Damri Uji Coba Bus Listrik di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Indonesia beberapa kali sudah mulai uji coba bus listrik yang digunakan untuk mengangkut penumpang. Salah satu yang sudah mulai uji coba operasional adalah milik PT Transportasi Jakarta atau TransJakarta.

Baca juga: Satu Armada Bus LIstrik Kembali Diuji Coba TransJakarta di Rute Blok M–Balaikota

Mengikuti jejak TransJakarta, Damri pada perayaan ulang tahunnya ke 75 tahun melakukan uji coba operasional bus listrik (shuttle bus) di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Peluncuran bus listrik untuk uji coba itu dilakukan, pada Kamis (5/11/2021).

Direktur utama Damri Milatia Moemin mengatakan, pengoperasian bus listrik adalah mewujudkan komitmen untuk turut serta berkontribusi mencapai target kendaraan listrik berbasis baterai yang mencapai 20 persen populasi kendaraan di Indonesia tahun 2025 mendatang. Selain itu Milatia mengatakan, dengan kendaraan berbasis listrik juga menurunkan emisi gas buang hingga 29 persen tahun 2030.

Milatia menyebutkan, uji coba operasional bus listrik ini sudah melalui pengkajian dan penggunaan pada trayek reguler dari dan ke bandara guna memastikan kendaraan tersebut aman dan dapat beroperasi.

“Bus listrik yang Damri operasikan merupakan hasil kerja sama dengan PT Energi Makmur Buana dengan merek Edison Motors dan kerja sama dengan PT Sokonindo Automobile dengan merek mikro bus DFSK. Keduanya telah memenuhi standar kualitas bodi dan komponen motor listrik serta baterai yang telah teruji,“ ujar Milatia.

Dia menambahkan, nantinya jika seluruh kebijakan terkait kendaraan listrik sudah ditetapkan, maka Damri siap untuk mengimplementasikannya sejalan dengan keharusan perusahaan untuk bersikap adaptif atas tantangan masa depan. Milatia mengatakan, Damri terus berinovasi dengan penggunaan alat produksi yang lebih ramah lingkungan, resiliensi, berkelanjutan, modern dan berbasis teknologi mutakhir untuk mendukung konektivitas transportasi darat.

Baca juga: PT INKA Punya Bus Listrik dan Kini Diuji Coba di Jakarta oleh PT TransJakarta

Selain dua perusahaan tersebut, Milatia menyebutkan bahwa Damri sangat terbuka untuk seluruh operator transportasi yang ingin melakukan kerja sama untuk penggunaan kendaraan listrik jenis micro bus atau lainnya.






















Hari Ini, 42 Tahun Lalu, Ratusan Jamaah Haji Tewas Terpanggang di Pesawat PIA Flight PK740

Pada hari ini, 42 tahun lalu, bertepatan dengan 26 November 1979, ratusan jamaah haji tewas terpanggang setelah pesawat yang mereka tumpangi, Boeing 707 Pakistan International Airlines (PIA), terbakar di udara dan jatuh menabrak perbukitan berbatu di Taif, Arab Saudi. Ini jadi kecelakaan pesawat terburuk ketiga di Arab Saudi dan kecelakaan Boeing 707 paling mematikan ketiga.

Baca juga: Hari Ini, 58 Tahun Lalu, Presiden Kennedy Ditembak Mati-Jadi Hari Terburuk Air Force One

Dilansir aviationsafety.net, pesawat dengan nomor penerbangan PK740 itu berangkat dari Bandara Internasional Jeddah, Arab Saudi, pada pukul 1:29 siang waktu setempat menuju Bandara Internasional Karachi, Pakistan.

Ada 156 orang dalam pesawat nahas tersebut, terdiri dari 145 penumpang atau jamaah haji dan sisanya adalah kru. Setelah lepas landas, pesawat terus climbing ke ketinggian 37 ribu kaki atau sekitar 11 ribu meter.

Pukul 1:47, first warning terjadi setelah pramugari melaporkan adanya kebakaran di pintu belakang pesawat. Seketika, situasi di dalam kabin ricuh dan sangat dilanda kepanikan sampai-sampai kru sulit untuk melakukan langkah-langkah keselamatan sesuai prosedur yang berlaku.

Pilot lantas mengkomunikasikan kejadian ini ke petugas ATC dan diizinkan turun perlahan ke ketinggian 30 ribu kaki, terus turun sampai ketinggian 4 ribu kaki. Pilot juga meminta izin untuk return to base ke Jeddah lantaran asap kebakaran menyelimuti kabin dan kokpit.

Pukul 2.03, pilot mulai beteriak “Mayday! Mayday!” dan tak lama kemudian situasi menjadi sunyi. Petugas ATC sudah mencoba memanggil kru dan tidak ada jawaban. Satu menit kemudian, pesawat dengan nomor registrasi AP-AWZ itu dilaporkan jatuh menabrak bukit berbatu dan meledak, 48 km di Utara Taif, Arab Saudi. Semua, baik kru maupun penumpang, tewas.

Kecelakaan ini disebut sebagai kecelakaan terburuk ketiga di tanah Arab Saudi dan kecelakaan terburuk ketiga yang melibatkan Boeing 707.

Hasil investigasi dari pihak berwenang, terdapat beberapa kemungkinan penyebab terjadinya kebakaran di dalam pesawat nahas jamaah haji itu.

Dugaan pertama, asal mula kebakaran datang dari kebocoran kompor minyak yang dibawa oleh jamaah haji. Ini memang bisa saja terjadi mengingat di masa itu, teknologi dan prosedur skrining barang belum terlalu canggih atau ketat sehingga barang-barang yang tak semestinya ada di kabin lolos.

Baca juga: Hari Ini, 29 Tahun Lalu, Kecelakaan Terburuk di Nepal PIA Flight 268 Terjadi Gegara Pilot Lalai Ikuti Prosedur

Minyak tanah yang dibawa oleh penumpang tersebut kemudian, akibat adanya perbedaan tekanan, memicu api dan terjadilah kebakaran.

Dugaan kedua, konsleting listrik. Namun, ini sulit dicari kebenarannya lantaran sirkuit listrik Boeing 707 sudah dirancang untuk mencegah terjadinya kebakaran saat konsleting listrik terjadi. Dugaan ketiga yang juga sulit diterima adalah sabotase dari orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Punya Bagasi Sepeda, Inilah KA Sibinuang dari Tanah Minang

Kereta api Sibinuang merupakan kereta api penumpang lokal kelas ekonomi AC. Kereta yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) ini masuk dala Divisi Regional (Divre) II Sumatera Utara yang melayani kota Padang menuju Naras.

Baca juga: Beroperasi Q1 2018, Kereta Bandara Minangkabau Adopsi Kereta Rel Diesel Listrik

Kereta yang mulai beroperasi sejak 1 Desember 2008 lalu, belum lama ini, kereta Sibinuang juga memberikan layanan tambahan bagi pesepeda yakni bagasi untuk kereta non lipat. Kehadiran bagasi sepeda tersebut ditandai dengan Grand Launching di kawasan Stasiun Simpang Haru Padang, Sabtu (20/11/2021) pagi. Layanan bagasi sepeda bagi penumpang pesepeda tersebut akan diberikan pada penumpang KA Sibinuang dari Stasiun Padang-Pariaman-Naras (PP).

“Awalnya saya dapat info KA Sibinuang bisa membawa sepeda justru dari Walikota Pariaman, Genius Umar. Ini merupakan inovasi dari PT. KAI Divre II Sumbar yang mengakomodir permintaan Waliktoa Pariaman, Genius Umar agar KA Sibunuang bisa membawa sepeda, sehingga pecinta sepeda bisa bersepeda ke Kota Pariaman dengan biaya murah,” kata Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy yang dikutip dari berbagai laman sumber.

Audy berharap dengan aktifnya transportasi masyarakat yang murah tersebut juga mampu diaktifkan kembali sebagai upaya pengembangan potensi daerah antar kabupaten/kota di Sumbar yang telah memiliki jalur kereta api yang sudah lama tidak aktif. Walikota Pariaman, Genius Umar menyambut baik adanya inovasi dari PT. KAI dengan memberikan fasilitas bagasi sepeda. Menurut Genius, inovasi itu akan menumbuhkan minat masyarakat dan pengguna transportasi untuk memilih kereta api sebagai transportasi andalan dan memenuhi keinginan masyarakat.

“Ini bisa menjadi peningkatan ekonomi nantinya bagi pedagang dan masyarakat Kota Pariaman,” ujar Genius.

Genius juga sampaikan permintaannya ke pihak PT. KAI, untuk mengoptimalkan kembali angkutan kereta api sebagai pengangkut minyak sawit mentah. Menurut Genius, dahulunya minyak sawit mentah tersebut pernah dibawa menggunakan kereta api dari Stasiun Naras Pariaman menuju Pelabuhan Teluk Bayur Padang.

Baca juga: “Lembah Anai,” Jadi Railbus Ketiga yang Dioperasikan PT KAI

Diaa menilai, upaya ini mampu membuka kesempatan kerja baru dan lowongan kerja baru dalam pemenuhan dan pemerataan ekonomi dan mengurangi angka pengangguran, dan Kota Pariaman siap untuk pengaktifan kembali gudang penampungan minyak sawit mentah tersebut.






















Kapan Australia dan Selandia Baru Izinkan Warga dan Wisatawan Berdatangan? Ini Jawabannya

Australia dan Selandia Baru menjadi salah satu negara yang paling ketat dalam melakukan pencegahan penularan virus Corona. Sampai saat ini, wisatawan dan warga negara yang masih berada di luar negeri belum juga diizinkan kembali. Lantas, sampai kapan?

Baca juga: Bandara Sydney Dibuka Setelah 20 Bulan Lockdown, Disambut Tangis Penumpang

Dilansir Euronews, setelah sekian lama menutup diri dari dunia luar perlahan Selandia Baru mulai melonggarkan kebijakan. Menteri Urusan Covid-19 Selandia Baru, Chris Hipkins, pada 24 November lalu mengumumkan mulai 17 Januari 2022 mendatang, warga Selandia Baru yang berada di Australia dan sudah divaksin dua dosis diizinkan masuk.

Itu kemudian diikuti oleh seluruh warga negara Selandia Baru lainnya di seluruh dunia untuk kembali mulai tanggal 14 Februari 2022.

Kelompok terakhir yaitu wisatawan asing yang diizinkan masuk dimulai pada 30 April 2020. Semuanya, baik warga negara Selandia Baru yang berada di Australia, negara lain, sampai wisawatan asing, harus sudah divaksinasi dua dosis. Selandia Baru juga belum lama ini mengumumkan kebijakan wajib vaksin bagi seluruh warga negara, menjadikannya sebagai yang pertama di antara negara-negara maju.

Terkhusus untuk wisawatan asing, vaksinasi dua dosis saja tidak cukup. Mereka juga harus melakukan test PCR dan isolasi mandiri selama tujuh hari sebelum melenggang bebas ke penjuru negeri.

Sebelumnya, Selandia Baru berencana membuka perbatasan internasional sebelum perayaan Natal dan Tahun Baru. Tetapi, berhubung kasus Covid-19 meningkat tajam di Eropa, hal itu urung dilakukan.

Sementara itu, Australia, sudah lebih dahulu mengizinkan warga negaranya di seluruh dunia yang sudah divaksin dua kali kembali.

Sejak 1 November 2021, persyaratan karantina mandiri dan berbagai prosedur rumit lainnya bagi kedatangan internasional sudah tidak berlaku bagi mereka yang sudah mendapat vaksinasi dua dosis.

Perdana Menteri Scott Morrison pada hari Senin lalu menjelaskan, mulai 1 Desember mendatang, pemilik visa yang divaksinasi lengkap, termasuk pelajar internasional, pekerja terampil, dan wisawatan diizinkan masuk Sydney dan Melbourne.

Baca juga: Ditelantarkan Setahun di Bandara Soekarno-Hatta, Pengungsi Suriah ini Telah Sukses di Selandia Baru

Diharapkan langkah tersebut akan memberikan dorongan kepada industri yang bergantung pada tenaga kerja musiman, setelah laporan petani Australia harus gigit jari lantaran buah dan sayuran membusuk di ladang karena kekurangan pekerja asing.

Meski begitu, berbagai jasa tour dan wisata ke Australia masih ditutup sampai waktu yang belum ditentukan. Ini dianggap mampu menahan laju sporadis jutaan wisatawan yang tak sabar menjelajah penjuru Benua Australia.

Beli Tiket Pesawat Offline di Bandara Lebih Murah, Benarkah?

Era digital mendorong penumpang pesawat membeli tiket secara online. Itu dianggap lebih mudah tanpa perlu repot-repot ke bandara atau loket untuk membelinya, baik di hari H ataupun sebelumnya. Namun, keduanya disebut memiliki konsekuensi yang berbeda, dimana membeli tiket secara offline lebih murah dibanding membeli tiket lewat online. Benarkah?

Baca juga: Siap-siap, Tiket Pesawat Bakal Naik Gegara Harga Avtur Melonjak 70 Persen

Menurut video viral di TikTok, membeli tiket pesawat secara offline lebih murah dibanding online sangat mungkin terjadi. Dengan catatan, hanya bagi maskapai ultra LCC semisal Allegiant Air, Frontier Airlines, dan Spirit Airlines atau maskapai lain yang mengenakan Electronic Carrier Usage Charge untuk pembelian tiket secara online.

Allegiant Air membebankan kepada penumpang Electronic Carrier Usage Charge untuk pemesanan tiket penerbangan secara online. Di laman resmi maskapai, disebutkan “tarif yang tertera sudah termasuk biaya penggunaan elektronik sebesar US$18 per penumpang, per segmen, berlaku untuk semua reservasi maskapai yang dipesan melalui situs web atau call center,” jelasnya.

Menariknya, menurut airfarewatchdog, Allegiant Air juga memberikan antitesa atau kebalikan dari charge tambahan untuk penumpang yang membeli tiket secara online.

Disebutkan, Allegiant sering menawarkan diskon penerbangan pulang-pergi untuk penumpang yang membeli tiket secara online di laman web resmi. Diskon serupa terkadang tak berlaku untuk pembelian tiket offline di loket-loket pembelian resmi.

@mcmillansonthego

#flighthacks #traveltiktok #traveltips #saveonflights #saveontravel #travelchronicles

♬ Paradise – Bazzi

Selain Allegiant, Frontier Airlines juga membebankan Carrier Interface Charge berkisar US$4 hingga US$21 per perjalanan kepada penumpang yang membeli tiket secara online.

Frontier menyebut, biaya ini (Carrier Interface Charge) sebagai harga tarif standar yang ditampilkan maskapai penerbangan secara online. Airfarewatchdog mengatakan, maskapai tersebut juga memiliki jam operasional konter terbatas sehingga menyulitkan penumpang membeli tiket secara offline.

“Aturan umum adalah bahwa loket tiket akan dibuka dua jam sebelum jadwal keberangkatan, dan saya berencana untuk sampai di sana tepat saat loket dibuka untuk menghindari antrean panjang. Jika tidak ada penerbangan lain, konter tiket biasanya tutup 45 menit sebelum keberangkatan,” tulisnya.

Serupa dengan dua di atas, penumpang Spirit Airlines juga harus membayar Carrier Interface Charge sebesar US$22,99 per perjalanan untuk setiap pembelian tiket secara online.

Biaya ini dapat dihindari dengan memesan penerbangan di loket tiket Spirit Airlines di bandara. Namun, bukan berarti pembelian tiket secara offline di bandara tidak dikenakan biaya tambahan.

Baca juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Disebutkan, biaya-biaya lain seperti Regulatory Compliance Charge and Fuel Charge akan tetap ditagih oleh maskapai ketika penumpang membeli tiket mereka di bandara. Menariknya, dua biaya itu terkadang tidak dikenakan bagi pembelian tiket secara online.

Di luar tiga maskapai itu, seperti Delta Airlines, United Airlines, dan Southwest Airlines, yang notabene tidak mengenakan biaya pemesanan online, pembelian tiket secara offline maupun online hasilnya sama saja, tidak ada perbedaan harga dimana satu lebih murah dan lainnya lebih mahal.

Inilah CLEAR, Teknologi Baru di Bandara: Penumpang Tak Perlu Keluarkan KTP atau Paspor!

Jelang perayaan Thanksgiving pada hari ini, 25 November 2021, bandara-bandara di seluruh dunia bersiap menyambut peningkatan traffic penumpang; termasuk Bandara Internasional Palm Beach (PBI), Florida, Amerika Serikat (AS). Bandara ini menghadirkan teknologi CLEAR dimana penumpang tak perlu repot mengeluarkan KTP atau paspor saat pemeriksaan keamanan dan mengurangi antrean.

Baca juga: Teknologi Skrining Baru di Bandara: Tak Perlu Lepas Sepatu!

“Dalam hitungan menit, Anda akan melalui dan masuk ke pemeriksaan fisik dan mudah-mudahan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersantai dan bersantai sebelum perjalanan Anda,” kata Kasra Moshkani, wakil presiden eksekutif CLEAR.

Dilansir palmbeachpost.com, sebelum datang ke bandara dan menikmati teknologi CLEAR, penumpang harus mendaftar secara online terlebih dahulu. Tak disebutkan dengan jelas apa saja yang disiapkan saat mendaftar selain uang.

Setelah terdaftar dan tiba di bandara, penumpang cukup mendatangi gerai CLEAR di berbagai concourse di Bandara Palm Beach, sebelum security checkpoint.

Cara menggunakannya juga simpel, penumpang hanya perlu berdiri di depan perangkat CLEAR dengan jarak sekitar satu meter dan teknologi biometrik pada CLEAR akan membaca data diri penumpang melalui mata dan sidik jari sehingga tak lagi perlu mengeluarkan KTP atau paspor saat skrining keamanan.

Hal ini dipercaya dapat mempercepat proses skrining keamanan bagi penumpang yang menggunakan layanan tersebut. Dengan begitu, kepadatan akan terurai sekalipun traffic sedang meningkat tajam di tengah perayaan thanksgiving.

“Tren lalu lintas penumpang kami cukup dekat dengan 2019, yang merupakan angka rekor untuk PBI,” kata juru bicara PBI, Lacy Larson.

Perlu dicatat, penumpang tidak diwajibkan menggunakan layanan teknologi CLEAR. Bagi mereka yang menggunakan jasa tersebut, dikenakan biaya sekitar US$179 sekitar Rp2,5 juta setahun atau US$15 sekitar Rp215 ribu sebulan (kurs 14.280).

Bagi penumpang yang sesekali bepergian, tentu layanan teknologi CLEAR tidak menarik. Tetapi, bagi penumpang frequent flyer yang bolak-balik bepergian dengan pesawat, itu sangat penting untuk mempercepat proses pemeriksaan dan memberikan lebih banyak waktu untuk istirahat, seperti David Silverman dan istrinya.

“Ini akan mempercepat antrean, Anda tahu. Jika itu akan membuat saya melewati pemeriksaan lebih cepat, itu bagus, dan saya suka teknologi baru,” ujarnya.

Baca juga: Teknologi LIDAR Kini Deteksi Pergerakan Penumpang di Bandara Frankfurt

Saat ini, teknologi CLEAR sudah tersedia di 39 bandara di seluruh negeri, termasuk di Fort Lauderdale-Hollywood International Airport, Miami International Airport, dan Orlando International Airport.

Sebelum digunakan, perangkat CLEAR sudah disertifikasi oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri dan dapat digunakan bersama dengan TSA PreCheck, layanan sejenis yang disediakan oleh departemen tersebut untuk mempercepat proses skrining keamanan fisik, dengan biaya US$85 selama lima tahun.

JR East Uji Coba Layanan “Gerbong Kantor” di Kereta Cepat Shinkansen

Dampak pandemi telah mempengaruhi cara kerja banyak orang, di Jepang misalnya, coworking space kembali jadi rujukan setelah tren Covid mulai melandai, dan salah satu yang unik dilakoni perusahaan kereta JR East, yang melakukan uji coba layanan ‘gerbong kantor” pada kereta cepat Shinkansen.

Baca juga: Moha 510, Kereta Retro di Stasiun Miyazaki yang Berubah Jadi Coworking Space

East Japan Railway Company memenuhi permintaan gaya kerja baru dengan meluncurkan gerbong kantor untuk jalur kereta peluru shinkansen tertentu yang menghubungkan Tokyo dengan wilayah utara dan tengah Negeri Sakura tersebut. KabarPenumpang.com melansir japantimes.co.jp (22/11/2021), mereka menghadirkan gerbong kantor tanpa adanya biaya tambahan dan hanya beroperasi saat hari kerja.

Gerbong kantor ini ada di rangkaian nomor delapan di jalur Tohoku, Joetsu dan Hokuriku. Di dalam kereta pun, penumpang bisa berbicara di telepon dan berpartisipasi dalam rapat online di tempat duduk mereka.

“Kami ingin mendukung cara kerja baru yang tidak terikat waktu dan tempat,” kata seorang pejabat di JR East.

Pejabat itu mengatakan, gerbong kantor dengan gaya kerja baru akan memulai layanan setelah uji coba dinyatakan sukses. Media lokal diberikan akses di dalam kereta peluru Hokuriku yang sedang berjalan pada hari Senin, di mana sebuah stiker bertuliskan “gerbong kantor” telah ditempatkan di pintu mobil No. 8 dan penumpang yang menjelaskan layanan tersebut ditempatkan di kursi.

Seorang anggota staf JR East mendemonstrasikan bagaimana dia bekerja dari jarak jauh, menggunakan headphone peredam bising. Penumpang juga dapat meminjam “kacamata pintar” yang memproyeksikan isi layar laptop mereka ke dalam lensa khusus yang dikenakan di wajah. Di kereta peluru di jalur Tohoku, penumpang juga dapat menggunakan pembatas kecil untuk meletakkan kursi dan meja mereka secara gratis.

Tindakan serupa sedang dipertimbangkan untuk jalur Hokuriku dan Joetsu. JR East berharap layanan baru ini akan membantu mendorong perjalanan “kerja” di mana orang menggabungkan pekerjaan online dengan perjalanan sambil juga merangsang permintaan untuk perjalanan bisnis, dimana kesemuanya menurun drastis selama pandemi.

Untuk menjaga kenyamanan, ruang kerja tidak akan tersedia pada akhir pekan, hari libur nasional dan selama periode liburan Tahun Baru. Saat ini, tampilan dan desain gerbong kantor dan kursi tidak akan berubah, tetapi JR East mengatakan bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk merombaknya di masa mendatang.

Baca juga: JR East Hadirkan Kompartemen ‘Kantor’ pada Kereta Cepat Shinkansen Tohoku

Central Japan Railway Company dan West Japan Railway Company juga telah menguji coba pengenalan ruang kerja di dalam kereta sejak Oktober di kereta superexpress Nozomi di jalur Sanyo Shinkansen dan Tokaido Shinkansen yang melintasi kota-kota besar Jepang seperti Tokyo, Nagoya, Osaka dan Fukuoka.






















Mulai 29 November, WNI ke Singapura Bebas Karantina Lewat Kebijakan VTL! Simak Syaratnya

Wisatawan asal Indonesia akhirnya diizinkan masuk Singapura tanpa karantina mandiri 14 hari mulai 29 November mendatang di bawah kebijakan Vaccinated Travel Lane (VTL). Meski begitu, traveler harus melengkapi semua syarat yang diwajibkan otoritas Singapura.

Baca juga: Bepergian ke Singapura Saat PPKM Level 4-Pembatasan Sosial (Di Singapura), Ini Tahapannya

Singapura dikenal ketat dalam melakukan berbagai langkah pencegahan penularan Covid-19. Saking ketatnya, negara tersebut bahkan sampai tidak menghitung warga yang sudah divaksin Sinovac (yang notabene keampuhannya masih dipertanyakan) ke dalam data capaian vaksinasi nasional.

Tak cukup sampai di situ, otoritas Singapura juga ketat melakukan screening terhadap warga negara asing yang hendak masuk; khususnya asal Indonesia. Sesampainya di sana dan menjalani karantina mandiri selama 14 hari, otoritas tidak kendur dan selalu mengawasi tamu asing dengan ketat.

Namun, mulai tanggal 29 November 2021 nanti, wisatawan asal Indonesia sudah dibebaskan dari kewajiban karantina mandiri di Singapura. Hanya saja, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat ini sebetulnya mirip-mirip dengan syarat masuk wisatawan asing di luar skema VTL beberapa waktu lalu.

Dilansir laman resmi otoritas kesehatan Singapura, wisatawan asal Indonesia bebas masuk Singapura di bawah skema VTL tanpa karantina mandiri 14 hari harus berada di Indonesia (tidak pernah ke luar negeri) minimal 14 hari sebelum keberangkatan ke Singapura.

Baca juga: Bukti Ketatnya Karantina Mandiri di Singapura, Swab Antigen Sendiri dan Ditelepon Petugas Tiap Hari

Menunjukkan pre-departure test dengan hasil test PCR atau rapid antigen negatif dua hari sebelum keberangkatan. Kemudian melakukan pendaftaran dan pembayaran di muka untuk on arrival test di Changi Airport.

Ketika sampai, wisatawan harus menunjukkan bukti vaksinasi dua dosis sesuai standar WHO melalui aplikasi PeduliLindungi. Sebagai catatan, bagi anak di bawah usia 12 tahun yang belum divaksinasi, mereka tetap dapat masuk Singapura tanpa karantina dengan mematuhi ketentuan VTL dan dalam pengawasan serta pendampingan oleh wisatawan VTL.

Sebelumnya, wisatawan bisa menggunakan penerbangan VTL yang ditentukan ataupun transit di negara VTL lain untuk mengambil penerbangan VTL ke Singapura. Perlu diingat, pada penerbangan transit, wisatawan VTL hanya diizinkan masuk Singapura jika transit di negara VTL, bukan di luar itu.

Kemudian, wisatawan juga harus mengajukan Vaccinated Travel Pass 7-60 hari sebelum tanggal keberangkatan, memiliki asuransi perjalanan nilai perlindungan sebesar SGD 30.000, melakukan isolasi mandiri sambil menunggu hasil tes PCR di tempat tinggal, apartemen, ataupun hotel, dan melakukan pengisian SG Arrival Card dan Health Declaration tiga hari sebelum keberangkatan secara online.

Baca juga: Karantina 14 Hari di Singapura, Pasangan YouTuber Mantap Bikin Konten Begini

Terakhir, wisatawan asal Indonesia yang diizinkan masuk ke Singapura tanpa karantina mandiri selama 14 hari di bawah skema VTL, harus mengunduh dan mendaftarkan diri ke aplikasi Trace Together.

Semua syarat di atas tentu saja sangat fleksibel, mengikuti perkembangan pandemi virus Corona di seluruh dunia. Karenanya, bukan tak mungkin sewaktu-waktu syarat di atas berubah.

9 Maskapai Baru yang Lahir Selama Pandemi Covid-19, Dari Negara Mana Saja?

Ekuador resmi kedatangan maskapai baru, EquAir. Maskapai yang bermain di segmen berbiaya hemat (LCC) ini menambah daftar panjang maskapai baru yang lahir di tengah pandemi Covid-19, dimana banyak maskapai di dunia justru bangkrut.

Baca juga: Prediksi Airbus di 2040: Industri Penerbangan Butuh 39.000 Pesawat Baru dengan 550.000 Pilot

Dihimpun dari berbagai pemberitaan di KabarPenumpang.com, sejak pertama kali virus Corona menyebar luas di Cina akhir tahun 2019 dan ditetapkan menjadi pandemi oleh WHO pada Maret 2020, setidaknya sudah ada sembilan maskapai baru lahir.

Menjadi pioneer maskapai baru yang lahir di tengah pandemi virus Corona, Zipair Tokyo sangat percaya diri mengambil ceruk penerbangan antara Tokyo-Bangkok PP dan Tokyo-Seoul PP. Maskapai anak perusahaan Japan Airlines ini pertama kali beroperasi secara komersial pada 4 Juni 2020.

Di pertengahan bulan yang sama, Cina, melalui maskapai nasionalnya, China Eastern Airlines, mengumumkan maskapai baru bernama Sanya International Airlines.

Maskapai tersebut merupakan perjanjian kerangka kerja sama strategis antara China Eastern Airlines, Provinsi Hainan Transport Investment Holding Co, Sanya Development Holdings, Juneyao Air, dan Trip.com Group dengan modal terdaftar mulai dari CNY3 miliar (USD423,5 juta) hingga CNY6 miliar (USD847,1 juta).

Hanya saja, sampai detik ini, tidak ada informasi terkait kelanjutan maskapai baru tersebut. IATA dan ICAO juga belum merilis kode dari maskapai itu, menandakan bahwa maskapai belum beroperasi secara komersial.

Begitu juga dengan maskapai berbiaya hemat (LCC) Línea Aérea de Bandera del Perú atau LAPERU. Maskapai pertama sekaligus dan satu-satunya yang dimiliki Peru sampai detik ini masih berstatus planned atau rancangan, belum dikukuhkan dan beroperasi secara resmi. Padahal, LAPERU sudah ramai diberitakan sejak 11 November 2020.


Maskapai baru selanjutnya adalah Ecuatoriana Airlines. Maskapai yang berbasis Quito, Ekuador, itu sebetulnya sudah berdiri sejak Mei 1957, namun pada 2006 maskapai itu stop operasi akibat kesulitan keuangan.

Pada pertengahan Februari 2021, maskapai tersebut mengumumkan bangkit kembali. Disebutkan, paling lambat akan memperoleh Air Operator Certificate (AOC) pada Juni 2021 lalu dan beroperasi secara komersial tak lama setelahnya. Namun, belakangan maskapai mengaku baru akan beroperasi resmi pada awal 2022.

Maskapai baru kelima yang lahir selama pandemi virus Corona adalah Super Air Jet, Indonesia. Maskapai yang menyebut dirinya sebagai ultra LCC ini terbang perdana secara komersial pada 8 Agustus 2021. Maskapai ini digadang masih ada kaitannya dengan Rusdi Kirana, pendiri Lion Air Group. Tetapi, perusahaan membantah kabar tersebut.

Di bulan yang sama, miliarder India yang dijuliki ‘Warrant Buffet’, Rakesh Jhunjhunwala, dikabarkan tuntas mendirikan maskapai baru di segmen ultra LCC, Akasa Airlines. Tak tanggung-tanggung, miliarder yang dijuluki ‘Warren Buffet-nya’ India tersebut sampai menggandeng mantan CEO IndiGo dan Jet Airways, Aditya Ghosh, serta mantan petinggi maskapai Delta Airlines, Vinay Dube, untuk mensukseskannya.

Akasa Airlines belum lama ini mengumumkan pembelian 72 Boeing 737 MAX di tengah gelaran Dubai Air Show menjadikannya sebagai maskapai India pertama yang memesan pesawat itu. Sampai saat ini, maskapai belum terbang secara komersial. Tetapi, ditargetkan tahun ini atau dalam waktu dekat itu akan terjadi.

Maskapai baru ketujuh yang lahir selama pandemi virus Corona adalah ITA Airways, Italia. Maskapai yang lahir sebagai pengganti Alitalia yang dibangkrutkan itu diumumkan berdiri pada 15 Oktober 2021. Tak lama berselang, maskapai sukses melakoni penerbangan perdana.

Baca juga: Ini yang Dilakukan Maskapai Saat Terima Pesawat Baru

Maskapai baru kedelapan adalah Bonza. Maskapai ultra LCC asal Australia ini lahir pada akhir Oktober 2021 lalu. Ditargetkan penerbangan perdana akan berlangsung pada awal 2022 mendatang.

Adapaun maskapai baru terakhir yang didirikan selama pandemi Covid-19 adalah EquAir. Maskapai asal Ekuador ini berencana melakoni penerbangan perdana pada 20 Desember mendatang antara Quito dan Guayaquil serta Quito dan Galapagos. Semuanya rute domestik.

Super Air Jet Buka Penerbangan dari Jakarta ke Bali dan Lombok, 1x Sehari

Masuk ke layanan di kawasan Indonesia Tengah, maskapai berbiaya rendah Super Air Jet resmi membuka penerbangan ke Bandara Lombok Praya dan Bandara I Gusti Ngurah Rai mulai 18 November 2021. Penerbangan perdana (inaugural flight) Super Air Jet disambut dengan seremoni penyiraman air (water salute) ketika pesawat memasuki apron bandara.

Baca juga: Semburan “Water Salute,” Penanda Tibanya Penerbangan Perdana

Di Bandara Lombok Praya, penerbangan perdana Super Air Jet disaksikan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. H. Zulkieflimansyah, Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi, General Manager Bandara Lombok Nugroho Jati, dan Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Kualitas Super Air Jet Capt. Dodi Arifin.

Penerbangan perdana Super Air Jet ke Bandara Lombok Praya dari Jakarta pada Kamis (18/11) mendarat pukul 12.30 WITA dengan nomor penerbangan IU-762 yang membawa 179 penumpang , sedangkan penerbangan perdana Super Air Jet ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dari Jakarta dengan nomor penerbangan IU-754 mendarat pada pukul 18.39 WITA dan berangkat kembali dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai – Bali ke Jakarta pukul 19.19 WITA dengan menggunakan pesawat Airbus A320 yang dapat menampung 180 penumpang.

Dari siaran pers yang diterima, pada tahap awal, Super Air Jet rute Jakarta-Lombok-Jakarta terbang satu kali kali setiap hari. Dari Jakarta (CGK), pesawat ini berangkat pukul 09.35 WIB dan tiba di Lombok pukul 12.30 WITA, sedangkan dari Lombok berangkat pukul 13.10 WITA dan tiba di Jakarta (CGK) pukul 14.05 WIB. Begitu juga Super Air Jet rute Jakarta-Denpasar-Jakarta terbang satu kali setiap hari dengan jadwal keberangkatan dari Jakarta (CGK) 14.45 WIB dan tiba di Denpasar (DPS) pukul 17.35 WITA, sedangkan dari dari Denpasar berangkat pukul 18.15 WITA dan tiba di Jakarta (CGK) pukul 19.10 (WIB).

Sebelumnya, Super Air Jet juga telah melakukan penerbangan perdananya ke Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo pada 10 November 2021 dengan rute Jakarta (CGK) – Yogyakarta (YIA) – Jakarta (CGK) dan waktu keberangkatan dari Jakarta (CGK) pukul 10.30 WIB, tiba di Yogyakarta (YIA) pukul 11.40 WIB. Sedangkan keberangkatan dari YIA pukul 12.30 dan tiba di CGK pukul 13.40 WIB.

Baca juga: Bedah Maskapai Baru “Super Air Jet,” Seragam Pramugari Tak Biasa dan Milenial Banget

Super Air Jet menggunakan pesawat jenis Airbus 320-200 berkapasitas 180 kursi kelas ekonomi dan bagasi gratis 20 KG. Selain itu, Super Air Jet menawarkan hiburan gratis seperti menonton film, games, e-Magazine, dan mendengarkan podcast dan menonton vlog yang dapat diakses dari Handphone saat terbang.