Belajar dari Insiden Pesawat Lion Air JT 145 Kehilangan Tekanan, Penumpang Wajib Lakukan Ini

Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 145 tiba-tiba kehilangan tekanan 40 menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Senin lalu. Beruntung, pesawat rute Padang-Medan via Batam tersebut berhasil melakukan return to base (RTB) dan mendarat dengan selamat di BIM.

Baca juga: Saat Pesawat ‘Terpaksa’ Return to Base dan Divert Landing, Pilot Harus Penuhi Empat Syarat Ini

Menurut kesaksian Evi Yandi Rajo Budiman, Anggota Komisi I DPRD Sumatra Barat dari Fraksi Partai Gerindra, lesat akun media sosialnya, pesawat awalnya terbang mulus tanpa masalah. Sekitar 40 menit setelahnya, pilot tiba-tiba mengumumkan pesawat kehilangan tekanan dan harus kembali ke BIM.

Tak lama kemudian, pesawat, yang juga ditumpangi oleh 12 anggota Komisi I DPRD Sumatra Barat lainnya, itu tiba-tiba turun drastis (prosedur standar yang harus dilakukan pilot saat pesawat kehilangan tekanan) dan membuat penumpang panik seketika.

Dalam kondisi seperti ini, penumpang pesawat wajib tahu, bahwa mereka hanya perlu mengikuti instruksi pilot dan kru untuk menggunakan masker oksigen yang menggantung di atas kepala. Sebaliknya, kepanikan berlebih justru akan berakibat fatal.

Ketika pesawat kehilangan tekanan, apalagi dalam insiden pesawat Lion Air kemarin dimana pesawat disebut kehilangan ketinggian drastis, manusia normal besar kemungkinan tidak akan bisa bernapas dengan baik pada ketinggian terbang di rentang 30 ribu – 42 ribu kaki. Karenanya mereka membutuhkan oksigen sebagai alat bantu.

Masker oksigen penumpang memiliki lifetime-nya sendiri – biasanya itu hanya 15 menit saja, terhitung sejak masker turun dari kompartemen kabin.

Andai suatu waktu pesawat mengalami masalah di sekitar ketinggian 30.000 kaki dan hal tersebut menyebabkan masker oksiden keluar dari ‘sangkarnya’, maka kapten penerbangan harus sesegera mungkin menurunkan ketinggian sebelum pasokan oksigen di tangki habis – setidaknya pesawat harus berada di ketinggian dimana manusia bisa bernafas secara normal, yaitu di ketinggian 1.000 kaki.

Sebagai informasi tambahan, tangki oksigen yang dibawa oleh sebuah pesawat ini disimpan di bagian lambung.

Baca juga: Saat Masker Oksigen Turun, Ini yang Penumpang Wajib Tahu!

Dalam rentang waktu yang cukup singkat tersebut, dan tentu saja menegangkan, kapten harus dengan cekatan mencari jalur yang aman dan tidak menginterupsi penerbangan lainnya, sembari juga berkomunikasi dengan menara pengawas (ATC) untuk meminta ijin melakukan pendaratan darurat.

Pada insiden pesawat Lion Air JT 145 rute Padang-Medan via Batam kemarin, pilot dan kru berhasil melakukan langkah-langkah tepat, termasuk memberikan instruksi menggunakan masker oksigen segera, sampai akhirnya mendarat dengan selama di BIM. Tak diketahui pasti apa penyebab masalah pada pesawat tersebut.

 

Beda Antara ASDP-Angkasa Pura: Operator Kapal dan Pelabuhan Vs Pengelola Bandara (Saja)

Rentetan kecelakaan bus TransJakarta menjadikannya mendapat sorotan tajam, termasuk hal-hal di luar kecelakaan. Belakangan, muncul protes dari beberapa kalangan atas posisinya yang selain menjadi operator bus juga menjadi pengawas bagi para operator yang melakukan kontrak kerja dengan TransJakarta (TJ).

Baca juga: ASDP Tutup Sementara Angkutan Lebaran Penumpang, Pengamat: Jasa Logistik Jadi Tumpuan

Menariknya, selain TJ, ternyata hal serupa (tapi tak sama) juga terjadi pada PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry. Beberapa kalangan membandingkan dengan perusahaan sejenis dari dunia dirgantara, yaitu Angkasa Pura, I maupun II.

Keduanya memiliki posisi yang sama sebagai pengelola bandara dan pelabuhan. Tetapi, jika diperhatikan lebih detail, ternyata keduanya memiliki perbedaan mencolok, dimana ASDP, selain menjadi pengelola pelabuhan, juga menjadi operator kapal.

Di situs resmi PT ASDP, disebutkan, PT ASDP memiliki visi menjadi yang terdepan dalam menghubungkan masyarakat dan pasar melalui jasa penyeberangan-pelabuhan terintegrasi dan tujuan wisata waterfront. Jelas tertera di situ sebagai jasa penyeberangan dan pelabuhan.

Sedangkan Angkasa Pura murni hanya menjadi pengelola bandara dan bisnis turunannya, tidak turut menjadi operator pesawat, sebagaimana ASDP (operator kapal).

Dalam laman resminya, Angkasa Pura, dalam hal ini PT Angkasa Pura II (Persero), merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang usaha pelayanan jasa kebandarudaraan dan pelayanan jasa terkait bandar udara. Hanya saja kebandarudaraan dan pelayanan jasa terkait, tidak menjadi operator bagi pesawat terbang.

Menanggapi sengkarut ini, pengamat transportasi, Djoko Setijowarno, menyebut, posisi ASDP sebagai pengelola pelabuhan sekaligus operator kapal terkadang menjadi masalah.

Masalahnya adalah, sebagai operator kapal, tentu ASDP secara alamiah pasti akan mengutamakan kapalnya sendiri, tak jauh berbeda dengan pejabat publik yang juga masih memimpin sebuah perusahaan yang dikhawatirkan terdapat conflict of interest.

“Memang ada masalah juga ketika menjadi operator pelabuhan dan operator kapal. Tapi sudah terlanjur diminta untuk membangun pelabuhan penyeberangan, seperti di Merak,” katanya kepada KabarPenumpang.com, Senin, (13/12).

Baca juga: Mau Jadi ‘Airport of The Future,’ PT Angkasa Pura II Hadirkan Berbagai Teknologi

“(masalahnya) biasanya mengutamakan kapal milik mereka, namun kasusnya tidak banyak hanya segelintir, karena operator lain ikut mengawasi,” jelasnya.

Lebih lanjut, pengamat yang juga dosen Teknik Sipil di Universitas Katolik Soegijapranata ini menyebut tak masalah kondisi yang dialami ASDP saat ini terus berlangsung selama fungsi pengawasan eksternal yang kuat masih dijalankan. “Selama belum bermasalah. Saya kira tidak apalah,” tutupnya.

DHC-6 Twin Otter – Si Kecil Bandel Rajanya Daerah Pegunungan

Siapa sih yang tidak tahu pesawat Twin Otter? Ya, pesawat jenis ini akrab menyambangi daerah-daerah terpencil yang masih terisolir seperti di wilayah Indonesia bagian Timur sana. Pesawat yang memiliki daya angkut tidak lebih dari 20 orang ini memang terkenal bandel, lincah, dan tangguh. Kendati ukurannya yang kecil, justru itu menjadi kekuatan dari Twin Otter untuk meliuk-liuk di tengah tingginya pegunungan dan daerah lain yang tidak mampu dijajal oleh pesawat narrow body seperti Airbus A320 atau Boeing 737.

Baca Juga: Mengenal Jasa Penerbangan Charter di Indonesia

Selain kemampuannya untuk bermanuver di medan-medan yang sulit, satu kelebihan lain dari pesawat jenis Twin Otter ini adalah kemampuan untuk mendarat dan lepas landasnya yang spektakuler. Soal jarak lontar, jelas Twin Otter tidak memerlukan ancang-ancang yang jauh untuk mengudara – namun hal lain yang lebih keren adalah pesawat jenis ini mampu lepas landas dan mendarat di landas pacu yang seadanya. Tidak perlu landas pacu yang terbuat dari aspal atau beton, Twin Otter dapat memanfaatkan rumput sebagai tumpuan akhirnya sebelum mengudara.

Sama seperti pesawat komersial lainnya, Twin Otter pun diproduksi oleh sejumlah perusahaan pembuat pesawat terkemuka di dunia – salah satu yang paling terkenal adalah De Havilland Canada dengan produk andalannya, DHC-6.

Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, pesawat DHC-6 ini banyak diminati oleh berbagai maskapai dari berbagai pelosok dunia, dan salah satu maskapai asal Indonesia yang menggunakan DHC-6 sebagai armadanya adalah Merpati Nusantara Airlines yang kini sudah resmi berhenti beroperasi pada 1 Februari 2014 kemarin karena terlilit masalah finansial (hutang).

Selain De Havilland Canada, perusahaan lain yang juga turut memproduksi pesawat yang masuk ke dalam kategori Short Take-Off Landing (STOL) ini adalah PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Ya, nama PTDI selalu menjadi sorotan media asing ketika ‘menelurkan’ sebuah mahakarya baru – salah satu yang paling baru adalah N219, hasil kolaborasi antara PTDI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

N219 Produksi PTDI. Sumber: Istimewa

Pertama kali mengudara pada 16 Agustus 2017 kemarin, pesawat yang mampu mengangkut hingga 19 penumpang ini dibekali dengan dua mesin turboprop produksi Pratt and Whitney yang masing-masing bertenaga 850 SHP (Shaft Horsepower). Dengan kemampuan jelajahnya yang mencapai 210Knots, adapun jarak tempuh maksimal yang mampu dilakukan oleh pesawat ini dalam kondisi terisi penuh adalah 480 Nautical Miles.

Pesawat yang diberi nama Nurtanio (Laksamana Muda Udara Anumerta Nurtanio Pringgoadisuryo – perintis industri pesawat terbang Indonesia) oleh Presiden Joko Widodo ini diminati oleh sejumlah otoritas, seperti TNI AD, TNI AL, PEMDA Puncak Papua, Pelita Air Service, hingga Aviastar Mandiri.

Baca Juga: Akhirnya! Prototipe N-219 Sukses Terbang Perdana Hari Ini

“Kelebihan dengan Twin Otter, desain (N219) lebih baru. Twin Otter desainnya tahun 80-an. Paling penting juga pesawat ini memiliki kemampuan low speed maneuverability. Dengan kecepatan rendah pesawat ini masih bisa melakukan manuver,” ucap Direktur Produksi PTDI Arie Wibowo, dikutip dari laman detik.com (23/8/2017).

Pesawat yang cocok dengan kontur geografis wilayah Indonesia Timur ini, lanjut Arie, juga memiliki harga yang lebih murah ketimbang pesawat Twin Otter lain. “Kita bikin harganya lebih murah dikit dari Twin Otter,” ujarnya. Diketahui, N219 produksi PTDI ini dibanderol dengan harga US$6 juta atau yang setara dengan Rp89,4 miliar – sedangkan pesawat Twin Otter lain dibanderol dengan harga US$7 juta atau yang setara dengan Rp104,3 miliar.

Wiweko Soepono – Bapak ‘Two-Men Cockpit’ yang Sarat Pengalaman di Dunia Dirgantara

Mungkin semua dari Anda sudah tahu bahwa ada dua orang yang mengendalikan pesawat selama mengudara – pilot dan co-pilot. Tapi tahukah Anda asal-usul di balik penggunaan sistem yang terkenal dengan nama two-man cockpit ini? Atau siapakah penggagas dari sistem yang diterapkan secara global oleh dunia aviasi ini? Pasti Anda semua beranggapan bahwa penggagas ide ini adalah orang-orang bule sana, tapi sayangnya asumsi Anda salah. Karena yang menggagas sistem two-man cockpit ini merupakan orang Indonesia, lho!

Baca Juga: Husein Sastranegara – Perintis TNI AU Yang Gugur Karena Kecintaannya Pada Dunia Dirgantara

Adalah Wiweko Soepono, seorang pejuang, perintis AURI, penerbang, perancang pesawat, pengembang industri dirgantara, pelopor penerbangan sipil, dan seseorang yang turut membesarkan perusahaan Garuda Airways (kini Garuda Indonesia) ini lahir di Blitar, pada 18 Januari 1923.

Anak sulung dari lima bersaudara ini sempat mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS), semacam sekolah dasar yang diperuntukan bagi keturunan peranakan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka.

Ketertarikan Wiweko terhadap dunia aviasi mulai tumbuh ketika orang tuanya pindah ke Yogyakarta dan ia berkesempatan untuk melihat beragam event penerbangan yang sering diadakan di Kota Pelajar tersebut. Tidak hanya sebatas mengagumi dunia aviasi ketika masih kecil, Wiweko remaja semakin tertarik dengan si burung besi ini. Setelah menghabiskan beberapa tahun di Yogyakarta, Wiweko bersama keluarganya pun kembali hijrah menuju Kota Kembang, Bandung.

Berbekal majalah dunia penerbangan edisi Hindia Belanda, Wiweko remaja mulai terjun ke dunia aeromodelling dan membuat berbagai model pesawat. Dari situlah dirinya mulai mendapat banyak teman – terutama orang-orang Belanda dan pada 10 Desember 1937, Wiweko bersama salah satu teman bulenya mendirikan Klub Penerbangan Remaja Bandung. Klub ini dengan cepat terkenal setelah mendapat perhatian dari tokoh kedirgantaraan Bandung, yang pada saat itu merupakan pusat kegiatan penerbangan di Hindia Belanda.

Sumber: istimewa

Masa kependudukan Jepang di Bandung memaksa Wiweko menggantungkan bangku perguruan tingginya di ITB dan mulai berpartisipasi dalam perang merebut kemerdekaan. Singkat cerita, Wiweko berhasil merebut Lapangan Udara Andir yang kini berganti nama menjadi Bandara Internasional Husein Sastranegara.

Karir gemilang di sektor aviasi yang ditorehkan Wiweko membuat dirinya dipercaya oleh Presiden Soekarno untuk membeli DC-3 Dakota untuk kepentingan perjuangan Republik Indonesia. Dibumbui dengan beragam polemik dan unsur politik di dalamnya, perjuangan Wiweko dalam memperjuangkan kedirgantaraan Indonesia berbuah manis tatkala 26 Januari 1949, Garuda Indonesian Airways (Garuda Indonesia) lahir.

Berbagai kejadian penting hinggap di kehidupan Wiweko, mulai dari upayanya dalam mendirikan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), menjadi orang Indonesia pertama yang menerbangkan helikopter, Perwira Staf Teknik Deputi Logistik Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KASAU), hingga tenaga ahli Bank Indonesia urusan penerbangan. Dari sinilah, ide Wiweko Cockpit (Two-Men Cockpit) mulai tercetus.

September 1977, Wiweko berkesempatan untuk mengujungi pabrik Airbus di Blagnac, Perancis. Berbekal karir gemilangnya di sektor aviasi Indonesia, Wiweko datang dengan predikat sebagai tamu kehormatan di markas Airbus tersebut. Kesempatan menjajal bangku pilot A300 pun tak disia-siakan Wiweko kala itu.

Didampingi oleh chief pilot Airbus, Pierre Baud yang berperan sebagai co-pilot dan seorang flight engineer yang duduk persis di belakangnya, Wiweko lalu bergantian dengan Pierre untuk mendemonstrasikan touch-and-go dengan bantuan komputer yang kala itu baru menjadi inovasi paling mutakhir di dunia aviasi. Ketika ditanya tentang pendapat Wiweko mengenai teknologi touch-and-go tersebut oleh Pierre, Wiweko malah mempermasalahkan soal flight engineer yang tidak melakukan apa-apa di belakangnya.

Baca Juga: Niki Lauda – Mantan Jawara F-1 Yang Banting Stir Jadi Penggiat Bisnis Aviasi

Merasa peran flight engineer tidak lagi penting ketika disandingkan pada pesawat berteknologi komputer, Wiweko dengan tegas mengatakan, “Keluarkan kursi (Flight Engineer) dan mari kita berunding mengenai pembelian pesawat,”

Tetap berpegang teguh pada pendirian yang disokong oleh pengalamannya yang luar biasa banyak di sektor aviasi, akhirnya Wiweko berhasil menampik semua tudingan yang menyebutkan bahwa Two-Men Cockpit merupakan ide gila dan dapat membahayakan para penumpang. Sempat mendapatkan tawaran dari pihak Airbus untuk menamai kokpit yang didesainnya dengan nama ‘Wiweko Cockpit’, namun dengan rendah hati ia menolak dan meminta agar desain tersebut diberi nama ‘Garuda Design Cockpit’.

Airbus A300B4 Milik Garuda Indonesia. Sumber: Wikipedia

Sepulangnya ke Indonesia pasca tugas di markas Airbus tersebut, Wiweko dipanggil untuk menghadap Presiden Soeharto pada Februari 1968. Tak diduga-duga, ia diangkat menjadi Direktur Utama Garuda Indonesia pada 17 Februari 1968. Di bawah kendalinya, Garuda Indonesia berhasil melejit di sektor domestik maupun internasional. Masa kepemimpinan Wiweko berakhir pada 17 November 1984 – dengan beragam kesan dari awak Garuda semasa kepemimpinan beliau.

Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya pada 8 September 2000 di Jakarta, Wiweko sempat dianugerahi Bintang Jasa Utama dari Pemerintah Republik Indonesia berkat jasanya yang sangat besar pada perkembangan dunia kerdirgantaraan Indonesia, terlebih pada Flag Carrier Garuda Indonesia. Terima kasih, Wiweko!

 

Tingkatkan Keamanan, Bandara Kansai Kerahkan Robot Otonom Berteknologi AI dan 5G, Ini Fungsinya

Bandara di Jepang tak henti-hentinya berinovasi. Terbaru, Bandara Internasional Kansai memperkenalkan robot keamanan otonom berteknologi kecerdasan buatan (AI) dan 5G. Ini diklaim akan semakin menambah keamanan dan kenyamanan penumpang.

Baca juga: Ada “Gita” di Bandara Seattle-Tacoma, Robot Pintar Pengantar Makanan di Terminal Keberangkatan

Dilansir Airport Technology, dua robot keamanan otonom Bandara Kansai pertama kali diluncurkan pada 25 Oktober lalu. Saat bertugas, robot tersebut akan berpatroli keliling terminal sesuai dengan settingan program.

Fitur sensor laser bawaan, kamera 360 derajat, sensor ultrasonik, sensor bumper, warning function, warning lamp, dan warning voice yang disematkan pada robot buatan perusahaan keamanan Jepang Secom tersebut, akan memaksimalkan tugas robot dalam berpatroli.

Ketika terjadi atau ditemukan pelanggaran, robot dengan tinggi 123cm, lebar 84cm, dan berat sekitar 230kg tersebut akan mengeluarkan peringatan ke pusat kontrol sehingga memungkinkan petugas untuk segera datang ke lokasi dan mengeceknya langsung.

Bila tak ada pelanggaran, robot keamanan otonom Bandara Kansai ini akan tetap berpatroli seperti biasa sesuai dengan rute yang telah diprogram, dipandu dengan jalur invisible dari laser internal. Ini akan menghindari tabrakan dengan para penumpang.

Andaipun tertabrak, ini mungkin tidak akan menjadi masalah serius untuk keduanya mengingat robot ini hanya dibekali kemampuan berjalan di kecepatan maksimum 4 km per jam. Dalam sekali pengisian daya, robot keamanan otonom ini bisa beroperasi non-stop selama tiga jam.

Setelah selesai berpatroli, robot keamanan otonom Bandara Kansai akan berhenti di pos-pos atau titik-titik yang telah diprogram dan standy di sana untuk terus menjalankan tugas pengawasan.

Selain di Bandara Kansai, Secom, selaku pengembang robot keamanan otonom, juga mensuplai robot tersebut ke Bandara Internasional Narita, Prefektur Chiba, Jepang.

Kehadiran robot di Bandara Kansai tentu bukan pertama kalinya. Pada Mei tahun ini, bandara itu mengerahkan sistem pengujian robotik PCR untuk membantu menegakkan protokol Covid-19.

Dikembangkan oleh Kawasaki Heavy Industries, sistem robot ini memiliki kemampuan untuk memproses hingga 2.500 sampel penumpang dalam 16 jam. Selain itu, robot ini mampu menyelesaikan pengujian cepat dalam waktu 80 menit.

Baca juga: British Airways Siap Uji Coba Robot di Bandara Heathrow

Melalui operasi otomatis, robot menggunakan metode pengujian PCR real time untuk menyediakan tes massal yang tepat dan konstan di bandara.

Sekalias tentang Bandara Kansai, pada tahun 2019 tercatat ada sekitar 31,9 juta penumpang yang hilir mudik di sini. Walau bukan yang terbesar, bandara ini merupakan salah satu hub terbesar di Jepang, baik rute-rute internasional maupun domestik.

Terpantau di Flightradar24, Pesawat VVIP Rusia dan Amerika Serikat Tiba di Jakarta dalam Waktu Berdekatan

Ada pemandangan yang menarik dari tangkapan layar aplikasi pelacakan pesawat Flightradar24, dimana pada hari Senin (13/12/2021), terlihat dua pesawat VVIP dari dua negara super power terbang melintasi ruang udara Indonesia dalam waktu berdekatan dengan tujuan sama, yaitu mengarah ke Jakarta.

Baca juga: Sejarah Air Force Two, Pernah Tiga Kali Nyaris Tewaskan Presiden-Wapres AS

Dari identifikasi pada Flightradar24, pesawat dengan kode SAM601 diketahui sebagai Boeing 757 VC-32 Air Force Two dengan nomer registrasi 99-0003. Dari informasi, pesawat itu terbang langsung dari Dubai, Uni Emirat Arab ke Jakarta. Sementara pesawat satunya lagi dengan kode RSD045, diketahui sebagai Ilyushin Il-96 300 dengan nomer registrasi RA-96017 milik Pemerintah Rusia. Dari arah lintasan, pesawat VVIP Rusia lebih dulu tiba di Jakarta. Dari pantauan Flightradar24, Air Force Two dan Ilyushin Il-96 300 saat ini telah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.

Tentu yang menjadi pertanyaan, siapa yang dibawa dua pesawat VVIP tersebut? Berdasarkan informasi dari akun Twitter Kedubes Rusia di Indonesia – @RusEmbJakarta, disebut petinggi Rusia yang tiba pada 13 Desember 2021 adalah Nikolai Patrushev, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia. Terbang langsung dari Moskow, Patrushev disebut akan membicarakan kerja sama pertahanan dengan Indonesia.

Boeing C-32 Air Force Two (Foto: Getty Images)

Sementara Air Force Two tiba di Jakarta dengan membawa Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Antony Blinken. Serupa dengan Patrushev, Blinken ke Jakarta juga membawa agenda kerja sama bilateral dengan Indonesia.

Tentang pesawat VVIP yang tiba siang ini, Ilyushin Il-96-300 RA-96017 dioperasikan Special Flight Squadron. Pesawat sejenis juga digunakan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Diproduksi United Aircraft Corporation (UAC), Ilyushin Il-96-300, saat ini tercatat hanya ada 15 di dunia, dengan rincian tiga digunakan maskapai nasional Kuba, Cubana de Aviación, dan lainnya berada di Rusia, dimana delapan di antaranya digunakan sebagai pesawat kepresidenan.

IL-96-300PU. Sumber: news.com.au

Pesawat Ilyushin Il-96-300 Air Force One Rusia berbeda dengan versi penumpang. Ilyushin Il-96-300 komersial umumnya mampu mengangkut sebanyak 300 penumpang sejauh 11.500 km, dengan panjang pesawat mencapai 65 m. Namun, untuk versi VVIP, pesawat ini mampu terbang lebih jauh dari itu karena muatan lebih sedikit dari versi penumpang, dengan dimensi pesawat yang jauh lebih besar, sekalipun tak disebutkan dengan rinci perbedaannya.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Sedangkan untuk Boeing 757 VC-32 Air Force Two, merupakan hasil konversi dari Boeing 757-200 versi militer yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk mendukung aktivitas presiden, wakil presiden, dan pejabat negara lainnya; termasuk interior mewah dengan kapasitas 45 kursi, fasilitas lengkap seperti ruang makan, ruang rapat, toilet mewah, ruang istirahat, avionik militer, serta kapasitas tangki bahan bakar yang lebih besar untuk jangkauan lebih jauh hingga 11.000 km.

Mengapa Beberapa Pesawat Miliki Huruf/Angka di Atas Kokpit? Ini Jawabannya

Bagi Anda yang sering berpergian menggunakan pesawat dan suka memperhatikan sudut-sudut bandara dan pesawat, mungkin sesekali pernah melihat ada huruf atau angka di atas kokpit pesawat. Apa maksudnya? Sekilas, memang itu terlihat aneh karena berbeda dengan kode registrasi pesawat di bagian belakang dekat jendela kabin. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ternyata itu hal biasa.

Baca juga: Bukan Amerika, Inggris, atau Cina, Inilah Negara yang Jadi Tempat Registrasi Pesawat Terbanyak

Sebelum beroperasi, sebuah pesawat terlebih dahulu harus didaftarkan atau diregistrasi di beberapa otoritas penerbangan, seperti Regulator Penebangan Sipil Amerika Serikat (FAA) dan Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA). Umumnya, pesawat tak selalu terdaftar di negara tempatnya beroperasi.

Boeing 737 Ryanair, misalnya, terdaftar di tiga negara, mulai dari Irlandia, Inggris, dan Malta. Padahal, rute terbang pesawat menjangkau seluruh Eropa.

Pertanyaan kemudian muncul, sebetulnya, negara manakah yang paling banyak meregistrasi pesawat? Sebagian besar orang mungkin akan menjawab Amerika Serikat. Sebagian lagi mungkin Inggris -berkat pengaruh internasionalnya sejak dahulu- atau mungkin Cina yang belakangan muncul sebagai kekuatan baru dunia. Sayangnya, jawaban tersebut tak satupun benar, bila didasarkan pendapat CEO Ryanair, Eddie Wilson.

“Separuh pesawat di planet ini sebenarnya terdaftar (diregistrasi) di Irlandia. (Irlandia) dipandang sebagai suar untuk pesawat sewaan,” ujarnya.

Setelah resmi mendapat kode registasi, itu biasanya dicat di bagian belakang kanan dan kiri pesawat (dekat jendela kabin) untuk identifikasi. Ini tentu sangat memudahkan petugas dalam berkomunikasi dan membicarakan pesawat yang dimaksud tanpa adanya kemungkinan salah persepsi antara satu sama lain.

Dalam konteks visual, peletakan nomor registrasi di bagian kiri dan kanan pesawat sangat memudahkan petugas bila melihatnya juga dari sisi yang sama. Namun, bagaimana bila petugas melihatnya dari sisi depan pesawat? Inilah yang pada akhirnya muncul ide untuk turut mencantumkan kode registrasi pesawat sekalipun dengan format yang berbeda dengan kode registrasi yang berada di bada pesawat.

Dilansir Simple Flying, pilot dan petugas ATC biasa memperpendek registrasi pesawat untuk kemudahan berkomunikasi melalui radio. Ini biasanya berupa tiga karakter akhir atau tiga karakter awal setelah kode negara dari nomor registrasi pesawat.

Sebelum itu, Registrasi secara resmi dikenal oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) sebagai Aircraft Nationality and Registration Marks.

Kode regitrasi biasanya terdiri dari dua bagian. Awalan satu atau dua karakter pertama menunjukkan negara tempat pesawat diregistrasi, sedangkan bagian kedua (yang biasanya dipisahkan dengan tanda “-“) yang terdiri dari satu atau lima karakter menunjukkan identifikasi pada pesawat.

Sebagai contoh, pesawat Boeing 787-8 British Airways seluruhnya diregistrasi berurutan dari G-ZBJA hingga G-ZBJM. Setiap pesawat yang terdaftar di Inggris akan menggunakan awalan ‘G’. Itu mengapa, pada armada Airbus A380 British Airways, mereka diregistrasi secara berurutan mulai dari G-XLEA hingga G-XLEL.

Baca juga: Ini Jawaban Mengapa Ada Asap Putih di Kabin Pesawat Sebelum Take-Off

Dengan maksud untuk memudahkan identifikasi dari depan pesawat, biasanya hanya tiga karakter akhir dari kode registrasi pesawat yang dicat di atas kokpit pesawat.

Sebagai contoh, pesawat Boeing 787-8 British Airways dengan nomor registrasi G-ZBJI, di bagian atas kokpit tertulis “BJI” yang diambil dari tiga huruf terakhir pada kode registrasi pesawat.

Apa Arti Nomor di Ujung Landas Pacu, Cari Tahu di Sini!

Jika Anda sudah berada di dalam pesawat yang hendak take-off, coba fokuskan pandangan Anda ke arah luar jendela dan carilah sebuah angka raksasa yang dicat di ujung landas pacu. Apakah itu merupakan angka yang mewakili jumlah landas pacu di bandara tersebut? Tentu saja bukan. Nomor yang tertera di ujung landas pacu merupakan identitas dari landas pacu tersebut, dan tentu saja nomor itu memiliki artinya masing-masing.

Baca Juga: Hang Nadim, Bandara dengan Landas Pacu Terpanjang di Indonesia

Sebelumnya, sebuah survei terlebih dulu dilakukan untuk menentukan arah angin dominan atau arah angin yang paling sering terjadi di lokasi calon bandara tersebut. Setelah mengetahui arah angin dominan di lokasi calon bandara, biasanya sang perencana dapat menentukan arah landasan pacu searah dengan arah angin dominan tersebut.

Misalkan, arah angin dominan ke arah Barat, maka landas pacu akan dibuat memanjang dari Barat ke Timur. Karena, pesawat yang hendak take-off berlawanan arah angin akan memperpendek jarak take-offnya. Sedangkan pesawat yang hendak landing berlawanan dengan arah angin juga akan memperpendek jarak landingnya.

Kembali ke soal penomoran landas pacu, semua landas pacu diberi nomor berdasarkan magnetic azimuth (bantalan kompas) di mana landas pacu tersebut berorientasi. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, penomoran landas pacu berbanding terbalik dengan arah mata angin di kompas. Jika titik 0/360 derajat di kompas menunjukkan arah utara, maka titik 0/360 derajat untuk penomoran landas pacu akan menghadap ke arah selatan.

Cara penomorannya adalah dengan membulatan ke angka puluhan terdekat, semisal sebuah landas pacu menghadap 360 derajat atau arah ke arah selatan, maka landas pacu tersebut akan dilabeli dengan angka 36. Atau sebuah landas pacu menghadap ke arah timur atau 270 derajat, maka akan dilabeli angka 27 di ujung landas pacu tersebut.

Karena landas pacu bisa digunakan dua arah, maka di sudut sebaliknya, angka-angka tersebut akan selisih 18 yang mewakili 180 derajat. Contoh, landas pacu dengan nomor 36 seperti yang sudah disebutkan di atas, maka di sisi satunya lagi akan dicat dengan nomor 18 yang mewakili 180 derajat atau menghadap ke arah utara. Begitupun dengan nomor-nomor lain, seperti 27 yang berarti landas pacu tersebut mengarah ke timur, maka di sisi lainnya akan dinomori 9 yang mewakili 90 derajat atau menghadap ke arah barat.

Baca Juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Dengan angka tersebut juga Anda bisa menentukan kemana arah pesawat Anda mengudara, semisal Anda melihat angka 18 di ujung landas pacu, namun pesawat bergerak membelakangi nomor tersebut, maka dapat dipastikan penerbangan Anda mengarah ke selatan. Atau Anda melihat angka 09 di ujung landas pacu dan pesawat bergerak membelakangi nomor tersebut, maka penerbangan Anda menuju ke arah timur, dan seterusnya.

Dalam beberapa kasus tertentu, ada nomor landas pacu yang diikuti oleh huruf L, C, atau R. Itu menandakan Anda berada di bandara dengan landas pacu parallel, dimana huruf-huruf tersebut mewakili posisi landas pacu, L untuk Left (kiri), C untuk Center (Tengah), dan R untuk Right (Kanan).

Sumber: Google Earth

Ambil contoh Bandara Internasional Soekarno Hatta, dimana berdasarkan data yang dilansir dari laman Wikipedia.com, bandara tersebut memiliki tiga landas pacu, dimana masing-masing tertulis, 07R/25L, 07L/25R, dan 07C/25C. Dari informasi yang sudah dijabarkan di atas, dapatkah Anda membaca angka-angka tersebut?

Pensiun dari Kedinasan, Helikoper Sea King AL Inggris Berubah Fungsi Jadi Cottage Mewah

Konvergensi antara wahana transportasi dan dunia akomodoasi sudah lama berlangsung, salah satu yang populer adalah keberadaan caravan. Tidak itu saja, berangkat dari upaya membidik para pecinta wahana, bahkan ada bekas pesawat dan gerbong kereta yang disulap menjadi hunian bergaya cottage. Dan kabar paling baru datang dari Inggris, sebuah helikopter Sea King eks AL Kerajaan Inggris berhasil dialihfungsi sebagai kabin mewah untuk keluarga.

Baca juga: Train Suite Shiki-Shima Tawarkan Fasilitas Layaknya Hotel Berbintang

Berbeda ketika mendengar pesawat jumbo jet Boeing 747 direkayasa menjadi hotel, maka ketika sebuah helikopter yang punya dimensi terbatas (panjang 7 meter) dijadikan cottage, maka yang terbayang adalah betapa sempit interior di dalamnya. Tapi karena yang dibidik adalah pasar khusus dengan kecintaan khas pada dunia dirgantara, memberanikan pasangan Martyn and Louise Steedman, pemilik Mains Farm Wigwams di Stirling, Skotlandia untuk mengubah helikopter produksi Sikorsky yang dahulunya berperan sebagai pemburu kapal selam.

Baca juga: Igor Sikorsky, Kini Jadi Nama Bandara di Dua Negara

Lewat lelang pada bulan Maret 2017, pasangan ini berhasil mendapatkan sebuah Sea King dengan nomer ZA127 senilai US$9 ribu. Setelah diangkut lewat jalan darat, helikopter yang berjaya di era Perang Malvinas tersebut kemudian mulai di modifikasi. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan fitur asli pada helikopter, sekaligus mengubah interior dengan sentuhan mewah, sementara ada keterbatasan pada dimensi kabin yang sempit.

Dengan menghasbiskan total biaya sekitar US$52 ribu, termasuk biaya pembelian, akhirnya pasangan ini dapat menyulap Sea King menjadi akomodasi mewah. Penginapan yang disebut “Helicopter Glamping” ini memiliki tempat tidur double, tempat tidur single di bagian ekor, ruang tamu dengan tempat duduk yang dapat diubah menjadi tempat tidur tambahan yang cocok untuk dua anak, dapur, kamar mandi dan private cockpit lounge. Posisi pintu ganda mengarah ke teras luar ruangan, di mana para tamu dapat bersantai dan menikmati pemandangan lanskap sekitarnya. Dengan keterbatasan space, maksimum helikopter ini hanya dapat dimuati oleh dua orang dewasa dan tiga anak.

Baca juga: Wow! Bekas Menara ATC ini Disulap Jadi Penthouse

Dikutip KabarPenumpang.com dari Newsatlas.com (10/8/2017), agar nuansa penerbangan tetap terasa, Steedmans menempatkan banyak komponen dek penerbangan penerbangan, termasuk dashboard, panel atap dan pedal kaki, dan mengembalikan semua lampu eksternal. Uniknya untuk pencahayaan sudah diatur dengan cermat, sehingga bila lampu indoor menyala, akan menjadikan helikopter seolah-olah nampak siap lepas landas.

Bagaimana Anda tertarik untuk menginap di helikopter Sea King? Tarif per malamnya dipatok mulai US$195 (setara Rp2,6 juta). Di area helikopter, tamu juga dapat menikmati beberapa kegiatan dan atraksi di luar ruangan, termasuk hiking, bersepeda dan berwisata ke Loch Lomond dan Taman Nasional Trossachs.

Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Jadi Kereta Bandara Tercepat

Satu-satunya kereta bandara yang kini sudah beroperasi di Indonesia adalah yang melayani rute Bandara Internasional Kuala Namu ke Kota Medan di Sumatera Utara. Dengan tarif Rp100 ribu, kereta bandara buatan Korea Selatan tersebut melesat dengan kecepatan 70 km dengan rute sepanjang 40 km. Mengandalkan kepastian pada jadwal keberangkatan, durasi perjalanan kereta yang resmi disebut Airport Railways Services (ARS) ini memakan waktu 40 menit.

Baca juga: Kamboja Punya Kereta Bandara yang Unik, Mirip Railbus Batara Kresna di Solo

Kalau pun toh digeber, kecepatan maksimal ARS di Bandara Kuala Namu hanya mentok di 100 km per jam. Tapi lain halnya di Swedia, di negara Skandinavia yang berada di bagian utara Bumi ini terdapat kereta bandara yang disebut-sebut sebagai salah satu yang tercepat di dunia. Yang dimaksud adalah Arlanda Express, layanan kereta bandara dengan basis rangkaian kereta listrik canggih berteknologi EMU (Electric Multiple Unit). Disebut sebagai tercepat lantaran kecepatan maksimum (top speed) kereta bercat kuning ini sampai 200 km per jam.

Suasana Stockholm Central Station.
Suasana Stockholm Central Station.

KabarPenumpang.com yang pernah menjajal kereta ini cukup terkesima pada fasilitas Arlanda Express. Indikator tingkat kecepatan ditampilkan pada layar digital, dari pantuan memang hanya beberapa saat saja kereta mencapai 200 km per jam, selebihnya berfluktuasi mengikuti kontur lintasan rel yang kesemuanya berada di permukaan.

Petugas kereta yang ramah.
Petugas kereta yang ramah.

Petugas kondektur memeriksa tiket dengan perangkat scan RFID.
Petugas kondektur memeriksa tiket dengan perangkat scan RFID.

Arlanda Express resmi beroperasi sejak November 1999, kereta ini melayani rute Bandara Internasional Arlanda ke pusat Kota Stockholm, dan sebaliknya. Seperti halnya ARS di Kuala Namu, Arlanda Express hanya punya dua titik stasiun, di Bandara Arlanda kereta ini berhenti di dua sub terminal (Arlanda North dan Arlanda South), sementara di Stockholm kereta berhenti di Stockholm Central Station. Panjang rute kereta ini sekitar 41 km, dan dalam slogan Arlanda Express menyebut durasi perjalanan hanya butuh 20 menit.

Interior di dalam kereta sudah dirancang untuk kebutuhan calon penumpang pesawat, dimana tempat koper dan bawaan khas penumpang dapat diletakkan dengan mudah. Meski penumpang hanya berada 20 menit di kereta,m Arlanda Express tetap menyediakan akses koneksi broadband lewat WiFi. Dalam satu jam, ada empat sampai enam kali perjalanan yang disiapkan dari dan ke Bandara Arlanda.

Interior Arlanda Express.
Interior Arlanda Express.

Arlanda Express menawarkan beragam variasi tiket dan diskon, sebagai contoh untuk tiket dewasa (sekali jalan) dikenakan 280 krona (setara Rp414 ribu). Tapi Arlanda Express menyediakan banyak varian tiket lain, mulai dari tiket remaja, tiket pelajar, anak-anak, dan rombongan, kesemuanya punya penerapan diskon tarif yang menarik untuk dicermati. Pemumpang akan mendapatlkan harga tarif yang lebih ‘murah’ bila langsung membeli tiket pulang pergi (return).

Memang harga tiket kereta bandara cenderung mahal, tapi mengingat yang ‘dijual’ adalah kepastian waktu tiba di bandara, maka tarif yang dikenakan menjadi worth it. Sebagai perbandingan, untuk menuju Bandara Arlanda lewat jalan tol bisa memakan waktu satu jam, dan bisa lebih lama bila Anda melaju di jam-jam sibuk.

Baca juga: Sama-Sama Kereta Bandara, Inilah Yang Beda Antara di Soekarno-Hatta dan Kualanamu

Pola booking dan pembelian tiket terlihat sudah sangat maju, mulai dari website, mesin tiket otomatis dan basis aplikasi di smartphone, kesemuanya terintegrasi dengan baik. Ada baiknya Arlanda Express dapat dijadikan panduan arah pengembangan kereta bandara di Indonesia.