Kereta Penumpang Bertenaga Jet Bukan Fiksi, Ternyata ada di St Petersburg Rusia

Era Perang Dingin tak melulu pada persaingan dalam aspek persenjataan, di sektor transportasi misalnya, Uni Soviet tak mau kalah ketika ‘Barat” mengoperasikan pesawat penumpang supersonik Condorde, maka munculah kemudian Tupolev Tu-144. Nah, rupanya ada kompetisi lain di sektor teknologi transportasi yang terlupakan, yakni di segmen kereta cepat.

Baca juga: Mendapat Tentangan dari Oposan, Beginilah Sejarah Singkat Kereta Cepat Shinkansen

Di dekade 60 – 70-an, dunia tengah gandrung dengan munculnya kereta berkecepatan tinggi Shinkansen di Jepang, yang beroperasi perdana pada tahun 1964. Meski bukan digawangi oleh Amerika Serikat, Shinkansen dan Jepang adalah representasi dari teknologi barat. Belum lagi, kemunculan kereta cepat di Jepang, diikuti oleh pengembangan kereta cepat di Eropa Barat yang dipelopori oleh TGV di Perancis.

Dalam perspektif Perang Dingin yang kental akan propaganda antar kedua kubu, maka pencapaian teknologi kereta api menjadi parameter yang ikut diperhitungkan kala itu, terlepas dari kebutuhan dan permintaan pasar.

Dan tahukah Anda, bahwa Uni Soviet pernah meluncurkan kereta cepat bertenaga mesin jet. Ini bukan isapan jempol atau sekedar rekaan dalam film fiksi. Persisnya saat ini dapat dilihat sebuah kereta berdesain futuristik di halaman salah satu pabrik di di Kalininsky, St Petersburg, Rusia.

Meski terlihat rusak dan tidak terawat, di dekade 70-an, kereta cepat bertenaga jet ini pernah membetot perhatian dunia. Dengan berat 50 ton, kereta dengan mesin pesawat jet penumpang Yak-40 itu dalam pengujian mampu melesat hampir 300 km per jam.

Dikutip dari thesun.co.uk, kereta cepat bermesin jet itu secara resmi diberi label High Speed Laboratory Car dan diresmikan pada Oktober 1970. Panjang kereta itu mencapai 28 meter dan secara teori dapat mencapai kecepatan 350 km per jam.

Baca juga: Hari ini 40 Tahun Lalu, Kereta Cepat TGV Kebanggaan Perancis Meluncur Perdana

Namun, pengembangan kereta cepat bermesin jet tak dilanjutkan oleh Uni Soviet, alasannya ada kendala pada stabilitas kereta saat melesat di rel. Persoalan lain yang tak kalah pelik, polusi suara. Kebisingan khas mesin jet menjadi masalah serius saat kereta melintasi daerah padat penduduk.























Air India Borong 500 Pesawat Boeing dan Airbus, Terbesar dalam Sejarah

Air India selangkah lagi menyepakati kontrak pesanan sebanyak 500 pesawat Boeing dan Airbus senilai sekitar 100 miliar dolar AS. Ini akan menjadi pesanan dan nilai transaksi pembelian pesawat terbesar dalam sejarah dirgantara dunia.

Baca juga: Kenapa Beberapa Airbus A320 Air India Miliki Roda Pesawat Ekstra?

Menurut sumber Reuters, 500 pesanan pesawat itu termasuk 400 jet narrowbody dan 100 jet widebody. Lebih spesifik lagi, 100 pesanan pesawat widebody berupa puluhan Airbus A350, Boeing 787, dan Boeing 777.

Sementara itu, 400 pesanan pesawat narrowbody berupa Airbus A320neo, Airbus A321neo, dan Boeing 737 MAX. Sayangnya, slot pemesanan Airbus A321neo telah penuh sampai tahun 2028. Begitu juga dengan A320neo untuk pesanan dalam jumlah banyak. Karenanya, dalam waktu dekat, Air India mungkin akan kedatangan Boeing 737 MAX terlebih dahulu andai pesanan 500 pesanan tersebut terealisasi.

Sejak bergabung dan berada di bawah konglomerat Tata Group, Air India memang gencar melakukan berbagai manuver yang tujuannya membawa maskapai berjaya di pasar domestik maupun internasional.

Awal tahun ini, sederet perbaikan di internal telah dijalankan, mulai dari manajemen sampai penampilan pramugari yang notabene menjadi garda terdepan maskapai dalam melayani penumpang.

Dari segi aksi korporasi, Air India gencar melakukan berbagai kerja sama dan puncaknya belum lama ini, maskapai menyepakati merger dengan Vistara Airlines milik Singapore Airlines dan Tata Group. Usai merger, Vistara Airlines akan beroperasi menggunakan bendera Air India dan membuatnya menjadi semakin besar, sesuai rencana jangka panjang perusahaan dalam mendominasi pasar domestik dan internasional.

Saat ini, pasar penerbangan domestik di India masih dikuasai oleh IndiGo. Kendati begitu, Air India menjadi maskapai internasional terbesar di India. Tidak mudah menggeser IndiGo sebagai penguasa pasar domestik India.

Sebelum Air India investasi besar-besaran di bawah kepemimpinan Tata Group, IndiGo jauh lebih dahulu melakukannya dengan memesan pesawat narrowbody dalam jumlah besar. Catatan Simple Flying, pesanan 300 Airbus A320neo IndiGo pada tahun 2019 bahkan masuk dalam daftar pesanan pesawat terbesar dalam sejarah dirgantara internasional.

Di pasar penerbangan internasional, sejumlah pengamat meragukan sepak terjang Air India. Saat ini, maskapai-maskapai mapan dengan reputasi tinggi dan modal berlimpah seperti Emirates, Etihad Airways, Qatar Airways, Singapore Airlines, British Airways, dan Lufthansa Group, telah menguasai market pasar penerbangan internasional.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun jaringan ke seluruh penjuru dunia dan mengalahkah deretan maskapai tersebut.

Baca juga: Singapore Airlines-Air India Bahas Meger Vistara, Mau Kuasai Pasar Penerbangan India?

Meski begitu, India, dengan market penerbangan domestik terbesar di dunia di tahun-tahun mendatang dan mengalahkan Cina, serta banyaknya ekspatriat India di luar negeri yang terpanggil dengan konsep besar ekonomi di bawah PM Modi, amat menjanjikan bagi Air India.

Setidaknya, maskapai itu (Air India) akan dipilih oleh kalangan ekspatriat dan kolega dalam melakukan perjalanan bisnis dari dan ke India, alih-alih memilih Emirates, yang saat ini menguasai pasar penerbangan internasional India.

McLaren dan Skunk Works Berkolaborasi, Adopsi Teknologi Penerbangan ke Otomotif

Apa yang terjadi bila pabrikan balap otomotif berkolaborasi dengan biro desain pesawat tempur siluman? Maka bisa diterka, keduanya akan melalirkan produk yang benar-benar spektakuler dengan spesifikasi yang boleh jadi di luar kelaziman. Persisnya, McLaren telah mengumumkan kemitraan pada hari Senin lalu dengan tim Skunk Works Lockheed Martin.

Baca juga: London North Eastern Railway Nantikan Sistem Sensor Bangku Karya McLaren

Bila nama McLaren sudah kental dalam dunia balap otomotif, terutama dengan mobil balap F1, maka Skunk Works Lockheed Martin, namanya juga sangat tersohor dalam jagad dunia militer. Skunk Works Lockheed Martin adalah unit desain yang merancang hadirnya pesawat intai (mata-mata) legendaris SR-71 Blackbird dan U2.

Pihak McLaren menyebut kolaborasi keduanya akan mengeksplorasi aplikasi potensial dari perangkat lunak Skunk Works yang ada. McLaren mengatakan kemitraan ini akan memungkinkan mereka untuk fokus pada penerapan sistem desain Skunk Works yang dikembangkan untuk dunia penerbangan, ke dalam desain otomotif, khususnya supercar mutakhir dengan performa tinggi.

Mengingat sifat dari kerja sama tersebut, kemungkinan kemitraan antara McLaren dan Skunk Works akan lebih banyak mengoptimalkan proses pengembangan dan pemeliharaan mobil daripada apa pun yang akan dilihat oleh pelanggan McLaren pada kendaraan mereka.

Kolaborasi seperti ini terdengar bombastis, tetapi jangan berharap penerus McLaren P1 terlihat seperti pesawat hipersonik “Darkstar” yang muncul dalam film blockbuster “Top Gun: Maverick”. Kemungkinan manfaat penerapan teknologi baru ini – jika ada – tidak akan terlihat pada produk jadi yang dalam hal ini adalah supercar McLaren generasi berikutnya.

Untuk merayakan dimulainya kolaborasi dengan Skunk Works, McLaren membawa Artura bercat hitam ke markas Skunk Works di California High Desert, untuk berpose di samping prototipe Darkstar.

Baca juga: Tingkatkan Kualitas Layanan, MRT Singapura Gandeng McLaren Gunakan Teknologi Formula 1

Departemen proyek khusus Skunk Works Lockheed Martin bertanggung jawab atas beberapa jenis pesawat paling ikonik termasuk SR-71 Blackbird (1966), F-117 Nighthawk (1983), dan F-35 Lightning II (2006).

Hari Ini, 36 Tahun Lalu, The Rutan Model 76 Voyager jadi Pesawat Pertama Terbang Keliling Dunia Non-Stop

Pada hari ini, 36 tahun lalu, bertepatan dengan 14 Desember 1986, The Rutan Model 76 Voyager memulai penerbangan keliling dunia non-stop tanpa mengisi bahan bakar. Setelah melahap penerbangan 9 hari, 3 menit, dan 44 detik, sejauh 42.212 km, pesawat akhirnya mendarat dengan selamat pada 23 Desember 1986 dan menjadi pesawat pertama di dunia yang terbang keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar.

Baca juga: Inilah Rutan Model 76 Voyager, Pesawat Pertama yang Keliling Dunia Tanpa Mengisi Bahan Bakar

Dilansir airandspace.si.edu, sebelum lepas landas, The Rutan Model 76 Voyager telah melalui proses pengembangan cukup panjang sekitar tahun 1978. Hal itu tak lepas dari tujuan dari penerbangan pesawat itu sendiri yaitu keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar.

Karenanya, mulai tahap desain, konstruksi, sampai proses pengembangannya, dilakukan secara ketat agar semuanya berjalan lancar dan pada akhirnya The Rutan Model 76 Voyager menjadi pesawat pertama di dunia yang terbang keliling dunia non-stop tanpa mengisi bahan bakar.

Guna mendukung penerbangan keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar, Voyager dibangun hampir seluruhnya terbuat dari bahan komposit sandwich sarang lebah dan serat grafit. Hal itu dimaksudkan agar pesawat menjadi lebih ringan dan pada akhirnya hemat bahan bakar.

Selama enam tahun, Voyager didesain, dibangun (konstruksinya), dan dikembangkan sedemikian rupa agar benar-benar siap melakukan penerbangan tersebut.

Pesawat ini dirancang oleh Burt Rutan, avgeek asal AS yang sudah berpengalaman membuat pesawat home made serta pendiri perusahaan Rutan Aircraft Factory (berubah menjadi Scaled Composites dan diakuisisi oleh Northrop Grumman), dibantu oleh ahli pesawat home made lainnya seperti, VariViggen dan VariEze, serta produsen pesawat Beech Starship.

Saat dirasa desain, konstruksi, dan proses pengembangannya sukses, tiga orang lainnya, Dick Rutan, Jeana Yeager, dan Bruce Evans menjadikan itu nyata dalam tempo 18 bulan. Ketiganya membuat pesawat itu di Pusat Uji Penerbangan Sipil, Bandara Mojave, California pada 22 Juni 1984, dan secara marathon dilakukan penerbangan perdana (first flight) di hari yang sama.

Pada 14 Desember 1986, pukul 8.01, The Rutan Model 76 Voyager memulai penerbangan keliling dunia usai lepas landas dari Edwards Air Force Base (Edwards AFB) atau Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California, AS, diawaki oleh Dick Rutan dan Jeana Yeager dan kembali ke Edwards AFB pada 23 Desember pukul 8.05 waktu setempat.

Baca juga: Begini Kisah Pilot dalam Penerbangan 9 Hari Keliling Dunia Non Stop! Sempat Mau Mati Gegara Dehidrasi

Selama penerbangan pertama keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar, Voyager menempuh jarak 42.212 km selama 216 jam, 3 menit, dan 44 detik, dengan kecepatan rata-rata 186 km per jam serta ketinggian jelajah rata-rata 2.438 meter guna menghemat bahan bakar. Terkait ketinggian, kadang kala pesawat harus terbang lebih tinggi mencapai 6.248 meter untuk menghindari badai.

Dalam perjalanan keliling dunia, pesawat menghadapi berbagai masalah. Namun, yang paling menantang tentu mengatur 17 tangki bahan bakar seberat 3 ton lebih agar tetap seimbang saat satu per satu tangki perlahan kosong.

Lufthansa Cargo Gunakan “Pallet Net Zero” – Jaring Kargo yang Bisa Menghemat 140 Ton Bahan Bakar

Dengan program keberlanjutan, pengurangan emisi, dan efisiensi bahan bakar yang menjadi perhatian utama maskapai penerbangan, maka mengatur bobot pesawat dan apa yang dibawanya telah menjadi topik yang semakin penting. Sebagai contoh, kursi yang lebih ringan adalah investasi yang intensif di segmen pesawat penumpang, seperti halnya meminta orang untuk membawa barang bawaan dengan berat lebih ringan. Namun, bagaimana untuk pasar pesawat kargo?

Baca juga: Terjadi Lagi, Pesawat Penumpang Dikonversi Jadi Pesawat Kargo Gegara Penerbangan Loyo 

Tentu saja, payload adalah alasan utama dari bisnis pengangkutan kargo, dan dengan demikian, sulit untuk meminta operator angkutan udara untuk membawa lebih sedikit. Tapi ada cara lain untuk mengurangi bobot pesawat kargo.

Lufthansa Cargo mengumumkan pada hari Senin lalu bahwa mereka memperkenalkan lighter transport net yang lebih ringan untuk mengamankan palet kargo. Dorothea von Boxberg, Ketua Dewan Eksekutif dan CEO Lufthansa Cargo AG, menyatakan bahwa penggunaan jaring kargo yang lebih ringan merupakan langkah lain bagi operator untuk mengurangi emisi CO2.

Cabang angkutan udara dari maskapai penerbangan Jerman ini telah menetapkan tujuan untuk mengurangi separuh emisi CO2 per kilogram saat terbang pada tahun 2030, dan setiap tindakan diperhitungkan, seperti mengurangi bobot peralatan pemuatan.

“Kami mengangkut barang ke seluruh dunia, itulah mengapa tanggung jawab global dan berkelanjutan, tindakan berwawasan ke depan adalah bagian dari DNA kami. Tujuan kami untuk tahun 2050 adalah menjadi 100 persen bebas CO2 di udara; di darat, kami ingin mencapai tujuan ini paling cepat tahun 2030.”

Jaring inovatif baru yang digunakan Lufthansa Cargo terbuat dari serat khusus dari bahan baku terbarukan. Karena kekuatan tariknya yang tinggi, beratnya antara sembilan dan sebelas kilogram, kurang dari setengah jaring konvensional yang terbuat dari poliester. Mereka akan menghemat Lufthansa Cargo sekitar 140 ton bahan bakar dan sekitar 440 ton CO2 setiap tahunnya.

Karena bobotnya yang lebih ringan, jaring ini juga akan lebih mudah dikelola tanpa mengorbankan persyaratan keselamatan teknis apa pun. Jaring tersebut diberi nama “Pallet Net Zero”, dan dibuat oleh perusahaan bernama AmSafe Bridport.

Baca juga: Pesawat Dilapisi Kulit Ikan Hiu, Lufthansa dan Swiss Airlines Ngaku Hemat Ribuan Ton Avtur Per Tahun

Lufthansa Cargo akan menggunakannya melalui anak perusahaannya Jettainer. Lufthansa Cargo mengatakan ini adalah maskapai pertama yang menggunakan jaring ringan untuk seluruh jenis palet.

Dari Darwin, Australia Aerospace Industries Umumkan G-111T “Albatross Reborn”

Saat seluruh dunia bergulat dengan pesawat bertenaga hidrogen dan taksi udara, dari Darwin Australia kembali ‘dihidupkan’ pesawat amfibi legendaris Grumman Albatross. Yang oleh perusahaan Australia, Amphibian Aerospace Industries (AAI), Grumman Albatross dibangkitkan dan diproduksi kembali dengan label G-111T.

Baca juga: [Video] Airbus Kembangkan “AlbatrossOne,” Desain Sayap yang Terinspirasi dari Burung Albatros

Bagi pecinta dunia dirgantara, termasuk di Indonesia, tentu mengenal kebesaran nama Albatross. Pesawat amfibi ini terbang perdana pada tahun 1947 sebagai versi penyempurnaan dari Grumman Mallard.

Di tangan AAI, G-111T yang dibuat di Australia, akan menghidupkan kembali desain Albatross dengan avionik digital dan mesin turboprop canggih produksi Pratt & Whitney. Untuk maksud tersebut, AAI telah meraih sertifikat dari FAA untuk pesawat HU-16 dan G-111 Albatross beberapa tahun yang lalu.

Tokoh dibalik kembangkitan Albatross adalah Direktur AAI Khoa Hoang. Pada peluncuran Desember 2021, Ia mengatakan pasar global untuk Albatross G-111T sangat besar dan “memegang monopoli di kelasnya,” tambahnya.

“Albatross G-111T tidak bersaing dengan pesawat penumpang yang lebih besar, melainkan melengkapi mereka, itulah sebabnya ini adalah platform yang sempurna untuk dibangun di Australia dan menghidupkan kembali kemampuan manufaktur pesawat terbang kami yang unggul,” kata Hoang.

Sementara fokus pada penggunaan mesin konvensional Pratt & Whitney, Hoang melihat jauh ke depan untuk penerbangan tanpa emisi, bahkan pada Albatross berusia 75 tahun yang sederhana. “Pengumuman hari ini hanyalah permulaan karena kami sudah bekerja pada teknologi generasi berikutnya untuk menghasilkan varian baru seperti Albatross bertenaga Zero Emissions Hybrid dan bahkan varian 44 kursi yang lebih panjang,” ujar Hoang.

AAI melihat peluang global untuk Albatross dalam misi seperti transportasi penumpang berjadwal, SAE, aeromedis, pengangkutan, obat-obatan dan penegakan hukum, bantuan kemanusiaan dan pengawasan pantai.

Dengan wilayah pesisir yang luas untuk dilindungi, Australia adalah pasar utama untuk G-111T, dan dengan dukungan dari Pemerintah Northern Territory, proyek ini memiliki prospek yang cerah.

Baca juga: Tahun 2025, Kota-kota Norwegia Bakal Terhubung Berkat Pesawat Amfibi Listrik Byfly

Di Indonesia, Grumman Albatross juga pernah dioperasikan oleh TNI AU dan TNI AL, namun, karena dianggap telah uzur, pesawat patroli maritim itu sudah dipensiunkan sejak awal dekade 80-an.

Deutsche Bahn Resmi Operasikan Kereta Cepat ICE 3neo, Layani Rute Frankfurt-Cologne-Munich

Operator kereta api Jerman Deutsche Bahn (DB) telah meluncurkan kereta berkecepatan tinggi ICE 3neo terbaru yang dipasok oleh Siemens Mobility. Saat ini ICE 3neo telah melayani rute antara Frankfurt/Main dan Cologne, serta Munich melalui rute kecepatan tinggi Wendlingen–Ulm dalam skema layanan reguler.

Baca juga: Dibangun dalam Waktu 12 Bulan, ICE 3neo Kereta Berkecepatan Tinggi dari Siemens

Dikutip dari Railway-technology.com (6/12/2022), disebutkan nantinya kereta ICE 3neo juga akan digunakan pada rute internasional ke Belgia dan Belanda pada tahun 2024. Dengan kecepatan maksimum hingga 300 km per jam, ICE generasi baru ini memiliki ruang untuk delapan sepeda dan tampilan reservasi baru dengan lampu LED berwarna.

Dilengkapi dengan 439 kursi yang dibagi dengan 99 kursi di kelas satu dan 340 kursi di kelas kedua serta mencakup 16 kursi di restoran di dalam kabin. Kereta juga memiliki 16 kursi di bagian keluarga dan lima di bagian balita.

ICE 3neo memiliki ruang untuk kursi roda dan delapan ruang sepeda serta 12 pintu di setiap sisi kereta. Di mana salah satu pintunya bisa diakses oleh kursi roda yang memungkinkan naik dan turun lebih cepat di stasiun. Kereta ini juga dilengkapi dengan power lift untuk memudahkan akses pengguna kursi roda.

Selain itu ICE3 neo dilengkapi dengan kaca jendela permeabel frekuensi yang memungkinkan peningkatan penerimaan ponsel di dalam kereta. Kereta ICE 3neo yang baru menampilkan kisi-kisi halus yang dilaser ke lapisan logam pada kaca, memungkinkan sinyal ponsel masuk ke kereta dengan lebih mudah.

Kereta cepat ini juga dilengkapi dengan dispenser sabun dan desinfektan tanpa kontak serta pencahayaan yang berubah nada warna tergantung pada waktu hari. Setiap kursi di kelas satu dan dua dilengkapi dengan soket listrik dan dudukan tablet, serta pengait untuk mantel. Rak bagasi juga telah didesain ulang untuk memberikan lebih banyak ruang untuk tas.

Deutsche Bahn memesan 30 kereta berkecepatan tinggi ICE baru, senilai €1 miliar ($ 1,13 miliar), dari Siemens Mobility pada Juli 2020. Pesanan tersebut mencakup opsi untuk 60 kereta ICE tambahan. Siemens sedang membangun kereta baru di pabriknya yang terletak di North Rhine-Westphalia (NRW), Bavaria dan Austria. Kereta baru awalnya akan beroperasi di Cologne berkecepatan tinggi ke jalur lembah utama antara NRW dan Jerman selatan.

DB menandatangani pesanan tindak lanjut dengan Siemens untuk 43 kereta berkecepatan tinggi ICE 3neo baru, senilai sekitar €1,5 miliar ($1,7 miliar), pada Februari 2022. Rangkaian kereta diharapkan akan dikirimkan antara tahun 2026 dan 2029. Pesanan baru tersebut meningkatkan pendapatan DB Armada ICE 3neo menjadi 73 kereta dan memungkinkan operator meningkatkan kapasitas jarak jauh hariannya sebanyak 32.000 kursi.

Pada Juli 2020, Siemens Mobility mendapatkan kontrak dari DB untuk pengadaan kereta berkecepatan tinggi ICE 3neo generasi baru. Dalam kontrak tersebut. DB berencana menginvestasikan €10 miliar untuk kereta api baru ini, termasuk 73 unit ICE 3neo pada tahun 2029.

Baca juga: Rail Baltica – Mimpi Negara-negara Baltik untuk Saling Terkoneksi dengan Jaringan Kereta Cepat

CEO Siemens Mobility Michael Peter berkata, “Bersama dengan Deutsche Bahn, kami mempercepat transisi transportasi dalam waktu singkat, Siemens Mobility tidak pernah mengirimkan kereta ICE baru secepat ini.

Bulan lalu, DB memilih Siemens Mobility dan Alstom Transport Jerman untuk pengembangan konsep kendaraan untuk armada Ice Rail yang baru.

Beberapa Hal Yang Terlupakan dari Nama Besar Boeing, Nomer 10 Punya Jakarta

Dari puluhan merek pesawat yang ada di seluruh dunia, boleh dibilang nama dengan elektabilitas tertinggi adalah Boeing. Kenapa Boeing? Selain namanya sudah lekat sebagai salah satu ikon besar dunia aviasi Amerika Serikat, faktanya hampir seluruh maskapai di dunia mengoperasikan tipe pesawat lansiran Boeing, bahkan Boeing juga dioperasikan oleh maskapai Rusia, Aeroflot yang setidaknya sudah menggunakan tipe Boeing 737-800 dan Boeing 777-300ER.

Baca juga: Sepi Pesanan, Boeing 747 Beralih dari “Queen of the Skies” Jadi “Flying Truck”

Kebesaran Boeing bisa ditunjukkan dari jumlah pesawat yang diproduksi, untuk tahun 2016 saja, Boeing sudah memproduksi 748 unit pesawat komersial, 180 unit pesawat militer, dan 5 satelit. Dari ragam pesawat yang dirilis, seri Boeing 737 narrow body didapuk sebagai pesawat yang paling banyak diproduksi. Selama berdiri, ternyata merek ini sudah membawa lebih dari 16,8 miliar penumpang atau bisa dikatakan dua kali populasi dunia. Sehingga bisa dikatakan ada kemungkinan Anda pasti pernah, atau bahkan sering menggunakan Boeing dalam perjalanan dengan moda udara.

KabarPenumpang.com merangkum dari aviationcv.com (16/5/2017), selain kondang sebagai nama pesawat, nama besar Boeing juga ikut diadaptasi dalam beberapa momen besar dan lokasi yang mungkin terlupakan oleh Anda.

1. Boeing ternyata sudah tua
Ternyata, Boeing sudah berdiri 110 tahun sejak Orville dan Wilbur Wright melakukan penerbangan pertama mereka di Kill Devil Hills New York City. Namun dalam kurun waktu 13 tahun, Wright bersaudara menemukan pesawat terbang, sampai Boeing menemukan kedua saudara ini. Boeing didirikan oleh William E Boeing tahun 1916 di Seattle dan mempekerjakan 175 ribu orang serta hadir di hampir setengah negara di dunia.

2. Boeing City
Pabrik di Everett seperti kota kecil yang memiliki pemadam kebakaran sendiri, pasukan keamanan, klinik medis yang lengkap, gardu listrik dan instalasi pengolahan air.

Pabrik Boeing Everett (www.aviationcv.com)

3. Boeing Dreamliner 787
Salah satu produk unggulan Boeing, yakni pesawat berbadan lebar Boeing 787 Dreamliner dibangun dari 2,3 juta bagian, dimana sebagian besar komponennya didatangkan dari pemasok di luar Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, pesawat Boeing 737 hanya memiliki 400 ribu bagian.

4. Bangunan terbesar di bumi
Pabrik Boeing di Everett merupakan bangunan terbesar di dunia dengan luas 13,3 juta meter kubik dan masuk dalam Guinness World Records.

5. Ramah Lingkungan
Dreamliner merupakan pesawat Boeing yang paling ramah lingkungan. Ada dua alasan yakni kemampuan hemat bahan bakar yang spektakuler, pesawat ini dirancang agar 20 persen lebih efisien daripada Boeing 767. Alasan kedua, yakni Boeing 787 adalah pesawat terbang pertama di dunia yang menggabungkan material komposit dalam konstruksi badan pesawatnya.

Boeing 747-400

6. Setara 29 ekor gajah
Dreamliner mempunyai berat kosong sekitar 117,617 kg atau setara dengan 29 ekor gajah. Rentang sayapnya 60 meter, panjangnya 57 meter dan tinggi 17 meter.

7. Lebih cepat dari Bolt
Pesawat penumpang terbesar yang pernah dibuat Boeing, jumbo jet 747 bisa menempuh jarak 100 meter dalam waktu 0,36 detik.

Baca juga: Boeing Tampilkan Konsep Kamar Mandi Mewah Pada Business Jet Class

8. Ruang angkasa
Program luar angkasa Amerika menampilkan Boeing didalamnya. Keterlibatan Boeing dimali tahun 1960 ketika roket Delta II diluncurkan dan membawa satelit Echo 1A ke orbit. Kemudian tahun 1966 dan 1967, Orbit Lunar yang dibangun Boeing mengelilingi bulan. Ini untuk memotret permukaan dan membantu NASA memilih tempat pendaratan yang aman bagi astronot Apollo 11. Pembangunannya diintegrasikan dengan Boeing yang juga membuat booster tahap pertama.

9. Boeing 747 memuat 350-400 penumpang dan pernah membawa 1087 orang sekaligus
Selama operasi Solomon, Israel menggunakan pesawat ini untuk dimodifikasi mengangkut para pengungsi. Ini mengalahkan rekor evakuasi Qantas 747 dengan 674 penumpang.

10. Rusun (Rumah Susun) Boeing
Di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat terdapat blok rumah susun (rusun) tua yang diberi diberi nama Boing, penamaan rusun di lahan bekas area Bandara Internasional Kemayoran untuk mengenang identitas dirgantara di lokasi tersebut, salah satunya denga mengambil nama pesawat “Boeing” dan “Conver.”

Inilah Alasan Airbus A350 dan Boeing 787 Dominan Menggunakan Material Komposit

Punya kapasitas besar dengan kemampuan terbang jarak jauh yang hemat bahan bakar, pesawat widebody twin engine Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A350 punya karakteristik yang mirip dan telah menjadi unggulan di berbagai maskapai global. Di mana kemampuan tersebut salah satunya dapat dicapai berkat adopsi material komposit.

Baca juga: Kenapa Sayap Komposit Irkut MC-21 Buatan Rusia Jadi yang Pertama di Dunia?

Airbus A350 dan Boeing 787 adalah favorit di antara banyak operator besar di seluruh dunia. Efisiensi kedua pesawat ini didukung oleh pemanfaatan material komposit. Dikutip dari Simpleflying.com, berikut ini adalah alasan mengapa pihak manufaktur menggunakan material komposit pada Airbus A350 dan Boeing 787.

Elemen yang kuat
Pada akhirnya, komposit terbuat dari dua atau lebih bahan yang berbeda dengan sifat fisik dan kimia yang berbeda. Ketika digabungkan, maka akan menjadi lebih kuat. Bahan komposit bukanlah fitur baru dalam penerbangan komersial. Pesawat narrow body seperti A320 telah menggunakan berbagai bagian yang terbuat dari bahan komposit, seperti sirip dan tailplane.

Bahkan widebodies yang terkenal seperti A380 menggunakannya, dengan bahan komposit yang terdiri lebih dari 20 persen dari badan pesawat Superjumbo tersebut.

Komposit juga tidak seberat bahan standar seperti aluminium. Ini menjadi alasan utama mengapa lebih dari setengah dari body A350 dan 787 terbuat dari bahan komposit.

Boeing 787 menggunakan 50 persen komposit berdasarkan berat dan volume 80 persen. Pesawat ini juga mengadopsi 20 persen aluminium, 15 persen titanium, baja 10 persen, dan 5 persen bahan lainnya. Boeing dapat mengambil manfaat dari struktur ini karena banyak penghematan yang bisa didapat.

Baca juga: Evolusi Sayap Pesawat dari Waktu ke Waktu – Mulai dari Kayu Hingga Material Komposit

Sementara, Airbus memiliki keyakinan yang signifikan pada material komposit. Perusahaan ini merupakan penggemar carbon-fibers reinforced plastic (CFRP). Dengan pendekatan ini, ribuan serat karbon kecil terkunci dengan resin plastik untuk memberikan kekakuan yang cukup besar. Airbus mengungkapkan bahwa dengan komposit, badan pesawat pesawat bisa lebih kuat dan lebih ringan.

Drone Kargo Karya Anak Bangsa Beraksi di Lokasi Gempa Bumi Cianjur

Dari salah satu lokasi terdampak gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat, melayang sebuah drone copter yang membawa muatan berupa bantuan kemanusiaan. Inilah yang dimaksud sebagai drone kargo yang terbang di atas ketinggian 50 meter dan dikendalikan dengan remote control.

Baca juga: Singapura Mulai Pengiriman Drone Kargo Darat ke Laut, Bisa Angkutan Beban Hingga 7 Kg

Dikutip dari sintesanews.com (11/12/2022), drone sebagai inovasi teknologi penerbangan tanpa awak menjadi perangkat strategis di segala bidang, termasuk bisa sangat bermanfaat digunakan di wilayah yang kondisi geografisnya perbukitan atau pegunungan.

Di sebuah area lahan kosong di Desa Talaga Kampung Quran, Kecamatan Cugeunang, Cianjur. Drone kargo bernama Frogs Indonesia take off dengan sempurna menuju sebuah daerah di seberang lembah.

Lalu 15 menit kemudian di Kampus Cihikieu, Desa Sarampad Kec. Cugeunang yang berjarak sekitar 1 km dari titik terbang, sebuah benda mendarat dengan perlahan. Drone Cargo bertulis Frogs Indonesia mendarat otomatis dengan sempurna. Beberapa jenis bantuan obat-obatan dalam kotak cargo, diterima warga korban gempa dengan penuh suka cita.

Tidak berselang lama, Drone tersebut terbang lagi secara otomatis menuju titik awal. Sempat terjadi insiden kehilangan sinyal di atas ketinggian 40 meter karena menghindari derasnya angin, akhirnya drone berhasil kembali mendarat tepat di titik keberangkatan.

Drone kargo Frogs Indonesia memulai misi kemanusiaannya. Membuka jalan hadirnya teknologi transportasi barang dengan pesawat tanpa awak.

Baca juga: Drone Kargo K-Racer X1 Kawasaki Terbesar di Dunia Bermesin Ninja H2R 1.000 Cc Sukses Diuji Coba

Frogs Indonesia, berisi anak-anak muda kreatif dari Jogjakarta. Drone kargo buatan mereka 90 persen material, bahan dan teknologi dibuat oleh tangan-tangan terampil anak bangsa.