Coffin Corner: Ketika Stall dan Overspeed Bertemu

Dalam penerbangan terdapat banyak istilah yang asing di telinga penumpang, khususnya penumpang awam. Salah satunya coffin corner. Lantas, apa itu coffin corner dan bagaimana posisinya di penerbangan?

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pesawat Terbang Terlalu Tinggi?

Sebelum membahas lebih jauh apa itu coffin corner, perlu diketahui bahwa pesawat memiliki batasan ketinggian terbang maksimum (service ceiling). Lantas, apa yang terjadi bila pesawat terbang melebihi ketinggian maksimum yang telah ditetapkan pabrikan pesawat?

Menurut praktisi penerbangan Armchair Expert, George Gonzalez, seperti dikutip dari Quora, pesawat yang terbang terlalu tinggi setidaknya akan terjadi dua hal, yaitu stall dan mesin mati.

Saat dua hal ini terjadi, pesawat bisa saja kembali mendapat kontrol penuh dari pilot dan kopilot. Begitupun juga dengan mesin yang mati, itu bisa saja di-restart dengan catatan pesawat sudah turun dari batas ketinggian maksimum pesawat (servie ceilling) dan pilot-kopilot melakukan langkah-langkah yang tepat dalam me-restart mesin.

Dalam sebuah tulisan yang dilansir flightdeckfriend.com, pesawat komersial umumnya terbang antara 37 ribu kaki sampai 43 ribu kaki di atas permukaan laut. Di atas itu, pesawat akan mengalami apa yang disebut sebagai coffin corner.

Ini (coffin corner) adalah kondisi dimana low speed stall dan high-speed buffet bertemu sehingga membuat pesawat tidak lagi bisa mempertahankan ketinggiannya dan memaksa untuk turun. Saat ini terjadi, pesawat akan kehilangan kontrol karena mesin mati dan udara yang berada di sayap tak mendukung aerodinamika pesawat.

Baca juga: Jatuh dari Pesawat di Ketinggian 30 Ribu Kaki Pasti Tewas? Salah Besar!

Bisa dibilang coffin corner adalah saat dimana pesawat terbang melebihi batas ketinggian maksimum. Sebelum coffin corner terjadi, Maximum Mach Number (MMO) berada sangat dekat dengan stall sehingga pesawat cenderung stagnan alias tak punya pilihan, seperti menambah ketinggian, menurunkan kecepatan, dan menambah kecepatan.

Pilihan satu-satunya ialah menurunkan ketinggian. Sebab, seiring jauhnya jarak pesawat dengan wilayah coffin corner, semakin jauh pula jarak pesawat dengan wilayah stall dan overspeed.

Kemungkinan lainnya saat pesawat terbang melebihi ketinggian maksimum (coffin corner), bukan hanya terjadi stall dan pesawat akan kehilangan ketinggian, tetapi mesin akan meledak dan terbakar sehingga tak bisa di-restart ulang untuk melanjutkan penerbangan.

Lebih lanjut, ketinggian pesawat terbang tidak selalu sama di segala kondisi sesuai dengan ketetapan pabrik. Itu sangat tergantung dengan muatan yang dibawa serta musim. Biasanya ketinggian maksimum pesawat akan lebih rendah saat musim panas. Pesawat disebut tidak lagi mampu mencapai rate of climb setidaknya 300 kaki per menit.

Dari segi perbedaan tekanan kabin, ini akan membuat pesawat mengalami kegagalan struktural. Diektahui, semakin tinggi semakin tipis udara dan tidak cukup oksigen untuk membuat manusia bernapas dengan normal.

Karenanya, udara dingin mencapai 60 derajat di ketinggian 37 ribu – 43 ribu kaki diolah di dalam mesin sehingga lebih hangat dan mencapai ambang normal yang dibutuhkan manusia. Itu kenapa manusia bisa bernapas di ketinggian 37 ribu ke atas saat di dalam pesawat.

Namun, lebih dari itu, mesin mati dan proses suplai udara ke dalam kabin akan terganggu. Ini tentu membahayakan penumpang dan kru. Selain itu, udara di dalam kabin dan udara di luar pesawat mengalami perbedaan jauh di atas normal yaitu mencapai 9 psi. Andai ini terjadi, pesawat akan mengalami kegagalan struktural.

Baca juga: Kenapa Wiper Pesawat Tidak Rusak Diterjang Angin Saat di Ketinggian?

Di dunia, pesawat komersial terbang melebihi ketinggian maksimum pernah terjadi. Dilansir Forbes, pada tahun 2004 silam, pilot-kopilot maskapai Pinnacle Airlines 3701 diketahui tengah menjalani penerbangan reposisi tanpa penumpang.

Di tengah perjalanan, mereka meminta untuk diizinkan terbang di ketinggian 41 ribu kaki yang mana itu adalah batas ketinggian maksimum pesawat. Pesawat akhirnya mengalami kegagalan mesin dan keduanya tidak mampu me-restart-nya sehingga berakhir nahas.

Serupa tapi Tak Sama, Kenapa Mesin Turbofan Berbeda dengan Mesin Turboprop?

Di dunia, saat ini pesawat komersial menggunakan dua jenis mesin; mesin turbofan dan turboprop. Secara prinsip kerja, termodinamika turbofan dan turboprop bias dibilang identik. Tetapi dalam fungsi dan penerapannya, mesin turbofan dan turboprop berbeda.

Baca juga: Inilah Tiga Sumber Kebisingan Pesawat dan Cara Industri Meredamnya

Mesin turbofan atau biasa dikenal juga sebagai mesin jet pada umumnya menggunakan turbin sehingga disebut mesin jet turbin atau turbojet atau dikenal juga sebagai turboshaft.

Sedangkan mesin turbin adalah perangkat putar yang digerakkan oleh fluida. Singkatnya, mesin jet biasanya mesin turbin, tetapi mesin turbin umumnya bukan mesin jet. Jadi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Hal ini penting dicatat mengingat seringkali dilabeli sama, padahal keduanya berbeda.

Dilansir highskyflying.com, seperti karburator motor, cara kerja mesin turbofan juga menggunakan udara. Bedanya ada proses pengompresan, mulai dari menghisap udara, menekan, ledakan, dan menghembuskan.

Langkah pertama adalah menghisap. Kipas di bagian depan mesin jet akan menghisap udara dan 80 persen dari udara akan melewati mesin dan meniupkan udara keluar dari belakang. Tanpa adanya kipas, udara langsung masuk ke ruang bakar dan ditembakkan dari bagian belakang mesin untuk menghasilkan tenaga yang sangat besar. Tapi konsekuensinya adalah boros bahan bakar.

Karenanya, pada mesin jet atau turbofan modern yang saat ini ada menggunakan kipas dan teknologi pembakaran yang lebih panjang. Udara yang dihisap kipas (fan) di bagian depan mesin tidak langsung masuk ke ruang bakar, melainkan mengalir ke sekitar ruang bakar dan sebagiannya masuk ke ruang bakar.

Sebelumnya, terlebih dahulu udara disaring kompresor bertekanan rendah dan tinggi, shaft bertekanan rendah dan tinggi, dan turbin bertekanan rendah dan tinggi. Prinsipnya adalah semakin lambat udara yang masuk ke mesin semakin bagus dan lebih efisien.

Selain itu, semakin banyak udara yang masuk semakin bagus dan itulah yang sedang dikembangkan oleh NASA. Tingkat ekstraksi daya mesin turbofan yang dikembangkan NASA disebut lebih cepat hingga empat kali lipat dari tingkat ekstraksi daya mesin pesawat tercanggih saat ini. Selain cepat, mesin juga efisien.

Cara terbaik untuk melakukan ini, kata NASA, dengan meningkatkan rasio bypass, yaitu membuat kipas di depan mesin lebih besar untuk memungkinkan peningkatan aliran udara, tetapi pada saat yang sama mengurangi ukuran inti mesin untuk mengurangi konsumsi.

Mesin turboprop sebetulnya masih dalam kategori mesin turbin, yang di dalamnya termasuk mesin turbofan. Itu sebab turboprop dan turbofan disebut serupa tapi tak sama.

Meski begitu, mesin turboprop memiliki perbedaan yang sangat prinsip. Pada mesin turboprop terdapat baling-baling sedangkan pada mesin turbofan tidak terdapat baling-baling. Biasanya mesin turboprop dipakai pada pesawat dengan kecepatan subsonik rendah.

Komponen utama pada mesin turboprop adalah intake, kompresor, ruang bakar, turbin, and nozzle. Cara kerja mesin ini pada awalnya udara masuk dari atmosfer ke dalam intake.

Kemudian tekanan udara tersebut dinaikkan dengan menggunakan kompresor. Tujuan peningkatan tekanan adalah untuk meningkatkan efisiensi pembakaran sebab pada saat pesawat udara beroperasi yaitu terbang di ketinggian maka temperatur udaranya sangat rendah sehingga sangat sulit untuk dilakukan pembakaran.

Baca juga: [Video] Pekerja Bandara Tewas Seketika Usai Terkena Baling-baling Pesawat Antonov An-24 yang Tengah Berputar

Selanjutnya udara bertekanan tinggi diumpankan ke ruang bakar dan dicampur dengan bahan bakar kemudian dilakukan pembakaran.

Gas panas hasil pembakaran diumpankan ke turbin. Turbin berfungsi merubah energi panas (thermal) menjadi energi mekanik. Selain memutar kompresor, turbin juga memutar baling-baling melalui roda gigi reduksi hingga akhirnya gas sisa pembakaran dibuang ke atmosfer melalui nozzle.

Berapa Persentase Oksigen dalam Kabin Pesawat yang Buat Penumpang Bernapas dengan Nyaman?

Bernapas di bandara dan di kabin pesawat tidak ada perbedaan. Padahal keduanya berbeda, dimana bandara areanya cukup luas sedangkan di kabin pesawat sangat sempit. Tentu saja itu berkat kadar oksigen di kedua tempat tersebut yang tak jauh berbeda. Lantas, berapa persentase oksigen di kedua tempat tersebut, khususnya di kabin pesawat?

Baca juga: Bagaimana Bisa Oksigen Tersedia di Kabin Pesawat Saat di Ketinggian 30 Ribu Kaki Lebih?

Manusia bisa bernapas karena kandungan 20.97 persen oksigen di udara. Semakin tinggi dari permukaan laut, kadar oksigen semakin tipis. Namun, manusia bisa tetap bernapas dengan tenang dan nyaman dengan kadar oksigen hanya 15 persen di udara.

Menurut para ahli, manusia maksimal bisa bernapas dengan tenang dan nyaman di ketinggian 20 ribu kaki tanpa bantuan masker oksigen. Lebih dari itu, sudah pasti manusia akan pingsan karena kekurangan oksigen.

Andai seseorang memaksakan diri bernapas di ketinggian lebih dari 20 ribu kaki, terlebih sampai di ketinggian antara 30 ribu dan 40 ribu kaki, tanpa masker oksigen, tekanan sangat rendah untuk mendorong molekul oksigen melintasi membran di paru-paru dan pada akhirnya sel dan jaringan yang ada di seluruh bagian tubuh tidak dapat berfungsi dengan normal.

Baca juga: Perlu Anda Tahu! Masker Darurat di Kabin Hanya Pasok Oksigen Selama 15 Menit

Bilamana manusia memaksakan diri menghirup oksigen 100 persen di ketinggian lebih dari 40 ribu kaki tanpa masker oksigen, maka ia akan mati seketika.

Pesawat, meski berada di ketinggian antara 30 ribu sampai 40 ribu kaki, tingkat ketersediaan oksigen di kabin masih cukup untuk manusia bernapas normal sekalipun cukup tipis setara dengan oksigen di ketinggian 6.000 – 8.000 kaki. Lantas, berapa persentase oksigen di dalam kabin saat pesawat mengudara?

Menurut salah seorang pilot maskapai, Randy Duncan, seperti dikutip di Quora, kadar atau persentase oksigen di dalam kabin pesawat sekitar 21 persen. Ini sejalan dengan pendapat ahli terkait kadar oksigen normal untuk manusia bernapas, sebagaimana disebutkan di awal, yaitu mencapai 20,97 persen.

Kadar oksigen ini secara konsisten dihasilkan dari udara yang masuk ke mesin pesawat dan melewati serangkaian proses menjadikannya lebih hangat dan mudah dihirup penumpang. Sebagai informasi, udara di ketinggian 30-40 ribu kaki memang sangat dingin mencapai 68-76 derajat celcius, karenanya udara di ketinggian tersebut diproses agar lebih hangat dan tidak kering.

Baca juga: Kadang Terasa Sangat Dingin Kadang Tidak, Berapa Suhu Rata-rata di Dalam Pesawat?

Setelah udara lebih hangat, barulah oksigen dialirkan masuk ke dalam kabin pesawat dan membuat manusia bisa menghirup oksigen tanpa bantuan masker oksigen. Itulah alasan kenapa manusia bisa bernapas di pesawat saat pesawat berada di ketinggian lebih dari 20 ribu kaki.

Saat sistem pemrosesan oksigen di pesawat rusak, maka, penumpang harus menggunakan masker oksigen dan pilot akan menurunkan ketinggian sampai ke 10 ribu kaki, memungkinkan penumpang bernapas sebelum ketersediaan oksigen di masker oksigen habis dalam 15 menit.

Stasiun Komuter di Tokyo Dilengkapi “Ekimatopeia”, Solusi Navigasi Bagi Penumpang Tunarungu

Sudah lumrah bila ada beragam fasilitas yang menunjang kebutuhan penyandang disabilitas di stasiun kereta. Namun ada yang unik di Stasiun Ueno yang berada di Tokyo, Jepang. Stasiun Ueno memiliki tanda-tanda (sign) yang menunjukkan suara sekitar sebagai onomatopoeia bagi penumpang tunarungu.

Baca juga: Penumpang Tunarungu Gunakan Masker Bertuliskan “Just Deaf, Not Rude”, Terluka Karena Dibilang Tuli

Dikenal sebagai tempat yang sangat sibuk dan padat, stasiun kereta di Jepang bisa menjadi tempat kacau yang penuh dengan suara mesin, lonceng yang bergema, dan arus pengumuman yang terus-menerus. Di kota metropolitan Tokyo, sebuah perjalanan dapat menjadi hal yang menakutkan bagi banyak penyandang disabilitas yang berada di komunitas tunarungu.

Dikutip dari japantoday.com, guna membuat hidup mereka lebih mudah, raksasa IT Fujitsu telah menciptakan Ekimatopeia.

Ekimatopeia terdiri dari tampilan layar besar yang dipasang di platform naik stasiun kereta di mana suara onomatopoeic gaya manga ditampilkan. Suara-suara ini sebenarnya mewakili apa yang diambil oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui mikrofon dan ditafsirkan secara real-time.

Jadi, jika kereta mendekati peron, suara gachan-gachan-gachan yang berdentang akan terdengar di layar. Jika kereta melambat hingga berhenti, jika sebuah kereta ekspres melaju kencang, atau bahkan jika alarm atau klakson berbunyi, semuanya akan divisualisasikan dengan kata-kata di layar. Lebih detail, jika kereta yang bagus lewat, layar akan menampilkan “hyuuuuuuuuu” yang menyenangkan dan yang sedikit lebih kasar dengan “byuuuuun” yang dimodifikasi.

Selain itu, pengumuman oleh staf stasiun ditentukan di layar dan dalam kasus pesan yang direkam sebelumnya, juru bahasa isyarat juga ditampilkan. Nama “Ekimatopeia” berasal dari kata Jepang untuk stasiun, eki, dan beberapa suku kata dari kata bahasa Inggris “onomatopoeia.”

Fujitsu mendapatkan ini dari siswa di sekolah tunarungu yang bercerita tentang bagaimana perasaan mereka saat berangkat ke sekolah dengan kereta api komuter. Beberapa mengatakan bahwa mereka takut karena mereka tidak selalu memperhatikan kereta saat mendekat dan bahwa menavigasi stasiun yang terkadang sangat kompleks akan lebih mudah dengan beberapa panduan dalam bahasa isyarat.

Pemimpin proyek Tatsuya Honda mengatakan bahwa ketika datang dengan Ekimatopeia, mereka ingin membuat sesuatu yang tidak hanya mengatasi masalah ini tetapi juga menyenangkan bagi orang-orang dengan semua jenis pendengaran.

Baca juga: Stasiun Matraman, Inilah Stasiun KRL Terbaru dengan Fasilitas Lengkap untuk Difabel

Saat ini, Ekimatopeia hanya dipasang di peron Keihin-Tohoku Line/Yamanote Line Stasiun JR Ueno di Tokyo, namun Honda berharap solusi ini dapat diadopsi lebih luas, bahkan mungkin sebagai versi “Soramatopeia” untuk digunakan di bandara.

Hari Ini, 19 Tahun Lalu, Pesawat Airbus A300-B4 DHL Dirudal Simpatisan Saddam Hussein di Baghdad

Pada hari ini, 19 tahun lalu, bertepatan dengan 22 November 2003, pesawat kargo Airbus A300B4-200F milik raksasa kargo asal Jerman, DHL, dirudal oleh simpatisan pemimpin Irak, Saddam Hussein, tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Baghdad. Akibatnya, pesawat terbakar pada bagian mesin dan terpaksa mendarat darurat. Beruntung, tak ada korban jiwa akibat insiden ini.

Baca juga: Hari Ini, 24 Tahun Lalu, Lion Air Flight 602 Jatuh Dirudal Tak Lama Setelah Kerusuhan 98

Pesawat kargo Airbus A300B4-200F yang dioperasikan oleh European Air Transport Leipzig diketahui berangkat dari Bandara Internasional Baghdad pada pukul 09:30 pagi waktu setempat.

Sebelumnya, bandara tersebut dikenal sebagai Bandara Internasional Saddam, didasari pada nama Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein. Sejak April 2003, itu diganti usai Amerika Serikat (AS) menduduki Irak menjadi Bandara Internasional Baghdad.

Dari Baghdad, pesawat menuju Bandara International Bahrain yang menjadi hub DHL International Aviation Middle East saat itu. Dari data GCMap.com, Baghdad dan Bahrain berjarak sekitar 991 km.

Pesawat diawaki oleh kapten pilot dan kopilot asal Belgia dan satu flight engineer asal Skotlandia dengan jam terbang 13.400. Di Airbus A300, kapten pilot memiliki pengalaman 3.300 jam terbang. Sedangkan kopilot baru mencapai setengahnya dengan 1.275 jam terbang.

Sejak perang dengan AS meletus pada awal tahun 2000, situasi di Irak mencekam. Karenanya, kru pesawat yang lepas landas dari Bandara Baghdad akan cepat-cepat climbing ke ketinggian jelajah untuk menghindari serangan rudal; termasuk pesawat A300 DHL.

Namun, apa boleh buat, sebelum mencapai ketinggian jelajah atau saat masih berada di jarak tembak rudal (sekitar ketinggian 8.000 kaki), milisi pro Saddam Hussein yang tergabung dalam Fedayeen Saddam group menembakkan rudal darat-ke-udara 9K34 Strela-3 dan berhasil mengenai pesawat.

Rudal mengenai sayap bagian kiri, membuat mesin terbakar, wingtip hancur, menghancurkan permukaan trailing-edge pada sayap yang berfungsi untuk membantu pengereman, tidak berfungsinya hydraulic pressure di A300 flight control system, dan pada akhirnya memaksa pesawat mendarat darurat.

Kehilangan sistem hidrolik membuat pesawat sulit dikontrol. Tanpa flight control surfaces dalam kondisi genting seperti itu, kru kokpit harus memkasimalkan penggunaan mesin sebelah kanan untuk proses pendaratan. Sebagai upaya untuk menurunkan kecepatan pesawat, landing gear dikeluarkan segera.

Kru kokpit butuh sekitar 10 menit untuk menyesuaikan diri dengan cara baru mengontrol pesawat untuk pendaratan tanpa menggunakan apapun kecuali engine power.

Baca juga: Bukan Hanya Cathay Pacific, Ini Deretan Pesawat Sipil yang Nyaris Kena Rudal

Proses pendaratan dilakukan dengan sangat hati-hati lantaran kebocoran bahan bakar seiring hancurnya sayap kiri. Pesawat akhirnya mendarat sempurna di runway 33R yang memiliki panjang 4.000 meter tanpa ada korban jiwa maupun luka dengan menggunakan special spiral landing technique untuk menghindari serangan.

Setelah serangan tersebut, DHL menangguhkan semua penerbangan ke Irak. Demikian juga dengan maskapai Yordania Royal Wings yang ketika itu melayani satu-satunya penerbangan komersial dari dan ke Baghdad.

Bagaimana Penumpang Tahu Pesawat yang Dinaiki adalah Airbus atau Boeing?

Traveler yang sering berpergian naik pesawat pada umumnya hanya mengetahui berapa nomor penerbangan pesawat yang ditumpanginya. Sebab, itu tertera di tiket atau boarding pass. Tetapi, tidak demikian dengan pesawatnya. Lantas, bagaimana cara agar penumpang mengetahui pesawat yang ditumpangi adalah Airbus atau Boeing atau mungkin ATR, Embraer, Sukhoi, dan Bombardier?

Baca juga: Bagaimana Cara Ketahui Pesawat yang Ditumpangi Sudah Tua Hanya dengan Melihatnya?

Saat ini, ada sekitar 25 ribu pesawat komersial aktif di dunia. Selain itu, ada sekitar 7.000-8.000 lebih pesawat yang terbang di waktu tertentu setiap hari. Dari jumlah tersebut, sedikitnya ada enam manufaktur yang pesawatnya lumrah digunakan sebagai pesawat komersial; Airbus, ATR, Boeing, Bombardier, Embraer, dan Sukhoi.

Dari enam pabrikan pesawat tersebut, masyhur diketahui bahwa hanya ada dua yang paling sering digunakan maskapai dan paling banyak terjual di dunia. Dua itu adalah Boeing dan Airbus.

Karenanya, sesering apapun traveler keliling bepergian naik pesawat sesering itu pula mereka besar kemungkinan akan menumpangi pesawat dari dua pabrikan; Boeing dan Airbus. Kecuali, di rute-rute perintis, kemungkinan pesawat yang dioperasikan maskapai adalah pesawat baling-baling buatan ATR.

Terlepas dari apakah itu pesawat Airbus, ATR, Boeing, Bombardier, Embraer, dan Sukhoi, bagaimana cara penumpang mengetahui bahwa pesawat yang ditumpanginya adalah salah satu dari buatan produsen pesawat itu?

Beberapa pengguna Quora coba membagikan tipsnya. Salah satu yang paling mudah tentu memperhatikan pesawat itu sendiri sesaat sebelum masuk ke kabin.

Saat ini, ada dua cara masuk ke kabin pesawat sebelum penerbangan; lewat garbarata atau turun ke apron dan naik tangga ke pesawat. Cara pertama (menggunakan garbarata, tentu membuat penumpang tak leluasa melihat badan pesawat yang di sana tertera tipe dan seri pesawat. Biasanya ada di bagian depan di bawah jendela kokpit atau sebelah kiri pintu pesawat.

Masih dari segi eksterior, cara lainnya agar penumpang bisa mengetahui pesawat buatan mana yang ditumpanginya ialah dengan mengamati moncong pesawat.

Dalam konteks Boeing dan Airbus, sebagian besar model pesawat komersial yang diproduksi adalah Boeing 737 dan Airbus A320. Moncong Boeing 737 tajam, runcing, dan panjang. Sedangkan Airbus A320 bermoncong bulat.

Boeing dan Airbus juga memiliki perbedaan mencolok dari segi kaca kokpit pesawat. Diketahui pesawat Airbus memiliki jendela kokpit bagian belakang dengan bagian atas terpotong seperti sim card. Sedangkan Boeing tidak.

Bergeser ke interior atau bagian dalam kabin, penumpang dapat mengetahui itu pesawat Boeing ataupun Airbus dengan cara melihat pelat pesawat di bagian dalam di atas pintu utama pesawat. Di sana, tertera pesawat apa, tipe, serial number pabrik, sertifikat, sampai nomor sertifikat dikeluarkan. Setali tiga uang, penumpang juga bisa melihat nomor registrasi pesawat di bagian luar.

Baca juga: Bisakah Penumpang Berada di Sebuah Penerbangan Tanpa Diketahui Maskapai? Ini Jawabannya

Cara yang paling mudah tentu melihat safety card atau kartu petunjuk keselamatan di kantung seatback di depan penumpang saat duduk di kursi. Di sana pasti tertera pesawat yang akan ditumpangi, entah itu Boeing ataupun Airbus.

Cara terakhir yang paling mudah tentu saja dengan mengeceknya di aplikasi sejenis FlightRadar24. Cukup dengan memasukkan nomor penerbangan, maka situs tersebut akan memunculkan informasi pesawat yang ditumpangi.

Apakah Harga Bahan Bakar Pesawat Bervariasi Seperti Bahan Bakar Motor-Mobil?

Terkait bahan bakar, pesawat dan kendaraan di darat seperti mobil dan motor memiliki kesamaan. Bukan sama-sama menggunakan bahan bakar yang sama melainkan bahan bakarnya berasal dari sumber yang sama, minyak mentah. Meski berasal dari sumber yang sama, pada akhirnya apakah harga bahan bakar pesawat sama bervariasi dengan harga bahan bakar motor-mobil?

Baca juga: Mengenal Dua Jenis Bahan Bakar Pesawat: Avgas Vs Avtur, Apa Bedanya?

Layaknya kendaraan di darat, pesawat juga mempunyai beberapa varian bahan bakar. Bahan bakar tersebut dibedakan dari nilai oktannya, untuk menyesuaikan kinerja pesawat itu sendiri, entah diajak menempuh kecepatan supersonik atau kecepatan jelajah (standar kecepatan pesawat pada umumnya). Oktan yang lebih tinggi umumnya dipakai pesawat supersonik.

Sejauh ini, tercatat ada dua bahan bakar pesawat yang digunakan oleh pesawat komersial maupun militer pada umumnya, yakni Avgas atau aviation gas dan Jet A1 atau yang dikenal juga dengan aviation turbine fuel (Avtur).

Sebetulnya ada jenis lainnya, melengkapi total tiga jenis bahan bakar pesawat, Avtag, Avcat, jet propellant thermally stable (JPTS). Hanya saja, bahan bakar tersebut umum di beberapa negara tertentu saja, dalam hal ini negara maju, tidak di seluruh negara di dunia.

Avgas atau biasa juga dikenal dengan sebutan bensol memiliki kadar oktan beragam, seperti bensol biru 102 (Avgas UL91) dan bensol hijau 104 (Avgas 100LL). Jenis bahan bakar yang juga digunakan oleh motor balap ini pada umumnya digunakan oleh pesawat propeller atau mesin piston, seperti pesawat latih dan pesawat aerobatik.

Di antara Avgas dan Avtur, juga terdapat bahan bakar pesawat jenis aviation kerosine yang biasanya dipakai oleh pesawat bermesin turbin. Mesin turbin tentu berbeda dengan mesin jet. Mesin jet, pada umumnya menggunakan turbin sehingga disebut mesin jet turbin atau turbojet atau dikenal juga sebagai turbofan dan turboshaft.

Sedangkan mesin turbin adalah perangkat putar yang digerakkan oleh fluida. Singkatnya, mesin jet biasanya mesin turbin, tetapi mesin turbin umumnya bukan mesin jet. Jadi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Hal ini penting dicatat mengingat seringkali dilabeli sama, padahal keduanya berbeda.

Kedua bahan bakar tersebut (Avgas dan aviation kerosine) mempunyai sifat titik didih yang berbeda. Avgas merupakan oplosan minyak tanah dengan hidrokarbon cair yang kisarannya antara 32 hingga 220 derajat celsius. Sementara itu, aviation kerosine berada pada derajat yang lebih tinggi, yakni antara 144 hingga 252 derajat celsius.

Di atas keduanya (Avgas dan aviation kerosine) ada Avtur sebagai bahan bakar yang paling banyak dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Avtur adalah bahan bakar dari fraksi minyak tanah yang dirancang khusus untuk bahan bakar pesawat terbang yang menggunakan mesin turbin atau mesin yang memiliki ruang pembakaran eksternal (External Combustion Engine).

Kinerja Avtur yang paling utama ditentukan oleh karakteristik kebersihannya, pembakaran, dan performanya pada temperatur rendah. Hal itu pulalah keunggulan Avtur atau Jet A1 dibanding Avgas. Menurut penelitian terdahulu, akhirnya ditetapkan bahwa titik beku maksimum pada suhu -47°C dan titik nyala minimum pada duhu 38°C.

Selain Avgas, aviation kerosine, dan Avtur, ada juga bahan bakar JET F-34 yang biasa dipakai oleh pesawat jet militer dan helikopter.

Baca juga: Berapa Minimum Bahan Bakar yang Dibawa Pesawat dalam Sekali Terbang?

Dilansir Simple Flying, seluruh jenis bahan bakar pesawat tersebut (Avgas, aviation kerosine, Avtur, dan JET F-34) harganya cenderung minim fluktuatif ketimbang bahan bakar kendaraan darat. Itu karena harga bahan bakar pesawat terpengaruh oleh musim sedangkan harga bahan bakar motor-mobil dipengaruhi oleh demand.

Maskapai biasanya melakukan lindung nilai agar tak terlalu rugi dengan kenaikan harga bahan bakar. Lindung nilai sendiri yaitu maskapai membeli harga bahan bakar dengan harga saat itu sebanyak kebutuhan di masa mendatang ketika harga bahan bakar melonjak naik.

Rayakan Piala Dunia 2022 Qatar, Warga Serbu Pesawat ‘Nyangkut’ di Rofftop Mall di Brasil

Musim pesta bola telah tiba usai laga perdana Piala Dunia 2022 di Qatar digelar semalam. Sebagai negera yang banyak melahirkan pemain sepak bola andal, atmosfer Piala Dunia di Brasil sangat kental.

Baca juga: 4 Menu Bersejarah Hadir dalam Penerbangan ‘Imajinasi’ Fokker 100 ‘PanAm Brasil’

Tahun ini, para penggemar sepak bola di Negeri Samba itu bisa mengisi agenda selama gelaran Piala Dunia 2022 dengan menempelkan stiker koleksi atau edisi Piala Dunia tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya ke sebuah pesawat yang bertengger di rooftop sebuah pusat perbelanjaan (mall).

Pesawat tersebut memang sengaja dihadirkan sang pemilik mall untuk menjadi salah satu spot warga dalam menyalurkan riuh-riak semarak Piala Dunia dengan cara menempelkan stiker ke badan pesawat dan membagikannya di media sosial. Selain itu, tentu saja itu dilakukan untuk menarik minat warga berkunjung ke mall tersebut.

Dilansir Simple Flying, pesawat Boeing 737-200 tersebut sebelumnya beroperasi untuk salah satu maskapai tua di Brasil, VASP Viação Aérea São Paulo. Setelah dinyatakan pailit dan bangkrut, pesawat tersebut kemudian diangkut ke salah satu mall di Contagem, negara bagian Minas Gerais, Brasil.

Meski melalui proses perizinan yang rumit dan prosedur pemindahan pesawat dari hanggar ke rooftop, ini dilakoni sang pemilik mall, Mário Valadares, demi menyalurkan hobinya terhadap penerbangan.

Seorang gadis cilik tengah menempelkan stiker piala dunia di badan pesawat. Foto: Getty Images

Tak lupa, sebagai pebisnis, ia tetap memaksimalkan pesawat tersebut sebagai media promosi mall-nya yang mulai ditinggal pengunjung lantaran kehadiran mall atau pusat perbelanjaan lain yang lebih baru dan megah.

Boeing 737-200 pernah menjadi salah satu pesawat yang paling banyak diproduksi. Saat tiba di Brasil pada tahun 1969, bersama tiga pesawat lain yang tergabung dalam barisan armada VASP, pesawat, dalam hal ini Boeing 737-200, diserbu warga lantaran itu adalah kali pertama pesawat tersebut mampir di Amerika Selatan.

Selama bersama VASP, Boeing 737-200 itu memiliki callsign ‘Sucatinha’ dan menjadi salah satu ikon maskapai. Bagaimana tidak, semasa beroperasi, pesawat itu pernah mengangkut berbagai mantan presiden Brasil, mulai dari Ernesto Geisel, João Figueiredo, José Sarney, Fernando Collor, Itamar Franco, Fernando Henrique Cardoso, dan Luiz Inácio Lula da Silva.

Tak hanya itu, Paus Yohanes Paulus II yang pernah mengunjungi Brasil pada tahun 1980, juga pernah menumpangi pesawat ini.

VASP memang bukan maskapai baru kemarin. Diketahui, maskapai ini sudah berdiri sejak November 1933 oleh sekitar 70 investor. Dalam perjalanannya, maskapai ini banyak didera masalah keuangan sehingga pemerintah turun tangan dan membeli 91 persen saham maskapai.

Baca juga: Jadi Pesawat Tersukses dalam Sejarah, Dekade 90-an Jadi Periode Tersulit Boeing 737! 2.700 Pesawat Digrounded

Hingga tahun 1980-an, maskapai milik pemerintah itu menjadi salah satu operator maskapai terbesar di Brasil, sebelum akhirnya diprivatisasi kembali oleh pengusaha Wágner Canhedo pada tahun 1990-an.

Sejak saat itu, maskapai mulai berekspansi ke lebih banyak rute domestik dan internasional sampai ke Asia dan Eropa. Namun, seiring waktu, maskapai kembali mengalami masalah keuangan dan puncaknya saat pandemi Covid-19 maskapai mulai melelang pesawatnya sampai akhirnya dinyatakan bangkrut.

British Airways Mulai Uji Coba Boarding Biometrik ke Penumpang Penerbangan Internasional

British Airways jadi maskapai pertama di Inggris Raya yang mulai menerapkan teknologi boarding biometrik (bimoetric boarding) ke penumpang penerbangan internasional tertentu. Lewat teknologi ini, penumpang tak perlu lagi menunjukkan paspor saat boarding dan mempercepat prosesnya serta memudahkan penumpang.

Baca juga: Survei IATA: 75 Persen Penumpang Ingin Biometrik Bukan Paspor

Dalam uji coba boarding biometrik British Airways ini, penumpang yang ingin berpartisipasi diminta untuk memindai boarding pass, wajah, dan paspor di bandara keberangkatan sebelum memulai perjalanan. Flag carrier Inggris itu menjamin data disimpan dengan aman dan dipergunakan sesuai peruntukannya.

Proses scanning atau memindai boarding pass, wajah, dan paspor bisa dilakukan dimanapun karena menggunakan aplikasi yang bisa diunduh penumpang. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah maskapai dimana penumpang dapat mendaftarkan informasi biometrik dimanapun tanpa harus ke konter check-in atau bandara.

Setelah di scan, dalam uji coba ini penumpang bisa boarding biometric di Terminal 5 Bandara London Heathrow. Kamera Smart Bio-Pod yang sudah disiapkan maskapai kemudian akan memverifikasi identitas penumpang dalam waktu kurang dari tiga detik. Setelahnya penumpang tinggal melenggang tanpa perlu mengeluarkan identitas/paspor.

“Ini adalah alat yang aman dan efisien yang memberikan pengalaman bandara yang lebih cerdas dan lancar, yang akan mengurangi waktu yang kami perlukan untuk naik ke pesawat,” kata David Breeze, Manajer Transformasi Operasi British Airways, seperti dikutip dari Simple Flying.

Baca juga: Di Inggris, Bagasi Penumpang Bisa Dijemput H-1: Datang ke Bandara Tinggal Boarding

“Keindahan teknologi ini juga membebaskan karyawan kami untuk menangani permintaan pelanggan yang lebih kompleks dan memberikan layanan pelanggan sebaik mungkin,” lanjutnya.

Disebutkan, uji coba akan berlangsung selama enam bulan ke depan. Tak disemua rute penerbangan internasional, melainkan hanya penerbangan ke Malaga, Spanyol saja.

Penumpang yang akan berpartisipasi dalam uji coba teknologi biometrik boarding besutan Amadeus Biometric Solutions ini dipilih secara acak dan yang terpilih akan mendapat email dari maskapai tiga hari sebelum penerbangan.

Penumpang yang terpilih tidak diwajibkan melakukan pra-registrasi di rumah. Mereka bisa melakukan registrasi atau scan boarding pass, wajah, dan paspor di beberapa titik di Zona Check-In B di Terminal 5 Bandara London Heathrow.  Penumpang yang berpartisipasi tak perlu ikut antre karena mendapat jalur keamanan Fast-Track dan boarding prioritas gratis.

Baca juga: Bandara Heathrow Siap Adopsi Teknologi Biometrik Pada Musim Panas 2019

British Airways diketahui sudah sejak tahun 2016 lalu memulai uji coba boarding biometik. Setelah sukses, di tahun berikutinya teknologi self-boarding melalui teknologi biometrik mulai berlaku massal pada bulan Juni khusus untuk penumpang domestik.

Di gate pemeriksaan keamanan, wajah, boarding, dan identitas penumpang dipindai dan sistem teknologi biometrik akan mencocokkan data yang sudah diambil di gate pemeriksaan.

Disney Cruise Line Beli “Global Dream” – Kapal Pesiar Ketujuh Terbesar di Dunia

Selain dikenal sebagai salah satu konglomerat di bidang hiburan dan media terbesar di dunia, Walt Disney Company atau Disney, juga punya bisnis di sektor kapal pesiar mewah, yakni di bawah bendera Disney Cruise Line. Persisnya, Disney mengumumkan awal pekan ini bahwa mereka telah membeli Global Dream, kembaran dari apa yang disebut sebagai kapal pesiar terbesar di dunia (Global Dream II) sebelum proyeknya dibatalkan karena pandemi Covid-19.
Dikutip dari robbreport.com (18/11/2022),  Disney disebut akan menyelesaikan pembangunan sistem ship yang terkenal itu, dengan tujuan menyelesaikan konstruksi pada tahun 2025. Global Dream telah dibangun di bekas galangan kapal MV Werften di Jerman sejak pembuat kapal mengajukan kebangkrutan awal tahun ini karena pandemi.
Disney berencana untuk bekerja dengan pembuat kapal lain di negara itu, Meyer Werft, untuk menyelesaikan pembangunan kapal pesiar. Setelah selesai, kapal akan diganti namanya dan didekorasi dengan warna yang terinspirasi Mickey Mouse yang ditemukan di kapal Disney Cruise Line.
Belum ada fasilitas yang diumumkan pada kapal pesiar itu nantinya, tetapi perusahaan mengatakan kapal itu akan menampilkan pengalaman Disney yang inovatif bersama dengan hiburan yang mempesona, santapan kelas dunia, dan layanan tamu legendaris yang membedakan dengan kapal Disney Cruise Line lainnya.
Kapal yang sudah selesai nantinya memiliki ruang untuk 6.000 penumpang dan sekitar 2.300 awak. Itu akan membuatnya lebih kecil dari yang diperkirakan saudaranya, Global Dream II, yang seharusnya memiliki ruang untuk 9.000 penumpang. Tetapi kapal berbobot 208.000 ton itu masih akan menjadi yang terbesar ketujuh di dunia dan terbesar di armada Disney.
Disney tidak mengungkapkan berapa banyak kocek yang dibayarkan untuk mengakuisisi Global Dream.
“Kapal pesiar kami memberi kami kesempatan unik untuk menghadirkan keajaiban Disney kepada penggemar di mana pun mereka berada, dan penambahan kapal ini akan membuat liburan Disney Cruise Line dapat diakses lebih banyak keluarga daripada sebelumnya,” ujar Josh D’Amaro, Kepala Disney Parks, Experiences and Products.
Awal tahun ini, proyek Global Dream dibatalkan seluruhnya, meskipun telah menelan biaya US$1,4 miliar. Hampir seperempat miliar dolar diperlukan untuk menyelesaikan konstruksi, yang mungkin menjelaskan mengapa tidak ada yang berusaha menyelamatkan proyek tersebut.