Inilah Bedanya Parameter Kecepatan di Pesawat, Penuh Perhitungan dan Rumit

Tahukah Anda, bahwa tidak seperti kendaraan darat, kendaraan udara menggunakan kecepatan relatif terhadap udara, yang disebut kecepatan udara. Seperti kecepatan pesawat pada dasarnya menentukan jarak yang ditempuh dalam waktu tertentu.
Namun, tidak seperti kendaraan darat, perhitungan berbagai kecepatan pada moda udara sedikit lebih rumit. Seperti kecepatan pesawat, sering diukur dalam knot, yakni ukuran kecepatan udara yang mengalir di sekitar pesawat, oleh karena itu disebut kecepatan udara. Dari laman Simple Flying, berikut beberapa parameter kecepatan pada pesawat.
Indicated airspeed (IAS)
Kecepatan udara yang ditunjukkan diukur melalui indikator kecepatan udara di kokpit. Indikator kecepatan udara diumpankan oleh tabung pitot yang terletak tepat di belakang kerucut hidung. Indikator kecepatan udara mengukur perbedaan antara tekanan statis dari port statis dan tekanan ram dari tabung pitot.
IAS biasanya digunakan untuk kecepatan rendah dan ketinggian rendah. Misalnya, IAS dapat direferensikan untuk ketinggian di bawah 10.000 kaki (3.000 meter) dan 250 knot (460 km per jam).
IAS adalah representasi yang baik dari tekanan dinamis udara, yang digunakan untuk menghitung gaya angkat yang harus dihasilkan sayap pada kecepatan tertentu. IAS diukur dalam knot dan disingkat KIAS.
True airspeed (TAS)
True airspeed adalah kecepatan pesawat relatif terhadap udara yang dilaluinya. Saat ketinggian meningkat, tekanan udara menurun, dan TAS menjadi lebih signifikan daripada IAS. Ini karena lebih sedikit molekul udara yang masuk ke tabung pitot.
Pada ketinggian jelajah tipikal 30.000 kaki (9.000 meter), TAS kira-kira 30 persen lebih besar dari yang ditampilkan indikator kecepatan udara kokpit. TAS diukur dalam knot dan disingkat KTAS. Patut dicatat bahwa pesawat modern mungkin dilengkapi dengan Machmeter, yang menunjukkan rasio TAS terhadap kecepatan suara (angka Mach).
Groundspeed (GS)
Kecepatan pesawat relatif terhadap tanah disebut groundspeed. Ini adalah TAS dengan faktor koreksi angin. Pada hari yang tenang, GS mungkin sama dengan TAS. Namun jika angin berhembus searah dengan pergerakan pesawat maka GS akan lebih besar dari TAS.
Sementara GS dihitung lebih besar dari kecepatan suara (1.235 km per jam) pada kesempatan itu, itu sama sekali bukan penerbangan supersonik.
Calibrated airspeed (CAS)
Kecepatan udara yang dikalibrasi serupa dengan IAS, dengan koreksi untuk kesalahan instrumen pemosisian. Umumnya, selama pendakian awal (pada ketinggian rendah), pengaturan angle of attack dan flap yang lebih tinggi dapat menyebabkan indikator kecepatan udara menunjukkan sedikit kesalahan dalam pembacaan. Kesalahan ini bisa dalam urutan beberapa knot. CAS diukur dalam knot dan disingkat KCAS.

Mengapa Ban Pesawat Sekarang Lebih Kecil Dibanding Ban Pesawat Lawas?

Terdapat banyak perubahan pada pesawat saat ini (pesawat modern) dibanding pesawat tua (sebelum era jet). Mulai dari mesin pesawat yang dahulu kecil saat ini besar, sampai ban pesawat yang dahulunya sangat besar lebih melebihi tinggi manusia dewasa menjadi sangat kecil sepinggang orang dewasa. Untuk hal terakhir, kenapa itu bisa terjadi?

Baca juga: Kapan Ban Pesawat Diganti? Ini Jawabannya

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sudah jadi rahasia umum bahwa roda atau ban pesawat diketahui memiliki posisi genting di pesawat. Sekalipun tidak dilengkapi teknologi sangat canggih seperti peralatan avionik, tetap saja perannya dalam mendukung proses lepas landas dan mendarat sampai parkir di apron.

Jangankan seluruh roda pesawat, tidak berfungsinya satu saja roda pesawat itu sudah lebih dari cukup untuk membuat pesawat mendarat darurat. Secara umum, ketika itu terjadi, keselamatan dan keamanan penerbangan jadi terancam.

Saat mendarat dan lepas landas, tentu saja dibutuhkan landasan pacu (runway) dan ini berupa aspal.

Runway setidaknya dibangun dengan empat pondasi, mulai dari tanah dasar (sub grade), lapisan pondasi bawah (sub base course), lapisan pondasi atas (base course), lapisan permukaan (surface course). Di bagian atas atau permukaan, aspal runway harus berkualitas tinggi, seperti tak bisa ditembus air serta mampu memperbesar daya dukung lapisan terhadap beban roda pendaratan.

Umumnya, lapisan paling atas atau aspal runway memiliki ketebalan sekitar 127 cm. Ketebalan ini didesain untuk menahan tekanan dari ban pesawat saat mendarat yang mencapai 400 psi.

Baca juga: Tahukan Anda, Aspal Runway 10 Kali Lipat Lebih Kuat Dibanding Aspal Jalan Raya!

Dalam prosesnya, pesawat tak selalu mendarat mulus (soft landing). Di beberapa kondisi, dibutuhkan pendaratan kasar (hard landing) sebagai salah satu teknik pendaratan terbaik di kondisi tertentu. Saat hard landing terjadi terlebih pesawat tersebut memiliki bobot besar, maka sudah pasti tekanan pada aspal meningkat dan ini merusak aspal andai itu tidak mampu menahan tumbukan dari roda.

Sampai di sini, kesimpulannya, terdapat hubungan antara tekanan pada roda pesawat terhadap aspal di runway.

Itu kenapa beberapa pesawat superjumbo seperti Airbus A380 dan Antonov An-225 tidak bisa sembarang mendarat di bandara. Harus bandara tertentu, menyesuaikan kemampuan aspal runway menahan tekanan. Ini ada hubungannya dengan pertanyaan di awal, kenapa roda pesawat sekarang lebih kecil dibanding roda pesawat di masa lalu?

Sebagaimana penjelasan di atas, jawabannya adalah tekanan pada aspal. Selain itu, ada juga relasinya dengan struktur kekuatan undercarriage atau kaki-kaki landing gear pesawat.

Menurut Avionic engineer dan flight control systems, Alan Dicey, seperti dikutip dari Quora, semakin berat bobot pesawat, semakin bertambah ukuran roda pesawat. Berdasarkan hukum fisika, menggunakan satu roda yang sangat besar untuk pesawat mendarat tidak efektif dan efisien. Kaki-kaki pesawat perlu diperkuat demikian juga dengan aspal runway.

Baca juga: Kenapa Beberapa Airbus A320 Air India Miliki Roda Pesawat Ekstra?

Karenanya, landing force atau tumbukan roda pesawat ke aspal dibagi ke beberapa roda pesawat lainnya sehingga membuat tekanan ke struktur landing gear dan aspal itu sendiri menjadi lebih merata, tidak ke satu titik. Konsekuensi dari itu membuat roda pesawat harus lebih banyak dengan dimensi atau ukuran yang lebih kecil, bukan satu tapi besar seperti di pesawat tua sebelum era jet.

Dengan begitu, umur landing gear, roda pesawat, dan aspal itu sendiri jadi lebih panjang dibanding operasi dengan satu ban pesawat sangat besar di kiri kanan main landing gear.

Berstastus Maskapai Terbaik Dunia, Singapore Airlines Ternyata Masih Operasikan Pesawat Tua

Sebagai maskapai terbaik di dunia dengan sederet penghargaan bergengsi, Singapore Airlines sangat menjaga kualitas pelayanan maskapai. Salah satunya melalui peremajaan armada. Menurut airfleets.net, maskapai nasional Singapura itu memiliki rata-rata armada pesawat 6,4 tahun. Cukup muda memang. Tetapi, siapa nyana, dibalik itu, SQ masih mengoperasikan pesawat tua berusia 16 tahun.

Baca juga: Gantikan Boeing 747-400F, Singapore Airlines Finalisasi Pengadaan Tujuh Pesawat Kargo Airbus A350F

Didukung Bandara Changi Singapura sebagai hub penerbangan global, Singapore Airlines menghubungkan kawasan Asia-Pasifik ke Amerika Utara dan Eropa dan sebaliknya. Karenanya, maskapai tersebut lebih banyak mengoperasikan pesawat widebody, seperti Airbus A350, Airbus A380, Boeing 747, Boeing 777, dan Boeing 787 Dreamliner.

Maskapai itu bahkan tercatat sebagai operator A350 terbesar di dunia dengan 61 armada yang rata-rata umurnya baru 3,8 tahun, terpaut jauh dengan armada Boeing 777 maskapai yang mencapai rata-rata usia 11,6 tahun dengan total armada 19 unit. Salah satu yang tertua adalah Boeing 777-300ER dan tercatat berusia 16 tahun lebih.

Pesawat dengan usia itu diketahui memiliki registrasi 9V-SWB. Pesawat ini menghabiskan seluruh ‘karirnya’ bersama maskapai dan merupakan yang tertua dibanding Boeing 777-300ER lainnya, seperti registrasi -SWD, -SWE, -SWF, -SWG, dan -SWH.

Biasanya, huruf terakhir dari tiga huruf diregistrasi pesawat sesuai dengan abjad dan berdasarkan urutan kedatangan pesawat.

Boeing 777-300ER dengan registrasi 9V-SWA diketahui sudah dipensiunkan saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Demikian juga dengan 9V-SWB, ini juga dipensiunkan saat pandemi. Hanya saja, tidak dipensiunkan secara permanen melainkan hanya temporer saja dan mulai beroperasi di akhir tahun 2021. Setelah 9V-SWB, seharusnya ada pesawat dengan registrasi 9V-SWC. Nyatanya, yang ada hanyalah 9V-SWD dan seterusnya.

Menurut Airlines.net dan SqTalk, teori yang paling mungkin untuk menjelaskan hal ini adalah keengganan maskapai untuk memakai huruf “WC” yang biasanya merujuk pada toilet pada kode registrasi.

Baca juga: Gegara Batu di Runway, Body Pesawat Boeing 747 Singapore Airlines Berlubang

Di belakang Boeing 777-300ER sebagai pesawat tertua Singapore Airlines berusia 16 tahun lebih, di posisi kedua tentu saja terdapat Airbus A380. Pesawat superjumbo tertua yang masih dipertahankan maskapai dengan registrasi 9V-SKF (MSN 012) diketahui sudah berusia 15 tahun. Pesawat ini masih aktif beroperasi setelah dua tahun ‘tidur’ di kuburan pesawat.

Singapore Airlines sebetulnya mengoperasikan pesawat yang jauh lebih tua lagi, mencapai usia 22,3 tahun. Hanya saja, pesawat tersebut bukan pesawat penumpang melainkan pesawat kargo Boeing 747-400F ‘Queen of the Skies’. Ini dioperasikan oleh SIA Cargo. Armada pesawat itu juga memiliki rata-rata yang cukup tua, antara 17 dan 22 setengah tahun.

CEO BMW: “Harga Mobil Listrik Tidak Akan Pernah Murah”

Meski menjanjikan biaya operasional yang rendah dan bebas emisi, namun yang menjadi tantangan dalam adopsi mobil listrik adalah harga akusisinya yang masih lumayan mahal. Lantaran harga akuisisi mobil listrik yang tinggi, maka yang kemudian ada usulan untuk memberikan subsidi pada harga jual dan pajak mobil listrik. Meski begitu, apakah nantinya harga mobil listrik dapat turun? Atau bahkan menjadi low cost car?

Baca juga: Didera Masalah Perangkat Lunak dan Sabuk Pengaman, Tesla Tarik 81.000 Mobil Listrik di Cina

Dikutip dari drive.com.au (10/1/2023), CEO dari manufaktur otomotif asal Jerman BMW, memperkirakan elektromobilitas dan mobil listrik “tidak akan pernah murah.” Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, CEO BMW Oliver Zipse mengklaim harga mobil listrik tidak akan dianggap murah menurut standar yang ada, bahkan jika biaya turun saat produksi meningkat.

“BMW menawarkan mobil listrik di semua segmen, dan tentu saja, jika kita meningkatkannya, akan ada kecenderungan hal-hal menjadi lebih murah – tetapi elektromobilitas tidak akan pernah murah,” kata Zipse.

“Itu adalah tugas selanjutnya untuk industri ini, untuk menurunkan harga lebih jauh lagi.”

Di Australia, mobil listrik BMW paling murah yang dijual adalah iX1, yang dimulai dari US$82.900 ditambah biaya on-road, atau US$17.000 lebih mahal daripada harga BMW X1 bertenaga bensin.

Mobil listrik termurah BMW sebelumnya adalah city car i3, yang dijual dengan harga terendah US$63.900 ditambah biaya on-road pada tahun 2014.

Komentar Zipse baru-baru ini datang kurang dari dua bulan setelah eksekutif itu mengatakan BMW tidak akan menghapus mobil yang terjangkau saat menggunakan listrik, mengklaim perusahaan tidak akan meninggalkan segmen pasar yang lebih rendah.

Model listrik diharapkan mulai diproduksi di Jerman masing-masing pada November 2027 dan Juli 2028.

Pada Desember 2022, BMW mengatakan platform Neue Klass akan mendapat manfaat dari baterai mobil listrik generasi berikutnya, yang diklaim dapat memberikan jarak tempuh hingga 30 persen lebih jauh dengan setengah harga paket baterai saat ini.

Baca juga: Ford Perkenalkan Robot Pengisi Daya untuk Mobil Listrik, Dirancang Ideal Bagi Difabel

Baterai berbentuk silinder dengan lebar 46 mm dan dilaporkan akan dibangun dalam dua ketinggian yang berbeda, salah satunya diperkirakan berukuran 80 mm – semuanya kecuali salinan langsung dari paket baterai ‘4680’ raksasa mobil listrik Tesla yang akan datang.

BMW telah mengumumkan target 50 persen dari penjualan globalnya berasal dari mobil listrik pada tahun 2030.

Kenapa Pesawat Terbang Tidak Gunakan Reverse Thrust untuk Mundur (Pushback)?

Pesawat terbang dinilai jauh lebih canggih dan berteknologi tinggi dibanding mobil, bus, dan kendaraan sejenis. Namun, itu tidak selalu demikian. Saat bus dan mobil bisa mundur tanpa bantuan kendaraan lain, pesawat justru sebaliknya, tidak bisa mundur dan harus dibantu pushback tractor. Pesawat sejatinya bisa saja mundur dengan reverse thrust tetapi itu tidak dilakukan. Mengapa?

Baca juga: Kenapa Pesawat Terbang Tidak Bisa Mundur atau Self-Pushback Saat di Bandara? Ini Jawabannya

Setelah seluruh penumpang naik dan pilot meminta kru kabin menutup pintu utama, pesawat mundur dari gate keberangkatan dengan dibantu pushback tractor, pushback truck, dan pushback tug; taxiing; dan lepas landas di runway.

Sebetulnya, pesawat mempunyai kemampuan untuk mundur sendiri atau self-pushback di bandara. Namun, itu hanya digunakan untuk mendukung proses deselerasi atau pelambatan laju pesawat saat mendarat.

Selain dibantu oleh flap dan spoiler, pesawat juga dibantu oleh mesin saat mendarat. Mesin jet pesawat memiliki daya dorong ke belakang (thrust) untuk meningkatkan kecepatan pesawat saat lepas landas maupun di udara.

Kebalikan thrust, mesin pesawat juga bisa melakukan reverse thrust/thrust reverseal atau daya dorong ke depan. Ini akan menurunkan kecepatan pesawat secara drastis, untuk kemudian dibantu oleh sistem pengereman lainnya di pesawat yaitu autobrake.

Autobrake hanya bisa digunakan saat kecepatan pesawat sudah benar-benar lambat karena bila digunakan saat pesawat baru saja touchdown, kanvas rem akan terbakar dan pesawat bukan tak mungkin akan tergelincir.

Usai close door saat masih gate, pesawat bisa saja melakukan reverse thrust/thrust reverseal atau daya dorong ke depan untuk membuat pesawat mundur. Jadi, sebetulnya, pesawat bisa mundur (self-pushback) tanpa bantuan pushback tractor, pushback truck, dan pushback tug.

Hanya saja, saat ini reverse thrust dilarang untuk digunakan karena mesin pesawat pada umumnya terletak di sayap dan berjarak cukup dekat dengan ground atau tanah.

Karenanya, seperti dilansir USA Today, sangat berisiko menghisap pasir, serpihan, dan benda lainnya di tanah yang dapat merusak mesin jika melakukan reverse thrust saat di apron untuk pushback. Serpihan dan lainnya yang beterbangan akibat hembusan dari mesin jet pesawat bisa saja merusak pesawat lain sampai kendaraan di ground.

Guna menghindari hal itu terjadi, ground crew harus mengkondisikan area sekitar pesawat terlebih dahulu sebelum reverse thrust untuk pushback pesawat diaktifkan. Cara ini bisa saja untuk menghindari dampak buruk sebagaimana disebutkan di atas, tetapi tidak efisien dari segi waktu dan biaya.

Baca juga: Teknologi Aircraft Towing System Janjikan Penghematan Bahan Bakar dan Tekan Emisi C02!

Belum lagi ditambah soal bahan bakar yang dihabiskan untuk pesawat mundur sampai polusi udara, termasuk perihal keterbatasan pilot untuk melihat ke belakang karena pesawat tidak dilengkapi kamera parkir atau spion.

Kesimpulannya, berbagai dampak negatif di atas membuat bandara, ground crew, dan pesawat terlalu berisiko. Dari sisi maskapai, itu tidak efektif dan efisien. Ini yang pada akhirnya membuat pesawat tidak bisa mundur dan harus dibantu pushback tractor.

Krontjong Toegoe Terima Sertifikat WBTb, Kini Musik Keroncong Bisa Lebih Eksis

Minggu, 8 Januari 2023, menjadi hari yang dikenang oleh group Krontjong Toegoe, setelah menanti lebih kurang tujuh tahun, group Krontjong Toegoe akhirnya menerima sertifikat WBTb (Warisan Budaya Takbenda) oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, yang menyiratkan musik keroncong dari Kampung Tugu telah mendapat pengakuan dari negara, khususnya sebagai seni budaya yang ada di wilayah DKI Jakarta.

Baca juga: Ini Dia Ciri Khas Musik Kedatangan Kereta Api di Stasiun. Kira – kira Apa Saja, ya? 

Meski musik keroncong tak sepopuler jenis musik lainnya, perlu diketahui, bahwa keroncong adalah salah satu aset budaya yang sampai saat ini masih bertahan, yang secara khusus dilestarikan oleh group Krontjong Toegoe.

Dari sejarahnya, musik Keroncong masuk ke Indonesia dibawa oleh para Mestizos yang berasal dari Portugis. Terciptanya akulturasi antara alat musik Indonesia dengan jenis musik khas Portugal pun pada akhirnya menghasilkan genre musik Keroncong yang saat ini dikenal di masyarakat.

Penyerahan sertifikat WBTb oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Ibarat mendapat tekanan zaman, eksistensi musik Keroncong di tahun 1980-an sempat terancam, pasalnya tidak ada regenerasi pemain keroncong. Berangkat dari keinginan kuat untuk melestarikan musik dan budaya leluhur, mendasari Komunitas Krontjong Toegoe terbentuk dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Guna mempertahankan eksistensi musik keroncong dan melakukan kaderisasi pemain, Krontjong Toegoe pun dikukuhkan pada tanggal 12 Juli 1988. Para pemain Keroncong pun diwarisi ke generasi muda yang ada di Kampung Tugu.

Kampung Tugu sendiri merupakan tempat asal mula kemunculan musik Keroncong yang dibawa oleh Mestizos ke Betawi. “Nama Toegoe itu adalah nama yang nama sakral, kampung kami, biar lebih terangkat dan dikenal di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia,” ujar Bung Andre, selaku senior Krontjong Toegoe, dalam penuturannya di program Hobby dan Komunitas Sonora FM.

Hingga saat ini, nama Krontjong Toegoe masih tetap popular dan eksis secara beriringan dengan perkembangan musik keroncong di Indonesia. Fakta mengejutkan, Krontjong Toegoe sudah menciptakan 5 album dan 3 single yang bisa mengharumkan Indonesai di mata dunia.

Selain itu, Krontjong Toegoe juga berhasil memenangkan AMI Awards 2019 dengan lagu Tanah Tugu karya Arthur James Michiels, dan AMI Awards 2022 dengan lagu Mande-mande Karya Milton Augustino Michielskarya

Baca juga: Terkenal Karena Didi Kempot, Inilah Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan

Sebagai WBTb yang ada di wilayah DKI Jakarta, maka sudah sudah selayaknya Krontjong Toegoe mendapat apresiasi untuk mengisi ruang musik di berbagai event, atau bisa dengan menjadikan alunan musik keroncong sebagai lagu latar di dalam bus TransJakarta, KRL Jabodetabek dan MRT Jakarta, yang secara langsung ikut membangkitkan dan memperkenalkan cita rasa keroncong kepada masyarakat luas.

Daftar Maskapai yang Izinkan Penumpang Tas dan Koper ke Kabin

Pemberlakuan regulasi bagasi berbayar yang diterapkan oleh sejumlah maskapai dalam negeri membuat para pelancong harus lebih cermat dalam membawa barang. Tetapi, di dunia ada maskapai yang memperbolehkan penumpang membawa tas dan bagasi ke dalam kabin sekalipun tetap memperhatikan dimensinya. Lantas, maskapai mana saja?

Baca juga: Agar Penerbangan Nyaman, Inilah Tips Bawa Koper ke Dalam Bagasi Kabin

Di dunia, masing-masing penumpang pesawat memiliki kebutuhan atau alasan berbeda-beda untuk terbang.

Namun demikian, hanya ada beberapa tipe penumpang yang menumpangi pesawat. Ada penumpang yang rela membayar biaya mahal untuk mendapatkan fasilitas lebih, ada yang menerima apa adanya tanpa memikirkan fasilitas yang diterima, ada yang tidak ingin membayar lebih tapi ingin menerima fasilitas lebih, salah satunya fasilitas membawa barang bawaan ke dalam kabin.

Bagi tipe penumpang yang terakhir, tentu saja itu tidak serta merta bisa dilakukan di seluruh maskapai, apalagi maskapai internasional. Sebab, penumpang tipe tersebut umumnya membeli tiket kelas ekonomi dengan fasilitas sangat terbatas.

Beruntung, di beberapa maskapai dunia, terdapat maskapai yang mengizinkan penumpang membawa koper dan tas ke dalam kabin dengan dimensi tertentu, dalam hal ini penumpang di kelas ekonomi, baik di maskapai LCC maupun full service. Dikutip dari Simple Flying, berikut selengkapnya.

Alaska Airlines:

Satu koper dengan dimensi 22 x 14 x 9 inci plus satu tas berisi barang-barang pribadi.

American Airlines:

Satu koper dengan dimensi 22 x 14 x 9 inci ditambah satu tas dengan ukuran maksimal 18 x 14 x 8 inci.

Delta Air Lines:

Satu koper dengan dimensi 22 x 14 x 9 inci plus satu tas yang bisa diletakkan di bawah kursi.

Frontier Airlines:

Satu koper dengan dimensi 24 x 16 x 10 inci ditambah satu tas atau tas jinjing dengan ukuran tidak lebih besar dari 18 x 14 x 8 inci.

Hawaiian Airlines:

Satu koper dengan dimensi 22 x 14 x 9 inci plus satu tas.

JetBlue Airways:

Satu koper dengan dimensi 22 x 14 x 9 inci ditambah satu tas pribadi tidak lebih besar dari 17 x 13 x 8 inci.

Southwest Airlines:

Satu koper dengan dimensi 24 x 16 x 10 inci plus satu tas tidak lebih besar dari 13,5 x 8,5 x 18,5 inci.

Spirit Airlines:

Satu koper dengan dimensi 22 x 18 x 10 inci ditambah satu barang pribadi tidak lebih besar dari 18 x 14 x 8 inci.

United Airlines:

Satu koper dengan dimensi 22 x 14 x 9 inci ditambah satu barang pribadi tidak lebih besar dari 17 x 10 x 9 inci.

British Airways:

Satu koper dengan dimensi 22 x 18 x 10 inci ditambah satu tas tidak lebih besar dari 16 x 12 x 6 inci dan berat maksimal kurang dari 51 pon.

easyJet:

Satu koper dengan dimensi 22 x 17,7 x 9,8 inci plus satu tas tidak lebih besar dari 17,7 x 14,2 x 7,8 inci.

Baca juga: 42 Technology Tawarkan Konsep Integrasi Kabin Penumpang dan Bagasi di Gerbong

Air France/KLM:

Satu koper dengan dimensi 21,7 x 13,8 x 9,9 inci plus satu tas tidak lebih besar dari 16 x 12 x 6 inci.

Ryanair:

Satu koper dengan dimensi 21,7 x 15,7 x 7,9 inci plus satu tas tidak lebih besar dari 15,7 x 7,9 x 9,9 inci.

Penumpang Siap-siap, Begini Kursi Pesawat di Masa Depan

Inovasi di sektor dirgantara tiada hentinya, termasuk dalam hal kursi pesawat sekalipun. Meskipun saat ini kursi pesawat yang ada dianggap ideal, bukan tak mungkin di masa depan konsep kursi baru akan muncul dan massif digunakan. Hal itu bukanlah isapan jempol belaka mengingat saat ini sudah banyak bermunculan konsep kursi pesawat di masa depan. Seperti apa?

Baca juga: Inilah Economy Sky-Dream, Tempat Tidur Tiga Tingkat untuk Penumpang Kelas Ekonomi Jarak Jauh

Dilansir dari berbagai sumber, saat pandemi Covid-19 menjangkiti dunia, pemuda jebolan sekolah manajemen Boston University, Jeffrey O’Neill, meluncurkan desain kursi kelas ekonomi premium jarak jauh, Zephyr Seat

Desain kursi pesawat masa depan Zephyr Seat bisa dibilang terinspirasi dari kursi double-decker di bus. Konsep kursi bertingkat ini memanfaatkan celah atau ruang kosong antara kursi (standar) dengan kompartemen kabin (overhead).

Karena bentuknya memanjang ke atas atau bertingkat, memuat satu orang di bawah dan lainnya di atas, Zephyr Seat juga dibilang lebih menjaga privasi bahkan ancaman wabah Covid-19.

Masih dari konsep kursi masa depan double-decker, perusahaan konsultan dan teknik Belanda, ADSE, dan desainer interior pesawat, David Martinez-Celis, masing-masing meluncurkan konsep Economy Sky-Dream serta kursi Airborne Hotel.

Untuk konsep Economy Sky-Dream, penumpang cukup menaiki tangga untuk mencapai tempat tidur di tingkat kedua dan ketiga. Masing-masing tempat tidur dilengkapi dengan life vests atau sejenis lampu baca, passenger service unit (PSU) berupa ventilasi, masker oksigen saat dalam keadaan darurat dan USB charge. Kursi kosong yang ditinggali penumpang juga bisa dimanfaatkan menjadi tempat tidur. Jadi, total ada tiga tempat tidur.

Begitu juga dengan kursi Airborne Hotel, penumpang perlu menaiki tangga untuk mencapai ke kursi atas. Hanya saja, desain tangganya lebih artistik dibanding desain tangga kursi Economy Sky-Dream.

Selain kursi masa depan double decker, ada lagi konsep kursi yang dinamakan konsep Donat Terbang. Di pesawat ini, pantry awak kabin berada di antara kokpit pilot dan kabin utama penumpang, berbeda dengan desain pantry pesawat pada umumnya yang berada di bagian belakang setelah kokpit dan kabin utama.

Tak main-main, konsep Donat Terbang ini sudah diajukan ke Kantor Paten Eropa dan AS pada tahun 2014 ini dinilai sangat out of the box oleh banyak kalangan. Hal itu mengingat secara desain, pesawat sangat berbeda jauh dengan pesawat jet yang ada. Namun, Donat Terbang Airbus diragukan mampu terbang dengan jarak jauh dengan desain tersebut.

Baca juga: Intip Paten Airbus untuk Konsep Donat Terbang, Pesawat Andalan di Masa Depan?

Ada juga konsep kursi masa depan melalui pesawat widebody P500 dengan konsep horizontal double bubble (HDB) yang dikembangkan oleh Aurora Flight Science, MIT, dan Pratt & Whitney serta didukung NASA.

Kita tahu, Boeing 747 dan A380 memiliki dua tingkat ke atas. Nah, untuk pesawat P500 Double-Bubble, kabin dibuat seolah-olah memiliki dua tingkat. Tetapi, bukan ke atas, melainkan ke samping. Sesuai namanya, pesawat ini memiliki kapasitas 500 kursi dengan kabin tiga lorong.

Sepanjang 2022, Cina Buka Jalur Kereta Baru Sepanjang 4100 Km, 2082 Km Di antaranya Jalur Kereta Cepat

Sebagai pemilik jaringan kereta cepat terbesar di dunia, Cina mencatatkan keberhasilannya di sepanjang tahun 2022. Yang salah satunya adalah pembukaan jalur kereta api baru sepanjang 4.100 km, yang di dalamnya termasuk jalur kereta berkecepatan tinggi sepanjang 2.082 km. Pencapaian tersebut disapaikan Presiden China Railways (CR), Liu Zhenfang, yang berbicara pada konferensi tahunan perusahaan di Beijing pada 3 Januari 2023.

Baca juga: Cina Perluas Jaringan Kereta Api Berkecepatan Tinggi Menjadi 50.000 Km di Tahun 2025

Dengan pembukaan jalur sepanjang 4.100 km, maka jaringan sistem perkeretaapian di Cina saat ini telah memiliki jalur sepanjang 155.000 km, dimana 42.000 km merupakan jalur kereta cepat. Untuk mewujudkan jalur baru sepanjang 4.100 km, Pemerintah Cina sepanjang tahun 2022 telah mengucurkan dana senilai 710 miliar yuan (US$ 103,5 miliar).

Dikutip Railjournal, untuk tahun 2023 Liu mengatakan bahwa lebih dari 3.000 km jalur baru diharapkan dapat beroperasi, dimana 2.500 km akan menjadi jalur kecepatan tinggi. Karena pembatasan untuk mengekang penyebaran Covid-19 dilonggarkan, China Railway memperkirakan 2,7 miliar perjalanan penumpang akan dilakukan pada tahun 2023, meningkat 67,6 peresen dari 1,61 miliar yang tercatat pada tahun 2022.

Total pendapatan transportasi sebesar 817 miliar Yuan diperkirakan untuk tahun 2023, naik 17,8 persen year on year dan mendekati 818 miliar Yuan yang tercatat pada 2019 sebelum pandemi Covid-19. Pendapatan penumpang diharapkan naik 54,6 persen di 332 miliar yuan.

Pembukaan rel kereta api baru pada akhir tahun 2022 mencakup rute jalur ganda berlistrik sepanjang 915 km dari Chengdu ke Kunming yang mulai beroperasi pada 26 Desember 2022, jalur ini dirancang untuk melayani operasi kereta yang melesat hingga 160 km per jam.

Jalur baru ini dibangun sejajar dengan rute eksisting Chengdu – Kunming sepanjang 1096 km, yang merupakan jalur tunggal dengan kecepatan maksimum 80 km per jam. Waktu perjalanan tercepat dari Chengdu telah dipotong menjadi 3 jam ke Xichang, 5 jam ke Panzhihua dan 7 jam 30 menit ke Kunming.

China Railway Construction (CRCC) mengatakan bahwa mereka menerapkan teknologi dan peralatan baru untuk menangani geologi kompleks di sepanjang rute, yang melewati pegunungan Liangshan dan Hengduan serta melintasi sungai Minjiang, Qingyi, Dadu, dan Jinsha.

Ada tujuh terowongan sepanjang lebih dari 10 km, termasuk Terowongan Xiaoxiangling sepanjang 22 km, dan 11 jembatan besar sepanjang lebih dari 2 km.

Baca juga: Cina Buat Jalur Uji Coba Kereta Maglev Berkecepatan 1.000 Km Per Jam

Pada tanggal 30 Desember 2022, kereta penumpang dan barang mulai menggunakan jalur utama baru sepanjang 290 km antara Qingliu dan Quanzhou. Ini melengkapi rute sepanjang 464 km dari Xingguo ke Quanzhou, di mana 174 km pertama dari Xingguo ke Qingliu dibuka pada 30 September 2021.

Maskapai Mana yang Punya Lounge First Class Terbesar di Dunia?

Selain pelayanan on board atau dalam penerbangan, pelayanan pra penerbangan dari maskapai juga menjadi perhatian dan tak jarang menjadi bahan pertimbangan penumpang memilih maskapai. Terlebh penumpang first class. Salah satu layanan pra penerbangan yang dimaksud adalah lounge. Sebagaimana on board, pelayanan maskapai di lounge berbeda-beda. Lantas, maskapai mana yang memiliki lounge first class terbesar di dunia?

Baca juga: Emirates Hadirkan Lounge Khusus Anak, Manjakan Si Kecil dalam Penerbangan Tanpa Pendamping

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bandara dan maskapai global berlomba menyediakan lounge terbaik di dunia. Selain fasilitas umum berupa makan prasmanan, desain lampu kelap kelip mewah, dan WiFi berkecepatan tinggi, beberapa lounge terbaik di dunia juga sampai menampilkan berbagai hal yang saling membedakan satu sama lain.

Banyak maskapai memiliki reputasi pelayanan lounge yang mewah dan mengesankan, sebut saja Air France, American Airlines, Cathay Pacific, Delta Airlines, Lufthansa, Qantas, Qatar Airways, Turkish Airlines, United Airilines, sampai Virgin Atlantic. Namun tak satupun dari lounge maskapai tersebut jadi yang terbesar di dunia. Lantas, lounge maskapai mana yang dinobatkan sebagai lounge terbesar di dunia? Sebagaimana dugaan banyak penumpang, jawabannya adalah Emirates.

Maskapai nasional kerajaan Emirat Dubai itu diketahui memiliki keuangan tak berseri. Belum lagi dukungan penuh dari uang pribadi sang pemilik yang juga tak berseri, semakin memperkuat kemampuan finansial perusahaan.

Karenanya, tak heran maskapai itu berinvestasi dalam jumlah sangat besar agar mampu menarik hati penumpang dunia dengan keamanan, jangkauan rute luas, sampai pelayanan maksimal, di pesawat maupun di bandara.

Di bandara, Emirates berinvestasi besar-besaran untuk mendirikan lounge terbesar di dunia. Tak hanya di Dubai, sebagai basis hub maskapai, tetapi juga di seluruh benua. Mulai dari Benua Asia, Amerika Utara, Amerika Selatan, Antartika, Eropa, sampai Australia, Emirates memiliki lounge first class terbesar di dunia, sekalipun yang terbesar dan termewah diakui berada di Dubai.

Dilansir Simple Flying, lounge first class Emirates di Dubai mencakup lebih dari 100.000 kaki dengan kapasitas 600 penumpang. Lounge buka 24 jam dari sehari dan tujuh hari dalam seminggu.

Sebelum mengakses lounge ini, penumpang First Class lebih dahulu melakukan check-in bagasi terlebih dahulu di area check-in Premium untuk penumpang first class dan kelas bisnis. Kemudian, penumpang perlu naik Skytrain terlebih dahulu ke area concourse dan naik ke area lounge.

Selain penumpang first class, penumpang lainnya bisa mencicipi fasilitas lounge first class selama memenuhi salah syarat, seperti membeli akses seharga US$150 (US$125 jika mereka adalah anggota Skywards), anggota Platinum Skywards Emirates, dan membayar seharga US$300 (US$250 jika mereka adalah anggota Skywards) untuk penumpang kelas ekonomi.

Mengingat besarnya area lounge first class Emirates di Bandara Dubai, penumpang biasanya akan memulai petualangan di sini melalui alat bantu navigasi.

Baca juga: Sejarah Singkat Lounge Bandara, Dibuat untuk Para Bos 

Di lounge tersebut, penumpang disuguhi berbagai sajian mewah, kopi, jus, pilihan anggur kenamaan dunia, hidangan prasmanan, a la carte, makanan berat seperti iga bakar, salmon, hidangan khas mediterania, dan banyak lainnya.

Pengunjung tak perlu khawatir tertinggal pesawat, karena lounge ini terhubung dengan 24 gate dan garbarata.