Mau Jadi Investigator Kecelakaan Udara? Ini Sederet Syaratnya

Investigator Kecelakaan Udara (Air Accident Investigators) memainkan peranan sangat penting dalam menciptakan keamanan dan keselamatan penerbangan. Salah satunya caranya ialah dengan mengungkap penyebab kecelakaan udara dan merekomendasikan banyak hal  mulai dari desain sampai prosedur semata agar kejadian serupa atau kecelakaan lainnya tak terjadi.

Baca juga: Ada “Investigator Ridge” di Layar IFE Etihad, Apakah Itu?

Mengingat posisinya itu yang sangat penting, Investigator Kecelakaan Udara harus memiliki kualifikasi tinggi di berbagai bidang, mulai dari psikologi untuk mempelajari kecederungan pilot sebelum terjadinya kecelakaan, keputusan pilot, dan banyak lainnya. Lantas, apa saja syarat menjadi seorang Investigator Kecelakaan Udara?

Masing-masing negara tentu saja mempunyai instansi yang fokus di bidang investigasi kecelakaan, dalam hal ini kecelakaan udara. Di Inggris ada AAIB (Cabang Investigasi Kecelakaan Udara) dan di Amerika Serikat (AS) ada NTSB (Dewan Keselamatan Transportasi Nasional).

Di kedua instansi tersebut, selain syarat umum seperti harus memiliki gelar sarjana di bidang kedirgantaraan, penerbangan, listrik, elektronik, dan mekanik dan gelar master di bidang yang lebih spesifik lagi terkait kecelakaan udara dan keselamatan penerbangan, pengalaman menjadi syarat lainnya yang juga wajib.

Itu berarti, calon Investigator Kecelakaan Udara harus memiliki sertifikasi pilot dan harus mempunyai pengalaman terbang sebagai pilot, insinyur pesawat terbang, ATC, dan banyak lainnya. Pengalaman ini nantinya akan sangat berguna dalam memahami kerangka kejadian penyebab kecelakaan pesawat udara secara utuh.

AAIB dan NTSB juga mensyaratkan kemampuan di bidang psikologi dalam memahami kondisi batin pilot sampai terjadinya kecelakaan. Psikologi yang dimiliki Investigator Kecelakaan Udara terbukti sukses mengungkap banyak kecelakaan udara, salah satunya kecelakaan pesawat Boeing 747-200F Korean Air Cargo dengan nomor penerbangan 8509 di Bandara London Stansted, Inggris, tak lama setelah lepas landas.

Hasil investigasi mengungkap, selain masalah teknis, penyebab utama kejadian adalah kapten pilot yang seorang mantan perwira tinggi tentara terlalu berwibawa. Sehingga kopilot dan flight engineer tidak berani mengkoreksi kapten sekalipun keduanya tahu kapten pilot salah menilai insiden yang berujung fatal.

Saat terjadi kecelakaan udara, Investigator Kecelakaan Udara adalah orang pertama yang datang ke lokasi, mengumpulkan barang bukti, memetakan lokasi, memdokumentasikan kejadian, menyusun riwayat penerbangan, melihat data, menganalisis FDR (flight data recorder) dan CVR (cockpit voice recorder), membuat urutan kecelakaan, menggambarnya, sampai mengungkap kecelakaan.

Di Indonesia sendiri, cara kerja dan tanggung jawab Investigator Kecelakaan Udara kurang lebih sama dengan yang di atas. Demikian juga dari segi persyaratan. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan kecil.

Baca juga: Diam-diam ‘Warisan’ Alm. Dirut Sardjono Jhony Jadi Solusi KNKT Akhiri Kecelakaan di TransJakarta

Dikutip dari jdih.kemenkeu.go.id, Investigator Kecelakaan Udara bukanlah anggota dari KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi). Itu berarti Investigator Kecelakaan Udara bukanlah PNS, tetapi mereka bisa berasal dari unsur PNS dan swasta.

Mengingat posisinya yang sangat penting, Investigator Kecelakaan Udara mendapat gaji sangat besar. NTSB diketahui membayar sampai Rp1,7 miliar per tahun. AAIB juga demikian dan angkanya tak jauh-jauh dari itu. Di Indonesia, seorang investigator mendapat gaji Rp144 juta per bulan, tergantung jabatan dan posisinya.

Terbangkan Pesawat Kosong Tanpa Penumpang dan Kargo, Apakah Pilot Dibayar?

Selain mendapat gaji sebagaimana karyawan lainnya, pilot maskapai turut dibayar berdasarkan jam terbang mereka. Namun, saat pilot menerbangkan pesawat dalam kondisi tanpa penumpang dan kargo alias kosong, apakah pilot tetap dibayar berdasarkan jam terbang, ada tidaknya penumpang dan kargo?

Baca juga: (2) 10 Maskapai yang Menggaji Pilot Paling Tinggi di Dunia

Di dunia, ada beragam jenis pekerjaan pilot, mulai dari airline pilot, corporate pilot, cargo pilot, charter pilot, private pilot, flight instructor, law enforcement pilot, aerial firefighter pilot, sampai crop duster pilot.

Besaran gaji jenis pilot di atas tentu berbeda-beda. Selain jenis pekerjaannya juga beda, perbedaan gaji pilot juga didasari oleh tipe operasional, pesawat yang mereka terbangkan, posisi atau jabatan, serta seberapa lama mereka bekerja untuk perusahaan. Belum lagi pundi-pundi uang lainnya yang mungkin bisa diraup pilot di beberapa kondisi.

Airline pilot pay normalnya dihitung berdasarkan per jam. Tetapi, turunan dari itu bergantung pada setidaknya sembilan kondisi. Sembilan kondisi tersebut mulai dari pilot pay rigs, trip rig pay, duty rig pay, block rig pay, determining pay earned based on pilot pay rigs, work rules effect on pay, paid time of within the rig system, pilot employer operations and quality of life, hingga pilot per diem day.

Pilot pay rigs pada intinya pilot dibayar berdasarkan trip atau tugas yang diberikan kepada mereka, mulai dari satu hari hingga satu minggu. Hal itu tentu berbeda dengan trip rig pay. Rig system tersebut memungkinkan pilot dibayar berdasarkan rasio perjalanan.

Baca juga: Pernah Dengar dan Tahu Makna Ferry Flight? Simak di Sini Jika Belum

Seumpama, dalam empat hari, pilot menyelesaikan perjalanan sekitar 78 jam. Biasanya rasio yang digunakan 1:3, 1:4, dan 1:5. Dengan rasio, misalnya, 1: 4 maka 78 dibagi 4 dan hasilnya adalah 19,5. Jika pilot dibayar berdasarkan trip rig, pilot akan mendapat bayaran 19,5 jam.

Senada dengan trip rig, duty rig juga memungkinkan pilot dibayar berdasarkan rasio. Sebagai contoh, dalam empat hari, pilot berhasil terbang selama 42 jam, dengan rincian 8-12-12-10 hari berturut-turut dari hari pertama samapi ke empat.

Rasio yang digunakan biasanya berkisar 1:1,5 – 1:3. Itu berarti, dengan rasio, misalnya, 1:2 pilot akan dibayar sebanyak 21 jam, hasil dari 42 dibagi 2. Hal itu justru berbanding terbalik dengan block rig pay, dimana model pembayaran pilot cenderung statis. Maksudnya, bila pilot menyelesaikan 25 jam perjalanan dalam sepekan, maka, ia dibayar seharga itu.

Lain lagi dengan determining pay earned based on pilot pay rigs. Sistem ini dinilai menguntungkan pilot dengan pembayaran berdasarkan catatan tertinggi. Biasanya, pilot diminta untuk memilih mereka dibayar untuk model yang mana di antara tiga ini, away from base, duty time, dan actual flight time.

Dengan model determining pay earned, maka, pilot tak perlu repot memilih ketiga itu. Sebab, sudah otomatis, pembayaran tertinggilah yang akan diberikan ke pilot. Misalnya, berdasarkan away from base, maka pilot mendapat jam terbang 19,5 jam. Berdasarkan duty time, pilot mendapatkan 21 jam. Sedangkan bila berdasarkan actual flight time, pilot mendapat 25 jam. Jika demikian, pilot otomatis akan dibayar sebanyak 25 jam kerja.

Pada intinya -menjawab pertanyaan di awal- mulai dari pilot pay rigs sampai pilot per diem day, pilot profesional dibayar berdasarkan jam penerbangan, tak peduli apakah penerbangan itu ferry flight atau kosong tanpa penumpang dan kargo atau tidak. Begitu menurut Imran Ismawi, pilot sebuah maskapai, seperti dikutip dari Quora.

Baca juga: (2) Hidup Bak ‘Sultan,’ Inilah Rincian Umum Sistem Gaji Pilot! Pantas Saja Bergelimang Harta

Lebih lanjut, selain pilot maskapai (airline pilot), pilot lain, seperti private pilot, mungkin saja tidak dibayar saat menerbangkan pesawat kosong.

Karenanya, pada penerbangan ferry flight, operator private jet bekerja sama dengan sekolah penerbangan untuk memberikan kesempatan pilot newbie menambah jam terbang secara gratis. Di saat yang bersamaan, operator bisa memindahkan pesawat gratis tanpa membayar pilot. Ini menjadi win-win solution bagi kedua belah pihak.

Cross Island Line Tahap 1 Mulai Dibangun, Jalur Metro Bawah Tanah Kedelapan dan Terpanjang di Singapura

Land Transport Authority (LTA) atau Otoritas Transportasi Singapura, telah memulai pembangunan Cross Island Line (CRL) Fase 1 setelah upacara peletakan batu pertama yang diresmikan Menteri Transportasi, Iswaran, di lokasi stasiun CRL Bright Hill pada 18 Januari 2023.

Baca juga: Dari Bekas Kuburuan Sampai Rawa, Inilah Fakta Unik Tentang Nama Stasiun MRT Singapura

CRL sepanjang 50 km akan menjadi jalur metro bawah tanah kedelapan dan terpanjang di Singapura, yang menghubungkan pusat-pusat utama seperti distrik Jurong Lake, distrik Punggol Digital, dan Changi. Jalur yang akan dibuka dalam tiga tahap ini diharapkan dapat mengangkut lebih dari 600.000 penumpang per hari ketika tahap pertama dibuka pada tahun 2030.

CRL Fase 1 terbentang sepanjang 29 km dengan 12 stasiun dari Aviation Park ke Bright Hill, dengan persilangan ke Jalur Timur-Barat di stasiun Pasir Ris, Jalur Timur Laut di stasiun Hougang, Jalur Utara-Selatan di Stasiun Ang Mo Kio dan Thomson-Pantai Timur Jalur di Stasiun Bright Hill.

LTA meluncurkan tender untuk CRL Tahap 2, yang terdiri dari enam stasiun dari Turf City ke Jurong Lake District, sementara studi teknik sedang berlangsung untuk tahap ketiga.

Stasiun Bright Hill juga akan terhubung dengan Transit Priority Corridor (TPC) sepanjang 2 km di sepanjang Sin Ming Avenue yang akan mencakup jalur bus khusus, jalur bersepeda baru, dan jalan setapak yang lebih lebar. Ketika TPC selesai sepenuhnya pada tahun 2029, penduduk di kawasan Sin Ming akan memiliki lebih banyak pilihan perjalanan untuk menuju stasiun MRT Bright Hill dan tempat rekreasi seperti Bishan-Ang Mo Kio Park.

Berbagai teknologi telah diadopsi untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan konstruksi di CRL. Ini termasuk alat realitas virtual dan augmented untuk meningkatkan kemampuan dan memfasilitasi koordinasi. Produktivitas lebih ditingkatkan melalui platform seperti simulasi komputer dari berbagai skenario operasi di Depot Changi East.

Tunnel Boring Machine (TBM) berdiameter besar setinggi 12,6 meter akan digunakan untuk membangun berbagai bentangan terowongan antara stasiun CRL seperti antara stasiun Aviation Park dan stasiun Loyang, dengan masing-masing terowongan membawa dua jalur.

Baca juga: Tunnel Boring Machine Pertama untuk Jalur MRT Jakarta Fase 2A Tiba di Pelabuhan Tanjung Priok

Nantinya rangkaian kereta komuter CRL akan dtempatkan di Depot Timur Changi seluas 57 hektar, tidak jauh dari Pusat Pameran Changi. Depo tersebut akan mencakup Pusat Kendali Operasi serta fasilitas perawatan hingga 70 kereta CRL, dan akan dilengkapi dengan panel surya fotovoltaik untuk menghasilkan energi terbarukan untuk operasi depot.

Wing of Zion, “Air Force One” Israel Berbasis Boeing 767 Kembali Mengudara: Dilengkapi ‘Ruang Perang’

Setelah tertatih-tatih di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Israel Naftali Bennett dan semakin suram di bawah PM Yair Lapid, Wing of Zion, proyek pesawat Air Force One Israel kembali dilanjutkan di bawah pimpinan PM Benjamin Netanyahu. Pada 30 Januari lalu, pesawat berbasis Boeing 767-300ER itu sukses melakukan uji terbang lanjutan.

Baca juga: Inilah Air Sinai, Maskapai ‘Hantu’ yang Hubungkan Israel dan Mesir!

Proyek senilai US$241 juta yang dijuluki Wing of Zion itu didasari atas mahalnya biaya kunjungan luar negeri kepala negara, dalam hal ini PM dan Presiden Israel.

Meski kunjungan luar negeri kedua pemimpin Israel itu tidak terlalu banyak atau sebanyak negara besar dan berpengaruh, sekitar 10 kunjungan per tahun, tetapi, PM Israel terdahulu yang saat ini kembali menduduki kursi tersebut, Benjamin Netanyahu, menganggap penting keberadaan pesawat kenegaraan semisal Air Force One. Gagasan ini sudah muncul sejak tahun 2013 silam.

Selama bertahun-tahun, prosesnya terus mandek, baik di tingkat pemerintahan karena perbedaan pandangan antar pemimpin tinggi negara maupun protes keras dari masyarakat karena dianggap membuang-buang anggaran.

Pada tahun 2019, Israel, di bawah pimpinan PM Benjamin Netanyahu, membeli pesawat Boeing 767-300ER bekas pakai Australian Airlines dan Qantas. Pesawat berusia 20 tahun itu sukses melakukan uji terbang perdana pada 3 Novemver 2019.

Setelah Israel berganti kepemimpinan dan posisi PM jatuh ke tangan Naftali Bennett, masa depan pesawat kenegaraan Israel Wing of Zion menjadi suram. Di bawah PM baru Yair Lapid, pesawat itu bahkan sempat ingin dijual tanpa ada pemimpin dari koalisi pemerintahan yang menolaknya.

Di tahun 2022, koalisi pemerintahan bubar dan Israel melakukan pemilihan PM baru sampai akhirnya Benjamin Netanyahu sukses kembali menjabat.

Sebagai pihak yang menggagas adanya pesawat kenegaraan, ia langsung tancap gas melanjutkan proyek Wing of Zion. Terbaru, pada 30 Januari 2023 lalu, seperti dikutip dari Times of Israel, peawat Air Force One Israel itu sukses  lepas landas dari pangkalan angkatan udara Nevatim di selatan.

Pesawat kemudian melakukan sejumlah manuver udara, dan mendarat di Bandara Ben Gurion. Setelah menghabiskan beberapa waktu di sana untuk pemeriksaan lebih lanjut, pesawat diterbangkan kembali ke Nevatim. Belum jelas apakah Wing of Zion pesawat kenegaraan Israel itu siap menerbangkan PM dan Presiden Israel atau tidak.

Baca juga: Bukan Cuma Bisa Mengecam, Indonesia Pernah Larang Pesawat PM Israel Lintasi Ruang Udara Indonesia

Wing of Zion diketahui memiliki banyak fitur canggih selama dimodifikasi manufaktur dalam negeri Israel, mulai dari kantor pribadi PM, kamar tidur, kaman mandi dengan shower, kitchen set, ruang meeting, bahkan ada ‘ruang perang’.

Sayangnya, tak ada detail lebih lanjut apa yang dimaksud dengan ‘ruang perang’ tersebut. Demikian juga dengan kapasitas penumpang. Sebelumnya pesawat Wing of Zion diajukan mampu mengakut 100-120 orang. Tetapi itu dikritik habis oleh Pengawas Keuangan Negara yang menganggap rata-rata penerbangan PM hanya berisi 61 orang.

Libatkan Dua Kepala Negara, Airbus dan Qatar Airways Negosiasi Penyelesaian Kasus A350

Airbus dan Qatar Airways dikabarkan sedang menuju kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan pahit atas pengadaan pesawat widebody A350 yang telah dilarang terbang. Setelah berbulan-bulan perseteruan publik, tidak ada jaminan bahwa kesepakatan dapat dicapai setelah upaya sebelumnya untuk menghindari persidangan tingkat tinggi di London tahun ini dibatalkan.

Baca juga: Makin Panas, Airbus Tuntut Qatar Airways Rp3,1 Triliun Gegara Batal Beli Dua Pesawat A350

Dikutip dari reutes.com, dua sumber mengatakan bahwa ada indikasi yang menggembirakan dan negosiasi telah dipercepat setelah kesibukan aktivitas politik dan pertemuan empat arah yang lancar antara kedua perusahaan dan regulator masing-masing (Perancis dan Qatar) di Doha pekan lalu.

“Akan ada kesepakatan,” kata salah satu sumber, sementara yang lain memperingatkan bahwa pembicaraan masih berlangsung. Airbus dan Qatar Airways sejauh ini belum memberik komentar resmi.

Kedua perusahaan telah bertarung di pengadilan Inggris selama berbulan-bulan atas dampak keselamatan dari pengelupasan cat yang mengekspos korosi dan celah di sub-lapisan proteksi petir.

Perselisihan antara dua pemain terbesar penerbangan telah menyebabkan pembatalan pesanan skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Airbus. Perseteruan antara dua perusahaan unggulan Perancis dan Qatar juga menjadi perhatian para pemimpin kedua negara.

Sumber diplomatik mengatakan kepada Reuters bulan ini bahwa Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani telah berbicara tentang perselisihan tersebut dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Keuangan Perancis Bruno Le Maire juga membahas masalah ini selama kunjungan empat hari di wilayah Teluk termasuk singgah pada Minggu di Doha, di mana dia bertemu dengan emir dan pejabat lainnya, kata sumber kementerian keuangan Perancis.

Kerusakan yang dilaporkan pada sistem antipetir pada Airbus A350 telah mendorong Qatar Airways untuk berhenti menerima pengiriman dan menuntut Airbus dengan jumlah yang ganti rugi yang telah meningkat jauh di atas US$1 miliar.

Regulator Qatar telah mengandangkan setidaknya 29 unit pesawat dengan alasan pertanyaan keselamatan yang belum terjawab. Airbus telah mengakui adanya masalah kualitas dengan model penerbangan jarak jauh perdananya, tetapi menyangkal adanya risiko terhadap keselamatan.

Qatar Airways menuduh Airbus berkolusi dengan Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa – European Union Aviation Safety Agency (EASA), yang menyatakan jet itu aman. Ditanya tentang klaim tersebut, direktur eksekutif agensi tersebut, Patrick Ky, mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara: “Tentu saja tidak.”

Baca juga: Airbus Batalkan Kontrak Rp85 Triliun, Qatar Airways Ngamuk-Bocorkan Video Buruknya Kualitas Cat Pesawat A350

Sementara itu Airbus menuduh Qatar Airways sebagai tangan tersembunyi di balik keputusan untuk meng-grounded A350 oleh Otoritas Penerbangan Sipil Qatar – Qatar Civil Aviation Authority, tuduhan yang dibantah oleh maskapai.

Mobil Terbang X2 dari XPeng AeroHT Meraih Izin Terbang dari Pemerintah Cina

XPeng AeroHT, manufaktur mobil terbang asal Negeri Panda, mengumumkan telah mendapatkan izin bersyarat dari Civil Aviation Administration of China (CAAC) untuk melakukan penerbangan wahana electric vertical take-off and landing (eVTOL) berawak X2. Izin tersebut menjadi yang pertama dikeluarkan otoritas transportasi Cina untuk wahana eVTOL.

Baca juga: Vertical Aerospace Memulai Uji Terbang Prototipe Taksi Udara VX4 eVTOL

Dengan dirilisnya izin tersebut, memungkinkan XPeng AeroHT untuk melanjutkan pengembangan wahana menuju produksi massal eVTOL seperti mobil terbang generasi keenam yang dijadwalkan untuk diproduksi tahun depan.

Sejak didirikan pada tahun 2013, AeroHT telah melakukan lebih dari 15.000 penerbangan aman dengan tujuan menggabungkan teknologi otomotif dan kedirgantaraan untuk mengembangkan kendaraan terbang listrik domestik yang aman dalam skala besar.

Sebagai eVTOL generasi kelima AeroHT, X2 telah menyelesaikan lebih dari 3.000 uji terbang sejak lepas landas perdananya pada Juni 2021, termasuk penerbangan publik pertamanya ke luar negeri di Dubai musim gugur lalu.

Pendiri XPeng He Xiaopeng sebelumnya berspekulasi bahwa impiannya untuk membuat mobil terbang akan dimulai dengan sejumlah kecil eVTOL setelah tahun 2024, diikuti oleh jumlah kendaraan yang jauh lebih besar yang menghuni langit pada tahun 2030.

Perusahaan membagikan rincian sertifikasi terbarunya di pos WeChat, menyampaikan bahwa mereka telah secara resmi menerima izin penerbangan khusus, yang secara langsng, X2 XPeng adalah eVTOL pertama yang dioperasikan manusia untuk mendapatkan izin bersyarat di seluruh negeri.

Baca juga: Airbus Gandeng MAGicALL, Kembangkan Motor Listrik Taksi Udara eVTOL CityAirbus NextGen

Ini adalah langkah besar lainnya untuk XPeng AeroHT karena tampaknya akan menggunakan sertifikasi terbarunya dengan X2 untuk mendukung pengembangan dan produksi X3.

Dalam Keadaan Darurat, Bagaimana Airbus A380 Mendarat di Bandara Terdekat yang Tak Penuhi Standar A380?

Airbus A380 merupakan pesawat komersial terbesar di dunia. Ukurannya melebihi pesawat biasanya membuat pesawat superjumbo itu tidak bisa mendarat di semua bandara. Hanya bandara tertentu saja. Menariknya, dalam keadaan darurat dan di saat yang bersamaan bandara terdekat tak ada yang penuhi standar pelayanan A380, bagaimana cara pilot menyikapinya?

Baca juga: Kenapa Pesawat Airbus A380 Tidak Pernah Mendarat di Indonesia?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu diketahui terdapat beberapa persyaratan dasar bandara agar Airbus A380 dapat mendarat. Persyaratan yang paling krusial adalah kekuatan runway (landasan pacu) dan taxiway dalam menahan tekanan dari landing gear pesawat serta panjang runway.

Di dunia, ukuran runway berbeda-beda tergantung kebutuhan. ICAO sendiri sudah mengatur dan mengklasifikasikan runway dalam empat golongan atau kode (code).

Code number 1 panjang landasan pacu kurang dari 800 meter. Code number 2, panjang landasan pacu antara 800 meter sampai 1.200 meter. Code number 3, panjang landasan pacu mulai dari 1.200 meter sampai 1.800 meter.

Code number 4, panjang landasan pacu mulai dari 1.800 meter sampai 1.900 meter. Terakhir, runway dengan kode nomor 6 memiliki panjang landasan pacu mulai dari 1.900 atau lebih hingga 4.200 meter.

Seperti panjangan runway, tingkat kekuatan runway juga sebetulnya sudah diatur dan terdapat beberapa klasifikasi. Namun, tetap saja, ketebalan dan lapisan atasnya berbeda-beda. Ada yang menggunakan betol dan lainnya aspal. Secara teori, beton lebih kuat sebagai permukaan runway dibanding aspal.

Baca juga: Bandara Auckland Kebanjiran, Airbus A380 Emirates Terbang 13 Jam dari Dubai ke Dubai

Menurut mantan Director of Safety Air Transport Association, Tom Farrier, dalam kondisi darurat, sedikitnya ada tiga isu yang paling utama agar A380 bisa mendarat di bandara terdekat dan lepas landas setelahnya. Pertama adalah landing dengan aman. Kedua, penumpang turun dengan aman. Ketiga, pesawat dapat lepas landas dan melanjutkan penerbangan.

Dalam kondisi kosong tanpa penumpang dan kargo, A380 memiliki berat 500 ribu pound dan membutuhkan panjang landasan sejauh 1.600 meter. Dalam kondisi dipenuhi penumpang dan kargo serta bahan bakar, beratnya bertambah jadi 800 ribu pound lebih.

Dengan asumsi landing elevation 4.000 kaki, diperlukan tambahan panjang landasan sejauh 1.100 kaki atau 350 meter lagi menjadi 1.950 meter. Kekuatan runway pun tinggal disesuaikan saja dengan bobot pesawat.

Kita tahu, sebelum terbang, pilot-kopilot bertemu dan membahas berbagai hal, salah satunya rute penerbangan; termasuk bandara terdekat, dalam hal ini yang bisa melayani pendaratan Airbus A380.

Karenanya, dalam kondisi darurat, tak ada pilihan lain bagi pilot A380 kecuali mengarahkan pesawat ke bandara terdekat sesuai klasifikasi. Jaraknya pun biasanya tak terlalu jauh dari rute yang dilewati pesawat.

Andai benar-benar terpaksa segera di bandara terdekat dan tidak sesuai spesifikasi (sekalipun ini kecil kemungkinan terjadi), pilot biasanya akan membuang bahan bakar sebanyak mungkin untuk mengurangi bobot pesawat.

Baca juga: Aneh, Emirates Beli Airbus A380 Rp470 Miliar Saat Maskapai Lain Pensiunkan

Begitu dirasa bobot sudah sangat minimum, pesawat dapat mendarat dengan penuh hati-hati. Bila tidak ada garbarata dua tingkat, operator tetap bisa menggunakan garbarata biasa. Pesawat mungkin akan terkendala dengan suplai avtur. Tetapi itu bisa disuplai dari bandara lain terdekat. Tugas paling berat adalah menerbangkan kembali pesawat. Apalagi di runway yang sangat terbatas.

Dalam kondisi itu, pesawat harus diterbangkan oleh pilot khusus yang sangat ahli menerbangkan A380 agar bisa keluar dari bandara tersebut. Sebelum itu, bila perlu beberapa area taxiway dan runway harus dilakukan penguatan agar ban pesawat tak amblas.

Arab Saudi Beri Penumpang Flynas dan Saudia Visa Transit 4 Hari, Bisa Umrah Gratis

Arab Saudi memberikan visa transit selama empat (4) hari bagi penumpang Flynas dan Saudia secara gratis. Kebijakan tersebut berlaku mulai Senin 30 Januari 2023. Selain umrah, traveler sekaligus penumpang yang dapat visa transit tersebut dapat mempergunakannya untuk berbagai aktivitas lain, seperti mengunjungi destinasi wisata sampai urusan bisnis.

Baca juga: Dikejar Target 100 Juta Wisatawan oleh Kerajaan Arab Saudi, Saudia Putar Otak

Visa transit (stopover) gratis dari pemerintah Arab Saudi untuk penumpang Flynas dan Arab Saudi itu didapat secara otomatis seiring pemesanan tiket. Empat jam setelah tiket dipesan, penumpang akan mendapat email masuk berisi eVisa.

Sebelumnya, pada tahun 2019, Arab Saudi hanya memberikan eVisa itu untuk penumpang dari negara-negara tertentu seperti Uni Eropa, AS, Rusia, Malaysia, dan negara lainnya. Mulai kemarin, itu diubah. Dengan begitu, siapapun dari negara manapun bisa mendapat eVisa Arab Saudi gratis selama memiliki tiket pesawat Flynas dan Saudia.

“Pemegang visa dapat tinggal di Arab Saudi selama empat hari dan durasi visa adalah tiga bulan. Visa itu gratis dan akan dikeluarkan secara instan bersama dengan tiket penerbangan,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, dikutip dari Simple Flying, Selasa (31/1).

Pemberian visa gratis empat hari bagi penumpang Flynas dan Saudia adalah salah satu strategi Arab Saudi di bawah pimpinan Putra Mahkota Muhammad bin Salman dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Arab Saudi melalui visa jangka pendek.

Strategi meraih banyak kunjungan wisatawan dengan cara menggratiskan visa ke penumpang pesawat terbukti berhasil. Salah satu pesaing terdekat Arab Saudi dan sudah lebih dahulu melakukannya adalah Uni Emirat Arab (UEA).

UEA sudah lama memberikan visa gratis ke penumpang maskapai Emirates dan Etihad mengajukan visa secara online. Jadi, penumpang tak perlu khawatir masuk Abu Dhabi dan Dubai tanpa visa.

Lewat kebijakan itu, Abu Dhabi dan Dubai serta emirat lain pun sukses mendatangkan banyak traveler dunia. Tak pelak Arab Saudi, yang tengah meningkatkan sektor pariwisata terhadap pendapatan negara, turut melakukan langkah serupa.

Sejak mulai memerintah Arab Saudi, Muhammad bin Salman langsung membuat banyak gebrakan, salah satunya mengurangi ketergantungan kerajaan terhadap minyak. Sebagai gantinya, sektor pariwisata dimaksimalkan. Kebijakan ini disebut sebagai Visi 2030.

Baca juga: Arab Saudi Buka Program Visa on Arrival Bagi Pelancong asal Amerika Serikat, Inggris dan Eropa

‘Visi 2030’ sendiri ialah sebuah rencana pembangunan jangka panjang Arab Saudi yang menekankan pada diversifikasi ekonomi agar tak hanya mengandalkan minyak bumi yang harganya terus turun.

Dana untuk proyek ini mencapai US$4 miliar (Rp53,33 triliun), yang diperkirakan bisa meningkatkan ekonomi Saudi dan menciptakan 35.000 lapangan pekerjaan baru. Harapan Arab Saudi adalah dapat menarik 100 juta pengunjung sepanjang tahun 2030.

Bandara Changi Singapura, Bandara Pertama di Luar Eropa yang Sanggup Layani A380

Bandara Changi dikenal dengan inovasi dan adaptasinya terhadap demand pasar. Salah satunya saat menyesuaikan dengan spesifikasi Airbus A380. Terlebih, Singapore Airlines juga menjadi salah satu operator pesawat komersial terbesar itu. Tak heran, bandara yang terletak di Singapura tersebut menjadi bandara pertama di luar Eropa yang dapat melayani penerbangan komersial Airbus A380.

Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Singapore Airlines Jadi Maskapai Pertama Operasikan Airbus A380

Sebagai pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 memiliki dimensi yang bikin geleng-geleng kepala.  Pesawat itu memiliki bentang sayap sampai 80 meter (ICAO Code F), gear span selebar 14.31 meter (Code F), lebar badan pesawat 7.14 meter (RFF CAT 10), panjang 72.73 meter, dan tinggi 24.1 meter.

Celakanya, tak semua bandara memiliki spesifikasi seperti atau melebihi di atas. Hal ini tentu wajar mengingat belum pernah ada pesawat komersial sebesar itu di zamannya, sehingga wajar bila aerodrome tak ada yang memenuhi spek tersebut. Karenanya, bandara-bandara sibuk di dunia pun menyesuaikan diri menyambut kehadiran A380. Salah satunya Bandara Changi Singapura.

Dilansir airport-technology.com, sejak masih dikembangkan pada tahun 1990an, Airbus mendapat banyak masukan terkait dampak operasional bandara terhadap pesawat A380 yang dimensinya sangat besar dan belum pernah ada sebelumnya.

Demikian juga dengan ICAO, mendapat banyak masukan dari para insinyur dunia terkait metode paling efisien untuk bandara agar bisa melayani A380 tanpa mengeluarkan banyak uang untuk mengikut berbagai aturan sesuai Annex 14.

Berbekal dari penelitian para insinyur, informasi dari Airbus, dan rekomendasi ICAO, Bandara Changi pun berbenah. Pada November tahun 2005, pesawat double-decker A380 tiba di Changi untuk uji verifikasi kesesuaian bandara. Dua tahun setelahnya atau pada 25 Oktober 2007, Bandara Changi menjadi bandara pertama di luar Eropa yang melayani penerbangan A380.

Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS), diketahui melakukan sejumlah penyesuaian bandara. Di antaranya, passenger loading bridge (PLB) ketiga atau sering juga disebut garbarata tingkat dua yang memungkinkan penumpang mengaksesnya langsung dari dek atas. Jadi, tidak perlu turun ke dek bawah untuk menjangkau garbarata.

CAAS juga memodifikasi seluruh gate dan terminal di Bandara Changi, pelebaran dan perkerasan runway, pelebaran bahu runway, taxiway, interseksi runway-taxiway dan taxiway-taxiway, perluasan ruang tunggu di setiap terminal mengingat Airbus A380 mampu menampung sampai 500 penumpang dalam tiga kelas, penambahan gangway, dan memperpanjang conveyor belt di seluruh terminal.

Selain itu, Bandara Changi juga dilengkapi jet blast deflector tambahan untuk mengurangi dampak jet blast A380 di banyak titik, sampai penambahan dua stand parkir pesawat kargo A380 dan penerbangan jarak jauh A380.

Baca juga: Akhirnya, Pesawat Airbus A380 Mendarat dalam Penerbangan Berjadwal di Indonesia

Berbagai perubahan itu pada akhirnya berhasil menjadikan Bandara Changi sebagai bandara pertama di luar Eropa yang melayani penerbangan A380, meskipun ada puluhan juta dolar yang harus dikeluarkan.

Belum lagi CAAS harus mempersiapkan bandara lain sebagai pengganti andai Bandara Changi mengalami gangguan dalam melayani A380.

Arab Saudi Rayakan Dimulainya Pekerjaan 34 Masinis Wanita Kereta Cepat Haramain Express

Arab Saudi merayakan dimulainya pekerjaan oleh 34 masinis kereta wanita di jalur kereta berkecepatan tinggi Haramain Express yang melayani rute antara Mekkah dan Madinah. Lebih dari 28.000 wanita melamar peran tersebut saat diumumkan. Dari jumlah tersebut, 14.000 pelamar menyelesaikan tahap pertama proses seleksi dan menjalani ujian di Politeknik Kereta Api Saudi di Qassim.

Baca juga: Desember 2022, Arab Saudi Resmi Punya Masinis Wanita untuk Kereta Cepat Haramain Express

Inisiatif ini adalah yang kesembilan untuk merekrut pengemudi kereta lokal Saudi untuk jalur berkecepatan tinggi, yang mulai beroperasi pada Oktober 2018. Program pelatihan, yang dimulai pada Maret 2022, mencakup modul teoretis dan praktis selama 1157 jam, yang mencakup konsep perkeretaapian dasar, infrastruktur dan pengetahuan persinyalan, peraturan lalu lintas dan keselamatan, serta aspek teknis kereta api di antara topik lainnya.

Pelatihan praktis yang terdiri dari 674 jam mengemudi yang dipantau oleh pengawas Renfe, dimulai pada bulan Agustus 2022.

Dari 34 orang yang direkrut, enam sudah menjadi bagian dari staf Renfe KSA, bekerja di berbagai bidang seperti layanan stasiun atau sebagai personel kereta api. Usia rata-rata dari mereka adalah 26,8 tahun dan 73 persen memiliki gelar sarjana.

Inisiatif menantang membawa staf masinis Renfe KSA menjadi 140 orang dengan hampir seperempatnya adalah perempuan.

Baca juga: 28 Ribu Wanita Arab Saudi Serbu Lowongan Kerja Masinis Kereta Cepat Mekkah-Madinah

Rosalina Reyes, seorang pelatih pelatih, untuk Haramain High-Speed Railway, adalah salah satu dari 12 pemenang Women in Rail Award IRJ pada tahun 2022.