Berkah Zhuhai AirShow Cina, COMAC Terima Pesanan 330 Pesawat Made in China C919 & ARJ21

Tujuh lessor atau leasing pesawat menandatangani pembelian 300 pesawat C919 baru dan 30 pesawat ARJ21 dengan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), di sela-sela penyelenggaraan Zhuhai Airshow 2022. Sayangnya, tak disebutkan dengan jelas maskapai mana saja yang akan menyewa pesawat tersebut.

Baca juga: Nigeria Buka Opsi Pembelian COMAC C919 untuk Nigeria Air 

Tujuh lessor pesawat tersebut seluruhnya berasal dari Cina, meliputi China Development Bank Leasing, ICBC Leasing, CMB Financial Leasing, BOCOM Leasing, CCB Financial Leasing, SPDB Financial Leasing dan Jiangsu Financial Leasing. Lima lessor pertama dilaporkan Global Times membeli 50 pesawat C919 pesaing Boeing 737 dan Airbus A320.

Sebelumnya, COMAC sudah mendapat pesanan pesawat C919 pesaing Airbus A320 dan Boeing 737 di pasar narrowbody sebanyak 815 pesawat dari sekitar 28 customer, serta pesanan ARJ21 pesaing ATR 42 dan 72 sebanyak puluhan unit.

ARJ21 diketahui sudah lebih dahulu lolos sertifikasi Administrasi Penerbangan Sipil Cina (CAAC) dan beroperasi secara komersial. Meski sempat terkatung-katung, COMAC C919 akhirnya dinyatakan lolos sertifikasi CAAC pada September lalu dan ditargetkan terbang perdana mengangkut penumpang pada akhir tahun 2022.

Baca juga: Pesawat Cina Pesaing Boeing-Airbus Mulai Angkut Penumpang Akhir 2022!

CAAC mengunkapkan bahwa keberhasilan C919 lolos sertifikasi adalah tonggak sejarah industri dirgantara Cina, khususnya dalam melakukan sertifikasi kelaikan udara sesuai standar internasional. Di balik itu, CAAC yakin kelak C919 akan merusak duopoli Boeing dan Airbus di pasar pesawat narrowbody.

Meski kualitasnya masih diragukan dan prestisiusitasnya masih jauh di bawah Boeing-Airbus, COMAC C919 mempunyai beberapa bekal berharga untuk bisa menantang Boeing-Airbus.

Dari segi harga, sebagaimana barang-barang Made In China, C919 jauh lebih murah dibanding Airbus A320 maupun Boeing 737.

Dalam private share offering plan 2022 China Eastern Airlines, terungkap harga satu unit pesawat COMAC C919 hanya sebesar 99 juta dolar AS atau sekitar 653 juta RMB, lebih murah dibanding pesawat Airbus A320 diangka sekitar 101 juta dolar AS lebih (harga per tahun 2018) ataupun Boeing 737-800 yang mencapai 106 juta dolar AS.\

Baca juga: Cina Pusing COMAC Masuk Daftar Hitam, Proyek Pesawat Komersial “Made in China 2025” Mangkrak

Selain itu, C919 juga memiliki kemudahan dalam penyewaan mengingat lessor asal Cina menjamur dan sangat siap untuk mendukung COMAC agar C919 bisa mudah diakses maskapai. Kemampuan ini tak diragukan lagi.

Cina adalah salah satu sumber utama hutang bank komersial yang digunakan untuk penyewaan pesawat terbesar di dunia. Pada 2019, Cina menyumbang 24 persen dari hutang bank di pasar penyewaan pesawat.

COMAC juga memiliki kekuatan dalam hal rantai pasokan karena suku cadang pesawat yang dibuat mayoritas melibatkan rantai pasokan dari pabrik-pabrik di Cina. Kendati teknologi masih di tangan Barat, dalam hal ini perusahaan afiliasi Boeing-Airbus, itu tak jadi masalah selama rantai pasokan mayoritas berada di tangannya.

Baca juga: Head to Head COMAC C919 ‘Made in China’ Vs Airbus A320neo, Siapa Unggul?

Pekerjaan rumah terbesar dan tak mudah bagi COMAC dan Cina adalah mem-framing agar maskapai internasional besar mau menggunakan pesawat buatannya. Lebih dari itu, COMAC dan Cina juga harus melakukan kampanye besar-besaran untuk meyakinkan penumpang, khususnya penumpang internasional.

Terlepas dari itu, menurut laporan yang dirilis COMAC pada Selasa lalu, pada tahun 2041 pesawat sipil di Cina akan bertambah besar mencapai 10 ribu unit dan menjadikannya sebagai pasar penerbangan tunggal terbesar di dunia. Dengan menguasai pasar domestik saja, COMAC sudah merusak duopoli Boeing-Airbus karena salah satu pendapatan terbesar datang dari pasar penerbangan di Cina.

Ada Perpustakaan Unik di Bandara Schiphol, Jadi Tempat Favorit Penumpang Transit

Kebutuhan penumpang saat di bandara sangat beragam. Selain kebutuhan seperti ATM, gerai makanan dan minuman, dan lainnya, penumpang juga membutuhkan tempat untuk bermain sambil belajar. Kebutuhan ini pun ditafsirkan dengan baik oleh operator Bandara Schiphol dengan menghadirkan perpustakaan di bandara dengan tema unik. Seperti apa?

Baca juga: Saking Nyamannya, 9 Bandara Ini Buat Penunjungnya Lupa Pulang

Dilansir Simple Flying, perpustakaan Bandara Schiphol berada di antara Terminal 2 dan 3 bandara setelah melewati gate pemeriksaan keamanan. Di lokasi tempat perpustakaan berada termasuk dalam area yang disebut non-Schengen flights dimana penumpang biasanya transit atau layover cukup lama. Karenanya, cocok untuk mengisi waktu luang para traveler.

Ide pembuatan perpustakaan di Bandara Schiphol muncul pada tahun 2006 dari salah satu kelompok pendukung literasi perpustakaan nasional Belanda. Anggaran awal ketika itu mencapai €250.000 atau sekitar Rp4 miliar hibah dari Rijksmuseum Amsterdam dan mulai dibangun pada tahun 2008.

Perpustakaan tersebut dibuka pertama kali pada tahun 2010. Mengingat kebutuhannya, perpustakaan ini dilengkapi dengan banyak sofa berukuran besar dan kursi untuk memudahkan penumpang membaca keleksi sekitar 1.200 buku dalam 12 bahasa. Menariknya, semua buku yang ditampilkan hanya dari penulis-penulis Belanda berkenaan dengan sejarah dan budaya.

Mesti terdengar seperti doktrinasi ke penumpang internasional, tetapi itu tidak sepenuhnya benar karena pengelola, dalam hal ini ProBiblio nirlaba bekerjasama dengan perpustakaan nasional Belanda, memiliki tujuan lain.

Disebutkan, banyak penumpang yang transit tidak pernah berkunjung ke Belanda sekalipun mereka sudah tinggal selangkah lagi menginjakkan kakinya lebih jauh di Negeri Kincir Angin itu. Karenanya, itu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan seluk-beluk Belanda dari mulai sejarah, budaya, sampai pariwisata seperti informasi pameran dan festival sepanjang tahun, bioskop, musik, dan lainnya.

Bagi pengunjung yang tidak terlalu suka membaca, mereka bisa menggunakan beberapa iPad untuk menelusuri sejarah dan budaya Belanda dari foto dan video.

Tak jauh dari perpustakaan, ada fasilitas meditation center & playground di Terminal 2 Bandara Schiphol yang bisa digunakan penumpang bila bosan di perpustakaan. Pusat meditasi ini terbuka untuk semua agama. Pengunjung dapat berdoa, beribadah, atau sekedar bersantai dalam keheningan.

Baca juga: Sambut Piala Dunia 2022, Qatar Perluas Kapasitas Bandara Internasional Hamad

Bagi pengunjung yang memiliki anak balita, playground di sini juga menarik perhatian karena wahana yang dihadirkan, salah satunya wahana ketangkasan memanjat berbentuk pesawat.

Pengunjung juga bisa mengisi sela waktu kosong selama transit dengan mengunjungi Panorama Terrace di lantai 2 Terminal 1 Bandara Schiphol. Ini bisa menjadi aktivitas menarik bagi Anda pecinta penerbangan karena dapat melihat pesawat lepas landas dan mendarat serta berbagai aktivitas ground handling dari jarak sangat dekat.

5 Tips Agar Penumpang Pesawat Tidak Bosan dalam Penerbangan Jarak Jauh

Dalam penerbangan jarak jauh di atas enam jam, penumpang kerap bosan sekalipun maskapai berupaya menghibur lewat in-flight entertainment (IFE) di pesawat. Itu memang bekerja tetapi tidak sepenuhnya berhasil. Lantas, bagaimana cara penumpang agar bisa melewati penerbangan jarak jauh dengan nyaman? Dilansir Simple Flying, berikut lima tipsnya.

Baca juga: Atasi Jenuh, Apa yang Dilakukan Pramugari di Pesawat Saat Penerbangan Jarak Jauh? Ini 13 Jawabannya

1. Pakai pakaian yang nyaman

Memakai pakaian yang nyaman bisa berarti sangat penting saat dalam perjalanan jarak jauh. Sebaliknya, memakai pakaian yang tidak nyaman dapat membuat rasa tidak nyaman yang pada akhirnya membuat penumpang ingin segera turun dari pesawat. Perasaan ini pasti akan membuat penerbangan menjadi tidak nyaman.

Memakai pakaian yang nyaman bisa berarti banyak hal, mengingat tingkat kenyamanan masing-masing penumpang dalam berpakaian berbeda-beda. Umumnya, pakaian ketat dengan bahan jeans cenderung membuat tidak nyaman dan karenanya harus dihindari, termasuk pakaian ketat dari bahan lain.

Sebagai gantinya, gunankanlah pakaian yang longgar dan bahan yang mampu menyerap dingin agar tak kedinginan di pesawat.

2. Bawa bantal dan aksesoris lainnya

Fasilitas di pesawat tentu berbeda-beda, tergantung kelas kursi yang dibeli penumpang. Bagi penumpang first class atau kelas bisnis, mungkin selimut dan lainnya sudah tersedia. Tetapi tidak dengan penumpang di kelas ekonomi.

Karenanya, penumpang di kelas ini disarankan membawa perlengkapan atau aksesoris pribadi, seperti bantal, syal, dan lainnya untuk menambah kenyamanan selama dalam penerbangan. Tidak menutup kemungkinan untuk membawa buku, novel, dan bahkan headhphone untuk mengisi waktu agar tidak bosan.

3. Bawa camilan

Tidak semua penumpang suka makanan di pesawat. Entah itu karena rasanya, varian menunya, harganya, kuantitasnya, dan lain sebagainya.

Mengingat selera makan saat di ketinggian atau dalam penerbangan tidak terlalu bagus, pilhan untuk membawa camilan untuk dimakan saat dalam perjalanan adalah tepat. Camilan bisa berupa kerupuk, keripik, kacang-kacangan, dan lainnya.

Baca juga: Bagaimana Cara Terbaik Tidur di Pesawat? Ini 12 Tipsnya

4. Streching (peregangan)

Berada di kabin pesawat bertekanan membuat penumpang kerap merasa sakit kepala, kelelahan, dan pusing. Duduk terlalu lama juga membuat aliran darah kurang lancar. Karenanya, penumpang disarankan agar sesekali berdiri dan melakukan peregangan. Bisa juga sambil duduk selama kaki bisa diluruskan atau bolak-balik ke galley, toilet, atau dari lorong dengan ke belakang dan sebaliknya.

5. Ngobrol dengan penumpang sebelah

Sebetulnya penumpang pesawat yang duduk di sebelah saling menunggu untuk memulai percakapan satu sama lain. Hanya saja, masing-masing bingung untuk memulai perbicaraan.

Survei IATA: 75 Persen Penumpang Ingin Biometrik Bukan Paspor

Setiap tahun, International Air Transport Association (IATA) mensurvei sekitar 10 ribu penumpang untuk memberikan input ke maskapai dan bandara untuk pengalaman yang lebih baik. Tahun ini hasil survei mengungkapkan bahwa penumpang menginginkan teknologi biometrik di bandara agar lebih cepat tanpa proses pemeriksaan panjang dan melelahkan.

Baca juga: Berkat Teknologi Biometrik, Bandara Hong Kong Sabet Gelar Inovasi Terbaik di Ajang ACI Innovation Awards

Tahun ini, survei Global Passenger Survey (GPS melibatkan 10.206 responden dari 222 negara. Survei mencakup seluruh rangkaian penerbangan, mulai dari memesan tiket sampai keluar dari bandara tujuan.

Hasil survei menunjukkan, 80 persen dari responden mengaku sangat puas atau agak puas dengan pengalaman terbangnya. Tingkat kepuasan tertinggi penumpang 84 persennya datang dari kemudahan memesan tiket pesawat. Adapun 64 persen responden mengaku puas terhadap proses imigrasi bandara. Ini menjadi persentase terendah di antara rangkaian proses penerbangan lainnya.

Bila dirinci lebih jauh, ada tiga tahapan yang membuat penumpang tidak puas. Tiga itu saat transfer atau transit dengan tingkat kepuasan 68 persen, border control 69 persen, dan imgirasi serta pengambilan bagasi di baggage carousel  69 persen.

Solusi dari itu, penumpang menginginkan penggunaan teknologi biometrik yang lebih massif di bandara agar proses pemeriksaan lebih cepat dan penumpang bisa segera melanjutkan aktivitas mereka. IATA meyakinkan bahwa teknologi yang ada saat ini sangat mendukung kemudahan tersebut.

“Mereka ingin tiba di bandara siap terbang, melewati bandara di kedua ujung perjalanan mereka dengan lebih cepat menggunakan biometrik dan mengetahui di mana bagasi mereka setiap saat. Teknologi ada untuk mendukung pengalaman ideal ini,” jelas Senior Vice President for Operations IATA, Nick Careen, seperti dikutip dari Simple Flying.

Sembiland dari 10 penumpang atau 88 persen dari total responden mengaku puas dengan teknologi biometrik yang sudah ada di beberapa bandara di dunia. 75 persen responden juga mengungkapkan lebih suka teknologi biometrik daripada paspor dan turunannya yang rumit dan lambat.

Meski begitu, penumpang tetap menaruh kekhawatiran terhadap teknologi biometrik atas penyimpanan data tersebut dari potensi penyalahgunaan.

Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

Hasil survei GPS IATA juga mengungkapkan masih tingginya kasus bagasi tertukar mencapai 40 persen dari responden. 20 persen lainnya juga mengaku tidak puas dengan baggage handling di bandara. Karenanya, mayoritas dari responden sudah atau akan menggunakan aplikasi atau alat pelacak bagasi (baggage tracker) semisal Apple AirTag untuk memantau pergerakan bagasi mereka secara real time.

Dalam survei tersebut juga terungkap ada sekitar 42 persen penumpang yang menghabiskan satu sampai dua jam di bandara sebelum masuk ke kabin. 25 persen lainnya menghabiskan waktu antara dua hingga tiga jam. Ini dianggap terlalu banyak waktu yang terbuang.

Repotnya Wanita Tertinggi di Dunia Ketika Naik Pesawat untuk Pertama Kali

Wanita tertinggi di dunia versi Guinness Book of World Records, Rumeysa Gelgi, akhirnya naik pesawat untuk pertama kalinya. Beruntung, penerbangan pertamanya dari Istanbul, Turki, ke San Francisco, Amerika Serikat (AS) menempuh perjalanan 13 jam di udara dan total penerbangan 19 jam bersama Turkish Airlines berjalan lancar dan membuatnya ingin menjajal penerbangan berikutnya sekalipun penuh perjuangan.

Baca juga: Japan Airlines Bingung Saat Orang Terberat di Dunia Naik Pesawat, 16 Kursi Jadi ‘Korban’

Memiliki tinggi badan 215,16 sentimeter atau setara 7 kaki membuat Rumeysa Gelgi membutuhkan penanganan khusus sebagai penumpang, ditambah sindrom Weaver yang dideritanya.

Diketahui, sindrom Weaver yang dideritanya tidak hanya membuat ia memiliki tinggi badan, jemari, tangan, dan punggung terpanjang di dunia, tetapi juga membuat pergerakan sendinya terbatas, usia tulang tumbuh sangat pesat, dan pada akhirnya tidak memiliki kestabilan saat berjalan serta kesulitan bernapas saat menelan.

Sedang di darat saja memiliki berbagai kesulitan dengan postur dan sindrom yang dideritanya apalagi di pesawat yang memang memiliki lingkungan berbeda dari daratan. Itu sebab, penerbangan pertama wanita tertinggi di dunia itu membutuhkan persiapan dan penanganan khusus oleh pihak bandara asal dan tujuan serta maskapai.

Dalam laman Instagram resminya, ia mengaku sampai dibantu oleh banyak petugas sejak di bandara Istanbul sampai di Bandara San Francisco, termasuk tim medis khusus dari pihak ketiga yang melayani penumpang di bandara, staf bandara, petugas Turkish Airlines selaku maskapai, sampai petugas bea cukai pun ikut membantunya.

Secara pribadi, ia mengaku juga banyak dibantu oleh petinggi-petinggi Turkish Airlines dalam rangka mensukseskan penerbangan pertamanya itu. Salah satu yang paling krusial adalah mencopot enam kursi di pesawat dan menggantinya dengan tandu khusus untuknya berbaring.

Ya, wanita yang juga seorang pengacara dan web developer itu tidak duduk di kursi melainkan tidur di tandu khusus dengan seat belt yang juga didesain khusus selama penerbangan.

Baca juga: Amelia Earhart, Pilot Wanita Pertama di Dunia yang Hilang Misterius! Berhasil Ditemukan Setelah 80 Tahun

“Saya ingin mengucapkan terima kasih pertama kepada Bapak Ahmet Bolat, Ketua Dewan Direksi @turkishairlines dan kemudian Bapak Ramazan Yaşa, Manajer Hubungan Pelanggan @turkishairlines yang secara pribadi mengatur seluruh proses ini. Ini adalah perjalanan pesawat pertama saya, tetapi tentu saja ini bukan yang terakhir,” tulisnya, seperti dilihat KabarPenumpang.com di akun Instagram @rumeysagelgi.

Rumeysa Gelgi, yang juga warna negara Turki dan tinggal di California, AS, itu mengaku akan terbang ke berbagai belahan dunia bersama Turkish Airlines yang terbukti menanganinya dengan baik selama di bandara, di penerbangan, sampai di bandara tujuan.

Di Belanda, Robot Falcon Dianggap Ampuh Mencegah Terjadinya Bird Strike

Bird strike tak pelak menjadi masalah yang serius dalam dunia penerbangan, setiap tahun industri penerbangan merugi hingga miliaran dollar akibat tabrakan antara pesawat dan burung. Sementara, ribuan burung mati setiap setiap tahun akibat beradu dengan bodi pesawat. Beragam solusi sejak lama telah dirancang untuk mengatasi bird strike, salah satunya dengan menggunakan robot elang – Robot Falcon.

Baca juga: Ini Bagian Pesawat yang Paling Sering Terkena Bird Strike

Robot Falcon disebut bisa menjadi cara efektif untuk menjauhkan mereka (burung) dari jalur penerbangan. Di seluruh dunia, akibat bird strike diperkirakan menelan kerugian hampir US$1,4 miliar per tahun.

Umumnya otoritas bandara mengandalkan berbagai alat pencegah yang dirancang untuk menakut-nakuti kawanan burung, seperti penggunaan boneka atau pengeras suara yang dapat memecah konsentrasi burung. “Namun, pendekatan tersebut cenderung menjadi kurang efektif dari waktu ke waktu,” kata Charlotte Hemelrijk—seorang profesor di fakultas sains dan teknik di University of Groninge.

Alasannya, karena burung menjadi tidak peka oleh paparan yang berulang. Semisal burung elang dapat saja disinari oleh laser yang menyilaukan, yang juga kadang-kadang digunakan untuk membubarkan kawanan. Tetapi ini kontroversial karena dapat membahayakan hewan itu sendiri.

Dalam upaya menemukan solusi yang lebih praktis dan tahan lama, Hemelrijk dan rekan merancang Robot Falcon yang dapat digunakan untuk mengusir kawanan burung dari bandara. Perangkat ini memiliki ukuran dan bentuk yang sama dengan burung elang asli, dan bodi fiberglass dan serat karbonnya telah dicat untuk meniru tanda padanan aslinya.

Alih-alih mengepak seperti burung, Robot Falcon mengandalkan dua baling-baling bertenaga baterai kecil di sayapnya, yang memungkinkannya melakukan perjalanan sekitar 48 km per jam dengan endurance terbang 15 menit sekali terbang. Seorang operator mengendalikan Robot Falcon melalui kamera yang bertengger di atas kepala robot.

Dikutip dari spectrum.ieee.org (6/11/2022), untuk melihat seberapa efektif Robot Falcon dalam menakut-nakuti burung, para peneliti mengujinya dengan membandingkan drone quadcopter konvensional selama tiga bulan pengujian lapangan di dekat kota Workum, Belanda. Mereka juga membandingkan hasil mereka dengan data 15 tahun yang dikumpulkan oleh Angkatan Udara Kerajaan Belanda yang menilai efektivitas metode pencegahan konvensional seperti kembang api dan suara keras.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam Journal of Royal Society Interface, tim menunjukkan bahwa Robot Falcon dapat ‘membersihkan’ ladang burung lebih cepat dan lebih efektif daripada drone.

Tidak ada bukti burung terbiasa dengan Robot Falcon selama tiga bulan pengujian, kata Hemelrijk, dan para peneliti juga menemukan bahwa burung menunjukkan pola perilaku yang terkait dengan melarikan diri dari pemangsa lebih sering dengan robot daripada dengan drone. “Cara bereaksi terhadap Robot Falcon sangat mirip dengan elang asli,” kata Hemelrijk. “Burung-burung itu sepertinya tidak membedakannya dari elang asli.”

Baca juga: Dihantam Bird Strike, Baling-baling, Fuselage, dan Jendela Pesawat Airlink Hancur

Hemelrijk mengatakan mengotomatisasi Robot Falcon mungkin tidak layak untuk saat ini, baik karena peraturan ketat seputar penggunaan drone otonom di dekat bandara serta kompleksitas teknis.

Sederet Kode Rahasia ‘Sensitif’ di Kapal Pesiar Diungkap Pekerja, Penumpang Harus Tau

Setiap pekerjaan pasti memiliki aturan main tersendiri. Di sektor transportasi, selama ini banyak diungkap pramugari memiliki kode rahasia di pesawat. Ternyata, di kapal pesiar juga demikian bahkan tak kalah banyak kode rahasia antar petugas untuk menghindari bocornya informasi ke penumpang. Kode rahasia itu diungkap oleh pasangan asal Amerika Serikat (AS) yang juga pekerja di kapal pesiar.

Baca juga: Akibat Galangan Bangkrut, Kapal Pesiar Terbesar di Dunia “Global Dream II” Terpaksa di Scrap Sebelum Sempat Berlayar

Umumnya, kode rahasia di kapal pesiar oleh para pekerja menggunakan alfabet fonetik NATO atau alfabet fonetik internasional. Ini untuk menyamakan persepsi satu sama lain dan memudahkan petugas dalam menggunakan kode rahasia tersebut.

Alfabet Fonetik NATO, yang ditemukan pada tahun 1956, untuk menyatukan alfabet fonetik seluruh negara anggota, terus digunakan sampai sekarang dan diadopsi secara luas di internasional.

Dibanding dengan alfabet fonetik yang ditemukan Persatuan Telekomunikasi Internasional pada 1920-an, militer AS pada 1941, dan IATA pada 1951, alfabet fonetik NATO lebih mudah diingat dan 26 kata yang digunakan akrab dengan warga dunia.

26 alfabet fonetik tersebut adalah A-Alfa, B-Bravo, C-Charlie, D-Delta, E-Echo,F-Foxtrot, G-Golf, H-Hotel, I-India, J-Juliett, K-Kilo, L-Lima, M-Mike, N-November, O-Oscar, P-Papa, Q-Quebec, R-Romeo, S-Sierra, T-Tango, U-Uniform, V-Victor, -WWhiskey, X-X-ray, Y-Yankee, dan Z-Zulu.

Sebagaimana di transportasi udara, transportasi laut, dalam hal ini kapal pesir, juga masih menggunakan alfabet fonetik NATO sebagai awalan dari kode rahasia mereka, meski kadang kala juga menggunakan alfabet fonetik sebelum NATO.

@ericafromamerica

Reunited with @Adam Rose for some crazy facts #cooljob #cruiseship #thingsyoudidntknow #facts #learnontiktok #cruise #shiplife

♬ Monkeys Spinning Monkeys – Kevin MacLeod & Kevin The Monkey

Dalam sebuah unggahan di akun TikTok @ericafromamerica, pasangan pekerja di kapal pesiar membeberkan beberapa kode rahasia di kapal pesiar yang mungkin saja penumpang harus mengetahuinya.

Salah satu kode rahasia yang umumnya diucapkan oleh petugas di kapal pesiar adalah “Alpha, Alpha, Alpha” yang berarti ada darurat medis di atas kapal. Darurat medis ini bisa jadi ada penumpang atau kru yang membutuhkan pertolongan medis ada pula yang sudah meninggal.

Mengingat kapal pesiar berjalan cukup lambat dan umumnya melintasi samudera yang jauh dari daratan, kondisi darurat medis ini harus ditangani oleh petugas. Bila tidak memungkinkan, biasanya ada helikopter yang tersedia di kapal pesiar untuk memudahkan proses evakuasi, selama memungkinkan.

Andai penumpang atau kru dinyatakan meninggal, aturan internasional mengharuskan kapal pesiar untuk membawa kantong jenazah dan memiliki ruang atau kamar jenazah sebelum diserahkan ke pihak keluarga saat kapal bersandar.

Baca juga: Wajib Tahu, Ini 10 Bahasa Rahasia Pilot

Selain kode rahasia, pasangan tersebut juga mengungkap beberapa fakta menarik seputar kapal pesiar. Di antaranya, dalam sekali perjalanan selama tujuh hari, kapal pesiar mengangkut sekitar 60 ribu telur.

Di kapal pesiar terbesar di dunia dyang disebut Wonder of the Seas, yang harganya tembus 20 triliun, dan panjangnya mengalahkan tinggi menara Eiffel, mungkin telur yang dibutuhkan dalam sekali perjalanan bisa lebih dari sekedar 60 ribu.

Selera Makan Berubah dalam Penerbangan? Inilah Sebabnya

Betapa nyamannya kelas satu dalam suatu penerbangan, namun tetap ada yang berbeda untuk menikmati rasa dalam sajian kuliner. Dikemas dalam wadah hot plate dengan ditutupi kertas alumunium, makanan di pesawat terbang disajikan memang cukup memikat, padat, dan sudah pasti higienis. Lantas mengapa menikmati makanan di pesawat udara terasa beda? khususnya bicara soal taste, begitu beda bila dibandingkan makan saat berada di daratan.

Baca juga: Rindu Santapan ala Kabin, Maskapai ini Tawarkan Sensasi In-Flight Meals untuk Korban Lockdown

Ternyata tentang perbedaan taste makanan saat di pesawat udara ada penyebabnya, dan dapat dipaparkan secara ilmiah. Saat Anda berada di ketinggian ribuan meter, maka sajian makanan harus desesuaikan agar dapat diterima oleh tubuh. “Dampak dari ketinggian terbang akan berdampak pada selera dan penciuman seseorang,” ujar Russ Brown, direktur In-flight Dining & Retail di American Airlines, dikutip dari bbc.com (12/1/2015). Ia menambahkan, persepsi kita akan rasa asin dan manis akan berubah saat berada di kabin bertekanan.

Disamping faktor ketinggian terbang dan kabin bertekanan, masih ada lagi faktor yang berpengaruh pada selera makan, diantaranya adalah kelembaban yang rendah, tekanan udara rendah, dan background noise di pesawat.

Saat Anda memasuki kabin pesawat terbang, maka suasana di dalam kabin indera penciuman akan bereaksi lebih dini. Kemudian, saat pesawat terbang di ketinggian, tekanan udara menurun sementara tingkat kelembaban di dalam kabin juga menurun. Di sekitar 30.000 kaki, atau ketinggian 9.100 meter kelembaban kurang dari 12 persen, kondisi ini bahkan lebih kering daripada di gurun. Kombinasi dari kekeringan dan tekanan rendah mengurangi sensitivitas selera Anda sampai 30 persen untuk makanan manis dan asin.

Untuk mengungkap misteri soal rasa dalam penerbangan, maskapai penerbangan asal Jerman, Lufthansa di tahun 2010 sampai membuat studi khusus dengan melibatkan Fraunhofer Institute for Building Physic. Studi ini digelar menggunakan laboratorium khusus yang dapat mengurangi tekanan udara pada kondisi terbang 35,000 kaki (10,6 km). Di laboratorium juga dibuat skema udara lembab dan bising suara mesin.

Dan dari hasil studi oleh Lufthansa, akhirnya dapat diketahui bahwa yang terkena imbas selama penerbangan hanya selera manis dan asin saja. Sementara indera yang terkait makan, untuk rasa asam, pahit, dan pedas hampir tidak terpengaruh. Terkait makanan, selera atau taste memang mendominasi hingga 80 persen sebagai faktor penting untuk menikmati perjalanan. Tapi lepas dari itu sebenarnya masih ada faktor bau, jika Anda mencium bau-bau yang tak sedap selama di kabin pesawat, maka sajian makanan akan terasa ‘hambar.’

Baca juga: Dengan Dalih Kurangi Makanan Terbuang, JAL Tawarkan Penumpang untuk ‘Skip Meals’

Untuk mengatasi persoalam terkait selera dan rasa, maka tak heran selama penerbangan diberikan makanan ekstra dengan bumbu yang lebih spicing ala restoran. “Bumbu yang tepat adalah kunci untuk memastikan makanan enak di udara. Seringkali, resep dimodifikasi dengan garam tambahan atau bumbu untuk memperhitungkan suasana makan di kabin,” kata Russ Brown.

Kenapa ETOPS Tidak Berlaku untuk Pesawat Empat Mesin atau Lebih?

Sebagai moda transportasi paling aman di dunia, pesawat diuji sedemikian rupa, salah satunya terbang dengan satu dari dua mesin yang ada. Kebijakan ini dinamakan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards atau ETOPS. Sesuai namanya, ini hanya untuk pesawat bermesin ganda. Lantas, kenapa ETOPS tidak berlaku untuk pesawat bermesin empat (quadjet)?

Baca juga: ETOPS – Sertifikasi Darurat Pesawat Twin Engine Agar Layak Mengudara dengan Satu Mesin

ETOPS yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), saat itu mengatur bahwa pesawat twinjet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.

Hal ini dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satunya, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat dengan mesin lainnya. Rekomendasi itu kemudian disadur oleh regulator dunia, tak terkecuali regulator penerbangan sipil AS (FAA) dengan sebutan “60-minute rule”.

Dengan aturan tersebut, praktis, pergerakan pesawat-pesawat twin-jet sangat terbatas. Tak lebih dari rute domestik dengan jangkauan berkisar 60 menit perjalanan. Di saat itulah era trijet atau pesawat dengan tiga mesin dimulai. Saat itu, pesawat McDonnell Douglas DC-10 dan Lockheed L-1011 Tristar yang notabene memiliki tiga mesin menjadi primadona maskapai untuk mengantarkan penumpang ke belahan bumi lain atau jarak jauh.

Alasannya simpel, dilarang untuk menggunakan pesawat bermesin ganda untuk jarak jauh tetapi terlalu mahal ongkos operasional bila menerbangkan pesawat dengan empat mesin pada rute jarak jauh. Jadi, pilihan memang hanya jatuh pada pesawat trijet.

Perlahan tapi pasti, seiring perkembangan teknologi, ICAO mulai meningkatkan ambang batas ETOPS pada pesawat bermesin ganda menjadi 120 menit mulai tahun 1980-an hingga 180 menit di akhir dekade tersebut.

Hal itupun pada akhirnya mendorong pengembangan pesawat twinjet jarak jauh untuk mendapatkan efisiensi lebih dari yang ditawarkan tri-jet, baik efisiensi dalam segi operasional maupun perawatan dan produksi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga.

Catatan pilot Trent Hopkinson, setelah ETOPS 180 menit, ICAO mengizinkan ETOPS 207 menit, memungkinkan pesawat twinjet maskapai AS terbang langsung dari AS ke Jepang melintasi Samudera Pasifik.

Pada tahun 2009, Airbus A330 menjadi pesawat pertama yang mendapat sertifikat ETOPS 240 menit. Lima tahun kemudian, Airbus A350 XWB mendapat sertifikat ETOPS 370 menit. Setahun berikutnya, syarat ETOPS 370 menit juga mengharuskan pesawat empat mesin, ketika itu Boeing 747-8, untuk melewati sertifikasi. Bersamaan dengan ini, nama ETOPS pun diubah menjadi EDTO atau “Extended Diversion Time Operations”.

Baca juga: Airbus A380 Terbang dengan Dua Mesin Lebih Boros Dibanding Terbang dengan Empat Mesin, Kok Bisa?

Ide ETOPS 370 menit untuk pesawat dengan empat mesin datang setelah menimbang kondisi darurat yang bisa saja dialami pesawat dengan empat mesin, semisal kehilangan dua mesin akibat satu dan lain hal. Tak berhenti sampai di situ, pesawat enam mesin seperti Antonov An-225 Mriya sekalipun juga harus melewati sertifikasi ETOPS.

Menjawab pertanyaan di awal, kenapa ETOPS tidak berlaku untuk pesawat empat mesin, itu karena di awal-awal kebijakan ETOPS diluncurkan ICAO empat mesin yang ada dianggap sangat aman. Pada perkembangannya, pesawat lebih dari dua mesin pun juga harus melewati sertifikasi ETOPS untuk memastikan pesawat lolos sertifikasi keadaan darurat.

Kenapa Pesawat Sering Berhenti di Ujung Landasan Sebelum Lepas Landas?

Meski sudah berkali-kali bepergian naik pesawat, beberapa traveler tetap antusias merekam detik-detik pesawat lepas landas. Biasanya rekaman video dimulai saat pesawat berhenti di ujung landasan pacu (runway) sebelum memacu kecepatan untuk lepas landas. Terlepas dari itu, sebetulnya, kenapa pesawat umumnya berhenti terlebih dahulu sebelum lepas landas?

Baca juga: Pesawat Lepas Landas dalam Kondisi Suhu Tinggi, Ternyata Bikin Maskapai Merugi

Kita tahu, sebelum memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan), informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan.

Semua ini menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan.

Pilot juga perlu menghitung jarak pendaratan atau landing distance. Proses menentukan ini berdasarkan faktor eksternal tidaklah mudah.

Pada pesawat-pesawat tua, pilot harus menghitung secara manual. Namun, pada pesawat terbaru, seperti Boeing 737 Dreamliner dan Airbus A350, pilot cukup memasukkan angka-angka ke komputer (onboard performance tool) dan rekomendasi pun keluar. Dengan begitu, potensi kesalahan cenderung berkurang dibanding dengan menghitung secara manual.

Baca juga: Ternyata, Pesawat Tak Selalu Ngebut di Runway untuk Bisa Terbang, Ini Alasannya

Dari informasi pra penerbangan, termasuk berat total pesawat ditambah bahan bakar, penumpang dan kargo, serta panjang runway, pilot sudah dibekali dengan kemampuan menghitung berapa kecepatan yang dibutuhkan pesawat untuk bisa lepas landas.

Dari sini kemudian diketahui, apakah pesawat perlu berhenti diujung landasan terlebih dahulu sebelum lepas landas atau tidak.

Saat kondisinya memungkinkan, tak jarang pesawat langsung melesat di setibanya di landasan tanpa berhenti. Karena itu, berhenti atau tidaknya pesawat di ujung landasan sebelum lepas landas sangat bergantung pada beberapa situasi dan kondisi.

Menurut salah seorang pilot, Eric Larsen, seperti dikutip dari Quora, umumnya beberapa faktor yang menentukan apakah pilot harus berhenti diujung landasan atau tidak sebelum lepas landas berupa berat total pesawat, cuaca panas, dan ketinggian bandara/runway.

Baca juga: Kenapa Pesawat Lepas Landas dan Mendarat Melawan Arah Angin?

Selain itu, ada juga faktor teknis di bandara yang mengharuskan pesawat berhenti di ujung landasan sebelum lepas landas.

Di bandara sibuk, setiap menit selalu ada pesawat yang lepas landas dan mendarat. Tentu ini harus diatur sedemikian rupa, termasuk jarak atau gap antara sesama pesawat yang ingin lepas landas. Ini yang pada akhirnya menjadi salah satu alasan kenapa pesawat harus berhenti di ujung landasan sebelum lepas landas.