Bagaimana Sayap Pesawat Dipasang Sampai Bisa Menopang Mesin Berbobot Sangat Berat? Ini Rahasianya

Sebelum mengetahui lebih jauh, semua mungkin sepakat bahwa sayap pesawat ditopang badan pesawat sekaligus menopang mesin. Kenyataannya justru sebaliknya, sayap pesawat menopang badan pesawat. Lantas bagaimana sayap pesawat dipasang sampai bisa menopang badan pesawat dan menopang mesin berbobot berat?

Baca juga: Bagaimana Cara Mesin Pesawat Dipasang? Berikut Ulasannya

Sebuah pesawat dibangun melewati tahapan cukup panjang. Itu mengapa, dalam sebulan, pabrikan pesawat hanya mampu memproduksi pesawat sipil sebanyak puluhan unit, tak seperti mobil yang bisa sampai ribuan bahkan puluhan ribu unit dalam sebulan.

Pada tahun 2021 lalu, misalnya, kapasitas produksi pesawat Airbus A320neo hanya mencapai angka 63 unit per bulan. Boeing, sebagai raksasa manufaktur pesawat dunia, juga hanya sanggup memproduksi pesawat sekelas A320neo dikisaran angka tersebut.

Setidaknya ada lima tahapan dalam membangun atau memproduksi sebuah pesawat; mulai dari desain, simulasi menggunakan model skala, konstruksi, perakitan, dan pengujian. Dua tahap awal sudah pasti wujud nyata pesawat dalam ukuran yang sebenarnya belum ada. Tetapi, di tiga tahap akhir, wujud pesawat sudah ada dan umumnya berwarna hijau atau kuning.

Baca juga: Apakah Kita Berjalan di Sayap, dan Apakah Mungkin Sayap Pesawat Patah saat di Udara?

Fokus pada tahap konstruksi, sebgian besar publik awam mungkin  mengira bahwa itu dimulai dari pemasangan badan pesawat terlebih dahulu. Nyatanya tidak, justru sayap pesawat terlebih dahulu yang dipasang.

Menurut Chief Aerospace Engineer, Peter To, dalam tahap konstruksi, dua sayap pesawat diletakkan di bagian kanan dan kiri. Ketinggian sayap tentu sudah diatur sesuai dengan tipe dan jenisnya. Sayap kemudian dipersatukan menjadi satu kesatuan utuh sebelum badan pesawat dipasang di atasnya.

Bila diperhatikan, bagian badan pesawat terdapat celah yang dinamakan center wing box, memungkinkannya disatukan dengan sayap oleh beberapa engsel dan baut membuatnya lebih kokoh dalam menopang badan pesawat.

Baca juga: Mana yang Lebih Berbahaya Bagi Pesawat, Sayap Patah atau Kerusakan Mesin?

Saat sayap kanan dan kiri disatukan dan menjadi satu kesatuan dan kembali disatukan dengan badan pesawat dibagian yang dinamakan center wing box, ini seperti ‘balok’ dengan sayap membentang ujung ke ujung. Ini yang menjadi rahasia kekuatan sayap pesawat sampai kuat menahan tekanan di udara dan tidak patah.

Demikian juga dengan mesin pesawat yang dipasang di sayap. Itu juga didukung oleh beberapa engsel dan baut yang sangat kuat sehingga mampu menopang mesin berbobot besar. Dengan catatan dalam keadaan normal. Dalam keadaan darurat, mesin pesawat bisa saja dengan mudah lepas dari sayap. Tetapi, lebih baik kehilangan mesin pesawat dibanding sayap patah.

Sejarah Pendaratan Otomatis (Autoland) Pesawat: Dipelopori Inggris Gegara Banyak Asap

Teknologi pesawat sipil saat ini sudah sangat canggih. Tentu saja semua tidak diraih secara instan. Proses panjang dilalui ilmuan dan insinyur dunia secara estafet sampai tekonologi canggih dinikmati oleh insan dirgantara saat ini, salah satunya ialah autoland atau pendaratan otomatis yang dipelopori Inggris usai Perang Dunia II. Itu diakibatkan banyaknya asap yang menyulitkan pesawat mendarat.

Baca juga: Ternyata Kebanyakan Pesawat Saat Ini Mendarat Otomatis (Autoland)

Perang Dunia II adalah perang terbesar di dunia yang melibatkan banyak pihak, salah satunya Inggris. Inggris turut terseret dalam konflik dan berperang langsung dengan Jerman. Nazi Jerman bahkan sempat membombardir habis Inggris.

Demikian juga sebaliknya. Asap yang dihasilkan dari bom tersebut pada akhirnya menyulitkan Angkatan Udara Kerajaan (RAF) mendaratkan pesawat karena terhalang asap tebal. Kondisi itu lebih parah saat malam hari. Pada tahun 1945, RAF pun meluncurkan Blind Landing Experimental Unit (BLEU) atau unit eksperimental untuk pendaratan buta. Dari sini sejarah autoland pada pesawat dimulai.

BLEU bertanggung jawab untuk membangun karya Telecommunications Flying Unit (TFU) pada awal 1945, menggunakan sistem panduan radio SCS 51 Amerika untuk membawa Boeing 247D di DZ203 mendarat dalam kondisi gelap gulita.

SCS 51 menggunakan transmisi radio pada frekuensi yang berbeda untuk membantu pesawat, tidak hanya untuk melakukan pelacakan posisinya, tetapi juga untuk tetap berada di jalur yang stabil dan aman menuju runway (landasan pacu).

Sampai di sini, sistem masih berfungsi sebagai alat bantu navigasi pilot mendarat sampai 200 kaki dari runway dan kemudian memutuskan apakah terus mendarat atau divert.

Foto: Wikimedia Commons

BLEU kemudian mengembangkan sistem baru yang lebih canggih menggunakan sinyal panduan radio dari landasan pacu bersama panduan azimuth dari kabel yang digantung di sepanjang landasan pacu yang mengirimkan sinyal.

BLEU juga akan mengubah panduan vertikal menjadi altimeter radio FM untuk panduan yang lebih akurat, meminimalisir kesalahan dan mengurangi risiko kecelakaan serta akurasi pendaratan otomatis (autoland).

Sistem ini mensyaratkan pesawat untuk dilengkapi teknologi autopilot untuk memandu kontrol pesawat dan autothrottle untuk memastikan pesawat memiliki daya dorong yang tepat pada waktu yang tepat untuk tetap berada di jalurnya.

Pada tahun 1950, seperti dikutip dari Simple Flying, uji coba sistem atau teknologi baru pun dilakukan. Awalnya menggunakan pesawat de Havilland Devon. Dirasa cukup kecil, uji coba beralih ke pesawat Vickers Varsity yang lebih besar.

Baca juga: Apakah Pendaratan Autopilot Lebih Sulit atau Lebih Mulus Dibanding Pendaratan Secara Manual?

Pada tahun 1961, uji coba dilakukan di pesawat Douglas DC-7 di fasilitas pengujian di Bedford, Inggris Raya, dan Atlantic City, Amerika Serikat. Hasil dari pengujian ini melahirkan rekomendasi Administrasi Penerbangan Federal (FAA) agar teknologi temuan BLEU ini digunakan pesawat untuk pendaratan segala kondisi. Saat itulah teknologi autoland diterima secara luas di penerbangan sipil maupun militer.

Saat ini, seluruh pesawat modern, seperti Boeing 737 NG dan MAX, Airbus A321, serta Embraer 190, sudah dilengkapi dengan fitur autoland dan turunannya (autopilot dan autothrottle). Saat ini, Airbus juga tengah mengembangkan teknologi pesawat lepas landas otomatis untuk melengkapi teknologi pendaratan otomatis, autopilot, dan autothrottle.

Kereta Semi Cepat Cina-Laos Siap Rayakan Ulang Tahun Pertama

Kereta semi berkecepatan tinggi yang menghubungkan Cina dengan Laos akan segera merayakan hari jadinya yang pertama. Diresmikan pada 3 Desember 2021, rute sepanjang 1.035 kilometer tersebut melintasi pegunungan dengan menghubungkan kota Kunming di Cina tenggara dengan Vientiane, ibu kota Laos.

Baca juga: Kereta Cepat Cina Resmi Terhubung dengan Laos, Selanjutnya Singapura

Pembangunan infrastruktur senilai US$6 miliar tersebut dibiayai oleh Cina di bawah prakarsa “New Silk Road” dan akan meningkatkan perekonomian negara kecil di Asia Tenggara itu. Masih ada beberapa tantangan dalam pelayanan kereta semi cepat itu, di antaranya tiket hanya dapat dibeli secara tunai dalam waktu tiga hari perjalanan (sistem online diharapkan akan segera beroperasi). Tiket dapat dibeli di stasiun Kereta Api Laos-Cina atau beberapa kantor tiket non-kereta api.

Rute kereta yang menghubungkan kota Kunming dengan Vientiane, rencananya akan dikembangkan melalui Thailand dan Malaysia ke Singapura. Laos sebelumnya hanya memiliki rel sepanjang 4 km. Untuk saat ini kereta api bercat merah, biru dan putih melaju dengan kecepatan hingga 160 km per jam, melewati 75 terowongan dan 167 jembatan dengan 10 stasiun penumpang.

Cina berharap untuk memperpanjang rute melalui Thailand dan Malaysia ke Singapura, dan telah mendanai jalur tersebut sebagai bagian dari kebijakan “New Silk Road”. Inisiatif ini mendanai proyek infrastruktur di seluruh dunia untuk meningkatkan pengaruh Beijing.

Menurut pihak berwenang di Cina, jalan sepanjang 414 km melalui Laos akan meningkatkan perekonomian negara yang rapuh itu dengan menghubungkannya ke pasar Cina. “Jalur ini akan berubah dari negara yang terkurung daratan menjadi pusat regional,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Wang Wenbin.

Baca juga: Thailand Siapkan Stasiun Nong Khai untuk Jaringan Kereta Menuju Laos-Cina

Laos adalah negara tertutup yang dikuasai komunis dengan 7,2 juta orang, adalah salah satu yang termiskin di Asia. Sementara analis menyadari potensi ekonomi dari jalur kereta api, mereka menunjukkan kepedulian terhadap negara, yang menanggung 30 persen dari keseluruhan biaya infrastruktur dan harus meminjam US$1,06 miliar untuk membiayainya.

Negara Mana yang Punya Batas Kecepatan Tertinggi Berkendara? Ini Jawaranya, Bebas Ngebut

Setiap negara mempunya kebijakan tersendiri terkait urusan dalam negerinya masing-masing, termasuk batas kecepatan tertinggi saat berkendara, khususnya di jalan tol. Lantas, negara mana yang memiliki batas kecepatan tertinggi saat berkendara?

Baca juga: Frankfurt Autobahn A5, Jalan Tol Pertama dengan Kabel Listrik Aliran Atas

Ketika sedang berkendara di jalan tol, tentunya harus sesuai dengan aturan berkendara yang telah ditentukan. Tujuan aturan kecepatan batas berkendara di jalan tol agar terus menjaga kendaraan tetap fokus dan mengetahui batas kecepatan maksimal saat mengendarai mobil untuk menjaga agar tidak terjadi kecelakaan, terutama di beberapa titik yang rawan kecelakaan.

Hampir semua negara di dunia mempunyai batas kecepatan tertinggi saat berkendara di jalan tol, baik tol dalam kota maupun tol luar kota.

Di Indonesia misalnya, batas kecepatan berkendara di jalan tol diatur dalam Peraturan Pemerintah no 79 tahun 2013 tentang jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) pasal 23 ayat 4.

Diperkuat Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 111 tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kendaraan pasal 3 ayat 4 pada pasal 23 ayat 4, disebutkan bahwa batas kecepatan di jalan tol yaitu 60 hingga 100 kilometer per jam, sesuai dengan rambu lalu lintas yang terpasang.

Dalam aturan tersebut tertulis bahwa batas kecepatan di jalan bebas hambatan atau tol paling rendah 60 km per jam sampai tertinggi 100 km per jam.

Untuk berkendara di tol dalam kota sendiri kecepatan minimal berkendara 60 km per jam dan maksimal berkendara yaitu 80 km per jam. Kemudian untuk berkendara di tol luar kota yakni minimal 60 km per jam dan maksimal 100 km per jam.

Tak hanya di dalam tol, di jalan antarkota pun juga diatur dalam Permenhub tersebut. Disebutkan, untuk jalan antarkota paling tinggi di kecepatan 80 km per jam. Di kawasan perkotaan, batas kecepatan tertinggi maksimal 50 km per jam dan terakhir di kawasan permukiman batas kecepatan tertinggi berkendara mencapai 30 km per jam.

Mengingat pentingnya batas kecepatan tertinggi berkendara, baik di jalan tol maupun non-tol, mayoritas pemerintah di seluruh dunia mengaturnya. Namun, percaya atau tidak, ada dua negara di dunia ini yang dipastikan tidak mempunyai batas kecepatan berkendara; dua itu adalah Jerman dan Isle of Man.

Kendati tidak ada batas kecepatan tertinggi atau maksimum berkendara di jalan tol, menurut pengalaman Simon Comins, editor majalah otomotif, mayoritas warga tetap tertib.

Jalan tol di Nurburging Autobahn, misalnya, ia menyaksikan sendiri mayoritas warga berkendara di kecepatan 100 km per jam. Ini karena standar kedisiplinan berkendara warga sangat tinggi sehingga pemerintah tak lagi perlu mengaturnya.

Begitu juga dengan di Isle of Man. Ini tentu berbeda dengan di negara-negara yang mengatur batas kecepatan berkendara. Sudah diatur saja banyak yang melanggar dan terjadi kecelakaan, apalagi tidak diatur.

Baca juga: Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf

Akan tetapi, mengacu pada pertanyaan di awal, Jerman dan Isle of Man tentu tidak termasuk ke dalam daftar. Sebab, keduanya tidak mempunyai batas kecepatan berkendara.

Negara yang mempunyai batas kecepatan tertinggi berkendara adalah Uni Emirat Arab (UEA). Di jalan tol Abu Dhabi-Al Ain dan Sheikh Khalifa, misalnya, batas kecepatan tertinggi berkendara mencapai 160 km per jam.

Dikenal Sebagai “Ibu Kota” Airbus, Inilah Toulouse di Barat Daya Perancis

Sebagai sebuah konsorsium yang berasal dari beberapa perusahaan dirgantara Eropa, maka Airbus memiliki beberapa fasilitas produksi. Motor produksi utama Airbus di Eropa berada di Perancis, Jerman dan Spanyol, selain masih ada di beberapa negara lain di luar Eropa yang mengikat kerja sama produksi atas pembelian pesawat atau helikopter Airbus. Nah, dari sekian banyak fasilitas produksi Airbus, maka Toulouse, sebuah kota di barat daya Perancis, dikenal sebagai “ibu kota” Airbus.

Baca juga: Airbus A380 Dikonversi Jadi Hotel di Dekat Bandara Toulouse Blagnac

Faktanya, Airbus memiliki fasilitas produksi di banyak lokasi, dari Toulouse hingga Tianjin, memproduksi berbagai jenis pesawat. Tidak seperti Boeing yang membuat semua pesawatnya di AS, Airbus merakit pesawat di banyak negara. Namun, perakitan pesawat hanyalah langkah terakhir dari proses tersebut. Sebelum itu, fasilitas produksi di seluruh dunia membuat segalanya mulai dari ekor hingga sayap.

Sebagian besar pusat produksi utama Airbus berlokasi di negara-negara seperti Perancis, Jerman, Spanyol, Italia, dan Inggris. Sebagai contoh, sayap A320 berasal dari Broughton, Inggris, badan pesawat dari Hamburg, Jerman, dan penstabil horizontal dari Getafe, Spanyol. Demikian pula, bagian yang lebih kecil dari pesawat dapat bersumber dari mana saja. Misalnya, kemudi A320 dibuat di Harbin, Cina, dan dikirim ke berbagai fasilitas di seluruh dunia.

Hotel akan berlokasi di dekat rumah Airbus di Bandara Toulouse Blagnac. Foto: Proyek Envergure

Setiap pesawat memiliki rantai pasokan khusus untuk suku cadang. Salah satu rute yang paling terkenal adalah perjalanan darat yang ditempuh badan pesawat A380 dari Langon ke Toulouse.

Setelah semua suku cadang siap, mereka mengirimkan ke Airbus Final Line (FALs). Airbus saat ini mengoperasikan sembilan di antaranya di lokasi berikut, masing-masing melayani pesawat yang berbeda:

– Toulouse, Prancis: FAL untuk A320, A330, A350, dan A380 (masing-masing satu)
– Hamburg, Jerman: FAL untuk A320
– Mobile, Alabama, AS: FAL untuk A220 dan A320
– Tianjin, Tiongkok: FAL untuk A320
– Mirabel, Kanada: FAL untuk A220

Jelas bahwa fasilitas produksi terbesar Airbus ada di Toulouse. Fasilitas ini sendiri memproduksi semua pesawat berbadan lebar Airbus, dari A330 hingga A380, yang berarti akan memproduksi ribuan pesawat lagi di tahun-tahun mendatang. Selain itu, juga memproduksi pesawat keluarga A320, khususnya A321.

Namun, jika menyangkut A320, dan bahkan A220, Airbus telah mendiversifikasi jalur perakitannya karena sejumlah alasan. Alasan utamanya adalah untuk melayani pasar lokal di setiap negara dan menciptakan kehadiran yang lebih global. Sementara dua jalur perakitan Eropa menyediakan pesawat untuk maskapai penerbangan di seluruh dunia, fasilitas di Tianjin dan Mobile masing-masing menargetkan pasar Cina dan AS.

Di Toulouse, saat ini ada sekitar 48.000 karyawan Airbus, dan lebih dari 63.000 orang di anak perusahaan dan kepemilikan saham Airbus. Kantor Airbus berlokasi di wilayah barat daya Occitanie, dekat Bandara Toulouse-Blagnac. Di Occitanie, lebih dari 28.000 orang adalah karyawan Airbus dan sekitar 4.500 orang bekerja di fungsi sentral seperti keuangan, pemasaran, teknik, program dukungan pelanggan, dan pengadaan.

Baca juga: Bandara Toulouse-Blagnac Uji Coba Truk Otonom Pengangkut Bagasi Penumpang

Di sekitar kantor Airbus terdapat Leadership University perusahaan, dirancang untuk memberikan solusi pengembangan dan pembelajaran yang disesuaikan untuk para pemimpin Grup saat ini dan masa depan – mencakup semua fungsi dan tingkatan dari manajemen puncak hingga produksi, dengan aspirasi global untuk menjangkau setiap karyawan.

Bisakah Pesawat Boeing 737 Mendarat di Kapal Induk?

Tak diragukan lagi, keluarga Boeing 737 menjadi pesawat tersukses sepanjang masa di pasar penerbangan sipil. Di militer, keluarga pesawat tersebut juga pernah diproyeksi sebagai pesawat logistik ke kapal induk. Itu artinya, Boeing 737 harus mampu mendarat dan lepas landas di kapal induk. Pertanyaannya, bisakah itu dilakukan?

Baca juga: Boeing C-40, Varian Unik 737 yang Jarang Diketahui Publik

Meski berasal dari keluarga pesawat yang sama, Boeing 737 versi militer memiliki beberapa varian, di antaranya Boeing C-40 sendiri adalah versi militer dari Boeing 737-700C (Convertible) dan Boeing T-43 Gator yang berbasis Boeing 737-200.

Di tahun 1960-70an, Boeing ditantang untuk menyediakan pesawat kargo atau angkut untuk kebutuhan suplai bahan-bahan yang paling dibutuhkan kapal induk secara langsung. Ini dikenal dengan istilah skema Carrier Onboard Delivery (COD). Istilah lain disebut pesawat “Super Carrier Onboard Delivery” (Super COD).

Pada masa-masa awal konsep COD lahir, itu dijalankan menggunakan pesawat Grumman C-1 Trader, pesawat bermesin piston ganda dengan kapasitas muatan terbatas dan jangkauan 300 mil. Seiring waktu, ini dianggap minim. Kepala Operasi Angkatan Laut ingin pesawat lain yang lebih besar sampai akhirnya nama Boeing 737 muncul. Nantinya, pesawat itu akan beroperasi di atas kapal induk USS Forrestal (CVA-59) yang berbasis di Norfolk.

Menurut mantan aerodynamics engineer Boeing, Robert Buchholz, menaggapi hal itu pihaknya cukup tertantang dan mengusulkan adanya tail hook atau semacam pengait ekor untuk membantu pesawat berhenti sebelum melewati ujung landasan.

Sayangnya, tak ada informasi bagaimana saran tersebut disampaikan dan didiskusikan oleh pihak Angkatan Laut.

Singkatnya, Boeing 737 versi militer tak pernah dipakaikan kait pengail dan sampai saat ini belum pernah ada Boeing 737 versi militer yang mendarat di atas kapal induk. Andai pun dipaksa, apakah bisa itu dilakukan?

Buchholz mengatakan itu bisa saja dilakukan. Buktinya, pesawat C-130 Hercules yang sangat mirip dengan Boeing 737 mampu melakukan itu.

Angkatan Laut diketahui mengandalkan C-130 Hercules sebagai pengganti Grumman C-1 Trader sebagai pesawat Super COD. Sebagaimana Boeing 737, Lockheed C-130 Hercules adalah versi militer dari Lockheed L-100 Hercules.

Dari versi sipil ke militer tak terlalu banyak perubahan. Begitu juga dari versi militer ke Super COD, tak banyak perubahan. Tercatat, hanya ada sedikit modifikasi yang dilakukan Lockheed dalam memuluskan tugas pendaratan dan lepas landas di kapal induk.

Baca juga: Boeing T-43 Gator – Seri Boeing 737-200 yang Menjadi Pesawat Latih Navigasi Udara

Dilansir The Aviationist, modifikasi pada Hercules C-130 ada pada lubang roda pendaratan hidung yang lebih kecil, sistem pengereman anti-selip yang lebih baik, dan pelepasan pod pengisian bahan bakar di bawah sayap.

Modifikasi itu terbukti sukses dan Hercules C-130 berhasil membawa kargo dengan berat total 25 ribu pon. Dengan dasar itu, menjawab pertanyaan di awal, Boeing 737 seharusnya bisa mendarat di kapal induk sekalipun belum pernah dilakukan.

Mengenal Lebih Dalam Mesin Perawatan Rel Kereta, Si Kuning Yang Gemar “Patroli” di Malam Hari

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata kereta api? Mungkin beberapa dari Anda langsung terbesit gambaran rangkaian gerbong kereta yang ditarik oleh lokomotif, berjalan di atas rel, dan berhenti di stasiun.

Baca Juga: Antisipasi Kecelakaan di Jalur Kereta, Kemenhub Datangkan Kereta Derek

Memang tidak ada yang salah dengan sudut pandang tersebut, namun kali ini KabarPenumpang.com ingin mengajak Anda untuk mengenal lebih dekat dengan salah satu komponen pelengkap yang menunjang pengoperasian dari kereta api, yaitu Mesin Perawatan Jalan Rel atau biasa disingkat MPJR.

Jika diperhatikan secara seksama, mungkin beberapa dari Anda pernah melihat penampakan dari MPJR itu sendiri di stasiun-stasiun besar yang memiliki banyak langsiran, seperti di Stasiun Jatinegara atau Stasiun Manggarai. Bentuknya yang rumit dan memiliki warna kuning mentereng, itulah ciri fisik yang memudahkan MPJR untuk dibedakan dengan kereta-kereta lain yang bertengger di setiap rel.

Lalu, kenapa warnanya harus kuning? Karena warna kuning dinilai sebagai warna kedua yang mudah ditangkap oleh mata manusia setelah warna merah. Sehubungan dengan warna merah yang identik dengan segala sesuatu yang bersifat bahaya, maka dari itu akhirnya warna kuning dipilih untuk mendominasi body dari alat-alat berat seperti MPJR ini.

Sesuai dengan namanya, MPJR sendiri merupakan salah satu alat berat di dunia perkeretaapian yang fungsinya untuk melakukan perawatan rel dari segi apapun. Jadi, kemana pun Anda pergi ke kota atau negara yang memiliki layanan kereta api, dapat dipastikan kota atau negara tersebut memiliki MPJR, mungkin hanya nama atau penyebutannya saja yang berbeda. Walaupun bentuknya yang terlihat kokoh, namun rel juga mesti mendapatkan perawatan khusus, mengingat beban yang ditanggungnya setiap hari tidaklah ringan.

Ditinjau dari segi perngoperasiannya, kebanyakan MPJR beroperasi pada malam hari, dengan tujuan agar tidak mengganggu jadwal perjalanan kereta lain. Alasan ini pula yang mendukung pernyataan tentang pewarnaan dari MPJR di atas. Fungsi dari MPJR ini sendiri adalah beragam, tergantung dari jenisnya sendiri. Ada yang berfungsi untuk memadatkan batuan di bawah bantalan rel, merapikan susunan batu di sekitaran rel, mengelas rel, hingga memasang rel.

Baca Juga: Ingin Menikmati Sensasi Kereta Cepat, Bentang Lebar Rel Harus Diganti

Secara umum, MPJR sendiri terbagi ke dalam beberapa jenis, tergantung fungsinya masing-masing. Berikut adalah penjabarannya.

Multi Tie Tamper

Multi Tie Tamper. Sumber: wikipedia

Alat ini berfungsi untuk memadatkan batuan yang berada di bawah bantalan rel. Kembali ke poin yang sudah disebutkan di atas, setiap harinya rel menanggung beban yang tidaklah ringan dan hal ini dapat memicu amblasnya struktur tanah jika tidak dilakukan pemadatan. Selain berfungsi untuk memadatkan bebatuan di bawah bantalan rel, Multi Tie Tamper juga memiliki tugas untuk meluruskan rel yang bengkok akibat gesekan dengan roda kereta.

Profile Ballast Regulator

Profile Ballast Regulator. Sumber: plasseramerican.com

Jika Multi Tie Tamper berfungsi untuk memadatkan bebatuan yang ada di bawah bantalan rel, maka Profile Ballast Regulator berguna untuk merapikan batu yang ada di sekitaran rel. Laju kereta yang cepat menghasilkan getaran yang memungkinkan bebatuan tersebut berpindah posisi menjauh dari rel.

Flash Butt Welding

Flash Butt Welding. Sumber: plasser.co.za

Kalau dua mesin berat di atas memiliki peran untuk ‘mengurus’ bebatuan di sekitaran rel dan batalannya, maka berbeda dengan Flash Butt Welding yang berfungsi untuk mengelas rel jikalau ada bagian rel yang retak atau disinyalir dapat menimbulkan masalah.

Ballast Bed Cleaning Machine

Ballast Bed Cleaning Machine. Sumber: plassertheurer.com

Jika Anda mengira bebatuan yang ada di sekitaran rel ditebar begitu saja tanpa ada perhitungan sebelumnya, maka Anda salah besar. Bebatuan tersebut disusun sedemikian rupa sehingga bisa mengalirkan air yang jatuh di atasnya, dan fungsi dari alat berat ini adalah untuk membersihkan semua partikel yang menghambat laju air, seperti pasir atau pecahan batu. Jika struktur bebatuan tersebut tidak bisa meloloskan air, maka rel akan tergenang dan dikhawatirkan dapat mengancam keselamatan kereta api yang lewat karena struktur bebatuannya sudah berubah.

Jadi, bagi Anda yang tinggal di sekitaran rel dan melihat ada anak-anak yang suka bermain-main dengan bebatuan tersebut, Anda bisa memberitahu anak-anak tersebut untuk tidak mengulanginya lagi karena akan berbahaya bagi keselamatan orang  banyak (yang ada di dalam kereta).






















Inilah KA Bandara Pertama di Dunia, Warisan Nazi Jerman

Seiring berjalannya waktu, KA Bandara atau kereta yang terhubung langsung dengan bandara semakin banyak hadir di berbagai negara di dunia. Tetapi, tak banyak yang tahu, bahwa KA Bandara pertama di dunia lahir di Jerman, saat Bandara Tempelhof di Berlin terhubung dengan Berlin U-Bahn atau rapid transit system atau jaringan kereta bawah tanah Berlin pada tahun 1927.

Baca juga: Hindari Desak-desakan di KRL, Penumpang Pilih Naik KA Bandara Premium

Dilansir laman resminya, sistem kereta bawah tanah U-Bahn Berlin mulai dibuka pada tahun 1902. Ketika itu, di bawah pemerintahan Nazi Hitler, sistem kereta bawah tanah ini tak hanya hadir untuk melayani masyarakat, tetapi juga mendukung ekspansi Nazi di Eropa.

Itu sebabnya, di saat negara lain masih berpikir untuk sekedar menghadirkan jaringan kereta bawah tanah untuk melayani masyarakat di perkotaaan dan pinggiran, Nazi Jerman justru selangkah lebih maju, mempersiapkan U-Bahn untuk mendukung kekuatan perangnya dengan cara menghubungkan kereta ke bandara.

Meski ketika itu langkah tersebut tak benar-benar disebut sebagai kereta bandara atau KA Bandara, melainkan hanya sekedar kereta yang terkoneksi dengan bandara, tetapi, tak salah bukan bila kita menyebut ini sebagai kereta bandara atau KA Bandara pertama di dunia.

Kehadiran KA Bandara U-Bahn ini di Bandara Tempelhof Berlin bisa dibilang sangat krusial bagi Jerman. Ketika itu, di tahun 1927, tahun dimana bandara tersebut untuk pertama kalinya terhubung dengan kereta, Jerman memang sedang membangun ulang kekuatan setelah mengalami kekalahan di Perang Dunia I.

Terbukti, Bandara Tempelhof bukan hanya menjadi tempat lalu lintas pertukaran barang dan orang melalui angkutan kargo pesawat, melainkan juga berfungsi sebagai zona militer, lengkap dengan meriam anti serangan udara yang di tempat di atap hanggar, hanggar luas dan melingkar, serta berbagai fasilitas pendukung militer lainnya.

Bahkan, ketika Nazi Jerman mulai terdesak di penghujung Perang Dunia II pun, Bandara Tempelhof yang terkoneksi dengan KA Bandara pertama di dunia, diperebutkan dengan sengit oleh dua negara sekutu, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Selain lokasinya yang dinilai krusial, fasilitasnya juga sangat mendukung, termasuk empat hanggar besar, area luas di tengah Jerman, dan lain sebagainya.

Usai jatuh ke tangan sekutu, Tempelhof merupakan tempat mendarat pasukan sekutu yang berusaha untuk membawa pasokan logistik pasa pasukan di garis depan.

Sedangkan bagi Uni Soviet, menduduki Tempelhof berarti mereka akan memukul mundur satu langkah pasukan sekutu dan warga Berlin dalam perang tersebut. Kalahnya Jerman dalam perang tersebut menandakan bahwa Tempelhof yang berhasil direbut oleh The Red Soldiers, sebutan untuk tentara Soviet.

Baca juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia!

Ada yang unik dari cerita perebutan bandara tersebut, dimana seorang pilot Amerika, Gail Halvorsen yang sering mendarat di Tempelhof diberi julukan oleh anak-anak Berlin yang selalu menunggu pasokan logistik yang dibawa oleh Gail. The Candy Bomber, merupakan julukan yang diberikan kepada Gail karena ia kerap kali melemparkan permen dan cokelat menggunakan parasut kecil berwarna putih.

Selain cerita mengenai Perang Dunia II yang menyelimuti tempat ini, Bandara Tempelhof juga pernah dijadikan tempat pengungsian lebih dari 3.000 migran yang tinggal di dalam empat hanggar pesawatnya. Bandara tersebut terpaksa dijadikan tempat penampungan darurat pengungsi pada akhir 2015 silam karena negara mulai kewalahan mengatasi ribuan pencari suaka yang terus berdatangan.























Mengenal Polusi Suara Pesawat: Bisa Bikin Stres Sampai Kardiovaskular! Penumpang-Pilot Terdampak

Polusi suara pesawat atau aircraft noise pollution sudah menjadi makanan sehari-hari bagi pekerja bandara, baik itu staf darat maupun udara. Polusi suara pesawat (disebut juga pencemaran suara) telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan tidur, gangguan jantung (kardioviskular) dan stres.

Baca juga: Kurangi Emisi Suara di Tengah Malam, Bandara Heathrow Patok Biaya Ekstra untuk Maskapai

Peneliti di Inggris dan AS juga menemukan, warga yang tinggal dekat bandara internasional dan terpaksa mendengarkan suara bising pesawat memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan stroke.

Karenanya, industri kedirgantaraan global mulai mencari cara agar polusi suara pesawat dapat diminimalisir, baik melalui kebijakan ataupun inovasi teknologi.

Pada Mei tahun lalu, Bandara Heathrow, London, Inggris telah mematok biaya lebih mahal sampai lima kali lipat akibat kebisingan yang ditimbulkan untuk semua penerbangan yang tiba dan berangkat pada pukul 23.30-06.00 waktu setempat. Dengan kebijakan tersebut, diharapkan emisi atau polusi suara di jam-jam tersebut akan mengalami penurunan.

kebijakan mematok tarif lebih akibat kebisingan yang ditimbulkan maskapai bertujuan untuk membatasi jumlah penerbangan yang mengganggu komunitas atau warga di sekitar bandara. Bagi maskapai yang tetap nekat beroperasi di waktu ‘terlarang’, siap-siap saja merogoh kocek untuk membayar tagihan lima kali lipat dari tarif normal.

Juru bicara bandara tersibuk ketujuh di dunia dan paling sibuk di Eropa pada 2018 lalu dengan 80,1 juta penumpang ini mengatakan, langkah tersebut merupakan respon otoritas bandara terhadap keluhan sekaligus masukan masyarakat untuk mencari cara agar mereka bisa isitrahat dengan tenang di malam hari.

Selain itu, langkah ini juga bagian dari rencana bandara dalam memperluas area bebas polusi udara di sekitar bandara.

Dua tahun sebelumnya, atau pada Juni tahun 2018 lalu, NASA berhasil menyelesaikan serangkaian uji coba pada teknologi untuk mengurangi suara yang dihasilkan oleh airframe (rangka) pesawat dan suara yang dihasilkan saat melakukan pendaratan.

Rangkaian uji coba ini dilakukan melalui rangkaian penerbangan Acoustic Research Measurement (ARM) di Armstrong Flight Center, California, Amerika Serikat (AS).

Dihimpun dari berbagai sumber, polusi suara pesawat terbagi menjadi tiga kategori; kebisingan mekanis, kebisingan aerodinamis, dan kebisingan dari sistem pesawat.

Kebisingan mekanis biasanya terjadi saat putaran bagian-bagian mesin, seperti bilah kipas, mencapai kecepatan supersonik.

Kebisingan aerodinamis terjadi akibat dari aliran udara di sekitar permukaan pesawat, terutama saat terbang rendah dengan kecepatan tinggi.

Adapun kebisingan dari sistem pesawat merupakan sistem tekanan dan pengkondisian kokpit, kabin, dan unit daya tambahan atau auxiliary power unit (APU).

Baca juga: NASA Uji Coba Sayap Pesawat Canggih untuk Kurangi Kebisingan

Dengan kata lain, dari ketiga kategori definisi polusi suara udara di atas, bisa dibilang selama pesawat beroperasi, sekalipun belum close door, taxiing, lepas landas, terbang di udara, mendarat, sampai tiba di apron, pesawat tetap mengeluarkan suara bising. Setidaknya dari APU, ketika menunggu penumpang di apron bandara.

Lebih lanjut, efek buruk dari polusi suara pesawat bisa dibilang bukan hanya berdampak pada pekerja aviasi, mulai dari pilot, pramugari, ground handler, sampai staf darat, tetapi juga penumpang, mengingat polusi suara pesawat juga terjadi di dalam kabin.























Classon – Helm Sepeda dengan Lampu LED plus Kamera Video Depan-Belakang

Helm saat ini dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih, sehingga membuat penggunanya nyaman dan merasa lebih aman. Salah satunya adalah helm sepeda yang dilengkapi dengan indikator lampu sein untuk berbelok. Namun meski ada itu pun, pengendara sepeda masih menggunakan tangan sebagai sinyal tradisional ketika berbelok.

Baca juga: TorchONE – Helm Sepeda dengan Lampu LED yang Bisa Dipasang dan Dilepas

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (13/8/2021), untuk lebih memudahkan dan menghilangkan cara tradisional, helm Calsson hadir dengan LED indikator dipicu oleh gerakan lengan pengendara. Ini juga untuk memperingatkan kendaraan dari belakang yang mendekati pengendara sepeda.

Helm Classon sendiri awalnya merupakan topik kampanye Kickstarter dan berhasil. Sehingga helm ini kemudian ditawarkan kepada publik sebagi bagian dari program beta. Seperti kebanyakan helm pintar lainnya, Classon dilengkapi dengan lampu depan, lampu belakang atau lampu rem serta indikator belok LED kuning melengkapi dua sisi di bagian depan dan belakang.

Helm Classon juga memiliki kamera video depan dan belakang. Semua elektronik tersebut dihubungkan ke dua mikroprosesor 1,2-GHz onboard, dan ditenagai oleh baterai lithium 2.800-mAh yang seharusnya baik untuk runtime hingga empat jam per satu jam pengisian daya. Kapan pun pemakainya menjalankan sinyal lengan belok kiri atau kanan tradisional, “sensor gerakan” di helm dilaporkan mendeteksi gerakan itu, dan memicu indikator belok helm yang sesuai.

Meski begitu masih menunggu kabar dari pabrikan Beyond yang berbasis di New York, alias Brooklyness mengenai seperti apa bentuk sensor tersebut. Lampu depan dan lampu belakang tetap menyala secara konsisten, meskipun ketika akselerometer terintegrasi mendeteksi bahwa sepeda motor tiba-tiba melambat, lampu belakang akan menyala untuk sementara dan berfungsi sebagai lampu rem.

Kedua kamera video dapat digunakan untuk merekam perjalanan hanya untuk bersenang-senang, atau untuk penggunaan legal jika terjadi kecelakaan dengan hingga enam jam rekaman mereka disimpan di memori internal helm. Selain itu, jika kamera belakang “melihat” kendaraan mendekat dari belakang di titik buta pengendara sepeda, pengendara diperingatkan melalui LED yang berkedip di bagian bawah kaca helm.

Baca juga: Helm Tail-Light-Packin Didukung dan Diaktifkan oleh Cahaya Sekitar

Berat helm ini diklaim hanya 580 gram dan tahan air IP65 yang berarti dapat menahan pancaran air bertekanan rendah dari segala arah. Untuk diketahui satu helm seharga US$199 dan setelah Classon mencapai produksi penuh, harganya akan naik menjadi $399.