Paspor Baru dengan Masa Berlaku 10 Tahun, Biaya Belum Naik Tapi Ada Syaratnya!

Mulai 12 Oktober 2022, menandai berlakunya layanan baru bagi pembuatan Paspor oleh Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM RI, dimana telah ditetapkan masa berlaku paspor baru adalah 10 tahun, menggantikan masa berlaku paspor sebelumnya yang 5 tahun. Penerapan masa berlaku paspor baru ini didasarkan pada Pasal 2A Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI (Permenkumham) Nomor 18 tahun 2022 yang diundangkan di Jakarta pada Kamis, 29 September 2022.

Baca juga: Warga Sipil Punya Dua Paspor, Inilah yang Unik dari Rusia

Bagi penikmat perjalanan internasional, ketetapan baru ini jelas menjadi angin segar, apalagi untuk biaya pembuatan paspor baru ini tidak dikenakan tambahan, alias tidak ada kenaikan biaya. Dikutip dari siaran pers imigrasi.go.id, disebutkan mengenai biaya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) paspor sedang dalam pembahasan dengan melibatkan stakeholder terkait, yang artinya masih ada kemungkinan untuk penyesuaian biaya dalam waktu dekat.

Namun, untuk saat ini warha masih akan membayar biaya yang sama dengan sebelumnya, yaitu Rp350.000,- untuk paspor biasa nonelektronik dan Rp650.000,- untuk paspor biasa elektronik.

Untuk dapat menikmati paspor dengan masa berlaku 10 tahun ada syaratnya, yaitu WNI yang telah berusia 17 tahun atau sudah menikah. Selain kategori tersebut, paspor diberikan untuk jangka waktu 5 tahun. Dan perlu dicatat, masa berlaku paspor 10 tahun tidak berlaku terhadap paspor yang terbit sebelum tanggal diimplementasikannya Permenkumham 18/2022.

Baca juga: Paspor Terkuat di Dunia Tahun 2021, Wakil Asia Jepang-Singapura-Korsel Urutan Teratas!

Khusus bagi Anak Berkewarganegaraan Ganda (ABG), masa berlaku paspor juga akan menyesuaikan dengan jangka waktu hingga sang anak diwajibkan memilih kewarganegaraannya. Sebagai contoh, apabila usia ABG adalah 18 (delapan belas) tahun saat penggantian paspor, maka masa berlaku paspor menjadi 3 tahun atau hingga Ia menginjak usia 21 tahun. Usia tersebut merupakan batas maksimal ABG untuk menentukan kewarganegaraannya.

Badan Pesawat Airbus A320 Lufthansa Disulap Jadi Lukisan, Harganya Selangit

Banyak cara yang dilakukan Lufthansa dalam memanfaatkan pesawat purna tugasnya menjadi barang bernilai, salah satunya lukisan. Lukisan dari badan pesawat Airbus A320 maskapai tersebut bahkan dihargai sangat tinggi, mencapai Rp1,1 miliar.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A320 Lufthansa Dijual Rp429 Ribu!

Lukisan tersebut tentu saja tidak dibuat oleh kru maskapai penerbangan nasional Jerman itu, melainkan bermitra dengan salah satu pelukis kenamaan dunia kelahiran Inggris, Sacha Jafri.

Awal tahun ini, Jafri, yang saat ini berbasis di Dubai, Uni Emirat Arab, mengadakan pameran lukisan di helipad Burj Khalifa. Pameran ini dikuratori oleh Marcus Schäfer asal Jerman dan diberi nama The Art Maze dan mengusung tema “Reconnecting Humanity” dimana lukisan-lukisan menampilkan sekitar 12 situs Warisan Dunia UNESCO di seluruh dunia.

12 lukisan tersebut bukan lukisan sembarangan melainkan kanvasnya berasal dari badan pesawat Airbus A320 yang sudah purna tugas.

Jafri, yang memegang Guinness World Record untuk kategori lukisan di atas kanvas terbesar di dunia, “The Journey of Humanity”, menyatakan, “Bagian-bagian ini yang sebelumnya telah berkeliling dunia, kini diberi kehidupan baru sebagai sebuah karya seni”.

“Di dunia di mana metaverse menjadi lebih menjadi kenyataan, dan di mana kehidupan online dan fisik terintegrasi sepenuhnya, proyek ini adalah tentang menghubungkan kembali Kemanusiaan dengan keindahan yang mengelilingi kita, dalam dunia alami kita, dengan membangun kembali hubungan dengan warisan dan sejarah budaya kita,” tambahnya.

Dilansir Simpel Flying, badan pesawat Airbus A320 yang dibongkar memiliki registrasi D-AIPR atau “Kaufbeuren”. Pesawat ini mulai masuk ke tahun layanan bersama Lufthansa sejak tahun 1999. Setelah puluhan tahun, pesawat akhirnya dipensiunkan pada Maret 2020 lalu dan disimpan di kuburan pesawat di Teruel, Spanyol.

Badan pesawat, tepatnya di atas jendela, kemudian dipotong-potong seukuran pintu pesawat dan dijadikan kanvas oleh Sacha Jafri. Seluruh lukisan tersebut telah ditandatangani olehnya dan dilengkapi dengan sertifikat keaslian.

Baca juga: Boeing Jual Furniture dari Suku Cadang Asli Pesawat 747 hingga F-4 Phantom! Segini Harganya

Mengingat tingkat kesulitan, kanvas spesial tempat melukis, dan nama besar sang pelukis, tak heran bila satu lukisan tersebut dihargai sangat mahal, mencapai US$72.882 atau sekitar Rp1,1 miliar.

Selain versi mahal, ada juga versi murah yang dijual Sacha Jafri dan Lufthansa. Bedanya, lukisan versi murah tersebut hasil cetakan, bukan lukisan handmade. Itu dijual seharga US$5.830 atau Rp80 juta. Perbedaan lainnya dengan versi mahal, kanvas versi budget ini miles-nya hanya 1.650.000, jauh dibanding versi mahalnya yang mencapai 20.625.000 mil.

Apakah Pilot Dibayar Maskapai Selama Layover dalam Penerbangan Internasional?

Penerbangan internasional sangat menarik bagi pilot. Alasannya, apalagi kalau bukan kesempatan healing di berbagai negara tujuan selama layover (singgah). Meski begitu, bila tak sangguh mengatur keuangan, layover bisa-bisa jadi momok karena membuat kantong jebol. Tapi sebetulnya, selama layover, apakah pilot dibayar oleh maskapai?

Baca juga: Terungkap! Walau Maskapai Krisis Keuangan, Gaji Pilot Tetap Selangit 

Penerbangan jarak jauh (internasional flight) dan penerbangan jarak pendek (domestik flight), di mata pilot, memiliki kelebihan dari kekurangan masing-masing.

Dari segi pengalaman, penerbangan jarak jauh lebih menarik bagi pilot. Selain dibayar jauh lebih besar dibanding pilot lain di penerbangan jarak pendek, pengalaman baru, bertemu orang baru dengan latar belakang berbeda, serta kesempatan untuk liburan ke destinasi wisata favorit di banyak negara menjadi daya tarik dan nilai lebih tersendiri untuk pilot penerbangan jarak jauh.

Sudah begitu, dari jam kerja, biasanya pilot penerbangan jarak jauh memiliki waktu istirahat lebih lama dibanding pilot pada penerbangan jarak pendek.

Meski demikian, jarak yang terlampau jauh dan perbedaan zona waktu pada umumnya membuat penerbangan jarak jauh lebih melelahkan dibanding penerbangan jarak pendek.

Yang paling menarik dari penerbangan jarak jauh tentu adalah bayaran yang didapat. Disebutkan, pilot jarak jauh dibayar berkisar US$125.000 hingga US$250.000. Sedangkan pilot jarak pendek dibayar antara US$100.000 sampai US$200.000.

Pilot penerbangan internasional mendapat bayaran lebih besar tentu wajar. Selain lebih berisiko, pilot juga harus merogoh kocek pribadi untuk makan-minum dan beraktivitas (kecuali penginapan) selama menunggu penerbangan kembali ke bandara asal dan tidak dibayar. Jadi, pilot tidak dibayar selama layover karena pilot dibayar berdasarkan jam penerbangan. Malah harus mengeluarkan kocek tambahan.

Selain dari gaji atau bayaran yang lebih besar, pilot sebetulnya bisa menggunakan bayaran lain selama layover sehingga tidak membuat gaji pokoknya habis begitu saja.

Pilot memang mempunyai banyak macam bayaran (gaji), mulai dari pilot pay rigs, trip rig pay, duty rig pay, block rig pay, determining pay earned based on pilot pay rigs, work rules effect on pay, paid time of within the rig system, pilot employer operations and quality of life, hingga pilot per diem day.

Baca juga: Fenomena Aneh Pramugari Pakistan, Manfaatkan ‘Layover’ untuk Kabur dan Minta Suaka di Negara Maju 

Dalam konteks penerbangan internasional selama layover, pilot, menurut pengguna Quora, Randy Duncan, mendapat bayaran per diem day atau sejenis tunjangan makan selama layover. Umumnya, menurut Randy, yang juga seorang pilot maskapai di AS itu, pilot per diem day sebesar US$3 per jam. Bila layover selama 75 jam, tinggal dikalkulasi saja.

Banyak yang bertanya, apa yang dilakukan pilot selama layover di penerbangan internasional? Jawabannya sangat sederhana, tergantung hobi pilot. Dengan bayaran sebesar itu (US$125.000 hingga US$250.000), mereka bisa melakukan apapun selama layover, traveling ke destinasi favorit, kulineran, wisata religi, dan sebagainya.

Kokpit Pesawat Cukup Tinggi dari Ground, Bikin Pilot Sulit Lihat Runway? Ini Jawabannya

Dari kejauhan, pesawat tampak tidak terlalu besar dan tinggi. Tetapi bila dilihat dari dekat, apalagi ada pembandingnya, seperti mobil, barulah kentara bahwa pesawat berukuran sangat besar. Terlebih pesawat widebody semisal Airbus A380. Selain besar juga memiliki tinggi mencapai 24,1 meter atau 10,8 meter dari ground ke badan pesawat.

Baca juga: Kenapa Kokpit Airbus A380 Usung Konsep Lower Deck yang Justru Jadi ‘Senjata Makan Tuan’? Ini Jawabannya

Dengan tinggi tersebut, banyak pihak yang mempertanyakan, kenapa kokpit pesawat terletak cukup tinggi dari ground (daratan) dan kenapa kokpit tidak ditempatkan di bagian bawah dekat moncong pesawat sehingga memudahkan pilot melihat runway?

Sebelum menjawab itu, terkait tinggi, secara keseluruhan Airbus A380 memang lebih tinggi dibanding Boeing 747, baik diukur dari ground ke ujung vertical stabilizer maupun dari ground ke badan pesawat bagian atas. Queen of the Skies diketahui hanya memiliki tinggi masing-masing 19.3 meter dan 10.2 meter.

Namun bila dilihat dari posisi kokpit, Boeing 747, yang mengusung konsep high deck cockpit, lebih tinggi mencapai 8,7 meter dari ground atau tarmac, jauh di atas kokpit Airbus A380 di ketinggian 7,2 meter.

Meski masih di bawah Boeing 747, sebagian kalangan menganggap kokpit di ketinggian 7,2 meter masih terlalu tinggi dan menyulitkan pilot untuk melihat runway atau titik-titik blind spot lain di sekitar pesawat.

Menurut seorang engineer, Andy Duffell, pendapat yang menyebut kenapa kokpit pesawat besar (widebody) lebih ke bawah lagi agar bisa melihat runway dengan jelas keliru.

Faktanya, dari ketinggian sekitar 7,2 meter di kokpit Airbus A380, pilot dan kopilot masih bisa melihat dengan jelas runway (landasan pacu) saat final approach berjarak beberapa mil. Demikian juga dari ground, runway tetap terlihat dengan jelas.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa yang paling penting bagi pilot di kokpit adalah visibilitas atau pemandangan ke arah depan, bukan bagian bawah pesawat. Akan selalu ada titik blind spot, bukan hanya pada pesawat widebody melainkan juga pesawat narrowbody bahkan pesawat yang lebih kecil lagi.

Pola pikirnya adalah pada titik blind spot tersebut, bukan pesawat yang harus menghindari kendaraan yang kerap berlalu-lalang di tarmac, melainkan merekalah yang harusnya menghindari pesawat berbobot 300-500 ton.

Senada dengan Duffell, seorang pilot senior, John Chesire, mengungkapkan justru dalam situasi emergency, posisi kokpit yang berada cukup tinggi dari tarmac atau lebih tinggi dari moncong pesawat membawa banyak manfaat.

Baca juga: 10 Tombol Terpenting di Kokpit, Nomor 9 Paling Simpel dan Terkait dengan Penumpang

Tidak mungkin, lanjutnya, Kapten Sully bisa melakukan pendaratan belly landing di Sungai Hudson andai posisi kokpit berada lebih rendah dari yang saat itu ada.

Demikian juga insiden serupa, dimana nose landing gear atau roda pendaratan depan tidak keluar dari sarangnya untuk melakukan pendaratan darurat. Pilot waras pasti menginginkan posisi kokpit jauh lebih tinggi dari moncong pesawat.

Inilah Empat Rute Penerbangan Langsung Jarak Jauh yang Dominan Melintasi Daratan

Bagi sebagian orang, ada yang lebih nyaman dan merasa tenang jika menggunakan pesawat yang terbang dengan rute melintasi daratan. Alasannya tentu bisa beragam, namun dominan lebih pada urusan yang terkait keselamatan.

Baca juga: Habis Terbang Jarak Jauh, Apakah Pesawat Butuh Pendinginan Sebelum Lanjut Terbang Lagi?

Nah, terkait hal tersebut, tentu menjadi pertanyaan netizen, rute penerbangan langsung (direct flight) jarak jauh apakah yang paling dominan terbang di atas daratan? Dalam perspektif umum, terbang jarak jauh akan melibatkan terbang melintasi perairan atau lautan.

Meski tidak 100 persen berada di atas daratan, namun rute penerbangan langsung berikut ini dominan berada di atas daratan. Dari diskusi di forum quora.com, setidaknya ada empat rute internasional yang dapat memenuhi kriteria dominan terbang jarak jauh di atas daratan.

1. London – Bangkok (LHR-BKK) sejauh 5.958 mil tanpa penyeberangan samudera, meskipun Anda menyeberangi akan melinasi Selat Inggris atau Laut Utara, dan Laut Aral.

2. London – Hong Kong (LHR-HKG) sejauh 5.994 mil tanpa penyeberangan samudera, hanya Selat Inggris atau Laut Utara.

3. London – Cape Town (LHR-CPT) sejauh 5.995 mil hanya melintasi Mediterania, meskipun dekat dengan Pantai Barat Afrika di beberapa titik.

Baca juga: Dalam Penerbangan Jarak Jauh, Inilah yang Dilakukan Pilot untuk Mengatasi Jenuh

4. Los Angeles – Sao Paulo (LAX-GRU) di Brasil sejauh 6.156 mil pada dasarnya terbang menuruni tanah genting Amerika Tengah, tetapi melewati cukup banyak Teluk Meksiko atau Samudra Pasifik sehingga pada akhirnya mungkin menghabiskan lebih sedikit waktu di darat daripada yang lain .

Dear Penumpang, Naik Turkish Airlines Kini Bisa Nonton Bola Liga Champions UEFA Live di Pesawat

Turkish Airlines belakangan menyita perhatian akibat insiden penumpang WNI ngamuk di penerbangan rute Istanbul-Jakarta. Sebelumnya, maskapai nasional Turkiye (Turki) itu juga menyita perhatian publik usai menjadi maskapai pertama yang menjadi sponsor Liga Champions UEFA. Karenanya, tak heran bila kompetisi antar klub paling bergengsi di dunia itu bisa disaksikan live di pesawat Turkish Airlines.

Baca juga: WNI Serang Awak Kabin, Pesawat Turkish Airlines Istanbul-Jakarta Dialihkan ke Medan: Terancam Denda Rp100 Juta

“Kami senang dan bangga mengumumkan bahwa Turkish Airlines adalah sponsor resmi Liga Champions UEFA!,” kata maskapai dalam laman resminya.

“Sebagai Turkish Airlines, kami bersemangat untuk terbang ke kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia sebagai sponsor resmi Liga Champions UEFA. Membawa merek Turkish Airlines ke level baru, pertandingan Liga Champions UEFA akan disiarkan langsung di pesawat tertentu. Kami berharap dapat menawarkan penumpang penerbangan yang tak terlupakan!,” tambahnya.

Lebih lanjut, Turkish Airlines mengungkapkan bahwa siaran langsung pertandingan Liga Champions UEFA hanya bisa disaksikan di penerbangan tertentu. Ini tentu masuk akal mengingat siaran live tersebut hanya bisa disaksikan di layar In-flight entertainment (IFE) yang berada di seatback atau depan penumpang.

Teknisnya cukup mudah, penumpang hanya perlu menekan menu ‘Live TV’ di layar IFE dan akan terdapat pilihan beberapa siaran pertandingan Liga Champions Sport24 yang bisa disaksikan penumpang dari ketinggian 37 ribu kaki.

Ketua Dewan dan Komite Eksekutif Turkish Airlines, Prof. Ahmet Bolat, menyatakan, langkah ini diambil sebagai salah satu inovasi menatap perayaan 100 tahun berdirinya Republik Turkiye usai kekaisaran Turki Ottoman runtuh.

“Sebagai Flag Carrier Airline di negara kami, kami bangga dengan sponsor kami untuk Liga Champions UEFA, salah satu kompetisi olahraga terbesar di dunia. Dengan negara kami melebarkan sayapnya menuju peringatan 100 tahun Republik kami, kami membawa merek Turkish Airlines ke tingkat yang lebih tinggi,” jelasnya.

“Dengan sponsor ini, kami akan membawa merek Turkish Airlines ke seluruh dunia dan menyatukan seluruh dunia di Istanbul pada 10 Juni 2023. Kami percaya pada kekuatan pemersatu olahraga yang menyatukan budaya yang berbeda dan kami bertujuan untuk terus ambil bagian dalam turnamen terkemuka dunia,” ungkapnya.

Meski tak disebutkan, penyelenggaraan Final Liga Champions UEFA yang dijadwalkan pada 10 Juni 2023 di Stadion Olimpiade Istanbul Atatürk, Turkiye, juga menjadi dorongan utama Turkish Airlines menjadi sponsor Liga Champions.

Turkish Airlines bergabung dengan Heineken, PlayStation, PepsiCo, Mastercard, FedEx, Just Eat Takeaway.com, dan OPPO sebagai sponsor global resmi Liga Champions UEFA.

Baca juga: Intip Mewahnya Airbus A380 Emirates yang Digunakan Klub Bola Real Madrid

Sementara itu, lewat laman resminya, UEFA menyebut Turkish Airlines adalah maskapai pertama yang menjadi sponsor Liga Champions. Namun, bukan kerja sama pertama antara keduanya.

Turkish Airlines tercatat pernah bekerja sama dan menjadi maskapai pertama yang menjadi sponsor di kompetisi UEFA EURO 2016.

Apa Itu Pitot Tube dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Sebagai moda transportasi paling aman di dunia, pesawat dilengkapi banyak teknologi dan semuanya penting karena saling melengkapi kendati ukurannya kecil, seperti pitot tubes. Lantas, apa itu pitot tubes, apa fungsinya, dan bagaimana cara kerjanya?

Baca juga: Bagaimana Pilot Tahu Dimana Posisi Pesawat Padahal di Luar Gelap?

Pitot tube ditemukan oleh insinyur berkebangsaan Perancis, Henri Pitot pada awal abad ke 18, dan dimodifikasi oleh ilmuwan berkebangsaan Perancis, Henry Darcy di pertengahan abad ke 19. Itulah kenapa teknologi ini dinamakan pitot.

Pitot tubes atau pitot static system sebetulnya bukan teknologi langka yang hanya ada di pesawat. Ini diketahui juga digunakan di berbagai kendaraan dan industri, seperti mobil Formula 1, kapal laut, mesin industri untuk mengukur kecepatan udara dan gas, dan banyak lainnya. Itu karena fungsi pitot tubes memang mencakup banyak sektor, tak terbatas pada penerbangan saja.

Dihimpun dari berbagai sumber, pitot tube adalah peralatan yang digunakan untuk melakukan pengukuran tekanan pada aliran udara atau aliran cairan.

Pada pesawat terbang, pitot tube merupakan komponen yang digunakan untuk pengukuran aliran udara yang dimana nantinya akan dimanfaatkan untuk hasil pengukuran airspeed indicator, vertical speed, altitude, dan sebagainya.

Pitot tube tidak bekerja sendirian. Usai merekam tekanan pada sayap dan permukaan bagian depan pesawat, data kemudian dibandingkan dengan data tekanan yang didapat dari static-port pada bagian lain pesawat.

Cara pitot tube atau tabung pitot sangat sederhana. Tabung pitot sederhana terdiri dari tabung yang mengarah secara langsung ke aliran fluida. Tabung ini berisi fluida, sehingga tekanan bisa diukur dengan perubahan tinggi dari fluida tersebut. Tekanan stagnasi dari fluida, juga disebut dengan tekanan total atau tekanan pitot.

Mengingat fungsi dan cara kerjanya, pitot tube ini disebar atau ditempatkan di banyak titik di pesawat untuk memaksimalkan proses pembacaan data.

Meski begitu, jangan sampai terkecoh karena tidak semua komponen yang ada di bagian depan badan pesawat adalah pitot tube. Pitot tube pada umumnya terletak pada bagian depan untuk mengukur tekanan stagnasi, sedangkan static-port (port statis).

Sekalipun kecil, pitot tube merupakan salah satu instrumen penting dan termasuk dalam enam instrumen dasar pada pesawat atau biasa disebut ‘six pack’.

Baca juga: Buntut Insiden Maut AF447, Air France dan Airbus Diseret ke Meja Hijau

Di setiap penerbangan, mengekur kecepatan adalah bagian tak terpisahkan dari keselamatan dan keamanan penerbangan dan selalu menjadi penting bagi pilot untuk selalu memeriksananya.

Perlu dicatat, pitot tube pada dasarnya digunakan untuk mengukur kecepatan pesawat di udara. Dalam kaitannya kecepatan pesawat saat di darat (lepas landas) atau groundspeed, ini hal lain yang berbeda dengan pitot tube.

WNI Serang Awak Kabin, Pesawat Turkish Airlines Istanbul-Jakarta Dialihkan ke Medan: Terancam Denda Rp100 Juta

Pesawat Boeing 777 Turkish Airlines dengan nomor penerbangan TK56 terpaksa dialihkan ke Bandara Internasional Kualanamu, Medan, Selasa kemarin. Hal itu lantaran seorang penumpang asal Indonesia menyerang kru sehingga mengganggu keamanan dan keselamatan penerbangan serta ketertiban dan ketenteraman penumpang lain. Pelaku terancam kurungan penjara 1 tahun atau denda Rp100 juta.

Baca juga: Berusaha Serang Kokpit, Penumpang ini Akibatkan Pramugari dan Polisi Luka-luka

Dilansir FlightRadar24, pesawat dijadwalkan tiba di Jakarta pada hari Selasa pukul lima sore WIB. Setelah WNI penumpang yang membuat onar tersebut diturunkan, pesawat kembali berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta pada 17.37 WIB. Pesawat sudah landing dengan selamat pukul 20.01 WIB.

Dalam video viral di media sosial, salah seorang penumpang yang duduk di kursi kelas ekonomi tampak bersitegang dengan kru kabin. Penumpang, yang diduga seorang WNI itu, bahkan melayangkan pukulan telak ke kru sebelum akhirnya ditangkap, dihakimi oleh penumpang lain, dan diikat.

Belum diketahui pasti latar belakang penumpang tersebut menyerang kru. Namun, menurut unggahan akun Twitter @incrediblyamaze, penumpang WNI yang berbuat onar itu melempar botol minum dan air panas.

Saat ini, jajaran Polresta Deli Serdang masih mendalami insiden tersebut dengan pihak terkait. “Kami sedang dalami, (masih) berkoordinasi dengan pihak otoritas bandara,” kata Kapolres Kombes Pol Irsan Sinuhaji saat dikonfirmasi Kumparan.

Begitu juga dengan Executive General Manager (EGM) Angkasa Pura (AP) II Bandara Kualanamu, Heriyanto Wibow. Ia membenarkan telah terjadi divert landing oleh pesawat Triple Seven Turkish Airlines.

Hanya saja, ia tak bisa merinci penyebab kejadian tersebut dan masih menunggu keterangan resmi dari pihak maskapai.

Atas insiden ini, KabarPenumpang.com sudah menghubungi pihak Turkish Airlines. Namun, sampai berita ini ditulis, belum ada jabawan apapun.

Baca juga: Penumpang Pukul Petugas Avsec Bandara Sam Ratulangi, Video Viral Kemana-mana

Dari foto yang beredar, penumpang tersebut telah diamankan pihak berwajib. Meski berada di pesawat Turkish Airlines, pelaku akan mengikuti hukum yang berlaku di tempat kejadian, dalam hal ini hukum di Indonesia.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, pasal 412 ayat 4 menyebutkan, “Setiap orang di dalam pesawat udara selama penerbangan mengganggu ketenteraman, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 huruf e dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)”.
























Kenapa Maskapai Larang Penumpang Bawa Makanan ke Pesawat?

Bagi kebanyakan penumpang, terlebih food lovers, sulit untuk melewatkan penerbangan tanpa makanan. Sayangnya, tidak semua makanan diperbolehkan masuk ke dalam pesawat. Sebetulnya, kenapa maskapai melarang penumpang membawa makanan ke pesawat?

Baca juga: Dear Traveler, AS Izinkan Botol Parfum 100 Ml Lebih Masuk Kabin 

Jawabannya sederhana sekali, karena maskapai ingin agar makanan yang dijual di kabin laris diburu penumpang. Ini tentu akan menambah pundi-pundi pemasukan maskapai. Sama seperti Anda dilarang membawa makanan dan minuman ke bioskop, sebagai gantinya mau tak mau Anda akan membeli popcorn dan minuman bersoda sebagai teman nonton. Intinya ada unsur bisnis dibalik itu.

Hanya saja, seiring waktu, larangan penumpang membawa makanan dan minuman tak lagi relevan dengan kondisi yang ada.

Menurut traveler asal Inggris yang sudah melanglang buana, David Lascelles, sebagian besar maskapai penerbangan saat ini telah berhenti menyediakan makanan dalam penerbangan. Bukan karena aturan Covid-19 di hampir seluruh negara melarang makanan dan minuman di kabin pesawat dalam rangka menekan penyebaran virus, melainkan karena berbagai faktor.

Dewasa ini, lanjutnya, sajian maskapai penerbangan memiliki reputasi buruk. Rasa seadanya, harga terlalu mahal, dan sebagainya. Tak sedikit maskapai yang berinovasi dengan memasukkan harga makanan ke dalam tiket. Namun, tetap saja harganya terlalu mahal untuk sebuah snack maupun makanan berat. Tidak sebanding dengan rasa dan porsi yang didapat.

Hal ini pada akhirnya membuat tak sedikit penumpang lebih memilih mampir ke restoran di bandara, sebelum maupun sesudah penerbangan. Karenanya, saat ini, maskapai cenderung lebih suka penumpang membawa makanan sendiri ketimbang mereka menyediakannya namun sepi peminat.

Meski begitu, maskapai pada umumnya tetap menyediakan makanan dan minuman, khususnya penerbangan di atas dua jam. Ini penting bagi beberapa kriteria penumpang, salah satunya yang tak sempat makanan dan minum apapun saat di bandara ataupun saat berangkat dari rumah.

Saat ini, penumpang diperbolehkan membawa makanan dan minuman. Tentu ada kriteria makanan dan minuman yang diperbolehkan dibawa ke pesawat, mulai dari buah dan sayuran, kerupuk, daging dan ikan segar beku, es krim beku, pizza, makanan kalengan, telur mentah, makanan ringan, makanan berat, dan sebagainya selama kurang dari 96,39 gram.

Baca juga: Tips Lolos dari Aturan Batas Cairan Maksimal 100 Ml ke Kabin Pesawat, Cukup Pakai Kertas!

Untuk minuman atau cairan, kriteria yang diizinkan masuk ke kabin pesawat maksimal 100 ml untuk setiap barang dan kurang dari 1 liter untuk setiap penumpang. Jadi, boleh saja membawa botol minuman ke pesawat selama kurang dari 100 ml atau memindahkannya ke dalam plastik transparan maksimal 1 liter.

Intinya, selain membawa barang-barang yang dilarang dibawa ke pesawat, seperti detonator (tutup peledak), dinamit, suar, granat, kembang api, replika bahan peledak, aerosol, bahan bakar apa pun, bensin, obor gas, korek api, pengencer cat, pemutih, klorin, dan cat semprot, semua diperbolehkan selama tidak di atas berat yang diizinkan, 96,39 gram dan 100 ml atau 1 liter per penumpang.

Sambut Rencana Operasional, KAI Tampilkan Logo LRT Jabodebek

Menyambut rencana operasional LRT Jabodebek, PT Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan peluncuran logo layanan LRT Jabodebek. Peluncuran logo baru ini bertujuan untuk mengenalkan layanan LRT Jabodebek kepada masyarakat yang ditargetkan akan beroperasi pada Juli 2023.

Baca juga: Diundur Terkait Faktor Keamanan Penumpang, LRT Jabodebek Beroperasi Juni 2023

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo mengatakan, peluncuran logo LRT Jabodebek ini menjadi semangat baru dalam menyelesaikan proyek LRT Jabodebek. Logo LRT Jabodebek ini KAI perkenalkan agar masyarakat mulai merasakan kehadiran layanan LRT Jabodebek yang tidak lama lagi akan beroperasi.

“Pada pertengahan tahun 2023, LRT Jabodebek akan mulai beroperasi untuk melayani masyarakat. Sebagai moda transportasi perkotaan yang paling modern, KAI terus bersiap dalam berbagai aspek sehingga nantinya dapat melayani pelanggan sebaik mungkin,” ujar Didiek.

Logo LRT Jabodebek menampilkan simbol infinity yang dinamis dan menyerupai lintasan serta sarana LRT. Simbol infinity menunjukkan bahwa layanan LRT Jabodebek akan memberikan pelayanan terbaik yang tidak terbatas kepada para pelanggannya. Bentuknya yang dinamis juga menunjukkan bahwa layanan LRT Jabodebek menggunakan teknologi terbaik dalam pengoperasiannya.

Warna merah mencerminkan keberanian dalam menghadapi berbagai macam tantangan, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang. Warna Hitam merepresentasikan keseriusan insan LRT Jabodebek dalam memberikan layanan transportasi massal yang dapat diandalkan.

Logo ini merupakan karya dari Yudha Pratama Putra yang merupakan pemenang lomba Logo Design Competition with LRT Jabobebek yang diselenggarakan selama periode 13 Juni sampai dengan 17 Agustus 2022. Terdapat total 2.469 karya yang diikutsertakan oleh masyarakat dalam lomba tersebut. Logo karya Yudha Pratama Putra terpilih sebagai pemenang setelah sebelumnya dilakukan penjurian oleh dewan juri yang berasal dari desainer profesional, konsultan kreatif, akademisi, dan tim internal KAI.

Baca juga: Uji Coba Akhir Tahun, Inilah Kesiapan Depo LRT Jabodebek Jelang Peresmian

Logo ini merepresentasikan layanan LRT Jabodebek yang merupakan moda transportasi massal yang paling modern. LRT Jabodebek akan beroperasi tanpa masinis secara otomatis dengan pengawasan dari pusat kendali. Stasiun dan Sarana LRT Jabodebek juga siap mengakomodir seluruh elemen pelanggan termasuk pelanggan disabilitas. Layanannya juga akan terintegrasi dengan berbagai moda lainnya seperti Bus, Commuterline, dan Kereta Cepat Jakarta Bandung.