Mobil Terbang X2 dari XPeng AeroHT Meraih Izin Terbang dari Pemerintah Cina

XPeng AeroHT, manufaktur mobil terbang asal Negeri Panda, mengumumkan telah mendapatkan izin bersyarat dari Civil Aviation Administration of China (CAAC) untuk melakukan penerbangan wahana electric vertical take-off and landing (eVTOL) berawak X2. Izin tersebut menjadi yang pertama dikeluarkan otoritas transportasi Cina untuk wahana eVTOL.

Baca juga: Vertical Aerospace Memulai Uji Terbang Prototipe Taksi Udara VX4 eVTOL

Dengan dirilisnya izin tersebut, memungkinkan XPeng AeroHT untuk melanjutkan pengembangan wahana menuju produksi massal eVTOL seperti mobil terbang generasi keenam yang dijadwalkan untuk diproduksi tahun depan.

Sejak didirikan pada tahun 2013, AeroHT telah melakukan lebih dari 15.000 penerbangan aman dengan tujuan menggabungkan teknologi otomotif dan kedirgantaraan untuk mengembangkan kendaraan terbang listrik domestik yang aman dalam skala besar.

Sebagai eVTOL generasi kelima AeroHT, X2 telah menyelesaikan lebih dari 3.000 uji terbang sejak lepas landas perdananya pada Juni 2021, termasuk penerbangan publik pertamanya ke luar negeri di Dubai musim gugur lalu.

Pendiri XPeng He Xiaopeng sebelumnya berspekulasi bahwa impiannya untuk membuat mobil terbang akan dimulai dengan sejumlah kecil eVTOL setelah tahun 2024, diikuti oleh jumlah kendaraan yang jauh lebih besar yang menghuni langit pada tahun 2030.

Perusahaan membagikan rincian sertifikasi terbarunya di pos WeChat, menyampaikan bahwa mereka telah secara resmi menerima izin penerbangan khusus, yang secara langsng, X2 XPeng adalah eVTOL pertama yang dioperasikan manusia untuk mendapatkan izin bersyarat di seluruh negeri.

Baca juga: Airbus Gandeng MAGicALL, Kembangkan Motor Listrik Taksi Udara eVTOL CityAirbus NextGen

Ini adalah langkah besar lainnya untuk XPeng AeroHT karena tampaknya akan menggunakan sertifikasi terbarunya dengan X2 untuk mendukung pengembangan dan produksi X3.

Dalam Keadaan Darurat, Bagaimana Airbus A380 Mendarat di Bandara Terdekat yang Tak Penuhi Standar A380?

Airbus A380 merupakan pesawat komersial terbesar di dunia. Ukurannya melebihi pesawat biasanya membuat pesawat superjumbo itu tidak bisa mendarat di semua bandara. Hanya bandara tertentu saja. Menariknya, dalam keadaan darurat dan di saat yang bersamaan bandara terdekat tak ada yang penuhi standar pelayanan A380, bagaimana cara pilot menyikapinya?

Baca juga: Kenapa Pesawat Airbus A380 Tidak Pernah Mendarat di Indonesia?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu diketahui terdapat beberapa persyaratan dasar bandara agar Airbus A380 dapat mendarat. Persyaratan yang paling krusial adalah kekuatan runway (landasan pacu) dan taxiway dalam menahan tekanan dari landing gear pesawat serta panjang runway.

Di dunia, ukuran runway berbeda-beda tergantung kebutuhan. ICAO sendiri sudah mengatur dan mengklasifikasikan runway dalam empat golongan atau kode (code).

Code number 1 panjang landasan pacu kurang dari 800 meter. Code number 2, panjang landasan pacu antara 800 meter sampai 1.200 meter. Code number 3, panjang landasan pacu mulai dari 1.200 meter sampai 1.800 meter.

Code number 4, panjang landasan pacu mulai dari 1.800 meter sampai 1.900 meter. Terakhir, runway dengan kode nomor 6 memiliki panjang landasan pacu mulai dari 1.900 atau lebih hingga 4.200 meter.

Seperti panjangan runway, tingkat kekuatan runway juga sebetulnya sudah diatur dan terdapat beberapa klasifikasi. Namun, tetap saja, ketebalan dan lapisan atasnya berbeda-beda. Ada yang menggunakan betol dan lainnya aspal. Secara teori, beton lebih kuat sebagai permukaan runway dibanding aspal.

Baca juga: Bandara Auckland Kebanjiran, Airbus A380 Emirates Terbang 13 Jam dari Dubai ke Dubai

Menurut mantan Director of Safety Air Transport Association, Tom Farrier, dalam kondisi darurat, sedikitnya ada tiga isu yang paling utama agar A380 bisa mendarat di bandara terdekat dan lepas landas setelahnya. Pertama adalah landing dengan aman. Kedua, penumpang turun dengan aman. Ketiga, pesawat dapat lepas landas dan melanjutkan penerbangan.

Dalam kondisi kosong tanpa penumpang dan kargo, A380 memiliki berat 500 ribu pound dan membutuhkan panjang landasan sejauh 1.600 meter. Dalam kondisi dipenuhi penumpang dan kargo serta bahan bakar, beratnya bertambah jadi 800 ribu pound lebih.

Dengan asumsi landing elevation 4.000 kaki, diperlukan tambahan panjang landasan sejauh 1.100 kaki atau 350 meter lagi menjadi 1.950 meter. Kekuatan runway pun tinggal disesuaikan saja dengan bobot pesawat.

Kita tahu, sebelum terbang, pilot-kopilot bertemu dan membahas berbagai hal, salah satunya rute penerbangan; termasuk bandara terdekat, dalam hal ini yang bisa melayani pendaratan Airbus A380.

Karenanya, dalam kondisi darurat, tak ada pilihan lain bagi pilot A380 kecuali mengarahkan pesawat ke bandara terdekat sesuai klasifikasi. Jaraknya pun biasanya tak terlalu jauh dari rute yang dilewati pesawat.

Andai benar-benar terpaksa segera di bandara terdekat dan tidak sesuai spesifikasi (sekalipun ini kecil kemungkinan terjadi), pilot biasanya akan membuang bahan bakar sebanyak mungkin untuk mengurangi bobot pesawat.

Baca juga: Aneh, Emirates Beli Airbus A380 Rp470 Miliar Saat Maskapai Lain Pensiunkan

Begitu dirasa bobot sudah sangat minimum, pesawat dapat mendarat dengan penuh hati-hati. Bila tidak ada garbarata dua tingkat, operator tetap bisa menggunakan garbarata biasa. Pesawat mungkin akan terkendala dengan suplai avtur. Tetapi itu bisa disuplai dari bandara lain terdekat. Tugas paling berat adalah menerbangkan kembali pesawat. Apalagi di runway yang sangat terbatas.

Dalam kondisi itu, pesawat harus diterbangkan oleh pilot khusus yang sangat ahli menerbangkan A380 agar bisa keluar dari bandara tersebut. Sebelum itu, bila perlu beberapa area taxiway dan runway harus dilakukan penguatan agar ban pesawat tak amblas.

Arab Saudi Beri Penumpang Flynas dan Saudia Visa Transit 4 Hari, Bisa Umrah Gratis

Arab Saudi memberikan visa transit selama empat (4) hari bagi penumpang Flynas dan Saudia secara gratis. Kebijakan tersebut berlaku mulai Senin 30 Januari 2023. Selain umrah, traveler sekaligus penumpang yang dapat visa transit tersebut dapat mempergunakannya untuk berbagai aktivitas lain, seperti mengunjungi destinasi wisata sampai urusan bisnis.

Baca juga: Dikejar Target 100 Juta Wisatawan oleh Kerajaan Arab Saudi, Saudia Putar Otak

Visa transit (stopover) gratis dari pemerintah Arab Saudi untuk penumpang Flynas dan Arab Saudi itu didapat secara otomatis seiring pemesanan tiket. Empat jam setelah tiket dipesan, penumpang akan mendapat email masuk berisi eVisa.

Sebelumnya, pada tahun 2019, Arab Saudi hanya memberikan eVisa itu untuk penumpang dari negara-negara tertentu seperti Uni Eropa, AS, Rusia, Malaysia, dan negara lainnya. Mulai kemarin, itu diubah. Dengan begitu, siapapun dari negara manapun bisa mendapat eVisa Arab Saudi gratis selama memiliki tiket pesawat Flynas dan Saudia.

“Pemegang visa dapat tinggal di Arab Saudi selama empat hari dan durasi visa adalah tiga bulan. Visa itu gratis dan akan dikeluarkan secara instan bersama dengan tiket penerbangan,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, dikutip dari Simple Flying, Selasa (31/1).

Pemberian visa gratis empat hari bagi penumpang Flynas dan Saudia adalah salah satu strategi Arab Saudi di bawah pimpinan Putra Mahkota Muhammad bin Salman dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Arab Saudi melalui visa jangka pendek.

Strategi meraih banyak kunjungan wisatawan dengan cara menggratiskan visa ke penumpang pesawat terbukti berhasil. Salah satu pesaing terdekat Arab Saudi dan sudah lebih dahulu melakukannya adalah Uni Emirat Arab (UEA).

UEA sudah lama memberikan visa gratis ke penumpang maskapai Emirates dan Etihad mengajukan visa secara online. Jadi, penumpang tak perlu khawatir masuk Abu Dhabi dan Dubai tanpa visa.

Lewat kebijakan itu, Abu Dhabi dan Dubai serta emirat lain pun sukses mendatangkan banyak traveler dunia. Tak pelak Arab Saudi, yang tengah meningkatkan sektor pariwisata terhadap pendapatan negara, turut melakukan langkah serupa.

Sejak mulai memerintah Arab Saudi, Muhammad bin Salman langsung membuat banyak gebrakan, salah satunya mengurangi ketergantungan kerajaan terhadap minyak. Sebagai gantinya, sektor pariwisata dimaksimalkan. Kebijakan ini disebut sebagai Visi 2030.

Baca juga: Arab Saudi Buka Program Visa on Arrival Bagi Pelancong asal Amerika Serikat, Inggris dan Eropa

‘Visi 2030’ sendiri ialah sebuah rencana pembangunan jangka panjang Arab Saudi yang menekankan pada diversifikasi ekonomi agar tak hanya mengandalkan minyak bumi yang harganya terus turun.

Dana untuk proyek ini mencapai US$4 miliar (Rp53,33 triliun), yang diperkirakan bisa meningkatkan ekonomi Saudi dan menciptakan 35.000 lapangan pekerjaan baru. Harapan Arab Saudi adalah dapat menarik 100 juta pengunjung sepanjang tahun 2030.

Bandara Changi Singapura, Bandara Pertama di Luar Eropa yang Sanggup Layani A380

Bandara Changi dikenal dengan inovasi dan adaptasinya terhadap demand pasar. Salah satunya saat menyesuaikan dengan spesifikasi Airbus A380. Terlebih, Singapore Airlines juga menjadi salah satu operator pesawat komersial terbesar itu. Tak heran, bandara yang terletak di Singapura tersebut menjadi bandara pertama di luar Eropa yang dapat melayani penerbangan komersial Airbus A380.

Baca juga: Hari Ini, 15 Tahun Lalu, Singapore Airlines Jadi Maskapai Pertama Operasikan Airbus A380

Sebagai pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380 memiliki dimensi yang bikin geleng-geleng kepala.  Pesawat itu memiliki bentang sayap sampai 80 meter (ICAO Code F), gear span selebar 14.31 meter (Code F), lebar badan pesawat 7.14 meter (RFF CAT 10), panjang 72.73 meter, dan tinggi 24.1 meter.

Celakanya, tak semua bandara memiliki spesifikasi seperti atau melebihi di atas. Hal ini tentu wajar mengingat belum pernah ada pesawat komersial sebesar itu di zamannya, sehingga wajar bila aerodrome tak ada yang memenuhi spek tersebut. Karenanya, bandara-bandara sibuk di dunia pun menyesuaikan diri menyambut kehadiran A380. Salah satunya Bandara Changi Singapura.

Dilansir airport-technology.com, sejak masih dikembangkan pada tahun 1990an, Airbus mendapat banyak masukan terkait dampak operasional bandara terhadap pesawat A380 yang dimensinya sangat besar dan belum pernah ada sebelumnya.

Demikian juga dengan ICAO, mendapat banyak masukan dari para insinyur dunia terkait metode paling efisien untuk bandara agar bisa melayani A380 tanpa mengeluarkan banyak uang untuk mengikut berbagai aturan sesuai Annex 14.

Berbekal dari penelitian para insinyur, informasi dari Airbus, dan rekomendasi ICAO, Bandara Changi pun berbenah. Pada November tahun 2005, pesawat double-decker A380 tiba di Changi untuk uji verifikasi kesesuaian bandara. Dua tahun setelahnya atau pada 25 Oktober 2007, Bandara Changi menjadi bandara pertama di luar Eropa yang melayani penerbangan A380.

Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS), diketahui melakukan sejumlah penyesuaian bandara. Di antaranya, passenger loading bridge (PLB) ketiga atau sering juga disebut garbarata tingkat dua yang memungkinkan penumpang mengaksesnya langsung dari dek atas. Jadi, tidak perlu turun ke dek bawah untuk menjangkau garbarata.

CAAS juga memodifikasi seluruh gate dan terminal di Bandara Changi, pelebaran dan perkerasan runway, pelebaran bahu runway, taxiway, interseksi runway-taxiway dan taxiway-taxiway, perluasan ruang tunggu di setiap terminal mengingat Airbus A380 mampu menampung sampai 500 penumpang dalam tiga kelas, penambahan gangway, dan memperpanjang conveyor belt di seluruh terminal.

Selain itu, Bandara Changi juga dilengkapi jet blast deflector tambahan untuk mengurangi dampak jet blast A380 di banyak titik, sampai penambahan dua stand parkir pesawat kargo A380 dan penerbangan jarak jauh A380.

Baca juga: Akhirnya, Pesawat Airbus A380 Mendarat dalam Penerbangan Berjadwal di Indonesia

Berbagai perubahan itu pada akhirnya berhasil menjadikan Bandara Changi sebagai bandara pertama di luar Eropa yang melayani penerbangan A380, meskipun ada puluhan juta dolar yang harus dikeluarkan.

Belum lagi CAAS harus mempersiapkan bandara lain sebagai pengganti andai Bandara Changi mengalami gangguan dalam melayani A380.

Arab Saudi Rayakan Dimulainya Pekerjaan 34 Masinis Wanita Kereta Cepat Haramain Express

Arab Saudi merayakan dimulainya pekerjaan oleh 34 masinis kereta wanita di jalur kereta berkecepatan tinggi Haramain Express yang melayani rute antara Mekkah dan Madinah. Lebih dari 28.000 wanita melamar peran tersebut saat diumumkan. Dari jumlah tersebut, 14.000 pelamar menyelesaikan tahap pertama proses seleksi dan menjalani ujian di Politeknik Kereta Api Saudi di Qassim.

Baca juga: Desember 2022, Arab Saudi Resmi Punya Masinis Wanita untuk Kereta Cepat Haramain Express

Inisiatif ini adalah yang kesembilan untuk merekrut pengemudi kereta lokal Saudi untuk jalur berkecepatan tinggi, yang mulai beroperasi pada Oktober 2018. Program pelatihan, yang dimulai pada Maret 2022, mencakup modul teoretis dan praktis selama 1157 jam, yang mencakup konsep perkeretaapian dasar, infrastruktur dan pengetahuan persinyalan, peraturan lalu lintas dan keselamatan, serta aspek teknis kereta api di antara topik lainnya.

Pelatihan praktis yang terdiri dari 674 jam mengemudi yang dipantau oleh pengawas Renfe, dimulai pada bulan Agustus 2022.

Dari 34 orang yang direkrut, enam sudah menjadi bagian dari staf Renfe KSA, bekerja di berbagai bidang seperti layanan stasiun atau sebagai personel kereta api. Usia rata-rata dari mereka adalah 26,8 tahun dan 73 persen memiliki gelar sarjana.

Inisiatif menantang membawa staf masinis Renfe KSA menjadi 140 orang dengan hampir seperempatnya adalah perempuan.

Baca juga: 28 Ribu Wanita Arab Saudi Serbu Lowongan Kerja Masinis Kereta Cepat Mekkah-Madinah

Rosalina Reyes, seorang pelatih pelatih, untuk Haramain High-Speed Railway, adalah salah satu dari 12 pemenang Women in Rail Award IRJ pada tahun 2022.

Emirates Jadi Pelopor Penggunaan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan di Boeing 777-300ER

0

Emirates, maskapai papan atas asal Uni Emirat Arab (UEA), baru saja mencatatkan sejarah, yakni dengan mengoperasikan penerbangan pertama Boeing 777-300ER (Extended Range) dengan salah satu mesinnya menggunakan 100 persen bahan bakar penerbangan berkelanjutan – Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Baca juga: Singapura Mulai Juli 2022 Jual Kredit Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Dari siaran pers Emirates (30/1/2023), Boeing 777-300ER lepas landas dari Bandara Internasional Dubai (DXB), kemudian terbang selama lebih dari satu jam di atas garis pantai Dubai. Penerbangan demonstrasi (tanpa penumpang) yang ditenagai oleh SAF memiliki makna khusus karena UEA mendeklarasikan 2023 sebagai ‘Tahun Keberlanjutan’. Penerbangan ini mendukung upaya kolektif industri untuk memungkinkan penerbangan SAF 100 persen di masa depan dan membantu memajukan tujuan keberlanjutan UEA.

Penerbangan demonstrasi Emirates, yang pertama di Timur Tengah dan Afrika Utara yang ditenagai oleh 100% SAF, mendukung upaya yang lebih luas untuk mengurangi emisi CO2 siklus hidup karena industri berupaya meningkatkan penggunaan SAF. Saat ini, SAF disetujui untuk digunakan di semua pesawat, tetapi hanya dalam campuran hingga 50% dengan bahan bakar jet konvensional.

Emirates bekerja sama dengan mitra GE Aerospace, Boeing, Honeywell, Neste, dan Virent untuk mendapatkan dan mengembangkan campuran SAF yang sangat mirip dengan sifat bahan bakar jet konvensional. Pada setiap rasio campuran, sejumlah pengukuran properti bahan bakar kimia dan fisik dilakukan.

Setelah beberapa tes laboratorium dan uji coba yang ketat, mereka sampai pada rasio pencampuran yang mencerminkan kualitas bahan bakar jet. Delapan belas ton SAF dicampur, terdiri dari HEFA-SPK yang disediakan oleh Neste (ester yang diproses hidro dan asam lemak dan minyak tanah parafin sintetik) dan HDO-SAK dari Virent (minyak tanah aromatik sintetik terdeoksigenasi hidro). SAF 100 persen memasok satu mesin General Electric GE90, dengan bahan bakar jet konvensional memasok mesin lainnya.

Baca juga: Setelah Singapore Airlines, Giliran Malaysia Airlines Gunakan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan

Emirates adalah maskapai penerbangan penumpang pertama di dunia yang mengoperasikan Boeing 777 dengan mesin GE dengan 100 persen SAF.

Akhirnya, Pesawat Airbus A380 Mendarat dalam Penerbangan Berjadwal di Indonesia

Pesawat Airbus A380 bakal segera mendarat di Indonesia, tepatnya di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Pesawat komersial terbesar di dunia itu adalah penerbangan langsung reguler dari Dubai ke Bali. Biasanya, penerbangan itu dioperasikan menggunakan armada Boeing 777-300ER (Extended Range). Namun, pada Juni mendatang, dipastikan menggunakan Airbus A380 ke Bali untuk pertama kalinya.

Baca juga: Kenapa Pesawat Airbus A380 Tidak Pernah Mendarat di Indonesia?

Mengingat ini adalah kedatangan Airbus A380 pertama di Bali (Indonesia), perlu dilakukan berbagai langkah persiapan agar rangkaian penerbangan berjalan lancar.

Saat ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) tengah melakukan berbagai kesiapan kedatangan Airbus A380 pertama di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Direncanakan, pesawat komersil terbesar di dunia yang berkapasitas 600 penumpang tersebut akan mendarat di Bandara Ngurah Rai pada bulan Juni 2023.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara, M. Kristi Endah Murni pada Senin (30/1) mengatakan, tengah menyiapkan rencana operasional yang khusus baik secara teknis dan pelayanan untuk melancarkan take off/landing pesawat tersebut.

“Karena kapasitas pesawat ini besar sekali dan dimensi pesawat terdiri dari dua lantai, maka membutuhkan waktu penanganan (handling) dan peralatan (equipment) yang berbeda dengan pesawat lainnya,” ujarnya.

Dalam rangka persiapan, Kantor Otoritas Bandar Udara (OBU) Wilayah IV Bali telah melakukan koordinasi dengan pengelola bandara yaitu PT Angkasa Pura I dan stakeholder lainnya. Sejumlah persiapan yang dilakukan diantaranya yaitu: penanganan ground handling,  garbarata, pengisian bahan bakar (fuel handling), Custom, Immigration and Quarantine (CIQ), kesiapan unit Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran(PK-PPK), dan penanganan penumpang (pax handling).

“Kami juga harus memastikan kesiapan alternate aerodrome yaitu bandara alternatif terdekat yang mampu menampung pesawat A380, apabila terjadi gangguan di Bandara Ngurah Rai,” ucap Kristi.

Selain itu, Ditjen Hubud juga menyiapkan Tim Assesment yang akan turun langsung memastikan persiapan pengoperasian dan melakukan penilaian terhadap Standard Operating Procedure (SOP) yang dibuat oleh pengelola Bandara Ngurah Rai yaitu PT. Angkasa Pura I.

Kristi berharap, semua persiapan di Bandara I Gusti Ngurah Rai dapat diselesaikan sebelum pengoperasian pesawat Airbus A380 di bulan Juni 2023 nanti.

Baca juga: Mendarat di Cengkareng Saat Dirgahayu RI, Mengapa Airbus A380 Tidak Beroperasi di Indonesia?

“Kami harus pastikan semua fasilitas sudah lengkap agar  operasi penerbangan dan pelayanan berjalan selamat, aman, dan nyaman,” tutupnya.

Rute Dubai-Denpasar Emirates merupakan salah satu rute terpopuler maskapai. Rute sebaliknya, Denpasar-Dubai bahkan menawarkan penumpang lebih banyak pilihan transit sampai ke 80 destinasi di Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika.

Jaga Rasa Masakan Tetap Lezat di Ketinggian 35.000 Kaki, Inilah yang Dilakukan Para Koki

0

Sebagai grup penerbangan terbesar di Indonesia, Lion Air Group memiliki perusahaan pengolahan, penyedia dan penyajian makanan di pesawat udara (in-flight meals), yakni Lion Boga. Seperti halnya penyedia jasa kuliner penerbangan, maka teknik memilih bahan, menyiapkan, mengolah hingga menyajikan, harus mengutamakan aspek yang memenuhi kualifikasi angka kecukupan gizi, hygiene sanitasi, keamanan pangan dan halal.

Baca juga: Dukungan Maskapai Nasional Mampu Sukseskan Bisnis Restoran Indonesia di Luar Negeri

Monitoring terstruktur dari seluruh metode pengolahan, bertujuan agar para penumpang dan kru pesawat dapat terhindar dari risiko atau potensi keracunan makanan. Makanan yang disajikan di ketinggian 35.000 kaki seperti (nampak) terlihat biasa, namun rahasia atau dibalik jenis makanan menjalani mekanisme yang tidak biasa.

Guna memastikan penumpang makan sajian di penerbangan, para juru masak (koki) di dapur katering senantiasa mengutamakan rasa makanan tetap enak. Berikut rangkaian prosedur pengolahan dan penyajian inflight meals ala Lion Boga.

1. Perhari, penerimaan bahan baku mentah seperti sayuran, daging, aneka bumbu, buah dan lainnya diperiksa kualitasnya oleh team quality.

2. Bahan baku dibersihkan dan disimpan sementara menunggu jalannya produksi sesuai spesifikasi produk. Bahan baku mudah rusak, disimpan di ruang pendingin bertemperatur rendah, yang bertujuan untuk mempertahankan kualitas bahan tanpa mengurangi nilai gizi.

3. Dilakukan pemisahan antara penyimpanan bahan baku dan produk jadi untuk meminimalisir adanya potensi kontaminasi silang.

4. Kriteria resep setiap produk dibuat dan disiapkan secara khusus oleh tim Menu and Development, yang terdiri dari para chef.

5. Para koki dan karyawan Lion Boga dipersyaratkan sesuai pakaian kerja, mengenakan penutup rambut, tidak beraksesoris (jam tangan, cincin, anting dan perhiasan lainnya yang mengganggu) serta menggunakan sarung tangan, untuk menjaga higienitas makanan dengan mencegah kontaminasi makanan dari cemaran.

6. Menggunakan takaran bumbu yang tepat agar rasa dari makanan menjadi lebih lezat.

7. Memasak dalam jumlah besar sesuai Standar Operational Prosedur (SOP) dan ketentuan resep yang sudah ditentukan.

8. Masing-masing porsi makanan ditakar secara presisi, upaya mengutamakan agar porsi makanan tidak kurang atau lebih (bentuk dan berat tetap sama).

9. Setelah proses produksi produk heavy snack dan heavy meals didinginkan / dibekukan secara cepat (blast chill/ blast freeze) untuk menjaga kualitas/ mutu dan keamanan pangan produk.

10. Pengambilan sample produk yang diproduksi melewati pengujian dan evaluasi baik secara sensori maupun laboratorium untuk menjamin kualitas mutu dan kemanan pangan.

11. Seluruh produk makanan dikemas secara rapat dan rapi untuk mencegah terjadinya kontaminasi selama distribusi (pengiriman).

12. Sistem pengiriman makanan rata-rata dilakukan 5 (lima) jam sebelum waktu keberangkatan pesawat, produk dikirimkan dalam kondisi beku (frozen) untuk menjaga kualitas mutu dan kemanan pangan

13. Makanan yang sudah tiba di bandar udara, akan disimpan dan didistribusikan menuju pesawat sesuai jadwal penerbangan.

14. Pramugari dan pramugara (awak kabin) sudah dilatih secara khusus dalam mengatur, memanaskan makanan menggunakan oven, menyiapkan serta menyajikan makanan dalam jumlah tertentu, saat penyajiannya awak kabin mengikuti pedoman protokol kesehatan.

Baca juga: Begini Proses ‘Memasak’ Makanan di Pesawat Sampai Dihidangkan ke Penumpang

Dalam waktu yang sudah ditentukan, makanan akan dipanaskan menggunakan oven selama 20-30 menit. Oven pada pesawat udara berbeda dengan oven konvensional atau oven rumah tangga.

Memanaskan makanan saat di udara adalah cara penting untuk menjadikan makanan tersaji hangat. Awak kabin harus cek kualitas makanan sebelum disajikan kepada setiap tamu. Rangkaian tersebut sangat krusial dalam layanan penerbangan (in-flight), agar tamu merasakan dan menikmati makanan seperti selesai dimasak.

Pesawat Punya Kecepatan Jelajah dan Kecepatan Maksimum, Apa Bedanya?

Bagi Anda yang kerap mencari tahu informasi detail pesawat, umumnya akan menemui dua jenis kecepatan pada pesawat, yakni kecepatan jelajah dan kecepatan maksimum. Misalnya, Boeing 787 Dreamliner, di laman modernairliners.com, tertuang bahwa kecepatan jelajah (cruise speed) pesawat mencapai Mach 0.85 atau 903 km per jam pada ketinggian 10.700 meter. Sedangkan kecepatan maksimum pesawat (maximum speed) mencapai Mach 0.90 atau 954 km per jam di ketinggian yang sama.

Baca juga: Airbus Tiru Formasi Angsa dalam Uji Coba “Fello’Fly” untuk Menghemat Bahan Bakar

Sekalipun menggunakan mesin yang sama, kecepatan jelajah dan kecepatan maksimum masing-masing pesawat tentu berbeda-beda, tergantung bobot pesawat itu sendiri serta faktor lainnya. Contoh, kecepatan jelajah Airbus BelugaXL mencapai Mach 0.69 atau 737 km per jam. Sedangkan Airbus A330 memiliki kecepatan jelajah mencapai Mach 0.82 atau sekitar 870 km per jam. Padahal, keduanya sama-sama menggunakan mesin rolls-royce trent 700.

Namun, terlepas dari dua contoh di atas, sebetulnya, apa perbedaan antara kecepatan jelajah dengan kecepatan maksimum?

Dikutip dari quora.com, kecepatan jelajah adalah kecepatan rata-rata yang ditempuh pesawat saat di udara. Adapun kecepatan maksimum adalah kecepatan tertinggi yang mampu ditempuh pesawat saat di udara.

Pada prakteknya, sebuah pesawat amat jarang mencapai kecepatan maksimum saat beroperasi. Sebab, konsumsi bahan bakar cenderung lebih boros. Padahal, antara kecepatan maksimum dengan kecepatan jelajah, perbedannya tidak terlalu mencolok. Namun, konsumsi bahan bakar kedua kondisi itu berbeda jauh. Itu sebabnya, pesawat lebih cenderung dioperasikan di kecepatan jelajah.

Kecepatan jelajah antara mesin jet dan mesin turboprop berbeda. Untuk mesin jet pesawat komersial jarak jauh, umumnya kecepatan jelajah yang ditempuh mencapai 878–926 km per jam di ketinggian 10.000–12.400 meter, jauh lebih cepat dan lebih tinggi dibanding pesawat turboprop yang umumnya menempuh kecepatan jelajah di angka 550–670 km per jam pada ketinggian 6.000–7.600 meter.

Dari segi benefisitas, setidaknya, terdapat tiga keuntungan yang didapat bila mengoperasikan pesawat dengan kecepatan jelajah.

Pertama, konsumsi bahan bakar lebih rendah seiring ketinggian maksimum pesawat. Hal itu dikarenakan semakin tinggi pesawat, semakin kecil tekanan yang didapat.

Kedua, bukan sekedar irit, ketinggan jelajah pesawat akan mendorong peningkatan kecepatan jelajah pesawat. Singkatnya, pesawat mampu mencapai kecepatan jelajah yang lebih tinggi dengan daya dorong yang lebih sedikit. Tentu ini menjadi sebuah keuntungan besar untuk mencapai penerbangan singkat dengan konsumsi bahan bakar yang tetap rendah.

Baca juga: Mengapa Ada Batasan Ketinggian Terbang untuk Pesawat? Ini Jawabannya

Ketiga, konsumsi bahan bakar per satuan jarak penerbangan menjadi lebih rendah. Keuntungan ini merupakan buah dari dua keuntungan sebelumnya. Dengan tarikan mesin yang rendah, otomatis konsumsi bahan bakar per satuan jarak penerbangan menjadi lebih rendah. Sebab, borosnya konsumsi bahan bakar berbanding lurus dengan tarikan mesin saat pesawat dioperasikan.

Itu mengapa, pesawat lebih boros saat melakukan take off. Dalam posisi tersebut, pesawat cenderung diajak untuk mencapai kecepatan maksimum agar bisa mendapat gaya angkat yang lebih besar dan cepat.

Intip Kabin Kelas Bisnis Baru Air France di Boeing 777-200ER

Seiring armada Boeing 777-300ER-nya segera menjalani maintenance, Air France sudah mempersiapkan armada pengganti yang tak kalah mewah, Boeing 777-200ER (Extended Range). Tak hanya sekedar menggantikan, armada tersebut juga dilengkapi dengan kabin kelas bisnis baru yang lebih mewah dibanding pendahulunya. Apa saja fitur unggulannya?

Baca juga: Kenapa Kursi Kelas Bisnis Miliki 3 Tali Sabuk Pengaman?

Kabin kursi kelas bisnis baru Air France di armada Boeing 777-200ER pertama kali diumumkan pada akhir tahun lalu. Selang beberapa pekan, maskapai memulai debut kelas itu pada 20 Januari lalu di rute Paris-New York sebanyak 48 kursi.

Kursi kabin kelas bisnis baru ini memiliki sejumlah fitur unggulan. Dikutip dari CNN Internasional, kursi tersebut dapat diubah menjadi tempat tidur datar (flat bed) berukuran hampir dua meter. Kursi ini juga dilengkapi dengan pintu geser (sliding door) untuk membuat ruang privasi bagi penumpang (sekalipun sebetulnya lebih tepat semi privasi lantaran bagian atasnya terbuka).

Di dalam ruang privasi tersebut, penumpang dimanjakan dengan 4K high-definition entertainment screen sebesar 17,3 inci, headset, sampai bluetooth untuk memungkinkan penumpang menggunakan headphone sendiri.

Mengingat Boeing 777-200ER adalah pesawat widebody dan memiliki dua lorong, seluruh penumpang kelas bisnis Air France memiliki akses langsung ke lorong sehingga memudahkan mobilitas selama dalam penerbangan.

Bagi penumpang yang terbang bersama, ruang privasi yang sebelumnya hanya untuk pribadi bisa disatukan dengan menurunkan panel tengah dan membuatnya jadi lebih luas. Andai penumpang terbang sendiri, panel tengah tinggal tidak perlu diturunkan. Panel tengah bisa diturunkan oleh masing-masing penumpang alias tidak satu arah.

Kabin kursi kelas bisnis baru Air France di armada Boeing 777-200ER paling dekat pada musim dingin tahun ini. Sejauh ini rutenya hanya ke New York, Rio de Janeiro, dan Dakar, Senegal. Ke depan dijanjikan akan lebih banyak rute yang dilengkapi kabin kelas bisnis serupa.

Baca juga: Mendarat Darurat di Siberia, Penumpang Air France Terperangkap Selama Tiga Hari!

Air France sudah lama dikenal sebagai salah satu maskapai yang memberikan layanan kelas terbaik ke penumpang. Sekalipun tahun 2022 lalu hanya menempati urutan ke-18 daftar maskapai terbaik di dunia, namun, kemitraannya dengan KLM -yang membentuk jaringan maskapai terbesar di dunia- turut meningkatkan standar kualitas pelayanan. Salah satunya melalui lounge.

Lounge maskapai tersebut dikenal sebagai salah satu yang terbaik di dunia, khususnya lounge first class. Kendati lounge first class, penumpang kelas bisnis maskapai tetap bisa menggunakan fasilitas lounge tersebut dengan sejumlah syarat.