Kisah Pesawat Buatan Putra Blitar yang Sempat Jadi Andalan TNI AU, Fokker F-27 dan F-28

Hari ini, 5 Oktober, Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan hari jadinya yang ke-76 dengan mengambil tagline Bersatu, Berjuang, Kita Pasti Menang. Spesial Dirgahayu TNI, redaksi KabarPenumpang.com coba mengulas kembali salah satu pesawat buatan putra Blitar, Anthony Fokker, yang dahulu sempat menjadi andalan TNI Angkatan Udara (TNI AU); pesawat turboprop Fokker F-27 Fellowship atau Fokker F-27 Troopship dalam versi militer dan pesawat jet F-28 Fellowship.

Baca juga: Fokker F-27 Friendship, Pesawat Transisi Garuda Indonesia Menuju Era Jet Domestik

Sejarah kehadiran pesawat Anthony Fokker cah Blitar di Indonesia, dalam hal ini Fokker F-27 dan F-28 tak terlepas dari keputusan salah satu Direktur Utama Garuda Indonesia terbaik sepanjang sejarah, Wiweko Soepono. Ketika itu, Wiweko, yang juga dikenal sebagai bapak ‘Two-Men Cockpit’ dan berhasil mengubah wajah industri dirgantara global ini, mulai menggunakan pesawat F-27 pada tahun 1969.

Oleh Wiweko, F-27 dimaksimalkan sebagai mesin uang yang keuntungannya digunakan untuk pengadaan armada baru.

Pengabdian F-27 di Garuda Indonesia berakhir pada tahun 1977, dan sejak itu Garuda Indonesia fokus menggunakan armada pesawat jet untuk penerbangan domestik, selain mengandalkan Fokker F-28, untuk misi penerbangan domestik dan regional BUMN tersebut mempercayakan pelayanan pada pesawat jenis Douglas DC-9.

Sebetulnya, sebelum digunakan Garuda Indonesia sebagai pesawat penumpang, Fokker F-27 sudah lebih dahulu hadir di Indonesia melalui PT Pertamina pada tahun 1966.

Selama dioperasikan Pertamina, F-27 diplot sebagai pesawat transport. Tujuan yang paling sering ditempuh yaitu ke Medan, Palembang, dan Sorong. Termasuk ketika Pepera (Pengumpulan Pendapat Rakyat) di Irian Barat tahun 1969. Namun, eksklusivitas pesawat tersebut bersama Pertamina membuat tak banyak yang mengetahui ketangguhan pesawat ini.

Baca juga: Lockheed L-100-30, Hibah Merpati Nusantara Airlines yang Kini Jadi Andalan TNI AU

Barulah setelah Garuda Indonesia menggunakannya sebagai pesawat penumpang, Fokker F-27 mulai dikenal masyarakat; termasuk KSAU saat itu Marsekal Saleh Basarah.

Hanya saja, hal yang paling menentukan dalam sejarah pengoperasian pesawat Fokker F-27 di TNI AU terjadi saat ia diundang ke pabrik Fokker di Belanda. Alhasil, TNI AU pun resmi mengoperasikan Fokker F-27 Troopship, dengan penekanan pada kemampuan penerjunan pasukan lintas udara, sejak 8 Agustus 1976. Total delapan pesawat dibeli TNI AU dan bergabung dengan Skadron Udara 2 Wing Udara 1.

Sebelum kedatangan pesawat yang oleh TNI AU dijuluki ‘Flying Horses’ atau Kuda Terbang tersebut, armada Skadron ini diisi oleh pesawat tua besutan Uni Soviet, yaitu Ilyushin Il-14 ‘Crate’ dan Ilyushin Il-14 Avia-14 (lisensi Cekoslovakia); dan C-47 Dakota, pabrikan Amerika Serikat (AS).

Ketiga pesawat tersebut sudah digunakan Skadron Udara 2 sejak masa pasca-kemerdekaan (1955) hingga tahun 1970-an.

Pasca bergabungnya pesawat ini, Marsekal Saleh Basarah pun sering melakukan perjalanan dinas menggunakan F-27 VIP. Tentu ini bergantung pada medan dan rute yang ditempuh.

Sejak saat itu, pesawat dengan mesin 2x Rolls-Royce Dart Mk.532-7 dengan kecepatan jelajah 460 km per jam dan jarak tempuh mencapai 2.600 km ini terus menjadi andalan TNI AU selam puluhan tahun, didukung dengan saudaranya, Fokker F-28.

Baca juga: Fokker F-28, Pernah Menjadi Tulang Punggung Armada Garuda Indonesia

Berbeda dengan F-27 Troopship yang memang dibeli baru oleh TNI AU, Fokker F-28 Friendship adalah pesawat hibah dari Pelita Air, Merpati Nusantara Airlines, dan Garuda Indonesia dalam kurun waktu 1983-2013.

Total ada empat unit pesawat yang dihibahkan ke TNI AU dan masuk dalam inventori Skadron Udara 17/VVIP dengan tail number A-2801, A-2802, A-2803, dan A-2804. Jenderal Wiranto mungkin lekat betul ingatannya dengan pesawat satu ini. Ketika itu, di tahun 98, ia pernah menjadikan F-28 sebagai pesawat komando udara, saat harus terbang dari Malang ke Jakarta.

Survei: Mayoritas Penumpang Pesawat di Asia-Pasifik Siap Bepergian Akhir Tahun Ini

Hasil survei Asia-Pasifik (APAC) Passenger Confidence Tracker 2021 oleh Inmarsat menunjukkan, penumpang pesawat di Asia-Pasifik siap terbang akhir tahun ini. Selain itu, hasil survei juga menunjukkan penumpang pesawat di APAC mengaku merasa aman dengan syarat wajib vaksin bagi penumpang pesawat.

Baca juga: Penumpang Internasional Masih Loyo di Asia-Pasifik, Lambannya Vaksinasi Jadi Penyebab

Survei ini tentu berbanding terbalik dengan data dari Association of Asia-Pacific Airlines (AAPA). AAPA Juni lalu merilis, jumlah penumpang internasional masih sebesar 3,6 persen dibanding periode yang sama tahun 2019. Terpaut sangat jauh.

Sebetulnya, penumpang internasional pada April 2021 sudah jauh meningkat dibanding April 2020. Catatan AAPA, sepanjang April 2021, ada sekitar 1.126.000 penumpang internasional yang diangkut maskapai se-Asia-Pasifik. Jauh berbanding terbalik dari kondisi pada April 2020 yang hanya sebesar 367.000 penumpang internasional.

Kendati demikian, angka di kedua tahun tersebut masih jauh dibanding April 2019, di mana angkanya mencapai 31.185.000 penumpang.

Direktur Jenderal AAPA, Subhas Menon, mengungkapkan, ada beberapa faktor penyebab masih rendahnya jumlah penumpang internasional. Salah satunya ialah lambannya vaksinasi di negara-negara Asia-Pasifik.

“Munculnya varian (Covid-19) baru dengan tingkat penularan yang lebih tinggi telah menghalangi ekonomi Asia untuk membuka kembali perbatasan mereka, dengan persyaratan karantina yang ketat semakin menekan permintaan perjalanan internasional,” jelasnya.

“Di Asia, kecepatan vaksinasi yang relatif lambat terus merusak pemulihan ekonomi kawasan, khususnya, sektor perjalanan dan pariwisata yang sangat terpukul,” tambahnya.

Namun, situasi tersebut diyakini bakal berubah. Apalagi survei membuktikan hal itu. Dari 100 persen, 85 persen penumpang atau responden APAC mengaku terdampak pandemi Covid-19. Itu artinya kemampuan mereka bepergian terganggu.

Akan tetapi, 51 persen dari mereka menyebut akan tetap mengupayakan terbang di akhir tahun ini. Bahkan, 20 persen dari Australia mengaku akan terbang atau bepergian mulai bulan depan.

Keinginan penumpang pesawat di APAC kembali terbang juga dibarengi dengan faktor lainnya. Disebutkan, 32 responden di APAC mengaku percaya pesawat lebih aman dibanding moda transportasi lainnya. Selain itu, mayoritas dari mereka juga percaya pandemi virus Corona akan berlalu dan berbagai pembatasan serta karantina di seluruh dunia berakhir.

Meski begitu, mayoritas penumpang mengaku hanya akan terbang bersama maskapai tertentu. Utamanya, maskapai yang ketat menerapkan protokol kesehatan dan terus menghadirkan teknologi terkini dalam kaitannya dengan kebutuhan penumpang di tengah pandemi.

Baca juga: Maskapai Internasional Mulai Ramai Tawarkan Asuransi Covid-19 untuk Penumpang

“Sejak awal pandemi, industri penerbangan telah menghadapi tantangan demi tantangan. Namun, maskapai sekali lagi menunjukkan ketahanan mereka dan melangkah ke tantangan tersebut. Passenger Confidence Tracker terbaru kami mengungkapkan bahwa pelancong di Asia Pasifik adalah yang paling percaya diri terhadap langkah pragmatis untuk perjalanan dan memiliki sikap positif untuk kembali ke angkasa,” kata David Coiley, wakil presiden regional Inmarsat Aviation Asia-Pasifik.

“Dengan keselamatan dan reputasi yang semakin penting bagi penerbang saat ini, ada kebutuhan mendesak bagi maskapai penerbangan untuk merangkul peluang baru dan membedakan diri mereka untuk mendorong penumpang kembali ke penerbangan mereka saat perjalanan terus dilanjutkan,” tutupnya, seperti dikutip dari Asian Aviation.

Bus Tingkat Ternyata Awalnya di Paris Bukan London

Siapa yang tak kenal dengan bus tingkat? Bus ini bahkan sudah menjadi ikon industri pariwisata dan yang paling terkenal adalah bus tingkat berwarna merah di London, Inggris. Tapi sebenarnya bagaimana sejarah bus tingkat atau yang sering disebut double decker ini?

Baca juga: Si Jangkung Merah dari Inggris Pernah Jadi Primadona Transportasi Jakarta

Ternyata bus tingkat ini pertama kali hadir tahun 1828 di jalanan Paris, Perancis. Di mana ini awalnya adalah kereta kuda dua tingkat yang dipelopori oleh seorang pria bernama Stanislas Baudry. Karena terinspirasi dari ide Baudry tersebut membuat George Shillibeer membawa omnibus ke London, Inggris.

KabarPenumpang.com dari vancouver.com, tarif awal omnibus ini adalah satu shiling dan bus mampu menampung 22 penumpang. Kemudian tahun 1920-an, versi pertama bus tingkat bertenaga mesin memulai debutnya untuk penduduk London.

Pertumbuhan populasi yang pesat akhirnya mendesak kebutuhan transportasi dan membuat lebih banyak bus. Hal ini bahkan memicu persaingan diantara banyak perusahaan di kota. Pada pertengahan 1920-an, bahkan ada sekitar 20 perusahaan berbeda dengan bus yang meluncur di seluruh kota.

Pemilik terbesar dari bisnis tersebut adalah The London General Omnibus Company (LGOC) yang membedakan identitas bus tingkat mereka dengan warna merah cerah. Saat itu pemilik LGOC mengaku ragu ada orang yang bisa memprediksi makna historis dari pemilihan satu warna tersebut.

Hingga 1930-an, banyak perusahaan lain bergabung menjadi bagian dari Dewan Transportasi Penumpang London yang kolektif. Permintaan bus kemudian terus meningkat hingga 1950-an saat model double decker yang paling dikenal muncul.

Routemaster adalah bus tingkat yang pertama kali dibangun tahun 1956 dan memiliki pintu masuk belakang yang terbuka. Namun pintu ini kemudian dihilangkan karena orang mengira mereka dapat melompat dan turun saat bus bergerak.

Baca juga: Mau Naik Bus Tingkat, Sebaiknya Pilih Duduk di Atas atau di Bawah?

Populernya double decker ini karena bus satu tingkat tidak dapat menampung banyak orang dan versi akordeon yang lebih panjang tidak dapat menangani jalan-jalan sempit di London. Selain itu juga orang-orang juga menyukai atap terbuka. Selain d London, kota lain seperti Hong Kong, Roma, Paris dan lainnya juga memiliki bus tingkat serta menjadi yang terfavorit untuk menikmati kota.

Intip Gaya Anjing Ini Nikmati Kursi Kelas Bisnis Singapore Airlines dari Sydney-Italia

Anjing biasanya turut dalam sebuah penerbangan di dalam sebuah kennel atau kandang. Tetapi, berhubung kabin penumpang dalam perjalanan dari Sydney ke Italia Singapore Airlines kosong, mengingat pembatasan ketat pemerintah Australia, anjing tersebut diperbolehkan berada di luar kennel dan ‘duduk’ di kursi kelas bisnis.

Baca juga: [Video] “Robot Anjing” Unjuk Gigi Tarik Pesawat!

Lewis, begitulah sapaan akrab anjing beruntung yang diizinkan duduk di kursi kelas bisnis ini. Eks anjing balap ini diketahui baru selesai mengenyam ‘pendidikan’ di Greyt Grays Rescue yang berbasis di Melbourne, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk menyelamatkan, mengadopsi, dan membina anjing greyhound bekas balap dengan kehidupan baru yang jauh lebih baik.

Setelah mendapat pendidikan khusus untuk mengubur masa kelamnya sebagai anjing balap, Lewis akhirnya dibawa ke Italia oleh sang empunya. Sayangnya, tak disebutkan siapa sang pemilik anjing tersebut.

Gaya anjing ini dalam penerbangan Singapore Airlines rute Sydney-Italia. Foto: Executive Traveller

Yang pasti, laporan Executive Traveller, Lewis tampak sangat menikmati penerbangannya di kursi kelas bisnis Singapore Airlines dalam perjalanan ke Italia.

Dengan ditemani beberapa boneka yang turut menjadi bagian darinya dalam menata ulang kehidupan, Lewis, Lewis melakukan berbagai aktivitas selama dalam penerbangan, seperti tidur, menikmati pemandangan luar jendela, sampai menikmati sajian khusus untuknya yang berbeda dengan penumpang kelas bisnis Singapore Airlines pada umumnya.

Menariknya, anjing langka yang diberi kesempatan duduk di kursi kelas bisnis ini ternyata terbang bertepatan dengan hari lahirnya. Tak menyia-nyiakan momen tersebut, kru maskapai merayakan hari jadinya itu dengan menyiapkan tiga pastry, lengkap dengan tulisan happy birthday.

Foto: Executive Traveller

Entah karena merasa diberikan layanan sangat hangat oleh kru atau memang sangat berkesan dengan pengalamannya duduk di kursi kelas binsi Singapore Airlines, yang jelas Lewis diakui oleh kru sebagai anjing yang paling kalem di penerbangan.

Greyt Grays Rescue membeberkan, kru maskapai mengatakan “Ia adalah anjing terbaik yang pernah mereka miliki, termasuk anjing pelayan yang terlatih penuh.”

Anjing bekas balapan ini merayakan ulang tahunnya saat dalam penerbangan tersebut. Foto: Executive Traveller

Kebijakan adanya hewan di dalam kabin penumpang tentu berbeda-beda tiap maskapai. Singapore Airlines memang terkenal ketat dan jadi salah satu maskapai yang tidak membolehkan adanya hewan di dalam kabin, semata demi kenyamanan bersama.

Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat

Hanya saja, saat hewan berada di kargo dan terpisah dari sang pemilik, keduanya kerap terpisah karena satu dan lain hal.

Maret 2018 lalu, United Airlines pernah membawa kargo berupa anjing German Shepherd. Namun, alih-alih membawanya ke Wichita, Kansas, Amerika Serikat dan bertemu dengan sang pemilik, maskapai justru membawanya ke Jepang.

 

Air France Jadi Satu-satunya Maskapai di Dunia yang Operasikan Seluruh Tipe Airbus

Sejak pertama kali Airbus didirikan pada 18 Desember 1970, total sudah ada 11 pesawat narrowbody dan widebody andalan dan digunakan oleh mayoritas maskapai utama dunia. Menariknya, di antara maskapai tersebut, hanya Air France yang pernah mengoperasikan seluruh pesawat andalan Airbus tersebut. Kepastian itu didapat setelah Air France belum lama ini kedatangan Airbus A220 pertamanya.

Baca juga: Sejarah Pesawat Airbus A300, Dari Proses Penamaan Hingga Sumbangsih Dirut Garuda Indonesia

Sebetulnya, tak mengherankan bila Air France menjadi operator pengguna seluruh varian pesawat Airbus, mengingat keduanya sama-sama berasal dari negara yang sama, Perancis. Agar lebih lengkap, berikut 11 pesawat Airbus yang seluruhnya pernah masuk dalam barisan armada Air France, seperti dikutip dari Simple Flying.

Pesawat widebody
A300

Pesawat Airbus pertama yang dioperasikan maskapai pastinya adalah Airbus A300. Pesawat ini bergabung dalam barisan armada perusahaan pada Mei 1974. Maskapai nasional Perancis ini total memiliki 26 unit, dimana 10 di antaranya varian A300B2 dan 16 sisanya varian A300B4. Setelah dua dekade lebih atau pada Februari 1999, ke-26 pesawat itu keluar dari daftar armada Air France.

A310

10 tahun setelah menerima Airbus A300 pertama, Air France kembali kedatangan varian pesawat Airbus lainnya, Airbus A310 pada April 1984. Pesawat A310 terakhir yang bergabung dengan Air France terjadi pada 1991 dan terakhir kali dioperasikan maskapai pada Mei 2002.

A330

Tak begitu berhasil bersama A310, Air France kembali menjajal produk Airbus lainnya, A330. Pesawat ini bergabung dengan maskapai pada tahun 2001. Total, ada 16 pesawat yang dioperasikan Air France. Seluruhnya masih beroperasi sampai saat ini, kecuali satu pesawat saja yang sudah pensiun pada tahun 2009.

A340

Ada 30 Airbus A340 yang dioperasikan Air France. Tetapi, sebagaimana A310, pesawat ini tidak terlalu mentereng di pasaran dan akhirnya dipensiunkan maskapai pada Maret 2020 setelah dioperasikan sejak 1993.

A350

Pesawat terbaru dan tercanggih Airbus ini mulai bergabung dengan Air France pada September 2019. Saat ini, sudah ada 11 Airbus A350-900 di barisan armada Air France. 27 sisanya sedang proses pengerjaan dan akan segera dikirim.

A380

Kendati berstatus sebagai maskapai nasional Perancis, faktanya, Air France menjadi operator A380 keempat. Maskapai menerima pesawat superjumbo ini pada bulan Oktober 2009. Sayangnya, pandemi Covid-19 dan perubahan tren bepergian penumpang, dari sistem hub ke point-to-point, membuat A380 mulai ditinggalkan maskapai, termasuk Air France, pada Maret 2020 lalu.

Pesawat narrowbody
A318

Dari 80 Airbus A318 yang diproduksi, 18 di antaranya dioperasikan Air France. Pesawat itu bergabung dengan Air France pada Oktober 2003. Sampai saat ini, pesawat itu masih menjadi bagian utama dari armada jet regional maskapai.

A319

Air France pertama kali kedatangan pesawat ini pada September 1997. Total, ada 49 unit A319 yang dioperasika Air France. Menariknya, setelah 20 tahun lebih, maskapai masih mempertahankan 30 pesawat ini di barisan armada.

A320

Airbus A320 pertama bergabung dengan Air France pada 1988. Mei 2010, Airbus tak lagi mengoperasikan A320-100 dan -200. Sebagai gantinya, Air France mengandalkan Airbus A320-400. Total, ada 44 pesawat itu di barisan armada maskapai dan masih bertahan sampai saat ini.

Baca juga: Mengapa Pesawat Buatan Airbus Selalu Dimulai dengan Huruf ‘A’? Berikut Penjelasannya

A321

September 1997, Air France kedatangan pesawat A321 pertama. Sampai saat ini, total Air France sudah mengoperasikan 25 pesawat ini.

A220

Beberapa hari yang lalu, Air France kedatangan A220 pertama dari total 60 pesanan. Hadirnya pesawat ini menjadi pelengkap 11 varian pesawat Airbus yang pernah dioperasikan maskapai.

Masker Cerdas ini Bisa Otomatis Sesuaikan Kemampuan Bernapas Penggunanya

Selama pandemi, masker menjadi hal yang sangat diperlukan meski terkadang ada orang yang terganggu ketika menggunakannnya. Namun, ada masker baru eksperimental secara otomatis yang memudahkan untuk bernapas saat penyaringan udara maksimum tidak diperlukan.

Baca juga: Masker Puricare Wearable Air Purifier LG Dilengkapi Mikrofon dan Speaker

KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (30/9/2021), masker ini dirancang oleh tim ilmuwan Korea yang menggabungkan dua membran filter berpori yang mana satu di antara kedua sisi pemakainnya terbuat dari nano fibers elastomer electrospun. Setiap membran berbentuk cakram dikelilingi oleh dan bergabung dengan mekanisme peregangan pneumatik berbentuk cincin.

Alat perengang itu pada gilirannya dihubungkan ke perangkat portabel ringan yang berisi sensor udara, pompa udara dan chip mikrokontroler. Perangkat itu sendiri terhubung secara nirkabel ke komputer eksternal yang menjalankan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan.

Ketika sensor mendeteksi konsentrasi tinggi partikel berbahaya di udara, bersama dengan tingkat pernapasan yang relatif normal di pihak pengguna, komputer mengaktifkan pompa. Hal ini menyebabkan cincin alat perengang mengembang dan menjadi lebih gemuk, yang memungkinkan membran yang terhubung tetap dalam keadaan rileks.

Akibatnya, pori-pori membran tetap pada ukuran terkecil, menawarkan tingkat filtrasi tertinggi. Namun, jika sensor mendeteksi udara yang lebih bersih dan bersama dengan laju pernapasan yang lebih cepat, seperti yang mungkin menyertai olahraga luar ruangan yang relatif aman dari Covid, maka perangkat lunak akan meminta alat perengang mengempis.

Dengan demikian menjadi lebih kurus, meregangkan membran saat melakukannya. Akibatnya, ukuran pori meningkat, memungkinkan pernapasan lebih mudah. Terlebih lagi, tes yang dilakukan pada sukarelawan menunjukkan bahwa bahkan ketika pori-pori cukup besar untuk secara signifikan meningkatkan kemampuan bernapas masker, efisiensi penyaringan udaranya turun hanya enam persen.

Baca juga: Lebih Jelas Tentang KN95, Masker Standar Cina yang Laris Manis

Rencana sekarang menyerukan agar teknologi dibuat lebih ringan, lebih kecil dan tidak terlalu besar, yang dapat melibatkan penghapusan pompa dan beralih ke mekanisme peregangan non-pneumatik. Sebuah makalah tentang penelitian tersebut, yang dipimpin oleh Seung Hwan Ko dari Universitas Nasional Seoul, baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal ACS Nano.






















Toyota Rilis C+walkT, Skutik Tiga Roda yang Ideal Melaju di Area Pejalan Kaki

Di Jepang, Toyota pada awal Oktober ini baru saja merilis skuter mobilitas listrik stand-up roda tiga yang disebut C+walkT. Skuter ini dirancang untuk bisa digunakan pengendara di area khusus pejalan kaki, taman bisnis skala besar, universitas atau tempat lainnya.

Baca juga: Uready, Skuter Roda Tiga yang Bisa Dibelokkan

C+walkT dilengkapi kontrol kemudi yang memiliki tampilan sentral dengan tombol untuk penerangan, klakson, tuas untuk akselerasi dan pengereman, serta memiliki semacam kesan skuter keamanan. Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (1/10/2021), C+walkT ini dijual di dealer mobil Toyota dengan harga mulai dari JPY 341 ribu (sekitar US$3.000).

Selain itu juga akan disewakan dan perusahaan mengatakan, peraturan daerah terus berubah. Meski begitu C+walkT bisa melaju di sepanjang jalan umum di beberapa titik di masa depan. Salah satu kasus penggunaan yang diusulkan adalah untuk “meringankan beban berjalan pada pengguna lanjut usia yang terlibat dalam pekerjaan keamanan.”

Kendaraan ini juga dilengkapi dengan deteksi rintangan, menawarkan peringatan visual dan alarm suara, sementara juga memperlambat kendaraan hingga dua kilometer per jam. Kecepatan C+walkT dibuat lambat untuk membantu mencegah tabrakan dengan pengguna lain, rintangan, dan pejalan kaki.

Sedangkan motor DC brushless 0,25-kW bisa dikemudikan hingga sepuluh kilometer per jam. Meski begitu, ini dirancang untuk bergulir melalui fasilitas pada kecepatan yang lebih rendah, dan baterai Li-ion yang dapat dilepas diperhitungkan baik untuk sekitar 2,5 jam atau perjalanan sejauh 14 km (8,7 mil).

Bahkan C+walkT ini akan membantu pengemudi melaju di jalan sempit karena bisa berbelok dengan rapat di jalur sepanjang 0,59 meter. Sehingga nantinya skuter ini akan membantu Anda beregerak ke arah yang benar.

C+walkT memiliki panjang 700 mm (27,5 inci) dan 450 mm (17,7 inci) pada titik terlebarnya, dapat menopang bobot pengendara hingga 100 kg (220 lb), bodi resinnya hadir dalam lapisan dua warna, dan masing-masing dari ketiga roda dibungkus ban anti bocor. Ini jelas merupakan kendaraan khusus, tetapi campuran e-mobilitas tampaknya akan bervariasi sehingga e-skuter bertenaga rendah ini dapat menemukan basis pengguna di suatu tempat antara Segways, hoverboard, dan kickscooter listrik.

Baca juga: Mimo C1 Gabungkan Fungsi Skuter dan Troli

Sayangnya belum ada kabar apakah C+walkT akan dirilis secara komersial di luar Jepang pada saat ini. Tetapi Toyota sudah memiliki solusi e-mobilitas pribadi lainnya dalam pengembangan, termasuk e-scoot duduk dan yang mampu menarik kursi roda.






















Singapore Airlines Bongkar Dua Airbus A380, Suku Cadangnya Didaur Ulang

Singapore Airlines menarik dua pesawat Airbus A380, 9V-SKG dan 9V-SKH, yang sebelumnya diumumkan pensiun. Namun, bukan untuk dioperasikan lagi ke dalam layanan, melainkan untuk dibongkar dan suku cadangnya didaur ulang.

Baca juga: “Bangkit dari Kubur”, Singapore Airlines Aktifkan Airbus A380 yang Disimpan di Gurun

Maskapai penerbangan nasional Singapura itu adalah operator A380 kedua terbesar di dunia setelah Emirates dengan total 24 pesawat.

Namun, dinamika industri penerbangan yang begitu cepat membuat maskapai memutuskan pensiun dini Airbus A380 beberapa tahun lalu, menjadikannya sebagai maskapai pertama di dunia yang mempensiunkan pesawat superjumbo itu.

Saat ini, total 12 Airbus A380 sudah dipensiunikan Singapore Airlines dan menyisakan 12 pesawat lainnya yang masih bertahan, sekalipun tak ada satupun yang beroperasi.

Di antara 12 pesawat yang sudah dipensiunkan itu beberapa di antaranya, seperti 9V-SKG dan 9V-SKH, dibongkar dan suku cadangnya didaur ulang. Didaur ulang dalam artian, komponen berharganya, seperti mesin Trent 900, landing gear, avionics, kursi, dan lainnya, dipasang di pesawat Airbus A380 lainnya yang masih dipertahankan maskapai. Dalam dunia penerbangan, ini disebut dengan istilah upcycling.

Dengan begitu, maskapai tidak perlu membeli seluruh suku cadang yang mahal untuk sisa armada A380 yang masih beroperasi. Tujuan besar dari ini tentu adalah efisiensi.

Laporan FlightGlobal, A380 Singapore Airlines dengan nomor registrasi 9V-SKG dan 9V-SKH itu saat ini masih dalam proses pembongkaran. Bila segalanya sesuai dengan rencana, proses ini akan memakan waktu dua bulan.

Selain dibongkar dan suku cadangnya didaur ulang, A380 Singapore Airlines yang sudah pensiun juga ada yang betul-betul dibongkar dan diabadikan menjadi sebuah gantungan kunci.

Februari tahun lalu, Aviation Tag meluncurkan produk gantungan kunci terbarunya yang terbuat dari badan pesawat A380 pertama Singapore Airlines yang pensiun, dengan nomor registrasi 9V-SKA.

Melalui laman resminya, perusahaan yang berbasis di Cologne, Jerman, itu mengaku ide membuat gantungan kunci dari pesawat yang sudah pensiun semata untuk menyelamatkan lingkungan dengan menghindari penumpukan pesawat-pesawat bekas yang jumlahnya jutaan di dunia.

Selain itu, perusahaa juga melihat minat tinggi para pecinta penerbangan untuk mengabadikan pesawat favoritnya sekalipun dalam bentuk yang lebih kecil.

“Kami selalu memiliki emosi yang campur aduk. Di satu sisi, sangat menyedihkan melihat era ini berakhir setelah hanya 10 tahun. Di sisi lain, kami senang bahwa kami berhasil melestarikan bagian dari pesawat ikonik ini untuk semua penggemar penerbangan,” Vice President Aviation Tag, Tobias Richter.

Baca juga: Dear Airbus Lovers, Kursi A380 Bekas Singapore Airlines Dijual Satuan Loh, Berminat?

Airbus A380 Singapore Airlines dengan nomor registrasi 9V-SKA dan memiliki nomor seri pabrikan 003 sendiri adalah pesawat pertama yang melayani dan mengakhiri penerbangan komersial. Pesawat ini pertama kali mengudara pada tanggal 7 Mei 2006.

Setelah melewati fase pengujian dan verifikasi, pesawat itu akhirnya dikirim ke Singapore Airlines pada tanggal 15 Oktober 2007. Setelah menghabiskan lebih dari 10 tahun, pesawat akhirnya dikembalikan ke lessor pada tanggal 5 Desember 2017.

Ada “Gita” di Bandara Seattle-Tacoma, Robot Pintar Pengantar Makanan di Terminal Keberangkatan

Duduk santai di gerbang keberangkatan menunggu makanan Anda tanpa harus mengantri? Rasanya semua orang akan bahagia bila diperlakukan seperti ini. Apakah Anda ingin merasakan hal ini?

Baca juga: Bandara Minneapolis Hadirkan “Gita,” Robot Pengantar Makanan ke Pelancong

Bila iya, di Bandara Seattle-Tacoma yang terletak di Washington, baru-baru ini memperlihatkan sebuah robot kecil di atas roda. Di mana robot tersebut berkeliaran bebas di terminal Bandara Seattle-Tacoma sembari mengantar makanan pada para pelancong yang menunggu di gerbang mereka.

KabarPenumpang.com melansir travelandleisure.com (21/9/2021), robot kecil tersebut bernama Gita dan pelancong bisa memesan makanan melalui aplikasi pemesanan seluler OrderSEA yang terhubung dengan 16 restoran bandara untuk memesan penjemputan saat mereka kekurangan waktu.

“Teknologi dapat membuat pengalaman bandara Anda lebih fleksibel dan tidak membuat stres. OrderSEA berarti para pelancong dapat melewatkan berdiri di antrean yang ramai, bagian yang paling tidak menyenangkan dan paling menegangkan dari perjalanan apa pun,” kata Komisaris Pelabuhan Seattle Sam Cho dalam sebuah pernyataan.

Gita, mampu menyimpan hingga 40 pon makanan dan mengirimkannya ke sekitar terminal (dengan biaya $2,99). Untuk saat ini, robot tersebut didampingi oleh pengawas di sekitar bandara, tetapi jika permintaan untuk layanan tinggi, armada robot Gita dapat segera berputar di sekitar terminal.

Semua penumpang tahu penderitaan karena harus membuat keputusan antara mendapatkan makanan atau tiba di gerbang tepat waktu. Sehingga fitur baru bandara memungkinkan para pelancong untuk memesan secara online atau dari perangkat seluler mereka sebelumnya, memberi tahu mereka dengan tepat berapa lama menunggu makanan.

Jadi, jika terdesak waktu, Anda dapat memesan makanan dari ponsel sambil menunggu di garis keamanan dan mengirimkannya ke gerbang Anda tepat waktu. OrderSEA saat ini memungkinkan pesanan dari restoran seperti McDonald’s, Trail Head BBQ Bar dan Pizza Vino, dengan lebih banyak opsi yang akan ditambahkan selama beberapa bulan mendatang.

Untuk diketahui, bandara ini juga telah mengembangkan banyak cara lain untuk menghemat waktu agar para pelancong tidak antre. Penumpang dapat menggunakan “SEA Spot Saver” dan memesan slot waktu untuk melewati pos pemeriksaan keamanan TSA.

Baca juga: Robot Katering Mudahakan Pelayanan Udara KLM

Selain itu, Sea-Tac juga menawarkan parkir Pra-Pesan untuk perjalanan mulus tanpa kontak bagi mereka yang berkendara ke bandara. Anda dapat memesan dan membayar parkir sebelum kedatangan Anda, memindai kode QR pemesanan di pintu masuk garasi, lalu berangkat. Selama pandemi, bandara membuka “Shot Bar”, yang adalah bar untuk mereka yang ingin minum tetapi tidak bisa duduk dan menikmati koktail santai.






















Kena Dekompresi Eksplosif, Dua Boeing 737-300 Southwest Airlines Alami Perbedaan Nasib

Sepanjang perusahaan berdiri, dua kali sudah penerbangan Southwest Airlines mengalami depresurisasi atau dekompresi eksplosif; Southwest Airlines flight 812 pada 1 April 2011, tak ada korban jiwa, dan Southwest Airlines flight 1380 pada 17 April 2018, dimana satu penumpang menjadi korban jiwa.

Baca juga: Bagaimana Pilot Tangani Depresurisasi Saat Pesawat di Udara? Ini Jawabannya

Meski mengalami depresurisasi atau dekompresi eksplosif saat di ketinggian di atas 30 ribu kaki (setara 9.144 meter), tipe pesawat, dan di bulan yang sama, tetapi, secara teknis, keduanya berbeda.

Ketika itu, pesawat Boeing 737-300 Southwest Airlines dengan nomor penerbangan 812 tengah melayani penerbangan penumpang berjadwal dari Phoenix , Arizona, ke Sacramento , California, AS.

Akan tetapi, saat dalam perjalanan, atap pesawat copot dan membuat lubang besar saat di ketinggian 34.000 kaki (10.000 m). Pesawat akhirnya berhasil mendarat darurat di Bandara Internasional Yuma, Arizona. Seluruh penumpang sebanyak 123 orang dan kru berhasil selamat.

Ini tentu luar biasa mengingat saat dekompresi eksplosif terjadi, apapun dan siapapun akan tersedot dan terhempas ke luar pesawat dalam sekejap, membuat tubuh mereka remuk. Padahal, saat dekompresi eksplosif ini terjadi secara tiba-tiba, mayoritas penumpang sedang tak menggunakan seatbelt atau sabuk pengaman.

Seharusnya, mereka yang berada di dekat lubang atau atap pesawat yang copot tersebut bisa tersedot keluar seketika.

Beruntung, sebagaimana penjelasan ahli yang dikutip nbcnews.com, dekompresi eksplosif yang bersumber dari atap pesawat memang tidak separah dekompresi eksplosif akibat lubang di sisi kiri maupun kanan pesawat, yang notabene sangat dekat dengan penumpang.

Jarak antara atap pesawat dengan penumpang di kursi terpaut sekitar dua sampai tiga kaki. Semakin jauh jarak antara lubang di atap dengan penumpang, semakin kecil kemungkinan mereka terhempas ke luar pesawat dalam sekejap.

Ditambah, penumpang masih punya cukup waktu untuk mengenakan sabuk pengaman. Sabuk pengaman inilah yang pada akhirnya membuat penumpang aman dan terbukti, tak ada satupun korban jiwa, baik dari penumpang maupun kru. Terlebih, pesawat juga berhasil mendarat mulus di bandara terdekat, sekalipun dalam kondisi sudah kehilangan tekanan.

Secara teori, saat pesawat mengalami dekompresi eksplosif atau depresurisasi di ketinggian ekstrem, pesawat masih dapat terus mengudara hingga 15 menit. Selebihnya, pesawat akan kehilangan ketinggian secara diagonal dan mendarat darurat dimanapun dengan kecepatan hingga 600 kilometer per jam.

Berbeda dengan insiden dekompresi eksplosif di pesawat Boeing 737-300 Southwest Airlines flight 812, di insiden dekompresi eksplosif pada pesawat Boeing 737 Southwest Airlines flight 1380, itu terjadi karena kaca jendela pesawat pecah akibat serpihan mesin yang rusak terbakar. Sudah pasti, jarak lubang di pesawat (di jendela) sangat dekat dengan penumpang.

Akibatnya, seorang penumpang wanita bernama Jennifer Riordan tewas sekalipun tak sampai terhempas keluar pesawat berkat sabuk pengaman dan bantuan penumpang lain.

Baca juga: Hari ini, 31 Tahun Lalu, Pilot British Airways Selamat Setelah 22 Menit Berjuang Melawan Dekompresi

Hanya saja, separuh tubuh bagian atasnya sempat berada di luar pesawat saat dekompresi eksplosif terjadi. Dalam kondisi ini, sudah pasti tekanan darah dan detak jantungnya meningkat. Berada di luar pesawat tanpa menggunakan masker oksigen saat di ketinggian 32,000 kaki (9.800 meter), sudah pasti akan membuat Riordan pingsan dalam sekejap.

Riordan akhirnya dinyatakan tewas setelah dilarikan ke rumah sakit, tak lama usai pesawat mendarat darurat. Hasil autopsi mengungkapkan, meninggal karena trauma benturan benda tumpul di bagian kepala, leher, dan tubuh.