Ditinggal Mati, Pesawat Pribadi Eks Presiden Libya Muammar Gaddafi Kembali Terbang

Di dunia, sudah menjadi rahasia umum bahwa orang tajir memiliki pesawat pribadi untuk menunjang bisnis mereka.

Baca juga: Enam Private Jet Termahal Milik Pesepak Bola Dunia, Nomor Satu Lekat dengan Aceh-Indonesia!

Bill Gates, misalnya, punya empat pesawat jet pribadi berupa dua Gulfstream G650ER (menggantikan dua jet Bombardier 700 Global Express yang sudah tua), masing-masing bernilai hampir US$70 juta, dan dua Bombardier Challenger 350, bernilai US$ 27 juta per unit. Jeff Bezos, orang terkaya di dunia, punya beberapa private jet. Salah satunya Gulfstream G650.

Selanjutnya ada private jet Boeing 747-8 VIP konglomerat Hong Kong Joseph Lau, private jet Boeing 747-400 Pangeran Al Waleed bin Talal, private jet Airbus A340 Alisher Usmanov, Boeing 767-300 Roman Abramovich, dan Boeing 767-200 rapper Kanada, Drake.

Meski tak setenar pesawat pribadi nama-nama besar di atas, eks Presiden Libya, Muammar Gaddafi, ternyata juga mempunyai jet pribadi berbasis Airbus A340-200 atau yang lebih dikenal sebagai 5A-ONE.

Presiden Libya yang dikudeta dan terbunuh itu diketahui resmi memiliki 5A-ONE mulai tahun 2006. Pesawat itu kemudian jadi tak bertuan setelah Gaddafi meninggal pada tahun 2011.

Seharusnya, itu memang jatuh ke tangan ahli warisnya ataupun ke tangan Pemerintah Libya sebagai barang sitaan atas tuduhan penggelapan uang negara selama ia menjabat.

Lama tak terlihat, pesawat pribadi Muammar Gaddafi itu dilaporkan terlihat lagi di langit. Sudah pasti pesawat itu tidak terbang secara misterius, sebagaimana pesawat Santiago Airlines dengan nomor penerbangan (flight) 513 yang muncul lagi pasca 35 tahun hilang, melainkan untuk menjalani perbaikan menyongsong tahun layanan bersama maskapai baru.

Menurut data ch-aviaiton.com, sebelum menjadi pesawat pribadi Presiden Muammar Gaddafi, pesawat ini dikirim Airbus ke Sultan Brunei Darussalam pada tahun 1996 sebagai pesawat kerajaan. Pesawat itu diregistrasi sebagai V8-JBB dan beroperasi sampai tahun 2000.

Setelah itu, pesawat itu jatuh ke tangan Pangeran Al-Waleed bin Talal bin Abdul-Aziz Al Saud melalui perusahaan Kingdom Holding dan dijadikan sebagai pesawat pribadi. Registrasinya pun berubah menjadi HZ-WBT4. Bersama Pangeran Al-Waleed, pesawat pribadi ini beroperasi sampai Oktober tahun 2006.

Sebelum dijual, ia diketahui membeli pesawat Boeing 747-400 dan dijadikan sebagai pesawat pribadi atau private jet sampai saat ini. Pesawat pribadinya itu pun dinobatkan sebagai pesawat pribadi paling mewah di dunia. Tak hanya itu, ia juga menjadi satu-satunya orang yang pernah memesan private jet Airbus A380, meski pada akhirnya pesawat tak sampai dikirim ke pangeran.

Setelah lepas dari tangan Pangeran Al-Waleed bin Talal, pesawat akhirnya dibeli oleh Presiden Muammar Gaddafi seharga US$120 juta. Pesawat itu diserahkan ke maskapai nasional Libya, Afriqiyah Airways, pada Oktober 2006 da diregistrasi sebagai 5A-ONE.

Meski dioperasikan oleh maskapai, tetapi, pesawat ini secara eksklusif terbang untuk Gaddafi atau menjadi pesawat pribadinya. Namun, pesawat pribadinya itu lebih sering digunakan oleh putranya.

Pada Agustus 2011, 5A-ONE ditangkap oleh pemberontak Libya di Bandara Tripoli. Pesawat pribadi yang dilengkapi interior dan fasilitas mewah seperti bak mandi air panas, bioskop pribadi, dan kamar tidur berlapis cermin, sampai karpet merah, ini kemudian dikirim ke Toulouse, Perancis, untuk perbaikan setelah rusak selama kudeta Libya.

Pesawat itu tetap di-grounded dalam jangka waktu cukup panjang, sekalipun sesekali terbang untuk pemerintah Libya yang baru. Pada Mei 2021 lalu, 5A-ONE terpantau kembali terbang.

Baca juga: Serba-serbi Private Jet Pangeran Al Waleed bin Talal: Singgasana Emas dengan 11 Pramugari

Pada awal Juni 2021, pesawat menghabiskan dua minggu di Bandara Atatürk Istanbul sebelum terbang kembali ke Libya. Pesawat kemudian terlihat kembali di London dan Berlin.

Laporan terbaru, pesawat itu sudah laik terbang dan siap melayani penerbangan penumpang maupun kargo bersama maskapai.

 

Buntut Mesin Terbakar dan Meledak di Udara, Boeing 777 Dilarang Terbang Sampai 2022

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) melarang beroperasinya Boeing 777 yang mesinnya terbakar dan meledak di udara sampai 2022. Keputusan diambil mengingat sejumlah perubahan yang dilakukan Pratt-Whitney dan Boeing setidaknya baru selesai di tahun tersebut.

Baca juga: Ternyata Ini Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar di Udara

Saat ini, keduanya memang sedang mengerjakan sejumlah perbaikan, termasuk perubahan desain dan perbaikan pada mesin.

“Boeing bersama FAA, mitra, dan Pratt & Whitney bekerja sama untuk mengembalikan pesawat B777 bermesin PW4000-112 ke layanan dengan aman,” kata Boeing dalam sebuah pernyataan.

“Kami telah mengidentifikasi perubahan desain dan bekerja untuk menyelesaikannya, termasuk upaya kuat sertifikasi ulang,” tambahnya, seperti dikutip dari komonews.com.

Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) sebelumnya berhasil mengungkap penyebab mesin Boeing 777-200 United Airlines terbakar. Muara dari temuan itu, Pratt & Whitney, selaku produsen mesin PW4077 yang terbakar, merevisi inspeksi rutin blade kompresor rendah (LPC) menjadi per 1.000 siklus.

Menurut data black box cockpit voice recorder (CVR) pesawat yang didapat NTSB, pada 20 Februari 2021 lalu, Boeing 777-200 United Airlines dengan nomor penerbangan 328 lepas landas dengan mulus dari Bandara Denver menuju Honolulu, AS.

Empat menit kemudian, ketika mencapai ketinggian 12.500 kaki di kecepakan 280 knot, pilot mendorong tuas throttle ke posisi up untuk meningkatkan tenaga pada mesin. Itu dilakukan guna menghindari turbulensi yang biasanya kerap menghantui penerbangan di sekitar Bandara Denver.

Setelah throttle pada posisi up, beberapa menit berselang terdengar suara ledakan keras di bagian mesin kanan pesawat, diikuti peringatan kebakaran mesin. Beberapa bagian mesin pun jatuh ke daratan dan nyaris menimpa rumah warga.

Sejurus kemudian, pilot dan kopilot menyatakan keadaan darurat dan memutuskan untuk return to base atau go around ke Bandara Denver dan melakukan pendaratan darurat. Pada prosesnya, kru mengecek daftar periksa kebakaran mesin untuk memadamkan api. Sayangnya, api tak kunjung padam dan alarm kebakaran mesin masih terus berbunyi.

Meskipun bahan bakar masih terlalu penuh untuk melakukan pendaratan, pilot memutuskan untuk tidak membuang bahan bakar pesawat untuk alasan waktu dan keamanan. Tak lama kemudian, approach berhasil dilakukan dan pesawat berhasil mendarat darurat bersama 241 orang, termasuk penumpang dan awak.

Laporan awal menyebutkan kebakaran mesin Boeing 777 United Airlines lebih disebabkan oleh metal fatigue atau kelelahan (kehausan) logam.

Akan tetapi, NTSB kemudian menjelaskan dengan lebih detail bahwa kecelakaan disebabkan oleh adanya dua bilah kipas yang patah. Patahan bilah kipas itu disebabkan oleh metal fatigue. Selain itu, ada pula bilah mesin yang bergeser akibat overload failure.

Mengetahui hal itu, Pratt & Whitney pun merevisi ambang pemeriksaan gambar akustik termal (TAI) menjadi 1.000 siklus untuk blade kompresor rendah (LPC). Inspeksi ini kemudian ditindaklanjuti Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA) dengan Petunjuk Kelaikan Udara Darurat untuk mengetahui adanya retakan pada bilah mesin.

Baca juga: NTSB Sebut Metal Fatigue Jadi Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar

Keduanya juga memberikan panduan tentang perbaikan yang diperlukan untuk diselesaikan United Airlines, agar 24 pesawat Boeing 777-200 yang digrounded pasca kejadian itu bisa kembali ke udara.

Sebagai informasi, United Airlines adalah satu-satunya maskapai di Amerika Serikat (AS) yang masih menggunakan mesin tipe ini. Pengguna lain mesin PW 4000 adalah Jepang dan Korea. Untuk Jepang, regulator penerbangan baru melarang maskapainya menggunakan Boeing 777 dengan mesin PW 4000 setelah terjadi insiden di AS.

Australia Canangkan Buka Penerbangan (Penumpang) ke Luar Negeri pada Desember

Tingkat masyarakat yang sudah vaksin kini semakin tinggi jumlahnya. Meski begitu masih dikatakan jauh dari normal dan batasan perjalanan pun masih ketat. Hal ini dirasakan di Amerika, Australia, negara di Eropa, Asia hingga Afrika.

Baca juga: Gegara Tak Pakai Masker, Pria Inggris Dipenjara Enam Minggu di Singapura

Bahkan di Australia, penduduknya hingga saat ini masih sepenuhnya dilarang untuk terbang keluar negeri tanpa pengecualian dari pemerintah. Walau masih belum normal, tetapi tanda-tanda perjalanan sudah bisa terlihat.

Bahkan bisa menjadi jauh lebih bebas di Negeri Kanguru tersebut pada awal Desember 2021. KabarPenumpang.com melansir dari dmarge.com (1/9/2021), target Australia saat ini adalah agar 80 persen orang dewasa sudah vaksin penuh di Desember 2021.

Jika ini tercapai, maka pemerintah akan mencabut izin larangan bepergian dan masyarakat bisa melancong ke negara-negara dengan tingkat vaksinasi tinggi dan risiko Covid rendah. Berbagai negara itu yakni Inggris, Amerika Utara dan sebagian Asia.

Sedangkan untuk perjalanan ke kota-kota dengan risiko Covid yang lebih tinggi kemungkinan akan diundur hingga setidaknya April 2022. Kota-kota itu seperti Bali, Phuket, Bangkok, Manila, Ho Chi Minh dan Johannesburg.

Baca juga: CDC Rekomendasikan Warga AS untuk Kembali Gunakan Masker di Ruang Publik

Tetapi ketika Anda sudah mengikat diri untuk penerbangan internasional pertama di dunia pasca Covid, ada beberapa hal yang perlu di pelajari. Meski begitu, dalam perjalanannya, para pelancong tetap harus menaati protokol kesehatan salah satunya adalah tetap menggunakan masker meski sudah di vaksin.






















Operator Kereta Api Thailand Gunakan Kereta Hibah dari Jepang untuk Pariwisata

Meski telah pensiun, biasanya kereta tidaklah langsung di tempatkan di kuburan kereta. Sebab, beberapa di antaranya masih bisa digunakan kembali alias di operasikan lagi baik untuk pariwisata atau dikonversi menjadi tempat baru.

Baca juga: Kereta Mewah “36+3” Meluncur, Lintasi Lima Rute di Kyushu

Seperti operator Kereta Api Thailand atau STR yang mengoperasikan kembali kereta hibah dari Jepang. Operator kereta asal Negeri Gajah Putih ini mengatakan, meski bekas, ini masih layak pakai karena kondisi yang masih cukup baik.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman pattayamail.com (11/9/2021), kereta ini disumbangkan oleh Operator kereta api Jepang JR Hokkaido dan merupakan kereta yang dinonaktifkan sejak 2016. Meski begitu, STR harus tetap mengocek biaya transportasi dan perbaikan kereta sumbangan tersebut.

Di mana jumlahnya pun tak sedikit untuk 17 gerbong kereta yakni sebesar 42,5 juta baht atau sekitar Rp18 miliar. Aekkarat Sriarayanpong, Direktur Humas SRT, mengatakan SRT akan melakukan inspeksi keselamatan dan perbaikan kereta-kereta ini pada saat kedatangan mereka.

Inspeksi tersebut untuk membuat kereta-kereta itu beroperasi di Thailand sebagai kereta pariwisata. SRT sebelumnya pada Oktober 2018 menerima sepuluh gerbong kereta dari Jepang.

Baca juga: Kereta Ferry, Sensasi Naik Kereta di Tengah Laut

Gerbong-gerbong ini juga sedang direnovasi untuk berfungsi sebagai kereta wisata. Kereta, yang diharapkan mulai beroperasi tahun depan, akan mencakup tiga gerbong penumpang reguler, mobil keluarga dan mobil rekreasi, dengan area yang mencerminkan corak yang dilewati kereta wisata.






















Hybrid Electric Road Train, Transportasi Alternatif Ramah Lingkungan dari Provinsi Isabela

Hybrid Electric Road Train (HERT) akan segera hadir di kota Ilagan Provinsi Isabela di Filipina. Nantinya HERT akan dikembangkan oleh Departemen Sains Teknologi (DOST) dan ini akan digunakan sebagai transportasi alternatif.

Baca juga: Cina Luncurkan ART, Kereta Otonom Tanpa Rel Untuk Kota Kecil

KabarPenumpang.com melansir dari pna.gov.ph (11/8/2021), dalam penandatanganan nota kesepahaman (MOU) virtual, sekretaris DOST Fortunato de la Peña mengatakan, bahwa Walikota Ilagan yakni Jose Diaz menyatakan minat untuk mengadaptasi HERT. Yang mana ini akan menjadi transportasi alternatif untuk garis depan, kegiatan sosialisasi dan lainnya. Selain itu, Ilaga sendiri memiliki tujuan untuk meningkatkan keterampilan para pelajar melalui fabrikasi HERT.

Penumpang mencoba Hybrid Electric Road Train

“Melalui HERT, DOST berharap dapat melayani kepentingan terbaik masyarakat di Kota Ilagan, khususnya kebutuhan akan sarana transportasi massal yang ramah lingkungan. Dapat menjadi pelengkap sistem transportasi umum yang ada di Ilagan.  Pada masa pandemi ini, HERT bisa digunakan oleh para garda terdepan, terutama saat lockdown, saat angkutan umum terbatas,” ujar De la Peña.

De la Peña mengatakan sebuah konsorsium di Isabela akan melakukan fabrikasi. Sehingga HERT akan membantu provinsi Isabela tumbuh secara ekonomi dan juga pembuatannya akan membantu industri manufaktur. Selain itu juga bisa membuka lapangan kerja bagi para engineer dan manufaktur.

HERT sejatinya adalah bus gandeng yang punya panjang 40 meter dan memiliki lima gerbong yang saling terkait dengan penumpang yang bisa diangkut sekitar 220 orang per rangkaian.

“Dinamakan ‘hybrid’ karena selain berbahan bakar solar, HERT juga menggunakan baterai listrik, sehingga emisi karbon yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan kendaraan yang murni berbahan bakar bensin atau solar,” ujar De la Peña..

Dia menambahkan bahwa HERT dapat membantu Ilagan Kota menjadi kota yang lebih hijau dan sangat layak huni. Sementara itu, yang juga merupakan bagian dari penandatanganan MOU adalah Isabela State University (ISU) yang akan melakukan penelitian dan kegiatan yang akan bermanfaat bagi HERT.

Baca juga: AS Ikuti Cina Gunakan Teknologi Rel Virtual dalam Autonomous Rail Transit

MIRDC akan memberikan informasi teknis kepada perakit, tunduk pada penandatanganan perjanjian kerahasiaan. Di sisi lain, DOST-Wilayah II akan menugaskan untuk studi kelayakan jaringan HERT yang layak (stasiun kereta api, penyediaan ruang jalan), sistem tarif, arus penumpang transportasi. Pemerintah Ilagan akan mengidentifikasi rute yang memungkinkan, dan menangani kemungkinan kebutuhan infrastruktur seperti pelebaran jalan.






















Pesawat Boeing 737 Misterius di Bali Kini ‘Nangkring’ di Atas Tebing Pantai Nyang Nyang

Pesawat Boeing 737 misterius viral yang mangkrak di lembah buatan dekat Pantai Pandawa, Badung, sekitar lima kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai, kini ‘terbang’ dan bertengger di Atas Tebing Pantai Nyang Nyang, Desa Pecatu Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.

Baca juga: Ternyata Begini Sejarah Dua Pesawat Boeing 737 Misterius yang Mangkrak di Bali

Pesawat Boeing 737-200 bekas Mandala Airlines yang dahulu teregistrasi sebagai PK-RII sengaja dipindahkan dari tempat sebelumnya untuk meningkatkan potensi wisata di Pantai Nyang Nyang.

Pantai itu selama ini bisa dibilang kalah saing dengan berbagai pantai besar lainnya di Bali, seperti Pantai Nusa Dua, Pantai Kuta, Pantai Jimbaran dan lainnya. Kelengkapan fasilitas penginapan dan hiburan serta turunanya juga masih jauh dibanding destinasi wisata lainnya di Bali.

Dengan adanya pesawat yang ditempatkan di atas tebing Pantai Nyang Nyang ini, pada waktunya, diharapkan Pantai Nyang Nyang bisa menjadi ikon wisata baru Bali dan dapat mengundang lebih banyak wisatawan. Muara dari itu tentu mengangkat ekonomi masyarakat yang selama setahun lebih terpuruk akibat pandemi virus Corona.

Selain jadi spot foto menarik, pesawat dengan panjang 29,54 meter, lebar 5,2 meter, dan tinggi 3,96 meter ini nantinya akan disulap menjadi restoran. Restoran di Bali memang sangat banyak, tetapi restoran yang dibangun dari pesawat atau pesawat yang disulap menjadi restoran bisa dibilang hampir tidak ada di Bali. Di Indonesia pun jumlahnya bisa dihitung jari.

Selain desainnya yang menarik wisatawan, konsep restoran pesawat di Bali ini juga unik, dimana pengunjung bisa datang dan makan apa saja dan bayar sesukanya. Ini disebut konsep kotribusi atau contribution based restaurant.

Laporan media lokal Nusa Bali, hadirnya pesawat Boeing 737-200 PK-RII di atas Tebing Pantai Nyang Nyang setinggi 15 meter tak lepas dari kolaborasi Felix Demin (seorang pengusaha asal Rusia) dan I Made Sukardiana alias Made Kur, warga setempat.

Felix Demin merupakan pengusaha asing yang sebelumnya telah mengembangkan berbagai property di Bali, sementara Made Kur adalah pemilik lahan di mana ‘Nyang Nyang Airplane’ dipasang.

Menurut Made Kur, ide pemasangan ‘Nyang Nyang Airplane’ ini bermula dari pengusaha Felix Demin, yang sering surfing di Pantai Nyang Nyang. “Felix Demin menyatakan ingin menaruh pesawat di sini,” kenangnya.

Baca juga: Ada Sosok Boeing 737 Misterius di Bali, Kini Jadi Obyek Foto Favorit Para Pelancong

Lebih lanjut, Made menyebut, sebelum ditempatkan di atas tebing Pantai Nyang Nyang, Desa Pecatu, bodi pesawat Boeing 737-200 tersebut sempat lama berada Pandawa (bukan Pantai Pandawa), Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, sejak dibeli tahun 1993. Bahkan, bodi pesawat tersebut nyaris jadi besi tua dan sempat hendak dijual ke Cina.

Namun, entah bagaimana ceritanya, pesawat tersebut akhirnya dipindahkan dan dipasang oleh enam orang teknisi yang didatangkan khusus dari Bandara Internasional Juanda Surabaya di atas tebing Pantai Nyang Nyang.

Operator Kereta di Jepang Fokus Bantu Penumpang yang Gunakan Kursi Roda

Operator kereta api di Jepang saat ini tengah mempercepat upaya untuk memudahkan para pengguna kursi roda naik kereta tanpa bantuan petugas. Hal yang dilakukan untuk ini adalah mengurangi langkah vertikal antara lantai dan peron kereta serta celah horizontal antar kereta dengan peron sehingga memudahkan para pengguna kursi roda untuk naik atau turun sendiri.

Baca juga: Mudahkan Penumpang Pengguna Kursi Roda, Operator Kereta Jepang Adopsi Aplikasi di Ponsel

Ini kemudian membuat banyak operator kereta api yang mulai merenovasi secara serius setelah kementerian transportasi menetapkan standar bebas hambatan untuk langkah dan celah. Selain itu juga untuk Paralimpian Tokyo yang belum lama diselenggarakan. Dilansir KabarPenumpang.com dari japantimes.co.jp (23/8/2021), perubahan beberapa sentimeter dapat memungkinkan orang dengan mobilitas terbatas untuk bepergian dengan bebas.

Sehingga para pengguna kursi roda bisa dengan leluasa naik dan turun kereta tanpa bantuan, salah satunya di mana bila ada ketinggian bagian peron dengan pintu gerbong harus diberi ramp tambahan. Nantinya juga akan ada perangkat karet yang harus dipasang untuk mempersempit celah antara kereta api dan platform. Untuk diketahui, Okinawa Urban Monorail Inc. dan Osaka Metro Co. adalah yang pertama mengambil tindakan bebas hambatan semacam itu.

Pada 2018, Kementerian Perhubungan melakukan uji coba yang melibatkan 23 pengguna kursi roda. Setelah menganalisis hasil pengujian, ditetapkan undakan vertikal tiga sentimeter dan celah horizontal tujuh sentimeter sebagai standar bebas hambatan untuk peron lurus dengan rel kereta api beton. Dari 1.290 stasiun dengan peron dan jalur seperti itu di seluruh negeri, stasiun dengan setidaknya satu bagian peron yang memenuhi standar kementerian mencapai 623 pada Oktober 2020.

Pada bulan Juni kemarin, peron jalur Tokaido Shinkansen Central Japan Railway Co. di Stasiun Tokyo diubah untuk memenuhi standar. Satoshi Sato, sekretaris jenderal Majelis Nasional Penyandang Cacat Internasional Jepang, memuji langkah tersebut.

“Orang-orang di kursi roda sekarang dapat naik dan turun kereta tanpa menunggu bantuan dari anggota staf stasiun dan mengubah rencana perjalanan mereka saat naik kereta api,” katanya.

Pada Juni kemarin, Yayasan untuk Mempromosikan Mobilitas Pribadi dan Transportasi Ekologis menambahkan informasi tentang tangga vertikal dan celah horizontal di stasiun-stasiun di seluruh Jepang di situs webnya yang berbagi informasi terkait dengan fungsi bebas hambatan di stasiun kereta api. Pengguna dapat memeriksa ke mana mereka harus pergi untuk naik kereta dari bagian peron yang sesuai dengan standar.

Sekitar musim panas 2020, East Japan Railway Co. mulai mengecat bagian peron berwarna merah muda dan pintu kereta api yang memenuhi standar untuk memudahkan orang menemukan area boarding bebas hambatan. Tokyo Metro Co. dan Tokyu Corp. mengikuti setelah permintaan dari kementerian transportasi.

Baca juga: Kursi Roda Otomatis di Bandara Haneda Bantu Terapkan Jarak Sosial

”Langkah itu memudahkan orang-orang tanpa disabilitas untuk mengetahui di mana area bebas penghalang. Kami ingin mereka memperhatikan orang-orang dengan mobilitas terbatas dan memberikan ruang (untuk orang cacat) di sekitar area bebas hambatan,” kata seorang pejabat kementerian.

Ada Andil Wright Bersaudara, Inilah Sejarah FAA, Regulator Penerbangan Sipil ‘Dunia’

Adminsitrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (AS) sejatinya hanya mengurus hal-hal terkait penerbangan sipil di Negeri Paman Sam. Tetapi, keputusan FAA sering kali mempengaruhi regulator penerbangan sipil negara lain.

Baca juga: Prahara Ide Kokpit Dilengkapi Kamera Video, Ditentang Pilot-FAA Tapi Direkomendasikan ICAO

Pesawat baru atau lama yang ingin terbang bebas ke seluruh dunia, secara tak resmi, juga harus melewati sertifikasi FAA terlebih dahulu. Karenanya, tak ayal, FAA juga dijuluki sebagai regulator penerbangan sipil dunia.

Meski Regulator Penerbangan Sipil Cina (CAAC), menurut South China Morning Post, ingin mengambil alih gelar sebagai kiblat regulator penerbangan sipil ‘dunia’ dari tangan FAA (salah satunya pada kasus Boeing 737 MAX, dimana CAAC memimpin grounded global pesawat itu), tetap saja, nama besar dan sejarah menuntun FAA untuk terus memimpin regulasi penerbangan sipil global.

Sejarah berdirinya FAA memang cukup panjang. Dilansir laman resminya, berdirinya FAA, secara tdak langsung, bisa dibilang ada campur tangan Wright bersaudara.

Pada 17 Desember 1903, Orville Wright dan Wilbur Wright berhasil melakukan penerbangan bertenaga mesin pertama. Ini kemudian menuntun Wright bersaudara untuk melakoni penerbangan pesawat praktis pertama pada tahun 1905.

Setelahnya, dunia pun berlomba-lomba untuk membuat mesin pesawat terbang. Mengakui atau tidak, Perang Dunia I, ternyata membuat dunia semakin sadar betapa bermanfaatnya pesawat terbang.

Hadirnya pesawat tentu menuntun kehadiran fasilitas pendukung lainnya, seperti maskapai komersial, bandara, kontrol lalu lintas udara (ATC) based on visual signals (sangat sederhana sekali), ground kru, dan lain sebagainya.

Baca juga: Hari Ini, Lisensi Pilot Sipil Pertama di Dunia Dimulai Atas Perintah Presiden AS Woodrow Wilson

Di dekade 1920-an, industri penerbangan mulai menggeliat di AS. Tetapi, para petinggi perusahaan percaya bahwa bisnis mereka tak bisa berkembang tanpa campur tangan pemerintah federal untuk meningkatkan dan mempertahankan standar keselamatan. Nah, dari sinilah asal usul atau sejarah berdirinya FAA dimulai.

Atas berbagai desakan dari para bos industri penerbangan, senat AS akhirnya mengesahkan Undang-Undang Perdagangan Udara pada tahun 1926.

Undang-undang ini menugaskan Menteri Perdagangan untuk mendorong perdagangan udara, menerbitkan dan menegakkan peraturan lalu lintas udara, melisensikan pilot, mensertifikasi pesawat, membangun saluran udara, dan mengoperasikan sekaligus memelihara alat bantu navigasi udara.

Cabang Aeronautika (AB) baru di Departemen Perdagangan ini memikul tanggung jawab utama untuk pengawasan penerbangan, dan William P. MacCracken, Jr. menjadi direktur pertamanya. Perlu dicatat, AB ini bukan FAA.

Pada tahun 1934, Departemen Perdagangan mengganti nama Cabang Aeronautika menjadi Biro Perdagangan Udara (BAC).

Guna memastikan fokus pemerintah federal pada keselamatan penerbangan, Presiden Franklin Roosevelt menandatangani Undang-Undang Penerbangan Sipil pada tahun 1938. Salah satu hasilnya adalah terbentuknya Otoritas Penerbangan Sipil independen (CAA).

Pada tahun 1940, Presiden Roosevelt membagi CAA menjadi dua badan, Administrasi Penerbangan Sipil (CAA), yang kembali ke Departemen Perdagangan, dan Badan Penerbangan Sipil (CAB).

Usai kehadiran pesawat jet komersial pertama, De Havilland Comet di dekade 50-an, AS membentuk Badan Penerbangan Federal (FAA, tapi bukan FAA yang sekarang melainkan Federal Aviation Agency) independen pada 21 Mei 1958, untuk menyediakan penggunaan wilayah udara nasional yang aman dan efisien.

Dua bulan kemudian, pada 23 Agustus 1958, Presiden menandatangani Undang-Undang Penerbangan Federal.

Di era Presiden Johnson, AS kembali memperbaiki sistem. Pada tahun 1966, Kongres mengesahkan pembentukan departemen kabinet yang akan menggabungkan tanggung jawab transportasi federal utama.

Departemen Perhubungan (DOT) yang baru ini mulai beroperasi penuh pada 1 April 1967.

Pada hari itu, Badan Penerbangan Federal menjadi salah satu dari beberapa organisasi di dalam DOT dan mendapat nama baru, Administrasi Penerbangan Federal (FAA). Di sinilah FAA resmi berdiri.

Baca juga: FAA Resmi Pensiunkan Nomor Registrasi Pesawat Amelia Earhart, Pilot Wanita Pertama di Dunia

Pada saat yang sama, fungsi investigasi kecelakaan CAB dipindahkan ke Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) yang baru.

Bila merujuk pada diremikannya FAA, maka FAA berdiri pada 1 April 1967. Tetapi, bila merujuk pada induk FAA sebelum berganti nama, maka FAA berdiri pada 21 Mei 1958.

Ini Penyebab Seorang Wanita Gemuk Diminta Turun Awak Kabin Alasaka Airlines dari Pesawat

Sepertinya masalah pakaian penumpang tak ada habisnya dan belum lama ini seorang penumpang Alaska Airlines dikawal turun  dari penerbangan di Bandara Internasional Seattle-Tacoma ke Alaska minggu lalu. Hal ini pun menjadi viral setelah penumpang tersebut membagikan pengalaman tentang apa yang terjadi ke media sosial.

Baca juga: Gara-gara Pakaian, TikToker Diteriaki Awak Kabin Sebelum Masuk Pesawat

Ray Lin Howard, penumpang yang diturunkan dari penerbangan Alaska Airlines memposting konten ke akun TikTok-nya dan telah dilihat dua juta kali serta disukai ribuan kali. Video tersebut tentang penerbangan pulang ke Fairbanks setelah dua jam singgah di Seattle Jumat lalu (3/9/2021).

Insiden yang dialami Howard, juga menjadi berita utama di surat kabar dan situs web nasional dan internasional, termasuk TMZ.com. Howard mengatakan dia tidak memiliki masalah sampai dia memutuskan untuk melepas crop top bercak macan tutul ungu saat berada di udara dan dalam perjalanan ke tujuan akhirnya.

“Saya telah mengenakan pakaian yang sama di penerbangan lain selama perjalanan ini dan itu lancar. Kebanyakan orang sedang tidur (dan) cukup sepi dan gelap sepanjang waktu,” katanya yang dikutip KabarPenumpang.com dari katu.com (7/9/2021).

Meski Alaska Airlines tengah menyelidiki insiden itu, Howard mengatakan ini terjadi karena berat badan dan pakaiannya.

“Saya dilecehkan tentang pakaian saya,” katanya kepada petugas.

Menurut sebuah video yang diposting oleh Howard dari pesawat, dia mengenakan atasan terbuka dan celana pendek hitam sebelum melepasnya karena panas di pesawat, meninggalkan bra olahraga hitam yang ada di bawahnya. Karena penerbangannya tidak penuh, penumpang diberitahu bahwa mereka bisa menyebar dan dia pindah ke kursi lorong, saat itulah dia mengatakan situasinya dimulai.

“Saya didekati, mungkin dalam waktu lima menit setelah itu terjadi dan diberitahu bahwa saya perlu menutupinya. Jadi, saya mengenakan kembali baju saya dan saya akan mengatakan mungkin lima menit setelah itu saya didekati lagi oleh pramugari yang berbeda, mengatakan bahwa pakaian saya masih tidak dapat diterima. Itu ada di buku pegangan bahwa perut tidak bisa ditampilkan,” katanya.

Howard mengatakan kepada petugas bahwa dia didekati oleh pramugari tiga kali berbeda tentang pakaiannya, yang dia bersikeras mematuhi kode pakaian maskapai.

“Kami berhubungan dengan tamu yang berada di Alaska Airlines Penerbangan 223 Jumat malam. Kami berkomitmen untuk mencari tahu apa yang terjadi dan mengambil tindakan yang tepat. Ini adalah tujuan kami untuk memberikan layanan peduli kepada semua tamu kami. Ketika kami tidak memenuhi tujuan itu, kami melakukan segala yang kami bisa untuk memperbaikinya,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan.

Dalam video selanjutnya, Howard mengatakan maskapai mengembalikan uang yang dia bayarkan untuk perjalanan aslinya dan “mencoba untuk memberi kompensasi kepada dirinya atas situasi ini dengan menawarkan kode diskon untuk digunakan pada pembelian di masa mendatang.

Baca juga: Tak Pandang Bulu, Langgar Tata Cara Berpakaian Bisa Depak Penumpang dari Penerbangan

“Respons mereka jelas merupakan tamparan di wajah. Sungguh menyedihkan bahwa orang dapat terus memperlakukan orang lain seperti itu dan itu dapat diterima,” katanya.

Rusak Duopoli Boeing-Airbus, Cina Produksi Suku Cadang Mesin Pesawat Sendiri Mulai 2025

Cina bertekad memproduksi suku cadang mesin pesawat sendiri pada 2025 mendatang. Ini adalah bagian dari proyek “Made in China 2025” terkait pengembangan pesawat komersial pertama Negeri Tirai Bambu.

Baca juga: COMAC C919 Segera Beroperasi Komersial, Boeing-Airbus Ketar-ketir

Selain itu, meproduksi suku cadang mesin sendiri juga dimaksudkan agar Cina lebih mandiri dan tak terlalu bergantung pada Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Tujuan akhir dari semua itu, tentu saja agar Cina melalui China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) bisa meruntuhkan duopoli Boeing-Airbus yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Dilansir South China Morning Post, produksi suku cadang penting mesin pesawat oleh Cina akan dipusatkan di Lingang New Area, Shanghai.

Wilayah ini sebelumnya sudah berdiri pabrik perakitan akhir Tesla Gigafactory 3 dan akan terus didorong agar menjadi tonggak investasi tekonologi tinggi perusahaan asing. Dengan begitu, diharapkan, pada 2025 mendatang, teknologi dan rantai pasokan di sini bisa mendukung ambisi Cina memproduksi suku cadang penting mesin pesawat sendiri.

“Lingang New Area harus membangun ekosistem industri penerbangan sipil terbuka dan sistem inovasi kolaboratif internasional untuk mengembangkan dan menjamin pesawat besar dan mesin penerbangan sipil yang diproduksi di dalam negeri, dan mewujudkan kontrol independen atas teknologi inti dan key links dalam rantai pasokan,” kata Pemerintah Shanghai, mengutip perwakilan dari Industri Teknologi Tinggi dan Departemen Inovasi Sains dan Teknologi dari komite manajemen Lingang New Area.

Baca juga: Cina Pusing COMAC Masuk Daftar Hitam, Proyek Pesawat Komersial “Made in China 2025” Mangkrak

Kemandirian Cina di industri penerbangan global memang sudah dimulai dengan pengembangan pesawat narrowbody COMAC C919 dan pesawat widebody CR929. Pesawat COMAC C919 digadang sebagai pesawat Made in China dan selalu dibangga-banggakan pemerintah.

Bila tak ada aral melintang, akhir tahun ini C919 akan menjalani uji sertifikasi regulator penerbangan sipil Cina dan bila lolos, bisa segera beroperasi di pasar domestik.

Adapun pesawat CR929 menggandeng Rusia dengan mendirikan perusahaan patungan China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC). Dalam perhelatan Zhuhai AirShow 2018, CRAIC sempat memamerkan CR929 dan sesumbar bakal menerbangkan prototipe pesawat tersebut pada tahun 2023.

Cina sangat berambisi merusak duopoli Airbus dan Boeing sebagai raksasa produsen pesawat global. Menurut para pakar, dari tiga syarat menuju ke sana, Cina sudah menguasai satu di antaranya, yakni terkait pendanaan.

Menurut statista.com sumber pendanaan utama di pasar penyewaan pesawat ialah melalui pasar modal dan hutang bank.

Pendanaan juga dapat diperoleh dengan menggunakan uang tunai atau kredit ekspor. Saat ini, Cina adalah salah satu sumber utama hutang bank komersial terbesar di dunia yang digunakan untuk penyewaan pesawat. Pada 2019, Cina menyumbang 24 persen dari hutang bank di pasar penyewaan pesawat.

Baca juga: Warning Buat AS-Eropa, Pabrikan Cina COMAC ARJ21 Lulus Uji Terbang di Bandara Tertinggi di Dunia

Akan tetapi, syarat lainnya untuk bisa merusak hegemoni Boeing-Airbus, yakni teknologi, belum dikuasai Cina. Karenanya, meski Cina bernafsu untuk memproduksi suku cadang penting mesin pesawat sendiri, tetap saja, komponen pesawat lainnya masih mengandalkan negara lain, jauh dari kata mandiri.

Laporan NTD News, Kennedy pernah mengatakan bahwa pesawat COMAC C919 hanya namanya saja Made in China. Sebab, nyaris seluruh komponen yang membuatnya terbang berasal dari rantai pasokan di Barat, khususnya Amerika Serikat (AS).

Mesin C919, misalnya, memakai produk CFM Internasional dan General Electric, perusahaan patungan AS-Perancis.

Sistem avionik, landing gear, dan flight control diproduksi oleh Honeywell serta sistem komunikasi dan navigasi diproduksi oleh Rockwell Collins. Keduanya merupakan perusahaan asal AS. Secara keseluruhan, perusahaan AS memasok seperlima komponen pesawat COMAC C919.

Sedangkan perusahaan-perusahaan Eropa memasok sekitar sepertiga komponen ke pesawat itu; termasuk juga ke pesawat “Made in China” lainnya, COMAC ARJ21. Adapun sisanya dipasok oleh 14 perusahaan Cina, dengan tujuh di antaranya merupakan perusahaan patungan.

Baca juga: Head to Head COMAC C919 ‘Made in China’ Vs Airbus A320neo, Siapa Unggul?

Arogansi Cina juga membuat negara lain ‘pelit’ berbagi teknologi. Dilansir Epoch Times, Jepang menggandeng empat negara Barat, yakni Jerman, Belanda, Inggris, dan AS agar tak mentransfer empat teknologi utama ke Cina, meliputi artificial intelligence (AI), quantum computers, biotechnology, dan hypersonic speed.

Blokade dua dari empat teknologi itu, AI dan komputer quantum, dinilai dapat memperlambat proyek COMAC C919 dan CR929.