Revitalisasi Bandara Halim-Bangun Uji Kendaraan di Bekasi, Ini Outlook Kebijakan Transportasi 2022

Kementerian Perhubungan akan merampungkan pembangunan sejumlah infrastruktur transportasi yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) dan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Hadirkan Kartu dan Aplikasi Integrasi Transportasi, JakLingko Punya Banyak Paket Tarif Hemat

“Hal tersebut menjadi arah kebijakan pembangunan transportasi pada tahun 2022, dalam rangka meningkatkan daya saing global serta berkontribusi dalam pemulihan ekonomi nasional,” kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pada acara Indonesia Economic Outlook 2022 dengan tema “Arah Kebijakan Pembangunan Transportasi Nasional 2022”, Rabu (24/11).

Lebih lanjut, Budi Karya berujar, sejalan dengan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2022, program prioritas pembangunan infrastruktur transportasi telah disusun berdasarkan skala prioritas pembangunan.

Skala prioritas itu di antaranya melanjutkan pengembangan infrastruktur konektivitas yang produktif, memastikan pemenuhan Proyek Prioritas Nasional dan Prioritas Strategis Nasional (PSN), mendukung pemerataan pembangunan nasional, mendukung upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 di sektor transportasi, serta memastikan keberlanjutan layanan transportasi bagi masyarakat dengan mengedepankan aspek kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan transportasi.

Guna percepatan pemulihan ekonomi nasional, sambung Menhub, maka pembangunan juga diarahkan dalam bentuk pembangunan infrastruktur padat karya yang mendukung kawasan industri dan pariwisata, dan didukung dengan peran swasta.

“Kami sangat mendukung peran penting swasta dalam mengoptimalkan pembangunan melalui pembiayaan kreatif, untuk mengurangi ketergantungan terhadap APBN yang terbatas,” jelasnya.

Proyek pembangunan melalui pembiayaan kreatif merupakan proyek yang memenuhi kelayakan secara ekonomi dan finansial. Baik itu melalui skema Kerjasama Pemanfaatan (KSP) dalam pengelolaan infrastruktur transportasi, penugasan kepada BUMN, serta Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan kontribusi pemerintah dalam pengadaan lahan dan pembiayaan sebagian kontruksi.

Sejumlah pembangunan melalui pembiayaan kreatif pun telah dilaksanakan Kemenhub, seperti pengoperasian Pelabuhan Patimban, Pelabuhan Anggrek, pengembangan Bandara Komodo, serta pembangunan jalur kereta api Makasar-Parepare.

Di tahun 2022, beberapa proyek stretegis nasional seperti revitalisasi Bandara Halim Perdana Kusuma, pembangunan Pelabuhan New Ambon dan New Palembang serta pembangunan Proving Ground Uji Kendaraan di Bekasi, bakal dimulai. Semua itu diharapkan dapat mendorong percepatan dan akselerasi pembangunan.

Secara umum, kebijakan infrastruktur transportasi Tahun 2022, diarahkan untuk mewujudkan konektivitas nasional dan efisiensi logistik, meningkatkan kinerja pelayanan pada semua moda transportasi umum dengan indikator keberhasilan tercapainya Indeks Kepuasan Masyarakat dan tingkat On Time Performace (OTP), dan meningkatkan keselamatan transportasi, sebagai upaya menuju zero accident.

Baca juga: Hyperloop, Tawarkan Kecepatan Supersonic Untuk Transportasi Indonesia

Adapun sejumlah capaian kinerja sektor perhubungan pada semester pertama tahun 2021 termasuk telah terbangunnya sistem angkutan umum massal perkotaan pada beberapa kota aglomerasi, penambahan panjang jalur kereta api menjadi 6.326 Km’sp, moderinisasi beberapa pelabuhan strategis, pembangunan 10 bandara baru, serta penambahan rute angkutan tol laut dan jembatan udara.

Pemerintah memperkirakan kondisi perekonomian nasional, pada tahun 2022 berangsur pulih dan tumbuh, seiring dengan keberhasilan penanganan Covid-19. Kondisi tersebut membuka jalan untuk mengakselerasi pergerakan ekonomi yang lebih ekspansif pada tahun 2022.

Antena MIMO+ Tingkatkan Konektivitas Mobile Broadband di Kereta Api

0

Antena SENCITY Rail MIMO+ Rooftop dirancang untuk mendukung potensi throughput data tinggi 4G dan 5G melalui koneksi kereta. Kehadirannya ini akan memungkinkan penumpang melakukan aktivitas digital mereka dengan mulus di dalam kabin.

Baca juga: Hebat, Ternyata Telepon Umum di Jepang Bisa Kirim Email ke Telepon Seluler

Hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan teknologi MIMO (multiple input, multiple output) yang adalah suatu fungsi dan telah didukung oleh sebagian besar radio kereta api modern serta jaringan umum seluler. KabarPenumpang.com melansir globalrailwayreview.com (22/11/2021), dengan didukung teknologi polarisasi ganda, antena SENCITY Rail MIMO+ Rooftop dapat terhubung ke infrastruktur stasiun pangkalan saat bergerak dengan dua aliran sinyal yang sangat terpisah, yang sangat meningkatkan kemungkinan mencapai kondisi MIMO.

Kemudian ini menghasilkan peningkatan rata-rata data-throughput, saat terhubung ke jaringan seluler publik, dengan memaksimalkan algoritme MIMO canggih yang ada pada chipset radio. Untuk layanan konektivitas penumpang, serta layanan sinyal dan kontrol di kereta.

Adanya ini membuat operator sekarang akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan kecepatan konektivitas di seluruh perjalanan. Tak hanya itu, pengalaman digital on-board yang lebih mulus dapat dicapai tanpa perlu pemasangan infrastruktur trackside khusus yang mahal.

“Pasar kereta api sangat mengantisipasi pemanfaatan teknologi MIMO secara maksimal sejak teknologi ini pertama kali diperkenalkan dengan 3G. Sejak itu, operator kereta api dihadapkan pada tantangan bagaimana membuat kecepatan MIMO throughput tinggi menjadi kenyataan dalam sistem komunikasi kereta-ke-darat yang mengandalkan jaringan seluler publik,” kata Daniel Montagnese, Head of Product Management Antennas di HUBER+SUHNER.

Daniel menambahkan, selama proses desain, mereka menilai antena dengan pengujian drive telah menunjukkan peningkatan nyata dalam jumlah kondisi saluran terutama di daerah pedesaan. Sehingga ini sangat meningkatkan kemungkinan MIMO mengarah ke tingkat throughput data keseluruhan yang jauh lebih tinggi.

Baca juga: Saat Kereta Terintegrasi Internet of Things

Dia menambahkan, atap kereta adalah lingkungan yang kompleks dan menantang. Oleh karena itu ketangguhan sama pentingnya dengan kinerja. Antena MIMO+ juga dirancang untuk perlindungan tegangan tinggi dan arus tinggi guna memastikan bahwa energi saluran catenary tidak melewati kabel RF pada antena dan masuk ke kabin kereta, yang akan menjadi bencana bagi peralatan elektronik yang sensitif dan penumpang. Antena SENCITY Rail MIMO+ Rooftop juga memenuhi standar perlindungan kebakaran dan lingkungan berkualitas tinggi.






















Jawara Kapasitas Kursi Terbanyak Maskapai Asia-Pasifik Sepanjang Musim Panas 2021, Lion Air Runner Up

Industri dirgantara global terus merangkak pulih, termasuk di Asia-Pasifik. Laporan Take Off 2021 OAG atau Official Aviation Guide of the Airways baru-baru ini menunjukkan, terdapat lima maskapai di kawasan yang menawarkan kursi penerbangan terbanyak kepada penumpang sepanjang musim panas tahun 2021, mulai dari 28 Maret 2021 – 30 Oktober 2021, dengan closing date per 20 September.

Baca juga: Selain Sabet Rute Domestik Tersibuk, Ini Sederet Prestasi Penerbangan Indonesia di Februari 2021

Menariknya, bertengger di posisi kedua ada maskapai asal Indonesia yang kondang di segmen LCC atau berbiaya rendah, Lion Air.

Dalam laman resmi OAG, Lion Air tercatat menawarkan kursi 13.700.385 atau 60 persen dari periode musim panas tahun 2019 atau pra pandemi, jauh di bawah IndiGo yang berada di puncak dengan tawaran kursi mencapai 37.541.924 atau 73 persen di banding periode tahun 2019.

Di posisi ketiga sampai kelima, berturut-turut ada All Nippon Airways (ANA) dengan total 13.640.518 kursi atau 43 persen dari periode tahun 2019, Japan Airlines dengan 13.542.817 atau 50 persen dari periode tahun 2019, dan Qantas dengan total hanya 7.615.954 kursi atau 43 persen dari periode yang sama tahun 2019.

Capaian di atas diraih maskapai dengan mengoperasikan jumlah armada yang sangat beragam. IndiGo diketahui hanya mengoperasikan 245 pesawat untuk jumlah ketersediaan kursi sebesar itu. Kemudian ada ANA dengan 252 pesawat, Japan Airlines dengan 156 pesawat, Qantas dengan 107 pesawat, dan yang terendah Lion Air hanya dengan 73 pesawat.

Menariknya, dari jumlah ketersediaan kursi terbanyak oleh lima maskapai di atas, hanya Lion Air Indonesia yang tidak dibantu oleh penerbangan internasional. Jadi, 13.700.385 kursi yang disediakan maskapai besutan Rusdi Kirana itu seluruhnya datang dari penerbangan domestik. Tidak ada maskapai lain dalam daftar Asia Pacific Top 5 Carrier versi OAG yang seperti itu.

Disebutkan, capaian ketersediaan kursi terbanyak sepanjang musim panas 2021 oleh IndiGo 95 persennya datang dari penerbangan domestik, sisanya dari penerbangan internasional. ANA, 89 persen datang dari sumbangsih penerbangan domestik dan sisanya internasional. Japan Airlines, 86 persen domestik dan sisanya internasional. Adapaun Qantas, 93 persen domestik dan sisanya internasional.

Lion Air juga mencatat jumlah kursi tersebut dengan hanya mengoperasikan 86 rute domestik, jauh di bawah rute yang dioperasikan sepanjang periode musim panas 2019 di angka 200 rute.

Baca juga: Ternyata Ini Pesawat Narrowbody dengan Mesin Terbesar di Dunia, Dioperasikan Citilink dan Lion Air

Akan tetapi, schedule volatility rate maskapai yang bersaudara dengan Super Air Jet, airline ultra LCC baru juga besutan Rusdi Kirana itu, jauh lebih tinggi dibanding yang lain mencapai 11,8 persen.

IndiGo, dengan ketersediaan kursi sebanyak itu, mengoperasikan rute sebanyak 458 dan schedule volatility rate 2,3 persen, ANA 128 rute dan schedule volatility rate -16,5 persen, Japan Airlines 104 rute dan schedule volatility rate -0,2 persen, serta Qantas Airways 100 rute dan schedule volatility rate 3,4 persen.

Tak Ada Masinis, PT KAI Siapkan Train Attendant di LRT Jabodebek

LRT Jabodebek yang ditargetkan beroperasi Agustus 2022 dan rencananya akan menggunakan sistem kendali otomatis sehingga melaju tanpa masinis. Karena tidak adanya masinis, PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator telah menyiapkan sumber daya manusia yakni train attendant (prama atau prami kereta). Nantinya tugas train attendat adalah untuk memastikan pelayanan keselamatan dan keamanan selama perjalanan.

Baca juga: Pembebasan Lahan Tuntas, LRT Jabodebek dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mengular 2021

“Meski LRT Jabodebek akan beroperasi tanpa masinis, nantinya terdapat dua orang petugas pada setiap rangkaian LRT Jabodebek yaitu satu orang train attendant dan satu orang security,” ujar VP Public Relations KAI Joni Martinus yang dikutip dari siaran pers, Rabu (24/11/2021).

Joni menyebutkan tugas train attendent yakni memastikan segala sesuatu terkait LRT Jabodebek agar berjalan normal. Selain itu mereka juga akan membantu penumpang mendapatkan informasi serta memberikan pelayanan kepada penumpang.

Para train attendent nantinya juga selalu mobile di dalam kereta dan tidak mengoperasikan sarananya dalam operasi normal. Dia menjelaskan, hal ini karena pengoperasian LRT Jabodebek dilakukan secara operasional dari Operation Control Center (OCC) / Backup OCC secara terpusat.

“Pada saat terjadi gangguan, train attendant bertugas untuk mengemudikan dengan kecepatan terbatas dan membuka-tutup pintu LRT Jabodebek,” ujar Joni.

KAI saat ini sedang menyiapkan 123 orang Train Attendant untuk bertugas di 27 rangkaian kereta LRT Jabodebek (empat cadangan). Berbeda dengan masinis, train attendant juga harus mampu berbahasa Inggris. Ini karena selama perjalanan, train attendant akan berinteraksi langsung dengan para pelanggan.

Guna menjamin kualitas train attendant LRT Jabodebek, kualifikasi petugas train attendant tetap mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan No.4/2017 tentang Sertifikasi Kecakapan Awak Sarana Perkeretaapian. Sesuai Peraturan Menteri tersebut, syarat train attendant di antaranya harus sehat jasmani dan rohani serta tidak buta warna.

Sebelum dapat bertugas, para train attendant akan mendapatkan pelatihan selama 2,5 bulan di Balai Pelatihan Teknik Perkeretaapian (BPTP) Sofyan Hadi Bekasi. Jika telah menyelesaikan pelatihan dan lulus uji kecakapan, maka petugas Train Attendant akan mendapatkan sertifikat kecakapan dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Baca juga: LRT Jabodebek Siap Uji Coba, Bagaimana Tarif, Headway dan Kapasitas Keretanya?

“Melalui persiapan yang matang untuk para petugas LRT Jabodebek, diharapkan mampu memberikan pelayanan maksimal bagi pelanggan untuk merasakan transportasi perkeretaapian urban yang paling maju di kawasan Ibu Kota,” tutup Joni.






















Dikelola Perusahaan India Selama 25 Tahun, Bandara Kualanamu Bakal Jadi Hub Internasional Barat Indonesia

GMR Airport, unit usaha dari GMR Infrastructure dikukuhkan sebagai pemenang tender dalam proyek pengembangan dan pengoperasian Bandara Internasional Kualanamu (KNO), Deli Serdang bernilai sekitar 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp85,5 triliun, termasuk investasi dari mitra strategis sedikitnya Rp15 triliun.

Baca juga: Garuda Indonesia Jadikan Kualanamu Hub Penerbangan Domestik Wilayah Barat dan Asia Tenggara

Selama 25 tahun ke depan, perusahaan asal India itu diberi hak untuk mengoperasikan dan mengembangkan Bandara Kualanamu menjadi hub wilayah barat Indonesia, bahu-membahu dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang selama ini menjadi hub utama Indonesia.

GMR Airports akan dibantu Angkasa Pura II (AP II) sebagai sebuah konsorsium di bawah perusahaan joint venture bentukan keduanya, PT Angkasa Pura Aviasi, dalam pola kemitraan 49:51. Perusahaan tersebut bertanggung jawab untuk mengembangkan, memperluas, dan mengoperasikan bandara.

Chairman GMR Group Energy and International Airports, Srinivas Bommidala, mengatakan, “GMR Airports Limited senang telah diumumkan sebagai pemenang tender untuk pengembangan dan pengoperasian Bandara Internasional Kualanamu di Medan, Indonesia,” katanya.

“Proyek ini menandai masuknya GMR Airports di sektor Penerbangan Indonesia yang berkembang pesat, terbesar di ASEAN dan pasar yang potensial. Kemenangan tender juga memperkuat kredensial GMR Group sebagai salah satu pengembang dan operator bandara terbesar di dunia,” lanjutnya, seperti dikutip dari Airport Technology.

Setelah beberapa hari pasca dtetapkan sebagai pemenang tender, Awarding Ceremony Strategic Partnership Kualanamu International Airport akhirnya dilaksanakan di kantor Kementerian BUMN Jakarta pada 23 November 2021 lalu.

Acara tersebut dihadiri oleh Wamen BUMN II Kartika Wiroatmodjo, Direktur PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero), para Direktur dan Komisaris PT Angkasa Pura II (Persero) serta Presiden Direktur GMR Indonesia.

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin menjelaskan, AP II menetapkan sejumlah kriteria yang harus dipenuhi mitra strategis di Bandara Internasional Kualanamu. Dia menuturkan, kriteria yang harus dipenuhi yaitu memiliki pengalaman dan jaringan baik airport maupun maskapai.

Baca juga: PT Angkasa Pura 2 Tawarkan Paket Investasi Rp11 Triliun di Bandara Kualanamu

Dengan begitu menurut Awaluddin, Bandara Internasional Kualanamu nantinya akan menjadi bagian jaringan tersebut dan bersinergi dalam pengembangan rute maupun layanan baik kepada maskapai, penumpang maupun kargo.

Awaluddin mengatakan, pengembangan di Bandara Internasional Kualanamu difokuskan memperkuat konektivitas internasional dan turut melibatkan swasta untuk mewujudkan 3E yaitu Expansion the traffic, Expertise sharing dan Equity partnership. “Trafik penerbangan akan meningkat, lalu akan ada alih teknologi dan keahlian, serta berbagi porsi modal di Bandara Internasional Kualanamu,” ujar Awaluddin dalam keterangan resminya.

Penumpang Pesawat Mesti Jeli, Ini Kelemahan e-Boarding Pass yang Merepotkan

Sudah sejak beberapa tahun ini, bandara-bandara yang dikelola Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II menerapkan sistem e-boarding pass. Layanan ini dinilai sangat memudahkan penumpang pesawat karena tak lagi perlu mencetak lembar tiket. Tetapi, di balik itu, ternyata ada kelemahan yang pada akhirnya merepotkan penumpang, khususnya penumpang group.

Baca juga: Lengkapi Self Check in Kiosk, Self Baggage Kini Hadir di Terminal1C Bandara Soekarno-Hatta

Ketika pertama kali layanan e-boarding pass hadir di bandara-bandara besar, itu tak lantas menyelesaikan masalah. Justru mendatangkan masalah baru. Salah satu penumpang maskapai pernah mengeluh bahwa petugas di T3 Bandara Soekarno-Hatta justru tetap meminta penumpang mencetak tiket sekalipun ia sudah menunjukkan e-boarding pass.

PT Angkasa Pura II mengaku, pemberlakuan e-Boarding Pass di bandara sudah disosialisasikan, jadi para pengguna jasa penerbangan tidak perlu lagi mencetak tiket pesawatnya.

Hal ini dilakukan untuk mempermudah para penumpang pesawat dan mengurangi antrean di check-in counter. Para penumpang pesawat juga dapat melakukan web check-in dimanapun mereka berada sebagai langkah untuk memberikan kenyamanan untuk penumpang.

Masalah ini (polemik terkait penumpang perlu mencetak tiket atau tidak meski sudah menunjukkan e-boarding pass) pada akhirnya selesai setelah diluruskan oleh maskapai yang bersangkutan bahwa penumpang yang sudah menunjukkan e-boarding pass tidak lagi perlu mencetak tiket.

Akan tetapi, setelah dua tahun berlalu, sejak pertama kali diterapkan pada awal tahun 2018 lalu, sistem e-boarding rupanya masih ada celah kelemahan yang ujungnya sangat merepotkan penumpang, terkhusus penumpang group.

Dalam pantauan tim KabarPenumpang.com beberapa waktu lalu di Bandara I Gusti Ngurah Rai, setidaknya ada dua kali insiden penumpang kerepotan akibat layanan e-boarding pass ini. Saat itu, salah satu penumpang group maskapai Citilink tersebut hendak melewati boarding gate dengan cara men-scan e-boarding pass. Tetapi aksesnya ditolak.

Menurut keterangan dari petugas, e-boarding pass penumpang tersebut sudah digunakan oleh penumpang lain yang sudah pasti rekannya, mengingat mereka adalah penumpang group atau tiket group.

Di tengah ramainya penumpang yang memadati bandara, penumpang tersebut -atas saran dari petugas- harus men-scan satu per satu e-boarding pass milik rekan tiketing groupnya sebanyak 20 tiket atau orang. Selain menyita waktu, ini tentu jauh keluar dari esensinya, memudahkan penumpang saat boarding.

Sebagai informasi, saat ini, ada setidaknya 25 bandara di Indonesia yang sudah menerapkan sistem e-boarding pass.

Baca juga: Ada Nomor Identitas di Tiket dan Boarding Pass Kereta? Ini Penjelasan dari PT KAI

25 bandara itu adalah Husein Sastranegara International Airport, Sultan Iskandar Muda International Airport, Soekarno-Hatta Airport, Sultan Thaha Airport, Silangit International Airport, Kualanamu International Airport, Padang Minangkabau International Airport, Depati Amir Airport, Sultan Syarif Kasim II Airport, Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport, Supadio International Airport, Raja Haji Fisabilillah International Airport, dan I Gusti Ngurah Rai.

Kemudian Bandara Patimura, Bandara Adi Soemarmo, Bandara Zainuddin Abdul Madjid, Bandara Syamsudin Noor, Bandara Sam Ratulangi, Bandara Frans Kaisiepo, Sam Sepinggan International Airport, Bandara Adi Sutjipto, Bandara Internasional Juanda, Bandara El Tari, Bandara Ahmad Yani, dan Hasanuddin International Airport.

HyperloopTT Luncurkan ‘Pengalaman’ Kabin Penumpang

Siapa yang tak kenal dengan teknologi Hyperloop? Rasanya teknologi besutan Elon Musk tersebut masih booming dan ditunggu kehadirannya secara nyata pada transportasi masa depan. Bahkan baru-baru ini, Teknologi Transportasi Hyperloop (HyperloopTT) sudah meluncurkan pengalaman kabin penumpangnya di perhelatan China International Import Expo di Shanghai.

Baca juga: Ini Wujud Pod Terbaru Virgin Hyperloop yang Bakal Mejeng di Dubai Expo 2020

Peluncuran tersebut dikatakan perusahaan bahwa mereka berencana memasang kapsul skala penuh dalam sistem prototipe penumpang komersial pertamanya. KabarPenumpang.com melansir autoevolution.com (18/11/2021), pod dengan kecepatan laju mirip dengan pesawat komersial ini akan menghubungkan kota-kota dalam hitungan menit terdengar seperti sesuatu yang mustahil.

Tetapi meski begitu bukan hanya Elon Musk, namun ada banyak perusahaan yang bekerja untuk mewujudkan visi ini. Untuk diketahui, sistem teknologi Hyperloop yang diusulkan oleh HyperloopTT telah membuat kemajuan yang signifikan sejak pertama kali diperkenalkan perusahaan tahun 2013 lalu.

Beberapa tahun lalu, perusahaan yang berbasis di Los Angeles ini mengumumkan bahwa mereka mengembangkan jalur uji skala penuh dan belum lama ini meluncurkan HyperPortnya yang dirancang untuk transportasi barang. Dan sekarang HyperloopTT menunjukkan kepada dunia untuk pertama kalinya seperti apa kapsul skala penuh milik mereka.

Desainnya berfokus pada keselamatan, kenyamanan, hiburan, dan produktivitas, termasuk material dan teknologi mutakhir, yang menawarkan pengalaman mendalam kepada orang-orang. Interior kabin terbuat dari bahan yang tahan lama, serta dapat menampung hingga 30 penumpang. Selain itu, ini memiliki akomodasi untuk pelancong yang dibantu. Memiliki cukup ruang untuk kompartemen bagasi, snack bar dan toilet.

Ada juga skylight buatan dengan mode siang dan malam yang akan membuat penumpang tidak merasa sesak. Karena merupakan ruang tertutup, HyperloopTT juga memperkenalkan pembersih udara yang mampu menghilangkan mikroba, virus dan bakteri berbahaya. Untuk memberikan pengalaman perjalanan yang ramah, area setiap penumpang sepenuhnya dipersonalisasi.

Selain itu, speaker sandaran kepala yang disematkan dengan teknologi peredam bising akan memberikan pengalaman suara yang imersif kepada orang-orang. Setiap kursi akan memiliki kamera untuk pengenalan wajah dan tablet layar sentuh individual. Juga akan ada kontrol iklim mikro yang dapat disesuaikan, dan penumpang akan dapat mengisi daya perangkat mereka secara nirkabel.

Nantinya, mereka akan dapat mencerminkan perangkat mereka dan menggunakan identifikasi biometrik untuk memasangkan tampilan dalam kapsul dengan data mereka sendiri. HyperloopTT berencana untuk mengintegrasikan kapsul ke dalam sistem prototipe penumpang pertamanya. Namun, tidak ada kabar kapan perusahaan akan benar-benar menggunakan hyperloop.

Baca juga: Pernah Uji Coba Angkut Penumpang, Kini Apa Kabar Virgin Hyperloop?

“Di luar konsep dan visi, tim dan mitra kami telah menciptakan evolusi nyata dari pengalaman penumpang yang selesai dan siap untuk dibangun dan diintegrasikan ke dalam sistem HyperloopTT di seluruh dunia,” kata CEO HyperloopTT Andres De Leon.






















Rasa Tak Sesuai dengan Harga, Ini Kata Warganet Tentang Bubble Tea di Kereta Cepat Cina

Bubble tea menjadi salah satu minuman yang sedang tren saat ini selain varian kopi. Bahkan kereta api pun ikut menghadirkan bubble tea dalam perjalanan mereka agar penumpang yang tengah bepergian bisa menikmati sembari bersantai.

Baca juga: Gerai Bubble Tea Tidak Masuk Daftar untuk Izin Buka pada 12 Mei di Singapura

Salah satu kereta api yang menghadirkan bubble tea ini adalah perusahaan katering di bawah China Railway Guangzhoun Group Company. Di mana pada Selasa (16/11/2021) kemarin perusahaan katering ini mengatakan bahwa harga bubble tea yang disediakan di kereta berkecepatan tinggi seharga 26 yuan atau sekitar Rp58 ribu adalah harga yang wajar.

Bahkan mereka mengatakan ini akan meningkatkan kualitas produk sebagai tanggapan atas umpan balik penumpang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman globaltimes.cn (17/11/2021), beberapa warganet sebelumnya menyatakan ketidakpuasan mereka dengan bubble tea yang ada di kereta berkecepatan tinggi itu di media sosial.

Seorang warganet bernama Shezhu Jiebanren mengatakan di Twitter Cina yakni Weibo bahwa harga 26 yuan tidak cocok dengan minuman yang disajikan di kabin. Dia mengaku bahwa rasanya lebih buruk dari bubble tea instan.

Warganet lain mengklaim bahwa harga bubble tea tidak begitu penting, tetapi rasanya tidak sesuai dengan harga yang ditawarkan. Warganet bernama “Yiwang de Qingchun” juga menyebut kemasan minuman tersebut tidak menarik.

Operator kereta api Cina di Provinsi Guangdong Cina Selatan mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah menyediakan bubble tea masing-masing dengan 26 yuan di kereta berkecepatan tinggi antara Guangdong dan Provinsi Hunan di Cina Tengah, menurut akun WeChat resmi operator. Operator menyebutkan bahwa bubble tea pertama kali tersedia pada pertengahan Oktober tahun ini dengan sekitar 3.000 cangkir terjual setiap hari.

Baca juga: Jepang dan Cina Berlomba Dalam Teknologi Kereta Berkecepatan Tinggi

Operator kereta api Guangzhou mengatakan bahwa harga teh bubble memperhitungkan biaya produksi, penjualan dan transportasi. Operator mencatat bahwa menyajikan minuman di atas kereta berkecepatan tinggi juga meningkatkan biaya. Direktur perusahaan katering mengatakan mereka akan menerima umpan balik dari penumpang dan meningkatkan kualitas teh gelembung.

Potensi Ganggu Altimeter Pesawat, Kanada Larang Antena 5G di Bandara!

Departemen Inovasi, Sains, dan Pengembangan Ekonomi Kanada (ISED) dalam waktu dekat akan mengeluarkan kebijakan pembatasan konektivitas jaringan 5G di bandara, tepatnya di sekitar runway dimana pesawat lepas landas dan mendarat. Antena 5G diklaim berpotensi mengganggu kinerja radar altimeter.

Baca juga: Studi Terbaru: Teknologi 5G Bahayakan Radar Altimeter Pesawat Sipil

Langkah ini akan memengaruhi sekitar 26 bandara di seantero Kanada. Namun, penumpang pesawat tak perlu khawatir. Sebab, yang dilarang hanya antena 5G di sekitar runway atau lebih jelasnya di luar gedung dan sebaliknya antena 5G di dalam gedung bandara masih diizinkan.

Dilansir notebookcheck-net, kebijakan Kanada dalam membatasi konektivitas 5G di bandara tak lepas dari kebijakan sekutu terdekat mereka, Amerika Serikat (AS). Negeri Paman Sam, melalui Administrasi Penerbangan Federal (FAA) memutuskan menunda rencana peluncuran 5G Verizon dan AT&T pada spektrum C-Band.

Disebutkan, BTS 5G dalam ruangan masih dapat hadir untuk dinikmati penumpang, tetapi antena luar yang beroperasi di spektrum midband 3,45 -3,65 GHz akan dilarang.

Masalah dengan konektivitas 5G di atau dekat bandara adalah antena diklaim berpotensi mengganggu radar altimeter. Meski bentuknya kecil, radar altimeter bersatu dengan instrumen lainnya untuk mengambil peran penting dalam keselamatan dan keamanan penerbangan.

“Jika semua stasiun pangkalan menghasilkan emisi palsu -30 dBm/MHz dengan penguatan antena stasiun pangkalan 0 dBi, ISED setuju bahwa masalah interferensi in-band di altimeter radio akan diminimalkan atau berpotensi dihilangkan secara signifikan,” kata juru bicara ISED.

“ISED dapat mempertimbangkan batas emisi palsu yang lebih ketat untuk rentang 4200-4400 MHz dalam revisi RSS-192 di masa mendatang. Sampai saat itu, interferensi in-band dari emisi palsu base station tidak dapat dikesampingkan,” lanjutnya.

ISED tetap berpandangan bahwa, dalam konteks kebijakan teknis dan spektrum Kanada untuk pita 3500 MHz, studi yang tersedia untuk umum, termasuk hasil perhitungan ISED, menunjukkan potensi interferensi berbahaya pada altimeter radio dari operasi 5G.

Baca juga: FAA Akui Jaringan 5G Ancam Keselamatan Penerbangan

ISED menyebut, kebijakan larangan antena 5G di Kanada masih akan terus berlaku sampai waktu yang tidak dapat ditentukan, kendati berbagai elemen masyarakat mendesak agar Oktober 2022 kebijakan tersebut disudahi.

Sebelumnya, pada awal November lalu, FAA mengakui bahaya dari jaringan 5G terhadap keselamatan penerbangan. Jaringan 5G dinilai menggangu kinerja radal altimeter pesawat. Karenanya, dalam waktu dekat, regulator penerbangan sipil AS itu akan mengeluarkan peringatan resmi terkait hal ini.

Hi Fly Sukses Daratkan Pesawat Airbus A340 Pertama di Benua Antartika, Bawa Misi Sekali Seumur Hidup

Spesialis wet lease asal Portugal, Hi Fly, sukses mendaratkan pesawat Airbus A340 pertama di Benua Antartika. Ini dilakukan untuk mempersiapkan pengalaman tinggal di benua beku tersebut sekali seumur hidup selama musim dingin setiap tahun antara November sampai Januari.

Baca juga: Tak Ingin Ratapi Nasib, Hi Fly Ubah Airbus A380 Jadi ‘Varian’ Kargo Pertama di Dunia

Pesawat Airbus A340 Hi Fly dengan nomor registrasi 9H-SOL diketahui bertolak dari Cape Town ke Wolf’s Fang Runway, Antartika dan kembali ke bandara yang sama pada 2 November lalu, atas kerjasama dengan operator tur spesialis Antartika, White Dessert, untuk membawa 23 penumpang dan sejumlah kargo.

Biasanya, White Desert menggunakan pesawat Gulfstream 550 untuk membawa sejumlah perlengkapan dan peralatan camp musim dingin di Antartika. Tetapi, tahun ini mereka menginginkan pengalaman yang lebih luas dan membutuhkan banyak tambahan perlengkapan. Otomatis, mereka juga butuh pesawat yang lebih besar untuk efisiensi.

Perjalanan pesawat A340-300 berusia 19 tahun -yang sudah bergabung dengan Hi Fly sejak tahun 2018 silam- dari Cape Town ke Antartika ditempuh selama 5 jam 10 menit saat berangkat dan 5 jam 20 menit saat kembali.

Mengingat tidak adanya stasiun pengisian bahan bakar, Hi Fly sudah membekali pesawat tersebut dengan 77 ton Avtur saat keberangkatan untuk penerbangan pulang.

“9H-SOL adalah A340-313HGW (Berat Kotor Tinggi) dengan berat lepas landas maksimum 275 ton. Ini adalah pesawat yang memberikan, setiap saat. Kuat, nyaman dan aman, berkinerja baik di lingkungan ini. 4 mesin redundansi dan jangkauan yang sangat jauh, menjadikannya pesawat yang ideal untuk jenis misi ini,” kata Kapten Carlos Mirpuri, wakil presiden Hi Fly, seperti dikutip dari Simple Flying.

Mirpuri, yang juga kapten pilot dalam misi pendaratan Airbus A340 pertama di Antartika itu, menjelaskan upaya pendaratan di atas lapisan es biru benua paling Selatan tersebut bukan perkara mudah.

Baca juga: Teka-Teki Pesawat Dilarang Terbang di Atas Antartika, Ternyata Gegara Hal Ini

Menjelang landing di Bandara Antartika, lanjutnya, sebuah mobil survei terlebih dahulu mengecek kondisi runway semata untuk memberi informasi kondisi tentang apapun yang dibutuhkan pilot untuk mensukseskan pendaratan. Berkat kerja keras tim, Hi Fly akhirnya sukses mendaratkan pesawat Airbus A340 pertama di Benua Antartika.

Pasca kesuksesan ini, Hi Fly bisa dibilang kebanjiran order. Ke depan, pesawat A340 maskapai akan mengantar lebih banyak orang untuk penerbangan wisata, transportasi ilmuan atau tim peneliti, dan mengirim kargo penting dalam jumlah besar ke Antartika.