Kekurangan Tenaga Kerja, Jepang Izinkan Jasa Pengiriman Barang/Makanan dengan Self Driving Delivery Robots

Bila di Indonesia, khususnya pada kota-kota besar begitu mudah mendapati jasa kurir pengiriman barang dan makanan, maka sebaliknya di Jepang, jasa kurir pengiriman ‘padat karya’ seperti itu adalah sesuatu yang langka dan sulit didapatkan.

Baca juga: Tidak Antar Penumpang, Moda Otonom Ini Ditugaskan Untuk Kirim Barang!

Berangkat dari kondisi di atas, maka pemerintah Jepang akan mengizinkan robot pengiriman yang dapat mengemudi sendiri – self-driving delivery robots – untuk beroperasi di jalan-jalannya untuk memerangi kekurangan tenaga kerja.

Dikutip dari euronews.com (12/2/2023), di tengah kekurangan tenaga kerja dan masalah isolasi pedesaan, Jepang melonggarkan undang-undang lalu lintasnya untuk memungkinkan robot pengiriman otonom turun ke jalan.

Jepang memiliki salah satu populasi tertua di dunia, dengan hampir 30 persen warganya berusia di atas 65 tahun dan banyak yang tinggal di daerah pedesaan yang tidak memiliki akses mudah ke kebutuhan sehari-hari.

Kekurangan tenaga kerja di kota-kotanya dan aturan baru yang membatasi lembur bagi pengemudi truk juga mempersulit bisnis untuk memenuhi permintaan pengiriman. Yang disebut-sebut sebagai solusi yang mungkin adalah robot yang bisa mengemudi sendiri.

“Kekurangan pekerja di bidang transportasi akan menjadi tantangan di masa depan,” kata Dai Fujikawa, seorang insinyur di Panasonic, yang sedang menguji coba robot pengiriman di Tokyo dan Fujisawa.

Baca juga: Bersiap Gelar 5G, Bandara Internasional Schipol Hadirkan Jaringan Seluler Indoor Terpadu

Perusahaan robotika Jepang ZMP telah bermitra dengan raksasa seperti Japan Post Holdings dalam uji coba robot pengirimannya sendiri di Tokyo. Robot ‘DeliRo’ telah menghindari pejalan kaki dan mengantarkan makanan ringan di jalan di luar Tokyo. Kemudian, Panasonic mengatakan robot “Hakobo” miliknya dapat mendeteksi rintangan dan menilai secara mandiri kapan harus berbelok dan berhenti.

Identifikasi Kebutuhan Penumpang, Awak Kabin Air New Zealand Adopsi Augmented Reality

Teknologi Augmanted Reality (AR) atau realitas tertambah kini mulai digunakan oleh maskapai penerbangan. Salah satu maskapai itu adalah Air New Zealand yang tengah mencoba menggunakan Augmanted Reality untuk membaca emosi penumpang.

Baca juga: Tak Salah, Pasangan Ini Diusir dan Tidak Mendapat Kompensasi dari Maskapai

Dilansi KabarPenumpang.com dari news.com.au, Air New Zealand menyatakan berkolaborasi dengan Dimension Data melalui kacamata cerdas HoloLens (Aaugmanted Reality). Menurut Air New Zealand, ini bisa meningkatkan layanan pelanggan dalam penerbangan. Dalam konsep video yang dibuat oleh Air New Zealand dan diluncurkan dalam Techweek NZ, General Manager Awak Kabin Air New Zealand, Leeanne Langridge mengatakan, ini akan membantu pramugari dan pramugara dalam memberikan layanan kepada setiap penumpang.

Microsoft HoloLens Inflight at Air New Zealand (Youtube)

“Teknologi ini memungkinkan kami untuk mengantisipasi kebutuhan pelanggan dan kemudian menyesuaikan layanan kami sehingga dari saat mereka masuk, kami memberikan mereka apa yang mereka butuhkan untuk merasa aman, nyaman, dan dijaga,” ujar Langridge di video.

Baca juga: Delay Luar Biasa, 6 Maskapai Ini Pecahkan Rekor!

Sebenarnya Air New Zealand ingin pramugari lebih cepat tanggap dengan apa yang penumpang inginkan melalui konsep penggunaan Augmanted Reality. Dalam video terlihat awak kabin menggunakan kacamata yang tersambung dengan headset. Kacamata Augmanted Reality ini bisa menunjukkan secara detail dari tujuan, alergi hingga apa yang terakhir diminum penumpang tersebut.

Tak hanya itu, melalui Augmanted Reality awak kabin juga mampu menilai mood penumpang. “Anda bisa melihat suasana hati penumpang berubah dari cemas menjadi tenang saat awak kabin memperhatiakan kekhawatirannya,” ujar Langride.

Microsoft HoloLens Inflight at Air New Zealand (Youtube)

Namun, untuk saat ini penggunaan Augmanted Reality masih dalam tahap uji coba. Manager Solusi Strategis Digital Dimension Data, Jonathan Glenister mengatakan, dengan Augmanted Reality akan mengubah pengalaman perjalanan.

Baca juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan

“Microsoft HoloLens memungkinkan Anda menggabungkan hologram dengan dunia fisik di sekitar Anda. Kami bekerja dengan awak kabin Air New Zealand untuk mengajukan permohonan aplikasi HoloLens Microsoft. Aplikasi ini menggunakan layanan kognitif dan menampilkan data yang relevan tentang penumpang, preferensi dan perjalanan mereka. Meskipun hanya dalam versi beta pada saat ini, kami pikir ada kemungkinan besar untuk mengambilnya lebih jauh dan mengubah pengalaman perjalanan,” ujar Glenister dalam video uji coba.

Microsoft HoloLens Inflight at Air New Zealand (Youtube)

Hingga kini, Air New Zealand bukanlah maskapai pertama yang mencoba teknologi yang terdengar seperti film sci-fi ini. Tahun 2016 lalu, British Airways mengajukan hak paten untuk membuat perangkat yang dapat dimakan yakni sebuah pil digital yang bisa memantau tingkat keasaman lambung penumpang. British berharap dengan adanya pil digital memudahkan awak kabin untuk mengubah menu penerbangan sesuai dengan hasil tersebut.

Baca juga: Gara-Gara Kebelet Buang Air Kecil, Penumpang Diturunkan dari Pesawat

Pihak Air New Zealand juga menambahkan bahwa dengan awak kabin menggunakan Augmanted Reality bisa digunakan untuk mengumpulkan rincian secara spesifik tentang suhu, fase tidur dan sensor detak jantung, sehingga awak kabin bisa dengan mudah mengetahui apakah penumpang mereka terbangn, tertidur, lapar hingga kondisi tak nyaman.

Hotel di Inggris ini Aslinya Pangkalan Udara, ‘Cita Rasa’ Militer Tetap Terjaga

Aset militer yang tidak terpakai beralih untuk tujuan komersial, jelas bukan sesuatu yang baru. Namun, bagaimana ketika beralihfungsi, aset tersebut tetap dapat mempertahankan cita rasa militernya, itu yang bisa dibilang masih jarang. Tapi apa yang berlaku pada The Tower Hotel di Friskney, Lincolnshire, Inggris, bisa menjadi rujukan bagi pengelola aset militer, termasuk di Indonesia tentunya.

Baca juga: Pensiun dari Kedinasan, Helikoper Sea King AL Inggris Berubah Fungsi Jadi Cottage Mewah

The Tower Hotel awalnya adalah bekas pangkalan udara (lanud) milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force). The Tower Hotel kini menjadio hotel luar biasa yang menampilkan menara observasi, bunker yang dikonversi, dan pesawat tempat Anda dapat tidur di dalamnya.

Belum lama ini, The Tower Hotel termasuk sebagai tujuan liburan yang menakjubkan dan ditampilkan di Channel 4’s World’s Most Secret Hotels.

The Tower Hotel di Friskney sebelumnya adalah Lanud RAF Wainfleet, dan dibeli oleh pemilik pertanian lokal Will Roughton pada tahun 2018. Roughton menyelamatkannya dari pembongkaran dan kemudian membuat hotel yang paling tidak biasa ini.

Hotel ini menggunakan bangunan asli yang terbuat dari beton tahan serangan bom udara. Angkatan Udara Inggris secara resmi menutup pangkalan ini pada tahun 2009.

Fasilitas di hotel ini termasuk bunker yang awalnya digunakan sebagai shower block untuk para ahli penjinak bom, tapi kemudian diubah menjadi apartemen mandiri, ruang permainan komunal, menara observasi, dan ruang komunal di lantai atas dengan pemandangan rawa-rawa yang kaya akan burung dan satwa liar langka.

Di sisi luar, ada pesawat Jetstream bekas militer dan helikopter militer Lynx yang diubah menjadi kamar tidur.

Baca juga: “Stasiun Kereta Api” Paling Mewah di Inggris Dijual, Pemilik Nantinya Bisa Menetap

Dikutip dari LincolnshireLive.co.uk, Roughton mengatakan sengaja menjaga tampilan aslinya dari luar sehingga tampak masih menjadi pangkalan mliliter RAF, yang saya kira itulah sebabnya mereka mengkualifikasikannya sebagai “hotel rahasia”.

Bawa Tim Medis dan Bantuan Kemanusiaan, Garuda Indonesia Kerahkan Airbus A330-300 ke Turki

Garuda Indonesia pada Senin (13/2) mengoperasikan penerbangan kemanusiaan menuju Turki dengan menerbangkan sedikitnya 120 orang tenaga kesehatan serta 20 ton bantuan kemanusiaan yang terdiri dari kebutuhan logistik dan kebutuhan tanggap bencana yang diinisiasi oleh pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk korban gempa di Turki.

Baca juga: Dengan Airbus A330-300, Garuda Indonesia Buka Rute Denpasar-Narita 3x Seminggu

Penerbangan kemanusiaan tersebut, dilayani dengan armada Airbus A330-300 dan merupakan penerbangan pertama dari dua penerbangan kemanusiaan pemerintah Indonesia ke Turki yang rencananya akan diangkut oleh Garuda Indonesia.

Penerbangan tersebut diberangkatkan dari dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta menuju Bandara Internasional Adana Sakirpasa, Turki melalui Jeddah dimana GA 7980 diberangkatkan dari Bandara Halim Perdanakusuma pada hari ini, Senin (13/2) pada pukul 09.00 WIB dan tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah pada pukul 15.20 LT untuk selanjutnya diberangkatkan dari Jeddah pada pukul 16.50 LT dan direncanakan akan tiba di Bandara Adana Sakirpasa pada pukul 19.50 LT.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam siaran pers mengatakan bahwa penerbangan tersebut merupakan bentuk komitmen Garuda Indonesia untuk senantiasa menjalankan mandat sebagai national flag carrier untuk mendukung penuh solidaritas antarnegara khususnya dalam menjalankan misi kemanusiaan.

“Melayani penerbangan kemanusiaaan ini memiliki arti tersendiri bagi kami bahwa sebagai national flag carrier untuk dapat terus menjaga mandat kami dalam berkontribusi menjaga nilai-nilai kebangsaan dengan menjadi garda terdepan untuk mewujudkan kepedulian bangsa Indonesia kepada rakyat Turki melalui layanan penerbangan yang aman dan nyaman”, jelas Irfan.

Baca juga: Bandara-bandara Rusak Parah Dihantam Gempa Turkiye Magnitudo 7,8 SR

Irfan memaparkan bahwa prosedur pemberangkatan tenaga kesehatan dan bantuan logistik tersebut telah melalui koordinasi intensif bersama pemangku kepentingan terkait dengan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan antarnegara.

Lima Bandara Ini Punya Jalur “Kereta Bandara” Terbaik di Dunia

Keberadaan kereta bandara telah melekat sebagai fasilitas di bandara berkelas internasional yang mendukung aksesbilitas dari dan ke kota metropolitan. Meski punya fungsi serupa dan dicirikan dengan tarif tiket yang lebih mahal, namun, setiap kereta bandara punya karakteristik yang berbeda, dan tak pelak menjadi identitas kebandarudaraan di suatu negara.

Baca juga: Inilah KA Bandara Pertama di Dunia, Warisan Nazi Jerman

Dan dilansir dari wired.com, ada lima bandara terbaik di dunia yang memiliki perjalanan airport train yang mengubungkan sisi bandara ke pusat kota.

1. Hong Kong, perjalanan nyaman dan tidak menyusahkan dari pintu ke pintu
Hong Kong Airport Express menjadi penghubung bandara yang kedua setelah pesawat menuju kereta. Keberangkatan kereta dari gedung terminal biasanya 12 menit sekali dan berhenti di Kowloon dan stasiun Hongkong serta stasiun Tsing Yi jika Anda menuju Tung Chung. Nantinya di kedua stasiun tersebut, ada shuttle bus dari Airport Express yang membawa wisatawan menuju hotel tanpa membayar atau gratis. Dengan menggunakan ini, wisatawan tidak perlu lagi terhubung dengan kereta lainnya, taksi atau berjalan.

Airport Express dalam beberapa kesempatan juga memberikan penghargaan kepada wisatawan yang bepergian dengan reward 200 Asia Miles. Tak hanya memudahakan dalam perjalanan dari bandara ke kota, di stasiun Hongkong dan Kowloon, juga tersedia mesin-mesin untuk chek ini tiket maskapai-maskapai besar (boarding pass saja). Tarif perjalanan kereta ke Central di Pulau Hongkong satu tiket seharga 100 dolar Hong Kong atau setara dengan $12,9 menuju stasiun Hong Kong dan 90 dolar Hong Kong atau setara dengan $11,5 untuk stasiun Kowloon. Tarif ini hampir setengah harga Octopus Card.

Ma Petite Arie
Ma Petite Arie

2. Paris Charles d Gaulle, Koneksi mudah ke beberapa tujuan
Terminal 2 Charles de Gaulle memiliki puluhan kereta yang berangkat menuju berbagai daerah di Perancis. Ada beberapa maskapai yang men-share kode penerbangan mereka ke TVG yang menyediakan layanaan cepat dan langsung ke pusat kota, beberapa kota di Perancis dan Belgia. TVG ini tidak tidak melayanai perjalanan ke paris sendirian yakni dengan bantuan maskapai sehingga bisa melayani wisatawan dengan baik. RER, kereta pinggir kota yang membantu TVG juga menyediakan layanan lokal dan kereta ekspres ke Paris.

Tarif yang dibebankan wisatawan untuk kereta ini baik TVG atau RER sama yakni €8,20 atau sama dengan $12. Nantinya setealh sampai di kota Paris, untuk menyambung dengan RER atau Metro jalur lain bisa menggunakan tiket yang sama dengan TVG. Jangan heran saat di kereta akan menemukan pemain akordeon di dalamnya untuk menghibur penumpang.

3. London Heathrow, mahal dan cepat sampai tujuan
BAA Heathrow Express memberikan perjalanan yang cukup cepat sekitar 15 menit dari bandara Heathrow ke Paddington. Sayangnya harga tiket untuk perjalanan menggunakan BAA Heathrow Express ini bukanlah murah yakni £14,50 atau $30 untuk tujuan ke Piccadilly dimana banyak terdapat resort. Sedangkan kereta dari Piccadilly menuju Gloucester hanya membutuhkan waktu 37 menit dan 55 menit sampai ke King Cross dengan tiket £4 untuk pembayaran tunai dan £2 atau $4 dengan kartu Oyster. Perjalanan ini memang mahal, namun sebanding dengan waktu tempuh yang bisa dikatakan cepat untuk sampai ke tujuan wisatawan.

4. Tokyo Narita, Rute nyaman kebeberap kota dan lebih murah dibanding taksi
Bandara yang ada di Jepang ini, menyediakan dua rute layanan ekspres ke kota. Narita Express juga dikenal dengan N’EX dan berangkat setiap 30 menit sekali dari stasiun Tokyo menuju kota-kota lain seperti Yokohama dan Kamakura. Menggunakan N’EX ini, Anda dijamin pasti mendapat tempat duduk dari terminal ke Tokyo.

Tarif perjalanan menggunakan NÉX adalah ¥2,940 atau setara dengan $26,4, mungkin tarif tiket N’EX ini terlalu mahal, namun bila dibandingkan dengan tarif taksi bisa mencapai ¥15.000 atau setara dengan $134 atau lebih. The Keisei Skyliner yang menuju Ueno, Nipori dan Aoto di Tokyo untuk wisatawan ini dikenakan tarif ¥2,000 atau setara dengan $18 serta harus memesan tempat duduk. Kedua kereta ini berhenti pada Terminal 1 dan 2 di Bandara Narita. Tak hanya itu, jika komuter berhenti di Narita, Anda harus bersiap untuk berpindah pada jam sibuk.

Baca juga: Melesat 200 Km Per Jam, Arlanda Express Jadi Kereta Bandara Tercepat 

5. Chicago O’Hare, perjalanan yang sering, murah dan langsung
Bandara yang dikenal dengan penunandaan lalu lintas udaranya karena badai yang melewati jalur menuju Chicago. Bila Anda ingin berkunjung ke Chicago, baiknya menuju Chicago Transit Authority yang menyediakan jalulr kereta dengan perjalanan yang sering dan langsung dari O’Hare ke Loop di pusat kota. Untuk menuju Chicago Transit Authority ini, dari kedua terminal domestik harus melalui jalan bawah tanah.

Nantinya kereta Blue Line akan berangkat setiap 5 menit sekali pada jam sibuk dan 8 menit sekali pada siang hari serta 10-30 menit setiap perjalanan kereta malam. Sesampainya di pusat kota, stasiun Washington, Monroe dan Jackson bisa ditempuh dengan jalan kaki. Perjalanan dari O’Hare menuju ke pusat kota di Loop hanya memakan waktu 45 menit. Untuk tarif tiketnya terbilang cukup murah yakni $2 atu $1,75 bila menggunakan Chicago Card.

Sejarah Singkat Kereta di Pulau Jawa, Butuh 36 Tahun Untuk Hadirkan Jaringan Sepanjang 3.000 Km!

Seolah menjadi jantung dari Indonesia, semua yang Anda butuhkan dapat ditemui di Pulau Jawa, tidak terkecuali kelengkapan jaringan transportasinya. Nah, salah satu moda transportasi yang sudah melegenda dan memiliki penggemar fanatiknya sendiri adalah kereta api. Dibangun sejak jaman Belanda, si ular besi yang kini dikelola oleh PT KAI ini masih kokoh – bahkan menjadi sangat maju belakangan ini – mengantarkan setiap penumpangnya menuju berbagai daerah, baik di dalam maupun keluar propinsi.

Baca Juga: “Tanggung,” Stasiun Kedua Tertua di Indonesia, Masih Beroperasi dan Jadi Cagar Budaya

Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kehadiran pertama kereta api di Indonesia dimulai sejak masa penjajahan Belanda yang terkenal dengan Sistem Tanam Paksanya. Jumat, 10 Februari 1870, Desa Kemijen Jawa Tengah menjadi saksi bisu pembangunan pertama jaringan kereta api di Indonesia.

Pembangunan ini sendiri diprakarsai oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes. Adapun jalur kereta yang pertama kali dibangun adalah dari Kemijen menuju Desa Tanggung yang ada di Tulungagung dengan total jarak 26km dan lebar sepur 1435mm. Tiga tahun berselang setelah pembangunan pertama, jalur tersebut pun rampung dan menjadi titik awal dari keberhasilan PT KAI dalam melayani setiap penumpangnya saat ini.

Keberhasilan pihak swasta tersebut lalu berbuntut pada permintaan sejumlah daerah lain yang juga ingin memasang jalur kereta api. Permintaan tersebut semakin marak manakala NIS berhasil menghubungkan Semarang – Surakarta yang terpaku jarak sekitar 110km. Wajar saja jika pertumbuhan jalur kereta api terhitung sejak 1864 hingga 1900 sangatlah masif.

Dapat Anda bayangkan sendiri, pada tahun 1867 jalur kereta yang tersedia baru 26km, lalu pada tahun 1880 bertumbuh menjadi 405km, tahun 1890 menjadi 1.427km, dan jalur kereta yang tersedia pada tahun 1900 naik pesat ke angka 3.338km! Sangat-sangat signifikan.

Pada rentan 36 tahun pengadaan jaringan kereta di Pulau Jawa, pembangunannya sendiri sebenarnya dapat dibagi ke dalam tiga tahap. Terhitung hingga tahun 1888, jaringan rel yang terbangun lebih berfokus di daerah barat dan tengah Jawa – diantaranya, Batavia – Buittenzorg (Bogor) – Sukabumi – Bandung – Cicalengka ; Batavia – Tanjung Priok dan Batavia – Bekasi ; Solo – Purwodadi – Semarang dan Semarang – Rembang ; Tegal – Balapulang.

Baca Juga: Kereta Pustaka Indonesia – Cerdaskan Bangsa di Usianya yang Senja

Sementara pada 1899, jaringan rel kereta yang sudah ada mencakup, Jogja – Cilacap ; Surabaya – Pasuruan – Malang ; Madiun – Solo ; Bekasi – Karawang ; Jogja – Magelang, dan masih banyak daerah lainnya yang didominasi oleh sebelah Timur Jawa.

Jangan dilupakan, hadirnya jaringan kereta api yang hebat dewasa ini tidak lepas dari perjuangan para pahlawan yang tergabung di dalam Djawatan Kereta Api Republik Indonesia.

 

 

Mengapa Pesawat Punya Dua Soket Audio? Inilah Alasannya

Di kabin pesawat maskapai full service , umumnya kursi penumpang dilengkapi dengan soket audio atau soket jack lebih dari satu; dua bahkan beberapa memiliki tiga soket, ketimbang satu soket yang ada pada pesawat-pesawat di era millennium. Mengapa demikian?

Baca juga: Air Canada Luncurkan Fitur baru IFE, Bisa Bagikan Film Terbaik ke Sosmed Saat di Udara

Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, agaknya kita harus menudur jauh ke belakang, terkait asal mula hadirnya inflight audio visual entertainment di pesawat.

Dikutip dari Simple Flying, soket audio mulai disematkan di pesawat sejak tahun 1960-an, seiring perluasan penerbangan komersial jarak jauh. Selain itu, maskapai juga mulai menghadirkan inflight audio and visual entertainment untuk pertama kali setahun setelahnya.

Saat itu, David Flexer, sang desainer ide tersebut (layanan inflight entertainment), mengungkapkan bahwa, “Perjalanan udara adalah moda transportasi yang paling maju sekaligus yang paling membosankan.” Tak heran bila pada akhirnya berbagai hiburan saat on board berusaha dihadirkan maskapai.

Pada inflight audio entertainment, maskapai sempat dibuat pusing dengan berbagai strategi hingga pada akhirnya dua soket audio (jack) jadi pilihan. Tak begitu jelas dasar maskapai memilih untuk menghadirkan dua soket audio.

Ada yang menyebut, alasan maskapai menghadirkan itu erat kaitannya dengan keuangan perusahaan dalam jangka panjang. Jika maskapai menyediakan inflight audio entertainment gratis menggunakan soket dua pin, untuk memastikan headphone atau headset tidak berguna di luar penerbangan pesawat, hal itu akan mengurangi keinginan penumpang untuk membeli headset tersebut.

Headset di zaman itu tentu tak seperti sekarang yang bisa didapat dengan harga murah. Tentu, penjualan headset di setiap penerbangan akan sangat menguntungkan maskapai.

Pendapat lain menyebutkan, bila maskapai menyediakan headphone secara terpisah, penumpang tidak bisa menggunakan headphone soket pin tunggal. Dengan begitu, otomatis penumpang akan membeli headphone atau headset dengan soket dua pin milik maskapai atau paling tidak menggunakan adaptor.

Akan tetapi, terlepas dari alasan ekonomi, sebetulnya headset dua jack memiliki keunggulan tersendiri dibanding headset satu jack. Umumnya, bila headset satu jack tak berfungsi dengan baik, penumpang sama sekali tak bisa menikmati inflight audio entertainment.

Baca juga: Panasonic dan Emirates Hadirkan Teknologi Hiburan Tingkat Tinggi di Boeing 777-300ER

Lain halnya dengan headset dua jack. Bila headset mengalami kerusakan, penumpang masih bisa menikmati inflight audio entertainment sekalipun tak terlalu sempurna. Hal itu dimungkinkan dengan sistem suara pneumatik atau headset (headphone) pneumatik.

Headset yang dikembangkan oleh perusahaan AS, Avid technology, dan pertama kali dipasang pesawat TWA pada tahun 1963 (yang kala itu masih menggunakan Boeing 707 dan 727 sebelum akhirnya kedatangan 747), diketahui membutuhkan dua jack karena sinyal suara kiri dan kanan harus dikirim secara terpisah, tidak seperti sekarang yang menggunakan sistem audio elektrik sehingga hanya membutuhkan satu audio jack.

Mengapa Pesawat Tri-Jet Tidak Se-Populer Twin-Jet dan Quad-Jet? Berikut Ulasannya

Pada tahun 1970-an, 80-an, dan 90-an pesawat penumpang dengan tiga mesin atau tri-jet hampir seluruhnya menjadi armada utama seluruh maskapai di dunia. Bukan Boeing atau Airbus, kala itu, pabrikan pesawat lainnya dari Amerika Serikat (AS), McDonnell Douglas, hampir merajai pangsa pasar pesawat komersial penumpang di dunia lewat DC-10 dan MD-11.

Baca juga: Parade Pesawat Trijet yang Pernah Beroperasi di Indonesia, Anda Pernah Coba?

Pesawat-pesawat tersebut kala itu memiliki andil besar sebagai pesawat jet widebody jarak jauh untuk maskapai dunia seperti American Airlines, Swissair, Garuda Indonesia, dan maskapai lainnya.

Walaupun mulai memasuki masa kejayaan pada tahun 70-an, pesawat tri-jet komersial pertama kali muncul pada 1960-an keluaran Hawker Siddeley dan Boeing berwujud HS-121 Trident dan 727. Kedua pesawat itu dirancang untuk melayani rute jarak jauh dengan kapasitas yang lebih rendah dibanding penantang di tahun selanjutnya.

Akan tetapi, dilihat dari sejarah, sebetulnya, salah satu faktor kemunculan masa kejayaan tri-jet bukan karena kemampuan pesawat dibanding twin-jet atau quad-jet, melainkan karena aturan Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS).

Simple Flying menyebut, ETOPS yang direkomendasikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), saat itu mengatur bahwa pesawat twin-jet hanya diizinkan terbang separuh dari kemampuannya. Itu berarti, sekalipun memiliki dua mesin, ketika beroperasi pesawat hanya dihitung sebagai satu mesin.

Sumber: Ed Coates Collection

Hal ini dilakukan agar ketika pesawat mengalami kegagalan mesin di salah satunya, pesawat tetap bisa terbang untuk melakukan pendaratan darurat dengan mesin lainnya. Rekomendasi itu kemudian disadur oleh regulator dunia, tak terkecuali regulator penerbangan sipil AS (FAA) dengan sebutan “60-minute rule”.

Dengan aturan tersebut, praktis, pergerakan pesawat-pesawat twin-jet sangat terbatas. Tak lebih dari rute domestik dengan jangkauan berkisar 60 menit perjalanan. Di saat itulah era tri-jet atau pesawat dengan tiga mesin dimulai. Saat itu, pesawat McDonnell Douglas DC-10 dan Lockheed L-1011 Tristar yang notabene memiliki tiga mesin menjadi primadona maskapai untuk mengantarkan penumpang ke belahan bumi lain atau jarak jauh.

Alasannya simpel, dilarang untuk menggunakan pesawat bermesin ganda untuk jarak jauh tetapi terlalu mahal ongkos operasional bila menerbangkan pesawat dengan empat mesin pada rute jarak jauh. Jadi, pilihan memang hanya jatuh pada pesawat tri-jet.

Perlahan tapi pasti, seiring perkembangan teknologi, ICAO mulai meningkatkan ambang batas ETOPS pada pesawat bermesin ganda menjadi 120 menit mulai tahun 1980-an hingga 180 menit di akhir dekade tersebut. Hal itupun pada akhirnya mendorong pengembangan pesawat twin-jet jarak jauh untuk mendapatkan efisiensi lebih dari yang ditawarkan tri-jet, baik efisiensi dalam segi operasional maupun perawatan dan produksi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi harga.

Baca juga: “Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

Saat itulah, Airbus dan Boeing memulai era duopoli di pasar widebody (juga narrowbody); ditandai dengan kebangkitan Airbus A310 dan Boeing 767, disusul Boeing 777 di kemudian hari sebagai pemilik gelar pesawat widebody bermesin ganda terpopuler dengan lebih dari 2 ribu pesanan. Singkat cerita, sepak terjang pesawat tri-jet bisa dikatakan miris dengan kemunculan didukung peraturan ETOPS dan berakhir juga karena aturan tersebut.

Akan tetapi, dengan mayoritas pesawat saat ini didominasi twin-jet dan quad-jet, berbagai pihak pun bertanya-tanya, akankan pesawat tri-jet benar-benar akan musnah dari dunia? Beberapa pihak menyebut hal tersebut mungkin tak akan terjadi. Paling tidak, tri-jet, sebagaimana quad-jet, akan tetap menjadi idola calon penumpang yang menginginkan keamanan lebih, dengan tambahan mesin menjadi tiga atau empat.

Mulai 13 Februari, Penumpang Angkutan Umum di Singapura Tak Wajib Gunakan Masker

Singapura akan mencabut pembatasan Covid-19 yang tersisa seperti mewajibkan masker di transportasi umum mulai Senin depan, ketika negara pulau tersebut menyesuaikan respons wabah penyakitnya ke level terendah.

Baca juga: Jumlah Sopir Bus Terinfeksi Covid-19 Melonjak, Singapura Canangkan Sopir Taksi Jadi ‘Cadangan’

Penurunan Kondisi Sistem Respons Wabah Penyakit (Disease Outbreak Response System Condition/Dorscon) dari kuning menjadi hijau terjadi karena situasi pandemi global dan lokal stabil dan penyakitnya ringan, terutama di antara individu yang divaksinasi.

Dikutip dari Straitstimes.com (9/2/2023), Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan pada hari Kamis, mencatat bahwa Covid-19 saat ini menimbulkan gangguan minimal terhadap kapasitas layanan kesehatan dan orang-orang.

Namun, Kementerian Kesehatan akan tetap mewajibkan penggunaan masker bagi pengunjung, staf, dan pasien di lingkungan perawatan kesehatan dan perumahan seperti bangsal rumah sakit, klinik, dan panti jompo, di mana terdapat interaksi dengan pasien, kata satuan tugas multi-kementerian yang menangani Covid-19 di sebuah konferensi media.

Vaksinasi akan terus ditawarkan secara gratis kepada semua warga negara Singapura, penduduk tetap, pemegang izin jangka panjang, dan pemegang izin jangka pendek tertentu.

Setiap orang yang berusia lima tahun ke atas masih harus mendapatkan perlindungan minimum – tiga dosis vaksin mRNA atau vaksin Novavax, atau empat dosis vaksin Sinovac – sementara Pemerintah akan merekomendasikan agar kelompok tertentu mengambil suntikan penguat setiap tahun.

Baca juga: Bus Party Bikin Happy, Tapi Bisa Gagalkan Upaya Singapura Cegah Penularan Covid-19 

Namun, subsidi pandemi akan semakin diperkecil karena Covid-19 diperlakukan sebagai penyakit endemik. Perawatan tidak lagi disubsidi penuh, dan pasien harus membayar untuk setiap tes Covid-19.

Mau Jadi Pramugari Tapi Takut Terbang, Ini Solusinya

Karir sebagai awak kabin atau pramugari merupakan impian bagi sebagian orang. Namun, banyak juga orang yang memiliki rasa takut terbang, lalu apa yang terjadi? Bisakah seseorang yang takut terbang mengatasinya dan menjadi awak kabin?

Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh

Untuk itu perlu dicermati, yaitu dengan meneliti pekerjaan sebagai awak kabin secara mendetail. Penting untuk memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pekerjaan itu, karena gambaran mimpi mungkin sangat berbeda dari fakta. Memahami tugas, persyaratan dan harapan pekerjaan sangat penting. Jika pekerjaan sebagai awak kabin masih menarik, inilah saatnya untuk menggali lebih dalam.

Akar masalah
Ketakutan akan terbang sangat umum, dan seringkali hanya terkait dengan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Tentu saja, citra yang ditampilkan oleh film dan media bisa berdampak buruk.

Kecelakaan pesawat sangat jarang terjadi, tetapi jika ada, liputan media sangat besar, yang dapat membuat penerbangan menjadi peristiwa yang menakutkan bagi banyak orang. Salah satu cara untuk meredam rasa takut tersebut adalah dengan mengikuti kursus takut terbang yang ditawarkan oleh sebuah maskapai penerbangan.

Memahami bagaimana pesawat terbang dan alasan di balik beberapa suara dan sensasi akan membantu. Terapi dan hipnosis juga dapat bekerja untuk beberapa orang. Pilihan lain adalah mengikuti kursus menjadi awak kabin dan mengungkap pekerjaan awak kabin. Hal ini memungkinkan orang untuk berbicara dengan awak kabin kehidupan nyata, belajar tentang kehidupan sehari-hari sebagai awak, dan mempraktikkan beberapa tugas mereka. Ini sendiri dapat menghilangkan rasa takut terbang bagi sebagian orang.

Lakukan Penerbangan 
Kedengarannya jelas, tetapi mengambil penerbangan yang sebenarnya dengan pengetahuan yang diperoleh dari suatu kursus akan mengubah reaksi kebanyakan orang untuk terbang dengan sangat cepat. Menonton awak kabin di pesawat dan melihat bahwa mereka bekerja tanpa rasa cemas sangat membantu.

Mengamati awak kabin di pesawat dan melihat bahwa mereka tenang saat lepas landas, mendarat, dan kemungkinan turbulensi bisa menjadi pengalaman yang berguna. Pada kenyataannya, awak kabin mengerjakan ratusan penerbangan dalam setahun dan kemungkinan terjadinya sesuatu sangat kecil. Ketakutan untuk terbang sering terjadi ketika orang menghindari penerbangan sama sekali atau sudah lama tidak terbang.

Baca juga: Mau Jadi Pramugari? Siap-siap 5 Risiko Besar Ini

Lihat realitas
Periksa faktanya, kecelakaan pesawat sangat jarang terjadi, menempatkan rasa takut ke dalam perspektif dan mengetahui kenyataan adalah suatu keharusan. Peluang kecelakaan pesawat adalah satu banding 1,2 juta dan risiko kematian dalam kecelakaan udara adalah satu banding 11 juta.