Jaksa Kehabisan Petunjuk, Investigasi Tragedi Malaysia Airlines MH17 Ditangguhkan

Setelah delapan tahun berlalu, keluarga korban tragedi Malaysia Airlines MH17 belum juga mendapatkan keadalian, bahkan ada kabar bahwa investigasi atas insiden tragis tersebut terpaksa ditangguhkan setelah jaksa menyatakan telah kehabisan atas semua petunjuk.

Baca juga: Mengenang 12 WNI Korban MH17 yang Ditembak Jatuh Rudal Rusia

Persisnya, penyidik memutuskan untuk menghentikan sementara persidangan karena mereka tidak memiliki cukup bukti untuk menuntut tersangka lebih lanjut. Penerbangan MH17 ditembak jatuh di atas Donetsk, Ukraina pada Juli 2014, menewaskan 283 penumpang dan 15 awak pesawat.

Saat itu, pesawat Boeing 777-200ER (9M-MRD) melakukan perjalanan dari Bandara Schiphol Amsterdam (AMS) ke Bandara Internasional Kuala Lumpur (KUL).

Dari beberapa media internasional, disebutkan Tim Investigasi Gabungan yang memimpin penyelidikan berharap untuk membuktikan identitas orang-orang yang bertanggung jawab meluncurkan rudal darat ke udara Buk, serta siapa yang berada dalam rantai komando, tetapi mengakui bahwa itu tidak mungkin untuk saat ini. Jaksa Belanda, Digna van Boetzelaer, mengatakan hal tersebut dalam sebuah pernyataan hari ini,

“Penyelidikan sekarang telah mencapai batasnya, semua petunjuk sekarang telah habis, oleh karena itu penyelidikan ditangguhkan,” ujar Jaksa Belanda.

Akhir tahun lalu, tiga pria – yakni dua orang Rusia dan satu orang Ukraina – dinyatakan bersalah atas pembunuhan in absentia atas keterlibatan mereka dalam serangan itu. Pengadilan Belanda menyimpulkan bahwa orang-orang tersebut salah mengira penerbangan MH17 sebagai pesawat militer Ukraina, dan dengan sengaja menembak jatuhnya. Itu juga memutuskan bahwa Rusia mengendalikan pasukan separatis yang bertempur di daerah itu pada waktu itu, tetapi putusan itu ditolak oleh Rusia.

Dalam sidang terakhir, Tim Investigasi Gabungan mengutip percakapan telepon yang direkam antara pejabat senior Rusia dan gerakan separatis pro-Rusia, meskipun diakui bahwa rekaman tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan peralatan yang digunakan untuk menembak jatuh penerbangan MH17. Tim Investigasi Gabungan menyatakan,

“Ada informasi konkret bahwa permintaan separatis diajukan kepada presiden, dan bahwa permintaan ini dikabulkan. Meskipun kami berbicara tentang indikasi kuat, bukti lengkap dan konklusif yang tinggi tidak tercapai. Selain itu, Presiden menikmati kekebalan dalam tugasnya jabatan sebagai Kepala Negara.”

Tim Investigasi Gabungan terdiri dari perwakilan dari negara-negara yang paling parah terkena dampak kekejaman – Belanda, Australia, Belgia, Malaysia, dan Ukraina. Dari 298 orang di dalamnya, 193 orang dari Belanda, 43 orang dari Malaysia (termasuk 15 awak kapal), dan 27 orang dari Australia.

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, menggambarkan investigasi ini sebagai “kekecewaan yang pahit”, tetapi menambahkan bahwa ini tidak berarti bahwa proses peradilan pidana telah berakhir.

Baca juga: Makin Panas, Belanda-Australia Tuntut Rusia ke ICAO Gegara Tembak Jatuh Pesawat Sipil MH17!

“Sejak 2014, kami menjadi terlalu akrab dengan pola penghalang, ketidakbenaran, dan ketidakadilan dari Rusia dan presidennya, Putin. Kami akan terus meminta Federasi Rusia untuk mempertanggungjawabkan perannya dalam tragedi ini,” ujar Mark Rutte.

Selain Mesin, Yuk Kenali Arti Suara-Suara di Dalam Kabin Pesawat

Sebagaimana layaknya moda transportasi yang mengandalkan pasokan tenaga dari mesin, sudah barang tentu pesawat identik dengan beragam ‘suara-suara.’ Dan yang paling mudah didengar dan paling masif terasa adalah suara denging dari mesin pesawat yang di luar kabin cukup memekakkan telinga. Untungnya teknologi kabin yang kedap, memungkinkan suara keras dari mesin dapat di reduksi semaksimal mungkin.

Baca juga: “Jual Tiket Berdiri” di Pesawat, Awak Maskapai Pakistan Diperkerakan

Namun saat Anda memasuki kabin pesawat dan saat tinggal landas, faktanya tak hanya suara dari mesin yang bakal terdengar. Semisal saart pesawat melaju menuju landas pacu, tak jarang akan muncul suara-suara dari atas rak/bagasi tas di atas tempat duduk. Selain itu masih ada suara-suara lain yang masih berpotensi Anda dengar. Tapi tahukah Anda, suara apa saja yang bisa menjadi patokan keselamatan dalam penerbangan?

Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk, dua orang pakar penerbangan bisa membantu Anda untuk menjelaskan suara-suara apa saja yang ada dalam sebuah penerbangan. Marc Levy seorang insinyur yang bekerja pada Boeing mengatakan, asumsi logis bila segala sesuatu yang ada di pesawat terbang bersuara. “Ketika Anda memberi sedikit sentakan pesawat, semua barang di dalamnya adalah Akan menyesuaikan dan kadang saling bersentuhan dan menghasilkan suara,” ujar Levy.

Mike Leary mantan karyawan Boeing lainnya, mengatakan bila dari daftar pemeriksaan pesawat semua dinyatakan normal, maka seperti suara dengungan, biasanya suara ini dihasilkan dari tenaga pada bagian belakang pesawat. Leary mengatakan, perubahan suara akan terdengar jelas saat pintu pesawat di tutup.

Baca juga: Tidak Ada Korban Jiwa Dalam Insiden Jatuhnya Pesawat Piper PA32

“Saat pintu ditutup, para penumpang mungkin merasakan adanya perubahan suara, dan lampu akan berkedip.  Saat itu pilot memang mengalihkan sistem kelistrikan dari ground ke sistem pesawat terbang. Selanjutnya Anda akan mendengar mesin berbunyi seperti “rengekan spin-up” dan kemudian ‘raungan’,” ujar Leary. Adalagi suara gong-gongan, namun ini bukanlah suara anjing, melainkan bunyi suara perangkat untuk menghemat bahan bakar. Biasanya perangkat ini berada di Airbus bermesin ganda.

“Ini memastikan tekanan hidrolik seimbang saat mereka hanya menggunakan satu mesin saat push-back dan taksi. Semua maskapai ingin menghemat bahan bakar jadi ini pilihan mereka. Ini berisik dan agak mengerikan karena siklus dan mematikan, on dan off, on dan off karena fluktuasi tekanan. Kedengarannya seperti kulit kayu bernada tinggi untuk beberapa orang seperti mendengar woof-woof-woof-woof,” kata Leary.

Baca juga: Mendebarkan! Pesawat Ini Landing Tanpa Roda

Para penumpang pesawat Airbus juga akan mendengar dengingan yang berkepanjangan sebelum dan sesudah mendarat. Biasanya bunyi ini terdengar dari alat yang digunakan untuk membuka dan menutup pintu kargo. Suara dengungan lainnya bisa didengar sesaat sebelum lepas landas, dimana pilot akan membuat sayap terbuka atau tertutup dalam melakukan pengereman udara (air brake). “Anda bisa melihatnya drop down jika Anda duduk di dekat sayap,” jelas Leary.

Leary mengatakan, suara putaran roda juga bisa terdengar saat pesawat berjalan di landasan pacu. Menurutnya, setiap suara dari roda pesawat akan terdengar gulirannya dan saat roda masuk atau pun keluar akan terdengar suara sentakannya.

Saat awal pesawat akan lepas landas, kebisingan pada mesin juga akan terdengar jelas. Patrick Smith seorang pilot mengatakan setelah mendarat dan menaikkan landing gear, pilot akan mengikuti kecepatan dan ketinggian yang sudah ditentukan. Suara bising ini akan secara bertahap menghilang, saat pesawat akan mendarat dan melambat.

Meski jarang, penumpang juga kemungkinan akan mendengar suara lonceng atau bel, Smith mengatakan, suara tersebut adalah panggilan telepon dari tempat awak kabin dan kokpit seperti interkom. Selain itu lonceng juga akan berbunyi sebagai sinyal untuk awak kabin. Baru-baru ini, Qantas menulis di blognya, “Di pesawat Airbus kami, Anda akan mendengar suara ‘dong’ sesaat setelah lepas landas, suara ini memungkinkan awak kapal tahu bahwa landing gear ditarik kembali.

“Tergantung di mana Anda duduk, Anda mungkin bisa mendengar atau merasakannya bergerak, jika Anda berada di lantai bawah di ujung runcing salah satu pesawat Boeing 747, Anda pada dasarnya duduk tepat di atas roda pendaratan depan,” ujar Smith.

Bunyi dong kedua biasanya adalah untuk menandakan bahwa tanda sabuk pengaman dimatikan. Pesan prioritas dari pilot dengan membunyikan tiga lonceng. Biasanya ini memberitahu awak kabin bila ada kemungkinan turbulensi di depan, sehingga awak kabin bisa memindahkan gerobak makanan dan bersiap mengenakan sabuk pengaman bila lampu sabuk pengaman menyala.

Baca juga: Penumpang Wanita Ditemukan Tewas, Dibawa Keluar Pesawat dengan Diseret

Sedangkan untuk suara yang berbahaya, bila terdengar seperti suara ledakan keras. Ini bisa saja ada masalah serius yang terjadi pada pesawat. Sehingga awak kabin bisa waspada dan memperingatkan penumpang.

Hari ini Satu Tahun Lalu, Antonov An-225 Mriya Terbang untuk Terakhir Kalinya

Tanggal 24 Februari mendatang menandakan satu tahun invasi Rusia ke Ukraina, dan satu tahun lalu, pada hari-hari ini, pesawat angkut kargo terbesar di dunia, Antonov An-225 Mriya masih dapat mengudara. Menjelang invasi Rusia, wilayah perbatasan antara Ukraina dan Rusia sudah diliputi ketegangan dengan mobilisasi kekuatan militer kedua negara di perbatasan.

Baca juga: [Video] Bangkai Antonov An-225 Mriya Ditarik untuk di-scrap

Dan satu tahun lalu, Antonov An-225 tercatat melakukan penerbangan terakhirnya, kembali ke Bandara Gostomel, Ukraina. Yaitu setelah Antonov An-225 melakukan penerbangan terakhirnya, kembali dari penerbangan rute Cina ke Denmark untuk mengantarkan 90 ton alat uji Covid-19.

Sementara alasan kembalinya An-225 ke Bandara Gostomel, sejatinya tidak terkait dengan konflik Ukraina dan Rusia, melainkan untuk perbaikan mesin.

Nahas, kembalinya An-225 ke Gostomel, rupanya menjadi akhir dari debutnya. Pasalnya An-225 menjadi korban yang hancur dalam serbuan perdana pasukan Rusia yang menyasar instalasi penting Ukraina. An-225 yang berada di dalam hanggar, dalam kondisi total lost setelah 80 persen fuselage-nya terbakar.

Antonov An-225 Mriya terbang perdana pada 21 Desember 1988. Ketika itu, Uni Soviet masih eksis meski sudah mengalami beberapa kemunduran. Setelah Uni Soviet runtuh pada 26 Desember 1991, perusahaan Antonov Airlines, termasuk pesawat Antonov An-225 Mriya, jatuh ke tangan Ukraina, bukan Rusia.

Dmitry Antonov ditemani oleh perwakilan dari perusahaan pertahanan Ukraina Ukroboronprom saat mengecek langsung kerusakan Antonov An-225 Mriya di Bandara Hostomel pada 14 April lalu. Foto: Antonov

Mengingat posisinya yang rentah sebagai musuh Rusia, Ukraina pun mencoba bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutu di NATO. NATO sendiri coba memanfaatkan Ukraina untuk mendukung program SALIS atau Strategic AirLift International Solution melalui kerjasama stategis pada tahun 2018 lalu.

Kerjasama tersebut memberi NATO kemampuan transportasi kargo besar menggunakan pesawat An-22, An-225, dan IL-76, ke sembilan negara aliansi NATO, mulai dari Belgia, Republik Ceko, Perancis, Jerman, Hongaria, Norwegia, Polandia, Slovakia, Slovenia, dan Slovenia.

Baca juga: Richard Branson Tawarkan Bantuan Untuk Bangun Versi Baru Antonov An-225 Mriya

Ukraina belakangan mulai merencanakan untuk membangun kembali An-225. Pabrikan Antonov mengumumkan bahwa pekerjaan desain An-225 Mriya baru telah dimulai dan pembangunan proyek pesawat itu akan menelan biaya sekitar 500 juta euro.

Turkish Airlines Diskon Harga Tiket Jadi Rp85 Ribu Bantu Terbangkan Korban Gempa dan Relawan

Mulai tujuh Februari 2023 kemarin, Turkish Airlines memberlakukan tarif statis atau harga tiket special sebesar TL100 atau sekitar Rp85 ribu. Hal itu ditujukan untuk memudahkan mobilitsasi korban gempa Turkiye, relawan, dan tim SAR serta bantuan kemanusiaan dari dan ke lokasi gempa di selatan negara tersebut. Terbukti, saat harga tiket itu berlaku, tak kurang dari 11 ribu relawan lokal diterbangkan ke lokasi gempa.

Baca juga: Drone Kargo Karya Anak Bangsa Beraksi di Lokasi Gempa Bumi Cianjur

Sejak gempa besar mengguncang Turkiye pada Senin subuh, Turkish Airlines telah memfokuskan armadanya untuk integrasi penerbangan dari berbagai negara dan maskapai yang mengangkut relawan. Sedikitnya, di hari pertama terjadi gempa, maskapai nasional Turkiye itu sudah melakukan 80 penerbangan ke daerah terdampak gempa.

Maskapai juga berkoordinasi dengan Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat (AFAD). Lewat AFAD, berbagai bantuan kemanusiaan dari negara sahabat dan dunia beserta relawan yang tiba di hub maskapai di Bandara Istanbul, dengan cepat dikirimkan Turkish Airlines ke lokasi bencana. Belum lagi relawan lokal yang membludak dan membanjiri Terminal Bandara Istanbul.

Sebelumnya, CEO Turkish Airlines, Bilal Ekşi, sangat berterima kasih kepada para relawan yang berbondong-bondong menyerbu bandara menanti diberangkatkan Turksih Airlines.

“Sekitar 11.780 warga relawan kami yang datang ke bandara kami untuk pergi ke zona gempa atas undangan AFAD (Disaster and Emergency Management Authority), dibawa ke Adana, Gaziantep, Adiyaman, dan Urfa dengan total 80 penerbangan pagi ini sampai 7 pagi,” jelasnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Upaya pengiriman bantuan kemanusiaan dan relawan sejak hari pertama terjadinya gempa bumi di Turkiye sempat terkendala akses. Diketahui seluruh akses darat seperti tol dan jalan raya hancur. Praktis akses utama hanya melalui udara. Sayangnya, bandara-bandara di lokasi bencana juga dilaporkan hancur. Salah satunya Bandara Hatay, dimana satu-satunya runway terbelah menjadi dua bagian.

Bandara Hatay lokasinya berada di ujung selatan Turkiye, sangat strategis untuk jadi pusat penyaluran bantuan dari sisi selatan ke lokasi bencana. Terlebih, kota terdekat, yaitu Osmaniye, Iskenderun, dan Antakya, banyak terjadi bangunan runtuh dan jalan hancur sehingga membutuhkan bantuan mendesak.

Praktis, Turkish Airlines dan penerbangan kemanusiaan lainnya hanya bisa mengakses Bandara Adana Sakirpasa dan Bandara Internasional Gaziantep Oğuzeli. Kedua bandara itu awalnya sempat ditutup tak lama setelah gempa bumi terjadi. Namun, dibuka kembali karena tidak ada kerusakan parah dan hanya melayani penerbangan kemanusiaan.

Baca juga: Bermula Dari DC-9, Inilah Rentetan Fakta Unik Seputar Turkish Airlines

Gempa bumi magnitudo 7,8 SR mengguncang Turkiye pada Senin pukul 4 subuh. Saat gempat pertama tingkat kehancuran tidak begitu parah. Tak lama kemudian, datang gempa susulan magnitudo 7,5 SR dan terjadi banyak bangunan runtuh di banyak kota, utamanya di Gaziantep dan Kahramanmaras yang sangat dekat dengan pusat gempa di kedalaman 10 km.

Sejauh ini, sudah lebih dari 5.000 orang tewas dan puluhan ribu lainnya luka-luka. Diperkirakan, jumlah korban akan terus meningkat sampai puluhan ribu seiring penyisiran oleh para relawan di lokasi bencana.

Bandara-bandara Rusak Parah Dihantam Gempa Turkiye Magnitudo 7,8 SR

Gempa Turkiye magnitudo 7,8 SR dan gempa susulan 7,5 SR pada Senin lalu menimbulkan kerusakan sangat parah di Turkiye dan Suriah bagian utara. Selain banyak bangunan runtuh dan menimbulkan korban cukup banyak, gempa juga menghancurkan banyak bandara di lokasi terdampak. Akibatnya, penyaluran bantuan kemanusiaan sempat terkendala.

Baca juga: Pria Depresi Tewas di Bandara Turki Setelah Batal Pulang ke Inggris

Sejak hari pertama gempa terbesar dalam 100 terakhir di Turkiye mengguncang pada Senin lalu, seluruh bandara di lokasi gempa ditutup untuk penerbangan apapun, baik sipil maupun penerbangan evakuasi medis dan penerbangan kemanusiaan.

Tak lama kemudian, beberapa bandara pun dibuka kembali untuk memudahkan mobiisasi bantuan kemanusiaan, relawan, dan korban.

Sedikitnya ada tiga bandara yang diandalkan pemerintah Turkiye dalam menyalurkan logistik bantuan, mengevakuasi korban, dan mengirim relawan SAR.

Pertama adalah Bandara Adana Sakirpasa. Bandara yang terletak di provinsi Adana, Turkiye selatan, ini dilaporkan mengalami kerusakan parah pada bagian terminal dan lainnya. Dilihat dari gelombang getaran gempa, sangat wajar Bandara Adana mengalami kerusakan parah mengingat posisinya yang tak jauh dari pusat gempa di Kahramanmaras, Gaziantep.

Meskipun sempat ditutup untuk penerbangan apapun, bandara dibuka kembali untuk memudahkan pengiriman bantuan ke lokasi bencana dari arah barat.

Kedua adalah Bandara Hatay, selatan Turkiye. Sama halnya dengan Bandara Adana, Bandara Hatay juga mengalami kerusakan parah. Bedanya, bila Bandara Adana hanya terbatas pada bangunan saja, Bandara Hatay juga mengalami kerusakan di bagian runway (landasan pacu). Celakanya, bandara tersebut hanya mempunyai satu runway dan kerusakannya pun sangat tidak memungkinkan pesawat mendarat.

Dilihat dari berbagai video yang beredar di media sosial, kerusakan pada runway Bandara Hatay terletak pada bagian tengahnya yang retak seolah terbelah menjadi dua. Patahan runway tersebut kemudian menjulang ke atas seolah membentuk gunung kecil yang berada persis di tengah runway, bukan di bagian ujung runway.

Karenanya, sampai saat ini, Bandara Hatay dilaporkan masih tertutup untuk penerbangan apapun karena tidak memungkinkan pesawat mendarat.

Baca juga: Mau Tengok Artefak di Turki? Yuk Mampir ke Museum di Bandara Istanbul

Ketiga adalah Bandara Internasional Gaziantep Oğuzeli. Bandara ini berjarak sangat dekat dengan pusat gempa di Kahramanmaras. Beruntung, tak terjadi kerusakan berarti di sini, begitu juga pada bagian landasan pacu bandara.

Kendati begitu, otoritas bandara tetap menutup penerbangan sipil dan hanya mengizinkan penerbangan evakuasi medis, penyaluran logistik bantuan, dan penerbangan kemanusiaan. Bandara ini menjadi pusat penyaluran logistik dan evakuasi lantaran berada di tengah-tengah wilayah terdampak gempa bumi Turkiye. Demikian dikutip dari Simple Flying.

Inggris Terapkan Harga Tiket Kereta Berbasis “Demand” Layaknya Maskapai Penerbangan

Selama ini ada yang membedakan antara sistem tiket kereta api dan pesawat terbang, umumnya pada tiket pesawat terbang diberlakukan harga yang dinamis menyesuaikan permintaan dan penawaran di suatu musim penerbangan. Guna melindungi konsumen, regulator lazimnya menerapkan batas harga tertinggi. Sementara pada tiket di kereta api, menggunakan pola harga ‘tetap’ di setiap rute. Nah, di Inggris rupanya ada terobosan agar layanan kereta api menjadi lebih kompetitif.

Baca juga: “Stasiun Kereta Api” Paling Mewah di Inggris Dijual, Pemilik Nantinya Bisa Menetap

Dikutip dari Theguardian.com (7/2/2023), disebutkan ada rencana agar tiket kereta api di Inggris dapat dihargai seperti kursi di maskapai penerbangan, yakni di bawah sistem berbasis permintaan yang sedang diuji coba oleh pemerintah, yaitu sebagai bagian dari program reformasi layanan kereta api yang lebih luas.

Sekretaris Transportasi Inggris, Mark Harper, mengumumkan pada Selasa malam bahwa tarif beberapa kereta jarak jauh yang dijalankan oleh LNER di jalur Pantai Timur akan berfluktuasi sesuai ketersediaan kursi.

Dia mengatakan perusahaan kereta api milik negara juga akan bergerak menuju penghapusan tiket pulang-pergi di seluruh jaringannya, sebagai ujian apakah ide tersebut pada akhirnya dapat diluncurkan di jalur kereta api yang lebih luas.

Menurut Departemen Perhubungan Inggris, sistem tersebut harus mengurangi sebagian besar tarif tunggal, yang bisa menjadi harga yang hampir sama dengan pengembalian di bawah praktik tarif tradisional.

Perombakan tiket yang telah lama ditunggu-tunggu juga akan mencakup lebih banyak tarif nirsentuh dan bayar sesuai pemakaian untuk perjalanan kereta api melintasi tenggara Inggris.

Sekretaris Transportasi mengatakan kereta api harus menjadi “industri yang benar-benar dipimpin secara komersial … bagi saya, itu tidak dapat dinegosiasikan.” Hanya reformasi besar yang dapat memutus siklus penurunan layanan kereta api.

Baca juga: Sembilan Inovasi Teknologi Dalam Sistem Perkeretaapian Inggris

Andy Bagnall, Kepala Eksekutif Badan Industri Kereta Api, menyambut baik perubahan kebijakan tarif, mengatakan itu adalah “gagasan yang waktunya telah tiba” setelah bertahun-tahun mendorong reformasi. Tarif kereta akan naik di Inggris sebesar 5,9 persen mulai 5 Maret 2023 – kenaikan terbesar dalam satu dekade, meskipun kenaikan tersebut ditahan secara signifikan di bawah inflasi untuk pertama kalinya sejak privatisasi.

Reformasi perkeretaapian di Inggris dianggap mendesak sejak peninjauan industri dilakukan pada 2018 karena sistem waralaba gagal.

Lima Mitos Yang Keliru Seputar Dunia Penerbangan

Layaknya moda transportasi lain yang memiliki mitosnya masing-masing, di dunia penerbangan pun memiliki mitos tersendiri. Namun, tentu saja mitos ini tidak ada kaitannya dengan hal-hal berbau mistis. Berikut, KabarPenumpang.com sarikan lima mitos seputar dunia penerbangan dilansir dari gulfnews.com (23/7/2017).

Baca Juga: 11 Kasus Misterius Dalam Dunia Penerbangan

Semakin Besar Pesawat, Tarifnya pun Semakin Rendah
Adapun alasan dibalik tercetusnya mitos seperti ini adalah ketersediaan bangku yang lebih banyak dapat membantu pihak maskapai untuk memenuhi setiap permintaan penerbangan dalam jumlah besar dan menawarkannya dengan harga yang lebih rendah daripada penerbangan dengan pesawat kecil.

Ternyata, anggapan netizen selama ini mengenai asumsi tersebut tidaklah benar. Faktanya adalah pihak maskapai tidak meningkatkan efisiensi per penumpang dengan meningkatkan kapasitas seat. Ini dikarenakan skala ekonomi tidak selalu berpihak pada maskapai penerbangan. Jadi, hingga saat ini, mitos mengenai tarif terbang menggunakan pesawat berukuran besar lebih rendah terbantahkan karena pesawat berukuran kecil memungkinkan maskapai untuk mengoperasikan rute non-stop dengan biaya yang lebih murah dan dianggap lebih efisien.

Fakta ini juga ditunjang dengan keberadaan maskapai berbodi jumbo yang hanya bisa diakses melalui bandara berukuran besar pula. Dapat dibayangkan jika calon penumpang yang tinggal di daerah pinggiran harus menyambangi bandara besar yang letaknya sangat jauh, tidak efisien bukan?

Terbang itu Mahal
Mitos ini pun terbantahkan dengan adanya studi yang menunjukkan bahwa terjadi hingga saat ini adalah penurunan harga tiket. Pada tahun 1979, rata-rata harga tiket pulang-pergi di Amerika berada di angka $617, sedangkan sekarang harganya hanya $367. Begitupun dengan harga tiket New York – Los Angeles yang ditaksir mencapai $1.442 pada tahun 1974, kini harga tiket perjalanan di antara dua kota tersebut hanya $149.

Taksiran harga tersebut menunjukkan bahwa pesawat menawarkan harga yang bisa dibilang murah, terutama dalam kasus penerbangan jarak jauh. Dapatkah Anda bayangkan jika bepergian dari New York menuju Los Angeles dengan menggunakan moda transportasi lain seperti bus, kereta, atau kendaraan pribadi? Tentu biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar ketimbang naik pesawat.

Baca Juga: 6 Hal Ini Bisa Memicu Keributan Selama Penerbangan

Pesawat Terbang Berdampak Buruk Bagi Lingkungan
Untuk mengudara dari Dubai menuju Sydney, Airbus A380 membutuhkan lebih dari 65.000 galon bahan bakar, sedangkan satu galon bahan bakar setara dengan 3,78 liter. Belum lagi bahan bakar pesawat menghasilkan lebih banyak tingkat karbon dioksida dibandingkan dengan moda transportasi lainnya, dan dengan anggapan seperti ini, maka setiap penerbangan dinilai memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan, hingga ada statemen yang menyatakan “Setiap kali Anda terbang, maka Anda berperan serta dalam menghancurkan planet ini”.

Kembali, mitos ini ditepis dengan fakta yang menunjukkan terbang jauh lebih efisien daripada menggunakan moda transportasi lain. Untuk terbang dari Frankfurt menuju Washington D. C., sebuah Boeing 747-800 membutuhkan 65 galon bahan bakar, dimana dengan jumlah yang sama, sebuah mobil SUV pun tidak mampu untuk pergi dari Washington D. C. menuju Denver. Pesawat tersebut memiliki rata-rata penggunaan bahan bakar 89mpg (miles per gallon), nilai tersebut jauh lebih rendah daripada sebuah mobil hibrida yang paling efisien sekalipun. Ditambah lagi dengan operator penerbangan yang lebih memilh untuk menggunakan biofuel untuk mengurangi emisi ketika mengudara.

Merger Merupakan Berita Buruk Bagi Para Pelancong
Penggabungan saham atau merger dalam dunia aviasi memang bukan menjadi suatu hal yang aneh, seperti yang terakhir terjadi adalah US Airways dan American Airlines. Sebenarnya ini merupakan bentuk dari persaingan yang agresif. Merger sendiri memiliki keunggulan kompetitif, ambil contoh dari tiga maskapai raksasa Amerika, Delta, American, dan United yang kini memiliki rute penerbangan yang lebih variatif. Sebut saja Delta Airlines yang memiliki rute terbang ke lebih dari 200 destinasi dari Amerika.

Baca Juga: 10 Pendaratan Dramatis Sepanjang Sejarah Penerbangan

Rute Penerbangan Terbaik Adalah yang Terpendek
Mitos ini pun terbantahkan, karena pada umumnya setiap penerbangan tidak memiliki rute terbaik ataupun terburuk, kecuali hal ini disangkutkan dengan kondisi geografis suatu wilayah dan kondisi cuaca di jalur yang hendak dilewati oleh maskapai tersebut.

Yang benar-benar menentukan jalur penerbangan suatu maskapai adalah biaya penerbangan itu sendiri. Semakin jauh Anda mengudara, biasanya ongkos yang dikenakan pun akan jauh lebih mahal. Mungkin karena dasar pemikiran seperti inilah yang akhirnya menyebabkan mitos mengenai penerbangan terbaik adalah penerbangan dengan rute terpendek menyeruak ke permukaan.

Profil Pilatus Porter PC-6, Pesawat Susi Air yang Dibakar KKB di Papua

 
Setelah mengalami kecelakaan pada Juni 2022, yakni saat melayani penerbangan rute Timika-Duma, kini ada kabar tragis lagi yang menimpat pesawat Pilatus Porter PC-6 milik maskapai Susi Air. Pesawat dengan nomor penerbangan SI 9368 pagi ini (7/2/2023) dibakar oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di lapangan terbang Paro, Kabupaten Nduga. 
 
 
Informasi ini telah dibenarkan oleh Kapolda Papua Irjen Pol. Mathius Fakhiri. “Memang benar ada laporan tentang pesawat milik Susi Air yang dibakar KKB di Paro, Kabupaten Nduga,” kata nya, dikutip dari Antara.
 
Pesawat Susi Air tersebut dipiloti Kapten Philips M. berkebangsaan Selandia Baru membawa lima penumpang, termasuk seorang bayi. Pesawat jenis Pilatus Porter terbang dari Timika pukul 05.33 WIT dan dijadwalkan tiba ke Bandara Moses Kilangin Timika pukul 07.40 WIT.
 
Pilatus PC-6 Porter tercatat memegang rekor sebagai pesawat yang mampu mendarat di lokasi tertinggi, untuk kategori fixed-wing aircraft. Pesawat bermesin tunggal ini tercatat pernah mendarat di gletser Dhaulagiri, Nepal, yang memiliki ketinggian 18.865 kaki atau 5.750 meter di atas permukaan laut.
 
Dilansir disciplesofflight.com, Pilatus Porter PC-6 buatan Pilatus Aircraft pertama kali diperkenalkan pada tahun 1959. Ketika itu, pesawat masih ditenagai oleh flat six 340 hp Lycoming GSO-480 yang hanya mampu mengangkut beban di bawah 2.000 pon. Cukup kecil untuk ukuran pesawat yang beroperasi di medan berat.
 
Susi Air
 
Barulah pada tahun 1961, pesawat dengan kemampuan STOL  (Short Take-off Landing) ini mulai mendapat banyak peningkatan pada mesin tanpa mengubah desain awal pesawat. Seri ini dinamakan PC-6/A Turbo Porter dengan mesin 523 shp Turbomeca Astazou.
 
Seri Pialtus Porter PC-6 yang lebih bertenaga baru dirilis pada tahun 1964 menggunakan mesin Pratt & Whitney. Meski begitu, seluruh varian pesawat PC-6 keluaran dekade 60-70an belum ada yang mencolok.
 
Barulah pada tahun 1984, Pilatus Aircraft mengeluarkan seri yang paling populer sampai saat ini, Pilatus Porter PC-6/B2. Model B2 ini dilengkapi dengan mesin Pratt Whitney PT6A-27 yang sangat andal dan mampu menghasilkan 680 shp. Sayangnya itu diturunkan menjadi 550 shp di seri PC-6 selanjutnya.
 
Di dunia, pesawat Pilatus Porter PC-6 digunakan untuk banyak operasi, mulai dari survei udara dan pemetaan, perang (perang Vietnam), kargo, komuter, operasi SAR, pemadam kebakaran hutan, operasi medis, terjun payung, joyflight, dan banyak lagi, baik di medan padang pasir, salju, hutan, pegunungan, dan sebagainya.
 
Pilatus Porter PC-6 memiliki kemampuan untuk mendarat hampir di mana saja. Secara spesifik, pesawat ini mampu mendarat di lintasan yang cukup pendek (hanya sepanjang 250 meter) dengan permukaan yang disiapkan secara wajar.
 
Pilatus Porter PC-6 dengan muatan sekitar 900 kg, sangat diminati di Indonesia di mana lebih dari 250 (dari 650) landasan pacu lebih pendek dari 500 meter. Adapun pesawat jenis ini banyak digunakan Susi Air untuk beroperasi di wilayah Papua.
 
 
Sementara itu, berdasarkan situs Aerocorner, dikatakan bahwa pesawat jenis Pilatus PC-6 Turbo Porter ini memiliki harga jual mencapai US$ 1 juta atau setara dengan Rp 15 miliar (kurs Rp 15.000/dolar AS).

4 Hal ini Kerap Bikin Penumpang Deg-degan, Tapi Dianggap Biasa oleh Pilot

Mungkin tak membuat Anda panik, tapi paling tidak ini (kadang) bisa membuat Anda merasa deg-degan saat naik pesawat. Meski bikin tegang, namun, apa yang Anda rasakan adalah sesuatu hal yang lumrah dalam operasional pesawat udara. Dan pastinya, hal yang membuat Anda deg-degan adalah sesuatu yang normal alias biasa-biasa saja bagi pilot dan awak kabin.
 
 
Dikutip dari thepointsguy.co.uk, disebutkan ada empat hal yang kerap membuat penumpang deg-degan, tapi adalah hal yang biasa dimata pilot. Empat hal tersebut adalah suara mesin saat lepas landas (take-off), membalikkan sayap pada sudut yang ekstrim, manuver berputar, mengamati peta dan melihat perubahan ketinggian.
 
Suara Mesin Saat Lepas Landas
Perubahan kebisingan mesin setelah lepas landas seringkali terjadi ketika tenaga mesin lebih besar dibutuhkan. Semakin pendek jarak landasan dan ukuran payload, maka akan semakin besar tenaga mesin yang dikeluarkan, dan akan berdampak pada suara deru mesin saat pesawat mendaki.
 
Guna mengurangi kebisingan, maka pesawat harus menggunakan landasan pacu yang jauh lebih panjang, dengan begitu memungkinkan pesawat menggunakan tenaga mesin dengan lebih efisien. Setelah mencapai ketinggian jelajah, maka biasanya suara bising mesin akan mulai berangsur berkurang.
 
Membalikkan Sayap pada Sudut yang Ekstrim
Duduk di kursi jendela memberikan beberapa pemandangan terbaik saat naik pesawat. Namun, bagi mereka yang takut terbang, melihat struktur sayap yang besar itu dapat menimbulkan kecemasan, terutama dalam hal pergerakan.
 
Seperti semua hal dalam hidup, perspektif hanyalah sudut pandang. Dan sudut pandang orang yang mengalami akan dipengaruhi oleh posisi fisik dari tempat mereka mengalaminya.
 
Jika Anda mengamati ujung sayap dengan hati-hati selama take-off run, Anda mungkin melihat ujung sayap terangkat lebih tinggi karena seluruh sayap tertekuk karena peningkatan gaya angkat yang dihasilkan sayap. 
 
Sampai, tiba-tiba, sayapnya menukik dan Anda sekarang memiliki pandangan penuh ke permukaan di bawah. Tipping sayap terkadang lebih dramatis dan rasanya seperti Anda akan terjungkal ke atas.
 
Manuver Berputar
Ada kalanya, sebelum proses pendaratan, pesawat harus berputar-putar di udara. Ada banyak sebab, mulai dari kepadatan lalu lintas penerbangan di bandara tujuan, faktor cuaca dan beragam alasan teknis. Karena sudah mendekat proses pendaratan, hal ini bisa menimbulkan kecemasan bagi sebagian penumpang. 
 
 
Mengamati Peta dan Melihat Perubahan Ketinggian
Pada penerbangan di ketinggian jelajah, setiap perubahan ketinggian umumnya tidak dirasakan oleh penumpang. Namun, jika Anda melihat status ketinggian dari layar peta di monitor in-fight entertaintment, mungkin akan timbul rasa kecemasan tersendiri, terutama saat mengetahui posisi perubahan ketinggian pesawat yang cepat. 

Sepanjang 2022, Vietjet Bukukan Laba Hampir US$38,7 Juta, LCC Sukses Pasca Pandemi

Sepanjang tahun 2022, Vietjet, maskapai berbiaya murah (low cost carrier/LCC) asal Vietnam yang telah melayani penerbangan ke Indonesia, mewartakan telah menerbangkan 20,5 juta penumpang melalui 116.000 penerbangan dan mencatatkan peningkatan sebesar 20 persen dalam penerbangan domestik dibandingkan dengan tahun 2019.
 
 
Dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com (7/2/2023), guna mendukung perluasan dan pertumbuhan jaringan penerbangan internasional kelas menengahnya, Vietjet telah membangun armada pesawat berbadan lebar yang terdiri dari tiga pesawat A330. Dengan menempatkan fokus pada India sebagai pasar utama, hingga 31 Desember 2022, Vietjet telah mengoperasikan 103 rute penerbangan.
 
Vietjet akan memperluas jaringan internasionalnya dengan rute-rute baru ke Astana dan Almaty (Kazakhstan) dan Melbourne dan Sydney (Australia), dengan tujuan untuk beroperasi di berbagai benua dan menawarkan kesempatan terbang kepada jutaan orang di seluruh dunia.
 
Data tahun 2022 menunjukkan bahwa industri penerbangan mulai pulih pasca pandemi. Pada kuartal keempat tahun 2022, perusahaan induk Vietjet melaporkan pendapatan bersih sebesar VND7.352 miliar (sekitar Rp4,7 triliun atau USD315,5 juta), atau melonjak 175 persen (secara year-on-year) dengan laba sebesar VND902 miliar (sekitar Rp578 miliar atau USD38,7 juta).
 
Total pendapatan Vietjet untuk tahun 2022 adalah VND32.506 miliar (sekitar Rp20,8 triliun atau USD1,39 miliar) sementara keuntungannya berada di angka VND215 miliar (sekitar Rp137 miliar atau USD9,23 juta). Tahun lalu, Vietjet menghabiskan VND4.349 miliar (sekitar Rp2,7 triliun atau USD186,79 juta) untuk pembayaran pajak langsung dan tidak langsung serta biaya dan ongkos lainnya.
 
Penerbangan internasional diperkirakan akan tumbuh pesat pada tahun 2023, sehingga memberikan peluang besar bagi maskapai penerbangan dengan kemampuan finansial dan operasional yang positif dan berkelanjutan seperti Vietjet.
 
 
Sebagai informasi, Vietjet mengoperasikan dua penerbangan di Indonesia untuk rute pulang-pergi harian antara Bali dan Ho Chi Minh City dan satu penerbangan pulang-pergi harian antara Bali dan Hanoi.