Gardu Traksi Telah Terpasang, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Siap Diuji Coba

Fase uji coba Kereta Cepat Jakarta-Bandung saat ini siap untuk menjalankan rangkaian Electric Multiple Units (EMU), hal ini setelah gardu traksi dan peralatan lainnya telah dipasang pada hari Sabtu lalu. Jalur uji coba sepanjang 14 kilometer telah disiapkan di antara Stasiun Tegalluar dan Casting Yard No. 4. Uji coba kereta EMU dijadwalkan akan dimulai pada pertengahan November 2022.

Baca juga: Waktu Singkat 45 Menit, Kereta Cepat Jakarta Bandung Akan Layani 68 Perjalanan

Dengan kecepatan 350 kilometer per jam, kereta api yang dibangun dengan teknologi Cina ini akan memangkas perjalanan Jakarta-Bandung, dari yang saat ini lebih dari tiga jam menjadi sekitar 45 menit saja. Kereta api, yang dianggap sebagai penghubung antara China Belt and Road Initiative dan strategi Poros Maritim Indonesia, diharapkan mulai beroperasi pada Juni 2023.

Kereta Cepat Jakarta Bandung ini dibangun sepanjang 142,3 km dari Stasiun Halim, Jakarta sampai dengan Depo Tegaluar, Jawa Barat.

Dan rencananya dalam sehari akan dijalankan sebanyak 68 kali perjalanan. Kehadiran kereta cepat ini tentu diharapkan dapat semakin meningkatkan minat masyarakat untuk lebih memilih menggunakan transportasi publik ketimbang transportasi pribadi.

Baca juga: Lebih Dekat dengan Teknologi GSM-R, Teknologi Persinyalan yang Diadopsi Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Kereta cepat Jakarta-Bandung memiliki 11 rangkaian kereta yang diproduksi oleh CRRC Si Fang, Qing Dao, Provinsi Shan Dong, Cina, dan telah selesai diproduksi pada awal April 2022. Multiple Unit (EMU) dan Comprehensive Inspection Train (CIT) yang dikirim ke Indonesia ini telah menyelesaikan static test dan dynamic test di tempat produksinya.

Aplikasi Smartphone Ternyata Bisa Bantu Mencegah Ambruknya Jembatan

Buntut dari insiden ambruknya jembatan di Gujarat, India yang menewaskan 137 orang, sontak menjadi perhatian global pada aspek kekuatan konstruksi jembatan. Dan tahukah Anda, bahwa ternyata sebuah ponsel pintar (smartphone) dapat membantu memprediksi (dan mencegah) ambruknya jembatan.

Baca juga: Ini Spesifikasi Jembatan Runtuh Peninggalan Inggris di India yang Tewaskan Ratusan Orang

Memantau integritas struktural dari jembatan yang banyak digunakan dan jembatan yang menua adalah pekerjaan kompleks yang sering kali melibatkan rangkaian sensor yang mahal. Namun, penelitian belum lama ini telah menunjukkan bagaimana smartphone suatu hari nanti dapat melakukan peran yang besar dalam hal memprediksi kekuatan jembatan.

Dikutip dari newatlas (6/11/2022), disebut para ilmuwan dari MIT Senseable City Lab telah menunjukkan bagaimana sebuah aplikasi dapat digunakan untuk mendeteksi getaran halus yang mengindikasikan kemungkinan runtuhnya jembatan, yaitu dengan menginstall solusi crowdsourced berbiaya rendah untuk mempertahankan infrastruktur yang sangat penting.

Untuk memantau level kekuatan jembatan, para insinyur akan menyetel getaran alami yang dikenal sebagai modal frequencies, yang dapat bergeser dari waktu ke waktu untuk mengungkapkan perubahan dalam integritas struktur. Ini dapat dicapai melalui sensor seperti akselerometer yang ditempatkan di jembatan, meskipun saat ini sudah dapat diketahui bagaimana sistem sensor nirkabel dapat menawarkan cara yang lebih murah, dan juga bagaimana drone otonom dapat merampingkan jenis operasi ini.

Studi terbaru berusaha memanfaatkan sistem sensor yang ada di smartphone sehari-hari. Tim membangun aplikasi berbasis Android khusus untuk mengumpulkan data akselerometer smartphone pada modal frequencies dari kendaraan yang melewati jembatan. Idenya adalah untuk membuatnya bekerja dan melihat seberapa baik data cocok dengan yang dikumpulkan oleh seperangkat sensor pemantauan jembatan tradisional.

Aplikasi ini tengah diuji di Jembatan Golden Gate, dengan para peneliti mengemudi di atas jembatan 102 kali dengan aplikasi berjalan, dan juga meminta pengemudi Uber untuk melakukan hal yang sama selama 72 perjalanan. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan data modal frequencies dari satu set 240 sensor tradisional yang telah terpasang di Jembatan Golden Gate selama tiga bulan.

Hasilnya, tim riset menemukan bahwa data dari smartphone mencerminkan kesesuaan dengan sensor tradisional yang dipasang di jembatan, menawarkan kecocokan untuk 10 jenis getaran frekuensi rendah yang dilihat oleh para insinyur dalam kasus ini.

Jembatan Golden Gate adalah jembatan gantung, jenis yang hanya menyumbang 1% dari semua jembatan di AS. Untuk memperluas temuan ini dan mengeksplorasi bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan pada jembatan bentang beton yang lebih kecil, tim riset akan beralih untuk menguji jembatan jenis ini di Ciampino, Italia.

Bagian dari penelitian ini melibatkan 280 perjalanan kendaraan di atas jembatan dengan aplikasi smartphone di dalamnya, dengan data yang dibandingkan dengan enam sensor yang dipasang di jembatan selama tujuh bulan. Meskipun para peneliti menemukan perbedaan dalam data pada modal frequencies tertentu hingga 2,3%, mereka antusias dengan potensinya, karena ini merupakan peningkatan pada perbedaan 5,5% yang diamati pada data yang lebih kecil. Ini menunjukkan bahwa memperluas data lebih jauh melalui lebih banyak perjalanan dapat lebih meningkatkan akurasi teknik ini.

Baca juga: Jembatannya Runtuh Saat Lalu Lintas di Bawah Ramai, Begini Sejarah MRT Meksiko

Tim riset juga melihat bagaimana memasukkan jenis data dari smartphone ke dalam rencana pemeliharaan jembatan yang dapat memengaruhi umur jembatan.

Pesawat ATR-42 Precision Air Jatuh ke Danau di Tanzania dan Tewaskan 19 Penumpang, Ini Penyebabnya

Pesawat ATR 42-500 Precision Air yang membawa 39 penumpang termasuk satu bayi jatuh ke Danau Victoria, Tanzania, Minggu, 6 November kemarin. Akibatnya 19 orang dilaporkan tewas. Belum ada keterangan pasti penyebab kecelakaan pesawat dengan nomor registrasi 5H-PWF itu. Namun saat kejadian, hujan deras dan kabut tebat menerjang lokasi sekitar Danau Victoria.

Baca juga: Hanya Butuh Landasan 800 Meter, ATR 42-600S Siap Beraksi di Tahun 2022

Laporan Reuters, pesawat dengan nomor penerbangan PW 494 itu diketahui lepas landas dengan aman tanpa permasalah teknis apapun dari kota terbesar di Tanzania, Das es Salaam, ke Bukoba, yang terletak di tepi danau terbesar di Afrika tersebut.

Menjelang tiba di bandara, pesawat dari maskapai penerbangan swasta terbesar di Tanzania itu diterjang kabut tebal dan hujan deras. Sebetulnya, di pesawat-pesawat canggih terbaru seperti Airbus A350, Airbus A320, dan Boeing 737 MAX, kabut tebal dan hujan deras tidak menjadi masalah serius.

Andai jarak pandang sangat buruk pun dimana pilot-kopilot tak bisa melihat apapun, ada fitur autoland atau pendaratan otomatis yang bisa digunakan untuk membawa pesawat mendarat dengan aman. ATR 42-500 sebetulnya juga mempunyai fitur tersebut.

Begitu juga dengan ATR 42-500 Precision Air produksi tahun 2010 silam. Ini tentu menjadi pertanyaan besar. Andai pilot-kopilot mengaktifkan fitur autoland sebelum kecelakaan, ini akan menjadi catatan tersendiri. Demikian juga sebaliknya, andai memaksa pendaratan manual saat visibilitas rendah, ini juga menjadi tugas berat tim penyidik untuk mengungkap hal tersebut.

Di tengah hujan lebat dan kabut tebal itu, pesawat akhirnya jatuh ke Danau Victoria dan menewaskan 19 orang. Sementara itu 25 orang lainnya, terdiri dari penumpang dan kru, dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Melalui lama Twitter resminya, maskapai Precision Air, yang saat ini sebagian sahamnya dimiliki Kenya Airways, mengatakan pihaknya tidak ingin menduga-duga penyebab terjadinya kecelakaan. Saat ini, pihaknya masih fokus menyelamatkan korban luka.

Maskapai berjanji akan membuka penyebab kecelakaan pesawat jatuh ke Danau Victoria segera setelah penyelidikan dan evakuasi tuntas.

Pesawat ATR 42 memang tidak lebih terkenal dan laris di pasaran dibanding ATR 72. Meski begitu, varian itu (ATR 42) sudah diproduksi sebanyak 400-an unit sejak dekade 80an dan masih terus diproduksi sampai saat ini dan banyak digunakan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, seri ATR 42 yang dipakai adalah ATR 42-300 dan ATR 42-500, masing-masing oleh Trigana Air dan Pelita Air.

Baca juga: Sejarah ATR, Produsen Pesawat Regional Terbesar Dunia Besutan Perancis-Italia

ATR 42 memang sangat cocok dengan karakter penerbangan perintis di Indonesia, khususnya Indonesia Timur. Selain tangguh dan mampu lepas landas dan mendarat di landasan pendek (STOL), Pesawat juga bisa menampung banyak penumpang sampai 40an.

Kendati begitu, ATR 42 secara kuantitas masih kalah dibanding ATR 72 yang banyak digunakan maskapai Indonesia di rute-rute regional.

Pernah Dengar Seberapa Tebal Kaca di Kokpit Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Pesawat komersial pada umumnya berada di ketinggian lebih dari 10 ribu kaki. Pada ketinggian tersebut, tekanan pada pesawat cukup tinggi sehingga desain serta komponen pesawat dibuat se-aerodinamis dan se-kuat mungkin menahan tekanan tersebut; termasuk kaca pesawat sekalipun.

Baca juga: Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!

Di tahun 1950an, sebelum teknologi semakin berkembang seperti sekarang ini, pesawat buatan Inggris, de Havilland Comet, tercatat pernah mengalami kecelakaan fatal akibat keretakan yang terjadi pada kaca pesawat.

Keretakan tersebut besar kemungkinan akibat dua hal, teknologi kaca dan ketebalan yang kurang memadai hingga desain kaca itu sendiri yang masih belum mampu menahan atau mengalirkan tekanan ke bagian lain pesawat.

Akan tetapi, berbicara mengenai ketebalan kaca depan pesawat, sebetulnya seberapa tebal kaca di pesawat sampai mampu menahan tekanan besar di udara setara berat sekitar 10,8 ton (ketinggian 3.600 – 10.000 meter di atas permukaan laut)?

Soal ini, thepointsguy.com pernah menulis, sebetulnya kaca depan pesawat (cockpit windshield atau biasa juga disebut aircraft windshield), ketebalannya tak terlalu besar, berkisar 1-3 inchi atau empat kali lipat ketebalan kaca mobil.

Kaca yang digunakan pun nilainya bukanlah yang tertinggi. Kita tahu, dari piramida klasifikasi kaca –berdasarkan kemampuan menahan tekanan- kaca laminated, merupakan jenis kaca dengan grade tertinggi.

Di bawahnya, ada kaca tempered, kaca reflektif, kaca es, kaca warna, dan kaca bening atau kaca pada umumnya. Dari jenis-jenis kaca di atas, pesawat tergolong menggunakan kaca jenis tempered, dengan beberapa modifikasi kaca. Namun, lagi-lagi, tergantung jenis pesawat. Adapun jenis kaca tempered digunakan di pesawat-pesawat Boeing, seperti 737, 747, dan 787.

Mengingat tekanan besar di udara, kaca depan pesawat atau biasa juga disebut flight deck windshields umumnya memiliki tiga lapis. Lapis pertama, kaca depan pesawat terbuat dari campuran kaca dan akrilik. Keduanya disatukan dengan teknik glass frit bonding, juga disebut sebagai solder kaca atau seal glass bonding. Jadi, pada intinya, teknik ini memadukan lapisan luar kaca dengan akrilik yang direnggangkan.

Lapis kedua, kaca depan pesawat terbuat dari urethane, termasuk jenis dari polimer yang lumrah dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan plastik. Sedangkan dilapis terakhir, atau di bagian dalam, kaca depan pesawat terbuat dari akrilik, dengan ketebalan yang sudah kami jelaskan di atas, 1-3 inchi.

Meskipun terdengar tak lebih kuat dibanding jenis kaca tempered, namun, komposisi akrilik dan polimer rupanya memiliki andil besar, bukan hanya dalam menahan tekanan besar dari luar, melainkan juga menahan benturan keras yang terjadi oleh objek tak dikenal, seperti misalnya bird strike.

Dengan andil lapisan akrilik dan polimer dan tentu saja gabungan dari keduanya, kaca depan pesawat mampu menahan benturan seberat empat pon saat pesawat mencapai di kecepatan 370 mph. Ketika benturan terjadi, kaca depan pesawat tak langsung pecah berkeping-keping layaknya piring pecah.

Menariknya lagi, mengingat pesawat menerjang berbagai kondisi, siang-malam, panas-dingin, hujan-badai-terik matahari, kaca depan pesawat harus mampu tetap stabil dalam semua kondisi di atas. Tidak stabil dalam artian, kaca tak berembun, buram, silau, panas, dingin, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, kaca depan pesawat dilengkapi dengan coating of indium tin oxide atau lapisan oksida timah indium yang mampu mentransmisikan panas. Tak hanya itu, lapisan tersebut juga mampu membuat kaca tetap kinclong dan jelas dalam kondisi panas maupun dingin. Itu juga sebabnya mengapa kaca pesawat tanpa seperti berminyak, efek lapisan oksida timah indium ini.

Baca juga: Wow, Kaca Film Sekarang Bisa untuk Jendela Pesawat

Namun, ketika pesawat menerjang hujan lebat, lapisan tersebut memang tetap berfungsi, tetapi, pesawat tetap butuh sesuatu untuk menyingkirkan air dari permukaan kaca. Itulah mengapa wiper, layaknya mobil, juga tersedia pada pesawat.

Di pesawat sendiri terdapat banyak kaca. Namun, bila dikelompokkan, maka hanya ada dua, cockpit windshield dan cabin window.

Eksentrik, Stasiun Nagatoshi Punya “Torii” di Atas Rel

Banyak stasiun di Jepang yang memiliki ciri khas dan membuatnya unik bahkan terlihat cukup eksentrik. Beberapa di antaranya seperti di daerah Gunma yang memiliki pohon kesemek dan buahnya tergantung di atas peron. Kemudian di Nagano memiliki satu-satunya kebun anggur peron di Negeri Sakura itu.

Baca juga: Stasiun Seiryu Miharashi di Jepang, Stasiun Unik Tanpa Pintu Keluar

Nah, baru-baru ini ada lagi hal yang cukup eksentrik yakni torii berwarna merah terang tepat berada di atas rel kereta api di peron Prefektur Yamaguchi. Dilansir KabarPenumpang.com dari japantoday.com (31/5/2021), torii tersebut menjadi pemandangan misterius pertama kali dan menarik perhatian semua orang pada Maret tahun lalu.

Pemandangan tersebut diunggah oleh akun Twitter @Alpino305 yang mengabadikan foto torii atau gerbang di stasiun prefektur Yamaguchi. Menurut @Alpino305, gerbang ini berada di Stasiun Nagatoshi yang didirikan oleh Departemen Kereta Api Nagato West Japan Railway pada 14 Maret 2020.

Dalam foto tersebut ada sebanyak 20 torii yang dipasang saat jalur Nagato atau Hagi mulai beroperasi antar kedua kota tersebut di jalur utama Sanin. Torii tersebut ditempatkan terpisah 1,5 meter dan bertambah tinggi dengan penambahan tiga sentimeter untuk menciptakan efek 3-D dalam waktu singkat.

Meski torii berada di atas rel, Anda tak perlu lagi bertanya-tanya kenapa ada di atas rel. Sebab jalur kereta yang sebenarnya terletak di samping peron O yang saat ini tidak beroperasi. Uniknya lagi, bukannya ‘menghapus’ jalur itu, perusahaan memutuskan untuk memanfaatkannya dengan baik dan membuat sebuah stasiun menjadi menarik bagi pengunjung.

Torii ini pun menginspirasi dari Kuil Motonosumi yang menjadi salah satu destinasi terkenal di sana. Meskipun kereta berukuran biasa tidak dapat melewati torii di Stasiun Nagatoshi, ukurannya pas untuk dilewati troli pemeriksaan rel kecil, yang akan menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi anak-anak jika mereka ingin membuat aktivitas menggambar pengunjung di acara-acara.

Baca juga: Jingle di Stasiun Kereta Jepang, Bangkitkan Semangat Penumpang

Untuk saat ini, gerbang torii di stasiun memiliki aura misteri ekstra di sekitarnya, mengingat stasiun tersebut sebagian besar bebas dari komuter karena pembatasan perjalanan yang disebabkan oleh pandemi virus corona. Torii sendiri adalah gerbang kuil Shinto yang berfungsi sebagai pembatas antara area tempat manusia tinggal dan area suci tempat para Dewa dan Dewi tinggal.

Torii ini adalah dua batang palang yang disangga dengan dua pilar vertikal dan dicat dengan wana oranye yang menyala. Pelancong bisa menemukan torii di gerbang kuil Shinto dan mausoleum kaisar Jepang dan di beberapa kuil Buddha di Jepang.

Bahkan Kuil Fushimi Inari Taisha yang berlokasi di Kyoto ini terkenal akan Toriinya yang indah dan luar biasa. Termasuk sebagai salah satu objek wisata terpopuler di Jepang, para pelancong mengunjungi kuil ini untuk melihat 1000 buah toriinya yang indah.

“Laview” Express Train – Kereta Komuter Wisata dengan Jendela Berukuran Besar

Melihat pemandangan sekitar jalur yang dilalui kereta dengan jelas bisa dinikmati penumpang yang bepergian dari Stasiun Ikebukuro di Tokyo menuju ke Chicibu di prefekur Saitama. Kereta dengan jendela yang besar ini dirancang oleh arsitek bernama Kazuyo Sejima.

Baca juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dezeen.com (28/8/2019), Sejima merancang kereta komuter Laview ini memilih desain jendela depan kereta model lengkung dan jendela raksasa dekat kursi-kursi penumpang.

(dezeen.com)

“Ini pertama kalinya saya mendesain kereta dan perbedaan yang paling jelas dengan desain bangunan adalah kereta bisa pindah ke tempat yang berbeda. Kereta ini bergerak melalui kota ke pegunungan Chichibu dan saya pikir itu akan bagus untuk kereta untuk dapat merespon dan berbaur dengan lingkungan dengan cara yang lembut,” kata Sejima.

Jendela dekat kursi penumpang ini memiliki ukuran 135 cm x 158 cm dan memungkinkan penumpang menikmati pemandangan panorama yang lebih luas dari biasanya. Kereta ini memiliki delapan gerbong dengan kursi sebanyak 422.

Tak hanya jendela yang dibuat luas, Sejima juga mendesai eksterior dan interior gerbong dengan kursi seperti sofa yang berlapis bahan kuning cerah. Setiap kursi penumpang memiliki sandaran kepala yang bisa disesuaikan.

(dezeen.com)

Bahkan di sandaran tangan juga ada meja lipat yang bisa digunakan penumpang. Dinding gerbong dilapisi warna putih yang kontras dengan kursi berwarna penumpang. Dengan desain ini, Sejima menginginkan penumpang santai bahkan seolah-olah berada di rumah dari pada naik kendaraan umum.

“Saya ingin membuat kereta yang terasa seperti ruang tamu di mana penumpang dapat dengan bebas bersantai dan merasa termotivasi untuk naik kereta,” tambahnya.

Selain itu pencahayaan di gerbong pun dibuat lebih soft dan pintu masuk dilapisi warna kuning serta lantai yang dilapisi marmer buatan. Kereta ini dirancang untuk merayakan ulang tahun Seibu yang ke-100, dimana operator mengoperasikan nama kereta adalah akronim yakni L adalah singkatan dari ruangan yang mengingatkan pada kehidupan mewah.

Baca juga: Di 2027, Jepang Hadirkan Kereta Cepat Maglev Tokyo-Nagoya

Huruf A adalah cepat seperti panah sedangkan view untuk pandangan melalui jendela besar. Seibu berencana untuk mengganti semua tujuh kereta yang menempuh jalur 60 mil antara dua stasiun dengan kereta baru pada akhir 2019.

Apakah Pilot Pernah Bosan Melihat Keluar Jendela Selama Penerbangan Jarak Jauh?

Pilot umumnya mulai sibuk sesaat sebelum penerbangan sampai pesawat lepas landas dan climbing serta menjelang mendarat dan mendarat sampai berhenti di apron. Lebih dari itu, seperti saat cruising di udara, pilot praktis tak melakukan banyak kegiatan karena sudah digantikan dengan autopilot. Di antara aktivitas selama di udara dalam penerbangan jarak jauh, melihat keluar jendela adalah salah satunya. Bila terlalu sering melihat kelaur jendela, apakah pilot pernah bosan?

Baca juga: Dalam Penerbangan Jarak Jauh, Inilah yang Dilakukan Pilot untuk Mengatasi Jenuh

Setiap maskapai dan bandara cukup beragam dalam mendefinisikan penerbangan ultra jarak jauh, jarak jauh, menengah, dan jarak pendek. Maskapai-maskapai seperti Cathay Pacific, Singapore Airlines tentu sudah jelas, hanya mengoperasikan penerbangan jarak jauh.

Bandara Hong Kong menganggap sebagian besar tujuan Asia tergolong sebagai penerbangan jarak pendek. Sedangkan tujuan lainnya seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Australia merupakan penerbangan jarak jauh.

American Airlines menggunakan jarak penerbangan sebagai ukuran apakah itu penerbangan jarak jauh atau jarak pendek. Maskapai lain ada yang menilainya dari segi durasi. Penerbangan jarak pendek berkisar satu sampai tiga jam. Penerbangan tiga sampai enam jam merupakan jarak menengah. Sedangkan penerbangan jarak jauh berkisar enam sampai 12 jam lebih.

Selama rentang waktu itu, pilot dan kopilot biasanya sesekali melihat keluar jendela. Namun, mengingat waktu terbang yang cukup lama dan panjang, apakah pilot pernah bosan melihat keluar jendela dalam penerbangan jarak jauh?

Menurut pilot salah satu maskapai, Raymond St Steven, seperti dikutip dari Quora, semua tergantung kondisi di luar jendela. Saat penerbangan siang hari dan cuaca sedang cerah, pemandangan di ketinggian hanya berupa lautan awan nan silau-menyilaukan.

Kadang kala, di siang hari dan cuaca sedang cerah, pilot bisa melihat pemandangan pegunungan, lautan, dan lain sebagainya di bawah.

Saat sore menjelang malam saat pergantian siang ke malam dan cuaca sedang bersahabat, pilot bisa melihat langit berubah dari biru menjadi kuning kemerah-merahan di ujung ufuk sebelum gelap seluruhnya.

Di tengah gelap malam, saat cuaca sedang bagus, pilot bisa melihat gugusan bintang-bintang di langit. Di beberapa wilayah bahkan lebih terang dengan adanya aurora. Di pagi harinya saat pergantingan malam ke pagi, pilot bisa melihat setitik cahaya di ujung ufuk yang lama-kelamaan membesar diiringi terang seantero langit.

Baca juga: Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

Dari berbagai kondisi di atas, Raymond, yang mengaku telah melihat ribuan jam, mengaku sesekali merasa bosan. Karenanya, itu tergantung kondisi di luar jendela pesawat. Kalau pemandangan monoton seperti lautan awan, mungkin pilot akan bosan.

Akan tetapi, bila pemandangan yang dilihat adalah aurora dan sejenisnya, ia mengakui itu lebih dari menakjubkan dan tidak bosan-bosan melihatnya.

Di Inggris, Bagasi Penumpang Bisa Dijemput H-1: Datang ke Bandara Tinggal Boarding

Antre di konter check in masih menjadi momok menakutkan bagi penumpang. Terlebih saat check in konter membuka all flight. Keterbatasan staf dan jumlah check in konter serta banyaknya jumlah penumpang menjadi kombinasi pas penyebab antrean tak terelakkan. Namun, penumpang di Inggris tak perlu khawatir, kini ada layanan jemput bagasi H-1 oleh maskapai.

Baca juga: Penumpang Sampai Nginap dan Tidur di Conveyor Belt, Kenapa Bandara di Inggris Bisa Chaos?

Layanan jemput bagasi penumpang di Inggris dilakukan oleh Airportr bekerja sama dengan maskapai, salah satunya British Airways. Penumpang yang berangkat dari Bandara London Heathrow dapat meminta maskapai atau Airportr untuk menjemput bagasi mereka yang ingin didaftarkan ke maskapai (checked baggage).

Area penjemputan bagasi penumpang sendiri cukup luas, meliputi rumah, hotel, sampai kantor tempat penumpang bekerja.

Keunggulan dari layanan ini, setelah bagasi dijemput oleh petugas, penumpang akan mendapatkan tanda terima bagasi secara digital di aplikasi Airportr dan selanjutnya mengecek keberadaan bagasi secara real time, mirip seperti cara kerja baggage tracker atau alat pelacak bagasi semisal Apple AirTag.

Bagi penumpang yang menggunakan kereta api dan tidak sempat meminta petugas untuk menjemput bagasi di rumah, Anda bisa check in termasuk bagasinya di stasiun.

Dengan begitu, baik layanan jemput bagasi di rumah maupun check in di stasiun, membuat penumpang bisa menghindari antrean di check in konter dan langsung menuju gate pemeriksaan sebelum boarding. Dengan catatan, penumpang harus melakukan check in online terlebih dahulu.

Menurut British Airways, seperti dikutip dari Simple Flying, biaya layanan jemput bagasi penumpang ini mulai US$22.

Selain di Bandara London Heathrow, layanan jemput bagasi penumpang juga bisa dinikmati penumpang untuk keberangkatan dari Bandara Manchester. Ini dilayani oleh BagsDirect sebagai penyedia jasa. Mekanisnya sama persis dengan Airportr.

Bedanya, layanan BagsDirect dapat dinikmati oleh seluruh penumpang maskapai kemanapun tujuannya meskipun dengan harga lebih mahal sekitar US$46. Area penjemputannya juga lebih luas, mencakup 99,9 persen wilayah di Manchester.

Baca juga: Stress Karena Antrean di Bandara? Ternyata ini Penyebab dan Solusinya!

Meski saat ini layanan tersebut kurang diminati, namun data hasil survei amat mendukung bisnis jasa seperti itu.

Menurut survei IATA baru-baru ini, 67 persen penumpang tertarik dengan layanan jemput bagasi terdaftar di rumah H-1 atau saat hari H. Kendati harus mengeluarkan uang tambahan untuk layanan tersebut, penumpang menganggap itu sebanding dengan kepraktisan yang ditawarkan.

Apakah Penumpang Boleh Masuk dan Berfoto di Kokpit Setelah Pesawat Mendarat?

Beberapa tokoh, pejabat, politisi, public figure, selebritis, dan artis pernah berfoto di kokpit pesawat bersama pilot dan kopilot bahkan bersama purser atau pramugari senior. Tak sedikit dari penumpang, yang kebetulan juga pecinta penerbangan, merasa iri karena tak bisa melakukan itu karena bukan siapa-siapa. Tetapi, sebetulnya, bolehkan penumpang masuk dan berfoto di kokpit bersama pilot dan pramugari?

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Terbuka Sebelum Pesawat Lepas Landas? Ini Jawabannya

Kokpit sejatinya steril karena terlalu berbahaya bila ada orang lain selain petugas yang masuk. Umumnya terkait terorisme atau sabotase pesawat, dimana pilot disandera dan dipaksa melakukan aktivitas penerbangan di bawah pengaruh teroris. Itu kenapa pintu kokpit didesain begitu kokoh dan bisa dibilang mustahil ditembus dari luar.

Pintu kokpit modern setidaknya memiliki lima komponen utama, mulai dari pintu anti peluru dengan tambahan electronic triple bolt, lubang intip (peephole), kamera di kabin untuk memantau aktivitas penumpang dan kru, panel kontrol pintu kokpit dengan tiga mode (normal, lock, dan unlock), serta panel keyboard di area kabin dan telepon untuk komunikasi kru dengan pilot.

Di luar itu, pilot dan kopilot juga dilengkapi dengan sensor tekanan yang bekerja saat kabin kehilangan tekanan.

Sebagai bagian dari standar keamanan terbang, setiap pramugari yang hendak masuk ke kokpit, diharuskan membunyikan bel terlebih dahulu. Kru kokpit kemudian dapat mengecek secara visual dengan fitur lubang intip. Bila benar pramugari, tentu akan dibukakan, bila tidak, jangan harap pilot akan membuka dengan tulus.

Lagi pula, bila kedapatan bukan pramugari yang mengetuk atau menggedor pintu, bisa dipastikan, pilot akan mengaktifkan pengamanan tambahan pintu kokpit dengan mode ‘lock’ dalam keadaan on. Otomatis, tiga baut tambahan akan memperkuat ketahanan pintu kokpit terhadap segala macam bentuk pembobolan.

Singkatnya, pintu kokpit mustahil dijebol dengan tangan kosong. Sebegitu ketat dan sterilnya kokpit pesawat, dengan catatan saat dalam penerbangan.

Di luar penerbangan, saat masih di apron sebelum penerbangan ataupun pasca mendarat dan parkir di apron, pintu kokpit terbuka lebar. Bahaya memang tetap mengancam, tetapi potensinya begitu kecil dan se-instan dan berbahaya saat pesawat tengah dalam penerbangan. Itu kenapa pintu kokpit terbuka dan menarik perhatian penumpang untuk masuk dan berfoto. Bolehkah?

Menurut pensiunan pilot, Steve Bazer, penumpang diperbolehkan masuk ke kokpit dan berfoto dengan pilot, baik dalam penerbangan internasional maupun domestik. Pilot juga disebutnya sangat ramah dan antusias saat ada penumpang yang meminta masuk ke kokpit dan berfoto dengannya.

Meski tak ada instruksi khusus dari maskapai terkait bagaimana menyikapi permintaan penumpang untuk berfoto dengannya (pilot) di kokpit, namun Steve berpendapat bahwa itu bagian dari pelayanan dan keramahan ke penumpang.

Itu pada akhirnya dianggap akan menjadi kesan dan pengalaman terbang positif bagi penumpang yang bersangkutan. Diharapkan, dari situ itu akan bercerita ke keluarga, rekan, dan lainnya.

Pada akhirnya, penumpang atau customer baru akan berdatangan dan bila itu dipertahankan tentu akan semakin banyak penumpang yang terbang bersama maskapai tempatnya bekerja dan itu baik dari sisi bisnis.

Baca juga: Ijinkan Penumpang Masuk ke Dalam Kokpit, Pilot Air Guilin Ditangguhkan Seumur Hidup

Beberapa pilot lainnya juga senada dengan Steve. Dalam kondisi lelah sekalipun, andai ada penumpang yang meminta masuk ke kokpit dan berfoto bersama pilot, itu akan dilayani.

Meski begitu, menurut pilot aktif di Copa Airlines, Irving Vargas Mendoza, semua tergantung kapten pilot dan kabar buruknya di luar sana tak semua pilot ramah terhadap penumpang.

Mungkinkah Awan dapat Disentuh? Ini Penjelasannya

Awan tentu tak bisa dilepaskan dalam dunia penerbangan, dan setiap kali terbang, dari jendela pesawat, Anda pun akan melihat kumpulan awan dalam penerbangan di siang hari. Meski adanya awan sudah menjadi sesuatu yang lazim, namun, ada yang bertanya dan tentunya membayangkan, apakah awan dapat disentuh oleh tangan?

Baca juga: Misteri Contrail di Langit Inggris Terpecahkan, Ternyata Ini Biang Keroknya

Jika Anda pernah berada di area outdoor pada hari yang berkabut, maka Anda pasti tahu bagaimana rasanya. Kurang lebih seperti tidak ada. Kabut tidak lebih dari awan pada tingkat yang cukup rendah sehingga kita seolah berada di dalam awan. Anda mungkin merasakan sedikit kelembapan jika Anda melambaikan tangan di dalamnya. Tapi Anda tidak akan pernah bisa “merasakan” dengan cara tradisional karena tidak ada lagi tekanan pada indera manusia di luar apa yang dilakukan oleh udara kering dan bersih.

Inilah sebabnya mengapa pesawat dapat terbang menembus awan dan tidak mengalami kerusakan apa pun. Melesat hingga menembus kecepatan suara tidak akan menghancurkan pesawat. Satu-satunya bahaya adalah, pilot kehilangan jarak pandang, mengalami disorientas, sehingga dapat membawa celaka.

Satu-satunya hal yang Anda rasakan di awan adalah kelembaban, jumlah air tergantung pada seberapa padat awan itu.

Analogi yang baik adalah ketika Anda memasukkan tangan ke dalam uap yang keluar dari ketel berisi air mendidih. Yang Anda rasakan hanyalah kelembapan, tidak ada ‘sentuhan’ untuk itu. Sebenarnya bukan steam tapi tetesan uap air yang bisa kamu lihat yang biasa disebut steam.

Meski awan melayang di langit dan tidak bisa disentuh, namun awan bisa menjadi berat. Para peneliti telah menghitung bahwa rata-rata awan kumulus pada hari yang cerah, beratnya sekitar 500 ton. Bahkan awan kecil dan halus itu, yang muncul dan menghilang selama beberapa menit di langit yang cerah, masing-masing dapat berbobot beberapa ton.

Baca juga: Bagaimana Cara Penumpang Lawan Rasa Takut Naik Pesawat? Simak Tipsnya

Dari quora.com, Kim Emerson, seorang penerjun payung yang telah banyak melalukan banyak aksi, termasuk terjun bebas yang melintasi awan. Ia menyebut bahwa tidak merasakan apa-apa. “Paling-paling terasa sedikit bisa basah. Tidak basah kuyup, hanya sedikit basah. Tidak cukup untuk benar-benar membuat saya basah, tetapi kadang-kadang bisa mengaburkan kacamata. Dan ada bau di sana. Seperti uap,” ujar Emerson.