Dibandrol Rp2,4 Juta, Volvo Hadirkan Sepatu Kets Ramah Lingkungan

Setelah belum lama ini meluncurkan masker anti Covid-19, pabrikan otomotif asal Swedia, Volvo, kembali berencana untuk merilis produk non aksesoris otomotif. Persisnya guna memeriahkan Hari Bebas Mobil Sedunia yang jatuh pada 22 September mendatang, Volvo kolaborasi Casca meluncurkan sepasang sepatu kets ramah lingkungan.

Baca juga: Volvo Jual Masker Batik Reusable Ramah Lingkungan dengan Fitur Anti Mikroba

Rancangan sepatu kets ini tentu rancangan dan filosofi tersendiri, yaitu desainnya terinspirasi mobil listrik XC40 Recharge. Dengan cita rasa produk Swedia yang terkenal ramah lingkungan, maka 10 persen solnya terbuat dari ban daur ulang. Ini adalah yang pertama bagi Casca membuat tema otomotif dari sepatu tersebut. Sol bukan satu-satunya sentuhan ramah lingkungan, pasalnya bagian atas sepatu ternyata terbuat dari tujuh botol plastik daur ulang.

Bahan ini telah diubah menjadi benang, yang membuat sepatu “rajut yang fleksibel dan bernapas.” Menggambarkan jati diri bangsa, pada sepatu kets ini juga disematkan bendera Swedia kecil serta garis dan panel yang dirancang untuk mengingatkan lampu depan Thor’s Hammer.

Pada prinsipnya, antara Volvo dan Casca sama-sama mengedepankan ide ramah ligkungan, dan kedua peusahaan telah punya andil dalam mendukung green technology. Casca memiliki komitemen membuat semua bagian atas rajutan mereka dari bahan daur ulang atau terbarukan pada tahun 2022. Sementara Volvo hanya menggunakan listrik dan akan meningkatkan penggunaan bahan daur ulang serta berbasis bio di kendaraan mereka.

Sepatu kets edisi khusus ini dijual secara terbatas, untuk harganya, sepasang sepatu ini akan dilepas ke pasaran pekan depan dengan harga US$168 atau sekitar Rp2,4 juta. Nah, apakah Anda tertarik, yuk selalu pantau situs Volvo.

Baca juga: Cukup Sekali Pengisian, Mobil Listrik Volvo Bisa Menjelajah Hingga 999 Km

Kilas balik pada Juni 2021, Volvo Car Malaysia meluncurkan koleksi masker wajah anti mikroba untuk mendukung masyarakat lokal dalam menghadapi kesulitan akibat Covid-19. Setiap masker wajah terbuat dari 100 persen katun, anti bakteri, anti air dan memberikan perlindungan hingga 100 kali pencucian lembut. Nano teknologi digunakan untuk mengurangi penetrasi tetesan yang terkontaminasi dan mencegah kemungkinan infeksi kain oleh virus atau bakteri.

Empat Faktor Eksternal Penyebab Kecelakaan Pesawat Saat Take Off dan Landing

Pesawat jadi moda transportasi paling aman di dunia. Data terkait ini pun mudah didapat. Meski begitu, pesawat rawan mengalami kecelakaan, terutama saat take off ataupun landing; tiga menit pertama dan delapan menit terakhir penerbangan (critical eleven) atau biasa juga disebut Plus Three Minus Eight.

Baca juga: Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman

Critical eleven atau 11 menit paling krusial dalam penerbangan sudah pasti disebabkan oleh dua faktor, teknis dan non teknis atau eksternal. Terkait faktor eksternal, setidaknya ada empat penyebab paling umum terjadinya kecelakaan pesawat saat take off ataupun landing. Apa saja? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ulasan empat faktor eksternal penyebab kecelakaan pesawat di periode critical eleven.

1. Bird strike

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Begitu juga menjelang landing.

Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Meski begitu, berbagai cara sudah ditempuh pengelola bandara di seluruh dunia. Seperti mengerahkan robot pemotong rumput (mengingat rumput tinggi di sekitar runway bisa jadi sarang burung), drone atau The Robird Drone, dan lain sebagainya.

2. Hujan lebat, bersalju, dan berpasir

Menurut ICAO, genangan air tertinggi adalah empat milimeter dan tidak boleh lebih dari 25 persen di area runway yang tergenang. Lebih dari itu, keselamatan penerbangan akan sangat dipertaruhkan.

Celakanya, saat hujan lebat, genangan di runway kerap melebihi ambang batas aman di atas. Karenanya, tak heran jika kecelakaan pesawat di periode critical eleven atau saat take off maupun landing sering terjadi. Biasanya berupa overrun, baik itu keluar runway sampai keluar dari perimeter bandara.

Tak hanya hujan lebat dan menyebabkan genangan, salju dan pasir di runway juga kerap menjadi penyebab kecelakaan saat lepas landas maupun turun landas.

Meski begitu, ini sebetulnya bisa disiasati dengan teknik pendaratan hard landing atau pendaratan keras, bertujuan untuk menghindari hilangnya gesekan antara ban dengan permukaan runway.

3. FOD (Foreign Object Damage)

Jika dilihat dari dekat, permukaan runway biasanya dipenuhi dengan FOD (Foreign Object Damage) berupa partikel pasir, debu, atau sisa karet ban pesawat yang terkelupas, tertinggal di runway selama bertahun-tahun dan mengendap di sana. Bila tak ada penanganan serius, FOD ini memungkinkan pesawat mengalami selip ban.

4. Crosswind

Crosswind juga sering menjadi penyebab kecelakaan pada pesawat menjelang landing ataupun saat lepas landas.

Sebetulnya, dalam kondisi angin kencang, secara prinsip, pilot masih bisa melakukan soft landing dan mendarat dengan aman. Tetapi, saat berada di ketinggian sekitar 50 kaki atau sekitar 15 meter, tiba-tiba angin kencang membuat landing approach angle meleset sekaligus sudut pendaratan pesawat menjadi miring.

Baca juga: Dinilai Krusial Selamatkan Penerbangan, Berikut Empat Penyebab Hard Landing

Kacaunya lagi, tekanan angin di sekitar runway juga cukup tinggi, bisa karena cuaca terlalu terik dan menyebabkan udara banyak terkumpul di runway akibat pemuaian, sehingga membuat pesawat mengambang selama beberapa saat.

Padahal, pesawat sudah harus melakukan landing di zona touchdown, bila tidak, pesawat terancam overrun atau keluar runway. Nah, pada posisi ini, pilot bisa mensiasatinya dengan divert atau balked landing dan kembali mengudara, go around, sambil menunggu crosswind mereda.

Langkah Kaki Penumpang Jadi Tenaga Listrik di Stasiun Leighton Buzzard

Belum lama ini, Inggris menghadirkan teknologi baru yakni mengubah langkah kaki menjadi tenaga listrik. Di mana dua jalan setapak yang terbuat dari ubin kinetik telah dipasang di Stasiun Leighton Buzzard. Lantai ini dibuat melalui kemitraan dengan Central Bedfordshire COuncil dan penyedia teknologi Pavegen.

Baca juga: Powerbank Tenaga Surya, Andalan Ketika Berlibur di Alam Tanpa Soket Listrik

Tenaga listrik dihasilkan melalui beban dari langkah kaki penumpang yang melintasi jalan tersebut. Di mana saat kaki melangkah maka mereka menekan generator elektromagnetik di bawahnya dan listrik yang dihasilkan bisa digunakan untuk dua bangku pengisi daya USB serta layar digital.

Dilansir KabarPenumpang.com dari thenextweb.com (13/4/2021), lantai kinetik ini didanai oleh Departemen Transportasi melalui £22,9 juta (US$31,7 juta) ADEPT SMART menempatkan Program Labs Langsung, percontohan ini dipahami sebagai yang pertama dari jenisnya di pusat transportasi Inggris dan tujuannya adalah untuk mendemonstrasikan teknologi untuk lokal lainnya.

“Saya suka fakta bahwa itu melibatkan orang, melibatkan olahraga dan menciptakan listrik bersih sepanjang waktu. Saya pikir hubungan antara manusia dan energi yang diciptakan melalui gerakan adalah kerjasama yang sangat baik,” ujar Andrew Selous, MP untuk South West Bedfordshire.

Untuk mengetahui berapa energi langkah kaki para penumpang, akan ada layar digital. Selain itu dilayar ini juga menampilkan pesan lain. Layar digital akan menunjukkan berapa banyak energi yang dihasilkan serta menampilkan pesan lainnya.

Pavegen juga bekerja sama dengan Central Bedfordshire Council untuk menawarkan hadiah penumpang melalui aplikasi. Di mana ini dapat digunakan untuk mendorong penggunaan transportasi umum atau belanja lokal untuk membantu pemulihan ekonomi, misalnya.

Pada tahun 2019, Central Bedfordshire Council memperoleh £1,05 juta melalui Live Labs untuk mengeksplorasi cara memanen energi terbarukan dari sumber matahari, kinetik dan termal. Dalam skala besar, energi tersebut dapat digunakan untuk menggerakkan infrastruktur seperti lampu jalan dan rambu-rambu jalan elektronik.

“Energi langkah kaki yang belum dimanfaatkan di pusat transportasi kami merupakan peluang nyata untuk menyediakan sumber energi berkelanjutan untuk mendukung aplikasi yang dipesan lebih dahulu, sambil melibatkan audiens dan mendorong perubahan perilaku. Uji coba ini akan membantu menunjukkan kelayakan teknologi dan bisa menjadi langkah perubahan dalam cara hub transportasi terlibat dengan komuter,” kata Giles Perkins, Direktur Program Live Labs.

Pilot lain yang mengeksplorasi bagaimana probe dimasukkan ke tempat parkir Bedfordshire dapat menghasilkan energi panas bumi akan selesai akhir bulan ini. Ini akan menunjukkan bagaimana energi dapat disimpan dan dilepaskan bila diperlukan untuk mencairkan permukaan tempat parkir dan memanaskan bangunan di musim dingin.

Uji coba ini bertujuan untuk membantu dewan memahami jika dan bagaimana teknologi dapat diterapkan di gedung-gedung baru seperti pusat rekreasi dan sekolah. Inisiatif lebih lanjut melihat menangkap energi matahari dari permukaan jalan. Pavegen memiliki sekitar 200 penerapan di 36 negara berbeda, termasuk aplikasi untuk kota, pusat transportasi, ritel, pendidikan interaktif dan merek komersial.

Ubin V3 menghasilkan hingga empat joule energi listrik off-grid per langkah. Seorang juru bicara Pavegen mengatakan bahwa sulit untuk mengatakan seperti apa output energi di stasiun kereta api karena bergantung pada langkah kaki, yang tidak dapat diprediksi karena Covid-19.

Baca juga: e-paper Papercast, Sistem Informasi Digital di Halte Bus dengan Tenaga Surya

“Manfaatnya benar-benar tentang bagaimana komunitas bisa berkumpul dan produk ini bisa dijadikan titik awal pembicaraan tentang keberlanjutan,” kata mereka.

Secara total, ada delapan Lab Langsung yang dipimpin oleh otoritas lokal yang menguji coba teknologi di seluruh energi, data, material, dan mobilitas. Yang lain mengevaluasi jalan plastik, analisis video, dan manajemen transportasi berbasis data.

Gegara Angker? Tiga Wilayah Ini ‘Haram’ Dilewati Pesawat, Ini Alasannya

Pesawat, sekalipun sudah dilengkapi dengan teknologi super canggih, tetap saja memiliki batasan-batasan tertentu. Hal itulah yang pada akhirnya membuat pesawat tidak terbang atau bisa juga dibilang menghindari wilayah tertentu.

Baca juga: Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

Di dunia, setidaknya ada tiga wilayah yang dihindari pesawat karena berbagai alasan. Wilayah mana saja itu? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ulasan lengkap tiga wilayah ‘terlarang’ untuk diterbangi atau dilintasi pesawat.

1. Ka’bah

Sebagai Tanah Suci umat Muslim di seluruh penjuru dunia, sudah menjadi rahasia umum lagi jikalau Mekkah mendapatkan ‘perlakuan khusus’. Ditambah dengan posisi dari Ka’bah yang terletak di tengah-tengah masjid paling suci dalam agama Islam, Masjidil Haram.

Nah, bagi Anda yang sudah pernah menunaikan ibadah haji atau umrah ke Mekkah dan kota-kota lainnya, pernahkah Anda melihat sebuah pesawat terbang melintas di atas Ka’bah? Jawabannya sudah pasti tidak pernah.

Rumor yang beredar itu dikarenakan Ka’bah memiliki gelombang magnet yang sangat besar sehingga pesawat tidak diperkenankan untuk mengudara di atasnya.

Baca juga: Enam Alasan Mengapa Pesawat Tidak Terbang di Atas Pegunungan Himalaya, Nomor Enam Ngeri!

Akan tetapi, itu hanya rumor belaka. Menurut pilot kawakan berkebangsaan Arab Saudi, Hasan Al Ghamidi, alasan kenapa pesawat dilarang melintas di atas ka’bah karena menjaga kenyamanan dan keselamatan para jemaah haji dan umrah.

“Karena posisi Kota Mekah berada di wilayah pegunungan, ketika ada pesawat yang melintas maka suara pesawat akan memantul dan menimbulkan efek buruk bagi para jamaah haji atau umrah,” jelasnya.

Sebetulnya, alasan kenapa pesawat dilarang melintas di atas Ka’bah sama halnya dengan alasan kenapa pesawat tidak diperbolehkan terbang di atas fasilitas militer sebuah negara, seperti Korea Utara, Amerika Serikat, Rusia, dan lainnya. Terlebih, fasilitas militer tempat pengembangan senjata atau teknologi sangat rahasia.

2. Antartika

Kenapa pesawat komersial berjadwal dilarang terbang atau melintas Benua Antartika? Pertanyaan tersebut sering kali dijumpai saat membahas berbagai misteri dari benua yang meliputi Kutub Selatan Bumi ini.

Baca juga: Mengapa Pesawat Tidak Terbang Lurus? Inilah 5 Alasannya

Tak seperti alasan kenapa pesawat tak boleh melintas di atas Ka’bah, alasan kenapa pesawat dilarang terbang atau melintasi Benua Antartika, khususnya pesawat komersial berjadwal, lebih kepada faktor keselamatan.

Menurut sebuah sumber, selama Pemerintahan Reagan (Presiden AS ke-33 dengan masa jabatan mulai 20 Januari 1981 – 20 Januari 1989), Administrator FAA, J. Lynn Helms, memutuskan bahwa pesawat-pesawat yang terbang harus berjarak sekitar satu jam penerbangan dari bandara terdekat jika terjadi keadaan darurat, sehingga pesawat bisa mendarat.

Mengingat tak ada bandara terdekat di sekitar Benua Antartika, tak heran bila pesawat dilarang melintas di wilayah ini.

Baca juga: Ini Dia Jawaban Kenapa Pesawat Dilarang Melintas di Atas Ka’bah!

3. Pegunungan Himalaya, Tibet

Selain dilarang atau menghindari terbang di atas Ka’bah dan Benua Antartika, pesawat juga dilarang melintasi wilayah Pegunungan Himalaya, Tibet. Sama halnya dengan Benua Antartika, larangan melintas di wilayah ini bagi pesawat lebih dikarenakan faktor keselamatan.

Setidaknya, ada enam faktor atau alasan mengapa pesawat dilarang atau menghindari terbang di atas Pegunungan Himalaya; mulai dari terlalu tinggi, kurangnya medan datar untuk pendaratan darurat, area rawan konflik, kondisi darurat, turbulensi, hingga terlalu dingin serta membuat bahan bakar membeku.

Bisa Nikmati Pemandangan dengan Bebas di Kursi Depan, Di Mobil ini Kemudi Dipindah ke Kursi Belakang

Pernah terpikirkah oleh Anda bagaimana jika setir dan segala hal untuk mengemudi tidak ada di kursi depan bagian kiri atau kanan mobil? Beberapa dari Anda pasti pernah memiliki imajinasi seperti ini dan berpikir untuk memindahkan setir dan perlengkapan kemudi ke bagian yang diinginkan.

Baca juga: Ternyata, Setir Kemudi Paling Kotor Dibanding Interior Mobil Lainnya

Mungkin lebih banyak yang akan menghilangkan kursi kanan dan kiri dan menempatkan kemudi di bagian tengah. Ini menjadi hal yang bisa saja terjadi dan terwujud bila pemilik ingin merubah atau hanya sekedar imajinasi.

kemudi mobil yang dipindah ke kursi belakang. Foto: Core 77

Namun, ternyata pemindahan kemudi yang sebenarnya pernah terjadi dan bukan hanya imajinasi seseorang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber core77.com (13/9/2021), salah satu penduduk di Dubai, Uni Emirat Arab, menemukan cara terbaik untuk memindahkan kemudi dari bagian depan mobil.

Kursi depan tanpa kemudi. Foto: Core 77

Dia telah melakukannya pada tahun 2008 dan memindahkan kemudi di bagian kursi belakang. Orang Dubai ini membayar toko kustomisasi otomotif untuk memodifikasi SUV miliknya. Kemudian meletakan semua komponen kemudi di area kursi belakang.

Baca juga: Cukup Sekali Pengisian, Mobil Listrik Volvo Bisa Menjelajah Hingga 999 Km

Sehingga dengan cara ini, Anda dan rekan bisa duduk di kursi depan dan mendapat pemandangan yang lebuh bagus. Bahkan ketika berbincang, Anda tak seperti biasanya yang melihat kepala belakang tetapi kini berhadapan muka.

Foto: Core 77

Foto: Core 77

 

Lintasi Myanmar, Cina Buka Jalur Kereta Barang Menuju Pelabuhan di Samudera Hindia

Pada 27 Agustus 2021, jalur baru Cina-Myanmar dilintasi sebuah kargo uji yang berangkat dari perbatasan Myanmar ke stasiun kereta api Chengdu di Sichuan, Cina. Koridor ini melibatkan konektivitas kapal laut, jalan darat dan jaringan rel kereta.

Baca juga: Pengiriman Melalui Laut Alami Penundaan, Kereta Barang Cina-Eropa Jadi Pilihan di Asia Tenggara

Persisnya barang yang diangkut dengan kapal laut dari Pelabuhan Singapura tiba di Pelabuhan Yangon (Myanmar) melalui Laut Andaman di timur laut Samudera Hindia, kemudian barang diangkut melalui jalan darat via truk ke Lincang di sisi Cina perbatasan Myanmar-Cina di Yunnan.

Dilansir KabarPenumpang.com dari thehindu.com (31/8/2021), jalur kereta api baru ini membentang dari kota perbatasan Lincang ke Chengdu, pusat perdagangan utama di Cina barat, melengkapi koridor tersebut.

“Jalan ini menghubungkan jalur logistik Singapura, Myanmar dan Cina, dan saat ini merupakan jalur darat dan laut paling nyaman yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Cina barat daya. Perjalanan satu arah ini menghemat 20 hingga 22 hari,” kata China News Service.

Cina juga memiliki rencana untuk mengembangkan pelabuhan lain di Kyaukphyu di negara bagian Rakhine, termasuk jalur kereta api yang diusulkan dari Yunnan langsung ke pelabuhan, tetapi kemajuan di sana terhenti karena kerusuhan di Myanmar. Perencana Cina juga melihat Pelabuhan Gwadar di Pakistan sebagai jalan keluar utama lainnya ke Samudra Hindia yang akan melewati Selat Malaka.

Pelabuhan Gwadar sedang dikembangkan sebagai bagian dari Koridor Ekonomi China Pakistan (CPEC) ke wilayah Xinjiang paling barat, tetapi proyeknya melambat karena kekhawatiran atas masalah keamanan. Biaya dan logistik melalui CPEC juga kurang menguntungkan dibandingkan jalur Myanmar dengan dibukanya jalur transportasi kereta api dari perbatasan Myanmar langsung ke hub komersial terbesar Cina barat, Chengdu.

Waktu transportasi di jalur kereta api dari perbatasan Myanmar ke Chengdu memakan waktu tiga hari.

Situs web Irrawaddy yang berfokus pada berita Myanmar mengatakan rute itu adalah “yang pertama menghubungkan Cina barat dengan Samudra Hindia”. Jalur kereta api saat ini berakhir di Lincang di sisi Cina di seberang kota perdagangan perbatasan Myanmar, Chin Shwe Haw.

Baca juga: Bangkitnya Jalur Sutra Modern Dari Cina ke Daratan Eropa

Rencana sedang dilakukan untuk mengembangkan Chin Shwe Haw sebagai “zona kerja sama ekonomi perbatasan” di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalan. Irrawaddy mengatakan rute itu melewati Mandalay, Lashio dan Hsenwi di sisi Myanmar dan “diharapkan menjadi urat nadi perdagangan internasional bagi Cina dan Myanmar, sambil memberikan sumber pendapatan bagi rezim militer Myanmar”.

Lima Maskapai yang Paling Banyak Terbangkan Quadjet, Nomor Satu Sukar Dipercaya

Maskapai-maskapai besar di dunia dengan reputasi tinggi pada layanan dan keamanan, sudah pasti didukung oleh kualitas dan kuantitas armada. Sebelum era twinjet mendominasi satu dekade terakhir, mereka mengandalkan quadjet untuk menyediakan penerbangan mewah lintas negara dan benua.

Baca juga: Maskapai Mana yang Paling Lama Operasikan Boeing 747?

Selain itu, maskapai pengguna quadjet juga identik dengan sokongan dana besar, semisal Emirates, Qatar Airways, Etihad Airways, Singapore Airlines, dan lainnya.

Akan tetapi, bila dihitung sejak maskapai-maskapai di dunia berkiprah, ternyata, nama-nama di atas bukanlah pengguna pesawat quadjet terbesar atau paling banyak di dunia. Lantas maskapai mana? Dilansir Simple Flying, berikut daftar lima maskapai yang paling banyak mengoperasikan quadjet.

1. Japan Airlines

Sepanjang sejarah berdiri, setidaknya Japan Airlines telah mengoperasikan total 108 Boeing 747, menjadikannya sebagai maskapai pengguna Boeing 747 terbesar di dunia. Maskapai ini juga menerbangkan 58 DC-8 dari tahun 1960 serta DC-8 yang terakhir pensiun pada tahun 1988. Jadi total Japan Airlines udah mengoperasikan 166 quadjet.

2. Lufthansa

Lufthansa wajib masuk dalam daftar ini. Salah satu maskapai dengan jaringan terbesar di dunia di bawah bendera Lufhansa Group, yang juga memiliki saham mayoritas di maskapai besar di beberapa negara, tercatat sudah mengoperasikan total 157 pesawat quadjet, dengan rincian 81 Boeing 747, 62 A340, dan 14 A380. Belum lagi Boeing 720-B yang pernah dioperasikan pada awal 1960-an.

3. Emirates

Emirates menjadi maskapai dengan usia termuda yang bertengger dalam daftar maskapai di dunia yang paling banyak mengoperasikan quadjet. Maskapai yang berdiri pada 25 Maret 1985 ini tercatat menjadi pengguna Airbus A380 terbesar di dunia, dengan total 119 unit.

Selain itu, Emirates juga pernah mengoperasikan 18 quadjet; 10 A340-500 dan delapan A340-300. Totalnya, Emirates mengoperasikan 137 pesawat quadjet.

4. British Airways

British Airways tercatat sebagai operator Boeing 747 terbesar kedua dalam sejarah, dengan total 101 unit. Maskapai yang berbasis di London ini juga pernah mengoperasikan pesawat quadjet Boeing 707 dan Vickers VC-10 sepanjang tahun 1960-an sampai 70-an. Hanya, totalnya tak diketahui persis.

Baca juga: Dinilai Krusial Bantu Kesuksesan Maskapai, Berikut Daftar 5 Leasing Pesawat Terbesar Di Dunia

5. Singapore Airlines

Avgeeks tentu tak heran bila Singapore Airlines masuk ke dalam daftar ini. Sejak dahulu, maskapai nasional Singapura ini tak segan menggelontorkan uang untuk memberikan penerbangan mewah bersama quadjet.

Maskapai saat ini total sudah mengoperasikan 86 Boeing 747, 19 Airbus A380 (operator A380 terbesar kedua di dunia), dan 21 A340. Total, maskapai sudah mengoperasikan 126 pesawat quadjet.

Air New Zealand Gandeng Airbus Operasikan Pesawat Turboprop Bertenaga Hidrogen

Air New Zealand menyepakati kerjasama dengan Airbus terkait penelitian dan pengembangan pesawat bertenaga hidrogen. Ini dilakukan untuk mencapai tujuan emisi nol persen atau bebas karbondioksida maskapai pada tahun 2050 mendatang.

Baca juga: Airbus Mulai Kerjakan Tangki Bahan Bakar Hidrogen Pesawat, Boeing Panas-Dingin

“Perjanjian ini membawa kami selangkah lebih dekat ke komitmen emisi nol persen kami pada tahun 2050 dan untuk mewujudkan aspirasi kami untuk menerapkan solusi rendah karbon untuk penerbangan domestik dan regional kami yang lebih pendek dalam dekade berikutnya,” kata CEO Air New Zealand Greg Foran.

“Selandia Baru memiliki peluang unik untuk menjadi pemimpin dunia dalam penerapan pesawat bebas emisi, mengingat komitmen negara tersebut terhadap energi terbarukan yang dapat digunakan untuk menghasilkan hidrogen ramah lingkungan dan jaringan udara regional kami yang sangat terhubung,” lanjutnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Pesawat regional atau turboprop bertenaga hidrogen Air Ne Zealand rencananya akan diplot melayani rute domestik jarak pendek, semisal penerbangan trans-Tasman ke Australia, menggantikan armada turboprop yang ada saat ini.

Sebelum ini, Airbus memang sedang mengembangkan pesawat bertenaga hidrogen dan salah satunya pesawat turboprop.

Pesawat berkapasitas hingga 100 penumpang ini menggunakan mesin turboprop sebagai pengganti turbofan, dan juga didukung oleh pembakaran hidrogen dalam mesin turbin gas yang telah dimodifikasi dan mampu melakukan perjalanan lebih dari 1.852 km lebih. Hal ini menjadikannya pilihan untuk penerbangan jarak pendek.

Selain itu, ada dua pesawat bertenaga hidrogen lainnya yang tengah dikembangkan Airbus; turbofan (kapasitas 120-200 penumpang) dan pesawat dengan desain sayap-lebur atau blended-wing body (kapasitas hingga 100 penumpang). Ketiga itu ditargetkan bisa tersedia di pasaran mulai 2035 mendatang.

“Perjanjian dengan Air New Zealand ini akan memberi kami wawasan penting tentang bagaimana kami dapat menempatkan pesawat tanpa emisi (ramah lingkungan) ke dalam layanan,” ujar Presiden Airbus Asia-Pasifik Anand Stanley.

“Studi bersama akan memungkinkan kami untuk mendapatkan umpan balik yang sangat berharga tentang apa yang diharapkan maskapai penerbangan dan preferensi mereka dalam hal konfigurasi dan kinerja,” tambahnya.

Dalam kerjasama yang akan berlangsung selama dua tahun ke depan tersebut, Air New Zealand akan menganalisis dampak pesawat bertenaga hidrogen terhadap jaringan, operasi, dan infrastrukturnya.

Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035

Sedangkan Airbus, mereka akan berbagi kinerja pesawat yang diharapkan dan karakteristik operasi darat untuk mendukung tujuan dekarbonisasi serta bebas emisi Air New Zealand pada 2050.

Menarik ditunggu, di penghujung nota kesepahaman (MoU) antara Airbus dan Air New Zeland, akankah prototipe pesawat turboprop bertenaga hidrogen Airbus sudah bisa wara-wiri di langit Selandia Baru?

Delapan Fitur Tersembunyi di Pesawat, Penumpang Wajib Tahu!

Bagi traveler yang sudah sering bepergian naik pesawat, mereka biasanya sangat hafal berbagai fitur yang ada. Meski begitu, di pesawat itu sendiri terdapat banyak fitur tersembunyi di dalam dan di luar kabin.

Baca juga: Awas! Bila Dapat Kursi Pesawat di Bawah Bagian Ini Atau Anda Bakal ‘Ketiban’ Awak Kabin

Masing-masing fitur, baik itu berupa tombol maupun handle, tentu sangat berguna di beberapa situasi. Apa saja fitur rahasia tersebut? Dikutip dari news.com.au, berikut daftar delapan fitur di pesawat yang harus diketahui penumpang saat bepergian.

1. Handrail di atas kursi penumpang

Handrail di atas kepala sebetulnya sangat mencolok. Tetapi, kadang kala ini terlihat tak lebih dari sekedar memenuhi aspek artistik belaka. Padahal, ini bisa menjadi pegangan penumpang alih-alih memegang kursi dan mengganggu penumpang lainnya.

2. Tombol rahasia di bawah armrest

Tombol ini sengaja diletakkan di bawah armrest agar penumpang lebih nyaman saat menyandarkan tangan. Tombol rahasia ini berfungsi untuk mengangkat armrest ke atas dan memudahkan penumpang beranjak dari kursi.

3. Lubang kecil di jendela pesawat

Breather hole atau biasa juga disebut vent hole sebetulnya disadari penumpang, tetapi, besar kemungkinan tak banyak yang tahu fungsinya. Vent hole atau breather hole berfungsi menjadikan jendela pesawat tak berembun.

4. Wing hooks

Wing hooks atau kait berwarna kuning di sayap pesawat memang tak bisa digunakan penumpang saat dalam penerbangan. Tetapi, dalam kondisi darurat, wing hooks amat berfungsi untuk proses evakuasi.

5. Segitiga hitam di dinding

Bagi penumpang yang jeli, pasti mereka pernah melihatnya. Penulis sendiri, sepanjang naik pesawat, tidak pernah melihat segitiga hitam di dinding pesawat. Segitiga hitam di dinding pesawat berfungsi untuk menandakan ke kru posisi sayap pesawat yang paling tepat untuk dilihat.


6. Pegangan di pintu keluar

Seperti fitur-fitur rahasia pesawat di atas, fitur pegangan di pintu keluar pesawat juga sebetulnya sangat mencolok. Tetapi, penumpang hampir pasti tak menyadarinya. Pegangan di pintu keluar berfungsi untuk pegangan kru saat pesawat terguncang serta saat penumpang meninggalkan pesawat.

Baca juga: Pantas Banyak ‘Skandal,’ Ternyata Pramugari Punya ‘Ruang’ Tersembunyi Bak Hotel di Pesawat

7. Tombol kecil di lemari kamar mandi

Tombol yag terletak di bawah cermin ini berfungsi untuk membuka lemari yag berisi fasilitas seperti pembalut, tisu, paper bags, dan lainnya.

8. Asbak di toilet pesawat

Meski merokok di pesawat dilarang keras, tetapi, produsen tetap menyediakannya. Alasannya mudah, andai kata ada penumpang yang nakal, mereka harus memastikan bara api itu jatuh pada tempatnya, bukan di sembarang tempat.

 

Ternyata Ini Pesawat Narrowbody dengan Mesin Terbesar di Dunia, Dioperasikan Citilink dan Lion Air

Di setiap lini di dunia dirgantara selalu ada jawaranya. Kategori pesawat komersial terbesar di dunia, misalnya, dipegang oleh Airbus A380. Begitu juga di kategori pesawat paling panjang di dunia, Boeing 777X adalah juaranya.

Baca juga: Mengenal GE9X Boeing 777X, Mesin Pesawat Terkuat di Dunia

Selain urusan panjang, Boeing 777X juga mendapat gelar sebagai pesawat jet dengan mesin terbesar dan terkuat serta paling efisien di dunia; General Electric GE9X. Mengingat pesawat yang terbang perdana pada 25 Januari 2020 itu adalah widebody, lantas, pesawat mana yang memegang gelar serupa (pesawat dengan mesin terbesar di dunia) di kelas narrowbody?

Setelah era De Havilland, Lockheed (divisi pesawat komersial), sampai McDonnell Douglas berakhir, praktis, di dunia, hanya ada dua produsen besar pesawat; Boeing dan Airbus.

Dilansir Simple Flying, di pangsa pasar narrowbody, Boeing jelas disebut merajai sektor ini, baik dari segi penjualan maupun hegemoni di pasar. Hal itu mungkin bisa disebut wajar, mengingat, Boeing 737 -lambang kesuksesan narrowbody Boeing- sudah menjalani first flight pada 1967 atau 20 tahun sebelum A320 menjalani first flight. Jadi, pada pertempuran Boeing 737 vs A320 dimenangi Boeing.

Namun, seiring perkembangan teknologi dan kemampuan produsen dalam melihat peluang ke depan serta arah keinginan maskapai -termasuk di dalamnya kecenderungan penumpang untuk bepergian- membuat peta persaingan di pangsa pasar narrowbody menjadi lebih seru.

Airbus bisa dibilang lebih unggul di masa mendatang. Dengan kehadiran A321XLR, pengembangan dari A320neo dan LR, serta di saat yang bersamaan 737 MAX masih belum terlalu greget, tak berlebihan bila memprediksi Airbus akan memimpin pasar ini di masa mendatang. Terbukti, dari segi penjualan, tahun lalu, Airbus berhasil melampaui Boeing.

Khusus untuk narrowbody Airbus A320neo, ternyata pesawat ini cukup spesial bukan hanya karena teknologi canggih dan efisiensinya, tetapi juga karena menyandang status sebagai pesawat dengan mesin terbesar di dunia.

Baca juga: Rusak Duopoli Boeing-Airbus, Cina Produksi Suku Cadang Mesin Pesawat Sendiri Mulai 2025

Di dunia, sejauh ini hanya ada dua mesin terbesar di kelas narrowbody; mesin CFM LEAP dengan ukuran 78 inci (198 cm) dan Pratt & Whitney Geared Turbofan (GTF) 1100G-JM P&W berukuran 81 inci (206 cm). Menariknya, kedua mesin tersebut digunakan di A320neo.

Selain jadi mesin pesawat narrowbody terbesar di dunia, mesin Pratt & Whitney Geared Turbofan (GTF) 1100G-JM P&W ini juga memiliki bilah kipas dengan rasio bypass tinggi dengan green rub strips. Ini membantu mengurangi gesekan dan kebisingan berlebih.