Mudahkan Pekerja Menonton Bisbol di Stadion Terdekat, Seibu Railway Hadirkan Gerbong Kerja

Sepertinya operator kereta api Jepang bisa disebut dengan operator serba bisa dan serba ada. Pasalnya banyak hal baik stasiun maupun gerbong-gerbong kereta mereka untuk memudahkan penumpang yang juga adalah pekerja kantoran untuk menikmati hari-hari mereka.

Baca juga: Melepas Lelah, Para Pekerja Bisa Nikmati Shinkansen Sambil Merendam Kaki

Salah satunya adalah Seibu Railway Company yang baru-baru ini menawarkan hal menarik dan membuat para pekerja yang juga penggemar bisbol bahagia. Itu adalah ruang kerja yang ditawarkan di atas lima gerbong kereta yang di parkir disebuah stasiun.

Gerbong-gerbong kereta tersebut, dihadirkan khusus bagi penggemar bisbol yang harus menyelesaikan pekerjaan mereka hingga sesaat sebelum menonton pertandingan di stadion terdekat. KabarPenumpang.com melansir dari laman mainichi.jp (16/10/2021), para pekerja itu akan menggunakan ruang berbayar di Stasiun Seibukyujo-mae.

Dengan menggunakan ruang itu, mereka dapat mendengar kereta reguler datang dan pergi serta pengumuman stasiun dan suara lainnya. Mereka bisa bekerja di dalam gerbong karena Seibu Railway menghadirkan meja panjang. Namun layanan itu sangat terbatas yakni hanya bisa digunakan pada 7 hingga 8 Oktober kemarin.

Kehadiran ruangan kerja dari gerbong kereta ini, memudahkan para pekerja yang tengah menyelesaikan pekerjaan mereka untuk tiba di pertandingan malam yang berlangsung di MetLife Dome, stadion kandang tim bisbol profesional Saitama Sibu Lions. Inisiatif baru tersebut dirancang setelah orang-orang terdengar mengeluh bahwa mereka berjuang untuk datang tepat waktu untuk video game malam setelah bekerja.

Karena keanggotaan bisbol terus membatasi jumlah penonton yang diizinkan di tempat-tempat olahraga, masih harus dilihat bagaimana staf dan operator kereta api akan mengambil inisiatif dari musim berikutnya. Sebelumnya, JR East menghadirkan paket perjalanan tur yang membuat para peserta yang adalah pekerja merendam kaki selama perjalanan.

Baca juga: Naik Kereta Shinkansen, Jangan Lupa Beli Ekiben di Kios Stasiun untuk Bekal Makanan

Mereka juga bisa menginap di kota Yamagata atau penginapan air panas di Tendo. Selama tiga jam perjalanan kereta, penumpang akan dapat bekerja dengan laptop, menggunakan baterai ponsel dan router WiFi yang dapat disewa secara gratis, atau bersantai di bar sambil menikmati sake dari Yamagata.






















Dukung Single Cockpit, Honeywell Luncurkan Sistem Kokpit Anthem Berbasis Cloud Pertama di Dunia

Honeywell belum lama ini meluncurkan aircraft cockpit system terbaru yang disebut sebagai Honeywell Anthem nan canggih. Kecanggihan sistem kokpit baru ini sangat memudahkan kinerja pilot dengan sederet teknologi atau fitur canggih. Bahkan, beberapa hal yang sebelumnya manual bisa diotomatisasi oleh sistem ini dan memungkinkan pesawat beroperasi dengan satu pilot saja atau single cockpit.

Baca juga: Mengenal Glass Cockpit, Fitur yang Mudahkan Pilot Operasikan Pesawat

Tidak hanya itu, sistem avionik Honeywell Anthem ini juga terhubung ke cloud, pertama di dunia. Dengan begitu setiap kru yang terlibat dalam operasi penerbangan dimungkinkan untuk menghasilkan dan mentransfer data dari server berbasis darat sehingga memudahkan mereka mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Dilansir Asian Aviation, sistem avionik atau sistem kokpit terbaru Honeywell Anthem ini menawarkan konektivitas, antarmuka intuitif yang meniru smartphone, dan desain yang dapat diskalakan serta dapat disesuaikan.

Yang paling menarik adalah, Honeywell Anthem ini didukung oleh software yang dapat disesuaikan untuk hampir semua jenis pesawat dan wahana terbang, termasuk pesawat penumpang dan pesawat kargo, jet bisnis, helikopter, pesawat terbang, dan air-mobility (AAM) vehicles atau biasa juga disebut urban air mobility atau mobilitas udara perkotaan.

“Honeywell tidak hanya meluncurkan sistem kokpit baru hari ini (tetapi) kami mengubah cara pilot mengoperasikan pesawat dan menciptakan pengalaman yang lebih intuitif dari sebelumnya,” kata Mike Madsen, presiden dan CEO Honeywell Aerospace.

“Dengan cara yang sama kami beralih dari ponsel flip ke smartphone, Honeywell Anthem akan mengubah pengalaman uji coba dengan kontrol yang dapat disesuaikan yang dioperasikan dengan cepat dan mudah dengan beberapa sentuhan jari,” tambahnya.

Sistem avionik atau sistem kokpit terbaru Honeywell Anthem dirancang untuk memecahkan dua masalah yang dihadapi industri penerbangan. Pertama, avionik ini membuat pesawat terbang yang saat ini jauh lebih kompleks dengan otomatisasi, membantu menghilangkan stres pada pilot dan meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan serta efisiensi.

Kedua, Honeywell Anthem memungkinkan sistem yang memungkinkan pesawat dan pilot ‘berkomunikasi’.

Selain itu, Honeywell Anthem juga mendukung otomatisasi pada pesawat, baik itu penerbangan pesawat komersial berpenumpang tanpa pilot di masa depan -layaknya drone- ataupun mengotomatisasi tugas manual untuk memungkinkan diterapkannya sistem pilot tunggal atau satu pilot atau single cockpit untuk mengurangi beban kerja di semua pilot, teknisi, dan operator dengan jumlah armada besar.

Disebutkan, informasi terkait pesawat bahkan bisa didapat pilot dan teknisi tanpa harus menghidupkan pesawat. Ini karena sistem avionik secara otomatis menyimpan seluruh data, termasuk data perawatan, rencana penerbangan, dan status keseluruhan pesawat di infrastruktur berbasis cloud.

Baca juga: Samsung Digital Cockpit 2021, Fokus Pada Penyederhanaan Komunikasi dan Pengalaman Saat Bepergian

Sistem avionik berbasis cloud pada Honeywell Anthem ini juga diklaim bisa memangkasa persiapan pra penerbangan pilot sampai 45 menit per penerbangan. Hal itu berkat terintegrasinya Honeywell Anthem dengan aplikasi perencanaan electronic flight bag (EFB) memungkinkan pilot membuat, menyimpan, dan mengambil rencana penerbangan dari mana saja.

Setelah pilot memuat rencana penerbangan dari jarak jauh (remote flight plan), itu sudah otomatis tersedia di avionik dan sudah siap saat pilot tiba di pesawat. Inovasi remote flight plan ini di industri penerbangan global adalah yang pertama di dunia. Sebelum engine start, flight deck setups juga lebih cepat karena banyak tugas rutin pilot sebelum penerbangan dapat diselesaikan di luar pesawat.

 

Thales Pasok Teknologi Account Based Ticketing untuk Integrasi Transportasi di Jabodetabek

Thales yang dikenal sebagai penyedia solusi IT terkemuka asal Perancis, diwartakan akan memasok sistem pembayaran transportasi terintegrasi di wilayah Jabodetabek. Untuk maksud tersebut, konsorsium Jatelindo melalui PT JakLingko Indonesia akan mengimplementasikan sistem pembayaran dan tarif yang terintegrasi secara elektronik bagi para operator transportasi umum.

Baca juga: Hadirkan Kartu dan Aplikasi Integrasi Transportasi, JakLingko Punya Banyak Paket Tarif Hemat

Di bawah konsorsium ini, Thales akan merancang dan mengembangkan sistem pembayaran terintegrasi yang menggunakan solusi Tiket Berbasis Akun (Account-Based Ticketing/ABT) untuk transportasi antarmoda. Penumpang yang menggunakan jaringan transportasi yang berbeda akan dapat menggunakan ponsel pintar mereka atau kartu perjalanan nirkontak (contactless) untuk memasuki transportasi umum, membuat perjalanan mereka lancar dengan pengalaman penumpang yang lebih baik.

Dengan menggunakan ABT, pengguna transportasi umum dapat memanfaatkan teknologi pintar di aplikasi JakLingko yang dapat membaca profil penumpang dan mengusulkan tarif yang berbeda. Misalnya, 14 kategorisasi tarif akan tersedia, termasuk penumpang pelajar dan lansia, akan membuat tarif perjalanan menjadi lebih sesuai untuk semua.

Rencana induk transportasi Jakarta mencakup target pemerintah untuk meningkatkan pangsa penggunaan transportasi umum menjadi 60 persen dari semua pergerakan dan memperluas cakupannya menjadi 80 persen dari semua jalan di Jabodetabek pada tahun 2029.

Baca juga: Integrasi Transportasi di Jakarta Mulai Berjalan, Nantinya Semua Konektivitas Tiket Bakal Sempurna

Platform tiket baru yang dikembangkan oleh Thales ini diharapkan dapat mencapai dua juta perjalanan setiap harinya. Sebelum implementasi di Jabodetabek, Thales telah berhasil mengimplementasikan teknologi ABT di beberapa negara di Eropa dan Asia.






















Dear Avgeeks, Boeing 707 Lufthansa yang Lekat dengan Sejarah Indonesia-Jerman Dilelang! Harganya Mulai Rp400 Ribu

Pesawat Boeing 707 Lufthansa dengan nomor registrasi D-ABOD resmi dilelang. Avgeeks di seluruh dunia yang berminat bisa langsung mengunjungi laman Troostwijk Auctions dan mendapatkan komponen pesawat yang diinginkan. Harganya sangat bervariasi, mulai dari US$405 atau sekitar Rp5 juta (kurs 14.074) sampai puluhan ribu dolar.

Baca juga: Pesawat Boeing 707 Lufthansa Lekat dengan Sejarah Indonesia-Jerman Akhirnya ‘Dimutilasi’

Boeing 707 D-ABOD Lufthansa memang amat bersejarah dalam hubungan diplomatik Indonesia-Jerman. Sebab, pesawat inilah yang mendarat di Indonesia pada April 1960 untuk pertama kalinya.

Mengingat begitu bersejarahnya pesawat ini, avgeeks di Jerman yang menamakan diri sebagai ‘Friends of the Boeing 707 D-ABOD’ sebetulnya sangat tidak rela pesawat ini dilelang. Mereka bahkan sudah melakukan penggalangan dana dan berhasil mengumpulkan hampir 10 ribu Euro, jauh melebihi dana yang dibutuhkan untuk pemeliharaan pesawat sebesar 6 ribu Euro per tahun.

Hanya saja, entah apa yang merasuki pihak Bandara Hamburg selaku pemilik pesawat tersebut, mereka kukuh dan memaksa untuk tetap membongkar pesawat pada 8-16 Juni. Avgeeks pun tak bisa berbuat apa-apa.

Setelah dibongkar, komponen yang masih bagus awalnya disebut akan dijual kembali ke pasar suku cadang pesawat. Nyatanya tidak, itu malah dilelang secara bebas oleh Troostwijk Auctions selaku pihak ketiga.

Dari laman resmi situs lelang tersebut, ada begitu banyak komponen yang dijual. Totalnya mencapai 382 item, mulai dari kokpit, mesin, jendela pesawat, radio, bagian badan pesawat yang terdapat logo klasik Lufthansa, radio, Static Air Temperature Indicator, Automated Specialties H6L Vertical Speed Indicator, dan lain sebagainya.

Kokpit sendiri dijual dengan harga US$5.785 atau sekitar Rp81 juta. Meski terdengar mahal, tetapi, bila melihat nilai sejarah dan kokpit itu sendiri, sebetulnya harga segitu masih terjangkau. Kokpit ini, meski sudah pasti tak bisa dipairing dengan pesawat eksisting atau yang sudah ada, namun, itu masih bisa digunakan untuk berbagai hal, seperti rumah, kantor, pajangan, bahkan simulator penerbangan.

Selain kokpit, ada pula mesin Rolls-Royce Conway Mark 508 include Cowlings. Sebagaimana kokpit, mesin bekas pesawat Boeing 707 Lufthansa dengan nomor registrasi D-ABOD ini juga bisa digunakan untuk berbagai hal, seperti objek latihan tim mekanik perusahaan penerbangan, sekolah penerbangan, pajangan, bahkan rumah, seperti pada artikel berikut ini.

Baca juga: Maskapai ANA Lelang Jendela dan Kursi First Class Pesawat Boeing 777, Berminat?

Bagi avgeeks yang ingin mendapat bagian dari pesawat tersebut dengan harga jauh lebih terjangkau, mungkin instrumen dasar penerbangan pesawat bisa jadi alternatif.

Disebutkan, sederet flight instrument (instrumen penerbangan) ini bisa didapat dengan harga cukup murah, hanya sekitar €25 Rp405 ribu, seperti ITT Federal Laboratories AIN-102A DME Indicator, Bendix Corporation 15777-IA Compass Controller, Gables Engineering ILS Indicator Panel, dan lain sebagainya.

Gillig Transit Coach, Inilah Bus Sekolah dengan Kapasitas Terbesar yang Pernah Dibuat

Gillig Transit Coach merupakan bus sekolah yang memiliki kapasitas terbesar yang pernah dibuat, yaitu dengan 97 kursi penumpang. Gillig Transit Coach juga adalah bus sekolah pertama yang diproduksi dengan tata letak mesin tengah dan juga menjadi yang pertama menggunakan mesin berbahan bakar diesel.

Baca juga: Dulunya Bus Sekolah, Kini Bus Tingkat ini Jadi Penginapan Mewah

Bus sekolah ini diproduksi oleh produsen bus Amerika Gillig dari tahun 1940 hingga 1982. Bus ini juga sering dinamai dengan bus sekolah kuning dan Gillig Transit Coach juga berfungsi sebagai bus motor dan penggunaan komersial lainnya. Dirangkum KabarPenumpang.com dari wikipedia.org, Gillig Transit Coach dipasarkan terutama untuk operator dekat dengan Pantai Barat Amerika Serikat seperti California, Washington dan Oregon.

Bahkan bus ini bersaing secara eksklusif melawan Crown Supercoach yang serupa melalui sebagian besar produksinya. Setelah tahun 1982, Gillig menghentikan Transit Coach setelah 42 tahun produksi dan memusatkan sumber dayanya pada bus transit Gillig Phantom.

Pada 1986, perusahaan memasuki kembali produksi bus sekolah, mengembangkan varian bus sekolah Phantom yang ditawarkan dari 1986 hingga 1993 dan Phantom lantai tinggi diproduksi hingga tahun 2008. Transit Coach diproduksi oleh Gillig di bekas fasilitasnya di Hayward, California, sementara tidak lagi menjadi produsen bus sekolah, Gillig saat ini ada sebagai produsen bus transit terbesar kedua di Amerika.

Untuk diketahui, Gillig Brothers awalnya didirikan tahun 1890 sebagai produsen badan mobil yang dibuat khusus. Kemudian pada 1920-an, perusahaan memproduksi “Gillig top”, hardtop lift-off untuk mobil terbuka yang menyediakan tirai samping yang dapat ditarik. Ketika mobil tertutup menjadi lebih banyak tersedia, perusahaan berfokus pada produksi bodi, memproduksi bodi bus sekolah pertamanya pada tahun 1932.

Selama akhir 1930-an, produsen bus sekolah mulai mengembangkan bus sekolah bergaya transit. Dibandingkan dengan bus sasis berpenutup yang dipasang pada rangka truk, bus bergaya transit memungkinkan kapasitas tempat duduk yang lebih besar dalam panjang badan yang sama, pabrikan juga bereksperimen dengan konfigurasi mesin.

Pada tahun 1960-an, sebagai tanggapan terhadap generasi Baby Boom yang mencapai usia sekolah, bus sekolah bertambah besar untuk mengakomodasi pertumbuhan populasi siswa. Sejak tahun 1948, Bus Transit berkapasitas tertinggi menawarkan tempat duduk untuk 79 penumpang pelajar. Pada tahun 1967, beberapa perubahan dilakukan pada Transit Coach.

Model 743DT-16 diperkenalkan, diperluas dari 13 menjadi 16 baris tempat duduk dengan memperpanjang bodi hingga 41 kaki, membutuhkan gandar belakang tandem. Menawarkan kapasitas tempat duduk 97 penumpang pelajar, DT-16 adalah bus sekolah terbesar yang pernah diproduksi secara massal. Untuk industri bus sekolah secara keseluruhan, awal 1980-an adalah masa perjuangan.

Pada saat yang sama Gillig melakukan facelift pada Transit Coach, dua pabrikan East Coast (Superior dan Ward) telah menutup pintu mereka dan beberapa orang lain juga berjuang secara finansial. Di samping ekonomi resesi, pertumbuhan populasi siswa sebagian besar telah stabil, karena seluruh generasi Baby Boom telah melewati usia pendidikan menengah.

Gillig Corporation, sebagai produsen yang cukup ceruk, melihat penjualan bus sekolahnya turun secara signifikan pada tahun 1980, perusahaan mengakhiri produksi Gillig Coach konvensional seluruhnya. Pada akhir 1970-an, Gillig meluncurkan upaya untuk mendiversifikasi lini produknya setelah usaha patungan dengan Neoplan.

Baca juga: Tarik Bus Sekolah 9 Ton, Pria Asal New York Ikut Kompetisi Ultimate Strongman

Di mana perusahaan mengembangkan bus angkutan massalnya sendiri, yang mengarah ke Gillig Phantom pada tahun 1980. Pada tahun 1982, perusahaan memilih untuk berkonsentrasi pada produksi angkutan massal, mengakhiri produksi Transit Coach setelah 42 tahun produksi berjalan. Pada tahun 1986, penerus Transit Coach diperkenalkan saat Gillig meluncurkan varian bus sekolah Phantom, bus sekolah Phantom ditarik pada tahun 1993.

Ketika Air Force One Mendarat di Bandara London Heathrow, 40 Ribu Penumpang Menjerit

Pesawat kenegaraan atau kepresidenan biasanya mendarat di bandara militer, bukan bandara komersial yang super sibuk. Tetapi tidak demikian dengan pesawat Air Force One yang membawa Presiden AS ketika itu, George W. Bush, alih-alih mendarat di bandara lain di London, pesawatnya justru mendarat di Bandara London Heathrow, yang notabene bandara tersibuk di Eropa.

Baca juga: Boeing Rugi Rp4 Triliun di Proyek VC-25B Air Force One, Gegara Botol Tequila Kosong?

Sebagai tamu VVIP, tentu saja jalur penerbangan dan pendaratan di bandara tersebut ditutup untuk sementara waktu. Selain untuk memperlancar proses pendaratan dan melakukan serangkaian seremoni, ini dilakukan untuk mencegah terjadinya tindak terorisme yang mengancam nyawa presiden beserta ibu negara dan rombongan.

Secara keseluruhan, tentu saja pengamanan ketat yang dilakukan otoritas bandara bekerjasama dengan otoritas terkait, bisa dibilang berhasil. Berhasil dalam artian menjamin keamanan dan keselamatan presiden beserta rombongan. Tetapi, tidak berhasil membuat penerbangan sipil di bandara itu lancar.

Dilansir Simple Flying, sedikitnya 40 ribu penumpang terlantar akibat pendaratan Air Force One di Bandara London Heathrow pada 15 Juni 2008. Itu terjadi lantaran penerbangan mereka yang sudah dijadwalkan dibatalkan.

Bila itu ditunda mungkin masih sedikit memberikan harapan, tetapi, ini dibatalkan. Praktis, rencana perjalanan mereka, termasuk rencana perjalanan maskapai, rusak karenanya.

Bisa dibilang, jantung pintu keluar masuk ibu kota Inggris ini terhenti selama total empat hari, dua hari sebelum kunjungan Presiden Bush dan dua hari selama kunjungannya.

Protes keras tentu saja dilancarkan oleh partai oposisi. Pada tanggal 24 Juni 2008, sebanyak 40 anggota paremen mengajukan mosi tidak percara kepada pemerintah terkait kunjungan Presiden Bush yang mendarat di bandara komersial, bukan di bandara militer.

“(DPR) terkejut mengetahui bahwa kedatangan Presiden Bush di Bandara Heathrow memaksa pembatalan lebih dari 60 penerbangan yang mempengaruhi rencana perjalanan lebih dari 40.000 penumpang dan menunda selama lebih dari 30 menit keberangkatan 260 pesawat lainnya; bersimpati dengan British Airways, yang membatalkan 53 penerbangan jarak pendek,” bunyi mosi tersebut.

“(Mosi) mencatat dengan heran bahwa salah satu dari dua runway Bandara ditutup untuk latihan kedatangan presiden dan kembali ditutup untuk kedatangan dan keberangkatan di hari H,” bunyi lanjutan.

Disebutkan, rombongan Presiden AS yang terdiri dari satu pesawat Air Force One, satu pesawat Boeing 747, satu Boeing 767, dan empat helikopter ini, dalam hemat banyak anggota kongres, seharusnya mendarat di bandara militer atau bandara komersial yang tak se-ramai Bandara London Heathrow.

Meski mosi tidak percaya ditandatangani oleh mayoritas anggota kongres, tetapi, tidak ada langkah lanjutan sampai amandemen.

Setelah insiden itu, Air Force One terpantau masih saja mendarat di bandara komersial, sekalipun bukan Bandara Heathrow.

Baca juga: Fantastis! London Punya Enam Bandara Internasional

Juni lalu, Air Force One yang membawa Presiden Joe Biden, terpantau mendarat di Bandara Cornwall Newquay. Bahkan, pesawat VC-25A tersebut sempat terlihat di Bandara London Heathrow selama Biden berada di Inggris.

Sebelumnya, di era Presiden Trump, Air Force One juga masih menggunakan bandara komersial London Stansted saat mengunjungi Ratu Inggris.

Demi Hemat Uang, Mantan Pilot Boeing 737 MAX Didakwa Bohongi FAA-Sebabkan Kecelakaan

Meski sudah diizinkan terbang oleh Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) pada 18 November 2020, disusul regulator penerbangan sipil lainnya di Eropa, Cina, Malaysia, Singapura, dan India, penyelidikan terkait dua kecelakaan Boeing 737 MAX tidak berhenti.

Baca juga: Setelah Malaysia, Giliran Singapura Izinkan Boeing 737 MAX Kembali Terbang 

Terbaru, terungkap fakta di persidangan pada hari Kamis lalu bahwa mantan pilot 737 MAX didakwa jaksa pengadilan Texas telah berbohong demi menghemat uang. Ini yang pada akhirnya menjadi biang keladi terjadinya dua kecelakaan nahas yang melibatkan pesawat tersebut.

Dilansir Washington Post, dua pesawat Boeing 737 MAX milik Lion Air dan Ethiopian Airlines mengalami kecelakaan pada akhir 2018 dan awal 2019. Kecelakaan tersebut menewaskan total 346 orang dan mendorong grounded massal terhadap pesawat itu di seluruh dunia. Tak hanya dikandangkan, FAA dan sejumlah investigator dilibatkan untuk menyelidiki penyebab dua kecelakaan pesawat tersebut.

Setelah penyelidikan mendalam, penyidik kongres, Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) dan pengawas internal Departemen Perhubungan (DoT) AS, menemukan jejak kejanggalan oleh mantan pilot uji Boeing 737 MAX, Mark Forkner.

Jejak kejanggalan atau kebohongan tersebut ditemukan di email yang bersangkutan ke Boeing saat melaporkan hasil uji terbang pesawat tersebut berkenaan dengan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).

Disebutkan, pada tahun 2016, pilot berusia 49 tahun itu menemukan kesalahan pada MCAS dan seharusnya membuat itu tidak layak untuk diterbangkan secara massal.

Namun sayang, Mark Forkner diklaim terpaksa berbohong kepada FAA selaku regulator demi menghemat uang lantaran, andai ia membeberkan sejumlah fakta-fakta seputar flight control MCAS, besar kemungkinan, Boeing masih harus melakukan pengembangan dan perbaikan di sana sini. Tentu saja itu melibatkan uang (lagi) dalam jumlah besar.

Dengan berbohong dan seolah tak ada masalah, otomatis, Boeing 737 MAX bisa lolos sertifikasi, dikirim ke pembeli, dan mendapat uang.

Sebelum dioperasikan maskapai di seluruh dunia, tentu harus ada manual book penerbangan. Nah, di bagian inilah kebohongan Mark Forkner berdampak.

Lantaran kebohongannya itu, manual book penerbangan Boeing 737 MAX jadi tidak lengkap. Terutama bagaimana menangani pesawat saat flight control otomatis MCAS bermasalah. Ini yang pada akhirnya menjadi penyebab kecelakaan karena kegagalan pilot mengidentifikasi masalah serta melakukan penanganan atas masalah tersebut.

“Dalam upaya untuk menghemat uang Boeing, Forkner diduga menyembunyikan informasi penting dari regulator,” kata Chad E. Meacham, Jaksa AS untuk Distrik Utara Texas.

Baca juga: Cina Akhirnya ‘Tunduk’ ke AS, Boeing 737 MAX Diizinkan Terbang Kembali

Jumat kemarin, Mark Forkner dijadwalkan hadir dalam persidangan di pengadilan federal di Fort Worth, Texas, AS. Tetapi, belum ada laporan terbaru di AS terkait hasil persidangan tersebut.

Bila terbukti bersalah, Mark Forkner terancam penjara maksimal 20 tahun. Baik Boeing, pengacara Mark Forkner, dan FAA belum buka suara terkait dakwaan jaksa tersebut.

 

Sejarah Concorde Mendarat-Lepas Landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Sonic Boom Bikin Kaca Pecah?

Terkait pesawat supersonik Concorde, maskapai asal Indonesia memang tak ada yang seberuntung Singapore Airlines. Maskapai nasional Singapura itu pernah mengoperasikan pesawat tersebut pada tahun 1977. Meski begitu, Indonesia pernah dikunjungi Concorde dalam rangka penerbangan promosi ke Timur Jauh.

Baca juga: Maskapai Legendaris Pan Am Ternyata Sudah Terbang ke Jakarta Sejak 1960

Dikutip dari Majalah Angkasa Edisi November-Desember 1976, pesawat supersonik Concorde milik Air France dengan nomor registrasi F-BTSC pernah mendarat dan lepas landas di Bandara Internasinoal Halim Perdanakusuma untuk pertama kalinya pada 8 November 1976.

Sekilas tentang Concorde dengan nomor registrasi F-BTSC ini, pesawat pertama kali dikirim ke Air France pada bulan Mei 1975. Menariknya, pesawat ini adalah pesawat yang terlibat kecelakaan nahas tak lama setelah lepas landas di Bandara Charles de Gaulle, Paris, Perancis pada 25 Juli 2000.

Sebelum mendarat dan lepas landas untuk pertama kalinya di Bandara Halim Perdanakusuma, santer diberitakan bahwa efek sonic boom akan membuat kaca-kaca di sekitar bandara pecah. Selain itu, bagi orang-orang di sekitar, getaran dan bisingnya suara juga disebut dapat memekakkan telinga.

Kendati demikian, itu tak lantas membuat antusiasme warga dalam menyaksikan langsung pendaratan dan lepas landas pertama pesawat supersonik Concorde di Indonesia -Bandara Halim Perdanakusuma- hilang. Justru malah sebaliknya.

Disebutkan, Bandara Halim Perdanakusuma dipadati oleh masyarakat sejak pagi hari. Usai mendarat, masyarakat pun terheran-heran lantaran pesawat mampu mendarat dengan mulus tanpa ada berbagai informasi yang disebutkan di awal, seperti bising dan getaran berlebih yang dapat memecahkan kaca.

Demikian juga saat Concorde take off dari Bandara Halim, masyarakat dibuat takjub dengan kemampuan pesawat supersonik itu melesat, terbang, dan menghilang dengan cepat di balik awan.

Saat lepas landas dan mendarat, suara Concorde memang menggelegar tapi tidak serta merta sampai memecahkan kaca, karena kemampuan terbang supersoniknya baru dilakukan saat terbang di ketinggian jelajahnya (50.000-60.000 kaki).

Selama di Bandara Halim Perdanakusuma, pesawat Concorde hanya menemani serangkaian prosesi yang digelar, salah satunya konferensi pers oleh Direktut Jendral Perhubungan Udara Marsekal Muda TNI Kardono. Turut hadir dalam konferensi pers tersebut sederet pejabat Concorde, antara lain Roger Chelvader, Michel Lagorce, Brain Trub Shaw, dan pilot Concorde Jean Frakh serta kopilot Gilbert Defer.

Sayangnya, ketika itu, pemerintah melalui Ditjen Hubud Kementerian Perhubungan belum bisa memastikan penerbangan reguler Concorde dari dan ke Jakarta.

Baca juga: Tiga Negara Ini Tolak Penerbangan Supersonik Concorde, Dua dari Asia

Padahal, Concorde menjanjikan penerbangan dua kali lebih cepat untuk mobilitas pertukaran orang dan barang, seperti misalnya penerbangan Hong Kong – Jakarta bila dengan Fokker F-28 ditempuh selama 4 jam 30 menit, dengan Concorde hanya menjadi setengahnya dua jam 30 menit.

Meski begitu, sebanyak 29 pejabat di Indonesia diberi kesempatan mencicipi penerbangan supersonik Concorde, di antarnya KSAU Marsekal TNI Saleh Basarah, Gubernur DKI Letnan Jenderal TNI Tjokropranolo, Dirjen Hubud Marsekal Muda TNI Kardono, Kapolri Jenderal Pol. Widodo Budidarmo, dan Direktur Merpati Nusantara Airlines Marsda TNI Ramli. Bahkan, KSAU dan Dirjen Hubud sampai menjajal Concorde selama dua kali, salah satunya dari Singapore ke Australia.

 

Volvo Gran Artic 300 – Bus dengan Kapasitas Angkut Terbesar, Bisa Dimuati 300 Penumpang!

Beberapa tahun lalu, Volvo meluncurkan bus terbesar di dunia dan ini adalah raksasa angkutan darat yang dapat mengangkut hingga 300 penumpang sekaligus. Gran Artic 300, ini adalah bus biarticulated yang berarti memiliki dua bagian sambungan yang menghubungkan tiga bagian kabin pengangkut penumpang.

Baca juga: Labirin Raksasa di Tokyo Gunakan Bus Pariwisata yang Tak Beroperasi

Bus milik Volvo tersebut memiliki panjang 30 meter dan telah dikembangkan di Brasil khusus untuk digunakan di jalur bus khusus Rio de Janeiro. Uniknya karena menggabungkan tiga kabin bus, biarticulated ini menggantikan tiga bus standar dan mengangkut hingga 300 penumpang.

“Kendaraan ini akan menyediakan sistem transportasi yang lebih efisien, menawarkan kualitas yang lebih tinggi bagi penumpang dan meningkatkan efisiensi biaya bagi operator transportasi,” kata Fabiano Todeschini, kepala Volvo Bus Latin America yang dikutip KabarPenumpang.com dari wired.co.uk.

Namun bus yang memiliki dua sambungan tersebut memang adalah angkutan massal terbesar dari jenisnya. Interior luas dari setiap bus lebih terlihat seperti ruang tunggu keberangkatan bandara yang mewah daripada bus umum dan dapat menampung 300 penumpang dengan kapasitas penuh.

Bus raksasa ini memiliki 16 roda dan penumpang akan naik melalui platform yang ditinggakan di pinggir jalan. Meski menjadi bus raksasa, tetapi ini bukanlah bentuk angkutan umum paling futirustik yang pernah dilihat.

Sebab transit elevated bus atau bus besar yang membawa penumpang telah diuji untuk pertama kalinya di Cina. Yang mana desain asli untuk TEB menunjukkan beberapa gerbong yang dihubungkan bersama untuk mengangkut hingga 1.200 penumpang.

“Pembangunannya bisa selesai dalam satu tahun,” kata Bai Chiming, insinyur yang bertanggung jawab atas proyek TEB.

Bus bertenaga listrik tersebut diresmikan di Qinhuangdao, Hebei. Bus sepanjang 22 meter, lebar 7,8 meter, dan tinggi 4,8 meter itu berjalan di sepanjang jalan sepanjang 300 meter dengan kecepatan yang sangat lambat untuk uji coba perdananya, tetapi versi yang sudah selesai harus mencapai kecepatan 40 mph atau sekitar 64 km per jam.

Baca juga: TransMilenio, Bakal Jadi Operator Bus Listrik Terbesar di Benua Amerika

Selain Cina, London memiliki godaannya sendiri yang terkenal dengan ‘bus bendy’ setelah walikota Ken Livingstone memperkenalkan kendaraan tersebut ke jalan-jalan ibu kota pada tahun 2001. Setelah sepuluh tahun pelayanan, bus gandeng terakhir kembali ke depotnya pada bulan Desember 2011 karena jenisnya diganti dengan yang baru. Routemaster double-decker.

Mantan Pramugari Frontier Airlines Ceritakan Penerbangan ‘Berbeda’ di Tahun 1950

Setiap masa selalu ada yang berbeda dari pramugari dalam melayani penumpang pesawat. Seperti pada tahun 1950. Di mana seorang pramugari Frontier Airlines di tahun itu mengatakan banyak yang berbeda dari masa ini.

Baca juga: 90 Tahun Lalu, Pramugari Pertama AS Bekerja Nyambi Jadi ‘Perawat’ di Pesawat

Margie Webb mengaku memiliki kenangan indah pada tugas singkatnya sebagai seorang pramugari Frontier. Bahkan dia masih menyimpan foto dirinya yang menggunakan seragam maskapai itu. Saat itu, pramugari adalah istilah untuk karier khusus wanita.

Album kengangan milik Margie Webb. Foto: gjsentinel.com

“Saya berusia 20 tahun dan seorang gadis Iowa. Saya selalu ingin terbang. Saya pergi ke (University of Denver) sebentar, sampai uang saya habis,” kata Margie yang dikutip KabarPenumpang.com dari gjsentinel.com.

Ketika dirinya melamar di Frontier Airlines, Margie memutuskan untuk membiarkan mimpinya terbang bersama maskapai tersebut. Saat itu, Frontier belum lama bergabung dengan Challenger Airlines. Dia mengatakan, bahwa Challenger merupakan maskapai penerbangan kecil yang melayani Colorado, Wyoming dan Nebraska.

Margie mengaku, mimpi terbang itu terwujud dan pertama kali dirinya naik pesawat adalah saat penerbangan pelatihannya.

“Saya belum pernah naik pesawat sebelumnya. Mereka bilang ambil penerbangan ini dan ini latihanmu. Saya melihat pramugari lain dan apa yang dia lakukan dan itu adalah pelatihan saya,” katanya sambil tertawa.

Margie mengenang, DC 3 (Dakota) adalah pesawat yang lebih kecil dengan deretan dua kursi masing-masing di kedua sisi, dan perjalanan dari Denver ke Grand Junction memakan waktu tujuh jam. Mungkin itu sangat lambat, dan kenyataannya yang terjadi adalah pesawat itu benar-benar berhenti hampir di mana-mana dalam perjalanan seperti Colorado Springs, Pueblo, Cañon City dan Gunnison.

“Itu adalah pengalaman yang luar biasa,” katanya.

Dia sering kali hanya duduk di sebelah penumpang dan melakukan percakapan yang ramah. Langit yang bersahabat memang, meskipun maskapai ini tidak mengambil slogan itu.

“Waktu itu jauh berbeda, tidak ada bandingannya dengan hari ini,” kata Margie.

Mereka tidak makan, jadi dalam perjalanan panjang itu, pilot akan menelepon duluan dan sandwich akan dikirim ke pesawat di pemberhentian berikutnya. Perbedaan besar lainnya adalah pesawat tua tidak bertekanan, dan dengan lebih banyak pasang surut daripada yang bisa diberikan trampolin, hasilnya terkadang tidak menyenangkan.

Pesawat-pesawat itu memiliki apa yang digambarkan Margie sebagai “karton” (kantung muntah) yang diselipkan di bawah kursi untuk mengatasi ketidaknyamanan itu. Tapi Margie tidak pernah sakit, bahkan sebagai pemula di langit. Pesawat-pesawat itu tidak terbang di ketinggian yang sebenarnya, jadi ada banyak hal untuk dilihat.

“Pilot akan menunjukkan hal-hal sepanjang waktu juga, seperti kawanan rusa atau hal-hal seperti itu. Itu seperti pengalaman turis.”

Setelah perjalanan menjadi lebih lama, dia mulai berpikir untuk pindah. Salah satu rute adalah Denver ke Billings ke Salt Lake City, tempat mereka bermalam, lalu ke Albuquerque. Itu dibuat untuk perjalanan tiga hari. Jadi ketika mereka menambahkan penerbangan Phoenix, dia memutuskan sudah waktunya untuk mimpi berikutnya mengambil penerbangan.

“Saya selalu ingin menikah. Semua pramugari masih lajang, kami tidak bisa menikah, itu adalah persyaratan, ”katanya.

Pernikahan selalu menjadi tujuan Margie sejak pertama kali tiba di Denver.

Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

“Saya bertemu suami saya (Richard) pada hari pertama saya di Denver,” katanya. “Dia selalu bilang itu cinta pada pandangan pertama.”

Perjalanan panjang itu membuatnya menjauh dari tunangannya terlalu lama, jadi dia memutuskan untuk meninggalkan industri penerbangan setelah kurang dari setahun.
Itu adalah keputusan yang cukup bagus.

Frontier Airlines sendiri ditutup pada tahun 1986, namun kembali dibuka kembalo dengan manajemen baru pada tahun 1994, yaitu sebagai maskapai berbiaya murah (low cost carrier) yang berbasis di Denver, Colorado.