Mau ke Rusia? Jangan Khawatir dari Indonesia ada Empat Maskapai Besar yang Siap Melayani

Dalam perspektif penerbangan dari Indonesia, ada kesamaan antara rute ke Amerika Serikat dan Rusia, yakni sama-sama tidak dilayani oleh maskapai nasional dalam negeri, dan satu lagi, rute ke kedua negara tidak ada dalam pilihan direct flight (penerbangan langsung). Terkhusus rute penerbangan ke Rusia, perang yang terjadi di Ukraina telah berimbas pada pilihan penerbangan menuju Negeri Beruang Merah.

Baca juga: Mulai 9 April, Rusia Buka Akses Penerbangan ke 52 Negara Sahabat, Indonesia Termasuk?

Ditambah adanya beragam sanksi yang dikenakan negara Barat ke Rusia, termasuk di sektor penerbangan, turut berdampak pada layanan penerbangan internasional ke Rusia. Maskapai-maskapai ternama dari Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat tak lagi melayani penerbangan ke Rusia, sebaliknya maskapai asal Rusia juga dilarang menuju ke negara-negara pemberi sanksi. Pun kalau ada, itu lebih kepada penerbangan repatriasi atau yang berkaitan dangan misi diplomatik.

Dengan tertutupnya akses penerbangan dari AS dan negara-negara Barat ke Rusia, maka calon penumpang dari Indonesia yang ingin ke Rusia ‘hanya’ dapat memanfaatkan jalur akses masuk ke Rusia lewat negara Timur Tengah dan Cina.

Sebagai catatan, Rusia adalah negara dengan populasi mahasiswa Indonesia yang cukup besar, yang ditaksir ada seribuan mahasiswa Indonesia tersebar di beberapa kota Rusia. Lain dari itu, sebelum konflik dengan Ukraina, Rusia juga salah satu magnet wisata luar negeri bagi pelancong asal Indonesia yang ingin melihat keindahan Moskow, Novosibirsk, St Petersburg, Ufa, Kazan, dan masih banyak lainnya.

Pada tahun 2019, Garuda Indonesia bahkan pernah punya rencana untuk membuka penerbangan Denpasar – Moskow. Hal tersebut didasarkan besarnya jumlah wisatawan asal Rusia yang bertandang ke Bali. Saat itu, sudah dua maskapai besar Rusia, Aeroflot dan Rossiya Airlines yang membuka penerbangan langsung mereka ke Denpasar pada Oktober 2018. Kehadiran penerbangan langsung dua maskapai ini melalui perjanjian codeshare dan penerbangan langsung ini memakan waktu tempuh 12 jam.

Nah, lantas bagaimana dengan kondisi saat ini? Maskapai apakah dari Indoenesia yang bisa membawa Anda ke Rusia?

Dengan titik keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, situs pencarian tiket Traveloka.com tidak menampilkan pilihan penerbangan ke Bandara Moskow. Namun, bergeser ke Tiket.con, rupanya tersedia beragam opsi maskapai yang bisa menerbangkan Anda dari Jakata ke Moskow.

Baca juga: Garuda Indonesia Canangkan Penerbangan Langsung Denpasar – Moskow

Pilihan itu adalah Qatar Aiways, Etihad, Emirates dan Turkish Airlines. Itu semua bisa terjadi karena Qatar, Uni Emirat Arab dan Turki, tidak menutup penerbangan ke Rusia dan begitu sebaliknya. Rata-rata kesemua maskapai menawarkan satu kali transit sebelum tiba di Moskow. Jika pilih Qatar Airways akan transit di Doha, jika pilih Etihad transit di Abu Dhabi, sementara jika pilih Emirates akan transit di Dubai. Dan bila menggunakan Turkish Airlines Anda akan transit di Istanbul.

Nah, semoga informasi di artikel ini dapat membantu bagi Anda yang ingin bepergian ke Rusia.

Setelah Perlintasan Depok – Citayam Ditutup, Kini 3 Perlintasan Liar Kembali Ditutup Petak Citayam – Bojonggede

PT Kereta Api Indonesia (Persero) wilayah Daop 1 Jakarta kali ini kembali menutup perlintasan liar di petak jalur Citayam – Bojonggede. Ada beberapa perlintasan tak resmi yang masih beroperasi dan rawan kecelakaan. Perlintasan yang ditunjuk untuk penutupan oleh PT KAI adalah di KM 39+9 Jl Gang Pinang, KM 41+2/3 Jl Gang Inpres dan KM 41+5/6 Jl Gang Paseban. Ketiga perlintasan ditutup guna meminimalisir kecelakaan yang terjadi dan dapat mengganggu perjalanan kereta api.

Baca juga: Lagi, Lokomotif vs Truk Tabrakan di Perlintasan Tanpa Palang Pintu

Warga yang biasa melewati perlintasan tersebut, dihimbau untuk berpindah ke perlintasan resmi yang mendekati Stasiun Bojonggede. Meski menurut warga cukup jauh untuk menuju perlintasan resmi, namun PT KAI menghimbau agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan jika melewati perlintasan liar tersebut. Tak bosan – bosannya PT KAI menghimbau kepada pengguna jalan agar senantiasa menggunakan penyeberangan rel kereta api di perlintasan resmi yang dijaga oleh pos perlintasan.

Sesuai Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 94, menyatakan bahwa untuk keselamatan perjalanan kereta apii dan mempuyai izin harus ditutup. Untuk perlintasan liar yang dipilih untuk penutupan tersebut akan dilakukan secepatnya.

Baca juga: Setelah Ditutup Permanen, Warga Ambarawa Kembali Bongkar Paksa Portal Perlintasan Liar yang Dibangun PT KAI

Rencananya, saat diilakukan penutupan, PT KAI juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar selalu tertib dalam berlalulintas dan ikut menjaga keselamatan perjalanan kereta api. Dan PT KAI juga menghimbau agar tidak membuat perlintasan ilegal lainnya yang menambah daftar kecelakaan di perlintasan liar yang dapat menggangggu perjalanan kereta api. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Naik AirAsia Kini Bantu Kurangi Emisi Karbon Berkat Teknologi Descent Optimization Airbus

AirAsia mulai bulan ini bakal mengupgrade software yang bisa menghemat bahan bakar pesawat di armada Airbus A320neo-nya. Software ini, Descent Profile Optimization (DPO), sudah terbukti di seluruh dunia berhasil menghemat bahan bakar serta mengurangi emisi karbon dioksida (CO2).

Baca juga: AirAsia Klaim Jadi Operator Airbus Pertama yang Gunakan TaxiBot, Benarkah? 

Software Descent Profile Optimization (DPO) Airbus yang ingin digunakan AirAsia sendiri fokus pada pada database kinerja sistem manajemen penerbangan (FMS).

Dari sekian banyak cara efisiensi dan menurunkan emisi karbon di setiap penerbangan, FMS adalah salah satunya. Kendati sudah tampak sempurna dan dipenuhi dengan teknologi canggih, nyatanya industri penerbangan masih jauh dari harapan, termasuk dalam hal operasi penerbangan.

Saat ini, ada lebih dari belasan ribu pesawat yang terbang secara bersamaan di seluruh dunia. Saat peak time atau jam-jam sibuk penerbangan, angka tersebut bahkan bisa meningkat menjadi puluhan ribu pesawat terbang di jam yang sama di seluruh dunia. Karenanya, ini di-manage atau diatur sedemikian rupa agar antar pesawat tidak saling bertabrakan serta aman dan selamat.

Pengaturan ini, di samping karena faktor eksterna seperti menghindari awan cumulonimbus, terkadang membuat pesawat harus naik turun ketinggian. Selain itu, pada dasarnya, pesawat memang akan naik turun jelang tiba di bandara tujuan. Sayangnya, proses pesawat menurunkan ketinggian ini seringkali membakar terlalu banyak bahan bakar sampai akhirnya teknologi DPO Airbus diaplikasikan.

Dilansir Simple Flying, sebagaimana namanya, cara teknologi DPO Airbus menghemat bahan bakar yaitu dengan mengoptimalisasikan fase descent atau fase penurunan penerbangan dan turun dari ketinggian jelajah hanya dengan idle engine thrust.

Dengan begitu, kinerja mesin jadi lebih ringan dan bahan bakar jadi lebih hemat serta mengurangi emisi CO2. Teknologi ini juga menghemat waktu pesawat menurunkan ketinggian.

“Inisiatif baru ini diatur untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan meningkatkan efisiensi bahan bakar hingga 0,75 persen dari pembakaran bahan bakar, yang setara dengan menghemat 101 kg emisi CO2 per penerbangan,” tulis AirAsia dalam keterangannya.

“Ini dapat mengurangi emisi CO2 lebih dari 221 ton per pesawat per penerbangan. tahun, mewakili kontribusi yang cukup besar untuk operasi penerbangan yang lebih berkelanjutan,” lanjutnya.

Sebagai maskapai yang menganut prinsip one-type alias satu tipe pesawat saja, dalam hal ini all Airbus aircraft, AirAsia bisa lebih mudah mengaplikasikan teknologi DPO tersebut ke armadanya.

Baca juga: Lima Teknologi NASA di Penerbangan Sipil, Nomor Empat Simpel Tapi Genting

Nantinya, teknolog DPO ini akan dipasang di seluruh armadanya dengan batch pertama sejumlah 17 armada A320neo. Dari situ diharapkan terjadi pengurangan emisi karbon 3.764 ton per tahun atau setara dengan 62.700 pohon baru yang ditanam di perkotaan.

Lebih lanjut, dalam upaya mencapai netralitas karbon atau bebas emisi karbon pada tahun 2050 mendatang, AirAsia juga mengaplikasikan teknologi lainnya, seperti SETWA (Single Engine Taxi Without APU) yang pastikan pesawat taxing dengan satu mesin, Idle Reverse Landing , serta Required Navigation Performance-Authorization Required (RNP-AR) approach.

Jauh dari Kata ‘Pensiun’, Honeywell Rayakan 40 Tahun Usia Boeing 757 Test Bed

Meski tampilannya tidak beda dengan pesawat komersial pada umumnya, namun pesawat test bed atau flying testbed punya fungsi khusus, yakni sebagai wahana pengujian dan pengukuran kinerja suatu perangkat pada protitipe pesawat (lain) yang sedang dibuat atau dikembangkan. Dan terkait flying testbed, belum lama ini Honeywell Aerospace, manufaktur perangkat dirgantara dan elektronik asal Amerika Serikat, merayakan ulang tahun ke-40 Boeing 757 test bed.

Trump Bikin Pentagon-Boeing Pusing Soal Air Force One, Ada Apa?

Meski sudah tak lagi menjabat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump rupanya meninggalkan jejak tak baik. Terbaru, kontrak pembelian dua pesawat kepresidenan Air Force One atau pesawat VC-25B berbasis Boeing 747-8 yang ditandatangani Trump telah membuat Boeing dan Pentagon pusing. Apa sebabnya?

Baca juga: Boeing Rugi Rp4 Triliun di Proyek VC-25B Air Force One, Gegara Botol Tequila Kosong?

Pada tahun 2018 silam, Presiden Trump resmi menandatangani kontrak pembelian dua pesawat VC-25B berbasis Boeing 747-8 sekaligus memodifikasinya menjadi pesawat kepresidenan Air Force One senilai US$3,9 miliar. Di pihak Boeing, kontrak itu ditandatangani oleh CEO sebelumnya Dennis Muilenburg. Dalam kontrak, disebutkan pengiriman pesawat akan dilakukan pada akhir tahun 2024.

Di awal penandatanganan kontrak itu, tidak ada tanda-tanda masalah sampai akhirnya di tahun yang sama Donald Trump mengungkapkan adanya perubahan desain warna kebesaran pesawat kepresidenan (sejak era mantan Presiden Kennedy dan ibu negara Jacqueline Kennedy), dari semula biru dan putih muda, menjadi merah, putih, dan biru tua.

Warna tersebut bagi sebagian orang biasa saja. Namun, bagi sejumlah pengamat, itu mengartikan lebih dari sekedar warna dan ada indikasi kemiripan dengan maskapai Trump Shuttle milik Trump yang sudah bangkrut.

Sejak saat itu, desain pesawat Air Force One menjadi polemik yang tak berkesudahan. Ini terus menggantung sampai sebelum Presiden Joe Biden dilantik pada tahun 2021 dan akhirnya ditolak Kongres usai Biden menjabat.

Pada tahun 2021, Boeing secara mengejutkan mengaku rugi US$318 juta atau setara Rp4 triliun lebih (kurs 14.270) dalam proyek pembangunan dua pesawat VC-25B atau Air Force One.

Belakangan, angka itu naik menjadi rugi US1,5 miliar atau sekitar Rp22 triliun (kurs 14.700) akibat sejumlah hal, salah satunya kenaikan biaya komponen. Parahnya lagi, dalam kontrak disebutkan pemerintah AS yang diwakili oleh Angkatan Udara tidak menyetujui penambahan biaya dengan alasan apapun. Ini yang pada akhirnya membuat bukan hanya Boeing yang pusing tetapi juga Pentagon.

“Ini (kontrak pembelian pesawat VC-25B) menciptakan konflik inheren antara kedua belah pihak,” kata Andrew Hunter, Air Force’s chief weapons buyer.

“Saya tidak berpikir struktur kontrak mendorong masalah yang telah kita lihat dengan program ini. Memiliki fixed price contract seperti ini, memang menimbulkan tantangan dengan bagaimana kita mengelola masalah-masalah itu ketika masalah itu muncul,” lanjutnya.

“Angkatan Udara harus bernegosiasi (ulang) dengan Boeing,” tutupnya.

Sementara itu, CEO Boeing Dave Calhoun mengungkapkan kontrak Air Force One unik. “Air Force One, saya hanya akan menyebut momen yang sangat unik, negosiasi yang sangat unik, serangkaian risiko yang sangat unik yang mungkin tidak seharusnya diambil oleh Boeing”.

Baca juga: Boeing Terlibat Masalah dengan Kontraktor, Jadwal Penyelesaian Air Force One Terancam Molor

“Tapi kami berada di tempat kami sekarang (menandatangi kontrak), dan kami akan mengirimkan pesawat terbang yang hebat,” pungkasnya, seperti dikutip dari Bloomberg.

Terlepas dari itu, program Air Force One dipastikan molor dari yang sudah ditetapkan. Air Force One pertama akan dikirim Boeing pada Desember 2025 dan Air Force One kedua dikirim pada April 2027.

Penumpang Sampai Nginap dan Tidur di Conveyor Belt, Kenapa Bandara di Inggris Bisa Chaos?

Malang betul nasib penumpang di bandara-bandara Inggris. Alih-alih sampai ke lokasi tujuan dan berlibur bersama keluarga, mereka justru tertahan di bandara bahkan sampai menginap dan tidur seadanya di berbagai tempat, termasuk di atas conveyor belt atau biasa juga disebut baggage carousel. Ada apa sebetulnya dengan bandara-bandara di Inggris?

Baca juga: Mungkinkah Refund dan Kompensasi Maskapai ke Penumpang Dibuat Otomatis?

Inggris atau Britania Raya pada umumnya termasuk dalam salah satu negara yang terkenal ketat dalam mencegah penyebaran virus Corona. Kebijakan ketat ini bahkan pernah membuat salah satu atlet bulutangkis Indonesia gagal tampil di ajang All England.

Akibat kebijakan ketat ini, Inggris memang berhasil mengatasi penyebaran Covid-19 dengan cepat dibanding negara-negara lainnya, baik di awal pandemi ataupun saat varian Delta dan Omicron menyebar cepat.

Akan tetapi, sebagai dampak buruknya, banyak masyarakat yang stress dengan kehidupan pasca pandemi dan tak sabar ingin liburan serta terlepas dari kebijakan lockdown.

Karenanya, ketika Covid-19 mereda dan momentumnya bertepatan dengan liburan musim panas, ratusan ribu orang dilaporkan berbondong-bondong menyerbu bandara. Celakanya, maskapai, yang selama pandemi mengalami kesulitan keuangan hingga terpaksa melakukan PHK besar-besaran, tidak terlalu siap untuk menyambutnya.

Kombinasi itu, ditambah faktor lainnya, pun pada akhirnya membuat terjadi kekacauan di hampir seluruh bandara-bandara besar di Inggris beberapa waktu belakangan.

Dilansir inews.co.uk, kekacauan dilaporkan terjadi di Bandara Gatwick beberapa hari lalu. Ada penumpang yang menunggu berjam-jam untuk mendapatkan kembali bagasi mereka. Ada yang antre menunggu penerbangan. Bahkan ada penerbangan mereka yang akhirnya dibatalkan secara mendadak tanpa bisa komplain karena tidak ada staf maskapai yang berada di check-in konter.

Tak sedikit di antara penumpang yang menunggu bagasi serta menunggu penerbangan akibat delay ekstrem, pada akhirnya memilih menginap di bandara dan tidur sembarang; termasuk di atas conveyor belt atau baggage carousel. Mereka bisa saja memesan kamar hotel di sekitar bandara, tetapi itu bukan pilihan terbaik.

Bagi penumpang yang penerbangannya dibatalkan, kondisinya tak kalah rumit. Orang-orang mungkin bisa saja berpikir penerbangan sekedar dibatalkan dan kembali pulang ke rumah sambil menunggu full refund. Namun, kondisinya tak selalu demikian.

Kate Beavis, salah seorang penumpang di Bandara Gatwick, yang penerbangannya dibatalkan TUI secara mendadak, misalnya, ia bak sudah jatuh tertimpa tangga.

Dalam pengakuannya kepada jurnalis BBC News, dia seharusnya pergi berlibur ke Maroko selama tujuh hari bersama suami dan kedua anaknya yang masih remaja. Namun setelah beberapa jam tiba di bandara, ia diinfo maskapai bahwa penerbangannya dibatalkan tanpa penyebab yang jelas. Tentu saja ia sekeluarga merasa kecewa berat.

Baca juga: Dua Hari Tanpa Akomodasi dan Makanan, 200 Penumpang British Airways Terlantar di Bandara

Lebih kecewa lagi, selain kehilangan momentum untuk liburan, ia juga mengaku rugi besar karena sudah banyak keluar biaya, seperti biaya tes PCR sekeluarga £160, £320 untuk kandang hewan peliharaan, £200 untuk parkir mobil di bandara, dan £100 untuk sampai ke bandara.

Ia juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pulang ke rumah lantaran mobilnya tidak bisa diambil sampai waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.

Infrastruktur Rusak Berat, Ukraina Canangkan Reformasi Jaringan Kereta, Termasuk Impor 130 Lokomotif dari Perancis

Lantaran terjadi konflik bersenjata, maka berita yang mendominasi adalah pengiriman bantuan amunisi dan persenjataan ke Ukraina yang dilakukan negara-negara Barat. Namun, selain dari itu, infrastruktur transportasi Ukraina, khususnya jaringan kereta api yang rusak berat imbas serangan Rusia, menjadi tema yang memperihatinkan, mengingat kereta api adalah salah satu urat nadi transportasi di Ukraina.

Baca juga: Di Ukraina, Penumpang Bahu-membahu Mendorong Kereta yang Mogok

Berangkat dari kasus di atas, Perancis rupanya menaruh perhatian, selain telah memasok persenjataan berat (howitzer) ke Ukraina, Perancis juga akan mengirimkan paket lokomotif dalam jumlah besar ke Ukraina. Meski bukan dalam tajuk hibah – karena dalam skema pembelian dengan dana pinjaman. Perancis lewat Alstom, diwartakan akan mengirimkan 130 unit lokomotif listrik jenis Prima T8.

Dikutip dari railjournal.com, Alstom akan memasok 130 unit lokomotif listrik ke Ukrainian Railways (UZ) di bawah kontrak senilai €900 juta, salah satu dari empat perjanjian kerangka senilai lebih dari €1,3 miliar yang ditandatangani oleh Ukraina dan Perancis.

UZ berencana untuk membeli setidaknya 50 lokomotif pada tahun 2025 sebagai bagian dari program pembaruan armada angkutannya, dengan 265 lokomotif lainnya diperlukan pada tahun 2033.

Alstom Prima T8.

Prima T8 adalah salah satu lokomotif listrik paling bertenaga di dunia. Model ini adalah lokomotif kargo dua bagian 25 ton per gandar yang mampu menarik hingga 9.000 ton dan melaju dengan kecepatan maksimum 120 km per jam.

Lokomotif Prima T8 dirancang untuk beroperasi pada suhu berkisar antara -25°C hingga 50°C. Ciri khas lokomotif ini membutuhkan perawatan minimum dan memberikan tingkat keandalan yang tinggi dan biaya siklus hidup yang rendah berkat desain modularnya.

Baca juga: Meski Dilanda Perang, Jalur Kereta Ukraina Masih Terus Beroperasi

Rusaknya jaringan kereta api dan lokomotif/gerbong, rupanya dimafaatkan oleh otoritas Ukraina untuk memulai standar layanan baru di masa depan. Salah satu yang dicanangkan adalah mengganti ukuran standar lebar rel, bila saat ini menggunakan lebar rel (gauge) peninggalan era Soviet di 1.524 mm, maka nantinya Ukraina akan mengadopsi gauge standar Eropa Barat di 1.440 mm

Uji Coba KA Limeks Sriwijaya 3 Hari Berturut-turut, Akankah Beroperasi Kembali?

Kabar mengejutkan terutama bagi yang telah mengetahui uji coba Kereta Api Sriwijaya ternyata benar-benar terjadi. KA Sriwijaya yang sempat menghilang dari jadwal Kereta Api Indonesia karena 2 tahun tak beroperasi akibat wabah Pandemi Covid-19 sepertinya menemukan sedikit titik terang.

Baca juga: KA Limeks Sriwijaya Rencana Kembali Dijalankan, Kini Hanya Harapan

Ya, uji coba perjalanan kereta api dengan sebutan LIMEKS (Lintas Malam Ekspres) ini dilakukan sebanyak 3 hari, yaitu Jumat sampai dengan Minggu. Banyak menduga bahwa dilakukan uji coba tersebut membuat banyak pemikiran yang sama akan dioperasikannya kereta api dengan kelas eksekutif dan ekonomi premium ini dengan waktu tempuh sekitar 8 jam.

KA Limeks Sriwijaya melakukan uji coba pada tanggal 10 – 12 Juni 2022 lalu dengan rute Stasiun Tanjung Karang – Stasiun Baturaja. Uji coba dilakukan dengan kecepatan maksimum 80 – 90 km/jam yang diberangkatkan pada pukul 17.30 WIB dari Stasiun Tanjung Karang dan tiba di Stasiun Baturaja pada pukul 21.55 WIB. Kemudian kembali dari Stasiun Baturaja pada pukul 00.12 WIB dan tiba di Stasiun Tanjung Karang pukul 05.17 WIB. Uji coba sengaja dilakukan pada malam hari, mengingat KA Sriwijaya memang hanya berjalan pada malam hari dari Stasiun Tanjung Karang, Lampung sampai pagi hari saat tiba di Stasiun Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan. Rangkaian yang diuji coba memang tidak full rangkaian, hanya terdiri dari 1 lokomotif, 2 kelas eksekutif, 1 kereta makan, dan 1 pembangkit.

Baca juga: Stasiun Labuan di Medan, Jalur Pertama Perkeretaapian Sumatera Utara

Dengan dilakukannya uji coba KA Limeks Sriwijaya berharap penumpang bisa menggunakan kereta malam kembali dari Lampung menuju Palembang yang nyaman. Karena selama ini hanya kereta ekonomi PSO yang dioperasikan pada pagi hari dari Kota Bandar Lampung menuju Kota Palembang, yaitu KA Rajabasa dengan kursi 2+3. Saat ini belum diketahui kapan beroperasinya KA Limeks Sriwijaya, yang pasti khususnya warga Lampung dan Palembang bisa merasakan kembali kereta lintas malam dengan fasilitas yang lebih baik. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Menanti Stasiun Matraman, Akses Baru di Antara Stasiun Manggarai dan Jatinegara

Akhir-akhir ini pembahasan tentang Stasiun Matraman menjadi sorotan media yang hingga saat ini belum diketahui kapan akan dioperasikan. Stasiun Matraman yang berada di petak antara Stasiun Manggarai dengan Stasiun Jatinegara ini merupakan bangunan baru untuk KRL dilintas tersebut.

Baca juga: Okupansi Minim dan Terlalu Dekat dengan Stasiun Manggarai, Stasiun Mampang Nonaktif Secara Permanen

Saat jaman kolonial Belanda, jalur ini sudah pernah dibangun untuk perhentian penumpang namun masih status halte perhentian yang terhubung dengan jalur trem atau angkutan lain yang berada di sepanjang Jalan Matraman. Namun kini Stasiun Matraman dibangun megah dan cukup besar bagi sekelas stasiun antara.

Stasiun Matraman sangat berperan aktif bagi penumpang yang ingin menggunakan transportasi lain khususnya Bus Transjakarta yang cukup dekat dengan Halte Transjakarta di Jalan Matraman tersebut. Tak hanya itu jika dilihat dari dalam KRL melewati stasiun tersebut, fasilitas untuk masyarakat sudah mumpuni dan bisa digunakan oleh penumpang yang naik dari Stasiun Matraman.

Beberapa informasi yang didapat fasilitas di Stasiun Matraman pun sudah tersedia lengkap, antara lain loket, ruang pelayanan barang tertinggal, ruang laktasi, pos kesehatan, toilet, mushola, fasilitas disabilitas, lift, eskalator, dan juga area parkir.

Baca juga: Jangan Salah Peron, Ini Rute KRL di Stasiun Jatinegara

Namun sayangnya, Stasiun Matraman hingga saat ini belum bisa digunakan hingga waktu yang belum ditentukan. Menurut VP Corporate Secretary KAI Commuter Anne Purba mengatakan Stasiun Matraman dibangun dan menjadi alternatif bagi pengguna KRL untuk naik dan turun. Anne pun belum bisa merinci lebih lanjut kapan tepatnya Stasiun Matraman akan dioperasikan. Tapi yang pasti stasiun ini akan dilakukn uji coba terlebih dahulu mulai dari sistem persinyalan sampai uji coba prasarana ang ada di stasiun. Namun dalam waktu dekat, Stasiun Matraman akan dioperasikan segera guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan menjadikan stasiun ini menjadi alternatif yang lebih baik. (PRAS – Cinta Kereta Api)

Benarkah Stasiun Karangantu Ada Kaitannya dengan Lokasinya yang Berhantu? Ini Penjelasannya

Lokasinya berada di bagian barat Pulau Jawa lintas Rangkasbitung – Merak, Stasiun Karangantu merupakan stasiun kecil yang disinggahi kereta api lokal di rute tersebut. Kalau kalian pernah naik kereta lokal Merak pasti melewati stasiun ini. Terlihat tidak terlalu besar dan hanya memiliki 2 jalur, Stasiun Karangantu sekilas tampak tidak terlalu mencolok dengan stasiun – stasiun lainnya yang berada di lintas tersebut. Hanya saja terlihat peron yang sudah ditinggikan dan terdapat stasiun yang merupakan cagar budaya kereta api.

Baca juga: Ngeri! Kereta Hantu Terekam CCTV ‘Melintas’ di Stasiun Baotou

Menurut sejarah, Stasiun Karangantu awalnya adalah sebuah halte yang dibangun oleh Staatssporwegen (SS), perusahaan kereta api negara. SS membuka Stasiun Karangantu bersamaan peresmian lintas Serang-Cilegon-Anyerkidul pada tanggal 20 Desember 1900. Selain Stasiun Karangantu, SS membangun beberapa tempat pemberhentian yakni Kedungcinde, Banten, Tonjong, Serdang, Cilegon, Krenceng. Cigading, Anyerlor, dan Anyerkidul. Pembangunan lintas Serang-Anyerkidul merupakan bagian dari pembangunan jaringan kereta api Jakarta-Anyer dengan cabang Duri-Tangerang berdasarkan Staatblad No. 180 tanggal 15 Juli 1896.

Nah, apakah nama Karangantu ada kaitannya dengan hantu? Penjelasannya begini, Nama Karangaantu merujuk sebuah nama daerah. Menurut mitos yang beredar di masyarakat setempat, nama Karangantu merujuk pada seorang Belanda yang membawa guci berisi hantu. Sampai pada suatu ketika, guci tesebut pecah dan hantu yang berada di dalamnya keluar. Sejak saat itulah wilayah tersebut diberi nama Karangantu.

Lokasi Stasiun Karangantu juga berada di daerah pesisir Pantai Utara Jawa. Di sepanjang barat stasiun terdapat pemukiman warga. Tidak jauh dari stasiun terdapat sebuah banteng yang bernama Benteng Diamant, secara harfiah diamant memiliki arti “intan”. Di sisi utara stasiun, terdapat Pelabuhan Karangantu, sebuah pelabuhan untuk perdagangan umum yang berasosiasi dengan Pasar Karangantu.

Baca juga: Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

Seperti diketahui Stasiun Karangantu melayani naik-turun penumpang. Pada tahun 1926 terdapat lima kali perjalanan kereta dari Serang ke Cilegon yang melewati Stasiun Karangantu. Dari kelima perjalanan tersebut hanya terdapat empat kereta yang berhenti di Stasiun Karangantu. Waktu tempuh yang diperlukan dari Stasiun Serang ke Stasiun Cilegon memakan waktu sekitar setengah jam. Rangkaian kereta api yang melintas menggunakan kereta kelas campuran, yakni kereta kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. (PRAS – Cinta Kereta Api)