Kenapa Pesawat Tiba-tiba Batal Lepas Landas Saat Ngebut di Runway?

Mayoritas kecelakaan terjadi saat lepas landas dan tak lama setelahnya serta ketika mendarat.  Lebih detail lagi, kecelakaan pesawat lebih sering terjadi saat proses lepas landas. Itu kenapa proses lepas landas terkadang menegangkan, terlebih saat pesawat tiba-tiba berhenti saat sudah memacu kecepatan penuh. Lantas, kenapa pesawat tiba-tiba batal lepas landas? Kenapa tidak dari sebelumnya?

Baca juga: Kenapa Pesawat Sering Berhenti di Ujung Landasan Sebelum Lepas Landas?

Pilot membatalkan lepas landas atau rejected takeoff ialah kondisi dimana pilot membatalkan lepas landas saat pesawat belum mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mengudara atau V1. Itu berarti, ketika reject takeoff atau rejected takeoff diambil, secara teori, pesawat harusnya sudah diprediksi masih cukup waktu untuk berhenti sebelum ujung runway.

Menurut Skybrary, rejected takeoff bisa dikategorikan pesawat sedang dalam posisi kecepatan rendah maupun kecepatan tinggi. Produsen pesawat umumnya mengartikan transisi pada dua kategori ini (kecepatan rendah maupun tinggi) antara kecepatan 80 dan 100 knot.

Sebelum dioperasikan, produsen juga diwajibkan melakukan uji rejected takeoff pada pesawat baru, seperti yang dilakukan Boeing bersama 777X pada Maret 2020 lalu.

Selaku produsen pesawat, Boeing sendiri menjelaskan, alasan pilot menolak lepas landas didorong oleh setidaknya lima hal. Kelimanya tak dapat ditolelir dan sangat berisiko membahayakan penerbangan.

“Lepas landas dapat ditolak karena berbagai alasan, termasuk kerusakan mesin, indikator atau alarm peringatan lepas landas, arahan dari kontrol lalu lintas udara (ATC), ban pecah, atau peringatan sistem.”

Dari lima alasan pilot membatalkan lepas landas, kemudian muncul pertanyaan lanjutan, kenapa pilot tidak membatalkan lepas landas sebelum pesawat ngebut di runway?

Baca juga: Mendadak Belok Saat Ngebut di Runway, Pesawat Tibet Airlines Terbakar

Menurut pengguna Quora yang juga pilot berlisensi, Trent Hopkinson, saat di apron atau saat taxiing di taxiway, pesawat menempuh kecepatan rendah. Di sini, indikasi kerusakan mesin dan indikator atau alarm peringatan lepas landas, termasuk juga peringatan sistem mungkin belum terdeteksi. Ban pecah juga kecil kemungkinan terjadi saat taxiing.

Barulah saat pesawat sudah mengambil posisi di ujung runway sebelum akhirnya melesat dengan kecepatan tinggi, di situ kerusakan mesin, peringatan sistem, indikator tanda bahaya, ban pecah, dan segalanya akan nampak dan memungkinkan. Sehingga, saat ini terjadi, hal yang bisa dilakukan hanyalah membatalkan lepas landas.

Kendati demikian, andaipun pesawat tetap melanjutkan penerbangan ketika dalam salah satu dari kelima kondisi itu, sebetulnya tak ada masalah dan pesawat dapat melanjutkan perjalanan serta mendarat dengan selamat.

“Faktanya, sekitar 55 persen dari (rejected takeoff), hasilnya mungkin pendaratan yang lancar jika lepas landas dilanjutkan,” jelas Boeing.

Rejected takeoff sangat jarang terjadi. Tahun lalu, rejected takeoff setidaknya terjadi kurang dari 10 kasus. Pada Januari di tahun tersebut, pesawat Airbus A320 LATAM dikabarkan batal lepas landas di Sao Paolo akibat kerusakan mesin saat di kecepatan 20 knot.

Baca juga: Ternyata, Pesawat Tak Selalu Ngebut di Runway untuk Bisa Terbang, Ini Alasannya

Pertengahan Maret, pesawat kargo Airbus A300 Transcarga International Airways memutuskan batal atau menolak lepas landas akibat kerusakan mesin yang tidak terkendali di Bogotá, Kolombia.

Tahun ini, rejected takeoff terakhir terjadi pada 18 November lalu pada pesawat Airbus A320-200N LATAM Chile. Ketika itu, pesawat sudah menempuh kecepatan 125 knot atau sekitar 231 km per jam di runway, tiba-tiba truk pemadam kebakaran melintas secara diagonal memotong jalur. Meski sudah ngerem, tapi tabrakan tetap tak terhindarkan.

Apa yang Terjadi Bila Pilot Salah Menyatakan Keadaan Darurat?

Ada begitu banyak hal-hal tak terduga dalam sebuah penerbangan. Saat itu terjadi, pilot biasanya akan menyatakan keadaan darurat dan meminta izin ATC mendarat di bandara terdekat. Namun, apa yang terjadi bila pilot sudah menyatakan keadaan darurat (declared emergency) dan ternyata itu salah? Apa konsekuensinya bagi pilot?

Baca juga: Kena ‘Serangan’ Laser, Pesawat Boeing 787 Virgin Atlantic Mendarat Darurat

Sebelum memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan), informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan.

Semua itu menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan. Karena itu, saat terjadi keadaan darurat, segalanya sudah terencana.

Keadaan darurat bisa berupa apa saja. Intinya hal-hal yang tidak normal atau tidak biasa dalam penerbangan. Bisa juga hal-hal yang mengganggu atau mengancam keselamatan dan keamanan penerbangan.

Menurut mantan kapten pilot MD-11, William R. Levin, pilot biasanya menyatakan keadaan darurat di beberapa kondisi. Pengalamannya selama terbang, ia pernah menyatakan keadaan darurat lantaran adanya penumpang yang mengalami keadaan darurat medis.

Sebelum dinyatakan darurat, pramugari/pramugara terlebih dahulu diminta pilot untuk menanyakan apakah ada dokter di antara penumpang. Bila ada, dokter akan menanganinya terlebih dahulu. Rekomendasi dari dokter kemudian digunakan untuk menyatakan keadaan darurat atau tidak.

Apabila penumpang dinyatakan meninggal, maka penerbangan akan dilanjutkan. Bila tidak dan membutuhkan penanganan medis, maka pilot akan menyatakan keadaan darurat. Itulah yang dialami Levin.

Selain itu, ia juga pernah menyatakan keadaan darurat akibat kontrol penerbangan atau kerusakan mesin.

Baca juga: Gegara Penumpang ‘Betah’ di Toilet, Pesawat Ini Terpaksa Mendarat Darurat

Akan tetapi, menurutnya, pilot yang nakal mungkin saja menggunakan prosedur keadaan darurat untuk kepentingannya sendiri. Di bandara sibuk dan di jam sibuk, antrean mendarat di bandara bisa sangat panjang. Pernah mencapai 15 pesawat yang antre mendarat.

Pilot yang ingin menang sendiri, ia mungkin akan menyatakan keadaan darurat untuk mendapatkan prioritas dari ATC dan diizinkan mendarat segera tanpa perlu mengantre. Tentu saja ini tidak dibenarkan.

Menurutnya, tidak ada formal list pilot atau sebuah penerbangan menyatakan keadaan darurat. Itu berarti, penerbangan manapun yang menyatakan itu besar kemungkinan akan dilayani meskipun tetap dibutuhkan alasan, sekalipun mungkin saja alasan tersebut dibuat-buat.

Meski begitu, di penerbangan sungguhan, pilot di beberapa penerbangan pernah melakukan kesalahan atau salah mendiagnosa sehingga salah menyatakan keadaan darurat.

Pengguna Quora, Jim Mowreader, bercerita, pernah suatu ketika penumpang mengalami sakit dada dan dianggap serangan jantung. Pilot kemudian menyatakan keadaan darurat dan pesawat mendarat.

Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata itu bukan serangan jantung melainkan karena salah makan. Lantas, apa yang terjadi dengan pilot? Tidak ada konsekuensi apapun. Lebih baik salah menyatakan keadaan darurat daripada tidak menyatakan keadaan darurat.

Baca juga: Jadi Kata Sakral dalam Situasi Darurat, Inilah Arti Penting Kata “Mayday”

Eks pilot USAF, David Ross, pernah bekerja sebagai petugas ATC. Suatu ketika, ia menangangi pesawat yang ingin mendarat. Namun, pilot tidak punya Instrument Flight Rules (IFR) rated. Karenanya, ia dialihkan ke bandara lain yang memungkinkan pendaratan Visual Flight Rules (VFR).

Namun, itu keputusan salah. Pesawat tak pernah sampai di bandara tujuan dan akhirnya jatuh karena kehabisan bahan bakar. Itu terjadi lantaran pilot tak menyatakan keadaan darurat. Andai pilot memberi tahu stok bahan bakar dan menyatakan keadaan darururat, ceritanya akan lain.

Airbus Bangun Stasiun Produksi dan Distribusi Hidrogen Rendah Karbon di Bandara Toulouse

Airbus telah menandatangani perjanjian kemitraan dengan HyPort, yaitu perusahaan patungan antara ENGIE Solutions dan Badan Regional untuk Energi dan Iklim di Occitanie (AREC), pemimpin dalam pengembangan hidrogen hijau di Perancis, untuk mendukung pengembangan salah satu stasiun produksi dan distribusi hidrogen rendah karbon pertama di dunia di bandara.

Baca juga: Bandara AS Pamer View Smart Windows, Jendela Berteknologi AI yang Mampu Turunkan Emisi Karbon

Pembangunan stasiun hidrogen di bandara Toulouse-Blagnac telah selesai awal tahun ini dan sistem produksi, penyimpanan, dan distribusi sedang menjalani pengujian akhir. Stasiun yang dijadwalkan mulai beroperasi pada awal 2023 akan memiliki kapasitas produksi sekitar 400 kg hidrogen per hari, memberikan kemungkinan untuk menggerakkan sekitar 50 kendaraan transportasi darat.

Airbus bekerja sama dengan HyPort untuk menerapkan rencana perluasan operasi darat berbahan bakar hidrogen ini, mengadaptasi sarana produksi dan distribusi, serta kapasitas infrastruktur, untuk mengatasi peningkatan permintaan hidrogen yang diharapkan di tahun-tahun mendatang. Kemitraan ini juga akan memungkinkan cetak biru disiapkan untuk menguraikan persyaratan dan memberikan panduan tentang keselamatan operasi, kepatuhan terhadap peraturan, penerimaan sosial serta investasi keuangan yang diperlukan untuk penggunaan hidrogen secara luas di bandara.

Baca juga: Redam Kebisingan, Bandara San Francisco Luncurkan Teknologi GBAS

Pada tahun 2020, Airbus meluncurkan “Hydrogen Hub at Airports’ untuk membantu bandara mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur untuk pesawat hidrogen masa depan, serta operasi bandara rendah karbon, di seluruh rantai nilai. Selama dua tahun terakhir, Airbus telah menandatangani kemitraan dengan berbagai otoritas bandara, maskapai penerbangan, dan penyedia energi di Eropa, Asia-Pasifik, dan Amerika Utara.

Airbus-Renault Kembangkan Baterai Masa Depan untuk Mobil dan Pesawat Listrik Hybrid

Raksasa manufaktur pesawat dan raksasa otomotif asal Perancis, Airbus dan Renault, sepakat bekerja sama dalam pengembangan baterai masa depan. Baterai itu nantinya akan digunakan di mobil listrik Renault dan pesawat listrik hybrid Airbus pada tahun 2030 mendatang. Kerja sama ini merupakan bagian dari upaya kedua perusahaan mencapai target bebas emisi pada 2050 mendatang.

Baca juga: Honeywell Kembangkan Mesin Pesawat Listrik-Hybrid

Sebagai bagian dari perjanjian kerja sama, Airbus dan Renault nantinya akan menggabungkan tim teknik mereka dan saling berbagi pengetahuan terkait teknologi elektrifikasi berbasis baterai.

Keduanya juga akan melakukan penelitian dan pengembangan bersama untuk mempercepat roadmap elektrifikasi dan meningkatkan jangkauan produk hasil pengembangan di tahun-tahun mendatang.

Kemitraan Airbus dan Renault berupaya menciptakan teknologi penyimpanan baterai yang lebih baik dari yang sudah ada sekarang. Saat ini, penyimpanan baterai masih membutuhkan dimensi besar agar kapasitas juga besar.

Diharapkan, hasil kerja sama bisa menghasilkan baterai yang lebih padat dan dimensi yang lebih kecil. Dengan begitu, jangkauan mobil listrik dan pesawat bisa lebih jauh di saat yang bersamaan dimensi baterai sama atau lebih kecil sehingga bobot mobil dan pesawat menjadi lebih ringan.

Salah satu hal yang ingin diuji untuk mencapai tujuan menambah kepadatan baterai dan mengurangi bobot adalah beralih dari kimia sel saat ini (lithium-ion lanjutan) ke semua desain solid-state.

“Untuk pertama kalinya, dua pemimpin Eropa dari berbagai industri berbagi pengetahuan teknik untuk membentuk masa depan pesawat listrik hibrida. Penerbangan adalah bidang yang sangat menuntut dalam hal keselamatan dan konsumsi energi, begitu pula industri mobil,” kata Gilles Le Borgne, EVP Teknik Renault Group.

“Di Renault Group, pengalaman 10 tahun kami dalam rantai nilai kendaraan listrik memberi kami umpan balik terkuat dari lapangan dan keahlian dalam kinerja sistem manajemen baterai,” tambahnya, seperti dikutip dari laman resmi Airbus.

Baca juga: Air Canada dan SAS Airlines Borong Pesawat Listrik Berkapasitas 30 Penumpang, 2028 Beroperasi

Sementara itu, Chief Technical Officer Airbus, Sabine Klauke, mengatakan, “Kemitraan lintas industri dengan Grup Renault ini akan membantu kami mematangkan baterai generasi berikutnya sebagai bagian dari peta jalan elektrifikasi Airbus.”

“Menyatukan pengalaman Renault Group dalam kendaraan listrik dengan rekam jejak kami sendiri dalam demonstrasi penerbangan listrik akan memungkinkan kami mempercepat pengembangan dari teknologi disruptif yang diperlukan untuk arsitektur pesawat hybrid masa depan di tahun 2030-an dan seterusnya. Ini juga akan mendorong munculnya standar teknis dan peraturan umum untuk mendukung solusi mobilitas bersih yang diperlukan untuk mencapai target iklim kita,” tutupnya.

Anggaran Dipangkas, Pesawat Kepresidenan Nigeria Bakal Disita Lessor

Pesawat kepresidenan Nigeria dilaporkan terancam disita lessor. Hal itu terjadi lantaran anggaran sewa, pemeliharaan, dan operasional 10 pesawat kepresidenan oleh Armada Udara Kepresidenan Nigeria (PAF) dipangkas. Dari US$$43,7 juta yang diajukan hanya cair US$27,2 juta . Ini membuat biaya jasa layanan dan pemeliharaan pesawat menjadi ditunggak.

Baca juga: Avtur Mahal, Penerbangan Domestik Produsen Minyak Terbesar Afrika, Nigeria, Lumpuh Total

Pemangkasan anggaran tersebut sejatinya bukan hanya membuat pesawat terancam disita, tetapi lebih dari itu keamanan dan keselamatan penerbangan diragukan lantaran jadwal pemeliharaan, perawatan, dan operasional yang terganggu.

Menurut Komandan PAF Marsekal Udara Abubakar Abdullahi, sepuluh pesawat kepresidenan, mulai dari jet Gulfstream hingga helikopter AgustaWestland (Leonardo), dapat disita kapan pun oleh lessor atau kreditur imbas pemotongan anggaran.

“Dari catatan armada, utang tahun-tahun sebelumnya biasanya terbawa ke tahun anggaran berikutnya, menjadi tradisi. Izinkan saya juga untuk menyatakan bahwa sebagian besar utang tersebut adalah utang kepada penyedia jasa di luar negeri,” jelasnya, seperti dikutip dari ch-aviation.com.

“Mengingat lebih dari 85 persen pengeluaran armada adalah transaksi Forex, angka anggaran aktual dalam dolar semakin berkurang. Armada saat ini berhutang budi kepada beberapa penyedia layanannya karena dana yang tidak mencukupi dari alokasi anggaran, dan situasi ini membuat perencanaan menjadi buruk,” tambahnya.

Lebih lanjut, Abdullah berpendapat bahwa pemotongan anggaran makin diperparah dengan adanya sejumlah krisis di Nigeria. Diketahui, saat ini, Nigeria tengah menghadapi kenaikan bahan bakar cukup tinggi sampai dua kali lipat. Selain itu, krisis devisa juga sedang menimpa negara tersebut.

Beruntung, menurut CEO Top Brass Aviation, Kapten Roland Iyayi, lessor atau kreditur sedikit menahan diri saat menghadapi pesawat kepresidenan. Artinya, pesawat kepresidenan tidak akan disita atas alasan kedaultan.

Ia pun menganalogikan bila sebuah pesawat kepresidenan Amerika Serikat (AS) disita oleh lessor dan kreditur. Sekalian secara politik berbeda antara Nigeri dan AS, tetapi berbicara kedaulatan, anologi tersebut bisa diterima.

“Saya tidak tahu apakah itu akan cukup mudah; jika itu adalah aset lain Nigeria, itu berbeda, tetapi jet kepresidenan; itu seperti mengatakan sebuah negara ingin menyita pesawat Presiden Amerika Serikat karena utang. Itu dianggap sebagai perpanjangan kedaulatan negara; jadi, itu mungkin tidak semudah kedengarannya,” ujarnya.

Baca juga: Sembunyi di Bilah Kemudi Kapal Tanker, Tiga Penumpang Gelap Selamat dalam Pelayaran 11 Hari dari Nigeria ke Spanyol

Di era Presiden Muhammadu Buhari sejak tahun 2015 silam, sedikitnya ada 10 pesawat kepresidenan yang disewa Nigeria; 1x Boeing Business Jet (Boeing 737-800), 1x Gulfstream G550, 1x Gulfstream G500, 2x Dassault Falcon 7Xs, 1x Penjaja Siddeley 4000, 2x helikopter AgustaWestland AW139, dan 2x helikopter AgustaWestland AW101.

Rata-rata dari 10 pesawat tersebut berusia lebih dari 11 tahun, membuat biaya perawatan terus meningkat setiap tahunnya. Pemilihan presiden Nigeria mendatang sudah pasti akan membuat deretan pesawat tersebut dipakai secara aktif, karenanya pemeliharaan dan perawatan pesawat tak bisa ditunda, membuat perencanaan operasional pesawat kepresidenan Nigeria menjadi rumit.

Apakah Dua Pilot Mutlak Diperlukan untuk Terbangkan Boeing 737? Apa Saja Tugas Kopilot?

Pesawat modern saat ini sudah sangat canggih. Kecanggihan di kokpit pada akhirnya membuat peran pilot-kopilot menjadi berkurang dan digantikan teknologi. Karenanya, banyak pertanyaan muncul, masihkah dua pilot mutlak diperlukan untuk menerbangkan pesawat semisal Boeing 737? Lantas, apa saja tugas kopilot?

Baca juga: Inilah Goose, Kopilot Digital Masa Depan! Bakal Disertifikasi Tahun 2022

Beberapa maskapai di dunia serius merealisasikan single pilot atau satu pilot. Saat ini tahapannya sudah mulai melobi regulator Eropa dan AS serta ICAO untuk merumuskan konsep single pilot atau satu pilot bersama manufaktur.

Kendati begitu, saat ini, menurut Air Line Pilots Association (ALPA) teknologi otomatisasi yang ada saat ini belum mampu mengalahkan kinerja manusia – dalam hal ini adalah seorang pilot atau kopilot.

Lebih lanjut, sampai teknologi otomatis dapat memberikan tingkat kesadaran situasional, komunikasi, dan penilaian yang sama dengan manusia, dua pilot di dalam kokpit akan tetap menjadi kebutuhan utama dalam dunia penerbangan untuk mencapat keselamatan yang maksimal.

Keberadaan dua pilot ini bisa dibilang sudah paling ideal untuk mengoperasikan jalur udara – mengingat tugas ko-pilot yang didaulat sebagai ‘cadangan’ ketika sang pilot mengalami kesulitan atau kejadian di luar dugaan (sakit, hilang kesadaran, dan lainnya). Singkatnya, dua pilot di kokpit dalam menerbangkan pesawat adalah mutlak, karena tidak mungkin hanya satu pilot atau lebih dari itu tiga pilot.

Itu baru dari segi teknis, belum lagi dari segi kenyamanan penumpang yang mungkin akan sedikit was-was ketika mendengar pesawat yang ditumpanginya itu hanya dioperasikan oleh satu pilot saja. Bukan tidak mungkin apabila stigma, “Nanti kalau pilotnya mengalami kendala, siapa yang akan mengendalikan pesawat?” seperti ini akan muncul di benak masing-masing penumpang.

Secara teknis, menurut pilot salah satu maskapai, Raymond St Steven, seperti dikutip dari Quora, sebetulnya dalam lingkungan pengujian satu pilot sudah cukup untuk menerbangkan pesawat, dalam artian menjalankan peralatan dan perlengkapan di kokpit dari terbang sampai mendarat.

Tetapi di dunia nyata, kondisinya jauh berbeda. Terdapat banyak tantangan dan kondisi yang mesti disiasati dan itu tidak mungkin dilakukan dengan konsep single cockpit atau satu kokpit atau satu pilot.

Tantangan dan kondisi yang mesti disiasati termasuk landing approach di bandara yang sibuk, traffic tinggi, cuaca buruk, frekuensi radio yang padat, kerusakan sistem, dan banyak lainnya. Itu mustahil dilalui hanya dengan seorang pilot. Sedang dua pilot saja berbagai kondisi tersebut tetap menimbulkan kecelakaan, apalagi satu pilot di kokpit.

Kopilot sendiri memiliki beberapa peran dalam penerbangan. Saat lepas landas, kopilot biasanya diposisikan sebagai pilot monitoring. Sebagai pilot monitoring, tugasnya hanya memback-up pilot dengan posisi tangan sudah memegang throttle.

Baca juga: Sederet Kasus Ini Bikin Ide Penerbangan Satu Pilot di Kokpit Jadi Horor

Andai pilot incapacitated (pilot incapacitation) atau kondis darurati dimana pilot tak bisa menangani pesawat, maka kopilot bisa segera mengambil alih pesawat dan mengambil keputusan, entah rejected atau lanjut untuk kemudian return to base (RTB).

Saat cruising di udara, kopilot juga akan diposisikan sebagai pilot monitoring. Tugasnya membantu pilot berkomunikasi dengan kontrol lalu lintas udara, memantau mesin serta parameter lainnya dan mengecek semua tindakan pilot yang terbang.

Apa Itu Tes ‘Rendam’ Dingin Ekstem pada Pesawat dan Mengapa Diperlukan?

Sebelum dinyatakan aman, dijual, dan digunakan maskapai mengangkut penumpang, pesawat melewati rangkaian tes panjang dan melelahkan. Salah satunya apa yang disebut tes ‘rendam’ dingin ekstrem. Lantas, apa itu tes ‘rendam’ dingin dan mengapa itu diperlukan?

Baca juga: Inilah Lima Rangkaian Tes Ekstrem untuk Pastikan Pesawat Aman

Pesawat suka tidak suka bakal menemui suhu dingin ekstrem baik saat di udara maupun di darat. Di udara, pesawat terbang di ketinggian 30-40 ribu kaki dengan suhu mencapai  -68 sampai -76 derajat celcius.

Di darat, pada musim dingin, negara-negara di utara bumi bisa mencapai suhu -40 derajat atau lebih. Di beberapa wilayah bahkan suhunya mencapai -70 derajat celcius. Saat di udara, suhu sedingin itu tidak menjadi soal karena seluruh komponen pesawat tengah bekerja.

Namun, saat di darat, ketika pesawat diparkir di apron, suhu sedingin itu dikhwatirkan membuat sistem tak berfungsi baik. Karenanya, sebelum menghadapi itu, pesawat perlu dites dengan kondisi yang semirip mungkin dengan aslinya atau kemungkinan suhu yang bakal dihadapi pesawat. Tes ini disebut dengan tes ‘rendam’ dingin.

Dilansir Simple Flying, tes rendam dingin umumnya dilakukan untuk menguji ketahanan atau keandalan peralatan teknis, seperti kontrol penerbangan (flight control), roda pendaratan, mesin, dan kabin penumpang, serta lainnya.

Biasanya, ada dua jenis tes rendam dingin (cold soak tests) yang dilakukan; tes turnaround dan tes night stop. Metode pengujiannya pun ada dua, di luar ruangan (biasanya di wilayah Kanada bagian utara) atau di dalam ruangan atau hanggar yang memiliki sistem pengaturan suhu mencapai -40 derajat celcius.

Pada tes turnaround, pesawat didiamkan di ramp atau di apron dengan kondisi seluruh sistem tidak beroperasi, seolah-olah pesawat sudah menurunkan dan menaikkan penumpang serta mendapat maintenance. Durasi tes tergantung jenis pesawat. Pada pesawat narrowbody, tes berlangsung sekitar satu jam. Sedangkan pada pesawat widebody, tes berlangsung sampai beberapa jam.

Selama tes turnaround, pesawat dibiarkan membeku di tengah suhu antar -40 derajat sampai -50 derajat celcius untuk menguji seberapa andal sistem pesawat. Semua pintu penumpang dan kargo dibuka dan ditutup.

Sistem portable water and waste dioperasikan sesuai dengan SOP. Begitu juga dengan Auxiliary Power Unit (APU) atau Ground Power Unit (GPU), ini dtetap dioperasikan untuk menguji sistem AC apakah tetap berfungsi selama pengujian berlangsung.

Dibanding tes turaround, tes night-stop jauh lebih sulit, ekstrem, dan memakan waktu. Sesuai namanya, tes ini mensimulasikan pesawat bermalam di tengah kondisi dingin membeku di bandara.

Mengingat tes dilakukan di tengah suhu ekstrem, peran manusia menjadi terbatas dan karenanya perlu dipersiapkan sedimikian rupa dengan bantuan mesin dan teknologi agar tes berjalan lancar dan data-data berharga didapat.

Selama pengujian, baterai dilepas dan ditempatkan di tempat yang hangat. Critical fluid dikeringkan, dan pipa aliran dibersihkan untuk mencegah akumulasi es atau endapan yang tidak diinginkan. Bagian dan bukaan penting ditutupi dengan alat pelindung.

Baca juga: Begini Proses Sertifikasi Pesawat Baru, Panjang dan Mahal

Aliran listrik diputus untuk peralatan teknis dan sistem yang tidak memerlukan restart. Beberapa dari sistem ini adalah AC, listrik kabin, dan limbah air. Di akhir tes night-stop, semua sistem dihidupkan dan dilihat fungsinya apakah seperti biasa atau terdapat perubahan.

Setelah tes dilakukan, pemeriksaan menyeluruh pun dilakukan untuk mengidentifikasi kebocoran cairan, malfungsi, atau ambiguitas dalam fungsionalitas sistem. Andai dinyatakan lolos dua tes di atas, sebuah pesawat sudah selangkah lagi menuju tes sertifikasi.

Apa yang Terjadi Jika Kaca Kokpit Pesawat Pecah Saat di Tengah Penerbangan?

Pesawat merupakan moda transportasi paling aman di dunia. Kemungkinan pesawat mengalami kecelakaan adalah 1 : 1,2 juta perjalanan dan kecelakaan fatal 1 : 11 juta. Tentu dengan catatan seluruh kondisi dalam keadaan normal. Dalam kondisi darurat, seperti kaca kokpit pecah di tengah penerbangan, apa yang akan terjadi? Apakah pesawat akan jatuh seketika atau seperti apa?

Baca juga: Kaca Depan Retak Saat di Udara, Pesawat Air New Zealand Mendarat Darurat di Hong Kong

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu diketahui bahwa kaca kokpit pesawat (cockpit windshield atau biasa juga disebut aircraft windshield) memiliki ketebalan yang tak terlalu besar, berkisar 1-3 inchi atau empat kali lipat ketebalan kaca mobil.

Kaca yang digunakan pun nilainya bukanlah yang tertinggi. Kita tahu, dari piramida klasifikasi kaca –berdasarkan kemampuan menahan tekanan- kaca laminated, merupakan jenis kaca dengan grade tertinggi.

Di bawahnya, ada kaca tempered, kaca reflektif, kaca es, kaca warna, dan kaca bening atau kaca pada umumnya. Dari jenis-jenis kaca di atas, pesawat tergolong menggunakan kaca jenis tempered, dengan beberapa modifikasi kaca. Namun, lagi-lagi, tergantung jenis pesawat. Adapun jenis kaca tempered digunakan di pesawat-pesawat Boeing, seperti 737, 747, dan 787.

Kaca depan pesawat atau cockpit windshield nampak retak akibat benturan dengan objek asing. Foto: Reddit

Mengingat tekanan besar di udara, kaca kokpit pesawat atau biasa juga disebut flight deck windshields umumnya memiliki tiga lapis. Lapis pertama, kaca depan pesawat terbuat dari campuran kaca dan akrilik. Keduanya disatukan dengan teknik glass frit bonding, juga disebut sebagai solder kaca atau seal glass bonding. Jadi, pada intinya, teknik ini memadukan lapisan luar kaca dengan akrilik yang direnggangkan.

Lapis kedua, kaca depan pesawat terbuat dari urethane, termasuk jenis dari polimer yang lumrah dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan plastik. Sedangkan dilapis terakhir, atau di bagian dalam, kaca depan pesawat terbuat dari akrilik, dengan ketebalan yang sudah kami jelaskan di atas, 1-3 inchi.

Baca juga: Kena Dekompresi Eksplosif, Dua Boeing 737-300 Southwest Airlines Alami Perbedaan Nasib

Meskipun terdengar tak lebih kuat dibanding jenis kaca tempered, namun, komposisi akrilik dan polimer rupanya memiliki andil besar, bukan hanya dalam menahan tekanan besar dari luar, melainkan juga menahan benturan keras yang terjadi oleh objek tak dikenal, seperti misalnya bird strike.

Dengan andil lapisan akrilik dan polimer dan tentu saja gabungan dari keduanya, kaca depan pesawat mampu menahan benturan seberat empat pon saat pesawat mencapai di kecepatan 370 mph. Ketika benturan terjadi, kaca depan pesawat tak langsung pecah berkeping-keping layaknya piring pecah.

Sepanjang sejarah penerbangan, insiden kaca kokpit pesawat pecah atau meledak saat tengah mengudara pernah terjadi. Salah satunya menimpa pesawat BAC 1-11 British Airways flight 5390 pada 10 Juni 1990.

Ketika itu, kaca depan pesawat pecah saat di ketinggian sekitar 17.300 kaki, tepat di langit Didcot, Oxfordshire, Inggris. Apa yang selanjutnya terjadi? Pesawat ternyata tidak langsung jatuh dan kecelakaan.

Pesawat diketahui mengalami kondensasi (berkabut) serta dekompresi eksplosif, dimana udara dari luar menarik semua yang ada di dalam kokpit, termasuk sang pilot-kopilot. Kopilot saat itu masih menggunakan seatbelt tanpa direnggangkan, sedangkan pilot sempat merenggangkan seatbelt. Karenanya, ia nyaris terlempar ke luar pesawat.

Baca juga: Hari ini, 31 Tahun Lalu, Pilot British Airways Selamat Setelah 22 Menit Berjuang Melawan Dekompresi

Disebutkan, kepala dan leher serta setengah badan kapten pilot Timothy Lancaster sudah berada di luar jendela atau kaca depan pesawat yang pecah. Beruntung, seatbelt masih menahannya. Kaki dan setengah badannya kemudian dipegang erat oleh pramugara Nigel Ogden. Adapun kopilot Alastair Atchison mengambil kendali pesawat.

Ia dengan sigap menurunkan ketinggian pesawat untuk mengurangi dekompresi eksplosif dan dengan hati-hati mendaratkan pesawat seorang diri selama kurang lebih 22 menit sejak kaca kokpit meledak.

Sembunyi di Bilah Kemudi Kapal Tanker, Tiga Penumpang Gelap Selamat dalam Pelayaran 11 Hari dari Nigeria ke Spanyol

Terdengar ‘ajaib’ pada kasus penumpang gelap yang bertengger di ruang roda pesawat, mencerminkan aksi nekat tapi juga mengundang salut karena keberanian yang luar biasa dari pelakunya. Tapi itu di udara, bagaimana dengan aksi serupa tapi di lautan? Belum lama ini diwartakan tiga pria selamat dari perjalanan 11 hari dengan bertengger di atas bilah kemudi (rudder blade) kapal tanker, dalam perjalanan dari Nigeria ke Kepulauan Canary di Spanyol.

Baca juga: Delapan Kisah Penumpang Gelap Sembunyi di Roda Pesawat, Empat Di Antaranya WNI

Dikutip dari washingtonpost.com (29/11/2022), Penjaga Pantai Spanyol mengatakan pada hari Senin lalu, ketiga penumpang gelap, mengangkangi sepotong logam sempit pada rudder blade pada kapal tanker Alithini II yang berbendera Malta.

Kapal tanker itu meninggalkan Lagos, Nigeria, pada 17 November 2022. Menurut situs pelacakan kapal Marine Traffic. Kapal tanker itu tiba Senin malam di Las Palmas, Gran Canaria — salah satu Kepulauan Canary Spanyol, yang terletak di lepas pantai Afrika Utara. Jarak antar kedua pelabuhan itu terpisah hampir 3.000 mil.

Dalam sebuah foto yang dibagikan oleh penjaga pantai Spanyol di Twitter, ketiga pria itu duduk di bagian kemudi kapal yang menonjol dari air, punggung mereka bersandar di lambung kapal.

Sebuah kapal penyelamat penjaga pantai menjemput orang-orang itu dan membawa mereka ke pelabuhan Las Palmas untuk dirawat oleh layanan kesehatan. Para penyintas berasal dari Nigeria, kata delegasi pemerintah Spanyol di Kepulauan Canary kepada Associated Press. Salah satunya masih dirawat di rumah sakit.

Lebih dari 165.000 migran gelap dari Afrika, yang banyak dari mereka mencari suaka, telah tiba di Eropa tahun ini, jumlah tertinggi sejak 2017, ketika tercatat 187.499, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi.

Hampir 30.000 migran telah tiba di Spanyol pada tahun 2022, menurun dibandingkan beberapa tahun terakhir, menurut data dari UNHCR, badan pengungsi PBB. Lebih dari 14.000 di antaranya telah mendarat di pantai Kepulauan Canary, sering kali dengan perahu reyot yang penuh sesak.

Baca juga: Sembunyi di Roda Pendaratan Pesawat, Penumpang Gelap Asal Guatemala Ditangkap di AS

Pandemi dan penutupan perbatasan mendorong pencari suaka dan migran untuk mengambil rute yang lebih berbahaya dari Afrika ke Eropa, banyak di antaranya dengan bantuan penyelundup. Hampir 2.000 orang tewas tahun ini di rute maritim Mediterania dan barat laut Afrika saat mereka berusaha mencapai Eropa.

Iseng-iseng Berhadiah, Kasih Nama Patung Flamingo Raksasa di Bandara Dapat Banyak Gratisan

Penumpang atau masyarakat umum terkadang dilibatkan oleh pelaku industri penerbangan. Airbus pernah mengadakan sayembara desain A350F ke masyarakat. Bonza, maskapai pendatang baru, mengajak partisipasi penumpang memberikan nama pesawat pertamanya. Terbaru, Bandara Internasional Tampa mengajak penumpang memberi nama baru untuk patung Flamingo raksasa.

Baca juga: Jewel Changi, Berawal dari Ide Tempat Parkir Kini Menjadi Taman Spektakuler Dalam Ruangan

Seiring waktu, bandara-bandara di dunia berhias agar menarik hati dan menghibur penumpang. Bandara Changi, misalnya, menginvestasikan jutaan dolar untuk membangun Jewel Changi atau Jewel Changi Airport dan menjadikannya sebagai salah satu ikon bandara.

Jewel Changi Airport merupakan kubah kaca ikonik yang di dalamnya ada hutan hujan empat lantai yang disebut hutan lembah subur, area duduk pengunjung yang sejuk karena ada dua ribu pohon dan seratus ribu semak disekitarnya.

Daya tarik tertinggi yang sekaligus menjadi ikon Jewel Changi Airport sendiri adalah Rain Vortex, air terjun indoor tertinggi di dunia. Ditingkat atas ada Canopy Park dimana jembatan kaca, labirin hedge, bunga yang dipicu sensor gerak agar mekar ketika pelancong berjalan dan Skynet yang bisa digunakan untuk bersantai.

Kolam renang di puncak gedung, bioskop, instalasi seni kinetik, taman bunga matahari, seluncuran raksasa tertinggi di dunia yang ada di bandara, taman kupu-kupu hingga food court bisa membuat setiap traveler ataupun warga Singapura yang mengunjungi Changi bersama keluarganya nyaman.

Bandara Internasional Tampa memang tidak sampai semewah Bandara Changi dengan Jewel Changi Airport-nya. Tetapi, bandara tersebut sudah berupaya menghadirkan patung Flamingo unik yang seolah sedang mencari mangsa dengan kepala seolah berada di bawah air.

Diresmikan pada Maret tahun ini, patung Falmingo raksasa itu dengan cepat menjadi ikon terminal utama bandara dan menjadi titik pertemuan penumpang.

Sejak diresmikan, patung Flamingo raksasa setinggi 21 kaki karya seniman Matthew Mazzotta ini dikenal sebagai “HOME”. Namun, baik seniman maupun pihak bandara sepakat harus ada nama baru yang lebih cocok untuk patung burung Flamingo raksasa itu.

Menariknya, seniman dan pihak bandara tak ingin memutuskannya sendiri dan sebaliknya, melibatkan penumpang atau masyarakat untuk memberikan nama ke patung tersebut melalui sebuah sayembara.

Dilansir Simple Flying, sayembara nama burung  Flamingo di Bandara Tampa sudah dimulai sejak 29 November sampai 6 Desember mendatang. Pengumuman pemenang akan dilakukan pada tanggal 16 Desember mendatang.

Baca juga: Bantu Relaksasi Para Pelancong, Bandara Helsinki Tawarkan Pengalaman Hutan yang Unik

Rulesnya bisa dibilang mudah. Masyarakat hanya perlu memikirkan nama yang paling cocok, mudah diingat, dan elegan, maksimal 75 kata. Pemenang yang beruntung akan mendapatkan sejumlah hadiah, mulai dari tiket pesawat PP, satu paket wisata, voucher makan gratis, dan lainnya.

Sayangnya, sayembara tersebut hanya berlaku untuk warga negara Amerika Serikat (AS). Namun, bagi Anda yang ingin berpartisipasi, kalian bisa menitipkan ide nama tersebut ke rekan atau kenalan yang berada di AS dan merupakan warga negara AS.