KAI Luncurkan KA Blambangan Ekspres Rute Semarang Tawang – Ketapang, Tarif Promo Mulai Rp150.000

PT Kereta Api Indonesia meluncurkan KA baru yaitu KA Blambangan Ekspres yang melayani rute Semarang Tawang – Ketapang pp. Untuk memperkenalkan hadirnya KA baru ini, KAI memberikan tarif promo mulai dari Rp150.000 untuk perjalanan KA Blambangan Ekspres yang tiketnya sudah dapat dipesan sejak 22 November 2022 di seluruh channel resmi penjualan tiket KAI.

Baca juga: Yang Unik dari Stasiun Tawang, Alunan Gambang Semarang Gantikan Bunyi Bel

VP Public Relations KAI Joni Martinus mengatakan, KAI menghadirkan KA Blambangan Ekspres untuk mempermudah masyarakat dari arah Semarang menuju Jember hingga Ketapang dimana sebelumnya KAI belum menghadirkan perjalanan KA untuk rute tersebut.

“KA Blambangan Ekspres merupakan KA pertama yang KAI operasikan dari wilayah Semarang, Cepu menuju ke wilayah Jember, Banyuwangi, hingga Ketapang ataupun sebaliknya. Hadirnya KA ini akan memberikan kemudahan kepada masyarakat yang ingin bepergian ke wilayah tersebut dengan transportasi yang aman, sehat, nyaman dan tepat waktu.,” ujar Joni.

Nama KA Blambangan Ekspres berasal dari salah satu nama kerajaan yakni Kerajaan Blambangan. Kerajaan Blambangan adalah kerajaan Hindu yang berlokasi di Banyuwangi tepatnya di Semenanjung Blambangan di ujung timur Pulau Jawa. Kerajaan Blambangan berdiri di akhir masa Kerajaan Majapahit yakni pada abad ke-13 Masehi hingga abad ke-18 Masehi.

KA Blambangan Ekspres terdiri dari 4 Kereta Eksekutif dan 3 Kereta Ekonomi dengan total tempat duduk yang disediakan sebanyak 440 tempat duduk dalam sekali perjalanan. Pada tahap awal, KA Blambangan Ekspres akan beroperasi pada tanggal 2, 3, 4, 9, 10, 11, 16, 17, 18, dan 22 s.d 31 Desember 2022.

KA Blambangan Ekspres keberangkatan Semarang akan berhenti di stasiun Semarang Tawang, Ngrombo, Cepu, Bojonegoro, Lamongan, Surabaya Pasarturi, Surabaya Gubeng, Sidoarjo, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Tanggul, Jember, Kalisetail, Rogojampi, Banyuwangi Kota, dan Ketapang.

Sedangkan KA Blambangan Ekspres keberangkatan Ketapang akan berhenti di stasiun Ketapang, Banyuwangi Kota, Rogojampi, Kalisetail, Kalisat, Jember, Tanggul, Probolinggo, Pasuruan, Bangil, Sidoarjo, Gubeng, Pasarturi, Lamongan, Bojonegoro, Cepu, Ngrombo, dan Semarang Tawang.

Baca juga: Penumpang Naik – Turun KA di Banyuwangi, Jangan Sampai Salah Stasiun

Untuk mengenalkan hadirnya KA Blambangan Ekspres kepada masyarakat, KAI memberikan diskon khusus kepada masyarakat untuk periode keberangkatan 2 s.d 18 Desember 2022. Dapatkan tiket KA Blambangan Ekspres kelas Eksekutif hanya Rp250.000 dan kelas Ekonomi hanya Rp150.000.

Sering Mengundang Tanya, Inilah Alasan Trem Dihapuskan di Jakarta

Temuan rel trem bekas peninggalan zaman Belanda pada proyek pembangunan MRT Jakarta fase 2A CP 202 di Jalan Pembangunan I, Gambir, Jakarta Pusat, sontak mengingatkan pada masa jaya transportasi massal berbasis rel di era kolonial. Dari petikan video dokumenter dan foto-foto masa lalu, memperlihatkan bahwa Jakarta Tempo Doeloe laksana kota-kota di Eropa dengan lalu-lintas tremnya yang maju. Bahkan jaringan trem listrik di Jakarta lebih dulu terpasang dari yang ada di Belanda.

Baca juga: Dari Proyek Jalur MRT Glodok ke Kota, Ditemukan Rel Trem Masa Kolonial Hindia Belanda

Bila saat ini kereta trem masih beroperasi di negara-negara Eropa dan Hong Kong, lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa di Indonesia, trem justru sejak lama dihapuskan? Selain Jakarta dan Surabaya, jaringan trem yang lebih kecil dulu ada di Semarang, Solo, Cirebon, dan Deli. Satu-satunya yang masih beroperasi saat ini adalah rel trem yang ada di Solo, yang digunakan untuk Railbus Batara Kresna.

1. Presiden Sukarno Tidak Menyukai Trem
Visi Sukarno tentang kota futuristik akan menjadikan Jakarta seperti kota-kota di Jepang, di mana mobil berjalan di sepanjang jalan raya dan jalan layang. Sedangkan angkutan umum harus di bawah tanah, bukan di permukaan daratan. Visinya menganggap trem sebagai sistem transportasi umum kuno yang mengganggu lalu lintas.

Trem listrik melintas di kawasan Kramat.

Kemudian Presiden Sukarno mulai menghentikan operasi trem pada tahun 1959, dan pada tahun 1962, trem telah berhenti beroperasi sepenuhnya di Jakarta. Penghentian trem di Jakarta terjadi sekitar waktu yang sama dengan penghentian layanan trem di Sydney, Australia. Di Surabaya, trem bertahan sedikit lebih lama, yakni hingga awal 1970-an, sebelum akhirnya bernasib sama.

Sementara di Tokyo, dahulu ada 42 jalur trem di sekitar kota. Namun hari ini hanya dua jalur yang bertahan. Keduanya pun hanya sebagai transportasi “pelengkap”.

Trem listrik dengan latar Stasiun Beos (sekarang Stasiun Kota).

2. Manajemen Transportasi yang Buruk
Alasan kedua mungkin karena pemerintah saat itu tidak senang mengakuinya, yaitu manajemen yang buruk dan bisnis yang buruk dalam transortasi. Trem Jakarta edisi terbaru ditenagai oleh listrik, sementara pemadaman listrik sesekali membuat trem sering tidak dapat beroperasi. Manajemen yang buruk oleh Djawatan Kereta Api juga menyebabkan kabin tre, banyak yang rusak dan lokomotif yang rusak.

Lebih buruk lagi, di masa awal kemerdekaan, banyak orang yang menggunakan layanan ini menolak membayar, menyebabkan hilangnya pendapatan bisnis dari layanan ini, sementara kemunculan bus umum, mobil, dan bemo membuat persaingan trem semakin ketat untuk bertahan. Dan untuk menghentikan kerugian, maka trem akhirnya dihapuskan di Jakarta.

Trem listrik di kawasan Harmoni. Foto: tdu.to

Baca juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Sebelum era TransJakarta, Jakarta hampir tidak memiliki sistem transportasi umum dalam kota yang andal. Butuh 57 tahun setelah pembubaran trem, sebelum Jakarta akhirnya melihat angkutan umum bawah tanah yang telah lama ditunggu-tunggu dari visi Sukarno, yaitu meluncurkanya MRT Jakarta pada tahun 2019.

Kenapa Pesawat Combi Tidak Lagi Diproduksi?

Pamor pesawat Combi sempat kembali meningkat saat pandemi Covid-19 mengjangkiti dunia. Banyak pesawat dikonversi menjadi pesawat Combi lantaran dinilai menguntungkan, di saat pasar penumpang lesu. Meski begitu, sudah sejak tiga dekade belakangan tidak ada satupun pesawat Combi yang diproduksi pabrikan pesawat. Kenapa demikian?

Baca juga: Ironi Pesawat Combi, Sempat Diandalkan Kini Ditinggalkan

Menurut analisa Director of Safety Asosiasi Internasional Transportasi Udara (IATA), seperti dikutip dari Quora, tidak diliriknya pesawat Combi di pasaran tak lepas dari faktor efisiensi dan permintaan pasar. Efisiensi di sini sebetulnya menjadi bak dua mata pisau.

Di satu sisi, produsen pesawat tidak ingin membangun pesawat Combi dedicated karena tak diminati maskapai, di sisi lain maskapai tak terlalu berminat mengkonversi pesawat penumpang atau kargo menjadi pesawat Combi karena rata-rata berbasis pesawat lama yang konsumsi bahan bakarnya tak seirit pesawat modern.

Permintaan pasar juga mempengaruhi kenapa pesawat Combi terakhir yang diproduksi cukup lama yaitu pada tahun 1990 (MD-11C). Disebutkan, pesawat membutuhkan banyak trim untuk menyeimbangkan bobot. Itu karena bobot penumpang dan kargo tidak sama.

Selain itu, tidak banyak rute yang membutuhkan kargo sebanyak itu atau sedikit penumpang. Pada akhirnya, pesawat Combi hanya menjadi pesawat musiman saja semisal selama pandemi Covid-19.

Pesawat Combi sendiri adalah pesawat yang penggunaan kabinnya fleksibel untuk memuat penumpang dan kargo. Ini sedikit berbeda dengan pesawat QC atau Quick Change, dimana pesawat bisa dikonversi dari penumpang ke kargo dan sebaliknya hanya dalam tempo 30 menit.

Biasanya, pesawat Combi ini memiliki tiga skema konfigurasi. Konfigurasi pertama, misalnya pada pesawat Boeing 737-700, pesawat Combi menawarkan payload atau muatan sebanyak 13,7 ton dengan enam posisi palet.

Konfigurasi kedua, menawarkan 15,8 ton muatan dengan tujuh palet. Adapun terakhir, versi full full-freighter pesawat ditawarkan menampung 18,2 ton muatan. Masing-masing konfigurasi tersebut tetap menawarkan kabin penumpang dengan kapasitas 12 dan 24.

Di masa-masa awal pandemi Covid-19, mayoritas perbatasan internasional tutup. Tidak ada penerbangan penumpang. Namun, kebutuhan peralatan dan perlengkapan medis justru meningkat di seluruh dunia, mendorong pesawat-pesawat keluar masuk satu negara ke negara lain untuk menjemput dan mengirim itu.

Saking tingginya permintaan perlengkapan dan peralatan medis, dan di saat yang bersamaan permintaan penerbangan penumpang jatuh ke titik terdalam, berbagai maskapai di dunia memenuhi kabin penumpang dengan kargo meski kursi-kursi belum dicopot alias masih dalam konfigurasi penumpang.

Sejak saat itu, berbagai maskapai mulai mengubah konfigurasi pesawat mereka menjadi pesawat Combi, semata untuk memaksimalkan pengangkutan kargo dan penumpang di kabin utama dalam sekali jalan.

Pesawat Combi rata-rata diisi oleh pesawat-pesawat Boeing; Boeing 747, Boeing 727, 737, dan 757. Pabrikan lain juga punya varian Combi, sebut saja ATR 42 Combi.

Baca juga: Boeing 747 Combi, Solusi Maskapai Angkut Penumpang dan Kargo di Era Pandemi Covid-19

Menurut data ch-aviation.com, sejak tahun 2013, permintaan pesawat Combi terus menurun sampai tahun ini.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Namun yang utama adalah masalah usia pesawat itu sendiri. Boeing 747, 727, dan 757 adalah deretan pesawat terpopuler puluhan tahun lalu. Tetapi sekarang tidak.

Scoot Umumkan Bergabung Sebagai Anggota IATA

Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah yang dikenal sebagai bagian dari Singapore Airlines (SIA) Group, dikabarkan telah bergabung dalam keanggotaan International Air Transport Association (IATA). Hanya maskapai penerbangan yang memenuhi standar Audit Keselamatan Operasional (IOSA) IATA untuk keselamatan dalam kegiatan operasional maskapai penerbangan yang dapat menjadi anggota IATA.

Baca juga: IATA vs ICAO, Apa Bedanya? Berikut Ulasannya

Leslie Thng, Chief Executive Officer Scoot, berkata “Selama 10 tahun ini, kami terus meningkatkan ketahanan operasional dan pengalaman pelanggan. Ke depannya, kami berharap dapat terus membuka jalan dalam mendefinisikan ulang dan meningkatkan kualitas perjalanan di industri penerbangan.”

“Kami sangat senang menyambut Scoot sebagai anggota IATA. Dengan bergabungnya Scoot, maskapai penerbangan bertarif rendah, sebagai anggota kami akan semakin meningkatkan keragaman pandangan kami di IATA. Kami berharap dapat bekerja sama dengan Scoot menuju pertumbuhan industri yang berkelanjutan seraya pulih dari dampak Covid-19,” kata Philip Goh, Regional Vice President IATA untuk Asia Pasifik.

Keanggotaan IATA hanya terbuka bagi maskapai penerbangan yang mengoperasikan layanan penerbangan terjadwal dan tidak terjadwal. Mempertahankan pendaftaran IOSA, dan mematuhi program IOSA, sebuah sistem evaluasi yang diakui dan diterima secara internasional yang dirancang untuk menilai manajemen operasional dan sistem kontrol maskapai penerbangan, adalah syarat keanggotaan IATA.

Baca juga: Garuda Indonesia Mulai Uji Coba Penerapan IATA Travel Pass

Menjadi anggota IATA juga memberikan akses pelatihan kepada Scoot di bidang-bidang utama seperti keselamatan dan keamanan penerbangan, efisiensi dan keunggulan operasional, keberlanjutan, serta program yang membantu meningkatkan kemampuan para profesional di industri penerbangan.

Berapa Harga Sewa Pesawat Jet Pribadi?

Bagi sebagian orang, keamanan dan kenyamanan lebih utama sekalipun ada harga yang harus dibayar. Di sektor penerbangan, pemegang prinsip tersebut sudah pasti lebih memilih menyewa atau men-charter pesawat jet ketimbang menumpangi pesawat komersial. Lantas, berapa biasa harga sewa pesawat jet pribadi?

Baca juga: Lion Bizjet Tawarkan Taksi Udara Bertarif Rp47 Juta Per Jam

Bisnis sewa jet pribadi di Indonesia sudah ada sejak lama. Hanya saja memang jet pribadi tidak begitu familiar di masyarakat luas. Hanya kalangan tertentu saja.

Sebelum pamor jet pribadi melonjak belakangan akibat heboh penggunaan oleh Brigjen Hendra Kurniawan, jet pribadi lebih dulu banyak dibicarakan lantaran crazy rich asal Malang, Gilang Widya Pramana, sempat disebut-sebut membeli jet pribadi Cessna Citation Latitude.

Kecuali triliuner semisal Cristiano Ronaldo, Messi, ada pengusaha kenamaan, bagi Anda yang ingin membeli jet pribadi memang harus berpikir dua kali. Selain harganya yang mahal mencapai ratusan miliar, biaya perawatan, parkir, bahan bakar, dan pilot berpengalaman juga tak kalah mahal dan mencekik.

Sebab mahalnya harga membeli pesawat jet, publik pun curiga terhadap kabar pembelian pesawat jet pribadi oleh crazy rich Malang. Belakangan diketahui itu adalah pesawat jet pribadi atau pesawat pribadi sewaan dari salah satu perusahaan charter. Alhasil, sewa jet pribadi pun diperbicangkan publik di media sosial secara luas, terlepas dari pembicaran terkait sosok crazy rich itu sendiri.

Dilansir grasshopperaviation.biz, sekalipun berada di Indonesia dan sehari-hari transaksi ekonomi menggunakan rupiah, namun biaya, tarif, atau harga sewa jet pribadi dihitung dengan dollar AS. Banyak hal yang mendasari ini.

Disebutkan, biaya sewa pesawat jet pribadi per jam antara US$1.300 atau Rp20 juta hingga US$3.000 atau Rp47 juta untuk pesawat pribadi kecil yang dapat menampung antara empat dan enam penumpang.

Pada pesawat berukuran sedang yang dapat menampung sembilan penumpang, diperkirakan biaya sewanya mencapai US$4.000 atau sekitar Rp62 juta dan US$8.000 atau sekitar Rp125 juta per jam. Untuk jet pribadi yang lebih besar dengan kapasitan antara 14 dan 19 penumpang, harganya lebih mahal lagi berkisar antara US$8,600 atau sekitar Rp136 juta dan US$13.000 atau sekitar Rp203 juta per jam.

Bagi yang ingin menjajal sensasi menumpangi pesawat jet pribadi namun tak cukup uang untuk menyewa satu pesawat, ada maskapai atau operator jet pribadi yang menjual kursi satuan seperti pada penerbangan komersial reguler. Umumnya dari satu kota besar ke kota besar lainnya.

Baca juga: Mengenal Jasa Penerbangan Charter di Indonesia

Sayangnya, untuk di Indonesia, belum ada operator pesawat jet pribadi yang menyediakan jasa seperti itu. Di antara negara yang tersedia layanan tersebut, Amerika Serikat (AS) adalah salah satunya.

Operator jet pribadi yang berbasis di Los Angeles, Surf Air, diketahui membuka penerbangan reguler menggunakan pesawat jet pribadi dari Los Angeles ke Las Vegas dengan biaya US$419 sekali jalan.

Kenapa Boeing ‘PHK Massal’ Robot di Jalur Produksi Boeing 777?

Seiring waktu, peran manusia mulai digantikan robot di banyak pabrik lintas sektor, termasuk pabrik pembuatan pesawat Boeing. Di jalur produksi pesawat anyar Boeing 777, Boeing menempatkan banyak robot. Namun belakangan robot itu kena ‘PHK massal’ oleh Boeing. Apa sebabnya?

Baca juga: Kolaborasikan Tenaga Manusia dan Robot, Boeing 777X Siap Mengudara di 2020

Sejak akhir tahun 2017 silam, Boeing mengambil langkah maju dengan menyertakan robot di beberapa fasilitas produksi pesawat sipil. Perlu dicatat, ini merupakan bagian dari uji coba teknologi otomasi atau otomatisasi di faslitas produksi, bukan suatu ketetapan yang sudah bulat.

Ketika itu, seperti dikutip dari Simple Flying, wakil presiden dan Chief Project Engineer untuk 777X di Boeing Commercial Airplanes, Terry Beezhold, sempat mengatakan bahwa proses produksi yang dikombinasikan dengan sistem robotika  dinilai lebih aman bagi orang-orang yang membangun pesawat tersebut.

Robot terbukti melakukan pekerjaan berulang dengan lebih efisien dan efektif dibanding tenaga terampil manusia. Dalam pembuatan lubang di sayap dan badan pesawat atau fuselage automated upright build (FAUB), misalnya, robot terbukti lebih andal dan presisi dalam melakukan tugas tersebut dibanding manusia yang tidak rata, rapi, dan lainnya dalam melubangi bagian-bagian pesawat.

Akan tetapi, pada tahun 2019, Boeing mengumumkan PHK massal terhadap para robot yang dipekerjakannya. Tak semua robot di PHK melainkan di bagian-bagian tertentu saja. Salah satunya ialah bagian memasang baut pada lubang yang dibuat robot di beberapa bagian pesawat. Sistem ini dinamakan “flex tracks.”

Hal itu karena robot terbukti tidak lebih baik dalam melakukan pekerjaan yang berkenaan dengan ketangkasan, kreativitas, dan ketelitian. Sebaliknya, tenaga terampil manusia mampu melakukan itu (pekerjaan berkaitan dengan ketangkasan, kreativitas, dan ketelitian).

Di jalur produksi Boeing 777 dan Boeing 777X, keberadaan robot di beberapa lini sudah dihilangkan dengan sistem “flex tracks” dan sistem ini terus disempurnakan di fasilitas produksi Boeing 787 Dreamliner.

Baca juga: Boeing ‘Buang’ Teknologi Robotika di Jalur Produksi Varian 777 dan 777X

Sistem “flex tracks” terbukti mengurangi kemungkinan instrumen produksi yang tidak berfungsi lantaran terjadi mismatch antara hasil kerja robot di bagian dengan luar panel badan pesawat. Dengan membagi fungsi antara robot dan pekerja terampil manusia melalui sistem “flex tracks” diharapkan tidak ada lagi penundaan produksi akibat terjadi mismatch.

Meski ditendang dari panel badan pesawat Boeing 777 dan Boeing 777X, peran robot di industri dirgantara, dalam hal ini proses pembuatan pesawat Boeing, masih tidak tergantikan di beberapa bagian, seperti pembuatan sayap sampai mobilisasi berbagai struktur berat di dalam pabrik.

“Stasiun Kereta Api” Paling Mewah di Inggris Dijual, Pemilik Nantinya Bisa Menetap

Ini adalah stasiun kereta api yang tiada duanya, pasalnya hadir lengkap dengan pemandian rolltop dan fitur klasik periode yang menakjubkan. Tapi kabar baiknya adalah pemilik baru Stasiun Studley dan Astwood Bank, dekat Redditch, tidak harus pergi setelah membelinya, karena kedua stasiun itu sekarang menjadi rumah mewah yang dijual seharga £775.000.
Rumah terpisah yang menakjubkan di Green Lane, Studley ini, bahkan memiliki bagian dari peron stasiun kereta asli di taman. Peninggalan yang menyenangkan dari kehidupan sebelumnya, termasuk poster Wild Woodbine Cigarettes antik di dinding eksterior dan tiang lampu kuno di drive. Dan saat ini, agen real Redditch AP Morgan menjual properti melalui Rightmove.
Dikutip dari birminghammail.co.uk (13/11/202), Kedua bangunan eks stasiun ini dibangun pada masa pemerintahan Ratu Victoria pada tahun 1868, lalu diubah menjadi rumah setelah jalur melalui Bank Astwood Worcestershire ditutup pada tahun 1963.
(birminghammail.co.uk)
Alih-alih menjadi kantor dan ruang tunggu, rumah empat kamar tidur sekarang memiliki tiga kamar mandi dan berada di jalan buntu pribadi yang eksklusif di sebelah empat rumah eksekutif.
Seorang juru bicara agen real untuk AP Morgan mengatakan, rumah terpisah itu adalah “properti yang luas dan berkarakter, tepi platform stasiun asli masih terlihat dan dapat ditelusuri melalui panjang taman.”
(birminghammail.co.uk)
Bangunan bekas stasiun ini telah diperbarui dengan penuh simpati ke standar dan gaya modern, namun tetap menjaga fitur asli sambil dengan hati-hati menghadirkan kenyamanan modern, dengan isyarat dekoratif yang mengisyaratkan sejarah unik dari properti ini.
Dekorasi pada bangunan ini mengingatkan kembali ke era Victoria. Ada bak mandi berdiri bebas di kamar mandi, perapian fitur dan langit-langit berkubah. Bangunan bersejarah bekas stasiun ini dilengkapi parkir mobil, taman lanskap yang indah dengan kebun buah-buahan.

Rayakan 150 Juta Penumpang, VietJet Berikan e-voucher untuk Calon Penumpang

Guna merayakan pencapaian 150 juta penumpang, VietJet, maskapai berbiaya murah yang pernah heboh dengan kostum bikini pada awak kabinnya, menawarkan hadiah menarik berupa e-voucher bernilai hingga Rp320.000 (US$20) kepada semua calon penumpang yang akan bepergian menggunakan maskapai asal Vietnam ini.

Baca juga: Penumpang Terpapar Virus dalam Penerbangan, Vietjet Tawarkan Asuransi ‘”Sky Covid Care”

Terhitung sejak hari ini (23 November 2022) hingga akhir 31 Januari 2023, semua wisatawan yang memesan dan membayar tiket penerbangan VietJet setelah mendaftar di evoucher.vietjetair.com akan memperoleh voucher bernilai Rp63.000 (US$4) hingga Rp320.000 (US$20).

Selain itu, wisatawan juga akan menerima e-voucher bernilai Rp32.000 setelah menyelesaikan registrasi melalui tautan tersebut. Semua e-voucher berlaku untuk seluruh rute penerbangan VietJet, termasuk rute Ho Chi Minh City – Bali dan Bali – Hanoi.

Baca juga: Menolak Ajakan Wefie, Petugas VietJet Air Ditendang dan Ditampar

VietJet mengoperasikan dua penerbangan pulang-pergi harian antara Bali dan Ho Chi Minh City dan satu penerbangan pulang-pergi harian antara Bali dan Hanoi.

Terbang Melampaui Batas, Pesawat Pinnacle Airlines Flight 3701 Berakhir Nahas Gegara Ambisi Pilot

Pada tanggal 14 Oktober 2004, ada kejadian tidak biasa di dunia penerbangan. Ketika itu, pesawat Bombardier CRJ200 Pinnacle Airlines Flight 3701 yang beroperasi dengan bendera Northwest Airlink, jatuh di dekat Kota Jefferson, Missouri, Amerika Serikat (AS). Hasil investigasi menunjukkan, pesawat jatuh akibat melampaui batas ketinggian terbang. Ini bisa dibilang kejadian langka.

Baca juga: Coffin Corner: Ketika Stall dan Overspeed Bertemu

Sehari sebelum kejadian, pesawat tersebut sebetulnya sudah beroperasi dengan kru kokpit lainnya untuk tujuan yang sama, penerbangan reposisi dari Little Rock ke Minneapolis. Saat mencoba lepas landas, terjadi kesalahan teknis pada pesawat dan dilakukan rejected takeoff.

Berhubung pesawat dibutuhkan pagi esok hari, Pinnacle Airlines pun mengirimkan tim mekanik untuk menangani pesawat. Di malam hari, tim mekanik berhasil menyelesaikan permasalahan dan pesawat siap terbang sepanjang malam dan tiba pagi hari di Minneapolis di pagi hari, tepat saat dibutuhkan.

Berbeda dari kru kokpit sebelumnya, saat kejadian kru kokpit diawaki oleh Kapten Jesse Rhodes yang berusia 31 tahun dan Kopilot Peter Cesarz berusia 23 tahun. Keduanya merupakan jebolan sekolah penerbangan ternama di Florida, AS, dan pernah bekerja di Gulfstream International Airlines, sebelum akhirnya bergabung dengan Pinnacle Airlines.

Bersama pesawat Bombardier CRJ200, keduanya sudah memiliki ratusan jam terbang. Jadi sudah cukup teruji dan berpengalaman.

Dilansir Simple Flying, pesawat Bombardier CRJ200 Pinnacle Airlines Penerbangan 3710 terbang dari Bandara Little Rock Arkansas pada pukul 21:21 waktu setempat dan rencana terbang di ketinggian 33 ribu kaki (10.058 meter). Tak lama setelah lepas landas, pesawat terus climbing ke ketinggian tersebut. Dalam prosesnya pitch pesawat diketahui beberapa kali mengarah ke atas.

Pukul 21:35, pilot meminta izin menambah ketinggian mencapai 41 ribu kaki (12.496 meter) yang mana itu adalah ketinggian operasi maksimum seri Bombardier CRJ. 19 menit kemudian, pesawat mengalami apa yang disebut sebagai coffin corner dan kedua mesin kehilangan tenaga dan pilot kesulitan me-restart-nya.

Tak lama kemudian pilot menyatakan keadaan darurat dan segera turun untuk mendapat kembali kendali pesawat di ketinggian 34 ribu kaki.

Pilot benar-benar gagal me-restart dan meminta ATC memandu ke bandara terdekat untuk pendaratan darurat. ATC mengarahkan pesawat ke Jefferson City Memorial Airport di Kota Jefferson, Missouri. Sambil terus kehilangan ketinggian, pilot menyadari bahwa mereka tidak akan pernah sampai ke bandara dan mulai mencari jalan untuk mendaratkan pesawat.

Sayang, waktu tidak menyediakan kesempatan lebih. Pesawat akhirnya jatuh dan menewaskan kedua pilot.

Hasil investigasi Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) terungkap fakta bahwa pilot Pinnacle Airlines tergabung dalam klub “410”. Untuk menjadi anggotanya, ia harus membawa Bombardier CRJ200 terbang ke ketinggian 41 ribu kaki.

Fakta lain yang terungkap, dari rekaman percakapan dengan ATC di Olathe, Kansas, di CVR, petugas ATC diketahui telah menanyakan bahwa apakah pesawat yang dibawa pilot merupakan Bombardier CRJ200 dan pilot membenarkan hal itu. Petugas ATC mengaku tak pernah melihat pesawat itu terbang di ketinggian 41 ribu kaki.

Baca juga: Mengapa Pesawat Tidak Bisa Terbang Lebih Tinggi dari Spesifikasinya? Tiga Faktor ini Jadi Penyebabnya

Akan tetapi, pilot memaksa bahwa ia hanya terbang berdua tanpa penumpang dan hanya ingin bersenang-senang.

Pada 9 Januari 2007, NTSB mengeluarkan kesimpulan investigasi bahwa pilot tidak profesional dan melanggar prosedur. Pilot juga gagal dalam menyiapkan pendaratan darurat. Terakhir, pilot dianggap tidak tepat atas manajemen double engine failure checklist.

Bisakah Mesin Pesawat Jet Dihidupkan Tanpa Peran Awak Kokpit?

Saat melintasi apron di Bandara Soekarno-Hatta, nampal aktivitas sibuk dari para ground crew di sekitaran pesawat. Namun, dari sekian banyak pesawat yang berjejeran, tak satu pun terlihat ada pilot atau awak pada kokpit. Sementara, deru mesin jet terdengar keras dari pesawat-pesawat tersebut. Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah mesin pesawat diaktifkan tanpa adanya pilot atau kopilot di kokpit?
 
 
Dalam konteks pesawat jet modern, makanya jawabannya bisa, yaitu mesin pesawat diaktifkan meski tidak ada awak pada kokpit. Persisnya, mesin pesawat jet dapat dihidupkan oleh teknisi atau personel darat di apron. Ini kadang-kadang diperlukan untuk tujuan perawatan atau jika terjadi kesalahan yang mencegah katup start digerakkan secara elektrik dari kokpit.
 
Dalam hal ini, personel darat menggunakan auxiliary power unit (APU) untuk menyediakan tenaga listrik dan mengeluarkan udara yang diperlukan untuk menghidupkan mesin. Ramp agent memasukkan ratchet ke lubang akses kecil di nacelle mesin di mana lubang kunci dapat diputar untuk membuka katup starter secara mekanis sehingga udara keluar dari APU dapat diumpankan ke mesin. Tenaga listrik yang dibutuhkan disediakan oleh APU.
 
Setelah berhasil ‘dipancing,’ mesin mulai berputar dan mencapai RPM yang tepat. Setelah mencapai kecepatan yang cukup dan bahan bakar ditambahkan dan pengapian terjadi, mesin mulai bekerja secara mandiri. Pada titik ini starter perlu dimatikan dan mesin tidak lagi membutuhkan udara keluar.
 
 
Intinya, sakelar penggantian mekanis di nacelle engine memungkinkan proses startup engine dimulai di aspal tanpa input apa pun dari kokpit. Namun, seperti yang dijelaskan, kondisi tertentu harus dipenuhi, tergantung pada model pesawat, seperti ketersediaan listrik dan daya pneumatik. Sebagai contoh, Boeing 787 hanya membutuhkan daya listrik untuk menghidupkan mesin. Berikut video proses menghidupkan mesin Airbus A321neo yang dilakukan oleh ground crew dengan bantuan APU.