Intip Boeing 747 yang Disulap Jadi NASA Space Shuttle

Sejak terbang perdana pada 9 Februari 1969, Boeing 747 terus menarik perhatian maskapai global. Pesawat berjuluk Queen of the Skies ini tidak hanya dijadikan pesawat komersial, tetapi juga private jet, kargo, hingga pesawat kepresidenan; termasuk Shuttle Carrier Aircraft (SCA) atau NASA Space Shuttle.

Baca juga: Ini Deretan Maskapai Pertama yang Operasikan Setiap Tipe Boeing 747

Dilansir Simple Flying, NASA memperkenalkan Space Shuttle berbasis Boeing 747 yang dapat digunakan kembali (re-usable Space Shuttle) pada tahun 1977. Sebelum memiliki Queen of the Skies, NASA sempat mempertimbangkan Lockheed C-5 Galaxy untuk mengisi peran tersebut. Namun, karena satu dan lain hal, terutama terkait desain sayap rendahnya, Boeing 747-100 akhirnya dipilih.

SCA pertama adalah 747-100 bekas American Airlines, dengan nomor registrasi N905NA. Pesawat ini sebelumnya telah masuk ke tahun layanan bersama maskapai pada tahun 1970 dan diambil oleh NASA pada tahun 1974.

Setelah modifikasi ekstensif, pesawat ini mulai eksis menjadi shuttle service atau Space Shuttle pada tahun 1977. Sampai di sini, pesawat belum menggunakan livery NASA. Barulah pada tahun 1983 Space Shuttle ini mulai menggunakan livery NASA.

Beberapa tahun berselang, NASA memperoleh space shuttle keduanya berbasis Boeing 747SR bekas Japan Airlines. Ini mulai beroperasi pada tahun 1990.

Meski diletakkan di atas space shuttle, modifikasi ekstensi meliputi seluruh bagian interior pesawat. Dari segi eksterior, badan pesawat diperkuat untuk menopang pesawat ulang-alik yang berada di atasnya, termasuk penyangga untuk merilis pesawat saat ketinggian mencukupi.

Perubahan besar dilakukan pada bagian ekor, dengan vertical stabilizer ditambahkan ke main horizontal stabilizers. Ini untuk melawan perubahan pusat gravitasi ketika pesawat ulang-alik dipasang. Saat terbang tanpa pesawat ulang-alik, bobot pemberat harus ditambahkan untuk mempertahankan pusat gravitasi.

Setelah modifikasi dibuat pada badan pesawat, pesawat ulang-alik barulah bisa diangkat ke atas badan pesawat dan dikunci pada tempatnya. Ini bukan hal mudah. Beberapa laporan mengklaim butuh waktu hingga seminggu bagi kru untuk mempersiapkan dan memasang pesawat ulang-alik di atas space shuttle sebelum misi penerbangan.

Ada tiga struts yang digunakan untuk attachment. Penopang depan tunggal berada di atas dek atas 747. Dan dua penyangga buritan berada di tengah-tengah badan pesawat. Ini melekat pada tangki bahan bakar eksternal pesawat ulang-alik.

Baca juga: Inilah Space Shuttle Café, Food Truck Bertema Pesawat Luar Angkasa

Saat di udara, teknisnya memang tak serumit saat meletakkan pesawat ulang alik ke atas space shuttle. Pesawat lepas landas seperti biasa. Kemudia cruising dan rilis.

Sebelum dirilis, space shuttle harus menukik sedikit terlebih dahulu agar tak saling berbenturan. Efek penyangga bagian depan yang lebih tinggi di bagian belakang juga memudahkan proses rilis ini, dimana pesawat ulang alik bisa langsung lift dan menjauh dari space shuttle usai dirilis.

 

Pertama di Dunia, ANA Operasikan MFF Keluarga Airbus A320 dan A380, Pilot Makin Sejahtera

All Nippon Airways (ANA) menjadi maskapai pertama di dunia yang mengumumkan Penerbangan Armada Campuran (Mixed Fleet Flying / MFF) untuk keluarga Airbus A380 dan A320. Kepastian ini didapat setelah mendapat persetujuan dari Biro Penerbangan Sipil Jepang (JCAB). Dengan begitu, pilot dimungkinkan untuk menerbangkan keluarga dua pesawat itu meski sertifikasinya hanya salah satunya.

Baca juga: 26 Menit Mengudara, Airbus A380 Tanpa Penumpang dan Kargo Milik ANA Balik Kandang

Selain meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi biaya maskapai, MFF ini juga membawa dampak positif untuk pilot. Kurangnya jeda tunggu dan waktu henti menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan. Ini pada akhirnya membuat pilot berpeluang membawa pulang gaji lebih banyak dari sebelumnya.

Sebagaimana disebut di atas, MFF hanya berlaku bagi pesawat Airbus. Dek penerbangan dan sistem kontrol pesawat ini memungkinkan pilot untuk disertifikasi untuk pengoperasian lebih dari satu jenis dari lini produk fly-by-wire Airbus secara reguler dan bersamaan.

Di ANA, hal ini akan memungkinkan kru untuk menerapkan pola gabungan layanan penerbangan jarak pendek dan jarak jauh.

Kesamaan dalam pesawat-pesawat Airbus dapat ditemui mulai dari dek penerbangan hingga ke kabin penumpang, dengan memaksimalkan penggunaan sistem, panel kontrol dan prosedur yang menyerupai satu sama lain antarberbagai keluarga pesawat.

Tingkat kesamaan teknis yang unik antara pesawat fly-by-wire Airbus juga menyederhanakan prosedur perawatan, sehingga mengurangi biaya secara signifikan.

“Kami senang bahwa pengoperasian A320 dan A380 MFF telah disetujui oleh JCAB dan ANA telah menjadi maskapai penerbangan pertama di dunia yang memperkenalkannya,” kata Stéphane Ginoux, Head of North Asia region untuk Airbus dan President of Airbus Japan, dalam keterangan resminya yang diterima KabarPenumpang.com.

“MFF menawarkan peningkatan fleksibilitas dan efisiensi biaya kepada maskapai-maskapai penerbangan. Peningkatan pendapatan per jam kerja pilot karena kurangnya jeda tunggu dan waktu henti menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan,” tambahnya.

Baca juga: ANA Uji Coba Operasikan Pintu Toilet Pesawat Pakai Siku, Begini Caranya

MFF juga memungkinkan maskapai penerbangan untuk menukar pesawat berukuran berbeda hanya dengan pemberitahuan singkat tanpa menimbulkan masalah dalam penjadwalan kru, dan memungkinkan penyesuaian kapasitas pesawat berdasarkan besarnya permintaan penumpang dengan lebih baik.

Penerbangan Armada Campuran tentu bukanlah hal baru di industri penerbangan global. Sudah banyak maskapai yang menerapkan ini. Salah satunya adalah Garuda Indonesia. Saat ini, maskapai nasional Indonesia itu diketahui mengoperasikan armada campuran yang mencakup Boeing 737 Next-Generation, 737-800, dan 777-300ER, dan 737 MAX 8.

JR East Jual Replika Container Yellow Green Number 6 Series 6000 dengan Tiga Interior Berbeda

Untuk memuaskan para pecinta kereta api di Jepang, perusahaan kereta api memiliki toko online untuk menjual segala macam memorabilia yang berhubungan dengan kereta api. Itu adalah East Japan Railway Company atau yang biasa dikenal dengan JR East.

Baca juga: Jepang dan Rusia Sepakat Kembangkan Jalur Kereta Kargo Trans-Siberia

Mereka menjual berbagai barang yang mungkin bisa dibayangkan seperti poster Shinkansen, mainan plastik Yamanote Line dan gantungan kunci penguin maskot perusahaan. Namun, buka hanya itu saja, belum lama ini ada item terbaru yang dijual di toko online mereka.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman soranews24.com (18/10/2021), item terbaru itu adalah Container Yellow Green Number 6 Series 6000. Ini adalah sebuah kontainer kargo yang digunakan oleh kereta JR untuk mengangkut barang di periode 1960 hingga 1975.

Kontainer ini, bagi pecinta kereta api, akan merasakan makna sejarahnya dan ukurannya pun cukup signifikan. Kontainer berwarna hijau tersebut memiliki panjang 3,715 meter, lebar 2,45 meter, dan tinggi 2,5 meter. Karena cukup besar, maka ini tidak bisa diletakkan di dalam kamar tidur atau ruang tamu, tetapi bisa menjadi suatu ruangan yang bisa Anda dekorasi sendiri sesuai keinginan.

Meski ini adalah replika, tetapi ukurannya hampir sama persis dengan kontainer pengiriman yang sebenarnya. JR East menyediakan desain interior yang berbeda. Untuk yang paling sederhana adalah tipe penyimpanan kereta yang dilengkapi dinding, lantai dan langit-langit kayu lapis polos.

Bila menginginkan yang sedikit lebih mewah, bisa ke jenis Galeri kereta dengan menghadirkan hal yang jauh lebih lengkap dan memberi Anda perabotan khusus seperti dua tempat duduk dari kereta penumpang JR Azusa. Pilihan terakhir adalah interior Sleeper Exprees.

Baca juga: Mercitalia Fast, Kereta Kargo Berkecepatan Tinggi Asal Negeri Pizza

Ini dilengkapi dengan meja, kursi, jendela bertirai dan alas untuk tidur. Harga dari tiga desain kontainer kereta ini pun bervariasi tergantung yang dipilih. Untuk tipe penyimpanan kereta harganya 2,97 juta yen, tipe Galeri kereta 7,7 juta yen dan Sleeper Expres seharga 9,9 juta yen. Kontainer tersebut merupakan poduk dari JR East dan tersedia untuk Tokyo dan prefektur Kanto di Jepang Timur lainnya.






















Alitalia Bangkrut, ITA Airways Resmi Jadi Maskapai Nasional Italia

Apakah maskapai nasional sebuah negara bisa bangkrut dan tutup? Jawabannya iya bisa dan ini terjadi pada Alitalia yang adalah maskapai milik Italia. Salah satu alasan tutupnya pun dikarenakan kalah saing dengan kereta berkecepatan tinggi dan maskapai ini hanya mengandalkan perjalanan domestik.

Baca juga: Kereta Cepat di Italia Lebih Banyak Peminat, Bikin Maskapai Alitalia Tutup 

Namun, meski begitu tak lama tutup, sudah ada penggantinya dan di-launching pada Jumat (15/10/2021) lalu. Maskapai pengganti ini bernama ITA Airways dan eksekutif maskapai tersebut mengatakan tentang rencana jaringan baru, pesawat, kru hingga livery yang akan digunakan.

Menjadi yang baru, ITA Airways akan menggunakan warna timnas Italia yakni biru langit. Tak hanya itu, ini juga akan dilengkapi dengan garis bendera tiga warna yakni hijau merah dan putih di bagian ekor dan mesin pesawat. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai lama sumber, pemilihan desain pada livery pesawat milik ITA Airways ternyata sebagai salah satu bentuk penghormatan bagi tim nasional Italia Azzuri dan para atlet yang tampil di perhelatan internasional.

Uniknya lagi, kru ITA Airways, akan mewakili Italia sebagai negara fashion dengan mengahadirkan seragam besutan desainer top negara itu. Bukan hanya tampilan livery dan kru maskpai, tak kalah menarik adalah interior dan lounge bandara yang akan dibuat oleh perusahaan Italia kelas satu. Saat ini, karena seragam dan livery baru dalam rancangan, kru ITA Airways akan tetap menggunakan seragam dan livery dari Alitalia.

Selain itu, pesawat juga akan mulai dicat ulang dalam beberapa bulan kedepan untuk menghemat biaya. Meski tak lagi bernama Alitalia, ITA Airways tetap membeli nama maskapai sebelumnya seharga €90 juta. Untuk diketahui, Alitalia sebelum pandemi sudah memiliki hutang dan di masa depan dengan menjadi ITA AIrways akan lebih cerah karena maskapai lebih baik dalam segala hal.

Baca juga: Mantan Pemilik Avianca Berencana Beli Alitalia, Sesumbar Bakal Kasih Untung Sejak Enam Bulan Pertama

Rencananya ITA Airways mengoperasikan armada Airbus baru, yang lebih efisien dan tidak terlalu merusak lingkungan. Pesawat baru pertama akan memasuki layanan pada awal 2022 dan pada akhir 2025 sebanyak 70 persen armada adalah generasi baru. ITA Airways berencana untuk memulai penggunaan 52 pesawat baru, dan meningkat menjadi 105 pada tahun 2025.






















Kereta Cepat di Italia Lebih Banyak Peminat, Bikin Maskapai Alitalia Tutup

Kereta berkecepatan tinggi di Eropa terkhususnya Italia, kini mengubah banyak perjalanan orang. Namun apakah ini mematikan maskapai nasional Italia? Ini bisa saja terjadi, sebab banyak masyarakat yang memilih menggunakan kereta api dalam perjalanan mereka karena lebih cepat dan tidak merepotkan.

Baca juga: Alitalia, Meski Sempat Terseok-seok, Inilah Maskapai Kebanggaan Negeri Pizza

Seorang CEO dari konsultan risiko politic Policy Sonar, Francesco Galietti yang tinggal di Roma mengatakan, lebih memilih naik kereta api ke Milan untuk bekerja. Menurutnya perjalanan 400 mil atau sekitar 643 km dari Roma ke Milan hanya membutuhkan waktu dua jam dan 59 menit.

Selain waktu yang cepat, stasiun kereta pun berada di pusat kota, sehingga tidak perlu datang untuk menunggu kereta dalam waktu lama. Dirangkum KabarPenumpang.com dari cnn.com (14/10/2021), hal ini bila dibandingkan berangkat dengan pesawat, Galietti mengatakan, orang memerlukan waktu lebih lama yakni minimal setengah jam ke Fiumicino Roma, kemudian check in 90 menit sebelum keberangkatan.

Perjalanan selama satu jam dan mendarat di luar Milan di Bandara Linate yang mana memakan waktu 20 menit hingga tiba di pusat kota. Masalah inilah yang membuat banyak orang memilih menggunakan kereta api dibandingkan dengan pesawat. Bahkan perpindahan orang dari pesawat menggunakan kereta api adalah salah satu alasan maskapai nasional Italia yakni Alitalia tutup pada 15 Oktober kemarin.

“Alitalia adalah burung dengan sayapnya yang terpotong sejak awal untuk maskapai internasional, ia sangat fokus pada pasar domestik,” kata Galietti.

Dia menyebutkan, masalah utama Alitalia tutup adalah karena maskapai ini fokus pada penerbangan domestik dan rentan terhadap persaingan ketika revolusi penerbangan biaya rendah dimulai serta kehadiran kereta berkecepatan tinggi. Galietti mengatakan, dengan persaingan ini, banyak orang memilih kereta karena berada di pusat kota dan ini kompetisi yang mengerikan bagi Alitalia.

Bahkan Italia menjadi satu-satunya negara di dunia yang memiliki dua operator kereta berkecepatan tinggi. Selain itu juga menjadi rumah layanan pengirimian berkecepatan tinggi pertama di dunia yang beroperasi antara Bologna dan Maddaloni, di Campania, hanya dalam tiga setengah jam.

Untuk diketahui, dua operator kereta berkecepatan tinggi di Italia adalah Trenitalia dan Italo. Pada 2019 Trenitalia menugaskan sebuah laporan untuk melihat banyak hal yang berubah pada dekade pertama kereta api berkcepatan tinggi. Ini menunjukkan bahwa jumlah kereta di jalur telah berlipat ganda, dan jumlah penumpang di kereta berkecepatan tinggi telah meroket dari 6,5 juta pada 2008 menjadi 40 juta pada 2018dan itu tidak termasuk mereka yang menggunakan Italo.

Jumlah kereta api berkecepatan tinggi dalam armada telah berlipat ganda menjadi 144, dan pada 2018, 69 persen dari semua penumpang yang pergi antara Roma dan Milan naik kereta yanga mana jumlahnya naik 7,4 persen hanya dalam tiga tahun. Sementara perjalanan udara turun hampir tujuh persen dalam tiga tahun hingga 2018, dengan hanya 19,5 persen dari pasar.

Baca juga: Eropa Punya Berbagai Kereta Malam Romantis, Salah Satunya Bisa Angkut Mobil

Jumlah wisatawan yang menggunakan kereta api telah meroket dari 1,8 juta pada 2008 menjadi 7,3 juta pada 2018. Faktanya, hubungan antara kereta api dan pesawat Italia dibuat cukup jelas pada tahun 2019, ketika sebuah merger diperdebatkan antara Alitalia dan Trenitalia yang tenggelam dengan cepat.






















Terlepas dari Politik, Mungkinkah Pembangunan Jalur Kereta Cepat Bawah Air Cina ke Alaska?

Saat ini Cina memiliki jaringan kereta api berkecepatan tinggi terluas di dunia, bahkan Negeri Tirai Bambu ini berencana membangun jalur kereta api berkecepatan tinggi sejauh 13 ribu kilometer dari daratan Cina menuju ke Alaska.

Baca juga: Hubungkan Cina, Rusia, Kanada dan AS, Bagaimana Nasib Proyek Terowongan Kereta Bawah Laut Sepanjang 200 Km?

Yang mana ini akan melewati Siberia dan melewati bawah laut sejauh 200 km melalui Selat Bering ke Alaska dan melanjut ke Kanada hingga akhirnya ke AS. Ini mungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi jalur kereta api bawah laut tidak terlalu jauh ke masa depan dengan Jepang yang sudah memiliki hal itu di bawah lautnya sendiri yakni Terowongan Seikan.

Namun, karena Jepang memiliki jalur bawah laut, apakah ini akan menghalangi Cina untuk membuat pengalaman mereka? Kemungkinan hal tersebut bisa menjadi semangat untuk Cina membuat jalur bawah laut. Sebab bila dihitung durasi penerbangan dari Rusia ke AS sekitar sepuluh jam.

Sehingga pengenalan kereta peluru bawah air akan memungkinkan penumpang melakukan perjalanan antara Rusia ke AS hanya dalam waktu 20 menit. Rencana untuk desain ini pertama kali diajukan pada tahun 2014, dengan laporan mengklaim bahwa Cina sedang dalam pembicaraan lanjutan dengan Rusia yang telah membahas pembangunan jalur kereta api di bawah Selat Bering selama bertahun-tahun.

Rencana ambisius tersebut mendapat banyak liputan media pada saat itu, dengan banyak yang melaporkan bahwa hal itu akan meningkatkan hubungan perdagangan antara Cina, Rusia, Kanada dan AS. Namun, setelah pengumuman awal dan kegembiraan, tidak banyak lagi yang terdengar tentang proyek tersebut tanpa adanya rencana untuk memulai konstruksi.

KabarPenumpang.com merangkum railway-technology.com (21/9/2021), rencana itu dikritik karena proposal anggaran sebesar US$200 miliar. Meski demikian, masih ada indikasi bahwa proyek kereta bawah laut Cina masih dapat berjalan karena Cina menyetujui kereta peluru bawah air pertama di dunia pada tahun 2018 dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa kereta api berkecepatan tinggi layak di bawah laut.

Di mana proyek kereta peluru yang direncanakan akan mencakup 77 km dari Ningbo ke pulau-pulau kepulauan Zhousan yang akan melihat 16,2 km dari rute yang berada di bawah air. Meskipun rute ini jauh lebih kecil daripada rute jalur Cina-Rusia-Kanada-Amerika, jika berhasil, proyek ini kemungkinan akan membuat Cina beralih ke tujuan mereka yang lebih besar.

Untuk diketahui, pembangunan proyek ini akan menjadi salah satu tantangan besar yang dipasangkan dengan biaya tinggi dan bisa dibilang paling penting bagi hubungan politik yang dinamis antara AS, Rusia dan Cina. Seperti diketahui, hubungan politik antara AS dengan Cina dan Rusia tidak stabil, terkhusus denga Cina, malah kian memanas dengan ketegangan di Laut Cina Selatan dan status Taiwan.

Para ahli telah mencatat bahwa elemen yang paling menantang dari proyek ini adalah membangun penyeberangan di Selat Bering, karena bagian ini melihat terowongan bawah air menjadi yang terpanjang di dunia yang membentang lebih dari 103 km.

Baca juga: Mau Lihat Panda di Chengdu? Yuk Naik Kereta Transparan

Konstruksi ini diperkirakan akan memakan waktu antara 12-15 tahun dengan perkiraan biaya $35 miliar hanya untuk sambungan bawah laut. Untuk menghubungkan darat ke laut, infrastruktur baru perlu ditata karena terminal terdekat berjarak 3.000 km ke Rusia sementara di Alaska proyek ini diperkirakan membutuhkan lebih dari 1.200 km jalur kereta api baru. Untuk mengembangkan infrastruktur yang hilang untuk menghubungkan proyek tersebut, diperkirakan dibutuhkan lebih dari US$200 miliar yang menurut para kritikus tidak proporsional.

(Video) Pesawat C-17 Globemaster AU Australia Terbang Meliuk-liuk Nyaris Tabrak Gedung

Aksi pesawat C-17 Globemaster Angkatan Udara Australia terbang rendah meliuk-liuk dan cukup dekat dengan gedung-gedung pencakar langit di pusat Kota Brisbane sangat menawan. Meski terbilang konyol, aksi ini adalah bagian dari latihan untuk acara tahunan Sunsuper Riverfire. Pada saatnya nanti, aksi tersebut menandai berakhirnya Festival Brisbane 2021 yang dihelat selama tiga pekan.

Baca juga: (Video) Pilot Buka Jendela Kokpit Saat Pesawat di Udara! Seketika, Ini yang Terjadi

Dalam video yang beredar, alert system pesawat beberapa kali mengingatkan tentang adanya bahaya di depan, ‘obstacle ahead’ and ‘terrain, terrain!’ menunjukkan betapa dekatnya pesawat dengan gedung-gedung tersebut.

Meski terlihat berbahaya dan mengancam ratusan atau mungkin ribuan masyarakat yang berada di gedung dan di jalan, aksi tersebut di sisi lain cukup menghibur masyarakat.

Sebab, tak selamanya pesawat yang terbang di ketinggian 300 kaki di atas permukaan tanah itu meliuk-liuk cukup dekat dengan gedung pencakar langit melainkan juga terbang di atas sungai nan jauh dari gedung tinggi. Ini dinilai aman dan menghibur.

“Ini tidak langsung terlihat dari sudut dalam video, tapi pesawat itu terbang di atas sungai yang mengalir melalui kota. Tidak menenun di antara bangunan. Juga dipublikasikan secara luas sebelum itu terjadi sehingga orang tidak lengah,” kata reporter lokal, Chad Ryan.

Meski bagi warga Australia pada umumnya itu adalah hiburan tak berbahaya, lain halnya dengan pandangan warga Amerika Serikat (AS).

Menurut pilot C-17 Globemaster di Angkatan Udara AS yang tidak ingin disebutkan namanya, seperti diungkap Task & Purpose, aksi tersebut tidak akan pernah diizinkan dilakukan di AS. Selain itu, ia juga menyebut aksi pilot pesawat di Brisbane itu ‘gila’.

“Jika timing atau jika pilot lambat bereaksi, jet akan bertabrakan dengan sebuah bangunan. Sangat berisiko,” katanya.

Ia menyebut, di AS, aksi sejenis mungkin akan diizinkan dengan persetujuan khusus, seperti di atas flyover dan lain sebagainya. Tetapi, tidak deikian dengan gedung pencakar langit. Itu sudah pasti tidak akan pernah diizinkan. Terlebih, warga AS memiliki trauma mendalam terhadap aksi seperti itu usai peristiwa 9/11.

Royal Australian Air Force (RAAF) sendiri berdalih bahwa pihaknya sudah berkomunikasi dengan masyarakat terkait latihan terbang kali ini, termasuk mengenai keselamatan, polusi suara, dan lainnya.

Baca juga: (Video) Boeing 747 Ex Cathay Pacific Ditabrakkan dengan Sengaja ke Hanggar

“Keselamatan, manajemen kebisingan dan lingkungan merupakan pertimbangan penting dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan terbang Pertahanan, dan skuadron yang berpartisipasi akan beroperasi dengan tujuan untuk meminimalkan dampak pada masyarakat lokal,’ kata RAAF dalam sebuah pernyataan.

“Kesehatan dan keselamatan semua personel yang berpartisipasi dalam acara ini adalah yang terpenting. Semua personel Angkatan Pertahanan Australia diwajibkan untuk mematuhi larangan perjalanan dan saran kesehatan dari pemerintah negara bagian dan teritori. Ada berbagai langkah mitigasi risiko Covid-19 untuk latihan ini,” tutupnya, seperti dikutip dari Daily Mail.

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Peringati Hari Kereta Api, Kepala Stasiun Wakayama Perkenalkan Jam Berbentuk Kucing

Kereta api pertama di Jepang pada 14 Oktober 1872 resmi beroperasi antara Stasiun Shimbashi di Tokyo dan Yokohama.  Setiap tanggal itu, kemudian Jepang memperingatinya sebagai Hari Kereta Api dan untuk merayakannya, salah satu stasiun di Jepang barat meluncurkan jam bertema kucing baru yang dilengkapi dengan telinga berwarna hitam dan coklat serta kumis berwarna putih.

Baca juga: Isolasi Diri dari Pandemi Covid-19, Seorang Pria Tinggal di Stasiun Kereta Api

Jam ini dirancang menyerupai kucing belacu Nitama yang disebut kepala stasiun super dan bertanggung jawab atas semua stasiun di Jalur Kishigawa Wayakama Electric Railway Company. Namun jarang sekali jam peron stasiun dirancang berdasarkan kucing.

Kepala stasiun kucing Nitama dan Presiden Wakayama Electric Railway Co. Mitsunobu Kojima terlihat di bawah jam kucing dengan telinga dan kumis, di kota Wakayama, Jepang barat pada 14 Oktober 2021. Foto: Mainichi/Ryota Hashimoto

Pada bulan Juli lalu, sekelompok penduduk dan orang lain yang bekerja untuk melestarikan jalur Kishigawa menymbangkan jam bundar dengan diameter 70 cm untuk merayakan ulang tahun ke-15 jalur itu sejak operasi dimulai. KabarPenumpang.com melansir nhk.or.jp (15/10/2021), Presiden Kereta Listrik Wakayama Mitsunobu Kojima, berpikir jam itu akan “lebih manis dengan telinga dan kumis,” dan proyek baru-baru ini telah menghidupkan idenya.

Di antara peserta upacara pembukaan yang diadakan di peron di Stasiun Wakayama adalah Presiden Kojima dan kepala stasiun kucing Nitama. Mereka dinobatkan sebagai “Ksatria” pada bulan Agustus atas kontribusinya dalam menyampaikan pesona Wakayama ke seluruh Jepang oleh prefektur tersebut.

“Saya pikir ada orang yang merasa sedih di tengah krisis virus corona. Saya berharap dengan melihat jam, mereka akan merasa lebih bahagia dan lebih ringan,” ujar Kojima.

Mulai 14 Oktober di Stasiun Idakiso dan lokasi lainnya, operator kereta api juga telah menjual secara terbatas 500 paket tiket masuk yang berisi edisi untuk semua 14 stasiun, dan folder plastik dengan gambar Nitama, sebagai cara untuk memperingati Nitama ” Ksatria”. Pada hari yang sama juga diumumkan bahwa kereta Museum Tama Densha yang sedang dalam perbaikan akan mulai beroperasi pada 4 Desember.

Baca juga: Hanya Punya Dua Stasiun, Jalur Shibayama Adalah Yang Terpendek di Jepang

Sekitar 18,89 juta yen (sekitar $165ibu r) telah dibiayai antara Februari dan Mei 2021 untuk biaya merombak kereta Omocha Densha menjadi kereta Museum Tama Densha. Untuk diketahui, Nitama adalah kucing kedua yang menjabat sebagai kepala stasiun, setelah kucing pertama, Tama, meninggal pada tahun 2015.

Pejabat di perusahaan kereta api mengatakan Tama telah membantu merevitalisasi pariwisata di Prefektur Wakayama.






















Gerbong dengan Pendingin Udara Digunakan untuk Angkut Cokelat

Dari pada tidak digunakan dan terbengkalai, Indian Railways mulai kembali menggunakan gerbong kereta dengan pendingin udara. Ini adalah inovasi untuk pertama kalinya dilakukan South Western Railway di Divisi Hubbali, India.

Baca juga: Jumlah Penumpang Turun, JR East Kirim Produk Hasil Laut dari Miyagi ke Tokyo dengan Kereta Shinkansen

Di mana gerbong dengan pendingin udara itu akan digunakan untuk mengangkut cokelat dan produk lainnya yang memerlukan suhu rendah dan terkendali selama transit. Pada 8 Oktober kemarin, sebanyak 18 gerbong dengan pendingin udara mengangkut cokelat dan mie seberat 163 ton.

Kereta ini berangkat dari Vasco Da Gama di Goa ke Okhla di Delhi dan itu adalah kiriman dari AVG Logistics. KabarPenumpang.com melansir dari laman timesofindia.indiatimes.com (10/10/2021), gerbong kereta dengan pendingin udara itu adalah Parcel Express dan akan menempuh jarak sejauh 2.115 Km.

Perjalanan tersebut diperkiran tiba pada Sabtu (9/10/2021) lalu. Pengangkutan cokelat dan mie ini menghasilkan pendapatan sebesar Rs12,83 Lakh ke kereta api. Dengan upaya pemasaran Unit Pengembangan Bisnis (BDU) Divisi Hubballi, arus lalu lintas baru ini telah diambil oleh kereta api yang secara tradisional diangkut melalui Jalan.

Manajer Kereta Api Divisi Hubballi, Arvind Malkhede mengatakan bahwa Kereta Api secara proaktif menjangkau pelanggan untuk memanfaatkan Layanan Kereta Api yang lebih cepat, lancar, dan hemat biaya. Pendekatan ini diapresiasi oleh Industri dan Pedagang sehingga meningkatkan volume.

Baca juga: Lokomotif CC205 Batch 3 Tiba di Indonesia, Dukung Mobilitas Kereta Barang dan Penumpang

Penghasilan parsel bulanan Divisi Hubballi melampaui angka Rs 1 Crore sejak Oktober 2020. Penghasilan Parcel Divisi Hubballi selama September 2021 adalah Rs1,58 crores. Penghasilan parsel kumulatif Divisi selama Tahun Keuangan saat ini hingga September 2021 adalah Rs11,17 crores.

Stasiun Meadowbank di Edinburgh Dibangun untuk Commonwealth Games dan Kini Terbengkalai

0

Beberapa negara di dunia, mungkin memiliki sebuah stasiun kereta api yang dibangun khusus hanya untuk sebuah perhelatan dan digunakan untuk membantu pengunjung lebih mudah tiba ditempat itu. Namun, biasanya setelah perhelatan, stasiun itu terbengkalai dan tak jarang relnya pun sudah tidak ada.

Baca juga: Tanggula, Stasiun Terbengkalai di Atas Awan

Salah satu stasiun tersebut ada di Edinburgh, Skotlandia yakni stasiun kereta api Meadowbank. Dilansir KabarPenumpang.com dari edinburghlive.co.uk (13/10/2021), stasiun tersebut dibangun untuk mendukung penonton yang menghadiri pertandingan.

Jadi, bisa dikatakan stasiun yang dibangun tahun 1986 itu adalah jalur kereta api yang dibangun khusus dan beroperasi sebagai shuttle dari Edinburgh Waverley. Stasiun Meadowbank dibangun dalam satu jalur dan menghubungkan area terdekat seperti Abbeyhill dan Lochend.

Usai pertandingan pun, stasiun dan jalur ini masih sering digunakan sesekali untuk beberapa acara. Namun kemudian ditutup tahun 1998 dan sejak saat itu, jalur ini tak lagi aktif. Meski tak lagi aktif, jalur kereta api ini masih terlihat dari beberapa titik pandang dan jembatan di daerah itu.

Tetapi ada beberapa rel yang paling dekat dengan peron sudah diangkat. Selain itu, jalur yang menghubungkan Abbeyhill menuju ke Waverley pun telah dicabut. Namun, kereta masih bisa mengaksesnya dari Piershill Junction.

Rel tak hanya diangkat, bahkan sisanya kini ditumbuhi oleh tanaman dan rumput liar. Walaupun begitu, rel yang tersisa, kini menjadi pengingat akan sepenggal sejarah bagi penduduk lokal di kawasan Meadowbank.

Untuk diketahui, pada masa jayanya, jalur dibuat untuk mengubungkan orang dalam rangka menghadiri Commonwealth Games itu sangat populer. Sehingga pada saat pucaknya, kereta kedua digunakan dan frekuensi perjalanan semakin tinggi.

Meski jalur tak lagi beroperasi, Stadion Meadowbank dalam renovasi total dengan pekerjaan yang sedang dilakukan adalah pembuatan tempat gym, ruang permainan, listasan lari luar ruangan dan kafe. Pekerjaan itu dimulai tahun 2018 tetapi karena pandemi, pekerjaan telah dihentikan beberapa kali dan tanggal pembukaan resmi saat ini tidak diketahui.

Baca juga: Ini Dia Deretan Stasiun Unik yang Terbengkalai dari Seluruh Penjuru Dunia

Selain itu, Edinburgh City FC juga akan kembali ke Stadion Meadowbank untuk menjadi tuan rumah pertandingan kandang mereka setelah absen selama empat tahun. Klub juga telah berdiskusi dengan Dewan Edinburgh untuk memasukkan area duduk dan berdiri yang aman yang dapat menampung hingga 1500 penggemar.