Jika Izin Keluar, Oktober 2021 Drone Ehang 216 Akan Diuji Coba di Bali

EHang 216 merupakan drone penumpang yang dikembangkan oleh Guangzhou EHang Intelligent Technology Company. Drone ini dibuat untuk menjadi taksi terbang dan pada April kemarin, importir mobil swasta Indonesia Prestige Image Motorcars mengumumkan akan menghadirkan EHang 216.

Baca juga: Taksi Udara EHang 216 Tiba di Jakarta, Taksi Udara Seaplane Hong Kong Nyusul?

Dilansir KabarPenumpang.com dari paultan.org (6/9/2021), perusahaan mengungkapkan bulan ini bahwa unit pertama EHang 216 sudah tiba di Indonesia dan akan menjalani uji terbang di Bali pada Oktober mendatang. Di mana uji coba akan dilakukan setelah mendapat izin dan persetujuan dari otoritas penerbangan terkait.

Pemilihan Bali untuk uji coba, ini karena Pulau Dewata merupakan tujuan wisata yang populer dan taksi terbang akan membantu meningkatkan jumlah kegiatan pariwisata. Rudy Halim, Presiden Direktur Prestige Image Motorcars mengatakan, bahwa perusahaan bertujuan untuk menyediakan layanan taksi terbang kepada publik tahun depan, menambahkan bahwa sudah ada beberapa pertanyaan yang diterima.

Seperti diketahui, EHang 216 adalah mobil terbang listrik dengan dua kursi yang memiliki kapasitas muatan 220 kg. Drone memiliki delapan lengan, dengan masing-masing memasang dua motor listrik yang terhubung ke baling-baling, memungkinkan kecepatan jelajah 130 km per jam, sementara baterai onboard menyediakan jangkauan hingga 35 km.

Tidak diperlukan pilot pada EHang 216, karena wahana ini mampu terbang secara otonom, meskipun masih dipantau dan dapat dioperasikan dari pusat komando serta kendali yang berada di darat. Selain itu, ukuran 216 EHang yang relatif kecil (lebar 5,61 meter dan tinggi 1,77 meter) dan kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL) juga berarti tidak memerlukan banyak ruang untuk beroperasi.

Jika nama modelnya terdengar asing, itu karena EHang 216 disebut-sebut sebagai prototipe kendaraan terbang pertama Malaysia, Super Dron. Awalnya direncanakan untuk menjalani uji terbang pada November 2019, sesi dibatalkan karena kendaraan belum diizinkan untuk terbang oleh Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia (CAAM).

Baca juga: Taksi Drone Otonom EHang 216 Bakal Manjakan Pengunjung Kota Wisata Terpopuler di Guangdong

Tidak seperti di Indonesia, Super Dron akan digunakan untuk aplikasi seperti pemantauan perbatasan oleh pihak berwenang dan sebagai kendaraan bantuan darurat, bukan sebagai transportasi umum. Untuk saat ini, status proyek tersebut masih belum diketahui, meskipun AirAsia tampaknya mengambil langkah untuk membuat taksi terbang menjadi sesuatu di Malaysia.






















Tidak Ada Kejelasan dari Pemerintah NSW, Maskapai Internasional Enggan Buka Penerbangan (Tambahan) ke Sydney

Dengan beberapa persyaratan yang ketat, Negara Bagian New South Wales (NSW) di Australia mulai membuka layanan penerbangan penumpang internasional. Selain penurunan angka aktif Covid-19, parameter pembukaan penerbangan ke Bandara Sydney akan dilakukan bila telah tercapai angka vaksinasi kedua di angka 80 persen penduduk.

Baca juga: 20 Maskapai Ramai-ramai Tak Lagi Terbang ke Bandara Sydney, Ada Apa?

Sebelumnya, Pemerintahan NSW juga akan memberikan kemudahan isolasi, dari yang saat ini terpusat di lokasi yang ditentukan menjadi isolasi mandiri (di rumah) bagi orang (warga Australia) yang tiba dari luar negeri, itu bisa dijalankan bila angka vaksinasi kedua sudah mencapai 70 persen. Seperti diketahui, Pemerintah Australia sedang gencar memulangkan warganya yang ‘terdampar’ di luar negeri agar dapat merayakan Natal bersama keluarga pada Desember mendatang.

Namun, pembukaan penerbangan internasional yang dicanangkan Pemerintahan NSW mendapatkan peringatan serius dari pelaku usaha penerbangan. Dikutip dari theguardian.com (14/9/2021), disebutkan maskapai asing tidak akan mampu meningkatkan operasi untuk memenuhi pembukaan kembali perjalanan internasional massal ke Sydney ketika vaksinasi 80 persen tercapai. Hal itu bukan lantaran maskapai tidak mau, melainkan tidak bisa, pasalnya mereka akan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menarik kembali staf yang diberhentikan dan mengambil pesawat yang telah diparkir di gurun.

Barry Abrams, direktur eksekutif dari Board of Airline Representatives of Australia mengatakan bahwa maskapai saat ini terus dibiarkan dalam ‘kegelapan’ tentang aturan baru dan batasan penumpang, “Ini membuat mereka terjebak dalam pola bertahan yang tidak dapat dimulai, termasuk tidak bisa melakukan perencanaan untuk melanjutkan rute,” ujar Abrams.

Passenger allowances merupakan faktor kunci bagi maskapai penerbangan dalam menentukan kelayakan finansial rute mereka. Abrams memperingatkan bahwa maskapai yang tidak terbang ke Australia selama lebih dari setahun belum mulai mengalokasikan pesawat atau staf ke rute Negeri Benua itu, maskapai juga belum mulai menegosiasikan kembali kontrak dengan kru penanganan di darat (ground crew) dan bisnis pada pemasok lokal.

Imbas ini datang ketika Singapore Airlines mengkonfirmasi akan memotong jumlah penerbangan yang terbang ke Australia. Hal ini terjadi karena kurangnya kepastian atas rencana terkait batas penumpang dan membuat puluhan penerbangan dibatalkan sebelum periode Natal.

“Kami tidak memiliki kejelasan tentang penghapusan batas kedatangan internasional di periode Oktober hingga Desember, jadi kami harus membuat keputusan yang sangat sulit bahwa kami tidak dapat mengoperasikan dua penerbangan tambahan yang kami harapkan untuk rute ke Sydney,” kata Karl Schubert, juru bicara Singapore Airlines.

Singapore Airlines saat ini menerbangkan pesawat dengan sekitar 6.000 kursi kosong per hari ke Sydney dan hanya ‘mampu’ mengangkut 110 penumpang.

Baca juga: Mengenal Tower ATC Bandara Sydney, Salah Satu Tower ATC Paling Unik di Dunia 

Pada akhir Agustus 2021, Perdana Menteri New South Wales, Gladys Berejiklian mengumumkan bahwa negara bagian itu akan mengurangi separuh jumlah kedatangan internasional menjadi sekitar 750 orang per minggu.






















Marak Pelecehan di Nairobi, Bolt Hadirkan Ride Hailing dengan Pengemudi Wanita

Pelecehan seksual yang dihadapi wanita di Nairobi, ibu kota Kenya dari pengemudi pria ride hailing kian mengkhawatirkan. Bahkan Sarah Maranga yang merupakan seorang penumpang dan juga anggota dari asosiasi bantuan hukum di Kenya mengatakan, pernah berulang kali ditelpon dan dikirimi pesan oleh pengemudi pria.

Baca juga: Wanita Bertubuh Tambun Dilecehkan Pengemudi Taksi, Disebut Tak Muat Duduk di Kursi

Atas dasar kasus di atas, muncul gagasan untuk menghadirkan layanan ride hailing khusus wanita, termasuk dengan pengemudi wanita. Layanan ride hailing tersebut adalah Bolt. Sayangnya kabar yang beredar, tarif ride hailing Bolt terkadang lebih mahal atau sama. Kesenjangan tarif itu cukup mencolok bagi warga Nairobi yang mengeluh tentang tarif yang berbeda dari biasanya.

“Kami punya kebutuhan untuk merasa lebih aman. Sepertinya kita dihukum karena mengeluh,” kata Maranga yang dikutip KabarPenumpang.com dari washingtonpost.com (12/9/2021).

Bolt sendiri bukan brand asli Kenya, melainkan Bolt merupakan layanan ride hailing yang berbasis di negara Baltik, Estonia. Dalam sebuah pernyataan, pihak Bolt mengatakan mereka mencoba untuk mencocokkan harga tumpangan khusus wanita dengan tumpangan standar, meskipun diakui bahwa biaya sebenarnya bervariasi sesuai dengan permintaan dan pengemudi. Selain itu juga ketersediaan pengemudi Bolt khusus wanita kurang dari lima persen.

Selama ini ride hailing yang khusus melayani wanita telah ada dalam beberapa tahun belakangan, termasuk di Brasil, Australia, dan Amerika Serikat. Little, layanan taksi elektronik di Kenya, memulai layanan khusus wanita disebut “Lady Bug” pada 2016. Manajer regional perusahaan Afrika Timur Kenneth Micah mengatakan, Bolt telah meluncurkan versinya di Afrika sejak diluncurkan di Afrika Selatan tahun lalu.

Malaika Cheyne, seorang siswa berusia 20 tahun di Nairobi, sangat kesal dengan perbedaan biaya sehingga dia memutuskan untuk membatalkan akun Bolt-nya, menggambarkan perbedaan itu sebagai “pajak merah muda yang terbaik.”

“Mengapa kita harus membayar ekstra agar kita tidak diserang atau dilecehkan atau apa,” kata Cheyne.

Baca juga: Demi Hidupi Keluarga, Wanita ini Jadi yang Pertama Kemudikan Bajaj di Somalia

Wanita yang menanggung akibat perilaku buruk pria dalam beberapa hal merupakan fenomena universal. Dia menagatakan, tapi itu memiliki resonansi khusus di Kenya, karena wanita Kenya sering merasa bahwa pria mengabaikan atau meremehkan masalah yang dihadapi wanita.






















Rayakan Ulang Tahun yang ke-75, Boeing 777 Saudia Pakai Livery Retro

Saudia (Saudi Arabian Airlines) belum lama ini merayakan ulang tahunnya yang ke-75 dengan meluncurkan dua livery spesial di dua pesawat berbeda; Boeing 777-300ER menggenakan livery retro dan satu lainnya, pesawat Boeing 787-9 Dreamliner menggunakan livery ulang tahun ke-75.

Baca juga: Sstt… Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Garuda Indonesia Retro Livery Setengah Hati!

Dibanding livery ulang tahun Saudia yang ke-75, livery retro Saudia dinilai lebih menarik. Sebelum itu, retro sendiri adalah teknik mengulang gaya yang pernah populer pada masa lalu, terutama tahun 1970-an sampai tahun 1990-an. Istilah retro berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu retrograde yang berarti style masa lalu.

Retro berbeda dengan vintage. Sebutan Vintage adalah model tahun 20-an sampai 60-an, sedangkan Retro adalah untuk sebutan model yang popular di tahun 70-an sampai 90-an.

Dilansir onemileatatime.com, livery retro Saudia dikenakan oleh pesawat Boeing 777-300ER dengan nomor registrasi HZ-AK28. Pesawat ini baru berusia enam tahun. Disebut lebih menarik dibanding livery spesial hut Saudia ke-75.

Sebab, livery retro ini menampilkan warna yang lebih pas dan sesuai dengan aspirasi avgeeks kebanyakan. Selain itu, livery ini juga menyisipkan tulisan “75 Tahun”.

Di tahun tahun 2020 silam, pesawat Boeing 707 Saudia sempat tertangkap kamera menggunaka livery retro.

Namun, livery yang digunakan untuk penerbangan spesial maskapai nasional Arab Saudi itu kurang begitu enak dipandang mata. Kebanyakan avgeeks juga kurang terlalu suka dengan livery yang menampilkan perwakilan warna kebesaran maskapai di masa lalu itu.

Pengecatan pesawat Boeing 777-300ER sendiri dilakukan sejak 27 Agustus 2021 silam di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Begitu juga dengan livery spesial ulang tahun Saudia ke-75 tahun. Pesawat ini dicat di tempat yang sama dan sudah berada di Jeddah sejak 29 Agustus lalu, masih lebih dulu dibangin livery retro.

Livery yang dikenakan di pesawat Boeing 787-9 Saudia berusia empat tahun ini menggunakan corak standar maskapai. Tetapi di bagian belakang terdapat tulisan “75 Tahun” berwarna emas persis di dekat pintu ketiga pesawat.

Baca juga: Pesawat Kepresidenan “Indonesia One” Telah Berganti Warna, Kini dengan Livery Merah Putih

Tak hanya itu, livery spesial hut Saudia ke-75 juga menampilkan tiga sosok pemimpin Arab Saudi yaitu Raja Abdulaziz bin Abdul Rahman (pendiri Arab Saudi), Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, dan Putra Mahkota Mohammed Bin Salman di bagian vertical stabilizer pesawat yang juga berwarna emas.

Dalam laman Twitter resminya, dua livery spesial itu setidaknya memiliki tiga tujuan; visi yang sejalan antara pemimpin dengan rakyat, masa depan yang lebih cerah, dan maju bersama.

Dulunya Bus Sekolah, Kini Bus Tingkat ini Jadi Penginapan Mewah

Di Hampshire, Inggris, sebuah bus tingkat berwarna hijau direnovasi oleh Bob Johnson setelah membelinya dari eBay. Bus ini dijadikan rumah liburan yang mana pelancong bisa menikmati pengalaman tidak biasa untuk tidur di dek bagian atasnya.

Baca juga: Hotel Bergaya Klasik Modern dalam Wujud Bus Tingkat Vintage

Bus yang dinamai Bob sebagai Olive ini adalah bus tingkat Dublin yang dibelinya pada suatu malam melalui eBay yang kemudian diubah menjadi penginapan mewah di Hampsire. Dilansir KabarPenumpang.com dari the-sun.com (5/9/2021), bus antik itu diubah sehingga memiliki dapur, ruang duduk, ruang makan, ruang tidur di dek atas yang menampung lima tamu dan kamar mandi.

Bagian dalam Olive yang dilengkapi dengan kamar, ruang tamu dan toilet. Foto: The Sun

Meski begitu, ada hal unik yang bisa menarik perhatian pelancong adalah toilet terpisah yang berada di ruang kemudi bus. Bahkan toilet itu mungkin menjadi yang terbaik sepanjang akhir pekan.

Bus berada di lapangan tepat di luar Bramshott, Hampsire dan menawarkan pemandangan pedesaan yang menakjubkan.

“Ini adalah tempat liburan yang ideal bagi pengunjung North East Hampshire yang ingin tinggal di tempat yang sedikit berbeda. Dengan setiap kemudahan kelas atas yang Anda butuhkan untuk perjalanan ke pedesaan, Olive adalah alternatif yang bagus untuk hotel dan pondok biasa. Setiap hari terasa seperti petualangan dari dalam Olive, cocok untuk keluarga yang lebih muda dan kelompok teman yang lebih tua, dan siapa saja yang memiliki semangat kreativitas,” ungkap Bob Johnson.

Sebelum diubah menjadi tempat tinggal, Olive digunakan sebagai transportasi sekolah. Selain bus, pemandangan diluar juga ada teras, perapian dan barbekyu untuk bersantap di udara terbuka.

Di luar akomodasi, ada jalan-jalan pedesaan terpencil di sekitar tiga danau dan sumur harapan, dan pub Prince of Wales yang populer sebagai pitstop! Para tamu dapat tinggal di Olive selama minimal tiga malam dengan tarif Rp3,1 juta per malam.

Baca juga: Setelah Pesawat dan Kereta, Kini Giliran Bus Tingkat yang’ Disulap’ Jadi Hotel

“Ini adalah tempat liburan yang ideal bagi pengunjung North East Hampshire yang ingin tinggal di tempat yang sedikit berbeda. Dengan setiap kemudahan kelas atas yang Anda butuhkan untuk perjalanan ke pedesaan, Olive adalah alternatif yang bagus untuk hotel dan pondok biasa,” kata Bob.

Lima Stasiun MRT di Singapura Hadirkan Sistem Deteksi Penumpang Tanpa Masker

SBS Transit yang merupakan operator transportasi umum di Singapura melakukan pendeteksian penumpang tanpa masker dan bagasi tanpa pengawasan secara otomatis dengan sistem analisis video. Sistem ini akan diluncurkan di lima stasiun pertukaran MRT yakni Outram Park, Chinatown, Dhoby Ghaut, Little India dan Serangoon di sepanjang Jalur Timur Laut akhir tahun ini.

Baca juga: Thermal Scanner di Stasiun MRT Jakarta, Selain Deteksi Suhu Tubuh Juga Bisa Kenali Rentang Usia Calon Penumpang

Lima jalur ini sebagai permulaan dan diharapkan digunakan di stasiun-stasiun persimpangan di sepanjang jalur pusat kota pada tahun depan. Sistem tersebut akan menganalisis visual dari jaringan CCTV SBS Transit yang ada. Sistem tersebut dikembangkan oleh operator dan perusahaan Perancis Thales selama 1,5 tahun terakhir.

“Seluruh tujuan mendasar kami adalah benar-benar untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan juga untuk meningkatkan hasil dalam keselamatan dan keamanan,” ujar Wakil presiden senior SBS Transit Jeffrey Sim, yang bertindak sebagai kepala kereta api yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (7/9/2021).

Sim mengatakan, sistem ini tidak akan menggantikan staf stasiun, tetapi sebaliknya akan lebih sebagai enabler. Saat ini, staf harus berpatroli di stasiun MRT secara teratur dan memantau kamera CCTV untuk menemukan masalah apa pun. Sistem tersebut akan membantu staf mengidentifikasi masalah bagasi yang tidak dijaga, penumpang tanpa masker, dan kerumunan tak terduga dengan lebih cepat.

Teknologi ini dapat mengukur tingkat kepadatan komuter di stasiun MRT dan fungsi ini telah diuji coba di stasiun Woodleigh pada bulan Maret lalu. Sim mengatakan, sistem akan mengumpulkan data untuk mengidentifikasi tingkat kerumunan yang biasa pada waktu yang berbeda dalam sehari. Perangkat lunak kemudian akan memperingatkan staf stasiun setiap kali kerumunan yang lebih besar dari biasanya terdeteksi. Contoh seperti itu bisa terjadi jika seorang komuter pingsan.

“Kecenderungannya, ketika ada yang pingsan, orang-orang akan berkumpul dan kepadatannya akan meningkat. Jadi saat itulah staf stasiun akan dapat melakukan intervensi lebih awal, daripada diberitahu oleh seseorang yang menekan tombol panik atau datang ke kontrol stasiun,” kata Sim.

Baca juga: Teknologi Pendeteksi Mood, Yakin Akurat?

Dia mengatakan kemampuan untuk mengukur kepadatan penumpang secara akurat akan membantu staf memutuskan apakah akan mengerahkan lebih banyak petugas atau bus penghubung untuk membubarkan kerumunan jika terjadi kerusakan MRT. Sim menambahkan, sistem ini juga sedang diadaptasi untuk mengidentifikasi penumpang dengan kebutuhan mobilitas, seperti pengguna kursi roda atau mereka yang menggunakan kruk.

 

 

 

Cek Fakta Video Viral Warga Afghanistan Kabur dari Taliban dengan Cara Naik di Mesin Pesawat

Belum lama ini video yang menunjukkan seorang pria yang disebut sebagai warga Afghanistan, nekat lari dari Taliban dengan cara naik di mesin pesawat yang sedang terbang. Video ini pun viral. Meski sukar dipercaya, tetapi, banyak dari netizen meyakini itu bisa saja terjadi dalam keadaan darurat. Namun, benarkah?

Baca juga: Cek Fakta Dibalik Video Viral Drone Hantam Pesawat Tak Lama Setelah Lepas Landas!

Gelombang eksodus warga terjadi usai Taliban menguasai istana kepresidenan Afghanistan pada tanggal 15 Agustus 2021 silam. Mereka yang panik kemudian menyerbu Bandara Internasional Hamid Karzai berharap turut diievakuasi oleh pesawat militer Amerika Serikat (AS) ataupun negara lainnya.

Meski begitu, tentu saja militer masing-masing negara mempunyai manifes siapa saja yang boleh ikut penerbangan evakuasi mereka. Alhasil, warga Afghanistan yang tak terdaftar dalam manifes kalang kabut dan memaksakan diri untuk ikut di penerbangan sekalipun tidak di dalam pesawat.

Bagi mereka, pilihan ketika itu hanya dua, ikut penerbangan evakuasi atau mereka ke luar bandara dan dieksekusi Taliban karena ‘dosa-dosa’ di masa lalu saat Taliban masih di perangi pemerintah.

Di tengah kekacauan itu, puluhan orang pun nekad naik landing gear, body pesawat bagian bawah, bahkan berpegangan di atas mesin. Yang terakhir inilah kemudian viral di media sosial. Tetapi, setelah dicek, ternyata informasi tersebut tak lebih dari sekedar hoax atau kabar bohong.

@huyquanhoa

Lần đầu trải nghiệm ghế nằm của VN E Lai #huyquanhoa #maybay

♬ nhạc nền – Huy Xuân Mai – Huy Xuân Mai

Hasil analisa BoomLive, sebuah organisasi fact-checking independent, yang dikutip USA Today, menyebut video viral warga Afghanistan naik di atas mesin dalam sebuah penerbangan itu diketahui ialah hasil editan dari netizen Vietnam bernama Huy Xuân Mai. Ia pertama kali mengunggah video itu ke Facebook dan TikTok pada 17 Agustus 2020 dengan caption “Experience the reclining chair of Vietnam”.

Tak hanya di Facebook dan TikTok, video tersebut juga diunggah Xuân Mai ke YouTube melalui channel Quân Hoa TV pada 17 Desember 2020.

Baca juga: Cek Fakta, Kereta Shinkansen Melesat 4.800 Km per Jam, Jakarta-Surabaya Cuma 15 Menit!

Dari video yang diunggah di YouTube ini, sebetulnya sangat jelas bahwa itu adalah editan. Tak seperti video pendek yang diunggah di Facebook dan TikTok, video di YouTube menampilkan aktivitas sehari-hari sang pemilik akun, mulai dari bangun tidur, main laptop, makan, dan sebagainya, di atas mesin pesawat.

Lebih dari itu, di Vietnam sendiri, Huy Xuân Mai ternyata memang sudah masyhur terkenal sebagai profesional video editing dan dijuluki “dewa photoshop” oleh netizen. Jadi, sudah bisa dipastikan bahwa karya-karyanya menyajikan video-video hasil editan yang sangat menipu karena betul-betul terlihat sempurna alias tak terlihat hasil editannya.

Shinkansen Seri E4 Segera Pensiun, JR East Buat Eskalator yang Mirip Sebagai Kenangan di Stasiun Tokyo

Kereta peluru Shinkansen seri E4 yang juga dikenal sebagai Max Toxi dan Max Tanigawa akan resmi pensiun pada 1 Oktober 2021. Ini merupakan satu-satunya kereta Shinkansen dua lantai di Jepang. Karena ini adalah momen yang cukup penting bagi perkeretaapian, maka untuk mengiringi perpisahan tersebut, East Japan Rail yang mengoperasikannya membuat banyak hal khusus menjelang perjalanan terakhir Shinkansen seri E4 tersebut.

Baca juga: Shinkansen Seri E4 “Double Decker” Pensiun Setelah 24 Tahun Beroperasi

Salah satunya adalah melibatkan eskalator seri E4 khusus di Stasiun Tokyo dan menjadi topik hangat di media sosial. Dilansir KabarPenumpang.com dari soranews24.com (13/9/2021), eskalator ini terletak di dalam gerbang tiket di suatu tempat di sekitar tengah lorong yang menghubungkan pintu keluar pusat bawah tanah Marunouchi dan Yaesu di basement Stasiun Tokyo.

Ketika tiba di sana akan menemukan poster di dinding yang mengumumkan keberangkatan kereta yang akan datang dari jaringan, dengan pesan yang mendorong penumpang untuk melakukan perjalanan terakhir di kereta sehingga mereka dapat menikmati pemandangan dari atas untuk terakhir kalinya. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di eskalator, dan tidak ada yang terlewat, karena kelihatannya seperti bagian depan S__hinkansen.

Lekukan eskalator sangat mirip dengan hidung Shinkansen dan saat dilihat lebih dekat pada eskalator, desainnya dibuat dengan penuh cinta. Bahkan bila melihat langsung, akan lebih menyentuh karena ini menunjukkan tingkat kepedulian terhadap kereta api yang menunjukkan bahwa itu lebih dari sekadar benda mati.

Detailnya menyerupai sisi kereta dengan sempurna, hanya dengan pesan tambahan yang mengumumkan tanggal berakhirnya dan mengungkapkan terima kasih kepada orang-orang atas dukungan mereka selama 24 tahun terakhir. Bahkan ketika melihat eskalator itu begitu kokoh, penumpang bergegas pergi ke tujuan mereka dan mengingatkan banyak penumpang yang dilayani selama bertahun-tahun.

Kereta 16 gerbong ini memiliki kapasitas untuk 1.634 penumpang, dan unik dalam desainnya karena memiliki dek bawah dan atas. Namun, karena kecepatan maksimum kereta adalah 240 km per jam, itu dikatakan kurang efisien dibandingkan dengan model lain seperti E5, yang digunakan di Tohoku Shinkansen yang mencapai kecepatan maksimum 320 kilometer per jam.

Karena itu, dan usia kendaraan, akan segera tiba saatnya untuk mengucapkan sayonara kepada Max, yang merupakan singkatan dari “Multi Amenity Express“. JR East telah mendirikan situs khusus untuk memberi penghormatan kepada kereta menjelang perjalanan terakhirnya, di mana Anda dapat mengetahui lebih banyak tentang sejarah kereta, membeli barang dagangan, dan mencetak kegiatan menyenangkan untuk anak-anak.

Baca juga: Ubah Smoking Room Jadi Zoom Meeting Room, JR Central Tawarkan Meeting di Kereta Peluru Shinkansen

Jika Anda ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Max secara langsung, Anda masih punya waktu beberapa minggu untuk memesan tiket di kereta sebelum berangkat pada perjalanan terakhirnya. Dan tentu saja, Anda dapat menaiki eskalator Seri E4, yang juga akan dihias dengan balutan khusus hingga saat itu.

Cegah Banjir di Lintasan Kereta, Indian Railways Buat Microtunneling di Stasiun Masjid

Banjir kerap kali melanda Stasiun Masjid di Mumbai dan membuat perjalanan kereta terhambat. Hal itu terjadi lantaran posisi Stasiun Masjid berada di tingkat yang lebih rendah dari permukaan tanah. Nah, guna mengatasi banjir di rel kereta, Indian Railways memutuskan untuk memasang pipa RCC berdiameter 1000 mm dengan metode microtunneling.

Baca juga: Unik, Stasiun Bhawani Mandi Terletak di Dua Negara Bagian India

Pembuatan microtunneling di Stasiun Masjid dilatarbelakangi kesuksesan metode ini di Stasiun Sandhurst Road. Yang mana di stasiun itu pipa RCC berdiameter 1800 mm dipasang sepanjang 425 meter, menghubungkan sisi barat ke sisi timur melintasi rel.

“Microtunnelling adalah teknologi yang diadopsi secara luas dan baru-baru ini dicoba, diuji, dan dijalankan di area stasiun kereta Sandhurst Road. Pekerjaan microtunnelling bagian kereta api di stasiun kereta api Masjid telah selesai dalam waktu yang sangat singkat dan ini akan membantu untuk mencegah genangan air selama musim hujan,” kata Anil Kumar Lahoti, General Manager, Central Railway.

Dilansir KabarPenumpang.com dari financialexpress.com (13/9/2021), sebelum adanya pembangunan ini, pada Februari 2021, rapat dilakukan dengan berkoordinasi bersama manajer divisi perkeretaapian dan komisaris kota di mana diputuskan untuk melanjutkan proyek pencegahan banjir selama musim hujan.

Menurut Central Railways, situasi memburuk selama curah hujan dengan intensitas tinggi ditambah dengan air pasang. Selain itu kapasitas gorong-gorong yang tidak memadai serta daya dukung jaringan drainase air hujan yang lebih rendah, menjadikan banjir mudah terjadi.

Proyek microtunneling ini mencakup area kota dan area perkeretaapian, dimulai pada akhir April 2021 dengan berkoordinasi bersama Indian Railways dan pekerjaan itu baru saja selesai di area perkeretaapian.

Saat ini, pekerjaan penyambungan pipa RCC yang baru dipasang dengan jaringan MCGM (Municipal Corporation of Greater Mumbai) sedang berlangsung oleh MCGM dan hal yang sama diharapkan akan selesai pada akhir bulan ini. Setelah seluruh proyek selesai, air hujan akan dialirkan melalui gorong-gorong pipa RCC yang baru.

Ini akan menghilangkan banjir pada rel dan mencegah air hujan masuk ke dalam lokasi kereta api. Selama musim hujan tahun ini, pekerjaan terowongan mikro serupa telah berhasil diselesaikan di stasiun jalan Sandhurst dan daerah Dadar-Parel yang berkoordinasi dengan otoritas sipil.

Baca juga: Soal Penamaan Stasiun, Di India Ternyata Operator Kereta Tak Ikut Ambil Bagian

Untuk diketahui, microtunnelling adalah solusi tanpa parit untuk membangun terowongan berdiameter kecil, digunakan terutama untuk proyek-proyek yang membutuhkan terowongan untuk menyeberang di bawah lalu lintas jalan padat, kereta api dan sungai.

Gegara Penumpang ‘Betah’ di Toilet, Pesawat Ini Terpaksa Mendarat Darurat

Pesawat Airbus A320 Edelweiss Air diketahui mendarat darurat di Graz, Austria. Itu terjadi lantaran seorang penumpang asal Rusia berusia 51 tahun menolak keluar dari toilet meski sudah cukup lama di sana. Ini kemudian menimbulkan kecurigaan dari kru pesawat. Apalagi, insiden itu terjadi bertepatan dengan peringatan tragedi 9/11 atau tragedi 11 September 2001.

Baca juga: Misteri Balok Es ‘Hujani’ Inggris, Diduga dari Toilet Pesawat Bocor

Laporan Daily Star, A320 Edelweiss Air dengan nomor penerbangan WK371 tersebut sejatinya sedang dalam perjalanan dari Larnaca, Siprus, ke Zurich, Swiss.

Disebutkan, tak lama setelah pesawat lepas landas, penumpang tersebut langsung menuju toilet, masuk, dan menguncinya. Selama perjalanan, antrean sempat terjadi lantaran ia terlalu lama di toilet. Beberapa dari mereka yang tak sabar bahkan sampai mengetuk pintu dan memintanya agar bergantian.

Alih-alih keluar, penumpang malah menunjukkan sikap mencurigakan dan terus beraktivitas tak lazim di dalam toilet seperti pada umumnya. Dari sini kemudian kru pesawat melaporkan kejadian ke petugas di darat dan diputuskan untuk mendarat darurat di kota terdekat di Austria.

Setelah pesawat mendarat sempurna dan petugas menghampirinya, pria tua itu baru bersedia keluar dari toilet. Tetapi, saat digelandang petugas, ia menolak memberikan alasan mengapa ia terlalu lama di toilet.

Penumpang yang tak disebutkan namanya itu kemudian diinterogasi petugas di ruangan. Namun, pengakuan petugas, penumpang tersebut tetap tidak memberikan alasan apapun.

Meski begitu, penumpang yang bersangkutan disebut kooperatif selama proses pemeriksaan. Setelah barang bebawaannya digeledah, petugas tak menemukan apapun. “Tidak ada benda berbahaya yang dapat ditemukan. Selama interogasi, dia tidak memberikan informasi apa pun tentang alasan perilakunya (tidak mau keluar dari toilet),” kata petugas.

Sementara pesawat diizinkan berangkat kembali menuju Zurich dan mendarat 45 menit dari yang sudah dijadwalkan, ia tetap diinterogasi.

Pria itu akhirnya diizinkan petugas meninggalkan bandara dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api.

Meski tindak-tanduk pria Rusia dalam insiden itu lebih ke arah negatif, tetapi, banyak netizen di Reddit memandangnya dari sudut positif.

Baca juga: Sebelum Seperti Sekarang, Dulu Toilet Pesawat Gunakan Ember untuk Tampung Limbah Penumpang

Salah satu dari mereka menduga bahwa penumpang yang menolak keluar dari toilet dan membuat pesawat terpaksa mendarat darurat itu, mengalami apa yang disebut intoleransi laktosa.

Intoleransi laktosa biasanya disebabkan oleh kekurangan enzim dalam tubuh yang disebut laktase. Gejalanya bisa berupa kram perut, kembung, dan diare. Kolaborasi intoleransi laktosa dan efek penerbangan itulah yang pada akhirnya disebut menyebabkan penumpang itu lama menggunakan toilet.