Emirates Jadi Pelopor Penggunaan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan di Boeing 777-300ER

0

Emirates, maskapai papan atas asal Uni Emirat Arab (UEA), baru saja mencatatkan sejarah, yakni dengan mengoperasikan penerbangan pertama Boeing 777-300ER (Extended Range) dengan salah satu mesinnya menggunakan 100 persen bahan bakar penerbangan berkelanjutan – Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Baca juga: Singapura Mulai Juli 2022 Jual Kredit Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Dari siaran pers Emirates (30/1/2023), Boeing 777-300ER lepas landas dari Bandara Internasional Dubai (DXB), kemudian terbang selama lebih dari satu jam di atas garis pantai Dubai. Penerbangan demonstrasi (tanpa penumpang) yang ditenagai oleh SAF memiliki makna khusus karena UEA mendeklarasikan 2023 sebagai ‘Tahun Keberlanjutan’. Penerbangan ini mendukung upaya kolektif industri untuk memungkinkan penerbangan SAF 100 persen di masa depan dan membantu memajukan tujuan keberlanjutan UEA.

Penerbangan demonstrasi Emirates, yang pertama di Timur Tengah dan Afrika Utara yang ditenagai oleh 100% SAF, mendukung upaya yang lebih luas untuk mengurangi emisi CO2 siklus hidup karena industri berupaya meningkatkan penggunaan SAF. Saat ini, SAF disetujui untuk digunakan di semua pesawat, tetapi hanya dalam campuran hingga 50% dengan bahan bakar jet konvensional.

Emirates bekerja sama dengan mitra GE Aerospace, Boeing, Honeywell, Neste, dan Virent untuk mendapatkan dan mengembangkan campuran SAF yang sangat mirip dengan sifat bahan bakar jet konvensional. Pada setiap rasio campuran, sejumlah pengukuran properti bahan bakar kimia dan fisik dilakukan.

Setelah beberapa tes laboratorium dan uji coba yang ketat, mereka sampai pada rasio pencampuran yang mencerminkan kualitas bahan bakar jet. Delapan belas ton SAF dicampur, terdiri dari HEFA-SPK yang disediakan oleh Neste (ester yang diproses hidro dan asam lemak dan minyak tanah parafin sintetik) dan HDO-SAK dari Virent (minyak tanah aromatik sintetik terdeoksigenasi hidro). SAF 100 persen memasok satu mesin General Electric GE90, dengan bahan bakar jet konvensional memasok mesin lainnya.

Baca juga: Setelah Singapore Airlines, Giliran Malaysia Airlines Gunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Emirates adalah maskapai penerbangan penumpang pertama di dunia yang mengoperasikan Boeing 777 dengan mesin GE dengan 100 persen SAF.

Akhirnya, Pesawat Airbus A380 Mendarat dalam Penerbangan Berjadwal di Indonesia

Pesawat Airbus A380 bakal segera mendarat di Indonesia, tepatnya di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Pesawat komersial terbesar di dunia itu adalah penerbangan langsung reguler dari Dubai ke Bali. Biasanya, penerbangan itu dioperasikan menggunakan armada Boeing 777-300ER (Extended Range). Namun, pada Juni mendatang, dipastikan menggunakan Airbus A380 ke Bali untuk pertama kalinya.

Baca juga: Kenapa Pesawat Airbus A380 Tidak Pernah Mendarat di Indonesia?

Mengingat ini adalah kedatangan Airbus A380 pertama di Bali (Indonesia), perlu dilakukan berbagai langkah persiapan agar rangkaian penerbangan berjalan lancar.

Saat ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) tengah melakukan berbagai kesiapan kedatangan Airbus A380 pertama di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Direncanakan, pesawat komersil terbesar di dunia yang berkapasitas 600 penumpang tersebut akan mendarat di Bandara Ngurah Rai pada bulan Juni 2023.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, M. Kristi Endah Murni pada Senin (30/1) mengatakan, tengah menyiapkan rencana operasional yang khusus baik secara teknis dan pelayanan untuk melancarkan take off/landing pesawat tersebut.

“Karena kapasitas pesawat ini besar sekali dan dimensi pesawat terdiri dari dua lantai, maka membutuhkan waktu penanganan (handling) dan peralatan (equipment) yang berbeda dengan pesawat lainnya,” ujarnya.

Dalam rangka persiapan, Kantor Otoritas Bandar Udara (OBU) Wilayah IV Bali telah melakukan koordinasi dengan pengelola bandara yaitu PT Angkasa Pura I dan stakeholder lainnya. Sejumlah persiapan yang dilakukan diantaranya yaitu: penanganan ground handling,  garbarata, pengisian bahan bakar (fuel handling), Custom, Immigration and Quarantine (CIQ), kesiapan unit Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran(PK-PPK), dan penanganan penumpang (pax handling).

“Kami juga harus memastikan kesiapan alternate aerodrome yaitu bandara alternatif terdekat yang mampu menampung pesawat A380, apabila terjadi gangguan di Bandara Ngurah Rai,” ucap Kristi.

Selain itu, Ditjen Hubud juga menyiapkan Tim Assesment yang akan turun langsung memastikan persiapan pengoperasian dan melakukan penilaian terhadap Standard Operating Procedure (SOP) yang dibuat oleh pengelola Bandara Ngurah Rai yaitu PT. Angkasa Pura I.

Kristi berharap, semua persiapan di Bandara I Gusti Ngurah Rai dapat diselesaikan sebelum pengoperasian pesawat Airbus A380 di bulan Juni 2023 nanti.

Baca juga: Mendarat di Cengkareng Saat Dirgahayu RI, Mengapa Airbus A380 Tidak Beroperasi di Indonesia?

“Kami harus pastikan semua fasilitas sudah lengkap agar  operasi penerbangan dan pelayanan berjalan selamat, aman, dan nyaman,” tutupnya.

Rute Dubai-Denpasar Emirates merupakan salah satu rute terpopuler maskapai. Rute sebaliknya, Denpasar-Dubai bahkan menawarkan penumpang lebih banyak pilihan transit sampai ke 80 destinasi di Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika.

Jaga Rasa Masakan Tetap Lezat di Ketinggian 35.000 Kaki, Inilah yang Dilakukan Para Koki

0

Sebagai grup penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air Group memiliki perusahaan pengolahan, penyedia dan penyajian makanan di pesawat udara (in-flight meals), yakni Lion Boga. Seperti halnya penyedia jasa kuliner penerbangan, maka teknik memilih bahan, menyiapkan, mengolah hingga menyajikan, harus mengutamakan aspek yang memenuhi kualifikasi angka kecukupan gizi, hygiene sanitasi, keamanan pangan dan halal.

Baca juga: Dukungan Maskapai Nasional Mampu Sukseskan Bisnis Restoran Indonesia di Luar Negeri

Monitoring terstruktur dari seluruh metode pengolahan, bertujuan agar para penumpang dan kru pesawat dapat terhindar dari risiko atau potensi keracunan makanan. Makanan yang disajikan di ketinggian 35.000 kaki seperti (nampak) terlihat biasa, namun rahasia atau dibalik jenis makanan menjalani mekanisme yang tidak biasa.

Guna memastikan penumpang makan sajian di penerbangan, para juru masak (koki) di dapur katering senantiasa mengutamakan rasa makanan tetap enak. Berikut rangkaian prosedur pengolahan dan penyajian inflight meals ala Lion Boga.

1. Perhari, penerimaan bahan baku mentah seperti sayuran, daging, aneka bumbu, buah dan lainnya diperiksa kualitasnya oleh team quality.

2. Bahan baku dibersihkan dan disimpan sementara menunggu jalannya produksi sesuai spesifikasi produk. Bahan baku mudah rusak, disimpan di ruang pendingin bertemperatur rendah, yang bertujuan untuk mempertahankan kualitas bahan tanpa mengurangi nilai gizi.

3. Dilakukan pemisahan antara penyimpanan bahan baku dan produk jadi untuk meminimalisir adanya potensi kontaminasi silang.

4. Kriteria resep setiap produk dibuat dan disiapkan secara khusus oleh tim Menu and Development, yang terdiri dari para chef.

5. Para koki dan karyawan Lion Boga dipersyaratkan sesuai pakaian kerja, mengenakan penutup rambut, tidak beraksesoris (jam tangan, cincin, anting dan perhiasan lainnya yang mengganggu) serta menggunakan sarung tangan, untuk menjaga higienitas makanan dengan mencegah kontaminasi makanan dari cemaran.

6. Menggunakan takaran bumbu yang tepat agar rasa dari makanan menjadi lebih lezat.

7. Memasak dalam jumlah besar sesuai Standar Operational Prosedur (SOP) dan ketentuan resep yang sudah ditentukan.

8. Masing-masing porsi makanan ditakar secara presisi, upaya mengutamakan agar porsi makanan tidak kurang atau lebih (bentuk dan berat tetap sama).

9. Setelah proses produksi produk heavy snack dan heavy meals didinginkan / dibekukan secara cepat (blast chill/ blast freeze) untuk menjaga kualitas/ mutu dan keamanan pangan produk.

10. Pengambilan sample produk yang diproduksi melewati pengujian dan evaluasi baik secara sensori maupun laboratorium untuk menjamin kualitas mutu dan kemanan pangan.

11. Seluruh produk makanan dikemas secara rapat dan rapi untuk mencegah terjadinya kontaminasi selama distribusi (pengiriman).

12. Sistem pengiriman makanan rata-rata dilakukan 5 (lima) jam sebelum waktu keberangkatan pesawat, produk dikirimkan dalam kondisi beku (frozen) untuk menjaga kualitas mutu dan kemanan pangan

13. Makanan yang sudah tiba di bandar udara, akan disimpan dan didistribusikan menuju pesawat sesuai jadwal penerbangan.

14. Pramugari dan pramugara (awak kabin) sudah dilatih secara khusus dalam mengatur, memanaskan makanan menggunakan oven, menyiapkan serta menyajikan makanan dalam jumlah tertentu, saat penyajiannya awak kabin mengikuti pedoman protokol kesehatan.

Baca juga: Begini Proses ‘Memasak’ Makanan di Pesawat Sampai Dihidangkan ke Penumpang

Dalam waktu yang sudah ditentukan, makanan akan dipanaskan menggunakan oven selama 20-30 menit. Oven pada pesawat udara berbeda dengan oven konvensional atau oven rumah tangga.

Memanaskan makanan saat di udara adalah cara penting untuk menjadikan makanan tersaji hangat. Awak kabin harus cek kualitas makanan sebelum disajikan kepada setiap tamu. Rangkaian tersebut sangat krusial dalam layanan penerbangan (in-flight), agar tamu merasakan dan menikmati makanan seperti selesai dimasak.

Pesawat Punya Kecepatan Jelajah dan Kecepatan Maksimum, Apa Bedanya?

Bagi Anda yang kerap mencari tahu informasi detail pesawat, umumnya akan menemui dua jenis kecepatan pada pesawat, yakni kecepatan jelajah dan kecepatan maksimum. Misalnya, Boeing 787 Dreamliner, di laman modernairliners.com, tertuang bahwa kecepatan jelajah (cruise speed) pesawat mencapai Mach 0.85 atau 903 km per jam pada ketinggian 10.700 meter. Sedangkan kecepatan maksimum pesawat (maximum speed) mencapai Mach 0.90 atau 954 km per jam di ketinggian yang sama.

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Sekalipun menggunakan mesin yang sama, kecepatan jelajah dan kecepatan maksimum masing-masing pesawat tentu berbeda-beda, tergantung bobot pesawat itu sendiri serta faktor lainnya. Contoh, kecepatan jelajah Airbus BelugaXL mencapai Mach 0.69 atau 737 km per jam. Sedangkan Airbus A330 memiliki kecepatan jelajah mencapai Mach 0.82 atau sekitar 870 km per jam. Padahal, keduanya sama-sama menggunakan mesin rolls-royce trent 700.

Namun, terlepas dari dua contoh di atas, sebetulnya, apa perbedaan antara kecepatan jelajah dengan kecepatan maksimum?

Dikutip dari quora.com, kecepatan jelajah adalah kecepatan rata-rata yang ditempuh pesawat saat di udara. Adapun kecepatan maksimum adalah kecepatan tertinggi yang mampu ditempuh pesawat saat di udara.

Pada prakteknya, sebuah pesawat amat jarang mencapai kecepatan maksimum saat beroperasi. Sebab, konsumsi bahan bakar cenderung lebih boros. Padahal, antara kecepatan maksimum dengan kecepatan jelajah, perbedannya tidak terlalu mencolok. Namun, konsumsi bahan bakar kedua kondisi itu berbeda jauh. Itu sebabnya, pesawat lebih cenderung dioperasikan di kecepatan jelajah.

Kecepatan jelajah antara mesin jet dan mesin turboprop berbeda. Untuk mesin jet pesawat komersial jarak jauh, umumnya kecepatan jelajah yang ditempuh mencapai 878–926 km per jam di ketinggian 10.000–12.400 meter, jauh lebih cepat dan lebih tinggi dibanding pesawat turboprop yang umumnya menempuh kecepatan jelajah di angka 550–670 km per jam pada ketinggian 6.000–7.600 meter.

Dari segi benefisitas, setidaknya, terdapat tiga keuntungan yang didapat bila mengoperasikan pesawat dengan kecepatan jelajah.

Pertama, konsumsi bahan bakar lebih rendah seiring ketinggian maksimum pesawat. Hal itu dikarenakan semakin tinggi pesawat, semakin kecil tekanan yang didapat.

Kedua, bukan sekedar irit, ketinggan jelajah pesawat akan mendorong peningkatan kecepatan jelajah pesawat. Singkatnya, pesawat mampu mencapai kecepatan jelajah yang lebih tinggi dengan daya dorong yang lebih sedikit. Tentu ini menjadi sebuah keuntungan besar untuk mencapai penerbangan singkat dengan konsumsi bahan bakar yang tetap rendah.

Baca juga: Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

Ketiga, konsumsi bahan bakar per satuan jarak penerbangan menjadi lebih rendah. Keuntungan ini merupakan buah dari dua keuntungan sebelumnya. Dengan tarikan mesin yang rendah, otomatis konsumsi bahan bakar per satuan jarak penerbangan menjadi lebih rendah. Sebab, borosnya konsumsi bahan bakar berbanding lurus dengan tarikan mesin saat pesawat dioperasikan.

Itu mengapa, pesawat lebih boros saat melakukan take off. Dalam posisi tersebut, pesawat cenderung diajak untuk mencapai kecepatan maksimum agar bisa mendapat gaya angkat yang lebih besar dan cepat.

Intip Kabin Kelas Bisnis Baru Air France di Boeing 777-200ER

Seiring armada Boeing 777-300ER-nya segera menjalani maintenance, Air France sudah mempersiapkan armada pengganti yang tak kalah mewah, Boeing 777-200ER (Extended Range). Tak hanya sekedar menggantikan, armada tersebut juga dilengkapi dengan kabin kelas bisnis baru yang lebih mewah dibanding pendahulunya. Apa saja fitur unggulannya?

Baca juga: Kenapa Kursi Kelas Bisnis Miliki 3 Tali Sabuk Pengaman?

Kabin kursi kelas bisnis baru Air France di armada Boeing 777-200ER pertama kali diumumkan pada akhir tahun lalu. Selang beberapa pekan, maskapai memulai debut kelas itu pada 20 Januari lalu di rute Paris-New York sebanyak 48 kursi.

Kursi kabin kelas bisnis baru ini memiliki sejumlah fitur unggulan. Dikutip dari CNN Internasional, kursi tersebut dapat diubah menjadi tempat tidur datar (flat bed) berukuran hampir dua meter. Kursi ini juga dilengkapi dengan pintu geser (sliding door) untuk membuat ruang privasi bagi penumpang (sekalipun sebetulnya lebih tepat semi privasi lantaran bagian atasnya terbuka).

Di dalam ruang privasi tersebut, penumpang dimanjakan dengan 4K high-definition entertainment screen sebesar 17,3 inci, headset, sampai bluetooth untuk memungkinkan penumpang menggunakan headphone sendiri.

Mengingat Boeing 777-200ER adalah pesawat widebody dan memiliki dua lorong, seluruh penumpang kelas bisnis Air France memiliki akses langsung ke lorong sehingga memudahkan mobilitas selama dalam penerbangan.

Bagi penumpang yang terbang bersama, ruang privasi yang sebelumnya hanya untuk pribadi bisa disatukan dengan menurunkan panel tengah dan membuatnya jadi lebih luas. Andai penumpang terbang sendiri, panel tengah tinggal tidak perlu diturunkan. Panel tengah bisa diturunkan oleh masing-masing penumpang alias tidak satu arah.

Kabin kursi kelas bisnis baru Air France di armada Boeing 777-200ER paling dekat pada musim dingin tahun ini. Sejauh ini rutenya hanya ke New York, Rio de Janeiro, dan Dakar, Senegal. Ke depan dijanjikan akan lebih banyak rute yang dilengkapi kabin kelas bisnis serupa.

Baca juga: Mendarat Darurat di Siberia, Penumpang Air France Terperangkap Selama Tiga Hari!

Air France sudah lama dikenal sebagai salah satu maskapai yang memberikan layanan kelas terbaik ke penumpang. Sekalipun tahun 2022 lalu hanya menempati urutan ke-18 daftar maskapai terbaik di dunia, namun, kemitraannya dengan KLM -yang membentuk jaringan maskapai terbesar di dunia- turut meningkatkan standar kualitas pelayanan. Salah satunya melalui lounge.

Lounge maskapai tersebut dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia, khususnya lounge first class. Kendati lounge first class, penumpang kelas bisnis maskapai tetap bisa menggunakan fasilitas lounge tersebut dengan sejumlah syarat.

Kenapa Pilot Geber Mesin Pesawat Sampai Sebelum Lepas Landas? Ini Jawabannya

Bagi traveler yang memperhatikan, pasti menyadari bahwa mesin pesawat selalu digeber pilot atau berputar cukup kencang sebelum lepas landas. Ya, itu adalah salah satu prosedur pesawat lepas landas, dimana mesin digeber sampai 30-50 persen dari daya maksimum. Kenapa demikian? Apakah dengan menggeber mesin pesawat jadi lebih cepat lepas landas?

Baca juga: Berapa Detik Pesawat Melesat di Runway untuk Bisa Terbang? Ini Jawabannya

Menurut pilot salah satu maskapai, Kurush Pawar, hal itu bagian dari memastikan semua mesin stabil pada saat meluncur di landasan.

Pesawat diketahui membutuhkan kecepatan sangat tinggi untuk bisa lepas landas. Pada pesawat narrowbody, setidaknya dibutuhkan waktu ground run sekitar 30-35 detik untuk lepas landas atau saat roda pesawat mulai meninggalkan runway. Tetapi, balik lagi, semuanya sangat tergantung dengan faktor lain, seperti cuaca, bobot pesawat, dan sebagainya.

Meski begitu, lebih atau kurang dari 30-35 detik waktu yang dibutuhkan pesawat untuk lepas landas, yang pasti pilot baru berani menarik throttle-up saat pesawat sudah mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau decision speed (V1). Biasanya, V1 pada pesawat narrowbody berkisar antara 120 knot (222 km per jam) sampai 140 knot (259 km per jam).

Sedangkan untuk pesawat-pesawat widebody, pesawat membutuhkan ground run selama 50 detik untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan, juga antara 120 dan 140 knot, dan kemudian lepas landas.

Sebelum mencapai kecepatan tinggi, mesin pesawat cenderung memiliki akselerasi yang berbeda. Ini mesin memiliki usia pakai yang tidak sama sekalipun mesin tersebut sejak awal pesawat dibeli atau keluar dari pabrik tidak pernah diganti atau diservis bersamaan. Intinya mesin selalu beroperasi bersama.

Kendati begitu, tetap saja, umur mesin berbeda-beda. Ini pada akhirnya menyebabkan delay atau keterlambatan sekitar 4-5 detik dari salah satu mesin di sebelah kiri atau kanan.

Bila pilot memaksa lepas landas dengan kondisi itu, maka yang terjadi adalah pesawat oleng ke arah mesin yang berputar lebih lambat dan berakhir di rumput. Pilot tak bisa menggunakan rudder dengan maksimal untuk mengendalikan pesawat pada kecepatan rendah.

Karena itu, lanjut Kurush, seperti dikutip dari Quora, sebelum lepas landas, pilot menyetel thrust levers atau tuas dorong (seperti menggeber mesin) sampai 30-50 persen daya maksimum.  Tujuannya agar akselerasi mesin kanan dan kiri pesawat sama serta tidak menyebabkan oleng saat lepas landas.

Baca juga: Untung-Rugi Mesin Pesawat di Sayap dan di Belakang, Mana Lebih Baik?

Setelah mesin stabil dan akseleras mesin kiri-kanan sama, pilot mulai mendorong tuas ke setelan take off thrust untuk mendorong mesin ke belakang dan membuat pesawat bergerak maju. Pesawat terus ngebut di runway sampai kecepatan V1 (120-140 knot) dan mulai meninggalkan landasan.

Proses di atas umumnya sama antara pesawat Boeing dan Airbus. Bedanya mungkin pada kecepatan thrust levers-nya saja, apakah 30.40, atau 50 persen dari daya maksimum mesin saat digeber.

Gantikan Airbus A340, Thailand Alokasikan US$276 Juta untuk Pesawat Kenegaraan Terbaru

Bila dibandingkan dengan Indonesia, sepertinya untuk urusan pesawat Kenegaraan (VIP/VVIP), Thailand jauh lebih unggul dalam hal spesifikasi. Sebut saja, Presiden Republik Indonesia untuk lawatan jarak jauh ke luar negeri, masih menyewa pesawat widebody Boeing 777-300ER dari Garuda Indonesia. Sebaliknya, Thailand, dioperasikan Angkatan Udara Kerajaan Thailand (Royal Thai Air Force), punya pesawat widebody Airbus A340-500 untuk keperluan misi VIP/VVIP.

Baca juga: Mengenal “Code One”, Pesawat Kepresidenan Korea Selatan yang Digunakan di KTT G20

Meski punya spesifikasi mumpuni untuk penerbangan jarak jauh, rupanya A340 dianggap boros bahan bakar dan tinggi dalam biaya operasional, terlebih A340 series sudah tidak lagi diproduksi oleh Airbus sejak tahun 2012.

Dikutip dari Simple Flying, Pemerintah Thailand telah menyetujui angggaran untuk pembelian pesawat kenegaraan terbaru. Proposal anggaran tersebut mencakup pendanaan untuk pengadaan pengganti dan pelatihan awak pesawat.

Kabinet Thailand telah menyetujui anggaran sebesar 8,78 miliar baht (US$276 juta) yang dibagi selama empat tahun pembiayaan untuk menggantikan Airbus A340-500 yang ada. Pesawat tersebut akan digunakan untuk mengangkut anggota keluarga kerajaan, perdana menteri, anggota dewan, dan tamu pemerintah Thailand.

Dana tersebut akan dialokasikan untuk pengadaan pesawat baru dan komponen serta personel pelatihan. Angkatan Udara Kerajaan Thailand, yang mengoperasikan pesawat saat ini, mengonfirmasi telah menyiapkan rencana operasional yang mencakup perkiraan anggaran, penilaian risiko korupsi, dan daftar kebutuhan pengadaan.

Meski belum diketahui jenis pesawat yang akan diakuisisi, namun, pesawat baru diharapkan akan dikirim pada tahun 2026. Pesawat nantinya akan dioperasikan oleh Skadron 602/Penerbangan Kerajaan Wihok, berbasis di Bandara Internasional Don Mueang Bangkok. Skadron yang sama juga bertanggung jawab atas pesawat VIP lainnya, seperti sebuah Airbus A319, dua Airbus A320, empat Boeing 737, dan tiga Sukhoi SSJ100-95LR Superjets.

Pesawat yang akan diganti adalah Airbus A340-500 terdaftar dengan kode HS-TYV. Quadjet ini awalnya dikirim ke Thai Airways International pada tahun 2005 sebagai HS-TLC dan diberi nama Phitsanulok, sesuai nama kota bersejarah di Thailand Utara Bawah. Thai Airways mengoperasikan hingga Juni 2012 dan disimpan selama beberapa tahun sebelum Angkatan Udara Kerajaan Thailand mengakuisisinya pada tahun 2016.

Baca juga: Siapa Sangka, Lesunya Penjualan Airbus A340 Justru Karena Debut ETOPS A330

Meski akan dipensiunkan, ternyata A340-500 VIP/VVIP Thailand pernah memecahkan rekor di kelasnya. Yaitu pesawat ini pernah berangkat dari Bandara Interasional Don Mueang Bangkok ke Bandara Internasional Charlotte Douglas dan mendarat setelah total waktu penerbangan 18 jam 14 menit, menempuh jarak sekitar 7.859 mil laut.

Akhiri Produksi Selama Lima Dekade, Boeing 747 Terakhir Dikirim Ke Atlas Air

Setelah diluncurkan dari pabriknya di Everett, Washington pada 6 Desember 2022, maka ada kabar bahwa pesawat Boeing 747 produksi terakhir, akan segera dikirimkan kepada pemesannya, Atlas Air Worldwide Holdings (AAWW), yang akan mengoperasikan untuk perusahaan logistik Swiss Kuehne+Nagel.

Baca juga: 3 Desember 2019, Boeing 747-400 Qantas Lakukan Penerbangan Trans Pasifik Terakhir

Sumber dari Reuters menyebut bahwa Boeing 747 produksi terakhir akan dikirim pada hari Selasa (31/1/2023). Boeing 747 yang dikenal sebagai “Queen of The Skies” merupakan pesawat komersial terbesar di dunia dan pertama dengan dua Lorong. Boeing berhenti meluncurkan 747 setelah 53 tahun diproduksi dan lebih dari 1.570 unit telah dibuat dalam berbagai varian.

Selain penggunaan Boieng 747 untuk angkutan kargo, Boeing 747 sehari-hari sebagai pesawat penumpang sekarang hampir sepenuhnya ditinggalkan. Maskapai telah beralih dari pesawat dengan empat mesin yang boros bahan bakar seperti 747, ke pesawat widebody dengan dua mesin yang lebih hemat bahan bakar.

Sebelumnya, Boeing telah memberi isyarat pada tahun 2020 bahwa mereka akan berhenti membangun 747, bahkan dalam varian kargo.

Firma analitik penerbangan Cirium mencatat saat ini hanya ada 44 pesawat Boeing 747 versi penumpang yang masih beroperasi. Adapun 25 di antaranya diterbangkan oleh Lufthansa. Jumlah itu turun dari lebih dari 130 yang beroperasi sebagai jet penumpang pada akhir 2019, tepat sebelum pandemi melumpuhkan permintaan perjalanan udara, terutama pada rute internasional.

Namun, di seluruh dunia masih ada 314 unit Boeing 747 yang digunakan. Pesawat-pesawat kargo tersebut kebanyakan dulunya adalah pesawat penumpang yang dikonversi menjadi varian kargo.

Baca juga: Tahukah Anda, Qantas Jadi Satu-satunya Maskapai Pengguna Boeing 747-400ER, Ini Alasannya

Boeing mengirimkan jet penumpang 747 pertama pada Desember 1969 ke dua maskapai yang saat ini sudah tutup, yakni TWA dan Pan Am.

Bandara Auckland Kebanjiran, Airbus A380 Emirates Terbang 13 Jam dari Dubai ke Dubai

Banjir di Bandara Auckland yang berujung ditutupnya bandara tersebut selama 24 jam lebih memuat penerbangan kacau. Salah satunya Airbus A380 Emirates rute Dubai-Auckland. Pesawat itu diketahui berangkat pada Jumat waktu Dubai dan mendarat siang waktu Auckland. Tetapi, yang terjadi adalah, pesawat itu terbang 13 jam dari Dubai dan mendarat kembali di Dubai.

Baca juga: Eva Air Tawarkan Kencan Antar Penumpang ‘Jomblo’ Secara Acak di Udara, Tiket Ludes dalam Sekejap

Hujan deras terjadi sejak hari Kamis sore 26 Januari 2023 akibat curah hujan tinggi mengubah jalanan di banyak wilayah di Auckland dan seluruh Pulau Utara Selandia Baru menjadi sungai mulai keesokan harinya. Salah satu yang terdampak adalah Bandara Auckland.

Air di dalam terminal dikabarkan mencapai ketinggian 25 cm di seluruh terminal keberangkatan dan kedatangan, baik domestik maupun internasional. Bandara pun ditutup karena mulai tanggal 27 Januari sampai 28 Januari.

Tutupnya bandara mungkin tak begitu berarti untuk penerbangan yang baru akan dioperasikan, tetapi, bagi penerbangan yang sudah berjalan dan bandara ditutup saat pesawat sudah mengudara, tentu tak ada pilihan lain bagi pesawat kecuali return to base (RTB).

Sebetulnya maskapai mungkin saja mendarat di bandara lain yang menjadi homebase atau hub maskapai di luar negeri, tetapi tidak demikian dengan Emirates yang memilih kembali ke Dubai setelah terbang enam jam lebih.

Pantauan di FlightRadar24, pesawat Airbus A380 Emirates dengan nomor penerbangan EK448 rute Dubai-Auckland menjadi salah satu penerbangan terpanjang di dunia sejauh 14.200 km. Pesawat lepas landas dari Bandara Dubai pada pukul 10:30 pagi waktu setempat dan dijadwalkan tiba di Bandara Auckland pada 11:20 siang.

Saat pesawat dengan nomor registrasi A6-EVL telah mencapai selatan pulau Sumatera, diputuskan RTB dan kembali ke Dubai. Pesawat akhirnya mendarat kembali di Dubai pada pukul 12:21 Sabtu dini hari. Berarti, pesawat A380 Emirates tersebut telah terbang 13 jam dari Dubai kembali ke Dubai non-stop tanpa mengisi bahan bakar. Ini mungkin terdengar nostalgia seperti penerbangan flight to nowhere.

Emirates sendiri tak menjelaskan kenapa maskapai memutuskan RTB ke Dubai alih-alih mendarat di bandara terdekat dari titik turn around.

Namun, menurut onemileatatime.com, meskipun terbang 13 jam hanya untuk kembali ke bandara asal terkesan boros, namun, itu adalah keputusan terbaik.

Emirates Dubai-Auckland flight EK448 diketahui mengangkut lebih dari 500 penumpang. Masalah pertama adalah, mendapatkan kamar hotel untuk penumpang di tempat atau negara yang belum biasa dilayani Emirates. Ini sulit direalisasikan.

Sudah begitu, masing-masing negara mempunyai aturan tersendiri terkait wisatawan internasional. Di balik itu, ada potensi penumpang ditolak imigrasi saat pengecekan di bandara. Ini lebih membuat penumpang tidak nyaman.

Belum lagi soal logistik dalam artian jumlah kru pengganti dan pesawat. Turut menjadi perhatian maskapai.

Baca juga: Ngeri! Airbus A380 Emirates Terbang 13 Jam dengan Kondisi Badan Pesawat Berlubang

Berbagai kendala di atas sudah pasti dapat ditangani Emirates dengan kembali ke Dubai dan pada akhirnya inilah yang terjadi sekalipun menyebalkan bagi penumpang.

Saat ini, Bandara Auckland, baik penerbangan domestik maupun internasional, sudah beroperasi normal atau dibuka kembali untuk melayani penerbangan.

Surga Kanal Transportasi di Eropa, Bukan Hanya di Venesia

Siapa yang belum pernah melihat kanal? Pastinya beberapa dari Anda sudah pernah melihat kanal sebelumnya. Mungkin di Indonesia lebih dikenal dengan sungai, atau saat dikatakan kota dan negara banyak kanal langsung berpikir pada Venesia yang penuh dengan kanal sebagai jalur transportasinya.

Baca juga: Taksi Air Thunder, Gaya Baru Menyusuri Kanal di Venesia

Sayangnya, karena Venesia lebih sering disebut “Kota Air” sehingga tidak termasuk dalam beberapa jajaran negara-negara dengan jalur kanal terindahnya. Dilansir dari whiltonmarina.co.uk, ada beberapa negara di Eropa yang memiliki jalur transportasi melalui kanal. Tetapi tak hanya sekedar menjadi jalur transportasi, kanal-kanal ini pun menjadi salah satu plesiran wisata yang indah untuk di kunjungi.

Berikut lima kanal terindah yang bisa di kunjungi dan di arungi bagai mengarungi samudera:

1. Amsterdam
Anda saat mendengar kata Amterdam pastinya mengingat negara Belanda dengan kincir angin atau bunga tulipnya. Padahal negara ini memiliki kanal yang luar biasa indah, kanal ini menyambungkan jalur dari bangunan-bangunan besar yang biasa kita sebut monumen melalui kafe, perkantoran, restoran hingga apartemen. Kanal yang menakjubkan ini dihiasi dengan jembatan dan jalan untuk menghubungkan transportasi daratnya. Dengan arsitektur yang elegan menjadi nilai tambah sendiri untuk keindahan kanal, apalagi bila malam tiba, lampu yang menjadi cahaya menyorot ke kanal dan memantulkan sinarnya melalui air kanal.

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk

2. Stockholm
Ibu kota Swedia ini dibangun di 14 pulau berbeda dengan penghubung 57 jembatan dan perahu untuk menyeberangi tiap pulaunnya. Keindahannya pun tak terhingga, tak berbeda jauh dari kota air Venesia.

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk

3. Birmingham
Bila kanal-kanal sebagai penghubung daerah yang satu dengan yang lain, agak sedikit berbeda dengan di Inggris zaman dulu. Kanal ini dulunya digunakan untuk mengangkut barang dari kota-kota di Inggris dan Eropa selama revolusi industri. Namun berbeda dengan dulu, sekarang kanal ini justru banyak dikunjungi wisatawan dengan kapal-kapal yang disewakan oleh pemiliknya. Tapi, tahukan Anda bahwa kanal yang ada di Inggris ini panjang dan banyaknya melebihi yang dimiliki Venesia?

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk

4. Hamburg
Kota di Jerman ini merupakan kota pelabuhan yang terkenal dan ketiga terbesar di dunia. Dibagian utaranya yakni Rathausmarkt ada lengkungan putih yang sangat menakjubkan dan disebut kanal Alsterarkaden.

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk

Baca juga: Taksi Air Jadi Salah Satu Solusi Transportasi Bagi Warga Kerala di India

5. Bruges
Bila Anda ke Belgia dan menginap di rumah penduduk daerah Bruges, maka yang terlihat pertama adalah pedesaan dengan jalur air yang spektakuler. Sama dengan Venesia, penduduk Bruges akan melakukan aktivitas dengan menggunakan perahu. Selain itu perahu-perahu ini akan mengantarkan Anda berkeliling kanal dan tempat-tempat yang luar biasa di Bruges.

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk