Surga Kanal Transportasi di Eropa, Bukan Hanya di Venesia

Siapa yang belum pernah melihat kanal? Pastinya beberapa dari Anda sudah pernah melihat kanal sebelumnya. Mungkin di Indonesia lebih dikenal dengan sungai, atau saat dikatakan kota dan negara banyak kanal langsung berpikir pada Venesia yang penuh dengan kanal sebagai jalur transportasinya.

Baca juga: Taksi Air Thunder, Gaya Baru Menyusuri Kanal di Venesia

Sayangnya, karena Venesia lebih sering disebut “Kota Air” sehingga tidak termasuk dalam beberapa jajaran negara-negara dengan jalur kanal terindahnya. Dilansir dari whiltonmarina.co.uk, ada beberapa negara di Eropa yang memiliki jalur transportasi melalui kanal. Tetapi tak hanya sekedar menjadi jalur transportasi, kanal-kanal ini pun menjadi salah satu plesiran wisata yang indah untuk di kunjungi.

Berikut lima kanal terindah yang bisa di kunjungi dan di arungi bagai mengarungi samudera:

1. Amsterdam
Anda saat mendengar kata Amterdam pastinya mengingat negara Belanda dengan kincir angin atau bunga tulipnya. Padahal negara ini memiliki kanal yang luar biasa indah, kanal ini menyambungkan jalur dari bangunan-bangunan besar yang biasa kita sebut monumen melalui kafe, perkantoran, restoran hingga apartemen. Kanal yang menakjubkan ini dihiasi dengan jembatan dan jalan untuk menghubungkan transportasi daratnya. Dengan arsitektur yang elegan menjadi nilai tambah sendiri untuk keindahan kanal, apalagi bila malam tiba, lampu yang menjadi cahaya menyorot ke kanal dan memantulkan sinarnya melalui air kanal.

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk

2. Stockholm
Ibu kota Swedia ini dibangun di 14 pulau berbeda dengan penghubung 57 jembatan dan perahu untuk menyeberangi tiap pulaunnya. Keindahannya pun tak terhingga, tak berbeda jauh dari kota air Venesia.

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk

3. Birmingham
Bila kanal-kanal sebagai penghubung daerah yang satu dengan yang lain, agak sedikit berbeda dengan di Inggris zaman dulu. Kanal ini dulunya digunakan untuk mengangkut barang dari kota-kota di Inggris dan Eropa selama revolusi industri. Namun berbeda dengan dulu, sekarang kanal ini justru banyak dikunjungi wisatawan dengan kapal-kapal yang disewakan oleh pemiliknya. Tapi, tahukan Anda bahwa kanal yang ada di Inggris ini panjang dan banyaknya melebihi yang dimiliki Venesia?

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk

4. Hamburg
Kota di Jerman ini merupakan kota pelabuhan yang terkenal dan ketiga terbesar di dunia. Dibagian utaranya yakni Rathausmarkt ada lengkungan putih yang sangat menakjubkan dan disebut kanal Alsterarkaden.

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk

Baca juga: Taksi Air Jadi Salah Satu Solusi Transportasi Bagi Warga Kerala di India

5. Bruges
Bila Anda ke Belgia dan menginap di rumah penduduk daerah Bruges, maka yang terlihat pertama adalah pedesaan dengan jalur air yang spektakuler. Sama dengan Venesia, penduduk Bruges akan melakukan aktivitas dengan menggunakan perahu. Selain itu perahu-perahu ini akan mengantarkan Anda berkeliling kanal dan tempat-tempat yang luar biasa di Bruges.

www.whiltonmarina.co.uk
www.whiltonmarina.co.uk

Bandara Tempelhof, Megastruktur NAZI Yang Kini Jadi Taman Kota Besar di Berlin

Masihkah Anda ingat tentang Bandara Internasional Kemayoran yang kini sudah terbengkalai dan hanya menyisakan Air Traffic Controller-nya saja? Ternyata di berbagai belahan dunia pun banyak kondisi serupa, sebut saja Yasser Arafat International Airport di Gaza,  Nicosia International Airport di Siprus, dan masih banyak lagi. Diantara semua bandara yang kini sudah tidak beroperasi lagi, terselip satu nama bandara yang kental akan nuansa sejarahnya. Ya, Berlin Tempelhof Airport.

Baca juga: Menara ATC Tintin – Cagar Budaya yang Tergerus Modernisasi Ibu Kota

Bisa dibilang, nasib Berlin Tempelhof Airport jauh lebih beruntung daripada Bandara Internasional Kemayoran. Bagaimana tidak, landas pacu dari bandara yang menjadi saksi bisu dari Perang Dunia II ini dialih fungsikan menjadi sebuah taman kota. Berbanding terbalik dengan Kemayoran, dimana bekas bandara tersebut hanya menyisakan kenangan berupa menara ATC Tintin.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, bandara yang terletak di bagian selatan kota Berlin ini merupakan salah satu gerbang utama para turis yang datang, terhitung sejak tahun bandara ini dibuka, mulai tahun 1923 hingga 2008. Berdiri di atas lahan seluas 877 hektar, kini membuat eks-bandara tersebut sudah beralih fungsi menjadi taman kota yang besarnya melebihi New York Central Park dan hampir dua kali lebih besar dari ukuran wilayah Monaco. Dengan ditutupnya bandara ini pada tahun 2008, maka pada saat itu pintu gerbang menuju kota Berlin terbelah menjadi dua, yaitu melalui Bandara Internasional Tegel dan Bandara Internasional Schönefeld.

Pada masa Perang Dunia II, Jerman mulai mengalami masa “kritis” ketika tentara NAZI Jerman kian tersudut di berbagai front. Salah lawan Jerman, yakn Uni Soviet terus menggempur dari segala sektor, baik darat, kanal, hingga kereta yang mengarah ke sektor-sektor di Berlin yang dikuasai oleh pihak sekutu. Tentu saja penggempuran tersebut bertujuan untuk memblokade logistik ke daerah barat, sehingga penduduk Berlin Barat dipaksa memilih nasibnya, keluar dari kota atau meminta bantuan kepada Uni Soviet.

Sumber: cnet

Dua kubu, Sekutu dan Uni Soviet, saling memperebutkan Bandara Tempelhof, karena lokasi tersebut dianggap krusial. Tempelhof merupakan tempat mendarat pasukan sekutu yang berusaha untuk membawa pasokan logistik pasa pasukan di garis depan. Sedangkan bagi Uni Soviet, menduduki Tempelhof berarti mereka akan memukul mundur satu langkah pasukan sekutu dan warga Berlin dalam perang tersebut. Kalahnya Jerman dalam perang tersebut menandakan bahwa Tempelhof yang berhasil direbut oleh The Red Soldiers, sebutan untuk tentara Soviet.

Bandara Tempelhof termasuk dari sekian banyak megastruktur penggilan NAZI, disebut megastruktur lantaran bandara ini punya area yang sangat luas dan dilengkapi berbagai perlindungan dari serangan bom udara. Seperti fasilitas hanggar yang luas dan melingar, dahulunya bagian atap hanggar ini dipersiapkan sebagai dudukan bagi meriam anti serangan udara. Beberapa situs menyebut bandara ini sebagai salah satu bangunan terbesar yang ada di Eropa.

Ada yang unik dari cerita perebutan bandara tersebut, dimana seorang pilot Amerika, Gail Halvorsen yang sering mendarat di Tempelhof diberi julukan oleh anak-anak Berlin yang selalu menunggu pasokan logistik yang dibawa oleh Gail. The Candy Bomber, merupakan julukan yang diberikan kepada Gail karena ia kerap kali melemparkan permen dan cokelat menggunakan parasut kecil berwarna putih.

Baca Juga: Lima Mitos Yang Keliru Seputar Dunia Penerbangan

Selain cerita mengenai Perang Dunia II yang menyelimuti tempat ini, Bandara Tempelhof juga pernah dijadikan tempat pengungsian lebih dari 3.000 migran yang tinggal di dalam empat hanggar pesawatnya. Bandara tersebut terpaksa dijadikan tempat penampungan darurat pengungsi pada akhir 2015 silam karena negara mulai kewalahan mengatasi ribuan pencari suaka yang terus berdatangan.

Kini, cerita kelam mengenai perang urat syaraf antara pasukan Uni Soviet dan Amerika Serikat tinggallah kenangan yang masih bisa dinikmati. Jika Anda tengah merencanakan liburan ke Jerman, sempatkanlah untuk menikmati wisata sejarah di Bandara Tempelhof. Cukup merogoh kocek sebesar 15 Euro untuk orang dewasa, maka Anda bisa masuk ke gedung utama eks-bandara ini dan merasakan kentalnya nuansa sejarah di lokasi ini. Apakah Anda tertarik untuk mengunjunginya?

Sejak Didirikan Pada Tahun 1999, Ternyata Sudah 5 Kali Pesawat Lion Air Bersenggolan

Pihak Lion Air mengakui pesawat Boeing 737-900ER registrasi PK-LFO miliknya telah bersenggolan dengan garbaratan Bandara Mopah, Merauke, Papua Selatan, Kamis (26/01/2023). Pesawat dengan nomor penerbangan JT-797 bersenggolan saat mulai bergerak dari apron menuju runway. Akibatnya, terjadi kerusakan pada pesawat dan garbarata.

Baca juga: Tak Hanya Tabrak Tiang, Pesawat Juga Saling Bertabrakan di Apron dan Landas Pacu

Sejak maskapai yang tergabung dalam grup maskapai dengan market share domestik terbesar itu berdiri pada 15 November 1999, sedikitnya telah terjadi lima kali insiden pesawat Lion Air bersenggolan, baik dengan bangunan, sesama pesawat Lion Air, dengan pesawat lain, sampai menyonggol tiang lampu bandara.

Insiden senggolan pesawat Lion Air itu belum termasuk insiden lainnya yang sangat banyak, mulai dari tergelincir, mendarat di air, kerusakan mesin, kesalahan teknis, menabrak sapi, sampai kecelakaan fatal. Dalam kesempatan ini, Kami hanya fokus pada insiden terkait senggolan pesawat saja. Dilansir dari berbagai sumber, berikut selengkapnya.

17 Februari 2011

Sebuah Lion Air Boeing 737-900ER tanpa sengaja menyenggol pesawat Lion Air lainnya. Ketika itu, pesawat sedang didorong (pushback) oleh pushback tractor di Bandara Soekarno-Hatta dan tanpa sengaja mengarah ke pesawat Lion Air lainnya. Kedua pesawat pun mengalami kerusakan pada bagian stabilizer.

Menariknya, salah satu dari pesawat itu adalah pesawat yang sama yang tergelincir di Pekanbaru 2 hari sebelumnya.

1 Mei 2016

Dua pesawat Lion Air mengalami senggolan satu sama lain di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Senggolan tersebut menyebabkan sayap pesawat mengalami kerusakan. Akibatnya, pesawat tersebut tidak dapat terbang untuk sementara dan harus segera mendapat perbaikan.

3 Agustus 2017

Terjadi kecelakaan senggolan sayap di Bandara Internasional Kuala Namu antara pesawat Lion Air Boeing 737-900ER nomor penerbangan JT 197 dengan kode registrasi PK-LJZ dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh dengan pesawat Wings Air ATR 72-500 dengan nomor penerbangan IW 1252 registrasi PK-WFF menuju Bandara Cut Nyak Dhien, Kabupaten Meulaboh, Aceh.

Pesawat Lion Air berusaha menghindar ke kanan runway, tetapi karena jarak terlalu dekat dan terbatasnya ruang di runway akhirnya terjadilah tabrakan antar sayap tersebut. Akibatnya,bagian sayap kedua pesawat ini mengalami kerusakan.

Baca juga: 10 Kecelakaan di Bandara Sultan Hasanuddin, Lion Air Penyumbang Terbanyak

7 November 2018

Belum hilang duka akibat kecelakaan Lion Air JT610, Lion Air kembali menyita perhatian setelah pesawatnya menabrak tiang lampu Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Saat bergerak maju ke runway, ujung sayap ternyata menyenggol tiang lampu koordinat apron bandara sehingga mengalami kerusakan.

26 Januari 2023

Pesawat Boeing 737-900ER Lion Air registrasi PK-LFO menabrak atau menyenggol garbarata Bandara Mopah, Merauke, Papua Selatan. Pesawat dengan nomor penerbangan JT-797 bersenggolan setelah pushback dan mulai bergerak dari apron menuju runway. Akibatnya, terjadi kerusakan pada pesawat dan garbarata.

Kenapa Pesawat Tidak Dilengkapi Sunroof Seperti di Pesawat Jet? Ini Jawabannya

Salah satu aktivitas paling menarik saat dalam penerbangan adalah melihat pemandangan. Selama ini, pemandangan hanya bisa dilihat penumpang dari jendela. Banyak yang bertanya kenapa pesawat tidak dilengkapi sunroof untuk memperluas jangkauan pandangan mata, utamanya di bagian atas pesawat?

Baca juga: Di Masa Mendatang, Pesawat Bakal Tanpa Jendela! Layar OLED Jadi Gantinya

Kaca di pesawat, baik sipil maupun militer, umumnya terbuat dari tiga lapisan. Lapis pertama, kaca depan pesawat terbuat dari campuran kaca dan akrilik. Keduanya disatukan dengan teknik glass frit bonding, juga disebut sebagai solder kaca atau seal glass bonding. Jadi, pada intinya, teknik ini memadukan lapisan luar kaca dengan akrilik yang direnggangkan.

Lapis kedua, kaca depan pesawat terbuat dari urethane, termasuk jenis dari polimer yang lumrah dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan plastik. Sedangkan dilapis terakhir, atau di bagian dalam, kaca depan pesawat terbuat dari akrilik, dengan ketebalan 1-3 inchi.

Sekalipun ketebalan kaca pesawat hanya 1-3 inchi, menghadirkan kaca, dalam hal ini sunroof, harus didukung struktur bingkai yang kuat. Pada akhirnya ini menjadikan pesawat lebih berat dan boros bahan bakar, jauh dari tren saat ini dan di masa depan dimana industri berlomba mengembangkan teknologi yang bisa mengurangi konsumsi bahan bakar.

Dilansir Simple Flying, ide membuat sunroof di pesawat sipil bukan barang baru. Setidaknya, ada dua perusahaan yang telah meluncurkan konsep tersebut ke publik. Pertama adalah Windspeed SkyDeck. Perusahaan ini mengaku sedang mengembangkan sunroof mirip dengan jendela jet tempur.

Dalam teaser yang dirilis perusahaan, penumpang mula-mula duduk di kursi sejenis kursi kelas bisnis yang berada di dalam tabung kaca. Setelah duduk, kursi akan dibawa naik oleh lift dan sampai ke area skydeck atau sunroof dan bebas menikmati pemandangan 360 derajat. Sampai saat ini, konsep tersebut belum ada kejelasan bagaimana perkembangannya.

Kedua adalah Emirates. Maskapai tajir asal Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) itu memang terkenal dengan inovasi dan layanannya yang mewah. Paduan dari itu bahkan memunculkan ide untuk membuat ¼ bagian belakang atas pesawat menjadi kaca (transparan) atau kalaulah boleh disebut sunroof.

Sunroof Emirates ini dihadirkan hanya di pesawat Boeing 777X dan disebut sebagai SkyLounge. Rencananya ini diluncurkan pada tahun 2020 silam dan belum jelas kelanjutan inovasi tersebut sampai saat ini.

Sekalipun para insinyur bisa saja merealisasikan itu, namun, banyak yang percaya bahwa itu hanya akan mendatangkan petaka bagi finansial perusahaan.

Ketimbang kelebihannya, sunroof di pesawat komersial lebih banyak kekurangannya. Pertama, di bagian atas dan dinding samping terdapat banyak kabel, AC, lampu, dan fungsi lainnya, termasuk fungsi penyimpanan barang. Kedua, radiasi sinar UV. Di balik pemandangan indah di langit, terdapat radiasi matahari yang berbahaya bagi penumpang. Ketiga, peletakan sunroof. Emirates bisa saja menetapkan SkyLounge yang diusungnya diperuntukkan bagi penumpang kelas bisnis dan first class.

Akan tetapi, apa semua penumpang ingin mendapatkan hal itu? Bagaimana bila dari 10 penumpang first class salah satu di antaranya tidak ingin ada terkena sinar matahari? Bisakah sunroof diblocking ke satu penumpang tersebut?

Baca juga: Lufthansa Technik Sulap Airbus A330 Jadi Private Jet Mewah

Alih-alih menghadirkan sunroof beserta kerumitannya, industri sedang berpacu dengan waktu melengkapi bagian atas dan dinding kir kanan pesawat dengan layar Organic- Light Emitting Diode (OLED). Nantinya, penumpang dapat melihat ‘pemandangan’ apapun yan diinginkan, bahkan pemandangan di luar pesawat hingga menjadikan seolah-olah pesawat transparan.

Kesimpulannya, sunroof atas bagian transparan di pesawat komersial tidak cocok bagi pesawat penumpang. Itu mungkin cocok untuk pesawat jet pribadi.

Serupa Tapi Tidak Sama, Inilah Perbedaan Mendasar Antara TGV dan Shinkansen

Train à Grande Vitesse atau biasa disingkat TGV dari Perancis, dan Shinkansen dari Jepang, selama ini lekat sebagai ikon kemajuan teknologi kereta berkecepatan tinggi. Mengandalkan tenaga listrik, keduanya pun dapat melaju di rentang kecepatan yang relatif sama. Meski ada beberapa kesamaan, rupanya ada perbedaan yang mendasar antara TGV dan Shinkansen. Apa saja itu?

Baca juga: Hari ini 40 Tahun Lalu, Kereta Cepat TGV Kebanggaan Perancis Meluncur Perdana

Selain tentunya berbeda dari aspek desain eksterior dan interior, perbedaan yang mencolok di antara keduanya adalah pada rangkaian terdepan (lead car). Dikutip dari Quora.com, disebut bahwa pada TGV, penumpang tidak pernah naik di gerbong pertama. Hal ini disebabkan motor besar penggerak berada di bagian depan kereta.

Berbeda dengan Shinkansen, penumpang bisa naik di gerbong pertama, hal tersebut dikarenakan motor penggerak didistribusukan di antara beberapa gerbong.

Perbedaan utama lainnya antara TGV awal dan Shinkansen adalah pada adaptasu terhadap terowongan. TGV awalnya dirancang tanpa gagasan untuk melaju dengan kecepatan tinggi di dalam terowongan. Yang dikemudian hari menjadi masalah saat TGV akan diekspor ke Korea Selatan.

Sebaliknya, Shinkansen sedari awal sudah dirancang untuk melaju dengan kecepatan tinggi di dalam terowongan. TGV dirancang untuk berjalan pada kecepatan yang relatif rendah di jalur rel eksisting, sedangkan Shinkansen sama sekali tidak dirancang dengan pemikiran ini. Hal ini disebabkan rel kereta api yang ada di Jepang berukuran sempit.

Baik TGV dan Shinkansen memiliki kecepatan operasi komersial yang serupa. Lebar ekstra setengah meter antara keduanya nyatanya tidak berpengaruh pada kecepatan kereta Di beberapa bagian jalur, kedua kereta beroperasi dengan kecepatan 320 km per jam.

Shinkansen Jepang beroperasi pada lebar rel standar 1.435 mm, yang ukuran rel ini juga digunakan di seluruh Cina, sebagian besar Eropa dan Amerika Utara. Namun berbeda dengan jalur rel klasik Jepang yang punya lebar 1.067 mm. Kereta shinkansen Jepang hanya dapat menggunakan jalur pengukur standar khusus. Pengukur standar ini dibuat untuk pengukur pemuatan yang besar, memungkinkan kereta yang lebih lebar. Jadi Jepang memiliki dua jaringan kereta api nasional yang terpisah dan tidak kompatibel.

Baca juga: Ini Tujuh Fakta Seputar Shinkansen yang Kamu Harus Tahu

Sementara itu, Perancis memiliki jalur rel nasional dengan lebar yang sama (1.435 mm). Kereta TGV dapat beralih antara jalur khusus kecepatan tinggi dan jaringan klasik yang ada. Hal ini memungkinkan fleksibilitas operasional yang lebih besar.

30 Tahun Mangkrak Akibat Perang Saudara, Layanan ATC Bandara Somalia Kembali Beroperasi

Layanan kontrol lalu lintas udara (ATC) di Wilayah Informasi Penerbangan (Flight Information Region/FIR) Mogadishu resmi kembali beroperasi per 26 Januari 2023 kemarin, setelah 30 tahun mangkrak akibat perang saudara. Hasil re-klasifikasi, FIR Mogadishu masuk wilayah udara Kelas A di atas ketinggan 24.500 kaki. Di ketinggian tersebut, pesawat wajib mendapat clearance dari ATC Mogadishu, Somalia.

Baca juga: Deretan Maskapai Dunia yang Masih Operasikan Fokker 100, Ada Maskapai Papua

Sebelum terjadi konflik dan berujung perang saudara berkepanjangan sejak tahun 1970-an dan puncaknya pada tahun 1991, Somalia memainkan peranan penting dalam lalu lintas udara internasional berkat letak geografisnya yang berada di ujung timur Afrika.

Ketika perang saudara pecah, praktis tidak ada wilayah aman di negara tersebut. Maskapai nasional Somalia, Somali Airlines, bubar bersamaan dengan runtuhnya pemerintahan. Tidak adanya pemerintahan membuat operasi hal-hal yang semestinya menyangkut pemerintah, seperti FIR dan ATC, turut hilang.

Negara-negara di dunia pun mengeluarkan NOTAM kepada maskapai penerbangan agar tidak melintasi wilayah udara Somalia di bawah ketinggian 26 ribu kaki. Saat maskapai lain enggan terbang di atasnya apalagi sampai melayani rute ke Somalia, Turksih Airlines tampil dan menjadi satu-satunya maskapai interinasional yang melayani rute dari dan ke Somalia.

Tidak jelas, selama 30 tahun ke belakang, FIR Mogadishu dioperasikan oleh siapa. Yang pasti, itu dioperasikan secara internasional di bawah pengawasan IATA.

Sehubungan dengan meredanya konflik dan perang saudara, diikuti dengan peningkatan infrastruktur dan pemasangan kembali kontrol lalu lintas udara, wilayah udara Mogadishu pun diklasifikasikan sebagai Kelas A setelah dilakukan klasifikasi ulang pada 26 Januari lalu.

“Klasifikasi ulang FIR Mogadishu sebagai wilayah udara ‘Kelas A’ akan secara signifikan meningkatkan keselamatan di wilayah tersebut dan meningkatkan efisiensi. Ini berkat upaya kolaboratif dari Tim Koordinasi Khusus Wilayah Udara Somalia, yang terdiri dari CAA Somalia, IATA, ICAO, FIR, dan maskapai penerbangan terkait,” kata Wakil Presiden Regional IATA untuk Timur Tengah dan Afrika, Kamil Al-Awadhi.

“Peningkatan manajemen lalu lintas udara dan peningkatan infrastruktur navigasi dan komunikasi akan meningkatkan kesadaran situasional di sepanjang koridor udara yang semakin sibuk dan persimpangannya dengan rute yang menghubungkan banyak wilayah dunia,” tambahnya, seperti dikutip Simple Flying.

Baca juga: Mengapa Benua Eropa dan Afrika Tidak Terhubung Jembatan atau Kereta Bawah Laut?

Infrastruktur bandara di Somalia masih jauh panggang dari api. Salah satu yang diandalkan adalah Bandara Internasional Aden Adde, yang berganti nama dari sebelumnya Bandara Internasional Mogadishu.

Bandara itu merupakan salah satu yang termahal dalam kaitannya dengan operasi penerbangan. Bayangkan, operator membayar tiga kali lipat lebih besar dari bandara di Kenya saat mengoperasikan penerbangan Fokker 50. Bila di Kenya penerbangan itu dikenai biaya US$400, di Somalia tarifnya mencapai US$1.200.

Alaska Airlines Jadi Maskapai AS Pertama Tinggalkan Gelas Plastik di Pesawat

Alaska Airlines resmi menjadi maskapai Amerika Serikat (AS) pertama yang tinggalkan gelas plastik di seluruh rute penerbangan. Maskapai setidaknya menghilangkan 2,2 juta pon plastik atau benda padat yang pada produksinya menggunakan energi fosil; termasuk menghilangkan 55 juta gelas plastik yang setara dengan berat 24 Boeing 737.

Baca juga: Dari Kecerdasan Buatan-Tinggalkan Botol dan Gelas Plastik di Pesawat, Ini Sederet Inovasi Maskapai AS

Sebagai gantinya, maskapai menggunakan gelas kertas bersertifikasi Forest Stewardship Council (FSC) di kabin utama. Di kursi first class, plastik digantikan dengan gelas dan mug yang dapat digunakan kembali.

Capaian Alaska Airlines menjadi maskapai pertama yang tinggalkan gelas plastik di pesawat dimulai pada tahun 2018. Ketika itu, maskapai tidak lagi menggunakan sedotan plastik sekali pakai. Ini adalah langkah lanjutan setelah di tahun 2017 menggunakan kaleng alumunium untuk sajian jus dan bir di pesawat.

Di akhir tahun 2021, Alaska Airlines mengklaim berhasil membuat armada Boeing 737 dan Airbus A320-nya lebih ringan. Bukan datang dari perubahan besar-besaran terhadap pesawat, karena itu mahal, melainkan mengganti botol, gelas, dan wadah plastik di pesawat dengan bahan-bahan daur ulang.

Selain berkontribusi mengurangi produksi sampah plastik, maskapai juga berkontribusi mengurangi emisi karbon. Bobot pesawat yang lebih ringan berarti mesin juga demikian dan membakar bahan bakar lebih sedikit dari biasanya.

Alaska Airlines diketahui menggandeng Boxed Water, yang terkenal eksis memproduksi gelas dan wadah dari kertas daur ulang, menjadikannya sebagai yang pertama di AS.

Pada prosesnya, itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Maskapai melakukan penelitian panjang terkait rasa, ketahanan makanan, dan tentu saja dari sisi kesehatan serta disempurnakan dengan feed back dari penumpang.

“Masalah terbesar yang kami alami adalah plastik sekali pakai. Bahkan jika Anda memiliki program daur ulang terbaik, persentase dari plastik itu akan berakhir di tempat pembuangan sampah dan bahkan ke laut. Berbasis di Pantai Barat, kehidupan laut dan keberlanjutan sangat penting bagi kami,” kata manager of guest products Alaska Airlines, Todd Traynor-Corey.

Tak berhenti sampai di situ, maskapai yang sudah berkomitmen mencapai netral karbon atau bebas emisi pada tahun 2040 tersebut juga berinovasi dengan menggunakan kecerdasan buatan (AI). Teknologi itu disebut sebagai Flyways, berfungsi untuk menyarankan rute yang lebih cepat, lebih lancar, dan lebih sedikit menghabiskan bahan bakar ke lokasi tujuan.

“Flyways mungkin adalah hal paling menarik yang pernah saya temui dalam teknologi penerbangan sejak saya bergelut di bidang ini,” kata Pasha Saleh, head of corporate development Alaska Airlines.

Baca juga: Singapore Airlines Luncurkan Tempat dan Alat Makan Ramah Lingkungan dari Kertas dan Bambu

Alaska Airlines juga telah mendorong penumpang untuk membawa botol air minum atau tumblr sendiri agar diisi sebelum penerbangan dimulai. Ini dipromosikan dengan tagar #FillBeforeYouFly.

Limbah plastik dari maskapai diprediksi IATA akan terus meningkat menjadi 10 juta ton per tahun pada tahun 2030 mendatang. Demikian dilansir Simple Flying.

Tandingi India, Cina Punya “Shen 24” – Lokomotif Listrik Terkuat dengan 40.000 Tenaga Kuda

Sebagai negara yang berseturu dalam konflik di perbatasan, rupanya Cina dan India bersaing dalam pencapaian teknologi lokomotif listrik. Setelah sebelumnya India meluncurkan lokomotif listrik yang diklaim sebagai yang terkuat di dunia, yakni WAG12 dengan 12.000 tenaga kuda, maka Cina dalam waktu yang tak terpaut jauh, juga meluncurkan lokomotif listrik, yang juga diklaim sebagai lokomitif listrik terkuat di dunia.

Baca juga: India Komersialkan Lokomotif Listrik Terkuat, Punya Tenaga 12.000 Tenaga Kuda

Lokomotif listrik yang diklaim Cina sebagai yang terkuat di dunia adalah “Shen 24.” Ketimbang WAG 12 milik India, maka Shen 24 disebut punya kekuatan 40.000 tenaga kuda atau output tenaga mencapai 28 MW.

Dikutip dari Csec.com, pada 25 Juni 2022, lokomotif Shen 24 telah beroperasi dengan aman di Baoshen Railway Group selama satu tahun. Selama setahun terakhir, Baoshen Railway Group telah berupaya untuk terus meningkatkan manajemen keselamatan cerdas “Shen 24” melalui aplikasi model, analisis dan definisi risiko, tanggap darurat, pendidikan, pelatihan, serta manajemen keselamatan.

Setidaknya ada 33 teknologi telah ditingkatkan dan diubah, termasuk sistem kontrol jaringan on-board, kinerja pengereman statis, interferensi elektromagnetik frekuensi radio eksternal, miniaturisasi konverter traksi, yang memungkinkan Shen 24 berjalan dengan aman sejauh 205.000 kilometer, menarik total 434 gerbong dengan 10.000 ton payload, dan mengangkut 3,7 juta ton kargo, dalam waktu operasi melebihi 3.700 jam.

Cina menyebut lokomotif ini memiliki 16 inovasi teknologi, dengan kapasitas 28.800 kilowatt terbesar di dunia untuk satu lokomotif dan gaya traksi terbesar di dunia sebesar 2.280 kN.

Baca juga: “Bon Bon,” Mengenal Legenda Lokomotif Listrik Pertama di Indonesia

Shen 24 punya panjang 106 meter dengan jumlah gandar terbesar di dunia, dan teknologi penggerak cerdas canggih, plus memanfaatkan sepenuhnya serangkaian teknologi baru seperti Internet +, big data, komputasi awan, kecerdasan buatan, untuk menunjukkan kepada dunia kecerdasan dalam kontrol, deteksi, pemeliharaan, transportasi, dan pengelolaan kereta api jarak jauh China.

Shen 24 disebut telah mencapai rekor dunia untuk daya traksi dalam transportasi kereta api.

Inilah Boeing 2707, Pesawat Supersonik “Gagal” Buatan AS Pesaing Concorde & Tupolev Tu-144

Amerika Serikat (AS) menganggap teknologi mereka adalah yang terdepan dan tercanggih. Karenanya, ketika Eropa, dalam hal ini Inggris dan Perancis, sukses membangun pesawat supersonik Concorde, AS tak tinggal diam dan mendorong Boeing bukan hanya sekedar membuatnya, tetapi melampauinya. Dari situlah lahir pesawat supersonik Boeing 2707. Sayangnya, itu adalah proyek gagal.

Baca juga: Tiga Negara Ini Tolak Penerbangan Supersonik Concorde, Dua dari Asia

Pengembangan pesawat supersonik Boeing 2707 sebetulnya sudah dimulai  sejak tahun 1962. Ketika itu, dunia berlomba membuat pesawat supersonik. Eropa, selaku salah satu pioneer teknologi dunia, tak ingin ketinggalan dan ikut meramaikan melalui proyek European Concorde. Demikian juga dengan Uni Soviet lewat proyek pengembangan pesawat supersonik Tupolev Tu-144.

Di atas kertas, seharusnya AS tak kesulitan mengembangkan pesawat penumpang berkekuatan supersonik. Sebab, sejak sebelum dan pasca Perang Dunia II, Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) sudah lebih dahulu mengembangkan pesawat supersonik, sekalipun untuk kebutuhan militer. Tetapi, DNA teknologi supersonik-nya sudah ada.

Optimis bisa mengembangkan pesawat supersonik, Presiden John F. Kenned menugaskan FAA untuk menyiapkan kajian terkait tujuan penerbangan nasional mulai tahun itu sampai tahun 1970. Di antara kajian tersebut adalah peluang transportasi supersonik yang akan menjadi pasar bagi warga AS.

Dilansir foundandexplained.com, pesawat supersonik buatan AS didesain untuk penerbangan transatlantik antara Eropa Barat dan AS bagian Timur non-stop tanpa mengisi bahan bakar. Karenanya, jangkauan minimalnya harus 6.400 km dan membawa sedikitnya 150 penumpang.

Tak seperti Concorde yang menggunakan badan pesawatnya menggunakan alumunium, AS, lewat pengalamannya membanguna pesawat supersonik A-12 Blackbird yang mencapai kecepatan tertinggi Mach 3.35 pada ketinggian 85 ribu kaki, memilih titanium untuk membuat badan pesawat. Ini akan membuat Concorde yang hanya mampu mencapai Mach 2.04 jauh tertinggal.

Baca juga: (Eksklusif) Inside Tupolev Tu-144: Pesawat Supersonik Pertama di Dunia Sebelum Concorde

Sebelum tahun 1966, AS merilis tender pengembangan pesawat supersonik. Ini diikuti oleh tiga peserta; Boeing, Lockheed, dan North American Aviation (NAA). NAA meluncurkan desain pesawat supersonik AS NAC-60. Namun itu ditolak karena kecil dan dinilai tak sanggup kalahkan Concorde.

Lockheed meluncurkan desain pesawat supersonik L-2000 yang mampu menampung 273 penumpang. Ini cukup menarik tetapi dinilai terlalu ambisius. Boeing meluncurkan desain Model 733-197 yang disebut juga Boeing 2707 yang mampu menampung 277 penumpang dalam dua kelas, first class 30 penumpang dan sisanya kelas ekonomi. Versi ini disebut juga Boeing 2707-100.

Pada tahun 1967, Boeing diumumkan sebagai pemenang tender. Boeing kemudian meluncurkan desain baru Model -200 yang dilengkapi canard di bagian depan, seperti pesawat jet. Model ini didesain setingkat di atas Concorde, meninggalkan desain sayap delta-V, dan menggantinya menjadi apa yang  disebut swing-wing atau sayap yang dapat berayun.

Belum tuntas, Boeing membuat desain baru Model 2707-300. Desainnya hampir mirip, hanya kapasitasnya dipangkas jadi 234 penumpang.

Pada Oktober 1969, pesawat supersonik Boeing 2707-300 (Boeing SST) mulai mendapat banyak pesanan. Di tahun ini, Concorde sukses melakukan penerbangan perdana, tepatnya pada 2 Maret 1969.

Tercatat, ada 122 pesanan Boeing SST dari 26 maskapai, seperti Alitalia, Canadian Pacific Airlines, Delta Air Lines, Iberia, KLM, Northwest Airlines, dan World Airways. Maskapai dijanjikan dapat melihat penerbangan perdana American Concorde pada 1970 dan mulai beroperasi secara komersial pada 1974.

Sayangnya, itu hanyalah janji yang tak pernah ditepati Boeing. Proyek pesawat supersonik buatan AS atau American Concorde akhirnya gagal. Setidaknya ada tiga penyebab gagalnya proyek itu.

Baca juga: 51 Tahun Sejak Terbang Perdana, Inilah ‘Jejak’ Supersonik Concorde yang Selalu Dikenang

Pertama adalah sonic boom. Sonic boom American Concorde mencapai 50 mil kali 2.000 mil. Ini dinilai terlalu berbahaya. Kedua, pertentangan dari aktivis lingkungan karena kekhawatiran bakal menguras ozon. Ketiga adalah uang. Tidak ada keinginan dari pemerintah untuk mengeluarkan uang besar.

Endingnya, proyek pesawat supersonik AS, Boeing 2707 diumumkan batal pada tahun 1971 dan Boeing sempat melakukan PHK besar-besaran karenanya.

Inilah Cuddle Seat, Kursi Pesawat yang Mungkinkan Penumpang Tidur ‘Pelukan’ Inovasi Boeing

Boeing tahu betul urusan tidur di pesawat dalam penerbangan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi sebagian penumpang, mungkin sangat mudah. Tinggal bersandar ke kursi, sedetik kemudian langsung tidur mendengkur. Tapi, tidak bagi yang lain. Karenanya, Boeing pun memberi solusi lewat cuddle seat. Kursi ini dinilai dapat memudahkan penumpang tidur. Bagaimana cara kerjanya?

Baca juga: Bagaimana Cara Terbaik Tidur di Pesawat? Ini 12 Tipsnya

Cuddle seat sendiri sudah diajukan hak paten di Amerika Serikat (AS) oleh Boeing pada tahun 2015 silam dan masuk kategori “Sistem Pendukung Kendaraan Transportasi Tegak”.

Sebagaimana paten lain yang diajukan Airbus ataupun yang diajukan Boeing itu sendiri, tidak semuanya mendapat respon positif di pasaran. Banyak faktor kenapa itu terjadi, salah satunya tren; termasuk paten atas inovasi cuddle seat. Ketika itu mungkin belum dipandang perlu dan menarik oleh pasar.

Akan tetapi, seiring waktu, banyak pihak menilai paten cuddle seat mungkin cukup menarik bila dihadirkan di penerbangan sungguhan, bukan sekadar konsep belaka. Lantas, bagaimana cara kerja kursi cuddle seat Boeing yang diklaim bisa memudahkan penumpang tidur di pesawat?

Cuddle seat sekilas seperti orang yang sedang berpelukan. Hanya saja, objek lain yang ‘dipeluk’ penumpang tersebut bukanlah orang lain melainkan sejenis bantal. Konsepnya mirip dengan penumpang tidur di atas meja baki. Bedanya, meja baki membuat penumpang yang tidur terlalu membungkuk sehingga tidak nyaman dan berpotensi cedera atau paling tidak pegal linu.

Posisi objek yang dipeluk pada konsep cuddle seat Boeing bisa dibilang lebih ideal dibanding tidur di atas meja baki karena berada tepat di depan wajah saat penumpang sedikit menunduk. Dengan begitu, penumpang hanya perlu menunduk dan menyandarkan wajah di bantal yang didesain berlubang di bagian tengah. Mirip seperti donat. Ini berfungsi agar penumpang tetap bisa bernapas dengan baik.

Cara mengoperasikannya cukup mudah. Penumpang mengambil airbag atau sejenis bantal khusus desain Boeing di bawah kursi. Kemudian tarik strap pada airbag dan sangkutkan ke mating buckle yang ada di dekat sandaran kepala pada kursi. Keluarkan head cushion sebagai alas menaruh wajah untuk tidur, sesuaikan posisi airbag dengan posisi duduk dan rebahkan kepala ke head cushion.

Bagi penumpang yang tidak ingin kedua tangan dibiarkan menggantung atau diletakkan di atas paha, bisa memeluk airbag, seperti nama konsep ini, cuddle seat.

Secara teori, seperti dikutip dari Simple Flying, ini sangat memudahkan penumpang untuk tidur. Namun, dari sisi kesehatan atau paling tidak higienisitas, ini masih perlu dipertanyakan. Bayangkan, Anda meletakkan wajah anda di bantal bekas orang lain yang tidak kita kenal dan tahu asal usulnya. Tentu sulit diterima.

Sudah begitu, posisi airbag itu sendiri yang diletakkan di bawah kursi menjadi masalah lain yang jadi penghalang paten ini diimplementasikan. Selama ini, space di bawah kursi diisi oleh bagasi tangan atau tas penumpang.

Baca juga: Apakah Pramugari Izinkan Penumpang Tidur di Kursi Pesawat yang Kosong Bak di Kasur?

Lagi pula, di bawah kursi ada pelampung yang dalam kondisi darurat harus mudah dijangkau. Dikhawatirkan, adanya airbag cuddle seat ini justu mempersulit dalam keadaan darurat.

Alhasil, implementasi cuddle seat di penerbangan sungguhan pun menjadi tidak jelas. Pada akhirnya, konsep ini hanya akan menjadi arsip. Kita nantikan saja bagaimana ke depannya.