan. Belanda, terutama kawasan pelabuhan Rijnhaven Rotterdam, saat ini memang sedang ditata dan dikembangkan ulang agar seluruhnya mengusung konsep berkelanjutan dan siap menghadapi perubahan iklim.

Selain itu, pelabuhan ini juga berjarak tak jauh dari Maritime Center Rotterdam, pusat ekonomi yang juga tahan terhadap perubahan iklim, yang dikembangkan oleh firma desain Mecanoo.

Kantor terapung terbesar di dunia FOR berdiri di atas lahan sebesar 3604 meter persegi. Ada tiga spot di sini. Yang paling mencolok tentu gedung kayu tiga lantai ramah lingkungan dengan atap hijau terbuat dari rumput.

Kebutuhan listrik di sini dipasok oleh panel surya seluas 800 meter persegi yang dihubungkan ke baterai. Air pelabuhan juga dimanfaatkan oleh rumah terapung terbesar di dunia nan ramah lingkungan itu, sebagai penyerap panas serta membantu menyediakan pemanas dan pendingin yang efisien.

“Kami merancang kantor terapung kami untuk mencerminkan nilai-nilai penghuninya: Global Center on Adaptation,” kata Powerhouse Company.

Baca juga: Di Antara Kegunaan Bandara Terapung: Alternatif Tempat Pemasangan Sistem Anti-Rudal

“LSM yang berbasis di Rotterdam yang diketuai oleh Ban Ki-moon ini bertujuan untuk mempromosikan perencanaan, investasi, dan teknologi untuk memitigasi perubahan iklim,” tambahnya.

“Bangunan netral karbon ini dirancang agar tahan terhadap iklim dan akan mengapung jika permukaan laut naik karena perubahan iklim. Kantor tahan iklim adalah ilustrasi misi pusat dan memberikan contoh bagaimana membangun struktur terapung yang berkelanjutan,” tutupnya.