Mungkin Cuma Bercanda, Tapi Jangan Sebut ‘Kata-kata’ Ini Pada Awak Kabin

Ada beberapa hal yang tabu dilakukan penumpang kepada awak kabin ketika dalam penerbangan. Apalagi kondisi kerja yang menantang seperti saat ini bisa membuat ketegangan dan kecemasan tersendiri. Bahkan beberapa kata yang dipilih dengan buruk juga bisa disalah artikan.

Baca juga: Dirjen Perhubungan Udara: “Akan Ada Sanksi Berat Jika Lontarkan Lelucon Bom”

Seperti saat penumpang tahu mereka sedang bercanda atau hanya mencoba membuat percakapan konyol. Dilansir dari bestlifeonline.com (25/10/2021), Willlis Orlando, Senior Product Operations Specialist Scott mengatakan, ada beberapa kata yang tidak boleh diucapkan kepada awak kabin. Berikut kata yang tidak boleh diucapkan pada pramugari.

Jangan pernah mengatakan “Saya mabuk” 
Orlando mengatakan, Anda tidak boleh mengatakan “Aku mabuk.” Meski itu jelas hanya bercandaan mengatakan mabuk, hal itu adalah ide yang buruk dan dapat memiliki konsekuensi yang serius.

“Tentu saja banyak dari kita menjadi sangat ramah dengan awak kabin dan ingin kita ingin berteman dengan mereka dan membuat lelucon semacam ini dan kita merasa ringan—dan mungkin kita membuat lelucon tentang mabuk,” katanya.

Di bawah undang-undang federal, Orlando menjelaskan, “mereka berhak menendang Anda jika Anda mabuk.” Faktanya, Administrasi Penerbangan Federal melarang Anda meminum minuman keras apa pun yang dibawa sendiri ke dalam pesawat, sebagai cara untuk mencegah penumpang menghirup udara secara berlebihan. Mungkin Anda hanya bercanda mengatan tentang apa yang dikonsumsi. Tetapi itu akan menempatkan awak kabin di posisi sulit saat Anda mengatakannya dengan keras.

“Jangan menempatkan mereka pada posisi harus membuat keputusan apakah Anda aman untuk tetap di kapal. Bahkan jika kamu mabuk, tutup mulutmu,” kata Orlando.

Tentu saja, awak kabin akan berhenti melayani jika mereka mengira Anda mabuk. hanya itu, Anda juga bisa dikeluarkan dari penerbangan lanjutan.

“Ada juga hal-hal yang bisa mereka lakukan untuk menghukum Anda. Mereka bisa memasukkan Anda ke dalam daftar penumpang bermasalah—dan ini semua bisa menjadi kesalahpahaman jika Anda membuat lelucon sederhana,” kata Orlando.

Jangan pernah bercanda tentang kekerasan
Ini mungkin tidak perlu dikatakan lagi, tetapi kekerasan dan terorisme juga tidak boleh dijadikan bahan lelucon di pesawat. Dalam banyak kasus, candaan seputar terorisme, seperti celetukan soal bom bisa berujung pidana pada penumpang.

Baca juga: Awak Kabin ‘Ancam’ Semprot Lysol ke Bokong Penumpang yang Batuk

Lelucon seputar Covid
“Lelucon Covid, lelucon tentang masker, meminta pengecualian untuk aturan masker, orang-orang ini bekerja keras, dan hal terakhir yang mereka inginkan adalah bertanya-tanya apakah Anda bercanda atau serius tentang apakah Anda akan mematuhinya. Anda mungkin berpikir itu ringan dan jinak, tetapi mereka bekerja sangat keras. Jadi beri mereka istirahat,” kata Orlando.






















Mangkrak dan Senasib dengan Bandara Kertajati, Inilah Sejarah Panjang Bandara JB Soedirman

Bandara Jenderal Besar (JB) Soedirman di Kabupaten Purbalingga jadi sorotan. Hal itu terjadi usai Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, membeberkan kondisi terkini tentang bandara tersebut. Disebutnya, bandara yang baru beroperasi pada 1 Juni lalu itu sudah tak ada penerbangan lagi, mengingat Citilink, satu-satunya maskapai yang terbang ke sana, sementara waktu membekukan penerbangan karena sepi.

Baca juga: Dongkrak Perekonomian Wilayah Purbalingga, Bandara JB Soedirman Siap Beroperasi di 2019

“Saya mau book minggu depan ternyata sudah tidak ada penerbangan. Saat saya konfirmasi ke Citilink memang stop terbang. Semoga nasibnya tidak seperti Bandara Kertajati,” tulisnya pada postingan Facebook, Senin (25/10).

Sindiran pengamat yang juga mantan ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ini agar tak senasib dengan Bandara Kertajati memang bukan isapan jempol.

Sebab, geliat wilayah di sekitar Bandara JB Soedirman, seperti Banjarnegara, Kebumen, Banyumas, Pemalang, Tegal, Brebes, Kota Tegal, dan Wonosobo, memang tak sebesar wilayah-wilayah seperti Bali, Surabaya, Jakarta, dan sebagainya. Itu pula yang terjadi pada Bandara Internasional Kertajati Jawa Barat (BIJB) hingga menjadikannya mangkrak dan dimanfaatkan jadi bengkel pesawat.

Terlepas dari polemik dan masa depan Bandara JB Soedirman akan senasib dengan Bandara Kertajati atau tidak, yang pasti, Bandara JB Soedirman merupakan bandara besar di masanya. Bandara ini bahkan pernah menjadi saksi sejarah atas upaya diplomasi Indonesia untuk memperoleh kedaulatan internasional usai Agresi Militer Belanda I dan II.

Dilansir dari laman resmi TNI AU, Bandara JB Soedirman, yang sebelumnya bernama Pangkalan TNI AU Wirasaba atau Lanud Wirasaba, dibangun pada tahun 1938 oleh Belanda. Ketika dibangun, lokasinya memang strategis untuk pertahanan militer udara utama di wilayah Karesidenan Banyuman, bukan untuk transportasi udara sebagaimana Bandara Kemayoran pada masa itu.

Tahun 1942-1945, Lanud dikuasai oleh Jepang. Tahun 1945-1947, dengan bertekuk lututnya Jepang, Pangkalan Udara Wirasaba dikuasai oleh pemerintah RI (TNI AU) dengan Komandan yang pertama adalah Sersan Mayor Udara Soewarno.

Di masa tahun 1947-1950, setelah Jepang bertekuk lutut, maka Belanda kembali akan merebut RI. Dengan tidak adanya pasukan Pertahanan Pangkalan di Pangkalan Udara Wirasaba, maka dengan mudah pangkalan dikuasai Belanda.

Di masa inilah, Pangkalan Udara Wirasaba, yang diambil dari nama seorang pangeran yaitu Pangeran Wirasaba, Bupati Banyumas sekaligus pendiri Daerah Tingkat II Purbalingga yang sangat berkharisma, menjadi saksi upaya diplomasi Indonesia mempertahankan kemerdekaan.

Baca juga: Ketimbang ‘Sepi Merana,’ Bandara Kertajati Bakal Disulap Jadi Pusat Bengkel Pesawat

Dari foto-foto koleksi Nationaal Archief Belanda, disebutkan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku perwakilan Pemerintah Republik Indonesia bertemu dengan anggota Komisi Tiga Negara (KTN), Australia, Belgia, serta Amerika Serikat, untuk berdiplomasi mengenai pengakuan kedaulatan RI pasca perjanjian Renville.

Selain itu, Pangkalan Udara Wirasaba juga pernah mencatat sejarah penting lain, seperti kedatangan jurnalis internasional dari New York Herald Tribune, Dorothy Brandon, pada 1949, kunjungan Wakil Konsul/Diplomat Cina ke wilayah Karesidenan Banyumas pada 10 Oktober 1947, pengembalian seorang serdadu Inggris berkebangsaan India bernama Rambal Sheng, sampai kunjungan petinggi militer Belanda Jenderal de Waal pada 6 April 1948.

Inilah Bonza, Maskapai Ultra LCC Baru dari Australia

Australia akhirnya punya maskapai penerbangan berbiaya rendah (LCC) independen alias tidak terafiliasi dengan grup maskapai besar. Ini terjadi usai maskapai baru, Bonza, berhasil mendapat Air Operator Certificate (AOC) dari regulator Negeri Kangguru.

Baca juga: Ecuatoriana Airlines, Maskapai Baru yang Lahir Saat Maskapai Lain Terancam Bangkrut

Bila tak ada aral melintang, Bonza akan memulai perjalanan udara berjadwal pertama dalam beberapa bulan ke depan, meramaikan pasar LCC di Australia yang sebelumnya dimonopoli oleh Jetstar, anak perusahaan maskapai nasional Qantas.

Dilansir Newshub, Bonza besar kemungkinan akan menghindari rute ke kota-kota besar di Australia, yang selama ini sudah dikuasai Qantas dan Virgin Australia.

Sebagai gantinya, maskapai yang mengklaim lebih dari sekedar LCC atau ultra LCC ini akan memaksimalkan rute-rute lain ke dan dari tujuan populer lainnya di seantero negeri, menawarkan lebih banyak perjalanan melalui skema penerbangan point-to-point, bukan penerbangan hub. Ini tentu menarik mengingat Australia termasuk dalam 15 pasar penerbangan domestik terbesar di dunia.

Kolaborasi tiket super murah dan penerbangan point-to-point dari dan ke tujuan-tujuan populer dinilai akan menjadi satu kesatuan penting dalam merebut hati penumpang.

Berbeda dengan maskapai LCC pada umumnya di dunia, termasuk maskapai LCC baru semisal Super Air Jet, yang menggunakan pesawat-pesawat Airbus, maskapai LCC baru Bonza justru mengandalkan menggunakan Boeing 737-800.

“Misi Bonza adalah untuk mendorong lebih banyak perjalanan dengan menyediakan lebih banyak pilihan dan tarif ultra-rendah (ultra LCC), terutama ke tujuan rekreasi di mana perjalanan sekarang sering terbatas pada koneksi melalui kota-kota besar,” kata pendiri sekaligus CEO Bonza, Tim Jordan.

“Bonza akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi semua warga Australia, tetapi khususnya bagi komunitas regional dengan menyediakan rute baru dan peluang perjalanan yang lebih besar,” jelasnya.

“Bonza juga akan memainkan peran utama dalam pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 Australia – menciptakan lapangan kerja, merangsang perjalanan dan belanja konsumen, serta membantu kawasan masyarakat, terutama yang mengandalkan pariwisata, bangkit kembali,” paparnya.

Lebih lanjut, CEO yang malang melintang di industri penerbangan selama 25 tahun bersama Cebu Pacific, Virgin Blue, dan FlyArystan -maskapai LCC pertama di Asia Tengah- ini akan didukung dengan kekuatan finansial perusahaan investasi swasta AS, 777 Partners.

Baca juga: Industri Penerbangan Loyo, ‘Warren Buffet-Nya’ India Malah Dirikan Maskapai Ultra LCC Baru

Perusahaan yang memiliki maskapai penerbangan populer di Kanada dan Asia Tenggara ini juga akan meresmikan Bonza secara langsung, yang diperkirakan akan berlangsung pada awal 2022.

“Ada peluang besar untuk berbuat baik dan melakukannya dengan baik dengan mendemokratisasikan perjalanan udara melalui biaya yang lebih rendah. Kami ingin meningkatkan pilihan konsumen dan membuat perjalanan lebih terjangkau dan lebih mudah diakses oleh semua warga Australia,” ujar Josh Wander, Managing Partner 777 Partners.

Baru 3 Tahun Beroperasi, Moskow Kini Punya 800 Armada Bus Listrik

Bus listrik mulai merambah transportasi dunia. Selain mengurangi emisi karbon, kebisingan dalam perjalanan pun berkurang. Sebagian besar negara di dunia, juga sudah mulai menggunakan bus listrik dan beberapa diantaranya baru ada yang melakukan uji coba.

Baca juga: Satu Armada Bus LIstrik Kembali Diuji Coba TransJakarta di Rute Blok M–Balaikota

Seperti Moskow sudah memiliki dan mengoperasikan bus listrik sejak 2018, dan kini ibu kota Rusia itu tengah merayakan peluncuran bus listrik mereka yang ke 800. Tak hanya itu, Moskow juga memiliki tujuan untuk menambahkan armada bus listrik mereka menjadi seribu dan akan beroperiasi pada akhir tahun 2021.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman intelligenttransport.com (14/10/2021), bus listrik ke 800 itu telah melintasi jalan-jalan ibu kota Rusia. Bus listrik itu dirakit di eco-plant SVARZ oleh KAMAZ, yang dibuka pada April 2021.

Bus listrik ke 800 tersebut dimiliki oleh Mosgortrans yang adalah operator utama angkutan umum perkotaan di Moskow yang kini beroperasi di selatan kota. Meski bus listrik baru hadir tiga tahun, tetapi transportasi ini sudah diluncurkan di 61 rute bus dan menempuh 58 juta km serta mengangkut lebih dari 128 juta penumpang.

Memiliki bus listrik dengan jumlah ratusan dan ditargetkan seribu di akhir tahun, membuat Moskow secara aktif mengembangkan infrastruktur pengisian daya. Hingga saat ini sudah ada lebih dari 150 struktur pengisian di kota.

Pihak berwenang mengatakan, hingga akhir 2023 mendatang, jumlah infrastruktur pengisi daya akan meningkat hingga 500 stasiun. Kemudian secar resmi, pemerintah Moskow akan meluncurkan 200 lebih kendaraan listrik baru menjelang akhir tahun 2021 dan akan ada seribu bus listrik yang beroperasi di Moskow pada tahun 2022.

“Pada tahun 2021, Moskow telah berhenti membeli bus diesel untuk operator angkutan umum permukaan. Saat ini, kota ini berfokus pada alternatif ramah lingkungan dan mengikuti tren pasar kendaraan listrik di seluruh dunia,” kata Maksim Liksutov, Wakil Walikota Moskow untuk Transportasi.

Baca juga: VinBus, Inilah Model Bus Listrik Modern Produksi Vietnam

Dia mengatakan, menurut Departemen Transportasi Moskow Moskow dianggap memiliki armada bus listrik terbesar di Eropa. Sebab semua rute kota akan dioperasikan oleh bus ramah lingkungan pada tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah Moskow akan membeli lebih dari 500 bus listrik per tahun, serta mengembangkan hidrogen yang inovatif dengan model bus buatan bersama KAMAZ dan RUSNANO.

Hari Ini, 110 Tahun Lalu, Sarah van Deman Jadi Penumpang Pesawat Wanita Pertama dalam Sejarah

Pada hari ini, 110 tahun yang lalu, bertepatan dengan 27 Oktober 1909, Sarah van Deman berhasil menjadi penumpang pesawat pertama dalam sejarah kedirgantaraan Amerika Serikat (AS). Ketika itu, ia mendampingi Wilbur Wright (kakak dari Orville Wright) saat menerbangkan pesawat yang dirakit oleh Wright Bersaudara.

Baca juga: Hari Ini, Raymonde de Laroche Jadi Pilot Wanita Berlisensi Pertama di Dunia, Terinspirasi Wright Bersaudara

Dikutip dari Arsip Nasional Amerika Serikat, di tahun 1909, geliat dunia aeronautika AS memang sedang tinggi-tingginya. Di antara banyak tempat, penerbangan pesawat (umumnya berupa eskperimen) salah satunya dilakukan di lapangan penerbangan Signal Corps Angkatan Darat Amerika Serikat di College Park, Maryland; termasuk penerbangan bersejarah Wilbur Wright dan Sarah van Deman.

Sarah sendiri merupakan penduduk asli Dixon, Illinois, AS. Tetapi, bukan itu yang membuatnya melenggang mendampingi Wilbur Wright menjadi penumpang pertama dalam sejarah penerbangan AS, melainkan statusnya sebagai anak dari seorang perwira intelijen militer AS, Kapten Ralph Henry Van Deman, sekaligus juga istri dari perwira Angkatan Darat AS.

Tak jelas kapan Sarah dan Wilbur Wright termasuk -Katharine Wright adik dari Wrigth bersaudara- bertemu.

Namun, besar kemungkinan, keduanya bertemu di Fort Myer, Virginia, pada September 1908, saat menjenguk Orville Wright setelah kecelakaan terbang pada 9 September 1908 dan menewaskan Letnan Thomas E. Selfridge dari Angkata Darat AS. Ia adalah korban tewas pertama dalam kecelakaan pesawat bertenaga.

Usai pertemuan itu, Saran van Deman mulai akrab dengan ketiganya. Terlebih, ia juga bukan orang sembarangan. Keakraban Sarah dan Wright bersaudara serta Katharine makin dalam saat mereka menghadiri undangan makan malam Sarah dan keluarganya. Makin akrab lagi saat Sarah mulai rutin menghadiri penerbangan Orville Wright di Fort Myer.

Di satu momen, di sela-sela penerbangan Orville, Sarah van Deman berbicang banyak dengan Katharine terkait sensasi terbang di ketinggian dengan kecepatan tinggi, mengingat Katharine atau Ms. Wrigth pernah merasakannya di Perancis pada tahun 1909.

Sampai di sini, tak begitu jelas apakah Katharine terbang sebagai pilot atau penumpang. Bila sebagai penumpang, seharusnya ia yang menyandang gelar sebagai penumpang wanita pertama dalam sejarah dirgantara AS.

Sejak diceritakan sensasi terbang, Sarah van Deman jadi sangat tertarik untuk menjajal semua yang diceritakan Ms. Wright. Atas permintaan Ms. Wright, Wilbur pun akhirnya mau mengajak seorang wanita terbang. Sebelumnya, Wilbur tidak pernah mau mengajak seorang wanita terbang dengan alasan apapun. Tetapi, spesial atas permintaan adiknya, ia pun mau.

Baca juga: Hari Ini, 107 Tahun Lalu, Film Dokumenter Pertama yang Diambil dari Udara Terjadi Demi Raja Inggris

Setelah persiapan matang, dibantu prajurit dari Signal Corps Angkatan Darat, Wilbur dan Sarah van Deman pun sukses terbang di atas lapangan College Park di ketinggian 60 kaki dengan kecepatan 60mph selama empat menit.

“Jeritan kecil terdengar sesaat sebelum pesawat Wright 1909 Military Flyer jatuh menghantam bumi,” tutur salah satu sejarawan di sektor aviasi global, David Trojan. Sarah van Deman meninggal pada tahun 1967 di usianya yang ke 86 tahun.

7 Pendaratan Bandara Paling Eksotis di Dunia, Nomor 6 Tak Disangka

Jelang mendarat di sebuah bandara, pesawat hanya berada ratusan kaki di atas daratan. Ini biasanya menyajikan pemandangan luar biasa menawan dari dalam kabin, terutama bagi mereka yang duduk dekat jendela.

Baca juga: Inilah Pemandangan Fanstastik yang Bisa Anda Lihat dari Udara!

Masing-masing bandara mungkin bisa memiliki teknologi kebandarudaraan yang sama. Tetapi, ‘lukisan’ Tuhan yang berada di sekitar bandara tersebut dipastikan berbeda. Jelang mendarat, ada bandara yang menawarkan pemandangan perkotaan, pedesaan, laut, pegunungan, kanal, kelap-kelip lampu (pendaratan malam hari), dan sebagainya. Pertanyaannya, bandara mana saja?

Dikutip dari CNN Internasional, berikut daftar tujuh pendaratan bandara paling eksotis di dunia yang menawarkan pemandangan luar biasa menakjubkan.

1. Rio de Janeiro, Brasil

Bandara Santos Dumont menawarkan pemandangan Teluk Guanabara. Foto: CNN Internasional

Anugerah berupa ‘Roller coaster’ di atas perbukitan, dilengkapi pegunungan yang rimbun, dan dibatasi oleh garis pantai berpasir berbatasan langsung dengan Samudra Atlantik, membuat Rio de Janeiro masuk jadi kota dengan alam paling indah di dunia.

Mendarat di kota ini biasanya menjadi salah satu momen favorit penumpang saat berwisata, terlebih bila pesawat mendarat di Bandara Santos Dumont yang berada tepat di pinggir Teluk Guanabara. Penumpang bakal disuguhi pemandangan terbaik berupa hamparan pemukiman berwarna putih, Gunung Sugarloaf, pasir putih, dan birunya laut.

2. Male, Maladewa

Pemandangan jelang mendarat di Bandara Internasional Velana, tak jauh dari Male di Pulai Hulhule, Maladewa. Foto: CNN Internasional

‘Surga’ yang dititipkan ke Maladewa bahkan sudah bisa dilihat penumpang pesawat jelang mendarat di Bandara Internasional Velana, tak jauh dari Malé di pulau Hulhulé. Dari sini, pemandangan birunya laut Samudera Hindia beserta atolnya sangat indah dipandang mata.

3. Venesia, Italia

Dari udara, kilauan kanal Venesia akan menjadi momen paling tak terlupakan saat mendarat di Bandara Marco Polo, Venesia, Italia. Foto: CNN Internasional

Pernah dengar pemandangan ikan berenang menuju daratan dengan ekornya mengepak ke Laut Adriatik? Jika belum, itu adalah pemandangan ajaib yang dilihat penumpang pesawat jelang mendarat di Bandara Marco Polo, Venesia, Italia. Tanggul MOSE, Pulau Lido, atap terakota, menara lonceng nan gagah, sampai Grand Canal yang legendaris adalah pemandangan yang tak mungkin terlupakan.

4. Cape Town, Afrika Selatan

Pemandangan kota Cape Town sangat menakjubkan dengan hamparan pegunungan dan perairan Samudera Hindia dan Samudera Atlantik Selatan. Foto: CNN Internasional

Lukisan Tuhan yang dianugerahkan ke Cape Town nyaris serupa dengan Rio de Janeiro. Letaknya juga berseberangan dan dipisahkan oleh Samudera Atlantik Selatan. Bedanya, Cape Town diapit juga oleh Samudera Hindia di Timur, membuat pemandangan alam jelang mendarat di bandara di kota ini sangat menakjubkan.

5. San Francisco, AS

Traveler yang juga penumpang pesawat bisa menikmati pemandangan kota yang apik beserta Jembatan Golden Gate di San Francisco. Foto: CNN Internasional

Selain dikenal dengan teknologinya, Amerika Serikat (AS) juga dikenal dengan kekayaan alamnya yang luar biasa. Salah satunya di San Francisco. Penumpang akan disuguhkan pemandangan kota dan Jembatan Golden Gate, termasuk pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik, sebagai salah satu momen terindah menjelasan pendaratan pesawat.

6. Santiago de Chile, Chili

Santiago adalah salah satu lokasi terbaik untuk menikmati pemandangan Pegunungan Andes dari kabin pesawat jelang mendarat. Foto: CNN Internasional

Jangan pernah lupakan Pegunungan Andes bila bicara tentang pemadangan terindah dari kabin pesawat dan sebagian besar itu bisa dilihat jelang pesawat mendarat di Santiago, Chili. Bukit-bukit gersang, dataran, dan pegunungan yang menjulang di kejauhan berselimut putih sangat memanjakan mata.

Baca juga: Ini Dia Pemandangan Lima Situs Warisan Dunia UNESCO yang Bisa Dinikmati dari Dalam Kereta

7. Tyrol, Austria

Pemandangan pegunungan Alpen yang bisa dinikmati penumpang pesawat dari Tyrol, Austria. Foto: CNN Internasional

Serupa dengan Pegunungan Andes, Pegunungan Alpen di Eropa juga menyajikan seribu satu pemandangan eksotis dari sudut manapun. Termasuk dari Tyrol, Austria, saat mendarat di Bandara Innsbruck.

Pemandangan lebih luar biasa lagi bisa dinikmati penumpang dari dalam kabin pesawat saat di musim dingin ketika gunung-gunung ditaburi salju, lembah, dihiasi desa-desa berwarna merah bata nan kontras sebagai pelengkapnya.

Atlantic Road Jadi “James Bond Road,” Jalur Legendaris nan Eksotis di Norwegia

Siapa yang tak kenal dengan Atlantic Ocean Road atau Atlantic Road? Bagi pecinta film James Bond yakni No Time To Die pasti tahu tentang jalan raya super keren ini. Jalur ini sepanjang 8,3 km dari County Road 64 yang melintasi kepulaan di Hustadvika dan Averøy di Møre og Romsdal, Norwegia.

Baca juga: Pesawat Listrik Rolls-Royce dan Tecnam Meluncur 2026, Norwegia Jadi Pasar Terbesar

Nanti jalur ini juga akan melintasi Hustadvika yang adalah baguan tak terlindungi dari Laut Norwegia. Yang mana jalur ini juga menghubungkan Pulau Averøy dengan daratan dan semenanjung Romsdalshalvøya. KabarPenumpang.com merangkum wikipedia.org, jalur tersebut dibangun di beberapa pulau kecil dan pulau karang yang dihubungkan oleh beberapa jalan lintas dan delapan jembatan yang paling menonjol adalah Storseisundet.

Rute awal ini diusulkan sebagai jalur kereta api pada awal abad ke-20 tetapi ditinggalkan. Perencanaan Jalur Rauma untuk menghubungkan jaringan kereta api nasional ke Møre og Romsdal sedang berlangsung, dan beberapa proposal dibuat untuk memperluasnya ke kota-kota pesisir.

Pada tahun 1921, Dewan Kota Møre og Romsdal memilih rute luar, yang akan mengikuti jalan yang dekat dengan jalan tersebut. Jalur Rauma tidak dibangun di luar ndalsnes, dan pada tahun 1935 Parlemen Norwegia memutuskan untuk menghubungkan kota-kota pesisir di Møre og Romsdal ke ndalsnes melalui jalan darat, bukan kereta api.

Meskipun rencana tersebut secara resmi dibatalkan, penduduk setempat terus bekerja dengan ide jalan yang menghubungkan Avery dengan daratan. Hingga akhirnya perencanaan jalan yang serius dimulai pada tahun 1970-an.

Arne Rettedal, Menteri Pemerintah Daerah dan Pembangunan Daerah pada awal 1980-an, mengusulkan agar dana penciptaan lapangan kerja dapat dialokasikan untuk proyek-proyek jalan. Setelah disetujui, konstruksi dimulai pada 1 Agustus 1983. Selama konstruksi, daerah tersebut dihantam oleh 12 badai angin Eropa. Hingga akhirnya jalan itu dibuka 7 Juli 1989, dengan biaya 122 juta krone Norwegia (NOK). Bahkan jalan itu dilestarikan sebagai situs warisan budaya dan diklasifikasi sebagai Rute Wisata Nasional.

Baca juga: Norwegian Air Kenakan Biaya Pada Tas Jinjing Per 23 Januari 2020

Ini juga menjadi situs populer yang digunakan untuk iklan otomotif dan dinyatakan sebagai perjalanan darat terbaik di dunia serta dianugerahi gelar sebagai “Konstruksi Abad Ini Norwegia”. Pada tahun 2009, Terowongan Samudra Atlantik dibuka dari Averøy ke Kristiansund.






















“Malu-malu,” PT KCI Akui Langgar Aturan Terkait CCTV di KRL!

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) atau KAI Commuter malu-malu mengakui melanggar aturan terkait ketersediaan kamera CCTV di dalam setiap rangkaian KRL (Kereta Rel Listrik) Commuter Line.

Baca juga: KCI Langgar Aturan Terkait CCTV di KRL? Belajar dari Kasus Pemerkosaan Wanita di Kereta Komuter AS

Dalam tanggapannya kepada KabarPenumpang.com atas pemberitaan terkait ketersediaan CCTV di rangkaian KRL, disebutkan, CCTV di dalam KRL saat ini telah tersedia sekurang-kurangnya satu unit di dalam setiap rangkaian KRL.

Padahal, dalam Peraturan Menteri Perhubungan (PM) nomor 63 tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api, Standar Pelayanan Minimum (SPM) angkutan orang dengan kereta api di perjalanan, pada poin keamanan, KA Perkotaan, termasuk KRL, LRT, dan MRT, minimal menyediakan dua CCTV dalam satu rangkaian kereta.

CCTV-nya juga ditekankan dengan resolusi yang jelas. Jadi, bilamana jumlah ketersediaan CCTV-nya sudah sesuai SPM tetapi resolusinya tidak jelas, itu tetap tidak sesuai aturan.

“Sedang dipenuhi (CCTV di rangkaian KRL) secara bertahap,” jelas Manager External Relations KAI Commuter, Adli Hakim, saat menjawab pertanyaan mengakui tidaknya KAI Commuter sudah sesuai SPM atau tidak dalam menyediakan CCTV di rangkaian KRL. 

Saat ini, lanjut Adli, KAI Commuter mengoperasikan 94 rangkaian KRL per hari di Jabodetabek.

Pemenuhan terhadap SPM juga diupayakan dengan saat ini sudah ada CCTV tambahan di 17 rangkaian KRL yang dilakukan bertahap sejak tahun 2020. “Di 17 rangkaian yang sudah dipasang CCTV tambahan, itu ditambahnya bukan cuma satu lagi, tapi empat tambahan CCTV,” tegasnya.

Sementara itu 500 lebih unit CCTV juga telah terpasang di seluruh stasiun KRL yang berjumlah 80 stasiun di Jabodetabek, jumlah ini telah melebihi standar yang ada di SPM.

Untuk meminimalisir gangguan keamanan dan mengawasi kondisi pengguna di dalam kereta dan stasiun KAI Commuter juga mengerahkan petugas pengamanan. Di dalam setiap rangkaian KRL ada setidaknya 3 orang petugas pengawalan KRL (Walka) yang bertugas. Jumlah ini telah melebihi standar dalam SPM yang mensyaratkan setiap enam kereta atau gerbong diawasi satu orang petugas.

Dengan berbagai upaya pemenuhan aspek keselamatan yang dilakukan KAI Commuter, keamanan dan ketertiban di dalam KRL dapat terjaga.

Kejadian di komuter Philadelphia, Amerika Serikat, tentu dapat diambil sebagai pelajaran untuk pengelola layanan kereta komuter di seluruh dunia. Namun dengan kehadiran petugas frontliner di stasiun dan kereta yang jumlahnya lebih dari 4.000 orang, kejadian tersebut dapat dicegah.

Baca juga: Pohon Tumbang di Stasiun Depok Ganggu Perjalanan KRL, Ada Aturan ‘Ruang Bebas’ yang Dilanggar?

KAI Commuter sejak 2018 juga rutin menggelar sosialisasi dan kampanye mencegah pelecehan seksual dengan tema “Komuter Pintar Peduli Sekitar” dengan mengajak seluruh pengguna untuk waspada terhadap sekitar dan tidak ragu membantu serta melaporkan ke petugas bila melihat ada kejadian-kejadian mencurigakan di kereta maupun stasiun.

Pemenuhan SPM yang dilakukan bertahap oleh KAI Commuter juga senantiasa dilaporkan dan diawasi oleh Kementerian Perhubungan sebagai regulator. Pengawasan dilakukan antara lain dengan proses verifikasi fisik secara rutin, dan evaluasi dari pemerintah kepada KAI Commuter atas pemenuhan SPM.

Sumatera Barat Punya Banyak Perlintasan Sebidang, BTP Lakukan Program Utama Keselamatan

Perlintasan sebidang sampai hari ini masih menjadi masalah dan salah satunya menjadi momok di Sumatera Barat. Kota Padang bahkan mendapat julukan kota sejuta perlintasan sebidang antara jalan raya dan rel kereta api.

Baca juga: Jumlah Perlintasan Sebidang Liar di Indonesia, Tembus Angka 4.000!

Kehadiran perlintasan sebidang ini, di Sumatera bagian barat pada tahun 2021 tercatat total 25 kejadian kecelakaan kereta api. Balai Teknik Perkeretaapian (BTP), kelas II Wilayah Sumatera Barat menyebutkan ada 279 perlintasan sebidang tidak teregister.

Karena hal ini, maka ada kesepakatan penanganan perlintasan sebidang sehingga bisa dilakukan di semua daerah lainnya di Indonesia. Ini pun membuat BTP wilayah Sumatera bagian barat membuat program utama keselamatan yakni memasang pintu perlintasan di semua perlintasan terintegrasi yang kemudian dioperasikan oleh Divre 2 Sumatera Barat.

Kemudian juga akan memasang Early Warning System di perlintasan ilegal yang rawan kecelakaan. Membangun jalan inspeksi sebagai jalan alternatif menuju perlintasan terdekat. Bukan hanya itu, BPT Sumatera Barat juga masih memiliki program lainnya.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Pusat MTI Djoko Setijowarno mengatakan, ada empat hal dengan masalah perlintasan sebidang di Sumatera Barat. Dia menyebutkan, yang pertama adalah memastikan keselamatan dan kemanan di perlintasan sebidang bagi pengguna jalan serta pengoperasian kereta api.

Kedua, berkomitmen untuk melaksanakan perintah peraturan perundang-undangan yang mengatur dan/atau terkait dengan perlintasan sebidang. Ketiga, merencanakan dan merealisasikan peningkatan penataan keselamatan pada perlintasan sebidang menjadi perlintasan tidaksebidang yang menyediakan akses bagi pejalan kaki, menormalisasikan jalur kereta api dalam bentuk penutupan cikal bakal perlintasan sebidang, dan penertiban bangunan liar yang berada di ruang milik jalur kereta api serta pengelolaan perlintasan sebidang.

“Keempat, mendorong masyarakat untuk ikut peduli dan sadar hukum untuk keselamatan di perlintasan sebidang dan jalur kereta api. Kelima, melakukan gerakan tertib berlalu-lintas dan penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu-lintas di perlintasan sebidang. Dan keenam, mensosialisasikan dan mempromosikan budaya keselamatan perkeretaapian di perlintasan sebidang,“ jelasnya.

Baca juga: SENVISYS, Sensor di Perlintasan Sebidang dengan Teknologi Pemantau Getaran

Djoko menambahkan, untuk memperlancar operasional perkeretaapian akan ada tujuh titik di Sumatera Barat dan saat ini berfokus pada tiga lokasi karena sudah selesai feasibility study dan dalam waktu dekat akan dibangun tiga jalan layang atau flyover. Sedangkan empat lokasi lainnya dalam perencanaan untuk feasibility study.

Lebih Murah, Wisata ke Luar Angkasa Naik Balon Udara World View Cuma Rp712 Juta!

Perusahaan bernama World View baru-baru ini menawarkan wisata ke luar angkasa naik balon udara berteknologi tinggi. Harga yang ditawarkan ‘hanya’ sebesar US$50.000 atau sekitar Rp712 juta per orang, jauh lebih murah dibanding wisata ke luar angkasa naik balon udara Space Perspective sebesar US$125 ribu atau setara dengan Rp1,7 miliar.

Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

Usut punya usut keduanya ternyata adalah rekan yang berpindah haluan menjadi lawan. Jane Poynter dan Taber MacCallum, pendiri Space Perspective pada 2020 lalu ternyata juga pendiri World View. Tak heran bila konsep wisata ke luar angkasa yang ditawarkan keduanya sama; sama-sama menggunakan atau naik balon udara.

Meski keduanya mengaku fokus dengan proyek masing-masing, tetapi, tetap saja antara wisata naik balon udara Space Perspective dengan wisata naik balon udara World View memiliki kesamaan konsep bahkan teknologi, mengingat keduanya sama-sama mengadaptasi teknologi dari balon udara yang disebut Voyager dan Stratolit, yang pernah dikembangkan CEO kedua perusahaan itu satu dekade lalu.

Dilansir Space News, penerbangan luar angkasa naik balon udara World View ini akan mencakup delapan orang peseta dan dua awak World View menggunakan Explorer Space Capsule ruang angkasa bertekanan hingga ketinggian 100.000 kaki atau 30 km (stratosfer). Secara total, perjalanan akan berlangsung selama enam hingga 12 jam.

Pertama, perjalanan akan dimulai di pelabuhan antariksa World View yang terletak di Grand Canyon Amerika Serikat, Great Barrier Reef di Queensland Australia, Serengeti di Kenya, tempat di mana terdapat Aurora Borealis di Norwegia, Amazonia di Brasil, Piramida Giza di Mesir dan Tembok Besar China di Mongolia.

“Kami telah memilih untuk membangun jenis pengalaman wisata ruang angkasa yang bereda yang akan memungkinkan banyak orang until melihat kelengkungan Bumi, kegelapan ruang angkasa dan kerapuhan planet kita,” kata CEO World View, Ryan Hartman.

Hartman melanjutkan, prinsip dari wisata ke luar angkasa naik balon udara World View adalah empat hal; tempat, waktu, keterjangkauan, dan aksesibilitas. Tempat, peluncurannya bisa terjadi di banyak tempat. Waktu maksudnya adalah menawarkan durasi wisata ke luar angkasa yang lebih lama, mengingat, kompetitor wisata ke luar angkasa, Blue Origin dan Virgin Galactic hanya menawarkan total durasi tak sampai sejam.

Selanjutnya, prinsip yang ketiga dan keempat yaitu keterjangkauan dan aksesibilitas tentu sangat penting. Ini berkaitan dengan harga dan Hartman berikrar agar wisata ke luar angkasa naik balon udara World View harus lebih murah dibanding yang lain; bahkan terhadap Space Perspective sekalipun, yang memiliki konsep dan mungkin teknologi yang sama.

“Untuk meningkatkan akses manusia ke wisata luar angkasa, kami merasa penting untuk menghargai pengalaman kami agar lebih terjangkau bagi lebih banyak orang,” tambahnya.

“Kami ingin memastikan bahwa itu (balon udara) bisa diakses oleh orang-orang dari semua kemampuan fisik. Kami telah merancang pengalaman untuk menampilkan pendakian dan penurunan yang sangat lembut yang mungkin sebanding dari pada lepas landas dan mendarat pesawat komersial,” ujarnya.

“Selain meningkatkan keterjangkauan dan aksesibilitas, kami juga ingin memaksimalkan nilai pengalaman. Ini datang dalam dua bentuk, waktu dan tempat. Dari perspektif waktu, kami ingin memastikan Anda memiliki waktu sebanyak mungkin di apogee untuk benar-benar menghargai sudut pandang yang menakjubkan ini,” lanjutnya.

Baca juga: Meledak dan Terjun Bebas dari Ketinggian 300 Meter, Kecelakaan Balon Udara di Luxor Menjadi yang Paling Mematikan

“Anda akan menghabiskan lebih dari enam jam melayang 100 ribu kaki melayang di atas bumi, memberi Anda cukup waktu untuk menemukan kembali keindahan dan kerapuhan planet kita,” tutupnya.

Bila tak ada ara melintang, wisata ke luar angkasa naik balon udara World View akan dimulai pada tahun 2024 mendatang. Saat ini, balon udara Explorer Space Capsule sedang disempurnakan sebelum menjalani uji sertifikasi FAA.