Inilah Flight Mate, Aplikasi yang Mudahkan Penumpang Dapat ‘Teman Kencan’ di Bandara dan Pesawat

Bagi penumpang pesawat yang sering bepergian sendiri atau solo traveler, terkadang terbesit keinginan untuk berkenalan dengan penumpang lain di bandara atau bahkan di pesawat. Tetapi, bingung untuk memulainya. Tetapi sekarang tidak perlu bingung lagi karena ada aplikasi baru yang memudahkan penumpang bertemu teman baru di bandara. Aplikasi itu adalah Flight Mate.

Baca juga: Ada Aplikasi ‘Cari Jodoh’ di Bandara, Patut Dicoba Buat Para Jomblo!

Tak hanya itu, aplikasi ini juga memungkinkan sesama pengguna Flight Mate untuk berjanjian berada di row yang sama dan memungkinkannya untuk duduk bersebelahan. Ini yang menjadi daya tarik tersendiri pada aplikasi tersebut, menjawab kebutuhan solo traveler yang tidak ingin duduk bersebelahan dengan penumpang lain yang tidak menarik bagi mereka.

Lebih jauh dari itu, setelah perkenalan singkat sambil duduk bersebalahan di kursi pesawat, dua pengguna Flight Mate atau lebih -karena mereka berada di flight yang sama- dapat melanjutkan rencana berlibur mereka di sesampainya di bandara tujuan. Bukan tak mungkin mereka akan bercinta dan melanjutkan hidup bersama setelahnya sebagai sepasang kekasih.

Sebaliknya, Flight Mate juga memungkinkan sesama penumpang untuk duduk bersebalahan dan melakukan aktivitas yang sama agar tak mengganggu satu sama lain. Salah satunya ialah tidur.

Sangat menyenangkan bagi seorang penumpang yang ingin tidur sepanjang penerbangan mendapatkan kenalan satu baris kursi di pesawat yang juga melakukan hal yang sama. Lantas, bagaimana cara kerja Flight Mate?

Dalam web resminya, mula-mula penumpang mengecek terlebih dahulu jadwal penerbangan yang diinginkan di web maskapai atau di travel agent online. Setelah mendapatkan flight yang diinginkan dan memesannya, penumpang tersebut membuka aplikasi Flight Mate dan memasukkan flight yang sesuai dengan flight yang sudah dipesan.

Penumpang kemudian diminta mengisi beberapa preferensi agar pengguna Flight Mate lain dapat menyesuaikan dengan keinginannya.

Sedikitnya ada sembilan pertanyaan yang kelak jadi preferensi pengguna Flight Mate lain, di antaranya, apakah pengguna ingin tidur atau bertemu teman baru selama penerbangan, bawa anak kecil dan binatang atau tidak, ingin menutup tirai jendela atau tidak, ingin menyalakan lampu baca atau tidak,  sering atau tidaknya pengguna berdiri baik itu untuk ke toilet atau mengambil sesuatu di bagasi.

Usai semua pertanyaan seputar preferensi diisi, pengguna Flight Mate akan diminta memasukkan nomor seat yang sudah dipesan dan mengkonfirmasi flight number. Selesai.

Selajutnya tinggal menunggu respon dari pengguna lainnya apakah memiliki ketertarikan dengan pengguna tersebut berdasarkan pereferensi yang telah diisi atau berdasarkan profil singkat pengguna, seperti nama, asal negara, kota, hobi, bahasa, pendidikan, dan sebagainya.

Dalam sebuah kesempatan wawancara Designli, pendiri Flight Mate, Juan Franco, mengungkapkan, “Saat Anda bepergian sepanjang waktu, Anda mulai memperhatikan betapa hal-hal kecil dapat membuat atau menghancurkan penerbangan Anda, seperti jika orang di samping Anda menyukai lampu di atas kepala menyala, tetapi Anda ingin tidur.”

“Saat itulah saya mendapatkan ide awal untuk Flight Mate—sebuah aplikasi yang memberikan visibilitas tentang siapa yang sedang dalam penerbangan dan apa kecenderungan penerbangan mereka, sehingga Anda dapat memeriksanya sebelum memesan kursi,” lanjutnya.

Baca juga: Aplikasi “Access Houston Airports,” Bantu Penumpang dengan Anak Cacat dan Autisme

Pengguna aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 1.000 kali itu juga bisa mendapat teman di bandara atau di pesawat lewat fitur people’s nearby atau orang terdekat dengan radius terdekat sampai terjauh selama masih di sekitar area bandara. Fitur ini mirip dengan fitur find new people di Telegram. Fitur ini memungkinkan pengguna Telegram menemukan pengguna Telegram lainnya saat berada di suatu tempat; termasuk bandara.

Ke depan, Juan ingin menghadirkan fitur yang dapat menandai seseorang yang pernah berbuat onar. Ini dinilai bermanfaat bagi maskapai dan penumpang.

Apa Itu Power Hazard Areas di Bandara? Ini Jawabannya

Mesin jet pesawat modern bekerja berdasarkan prinsip kompresi, pembakaran, dan ekspansi. Udara masuk melewati beberapa tahap kompresi tekanan rendah dan tekanan tinggi. Tenaga yang dihasilkan mesin jet sangat kuat, begitupun juga hembusan angin hasil dari pembakarannya. Karenanya, terdapat peringatan power hazard area di bandara, dalam hal ini di apron. Lantas, apa itu power hazard areas?

Baca juga: Begini Jurus Bandara Kelola Bahaya Engine Thrust Pesawat

Dilansir dari berbagai sumber, power hazard areas di bandara merujuk pada tenaga besar mesin yang dihasilkan, baik saat di apron atau di ramp, taxiway atau saat taxiing, runway, sampai area sekitar bandara.

Mengingat bahaya besar yang timbul dari mesin pesawat, regulator dan insinyur mengatur sedemikian rupa agar segalanya tetap aman. Mulai dari adanya beacon lights sampai tanda spiral di spinner mesin pesawat.

Beacon lights sendiri akan dinyalakan sebelum mesin pesawat dinyalakan dan akan dimatikan sebelum mesin pesawat dimatikan saat berada di apron. Mungkin bisa dibilang bahwa lampu ini merupakan penanda bahwa suatu pesawat tengah berada dalam waktu operasi.

Sebelum pesawat pushback, banyak aktivitas di ground dan melibatkan banyak kru lintas departemen. Mengingat besrnya kekuatan mesin jet saat dinyalakan, ini berbahaya bagi mereka. Karenanya, sebelum mesin jet dinyalakan pilot, petugas di sekitar pesawat harus diberi isyarat agar waspada dan menjauh melalui beacon light.

Sedangkan tanda spiral di mesin pesawat memiliki fungsi penanda bahwa mesin tersebut tengah bekerja atau berputar, sehingga petugas di ground agar menjauh dari pesawat.

Di nacelle mesin pesawat sendiri, terdapat tanpa peringatan atau power hazard areas bahwa radius 4,2 meter yang membentuk setengah lingkaran di depan mesin adalah bahaya. Demikian juga dengan di belakang mesin pesawat, dengan hazard areas yang lebih kecil.

Karenanya, truk pengisi bahan bakar, truk katering, service, ground controller, dan lain sebagainya, diposisikan sedemikian rupa agar tetap aman dan berjauhan dari mesin, kecuali mesin dalam keadaan mati.

Knalpot pesawat juga termasuk dalam hazard areas. Meski mesin sudah dimatikan, namun panas knalpot masih membahayakan petugas yang melakukan pengecekan, sebelum pesawat kembali terbang.

Sebelum lepas landas, pesawat harus terlebih dahulu didorong (pushback) oleh pushback tractor atau sejenisnya.

Setelah berada pada posisi tepat, pilot mulai menyalakan mesin jet untuk menggerakkan pesawat menuju runway untuk lepas landas. Ini umum disebut sebagai taxiing. Taxiing biasanya dilakukan dengan satu mesin untuk menghemat penggunaan bahan bakar dan menekan polusi karbon dioksida.

Saat sampai di u-turn atau sampai di ujung landasan pacu, pesawat akan mulai menghidupkan mesin satunya lagi dan mulai ‘menggeber’ atau wake velocity dalam posisi idling tepat sebelum lepas landas. Dalam posisi idling atau idle ini saja, kecepatan putaran mesin mencapai 192 km per jam dengan suhu 38 derajat celcius.

Baca juga: Seperti Pesawat, Runway dan Taxiway Bandara Juga Rutin Diinspeksi

Kecepatan pesawat saat meningkat drastis saat mulai meluncur di landasan pacu. Biasanya, kecepatan lepas landas mencapai 230 -250 km per jam dan menghasilkan suhu panas mencapai 93 derajat celcius.

Itu sebab, power hazard areas juga terdapat di luar bandara karena panas yang dihasilkan mesin pesawat tadi, mulai dari taxiing sampai lepas landas dan mendarat. Ini biasanya menimbulkan kebakaran hutan atau kebakaran kilang atau benda diam lainnya.

Bangun Taman Parit dan Bukit, Inilah Cara Bandara Schiphol Redam Suara Bising Jet Hingga 50 Persen

Sering menjadi pertanyaan, bagaimana warga yang tinggal di sekitar bandara dapat hidup nyaman, maklum, bising suara mesin jet dari pesawat yang lalu lalang menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Meski ada yang menyatakan sudah terbiasa, namun, polusi suara mesin jet yang dialami terus-menerus dapat mengakibatkan stres dan gangguan psikologis dalam jangka panjang.

Baca juga: Redam Kebisingan, Bandara San Francisco Luncurkan Teknologi GBAS

Berangkat dari kasus di atas, Paul De Kort, desainer lanskap asal Negeri Kincir Angin, berhasil menciptakan solusi yang lumayan ampuh. Menghadapi keluhan dari warga ‘korban’ kebisingan di Bandara Schiphol, Amsterdam, yang notabene merupakan bandara keempat tersibuk di dunia, maka De Kort membuat parit dan bukit di sekitar landasan untuk mengurangi kebisingan akibat suara mesin jet.

Rancangan De Kort didasarkan pada temuan fisikawan dan musisi Jerman Ernst Chladni, yang dikenal sebagai bapak akustik, dimana landskap perbukitan yang dirancangnya dapat menyerap gelombang frekuensi rendah, termasuk mengurangi kebisingan hingga 50 persen.

Di sebelah barat daya Bandara Schiphol Amsterdam, tepat melewati tepi landasan pacu, ada serangkaian pagar dan parit yang ditata seperti berlian yang saling bertautan.

Ruang hijau seluas 80 hektar adalah Buitenschot Land Art Park. Parit dan punggungnya memiliki jalur sepeda dan lapangan olahraga, tetapi fitur rekreasi ini adalah bonus. Tujuan utamanya adalah untuk membelokkan kebisingan yang dihasilkan pesawat saat lepas landas dan mendarat.

Dari sejarahnya, orang-orang di lingkungan sekitar bandara mulai mengeluh tentang kebisingan, ketika landasan pacu Polderban, terpanjang dan terbaru di Schiphol, dibangun pada tahun 2003. Warga bisa mendengar hiruk pikuk lebih dari 18 mil jauhnya, dan tak henti-hentinya.

Kebisingan tanah sulit dikendalikan, karena cara perjalanannya. Gelombang suara tidak mudah dibelokkan oleh penghalang suara tradisional, seperti dinding beton yang Anda lihat di sisi jalan raya, karena frekuensi rendah, suara panjang gelombang melewati penghalang tunggal. Jadi bandara harus menemukan cara cerdas untuk mengalihkan kebisingan. Pada tahun 2008, mereka membawa Organisasi Penelitian Ilmiah Terapan Belanda untuk melakukan penelitian.

Lembaga penelitian menemukan bahwa pada musim gugur, setelah ladang di sekitarnya dibajak, tingkat kebisingan menurun secara signifikan. Alur petani, karena memiliki banyak punggungan untuk menyerap gelombang suara, membelokkan suara dan meredam kebisingan.

Baca juga: Atasi Dampak Kebisingan di Bandara, Bombardier Rilis Jet C Series

De Kort menggunakan GPS untuk membajak 150 alur yang lurus sempurna dan simetris dengan bubungan setinggi enam kaki di antaranya. Di lembah, ia membangun taman mini dan jalur sepeda. Ia juga memasukkan karya seni yang mengacu pada sejarah proyek, seperti “Listening Ear”, sebuah piringan parabola yang cukup besar untuk berdiri. Patung itu memperkuat suara sekitar, mengacu pada tujuan taman untuk membelokkan kebisingan itu.

Apa yang Terjadi Jika Pramugari Terlambat? Apa Penerbangan Akan Dibatalkan?

Sebuah penerbangan dijalankan bersama-sama oleh pramugari (awak kabin) dan pilot-kopilot (awak kokpit). Saat salah satunya tidak ada, dalam hal ini pramugari datang terlambat karena satu dan lain hal, apa yang akan terjadi? Apakah penerbangan akan dibatalkan?

Baca juga: Enam Cara Pramugari Atasi Jet Lag, Nomor 4 Harus Lihat Matahari

Jawaban atas pertanyaan tersebut barangkali bisa didapat dari pengalaman salah seorang pengguna Quora, Balaji Narasimhan. Pada tahun 2003, ia bersama anak dan istrinya terbang dari Bangalore, India, ke Muscat, Oman naik maskapai Indian Airlines. Pesawat yang ditumpanginya kebetulan rute Hyderabad – Muscat via Bangalore.

Ketika itu, pesawat diberangkatkan dari Bandara Bangalore yang lama dan harus berjalan jauh dari terminal ke tempat parkir pesawat berada. Saat semua penumpang sudah boarding dan berharap segera close door, itu tak kunjung terjadi.

Penumpang malah ditampilkan pemandangan awak kabin dan awak kokpit sibuk berbincang satu sama lain sambil mempersiapkan ini itu. Sangat sibuk, tak seperti biasanya. Penumpang sudah mencium aroma tak beres dari apa yang mereka lihat. Rasa penasaran pun menuntun mereka untuk segera mencari tahu apa yang terjadi.

Setelah delay berjam-jam, beberapa penumpang akhirnya berteriak meminta penjelasan kenapa pesawat belum juga berangkat. Terlebih nyamuk mulai masuk ke kabin dan mengganggu kenyamanan penumpang. Pramugari dengan ragu menjawab bahwa mereka sedang menunggu kedatangan pramugari lainnya yang terlambat datang. Hal ini semakin membuat banyak penumpang kesal.

Singkat cerita, pramugari akhirnya tiba dan tak lama kemudian pintu pesawat ditutup dan pushback. Penumpang yang kadung kesal, memang tak mengucapkan sumpah serapah, tetapi mereka melakukan sindiran pedas dengan memberikan tepuk tangan.

Baca juga: Pramugari Maskapai Mana yang Dapat Gaji Paling Tinggi di Dunia?

Belakangan diketahui, pramugari yang terlambat datang itu ialah pramugari pengganti, bukan pramugari yang seharusnya bertugas dalam penerbangan itu. Ia menggantikan rekannya yang sakit mendadak dan harus dibawa ke rumah sakit.

Berhubung itu adalah penerbangan internasional, proses pergantian pramugari tidak bisa sembarang melainkan harus mereka yang mempunyai jam terbang dan tentu saja paspor yang masih berlaku.

Mengingat itu adalah penerbangan transit, itu berarti penerbangan maskapai itu dari bandara awal ke bandara transit di Bangalore tetap berjalan meskipun kekurangan pramugari. Barulah ketika di Bangalore, pramugari pengganti datang dan mengisi kekosongan.

Bisa disimpulkan, bahwa kekurangan pramugari pada penerbangan domestik mungkin tak jadi soal besar, tetapi pada penerbangan internasional itu akan jadi masalah karenanya harus ada pengganti.

Terkait pengganti pramugari/pramugara yang mendadak tidak bisa bertugas karena beberapa alasan, maskapai sudah mengantisipasi terjadinya hal ini.

Dari departemen shceduling maskapai, diketahui, selain ada pramugari/pramugara yang bertugas, ada juga pramugari yang berlibur dan standby.

Baca juga: Apa Perbedaan Antara Homebase dan Hub Maskapai?

Dalam kasus di atas, sudah pasti pramugari yang standby yang akan dikontak maskapai untuk segera merapat dan bertugas. Biasanya mereka tinggal tak jauh di sekitar bandara. Bahkan ada yang standby di asrama atau hotel yang disiapkan maskapai. Kalaupun standby di rumah, itu dipastikan jaraknya tak jauh dari bandara agar memudahkan maskapai melakukan rotasi.

Sudah begitu, maskapai biasanya mempunyai homebase dan hub yang di sana terdapat SDM (awak kabin dan awak kokpit), dalam hal ini pramugari, yang siap bertugas jika diperlukan.

Penting Buat Warga Perkotaan, Penelitian Membuktikan Polusi Lalu Lintas Merusak Fungsi Otak

Polusi udara di lingkungan perkotaan telah lama dikaitkan dengan kesehatan jantung, pernapasan, dan otak. Tetapi menghubungkan titik-titik antara kualitas udara dan kesehatan manusia menjadi tantangan bagi para peneliti. Sulit untuk secara akurat menghitung keterpaparan seseorang terhadap polusi udara di luar tingkat keterkaitan penyakit tertentu di wilayah geografis dengan polusi tinggi.
Banyak penelitian sel dan hewan dapat menunjukkan bagaimana polusi udara mempengaruhi organisme. Tapi seperti yang kita ketahui, seringkali ada jurang yang sangat besar antara efek racun pada tikus di laboratorium dan paparan kronis pada manusia di dunia nyata.
Dikutip dari newatlas.com, para peneliti di Kanada, untuk pertama kalinya, mendemonstrasikan bagaimana paparan akut terhadap polusi lalu lintas dapat langsung mengganggu fungsi otak manusia, memberikan bukti unik tentang hubungan antara kualitas udara dan kognisi.
Penelitian dalam hal ini dilakukan dengan melibatkan orang dewasa yang sehat, kemudian terpapar asap diesel sebelum aktivitas otak mereka dicitrakan dalam mesin fMRI.
Penelitian baru ini menggunakan model paparan manusia terhadap asap knalpot diesel yang dikembangkan lebih dari satu dekade lalu. Teknik ini memberikan konsentrasi partikulat knalpot diesel yang terkontrol dan diencerkan ke subyek manusia pada tingkat yang dianggap mewakili paparan dunia nyata tetapi juga terbukti aman.
Dalam pengaturan laboratorium, 25 orang dewasa yang sehat terpapar knalpot diesel, atau udara yang disaring selama dua jam dan aktivitas otak mereka diukur menggunakan fMRI sebelum dan sesudah setiap paparan.
Fokus utama dari penelitian ini adalah pada dampak polusi udara terkait lalu lintas semacam ini pada apa yang dikenal sebagai default mode network (DMN). Ini adalah satu set daerah otak kortikal yang saling terhubung yang memainkan peran penting dalam kognisi, memori dan emosi.
Dan temuan mengungkapkan paparan singkat knalpot diesel menyebabkan penurunan aktivitas DMN, pada dasarnya menghasilkan penurunan konektivitas fungsional antara daerah otak yang berbeda, dibandingkan dengan apa yang terlihat ketika subjek terkena udara disaring.
Jodie Gawryluk, penulis pertama studi tersebut, mengatakan bahwa perubahan DMN semacam ini telah dikaitkan dengan depresi dan penurunan kognitif. “Kami tahu bahwa konektivitas fungsional yang berubah di DMN telah dikaitkan dengan penurunan kinerja kognitif dan gejala depresi, jadi sangat mengkhawatirkan melihat polusi lalu lintas mengganggu jaringan yang sama ini,” kata Gawryluk.
Menurut penulis senior studi Chris Carlsten, tidak jelas apa efek jangka panjang paparan polusi semacam ini terhadap otak manusia. Sisi positifnya, para peneliti melihat aktivitas otak DMN kembali normal relatif segera setelah paparan asap diesel berakhir. Jadi Carlsten hanya dapat berhipotesis apa dampak dari paparan yang lebih kronis dan terus menerus.
“Orang-orang mungkin ingin berpikir dua kali jika nanti mereka terjebak kemacetan dengan jendela diturunkan,” kata Carlsten. Penting untuk memastikan filter udara mobil Anda berfungsi dengan baik, dan jika Anda sedang berjalan atau bersepeda di jalan yang sibuk, pertimbangkan untuk mengalihkan ke rute yang tidak terlalu sibuk.

Apa Saja Alasan Beberapa Maskapai Pilih Boeing 737 dan Lainnya Pilih Airbus A320?

Boeing dan Airbus masih menjadi pilihan favorit maskapai untuk mengangkut penumpang. Di jarak pendek dan menengah, pilihan maskapai jatuh pada Boeing 737 dan Airbus A320. Lantas, apa saja alasan beberapa maskapai memilih Boeing 737 dan beberapa lainnya memiluh Airbus A320? Apakah alasan keunggulan teknologi semata atau ada hal lain yang krusial?

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Prinsipnya adalah pesawat terbaru dari keduanya (Boeing 737 dan Airbus A320) saling mengalahkan. Begitu Airbus mengeluarkan pesawat generasi terbaru, dalam hal ini keluarga A32,  praktis pesawat sejenis dari Boeing akan tertinggal. Demikian pula sebaliknya. Saat ini, secara teknologi dan hegemoni, Airbus A320 lebih unggul. Namun dari segi penjualan dan pembuktian, jelas Boeing 737 pemenangnya.

Bila begitu adanya, lantas, apa alasan lain selain teknologi dan keunggulan masing-masing pesawat sebagai dasar maskapai memilih Boeing 737 atau Airbus A320? Terlebih, secara keseluruhan 95 persen Boeing 737 dan Airbus A320 memiliki kemiripan, baik dari sisi kapasitas, jangkauan, dan konsumsi bahan bakar.

Menurut pengguna Quora, alasan utamanya adalah bisnis kalau tak ingin disebut uang (motif ekonomi).

Baca juga: Lessor Global Tinggalkan Boeing dan Beralih ke Airbus, Pertanda Apa?

Katakanlah maskapai A sudah memiliki armada A330 dan A340 untuk penerbangan jarak jauh. Besar kemungkinan maskapai akan memilih Airbus A320 untuk penerbangan jarak pendek agar mendapat manfaat dari komonaliti (commonality), baik dari segi pelatihan pilot maupun maintenance.

Sementara itu, maskapai B telah menjadi pelanggan Boeing sejak 707 dan 727, dan sekarang memiliki bermacam-macam 747, 757, 767, 777 dan 787. Dengan demikian, ketika membutuhkan pesawat narrowbody, maka maskapai besar kemungkinan akan memesan Boeing 737. Diskon besar sudah pasti didapat maskapai dan ini menjadi motif terselubung maskapai yang tidak pernah diungkap ke publik.

Ada lagi maskapai C yang notabene adalah pendatang baru dan butuh 10 pesawat. Tentu saja mereka bertanya ke Boeing dan Airbus, tidak langsung memilihnya tanpa bertanya ke keduanya. Airbus berkomitmen dapat mengirimkan pesawat dalam tiga tahun dengan pengiriman pertama dalam 18 bulan.

Baca juga: Daftar Maskapai yang Operasikan Satu Tipe Pesawat Boeing dan Airbus, Ada Maskapai Indonesia

Di sisi lain, Boeing dapat mengirimkan pesawat pertama dalam 12 bulan dan secara keseluruhan dalam dua tahun, dan, sebagai bonus, bisa mendapatkan lima pesawat (pinjaman) dari lessor sampai pesawat pertama dikirim. Mana yang kira-kira akan dipilih maskapai?

Terakhir, ada maskapai D yang punya 10 armada A320 lama dan 10 Boeing 737 klasik. Boeing menawarkan buyback untuk A320 dan 737 serta diskon besar untuk 25 pesawat 737 MAX-8 baru, sedangkan Airbus tidak. Atau sebaliknya, Boeing tidak menawarkan itu dan Airbus menawarkan buyback plus dikson besar A320neo.

Mungkinkah Penumpang Bertemu dengan Pilot Saat Penerbangan?

Pilot dan kopilot merupakan orang yang paling bertangggub jawab terhadap penerbangan pesawat. Karenanya, mereka sangat disegani oleh para penumpang dan sebagian kecil diincar oleh penumpang yang hendak berniat jahat. Karena disegani sekaligus jadi target penumpang jahat, lantas mungkinkah penumpang bertemu dengan pilot dan mengajukan berbagai pertanyaan?

Baca juga: FAA Bakal Wajibkan Pesawat Pasang Pintu Kedua Sebelum Pintu Kokpit, Ini Alasannya

Sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 atau lebih dikenal 9/11, produsen pesawat dunia telah berjuang membuat kokpit senyaman mungkin sebagai elemen pendukung kinerja kru. Namun, pasca serangan tersebut, perubahan drastis terjadi.

Tak hanya harus dalam keadaan tertutup, pintu kokpit juga diwajibkan harus dalam keadaan terkunci. Hal itu sebagai salah satu cara untuk mencegah atau mungkin memperlambat tindak terorisme terhadap kru kokpit.

Selang beberapa bulan, komponen pintu kemudian diperkuat dengan tambahan logam. Logam dinilai mampu menahan pintu dari serangan. Namun, setahun setelahnya atau pada 2002, seorang penumpang masih bisa menembus pintu kokpit dan meneror kru, sebelum akhirnya ia tewas setelah kepalanya dikapak oleh pilot.

Sadar peluang tindak kejahatan masih mengintai kru kokpit, regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) akhirnya mendorong penggunaan pintu kokpit anti peluru, sebagai pelengkap aturan kokpit harus selalu dalam keadaan terkunci.

Selama bertahun-tahun, kebijakan pintu kokpit harus dalam keadaan terkunci serta kemampuan yang ditingkatkan, seperti anti peluru dan mampu menahan serangan, diklaim berhasil menurunkan tindak terorisme atau pembajakan pesawat. Sampai di sini, jelas jawaban atas pertanyaan di awal, tidak mungkin penumpang bertemu pilot di kokpit saat di udara.

Akan tetapi, di luar kokpit, masih terbuka kemungkinan penumpang bertemu dengan pilot atau kopilot. Seperti yang terjadi baru-baru ini. Dikutip dari Quora, salah seorang penumpang maskapai American Airlines tujuan Toronto, yang mempunyai tiket di kursi kelas ekonomi, tiba-tiba pindah ke kursi first class saat di tengah penerbangan.

Pramugari/pramugara pun memintanya untuk pindah dan penumpang tersebut justru marah dan berkata dengan nada tinggi bahwa ia akan tetap di sana sampai penerbangan berakhir. Awak kabin pun melapor ke kapten pilot dan kopilot terkait hal itu.

Kopilot awalnya datang dan meminta penumpang tersebut pindah ke kursi semula dan penumpang wanita itu tetap kukuh duduk di sana. Kopilot pun masuk kokpit dan kapten pilot keluar, tanpa banyak basa-basi, ia membisiki penumpang itu dan tak lama ia beranjak kembali ke kursi semula.

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

Awak kabin pun takjub dengan kapten pilot. Salah satu dari mereka menanyakan apa yang ia katakan. Kapten pilot menjawab sambil tersenyum kecil, “Aku mengatakan padanya bahwa penumpang yang duduk di kursi first class tidak turun di Toronto.” Insiden itu menggambarkan bahwa masih ada peluang penumpang bertemu pilot dalam penerbangan.

Selama tidak memaksa bertemu pilot, terlebih di kokpit, sekali lagi, masih ada kemungkinan pilot bertemu dengan penumpang saat di tenga penerbangan.

Kenapa Pesawat Penumpang Tidak Dilengkapi Parasut untuk Situasi Darurat? Ini Jawabannya

Pesawat dinobatkan menjadi moda transportasi paling aman di dunia. Meski begitu, saat terjadi kecelakaan, umumnya semua penumpang dan kru tewas. Karenanya, muncul pertanyaan dari publik, kenapa pesawat sipil atau penumpang tidak dilengkapi dengan parasut agar pesawat berhenti sebelum terjadi benturan dan berakhir tragis?

Baca juga: Kabin Pesawat Bisa Dilepas Saat Darurat, Penumpang Tak Perlu Takut Kecelakaan Fatal!

Rasio kematian dengan moda ini hanya 0.07 untuk setiap satu miliar mil perjalanan, jauh dibandingkan sepeda motor dengan rasio kematian 212.57 dan 7.28 untuk mobil. Meski begitu, saat terjadi kecelakaan fatal, hampir 100 persen kemungkinan penumpang dan kru tewas.

Kecelakaan pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya SJ-182 pada 9 Januari 2021, misalnya itu dianggap banyak orang bisa saja penumpang dan kru terselamatkan andai terdapat parasut di pesawat yang mampu mengurangi kecepatan pesawat sebelum terjatuh.

Seperti diketahui, Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo mengungkapkan, hasil investigasi menunjukkan bahwa terjadi gangguan pada sistem mekanikal pada pesawat rute Jakarta-Pontianak tersebut.

“Hasil flight data recorder (FDR) yang sudah kita unduh, pada saat climbing terjadi perubahan mode auto pilot dari yang semulanya menggunakan manajemen computer berpindah menggunakan mode control panel,” katanya.

Lebih lanjut, dalam posisi pesawat climbing, autothrottle (tuas otomatis) mestinya dapat menggerakkan kedua thrust lever (tuas dorong) kanan dan kiri untuk mengurangi tenaga mesin. Namun, auto-throttle pada pesawat tidak bisa menggerakkan thrust lever di sebelah kanan.

Pada ketinggian pesawat 11.000 kaki, tenaga mesin semakin berkurang karena thrust lever di sebelah kanan tidak bisa bergerak dan membuat thrust lever kiri semakin mundur. Perbedaan thrust lever kanan dan kiri ini disebut asimetri. Ia mengatakan, untuk mencegah asimetri tersebut, sistem Cruise Thrust Split Monitor (CTSM) harus memutuskan auto throttle.

Namun, terjadi keterlambatan yang diyakini akibat informasi dari flight spoiler memberikan nilai rendah sehingga komputer memberikan sensor yang berbeda. Akibatnya, pesawat menukik dan menghujam perairan dengan kecepatan tinggi.

Sekali lagi, diyakini, kecelakaan serupa dapat terhindar andai pesawat dilengkapi parasut yang dapat memperlambat laju pesawat sebelum menghantam perairan. Lantas, kenapa pesawat tidak juga dilengkapi parasut atau teknologi sejenisnya?

Menurut mantan flight engineer dan pilot, Rex Rexroat, seperti dikutip dari Quora, jawaban atas pertanyaan itu ialah hanya menambah bobot dan biaya pesawat.

Pengguna lain menambahkan, setiap peralatan (equipment) baru membutuhkan biaya, teknik, testing, dan pelatihan, untuk setiap kelas pesawat. Untuk pesawat yang lebih besar, tentu saja dibutuhkan parasut yang lebih besar dan ini tentunya adalah masalah besar karena hanya menambah cost yang sangat mahal.

Baca juga: Kenapa Maskapai Tidak Bekali Penumpang dengan Parasut di Pesawat? Ini Lima Alasannya

Memang betul, tidak ada kata mahal berkenaan dengan keselamatan dan keamanan penumpang saat terbang. Namun, yang sebetulnya terjadi tidak betul-betul membutuhkan parasut.

Dalam insiden kecelakaan SJ182, misalnya, dari hasil investigasi, kecelakaan tersebut sangat bisa dicegah. Artinya, andai proses pencegahan itu berjalan lancar, tidak mungkin ada kecelakaan tersebut. dengan begitu, letak krusialnya ada di mitigasi, bukan penambahan fitur atau peralatan baru untuk mencegah kecelakaan.

Setelah 10 Tahun Pembangunan, Stasiun Kereta Terbesar di Asia Tenggara, Bang Sue Grand Resmi Beroperasi

Setelah pembangunan selama 10 tahu, stasiun kereta api terbesar di Asia Tenggara, Bang Sue Grand Station di Bangkok, Thailand, resmi beroperasi pada Kamis, 19 Januari 2023. Secara resmi stasiun ini disebut Terminal Pusat Krung Thep Aphiwat, sesuai nama yang diberikan oleh raja. Namun, kebanyakan orang lebih mengenalnya sebagai Bang Sue Grand Station.

Baca juga: Stasiun Bang Sue Lebih dari Sekedar Pusat Transportasi di Bangkok

Sebagai stasiun kereta terbesar di Asia Tenggara, Bang Sue Grand Station memiliki empat lantai dengan tampilan kaca reflektif dan memiliki luas 298.200 meter persegi, atau lebih luas dari 40 lapangan sepak bola. Atap Stasiun Bang Sue melengkung dan memiliki jam yang menonjol di fasadnya sehingga sedikit mirip dengan Stasiun Bangkok yang struktur bergaya neo-Renaissance yang dibangun pada tahun 1916 yang akan diganti oleh Bang Sue.

Bang Sue Grand Station menampung jalur kereta api berkecepatan tinggi pertama di Thailand serta kereta listrik konvensional, jarak jauh, dan dalam kota. Ini juga akan terhubung dengan bus, ferry sungai, bandara dan jalur kereta api ke pusat industri yang direncanakan di pesisir timur negara yang berfokus pada sektor-sektor termasuk manufaktur kendaraan listrik, teknologi 5G, robotika dan tentunya pariwisata.

Pemerintah Thailand berharap saat pelancong asing kembali, sistem kereta api akan membantu mereka mengakses lebih banyak negara, termasuk daerah yang jarang dikunjungi yang membutuhkan dorongan ekonomi.

Terlihat dari jalan bebas hambatan di mana mobil bolak-balik ke dan dari pusat kota Bangkok, kompleks Bang Sue Grand Station disebut-sebut sebagai pusat transportasi terbesar di Asia Tenggara dengan biaya pembangunannya mencapai 93,95 miliar baht ($3 miliar).

Baca juga: Hua Hin, Stasiun Tertua di Thailand dan Punya Bangunan Unik

Sebelum beroperasi penuh, Bang Sue Grand Station sempat difungsikan sebagai pusat vaksinasi Covid-19.

Peringati 60 Tahun Perjanjian Élysée, Perancis dan Jerman Bagikan 60.000 Tiket Kereta Cepat Gratis untuk Kaum Muda-mudi

Beruntung sekali kaum muda-mudi di Jerman dan Perancis, pasalnya Pemerintah Franco-German telah bermurah hati dengan rencana untuk memberikan 60.000 tiket gratis bagi kaum muda di bawah 27 tahun untuk menikmati kereta cepat yang melintasi kedua negara bertetangga tersebut.

Baca juga: Alstom dan SCNF Luncurkan TGV M, Mengular di Jaringan Kereta Cepat Perancis Mulai 2024

Dikutip dari connexionfrance.com (23/1/2023), rencana pemberian 60.000 tiket gratis kereta cepat Perancis dan Jerman, telah dikonfirmasi oleh pemimpin kedua negara, yakni Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Olaf Scholz, saat keduanya bertemu di Istana Elysée, Perancis pada 22 Januari lalu.

Pemberian 60.000 tiket kereta cepat gratis tentu ada maknanya, yakni untuk memperingati 60 tahun penandatanganan Perjanjian Élysée, rekonsiliasi antara kedua negara pasca Perang Dunia Kedua.

Selain itu, pemberian tiket gratis untuk kereta cepat juga untuk mempromosikan perjalanan kereta ramah lingkungan.

Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan tersebut, kedua pemimpin berjanji untuk mendukung upaya untuk memperkenalkan tiket bersama dua negara pertama bagi kaum muda yang akan dilaksanakan mulai musim panas tahun ini.

60.000 tiket kereta gratis akan digunakan untuk perjalanan antara Perancis dan Jerman dan akan tersedia secara eksklusif untuk kaum muda, dimana setengahnya adalah untuk kaum muda Perancis dan setengah lainnya untuk kaum muda Jerman.

Sebelum pengumuman resmi inisiatif ini, Istana Élysée mengumumkan bahwa penyempurnaan paket tiket belum ditentukan oleh Kementerian Transportasi masing-masing negara. “Idenya adalah agar kaum muda di kedua sisi sungai Rhine dapat dengan mudah pergi ke negara lain,” kata Clément Beaune, Menteri Transportasi Prancis, kepada media. Namun beberapa detail belum disepakati dengan lawan bicaranya, Menteri Transportasi Jerman, Volker Wissing.

Baca juga: Deutsche Bahn Resmi Operasikan Kereta Cepat ICE 3neo, Layani Rute Frankfurt-Cologne-Munich

Yang pasti, kedua negara telah menjanjikan anggaran untuk kedua operator kereta, SNCF dari Perancis dan Deutsche Bahn dari Jerman. Kedua perusahaan kereta api telah mengumumkan pada bulan Mei bahwa TGV Paris-Berlin akan dimulai pada bulan Desember 2023. SNCF dan Deutsche Bahn telah mengoperasikan kereta berkecepatan tinggi, TGV dan ICE, antara Perancis dan Jerman sejak pembukaan seksi pertama Paris – Strasbourg pada bulan Juni 2007.

Kementerian Transportasi Perancis mengisyaratkan bahwa tiket akan dibagikan melalui sistem lotre dan pada tahap ini merupakan inisiatif “satu kali”.