Apakah Jet Pribadi Bisa Terbang Kapan Saja Mereka Mau?

Di bandara, baik itu bandara kecil maupun bandara besar, kedatangan dan keberangkatan pesawat diatur sedemikian rupa di jam-jam tertentu agar tidak terjadi tabrakan. Namun, untuk pesawat jet pribadi, apakah mereka tetap mengikuti hal itu atau bisa terbang kapan saja saat dibutuhkan?

Baca juga: Berapa Harga Sewa Pesawat Jet Pribadi?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita tahu, arus kedatangan dan keberangkatan pesawat di bandara diatur oleh petugas Air Traffic Controller (ATC).

Sebagaimana umum diketahui, sistem menara ATC terbagi ke dalam tiga bagian: Aerodrome Control Service (biasanya berpartner dengan petugas darat untuk memberikan isyarat kepada pesawat untuk take-off atau landing), Approach Control Service (mengatur ketinggian pesawat), dan Area Control Sevice (memberikan clearance kepada pesawat yang sedang menjelajah).

Bagi bandara kecil yang lalu lintas udaranya tidak terlalu padat, tentu menjadi seorang petugas ATC akan terasa sangat membosankan – berbanding terbalik dengan bandara yang memiliki tingkat lalu lintas udara yang padat, pekerjaan ini akan terasa sangat melelahkan.

Selain itu, satu poin yang membuat pekerjaan ini terasa semakin berat adalah prinsip zero mistake – dimana salah informasi sedikit saja, maka kekacauan hingga kecelakaan pesawat bisa saja menanti dalam jangka waktu beberapa menit ke depan.

Alur kerja ATC bisa dibilang tergolong mudah. Bagi pesawat yang hendak mendarat, ia cukup diatur, diberi space, diberi segala informasi yang dibutuhkan, dipandu, serta diberi clearance.

Pun demikian bagi pesawat-pesawat yang hendak lepas landas. Polanya sama. Setelah meninggalkan bandara, pesawat akan terhubung dengan ATC berikutnya sampai ke terhubung ke ATC bandara tujuan untuk diatur, diberi space, diberi segala informasi yang dibutuhkan, serta diberi clearance.

Masing-masing petugas ATC dari yang tiga itu (Aerodrome Control Service, Approach Control Service, dan Area Control Sevice) akan bekerja membantu proses pendaratan dan keberangkatan sesuai dengan porsinya, termasuk keberangkatan dan pendaratan pesawat jet pribadi.

Menurut pengguna Quora, tak seperti penerbangan sipil berjadwal, penerbangan atau pesawat jet pribadi bisa dilakukan kapan pun mereka mau, dengan catatan sudah diberi restu atau clearance oleh ATC.

Begitu juga dengan kemana mereka pergi, berapa lama mereka terbang, dan berapa ketinggian yang ingin dicapai pesawat menuju bandara tujuan, itu harus atas panduan dari ATC.

Baca juga: Apa yang Terjadi Bila Pilot Tidak Berkomunikasi dengan ATC? Ini Jawabannya

Meski begitu, tentu saja pesawat jet pribadi harus mengikuti peraturan wilayah yang ada, dalam hal ini andai ada wilayah restricted area, seperti zona militer rahasia, istana presiden, dan lainnya. Tetap ada batasan kemana mereka terbang.

Kuncinya, selama sudah diberikan panduan dan terus berkomunikasi dengan ATC serta mematuhi hukum udara di wilayah tempat pesawat terbang,  pesawat jet pribadi bisa terbang kapan pun mereka mau dan kemana pun.

Keluar dari SkyTeam, China Southern Airlines Selangkah Gabung Aliansi Maskapai Oneworld

Aliansi maskapai penerbangan global, Oneworld dilaporkan sedang berdiskusi dengan maskapai China Southern Airlines untuk keanggotaan baru. Ini menarik mengingat salah satu maskapai terbesar di Cina itu dahulu adalah anggota aliansi maskapai lainnya, SkyTeam.

Baca juga: Untung-Rugi Gabung Aliansi SkyTeam yang Juga Diikuti Garuda Indonesia, Apa Saja?

Baik Oneworld maupun China Southern Airlines sebetulnya tidak pernah mengungkapkan hal ini, tentang bagaimana keduanya berkomunikasi. Tetapi, pada akhirnya, ini tetap bocor ke media melalui sumber anonim.

Bergabungnya China Southern Airlines dengan Oneworld dinilai dapat memberikan akses berharga ke maskapai anggota lainnya ke pasar penerbangan di Cina, yang sebelum Covid-19 menerjang dikenal sebagai pasar penerbangan dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Sejak meninggalkan aliansi maskapai SkyTeam, China Southern Airlines telah menjalin hubungan dengan sejumlah maskapai global, beberapa di antaranya merupakan anggota Oneworld.

Meski tak disebutkan secara jelas, namun, hubungan China Southern Airlines dengan beberapa maskapai anggota Oneworld dan alinasi Oneworld itu sendiri tak lepas dari pengaruh American Airlines dan Qatar Airways. Keduanya diketahui memiliki saham sebesar lima persen di maskapai yang memiliki hub di Beijing dan Guangzhou itu.

Juru bicara Oneworld mengatakan, “Sehubungan dengan calon anggota lainnya, kapan saja, kami sedang berdialog dengan kandidat potensial tetapi tidak mengomentari secara spesifik sampai diskusi tersebut mencapai tingkat kedewasaan di mana pengumuman publik dapat dilakukan.”

“Dengan pulihnya perjalanan internasional dari pandemi, aliansi menjadi semakin penting dengan menawarkan konektivitas global untuk maskapai penerbangan dan pelanggan mereka,” tambahnya, seperti dikutip dari executivetraveller.com.

Ketika dikonfirmasi atas pernyataan Oneworld, American Airlines dan British Airways yang masuk ke dalam jajarang pendiri aliansi maskapai tersebut, tidak menanggapi. Begitu juga dengan China Southern Airlines.

Selain sebagai pendiri dan memegang andil dalam kepengurusan Oneworld, American Airlines dan British Airways juga diketahui aktif mendorong China Southern Airlines agar bergabung dengan aliansi maskapai. Tak hanya itu, kedua maskapai itu juga meyakinkan anggota lainnya terkait manfaat yang didapat mereka (para anggota) andai China Southern Airlines bergabung dengan mereka.

Akan tetapi, upaya dari American Airlines dan British Airways tak begitu mulus mengingat ada pertentangan dari beberapa anggota, terutama terkait kebijakan Zero Covid yang diterapkan Cina. Kebijakan tersebut secara bisnis membuat maskapai global, termasuk anggota Oneworld, tidak dapat terbang ke Negeri Tirai Bambu itu.

Selama 25 tahun lebih, maskapai di dunia terpolarisasi ke dalam tiga aliansi maskapai; StarAlliance yang paling tua (berdiri pada 14 Februari 1997), Oneworld (1 Februari 1999), dan SkyTeam (22 Juni 2000).

Sebagai aliansi maskapai tertua, StarAlliance saat ini menjadi aliansi maskapai terbesar dengan 26 anggota, diikuti SkyTeam dengan 19 anggota, dan Oneworld 13 anggota.

Kendati hanya memiliki 13 anggota, Oneworld secara kualitas dan manfaat lebih unggul. Dari delapan kategori aliansi maskapai terbaik, Oneworld memenangkan empat di antaranya. Sedangkan empat sisanya menjadi miliki StarAlliance dan SkyTeam.

Baca juga: Pandemi Covid-19 ‘Paksa’ Etihad Gabung Aliansi Maskapai: Dulu Ngotot Bikin Aliansi Maskapai Sendiri!

Empat kategori yang dimenangkan Oneworld sendiri yaitu lounge access, keuntungan lainnya, kelas kursi ekonomi premium, dan kelas bisnis.

Sedangkan empat sisanya, kategori airline & route network dan kursi first class dipegang oleh StarAlliance dan dua lainnya, kategori kursi kelas ekonomi dan bagasi, dipegang oleh SkyTeam.

Tragisnya Boeing 727 Avianca Flight 203, Dibom Kartel Narkoba Kolombia Pimpinan Pablo Escobar

27 November 1989 atau 33 tahun yang lalu, pesawat Boeing 727-200 salah satu maskapai tertua di dunia, Avianca, jatuh di wilayah Soacha, Kolombia, setelah dibom oleh kartel narkoba pimpinan Pablo Escobar. 107 orang atau semua penumpang dan awak tewas, termasuk tiga orang di darat yang tewas akibat tertimpa puing-puing pesawat.

Baca juga: Hari Ini, 48 Tahun Lalu, TWA Flight 841 Dibom Pemuda Palestina Gegara Intel Israel

Dilansir Simple Flying, pesawat Boeing 727-200 dengan nomor registrasi HK-1803 itu di awal sudah melalui proses pengecekan yang ketat sampai dinyatakan laik terbang. Begitu juga dengan seluruh penumpang, semuanya sudah melewati pengecekan ketat petugas sekalipun saat itu prosesnya masih manual dan belum ada body scanner.

Pesawat trijet dengan nomor penerbangan (Flight) 203 rute Bogota-Cali itu akhirnya lepas landas dari Bandara Internasional El Dorado dengan mulus. Pilot-kopilot langsung membawa pesawat climbing untuk mencapai ke ketinggian yang diinginkan.

Disebutkan, dalam tempo hanya lima menit setelah lepas landas, pesawat sudah mencapai ketinggian 13.000 kaki (3.962 meter) di atas permukaan laut. Sampai di sini, pesawat masih aman dan belum ada tanda-tanda bahaya muncul.

Tak lama setelah itu, petaka mulai menghampiri pesawat yang waktu itu berumur 23,5 tahun atau buatan tahun 1966 itu. Bom yang diletakkan di bawah kursi 14F, mulai bereaksi dan akhirnya meledak.

Tak begitu jelas bagaimana bom tersebut bisa masuk ke pesawat dan tidak jelas pula apakah bom tersebut diletakkan oleh seorang penumpang saat dalam penerbangan atau sebelum penerbangan.

Menariknya, ledakan tersebut, berhubung sumber ledakannya berada di sekitar tangki bahan bakar pesawat, sempat dikira akibat kebocoran bahan bakar hingga menimbulkan ledakan.

Yang pasti, usai ledakan tersebut memicu kebakaran besar di bagian tangki bahan bakar pesawat dan sayap. Saat pesawat terbang dalam kondisi terbakar, banyak masyarakat di darat melihatnya dengan jelas sebelum ledakan kedua akhirnya menghancurkan pesawat menjadi berkeping-keping di langit wilayah Soacha, Kolombia.

Baca juga: Flight 139 – Ketika Pesawat Air France Dibajak Pejuang Palestina dan Teroris Jerman, Penumpang Yahudi Dibantai

Kepingan pesawat tersebut pun turut menewaskan tiga orang di darat, ditambah 107 penumpang dan kru menjadi total 110 orang tewas karenanya. Ini menjadi kecelakaan pesawat terburuk kedua di Kolombia kala itu dan sekarang bergeser menjadi di posisi ke-4.

Meski sempat menjadi kontriversi akibat versi yang menyatakan penyebab kecelakaan akibat ledakan di tangki bahan bakar, namun hasil penyelidikan lebih lanjut mengkonfirmasi keterlibatan anak buah Pablo Escobar, Dandeny Muñoz Mosquera dalam ledakan yang dikonfirmasi berasal dari bom tersebut. Ia kemudian dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.

Bobot Pesawat Bisa Berkurang Tanpa Dicat, Tapi Risikonya Bisa Fatal

Dengan maraknya efisiensi yang harus dilakukan maskapai atas armada pesawatnya, menjadi pertanyaan awam, mengapa pesawat harus di cat? bukankah pesawat tanpa cat akan menjadi lebih efisien? Anggapan tersebut berdasarkan pemahaman bahwa cat menyumbang bobot yang cukup besar pada pesawat, yang pada gilirannya peningkatan berat pesawat dapat mengurangi efisiensi bahan bakar. Nah, apakah benar demikian?

Baca juga: Airbus Batalkan Kontrak Rp85 Triliun, Qatar Airways Ngamuk-Bocorkan Video Buruknya Kualitas Cat Pesawat A350 

Adalah fakta bahwa cat memang dapat menambah bobot pada pesawat, seberapa besar, kabarnya lumayan besar. Namun, cat diperlukan untuk pesawat itu sendiri, pasalnya kulit eksterior pesawat modern adalah kombinasi dari logam dan panel komposit. Dan material komposit akan terdegradasi oleh sinar ultraviolet, dan sinar matahari memiliki banyak sinar ultraviolet.

Nah, untuk memberi perlindungan pada materal komposit, pendekatan yang biasa dilakukan adalah mengecat permukaan komposit untuk melindungi kulit pesawat dari sinar UV matahari.

Jika pemilik pesawat memilih untuk tidak mengecat pesawat mereka, maka material aluminium akan membutuhkan semacam perlindungan. Kulit luar aluminium dari suatu bidang harus dilindungi, karena aluminium yang terkena unsur-unsur tersebut mengembangkan lapisan aluminium oksida dari waktu ke waktu, mirip dengan cara besi mengembangkan karat (oksida besi Fe2O3).

Lantaran cat itu berat, oleh karena itu bidang yang tidak dicat akan berbobot kurang dari bidang yang dicat. Kebanyakan orang menganggap cat sebagai film tipis di atas substrat. Berapa berat film tipis seperti itu? Jawabannya banyak.

Lupakan film tipis dan pikirkan tentang cat cair saat masih dalam kaleng. Anda telah mengecat ruang tamu Anda bukan? Ambil kaleng galon cat. Berat bukan? Sekarang ambil dua atau tiga kaleng yang mungkin Anda perlukan untuk pekerjaan cat dua lapis yang telah Anda rencanakan. Sebagian besar beban itu, dikurangi kalengnya, akan digunakan pada pesawat yang punya dimensi kulit cukup luas.

Baca juga: Maskapai dan Produsen Pesawat Rugi Besar, Produsen Cat Pesawat Justru Untung Besar

Cat menambah bobot yang mengejutkan pada pesawat, itulah sebabnya Anda melihat pesawat selama puluhan tahun tanpa banyak cat. Tapi kulit eksterior pesawat modern adalah kombinasi dari logam dan panel komposit, contohnya seperti pada A380 ini:

Jadi Airbus A380 yang tidak dicat akan sangat tidak efisien, karena kulitnya akan rusak. Dan akan terlihat sangat konyol jika hanya mengecat bagian komposit. Jadi jika pesawat memiliki panel bodi komposit, biasanya akan dicat penuh.

Ground Force One, Inilah Bus Lapis Baja Kepresidenan Amerika Serikat

Ground Force One, adalah kode nama tidak resmi untuk bus lapis baja berwarna hitam yang digunakan pada masa kepemimpinan Presiden AS Barack Obama. Bus lapis baja senilai US$1,1 juta ini dibeli oleh Secret Service untuk menjamin keamanan dan keselamatan Orang Nomer Satu di AS tersebut. Ada dua armada yang disiapkan dan merupakan bus yang tidak sembarangan.

Baca juga: George Bush 41, Lokomotif Pemberian Union Pacific Kepada Presiden AS ke-41

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bus ini memiliki berbagai keunggulan yang tak jauh berbeda dengan mobil Kepreseidenan Candillac One. Ground Force One sendiri diperkenalkan pada Agustus 2011 yang awalnya digunakan oleh Barack Obama dalam kampanyenya menjelang Pemilihan Presiden 2012.

Ground Force One (businessinsider.com)

Bus lapis baja hitam tersebut dibeli sebanyak dua buah dari perusahaan Hemphill Brothers Coach yang berbasis di Tennessee. Sebelum dua armada Ground Force One hadir, Secret Service menyewa bus setiap kali presiden membutuhkannya dan memasang lapisan pelindung serta fitur keamanan lain.

Bus ini dilengkapi dengan run flat-tire, eksterior yang dilapis baja, kaca yang diperkuat, sistem pemadam kebakaran, tabung oksigen dan kantung darah untuk presiden. Selain fitur keamanan, bus dilengkapi dengan peralatan kantor lengkap temasuk telepon, radio, televisi dan internet.

Bahkan di dalam bus juga dilengkapi dengan captain seat serta sofa untuk menunjang kenyamanan presiden selama perjalanan darat. Bus tersebut dibuat oleh Prevost, perusahaan karoseri yang berbasis di Kanada.

Tipe bus tersebut yakni X3-45 VIP 3 yang baru dirancang oleh Quebec. Spesifikasianya adalah menggunakan triple axle yang memiliki panjang total 13,7 meter, lebar 2,6 meter dan tinggi 3,65 meter. Untuk mesinnya sendiri, menggunakan Volvo D13 dengan tenaga 500 TK dan torsi 2.372 Nm.

Baca juga: Untung Rugi Narrowbody vs Widebody untuk Pesawat Kepresidenan Indonesia

Pada masa kampanye menjelang Pemilihan Presiden 2012, bus kedua digunakan oleh calon presiden dari Partai Republik Mitt Romney. Yang mana setelah itu, bus kedua digunakan sebagai cadangan untuk tamu yang berkunjung.

Sama seperti “The Beast”, hanya beberapa orang terpilih yang akan pernah duduk di belakang kemudi Ground Force One. Ground Force One memungkinkan presiden diangkut dengan nyaman dan aman melalui serangkaian daerah yang lebih terpencil, seperti selama kampanye bus Obama melalui Ohio dan Pennsylvania pada tahun 2012.

Airbus A380 Pernah Ingin Dijadikan Air Force One, Batal Gegara Hal Ini

Sudah sejak satu dekade lalu, Angkatan Udara AS (USAF) sedang dalam misi mencari pengganti Boeing 747 VC-25A yang dinilai sudah usang untuk terus menjadi Air Force One. Pesawat tersebut lama kelamaan dinilai tak lagi efisien untuk membersamai Presiden Amerika Serikat (POTUS).

Baca juga: Air Force One Kini Dibuat Replika untuk Edukasi Publik

Di samping itu, Queen of the Skies juga disebut agak rumit untuk dirawat. Di antara beberapa kandidat, Airbus A380 termasuk di dalamnya. Namun, apa mau dikata, pesawat komersial terbesar di dunia itu batal dijadikan Air Force One karena satu dan lain hal.

Dilansir Simpel Flying, dalam sebuah artikel lansiran Flight Global tahun 2007, Komando Mobilitas Udara (AMC) Amerika Serikat sedang mempelajari kemungkinan datangnya Air Force One baru. Disebutkan agensi tersebut meminta detail informasi tiga jet Airbus, A340-600, A330-200 dan A380, sebagai bagian dari apa yang disebut survei “Rekapitalisasi Pesawat Besar VIP”.

Selang dua tahun kemudian, dari ketiga kandidat tersebut, Airbus A380 rupanya jadi pesawat yang paling berpeluang besar untuk dijadikan Air Force One. Laporan Guardian, Airbus sedang mempersiapkan konsep A380 Air Force One untuk disesuaikan dengan spesifikasi USAF dan selera POTUS yang kala itu dijabat oleh Barack Obama.

Dibanding Boeing 747-200, A380 Air Force One dinilai jauh lebih irit bahan bakar dan menawarkan kemewahan berkat kabin luas nan megah.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, alih-alih menjadikan A380 sebagai Air Force One, USAF dan AMC malah balik ke pilihan lama dengan varian baru, Boeing 747-8; yang nantinya akan diberi sandi VC-25B saat menjalani tugas sebagai Air Force One. Pesawat ini dinilai jauh lebih efisien ketimbang Boeing 747-200 atau VC-25A.

Sebagai mana alasan maskapai global mulai meninggalkan A380, batalnya pesawat jet superjumbo itu menjadi Air Force One juga didasari oleh alasan yang sama; tidak efektif dan efisien. A380 dinilai terlalu besar untuk memenuhi kebutuhan POTUS. Lagi pula, A380 tentu lebih unggul bila dibandingkan dengan Boeing 747-200 yang sudah usang. Namun, ketika Boeing 747-8 muncul, tentu A380 bukan lagi pilihan terbaik karena lebih boros 15 persen dibanding Queen of the Skies.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Selain itu, dimensi pesawat yang super besar juga menyulitkan bandara-bandara yang akan didarati A380 Air Force One. Tentu itu bukan pilihan menarik untuk pesawat VVIP.

Alasan lain di luar paparan di atas, tentu karena Airbus buatan Eropa, semangat nasionalisme pada akhirnya mendorong para pemangku kebijakan untuk tak pindah ke lain hati alias tetap menggunakan pesawat Boeing, melengkapi kendaraan POTUS di darat bersama Cadillac yang notabene juga buatan AS, layaknya Boeing.

Mangaluru di India Punya Restoran yang Terbuat dari Kereta Kuno

Ketika armada transportasi mulai usang dan tak lagi bisa beroperasi seperti sediakala kemanakah mereka? Di Indonesia ada kuburan kereta, di beberapa negara juga ada kuburan pesawat bahkan kuburan kendaraan yang tak lagi digunakan. Namun meski begitu, tak semuanya teronggok begitu saja seperti barang tak berguna.

Baca juga: Dua Gerbong di Yorkshire Akan Diubah Jadi Pengalaman Tidur di Atas Gerbong

Sebab armada-armada ini bisa disulap alias dirubah menjadi berguna kembali dengan fungsi yang berbeda. Beberapa pesawat telah beralih fungsi sebagai hotel maupun restoran. Gerbong kereta api pun ada yang menjadi hotel, restoran maupun sebuah perpustakaan. Di Mangaluru, India, awal tahun ini tepatnya pada 9 Januari 2020, ada sebuah restoran yang bertemakan kereta api.

KabarPenumpang.com melansir dari laman newindianexpress.com (5/2/2020), restoran ini merupakan yang pertama di Mangaluru dan menarik perhatian para pecinta kuliner. Restoran kereta api ini dibangun sekitar tujuh bulan oleh beberapa arsitek dan desainer interior. Mereka mengubah tampilan kereta api kuno untuk menjadi sebuah restoran. Restoran ini berlokasi di National Highway 66 dengan nama Snackies Resto Cafe.

Dilengkapi dengan pencahayaan lembut dari lampion bergaya antik. Pengunjung yang dapat ditampung restoran ini lebih dari seratus orang dan merupakan gagasan dari AKA Siddique. Dia mengatakan, restoran ini dibuat dari kereta api kuno bernomor 912020 dan dilengkapi bilik telepon, loket tiket, rantai alarm dan pengaturan tempat duduk yang sangat baik, agar pelanggan menikmati suasana ketika makan. Siddique mengatakan, nomor 00 adalah tanggal, bulan dan tahun peluncuran gerai.

“Kami memulai dengan outlet di Attavar pada 2014 dan kemudian outlet kedua di Kankanady. Model kereta di sini adalah yang pertama,” kata Siddique yang berasal dari Kasargod.

Dia terus berkeliling dunia dan saat berada di kereta, dia memikirkan membuka restoran yang meniru model gerbong kereta.

“Pemilik tanah di sini menyewakannya dan butuh waktu hampir tujuh bulan untuk menyelesaikan pembangunannya. Timah, blok berlubang serta lembaran digunakan untuk membangun dinding restoran. Makanannya termasuk kontinental, Italia dan Cina yang disajikan di atas nampan kayu ramah lingkungan untuk menciptakan kesadaran dalam menghindari plastik,” jelas Siddique.

Outlet ini juga memiliki aula pesta di atasnya di mana 60 hingga 70 orang dapat ditampung untuk pertemuan kecil, ulang tahun dan konferensi. Ada juga kotak tempat pelanggan bisa meninggalkan ponselnya dan menghabiskan waktu berkualitas. Pelanggan yang tidak menggunakan ponselnya saat sedang makan akan diberikan kupon hadiah.

Baca juga: Lori, Si Kereta Tebu Yang Kini Sudah Beralih Fungsi

“Restoran bertema gerbong kereta api yang menyajikan makanan lezat adalah salah satu dari jenisnya. Saya merasa seolah-olah saya berada di gerbong yang sebenarnya dan saya belum menemukan restoran seperti itu di Karnataka,” kata Abhishek, seorang pelanggan.

Malaysia Airlines Hentikan Penerbangan Rute Kuala Lumpur – Brisbane, Ada Apa?

Sementara sebagian besar maskapai Asia kembali akan menambah lebih banyak kapasitas penerbangan ke Australia, maka Malaysia Airlines justru sebaliknya, maskapai plat merah Negeri Jiran itu memutuskan untuk menghentikan penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke Brisbane.

Baca juga: Setelah Singapore Airlines, Giliran Malaysia Airlines Gunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Layanan penerbangan langsung tiga kali seminggu yang berlaku saat ini, akan berakhir efektif mulai 27 Maret 2023.

Meskipun rute Kuala Lumpur ke Brisbane akan dihapuskan, Malaysia Airlines masih akan mengoperasikan hingga 43 penerbangan nonstop mingguan ke empat tujuan di Australia;, yaitu Sydney, Melbourne, Adelaide, dan Perth. Penumpang yang ingin pergi ke Brisbane dapat menggunakan codeshare Malaysia dan mitra oneworld Qantas untuk koneksi dari Sydney dan Melbourne ke ibu kota Queensland.

“Setelah tinjauan bisnis yang menyeluruh, kami telah membuat keputusan sulit untuk menangguhkan operasi kami ke Brisbane untuk memastikan kami mengoperasikan dan memanfaatkan armada kami pada tingkat yang optimal, serta memaksimalkan pendapatan di setiap rute yang kami tuju.” ujar juru bicara Malaysia Airlines, dikutip dari simpleflying.com.

Saat ini rute Kuala Lumpur – Brisbane dilayani dengan Airbus A330-300, yaitu setiap Senin, Kamis dan Sabtu. Dengan jarak 6427 km, durasi penerbangan dari Kuala Lumpur ke Brisbane memiliki durasi rata-rata 7:26 jam.

Baca juga: Khawatir Pilot Grogi, Malaysia Airlines Intensifkan Latihan Simulator dengan Kacamata 3D

Meski kehilangan rute nonstop antara Brisbane dan Kuala Lumpur merupakan pukulan berat, langkah ini menggambarkan bagaimana Malaysia Airlines secara proaktif mengoptimalkan armada mereka. Pasca pandemi, maskapai penerbangan mencari setiap rute untuk mencocokkan kapasitas dengan permintaan dan menyesuaikannya ketika kondisi pasar berubah, ketimbang mengandalkan kapasitas untuk strategi pemasaran.

Apa yang Dilakukan Pilot Jika Landing Gear Rusak?

Landing gear atau roda pendaratan menjadi salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang, baik saat di darat maupun di udara, sebelum lepas landas, ketika lepas landas, sampai mendarat. Namun, andai landing gear rusak atau tak berfungsi untuk mendukung pendaratan pesawat, apa yang akan dilakukan pilot?

Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Retractable Landing Gear? Berikut Ulasannya

Menurut pilot salah satu maskapai penerbangan, Randy Duncan, seperti dikutip di Quora, saat itu terjadi pilot akan mengupayakan belly landing atau mendarat tanpa roda pendaratan atau dengan perut pesawat.

Pesawat modern saat ini disebut sangat kokoh untuk menahan terjadinya belly landing, mulai dari saat touchdown sampai meluncur di runway (landasan pacu) sebelum akhirnya berhenti.

Di banyak pesawat, saat landing gear rusak untuk mendukung pendaratan, pilot akan membawa pesawat mendarat dengan mesin menyentuh runway terlebih dahulu.

Dalam banyak kasus, mesin akan tetap menempel di sayap sampai pesawat berhenti dan di kejadian lain mesin bisa saja lepas dan pesawat meluncur di runway dengan perut atau bagian bawah pesawat.

Meski terdengar atau terlihat ekstrem, tetapi dalam banyak kasus ini aman karena sudah didesain untuk melakukan itu dan pilot mempunyai prosedur terkait itu, mulai dari touchdown dengan lembut sampai mendarat dengan kecepatan rendah untuk meminimalisir kerusakan.

Masalah sebenarnya adalah bukan pada saat melakukan belly landing kemudian pesawat pecah dan mencelakakan penumpang, melainkan percikan api yang terjadi saat belly landing. Ini diperparah dengan adanya bahan bakar di sayap dan perut pesawat sehingga satu-satunya yang paling mengancam adalah terjadinya kebakaran.

Ini pun bukan saat kebakarannya tetapi kepanikan yang terjadi saat evakuasi dan menyebabkan penumpang luka-luka hingga tewas.

Akan tetapi, ini bisa dicegah dengan beberapa prosedur sebelum dilakukannya belly landing. Menjelang dilakukannya belly landing, pilot akan meminta pramugari-pramugara untuk mempersiapkan belly landing.

Baca juga: Apakah Ada Batasan Kecepatan Pesawat Agar Landing Gear Bisa Digunakan?

Persiapan sangat beragam dan rumit, mulai dari menenangkan penumpang yang ketakutan, mencari penumpang lain yang tenang dan memasangkannya dengan penumpang yang ketakutan, meminta semua penumpang memindahkan barang yang ada di bawah kursi dan kantung penyimpanan di seatback serta seluruh yang ada di kantung dan genggaman agar dimasukkan ke tas dan disimpan di kompartemen bagasi.

Selain itu, awak kabin akan mengedukasi penumpang yang duduk di samping pintu darurat agar melakukan apa yang harus dilakukan, mencari beberapa relawan yang biasa disebut ABA (Able Bodied Assistants) untuk membantu proses evakuasi, mengingat tenaga dari awak kabin saja tak akan cukup menangani ratusan penumpang, dan tentu saja mengenakan seatbelt dan menaikkan sandaran kursi, sampai menyingkap tirai jendela.

Apa Penyebab Penumpang Digeledah Petugas Keamanan Bandara? Ini Empat Kemungkinannya

Terdapat dua pemeriksaan atau security check point (SCP) di bandara. Di sini, penumpang akan diminta mencopot seluruh yang menempel di badan kecuali baju, celana, dan alas kaki, termasuk mengeluarkan apa yang ada di saku untuk di-scan di mesin X-ray bersama bagasi. Setelah proses ini, penumpang mungkin ada yang diizinkan melanjutkan proses dan ada pula yang digeledah petugas keamanan bandara. Lantas, apa saja penyebab penumpang digeledah?

Baca juga: Laptop Anda Diperiksa di Bandara? Jangan Keburu Panik!

Perlu diketahui, penumpang dilarang membawa barang-barang berbahaya ke bandara dan pesawat. Barang-barang tersebut termasuk kembang api, petasan, tabung gas, pemutih, insektisida dan pestisida, tabung oksigen olahraga, korek gas dan korek api, semprotan dengan gas mudah terbakar, baterai lithium-ion, baterai cair, dan beberapa lainnya.

Selain itu, tentu saja bom, narkoba, binatang yang dilindungi, senjata tajam, organ tubuh manusia yang hendak dijual, barang selundupan, barang ilegal, dan lainnya yang masyhur dilarang di semua negara juga dilarang dibawa di bandara dan pesawat.

Untuk mencegah semua barang-barang tersebut lolos ke pesawat dan sampai ke bandara tujuan, di bandara keberangkatan seluruh barang penumpang akan diperiksa oleh petugas pemeriksaan keamanan bandara. Penumpang yang bersangkutan juga akan di-scan melalui mesin X-ray untuk mengetahui adanya barang yang disembunyikan di pakaian dalam atau dibalik baju, celana, dan alas kaki.

Di bandara, pemeriksaan keamanan biasanya dilakukan dua metode, manual dan melalui peralatan tertentu (mesin X-ray dan lainnya). Andai peralatan tadi tidak berfungsi, maka semua penumpang diperiksa secara manual. Penumpang juga akan digeledah oleh petugas setidaknya setelah terindikasi empat hal.

Menurut TSA Officer at Transportation Security Administration, Redford Stone, seperti dikutip dari Quora, empat hal atau empat kemungkinan penyebab seorang penumpang digeledah petugas, pertama karena terdapat barang yang dicurigai petugas mesin X-ray. Ini biasa berarati banyak hal. Yang pasti adalah barang-barang terlarang di bandara dan pesawat.

Kedua, bunyinya alarm body scanner atau detektor logam walkthrough atau pada ETD (Explosive Trace Detector) setelah usap telapak tangan. Ketiga, penumpang menolak melewati body scanner dan detektor logam. Terakhir atau keempat adalah random check. Terkait random check, ini ada ketentuannya.

Menurut PM 127 Tahun 2015 Tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional, ketentuan pemeriksaan (penggeledahan) secara acak, dalam kondisi normal, 10 persen dari pemeriksaan keamanan penumpang dan bagasi kabin yang telah dilakukan dengan peralatan harus dilakukan pemeriksaan keamanan secara manual.

Baca juga: Apakah Pilot dan Pramugari Harus Menjalani Pemeriksaan Ketat di Bandara Seperti Penumpang

Dalam kondisi ancaman meningkat persentase pemeriksaan keamanan acak (random check) ditingkatkan sesuai tingkat ancaman yang dihadapi. Pemeriksaan keamanan penumpang dan bagasi dapat dilakukan secara tidak terduga terhadap penumpang dan bagasi yang telah dilakukan pemeriksaan keamanan.

Apabila dalam pemeriksaan keamanan ditemukan barang dilarang (prohibited items) yang ada pada penumpang dan bagasi kabin yang dilarang masuk pesawat udara, harus ditahan atau disita oleh personel keamanan bandar udara dan selanjutnya diproses sesuai ketentuan yang berlaku.