Sembunyi di Roda Pendaratan Pesawat, Penumpang Gelap Asal Guatemala Ditangkap di AS

Seorang pria asal Guatemala, belum lama ini ditangkap oleh petugas Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan di bandara Miami, Florida, Amerika Serikat (AS), lantaran menjadi penumpang gelap dengan cara bersembunyi di roda pendaratan pesawat (landing gear).

Baca juga: [Foto-foto] Kekacauan di Bandara Kabul Sampai Ada yang Tewas Terlindas Pesawat

Usai ditangkap, pria 26 tahun itu dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut, mengingat ia baru saja melewati dua jam 50 menit perjalanan dalam kondisi suhu ekstrem mencapai -57 derajat celcius atau di ketinggian rata-rata 37.000 kaki, dari Guatemala City ke Miami.

Sesaat sesudah ditangkap dan sebelum dilarikan ke rumah sakit, ada hal menarik yang terungkap. Dalam sebuah video viral, penumpang gelap tersebut ditawari minum terlebih dahulu oleh petugas. Warganet menilai, aksi tersebut patut diapresiasi karena sudah berbuat humanis terhadap terduga tindak pidana kejahatan.

Dilansir Miamiherald.com, kronologi kejadian ta diungkap dengan jelas, mulai dari bagaimana ia menerobos masuk ke bandara dan bersembunyi di landing gear pesawat American Airlines dengan nomor penerbangan 1182 tanpa diketahui petugas. Besar kemungkinan, ia menyelinap masuk pada malam hari dan bertahan di kompartemen landing gear sampai penerbangan dihelat.

American Airlines sendiri merespon insiden ini secara dingin. Maskapai mengungkapkan, “American Airlines flight 1182 dari Guatemala (GUA) ke Miami (MIA), tiba pada pukul 10:06 waktu setempat bertemu dengan penegak hukum karena masalah keamanan. Kami bekerja sama dengan penegak hukum dalam penyelidikan mereka.”

Kejadian penumpang gelap bersembunyi di roda pendaratan pesawat tentu bukan kali pertama terjadi. Pada April lalu, mayat dari seorang penumpang gelap di penerbangan KLM dari Lagos, Negeria, menuju Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, ditemukan terbujur kaku di lengkungan roda pendaratan pesawat (landing gear). Penumpang gelap ini diduga tewas karena kedinginan (hipotermia).

Maskapai nasional Belanda, yang juga menjadi maskapai tertua di dunia yang masih beroperasi tersebut, secara reguler melakoni lima penerbangan rute Lagos-Amsterdam dalam sepekan. Salah satunya adalah Airbus A330-200 KLM dengan nomor penerbangan PH-AOD yang ditumpangi penumpang gelap beberapa waktu lalu.

Pesawat setidaknya terbang di ketinggian rata-rata 37.000 kaki, dimana suhu diperkirakan mencapai -57 derajat celcius, menempuh perjalanan selama tujuh jam antara dua kota tersebut.

Baca juga: Tak Seperti di Indonesia, Penumpang Gelap Asal Afrika Tewas di Roda Pesawat Karena Kedinginan

Jangankan tujuh jam, udara sedingin dan setipis itu, secara teori, harusnya mampu membuat penumpang gelap di roda pendaratan pesawat itu pingsan dalam waktu beberapa menit, dan tewas setelahnya.

Sudah begitu, selama penerbangan, utamanya ketika lepas landas dan mendarat, penumpang gelap tewas tersebut sangat mungkin jatuh ke daratan, membuat mayatnya lebih sulit ditemukan dan tentu saja kasus penumpang gelap ini jadi tak diketahui petugas ground handling dan tidak terungkap. Beruntung, mayatnya yang terbujur kaku meringkuk di landing gear sedikit tersangkut dan tidak jatuh.

Belanda Temukan 13 Kasus Virus Corona Varian Omicron dalam Penerbangan dari Afrika Selatan

Ketika perjalanan dengan moda udara kembali dibuka dan banyak pelancong ataupun pebisnis yang memulai penjelajahan mereka. Meski protokol kesehatan ketat sudah dilaksanakan tetapi nyatanya dalam beberapa penerbangan masih banyak penumpang yang terinfeksi virus corona.

Baca juga: Varian Baru Virus Corona Ditemukan, Mulai 28 Desember Jepang Larang Kedatangan Turisv

Bahkan baru-baru ini terdeteksi virus corona varian baru Omicron pada 13 penumpang yang tiba di Amsterdam, Belanda dalam dua penerbangan di Afrika Selatan. Mereka ini termasuk di antara 61 penumpang yang dinyatakan positif Covid-19. Penemuan ini terjadi ketika Negeri Kincir Angin itu memberlakukan pembatasan ketat di tengah rekor kasus Covid-19 dan kekhawatiran atas varian baru.

Dilansir KabarPenumpang.com dari bbc.com (28/11/2021), dalam pembatasan itu, Belanda sudah memberlakukan aturan menutup lebih awal untuk tempat-tempat keramahtamahan dan budaya, dan pembatasan pertemuan di rumah. Sebelumnya virus varian baru Omicron pertama kali dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari Rabu kemarin oleh Afrika Selatan.

Di mana bukti awal menunjukkan bahwa varian baru memiliki fisiko infeksi ulang lebih tinggi dan WHO mengkategorikannya sebagai varian perhatian. Adanya varian baru dari Afrika Selatan, membuat banyak negara di seluruh dunia membatasi perjalanan dari negara tesebut.

Sebaliknya, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyerukan agar larangan itu segera dicabut. Ia mengatakan, langkah itu tidak dapat dibenarkan karena tak berdasar pada sains. Untuk diketahui, meski varian baru ditemukan oleh pelancong yang tiba di Belanda setelah perjalanan dari Afrika Selatan, Institut Nasional Belanda untuk Kesehatan Masyarakat, 13 kasus Omicron masih dalam penyelidikan dan mencatat itu belum selesai karena varian baru masih dapat ditemukan di lebih banyak sample uji.

Menteri Kesehatan Belanda Hugo de Jonge membuat “permintaan mendesak” bagi orang-orang yang telah kembali dari Afrika selatan untuk dites Covid “sesegera mungkin”. Bukan hanya di Belanda, kasus varian baru ini dilaporkan di sejumlah negara dunia yang beberapa di antaranya ada di Eropa seperti Inggris, Jerman dan Italia. Pada Jumat (26/11/2021) pagi, penerbangan maskapai KLM dari Johannesburg menahan 600 penumpangnya selama beberapa jam setelah tiba untuk dites Covid-19.

Para penumpang mengakui, mereka ditahan selama empat jam sebelum akhirnya turun. Bagi mereka yang dinyatakan positif Covid-19, akan dikarantina di hotel dekat Bandara Schipol. Sedangkan yang memiliki hasil negatif tetap melakukan karantina selama lima hari di rumah dan melakukan tes lanjutan.

Para pejabat mengatakan mereka yang transit akan diizinkan untuk melanjutkan perjalanan mereka, meskipun ada laporan pada hari Sabtu bahwa beberapa penumpang belum menerima bukti tertulis dari tes negatif dan karena itu tidak dapat naik ke penerbangan selanjutnya. Otoritas kesehatan Belanda juga berusaha menghubungi dan menguji ribuan penumpang lain yang telah melakukan perjalanan dari tujuh negara Afrika selatan seperti Botswana, Eswatini, Lesotho, Mozambik, Namibia atau Zimbabwe sejak Senin lalu.

Baca juga: Kembali Berlayar, Seorang Penumpang Kapal Pesiar Asuka II Positif Covid-19 Varian Baru

Belanda adalah salah satu dari banyak negara di dunia yang kini memberlakukan pembatasan perjalanan ke negara-negara di Afrika selatan sebagai tanggapan atas varian baru tersebut.

Berney Arms, Kini Tak Lagi Menjadi Stasiun Kereta Tersepi di Inggris

Sebuah stasiun di Norfolk terkenal sebagai yang paling tenang dan sepi di Inggris. Stasiun bernama Berney Arms itu adalah stasiun terkecil di Broads di jalur Norwich ke Great Yarmouth. Di mana Berny Arms hanya memiliki 42 penumpang pada tahun lalu dengan rentang waktu dari April 2019 hingga Maret 2020.

Baca juga: Stasiun Buckenham, Hanya Dilalui 79 Penumpang Setiap Tahunnya

KabarPenumpang.com melansir edp24.co.uk (25/11/2021), tetapi antara tahun 2020 dan 2021, stasiun itu mengalami peningkatan ratusan kali lipat yakni sebesar 729 persen dengan jumlah penumpang yang naik dari Berney Arms sebanyak 348 orang. Ini adalah persentase peningkatan terbesar dari seluruh stasiun di Inggris.

Bahkan ini menjadikannya salah satu dari dua stasiun jarak jauh di Norfolk yang mengalami peningkatan penumpang dengan jumlah luar biasa. Selain itu stasiun-stasiun di Salhouse juga mengalami peningkatan sebanyak 17 persen, dari 9.856 penumpang. Stasiun itu ada di Abererch, Gwynedd; Beasdale, Dataran Tinggi; Llanbedr, Gwynedd; Sampford Courtenay, Devon; Stanlow dan Thornton, Cheshire; serta Sugar Loaf, Powys.

Bisa dikatakan tahun lalu stasiun di Norfolk mengalami penurunan penumpang hingga 75 persen dan ini sejalan dengan rata-rata nasional 78 persen. Sedangkan stasiun tersibuk di Inggris adalah Stratford. Office of Rail and Road (ORR) mengatakan sekitar 14 juta penumpang menggunakan stasiun pada tahun ini hingga akhir Maret.

Ini karena Stratford adalah persimpangan utama, memungkinkan orang untuk terhubung dengan rute transportasi lain. Ini dilayani oleh layanan jalur utama c2c, Greater Anglia, London Overground dan TfL Rail. Kemudian ada Birmingham New Street yangadalah stasiun tersibuk di luar London dengan 7,4 juta penumpang.

Angka-angka ini terutama didasarkan pada penjualan tiket. Andy Bagnall, direktur jenderal di badan industri Rail Delivery Group mengatakan, sngka penggunaan stasiun menunjukkan bagaimana industri kereta api membuat orang terus bergerak selama tahun pertama pandemi.

Baca juga: Satu-Satunya, Jalur Kereta Api Melintasi Stadion Sepak Bola Hanya Ada di Slowakia

“Beberapa entri dalam daftar mencerminkan dari mana orang-orang seperti pekerja kunci bepergian dan juga percepatan perubahan cara orang bepergian setelah pandemi. Perusahaan kereta api bekerja sama untuk menyambut orang kembali dan peningkatan penumpang baru-baru ini terus mencerminkan dan mendukung pemulihan bangsa,” jelas Andy.

Untuk diketahui, di seluruh Inggris jumlah penumpang kereta api jumlahnya turun hingga 78 persen selama 12 bulan dikarenakan pandemi virus corona.

Apa Itu “Mil Laut” dan Bagaimana Sejarah Navigasi Penerbangan Gunakan Satuan Nautical Mile?

Statistik penerbangan sering kali rumit. Ini diakibatkan penggunaan sistem mil laut atau sistem nautical mile (NM). Beberapa insiden penerbangan bahkan pernah dipicu oleh miskomunikasi antara petugas dan kru kokpit lantaran perbedaan menghitung satuan jarak dimana satu menggunakan sistem metrik dan lainnya menggunakan NM. Terlepas dari itu, bagaiman sejarah penggunaan NM di penerbangan?

Baca juga: Mengapa Kokpit Disebut Kokpit? Inilah Jawaban dari 3 Teori Termasyhur

Umumnya, masyarakat menggunakan sistem imperial atau metrik, seperti kilometer, meter, dan lain-lain, saat menghitung jarak tertentu. Namun, tidak demikian dengan navigasi penerbangan dan laut. Dua itu diketahui sudah sejak lama mengadopsi NM. Hal ini tidak terlepas dari sejarah panjang adopsi transportasi udara oleh transportasi laut.

Sudah jadi rahasia umum, sebelum transportasi udara dan darat hadir memudahkan masyarakat lintas peradaban, transportasi laut sudah lebih dahulu ada. Ketika transportasi udara hadir, ini pada akhirnya menyerap banyak istilah dan sejenisnya dari transportasi laut, seperti istilah ‘kokpit’ dan penggunaan satuan panjang NM.

Nautical mile atau dalam bahasa Indonesia berarti mil laut adalah satuan panjang yang digunakan di seluruh dunia untuk keperluan kelautan seperti menghitung jarak dalam pelayaran dan penerbangan.

Satuan ini biasa digunakan pada hukum dan perjanjian internasional, terutama menyangkut batas wilayah perairan. Satu mil laut sama dengan 1,852 km; 1,1508 mil normal; atau 6,076 feet. Lambang untuk nautical mile adalah M, NM atau nmi.

Secara historis, seperti dikutip dari Simple Flying, satu mil laut berarti busur satu menit dari garis lintang di sepanjang garis bujur. Satu busur lintang, pada gilirannya, dibagi menjadi 60 menit, dengan demikian, satu NM sama dengan 1/60 derajat lintang.

Namun, pada Konferensi Hidrografi Luar Biasa Internasional Pertama di Monako, pada tahun 1929 silam, mil laut internasional ditetapkan sebagai 1.852 meter atau 1.151 mil. Jadi, bisa dibilang, alasan penggunaan nautical mile di navigasi penerbangan lebih dikarenakan terkait erat dengan koordinat peta.

Dalam peta, terdapat garis bujur dan lintang yang sama-sama memiliki satuan derajat. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin terbiasa menyebut “Berapa meter jarak rumahmu ke rumahnya Sully?”.

Tetapi, jika seseorang tersebut mengucapkannya dengan bahasa peta, maka yang ada menjadi “Berapa derajat selisih jarak rumahmu ke rumah Sully?”. Jadi setiap derajat perbedaan garis bujur atau lintang di bumi, menandakan bahwa dalam perbedaan derajat tersebut terdapat juga perbedaan jarak.

Baca juga: Mengapa Navigasi Penerbangan Pakai Satuan Nautical Mile? Ini Jawabannya

Sebetulnya, pada tahun 1947, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) sempat mengadopsi resolusi untuk membakukan sistem unit di seluruh penerbangan untuk memperkenalkan Sistem Satuan Internasional, yang dikenal sebagai SI dari ‘Système International d’Unités’, dan akan didasarkan pada sistem metrik.

Hanya saja, ICAO sadar bahwa mengubah sistem nautical mile menjadi sistem metrik secepat itu akan membuat penerbangan kacau. Alhasil, nautical mile tetap digunakan sampai saat ini.

Tips Cara Terbaik Penumpang Tidur di Pesawat dari Pramugari, Tapi Berisiko Dibenci Penumpang Lain

Pramugari atau awak kabin tak diragukan lagi sangat hafal tentang seluk beluk penerbangan, termasuk cara-cara yang dapat membuat penumpang nyaman. Belum lama ini, seorang pramugari membocorkan cara terbaik agar penumpang bisa tidur di pesawat. Namun, cara ini dinilai berisiko terjadinya gesekan dengan penumpang lain.

Baca juga: Viral di TikTok, Pramugari Kasih Tips Aman Tidur di Hotel

Dilansir The Sun, mantan pramugari Emirates, Bella Sapsworth, mengungkapkan cara penumpang untuk bisa tidur di pesawat sangat mudah. Caranya, cukup turunkan kursi sampai menemukan titik nyaman dan dijamin tak lama kemudian penumpang akan tidur.

“Sandarkan kursi Anda. Anda membayar untuk kursi bersandar – jadi gunakan itu!” jelasnya.

Berhubung kursi disandarkan, sudah pasti penumpang lain di belakangnya akan merasa tidak nyaman. Sebetulnya itu tak jadi masalah andai penumpang di belakangnya juga merebahkan kursi. Begitupun juga penumpang di belakangnya lagi. Terus begitu sampai penumpang paling belakang.

Sayangnya, tak semua penumpang ingin merebahkan kursi ke belakang sekalipun kursi tegap lurus dan membuatnya tidak nyaman. Dalam kondisi ini, sudah pasti penumpang di belakangnya akan terganggu. Bila komunikasi tak berjalan baik, bukan tak mungkin adu jotos atau adu mulut akan terjadi.

Meski terkesan salah, penumpang yang merebahkan kursi dan mengganggu penumpang di belakangnya, mendapat dukungan atau dibela oleh behaviour expert, Judi James.

Menurutnya, itu bukan kesalahan penumpang. Penumpang tak bisa disalahkan atas attitude buruknya merebahkan kursi dan mengganggu penumpang di belakang. Pun demikian, itu bukan kesalahan maskapai, karena maskapai menerima pesawat apa adanya.

Lebih lanjut, James menyebut, ini adalah kesalahan desainer karena telah membuat kursi yang bisa direbahkan.

Hanya saja, itu bisa dibilang keliru. Sebab, maskapai sangat bisa mengatur manufaktur pesawat agat kursinya di-setting jadi tak bisa direbahkan ke belakang, kebalikan dari kursi pesawat yang ada saat ini, walaupun ada harga yang harus dibayar oleh mereka.

Baca juga: Pramugari Emirates Bagi Tips Pilih Kursi Terbaik di Penerbangan

Oleh karena kursi bisa direbahkan sampai kemiringan puluhan derajat, penumpang pastinya berpikir bahwa itu dilegalkan. Makanya, jangan salahkan penumpang bila mereka melakukan itu.

“Ini tampaknya memberikan izin kepada maskapai untuk Anda berbaring, jadi kami segera melangkah keluar dari etiket dan menganggap itu hak kami untuk melakukannya – karena itulah yang dilakukan kursi ini. Ini memberi kami kebebasan penuh untuk bersikap kasar,” jelasnya.


Lima Teknologi NASA di Penerbangan Sipil, Nomor Empat Simpel Tapi Genting

Teknologi aircraft flight scheduling NASA akan diaplikasikan di seluruh bandara Amerika Serikat (AS) mulai tahun 2023 mendatang. Begitu juga dengan Terminal Flight Data Manager (TFDM), paduan antara teknologi surface metering dan teknologi airport surface management, serta software Airspace Technology Demonstration 2 (ATD-2).

Baca juga: NASA Uji Coba Sayap Pesawat Canggih untuk Kurangi Kebisingan

Badan Penerbangan dan Antariksa AS itu sudah sejak lama turut mendorong peningkatan teknologi di sektor penerbangan komersial. Setidaknya, ada lima teknologi yang sudah maupun yang akan diimplementasikan NASA di sektor sipil. Apa saja? Dihimpun dari pemberitaan KabarPenumpang.com, berikut lima teknologi NASA di sektor penerbangan sipil.

1. Sayap pesawat canggih kurangi kebisingan

NASA diketahui sukses memecahkan kebuntuan terhadap kebisingan yang datang dari sayap. Di bawah proyek Advanced Air Transport Technology (AATT), NASA mengklaim berhasil membuat sayap jauh lebih efisien dalam hal kinerja aerodinamis, struktural, dan akustiknya menggunakan paduan shape-memory.

Baca juga: Empat Kali Lebih Cepat dan 10 Persen Lebih Hemat, Inilah Mesin Turbofan Besutan NASA

Ini juga didukung oleh teknologi NASA lainnya untuk mengurangi suara yang dihasilkan oleh airframe (rangka) pesawat dan suara yang dihasilkan saat melakukan pendaratan melalui teknologi Landing Gear Noise Reduction. Rangkaian uji coba ini dilakukan melalui rangkaian penerbangan Acoustic Research Measurement (ARM) di Armstrong Flight Center, California, AS.

Teknologi Landing Gear Noise Reduction sendiri dikembangkan untuk mengurangi suara dari airframe yang disebabkan aliran udara bergerak melewati roda pesawat saat mendekati landasan. Teknologi ini menggunakan fairing yang memiliki pori-pori sehingga suara yang dihasilkan oleh aliran udara dapat berkurang.

2. Mesin turbofan generasi terbaru, empat kali lebih cepat dan 10 persen lebih hemat

Mesin ini masih dalam proses pengembangan. Namun, mesin disebut dapat mencapai tingkat ekstraksi daya hingga empat kali lipat dari tingkat ekstraksi daya mesin pesawat tercanggih saat ini. Tak hanya itu, pada saat yang sama, mesin itu juga membakar bahan bakar hingga 10 persen lebih sedikit atau 10 persen lebih hemat.

Baca juga: Inilah AeroMACS, Sistem Komunikasi Digital Bandara Karya NASA yang Bikin Pilot ‘Bisu’

3. Sistem komunikasi digital AeroMACS di bandara

AeroMACS memungkinkan menara kontrol (ATC) bandara melakukan komunikasi dengan pilot di kokpit secara digital, bukan komunikasi suara seperti yang ada kebanyakan saat ini. Itu berarti, pilot bukan tak mungkin akan dibuat ‘bisu’ alias tak banyak bercakap-cakap, dalam kaitannya dengan menara kontrol, efek dari kehadiran ini. AeroMACS diklaim mampu membuat traffic di runway lebih sedikit karena prosesnya lebih cepat.

4. Aplikasi untuk teliti kelelahan dalam penerbangan

Tahun lalu NASA merilils aplikasi psychomotor vigilance task (PVT). Aplikasi ini sejatinya untuk mewadahi ilmuan dalam mempelajari kelelahan (fatigue) pada tubuh manusia saat melahap penerbangan luar angkasa. Tetapi, oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA), ini didorong penggunannya untuk mengukur tingkat kelelahan pilot atau mengukur fokus pilot sebelum terbang.

Baca juga: NASA Luncurkan Aplikasi untuk Teliti Kelelahan dalam Penerbangan, FAA: Cocok untuk Pilot

5. Airspace Technology Demonstration 2 (ATD-2)

Filosofi teknologi terbaru ATD2 NASA ini dalam mengurangi emisi karbon dan menghemat bahan bakar bisa dibilang cukup sederhana.

Baca juga: Teknologi Terbaru NASA Sanggup Kurangi Emisi Karbon-Menghemat Bahan Bakar Pesawat

Semakin lama pesawat tertahan jelang lepas landas dan mendarat, semakin banyak kebutuhan bahan bakar dan emisi karbon yang dihasilkan. Demikian juga sebaliknya. Itulah yang jadi fokus utama pada teknologi ATD2 NASA.

Teknologi terbaru ATD2 NASA secara teknis akan merampingkan beberapa sistem air traffic control (ATC) menjadi satu.

Nokia Bangun Jaringan BTS 4G dan 5G di Rusia

Dunia saat ini mulai memasuki jaringan telekomunikasi 5G dan ini berkembang bukan hanya untuk ponsel tetapi pada jaringan transportasi. Sehingga kehadiran jaringan 5G bisa meningkatkan berbagai sektor suatu negara seperti pariwisata dan transportasinya.

Baca juga: Jaringan 5G Dipercaya Mampu Mengubah Wajah Pariwisata

Meski begitu, jaringan 4G juga masih terus digunakan sebelum jaringan 5G sepenuhnya melengkapi telekomunikasi dunia. Untuk itu Nokia (NOKIA.HE) dan YADRO memiliki rencana untuk membentuk usaha patungan dalam pembangunan BTS (Base Transceiver Station) 4G dan 5G.

Keduanya kemudian memilih Rusia karena YADRO sendiri merupakan perusahaan asal negara tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari gadgetsnow.com (24/11/2021), bahkan ada tenggat waktu untuk membangun stasiun telekomunikasi itu yakni hanya menggunakan peralatan Rusia saja.

Rusia mengatakan akan memperpanjang lisensi operator telekomunikasi di luar 2023 untuk jaringan LTE (Long Term Evolution) dengan syarat mereka mulai membangun jaringan hanya menggunakan peralatan Rusia, bagian dari dorongan yang lebih luas oleh Moskow untuk mempromosikan teknologi domestik dan layanan TI.

“Kami senang dapat bermitra dengan YADRO, pengembang dan produsen terkemuka Rusia dari server dan sistem penyimpanan berkinerja tinggi untuk mengatasi kerangka peraturan lokalisasi yang baru,” kata Nokia yang berbasis di Finlandia.

Pihak Nokia mengatakan, kedua perusahaan menandatangani MoU pada 23 November yang menyebutkan niat mereka untuk masuk ke dalam negosiasi dengan tujuan menciptakan Joint Venture di Rusia. Kedua perusahaan tidak mengungkapkan persyaratan atau investasi yang direncanakan. Harian Kommersant sebelumnya melaporkan, mengutip sebuah sumber, bahwa YADRO akan memegang 51 persen saham di JV, dengan Nokia mengambil 49 persen sisanya.

Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Denis Manturov mengatakan kesepakatan antara perusahaan akan melihat pengembangan peralatan telekomunikasi di Rusia, dengan konstruksi dijadwalkan akan dimulai pada bulan Desember. Pabrikan Rusia saat ini menyumbang 21 persen dari 168 miliar rubel ($2,26 miliar) kontrak pengadaan peralatan telekomunikasi negara, kata Manturov.

Baca juga: FAA Akui Jaringan 5G Ancam Keselamatan Penerbangan

“Seluruh pasar diperkirakan lebih dari 400 miliar rubel, jadi kami melihat potensi yang cukup serius untuk pengembangan proyek bersama Rusia dan lokal,” tambahnya.

Menurut Kommersant, vendor asing lainnya, termasuk Huawei, Ericsson dan ZTE juga menunjukkan minat untuk melokalisasi peralatan.






















Sambut VTL 29 November, Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Perkuat Kerjasama

Menyambut 29 November 2021, dimana Singapura mulai mengizinkan WNI masuk negara tersebut tanpa harus karantina, rupanya telah direspon oleh Garuda Indonesia dan Singapore Airlines. Persisnya, kedua maskapai nasional ini menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) yang memungkinkan keduanya untuk mengeksplorasi kemitraan komersial yang luas dan menawarkan penumpang berbagai value added.

Baca juga: Mulai 29 November, WNI ke Singapura Bebas Karantina Lewat Kebijakan VTL! Simak Syaratnya

Penandatanganan tersebut dilaksanakan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, dan Chief Executive Officer Singapore Airlines, Goh Choon Phong, pada hari ini, Jumat (26/11), sekaligus bertepatan dengan momentum implementasi kebijakan peraturan bebas karantina Vaccinated Travel Lane (VTL/ Jalur Perjalanan Vaksinasi) antara Indonesia dan Singapura yang akan diberlakukan mulai 29 November 2021 mendatang.

Melalui kerja sama ini, Garuda Indonesia dan Singapore Airlines sepakat untuk mengoptimalkan potensi penyelarasan program frequent flyer, kegiatan pemasaran bersama, dan inisiatif untuk mempromosikan pariwisata di Indonesia. Kedua maskapai juga berkomitmen untuk mengoptimalkan peluang pertumbuhan baru di segmen angkutan udara, serta kerjasama dalam kegiatan pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul armada.

Selain itu, Garuda Indonesia dan Singapore Airlines juga bersepakat untuk menjalin kerja sama pengembangan konektivitas penerbangan, di mana dimulai sejak 1 Oktober 2021 lalu, Garuda Indonesia dapat menghubungkan pengguna jasa Singapore Airlines dari Singapura menuju Bali, Jakarta dan Surabaya.

Sebaliknya penumpang Garuda Indonesia juga dapat menikmati penerbangan ke London yang dilayani oleh Singapore Airlines. Selanjutnya Singapore Airlines juga akan memperluas jaringan penerbangan bagi penumpang Garuda Indonesia ke Mumbai yang diharapkan akan mulai dapat dioperasikan pada 1 Januari 2022, setelah mendapatkan persetujuan dari otoritas setempat.

Garuda Indonesia dan Singapore Airlines juga menyepakati penjajakan pengembangan jaringan lainnya ke destinasi yang berada pada jaringan kedua maskapai untuk mendukung peningkatan konektivitas udara ke Indonesia dan Singapura, serta kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya.

Baca juga: 9 Negara Jalin Travel Corridor Tanpa Karantina, Indonesia Justru Larang Wisatawan Singapura

Irfan Setiaputra, Direktur Utama Garuda Indonesia, mengatakan, “Kami berharap kerja sama komersial antara kedua maskapai akan menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman dan aman bagi penumpang di tengah meningkatnya lalu lintas udara antar negara. Kedua maskapai membawa misi yang sama dalam kerja sama ini, yaitu mendukung penguatan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Singapura. Kami berkomitmen untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi dan pariwisata dengan ikut serta memastikan kesiapan infrastruktur transportasi udara, khususnya untuk mengantisipasi program Jalur Perjalanan Vaksinasi (VTL) antara Indonesia dan Singapura.”






















Berapa Detik Pesawat Melesat di Runway untuk Bisa Terbang? Ini Jawabannya

Bagian terpenting dalam sebuah rangkaian penerbangan salah satunya adalah lepas landas atau take off. Proses ini juga menjadi yang paling menyedot banyak bahan bakar. Namun, yang jadi pertanyaan, berapa lama waktu yang dibutuhkan pesawat untuk lepas landas?

Baca juga: Pernah Ngeluh Kabin Panas Sebelum Pesawat Lepas Landas? Ini Penjelasannya

Penumpang pesawat biasanya merasakan sensasi dari daya dorong mesin saat meluncur di runway untuk lepas landas. Namun, kondisinya tak selalu demikian. Semua tergantung pada hitung-hitungan di atas kertas oleh sang pilot.

Kita tahu, sebelum mulai memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan), informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan.

Semua ini menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan.

Baca juga: Mengenal “Rejected Takeoff,” Pesawat Batal Lepas Landas Saat Ngebut di Runway Gegara Hal Ini

Pilot juga perlu menghitung jarak pendaratan atau landing distance. Proses menentukan ini berdasarkan faktor eksternal tidaklah mudah.

Pada pesawat-pesawat tua, pilot harus menghitung secara manual. Namun, pada pesawat terbaru, seperti Boeing 737 Dreamliner dan Airbus A350, pilot cukup memasukkan angka-angka ke komputer (onboard performance tool) dan rekomendasi pun keluar. Dengan begitu, potensi kesalahan cenderung berkurang dibanding dengan menghitung secara manual.

Dari informasi pra penerbangan, termasuk berat total pesawat ditambah bahan bakar, penumpang dan kargo, serta panjang runway, pilot sudah dibekali dengan kemampuan menghitung berapa kecepatan yang dibutuhkan pesawat untuk bisa lepas landas. Dari sini kemudian diketahui, apakah pesawat perlu melesat dengan kecepatan penuh di runway atau tidak.

Baca juga: Ternyata, Pesawat Tak Selalu Ngebut di Runway untuk Bisa Terbang, Ini Alasannya

Namun demikian, seperti yang dijelaskan Jhon Cox dalam laman USA Today, pada pesawat narrowbody, setidaknya dibutuhkan waktu ground run sekitar 30-35 detik untuk lepas landas atau saat roda pesawat mulai meninggalkan runway. Tetapi, balik lagi, semuanya sangat tergantung dengan faktor lain, sebagaimana yang telah disebut di atas.

Meski begitu, lebih atau kurang dari 30-35 detik waktu yang dibutuhkan pesawat untuk lepas landas, yang pasti pilot baru berani menarik throttle-up saat pesawat sudah mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau decision speed (V1). Biasanya, V1 pada pesawat narrowbody berkisar antara 120 sampai 140 knot.

Sedangkan untuk pesawat-pesawat widebody, pesawat membutuhkan ground run selama 50 detik untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan, juga antara 120 dan 140 knot, dan kemudian lepas landas.

Baca juga: Ini Alasan Lampu Kabin Pesawat Dimatikan Saat Lepas Landas dan Mendarat

Selain itu, kapten pilot US Airways yang juga konsultan keamanan penerbangan di beberapa perusahaan, tersebut juga menjelaskan tentang mengapa timing pilot mengeluarkan landing gear berbeda-beda.

Disebutkan, itu karena kecepatan pesawat saat melakukan landing approach berbeda-beda. Kadang kala, landing gear lebih cepat dikeluarkan oleh pilot untuk tujuan menurunkan kecepatan. Namun, saat ini terjadi, ada konsekuensi yang harus diterima dimana bahan bakar menjadi lebih boros akibat hambatan ekstra dari landing gear tersebut.

Dompet Digital Terus Berkembang, KAIPay Mudahkan Penumpang Bertransaksi Tiket Kereta

Ketika dompet digital kini booming, hampir semua pembayaran bisa dilakukan tanpa uang tunai atau menggesek kartu ATM. Sebab kehadiran dompet digital memudahkan pengguna untuk melakukan pembayaran apalagi di masa pandemi yang membuat meminimalisir pembayaran melalui uang tunai.

Baca juga: Mudahkan Penumpang, DAMRI Kolaborasi dengan Dompet Digital ShopeePay dan DANA

Di dunia transportasi maupun market place, dompet digital bahkan menjadi hal yang lumrah. Karena hal itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) akhirnya ikut mengambil bagian dengan meluncurkan dompet digital KAIPay sebagai alternatif metode pembayaran pada aplikasi KAI Access.

KAIPay sendiri akan memudahkan pengguna KAI Access dan memberikan keamanan serta kecepatan dalam pembayaran tiket atau transaksi lainnya.

“KAIPay merupakan bagian dari transformasi digital yang saat ini tengah KAI gencarkan untuk mengakselerasi kemajuan perusahaan,” ujar Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo saat meluncurkan KAIPay di Stasiun Gambir, Kamis (18/11/2021) yang dikutip dari kai.id.

KAIPay dihadirkan melihat semakin meningkatnya kebutuhan ekosistem transportasi kereta api atas berbagai layanan secara digital yang dapat mendukung para pelanggan dalam beraktivitas. Bahkan dengan kehadiran KAIPay, pengguna tak perlu membayar melalui metode pembayaran lainnya.

Kehadiran KAIPay juga dapat digunakan untuk membayar layanan first mile dan last mile, dan berbagai produk dan jasa yang tersedia di aplikasi KAI Access. Pembayaran yang dilakukan menggunakan KAIPay dipastikan aman, karena setiap transaksi memerlukan PIN KAIPay sebagai verifikasi pembayaran pelanggan.

Setiap pembayaran menggunakan KAIPay juga bebas biaya tambahan lainnya, sehingga pelanggan hanya perlu membayar sesuai tarif yang tertera saja. Untuk dapat menggunakan KAIPay, pelanggan harus mengupdate aplikasi KAI Access-nya minimal ke versi aplikasi 4.7.4 pengembangan versi 104.

Pada halaman beranda, klik ikon KAIPay untuk melakukan aktivasi dengan melengkapi identitas dan melakukan verifikasi OTP yang dikirim via Whatsapp, apabila nomor HP belum terdaftar Whatsapp, OTP akan dikirimkan melalui SMS. Terakhir, pelanggan diarahkan membuat PIN KAIPay untuk keamanan transaksi. KAIPay akan muncul menjadi salah satu opsi pada menu metode pembayaran yang dapat pelanggan gunakan untuk menyelesaikan transaksi.

Pengisian saldo KAIPay dapat dilakukan melalui transfer Virtual Account di beberapa Bank dan melalui minimarket, dengan biaya administrasi Rp0 selama masa promo berlangsung. KAIPay sendiri adalah kerjasama cobranding antara KAI dengan KasPro yang telah disetujui oleh Bank Indonesia.

Sementara itu, PT Pulau Pulau Media adalah mitra bisnis KAI sekaligus pihak yang berperan melakukan pengembangan aplikasi KAI Access termasuk KAIPay, penyediaan produk asuransi, Payment Point Online Banking, dan lainnya yang dapat mempermudah pengguna dalam melakukan transaksi digital pada KAI Access. Didiek mengatakan, peluncuran KAIPay merupakan wujud inovasi KAI untuk meningkatkan layanan yang telah tersedia dalam aplikasi KAI Access. KAIPay akan terus dikembangkan kedepannya seperti dapat melakukan transfer antar sesama KAIPay hingga pembayaran di merchant yang mendukung QRIS.

Baca juga: Canangkan Pembayaran Non Tunai, AirAsia Luncurkan Dompet Elektronik “BigPay”

“Hadirnya KAIPay diharapkan akan semakin meningkatkan animo masyarakat terutama milenial dalam menggunakan layanan kereta api dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” tutup Didiek.