Kasihan, Boeing 747-8 VIP Bekas Kerajaan Arab Saudi ‘Dimutilasi’: Baru Mencatat 50 Jam Terbang

Boeing 747-8 VIP yang sejatinya diperuntukkan mendukung mobilitas keluarga kerajaan Arab Saudi melalui operator Saudi Arabian Royal Flight Group harus dibongkar. Pembongkaran terjadi di kuburan pesawat di padang pasir Pinal Airpark, Marana, Arizona. Sebetulnya, pembongkaran atau dipotong-potongnya pesawat bukan hal aneh, tetapi pada kasus Boeing 747-8 VIP ini menjadi aneh lantaran pesawat baru genap mencatat 50 jam terbang.

Baca juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Sejak pertama kali muncul ke publik saat terbang perdana pada 9 Februari 1969, Boeing 747 selalu menjadi pusat perhatian. Penumpang di seluruh dunia menantikan untuk bisa naik pesawat berjuluk Queen of the Skies itu.

Begitupun juga sebaliknya, maskapai di seluruh dunia berlomba memilikinya. Ketika itu, muncul stigma bahwa dengan menerbangkan Boeing 747 maskapai itu akan menjadi naik kelas ke jajaran maskapai elite.

Ini tentu saja sesuai harapan Boeing, yang notabene mempertaruhkan reputasi dan masa depan perusahaan melalui Boeing 747. Andai gagal, Boeing terancam bangkrut saking besarnya investasi pada proyek 747.

Beruntung, proyek Boeing 747 sukses. Tak kurang dari 1.500 unit pesawat dalam konfigurasi penumpang, kargo, dan khusus, sejak tahun 1969, terus diproduksi di pabrik Everett dan menjadi pesawat superjumbo atau paling sukses di dunia, mengalahkan Airbus A380 yang proyeknya bisa dibilang gagal total dan tak berumur panjang.

Sayangnya, kesuksesan di pasar komersial tak diikuti kesuksesan di pasar jet bisnis. Sejak terbang perdana pada tahun 2012, Boeing 747-8BBJ atau pesawat Boeing 747-8 VIP tak laku di pasaran. Bahkan, salah satu pesawat Boeing 747-8 VIP yang dibeli untuk keluarga kerajaan Arab Saudi dan baru mencatat 50 jam terbang terpaksa harus di-scrapped atau dipotong-potong sesudah ditetapkan pensiun dini.

Dilansir Simple Flying, sejak tahun 2012 silam, pesawat yang dikirim ke operator Saudi Arabian Royal Flight Group itu tak kunjung digunakan. Pesawat dengan nomor registrasi N458BJ itu justru hanya diparkir di bandara hampir 10 tahun lamanya di Basel, Swiss.

Sebelum dipensiunkan dini, pesawat Boeing 747-8 VIP itu sempat dijual namun sepi peminat. Dengan 42 jam terbang, pesawat akhirnya diterbangkan ke kuburan pesawat di Pinal Airpark dan diparkir jangka panjang di sana sebelum akhirnya di-scrapped dan dipotong-potong serta diambil bagian-bagian pentingnya.

Baca juga: Boeing 747-9I BBJ Presiden Erdogan Mendarat di Bali, Meski Mewah Ternyata Hasil Hibah dari Qatar

Diketahui, pesawat dibuat dari 60 persen alumunium, 15 persen baja, 10 persen logam berharga mahal seperti titanium. Biasanya pesawat yang sudah pensiun dihancurkan, dibersihkan dari komponen radioaktif sesuai panduan hijau Eropa, diklasifikasikan, dan diteliti bagian mana saja yang masih bisa dipertahankan, seperti suku cadang berharga, roda pendaratan, mesin, dan peralatan avionik.

Selain itu, badan pesawat biasanya dipotong-potong menjadi bagian kecil untuk gantungan kunci dan dijual ke avgeeks di seluruh dunia. Mengingat Boeing 747-8 VIP adalah pesawat spesial dan unitnya bisa dihitung, besar kemungkinan penjualan gantungan kunci yang terbuat dari bekas pesawat itu akan laku keras di pasaran.

Kenapa Ada Pintu Depan di Kabin Masinis KRL Jepang? Ini Jawabannya

Kecelakaan kereta teknis di proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) membuat tak sedikit warganet yang membanding-bandingkan dengan kereta buatan Jepang. Jepang memang dikenal sebagai negara dengan industri perkeretaapiannya yang sangat maju, baik penggunaan dalam negeri maupun ekspor. Berbicara kereta, dalam hal ini kereta listrik (KRL) Jepang, terdapat satu ciri yang umum ditemukan yaitu adanya pintu depan di kabin masinis. Pertanyaannya, kenapa dan apa tujuannya?

Baca juga: KRD Bumi Geulis – Kenangan Rute Bogor-Sukabumi yang Kini Jadi Rail Clinic

Dikutip dari Early History of Japan’s Railway, industri kereta di Jepang mulai mengalami kemajuan luar biasa pasca Restorasi Meiji.

Ketika itu, sekitar tahun Meiji ke-3 atau tahun 1870, Edmond – Morel datang dari Britania Raya sebagai pimpinan arsitektur dan pembangunan skala besar dimulai.

Di sisi Jepang pada tahun 1871, Masaru Inoue (Bapak Perkeretaapian Jepang) mengambil alih pimpinan penggalian (mining head) dan jalur kereta api serta terlibat dalam pembangunan. Setelah pembukaan jalur kereta Stasiun Shimbasi, Edo-Yokohama pada tahun 1878, reputasi kereta api menjadi sangat baik dan menguntungkan.

Setelah perang berakhir, kunci perkeretaapian Jepang dipegang oleh JNR. Japanese National Railways (JNR) beroperasi pasca perang berakhir. Dibentuk sebagai perusahaan swasta pada tahun 1949, JNR mengambil alih sistem kereta api yang sebelumnya dikelola oleh pemerintah.

JNR menjadi salah satu perusahaan yang memperbaiki ekonomi Jepang pasca perang dan berkembang pesat dalam periode pertumbuhan ekonomi negara itu. Perusahaan ini yang mengadakan riset dalam teknologi kereta api tingkat tinggi pertama di dunia, misalnya dengan penciptaan Shinkansen atau Kereta Peluru berkecepatan tinggi di tahun 1964. Selain itu, tentu juga kereta lokal di jalur konvensional (KRL) juga tak luput dari perkembangan.

Tak jauh berbeda dengan Shinkansen, pada dekade 60-an Jepang juga memproduksi KRL komuter lokal. KRL keluaran tahun ini sampai sekitar tahun 90-an sering disebut sebagai Toei. Pada KRL jenis ini dan jenis beberapa jenis lainnya, memiliki salah satu ciri yang bisa dibilang menjadi pertanyaan, yaitu memiliki pintu depan di kabin masinis? Apa tujuannya?

Menurut Kanji Users Service Operation, Earl Kinmonth, seperti dilansir Quora, sebetulnya tidak semua jenis KRL komuter lokal di Jepang atau jenis kereta di Jepang memiliki pintu depan di kabin masinis.

Kita tahu, di Jepang ada kereta EMU, kereta diesel, Shinkansen, lokomotif, monorel, Automatic Guide Transit (AGT), trem, lokomotif uap, railbus, rel linear, dan Maglev. Dari semua itu, tidak semua memiliki pintu depan di kabin masinis. Hanya kereta EMU, kereta monorel, dan KRL saja yang memilikinya.

Turunan dari tiga jenis kereta itu, juga tak seluruhnya memiliki pintu depan di kabin masinis. Hanya tipe atau seri tertentu saja.

Pada KRL, hampir semua tipe memiliki pintu depan di kabin masinis. Menurut Kinmonth, fungsinya hampir sama dengan adanya pintu di ujung kereta, yaitu untuk menghubungkan kereta.

Baca juga: Lama Tak Beroperasi, KRL TM 5000 Jadi Bahan Sorotan Penggemar Kereta Api

Meski berada di ujung depan atau ujung belakang, kabin masinis tetap memiliki pintu depan lantaran adanya 2 set kereta yang dijadikan satu. Itu kenapa kabin masinisnya didesain memiliki pintu depan, semata untuk tetap memungkinkan antar kereta terhubung saat 2 set kereta dijadikan satu rangkaian.

Dalam kondisi darurat, pintu depan di kabin masinis juga menjadi akses pintu darurat baik bagi masinis maupun penumpang, terutama saat berada di dalam terowongan, dimana dinding terowongan nyaris menempel dengan KRL. Saat ini terjadi, pintu depan di kabin masinis otomatis menjadi juru selamat.

Hitachi Rail “Blues” Kereta Bertenaga Hibrida Tiga Moda Resmi Beroperasi di Sisilia Italia

Setelah diluncurkan pada 21 September lalu, kini kereta bertenaga hibrida, yakni bisa menggunakan listrik pantograf, baterai dan diesel, Hitachi “Blues” yang dioperasikan Trenitalia telah beroperasi untuk melayani penumpang di wilayah Sisilia, Italia, pada 20 Desember 2022.

Baca juga: Hitachi Rail Luncurkan “Blues” di Italia – Kereta Bertenaga Hybrid, Bisa Pakai Listrik Pantograf, Baterai dan Diesel

Dikutip dari Railway-Technology.com, kereta Blues menawarkan tingkat kenyamanan yang tinggi bagi penumpang, seperti kereta ini dilengkapi dengan sistem pendingin udara inovatif yang memungkinkan optimalisasi konsumsi energi berdasarkan jumlah penumpang sebenarnya di dalam kereta, soket daya USB dan 220v untuk konektivitas yang lebih baik.

Kereta ini juga memiliki jendela besar, area sepeda dan kapasitas transportasi bagasi yang tinggi. Kereta dapat mencapai kecepatan maksimum 160 km per jam dengan percepatan 1,10 m/detik dan dapat menampung hingga 300 orang duduk dalam komposisi empat gerbong.

Aksesibilitas dioptimalkan sesuai dengan Spesifikasi Teknis Interoperabilitas terbaru yang ditetapkan Uni Eropa untuk Orang dengan Mobilitas Rendah melalui ketinggian akses ke kereta di tingkat peron, untuk kepentingan semua penumpang, serta minimalisasi langkah-langkah internal, yang memungkinkan kegunaan maksimal kereta oleh penumpang.

Kereta Blues telah dirancang dengan solusi ramah lingkungan termasuk, yang di dalamnya tingkat daur ulang tinggi (95%) pada material; penggunaan bahan baku yang berasal dari daur ulang; teknologi on-board yang meminimalkan konsumsi energi, seperti sistem pencahayaan LED internal dan eksternal; sistem pendingin udara pintar; dan penggunaan Smart Parking.

Baca juga: Desiro ML Cityjet Eco, Kereta Bertenaga Baterai Elektro-Hybrid dari Siemens Mobility

Hitachi dan Trenitalia telah menetapkan kontrak untuk penyediaan 135 kereta Blues senilai 1,2 miliar euro. Khusus untuk melayani wilayah Sisilia, ada 22 kereta yang akan dioperasikan. Selain itu, Blues rencananya juga akan mengular di wilayah Italia lainnya.

Pertama di Asia Tenggara, Bandara Changi Hadirkan Aplikasi Seluler Pelacakan Bagasi Penumpang

Meski pada umumnya manajemen dan penanganan bagasi di bandara semakin baik, namun, tetap saja masalah kehilangan tas/koper bagasi pada kargo, menjadi momok tersendiri yang acap kali membuat pusing penumpang. Nah, belum lama ini ada terobosan dari Otoritas Bandara Changi Singapura, yang menghadirkan aplikasi untuk membantu penumpang melacak keberadaan tas bagasi.

Baca juga: Susul Lufthansa, Air New Zealand Larang Penumpang Gunakan Pelacak Bagasi Apple AirTag, Kenapa?

Dikutip dari Simpleflying.com, disebutkan Bandara Internasional Changi Singapura akan dilengkapi aplikasi untuk membantu meringankan kekhawatiran penumpang berupa aplikasi pelacakan bagasi. Fungsi pelacakan bagasi yang dipersonalisasi di bandara Changi berasal dari dalam aplikasi seluler bandara, yakni Ichangi.

Fungsi pelacakan bagasi dalam aplikasi seluler terdengar menarik, dan kemungkinan ini adalah yang pertama dari jenisnya yang diluncurkan oleh bandara di Asia Tenggara. Analis mengungkapkan bahwa hadirnya aplikasi ini merupakan bagian dari perjalanan transformasi bagasi Bandara Changi, yang dimulai akhir tahun lalu.

Idenya adalah untuk meningkatkan pengalaman perjalanan secara keseluruhan penumpang, dan bandara bekerja dengan banyak mitra untuk memahami dan menggunakan teknologi untuk meningkatkan cara bagasi ditangani dan dilacak.

Fungsi ini secara resmi diperkenalkan ke aplikasi Ichangi bulan ini dan sejak itu telah diuji dalam versi beta. Karena masih dalam tahap uji coba, fungsinya hanya tersedia untuk penumpang dari maskapai yang berpartisipasi dengan berangkat, atau transit di Bandara Changi.

Menggunakan fungsi tersebut, penumpang yang bepergian dari atau ke Bandara Changi harus dapat melacak status bagasi mereka dan menerima pembaruan tepat waktu jika bagasi kedatangan mereka di bandara tertunda karena sesuatu yang tidak terduga.

Bagaimana cara kerja fungsi pelacakan?
Penumpang yang berangkat hanya perlu memindai label bagasi mereka melalui aplikasi Ichangi, dan mereka akan memiliki visibilitas lengkap perjalanan bagasi mereka dari diperiksa ke sistem penanganan bagasi ketika dimuat ke dalam kargo di atas pesawat.

Baca juga: Tak 100 Persen Aman, Aplikasi Pelacakan Bagasi Dipertanyakan Keakuratannya!

Di sisi lain, penumpang yang tiba di Changi, memiliki visibilitas bagasi mereka yang diperiksa di bandara luar negeri dan akan tahu kapan harus mengharapkan pengiriman tas mereka di klaim bagasi Bandara Changi. Pengalamannya hampir serupa untuk mentransisikan penumpang, yang akan diberi tahu dan melihat bahwa bagasi mereka telah tiba di Changi dan ketika dimuat ke pesawat untuk penerbangan selanjutnya.

Meskipun aplikasi Ichangi dan fungsinya memerlukan koneksi internet, Bandara Changi menawarkan layanan WiFi gratis, sehingga kenyamanan bagi penumpang benar -benar ada di sana.

Drone Quadcopter Mini DJI Mavic 3 Mampu Prediksi Terjadinya Letusan Gunung

Tak ada yang bisa memastikan kapan bakal terjadinya letusan gunung berapi, namun, lewat teknologi berbasis sensor gerakan dan visual, kapan terjadinya letusan pada gunung berapi dapat diprediksi sejak awal. Nah, terkait dengan prediksi waktu letusan, akan banyak dipengaruhi oleh kemampuan deteksi pada aktivitas sang gunung itu sendiri. Dan sejak beberapa tahun teknologi drone telah difungsikan untuk mendukung pengamatan gunung berapi.

Baca juga: Drone Kargo Karya Anak Bangsa Beraksi di Lokasi Gempa Bumi Cianjur 

Dikutip dari uni-mainz.de (20/12/2022), diwartakan drone mini yang biasa digunakan secara komersial rupanya dapat diadaptasi untuk membantu memprediksi letusan gunung berapi. Digagas oleh Prof. Thorsten Hoffmann dari Johannes Gutenberg University Mainz di Jerman, sebuah drone quadcopter DJI Mavic 3 Raven telah diuji di Pulau Vulcano, Italia.

Drone quadcopter itu kemudian ditambahkan komponen modul mikrokontroler/Wi-Fi ESP32, sensor sulfur dioksida dan karbon dioksida mini, pompa pengambilan sampel udara kecil, modul GPS, dan drive memori flash.

Semua perangkat tersebut ditenagai oleh baterai lithium-polymer 1.300 mAh (terpisah dari baterai drone itu sendiri), dan terkandung dalam kotak cetakan 3D yang dipasang pada undercarriage Mavic 3. Nantinya, data ditransmisikan dari drone ke komputer yang berbasis di permukaan secara real time, dan plus direkam di memori onboard drone.

Dari analisis gas vulkanik yang diambil drone, memungkinkan para ilmuwan untuk menentukan proses apa yang terjadi jauh di dalam gunung berapi, termasuk kemungkinan letusan yang akan datang. Sementara penggunaan drone besar cenderung mahal dalam pengoperasian.

Sebelum era drone, satu-satunya metode untuk mengumpulkan gas vulkanik dilakukan dengan memanjat ke tepi kawah gunung berapi aktif. Ini tidak hanya proses yang sangat sulit dan memakan waktu, tetapi juga dapat membahayakan ahli vulkanologi, jika terjadi letusan saat mereka berada di sana.

DJI Mavic 3 Raven berarnya hanya 1,23 kg, dengan penambahan paket sensor dan aksesoris pendukung, berat done menjadi 3 kg.

Baca juga: DJI Kembangkan Teknologi Geofencing Lanjutan untuk Keamanan Navigasi Drone

Dalam penerbangan uji yang dilakukan pada bulan April ini di pulau Vulcano Italia, drone Raven berhasil memperoleh dan menyampaikan pembacaan gas vulkanik dari kawah La Fossa. Lebih khusus lagi, secara akurat melaporkan rasio sulfur dioksida/karbon dioksida dari semburan gas yang dipancarkan oleh kawah – rasio tersebut dapat digunakan untuk menentukan kemungkinan letusan yang terjadi dalam waktu dekat.

Mau Tenang Sebelum Take Off? Perhatikan Panduan Ini

Sebelum sampai di ruang boarding, rasanya calon penumpang pesawat belum bisa tenang. Dalam suatu rangkaian, mulai dari waktu menuju bandara, persoalan di check in counter sampai proses antrian di imigrasi, kesemuanya bisa membuat hati Anda was-was, apalagi jika Anda sedari awal datang dengan waktu mepet di bandara.

Baca juga: Biar Tak Penasaran, Seberapa Awal Pilot Harus Tiba di Bandara?

Pastinya tidak enak punya perasaan cenat cenut di bandara, ditambah bila yang ikut dalam perjalanan adalan rombongan yang perlu perhatian khusus. Nah, ketimbang pusing, situs skyscanner.net merilis beberapa tips yang kiranya berguna untuk Anda pahami sebelum merencanakan keberangkatan dengan pesawat udara.

1. Sebelum tiba di bandara
Lebih baik anda mencari tahu tentang bandara, apalagi kalau anda berada di negeri orang. Untuk memudahkan, cari melalui maps yang tersedia pada ponsel anda. Selain itu screenshoot atau cetak tiket anda, hal ini untuk memudahkan anda. Karena terkadang koneksi internet di bandara tidaklah selalu baik.
maxresdefault

2. Saat Check-in
Perlihatkan tiket anda kepada petugas di depan pintu masuk, setelah itu anda akan melewati pemeriksaan keamanan untuk pengecekan barang-barang yang anda bawa. Saat di gate pengamanan, lepaskan semua perhiasan, ponsel dan barang-barang yang mengandung magnet di tempat yang sudah disediakan. Akan lebih baik bila barang-barang ini anda masukkan kedalam tas agar tidak merepotkan. Setelah melakukan pengecekan keamanan, cek boarding pass anda dan masukkan barang bawaan anda ke bagasi.

Pastikan sebelumnya Anda telah mengatur barang bawaan, mana tas yang akan dibawa ke kabin, dan mana tas/koper yang akan dibawa lewat kargo.

3. Di ruang boarding
Carilah posisi tempat duduk yang nyaman untuk anda menunggu. Bila Anda membawa anak-anak ikut serta dalam penerbangan, berikan konsol mainan atau smartphone yang berisi mainan. Ini biasanya berguna agar anak-anak anda tidak lari-larian dalam ruang tunggu.

Bila Anda sendirian dan dalam perjalanan dinas, Anda bisa sembari mengerjakan pekerjaan alias mencicil pekerjaan anda yang belum selesai. Buat alarm bila keberangkatan Anda masih lama dan ingin istirahat sebentar agar Anda tidak tertinggal pesawat. Sebelum naik pesawat, antrilah dengan tenang sesuai jalurnya.

Baca juga: Ikuti Tahapan Ini, Proses Check In dan Pemeriksaan Keamanan di Bandara Bakal Mulus

4. Di pesawat
Di dalam pesawat, carilah tempat duduk anda sesuai nomor yang ada di boarding pass. Letakkan barang-barang yang tidak anda masukkan ke bagasi di kabin pesawat. Duduklah dengan tenang dan jangan sekali-sekali berpindah duduk apalagi saat pesawat sudah akan berangkat. Hal terpenting, jangan pernah pindah ke kursi bisnis walaupun sepi.

Bandara Knuffingen, Jadi Model Bandara Terbesar di Dunia, Dibangun Enam Tahun dengan Biaya 4 Juta Euro

Knuffingen Airport, atau Bandara Knuffingen di Hambur, Jerman, sejak tahun 2011 dikenal sebagai bandara internasional terbesar di dunia. Tapi jangan keliru, bandara terbesar ini bukan bandara biasa, lantaran Knuffingen adalah model (miniatur) bandara, yang artinya berupa model skala bandara lenkap dengan model pesawat, landas pacu, jalur taxii sampai area terminal.

Baca juga: Kakek ini Pajang 1.500 Koleksi Miniatur Pesawatnya di Bandara Shannon, Irlandia 

Model bandara tentu sudah banyak diciptakan, tapi sejauh ini yang terbesar adalah Knuffingen Airport. Dikutip dari miniatur wunderland.com, disebutkan luas Bandara Knuffingen yang membentang seluas 150 m2 dan menampilkan lalu lintas udara yang realistis.

Bandara Knuffingen adalah bagian dari suguhan di Wunderland, dan oleh banyak orang dipandang sebagai model bandara paling menarik dari sudut pandang teknis. Di bandara ini per harinya ada 250 penerbangan, 52 pesawat dari berbagai jenis, 75 bangunan, 40.000 lampu LED, 4.000 pohon, 90 kendaraan dari berbagai jenis, 50.000 program penerbangan dan 15.000 figur yang terdiri dari penumpang dan petugas bandara.

Untuk membangun bandara ini tentu tak bisa singkat, dibutuhkan 150.000 jam kerja dan 100 km panjang kabel. Mewujudkan Bandara Knuffingen secara teknis membutuhkan waktu hampir enam tahun, dan memakan biaya 4 juta euro.

Bandara Knuffingen diresmikan pada 4 Mei 2011. Pengembangan bandara ini sejatinya dimulai pada Juni 2005. Pada tahun 2008, telah diselesaikan tahap perencanaan dan menyusun rencana pembangunan akhir.

Bandara yang mengesankan adalah daya tarik Wunderland, tidak hanya untuk penggemar penerbangan dan teknologi. Ada 45 pesawat berbeda, dari A380 hingga Cessna, beroperasi secara mandiri di bandara. Setibanya di gerbang, pesawat diarahkan kembali dengan kendaraan dorong dan taxii ke landasan pacu sendiri.

Baca juga: Punya Panjang Rel 12 Km, Inilah Miniatur Jaringan Kereta Api Terbesar di Dunia!

Di sana, mereka berakselerasi dan lepas landas. Setiap pesawat dilengkapi dengan lampu asli dan turbin mengeluarkan suara yang realistis, setidaknya saat lepas landas, kalau tidak, kebisingannya hampir tak tertahankan

Inilah Wiggles – Rumah Perahu dengan Cita Rasa London Train Tube

Banyak cara untuk memperlihatkan kecintaan pada dunia kereta api. Di London, Inggris misalnya, ada sebuah rumah perahu (canal boat home) yang dirancang seperti kereta tabung bawah tanah (tube train) yang populer sebagai ikon kota London. Rumah terapung yang diberi nama Wiggles, yang diklaim sebagai satu-satunya yang ada di Inggris telah terjual seharga £20.000 atau sekitar Rp379 juta.

Baca juga: Tak Terlihat Seperti Kapal Pesiar, “Guntu” Lebih Mirip Rumah Perahu

Dikutip dari mirror.co.uk (18/12/2022), Wiggles telah dicat menyerupai kereta London Underground. Rumah perahu itu adalah gagasan dari sang pemilik Darren Brown (39 tahun) dan dilengkapi dengan tanda ‘Mind the Gap’ di bagian luarnya dan di dalamnya memiliki fitur bertema Underground.

Darren Brown dari Uxbridge, London, membutuhkan waktu enam bulan untuk membuat rumah perahu kanal ini. Rumah perahu ini disebut Wiggles karena memiliki kelebihan berat lambung di atas garis air yang membuatnya bergerak. “Saya telah berhasil mengurangi goyangan dengan peninggian, tetapi belum menghentikannya sepenuhnya.”

Baca juga: Kapal Ferry Jadi Rumah Tinggal Mewah? Cek Disini Biar Tak Penasaran

Brown menyebut, rumah perahu ini juga disebut Mind the Gap, karena kesamaan yang jelas antara naik kereta bawah tanah dan naik perahu kanal dari tepi sungai.

COMAC Kirim ARJ21-700 ke TransNusa Airlines, Pertanda Duopoli Regional Jet Narrow Body di Indonesia Berakhir?

Era duopoli pada pesawat regional jet narrow body di Indonesia, boleh jadi akan segera berakhir. Bila selama ini pasar tersebut hanya diisi oleh Airbus dan Boeing, kini kabar terbaru menyebut Commercial Aircraft Corporation of China, Ltd. (COMAC) telah mempersiapkan pengiriman (delivery) unit perdana ARJ21-700 kepada maskapai TransNusa Airlines.

Baca juga: 35 Persen Saham Dikuasai Perusahaan Cina, Jadi Alasan TransNusa Gunakan Pesawat Cina ARJ21?

Pesawat regional buatan Cina, COMAC ARJ21-700, telah resmi memasuki pasar internasional setelah pabrikan mengirimkan pesawat tersebut ke klien asing pertamanya, maskapai regional Indonesia TransNusa.

Dicat dengan warna biru, kuning, dan hijau – livery TransNusa, COMAC ARJ21-700 yang dikirim terdaftar dengan registrasi PK-TJA. Pesawat ini dikonfigurasi dengan 95 kursi di kelas ekonomi. Jarak terbang pesawat regional ini ada di rentang 2.225 hingga 3.700 kilometer (1382 hingga 2.300 mil), yang digadang akan membantu rute domestik dan regional TransNusa.

Kedatangan baru dan pesawat berikutnya dipesan pada Januari tahun lalu oleh Grup Everbright China, yang sedang mencari 30 COMAC ARJ21-700 dan memiliki opsi untuk menambah 30 pesawat lagi. Rencananya, pesawat regional tersebut akan disewakan melalui AVIC Leasing kepada TransNusa sebagai bagian dari perluasan armada maskapai.

Sejauh ini, TransNusa memiliki tiga pesawat dalam armadanya, semuanya adalah Airbus A320-200 disewa dari lessor. Pesawat Airbus narrowbody keempat akan segera diterima, tetapi usia rata-rata armada maskapai tetap mendekati 12 tahun.

Pengiriman internasional pertama adalah tonggak sejarah yang luar biasa untuk COMAC yang didukung negara dan tidak mungkin menjadi yang terakhir, meskipun garis waktu untuk pertumbuhan tersebut memang akan relatif lambat.

Namun terlepas dari itu, COMAC masih memiliki strategi yang memungkinkannya mengancam duopoli Airbus-Boeing, seperti kemunculan pesawat C919. Meskipun belum membuat penampilan internasional, pesawat narrow body ini akhirnya dikirimkan ke pelanggan pertamanya, China Eastern Airlines awal bulan ini.

Mengingat bahwa pasar domestik Cina sangat besar, C919 akan mendapatkan penjualan yang memadai yang akan memungkinkan popularitas dan reputasi pesawat cukup matang untuk menyebar ke pasar internasional untuk maskapai asing berbiaya rendah atau bahkan berbiaya penuh.

Baca juga: Berkah Zhuhai AirShow Cina, COMAC Terima Pesanan 330 Pesawat Made in China C919 & ARJ21

Mirip dengan bagaimana COMAC ARJ21-700 dikirim ke TransNusa, kemungkinan maskapai Indonesia, Afrika, atau bahkan Rusia menjadi klien baik pesawat regional atau C919 ada dan tidak boleh diabaikan begitu saja. Dan jika ada satu hasil yang pasti, COMAC sendiri tidak boleh diremehkan sebagai produsen pesawat terbang

Travelator, Wahana Transportasi Massal Yang Bebas Emisi

Travelator atau eskalator datar sudah jamak melengkapi bandara internasional, dengan bentang jarak antar gate yang berjauhan hadirnya travelator menjadi pilihan yang tepat bagi para calon penumpang untuk menggapai lintasana gate yang kadang jarak mencapai lebih dari satu kilometer dari titik check in atau pemeriksaan imigrasi.

Baca juga: Tekan Biaya Investasi, Bandara Glasgow Bakal Miliki Travelator Terpanjang di Dunia! 

Meski saat ini debut travelator sebatas digunakan pada area bandara dan beberapa stasiun bawah tanah ternama, ada suatu pemikiran untuk memanfaatkan teknologi travelator sebagai wahana transportasi untuk menggeser massa penumpang dalam jumlah besar dengan menenkankan pada pengurangan emisi karbon. Seperti dilansir dari newsatlas.com (24/11/2016), beberapa negara maju tengah mencanangkan guna memaksimalkan konsep Smart City dengan meminimalisir mobil pribadi dan mengurangi emisi karbon.

Walau beragam studi dan terobosan telah dicetuskan para peneliti, namun sampai saat ini masih belum jelas betul moda transportasi apa yang akan menggantikan mobil pribadi nantinya. Sebagai bentuk pencarian solusi, peneliti dari Ecole Polytechnique Federale de Lausanne (EPFL) di Swiss, memiliki gagasan kota bebas mobil dan menggunakan teknologi travelator.

Menurut EPFL, trotoar bergerak Jetson (escalator lurus) bukan hanya bisa untuk menggantikan mobil. Ini dikarenakan setiap travelator ini bisa menampung dan membawa 7 ribu penumpang per jam lebih banyak dibandingkan bus. Walaupun nantinya pengguna akan berpindah dari travelator yang satu ke travelator lainnya untuk menuju lokasi yang akan mereka singgahi.

Jauh sebelum masa ini, model travelator sudah menjadi acuan futuristik sejak tahun 1893 dan pertama kali dipasang di pameran Colombus Chaniago dan pada tahun 1900 untuk kedua kalinya di Paris Exposition Universelle. Sejak pameran tersebut, sudah ada bayangan yang telah diusulkan oleh H G Wells, Robert Heinlein dan Isaac Asimov, dan  para visioner perkotaan untuk membuat mobil konvensional dan transportasi umum. Namun, pada masa itu belum ada inisiatif untuk memproduksi travelator.
Smithsonian-MagazineTravelator hingga saat ini hanya berada di bandara, stasiun, dan pusat belanja raksasa, tetapi belum ada penerapan travelator di luar ruangan (outdoor). Menurut para peneliti EPFL, berdasarkan konsep kota Jenewa Modern, saat ini tidak ada mobil pribadi melainkan semua transportasi yang berada di jalanan adalah bus, kereta api metro, trem, taksi, sepeda atau mobil angkutan lain telah terintegrasi. Para peneliti ini juga mengasumsikan saaat melihat beberapa teknologi saat ini, penggunaan travelator akan dibuat lebih cepat dari biasanya. Menurut mereka nantinya penumpang yang naik ke travelator akan melaju bersamaan dalam jarak 15km per jam. Hasil ini didapat dari rata-rata kecepatan pengendara yang berjalan melalui kota pada jam-jam sibuk.

Masih menurut para peneliti, adopsi travelator ini akan ditinggikan untuk memudahkan pengguna saat melakukan perjalanan nonstop pada Expressway. Menurut EPFL, penggunaan travelator ini akan mengambil ruang lebih banyak daripada untuk kendaraan pribadi. Dengan ini, memungkinkan adanya ruang untuk travelator bergerak dua arah seperti halnya transportasi lain.

Baca juga: Elon Musk Hadirkan Solusi Transportasi Canggih Berbasis Travelator

Kapasitas 7 ribu penumpang per jam untuk setiap jalur, bila dibandingkan dengan 750 penumpang untuk 1.800 kendaraan di jalan, ditambah travelator ini juga akan lebih hemat energi dari pada bus, sekalipun bus listrik. Sayangnya, pembangunan jalan untuk travelator ini akan mengeruk anggaran yang sangat mahal, terlebih pada soal pembebasan lahan dan penerapan infrastruktur penunjang.