Perluas Jaringan, Vietjet Buka Rute Ho Chi Minh – Haneda Tokyo Mulai 26 April

Vietjet, maskapai berbiaya murah asal Vietnam, mengumumkan perluasan jaringannya dengan menghubungkan Ho Chi Minh City ke Bandara Haneda di Tokyo untuk pertama kalinya, membuka kembali rute penerbangan Da Nang-Taipei, dan meningkatkan jumlah penerbangan antara Ho Chi Minh City-Hong Kong.

Baca juga: Sepanjang 2022, Vietjet Bukukan Laba Hampir US$38,7 Juta, LCC Sukses Pasca Pandemi

Layanan penerbangan baru dari Ho Chi Minh City ke Tokyo (Bandara Haneda) dijadwalkan akan dimulai pada tanggal 26 April 2023 dengan satu kali perjalanan pulang pergi setiap hari dan tujuh kali penerbangan setiap minggunya.

Penerbangan dari Ho Chi Minh City akan berangkat pada pukul 17.00 dan mendarat di Tokyo pada pukul 01.00 (waktu setempat), sedangkan penerbangan dari Bandara Internasional Haneda (Tokyo) akan berangkat pada pukul 02.00 (waktu setempat) dan mendarat di Ho Chi Minh City pada pukul 06.10.

Penerbangan antara Da Nang dan Taipei akan beroperasi lima kali seminggu, setiap hari Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, dan Minggu, mulai 1 Juli 2023. Penerbangan dari Da Nang akan berangkat pada pukul 12.00 dan mendarat di Taipei pada pukul 15.45 (waktu setempat). Penerbangan dari Bandara Internasional Taoyuan (Taipei) akan berangkat pada pukul 16.50 (waktu setempat) dan tiba di Da Nang pada pukul 18.35.Waktu perjalanan yang ditempuh adalah sekitar 3 jam.

Mulai 8 Maret 2023, Vietjet akan menambah jumlah penerbangan antara Ho Chi Minh City dan Hong Kong menjadi lima kali penerbangan mingguan, yang beroperasi setiap hari Senin, Rabu, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Penerbangan dari Ho Chi Minh City berangkat pada pukul 15.10 dan mendarat di Hong Kong pada pukul 18.50 (waktu setempat). Penerbangan kembali berangkat dari Bandara Internasional Hong Kong pada pukul 19.50 (waktu setempat) dan mendarat di Ho Chi Minh pada pukul 21.30.

Baca juga: Vietjet Datangkan A321neo ACF, Siap Sambut Musim Liburan Tersibuk Tahun 2023

Dalam rangka menyambut ekspansi dan Hari Perempuan Internasional yang dirayakan pada 8 Maret mendatang, Vietjet juga menawarkan jutaan tiket di seluruh jaringan penerbangannya dengan harga mulai dari VND8.300 (sekitar Rp5.300) selama golden week dari tanggal 3 hingga 9 Maret 2023.

Bukan Sembarang Putar, Begini Cara Maskapai Bayar Lisensi Film dalam Inflight Entertainment

Penumpang budiman penikmat penerbangan full service, tentu kerap menonton film dalam program Inflight Entertainment (IFE). Namun, tahukah Anda, bahwa dibalik film yang Anda tonton, pihak maskapai rupanya harus membayar lisensi kepada pihak lain atas film yang Anda tonton di dalam kabin.

Baca juga: Sejarah Inflight Entertainment, Dari Model “Layar Bioskop” Hingga Personal Devices 

Dikutip dari Simple Flying, bagi pihak produser atau pemilik label film, biasanya ada sedikit atau malah tidak ada standarisasi saat menjual film ke maskapai penerbangan, dan hasilnya sering kali berasal dari negosiasi singkat. Dan lagi-lagi, bergantung pada pembuat film dan maskapai penerbangan, mereka dapat berhubungan satu sama lain secara langsung atau bekerja melalui agen pihak ketiga untuk membuat kontrak.

Rata-rata, film yang harganya lebih dari US$100 juta akan menghasilkan US$2,7 juta dari kesepakatan maskapai. Menghasilkan hanya beberapa persen dari lisensi mungkin tampak seperti kacang. Namun seperti yang dikatakan Stephen Follows, pakar data film, dalam sebuah wawancara dengan Yahoo News.

“US$2 juta untuk menandatangani kesepakatan yang tidak memberi Anda masalah sama saja dengan uang gratis yang akan Anda dapatkan.”

Setelah negosiasi selesai, surat-surat ditandatangani, dan pembuat film menyediakan filmnya, itu saja. Selama filmnya tidak terlalu tua, karena maskapai penerbangan yang menawarkan film-film Hollywood mencoba untuk menghadirkan film yang relatif ‘segar’ dan mudah untuk mendapat tempat di sistem IFE.

Proses pemasaran minimal ini dapat menguntungkan pembuat film dengan anggaran rendah secara signifikan. Untuk film dengan anggaran antara US$30 juta dan US$100 juta, semisal film bertema petualangan dapat memperoleh 5 persen dari biayanya dari kesepakatan.

Baca juga: Penumpang Wajib Tahu, Ini Serba-serbi Inflight WiFi Singapore Airlines

Sementara film animasi memperoleh sekitar 2,5 persen. Dari US$30 juta, jika sebuah kontrak dapat mengembalikan lebih dari US$1 juta dari sebuah maskapai penerbangan, itu cukup signifikan.

Bagaimanapun, satu faktor penting yang masuk ke dalam kesepakatan adalah kapasitas penumpang. Angka atau harga film dapat memengaruhi maskapai mana yang mendapatkan film blockbuster. Negosiasi sering bermuara pada seberapa sering maskapai terbang.

Rusia “Hengkang” dari Program Sukhoi Superjet 100, Peluang Pemasaran Terbuka untuk Pasar UEA dan India

Secara teknologi, Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) tak diragukan sebagai salah satu pesawat regional komuter yang canggih dengan teknologi fly by wire. Namun, krisis perang Ukraina – Rusia berdampak buruk bagi pegembangan dan pemasaran SSJ 100, maklum Rusia mendapatkan banyak sanksi yang berimbas pada industri dirgantaranya. Dan belum ada kabar, bahwa terbuka masa depan cerah bagi debut SSJ 100.

Baca juga: Gantikan Michelin, Sukhoi Superjet 100 Bersiap Gunakan Ban Pesawat Produksi Dalam Negeri

United Aircraft Corporation (UAC), perusahaan kedirgantaraan milik Pemerintah Rusia, dikabarkan akan melakukan divestasi dari program Sukhoi Superjet 100 menyusul investasi dari perusahaan yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA), Markab Capital.

Menurut SuperJet International, sebuah perusahaan yang berbasis di Italia dan sekarang menjadi anak perusahaan UAC, Markab Capital mengakuisisi 49 persen saham perusahaan Rusia tersebut. Akibatnya, “UAC akan secara efektif keluar dari Program Superjet”, mengakhiri partisipasinya dalam proyek Superjet 100.

SuperJet International didirikan pada tahun 2007 sebagai perusahaan yang memasarkan, menjual, dan memelihara Sukhoi Superjet 100 di pasar barat di Venesia, Italia. Pada awalnya, perusahaan asal Italia tersebut memiliki dua pemegang saham, yakni Sukhoi (51 persen saham) dan perusahaan kedirgantaraan Italia Leonardo (49 persen).

Pada tahun 2016, Leonardo mengurangi kepemilikannya menjadi 10 persen, memberikan sebagian besar sahamnya kepada perusahaan Rusia, yang pada tahun 2022 bergabung ke dalam UAC.

Namun, dengan Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022 dan sanksi selanjutnya dijatuhkan pada negara tersebut, Guardia di Finanza (GdF) Italia membekukan aset SuperJet International terkait dengan 90 persen saham yang dimiliki oleh UAC. GdF membekukan sekitar €150 juta (US$159,2 juta) aset, termasuk lima pesawat pada Mei 2022.

Ke depannya, Markab Capital akan memegang 49 persen saham di SuperJet International, sedangkan firma hukum Italia Studio Guidotti International akan memegang 41 persen saham. Sementara Leonardo akan mempertahankan 10% sahamnya.

Akuisisi dan reformasi struktur kepemilikan saham sedang menunggu persetujuan peraturan dari regulator Italia dan Rusia, yang akan mencairkan aset SuperJet International.

Dengan pemegang saham baru yang bersedia menyuntikkan modal ke dalam program tersebut, perusahaan yang sekarang berkebangsaan Italia ini ingin meluncurkan kembali program Superjet 100, dengan fokus pada pasar UEA dan India.

“Perjanjian ini memiliki nilai yang besar bagi perusahaan kami, karena terputusnya hubungan industrial dan komersial dengan UAC akan membuat perusahaan tidak lagi terbebani oleh batasan-batasan akibat peraturan sanksi yang ditetapkan oleh Uni Eropa (UE),” ujar Camillo Perfido, Chief Executive Officer (CEO) perusahaan Italia.

Secara total, Markab Capital akan menginvestasikan €190 juta (US$202,4) juta, €110 juta (US$117,1 juta) di antaranya akan masuk ke perusahaan Venetian. “Investasi tersebut akan memungkinkan untuk mendukung pengembangan konfigurasi pesawat baru, pembangunan cabang SJI baru di Uni Emirat Arab (UEA), serta pengembangan berkelanjutan pesawat untuk mengatasi persaingan pasar,” kata SuperJet International. dalam sebuah prarilis.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah, Sukhoi Superjet 100 Terbang Perdana: Jadi Pesawat Komersial Pertama Rusia Pasca Uni Soviet 

SuperJet International memprediksi akan mampu menjual 240 pesawat dalam tiga versi berbeda, yaitu penumpang, jet bisnis, dan kargo, dengan fokus pasar UEA dan India. Program Superjet 100 akan berbasis di Venesia dan UEA.

Babak Baru, Armada Boeing 787 Dreamliner Mulai Dihapuskan (Scrap)

Bagi banyak maskapai, seri pesawat Boeing 787 Dreamliner masih menjadi andalan untuk melayani penerbangan jarak jauh. Terbang perdana pada 15 Desember 2009, sampai Januari 2023, sudah 1040 unit 787 diproduksi dan pesanan masih terus berjalan bagi pesawat yang tergolong baru ini. Namun, ada kabar bahwa sudah ada seri Boeing 787 yang akan segera dihapuskan (scrap).

Baca juga: Wow, 5 Bangkai Pesawat Ini Justru Jadi Spot Favorit Menyelam di Dunia

Bukan sebatas dipensiunkan, di-scrap artinya pesawat akan dibongkar dan komponennya akan dijual atau dimanfaatkan untuk tujuan lain. Pembongkaran dua unit Boeing 787 pertama yang akan dipensiunkan bakal dilakukan oleh EirTrade. Dan jangan dikira prosesnya cepat, untuk membongkar 787 membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikannya.

EirTrade Aviation telah diberi tugas membongkar dua Boeing 787 pertama yang akan dipensiunkan. Perusahaan manajemen dan perdagangan aset penerbangan global yang berbasis di Dublin ini akan membongkar kedua pesawat sekaligus untuk diambil suku cadangnya.

Pekerjaan tersebut kemungkinan akan memakan waktu sekitar tiga bulan untuk diselesaikan, dengan suku cadang akan tersedia pada akhir Q1 2023. EirTrade belum mengungkapkan identitas dari dua Boeing 787 yang akan dibongkar, menambahkan bahwa detail ini, untuk saat ini, tetap dirahasiakan.

Kedua pesawat tersebut akan menjadi Boeing 787 komersial pertama yang akan pensiun dari layanan, yang berarti bahwa saat ini tidak ada material bekas pakai – used serviceable material (USM) yang tersedia untuk jenis pesawat ini. Oleh karena itu, pekerjaan EirTrade akan menyediakan cara bagi maskapai penerbangan lain dan fasilitas pemeliharaan untuk mendapatkan suku cadang bekas dengan harga lebih murah.

Pekerjaan pembongkaran 787 tersebut akan dilakukan di salah satu fasilitas EirTrade di Prestwick, Skotlandia, dengan materi selanjutnya disimpan di Irlandia sampai pembeli yang cocok dapat ditemukan.

EirTrade tidak asing dengan pembongkaran pesawat berbadan lebar setelah terlibat dalam pembongkaran Airbus A380 pertama yang pensiun pada tahun 2019.

Baca juga: Kasihan, Boeing 747-8 VIP Bekas Kerajaan Arab Saudi ‘Dimutilasi’: Baru Mencatat 50 Jam Terbang

Dikutip dari Simple Flying, Boeing 787 Dreamliner penumpang tertua masih dioperasikan oleh All Nippon Airways. Pesawat terdaftar sebagai JA801A, dikirim ke maskapai pada Oktober 2011, dan menurut data FlightRadar24.com, telah beroperasi ke Quingdao (TAO), Taipei (TPE), dan Hong Kong (HKG) dalam beberapa hari terakhir. United Airlines dan Ethiopian Airlines adalah di antara maskapai lain yang masih menerbangkan Boeing 787 yang lebih tua sejak 2011 dan 2012.

Furrion Rilis Dua Konsep Caravan Futuristik, Salah Satunya Dilengkapi Helipad!

Ketika dunia transportasi sempat digemparkan dengan kehadiran caravan yang merupakan gabungan mobil dan ruang istirahat, kini kendaraan tersebut telah bertransformasi dan tampil dengan penambahan teknologi yang menunjang kenyamanan para penggunanya.

Baca Juga: Terkoneksi Dengan Gadget, Ujet Hadirkan Asymmetrical Smart Scooter

Adapun kendaraan yang kerap kali digunakan oleh grup musik internasional untuk menjalani serangkaian tur ini baru saja ‘naik kelas’ dan dipamerkan pada perhelatan Costumer Electronics Show (CES) 2018 di Las Vegas Convention Center, Nevada, United States.

Furrion selaku perusahaan teknologi yang merilis dua konsep luxury caravan ini menyebutkan bahwa kendaraan besar ini mengadaptasi sistem hiburan layaknya sebuah smarthome dan kitchen set setingkat resto berbintang.

Furrion Elysium RV. Sumber: newatlas.com

Adalah Furrion Elysium dan Hercules-Limitless, dua konsep luxury caravan ini mampu mencuri perhatian para pengunjung di perhelatan CES 2017 tersebut. Furrion Elysium Recreational Vehicle (RV) memiliki panjang 45 kaki, lebar 8 kaki, dan tinggi 13,6 kaki. Ukurannya  yang lebih besar dari kebanyakan caravan ini dimaksudkan untuk menyesuaikan interior yang ada di dalamnya, seperti kulkas, oven, kulkas, kulkas khusus anggur, TV 75 inci, perapian, kamar mandi pintar, dan sebuah kolam kecil air panas di lantai dua.

Jika kelengkapan interiornya belum cukup membuat Anda tercengang, mungkin bagian luar dari kendaraan ini bisa membuat Anda menganga terkagum. Ya, kendaraan ini dilengkapi dengan sebuah helipad di bagian atasnya. Adapun Furrion Elysium RV ini di desain untuk menampung helikopter seperti Robinson R22.

Baca Juga: MSC Meraviglia, Kapal Pesiar Terbesar dari Mediterranean Shipping Cruises

Mengingat kondisi cuaca di Amerika Serikat yang bisa dibilang sangat ekstrem, Furrion sudah mempertimbangkan setiap detailnya sehingga kendaraan ini bisa dibilang sangat kuat dan mampu menahan guncangan parah yang menerpanya. Namun bagi Anda yang berkeinginan untuk memiliki Furrion Elysium RV ini, nampaknya Anda harus mengurungkan niatan tersebut dalam-dalam, karena hingga saat ini pihak Furrion tidak memperjual-belikan kendaraan futuristik ini.

Hercules-Limitless. Sumber: newatlas.com

Sementara untuk Hercules-Limitless, kendaraan ini lebih menyerupai sebuah sleeper-bus yang bagian interiornya tidak jauh beda seperti Furrion Elysium RV. Konektivitas 4G dan Wi-Fi onboard pun tidak luput melengkapi kendaraan luxury ini, sehingga diharapkan para penggunanya bisa merasa lebih dimanjakan ketika mengendarai Furrion Elysium RV dan Hercules-Limitless.

Kemenhub: Perlu Ada Solusi Sementara Atasi Lonjakan Penumpang Sampai Kereta INKA Selesai

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) buka suara terkait polemik peremajaan sarana kereta rel listrik (KRL). Kemenhub menganggap perlu adanya solusi sementara untuk mengakomodir lonjakan penumpang sampai kereta buatan PT Industri Kereta Api (INKA) selesai dibangun dan dioperasikan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI).

Baca juga: Kenapa Ada Pintu Depan di Kabin Masinis KRL Jepang? Ini Jawabannya

“Perlu ada solusi sementara untuk mengatasi lonjakan penumpang KRL sampai produk INKA selesai dan dapat digunakan untuk melayani,” jelas Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati, dalam keterangan resmi yang diterima KabarPenumpang.com.

Karenanya, Kemenhub melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) mendukung upaya peremajaan sarana KRL yang sedang dilakukan oleh PT KCI mengingat usia sarana kereta yang akan pensiun. Dukungan ini disampaikan dalam bentuk surat rekomendasi teknis yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian dengan tanggal 19 Desember 2022.

“Pengadaan sarana ini harus segera dilaksanakan untuk menggantikan beberapa rangkaian kereta yang akan dipensiunkan pada 2023-2024 mengingat usia pakainya yang sudah terlalu lama,” tutur Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati hari ini (1/3).

Selain didorong oleh faktor usia sarana, kebutuhan pengadaan muncul untuk mengakomodasi pertumbuhan penumpang. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh PT KCI, realisasi penumpang tertinggi sebelum pandemi sudah menyentuh angka 336,3 juta orang penumpang pada 2019. Jumlah penumpang diproyeksikan akan terus meningkat hingga 523,6 juta orang pada 2040.

Guna mengakomodasi pertumbuhan tersebut, diperlukan upaya untuk meningkatkan kapasitas angkut dari 436 juta orang penumpang pada 2023, menjadi 517 juta orang pada 2026. “Semoga upaya ini tetap membuat KCI dapat memberikan layanan terbaik bagi masyarakat,” ujar Adita.

Adita menyadari, ada kebutuhan lain dalam pengadaan sarana kereta api ini, yakni pemanfaatan produk dalam negeri, dengan penggunaan produk PT INKA.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, masa produksi sarana kereta KRL baru oleh INKA membutuhkan waktu 2-3 tahun, sejak sekarang. “Sehingga, sarana KRL bukan baru menjadi pilihan yang bijak menurut kami, sembari menunggu proses produksi dari INKA selesai,” tuturnya.

“Tentu kami dari Kemenhub sangat mendukung pengadaan sarana produksi dalam negeri untuk memajukan industri kita sehingga kami pun sangat mengapresiasi langkah PT KCI yang sudah meneken MoU dengan PT INKA untuk pengadaan ini,” ucap Adita menambahkan.

Baca juga: Teken Kerja Sama, KAI Commuter dan INKA Siap Pengadaan 16 Rangkaian KRL Untuk Operasi 2024

Berkatian dengan hal tersebut, Adita menegaskan, salah satu rekomendasi Kementerian Perhubungan untuk pengadaan sarana KRL bukan baru adalah, KCI harus memastikan kelayakan komponen-komponen sarana yang berhubungan langsung dengan keselamatan. “Jika nanti sudah diputuskan akan dilakukan pengadaan sarana bukan baru, kami berharap PT KCI pun dapat memperhatikan komponen seperti bogie, roda, kelistrikan, dan pengereman agar dapat diperbaiki atau diganti dengan komponen baru,” tuturnya.

Adita mengingatkan agar pengujian pertama dan penerbitan sertifikat kelayakan operasional harus melalui prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh DJKA Kementerian Perhubungan. Adita juga menghimbau sarana bukan baru yang didatangkan dari Jepang nantinya dapat direvitalisasi menggunakan komponen-komponen produksi dalam negeri untuk tetap mendukung industri lokal.

Berapa Banyak Mantan Pilot Militer yang Jadi Pilot Maskapai?

Kekurangan pilot sipil membuka peluang lebar bagi mantan pilot militer yang sudah pensiun agar tetap bisa terbang dan mendapatkan penghasilan. Ini terjadi di banyak negara di dunia. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, pada dekade 80-an, dua pertiga pilot sipil di negara itu adalah mantan pilot militer. Seiring waktu, jumlahnya terus menurun karena beberapa fatktor. Lantas, saat ini, berapa banyak pilot militer yang menjadi pilot maskapai?

Baca juga: Khawatir Arogan, Bahayakah Pilot Militer Pindah Jadi Pilot Komersial?

Sejarah eks pilot militer melanjutkan karir sebagai pilot sipil atau pilot maskapai sudah terjadi pasca Perang Dunia II berakhir. Ketika itu, banyak pesawat termasuk pilot bebas tugas. Di saat yang bersamaan, industri penerbangan sipil global terus tumbuh dan tidak dibarengi dengan ketersediaan pilot sipil.

Eks pilot militer juga lebih mudah mendapatkan lisensi ATP atau Airline Transport Pilot. Mereka hanya perlu mencapai minimum jam terbang 750 jam, jauh dibandingkan dengan pilot sipil yang harus mencapai 1.000-1.500 jam untuk mendapat linsensi ATP.

Dalam kondisi tersebut, tak sedikit pilot militer yang mundur dari kesatuan dan menjadi pilot maskapai secara permanen. Ada juga pilot militer yang sifatnya sewaan oleh maskapai.

Seiring kebutuhan pilot militer yang juga meningkat maskapai penerbangan mulai kesulitan mendapat pilot militer yang pensiun ataupun sengaja keluar dari kesatuan dan memilih status sebagai pilot sipil.

Dilansir Simple Flying, informasi jumlah pilot militer yang melanjutkan karir menjadi pilot sipil di Asia, Eropa, Australia, dan Afrika sangat minim. Namun, data di AS, sebagai mikrokosmos pasar penerbangan global, mungkin dapat menjadi tolok ukur.

Disebutkan, persentase pilot militer yang berkarir menjadi pilot sipil sudah jauh berkurang dibanding dekade 1980-an dan mayoritas pilot sipil tidak memiliki pengalaman sebagai pilot militer.

Ada beberapa alasan mengenai ini. Pertama adalah militer sendiri kekurangan pilot. Dibandingkan dahulu saat masa Perang Dunia II dan masa Perang Dingin, AS memiliki banyak pilot bahkan berlimpah. Tetapi saat ini kondisinya berbeda dan mengalami kekurangan.

Alasan kedua adalah maskapai saat ini lebih banyak mengandalkan pilot ab-initio. Pilot ab-initio sendiri adalah penerbang yang baru lulus mendapatkan Commercial Pilot License (CPL) namun belum mempunyai pengalaman dan belum terbang menjalankan profesinya sebagai pilot.

Baca juga: Inilah Asal Mula Kata ‘Roger’ yang Kerap Diucapkan Pilot Sipil dan Militer

Sudah pasti pilot ab-intio membutuhkan jam terbang dan maskapai memanfaatkan itu sehingga tercipta simbiosis mutualisme. Maskapai membutuhkan pilot terlatih dan bersertifikat untuk menerbangkan pesawat, di sisi lain pilot ab-initio sangat terbantu dengan kesempatan yang diberikan maskapai untuk menambah jam terbang.

Alasan ketiga adalah perkembangan pilot sipil saat ini jauh lebh cepat bertambah dibandingkan pilot militer. Akademi atau sekolah pilot sudah banyak menjamur di seluruh dunia.

Inilah Airfish 8, Flying Boat Buatan Singapura yang Mirip Ikan Pari

Industri penerbangan sangat terbantu dari manfaat biomimicry, yaitu menyadur desain atau teknologi apapun yang ditemukan di alam untuk mendukung kemajuan teknologi manusia. Salah satu contoh nyatanya ada pada flying boat Airfish 8 (AF8) buatan Singapura. Dilihat dari sudut manapun, flying boat yang tak dibekali kemampuan amfibi itu sangat mirip dengan ikan pari.

Baca juga: Inilah PBY Catalina Flying Boat, Pesawat Amfibi Pertama yang Mendarat di Indonesia

Flying boat atau seaplane belakang mulai menjadi buah bibir lagi di Indonesia pasca gelaran balap kapal supercepat F1 Powerboat di Danau Toba, Indonesia. Seaplane dianggap cocok untuk Indonesia yang berupa kepulauan.

Sempat ada angin segar dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Keduanya dikabarkan tengah mengembangkan varian pesawat N219 Amfibi yang akan dijadikan seaplane. Pesawat bermesin PT6A–42 ganda dengan kapasitas 19 penumpang ini dianggap mampu menghubungkan Indonesia dari pulau ke pulau.

Dengan kemampuan bobot maksimum lepas landas (MTOW) 7.030 kg, berjarak tempuh (19 Penumpang) 480 mil laut, dan berkecepatan jelajah maksimum 210 knot, dipastikan N219 mampu menjadi solusi peningkatan keselamatan hingga tercapainya waktu tempuh yang lebih singkat untuk menyeberang antarpulau kecil di Indonesia.

Semisal dari Ambon ke Banda Naira, untuk mencapai pulau tersebut masyarakat atau wisatawan biasa menggunakan speedboat dengan waktu tempuh 8 jam. Sedangkan bila menggunakan N219 seaplane hanya memakan waktu 45 menit saja. Perbandingan waktu tempuh yang sangat besar tentunya.

Namun, saat Indonesia masih terus mengembangkan dan tak berujung, Singapura menyalip dan sukses meraih sertifikasi atas flying boat AF8.

Dilansir Indomiliter.com, Airfish 8 adalah kapal bersayap tetap yang dirancang sedemikian rupa untuk dapat terbang rendah di atas permukaan air. Karena bukan pesawat konvensional, Airfish 8 hanya bisa melayang sampai ketinggian 7 meter di atas permukaan laut. Seperti disebut di awal, ini sangat mirip dengan ikan pari, dimana hewan tersebut memang bisa ‘terbang’ meskipun tak terlalu tinggi.

Dengan sokongan dua mesin V8 propeller masing-masing empat bilah berkekuatan 500 HP, AF8 mampu melesat maksimum 196 km per jam, sedangkan kecepatan jelajahnya 148 km per jam. Struktur AF8 dibangun dari material carbon fibre reinforced dan pastic/sandwich composite.

Jenis bahan bakar AF8 adalah gasoline dengan Oktane 95 atau spesifiksi di atasnya. Dalam kondisi normal, konsumsi bahan bakar mencapai 70 liter per jam. Sementara jarak jelajah Airfish 8 mencapai 300 mil (setara 482 km).

Baca juga: Bukan Lagi AS, Pesawat Amfibi Terbesar di Dunia AG-600 Ada di Cina

Airfish 8 dirancang dengan memanfaatkan fenomena ground effect, yaitu bantalan dinamis yang timbul ketika wahana terbang sangat rendah di atas permukaan, sehingga meningkatkan rasio daya angkat dan daya hambat yang menghasilkan efisiensi bahan bakar yang lebih baik daripada pesawat konvensional.

AF8 pada praktiknya, tidak spesifik diperuntukkan bagi militer maupun sipil. Namun, pesawat dengan teknologi WiSE (Wings In Surface Effect) ini sangat cocok untuk keduanya.

Citroën U55 Cityrama Currus – Bus Wisata Kota dengan Desain “Rumah Kaca”

Bus wisata kota identik dengan desain yang menarik, terutama lewat interior yang ‘terbuka’ untuk memanjakan mata pelancong akan keindahan kota. Dari beragam bus wisata kota, jenis bus Citroën U55 Cityrama Currus, boleh dikata lumayan unik. Bus dari era 50-an ini punya desain tak hanya terbuka dengan bidang kaca, melainkan rancangan deknya yang mengingatkan pada wahana roket dalam film fiksi.

Baca juga: TransJakarta Hadirkan 8 Bus Wisata, Satu Diantaranya Punya Atap Terbuka

Cityrama, penyedia layanan bus wisata kota di Paris, memilih platform truk serbaguna Citroën Type 55 sebagai sasisnya. Sementara Currus dalam hal ini bertindak sebagai perusahaan karoseri. Desain bus ini memang sangat unik, hampir semua badan bus ditutupi oleh kaca lengkung. Lebih menarik lagi, atap bus juga bisa dibuka jadi penumpang bisa merasakan udara segar khas Paris.

Cityrama bus sangat digemari pelancong pada era 70 hingga 80-an. Namun, perjalanan panjang bus wisata ini berlangsung sejak era 50-an. Banyak turis asing datang ke Paris, untuk menaiki Cityrama.

Namun, setelah beropersi beberapa tahun, serangkaian masalah mulai menerpa bus wisata ini. Desain kaca besar yang jadi pemikat pelancong, rupanya menjadi semacam rumah kaca bagi bus. Seperti pada musim panas, suhu di dalam kabin bus menjadi sangat tinggi, dan karena merupakan bus tua, Citroën U55 belum dilengkapi pengatur suhu.

Kaca besar tersebut, menjadi seolah-olah rumah kaca bagi bus. Suhu menjadi tinggi di dalam kabin, yang pada akhirnya membuat mesin bus cepat kepanasan. Beberapa percobaan dilakukan untuk mendingingkan ruang mesin, seperti membuat gril lebih besar di depan, hingga enam buah, dengan harapan udara dingin bisa mengalir ke dalam.

Baca juga: Punya Bus Wisata Listrik, Brussel Jadi yang Pertama di Dunia 

Tetapi, kondisi kabin yang panas menjadi penyebab mudah terbakar dan memang, ada bus yang terbakar ludes, meski tak ada korban jiwa. Akhirnya bus wisata Paris generasi baru dibuat dengan desain yang ‘normal’. Kemudian di akhir 80-an, bus wisata unik ini telah lenyap dari jalanan kota Paris.

Berapa Banyak Bandara di Dunia yang Dapat Layani Penerbangan Reguler Airbus A380?

Pesawat Airbus A380 adalah pesawat komersial terbesar di dunia. Dimensinya bukanlah standar hanggar bandara manapun. Karenanya, bandara harus direnovasi atau disesuaikan agar bisa menangani A380. Sayangnya, tak semua bandara memiliki kekuatan finansial untuk memenuhi kebutuhan itu. Lantas, bandara mana saja di dunia yang dapat melayani pesawat Airbus A380?

Baca juga: Dalam Keadaan Darurat, Bagaimana Airbus A380 Mendarat di Bandara Terdekat yang Tak Penuhi Standar A380?

Sejak di awal kemunculannya, Airbus A380 seolah menjadi ikon penerbangan. Bahkan, muncul stigma maskapai harus menerbangkan A380 untuk dapat mempertahankan status sebagai maskapai terbaik. Maskapai internasional yang ingin terus mendapat reputasi baik juga di-stigmakan harus menerbangkan A380.

Singapore Airlines, misalnya, yang menjadi langganan mendapat gelar maskapai terbaik di dunia versi berbagai lembaga internasional, sadar betul akan stigma tersebut dan menjadi maskapai pertama di dunia yang mengoperasikan Airbus A380.

Tak hanya maskapainya, Bandara Changi juga turut mendukung langkah Singapore Airlines, dengan merevitalisasi bandara agar A380. Bandara Changi pun tercatat menjadi bandara pertama di luar Eropa yang dapat melayani penerbangan komersial Airbus A380.

Seiring waktu, dari 17 ribu bandara internasional di dunia, sedikitnya 140 bandara dilaporkan sanggup melayani penerbangan Airbus A380. Bandara mana sajakah itu?

Menurut Airbus, Airbus A380 dapat lepas landas dan mendarat secara reguler di sedikitnya 140 bandara di seluruh dunia. Banyak di antaranya adalah bandara hub di kota-kota besar seperti London Heathrow, JFK New York, Kingsford Smith Sydney, dan Bangkok Suvarnabhumi; termasuk Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Indonesia, yang pada Juni 2023 mendatang akan menerima penerbangan reguler A380 Emirates rute Dubai-Denpasar.

Selain itu, dari 140 tersebut, sebagian besar merupakan bandara hub bagi maskapai penerbangan yang mengoperasikan A380, seperti Singapore Airlines, Korean Air, atau Lufthansa.

Menariknya, sekalipun rata-rata bandara yang melayani A380 merupakan hub bagi maskapai penerbangannya, namun tidak dengan Portugal dan Hi Fly. Saat Hi Fly masih mengoperasikan A380, pesawat tersebut tidak dapat mendarat di bandara utama negaranya sendiri di Lisbon, Portugal.

Di luar 140 bandara yang dapat melayani penerbangan reguler Airbus A380, sebetulnya, di luar itu, ada lebih banyak bandara yang A380 dapat terbang dan lepas landas di sana, seperti Bandara Alice Springs yang digunakan sebagai fasilitas penyimpanan jangka pendek dan panjang atau istilah lainnya adalah kuburan pesawat di Australia.

Baca juga: Akhirnya, Pesawat Airbus A380 Mendarat dalam Penerbangan Berjadwal di Indonesia

Bila ditotal dengan bandara lain di luar bandara internasional yang jumlahnya 140 tersebut, ada sekitar 400 bandara di dunia yang dapatmelayani A380.

Sebagai informasi, bandara yang dapat melayani A380 harus memiliki berbagai kriteria, seperti dimensi hanggar yang menyesuaikan dimensi (tinggi dan lebar) A380, kekuatan dan panjang runway, ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar, luas boarding room, standard stair car, peralatan kargo, dan lain sebagainya.