Gegara Pemanasan Global, Penumpang Pesawat Bakal Rasakan Turbulensi 3x Lipat

Turbulensi adalah momok menakutkan bagi penumpang di setiap penerbangan. Celakanya, ke depan, setiap penerbangan akan lebih banyak mengalami ‘turbulensi tak terlihat’ akibat pemanasan global.

Baca juga: Enam Jenis Turbulensi Pesawat, Mana yang Paling Sering Terjadi?

Penelitian baru yang diterbitkan di Science Advances membeberkan bahwa saat planet memanas akibat global warming, atmosfer yang paling dekat dengan Bumi telah meningkat.

Hal ini membuat pilot perlu terbang lebih tinggi untuk menghindari turbulensi dan kemungkinan penumpang akan mengalami perjalanan yang lebih bergelombang atau bisa juga disebut ‘turbulensi tak terlihat’ di masa depan.

‘Turbulensi tak terlihat’, seperti dikutip dari The Sun, yang disebabkan oleh pergeseran angin -ketika kecepatan angin berubah secara tiba-tiba- juga akan meningkat dalam beberapa dekade mendatang saat bumi memanas, memberikan gaya putar berlebih pada pesawat dan memicu turbulensi.

Semakin bumi memanas, turbulensi tak terlihat akan semakin sering terjadi. Bila tak ada inovasi dalam menyiasati hal ini, perjalanan jarak dekat apalagi jarak jauh mungkin tak akan se-menyenangkan seperti sekarang.

Para peneliti menekankan, ‘turbulensi tak terlihat’ ini bisa sangat parah dan menghantui para penumpang pesawat yang gugup dan trauma.

Di bulan Agustus 2019, pramugari maskapai Thomas Cook (saat ini sudah bangkrut) dilaporkan mengalami patah tulang setelah pesawat Airbus A330-200 yang ditumpanginya mengalami turbulensi hebat.

Baca juga: Apa yang Harus Anda Lakukan Jika Turbulensi Menyerang Saat Berada di Toilet

Beberapa bulan berselang atau pada Februari 2020, Badai Ciara membuat pesawat Air Europa alami tubulensi parah. Meski tak sampai membuat penumpang atau kru patah tulang seperti di penerbangan Thomas Cook, tetapi itu lebih dari cukup untuk membuat penumpang muntah-muntah dan berteriak histeris.

Bila saat ini turbulensi bisa membuat penumpang celaka, bagaimana di masa mendatang yang notabene, dalam penelitian oleh University of Reading, turbulensi bakal terjadi tiga kali lebih banyak pada tahun 2050 hingga 2080.

Saat ini, perubahan iklim menyebabkan perbedaan suhu antara kutub bumi dan khatulistiwa menyusut. Jurang perbedaan yang teramat dalam ini disebut peneliti “menyebabkan peningkatan geser angin yang mendorong terjadinya turbulensi”.

Meski begitu, penumpang tak perlu khawatir. Begitu banyak ilmuan di luar sana yang tengah mencari solusi atas ancaman ini, salah satunya Andras Galffy, seorang mahasiswa doktoral dari Technische Universität Wien asal Austria, yang tergabung dalam kelompok penelitian Advanced Mechatronic Systems.

Andras Galffy dan kelompok tersebut diketahui berhasil menemukan sebuah teknologi sensor yang mampu mengurangi resiko turbulensi hingga 80 persen.

Selain dapat mengurangi kenyamanan dan keamanan akibat turbulensi, teknologi yang sudah mendapat hak paten tersebut dinilai juga dapat menghemat bahan bakar.

Baca juga: Jangan Lagi Takut Turbulensi, Teknologi ini Bisa Buat Pesawat Nyaris Terbang Mulus

Pasalnya, ketika turbulensi terjadi, sistem perputaran angin pada sayap pesawat menjadi tak beraturan hingga mengurangi daya angkat pesawat. Akibatnya, pesawat harus mengeluarkan ‘tenaga’ ekstra untuk tetap mempertahankan jalur, ketinggian, serta gaya angkat.

Teknologi sensor anti turbulensi itu sejauh ini baru diuji di pesawat tak berawak dan tengah diupayakan untuk bisa dipakai di pesawat komersial.

Sambut Nataru, KAI Hias Lokomotif dan Kereta

Seperti sudah tradisi kereta api Indonesia menyambut hari besar dengan suka cita. Ya, semenjak Didiek Hartantyo menjabat sebagai Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) sejak 8 Mei 2020 banyak sekali hal-hal baru yang membuat para netizen khususnya penggemar kereta api selalu mendapat kejutan. Selain pelayanan dan kenyamanan yang tetap menjadi andalan masyarakat, hal baru lainnya yaitu tampilan wajah baru disetiap rangkaian kereta apinya.

Baca juga: Ini Livery Lokomotif dan Kereta Sambut HUT RI Ke-76

Seperti saat ini menghadapi Hari Raya Natal 2021 dan menyambut Tahun Baru (Nataru) 2022, PT KAI menyambutnya dengan menambahkan hiasan atau livery baru pada rangkaian kereta api maupun lokomotif. Ya, livery yang bergambar kado berwarna merah layaknya hadiah, lengkap dengan pita warna abu-abu menghiasi bagian depan dan belakang lokomotif.

Sebelumnya, hiasan hari raya tersebut sudah rutin dilakukan sejak dimulainya Hari Raya Natal 2020 lalu. Hingga saat ini setiap menyambut hari raya, Kereta Api Indonesia juga turut menyemarakan dengan menampilkan hiasan pada kereta dan lokomotif. Adapun livery yang pernah menghiasi rangkaian kereta dan lokomotif yaitu: Hari Raya Idul Fitri dengan hiasan ketupat dengan warna dasar hijau dan warna keemasan, Hari Kemerdekaan RI yang ke-76 dengan corak warna merah putih melambangkan Bendera Indonesia, dan Hari Kereta Api Indonesia yang jatuh setiap tanggal 28 September dengan memunculkan karakter petugas yang bekerja di kereta api seperti masinis, kondektur, pramugari, polisi kereta api, teknisi kereta api, petugas loket, Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA), dan On Train Cleaning (OTC) kereta api.

Daftar Sementara Lokomotif Livery Nataru
Sejak munculnya Lokomotif dengan livery Nataru, penggemar kereta api yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera berlomba-lomba untuk mengabadikan momen yang tidak mereka tinggalkan. Ada yang disimpan sebagai foto koleksi pribadi, ada juga yang mengunggahnya di platform media sosial sebagai penyampaian yang informatif.

Nah, beberapa sumber informasi yang didapat, bahwa ada nomor seri lokomotif yang dipasang stiker livery Nataru.

Adapun nomor seri lokomotif tersebut adalah:
1. Lokomotif seri CC 206 13 70 (Dipo Induk Cipinang)
2. Lokomotif seri CC 206 13 87 (Dipo Induk Cipinang)
3. Lokomotif seri CC 206 13 88 (Dipo Induk Cipinang)
4. Lokomotif seri CC 206 13 89 (Dipo Induk Cipinang)
5. Lokomotif seri CC 206 15 01 (Dipo Induk Cipinang)
6. Lokomotif seri CC 206 15 04 (Dipo Induk Cipinang)
7. Lokomotif seri CC 206 13 62 (Dipo Induk Yogyakarta)
8. Lokomotif seri CC 206 13 63 (Dipo Induk Yogyakarta)
9. Lokomotif seri CC 206 13 39 (Dipo Induk Sidotopo)
10. Lokomotif seri CC 206 13 46 (Dipo Induk Sidotopo)
11. Lokomotif seri CC 206 13 48 (Dipo Induk Sidotopo)
12. Lokomotif seri CC 206 15 04 (Dipo Induk Sidotopo)
13. Lokomotif seri CC 206 13 95 (Dipo Induk Bandung)
14. Lokomotif seri CC 206 13 98 (Dipo Induk Bandung)
15. Lokomotif seri CC 201 93 02R (Dipo Induk Medan)
16. Lokomotif seri CC 201 77 04 (Dipo Induk Medan)

Baca juga: “Pasumai,” Lokomotif Ramah Lingkungan dengan Pilihan Tenaga Listrik Pantograf atau Baterai

Untuk rangkaian kereta api yang beberapa sudah dipasangi stiker livery Nataru adalah Kereta Api Lodaya (Bandung – Solo pp.), Kereta Api Argo Sindoro (Gambir – Semarang Tawang pp.), Kereta Api Bima (Gambir – Surabaya Gubeng pp.), dan Sembrani (Gambir – Surabaya Pasar Turi pp.). Selanjutnya beberapa kereta api lainnya menyusul untuk dipasangi livery Nataru. (Pras – Penggemar Kereta Api)






















Kebakaran di Pasar Gaplok, Kereta Api Alami Kerugian

Kebakaran besar yang tidak terhindarkan terjadi di Pasar Gaplok, kawasan Senen, Jakarta Pusat pada pukul 08.45 WIB, Rabu (15/12). Kebakaran hebat telah menghanguskan pemukiman disekitaran pasar. Kebakaran terjadi sekitar 1 jam 45 menit dan mengerahkan mobil pemadam kebakaran sebanyak 17 unit. Lokasi kebakaran sangat dekat dengan jalur kereta api petak Stasiun Gang Sentiong (GST) – Stasiun Pasar Senen (PSE). Akibatnya beberapa kereta yang hendak melintas tertuna keberangkatannya akibat kebakaran tersebut.

Baca juga: Stasiun Jatinegara, Gerbang Keluar Masuk Jalur Kereta di Ibu Kota 

Kerugian yang Dialami Kereta Api
Kejadian luar biasa memang tidak diduga -duga. Maka dari persiapan dan rekayasa operasional pun harus dilakukan guna mencegah hal yang tidam diinginkan. Kebakaran di Pasar Gaplok berimbas pada kerugian yang dialami kereta api. Kerugian tersebut yaitu kerugian waktu dan kerugian perjalanan.

Kerugian waktu sudah jelas ketika kebakaran melanda kawasan Pasar Gaplok beberapa perjalanan kereta api mengalami keterlambatan. Hal yang tidak diduga terjadi berimbas pada antrian kereta api jarak jauh dan juga KRL. Beberapa keterlambatan kereta api yakni: KA 130 Dharmawangsa (Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi), KA 302 Serayu (Pasar Senen – Purwokerto), Lokomotif Ex Parcel Utara, KA 2518 Kontainer (Tanjung Priok – Kalimas), KA 295 Parcel Utara (Kalimas – Jakarta Gudang), KA 2520 Kontainer (Tanjung Priok – Kalimas), KA 129 Dharmawangsa (Surabaya Pasar Turi – Pasar Senen), dan KA 2531 Kontainer (Lemah Abang – Tanjung Priok)
Tak hanya kereta api jarak jauh, KRL Jabodetabek pun ikut terkena imbasnya, yaitu keterlambatan.

Dari berbagai sumber dilaporkan saat kebakaran terjadi, Listrik Aliran Atas (LAA) di petak tersebut pun dipadamkan, guna terhindar percikan api dari kabel. Pihak Commuter Line akhirnya berinisiatif membuat Rekayasa Operasional KRL. Adapun KRL yang terkenal Rekayasa Operasional adalah:
1. KA 1536 hanya sampai Kemayoran dan kembali sebagai KA 1541 tujuan Jakarta Kota. Rangkaian KRL seri 205.50+57
2. KA 1537 hanya sampai Pondok Jati kembali sebagai KA 1538 berjalan jalur kiri sampai Jatinegara lanjut ke Bekasi menggunakan rangkaian KRL seri 205.15
3. KA 1781 – 1782 perjalanan hanya sampai Pasar Senen kembali sebagai KA 1783 – 1784 menuju Depok menggunakan rangkaian KRL seri 203.2
4. KA 1785 – 1786 perjalanan hanya sampai Stasiun Kemayoran dan kembali ke Bogor sebagai KA 1787 – 1788 dengan rangkaian KRL seri 6133
5. KA 1788 – 1790 perjalanan hanya sampai Stasiun Kampung Bandan dan kembali sebagai KA 1791 – 1792 tujuan Stasiun Depok

Kerugian lainnya yang dialami kereta api adalah kerugian di perjalanan. Kereta api maupun KRL pun tertahan di beberapa stasiun. Imbasnya perjalanan KRL hingga di stasiun antara dan kembali lagi ke stasiun awal keberangkatan. Sebagai contoh stasiun Gang Sentiong, stasiun ini merupakan perhentian yang hanya melayani KRL dan merupakan Stasiun Antara yang tidak memiliki wesel persambungan KA. Jadi ketika ada gangguan dipetak tersebut, mau tidak mau kereta berjalan di jalur kiri (jalur salah).

Kejadian kebakaran di Pasar Gaplok juga berimbas pada keberangkatan kereta api jarak jauh, yaitu KA 130 Dharmawangsa (Pasar Senen – Surabaya Pasar Turi). Seharusnya KA Dharmawangsa berangkat dari Stasiun Pasar Senen melewati Gang Sentiong dan Jatinegara, namun kebakaran yang melanda dikawasan tersebut. Akhirnya dengan Rekayasa Operasional, KA Dharmawangsa diputar jalurnya melewati Pasar Senen – Kampung Bandan – Tanah Abang – Manggarai – Jatinegara.

Perjalanan KA Makin Terlambat
Lokomotif yang seharusnya menarik KA Dharmawangsa hingga Surabaya Pasar Turi, harus ditukar di Depo Lokomotif Tanah Abang. Karena posisi kabin lokomotif berada di bagian belakang atau menghadap ke rangkaian kereta. Karena standar operasional kereta api, setiap lokomotif yang berdinas jarak jauh, posisi single kabin masinis pada lokomotif harus berada didepan.

Baca juga: Sejukkan Stasiun, London North Eastern Railway Kembangkan CityTree

Lokomotif yang menarik KA Dharmawangsa adalah seri CC 201 83 47R milik Depo Induk Jember. Namun perjalanan makin lambat, karena harus tukar lokomotif di Depo Lokomotif Tanah Abang. Jadi Lokomotif KA Dharmawangsa ditukar dengan seri CC 201 83 26 milik Depo Induk Purwokerto. (Pras – Penggemar Kereta Api)






















Jajal Bus Mewah PO Pandawa 87 – Suites Class dengan Rute Terpanjang di Indonesia

Suites Class menjadi salah satu yang masih diperbincangan dalam layanan bus di Indonesia baik bus antar kota antar provinsi (AKAP) maupun untuk pariwisata. Konsep yang diusung perusahaan otobus (PO) untuk Suites Class ini adalah ‘rebahan’ sepanjang jalan.

Baca juga: Ugal-ugalan dan Setel Musik Keras Kode Ada Pencopet di Bus AKAP?

Meski dikatakan ‘rebahan’ sepanjang jalan, tetapi ini semua tidak benar-benar rebah dan kursi hanya diturunkan hingga 150 derajat. Tak direbahkan 180 derajat karena adanya regulasi dan alasan keamanan selama perjalanan. Kali ini kabin sutes claas yang akan diungkap adalah karoseri milik Laksana dari Semarang yang sudah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 2019 di Event GIIAS.

Kabin bus Pandawa 87. Foto: KabarPenumpang.com

Bahkan Suites Class pertama saat itu dimiliki oleh PO Sinar Jaya. Walaupun Sinar Jaya menjadi pertama, semakin hari perkembangan bus dengan Suites Class pun meningkat. Salah satunya adalah Pandawa 87 dan merupakan PO yang belum lama membentangkan sayapnya di dunia bus AKAP.

Mengusung Suites Class sebagai kelas tertinggi dalam jajaran armadanya, tidak tanggung-tanggung rute yang dibuka adalah Tangerang menuju ke Banyuwangi dan sebaliknya. Dengan jarak tempuh perjalanan darat sekitar 1090 Km, membuat bus ini menjadi Suites Class dengan rute terpanjang (sejauh ini).

Dan belum lama ini penulis berkesempatan merasakan langsung pengalaman melakukan perjalanan menaiki Suites Class dengan rute terjauh tersebut. Untuk harga tiket dibanderol Rp500 ribu (Bekasi-Banyuwangi), beda Rp20 ribu untuk rute Tangerang-Banyuwangi.

Sejalan dengan kenyamanan armada, servis yang diberikan kepada penumpang bus juga benar-benar luar biasa dan mungkin tidak pernah terbayangkan oleh kita ketika menaiki sebuah bus. Ada bantal, selimut, aneka snack, kopi/teh, makan malam yang tentunya semua itu diberikan secara cuma-cuma alias gratis kepada penumpang. Belum lagi adanya fasilitas Audio Video On Demand (AVOD) dan colokan USB yang membuat penumpang semakin betah melakukan perjalanan darat jauh dengan bus.

Baca juga: Inilah Parade PO Bus AKAP yang Usianya Tembus Setengah Abad

Unit armada Pandawa 87 kelas ini ditopang menggunakan sasis Mercedes Benz OH 1626, yang sudah dilengkapi dengan suspensi udara bawaan sehingga meminimalisir suara gaduh yang dihasilkan dari peredam getaran ketika bus dihadapkan dengan medan jalan yang bergelombang maupun rusak sekalipun. (Senna Aditiya – Penggemar Bus)






















Bandara Hong Kong Luncurkan Asuransi Delay Gratis, Penumpang Dapat Kompensasi Tanpa Ribet

Bandara Hong Kong (HKIA) resmi meluncurkan asuransi penundaan (delay) penerbangan gratis. Selama syarat minimal enam jam delay terpenuhi, penumpang bisa mendapat kompensasi sebesar HKD300 atau sekitar Rp551 ribu (kurs 1.837) secara cuma-cuma alias tanpa ribet melalui aplikasi My HKG yang dikembangkan HKIA.

Baca juga: Berkat Teknologi Biometrik, Bandara Hong Kong Sabet Gelar Inovasi Terbaik di Ajang ACI Innovation Awards

Selama 11 bulan sejak Januari sampai November lalu, Bandara Internasional Hong Kong tercatat melayani 1,2 juta penumpang dan 130.300 penerbangan, turun masing-masing 86,3 persen dan 12,0 persen.

Bila diperhatikan, persentase tersebut memang agak aneh dimana jumlah penumpang turun drastis tetapi jumlah penerbangan tidak.

Namun, sebetulnya itu wajar mengingat Hong Kong, sebagai pusat keuangan terbesar Asia, sekaligus, salah satu hub regional terbesar, memainkan peran sangat penting dalam menjaga rantai pasokan bahan baku manufaktur di kawasan; termasuk mendistribusikan peralatan dan perlengkapan medis yang kebutuhannya meningkat drastis selama pandemi Covid-19.

Sejauh ini, di masa normal, HKIA diketahui telah terhubung ke sekitar 180 tujuan, melalui lebih dari 1.000 penerbangan setiap hari oleh lebih dari 100 maskapai.

Sepinya aktivitas penerbangan di HKIA membuat keuangan bandara terseok-seok. Beruntung, HKIA beberapa kali mendapat kucuran dana segar.

Di akhir Februari lalu saja, total kucuran dana yang telah disalurkan ke bandara tersebut angkanya mencapai HK$1,6 miliar atau sekitar Rp2,8 triliun sejak pertama kali dikucurkan pada tahun lalu.

Empat bulan setelahnya atau di bulan Juni, HKIA mendapat suntikan dana sebesar HK$35 miliar atau Rp64 triliun (kurs 1 dollar HK – Rp1.825). Mereka mendapat dana tersebut dari 21 bank lokal dan internasional. Padahal, sebelumnya, AAHK hanya merencanakan dana sebesar 75 persen saja atau HK$20 miliar. Namun, karena tingginya minat dari bank, mereka pun menambah jumlah pembiayaan.

Kucuran dana segar HKIA tak berhenti berinovasi. Terbaru, bandara tersebut resmi memulai program asuransi penundaan (delay) penerbangan gratis.

Dilansir ttrweekly.com, penumpang yang ingin mendapatkan kompensasi atas keterlambatan penerbangan minimal enam jam bisa mendaftarkan diri sebagai HKairport Rewards atau sejenis miles oleh maskapai.

Penumpang yang sudah terdaftar dan memenuhi syarat, secara otomatis akan mengklaim kompensasi ke pihak bandara melalui aplikasi resmi perseroan, My HKG, tanpa mengunggah dokumen apapun.

Baca juga: Bandara Hong Kong Rampungkan Runway Ketiga di Tanah Reklamasi

Sayangnya, tak disebutkan dengan jelas kemana kompensasi akan dikirim. Besar kemungkinan, saat pendaftaran penumpang diminta untuk mencantumkan nomor rekening aktif.

Asuransi ini ditanggung sepenuhnya oleh ZA International Insurance Broker Limited (ZA). Selain itu, Penumpang terdaftar yang memegang kartu ID Hong Kong yang masih berlaku dan tiket pesawat pulang pergi ke Hong Kong juga berhak atas perlindungan Covid-19 gratis yang disediakan oleh ZA Relief Fund.

Depo Bekasi Ditutup, KRL Menginap di Cikarang

Stasiun Kereta Api Cikarang kini sedikit bernafas lega. Karena kini jalur Stabling (jalur simpan) Stasiun Cikarang segera untuk siap digunakan. Jalur simpan tersebut nantinya akan diisi oleh 3 rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL).

Baca juga: “Malu-malu,” PT KCI Akui Langgar Aturan Terkait CCTV di KRL!

Biasanya KRL terakhir tujuan Cikarang akan disimpan dijalur 3 atau 4 untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya pada pukul setengah 5 pagi. Namun, rangkaian KRL akan dialihkan di jalur simpan Stasiun Cikarang.

Uji Coba Perdana di Jalur Simpan
Jalur simpan di Stasiun Cikarang masih terbilang baru. Bahkan area tersebut sebelumnya merupakan lahan kosong milik PT KAI yang terbengkalai dan ditumbuhi rerumputan maupun ilalang. Namun, saat rute KRL sampai dengan Stasiun Cikarang, akhirnya lahan tersebut digunakan untuk jalur simpan.

Uji coba dilakukan pada Selasa (14/12) pada pukul 11.36 WIB. Uji coba jalur simpan tersebut menggunakan rangkaian KRL seri 205.75+77 dengan Stamformasi (SF) 12 kereta milik Depo KRL Bukit Duri. KRL yang diuji cobakan ini berangkat dari Stasiun Manggarai (keluar dari Depo Bukit Duri) berjalan langsung hingga ke stasiun akhir Cikarang. Namanya status KLB (Kereta Luar Biasa), tentu saja tidak berpenumpang. Hanya membawa petugas khusus yang melakukan pengecekan jalur simpan dari Depo KRL.

Kondisi Depo KRL Bekasi yang sudah tidak digunakan (Foto: Sendy Prasetya)

Jalur simpan Stasiun Cikarang memiliki 3 jalur. Jalur pertama (kiri) untuk menyimpan KRL sebanyak 12 kereta, lalu jalur kedua (tengah) dan jalur ketiga (kanan) hanya bisa dimasuki KRL dengan 10 kereta saja. Uji coba dilakukan dengan kecepatan minimum 5 km per jam dan maksimum 20 km per jam. KRL diuji cobakan pada jalur paling kiri dengan muat 12 kereta. Kemudian KRL kembali uji coba pada jalur tengah yang hanya muat 10 kereta , dan dilanjut jalu simpan paling kanan juga muat hanya 10 kereta.

Timbulkan Kemacetan Parah
Lokasi jalur simpan Stasiun Cikarang sangat dekat dengan Pintu Perlintasan (Pos JPL 111). Diarea tersebut sangat ramai dengan lalu lintas kendaraan roda dua maupun roda empat bahkan lebih. Apalagi lokasi JPL 111 ini dekat juga dengan Pasar Cikarang. Ramainya lalu lintas pengendara roda dua dan empat ini terjadi pada pagi hingga sore setiap harinya. Tak heran jika ada kereta api lewat hingga 2 arah sekaligus kemacetan tak terhindarkan.

Kemacetan parah pun terjadi saat KRL uji coba dari peron Stasiun Cikarang menuju jalur simpan melewati Pos JPL 111. Dengan kecepatan yang tidak lebih dari 10 km/j membuat pengendara roda dua maupun empat ini sesekali membunyikan klakson seakan mereka tidak sabar untuk berjalan karena lelah menunggu lama ditambah cuaca saat itu sangat panas.

Beruntung dari petugas keamanan stasiun turun ke lokasi guna menertibkan arus lalu lintas yang dikhawatirkan akan menerbos palang pintu kereta api. Walaupun beberapa kendaraan khususnya pengendara sepeda motor, mencuri garis start karena sudah tidak sabar menunggu.

Baca juga: Depo Cipinang Akan Gantikan Depo Kereta Jatinegara yang Bakal Digusur

Diketahui bahwa Depo KRL Bekasi tidak digunakan, karena imbas proyek Double Double Track (DDT) dari Bekasi sampai dengan Manggarai. Jadi KRL yang menginap di Stasiun Bekasi akan masuk di jalur simpan (jalur 8) Stasiun Bekasi dan sisanya KRL menginap di jalur simpan Stasiun Cikarang. Belum diketahui informasi lebih lanjut soal nasib Depo KRL Bekasi kedepannya. Tetap Hidup atau Mati? (Pras – Penggemar Kereta Api)






















Mirip Kasus di Indonesia, Masinis Pakistan Hentikan Lokomotif untuk Beli Cemilan

Anda ingat dengan berita masinis KA Pangrango rute Sukabumi-Bogor yang membeli gorengan di perlintasan sebidang Stasiun Parungkuda. Kejadian tersebut terjadi pada 31 Oktober 2019, dan peristiwa serupa ternyata belum lama terjadi di Pakistan. Bedanya, bila masinis Indonesia dahulu membeli gorengan, maka masinis Pakistan membeli Yoghurt.

Inilah Ferry Yonakuni “Gero Fune” – Dijuluki Sebagai Kapal Muntah Pengocok Perut

Mabuk laut sudah menjadi hal yang lazim dialami sebagian orang ketika menggunakan jasa pelayaran. Namun, ada yang menarik di Jepang, pasalnya ada yang disebut sebagai “Vomit Ship atau Kapal Muntah.” Sudah bisa ditebak, mengapa kapal ini dijuluki kapal muntah, ya karena hampir rata-rata penumpang yang menaiki kapal ini akan terkena efek dari mabuk laut, mulai dari pusing, mual, hingga akhirnya jackpot alias muntah.

Baca juga: Memahami Penyebab Mabuk Laut dan Cara Mengatasinya

Dikutip dari soranews24.com (18/12/2021), yang dimaksud sebagai kapal muntah adalah kapal Ferry Yonakuni. Kapal ferry ini berangkat dari Pulau Ishigaki menuju Pulau Yonaguni di sisi selatan Jepang. Kapal ferry ini hanya berlayar dua kali seminggu, pada hari Selasa dan Jumat, dengan perjalanan kembali dari Yonaguni tersedia pada hari Rabu dan Sabtu.

Disebutkan durasi perjalanan kapal ferry ini kurang lebih 4,5 jam, dan penumpang dimanjakan dengan pemandangan indah pulau-pulau terpencil, terutama di Pulau Ryukyu, yang membentang ke barat daya dari Kyushu hingga Taiwan.

Biaya yang dipatok untuk mencoba kapal muntah (Gero Fune – dalam Bahasa Jepang) adalah 3.550 yen (US$30,92) untuk sampai ke Yonaguni, dan 3.250 yen untuk perjalanan pulang, sehingga total perjalanan pulang pergi menjadi 6.800 yen. Karena pemandangan yang indah, umumnya penumpang bergembira pada tahap awal melakoni perjalanan.

Kantung muntah telah tersedia di beberapa sudut kapal (Foto Soranews24.com)

Reporter soranews24.com Masanuki Sunakoma yang menjajala pelayaran tersebut mengatakan, kapal muntah terbilang sangat bersih, namun setelah 30 menit berlayar, seiring gelombang yang mengajun, rasa pusing dan mual mulai dirasakan kebanyakan penumpang. Setelah mencoba bertahan, beberapa menit ia mulai tak tahan, dan dia merasakan kebutuhan yang tiba-tiba untuk berada di dekat toilet demi keamanan.

Dia berlari menuju kamar mandi, berpegangan pada pegangan tangan yang diberkati itu agar dia tidak terbang di sekitar kabin di tengah goyangan yang kuat. Ketika dia akhirnya tiba di kamar kecil, dia melihat sekilas wadah ini, dan secara naluriah bergerak ke arahnya. “Oh, ya…aku akan melakukannya di sini”, ujar Masanuki sambil mencengkeram pegangan di wastafel, membungkuk untuk melakukan apa yang dia sebut sebagai “ritual mabuk laut pertama”.

Setelah muntah, Ia merasa sedikit lebih baik, Masanuki membersihkan diri dan keluar dari toilet, hanya untuk melihat antrean panjang orang yang menunggu untuk menggunakan kamar kecil, semuanya dengan wajah yang sama tegang dan pucatnya seperti wajahnya.

Baca juga: Tukang Gorengan ini Gunakan ‘Kantung Muntah’ Garuda Indonesia Sebagai Bungkusnya

Kapal Ferry Yonakuni benar-benar memenuhi julukannya sebagai “kapal muntah”, dan Masanuki perlahan berjalan ke ranjang susun untuk berbaring dengan putus asa. Setelah melihat arloji, masih ada waktu tiga jam yang masih harus dilalui dengan kapal maut ini, dan apesnya, saat itu belum ada tanda-tanda ayunan gelombang akan mereda.






















5 Negara dengan Tarif Airport Tax Tertinggi di Dunia, Nomor 2 Sukar Dipercaya

Tak hanya tiket pesawat, tarif airport tax atau passanger service charge (PSC) atau biasa juga disebut pelayanan jasa penumpang pesawat udara (PJP2U) berbeda-beda di setiap negara. Hal itu wajar mengingat masing-masing negara mempunyai dasar perhitungan tarif PSC sendiri dan pelayanannya pun juga berbeda.

Baca juga: Demi Pembangunan Terminal 5, Bandara Changi Kutip Pajak Hingga S$15 Per Penumpang

Akan tetapi, berbicara tarif airport tax, sebetulnya negara mana yang mematok tarif tinggi untuk itu? Dilansir mapquest.com, berikut daftarnya.

5. Austria

Austria mematok tarif airport tax tergolong rendah dibanding beberapa negara Eropa lainnya, yaitu sebesar US$45. Meski begitu, industri pariwisata tercatat menyumbang hampir 10 persen dari produk domestik bruto.

Akan tetapi, sekali lagi, meski tak pajaknya tak semahal beberapa negara Eropa lainnya, tetap ada kekhawatiran terhadap minat wisawatan datang ke Austria. Ke depan, dikhawatirkan, wisawatan lebih memilih datang ke negara tetangga yang mematok tarif airport tax lebih murah, baru kemudian datang ke Austria menggunakan moda transportasi lainnya.

Airport tax sendiri adalah jasa pelayanan yang diberikan kepada setiap penumpang di bandara. Biaya ini yang dibebankan atas pemanfaatan jasa-jasa pelayanan dan penggunaan fasilitas yang tersedia di bandara tersebut.

4. Jerman

Jerman memasang tarif airport tax rendah untuk wisatawan yang menuju negara-negara di Eropa. Tapi tidak dengan negara-negara di luar itu, seperti Benua Afrika, Asia, Amerika, dan lainnya, yang dipatok PSC sebesar US$53 USD.

Sebagaimana di Austria, Jerman, khususnya pihak oposisi, juga khawatir terhadap minat wisatawan datang ke Negeri Bavaria. Pada 2012, Jerman menduduki peringkat ke-7 negara tujuan wisata favorit di dunia dan yang ke-5 di Eropa. Bila tarif airport tax terus melambung tinggi dan mempengaruhi harg tiket, bukan tak mungkin wisatawan lebih memilih ke negara tetangga.

3. Australia

Kendati menerapkan tarif airport tax cukup mahal, namun, setiap tahunnya Australia tak pernah kekurangan wisatawan domestik dan mancanegara, dimana Sydney dan Melbourne menjadi dua wilayah terfavorit tujuan wisatawan. Negeri Kangguru itu tercatat diketahui memasang tarif airport tax sangat tinggi kepada penumpang mencapai US$55.

Baca juga: Anti Mainstream, Bandara Pyongyang Diklaim AS Terhubung dengan Fasilitas Nuklir Terbesar Korea Utara

2. Fiji

Negara ini mungkin tidak pernah terpintas di benak Anda. Namun, faktanya, negara di Oseania tersebut berada di urutan kedua daftar yang mematok tarif tertinggi di dunia. Disebutkan, penumpang yang datang ke Fiji dipungut pajak sebesar US$200, bukan atas berbagai pelayanan dan fasilitas yang dinikmatinya, melainkan untuk menjaga kebersihan lingkungan.

1. Amerika Serikat (AS) dan Inggris Raya

Dua negara yang selalu diserbu wisatawan dunia tersebut juga menerapkan tarif airport tax sangat tinggi, dimana AS mencapai US$100 dan Inggris Raya mencapai US$200.

Baru 4 Bulan Beroperasi, Boeing 737 MAX SpiceJet Mendarat Darurat di Mumbai!

Pesawat Boeing 737 MAX SpiceJet, dengan nomor registrasi VT-MXX, mengalami masalah pada mesin dan mendarat darurat di Bandara Mumbai setelah memutuskan return to base (RTB), 15 menit setelah lepas landas.

Baca juga: Boeing Pusing Lagi: 737 MAX ‘Sembuh’, 787 Dreamliner ‘Sakit’

Pesawat dengan nomor penerbangan SG467 dari Mumbai ke Kolkata ini diketahui baru saja beroperasi pada akhir Agustus lalu setelah diizinkan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara India (DGCA).

Laporan kepala DGCA, Arun Kumar, seperti dilansir Aerotime Aero, insiden Boeing 737 MAX SpiceJet pada 9 Desember 2021 tersebut bermula saat pilot mematikan mesin setelah lampu bypass filter oli menyala. Ketika itu, pesawat sudah berada di ketinggian jelajah. Tak lama setelahnya pilot meminta izin ATC untuk RTB dan mendarat di Mumbai.

Meski belum ada keterangan pasti penyebab insiden pesawat Boeing 737 MAX SpiceJet mendarat darurat, dilihat dari kronologi kejadian, dapat dipastikan bahwa pesawat tersebut memiliki masalah yang berbeda dengan Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS) yang menjadi penyebab kecelakaan dua Boeing 737 MAX Lion Air dan Ethiopian Airlines pada 2018 dan 2019 silam.

Setelah insiden ini, SpiceJet, satu-satunya operator Boeing 737 MAX di India, sementara waktu akan menggrounded 13 armada pesawat tersebut sampai pemeriksaan lebih lanjut oleh regulator dan pihak terkait.

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mulai mengizinkan Boeing 737 MAX kembali melayani penumpang pada 18 November 2020, disusul regulator penerbangan sipil lainnya di Kanada, Brasil, Panama, Meksiko, Eropa, Cina, Malaysia, Singapura, dan India, beberapa waktu kemudian.

Di Indonesia, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan selaku regulator masih belum memberikan izin terbang bagi dua operator Boeing 737 MAX, Garuda Indonesia dan Lion Air.

Meski terlihat mudah dan biasanya mengekor pada FAA, tetapi, Kemenhub perlu dilakukan beberapa hal sebelum benar-benar diizinkan, seperti mengerjakan Airworthiness Directives terkait modifikasi fitur MCAS dan turunannya, training pilot, kru kabin, mekanik, teknisi, kru darat, dan sebagainya.

Sementara itu, CEO Boeing, Dave Calhoun, mengungkapkan pihaknya sudah bekerja amat keras untuk memastikan retrofit 737 MAX aman.

Business Insider melaporkan, Boeing telah melalui proses perbaikan selama 400 ribu jam, 1.400 tes dan pengecekan, serta lebih dari 3.000 jam terbang pesawat 737 MAX. Hasilnya, Boeing mengklaim permasalahan software flight control -yang menjadi penyebab dua kecelakaan MAX- telah diselesaikan dengan baik.

Seiring kepercayaan publik terhadap 737 MAX, laporan CNN Internasional, Boeing mulai menambah produksi pesawat tersebut menjadi 19 unit per bulan pada kuartal ketiga, naik dari 16 unit per bulan pada kuartal sebelumnya. Boeing menargetkan produksi pesawat 737 MAX bisa mencapai 31 unit per bulan pada awal 2022.

Baca juga: Setelah Malaysia, Giliran Singapura Izinkan Boeing 737 MAX Kembali Terbang

Boeing juga mengaku sudah mendapat pesanan sebanyak 679 pesawat 737 MAX. Namun, itu belum menggantikan 1.000 pesanan yang dibatalkan pelanggan selama pesawat itu digrounded. Diperkirakan, sebagian besar pesanan pesawat itu akan dikirim pada akhir 2022.

Ini tentu menjadi kepuasan tersendiri bagi Boeing, mengingat 737 MAX sudah menguras kocek perusahaan sangat dalam untuk perbaikan sana sini, ditambah kehilangan begitu banyak pendapatan lantaran maskapai di seluruh dunia ramai-ramai membatalkan pesanan pesawat itu. Tak ada operator yang ingin membeli dan menerima pesawat yang digrounded selama 20 bulan itu.